Archive: Agustus, 2012

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Posted by admin - 31 Agustus 2012 - idul fitri, puasa
0
puasa 6 hari di bulan syawal

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun . (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda:

Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh. ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka.)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun.  (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: “Salah satu sanad yang befiau miliki adalah shahih.”)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (tebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :

  1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
  2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
  3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala’amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
  4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya’ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa. Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali “(An-Nahl: 92)
  5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa merasa demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosam dan berat apalagi benci.

Ketahuilah, amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) ” (Al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala pada bulan Ramadhan adalah disyari’atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya; ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan sahabatnya.

sumber

Yang Berhak/Tidak Berhak Menerima Zakat

Posted by admin - 14 Agustus 2012 - ZIS
8
zakat

Ada 8 golongan yang berhak menerima zakat, baik zakat fitrah atau zakat mal, dan dibagikan kepada mereka sesuai dengan tartib (kebutuhan) yang tertera dalam al-qur’an. Karena Allah telah membuat sepasi antara golongan dan golongan dengan waw al-’athaf

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Firman Allah “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (at-taubah: 60)

1.     Al-fuqara’

Orang faqir (orang melarat) Yaitu orang yang amat sengsara hidupnya, tidak memiliki harta dan tidak mempunyai tenaga untuk menutupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Seumpama orang fakir adalah seumpama orang yang membutuhkan 10.000 rupiah tapi ia hanya berpenghasilan 3.000 rupiah. Maka wajib diberikan zakat kepadanya untuk menutupi kebutuhannya.

 2.     Al-Masakin

Orang miskin berlainan dengan orang faqir, ia tidak melarat, ia mempunyai penghasilan dan pekerjaan tetap tapi dalam keadaan kekurangan, tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Seumpama  orang miskin adalah seumpama orang yang membutuhkan 10.000 rupiah, tapi ia hanya berpenghasilan 7.000 rupiah. Orang ini wajib diberi zakat sekedar menutupi kekurangan dari kebutuhannya.

 3.     Al’amilin

yaitu amil zakat (panitia zakat), orang yang dipilih oleh imam untuk mengumpulkan dan membagikan zakat kepada golongan yang berhak menerimanya. Amil zakat harus memiliki syarat tertentu yaitu muslim, akil dan baligh, merdeka, adil (bijaksana), medengar, melihat, laki-laki dan mengerti tentang hukum agama. Pekerjaan ini merupakan tugas baginya dan harus diberi imbalan yang sesuai dengan pekerjaaanya yaitu diberikan kepadanya zakat

 4.     Almuallafah

yaitu yaitu orang yang baru masuk islam dan belum mantap imannya, terbagi atas tiga bagian:

  • orang yang masuk islam dan hatinya masih bimbang. Maka ia harus didekati dengan cara diberikan kepadanya bantuan berupa zakat
  • orang yang masuk islam dan ia mempunyai kedudukan terhormat. Maka diberikan kepadanya zakat untuk menarik yang lainya agar masuk islam
  • orang yang masuk islam jika diberikan zakat ia akan memerangi orang kafir atau mengambil zakat dari orang yang menolak mengeluarkan zakat.

 5.     Dzur- Riqab

yaitu hamba sahaya (budak) yang ingin memerdekan dirinya dari majikannya dengan tebusan uang. Dalam hal ini mancakup juga membebaskan seorang muslim yang ditawan oleh orang orang kafir, atau membebaskan dan menebus seorang muslim dari penjara karena tidak mampu membayar diah

 6.     Algharim

yaitu orang yang berhutang karena untuk kepentingan peribadi yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Orang ini sepantasnya dibantu dengan diberikan zakat kepadanya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam atau berhutang untuk kemaslahatan umum seperti membangun masjid atau yayasan islam maka dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.

Sesuai dengan sabda Nabi saw: ” Zakat itu tidak halal diberikan kepada orang kaya kecuali orang yang berperang di jalan Allah, atau Panitia zakat atau orang yang berhutang” (HR Abu Dawud, hadist hasan shahih)

 7.     Fi sabilillah (Almujahidin) 

yaitu Orang yang berjuang di jalan Allah (Sabilillah) tanpa gajih dan imbalan demi membela dan mempertahankan Islam dan kaum muslimin.

 8.     Ibnu Sabil

yaitu musafir yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil) yang bukan bertujuan maksiat di negeri rantauan, lalu mengalami kesulitan dan kesengsaraan dalam perjalanannya

Yang Haram Menerima Zakat

Ada beberpa golonga yang tidak berhak (haram) menerima zakat dan tidak shah zakat jika diserahkan kepada mereka, antara lain sebagai berikut:

  • Orang kafir atau musyrik
  • Orang tua dan anak termasuk ayah, ibu, kakek, nenek, anak kandung dan cucu laki-laki dan perempuan
  • Istri, karena nafkahnya wajib bagi suami
  • Orang kaya dan orang yang mampu untuk bekerja
  • Keluarga Rasulullah saw yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari Abdul Muttalib bin Rabiah bin Harks, sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya shadaqah (zakat) itu adalah kotoran manusia, sesungguhnya ia tidak halal (haram) bagi Muhammad dan bagi sanak keluarganya. (HR Muslim)

 

Hikmah & Atsar  

Ada tiga harta yang tidak dimakan oleh Rasulallah saw:

  1. Zakat, karena ia adalah kotoran manusia yang berarti suatu harta wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim pada waktu tertentu dan dalam jumlah tertentu yang telah ditetapkan oleh syariat (hukum Islam)
  2. Sedekah ialah santunan atau suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu
  3. Nazar adalah janji seseorang kepada Allah untuk melakukan sesuatu, jika apa yang diharapkannya dipenuhi oleh-Nya, seperti bernazar jika berhasil akan bersedekah, memberikan sebagian hartanya untuk fakir miskin dll.

Fiqih Nabi

Disadur dari kitab Ad-Durusul Fiqhiyyah

Karya: Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf

http://hasansaggaf.wordpress.com

Wallahu’alam// Hasan Husen Assagaf

Zakat Fithri

Posted by admin - 13 Agustus 2012 - Aqidah, Ramadhan, ZIS
0
beras

Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.

Hikmah Disyari’atkan Zakat Fithri

Di antara hikmah zakat fithri adalah untuk menyucikan hati orang yang berpuasa dari perkara yang tidak bermanfaat dan kata-kata yang kotor. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Selain itu juga, zakat fithri akan mencukupi kaum fakir dan miskin dari meminta-minta pada hari raya ‘idul fithri sehingga mereka dapat bersenang-senang dengan orang kaya pada hari tersebut dan syari’at ini juga bertujuan agar kebahagiaan ini dapat dirasakan oleh semua kalangan. (Lihat Minhajul Muslim, 23 dan Majelis Bulan Ramadhan, 382)

Hukum Zakat Fithri

Zakat Fithri adalah shodaqoh yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan. Hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun yang budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.” (HR. An Nasai. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Nasa’i, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih)

Catatan: Perlu diperhatikan bahwa shogir (anak kecil) dalam hadits ini tidak termasuk di dalamnya janin. Karena ada sebagian ulama seperti Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa janin juga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini kurang tepat karena janin tidaklah disebut shogir dalam bahasa Arab juga secara ‘urf (anggapan orang Arab) (Lihat Shifat Shaum Nabi, 102). Namun jika ada yang mau membayarkan zakat fithri untuk janin tidaklah mengapa karena dahulu sahabat Utsman bin ‘Affan pernah mengeluarkan zakat fithri bagi janin dalam kandungan. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381)

Yang Berkewajiban Membayar Zakat Fithri

Zakat fithri ini wajib ditunaikan oleh:

  1. Setiap muslim sedangkan orang kafir tidak wajib untuk menunaikannya, namun mereka akan dihukum di akhirat karena tidak menunaikannya.
  2. Yang mampu mengeluarkan zakat fithri. Menurut mayoritas ulama, batasannya adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘ied. Jadi apabila keadaan seseorang demikian berarti dia mampu dan wajib mengeluarkan zakat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

“Barangsiapa meminta dan padanya terdapat sesuatu yang mencukupinya, maka seseungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari-semalam.” (HR. Abu Daud, Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Abi Daud) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/80)

Bagaimana dengan anak dan istri yang menjadi tanggungan suami, apakah perlu mengeluarkan zakat sendiri-sendiri? Menurut Imam Nawawi, kepala keluarga wajib membayar zakat fithri keluarganya. Bahkan menurut Imam Malik, Syafi’i dan mayoritas ulama wajib bagi suami untuk mengeluarkan zakat istrinya karena istri adalah tanggungan nafkah suami. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, VII/59). Namun menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, jika mereka mampu, sebaiknya mereka mengeluarkannya atas nama diri mereka sendiri, karena pada asalnya masing-masing mereka terkena perintah untuk menunaikannya. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381). Wallahu a’lam.

Kapan Seseorang Mulai Terkena Kewajiban Membayar Zakat Fithri?

Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat fithri pada saat terbenamnya matahari di malam hari raya. Jika dia mendapati waktu tersebut, maka wajib baginya membayar zakat fithri. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Syafi’i dan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim VII/58, juga dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majlis Syahri Ramadhan. Alasannya karena zakat ini merupakan saat berbuka dari puasa Ramadhan. Oleh karena itu, zakat ini dinamakan demikian (disandarkan pada kata fithri) sehingga hukumnya juga disandarkan pada waktu fithri tersebut.

Misalnya adalah apabila seseorang meninggal satu menit sebelum terbenamnya matahari pada malam hari raya, maka dia tidak punya kewajiban dikeluarkan zakat fithri. Namun, jika ia meninggal satu menit setelah terbenamnya matahari maka wajib untuk mengeluarkan zakat fithri darinya. Begitu juga apabila ada bayi yang lahir setelah tenggelamnya matahari maka tidak wajib dikeluarkan zakat fithri darinya, tetapi dianjurkan sebagaimana perbuatan Utsman di atas. Namun, jika bayi itu terlahir sebelum matahari terbenam, maka zakat fithri wajib untuk dikeluarkan darinya (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 385).

Macam Zakat Fithri

Benda yang dijadikan zakat fithri adalah berupa makanan pokok manusia, baik itu kurma, gandum, beras, kismis, keju, dsb dan tidak dibatasi pada kurma atau gandum saja (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 383 & Shohih Fiqh Sunnah, II/82). Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Malikiyah, Syafi’iyah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa dan hal ini diselisihi oleh Hanabilah. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau gandum karena ini adalah makanan pokok penduduk Madinah. Seandainya itu bukan makanan pokok mereka tetapi mereka mengkonsumsi makanan pokok lainnya, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu tidak akan membebani mereka mengeluarkan zakat fithri yang bukan makanan yang biasa mereka makan. Sebagaimana juga dalam membayar kafaroh diperintahkan seperti ini. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ

“Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (QS. Al Maidah [5] : 89). Dan zakat fithri merupakan bagian dari kafaroh. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/82)

Ukuran Zakat Fithri

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar di atas bahwa zakat fithri adalah seukuran satu sho’ kurma atau gandum. Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran ‘empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang’ sebagaimana yang disebutkan dalam Kamus Al Muhith. Dan apabila ditimbang akan mendekati ukuran 3 kg. Jadi kalau di Jawa makanan pokoknya adalah beras, maka ukuran zakat fithrinya sekitar 3 kg dan inilah yang lebih hati-hati. (Lihat pendapat Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa-nya V/92 atau Majalah Al Furqon Th. I, ed 2)

Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fithri dengan Uang ?

Perlu diketahui bahwa pakaian, tempat tidur, bejana, perabot rumah tangga, serta benda-benda lainnya selain makanan tidak dapat digunakan untuk membayar zakat fithri. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan pembayaran zakat fithri dengan makanan (sebagaimana dapat dilihat pada hadits Ibnu Abbas di atas), dan ketentuan beliau ini tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, tidak boleh mengganti makanan dengan uang yang seharga makanan dalam membayar zakat fithri karena ini berarti menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan alasan lainnya adalah:

  1. Selain menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyelisihi amalan shabat radhiyallahu ‘anhum yang menunaikannya dengan satu sho’ kurma atau gandum. Ingatlah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Daud & Tirmidzi, dia mengatakan hadits ini hasan shohih)
  2. Zakat fithri adalah suatu ibadah yang diwajibkan dari suatu jenis tertentu. Oleh sebab itu, posisi jenis barang yang dijadikan sebagai alat pembayaran zakat fithri itu tidak dapat digantikan sebagaimana waktu pelaksanaannya juga tidak dapat digantikan. Jika ada yang mengatakan bahwa menggunakan uang ‘kan lebih bermanfaat. Maka kami katakan bahwa Nabi yang mensyariatkan zakat dengan makanan tentu lebih sayang kepada orang miskin dan tentu lebih tahu mana yang lebih manfaat bagi mereka. Allah yang mensyari’atkannya pula tentu lebih tahu kemaslahatan hamba-Nya yang fakir dan miskin, tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan dengan uang.

Perlu diketahui pula bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah terdapat mata uang. Tetapi kok beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan sahabatnya untuk membayar dengan uang? Seandainya diperbolehkan dengan uang, lalu apa hikmahnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dengan satu sho’ gandum atau kurma? Seandainya boleh menggunakan uang, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengatakan kepada umatnya, ‘Satu sho’ gandum atau harganya.’

Terakhir, menurut mayoritas ulama fiqh tidak boleh menggunakan uang yang senilai makanan untuk membayar zakat fithri, namun yang membolehkannya adalah Abu Hanifah juga Umar bin Abdul Aziz. Imam Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa perkataan Abu Hanifah ini tertolak. Karena “Tidaklah Rabbmu itu lupa”. Seandainya zakat fithri dengan uang itu dibolehkan tentu Allah dan Rasul-Nya akan menjelaskannya. (Lihat Majalah Al Furqon Th. I, ed 2 & Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah, 230-231)

Penerima Zakat Fithri

Penerima zakat fithri hanya dikhususkan untuk orang miskin dan bukanlah dibagikan kepada 8 golongan penerima zakat (sebagaimana terdapat dalam surat At Taubah:60). Inilah pendapat Malikiyah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyelisihi mayoritas ulama. Pendapat ini lebih tepat karena lebih cocok dengan tujuan disyariatkannya zakat fithri yaitu untuk memberi makan orang miskin sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas di atas, “… untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/85)

Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad, II/17 mengatakan bahwa berdasarkan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam zakat fithri itu hanya dikhususkan kepada orang miskin. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membagikannya kepada 8 ashnaf (sebagaiman dalam Surat At Taubah: 60) dan beliau juga tidak pernah memerintahkan demikian dan tidak ada seorang sahabat pun dan tabi’in yang melakukannya.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri

Zakat fithri disandarkan kepada kata ‘fithri (berbuka artinya tidak berpuasa lagi)’. Karena fithri inilah sebabnya, maka zakat ini dikaitkan dengan fithri tersebut dan tidak boleh didahulukan. Perlu diketahui bahwa waktu pembayaran zakat itu ada dua macam. Pertama adalah waktu utama (afdhol) yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘ied. Dan kedua adalah waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan Ibnu Umar. (Lihat Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, 640 & Minhajul Muslim, 231)

Ibnu Abbas berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied, maka itu adalah zakat yang diterima. Namun, barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ‘ied maka itu hanya sekedar shodaqoh.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Hadits ini merupakan dalil bahwa pembayaran zakat fithri setelah shalat ‘ied tidak sah karena hanya berstatus sebagaimana sedekah pada umumnya dan bukan termasuk zakat fithri (At Ta’liqot Ar Rodhiyah, I/553, ed)

Namun kewajiban ini tidak gugur di luar waktunya. Kewajiban ini harus tetap ditunaikan walaupun statusnya hanya sedekah. Abu Malik Kamal (Penulis Shohih Fiqh Sunnah) mengatakan bahwa pendapat ini merupakan kesepakatan para ulama yaitu kewajiban membayar zakat fithri tidaklah gugur apabila keluar waktunya. Hal ini masih tetap menjadi kewajiban orang yang punya kewajiban zakat karena ini adalah utang yang tidak bisa gugur kecuali dengan dilunasi dan ini adalah hak sesama anak Adam. Adapun hak Allah, apabila hak tersebut diakhirkan hingga keluar waktunya maka tidak dibolehkan dan tebusannya adalah istigfar dan bertaubat kepada-Nya. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/84). Wallahu a’lam bish showab. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar

Dari artikel Seputar Zakat Fithri — Muslim.Or.Id

Keutamaan Bismillah

Posted by admin - 8 Agustus 2012 - Aqidah, Ilmu Al Quran dan Tafsir
0
Bismillah


Oleh: Sadullah

Setelah bacaan syahadat, frasa penting dan yang sering diucapkan oleh seorang Muslim adalah bismillahirrahmanirrahim. Bacaan basmalah sejak awal menempati posisi penting dalam keyakinan dan ibadah setiap Muslim.

 

Tujuan Basmalah 

Salah satu dari sekian banyak kebaikan dalam ajaran Islam adalah bahwa seseorang harus mengawali setiap kegiatannya atas nama Allah. Mengingat Allah sebelum memulai suatu pekerjaan merupakan bagian pengakuan awal bahwa segalanya adalah ciptaan Allah dan bahwa aktivitas apapun yang akan dikerjakan telah diridhai oleh-Nya sehingga hal ini akan membangun derajat  kesadaran dan rasa syukur pada Sang Pencipta. Jika basmalah secara sadar diterapkan, ia dapat mencegah perilaku yang salah sehingga hal ini dapat dihindari, dan menyakinkan seseorang bahwa niat dan orientasi mental dirinya adalah baik. Sebagai tambahan, ketika seseorang membaca basmalah, ia menyebut nama Allah,dan karenanya atas kemuliaan, kesempurnaan, keagungan dan rahmat Allah, perbuatan yang ia kerjakan akan memperolah berkah serta terlindung dari gangguan setan.

Kedudukan bacaan basmalah 

Para ulama menyepakati hal-hal di bawah ini:

  • Basmalah adalah sebuah ayat al-Quran
  • Ia merupakan bagian dari sebuah ayat dari Surat an-Naml (QS 27:30)
  • Ia tidak dibaca dalam surat at-Taubah
  • Ia merupakan bagian dari Surat al-Fatihah menurut seluruh tujuh Imam Qiraat (yaitu Imams ‘Asim, Kisa’i, Nafi’, Abu ‘Amru, Ibn ‘Amir, Ibn Kathir and Hamzah) dan berdasarkan mazhab of Shafi’i, Zaydi, Zahiri, ‘Ibadi and Ja’fari. Sementara mazhab Hanafi, Maliki and Hanbali memiliki pendapat yang berbeda.

Pentingnya bacaan basmalah

Ayat pertama dalam al-Quran adalah: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (QS: 96:1). Dalam Perjanjian lama (Ulangan: 18:18) kita mendapati isinya: “Maka pada masa itu berfirmanlah Allah kepadaku, benarlah perkataan  mereka itu. Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi  diantara  segala  saudara-saudaranya yang seperti  engkau  ya  Musa.dan Aku akan memberikan segala firmanKu dalam mulutnya dan  iapun  akan  mengatakan  segala yang Kusuruh akan dia.”

Karena Nabi Muhammad dibesarkan seperti nabi Musa (Quran), maka dalam rangka pemenuhan janji di atas maka Allah menetapkan bahwa setiap kali sebuah surat baru diturunkan, surat tersebut selalu dimulai dengan kalimat: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda: “ Tiap-tiap pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka pekerjaan itu terputus (kurang berkah).” (Riwayat Abu Dawud). Bacaan Basmalah mengawali surat al-Fatihah dan karenanya menjadi pembuka seluruh al-Quran.

Allah SWT menggambarkan diri-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat Allah merupakan sarana bagi kita mengenal diri-Nya. Dalam hal ini, Allah tidak hanya memperkenalkan al-Quran melainkan juga memperkenalkan diri-Nya sendiri. Bacaan basmalah merupakan ujaran dari yang Maha Agung dengan menyebut Nama-Nya (Allah) yang diikuti oleh dua dari Asmaul Husna (al-Rahman dan al-Rahim) yang pada dasarnya merupakan dua sifat Allah yang paling utama. Bacaan basmalah ini menggambarkan hubungan antara sang Pencipta dan makhluk-Nya dalam sebuah kalimat ringkas – hubungan yang penuh cinta, kasih, kepedulian, simpati,  kebaikan, dan ampunan.

Secara harfiah, bismillah berarti “Dengan menyebut nama Allah”, “Atas nama Allah”, “melalui bimbingan dan berkah dari Allah”.
Tiga bagian frasa ini adalah B, Ism dan Allah.

B” dapat berarti “dalam”, “dengan” atau “melalui”.
Ism” berarti nama. Nama diberikan kepada suatu objek dalam rangka memberi tanda yang dengannya objek tersebut dapat dikenal dan dibedakan dari yang lainnya. Ketika kata “Ism” digunakan dalam hubungannya dengan sang Pencipta, hal ini menandai sebuah Sifat Tuhan yang inheren. Berdasarkan al-Quran, Allah memiliki nama-nama yang paling indah (Asmaul Husna), dan berdasarkan sabda Nabi SAW Allah memiliki 99 nama. Semua sifat dan nama-nama ini begitu penting karena kita mengenal Tuhan melaluinya. Penting untuk digaris bawahi bahwa tidak ada satu sifat atau satu nama pun yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Allah begitu Pengasih dan Penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya; karenanya esensi dari semua sifat-Nya tidak lepas satu sama lain. Seluruh nama dan sifat-Nya berperan serta dalam semua keberadan-Nya melalui kesatuan Esensi-Nya. Seluruh nama-Nya yang suci menandakan keberadaan Esensi suci-Nya.

Allah“- Kata ini merupakan kata ganti par excellence. Kata ini menunjuk pada seluruh sifat yang sempurna dan mengacu hanya pada yang Maha Tunggal. Kata  “Allah” merupakan nama Tuhan yang paling menyeluruh.

Kata Rahman dan Rahim keduanya diturunkan dari akar kata RHM, yang menunjukkan kelembutan, kasih, kepedulian, dan cinta. Dalam al-Quran, Allah berfirman: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS: 7:156) untuk menggambarkan intensitas dan keluasan kasih sayang-Nya, dua bentuk kata Rahmah ini digunakan saling bersandingan, dan dalam surat al-Fatihah ia diulang pada ayat ketiga sebagai satu ayat tersendiri. Dan faktanya, tidak ada sifat-sifat Allah yang paling sering ditekankan dalam al-Quran (lebih dari 300 kali) selain sifat Rahmah ini.

Sejak awal sekali seseorang mempelajari teks suci al-Quran, ia langsung dituntun pada kesadaran akan sang pencipta, diyakinkan akan keberadan-Nya serta diingatkan akan kasih dan sayang-Nya yang tiada terbatas.
Bacaan basmalah mengawali “pembuka al-Kitab” (al-fatihah) dan karenanya menandai pembukaan Komunikasi Tuhan yang Terakhir dengan hamba-Nya.


Sumber: ICOI

Sejarah Thariqah Sâdah Ba ‘Alawi dan Para Tokohnya

Posted by admin - 6 Agustus 2012 - Sejarah Islam
0
yaman

MENGENAL THARIQAH SADAH BA ‘ALAWI

 

Nasab para Sâdah Ba ‘Alawi kembali kepada datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam al-Muhâjir, Ahmad bin Isa an-Naqîb, yakni naqîb (pemimpin) para syarif di Iraq, bin Muhammad  an-Naqîb bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shâdiq bin Muhammad al-Bâqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Kehidupan Imam Ahmad al-Muhâjir dijalani di Bashrah. Di daerah inilah dia tumbuh berkembang. Pada saat itu Ahlulbait berada di dalam kehormatan dan pemeliharaan. Tetapi para khalifah Bani ’Abbas yang menjadikan Iraq sebagai pusat  mulai melemah kekuasaan. Lalu muncullah gerakan-gerakan dan pemberontakan-pemberontakan. Sedikit demi sedikit fitnah melanda Iraq, yang paling besar di antaranya adalah hadirnya kaum Qaramithah yang menyerang Bashrah di awal abad ke-4 H, dan munculnya kelompok orang–orang Sudan.

Pada situasi yang kacau itu, orang-orang saleh, yang menjauhkan diri dari dunia, tak dapat menghadapinya. Tepatnya pada tahun 317 H, Imam Ahmad bin Isa pun hijrah―yang karena itu beliau digelari al-Muhâjir―untuk menghindari fitnah-fitnah yang bergelombang. Beliau meninggalkan Bashrah bersama tujuh puluh orang dari keluarga dan para pengikutnya. Beliau menempuh jalan menuju Hijaz agar rombongannya dapat singgah setahun di Madinah. Setelah itu menuju Tanah Haram   Makkah pada tahun ketika kaum Qaramithah memasuki kota ini dan merampas Hajar Aswad.

Kemudian Imam Ahmad al-Muhâjir keluar dari Makkah melalui padang sahara menuju ’Asîr kemudian ke Yaman. Lalu takdir membawa mereka ke Lembah Hadramaut, lembah terpencil dengan sedikit kekayaan, yang sebagian besar daerahnya saat itu dikuasai oleh kaum Khawarij Ibadhiyah.

Imam al-Muhâjir pertama kali singgah di negeri Hajrain. Setelah itu pindah ke Kindah, dan akhirnya menetap di Husayyisah. Karena suatu hikmah yang mendalam dan faktor-faktor penyebab yang Allah siapkan, masa kekuasaan madzhab Ibadhiyah tidak berlangsung lama. Setelah terjadi adu argumentasi antara mereka dengan al-Muhâjir dan pengikutnya serta orang-orang yang menolong dan bergabung dengan mereka dari pengikut Ahlussunnah di sana, maka sebagian besar lembah ini dapat dibersihkan dari kejahatan kaum Khawarij dan para pengikut mereka. Setelah itu Ahlussunnah mengakar di sini dan orang-orang pun menganut madzhab mereka.

Imam Muhâjir mempunyai anak bernama ‘Ubaidillah yang kemudian mendapatkan tiga orang anak, Bashri, Jadid, dan ‘Alwi. Kepada ‘Alwi inilah keturunan para Sadah Ba ‘‘Alawi bernasab sebagaimana telah disebutkan di atas. Sedangkan keturunan kedua saudaranya habis bersamaan berakhirnya abad keenam Hijriah.

Beberapa lama setelah al-Muhâjir wafat, keturunannya pindah ke kota Tarim yang dinamai dengan nama raja yang membangunnya, yaitu Tarim bin Hadramaut. Mereka menetap di sana pada tahun 521 H. Keturunan al-Muhâjir yang pertama mendiami kota ini adalah al-Imam Ali bin Alwi yang dikenal sebagai Khali` Qasam dan saudaranya, Sâlim, serta mereka yang segenerasi dengan keduanya dari keturunan Bashri dan Jadid yang ada pada saat itu.

Maka Tarim pun yang dijuluki al-Ghanna menjadi tempat tinggal keturunan yang mulia ini. Lalu muncullah di sana ma`had-ma`had kebajikan dan banyak pula terdapat masjid. Di samping itu kota ini menjadi mulia karena terdapat jasad sejumlah sahabat mulia yang meninggal di sana saat memerangi orang-orang murtad.

***

Sumber-sumber sejarah tidak memberikan data yang rinci tentang periode pertama kaum ‘Alawiyyin. Informasi sejarah lebih banyak dimulai sejak periode dua anak Imam Muhammad bin Ali, yang dikenal sebagai Shahib Mirbath, yaitu Ali (ayah dari al-Faqîh al-Muqaddam) dan Alwi (yang dikenal sebagai paman dari al-Faqîh al-Muqaddam), dan periode sesudahnya. Kepada kedua orang inilah kembalinya nasab semua keluarga Ba ‘Alawi di masa sekarang ini.

Peletak pondasi sebenarnya pada bangunan thariqah ini adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ’Alawi yang digelari dengan al-Faqîh al-Muqaddam yang lahir di Tarim pada tahun 574 H dan wafat di sana pada tahun 653 H. Yang diterima oleh beliau —meskipun dari jauh― dari seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi, yang dikenal dengan gelar al-Ghauts melalui perantara beberapa pengikut Abu Madyan yang sampai ke Mekkah. Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqîh    yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-Dunya (wafat tahun 1162 H) mengatakan, “Asal Thariqah Sadah Ba ’Alawi adalah Thariqah Madyaniyyah, yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu‘aib al-Maghribi. Sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqîh al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawi al-Husaini al-Hadhrami. Thariqah ini diterima oleh para pemimpin dari para pemimpin yang mendahuluinya dan diwariskan kepada orang-orang besar yang memiliki maqâmât dan ahwâl.”

Muslim Rohingya. Yes, it’s Genocide

Posted by admin - 6 Agustus 2012 - Berita
0
love_Rohingya

Beberapa waktu belakangan ini dunia diramaikan oleh berita tentang kekerasan yang terjadi pada Muslim Rohingya di Arakan Utara, Myanmar, yang merupakan etnis minoritas di negara yang baru mengalami reformasi pemerintahan. Sejak kekuasaan Junta Militer berakhir dan pemilu dimenangkan oleh partai oposisi pemerintah pro demokrasi yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, kabar tentang kekerasan Muslim Rohingya pun mulai berhembus ke langit dunia.

Di Indonesia, berbagai pihak mengecam aksi kekerasan tersebut, bahkan Presiden SBY didesak untuk memberikan suaka politik bagi 82 Muslim Rohingya yang telah mengungsi di Tanjung Pinang selama lebih dari 10 bulan. (Republika, 25 Juli 2012)

Padahal, penindasan terhadap Muslim Rohingya sudah lebih dari 60 tahun lalu, bahkan sebelum Myanmar merdeka dari Inggris. Dianggap bukan etnis asli Myanmar, Muslim Rohingya mendapat perlakuan diskriminasi dari pemerintah Junta Militer dan rakyatnya sendiri. Burma, dihuni hampir 90% pemeluk agama Budha Theravada, 4% memeluk agama Islam, 4% lainnya beragama Kristen dan sisanya beragama Hindu dan Yahudi.

Muslim Rohingya merupakan komunitas yang terasing, baik karena kondisi geografi Arakan yang terisolir maupun kebijakan pemerintah pusat yang sengaja mengasingkan diri dari dunia internasional. Muslim Rohingya merupakan muslim keturunan Bengal yang penerus-penerusnya menetap dan menjadi bagian dari warga Arakan. Namun, walaupun mereka telah bergenerasi-generasi tinggal di Arakan, muslim Rohingya tetap dianggap sebagai masyarakat asing yang datang dari negara Pakistan sebagai imigran ilegal sehingga mereka mengalami ketidakadilan atas agama, suku dan posisi mereka sebagai kelompok minoritas.

 Arakan, yang pada asal mulanya dinamakan Rohang, merupakan sebuah bangsa yang berdiri sendiri sejak awal mula sejarah bangsa itu dikenal. Oleh karena itulah, mereka dinamakan orang Rohangya, yang kini lebih dikenal dengan sebutan Rohingya. Arakan itu sendiri merupakan kata jamak dari rukn, berasal dari kata bahasa Arab yang artinya ‘tiang-tiang’. Kata tersebut mencirikan keislaman dari etnis Rohingya. Rohang, adalah sebutan kata Arakan sebelumnya. Arakan merupakan tempat yang cukup terkenal bagi para pelaut Arab sebelum adanya Islam. Saat itu, banyak orang-orang, seperti Arab, Moor, Turki, Moghuls, Asia Tengah, dan Bengal yang datang sebagai pedagang, prajurit, dan ulama. Mereka datang melalui jalur darat dan laut. Oleh karena itu, muslim Rohingya yang menetap di Arakan sudah ada sejak abad ke-7 dan mereka tidak terbentuk dari satu suku saja. Mereka terbentuk dari percampuran berbagai suku yang berbeda.

Diperkirakan, pemerintahan Myanmar telah melakukan paling tidak 13 operasi bersenjata melawan Rohingya semenjak tahun 1948. Mereka melucuti senjata, menutup sekolah agama, dan membakar masjid-masjid. Pada 1975, sekitar 15.000 penduduk muslim Rohingya mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh, untuk melarikan diri dari penganiayaan. Pada 1978, operasi militer masif, yang dikenal dengan nama Operasi Naga Min, memaksa sekitar 200.000 Rohingya untuk keluar dari Myanmar. Operasi tersebut meliputi relokasi paksa muslim disertai  pemerkosaan, pemaksaan, dan penggusuran masjid. Rezim yang berkuasa menyalahkan kelompok pengacau Bengal atas kejadian itu.

Tidak lama setelah operasi Naga Min berlangsung, pada tahun 1982, penguasa militer Myanmar mengeluarkan sebuah dekrit tentang Undang-Undang Kewarganegaraan Myanmar. Di dalam undang-undang tersebut, muslim Rohingya dicoret hak kewarganegaraannya dan mereka menjadi tidak mempunyai negara (stateless). Ne Win memaklumatkan bahwa muslim Rohingya adalah rakyat tanpa negara (people without state).

Padahal, status warga negara sangat penting bagi penduduk muslim Rohingya. Dengan memperoleh status warga negara, mereka bisa memperoleh kemudahan sosial, pendidikan, dan kesehatan. Kebijakan itu telah menyebabkan kaum muslim Rohingya semakin mengalami penindasan, penyiksaan, tekanan, dan kematian di tangan penguasa tirani militer Myanmar. Pembunuhan yang tidak terhitung jumlahnya, pelecehan terhadap wanita Islam, tindakan penangkapan yang sewenang-wenang, pengurungan dalam penjara, serta perlakuan dengan cambuk, sampai hukuman mati yang semena-mena. Selain itu, pemerintah juga menghilangkan segala ciri yang berbau keislaman. Sehingga, muslim Rohingya dilarang untuk memelihara janggut, memakai kopiah dan penutup kepala yang lain, serta memakai jilbab (tutup kepala bagi wanita). Akibatnya, sekitar 20.000 muslim Rohingya dibunuh oleh rezim militer di antara tahun 1962 sampai tahun 1984.

Secara umum, pemerintah sebenarnya mencanangkan kebijakan untuk memberi kebebasan kepada penduduk dalam menjalankan agama mereka masing-masing. Pada kenyataannya, pemerintah menerapkan banyak larangan, khususnya terhadap kelompok minoritas. Kitab suci Alquran yang diterjemahkan ke dalam bahasa lokal, tidak dapat diimpor secara legal. Izin untuk mendirikan masjid sangat sulit didapatkan.

Dalam hal bepergian ke luar negeri seperti menjalankan ibadah haji atau menghadiri pertemuan keagamaan dengan luar negeri sebenarnya diperbolehkan. Namun, pembatasan dan pengawasan yang ketat serta kesulitan lain menghadang kelompok minoritas muslim ini. Seperti, pembatasan masa berlakunya visa, sulitnya pengurusan paspor, dan kecurigaan atas segala kegiatan yang dilakukan oleh kelompok minoritas muslim di dalam dan di luar negeri. Contoh perlakuan yang dilakukan pemerintah Myanmar pada tahun 1962, tentang aturan pembatasan haji. Pada tahun tersebut, jamaah haji Myanmar berkisar sampai 500 orang. Namun dengan adanya kebijakan uang ketat di era pemerintahan militer, jumlah tersebut turun drastis menjadi rata-rata hanya 16 orang. Itu pun hanya diberikan kepada orang-orang tua yang belum pernah pergi haji.

Pada tahun 1989, pemerintah militer Myanmar mengeluarkan kartu identitas baru untuk penduduk. Kartu identitas tersebut tidak hanya memuat foto, nama orang tua, dan alamat, tetapi juga memuat asal suku bangsa dan agama. Kartu identitas baru itu harus selalu dibawa ke manapun mereka pergi. Kartu itu juga dibuat sebagai persyaratan jika ingin membeli tiket untuk bepergian, mendaftarkan anak di sekolah, melamar pekerjaan, termasuk semua kedudukan sebagai pegawai negeri, menjual atau membeli tanah, dan kegiatan sehari-hari lainnya.

Muslim Rohingya tidak diperbolehkan memiliki kartu identitas tersebut. Hal itu membuat mereka mengalami kesulitan bila akan bepergian. Mereka diperkenankan bepergian, setelah memperoleh izin dari pihak yang berwenang. Dalam banyak kasus, izin perjalanan hanya diberikan untuk 12 jam saja dan hanya pada kasus tertentu seorang muslim diberikan izin perjalanan sampai bisa menginap. Untuk perjalanan yang jauh, seperti ke Maungdaw, Buthidaung, atau ke ibu kota propinsi Akyab, mereka sulit mendapatkan izin. Kesulitan memperoleh izin perjalanan itu menyebabkan masyarakat Rohingya sulit memperoleh pekerjaan, terutama pada musim panas, ketika pekerjaan pertanian menurun. Muslim Rohingya hidup dalam kamp konsentrasi dengan tidak mempunyai akses untuk bekerja, tidak ada peluang untuk berdagang dan bisnis, serta tidak ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Bahkan, hak menikah pun dilarang. Muslim yang berjanggut tidak boleh menggunakan transportasi umum atau memasuki kantor-kantor pemerintah. Sementara muslim yang bukan penduduk Akyab (ibukota Arakan) dilarang memasuki kota itu dan kota Rangoon.

Begitulah Muslim Rohingya, selalu ditindas dari masa ke masa, siapapun pemimpin kekuasaan mereka tak luput dari kekerasan. Bahkan ketika Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu pemerintahan, tak mampu berbuat banyak. Lebih memilih diam cari aman. Pemerintah Indonesia sebagai salah satu pendiri negara ASEAN hanya mampu menyampaikan kecaman. Kalah jauh dengan lembaga-lembaga kemanusiaan yang sudah berbuat nyata dengan mengumpulkan sumbangan.

Di segala sudut belahan dunia, apapun latar belakang suku dan agama, genosida tak boleh dibiarkan. Perlahan tapi pasti korban tewas di Arakan Utara terus berjatuhan. Jumlah angka kematian semakin memilukan. Yes, it’s genocide.

 

AWSOM Powered