Archive: Juni, 2012

Biografi Singkat Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Posted by admin - 30 Juni 2012 - Aqidah, Sejarah Islam
1
Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Hadramaut, sebuah provinsi di Negara Yaman, yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia, hal ini disebabkan telah terjalinnya hubungan yang begitu indah antara keduanya semenjak ratusan tahun yang silam, dimana tercatat dalam sejarah bahwa dari negeri inilah cikal bakal Islam yang berkembang di Indonesia.

Hadramaut sejak belasan abad yang silam telah tercatat sebagi negara yang menumbuhkan beberapa tokoh terkenal baik dari kalangan ulama maupun orang-orang shaleh. Di abad ke 8 hijri seorang ulama terkenal pernah melantunkan dua bait syair mengenai penghuni daerah Hadramaut:

Aku melewati lembah Hadramaut seraya menyampaikan salam, dan aku disambut dengan senyuman dan muka beseri-seri. Kutemukan di situ para pembesar dan tokoh yang tidak akan ditemukan di barat maupun di timur.

Begitulah pandangan umum tentang masyarakat dan penduduk Hadramaut dari masa ke masa. Nuansa religius akan dirasakan oleh setiap orang yang memasuki daerah tersebut, sedangkan pusat ilmiah dan dakwah terletak di kota Tarim yang merupakan kota terpenting di daerah tersebut.

Di tempat dan nuansa seperti inilah al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan, tepatnya pada hari Senin tanggal 4 Muharram 1383 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1963.

Beliau tumbuh diantara keluarga shaleh dan berilmu, ayah beliau adalah seorang ulama terpandang yang mencapai derajat mufti dalam mazhab Syafi’I, kakek beliau juga adalah seorang ulama yang produktif, sedangkan saudara tertua beliau yaitu Al Habib Ali Masyhur adalah seorang ahli fiqih yang sampai saat ini menjadi pemuka para mufti kota Tarim.

Cinta terhadap ilmu dan kaum sholihin telah tertanam dalam jiwa al Habib Umar sejak beliau telah menghafal al Quran dan mempelajari ilmu-ilmu dasar agama. Ketika beliau berumumr 9 tahun ayah beliau yaitu al Habib Muhammad bin Salim diculik oleh orang-orang komunis yang saat itu sedang berkuasa di kawasan Yaman Selatan, ayah beliau diculik lantaran tegas dalam menyampaikan dakwah dan kebenaran, hingga sampai saat ini beliau tidak diketahui keberadaannya.

Ketika beliau masih kecil, keadaan Hadramaut tidak kondusif, tekanan dan intimidasi dilakukan kepada para ulama dan pengajar, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Habib Umar, dengan sembunyi-sembunyi beliau belajar pada ulama di masa itu, selain belajar pada ayahandanya, al Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, beliau juga belajar pada al Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, al Munshib al Habib Ahmad bin Ali bin Syekh Abu Bakar, al Habib Muhammad bin Abdullah al Haddar (di kota Baidho – Yaman), al Habib Ibrahim bin Agil bin Yahya (di Kota Taiz – Yaman), juga kepada al Habib al Imam Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Disamping itu dalam kesempatan inilah beliau ke Haramain untuk berhaji. Beliau juga menyempatkan untuk mengikat hubungan dengan banyak ulama disana.

Dari tangan merekalah al Habib Umar menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu fikih, tauhid, usul fikih, sejarah, tata bahasa hingga ilmu Tazkiah (tasawuf). Dan sejak umur 15 tahun beliau telah terbiasa untuk menyampaikan ilmu yang didapatkan dari guru-gurunya itu dalam rangka dakwah ilallah.

Karya dan Rehlah al Habib Umar bin Hafidz

Ditengah kesibukannya sebagai pendidik dan juru dakwah al Habib Umar masih sempat menulis beberapa buku, diantaranya:

  1. Is’af tholibi ridho alkhallak bimakarimi alkhallak
  2. Taujihat tullab
  3. Syarah mandhumah sanad alawiy
  4. Khuluquna
  5. Dakhirah musyarafah
  6. Khulasoh madad an-nabawiy
  7. Diyaul lami bidhikri maulidi nabi as-syafi
  8. Syarobu althohurfi dhikri siratu badril budur
  9. Taujihat nabawiyah
  10. Nur aliman
  11. Almukhtar syifa alsaqim
  12. Al washatiah
  13. Mamlakatul qa’ab wa al ‘adha’

Dari diwan yang berisi syair-syair beliau yang terdiri dari empat juz, disamping rekaman ceramah yang mencapai ribuan cd, vcd dan kaset. Waktu beliau seakan hanya untuk dakwah, tiada menit dan detik kecuali beliau sibuk dengan urusan dakwah, beliau kerap kali melakukan perjalan ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Haramain, Syam, Mesir, Afrika, Asia Tenggara, hingga ke daratan Eropa. Kita ketahui sendiri al Habib Umar setiap tahunnya pada bulan Muharram mengunjungi Indonesia.

Dakwah beliau juga sangat dirasakan kesejukannya dan disambut dengan hangat oleh umat Islam di Indonesia. Masyakarat menyambut beliau dengan sangat antusias dan hangat, mengingat bahwa kakek beliau yang kedua, al Habib Hafidz bin Abdullah bin Syekh Abubakar bin Salim, berasal dari Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Dakwah beliau yang sangat indah dan sejuk itu yang bersumber dan kakek beliau Nabi Muhammad saw, sangatlah diterima oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun rakyat, kaya ataupun miskin, tua muda.

Di Indonesia al Habib Umar sudah beberapa kali membuat kerjasama dengan pihak bahkan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Ditjen Kelembagaan Keagamaan Departemen Agama RI meminta pembuatan kerjasama dengan al Habib Umar dan Darul Musthafa untuk pengiriman SDM yang berkualitas, khususnya para kyai pimpinan pondok pesantren untuk mengikuti program pesantren kilat selama tiga bulan dibawah bimbingan langsung al Habib Umar. Sampai saat ini, banyak sudah santri-santri di Indonesia yang menuntut ilmu di pondok pesantren yang beliau pimpin, Darul Musthafa di Hadramaut, dan telah melahirkan banyak da’i-da’I yang meneruskan perjuangan dakwahnya di berbagai daerah di Indonesia.

 

Meraih Ridha Allah Dengan Tiga Perkara

Posted by admin - 27 Juni 2012 - Da'i dan Dakwah
0
ALLAH heart

“Bukti paling nyata atas kesempurnaan akal seseorang adalah pujiannya kepada teman sejawat; bukti paling nyata atas kerendahan hati seseorang, kerelaannya untuk diakhirkan di tempat yang semestinya ia berhak didahulukan; dan bukti paling nyata keikhlasan seorang hamba ialah tidak menghiraukan dalam membuat marah makhluk dalam membela kebenaran.” (Imam Abdullah Al-Haddad)

KESEMPURNAAN AKAL Saat seseorang mendapati teman yang selalu memberi kritik membangun, dan ia senang dengan hal itu, petanda kesempurnaan akal. Sebaliknya, pada saat ia dikritik ia tidak mau menerima, itu artinya ia menganggap pendapatnya yang terbaik, ingin menang sendiri, egois, selalu mencari kesalahan orang lain dan selalu hendak menjadi nomor satu, meskipun ia tak layak. Seharusnya, pendapat dari siapapun tidak boleh dipandang sebelah mata, harusnya dipikir masak-masak, ambil yang baik dan tinggalkan selainnya. Orang lainlah yang lebih bisa meneliti diri kita ketimbang diri kita sendiri. Ibarat seorang yang baru terjaga dari tidurnya, lantas diingatkan, “Matamu ada kotorannya.” Atau orang yang berkata, “Pakainmu kurang rapi.” Hal demikian ini jangan dipandang sebagai upaya menjatuhkan harga diri. Mestinya ia berkata, “Terima kasih, kamu temanku yang paling perhatian kepadaku.” Kesempurnaan seseorang akan terbukti jika ia mau mengakui keunggulan teman sebayanya. Ingat, kalau ia merasa unggul dari orang lain, dia adalah orang yang bodoh. Selain itu, ini juga suatu isyarat hendaknya kita dalam segala hal mendasarkannya dengan prasangka baik. Sikap semacam penting digaris bawahi agar tidak melihat semua orang sebagai lawan, semua orang jelek. Husnuddzan kepada hamba termasuk perangai terbaik.

Nabi SAW bersabda: خَصْلَتاَنِ لَيْسَ بَيْنَهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا: حُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ وَحُسْنُ الظَّنِّ بِعِباَدِ اللهِ “Ada dua perangai dimana tidak ada yang lebih baik dari selainnya: baik sangka kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya.” Bagaimana bentuk berprsangka baik kepada Allah? Ambil misal, hari ini pasaran kita lagi seret, toko mengalami kemerosotan omzet. Kita berucap, “Allah menghendaki aku untuk lebih banyak memohon kepada-Nya sekarang. Hari ini tak ada pembeli, mungkin besok ada. Yang jelas Allah ingin menguji kesabaranku dan ridhaku kepada-Nya.” Akan tetapi, ada sebagian orang yang mendapati rezeqinya seret berkata, “Kenapa si Allah tidak membuat tokoku laris padahal aku tadi sudah salat, apakah Allah sudah tidak suka kepadaku, benci kepadaku?” Bandingkan dengan misal berikutnya, ketika kita sedang sakit, pergi ke dokter dengan berprasangka baik sekalipun si dokter mengeluarkan jarum suntik. Tapi berhubung kita sudah yakin dengannya, kita mantap saja bahwa dokter tidak mungkin mencelakakan, ia ingin mengobati. Kenapa hal demikian tak terwujud kepada Allah. Inilah yang dinamakan Husnuddzan kepada Allah. Yang kedua husnuddzan kepada para hamba Allah.

Allah SWT. berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12) Berangkat dari ayat ini, kita dilarang bersikap apriori kepada orang lain, baik saat ia mengkritik atau menasihati. Tentunya, tidak untuk semua orang bisa kita sangka baik. Ada saatnya kita harus waspada khususnya dalam hal ini kepada orang-orang Nashrani, Yahudi, kaum Kafir, betapapun baiknya. Prasangka itu ada yang bagus tapi kebanyakan jelek.

KERENDAHAN HATI Bukti nyata kerendahan hati misalnya, ada seorang pejabat. Seharusnya ia ditempatkan di tempat yang terhormat namun ternyata ditempatkan di tempat yang bukan selayaknya untuk orang sekelas pejabat, tapi ia tidak marah, berarti ia orang yang rendah hati. Ia rela menerima perlakuan demikian, maka itu bukti jelas dari ke-tawadhuan-nya. Tidak semua orang bisa seperti ini. Orang semacam ini disinggung oleh Nabi, “Tidaklah seorang hamba ber-tawadhu` karena Allah kecuali diangkat derajatnya oleh-Nya.” Contoh sikap rendah hati Nabi SAW bahwa diriwayatkan beliau makan bersama para sahabatnya. Sudah pasti tempat Nabi SAW paling istimewa. Di sela-sela pejamuan itu, ada seorang peminta, orang yang sudah tua sekali saking tuanya tidak bisa mengurus badan hingga mengeluarkan aroma tak sedap. Ia datang minta makan. Pengemis tersebut diizinkan masuk dengan disambut oleh Rasululah dengan sambutan luar biasa seakan-akan beliau hendak memangkunya. Saat itu, ada seorang keturunan Quraish merasa jijik melihat pnegemis tua yang kelaparan tadi. Ia dihukum dengan dipanjangkan usianya seperti umur orang tua itu yang orang-orang merasa jijik darinya. Diriwayatkan, bahwa Rasulullah berjalan di sebuah kampung. Di situ beliau mendapati perempuan menangis di kuburan anaknya. Kata Rasul menasihati, “Hai perempuan, jangan begitu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.” “Kamu memang tidak kena musibah, sedang aku ditinggal mati anakku yang kusayang,” timpal perempuan yang tak mengenali sosok Nabi. Ditegurlah oleh sahabat yang melihat kejadian itu, “Apa kamu tahu siapa dia? Dia Muhammad Rasulullah.” Datanglah ia ke rumah Rasululah, “Ya Rasululah, saya tidak tahu kalau Anda yang nasihati, saya minta maaf.” “Tidak masalah, tapi yang terpenting itu, kamu bersabar pada saat terjadinya musibah yang pertama.” Habib Saleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), juga patut dicatat dalam soal rendah hati. Bukan hal baru jika rumahnya sering dijujuki para tamu dari berbagai daerah. Pada jam dua, salah satu tamunya mau buang air kecil, di muka rumah Habib Saleh ada dua kamar mandi, waktu itu belum ada listrik. Ternyata di kamar mandi ada orang mengenakan kaos dan sarung sedang menimba air untuk kolam kamar mandi. Dilihat ternyata Habib Saleh dan beliau wanti-wanti kepada tamunya yang memergoki beliau untuk tidak bilang ke siapapun. “Tidur kembali ke kamarmu dan g usah ngomong-ngomong,” kata Habib Saleh. Paginya, Habib Saleh dengan pakaian rapi, menerima tamu dengan penuh keramahan hingga membuat tamu yang semalam terbengong-bengong heran melihat sikap beliau yang begitu sederhana.

KEIKHLASAN Bukti nyata keikhlasan ialah tidak mencari ‘muka’ pada makhluk, tidak mencari ridhanya makhluk ketika dia membawa kebenaran. Ikhlas, berarti tidak mengharapkan pujian, menjalankan kebenaran tanpa memperhatikan manusia itu senang atau tidak padanya. Seorang yang ikhlas tidak pernah berubah prinsip. Dalam Al-Quran diterangkan “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Ayat ini turun berkenaan seseorang yang berbuat amal saleh. Dalam hatinya ada dua harapan: amal karena Allah dan ingin dipuji oleh orang. Dengan kata lain, amalan orang ini belum berstatus ikhlas sebab masih ada embel-embelnya. Maka dari itu, bila seorang yang telah menunaikan haji merasa sewot bila tidak dipanggil, “Pak Haji, Bu Haji,” jelas belum sampai ke maqam ikhlas atau ustaz yang tidak dipanggil denga gelar ke-ustaz-annya. Karenanya, jangan kita mencari ridha makhluk, yang penting kita terus beramal sesuai ajaran agama Allah. Jalani saja aktivitas ibadah. Lihat keluarga Nabi, Sayyidina Ali dan Fatimah yang dipuji oleh Allah karena keikhlasannya membantu orang lain, tidak mengharap ucapan terima kasih atau balasan selain dari Allah: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 09) Ikhlas, tawadhu`, dan husnuddzan (mengakui keunggulan teman sebaya), merupakan tiga pionir dalam mengisi hari-hari dengan kesalehan ritual maupun sosial. Dengan ketiganya, kita cucup ridha Allah, menyingkirkan rasa sombong, riya`, bangga diri yang hinggap di hati. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 05).

Secangkir Kopi

Posted by admin - 20 Juni 2012 - Aqidah, Psikologi
0
coffee

Oleh: Anonymous

Kalian tidak akan pernah melihat secangkir kopi dengan cara pandang yang sama lagi. Seorang wanita muda pergi ke ibunya dan bercerita mengenai kehidupannya dan juga bagaimana sulitnya dia menjalani kehidupan. Wanita muda tersebut tidak tahu bagaimana cara untuk menjalani kehidupannya dan dia ingin menyerah. Dia merasa sangat lelah untuk bertahan dan berjuang. Tampaknya bila satu masalah terselesaikan maka masalah yang lain akan bermunculan. Lalu ibunya membawanya kedalam dapur. Ibunya mengisi 3 buah teko dengan air. Di teko yang pertama, dia menaruh wortel, di teko yang kedua dia menaruh telur, dan di teko yang terakhir dia menaruh biji kopi.

Mereka kemudian duduk dan membiarkan teko tersebut mendidih tanpa berbicara sedikitpun. Sekitar 20 menit kemudian, ibunya mematikan kompor dan kemudian mengeluarkan wortel, telur dan kopi dalam menempatkan masing-masing pada sebuah mangkuk.

Ibunya kemudian melihat kepada anaknya, dia bertanya, “Katakan padaku, apa yang kamu lihat?”

“Wortel, Telur, dan kopi”, Jawab anaknya.

Ibunya kemudian meminta anaknya untuk melihat wortel tersebut dengan lebih seksama dan menyentuhnya. Ternyata wortel itu terasa lebih lembut. Ibunya kemudian memintanya untuk mengambil telur tersebut dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, anaknya memperhatikan telur matang yang mengeras karena telah direbus. Terakhir, ibunya memintanya untuk mencoba kopi tersebut. Sang anak tersenyum karena menghirup aroma kopi yang enak.

Anaknya kemudian bertanya, “Apa inti dari semua ini ibu?”

Ibunya menjelaskan, bahwa tiap benda ini telah menghadapi kesulitan yang sama – yaitu air yang mendidih – tetapi benda-benda tersebut memberikan reaksi yang berbeda-beda. Wortel yang sebelumnya kuat, keras dan sulit untuk diubah bentuknya; bagaimanapun juga setelah dimasukkan kedalam air mendidih, wortel tersebut berubah menjadi lebih lembut dan melemah. Telur yang sebelumnya sangat rentan dimana kulit luarnya melindungi cairan yang ada didalamanya; setelah berada dalam air yang mendidih, bagian dalam telur tersebut menjadi mengeras. Dan kemudian, yang terakhir adalah biji kopi, yang unik. Setelah direbus dalam air mendidih, biji kopi justru mengubah air tersebut.

“Yang manakah kamu?” Tanya ibu pada anaknya. “Saat kesulitan mengetuk pintu kehidupanmu, bagaimana kamu menanggapinya? Apakah kamu sebuah wortel, telur, atau biji kopi?”

“Berpikirlah seperti ini: Yang manakah saya? Apakah saya sebuah wortel yang terlihat kuat, tetapi dengan adanya rasa sakit dan kesulitan, apakah saya akan menjadi lemah dan kehilangan kekuatan saya? Apakah saya sebuah telur yang awalnya memiliki hati yang lembut tetapi kemudian berubah karena rasa “panas”? Apakah saya mempunyai hati yang cair tetapi setelah kematian, perpecahan, kesulitan ekonomi dan cobaan yang lain, hati saya menjadi keras? Apakah kulit luar saya terlihat sama meskipun di dalam hati saya menjadi keras ? Atau apakah saya seperti biji kopi? Biji kopi tersebut mengubah air panas, yang dapat membawa rasa sakit. Semakin panas air tersebut, maka biji kopi akan semakin melepaskan wangi dan rasanya. Bila kamu adalah biji kopi, saat keadaan berada dalam kondisi yang terburuk, kamu justru menjadi lebih baik dan mengubah situasi disekitarmu. Saat waktu yang ada menjadi yang tergelap, kamu justru menjadi arah menuju tempat yang lain? Bagaimana kamu mengatasi kesulitan? APAKAH KAMU SEBUAH WORTEL, SEBUAH TELUR ATAU SEBUAH BIJI KOPI?”

Habib Alaydrus di Luar Batang

Posted by admin - 12 Juni 2012 - Sejarah Islam
0
Masjid Luar Batang


Masjid Luar Batang termasuk masjid terkenal di Jakarta. Tiap hari ratusan orang mendatangi masjid yang terletak di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Tiap malam Jumat pengunjung mencapai ribuan. Mereka datang dari berbagai tempat di Indonesia, untuk berziarah ke makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (wafat 1756) yang terletak di dalam masjid tersebut. Para peziarah juga datang dari Singapura, Malaysia dan Brunei Daraussalam.

Habib Umar bin Hafiz bin Syechbubakar, pendiri Pesantren Darul Mustafa di Tarim, Hadramaut, tiap tahun bila ke Jakarta tidak melewatkan untuk berziarah ke Luar Batang. Lebih dari seribu pelajar Indonesia berguru kepadanya di Hadramaut. Susuhunan dari Surakarta pada awal abad ke-20 juga pernah berziarah ke Luar Batang disertai sejumlah kerabatnya.

Menurut sejahrawan Syafaruddin Usman MHD dari Pontianak, pada peta-peta Batavia abad ke-19, Masjid Luar Batang terkadang ditulis heiling graf, artinya masjid keramat. Masjid ini terletak di sebelah Utara tembok kota lama Batavia, dan tidak berjauhan dengan gudang rempah-rempah VOC yang kini menjadi Museum Bahari. Luar Batang artinya daerah di Luar Batang (groote boom), yang menutup Pelabuhan Sunda Kalapa pada malam hari.

Turis Tionghoa

Masih menurut Syafarudin, sejarah Masjid Luar Batang belum dapat disusun dengan jelas, antara lain karena sumber-sumber historis yang tersedia bertentangan dengan pandangan umum sekarang, dan kurang lengkap. Berita tertua berasal dari seorang turis Tionghoa, yang menulis bahwa pada 1736 ia meninggalkan Batavia dari shengmu gang, artinya pelabuhan makam keramat, yaitu Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang.

Pada 1916 telah dicatat di atas pintu masjid, bahwa gedung ini selesai dibangun pada 20 Muharam 1152 H atau 29 April 1739. Arah kiblat masjid ini semula kurang tepat dan ditentukan agar lebih pas oleh Syech Muh Arshad al Banjari (wafat 1812) ketika singgah dalam perjalanan pulang dari Hejaz (Arab Saudi). Karena itu, ada penulis seperti H Abubakar Atjeh yang beranggapan semula ruang masjid ini adalah bekas rumah kediaman orang yang kemudian digunakan sebagai mushola atau masjid.

Pada makam Habib Husein Alaydrus tertulis, Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus wafat pada hari Kamis 27 Ramadhan 1169 H bersamaan 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. Sebab, LWC Van Den Berd dalam buku yang termasyhur tentang orang Hadramaut menyebut bahawa Habib Husein baru wafat tahun 1798.

Koran Bataviaasche Courant, pada 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dicatat dalam tulisan ini bahwa Habib Husein meninggal kurang lebih pada tahun 1796, setelah lama berkhotbah dan menyiarkan Islam di Surabaya dan Batavia.

Masih menurut harian berbahasa Belanda itu, pada 1812 makamnya dikelilingi batu dan masih terletak di luar gedung masjid sampai 1827. Rupanya pada waktu itu, derma tidak lagi diterima oleh komandan (semacam lurah) daerah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh pengurus masjid sehingga tempat ibadah ini bisa diperluas.

Menurut koran Belanda itu, Kramat Luar Batang adalah daerah yang termasyhur di Batavia. Habib Husein meninggal di rumah Komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid yang sudah ada. Di lain pihak suatu masjid (bukan surau) telah dicatat pada peta yang dibuat CF Reimer pada tahun 1788. Dengan menyebutkan sebuah makam keramat yang banyak diziarahi di kota tua Batavia.

Reputasi

Dalam bukunya yang terkenal tentang Hadramaut, LWC Van Den Berg, pada tahun 1886, menulis mengenai Habib Husein, “Cendekiawan Hadramaut pertama adalah Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus, yang meninggal pada 1798, setelah mengajar selama bertahun-tahun. Segera setelah ia wafat, ia memperoleh reputasi sebagai keramat. Di atas makamnya di Luar Batang, dekat Muara Kali Batavia, telah didirikan sebuah masjid besar, yang kini menjadi pusat ziarah nusantara. Tidak hanya golongan pribumi, namun juga Cina campuran dan Indo Belanda berziarah untuk memohon keberhasilan dalam usaha mereka.

Menurut cerita, Habib Husein pernah meramalkan nasib baik seorang pemuda Belanda yang kemudian benar-benar menjadi pejabat tinggi, sehingga dia diberi hadiah sebidang tanah, tempat kemudian ia dimakamkan. Beliau meninggal dalam usia 40 tahun. Dahulu, banyak jamaah haji (masih menggunakan kapal laut) setibanya dari Tanah Suci di pelabuhan Tanjung Priok terlebih dulu berziarah ke makamnya. Demikian pula warga betawi saat memberi nama pada bayinya terlebih dulu berziarah ke makam almarhum.

Untuk mendatangi Luar Batang saat ini, kita harus menyediakan uang kecil karena akan diserbu dan dikejar-kejar pengemis yag tidak pernah berhenti mendesak agar diberi uang. Oleh Gubernur Fauzi Bowo, Luar Batang sejak beberapa tahun lalu telah diperbaharui menjadi tempat ibadah yang megah sehingga hampir-hampir tidak terlihat lagi kekunoannya.

AWSOM Powered