Click here to send us your inquires or call (852) 36130518
Click here to send us your inquires or call (852) 36130518

Archive: Juni, 2012

Biografi Singkat Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Posted by admin - 30 Juni 2012 - Aqidah, Sejarah Islam
0
Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Hadramaut, sebuah provinsi di Negara Yaman, yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia, hal ini disebabkan telah terjalinnya hubungan yang begitu indah antara keduanya semenjak ratusan tahun yang silam, dimana tercatat dalam sejarah bahwa dari negeri inilah cikal bakal Islam yang berkembang di Indonesia.

Hadramaut sejak belasan abad yang silam telah tercatat sebagi negara yang menumbuhkan beberapa tokoh terkenal baik dari kalangan ulama maupun orang-orang shaleh. Di abad ke 8 hijri seorang ulama terkenal pernah melantunkan dua bait syair mengenai penghuni daerah Hadramaut:

Aku melewati lembah Hadramaut seraya menyampaikan salam, dan aku disambut dengan senyuman dan muka beseri-seri. Kutemukan di situ para pembesar dan tokoh yang tidak akan ditemukan di barat maupun di timur.

Begitulah pandangan umum tentang masyarakat dan penduduk Hadramaut dari masa ke masa. Nuansa religius akan dirasakan oleh setiap orang yang memasuki daerah tersebut, sedangkan pusat ilmiah dan dakwah terletak di kota Tarim yang merupakan kota terpenting di daerah tersebut.

Di tempat dan nuansa seperti inilah al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan, tepatnya pada hari Senin tanggal 4 Muharram 1383 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1963.

Beliau tumbuh diantara keluarga shaleh dan berilmu, ayah beliau adalah seorang ulama terpandang yang mencapai derajat mufti dalam mazhab Syafi’I, kakek beliau juga adalah seorang ulama yang produktif, sedangkan saudara tertua beliau yaitu Al Habib Ali Masyhur adalah seorang ahli fiqih yang sampai saat ini menjadi pemuka para mufti kota Tarim.

Cinta terhadap ilmu dan kaum sholihin telah tertanam dalam jiwa al Habib Umar sejak beliau telah menghafal al Quran dan mempelajari ilmu-ilmu dasar agama. Ketika beliau berumumr 9 tahun ayah beliau yaitu al Habib Muhammad bin Salim diculik oleh orang-orang komunis yang saat itu sedang berkuasa di kawasan Yaman Selatan, ayah beliau diculik lantaran tegas dalam menyampaikan dakwah dan kebenaran, hingga sampai saat ini beliau tidak diketahui keberadaannya.

Ketika beliau masih kecil, keadaan Hadramaut tidak kondusif, tekanan dan intimidasi dilakukan kepada para ulama dan pengajar, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Habib Umar, dengan sembunyi-sembunyi beliau belajar pada ulama di masa itu, selain belajar pada ayahandanya, al Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, beliau juga belajar pada al Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, al Munshib al Habib Ahmad bin Ali bin Syekh Abu Bakar, al Habib Muhammad bin Abdullah al Haddar (di kota Baidho – Yaman), al Habib Ibrahim bin Agil bin Yahya (di Kota Taiz – Yaman), juga kepada al Habib al Imam Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Disamping itu dalam kesempatan inilah beliau ke Haramain untuk berhaji. Beliau juga menyempatkan untuk mengikat hubungan dengan banyak ulama disana.

Dari tangan merekalah al Habib Umar menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu fikih, tauhid, usul fikih, sejarah, tata bahasa hingga ilmu Tazkiah (tasawuf). Dan sejak umur 15 tahun beliau telah terbiasa untuk menyampaikan ilmu yang didapatkan dari guru-gurunya itu dalam rangka dakwah ilallah.

Karya dan Rehlah al Habib Umar bin Hafidz

Ditengah kesibukannya sebagai pendidik dan juru dakwah al Habib Umar masih sempat menulis beberapa buku, diantaranya:

  1. Is’af tholibi ridho alkhallak bimakarimi alkhallak
  2. Taujihat tullab
  3. Syarah mandhumah sanad alawiy
  4. Khuluquna
  5. Dakhirah musyarafah
  6. Khulasoh madad an-nabawiy
  7. Diyaul lami bidhikri maulidi nabi as-syafi
  8. Syarobu althohurfi dhikri siratu badril budur
  9. Taujihat nabawiyah
  10. Nur aliman
  11. Almukhtar syifa alsaqim
  12. Al washatiah
  13. Mamlakatul qa’ab wa al ‘adha’

Dari diwan yang berisi syair-syair beliau yang terdiri dari empat juz, disamping rekaman ceramah yang mencapai ribuan cd, vcd dan kaset. Waktu beliau seakan hanya untuk dakwah, tiada menit dan detik kecuali beliau sibuk dengan urusan dakwah, beliau kerap kali melakukan perjalan ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Haramain, Syam, Mesir, Afrika, Asia Tenggara, hingga ke daratan Eropa. Kita ketahui sendiri al Habib Umar setiap tahunnya pada bulan Muharram mengunjungi Indonesia.

Dakwah beliau juga sangat dirasakan kesejukannya dan disambut dengan hangat oleh umat Islam di Indonesia. Masyakarat menyambut beliau dengan sangat antusias dan hangat, mengingat bahwa kakek beliau yang kedua, al Habib Hafidz bin Abdullah bin Syekh Abubakar bin Salim, berasal dari Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Dakwah beliau yang sangat indah dan sejuk itu yang bersumber dan kakek beliau Nabi Muhammad saw, sangatlah diterima oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun rakyat, kaya ataupun miskin, tua muda.

Di Indonesia al Habib Umar sudah beberapa kali membuat kerjasama dengan pihak bahkan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Ditjen Kelembagaan Keagamaan Departemen Agama RI meminta pembuatan kerjasama dengan al Habib Umar dan Darul Musthafa untuk pengiriman SDM yang berkualitas, khususnya para kyai pimpinan pondok pesantren untuk mengikuti program pesantren kilat selama tiga bulan dibawah bimbingan langsung al Habib Umar. Sampai saat ini, banyak sudah santri-santri di Indonesia yang menuntut ilmu di pondok pesantren yang beliau pimpin, Darul Musthafa di Hadramaut, dan telah melahirkan banyak da’i-da’I yang meneruskan perjuangan dakwahnya di berbagai daerah di Indonesia.

 

Meraih Ridha Allah Dengan Tiga Perkara

Posted by admin - 27 Juni 2012 - Da'i dan Dakwah
0
ALLAH heart

“Bukti paling nyata atas kesempurnaan akal seseorang adalah pujiannya kepada teman sejawat; bukti paling nyata atas kerendahan hati seseorang, kerelaannya untuk diakhirkan di tempat yang semestinya ia berhak didahulukan; dan bukti paling nyata keikhlasan seorang hamba ialah tidak menghiraukan dalam membuat marah makhluk dalam membela kebenaran.” (Imam Abdullah Al-Haddad)

KESEMPURNAAN AKAL Saat seseorang mendapati teman yang selalu memberi kritik membangun, dan ia senang dengan hal itu, petanda kesempurnaan akal. Sebaliknya, pada saat ia dikritik ia tidak mau menerima, itu artinya ia menganggap pendapatnya yang terbaik, ingin menang sendiri, egois, selalu mencari kesalahan orang lain dan selalu hendak menjadi nomor satu, meskipun ia tak layak. Seharusnya, pendapat dari siapapun tidak boleh dipandang sebelah mata, harusnya dipikir masak-masak, ambil yang baik dan tinggalkan selainnya. Orang lainlah yang lebih bisa meneliti diri kita ketimbang diri kita sendiri. Ibarat seorang yang baru terjaga dari tidurnya, lantas diingatkan, “Matamu ada kotorannya.” Atau orang yang berkata, “Pakainmu kurang rapi.” Hal demikian ini jangan dipandang sebagai upaya menjatuhkan harga diri. Mestinya ia berkata, “Terima kasih, kamu temanku yang paling perhatian kepadaku.” Kesempurnaan seseorang akan terbukti jika ia mau mengakui keunggulan teman sebayanya. Ingat, kalau ia merasa unggul dari orang lain, dia adalah orang yang bodoh. Selain itu, ini juga suatu isyarat hendaknya kita dalam segala hal mendasarkannya dengan prasangka baik. Sikap semacam penting digaris bawahi agar tidak melihat semua orang sebagai lawan, semua orang jelek. Husnuddzan kepada hamba termasuk perangai terbaik.

Nabi SAW bersabda: خَصْلَتاَنِ لَيْسَ بَيْنَهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا: حُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ وَحُسْنُ الظَّنِّ بِعِباَدِ اللهِ “Ada dua perangai dimana tidak ada yang lebih baik dari selainnya: baik sangka kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya.” Bagaimana bentuk berprsangka baik kepada Allah? Ambil misal, hari ini pasaran kita lagi seret, toko mengalami kemerosotan omzet. Kita berucap, “Allah menghendaki aku untuk lebih banyak memohon kepada-Nya sekarang. Hari ini tak ada pembeli, mungkin besok ada. Yang jelas Allah ingin menguji kesabaranku dan ridhaku kepada-Nya.” Akan tetapi, ada sebagian orang yang mendapati rezeqinya seret berkata, “Kenapa si Allah tidak membuat tokoku laris padahal aku tadi sudah salat, apakah Allah sudah tidak suka kepadaku, benci kepadaku?” Bandingkan dengan misal berikutnya, ketika kita sedang sakit, pergi ke dokter dengan berprasangka baik sekalipun si dokter mengeluarkan jarum suntik. Tapi berhubung kita sudah yakin dengannya, kita mantap saja bahwa dokter tidak mungkin mencelakakan, ia ingin mengobati. Kenapa hal demikian tak terwujud kepada Allah. Inilah yang dinamakan Husnuddzan kepada Allah. Yang kedua husnuddzan kepada para hamba Allah.

Allah SWT. berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12) Berangkat dari ayat ini, kita dilarang bersikap apriori kepada orang lain, baik saat ia mengkritik atau menasihati. Tentunya, tidak untuk semua orang bisa kita sangka baik. Ada saatnya kita harus waspada khususnya dalam hal ini kepada orang-orang Nashrani, Yahudi, kaum Kafir, betapapun baiknya. Prasangka itu ada yang bagus tapi kebanyakan jelek.

KERENDAHAN HATI Bukti nyata kerendahan hati misalnya, ada seorang pejabat. Seharusnya ia ditempatkan di tempat yang terhormat namun ternyata ditempatkan di tempat yang bukan selayaknya untuk orang sekelas pejabat, tapi ia tidak marah, berarti ia orang yang rendah hati. Ia rela menerima perlakuan demikian, maka itu bukti jelas dari ke-tawadhuan-nya. Tidak semua orang bisa seperti ini. Orang semacam ini disinggung oleh Nabi, “Tidaklah seorang hamba ber-tawadhu` karena Allah kecuali diangkat derajatnya oleh-Nya.” Contoh sikap rendah hati Nabi SAW bahwa diriwayatkan beliau makan bersama para sahabatnya. Sudah pasti tempat Nabi SAW paling istimewa. Di sela-sela pejamuan itu, ada seorang peminta, orang yang sudah tua sekali saking tuanya tidak bisa mengurus badan hingga mengeluarkan aroma tak sedap. Ia datang minta makan. Pengemis tersebut diizinkan masuk dengan disambut oleh Rasululah dengan sambutan luar biasa seakan-akan beliau hendak memangkunya. Saat itu, ada seorang keturunan Quraish merasa jijik melihat pnegemis tua yang kelaparan tadi. Ia dihukum dengan dipanjangkan usianya seperti umur orang tua itu yang orang-orang merasa jijik darinya. Diriwayatkan, bahwa Rasulullah berjalan di sebuah kampung. Di situ beliau mendapati perempuan menangis di kuburan anaknya. Kata Rasul menasihati, “Hai perempuan, jangan begitu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.” “Kamu memang tidak kena musibah, sedang aku ditinggal mati anakku yang kusayang,” timpal perempuan yang tak mengenali sosok Nabi. Ditegurlah oleh sahabat yang melihat kejadian itu, “Apa kamu tahu siapa dia? Dia Muhammad Rasulullah.” Datanglah ia ke rumah Rasululah, “Ya Rasululah, saya tidak tahu kalau Anda yang nasihati, saya minta maaf.” “Tidak masalah, tapi yang terpenting itu, kamu bersabar pada saat terjadinya musibah yang pertama.” Habib Saleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), juga patut dicatat dalam soal rendah hati. Bukan hal baru jika rumahnya sering dijujuki para tamu dari berbagai daerah. Pada jam dua, salah satu tamunya mau buang air kecil, di muka rumah Habib Saleh ada dua kamar mandi, waktu itu belum ada listrik. Ternyata di kamar mandi ada orang mengenakan kaos dan sarung sedang menimba air untuk kolam kamar mandi. Dilihat ternyata Habib Saleh dan beliau wanti-wanti kepada tamunya yang memergoki beliau untuk tidak bilang ke siapapun. “Tidur kembali ke kamarmu dan g usah ngomong-ngomong,” kata Habib Saleh. Paginya, Habib Saleh dengan pakaian rapi, menerima tamu dengan penuh keramahan hingga membuat tamu yang semalam terbengong-bengong heran melihat sikap beliau yang begitu sederhana.

KEIKHLASAN Bukti nyata keikhlasan ialah tidak mencari ‘muka’ pada makhluk, tidak mencari ridhanya makhluk ketika dia membawa kebenaran. Ikhlas, berarti tidak mengharapkan pujian, menjalankan kebenaran tanpa memperhatikan manusia itu senang atau tidak padanya. Seorang yang ikhlas tidak pernah berubah prinsip. Dalam Al-Quran diterangkan “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Ayat ini turun berkenaan seseorang yang berbuat amal saleh. Dalam hatinya ada dua harapan: amal karena Allah dan ingin dipuji oleh orang. Dengan kata lain, amalan orang ini belum berstatus ikhlas sebab masih ada embel-embelnya. Maka dari itu, bila seorang yang telah menunaikan haji merasa sewot bila tidak dipanggil, “Pak Haji, Bu Haji,” jelas belum sampai ke maqam ikhlas atau ustaz yang tidak dipanggil denga gelar ke-ustaz-annya. Karenanya, jangan kita mencari ridha makhluk, yang penting kita terus beramal sesuai ajaran agama Allah. Jalani saja aktivitas ibadah. Lihat keluarga Nabi, Sayyidina Ali dan Fatimah yang dipuji oleh Allah karena keikhlasannya membantu orang lain, tidak mengharap ucapan terima kasih atau balasan selain dari Allah: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 09) Ikhlas, tawadhu`, dan husnuddzan (mengakui keunggulan teman sebaya), merupakan tiga pionir dalam mengisi hari-hari dengan kesalehan ritual maupun sosial. Dengan ketiganya, kita cucup ridha Allah, menyingkirkan rasa sombong, riya`, bangga diri yang hinggap di hati. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 05).

Dunia dan Akhirat di Mata Imam Ali bin Thalib ra

Posted by admin - 25 Juni 2012 - Aqidah, Cerita Islami, Sejarah Islam
0
ibadah

 Diriwayatkan bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan berkata kepada Dharrar bin Dhumrah.

“Lukiskanlah pekerti Ali bin Abi Thalib ra untukku.”

“Lepaskan aku dari keharusan memenuhi permintaan ini, hai Amirul Muknimin,” pinta Dharrar.

“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu,” jawab Muawiyah.

“Biklah kalau begitu,” kata Dharrar lagi seraya melanjutkan,

“Ali adalah seorang yang jauh pikirannya, amat kuat tubuhnya, singkat ucapannya, dan adil hukumnya. Selalu memilih yang amat sederhana untuk makannya dan yang amat kasar untuk pakaiannya. Tak pernah sudi akan dunia dan perhiasannya, merasa tenang dengan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi telah melihatnya pada suatu ketika, pada saat malam menjulurkan tirainya dan bintang-bntang mulai redup terbenam, ia berdiri di mihrabnya bagai tersengat ular berbisa, gelisah laksana seorang yang sangat parah sakitnya, menangis tersedu-sedu memegangi janggutnya seraya berbisik, “Wahai dunia, bukan aku orangnya yang bisa kau perdayakan. Adakah untukku kamu berhias? Atau, kepadaku kanu mengharap? Tidak! Telah kuceraikan engkau dengan tiga kali talak hingga tak mungkin lagi kau kembali. Oh, betapa sedikitnya bekal, jauhnya perjalanan,dan sunyinya safar..!”

Mendengar itu, Muawiyah menangis menutupi wajahnya dengan dengan lengan bajunya sambil menahan air mata sedapt-dapatnya. Dia bergumam, “Semoga Allah merahmati Abu Al Hasan. Demi Allah, sungguh ia sedemikian itu.”

Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Abdullah bin Alawi Al Haddad

Turki Terjemahkan Injil Berusia 1.500 Tahun

Posted by admin - 21 Juni 2012 - Berita, Sejarah Islam
2
injil

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA, 5 Juni 2012

 

Sebuah media di Timur Tengah Alarabiya melaporkan bahwa pemerintah Turki akan menerjemahkan alkitab berusia 1.500 tahun.

Injil kuno yang menyebut kerasulan Muhammad SAW itu memang sempat mengundang perhatian dunia. Selain menyebut akan datangnya Nabi Muhammad, Injil itu juga menyebut bahwa Yesus adalah manusia fana dan tak pernah disalib.

Injil Barnabas yang di percaya para analis sebagai tambahan dari kitab-kitab injil asli seperti Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes menarik perhatian awal tahun ini. Dalam kitab Yesus telah meramalkan kedatangan Nabi Muhammad.

Pada Februari lalu, Vatikan secara resmi telah meminta untuk melihat alkitab yang ditemukan Turki selama operasi penyelundupan pada tahun 2000. Pekan ini kutipan dari dokumen asli tersebut telah di terjemahkan. Dokumen yang ditulis dengan bahasa Syriac dialek Aram tersebut menyangkal Ketuhanan Yesus.

Laporan sebuah majalah online Y-Jesus yang berbasis di Amerika Serikat dalam analisisnya mengenai Injil Barnabas mengungkapkan, teks dokumen secara efektif menyangkal keilahian Yesus dan menolak konsep trinitas, kepercayaan kristen yang mendefinisikan Allah dalam tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Laporan itu juga menyatakan dalam Injil Barnabas, Yudas Iskariot disebut sebagai orang yang mati disalib dan bukan Yesus. Sementara dalam Perjanjian Baru, Yudas disebut mengkhianati Yesus.

Pernyataan dari laporan kajian terhadap Injil Barnabas tersebut menantang pesan Kristen selama ini. Pesan selama ini, kematian Yesus dikatakan sebagai pengorbanan Juru Selamat bagi dosa-dosa Kristen dan kebangkitanya sebagai harapan kehidupan kekal.

Pernyataan Injil Barnabas mendukung keyakinan Islam bahwa penyaliban Yesus tidak pernah terjadi.
St Barnabas secara tradisional diidentifikasikan sebagai pendiri Gereja Siprus. Ia adalah orang Kristen pertama yang dianggap sebagai rasul bagi umat Kristen.

Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Turki, Ertugrul Gunay, mengatakan, teks dari Injil Barnabas tersebut dilaporkan bernilai sekitar 22 juta dolar.

“Sejalan dengan keyakinan Islam, Injil memperlakukan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan. Ini menolak ide dari tritunggal kudus dan penyaliban. Serta ramalan Yesus akan kedatangan Nabi Muhammad,” Kata Gunay seperti dilaporkan dalam salah satu surat kabar setempat.

Saat ini injil dijaga ketat oleh pihak berwenang Turki sebelum diserahkan pada Museum Etnografi Ankara. Rencananya teks asli injil tersebut akan dipamerkan di museum.

Secangkir Kopi

Posted by admin - 20 Juni 2012 - Aqidah, Psikologi
0
coffee

Oleh: Anonymous

Kalian tidak akan pernah melihat secangkir kopi dengan cara pandang yang sama lagi. Seorang wanita muda pergi ke ibunya dan bercerita mengenai kehidupannya dan juga bagaimana sulitnya dia menjalani kehidupan. Wanita muda tersebut tidak tahu bagaimana cara untuk menjalani kehidupannya dan dia ingin menyerah. Dia merasa sangat lelah untuk bertahan dan berjuang. Tampaknya bila satu masalah terselesaikan maka masalah yang lain akan bermunculan. Lalu ibunya membawanya kedalam dapur. Ibunya mengisi 3 buah teko dengan air. Di teko yang pertama, dia menaruh wortel, di teko yang kedua dia menaruh telur, dan di teko yang terakhir dia menaruh biji kopi.

Mereka kemudian duduk dan membiarkan teko tersebut mendidih tanpa berbicara sedikitpun. Sekitar 20 menit kemudian, ibunya mematikan kompor dan kemudian mengeluarkan wortel, telur dan kopi dalam menempatkan masing-masing pada sebuah mangkuk.

Ibunya kemudian melihat kepada anaknya, dia bertanya, “Katakan padaku, apa yang kamu lihat?”

“Wortel, Telur, dan kopi”, Jawab anaknya.

Ibunya kemudian meminta anaknya untuk melihat wortel tersebut dengan lebih seksama dan menyentuhnya. Ternyata wortel itu terasa lebih lembut. Ibunya kemudian memintanya untuk mengambil telur tersebut dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, anaknya memperhatikan telur matang yang mengeras karena telah direbus. Terakhir, ibunya memintanya untuk mencoba kopi tersebut. Sang anak tersenyum karena menghirup aroma kopi yang enak.

Anaknya kemudian bertanya, “Apa inti dari semua ini ibu?”

Ibunya menjelaskan, bahwa tiap benda ini telah menghadapi kesulitan yang sama – yaitu air yang mendidih – tetapi benda-benda tersebut memberikan reaksi yang berbeda-beda. Wortel yang sebelumnya kuat, keras dan sulit untuk diubah bentuknya; bagaimanapun juga setelah dimasukkan kedalam air mendidih, wortel tersebut berubah menjadi lebih lembut dan melemah. Telur yang sebelumnya sangat rentan dimana kulit luarnya melindungi cairan yang ada didalamanya; setelah berada dalam air yang mendidih, bagian dalam telur tersebut menjadi mengeras. Dan kemudian, yang terakhir adalah biji kopi, yang unik. Setelah direbus dalam air mendidih, biji kopi justru mengubah air tersebut.

“Yang manakah kamu?” Tanya ibu pada anaknya. “Saat kesulitan mengetuk pintu kehidupanmu, bagaimana kamu menanggapinya? Apakah kamu sebuah wortel, telur, atau biji kopi?”

“Berpikirlah seperti ini: Yang manakah saya? Apakah saya sebuah wortel yang terlihat kuat, tetapi dengan adanya rasa sakit dan kesulitan, apakah saya akan menjadi lemah dan kehilangan kekuatan saya? Apakah saya sebuah telur yang awalnya memiliki hati yang lembut tetapi kemudian berubah karena rasa “panas”? Apakah saya mempunyai hati yang cair tetapi setelah kematian, perpecahan, kesulitan ekonomi dan cobaan yang lain, hati saya menjadi keras? Apakah kulit luar saya terlihat sama meskipun di dalam hati saya menjadi keras ? Atau apakah saya seperti biji kopi? Biji kopi tersebut mengubah air panas, yang dapat membawa rasa sakit. Semakin panas air tersebut, maka biji kopi akan semakin melepaskan wangi dan rasanya. Bila kamu adalah biji kopi, saat keadaan berada dalam kondisi yang terburuk, kamu justru menjadi lebih baik dan mengubah situasi disekitarmu. Saat waktu yang ada menjadi yang tergelap, kamu justru menjadi arah menuju tempat yang lain? Bagaimana kamu mengatasi kesulitan? APAKAH KAMU SEBUAH WORTEL, SEBUAH TELUR ATAU SEBUAH BIJI KOPI?”

Imam Ghazali Dalam Etika Kepemimpinan

Posted by admin - 14 Juni 2012 - Da'i dan Dakwah
0
leader

 

Al-Ghazali, seorang ulama Islam yang terkenal pada abad ke-11, telah berhasil mengidentifikasi sikap yang dibutuhkan oleh penguasa, menteri dan para wakilnya yang dimana mempunyai hubungan erat dengan manajemen bisnis modern yang cukup dapat diperhitungkan.

Etika dalam kepemimpinan dan manajemen adalah topik yang harus dipikirkan oleh setiap pengusaha masa kini. Bukanlah suatu masalah apakah kalian bekerja di sebuah perusahaan besar ataupun menjadi seorang kepala kantor konsultan. Etika dalam kepemimpinan tetap berlaku.

Kami menekankan pada beberapa nasehat yang dia berikan kepada para penguasa dan pemimpin pada masanya dalam beberapa hal seperti kerjasama yang baik, kepercayaan dan sikap baik yang dibutuhkan dalam sebuah tim kerja.

Sama halnya seperti Ibn Khaldun, pemikiran Al-Ghazali membawa sebuah kebijaksanaan yang sangat relevan dengan situasi dan kondisi masa kini.

Nasihat Al-Ghazali kepada Para Penguasa

Sikap Yang Baik

Menurut Al-Ghazali, hambatan dalam menciptakan suatu model sikap terletak pada pemimpin. Atau dengan kata lain, contoh sikap yang dibawa oleh seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi kinerja suatu organisasi, apakah akan menjadi baik atau buruk. Dalam tulisannya, Al-Ghazali berkata, “Bila seorang pemimpin bermoral, maka para stafnya pun akan bermoral, tetapi bila pemimpin tersebut tidak jujur, lalai, dan hanya mencari kenyamanan, maka para stafnya yang menerapkan kebijakannya lambat laun akan menjadi malas dan tidak jujur”.

Keterbukaan

Dalam hal ini, Al-Ghazali mengutip peribahasa yang terkenal: Tidak ada yang lebih merusak… lebih melukai dan lebih mengancam seorang pemimpin daripada isolasi royal dan ketidakterbukaan terhadap masyarakat. Dengan kata lain, para pemimpin yang tidak terbuka dan tidak menerima pendapat orang lain akan mengalami hambatan komunikasi dalam organisasinya. Meskipun sebuah perusahaan mengadopsi sistem hierarki struktural, jalur komunikasi kepemimpinan harus dapat diketahui dan diuji secara berkala untuk memastikan bahwa sistem kepemimpinan yang digunakan tersebut memberikan pengaruh yang baik pada perusahaan secara keseluruhan dan tidak ada hambatan dalam menjalaninya.

Sebagai tambahan, untuk memahami pentingnya kekuatan dan kelemahan dari suatu organisasi, pemimpin yang baik juga harus dapat menyadari pentingnya untuk selalu mengikuti perkembangan informasi yang dapat mempengaruhi kepemimpinan dan pengelolaan di dalam pemerintahannya.

Kepercayaan dan  Penyangkalan Diri

Keserakahan dalam pemerintahan, penyalahgunaan dana, dan hal lainnya, sayangnya, telah menjadi sangat dikenal oleh masyarakat. Para pejabat tinggi atau karyawan eksekutif telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh bawahan mereka dengan memperkaya diri mereka dan memberikan kontribusi untuk kebangkrutan organisasi mereka dengan menyalahgunakan penghitungan dana perusahaan dan memasukkannya kedalam nomor rekening pribadi mereka.

Imam Al-Ghazali mengaitkan hal ini pada masa kekalifahan Umar bin Abdul Aziz. Dia bercerita: Sang Khalifah sedang duduk pada suatu malam untuk mempelajari laporan harian pemerintah dengan menggunakan sebuah cahaya lampu. Pada saat itu, seorang pegawai rumah tangganya memasuki kamar Khalifah Umar untuk berdiskusi beberapa masalah pribadi. Lalu Umar memerintahkan:

“Matikan lampu tersebut! Dan nyalakan lampu sendiri barulah kamu bicara! Karena minyak yang digunakan lampu ini berasal dari dana masyarakat dan apa yang berasal dari masyarakat tidak boleh digunakan kecuali untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.”

Pemilihan Wakil

Kita semua mengetahui bahwa tim manajemen kerja yang baik adalah elemen yang paling mendasar dalam kesuksesan sebuah perusahaan. Pemimpin yang baik akan dikelilingi oleh para tenaga ahli yang dapat diberikan tanggungjawab dan kembali dengan membawa hasil. Sama halnya ketika Al-Ghazali menulis mengenai para wakil dalam konteks posisi kementrian di lingkungan Sultan. Dia membandingkan para menteri tersebut dengan para sahabat (para) Nabi. Untuk mendukung hal ini dan melindungi para menteri yang memiliki kinerja yang baik, Imam Al-Ghazali menulis bahwa bahkan (para) Nabi sekalipun diperintahkan untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan para sahabatnya yang terpelajar dan bijak.

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah” (Q.S Al-Imran: 159)

Para Nabi pun memohon pada Allah untuk menunjuk seorang wakil bagi mereka seperti pada kasus Nabi Musa (lihat Al-Qur’an 20:29-32)

Mengambil Pelajaran dari Nasihat Al-Ghazali

Kebijaksanaan yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali sangat berguna dalam mengimplementasikan berbagai macam bentuk kepemimpinan dan pengelolaan perusahaan. Tapi dalam mengambil pelajaran dari tulisan Imam Al-Ghazali, sangat penting untuk diingat bahwa ia menulis “Nasihat” untuk para Raja dan Sultan yang hidup pada jamannya. Banyak para pemimpin pada masa itu yang diberikan tulisan tersebut karena mereka sedang mensosialisasikan suara kepemimpinan.

Imam al-Ghazali menulis “Nasihat” berdasarkan bimbingan Nabi Muhammad yang mengajarkan pada umat Muslim bahwa “Agama adalah nasihat”. Jadi, Al-Ghazali menghubungkan nasihat-nasihatnya sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Sebagai tambahan, hubungan antara teori Imam Al-Ghazali dalam kepemimpinan politik dan teologi harus sangat kita pertimbangkan. Dengan kata lain, keteraturan dan kepemimpinan yang baik adalah tugas suci yang harus dilakukan oleh Al-Ghazali – melakukannya dengan baik akan mendatangkan keni’matan Allah dan meninggalkannya akan membawa kemurkaan Allah.

Menerapkan hal ini dalam paradigma bisnis membutuhkan manajer dan para pengusaha professional yang dapat diandalkan dalam perusahaannya. Terlebih lagi, manajer atau pemimpin harus dapat diandalkan bagi karyawannya atau tim kerjanya. Baik itu dalam mengatur diri sendiri, keterbukaan terhadap yang lain, atau bagaimana membangun tim kerja.

Nasihat dari Imam Al-Ghazali sangat berguna bagi mereka yang berada pada posisi sebagai pemimpin.

Persamaan Gender

Posted by admin - 13 Juni 2012 - Aqidah, Bina Keluarga, Da'i dan Dakwah, Fiqh dan Ushulnya, Psikologi
0
persamaan gender

Persamaan (Equality)

Nancy, sebut saja begitu, tiba-tiba minta cerai dari James, suaminya seorang profesional. Padahal ia sudah 10 tahun menikah. Sebagai ibu rumah tangga dengan 2 orang anak Nancy begitu menikmati kehidupannya. Penghasilan suami, sekolah anak-anak, dan kehidupan rumah tangganya tergolong sejahtera.

Tapi, Nancy ternyata telah “kerasukan” paham kesetaraan gender. Ia menjadi tidak nyaman berkeluarga. Mengurus rumah tangga tiba-tiba serasa seperti pembantu atau budak.

Di kepalanya serasa ada yang terus membisikkan tulisan Berger The family now appears as an age-old evil. Heterosexual is rape; motherhood is slavery, all relation between the sexes are struggle of power. (Keluarga sekarang nampak seperti setan tua. Hubungan seks pria wanita adalah perkosaan; peran keibuan adalah perbudakan; semua hubungan antarjenis kelamin adalah perjuangan untuk kekuasaan).

Maka, sukses suaminya dirasa menambah rasa superioritas dan penguasaan terhadap dirinya. Meski itu tidak secuil pun terbesit dalam pikiran suaminya.

Setelah cerai ia berharap akan bebas dari suami, bisa berkarir sendiri, dan tidak terikat di dalam rumah tangga. Tapi itu hanya harapan. Setelah cerai ternyata karirnya tidak sejaya mantan suaminya. Rumah tangga dan anak-anak masih di urusnya sendiri dan nyaris kehilangan perhatian. Di dunia kerjanya banyak masalah yang tidak mudah dihadapi.

Di dalam benaknya terdetik penyesalan “ternyata sendiri itu tidak nyaman”. Tanpa suami hidupnya terasa pincang. Benarlah wisdom dari Nabi: ”Sungguh miskin! wanita tanpa laki-laki. Sungguh miskin! laki-laki tanpa wanita”. Kalau saja Nancy pernah membaca hadis ini dia tentu akan mengumpat para feminis atau berpikir panjang untuk cerai. Asalkan dia tidak membaca hadis itu dengan hermeneutika.   

Mimpi Nancy adalah equality. Itu adalah tuntutan zaman postmo yang sarat kepentingan sesaat dan selalu berubah-rubah. Mimpi Nancy adalah misi postmo, yakni membangun persamaan total.

Jargonnya sayup-sayup seperti berbunyi “persamaan adalah keadilan”. Artinya kerja menyetarakan adalah kebaikan, dan membeda-bedakan adalah kejahatan. Sebab teori menyama-nyamakan adalah bawaan pluralisme dan relativisme. Dua doktrin penting yang berada pada melting pot postmodern.

Tapi penyamaan adalah utopia fatamorganis. Menjanjikan tapi tidak menjamin. Membela tapi untuk menguasai. Sebab para pakar di Barat yang sadar mengkritik misi ini.

Di tahun 1715-1747 Marquis De Vauvenargues sudah wanti-wanti “Alam tidak mengenal kesamaan; hukum, yang berlaku adalah subordinasi dan ketergantungan”. Hampir seabad kemudian James Anthony Fuller, (m. 1894) mengulangi pesan Marquis “Man are made by nature unequal, it is vain, therefore to treat them as if they were equal”.

Fakta sosial juga menunjukkan  bahwa in-equality antara sesama laki-laki sekalipun bisa diterima. Apalagi antara laki-laki dan wanita. Fakta biologis menjelaskan strukur tubuh laki-laki dan perempuan berbeda dan membawa perbedaan psikologis. Karena itu Dr. Ratna Megawangi dengan tepat dan cerdas memberi judul bukunya “Membiarkan Berbeda”.

Jika demikian apa berarti tuntutan equality tidak universal? Memang! Sebab kebebasan dan persamaan adalah bagian dari America’s core culture (Fukuyama).

Malahan, kata Ronald Inglehart dan Pippa Norris kesetaraan gender, kebebasan seks, perceraian, aborsi, dan hak-hak gay adalah ciri khas Barat. Maka benturan Islam–Barat adalah Sexual clash of Civilization”, tulisnya. Itulah, equality memang tidak universal.

Tapi mengapa kini tiba-tiba menjadi seperti universal? Sebab equality satu paket dengan Westernisasi, modernisasi dan globalisasi. Mulanya (abad 19 hingga awal abad 20) hanya sekedar menuntut kesamaan hak pilih, tapi kemudian (1960an-1980an) persamaan bidang hukum dan budaya. Periode selanjutnya (1990an) adalah evaluasi kegagalan gerakan pertama dan intensifikasi gerakan kedua.

Penyebarannya berbasis teori Foucault “untuk menjajah pemikiran kuasai wacana!”. Caranya, semua bangsa dan bahkan agama didorong untuk bicara gender. Yang menolak berarti ndeso alias kampungan. Strategi dan aplikasinya menjadikan kesetaraan gender sebagai neraca pembanguan di PBB. Pembangunan diukur dari peran wanita didalamnya dalam bentuk GDI (Gender Development Index).

Tapi benarkah peran wanita dapat menjadi neraca pembangunan?, Ternyata tidak.  di Negara-negara seperti Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan sebagainya telah ada equality dan equal opportunity dalam pendidikan dan pekerjaan. Tapi itu tidak juga mengangkat share income dalam keluarga.

Korelasi antara equality dan kemajuan pembangunan tidak terbukti. Prosentase anggota parlemen di AS misalnya hanya 10.3%, di Jepang 6.7%, di Singapura hanya 3.7%, sedangkan Indonesia 12.2%. Meski begitu Indonesia juga tidak lebih maju dari AS, Singapura dan Jepang, dalam semua bidang, khususnya pembangunan ekonomi.

Di Timur seperti Jepang, Taiwan, Indonesia, Pakistan, India, Saudi, Mesir dan sebagainya total equality tidak benar-benar dikehendaki wanita. Di negeri-negeri itu profesi ibu rumah tangga masih banyak diminati. Di Jepang antara wanita praktis tidak bekerja ketika menjadi istri dan mengurus keluarga. Tapi tidak ada pengaruh ekonomi yang signifikan terhadap Negara.

Lucunya, di negeri ini ulama, kyai dan cendekiawan Muslimnya tergiur untuk “mengimpor” paham kesetaraan ini. Mereka menjadi pongah lalu melabrak syariat. Fikih empat mazhab itu “dicaci” sebagai terlalu maskulin dan harus dirombak. Ayat-ayat gender ditafsirkan ulang demi equality. Yang muhkamat (pasti) diangggap mutasyabihat (ambigu).

Akhirnya, lahirlah konsep fikih berwawasan gender, lesbianisme dianggap fitrah dan perilaku homoseks dianggap amal saleh. Lucu! bak shalawat dilantunkan secara rap atau R&B, atau bagaikan masjid dihias pohon natal.

Jika para pegiat feminisme, mendapat berbagai awards dari Barat tidak aneh. Semakin galak menista syariat semakin bertaburan awards-nya. Tapi ide penerima awards tidak berarti benar dan sebaliknya. Sebab dari penelitian Yayasan Ibu Harapan di 6 kota besar di Indonesia, gagasan fikih itu ditolak oleh 90% responden dari 500 muslimah.

Ide persamaan hak waris pun ditolak 91% responden. Bahkan mayoritas (97.4%) tidak sepakat dengan ulah Aminah Wadud menjadi Imam. Apalagi perilaku Irsyad Manji yang lesbi dan pendukungnya di negeri ini.

Masalahnya apakah tuntutan kesetaraan itu setingkat 50-50? Jika benar, apakah tuntutan hak juga perlu disamakan dengan pelaksanaan kewajiban, khususnya dalam agama?, Padahal dalam Islam ada hak-hak (huquq) dan kewajiban (waajibat). Jika kesetaraan penuh tidak mungkin, apa saja yang harus disamakan?.

Mungkin benar pepatah Latin kuno yang berbunyi Omne Simile claudicate itaque de singulis verbis age (Semua persamaan itu pincang, oleh karena itu jelaskanlah secara rinci). Dan sungguh benar firman Allah bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita meski tidak harus beda surga.

 

Sourch : Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat.

Sumber: http://thisisgender.com/persamaan-equality/

Habib Alaydrus di Luar Batang

Posted by admin - 12 Juni 2012 - Sejarah Islam
0
Masjid Luar Batang


Masjid Luar Batang termasuk masjid terkenal di Jakarta. Tiap hari ratusan orang mendatangi masjid yang terletak di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Tiap malam Jumat pengunjung mencapai ribuan. Mereka datang dari berbagai tempat di Indonesia, untuk berziarah ke makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (wafat 1756) yang terletak di dalam masjid tersebut. Para peziarah juga datang dari Singapura, Malaysia dan Brunei Daraussalam.

Habib Umar bin Hafiz bin Syechbubakar, pendiri Pesantren Darul Mustafa di Tarim, Hadramaut, tiap tahun bila ke Jakarta tidak melewatkan untuk berziarah ke Luar Batang. Lebih dari seribu pelajar Indonesia berguru kepadanya di Hadramaut. Susuhunan dari Surakarta pada awal abad ke-20 juga pernah berziarah ke Luar Batang disertai sejumlah kerabatnya.

Menurut sejahrawan Syafaruddin Usman MHD dari Pontianak, pada peta-peta Batavia abad ke-19, Masjid Luar Batang terkadang ditulis heiling graf, artinya masjid keramat. Masjid ini terletak di sebelah Utara tembok kota lama Batavia, dan tidak berjauhan dengan gudang rempah-rempah VOC yang kini menjadi Museum Bahari. Luar Batang artinya daerah di Luar Batang (groote boom), yang menutup Pelabuhan Sunda Kalapa pada malam hari.

Turis Tionghoa

Masih menurut Syafarudin, sejarah Masjid Luar Batang belum dapat disusun dengan jelas, antara lain karena sumber-sumber historis yang tersedia bertentangan dengan pandangan umum sekarang, dan kurang lengkap. Berita tertua berasal dari seorang turis Tionghoa, yang menulis bahwa pada 1736 ia meninggalkan Batavia dari shengmu gang, artinya pelabuhan makam keramat, yaitu Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang.

Pada 1916 telah dicatat di atas pintu masjid, bahwa gedung ini selesai dibangun pada 20 Muharam 1152 H atau 29 April 1739. Arah kiblat masjid ini semula kurang tepat dan ditentukan agar lebih pas oleh Syech Muh Arshad al Banjari (wafat 1812) ketika singgah dalam perjalanan pulang dari Hejaz (Arab Saudi). Karena itu, ada penulis seperti H Abubakar Atjeh yang beranggapan semula ruang masjid ini adalah bekas rumah kediaman orang yang kemudian digunakan sebagai mushola atau masjid.

Pada makam Habib Husein Alaydrus tertulis, Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus wafat pada hari Kamis 27 Ramadhan 1169 H bersamaan 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. Sebab, LWC Van Den Berd dalam buku yang termasyhur tentang orang Hadramaut menyebut bahawa Habib Husein baru wafat tahun 1798.

Koran Bataviaasche Courant, pada 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dicatat dalam tulisan ini bahwa Habib Husein meninggal kurang lebih pada tahun 1796, setelah lama berkhotbah dan menyiarkan Islam di Surabaya dan Batavia.

Masih menurut harian berbahasa Belanda itu, pada 1812 makamnya dikelilingi batu dan masih terletak di luar gedung masjid sampai 1827. Rupanya pada waktu itu, derma tidak lagi diterima oleh komandan (semacam lurah) daerah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh pengurus masjid sehingga tempat ibadah ini bisa diperluas.

Menurut koran Belanda itu, Kramat Luar Batang adalah daerah yang termasyhur di Batavia. Habib Husein meninggal di rumah Komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid yang sudah ada. Di lain pihak suatu masjid (bukan surau) telah dicatat pada peta yang dibuat CF Reimer pada tahun 1788. Dengan menyebutkan sebuah makam keramat yang banyak diziarahi di kota tua Batavia.

Reputasi

Dalam bukunya yang terkenal tentang Hadramaut, LWC Van Den Berg, pada tahun 1886, menulis mengenai Habib Husein, “Cendekiawan Hadramaut pertama adalah Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus, yang meninggal pada 1798, setelah mengajar selama bertahun-tahun. Segera setelah ia wafat, ia memperoleh reputasi sebagai keramat. Di atas makamnya di Luar Batang, dekat Muara Kali Batavia, telah didirikan sebuah masjid besar, yang kini menjadi pusat ziarah nusantara. Tidak hanya golongan pribumi, namun juga Cina campuran dan Indo Belanda berziarah untuk memohon keberhasilan dalam usaha mereka.

Menurut cerita, Habib Husein pernah meramalkan nasib baik seorang pemuda Belanda yang kemudian benar-benar menjadi pejabat tinggi, sehingga dia diberi hadiah sebidang tanah, tempat kemudian ia dimakamkan. Beliau meninggal dalam usia 40 tahun. Dahulu, banyak jamaah haji (masih menggunakan kapal laut) setibanya dari Tanah Suci di pelabuhan Tanjung Priok terlebih dulu berziarah ke makamnya. Demikian pula warga betawi saat memberi nama pada bayinya terlebih dulu berziarah ke makam almarhum.

Untuk mendatangi Luar Batang saat ini, kita harus menyediakan uang kecil karena akan diserbu dan dikejar-kejar pengemis yag tidak pernah berhenti mendesak agar diberi uang. Oleh Gubernur Fauzi Bowo, Luar Batang sejak beberapa tahun lalu telah diperbaharui menjadi tempat ibadah yang megah sehingga hampir-hampir tidak terlihat lagi kekunoannya.

Hati, Antara Hati yang Hidup dan Mati

Posted by admin - 8 Juni 2012 - Psikologi
0
ALLAH heart

Hati yang Sehat/Bersih

Pada hari kebangkitan nanti, hanya mereka yang datang dengan hati yang bersihlah yang dapat selamat. Allah berfirman:

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS 26: 88-89)

Hati yang sehat adalah: “Hati yang dibersihkan dari hawa nafsu yang menentang perintah Tuhan, atau hati yang bersih dari keinginan untuk mengerjakan larangan-Nya. Hati bersih bebas dari dorongan-dorongan yang bertentangan dengan kebaikan-Nya. Akibatnya, hati tersebut menjaga kita dari menyembah sesuatu selain-Nya, serta menaati keputusan Rasul-Nya. Hati tersebut hanya diperuntukkan bagi Allah semata, secara sukarela dan senang hati dengan penyerahan diri seutuhnya, dan menyandarkan segala urusan kepada Allah dengan penuh harap, cemas, dan dedikasi tulus. Ketika hati itu mencintai sesuatu, cintanya karena Allah. Ketika ia membenci, kebenciannya adalah pada sesuatu yang dibenci-Nya. Ketika ia memberi, pemberiannya karena Allah. Ketika ia menahan sesuatu, hal tersebut dilakukannya semata untuk Allah. Namun hal ini tidak akan cukup menggiring pada keselamatan hingga hati tersebut hanya mengikuti panduan Rasul-Nya semata. Seorang hamba yang memiliki hati yang sehat harus mendedikasikan hatinya untuk tujuan akhir. Tindakan serta ucapannya tidak boleh didasari pada hukum selain yang telah ditentukan oleh Rasul-Nya. Ia tidak boleh memberikan prioritas pada kepercayaan, perkataan atau perbuatan selain dari Tuhan dan Rasul-Nya. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 49:1)

Hati yang Mati

Ini adalah kebalikan dari  hati yang bersih. Ia tidak mengenal Tuhannya serta tidak menyembahnya sesuai perintah-Nya dengan cara yang disukai-Nya. Hati ini hanya menuruti hawa nafsu dan keinginannya pribadi, meskipun hal ini dapat membawa pada murka Tuhan. Ia menyembah selain Allah. Cinta dan kebenciannya, dan ketika ia memberi atau menahan pemberian hal tersebut dilakukannya berdasarkan dorongan hati semata dan bukannya karena Allah. Dorongan hatinya menjadi imam baginya. Nafsu menjadi panduannya. Kebodohan adalah pemimpinnya. Yang dipikirkannya hanyalah tujuan duniawi semata. Hati yang mati mabuk dengan khayalan-khayalannya sendiri dan cintanya hanya untuk kesenangan sementara. Ketika ia diseru kepada Allah dan hari akhir hati ini tidak mau menerima nasehat dan malah menuruti tipu daya setan. Kehidupanlah yang membuatnya gembira atau marah, hawa nafsu menjadikannya buta dan tuli pada kebaikan. Menemani pemilik hati seperti ini sama saja seperti hendak mencari masalah, hidup bersama dengannya seperti meminum racun, dan berteman dengannya berarti kehancuran.

Hati yang Sakit

Inilah hati yang hidup namun juga mengidap penyakit. Pada kondisi sehat hati ini akan menunjang kehidupannya dan demikian pula sebaliknya. Ia mengikuti siapa yang lebih mendominasi. Hati ini memiliki cinta, iman, ketulusan, dan ketergantungan pada Tuhan. Hal-hal inilah yang menghidupkan hati tersebut. Namun, ia juga menuruti hawa nafsu, menyenangi dan mencoba untuk merasakannya. Ia mengagumi dirinya sendiri di mana hal ini dapat menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. Ia menuruti dua seruan: seruan kepada Allah, Rasul-Nya serta akhirat; dan seruan pada kesenangan dunia yang fana. Hati ini mengikuti apa yang lebih berpengaruh pada saat itu. Hati yang pertama merupakan hati yang hidup, diperuntukkan bagi Allah, rendah hati, dan sensitif; sementara hati kedua lemah dan mati; hati yang ketiga terombang ambing pada keselamatan atau kehancurannya.

Diambil dari: “Purification of the Soul” oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Jangan Berkata “AH” Kepada Orang tua

Posted by admin - 7 Juni 2012 - Aqidah, Bina Keluarga
0
kasih seorang ibu

Unofficial Translation

(By: Annisa Utami)

 

 

PENDAHULUAN

Di Amerika, terdapat banyak hari istimewa yang digunakan untuk menghormati atau menghargai orang-orang tertentu. Beberapa diantaranya adalah: Hari Ayah, Hari Ibu, Hari Kakek, Hari Nenek, Hari Berkabung, Hari Buruh, dan lainnya. Kita telah mengetahui makna, ide, idealisme dan filsafat dari hari-hari tersebut. Dan kita pun sebaiknya menghargai usaha mereka yang telah mempeloporinya.

Dalam rangka menghargai dan menghormati orangtua, kita mengagumi usaha dari anak-anak yang mengingat orangtua mereka melalui hari-hari istimewa tersebut dengan mengirimi orangtua mereka kartu ucapan dan hadiah. Meskipun demikian, kita berharap bahwa penghargaan yang diberikan terhadap orangtua kita tidak hanya dilakukan pada satu hari saja dalam satu tahun, tapi juga setiap hari setiap tahunnya.

ORANGTUA DALAM AL-QUR’AN

Seorang anak harus menghargai dan menghormati orangtuanya setiap hari. Allah meminta umat manusia mengormati kedua orangtuanya setelah mereka dapat menghormati dan menghargai Allah. Di dalam Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa kedua orangtua kita disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan penuh penghargaan dan penghormatan, walaupun mereka sudah sangat tua. Dalam surat Al-Isra menyebutkan bagaimana kita harus memperlakukan kedua orangtua kita. Allah SWT mengatakan:

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (QS. Al-Israa: 23-24)

Pengakuan dan penghormatan terhadap kedua orangtua disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak sebelas kali; dan dalam tiap kalinya, Allah mengingatkan kepada anak-anak mereka untuk selalu mengakui dan menghargai rasa kasih sayang yang telah diberikan orangtua mereka. Dalam ayat ini, Allah meminta kepada kita untuk mengakui kedua orangtua:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapak-nya.”  (QS. Al-Ankabut: 8 dan Al-Ahqaaf: 15)

1.  Permintaan untuk menghormati kedua orangtua juga disebutkan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an:

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak…” (QS.Al-Baqarah: 83)

2.  Dalam Surat An-Nisaa’, Allah swt menekankan kembali mengenai sikap baik terhadap orangtua:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak..” (QS. An-Nisaa’:36).

 3.  Perintah yang sama juga diulangi lagi dalam Surat Al-An’am, dimana Allah berkata:

Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak…” (QS. Al-An’am: 151)

IBU

Islam telah memerintahkan secara jelas untuk menghormati dan menghargai kedua orangtua, meskipun demikian, para ibu mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang lebih dalam Islam. Sikap ini dapat dipahami bila kita menyadari betapa besarnya pengorbanan dan perjuangan ibu kita dalam hidup. Berkenaan dengan hal ini, Nabi Muhammad saw berkata:

Dikisahkan oleh Abu Hurairah: Seorang laki-laki mendatangi Nabi Muhammad saw dan bertanya kepadanya, “Siapakah yang dapat aku jadikan sebagai teman dekat?” , Lalu Nabi saw pun menjawab:

Ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu, lalu orang terdekatmu dan orang dekat setelahnya

Islam mendorong umat muslim untuk tetap menghormati kedua orangtua meskipun mereka non-muslim. Bila orangtua memaksa anak-anaknya untuk melawan Islam, maka anak-anak mempunyai hak untuk tidak mentaati orangtua, tetapi mereka tetap harus bersikap baik. Dalam hal ini, Allah swt berfirman dalam surat Luqman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)

MENGHORMATI

Islam mengajarkan kita untuk selalu menghormati kedua orangtua dalam doa kita kepada Allah. Nabi Muhammad saw berkata:

Dikisahkan oleh Abi Abdurrachman Abdullah bin Massoud berkata: Aku bertanya kepada Nabi saw, “Amal baik manakah yang lebih disukai oleh Allah?”, lalu Rasul menjawab, “Shalat tepat waktu”. Kemudian aku bertanya, “Setelah itu apa lagi?”, Rasul menjawab, “Bersikap baik pada orangtua”. Lalu aku bertanya lagi, “Setelah itu apa?”. Dia menjawab, “Jihad di jalan Allah”.

Dalam Islam, menghormati kedua orangtua adalah sangat baik sehingga anak dan kekayaan yang dimilikinya dianggap milik orang tua. Dalam hal ini Rasulullah saw berkata:

Dikisahkan oleh Aisyah bahwa seseorang datang kepada Nabi Muhammad saw untuk mencari jalan keluar atas permasalahan dia dengan ayahnya setelah dia memberikan hutang kepada ayahnya. Lalu Nabi saw berkata kepada orang tersebut: “Kamu dan kekayaanmu adalah milik ayahmu”

KESIMPULAN AKHIR

Kita berharap dan berdoa bahwa kita semua akan dapat selalu menghormati kedua orangtua baik saat mereka masih hidup ataupun sudah meninggal. Kalian dapat menghormati dan menghargai mereka setelah mereka meninggal dengan cara sebaga berikut:

  1. Beramal dengan atas nama mereka
  2. Membangun badan amal dengan atas nama mereka, seperti Masjid, Pusat Kajian Islam, Perpustakaan Islam, Rumah Sakit Islam, Rumah Yatim Piatu, Panti Jompo, dll.
  3. Menjalankan haji dengan atas nama mereka, atau meminta orang lain yang mampu.
  4. Membaca Al-Qur’an untuk mereka
  5. Menyebarkan ajaran Islam

Marilah kita berdoa kepada Allah bahwa kita akan melakukan yang terbaik untuk kedua orangtua kita, untuk menghormati mereka, bersikap baik kepada mereka, membantu mereka dan menyenangkan mereka dalam cinta dan kasih sayang Allah.

“ Ya Allah! Terimalah doa kami dan jadikanlah kami sebagai hamba Mu yang patuh”

“Ya Allah! Bantulah kami agar kami dapat menjadi anak-anak yang selalu menghormati kedua orangtua kami. “

Amin.

 By: Dr. Ahmad H. Sakr

Page 1 of 212