Click here to send us your inquires or call (852) 36130518
Click here to send us your inquires or call (852) 36130518

Archive: Agustus, 2012

Semakin Semangat Ibadah di Akhir Ramadhan

Posted by admin - 10 Agustus 2012 - Ramadhan
3
al quran

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebagian kaum muslimin di akhir Ramadhan malah tersibukkan dengan hal-hal dunia. Dirinya lebih memikirkan pulang mudik, baju baru dan silaturahmi kepada kerabat. Contoh dari suri tauladan kita tidaklah demikian. Di akhir Ramadhan, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih tersibukkan dengan ibadah, apalagi shalat malam.

Raih Lailatul Qadar

Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar (Zaadul Masiir, 9/191).

Kapan Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Tidak Perlu Mencari Tanda

Sebagian orang sibuk mencari tanda kapan lailatul qadar terjadi. Namun sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir Ramadhan, pokoknya terus perbanyak ibadah. Karena kalau sibuk mencari tanda malam tersebut, kita malah tidak akan memperbanyak ibadah. Walaupun memang ada tanda-tanda tertentu kala itu.  Tanda tersebut di antaranya:

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762)

Jika Engkau Dapati Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171, shahih)

Lebih Giat Ibadah di Akhir Ramadhan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan.

‘Aisyah mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Menghidupkan Malam Penuh Kemuliaan

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (‘Aunul Ma’bud, 4/176). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Jika seorang meraih lailatul qadar dengan i’tikaf, itu lebih bagus. Namun i’tikaf bukanlah syarat untuk dapati malam kemuliaan tersebut. Begitu pula bukanlah syarat mesti di masjid untuk dapati lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 341).

Semoga Allah beri taufik kepada kita sekalian untuk terus perbanyak ibadah di akhir-akhir Ramadhan dan moga kita juga termasuk hamba yang mendapatkan malam penuh kemuliaan, lailatul qadar. Wallahu waliyyut taufiq.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel  www.muslim.or.id

Keutamaan Bismillah

Posted by admin - 8 Agustus 2012 - Aqidah, Ilmu Al Quran dan Tafsir
5
Bismillah


Oleh: Sadullah

Setelah bacaan syahadat, frasa penting dan yang sering diucapkan oleh seorang Muslim adalah bismillahirrahmanirrahim. Bacaan basmalah sejak awal menempati posisi penting dalam keyakinan dan ibadah setiap Muslim.

 

Tujuan Basmalah 

Salah satu dari sekian banyak kebaikan dalam ajaran Islam adalah bahwa seseorang harus mengawali setiap kegiatannya atas nama Allah. Mengingat Allah sebelum memulai suatu pekerjaan merupakan bagian pengakuan awal bahwa segalanya adalah ciptaan Allah dan bahwa aktivitas apapun yang akan dikerjakan telah diridhai oleh-Nya sehingga hal ini akan membangun derajat  kesadaran dan rasa syukur pada Sang Pencipta. Jika basmalah secara sadar diterapkan, ia dapat mencegah perilaku yang salah sehingga hal ini dapat dihindari, dan menyakinkan seseorang bahwa niat dan orientasi mental dirinya adalah baik. Sebagai tambahan, ketika seseorang membaca basmalah, ia menyebut nama Allah,dan karenanya atas kemuliaan, kesempurnaan, keagungan dan rahmat Allah, perbuatan yang ia kerjakan akan memperolah berkah serta terlindung dari gangguan setan.

Kedudukan bacaan basmalah 

Para ulama menyepakati hal-hal di bawah ini:

  • Basmalah adalah sebuah ayat al-Quran
  • Ia merupakan bagian dari sebuah ayat dari Surat an-Naml (QS 27:30)
  • Ia tidak dibaca dalam surat at-Taubah
  • Ia merupakan bagian dari Surat al-Fatihah menurut seluruh tujuh Imam Qiraat (yaitu Imams ‘Asim, Kisa’i, Nafi’, Abu ‘Amru, Ibn ‘Amir, Ibn Kathir and Hamzah) dan berdasarkan mazhab of Shafi’i, Zaydi, Zahiri, ‘Ibadi and Ja’fari. Sementara mazhab Hanafi, Maliki and Hanbali memiliki pendapat yang berbeda.

Pentingnya bacaan basmalah

Ayat pertama dalam al-Quran adalah: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (QS: 96:1). Dalam Perjanjian lama (Ulangan: 18:18) kita mendapati isinya: “Maka pada masa itu berfirmanlah Allah kepadaku, benarlah perkataan  mereka itu. Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi  diantara  segala  saudara-saudaranya yang seperti  engkau  ya  Musa.dan Aku akan memberikan segala firmanKu dalam mulutnya dan  iapun  akan  mengatakan  segala yang Kusuruh akan dia.”

Karena Nabi Muhammad dibesarkan seperti nabi Musa (Quran), maka dalam rangka pemenuhan janji di atas maka Allah menetapkan bahwa setiap kali sebuah surat baru diturunkan, surat tersebut selalu dimulai dengan kalimat: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda: “ Tiap-tiap pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka pekerjaan itu terputus (kurang berkah).” (Riwayat Abu Dawud). Bacaan Basmalah mengawali surat al-Fatihah dan karenanya menjadi pembuka seluruh al-Quran.

Allah SWT menggambarkan diri-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat Allah merupakan sarana bagi kita mengenal diri-Nya. Dalam hal ini, Allah tidak hanya memperkenalkan al-Quran melainkan juga memperkenalkan diri-Nya sendiri. Bacaan basmalah merupakan ujaran dari yang Maha Agung dengan menyebut Nama-Nya (Allah) yang diikuti oleh dua dari Asmaul Husna (al-Rahman dan al-Rahim) yang pada dasarnya merupakan dua sifat Allah yang paling utama. Bacaan basmalah ini menggambarkan hubungan antara sang Pencipta dan makhluk-Nya dalam sebuah kalimat ringkas – hubungan yang penuh cinta, kasih, kepedulian, simpati,  kebaikan, dan ampunan.

Secara harfiah, bismillah berarti “Dengan menyebut nama Allah”, “Atas nama Allah”, “melalui bimbingan dan berkah dari Allah”.
Tiga bagian frasa ini adalah B, Ism dan Allah.

B” dapat berarti “dalam”, “dengan” atau “melalui”.
Ism” berarti nama. Nama diberikan kepada suatu objek dalam rangka memberi tanda yang dengannya objek tersebut dapat dikenal dan dibedakan dari yang lainnya. Ketika kata “Ism” digunakan dalam hubungannya dengan sang Pencipta, hal ini menandai sebuah Sifat Tuhan yang inheren. Berdasarkan al-Quran, Allah memiliki nama-nama yang paling indah (Asmaul Husna), dan berdasarkan sabda Nabi SAW Allah memiliki 99 nama. Semua sifat dan nama-nama ini begitu penting karena kita mengenal Tuhan melaluinya. Penting untuk digaris bawahi bahwa tidak ada satu sifat atau satu nama pun yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Allah begitu Pengasih dan Penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya; karenanya esensi dari semua sifat-Nya tidak lepas satu sama lain. Seluruh nama dan sifat-Nya berperan serta dalam semua keberadan-Nya melalui kesatuan Esensi-Nya. Seluruh nama-Nya yang suci menandakan keberadaan Esensi suci-Nya.

Allah“- Kata ini merupakan kata ganti par excellence. Kata ini menunjuk pada seluruh sifat yang sempurna dan mengacu hanya pada yang Maha Tunggal. Kata  “Allah” merupakan nama Tuhan yang paling menyeluruh.

Kata Rahman dan Rahim keduanya diturunkan dari akar kata RHM, yang menunjukkan kelembutan, kasih, kepedulian, dan cinta. Dalam al-Quran, Allah berfirman: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS: 7:156) untuk menggambarkan intensitas dan keluasan kasih sayang-Nya, dua bentuk kata Rahmah ini digunakan saling bersandingan, dan dalam surat al-Fatihah ia diulang pada ayat ketiga sebagai satu ayat tersendiri. Dan faktanya, tidak ada sifat-sifat Allah yang paling sering ditekankan dalam al-Quran (lebih dari 300 kali) selain sifat Rahmah ini.

Sejak awal sekali seseorang mempelajari teks suci al-Quran, ia langsung dituntun pada kesadaran akan sang pencipta, diyakinkan akan keberadan-Nya serta diingatkan akan kasih dan sayang-Nya yang tiada terbatas.
Bacaan basmalah mengawali “pembuka al-Kitab” (al-fatihah) dan karenanya menandai pembukaan Komunikasi Tuhan yang Terakhir dengan hamba-Nya.


Sumber: ICOI

Sejarah Thariqah Sâdah Ba ‘Alawi dan Para Tokohnya

Posted by admin - 6 Agustus 2012 - Sejarah Islam
4
yaman

MENGENAL THARIQAH SADAH BA ‘ALAWI

 

Nasab para Sâdah Ba ‘Alawi kembali kepada datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam al-Muhâjir, Ahmad bin Isa an-Naqîb, yakni naqîb (pemimpin) para syarif di Iraq, bin Muhammad  an-Naqîb bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shâdiq bin Muhammad al-Bâqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Kehidupan Imam Ahmad al-Muhâjir dijalani di Bashrah. Di daerah inilah dia tumbuh berkembang. Pada saat itu Ahlulbait berada di dalam kehormatan dan pemeliharaan. Tetapi para khalifah Bani ’Abbas yang menjadikan Iraq sebagai pusat  mulai melemah kekuasaan. Lalu muncullah gerakan-gerakan dan pemberontakan-pemberontakan. Sedikit demi sedikit fitnah melanda Iraq, yang paling besar di antaranya adalah hadirnya kaum Qaramithah yang menyerang Bashrah di awal abad ke-4 H, dan munculnya kelompok orang–orang Sudan.

Pada situasi yang kacau itu, orang-orang saleh, yang menjauhkan diri dari dunia, tak dapat menghadapinya. Tepatnya pada tahun 317 H, Imam Ahmad bin Isa pun hijrah―yang karena itu beliau digelari al-Muhâjir―untuk menghindari fitnah-fitnah yang bergelombang. Beliau meninggalkan Bashrah bersama tujuh puluh orang dari keluarga dan para pengikutnya. Beliau menempuh jalan menuju Hijaz agar rombongannya dapat singgah setahun di Madinah. Setelah itu menuju Tanah Haram   Makkah pada tahun ketika kaum Qaramithah memasuki kota ini dan merampas Hajar Aswad.

Kemudian Imam Ahmad al-Muhâjir keluar dari Makkah melalui padang sahara menuju ’Asîr kemudian ke Yaman. Lalu takdir membawa mereka ke Lembah Hadramaut, lembah terpencil dengan sedikit kekayaan, yang sebagian besar daerahnya saat itu dikuasai oleh kaum Khawarij Ibadhiyah.

Imam al-Muhâjir pertama kali singgah di negeri Hajrain. Setelah itu pindah ke Kindah, dan akhirnya menetap di Husayyisah. Karena suatu hikmah yang mendalam dan faktor-faktor penyebab yang Allah siapkan, masa kekuasaan madzhab Ibadhiyah tidak berlangsung lama. Setelah terjadi adu argumentasi antara mereka dengan al-Muhâjir dan pengikutnya serta orang-orang yang menolong dan bergabung dengan mereka dari pengikut Ahlussunnah di sana, maka sebagian besar lembah ini dapat dibersihkan dari kejahatan kaum Khawarij dan para pengikut mereka. Setelah itu Ahlussunnah mengakar di sini dan orang-orang pun menganut madzhab mereka.

Imam Muhâjir mempunyai anak bernama ‘Ubaidillah yang kemudian mendapatkan tiga orang anak, Bashri, Jadid, dan ‘Alwi. Kepada ‘Alwi inilah keturunan para Sadah Ba ‘‘Alawi bernasab sebagaimana telah disebutkan di atas. Sedangkan keturunan kedua saudaranya habis bersamaan berakhirnya abad keenam Hijriah.

Beberapa lama setelah al-Muhâjir wafat, keturunannya pindah ke kota Tarim yang dinamai dengan nama raja yang membangunnya, yaitu Tarim bin Hadramaut. Mereka menetap di sana pada tahun 521 H. Keturunan al-Muhâjir yang pertama mendiami kota ini adalah al-Imam Ali bin Alwi yang dikenal sebagai Khali` Qasam dan saudaranya, Sâlim, serta mereka yang segenerasi dengan keduanya dari keturunan Bashri dan Jadid yang ada pada saat itu.

Maka Tarim pun yang dijuluki al-Ghanna menjadi tempat tinggal keturunan yang mulia ini. Lalu muncullah di sana ma`had-ma`had kebajikan dan banyak pula terdapat masjid. Di samping itu kota ini menjadi mulia karena terdapat jasad sejumlah sahabat mulia yang meninggal di sana saat memerangi orang-orang murtad.

***

Sumber-sumber sejarah tidak memberikan data yang rinci tentang periode pertama kaum ‘Alawiyyin. Informasi sejarah lebih banyak dimulai sejak periode dua anak Imam Muhammad bin Ali, yang dikenal sebagai Shahib Mirbath, yaitu Ali (ayah dari al-Faqîh al-Muqaddam) dan Alwi (yang dikenal sebagai paman dari al-Faqîh al-Muqaddam), dan periode sesudahnya. Kepada kedua orang inilah kembalinya nasab semua keluarga Ba ‘Alawi di masa sekarang ini.

Peletak pondasi sebenarnya pada bangunan thariqah ini adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ’Alawi yang digelari dengan al-Faqîh al-Muqaddam yang lahir di Tarim pada tahun 574 H dan wafat di sana pada tahun 653 H. Yang diterima oleh beliau —meskipun dari jauh― dari seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi, yang dikenal dengan gelar al-Ghauts melalui perantara beberapa pengikut Abu Madyan yang sampai ke Mekkah. Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqîh    yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-Dunya (wafat tahun 1162 H) mengatakan, “Asal Thariqah Sadah Ba ’Alawi adalah Thariqah Madyaniyyah, yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu‘aib al-Maghribi. Sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqîh al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawi al-Husaini al-Hadhrami. Thariqah ini diterima oleh para pemimpin dari para pemimpin yang mendahuluinya dan diwariskan kepada orang-orang besar yang memiliki maqâmât dan ahwâl.”

Muslim Rohingya. Yes, it’s Genocide

Posted by admin - 6 Agustus 2012 - Berita
1
love_Rohingya
Arya Wardana Menyukai post ini

Beberapa waktu belakangan ini dunia diramaikan oleh berita tentang kekerasan yang terjadi pada Muslim Rohingya di Arakan Utara, Myanmar, yang merupakan etnis minoritas di negara yang baru mengalami reformasi pemerintahan. Sejak kekuasaan Junta Militer berakhir dan pemilu dimenangkan oleh partai oposisi pemerintah pro demokrasi yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, kabar tentang kekerasan Muslim Rohingya pun mulai berhembus ke langit dunia.

Di Indonesia, berbagai pihak mengecam aksi kekerasan tersebut, bahkan Presiden SBY didesak untuk memberikan suaka politik bagi 82 Muslim Rohingya yang telah mengungsi di Tanjung Pinang selama lebih dari 10 bulan. (Republika, 25 Juli 2012)

Padahal, penindasan terhadap Muslim Rohingya sudah lebih dari 60 tahun lalu, bahkan sebelum Myanmar merdeka dari Inggris. Dianggap bukan etnis asli Myanmar, Muslim Rohingya mendapat perlakuan diskriminasi dari pemerintah Junta Militer dan rakyatnya sendiri. Burma, dihuni hampir 90% pemeluk agama Budha Theravada, 4% memeluk agama Islam, 4% lainnya beragama Kristen dan sisanya beragama Hindu dan Yahudi.

Muslim Rohingya merupakan komunitas yang terasing, baik karena kondisi geografi Arakan yang terisolir maupun kebijakan pemerintah pusat yang sengaja mengasingkan diri dari dunia internasional. Muslim Rohingya merupakan muslim keturunan Bengal yang penerus-penerusnya menetap dan menjadi bagian dari warga Arakan. Namun, walaupun mereka telah bergenerasi-generasi tinggal di Arakan, muslim Rohingya tetap dianggap sebagai masyarakat asing yang datang dari negara Pakistan sebagai imigran ilegal sehingga mereka mengalami ketidakadilan atas agama, suku dan posisi mereka sebagai kelompok minoritas.

 Arakan, yang pada asal mulanya dinamakan Rohang, merupakan sebuah bangsa yang berdiri sendiri sejak awal mula sejarah bangsa itu dikenal. Oleh karena itulah, mereka dinamakan orang Rohangya, yang kini lebih dikenal dengan sebutan Rohingya. Arakan itu sendiri merupakan kata jamak dari rukn, berasal dari kata bahasa Arab yang artinya ‘tiang-tiang’. Kata tersebut mencirikan keislaman dari etnis Rohingya. Rohang, adalah sebutan kata Arakan sebelumnya. Arakan merupakan tempat yang cukup terkenal bagi para pelaut Arab sebelum adanya Islam. Saat itu, banyak orang-orang, seperti Arab, Moor, Turki, Moghuls, Asia Tengah, dan Bengal yang datang sebagai pedagang, prajurit, dan ulama. Mereka datang melalui jalur darat dan laut. Oleh karena itu, muslim Rohingya yang menetap di Arakan sudah ada sejak abad ke-7 dan mereka tidak terbentuk dari satu suku saja. Mereka terbentuk dari percampuran berbagai suku yang berbeda.

Diperkirakan, pemerintahan Myanmar telah melakukan paling tidak 13 operasi bersenjata melawan Rohingya semenjak tahun 1948. Mereka melucuti senjata, menutup sekolah agama, dan membakar masjid-masjid. Pada 1975, sekitar 15.000 penduduk muslim Rohingya mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh, untuk melarikan diri dari penganiayaan. Pada 1978, operasi militer masif, yang dikenal dengan nama Operasi Naga Min, memaksa sekitar 200.000 Rohingya untuk keluar dari Myanmar. Operasi tersebut meliputi relokasi paksa muslim disertai  pemerkosaan, pemaksaan, dan penggusuran masjid. Rezim yang berkuasa menyalahkan kelompok pengacau Bengal atas kejadian itu.

Tidak lama setelah operasi Naga Min berlangsung, pada tahun 1982, penguasa militer Myanmar mengeluarkan sebuah dekrit tentang Undang-Undang Kewarganegaraan Myanmar. Di dalam undang-undang tersebut, muslim Rohingya dicoret hak kewarganegaraannya dan mereka menjadi tidak mempunyai negara (stateless). Ne Win memaklumatkan bahwa muslim Rohingya adalah rakyat tanpa negara (people without state).

Padahal, status warga negara sangat penting bagi penduduk muslim Rohingya. Dengan memperoleh status warga negara, mereka bisa memperoleh kemudahan sosial, pendidikan, dan kesehatan. Kebijakan itu telah menyebabkan kaum muslim Rohingya semakin mengalami penindasan, penyiksaan, tekanan, dan kematian di tangan penguasa tirani militer Myanmar. Pembunuhan yang tidak terhitung jumlahnya, pelecehan terhadap wanita Islam, tindakan penangkapan yang sewenang-wenang, pengurungan dalam penjara, serta perlakuan dengan cambuk, sampai hukuman mati yang semena-mena. Selain itu, pemerintah juga menghilangkan segala ciri yang berbau keislaman. Sehingga, muslim Rohingya dilarang untuk memelihara janggut, memakai kopiah dan penutup kepala yang lain, serta memakai jilbab (tutup kepala bagi wanita). Akibatnya, sekitar 20.000 muslim Rohingya dibunuh oleh rezim militer di antara tahun 1962 sampai tahun 1984.

Secara umum, pemerintah sebenarnya mencanangkan kebijakan untuk memberi kebebasan kepada penduduk dalam menjalankan agama mereka masing-masing. Pada kenyataannya, pemerintah menerapkan banyak larangan, khususnya terhadap kelompok minoritas. Kitab suci Alquran yang diterjemahkan ke dalam bahasa lokal, tidak dapat diimpor secara legal. Izin untuk mendirikan masjid sangat sulit didapatkan.

Dalam hal bepergian ke luar negeri seperti menjalankan ibadah haji atau menghadiri pertemuan keagamaan dengan luar negeri sebenarnya diperbolehkan. Namun, pembatasan dan pengawasan yang ketat serta kesulitan lain menghadang kelompok minoritas muslim ini. Seperti, pembatasan masa berlakunya visa, sulitnya pengurusan paspor, dan kecurigaan atas segala kegiatan yang dilakukan oleh kelompok minoritas muslim di dalam dan di luar negeri. Contoh perlakuan yang dilakukan pemerintah Myanmar pada tahun 1962, tentang aturan pembatasan haji. Pada tahun tersebut, jamaah haji Myanmar berkisar sampai 500 orang. Namun dengan adanya kebijakan uang ketat di era pemerintahan militer, jumlah tersebut turun drastis menjadi rata-rata hanya 16 orang. Itu pun hanya diberikan kepada orang-orang tua yang belum pernah pergi haji.

Pada tahun 1989, pemerintah militer Myanmar mengeluarkan kartu identitas baru untuk penduduk. Kartu identitas tersebut tidak hanya memuat foto, nama orang tua, dan alamat, tetapi juga memuat asal suku bangsa dan agama. Kartu identitas baru itu harus selalu dibawa ke manapun mereka pergi. Kartu itu juga dibuat sebagai persyaratan jika ingin membeli tiket untuk bepergian, mendaftarkan anak di sekolah, melamar pekerjaan, termasuk semua kedudukan sebagai pegawai negeri, menjual atau membeli tanah, dan kegiatan sehari-hari lainnya.

Muslim Rohingya tidak diperbolehkan memiliki kartu identitas tersebut. Hal itu membuat mereka mengalami kesulitan bila akan bepergian. Mereka diperkenankan bepergian, setelah memperoleh izin dari pihak yang berwenang. Dalam banyak kasus, izin perjalanan hanya diberikan untuk 12 jam saja dan hanya pada kasus tertentu seorang muslim diberikan izin perjalanan sampai bisa menginap. Untuk perjalanan yang jauh, seperti ke Maungdaw, Buthidaung, atau ke ibu kota propinsi Akyab, mereka sulit mendapatkan izin. Kesulitan memperoleh izin perjalanan itu menyebabkan masyarakat Rohingya sulit memperoleh pekerjaan, terutama pada musim panas, ketika pekerjaan pertanian menurun. Muslim Rohingya hidup dalam kamp konsentrasi dengan tidak mempunyai akses untuk bekerja, tidak ada peluang untuk berdagang dan bisnis, serta tidak ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Bahkan, hak menikah pun dilarang. Muslim yang berjanggut tidak boleh menggunakan transportasi umum atau memasuki kantor-kantor pemerintah. Sementara muslim yang bukan penduduk Akyab (ibukota Arakan) dilarang memasuki kota itu dan kota Rangoon.

Begitulah Muslim Rohingya, selalu ditindas dari masa ke masa, siapapun pemimpin kekuasaan mereka tak luput dari kekerasan. Bahkan ketika Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu pemerintahan, tak mampu berbuat banyak. Lebih memilih diam cari aman. Pemerintah Indonesia sebagai salah satu pendiri negara ASEAN hanya mampu menyampaikan kecaman. Kalah jauh dengan lembaga-lembaga kemanusiaan yang sudah berbuat nyata dengan mengumpulkan sumbangan.

Di segala sudut belahan dunia, apapun latar belakang suku dan agama, genosida tak boleh dibiarkan. Perlahan tapi pasti korban tewas di Arakan Utara terus berjatuhan. Jumlah angka kematian semakin memilukan. Yes, it’s genocide.