Archive: Oktober, 2012

Sheikh Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani – A Tribute

Posted by admin - 29 Oktober 2012 - Da'i dan Dakwah
4
Sheikh Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani

Al Sheikh Afeefuddin al Jailani, pada pembukaan kuliah mengenai “Notions That Must Be Corrected” memulai penghargaannya kepada Allahyarham Shaykh Muhammadd b. Alawi al-Maliki al Hasani, penulis terkenal dari buku ini. Kuliah ini dibawakan di Ba’alawi center di Kemensah,Kuala Lumpurpada tanggal 15 Januari, 2012.

Shaykh Muhammad menyatakan bahwa “penghargaan ini berdasarkan apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar”.

Beliau meninggal pada tanggal 15 bulan Ramadhan tahun 2004. Hampir tujuh tahun yang lalu. Tepatnya pada hari Jumat, 29 Oktober 2004. Beliau dibesarkan di Mekah dibawah didikan banyak cendekiawan. Tiga dari cendekiawan inilah yang sangat berpengaruh terhadap diri beliau. Salah satunya adalah ayahnya, Al Marhum Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki, dan kakeknya, Sayyid Abbas al Maliki yang merupakan Mufti dan Qadi dari Makkah juga Imam serta Khatib Masjid al-Haram di zaman Ottomans dan Hasemites. Serta Sayyid Alawi, ayah dari Sayyid Muhammad, pada periode konflik setelah Ottomans yang memainkan peranan penting diArabiadalam menyatukan orang-orang serta menjauhi fitnah. Itulah mengapa beliau memiliki hubungan yang baik dengan keluarga Saudi. Mereka menghargai beliau karena mengetahui beliau adalah Ahlul Bait dan seorang cendekiawan. Beliau juga memiliki sejumlah besar pengikut di seluruh dunia. Sayyid Alawi ditunjuk dalam berbagai posisi penting, meskipun terdapat banyak kesulitan karena perbedaan pendekatan dan pemikiran antara beliau dan orang-orang Saudi, namun Alhamdulillah beliau tetap menjadi cendekiawan di Masjidil Haram di Mekah selama 40 tahun hingga beliau meninggal. Dan Sayyid Muhammad mengambil alih posisi tersebut.

Salah satu hal yang aku dengar dari Almarhum Sayyid Muhammad, mengenai ayahnya, yaitu beliau berkata bahwa ayahnya memiliki kepercayaan yang kuat terhadap mimpi yang baik. Dan baginya mimpi itu sendiri adalah bentuk dari pengetahuan. Tidak semua orang bisa menginterpretasikan atau memahaminya. Seseorang mungkin pernah mengalami suatu mimpi yang serupa dengan mimpi yang dialami orang lain. Namun ini belum tentu berarti sama. Mungkin saja mimpi itu berarti berbeda karena dialami oleh orang yang berbeda, lingkungan yang berbeda serta rumah yang berbeda. Ini akan bergantung pada keadaan dari mimpi tersebut. Dan untuk menginterpretasikannya dibutuhkan keahlian tingkat tinggi. Tidak semua orang bisa menginterpetasikannya dengan akurat.

Sayyid Alawi percaya terhadap mimpi yang baik. Pada salah satu mimpi, Almarhum Sayyid Muhammad mengatakan bahwa pada satu hari beliau dan ayahnya sedang duduk datanglah seseorang menghampiri ayahnya dan mengatakan “Wahai Sayyid, aku bermimpi tetapi aku tidak yakin. Mungkin ini bukan mimpi melainkan mimpi buruk.”

Kemudian Sayyid Alawi berkata “Beritahu aku.”

Laki-laki itu berkata “Aku melihat engkau duduk di Haram sedang mengajar di kursimu. Dan kemudian datanglah seorang polisi menghampiri. Mereka membawamu kemudian membaringkanmu ke bawah sambil menaruh paku di tanganmu seperti penyaliban. Oleh karena itu, aaya merasa sangat tidak nyaman.”

Seseorang berkata, “Seharusnya kamu tidak memberitahu beliau mengenai mimpi ini.”

Tetapi Sayyid Alawi berkata “Tidak tidak tidak. Ini adalah mimpi yang sangat bagus ini berarti bahwa Allah Yang Maha Kuasa dan Mulia menegaskan bahwa kita akan menetap di Haram hingga akhir hayat.”

Jadi, pemahaman mimpi sangat berbeda dan tinggi. Itulah mengapa beliau menuliskan mimpi-mimpi. Almarhum Sayyid Muhammad juga selalu menuliskan mimpi-mimpi. Jika kamu memberitahukan mimpimu kepada beliau, beliau akan memintamu berhenti dan mengambil pulpen serta buku dan menuliskan mimpi yang kamu ceritakan. Al Faqih Allah. Aku mengenalnya sejak tahun 1998. Aku bertemu dengannya pada haji pertama Aku. Aku berpergian dengan kelompok dari Srilanka.  Padahal pada saat itu beliau sedang berada dalam keadaan seperti tahanan rumah. Beliau tidak diizinkan keluar dan bertemu orang-orang. Bukan karena pemerintah tetapi karena keputusan departemen agama disana. Dan Subhanallah, karena beliau dapat mempengaruhi orang lain untuk gelar besar.

Suatu saat, ketika beliau sedang mengajar di Haram, Mekah, mereka membawa satu buku A Conversation with Al Maliki yang ditulis oleh seseorang yang sangat…baiklah aku tidak tahu harus bilang apa, hanya Allah yang Maha Kuasa dan Mulia yang mengetahui. Tetapi penulis buku benar-benar tidak menyukai Al Maliki. Dia menulis buku itu di luar apa yang nampak yang dia abaikan. Dia menulis tanpa pengetahuan langsung mengenai Al Maliki tetapi hanya melalui tulisannya. Dan dia menulis apa yang menurut dia benar.

Itulah mengapa kami menulis buku Notions that Must be Corrected. Karena kami ingin meluruskan seluruh kesalahpahaman orang-orang yang tidak meluangkan waktu untuk mempelajari kebenaran lebih dalam. Itulah mengapa, Sayyid Muhammad menulis buku ini dan Masya Allah buku ini merupakan cetakan yang ke-15, buku yang sangat terkenal, Alhamdulillah.

Dia mencetak buku ini dan ketika dia sedang mengajar mereka membagikan buku-buku tersebut kepada orang-orang tepat di hadapannya. Semua orang yang sedang duduk dan mendengarkan kuliah dosennya, mengambil seluruh buku yang dibagikan dan meletakannya di atas api setelah dia selesai mengajar. Mereka membakar buku itu. Dan pesertanya meningkat sebagai hasil dari tindakannya. Lingkaran terbesar dari majlis talim halaqa adalah hallaqa milik Sayyid Muhammad di Mekah.

Dulu beliau mengajar tafsir Hadits dan Al-Quran. Di Indonesia beliau memiliki pengikut yang jumlahnya empat kali dari populasi di Saudi. Beliau memiliki lebih dari 1200 sekolah agama yang didirikan disana. Beliau menjaga murid-muridnya dengan sangat baik. Seperti ketika mereka belajar di Mekah, setelah lulus, beliau tidak meninggalkan mereka. Mereka kembali keIndonesiadan dia memberikan mereka uang untuk membuka bisnis dan untuk menikah dan kemudian juga tetap memperhatikan mereka setelah itu. Beliau menjaga hubungannya dengan murid-muridnya, Subhanallah. Inilah mengapa mereka bisa bertahan di Mekah meskipun banyak sekali masalah yang menghadang.

Suatu saat, beliau berkata, selama masa Raja Khaled memerintah, dan situasi menjadi sedikit mengganggu para cendekiawan, kemudian menteri pemerintahan memanggil raja solih dan menasehatinya untuk segera meninggalkan Mekah tanpa ditunda karena sesuatu yang terjadi. Kemudian beliau berangkat keIndonesiadengan perjalanan melalui Singapura. Beliau tinggal disanauntuk waktu yang lama. Ketika Raja Khalid meninggal dunia, Raja Fahd mengambil alih. Suatu saat ketika Raja tersebut sudah menjabat, mereka memanggilnya. Asisten pribadi Raja memanggil, dia juga asisten pribadi almarhum Raja Fahd, dia meminta untuk berbicara dengannya. Untuk itu beliau pergi ke kedutaan Saudi. Asisten pribadi itu mengatakan bahwa Raja menanyakan mengapa beliau pergi meninggalkan Saudi untuk waktu yang lama. Dan Raja memintanya untuk kembali ke Mekah karena menyukai ajarannya. Ia menjawab dengan respon yang samar-samar mengenai kerjanya diIndonesiaakan tetapi dia terkejut dengan permintaan itu. Beliau berkata bahwa beliau perlu menjalani beberapa operasi gigi karena ada masalah dengan giginya. Kemudia dia pergi. Setelah setahun asisten pribadi Raja menghubunginya kembali dan memberi tahu bahwa Raja telah menyiapkan 300.000 reyal untuknya untuk menjalani operasi gigi. Kemudian beliau bergurau kepada aku dengan mengatakan ”Jika aku tahu ini akan terjadi, aku akan menggunakan alasan masalah hati daripada gigi.”

Raja memintanya untuk kembali dan menetap di Haram Mukarramah dan menjamin bahwa tidak akan ada orang yang mengganggu atau melakukan apapun kepadanya. Kemudian beliau kembali, alhamdulillah, beliau membuka kembali rumahnya serta mengajar kembali. Beliau memberi tahu aku bahwa, ”Bahkan ancaman kematian tidak akan bisa menyebabkan aku merubah pendekatan Aku. Aku hanya mengikuti jalan yang lurus, Siratul Mustaqeem”.

Aku merasakan beberapa hal yang sangat manis. Aku berada di Srilanka satu waktu sebelumnya. Dan setelah shalat Ashar aku tertidur. Kemudian aku melihat diri aku di dalam mimpi Aku sedang bepergian mengunjungi Makam Rasulullah, Semoga Allah memberkati dan memberinya kedamaian. Tetapi ini terlihat seperti ratusan tahun yang lalu. Terdapat lampu minyak yang menerangi jalan dan ketika aku sampai ke pintu masuk makam Rasulullah SAW, terdapat orangSudanyang sedang duduk di kursi.

Di samping itu, keluarga yang menjaga makam Rasulullah SAW adalah Al Arawat – suatu suku diSudan. Kejadian ini terjadi pada awal masa Uthman, sekitar 600 tahun lalu. Hanya mereka yang diizinkan untuk masuk ke dalam makam. Aku tidak tahu bahwa ada orang lain yang diperbolehkan untuk masuk. Keluarga ini yang memegang kunci. Dan mereka akan melakukan operasi sehingga mereka tidak bisa menikah, para penjaga tersebut adalah para kasim. Sekarang ada empat orang yang menjaga.yang paling muda berusia 77 tahun.

Di mimpi, aku melihat salah satu dari mereka menyapa dan memeluk aku. Dan aku berkata dengan malu-malu, aku ingin memasuki Makam. Dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa membantu karena tidak memiliki kunci. Aku menanyakan kepadanya di mana kuncinya berada dan dia memberitahu bahwa kunci tersebut dipegang oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki. Subhannallah, ini adalah bushra. Kemudian aku memberitahunya bahwa Sayyid Muhammad adalah teman serta saudara. Aku melihatnya menyapa di mimpi- “Selamat Datang Sayyid”. Kemudian Aku memberitahu beliau bahwa aku ingin masuk dan beliau mengatakan ya, tentu. Beliau mengambil kunci tersebut – sebuah kunci yang besar – kemudian membuka pintu dan memasuki Makam Rasulullah, di sana terdapat keray hijau yang menutupi makam. Sayyid Muhammad mengambil keray tersebut dan melipatnya dengan rapih kemudian memberikannya kepadaku dan memberitahu bahwa ini merupakan hadiah dari Rasulullah untukku. Aku langusng mengambilnya dan mencengkramnya di dada dengan erat dan ketika aku membuka mata aku sedang berada di Srilanka. Tetapi Aku bermandi keringat seolah-olah aku baru keluar dari kamar mandi dan aku bernafas terengah-engah. Saat itu juga aku langsung menghubungi Almarhum Sayyid Muhammad melalui telepon. Dan setelah salam dan basa basi aku mengatakan “Aku ingin memberitahumu sesuatu”. Ini berita yang baru saja terjadi, baru saja beberapa menit yang lalu. Dia bertanya apa itu dan aku memberitahunya. Subhanallah, saat aku menjelaskan kepada beliau, telepon tersebut jatuh dari tangan beliau. Dan beliau tidak bisa melanjutkan karena beliau menangis, Subhanallah. Beliau tidak dapat melanjutkan pembicaraan tersebut. Kemudian aku bejanji untuk datang ke Mekah dan menceritakan kepada beliau. Ketika aku pergi ke sana, menit-menit aku memasuki, beliau membuka buku dan menanyakan aku untuk menghubungkan mimpi tersebut. Kemudian beliau mengatakan “ini adalah mubishirat (kabar baik).

Dan hal lain mengenai diri beliau dari mulut beliau sendiri. Aku mendengar cerita tetapi aku ingin mengkonfirmasi secara langsung kepada beliau. Cerita ini juga didengar oleh sejumlah cendekiawan. Beberapa dariIraqdan beberapa dari Mesir yang ingin aku undang untuk makan siang. Beliau menanyakan kepada aku di mana karena aku akan mengundang mereka semua. Aku menyebutkan suatu tempat dan dia menegur dan mengatakan “ini rumahmu di sini, di Mekah. Kamu ingin mengundang kami ke satu tempat yang lain? Undang kami ke rumahmu. Di sini.” Lalu dia mengatur sebuah resepsi besar untuk para cendekiawan tersebut. Kira-kiralimabelas dari mereka ditambah beberapa lainnya. Ketika kami membicarakan mengenaiBaghdad, dia mengatakan “Wallahi, aku ingin memberitahumu sesuatu. Kepada kamu semua.” Aku menanyakan apakah aku dapat menceritakan kembali apa yang akan beliau katakan, beliau menjawab boleh. Kemudian dia melanjutkan:

Pada awal tahun 80an, beliau mengatakan, “Aku merasa tanganku mati rasa bahkan aku tidak bisa membawa sebuah pulpen di tangan. Aku gemetaran. Inilah masalahnya. Ini merupakan sebuah masalah yang membuat aku khawatir apa yang terjadi. Dokter yang berbeda mengatakan hal yang berbeda-beda. Salah satu mengatakan ini merupakan stroke sementara yang lainnya mengatakan masalah jantung dan beberapa lainnya mengatakan prognosis yang berbeda lagi. Aku sangat khawatir, untuk itu mereka menyuruhku untuk melakukan beberapa tes.Adadua tes medis yang harus aku jalankan dengan melakukan tes darah serta tes lainnya. Kemudian aku kembali ke rumah dan malam itu di dalam mimpi aku melihat Ahli Badr yang datang dan mengatakan kepadaku, “Wahai Sayyid Muhammad, kamu sudah melakukan tes medis?

Kemudian aku menjawab di dalam mimpi “Ya, Aku sudah melakukannya.”

Dia melanjutkan “ada satu lagi tes yang harus kau jalankan.”

Aku menanyakan ”Tes apa itu?”

dan dia menjawab “Di Baghdad dengan Syehk Abdul Qadir al Jailani”.

Ini semua terjadi di dalam mimpi, salah seorang sahabat Rasulullah memberitahu bahwa aku harus pergi keBaghdaduntuk bertemu Syekh Abdul Qadir al Jailani. Aku bangun dan berpikir: “Apa ini? Tapi aku meyakininya. Seorang sahabat memberi tahu aku untuk pergi keBaghdad. Ini adalah awal tahun 80-an, perang antaraIrandanIraqbaru saja dimulai. Jadi aku memutuskan untuk pergi keBaghdadtanpa memberitahu siapapun bahkan istriku. Di pagi hari aku pergi ke Jeddah, aku memberitahu istri bahwa aku akan pergi ke Jeddah untuk suatu urusan.

Dia bertanya, ”Apakah kamu mengetahui seseorang yang dipanggil Tariq?”

Aku menjawab ”Siapa Tariq?”

Dia berkata, “Aku tidak tahu tetapi Aku melihat seseorang di mimpi yang mengatakan bahwa dirinya adalah Tariq dan dia bilang bahwa dia sedang mencari suamiku. Siapa itu?”

Aku menajwab, ‘Aku tidak tahu. Aku terpikirkan oleh seseorang dengan nama itu tetapi dia sudah meninggal dunia. Jadi Aku tidak tahu.”

Kemudian, beliau mengambil penerbangan keBaghdaddan ketika beliau sampai di bandara mereka menanyakan visanya. Sebelumnya dari negara Arab kita diperbolehkan melakukan perjalanan antar negara tanpa menggunakan visa tetapi mereka mengatakan “Sekarang kami dalam keadaan perang jadi kami memerlukan visa.”

Beliau berkata:’Aku bersumpah demi Allah aku datang dari Saudi, niat aku hanya untuk mengunjungi Syekh Abdul Qadir al Jailani dan besok aku akan pulang kembali, hanya tinggal satu malam.” Kemudian mereka mengatakan: “Dari Saudi, kamu datang untuk mengunjungi Syekh Abdul Qadir? Dan kamu adalah seorang Wahabi? Bagaimana bisa? Tidak mungkin.”

Saat Aku coba menjelaskan, mereka bahkan menjadi lebih menyerang. Waktu mulai memasuki Ashar. Aku tiba sejak pukul 11 pagi dan masih disanahingga Ashar. Kemudian Aku pergi untuk shalat Ashar di musholla bandara. Salah satu karyawan melihat aku dan menyapa, ”Assalamualaikum Ya Syekh, apa kabar?

Aku menjawab, ”Wallahi, Aku dari…” dan aku pun menceritakan kepadanya. Dia melihat aku dan mengatakan, ”Baik, karyawan itu sudah tidak lagi bertugas sekarang. Sekarang waktunya aku yang bertugas, aku akan memperbolehkanmu masuk dengan menjadi tanggung jawabku tetapi anda harus janji bahwa besok anda harus kembali ke bandara dan pulang seperti yang anda katakan.”

Lalu aku berjanji. Setelah meninggalkan bandara dan naik taksi dan memberi tahu Syekh Abdul Qadir, dan aku tidak perlu membayar apapun. Kemudian aku tiba di makam/masjid dan aku masuk ke dalam dan pergi mengunjungi makam dan berdoa karena melalui Syekh Abdul Qadir dan karena Allah cinta kepadanya, dia bisa meminta atas namaku. (Tawassul).” Karena ibunya, adalah keluarga Jailani dari Bagdhad. Jadi ketika Aku pergi untuk mengunjungi ia merujuk aku sebagai pamannya (di sisi ibunya). Seperti Sayyidinah Rasulullah, semoga Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian, digunakan untuk memanggil Sa’ad – karena ia berasal dari suku yang sama seperti ibunya – Ia akan memanggilnya paman (di sisi ibunya). Jadi, Sayyid Muhammad akan merujuk dengan cara yang sama. Beliau berada disana hingga ba’da Isya dan setelah Isya masijd dan makam ditutup dan dikunci. Semua orang harus pergi. Dia berpikir: kemana harus pergi? Beliau mengetahui banyak cendekiawan diIraq tapi beliau tidak menyiapkan apapun. Tidak membawa nomer telepon atau apapun. Untuk itu beliau meminta seseorang disana untuk memberitahu arah hotel terdekat karena beliau berencana untuk sholat subuh disana dan kemudian pulang. Seseorang itu memberitahunya di mana tempat hotel berada dan akan membawanya kesana. Dia membawaku ke mobil dan kami makan kebab terlebih dahulu lalu ke hotel. Hari berikutnya, sebelum tahajud dia menelpon dan memberi tahu bahwa dia telah menunggu di resepsionis. Kemudian kami pergi untuk sarapan dan ke makam dan setelah kami mengunjungi dan sholat, dia mengatakan akan mengantarku ke bandara. Diperjalanan Aku berpikir, Wallahi orang ini, aku harus memberinya sesuatu dari Saudi, sebuah juba, atau sesuatu lainnya. Jadi Aku menanyakan alamat dan nomer telponnya dan terlebih dahulu menanyakan namanya dan dia berkata ‘nama Aku adalah Tariq.” Nama yang sama dengan yang dilihat istriku di mimpi. Aku bertanya ulang untuk memastikannya. “Aku harus segera mengembalikanmu ke bandara dan pergi cepat-cepat ke makam.”

Aku bertanya kenapa, dia bilang “karena Aku tinggal di Musul dan keponakan aku menunggu di rumah. kemudian aku melihat di dalam mimpi, Syekh Abdul Qadir datang dan berkata: “Kita kedatangan seorang tamu, datang dan perhatikan dia.” Itulah mengapa aku datang dan mencari tamu itu.” Dia tidak mengetahui bahwa tamunya adalah Sayyid Muhammad.

Aku pernah bertemu Tariq di Bahdad. Suatu ketika di majlis setelah haji, kita duduk bersama dengan beberapa orang lainnya. Namanya adalah Tariq ar Rifa’I, dia berbicara kepadaku dan menanyakan “Ya Afeef, tidakkah kamu pergi untuk menemui Syekh Muhammad?

Aku bilang,”ya.”

Kemudian dia bertanya, “Beliau tidak menceritakanmu mengenai aku?”

Aku bertanya ”mengenai apa?”

dia bilang “ketika beliau datang keBaghdad, aku menyambutnya.”

Aku berkata ”Allahu Akbar, kamu adalah orangnya. Jadi ketika Sayyid Muhammad kembali ke Mekah, beliau berkata ”aku tidak melakukan tes medis atau pengobatan lainnya. Tetapi dari Allah, Subhanallahu wa ta’ala, Aku benar-benar sembuh.” Ini menunjukan hubungan dengan para cendekiawan dan orang-orang suci setelah mereka meninggal.

Beliau memiliki reputasi dan cinta yang sangat tinggi dan khususnya untuk Al Makki. Dan cendekiawan dari Mekah dan Madinah, memiliki cinta yang besar untuk menghargainya (Syeh Muhammad).

Jika beliau terlibat dalam suatu hal, dengan masalah apapun, kesalahapahaman apapun, jika beliau terlibat, hal itu akan terselesaikan. Mereka semua akan mendengarkannya. Dan Subhanllah, beliau membantu banyak orang. Sangat murah hati. Dan telah melakukan banyak hal yang baik.

Dan dirinya sendiri belajar di bawah banyak Shuyukh. Salah satunya, Syekh Hasnain Muhammad Makhluf, Pendiri Mufti ofEgypt. dan Syekh Muhammad Yassin al Fadhanni. – Fadhanni berarti Pattani. Dia berasal dariThailand – Pattani. Mereka tinggal di Saudi tetapi keluarganya berasal dariThailand. Dan banyak cendekiawan lainnya. Dan beliau memiliki hubungan yang baik dengan banyak cendekiawan di seluruh dunia. Beliau menyelesaikan salah satu studinya diPakistan dan memperoleh gelar Phd di Al-azhar, Kairo, Mesir. Dan sekarang mereka mengajarkan buku-bukunya di al-Azhar pula.

Setelah beliau meninggal, dalam ta’ziyah tiga harinya, King Abdullah dari Saudi, yang pada saat itu merupakan putra mahkota, datang secara pribadi untuk ta’ziyah mengatas namakan dirinya sendiri dan King Fahd. Karena King Fahd pada saat itu sedang sakit parah dan putra mahkota berperan mewakilinya. Dan setelah majlis, dia mengundang anaknya Sayyid Ahmad dan kakaknya Sayyid Abas ke tempatnya. Ketika dia diundang untuk makan siang kemudian King Abdul Aziz berkata ” Aku ingin mengatakan tiga hal kepada anda.” ucap King Abdul Aziz, Semoga Allah yang maha kuasa dan maha mulia memberkatinya dengan kesehatan karena dia telah melakukan sangat banyak hal yang baik. Tiga hal tersebut adalah:

Pertama: tetaplah menggunakan Imama ini. Agar menyamai Amlarhum Sayyid Muhammad karena cendekiawan lain hanya menggunakan selendang.

Kedua: tetaplah menggunakan cara yang sama dengan almarhum ayahmu dan kakakmu. Jangan mengubahnya. Cara mengajar yang sama.

Ketiga: Setelah Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mulia, aku akan selalu ada untuk mendukungmu.jika kamu membutuhkan apapun, silahkan meminta.

 

Sumber: di sini 

Spiritualitas Haji

Posted by admin - 25 Oktober 2012 - Aqidah
2
Haji

Semua ibadah yang disyariatkan Allah bertujuan untuk menanamkan keutamaan, kebaikan, akhlak mulia, dan mengikis sifat kezaliman dan kerusakan.

Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (QS Al-Ankabut: 45). Puasa menanamkan ketakwaan dalam diri Muslim. (QS Al-Baqarah [2]: 183). Zakat untuk membersihkan hati dari sifat kikir (QS At-Taubah [9]:103).

Adapun haji diwajibkan untuk memperbanyak zikir, menyaksikan manfaat duniawi dan ukhrawi (QS al-Hajj: 27-28), mengokohkan ketakwaan, menjauhi rafats, fusuk, dan jidal. (QS Al-Baqarah 197). Allah memerintah Nabi Ibrahim AS agar menyeru umat manusia untuk berhaji agar manusia menjadi tamu-Nya dan mendapatkan karunia, rahmat, dan ampunan-Nya.

“Jamaah haji dan umrah adalah para tamu Allah, bila mereka berdoa dikabulkan dan bila beristighfar akan diampuni.” (HR al-Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman juz III hal 476).

Ibadah haji adalah wisata suci yang mendorong jamaah menjauh dari ketergantungan dengan dunia dan segala isinya. Mereka meninggalkan keluarga dan kerabat, untuk membebaskan diri dari ikatan-ikatan penghambaan duniawi menuju panggilan Ilahi. Mereka berseru, “Labbaika Allahumma Labbaik,” (Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah).

Haji merupakan perjalanan spiritual. Jamaah selalu tawadhu dan melepaskan diri dari berbagai kesenangan materi untuk bersimpuh di hadapan keagungan-Nya. Mereka berangkat untuk menyambut seruan Ilahi dengan tauhid murni, menanggalkan sebagian tirai dunia untuk menembus alam malakut.

Tak ada omongan kotor, kefasikan, dan ketakaburan. Mereka selalu mengekang diri dari kebuasan nafsu syahwat demi satu tujuan, menggapai hajjun marbur, sa’yun masykur, dan dzanbun maghfur.

Mereka berseragam putih-putih ketika ihram untuk mengingatkan kain kafan yang akan membalutnya saat kematian. Mereka menunaikan manasik yang sama di tempat yang sama, mengumandangkan talbiyah yang sama, wukuf di Arafah, thawaf, mabit, dan melempar jumrah.

Semua ini melukiskan persatuan umat dan kesamaan derajat di hadapan Allah kecuali dengan ketakwaan. Mereka merupakan satu kelurga besar yang sejajar bagai gerigi sisir. Tak ada perbedaan antara pemimpin dan rakyat, kaya dan miskin, kuat dan lemah.

Semua menyatu tenggelam dalam menghamba kepada Allah untuk mengharap rahmat dan ampunan-Nya. Betapa indah rihlah ruhiyyah dalam menunaikan haji. Sejak keluar rumah sudah diawali dengan doa, “Bismillah tawakkaltu ‘alallah, la haula wala quwwata illa billah”.

Selama perjalanan haji, hanya diisi dengan ibadah, zikir, istighfar, doa, shalawat, dan manasik haji. Sejak hari Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, jamaah tamattu’ mulai bergerak menuju Mina untuk mabit. Mereka hanyut dalam zikrullah dengan penuh tawadhu, antara khauf dan raja’.

Saat di Arafah semua menangis khusyuk dan larut luluh dalam doa, munajat dan mohon ampunan dari semua dosa masa lalu. Kondisi jamaah haji yang berhari-hari tenggelam dalam spiritulitas ibadah yang indah seperti ini, niscaya akan mempengaruhi kehidupan setelahnya sebagai haji mabrur.

 

Penulis:  Prof Dr A Satori Ismail

Sumber: Republika

Tarwiyah

Posted by admin - 22 Oktober 2012 - Haji, idul adha
0
Tarwiyah
Tarwiyah berkaitan erat dengan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS yang bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi IsmailAS.Pada hari itu, hari ke-8 bulan Dzulhijjah, ia merenung dan berpikir (rawwa-yurawwi-tarwiyah) tentang takwil mimpi menyembelih putra kesayangannya sendiri. Pada hari ke-9, ia mendapati takwil mimpi yang membuatnya tahu (‘arafa) akan makna mimpi tersebut, sehingga disebut dengan Hari Arafah. Sedangkan pada hari ke-10, ia melaksanakan perintah dalam mimpi itu, yakni menyembelih (nahara) putranya, sehingga disebut hari Nahr.

Adajuga pendapat yang mengatakan, dinamakan hari Tarwiyah karena pada hari itu orang-orang mengenyangkan diri dengan minum air (rawiya, irtawa) untuk persiapan ibadah selanjutnya.

 

Amalan hari Tarwiyah

Yang dimaksud amalan hari Tarwiyah di sini yakni amalan yang dilakukan jamaa’ah calon haji di Kota Suci Makkah. Pada waktu Dhuha, jama’ah haji berihram dari tempat tinggalnya dengan niat akan melaksanakan ibadah haji. Dan sebelum berihram ini, bagi yang melaksanakan ibadah haji tamattu’ (mengerjakan umrah sebelum mengerjakan haji), mengadakan persiapan ulang sebelum ihram haji.

Disunnahkan bagi orang yang menunaikan haji tamattu’ untuk melakukan ihram haji pada hari tersebut, yakni dari tempat ia singgah. Maka, hendaknya ia mandi dan mengusapkan wewangian di tubuhnya, tidak mengenakan kain yang berjahit, dan ia ihram dengan selendang, kain dan sandal.

Adapun bagi wanita, hendaknya ia mandi dan menggunakan pakaian apa saja yang dikehendakinya, dengan syarat tidak menampakkan perhiasannya, tidak memakai penutup muka, juga tidak memakai kaus tangan.

Sedangkan yang melaksanakan haji qiran (mengerjakan haji dan umrah secara bersamaan) dan ifrad (mengerjakan haji lebih dulu baru umrah), mereka tetap dalam keadaan ihram mereka sejak sebelumnya.

Kemudian pada jama’ah ini beihram untuk haji dengan mengucapkan, “Labbaik Allaahumma Hajjan.” Jika khawatir adanya penghalang yang akan merintanginya dalam menyempurnakan pelaksanaan haji, seperti sakit, takut musuh, dan lainnya, dibolehkan mengucapkan persyaratan sebagaimana yang diajarkan Rasullullah SAW dengan mengucapkan,  “Allaahumma Mahilli haitsu habastani (Ya Allah, tempat tahallulku di mana saja Engkau menahanku).”

Setelah berada pada kondisi ihram haji pada hari ini, jama’ah calon haji wajib menghindar dari seluruh larangan ihram dan memperbanyak membaca talbiyah. Bacaan talbiyah ini terus berlanjut hingga saat melempar jumrah ‘Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, termasuk saat bertolak menuju Mina. Begitu pula melakukan shalat Dzuhur , Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di Mina, yang dikerjakan pada waktunya masing-masing dan mengqashar shalat-shalat yang jumlah rakaatnya empat. Semuanya dilakukan dengan qashar, tanpa jama’.

Sementara itu dibolehkan juga untuk tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib atau shalat shalat sunnah lainnya, kecuali shalat witir ketika menjelang tidur atau menjelang subuh dan shalat fajar (qabliyah subuh), karena dua shalat ini senantiasa dikerjakan Rasulullah SAW meskipun dalam keadaan safar. Namun demikian, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan dzikir-dzikir lainnya, selain bacaan talbiyah. Pada hari Tarwiyah ini pula jama’ah haji menginap di Mina.

Semua itu dilakukan pada hari Tarwiyah, atau 8 Dzulhijjah, hingga matahari terbit pada hari ke-9 atau hari Arafah.

Puasa Tarwiyah

Adapun mereka yang tidak melaksanakan haji dianjurkan untuk berpuasa Tarwiyah. Ini didasarkan pada hadits yang artinya bahwa puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun. Hadits mengenai puasa Tarwiyah ini diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami dalam kitabnya Musnad Firdaus (2/248). Namun derajat hadits ini mardud (tertolak), karena ada periwayat hadits dianggap pendusta, yakni Muhammad bin Sa’aib Al-Kalbi. Sementara ada juga periwayat dalam hadits tersebut yang dinilai majhul (tidak dikenal), yakni Ali bin Ali Al-Himyari.

Paraulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dha’if (lemah) sekalipun, sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadhail al-a’mal (demi memperoleh keutamaan), tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Ihwal puasa Tarwiyah ini semakin diperkuat oleh satu riwayat yang menyatakan bahwa puasa sepuluh hari, kecuali hari Idul Adha, dari awal bulan Dzulhijjah, hukumnya sunnah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ummul Mu’minin Sayyidatina Hafshah RA, yang berkata, “Ada empat macam yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW: puasa Asyura, puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari pada setiap bulan dan melakukan shalat dua rakaat sebelum shalat subuh,” (Riwayat Ahmad bin Nasa’i).

Memang tidak ada satu hadits shahih pun yang jelas dan tegas menyatakan sunnahnya berpuasa pada hari Tarwiyah. Namun perlu kita ketahui, banyak fuqaha yang memfatwakan bahwa puasa pada hari Tarwiyah itu hukumnya sunnah atau sebagai fadhilah, berdasarkan dua alasan.

Pertama, atas dasar ihtiyath (berhati-hati) dan cermat dalam mengupayakan mendapat fadhilah puasa Arafah yang begitu besar. Bahkan Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fath al-Mu’in berkata, puasa ini termasuk sunnah mu’akkadah.

Kedua, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits tentang keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah di sisi Allah SWT, yang Tarwiyah dan Arafah juga berada di dalamnya. Ibnu Abbas RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT daripada amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

Parasahabat bertanya, “Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah?”

Rasulullah menjawab, “Walau jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya, yakni menjadi syahid.” (Riwayat Al-Bukhari)

Tentang puasa hari Arafah, yakni puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, para ulama sepakat bahwa hukumnya sunnah, bahkan termasuk sunnah mu’akkadah.

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah, yakni pada saat diberlangsungkannya wukuf di Tanah Arafah tanggal 9 Dzulhijjah oleh para jama’ah haji. Karena itu puasa Arafah ini sangat diajurkan bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Dasar hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Puasa hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa dua tahun, yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (Riwayat Muslim)

Sedangkan orang yang sedang mengerjakan ibadah haji tidak dibolehkan berpuasa, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW telah melarang puasa pada hari Arafah di Padang Arafah.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I, dan Ibnu Majah).

Bagaimanapun, puasa Tarwiyah dan puasa Arafah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan para jama’ah haji yang sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Dan hari-hari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa.

Sumber: Majalah alKisah Edisi No. 21/Tahun X/15-28 Oktober 2012 hlm. 138

Foto:  ANTARA/SAPTONO

Nuansa Arab di Condet

Posted by admin - 17 Oktober 2012 - Cerita Ringan
0
condet

Kedai bibit parfum berderet-deret di ujung jalan yang relatif sempit. Padat dan meriah. Di antara botol-botol parfum yang cantik terpajang pula berwarna-warni jambangan ”shisha”, alat isap ”rokok” Arab. Itulah penanda perjalanan sudah sampai di Condet.

Kedai-kedai bibit parfum—yang masih harus diracik untuk jadi parfum—bisa disebut sebagai ciri khas hampir setiap kampung Arab di Pulau Jawa. Mulai dari kampung Arab di Ampel,Surabaya; Pasar Kliwon, Solo; hingga kampung Arab Condet, Jakarta Timur.

”Memang tradisi orang Arab meracik sendiri parfum mereka,” kata Thoha, pemilik kedai bibit parfum di Condet

Pria berdarah campuran Betawi-Arab ini bercerita, di Timur Tengah parfum dari Eropa dan Amerika tak cocok begitu saja dipakai karena perbedaan iklim yang ekstrem. Di Arab, bibit parfum diramu untuk memperkuat aroma parfum agar lebih tahan dengan iklim panas.

Minyak gaharu dan cendana dariIndonesiatermasuk bahan terpenting untuk racikan parfum di kawasan Timur Tengah. Kebiasaan meramu parfum ini pun terbawa di kalangan warga keturunan Arab di Indonesia.

Di Condet, Thoha menjelaskan, meskipun toko-toko parfum berjajar, masing-masing punya pelanggan karena parfum hasil ramuan satu toko dengan toko lainnya tak akan sama. Di toko-toko ini, racikan yang cocok dan disukai seorang pelanggan akan dicatat si pengelola toko dan disimpan seperti ”resep” khusus untuk si pelanggan.

”Komposisi bahan dan takarannya saya catat, khusus untuk dia. Enggak akan saya kasih ke pembeli lain. Orangkanenggak suka baunya sama dengan orang lain,” ujar Thoha. Rupanya, meracik parfum mirip seperti menjahitkan baju, sesuai ”ukuran” aroma badan masing-masing.

Ganti aroma

Setelah aroma wewangian menggoda di ujung jalan masuk ke Condet, aroma bumbu masakan ganti menggoda selera ketika kaki melangkah lebih dalam ke Condet. Mengunjungi kawasan ini tak akan ”sah” tanpa menyempatkan menikmati kuliner bercitarasa Timur Tengah yang mendominasi Condet saat ini.

Begitu banyak pilihan, mulai dari nasi kebuli di rumah makan Puas dan Layla, hingga nasi kabsah di Resto Al Mukalla. Menu nasi ala Timur Tengah ini menyuguhkan nasi yang dimasak bersama daging kambing dan kaya bumbu.

Bila ingin menikmati kelezatan asli daging kambing–tanpa banyak bumbu—sajian di rumah makan Sate Tegal Abu Salim bisa jadi pilihan. ”Daging kambing yang empuk, tanpa bau amis itu tergantung kambing yang dipilih dan cara potong sejak penyembelihan,” ujar Lili Ahmad Al Kaff, pemilik rumah makan tersebut.

Mula-mula dipilihlah kambing yang masih muda, sekitar usia 4-5 bulan. Kemudian kambing dipotong dengan memperhatikan irisan uratnya. Daging kambing juga tidak boleh dicuci setelah disembelih, melainkan hanya dilap bersih. Justru karena tak terpercik air sebelum proses memasak itulah aroma daging tak menyengat atau prengus.

Selain menyajikan aneka menu, Sate Tegal Abu Salim juga seperti toko makanan swalayan, berbagai jenis kue dan penganan khas Timur Tengah ada di sana dari roti maryam yang gurih hingga kue kaad yang legit dan berwangi rempah. Tak ketinggalan, tersedia pula susu kambing, versi orisinal ataupun dengan tambahan madu.

Jangan khawatir, bukan hanya dagingnya yang tak beraroma amis, susu yang diperah dengan benar juga sama sekali tak menyisakan aroma kambing. ”Proses memerahnya harus bersih. Kalau ada bulu jatuh ke susu, bisa langsung jadi prengus,” kata Lili yang pindah dari Tegal, Jawa Tengah, ke Condet dan membuka rumah makan di kawasan ini sejak 25 tahun lalu.

Ketika waktu makan siang berlalu dan sore menjelang, Condet bisa dinikmati dengan secangkir teh poci dengan gula batu atau kopi Arab—yang antara lain dibumbui cengkeh, kapulaga, dan gula merah—serta kue kamir.

Kue yang bentuknya mirip apem ini sederhana saja, hanya berbahan tepung terigu, ragi, santan, mentega, sedikit gula dan garam. Kamir jauh lebih nikmat disantap panas-panas ditemani secangkir kopi yang juga panas. Di Condet, kamir biasa disajikan sebagai pengganti sarapan pagi atau saat ngopi sore.

Karenanya, gelaran kakilimayang menjajakan kamir—lengkap dengan panggangan—laris manis saat pagi tiba atau menjelang sore di Condet.

Percampuran budaya

Condet pernah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya Betawi pada 1974. Hanya sekitar sepuluh tahun status itu bertahan. Kini, warga Betawi di Condet tak lagi memberi ciri kuat pada kawasan itu. Sebaliknya, nuansa Arab menguat, seiring arus pendatang warga keturunan Arab yang mengalir ke Condet, baik dari sekitar Jakarta maupun dari berbagai daerah lain.

Bisnis penempatan tenaga kerjaIndonesiauntuk kawasan Timur Tengah yang banyak berkembang di Condet menjadi salah satu pendorong arus migrasi ini. ”Selain ekonomi, juga secara kultural ada kedekatan warga keturunan Arab dan Betawi karena pengaruh Islam,” kata Husein Faris yang pindah dariSurabayake Condet pada awal 1990-an.

Akulturasi budaya berjalan alami antara lain lewat pernikahan campur. ”Banyak juga yang nikah campur, bukan hanya antara keturunan Arab dan Betawi, ada juga yang Arab-Sunda dan lain-lain,” ujar Husein.

Parapendatang pun tak ragu menampakkan identitas dengan tetap menjunjung toleransi. Keanekaragaman ini bisa juga dilihat dari plang nama tempat usaha di Condet: Dodol Betawi Hj Mamas, Kamir asli Pemalang, Sate Tegal Abu Salim, Salon Lulur Madura. Ini Jakarta bung…Indonesia.

Oleh Nur Hidayati

Sumber: Kompas Cetak

Editor: I Made Asdhiana

Foto: KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Penanganan Stress Menurut Ilmu Fisika

Posted by admin - 16 Oktober 2012 - Psikologi
0
Stress

Mengapa bebek bisa berjalan di tanah yang lunak sementara ayam tidak?jawabnya karena luas permukaan kaki bebek lebih besar dari ayam. Luasnya permukaan kaki bebek tersebut mengakibatkan tekanan yang diberikan ke tanah lebih kecil ketimbang ayam.

dalam fisika, konsep tekanan (preassure) didefinisikan sebagaigayategak lurus permukaan dibagi luas permukaan yang dikenaigaya. Semakin besargayayang diberikan terhadap suatu permukaan, semakin besar tekanan yang diterima. Sedangkan bila luas permukaan diperluas, maka tekanan akan semakin kecil. Dalam hal ini,gayapada hakikatnya adalah gangguan yang diterima oleh sebuah benda dari luar, sedangkan luas terkait dengan karakteristik benda tersebut dan merupakan perkalian antara panjang dan lebar.

Preassure memiliki kesamaan arti dengan stress, yang dalam pengertian sehari-hari terkait dengan tingkat tekanan yang dialami oleh seseorang akibat pengaruh lingkungan. Dari sini kita dapat ambil analogi bahwa stress seseorang dapat dipandang sebagai perbandingan antara gangguan luar dibagi dengan “luas”. lalu, apa makna “luas” di sini? kebesaran jiwa dapat kita analogikan dengan “luas” yang dimaksud. artinya semakin besar jiwa seseorang, maka semakin kecil stress yang dialami. Jika luas dalam fisika merupakan perkalian antara panjang dan luas, maka kebesaran jiwa dapat dipandang sebagai perkalian antara SABAR dan SYUKUR?

Alam (tempat terdapatnya ayat-ayat kauniyah) telah mengajarkan kepada kita bahwa dengan sabar dan syukur maka kita dapat mengatur level stress masing-masing. Jika bebek dengan kakinya yang luas dapat menapaki tanah lunak yang relatif sulit dilalui, maka manusia dengan kebesaran jiwanya (sabar x syukur) tentu dapat mengarungi kehidupan yang sulit…wallahu’alam.

Dr. Husin Alatas

Lektor Kepala & Kepala Bagian Fisika Teori pada Departemen Fisika, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.

Foto by Alan Cleaver 

Merantau itu Indah

Posted by admin - 15 Oktober 2012 - Psikologi
3
Perjalanan

Ciri orang yang berakal dan berbudaya adalah tidak akan tinggal seterusnya disatu tempat. Meninggalkan tempat tinggalnya untuk mengembara, itulah bagian dari istirahatnya. Pergilah dengan penuh keyakinan! Niscaya akan engkau temukan pengganti semua yang engkau tinggalkan. Bekerja keraslah karena hidup akan terasa nikmat setelah bekerja.

Sungguh, aku melihat air yang tergenang dan berhenti, memercikkan bau tak sedap. Andaikan saja ia mengalir, air itu akan terlihat bening dan sehat. Sebaliknya jika engkau biarkan air itu menggenang, ia akan membusuk. Singa hutan dapat menerkam mangsanya setelah ia tinggalkan sarangnya. Anak panah tak akan mengenai sasarannya, jika tak beranjak dari busurnya. Andaikan mentari berhenti selamanya di tengah langit, niscaya umat dari ujung barat sampai ujung timur akan bosan kepadanya. Emas bagaikan debu, sebelum ditambang sebagai emas. Sedangkan, pohon cendana yang masih tertancap pada tempatnya, tak ubahnya pohon-pohon untuk kayu bakar.

Jika engkau tinggalkan tempat kelahirannya, akan engkau temui derajat mulia di tempat yang baru dan engkau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya. Itulah salah satu cara Imam Syafi’I bersyair. Jadi, mari kita tekadkan diri kita untuk menjadi orang-orang perantau. Jangan sampai seumur hidup mulai lahir sampai mati pada tempat yang sama. Bumi Allah swt sangat luas.

Dengan merantau, kita akan memiliki pengalaman kurang makan, kurang tidur, kurang minum. Diusir karena tidak sanggup membayar kontrakan rumah. Dihina karena sehari baru mampu makan sekali. Berbuka puasa dengan air mentah karena kehabisan segalanya. Menikmati aneka kekurangan, asalkan jangan kurang ajar, Insya Allah akan mendewasakan kehidupan kita.

Menurut Imam Syafi’I dalam perantauan adalimakegunaan:

  1. Menghilangkan kesedihan. Dengan merantau, insya Allah akan mendapatkan kegembiraan beraneka ragam. Misalnya kesulitan sebelum merantau yang kita anggap sangat berat terasa ringan dan tak ada artinya saat berjumpa dengan banyak orang yang jauh lebih sulit namun mereka lebih semangat.
  2. Mendapatkan penghidupan.Adafaktor psikologis yang kita dapatkan, yaitu mister gengsi akan hilang. Kita berani kerja apa saja dan tidak gengsi sebab teman-teman sekampung halaman tidak tahu.
  3. Mendapatkan ilmu. Ilmu berlimpah ruah akan kita dapatkan, sebab di perantauan akan kita jumpai banyak guru. Kita akan berguru kepada hinaa, pujian, makian, orang pandai, orang bodoh, dan orang sok pandai.
  4. Mengagungkan jiwa. Ketika sahabat Abdurrahman bin Auf merantau dari Makkah ke Madinah, beliau dipersaudarakan dengan konglomerat Sa’ad bin Rabi dan ditawari kilau kemilau harta. Abdurrahman bin Auf yang zuhud, wara’, jujur dan baik akhlaknya ini tidak serta merta menerima tawaran itu. Hanya satu permohonannya, tunjukkan jalan menuju pasar. Akhirnya, dia menjadi konglomerat yang sukses.
  5. Dapat bergaul dengan banyak orang. Kita bisa menerapkansuratal Hujurat ayat 13, dapat berkenalan dengan berbagai suku dan bangsa dengan aneka karakter positif dan negatifnya.

Sekali lagi, ayo merantau! Jangan sampai dari lahir sampai mati di satu tempat. Beranilah hadapi tantangan..!!

Sumber:

Amri, Masrukhul. Hidup Untuk Hidup.Jakarta: DAR! Mizan, 2004.

Sumber ilustrasi di sini 

Makna Kerendahan Hati dalam Tahallul

Posted by admin - 10 Oktober 2012 - Haji
0
Tahallul

Tahallul atau bercukur adalah salah satu ritual haji yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan, terutama dalam Madzhab Syafi’i. Meski bercukur terkesan remeh, namun jika ditinggalkan akan membuat ibadah haji tidak sah. Jika demikian, itu artinya diwajibkan untuk mengulang kembali ibadah tersebut pada tahun berikutnya.

Mengapa hal yang begitu remeh dapat membatalkan sesuatu yang jauh lebih besar? Hal itu mengisyaratkan bahwa kelebihan yang dimiliki oleh manusia dengan otak dan daya ciptanya, semua itu berada dalam kuasa Allah SWT.

Dengan diwajibkannya bercukur dalam rangkaian ibadah haji, Allah sejatinya ingin mengajarkan bahwa manusia tetaplah manusia. Ia harus sadar bahwa selamanya dirinya adalah hamba Allah. Manusia harus bersikap khusyuk, tawadhu’ (rendah hati), dan khudhu’. Tiga sikap itu akan mengantarkan mereka menjadi makhluk yang dicintai oleh Allah SWT.

Rambut adalah simbol dari mahkota seorang insan. Rambut adalah perhiasan seseorang dan menjadi lambang kegagahan dan ketampanan. Bertahallul yaitu mencukur rambut adalah simbol dari meletakkan mahkota seseorang. Artinya, orang tersebut menanggalkan kesombongan yang menjadi seseorang tinggi hati dari orang lain.

Semoga dengan rontoknya ribuan rambut di kepala para hujjaj ketika ia bertahallul, maka rontok juga segala ribuan keangkuhan dan kesombongannya yang akan menjadikannya haji yang tawadlu’ dan rendah diri.

Editor: Dewi Mardiani
Reporter: Hannan Putra
Sumber : Panduan Super Lengkap Haji & Umrah, Oleh Aguk Irawan MN

Sumber Republika

Foto diambil dari www.tempo.co

Pendidikan Sebagai Agen Perubahan

Posted by admin - 5 Oktober 2012 - Sains dan Teknologi
2
pendidikan

 

Ketika artikel ini akan dibuat, ada sedikit keraguan di hati penulis untuk memulainya. Sepintas melihat judul di atas, mungkin banyak yang berpikir bahwa pendidikan sebagai agen perubahan tentunya sudah jelas maknanya dan tidak perlu diulas kembali. Benar, semua orang tentu mengatakan pendidikan itu sangat penting. Tetapi, penulis berkeyakinan bahwa tidak semua orang memiliki persepsi yang sama tentang pendidikan macam apa yang penting dan perubahan apa yang hendak dicapai melalui pendidikan tersebut. Mengacu pada alasan tersebut, tulisan yang merupakan pendapat pribadi ini berusaha untuk memberi cara pandang yang bisa jadi baru bagi sebagian kita tentang arti pendidikan sebagai agen perubahan.

Pengalaman selama lebih dari enam belas tahun berkecimpung di bidang pendidikan sedikit banyak telah memberikan gambaran kepada penulis, bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia mempersepsikan pendidikan lebih kepada upaya sistematis untuk membentuk individu yang dapat bekerja di tempat yang bagus dan memiliki penghasilan yang layak, tanpa memperhatikan keunikan masing-masing, serta mengabaikan pencapaian tujuan bermasyarakat secara kolektif melalui cara berpikir dan bertindak dalam konteks kebersamaan. Tentu saja, sekilas tidak ada yang salah dalam pandangan ini. Apalagi jika dihadapkan pada realita sosial-ekonomi yang semakin hari menuntut orang untuk dapat bersaing secara ketat memperebutkan pekerjaan yang layak untuk menunjang hidup.

Namun, persepsi masyarakat di atas yang mereduksi makna pendidikan sedemikian rupa, telah sedikit banyak berdampak pada terciptanya masyarakat dengan ciri individu yang lebih menonjol ketimbang ciri kolektif. Masyarakat dengan ciri individu yang dominan cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang rendah (low-trust) di antara anggotanya. Ketidakpercayaan dan ketidakpedulian terhadap orang lain dan lingkungan, serta kecurigaan yang berlebihan dalam melindungi kepentingan sendiri merupakan salah satu ciri masyarakat tersebut. Di pihak lain, masyarakat dengan ciri kolektif lebih mengedepankan kepentingan bersama dalam berpikir dan berbuat, memiliki keselarasan yang saling menunjang dan tingkat kepercayaan yang tinggi (high-trust) di antara para anggotanya. Kepedulian akan tanggung jawab merupakan ciri utama masyarakat ini. Keengganan untuk membuang sampah sembarangan karena sadar akan merugikan orang lain. Tingginya ketaatan dalam membayar pajak disebabkan adanya kepercayaan pada pengelolaannya yang tercermin lewat keandalan pelayanan-pelayanan publik, merupakan sebagian kecil contoh masyarakat berkarakter high-trust dengan ciri kolektivitas dalam berpikir dan bertindak.

Disadari atau tidak, saat ini tanpa terasa kita tengah berada di masyarakat dengan karakteristik low-trust. Karena ketidakpercayaan pejalan kaki terhadap perilaku pengemudi kendaraan, maka untuk menyeberang jalan dengan aman di zebra cross harus dilakukan dengan ekstra hati-hati sambil melambaikan tangan untuk memohon agar kendaraan berhenti, merupakan contoh kecil karakter low-trust. Disamping tentunya hal-hal lain yang lebih serius lagi seperti ketidakpercayaan terhadap kepastian penegakan hukum, pengelolaan pajak dan kemudahan pelayanan administrasi publik, serta kebenaran berita mediamassa.

Salah satu penyumbang munculnya karakter low-trust tersebut adalah pola pendidikan terhadap individu yang kurang tepat yang diterapkan oleh masyarakat secara umum. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tahun 2005, memang telah secara tegas menyatakan bahwa pendidikan nasionalIndonesia merupakan sebuah upaya bersama antara semua elemen bangsa untuk membentuk individu yang mampu mengembangkan potensinya masing-masing, memiliki tanggung jawab sosial, berperilaku yang sesuai norma agama dan sosial yang berlaku, serta memiliki fungsi yang jelas dan bermanfaat di masyarakat. Namun begitu, tampaknya fakta lapangan diIndonesia saat ini menunjukkan bahwa upaya tersebut masih jauh dari harapan. Hingga kini anak didik di negeri ini sejatinya masih “dipaksa” oleh keadaan lingkungan dan sosial-ekonomi untuk tidak menjadi dirinya sendiri, serta kurang diberikan kepercayaan dalam berpikir dan bertindak sesuai dengan norma-norma yang ada. Sistem pendidikan yang sejak dini sebagian besar masih bersifat monologis patut diduga merupakan penyumbang utama terjadinya kondisi tersebut.

Pengingkaran terhadap keunikan anak didik dapat berdampak pada rendahnya rasa percaya diri mereka. Selanjutnya, sebagai konsekuensi atas rasa percaya diri yang rendah tersebut adalah terjangkitnya rasa cemas dan kecurigaan yang kadang berlebihan terhadap lingkungan sekitar. Apabila hal ini terjadi, maka hasil optimal dari peran mereka kelak di masyarakat kemungkinan besar tidak dapat tercapai, dan alih-alih yang terbentuk adalah manusia dengan ciri individu yang dominan dengan motto hidup “tidak ada yang memikirkan nasib saya kecuali saya sendiri”.

Perlu ditekankan di sini, bahwa manusia sebagai makhluk sosial dapat menunjukkan keunikan tersendiri. Jika diberi kesempatan untuk mengubah dirinya sesuai dengan potensi yang dimiliki serta kepercayaan untuk berperan sesuai dengan kapasitasnya, maka mereka dapat berkembang ke arah sukses yang tidak dapat diduga-duga sebelumnya. Manusia yang berkembang sesuai dengan potensinya memiliki kemungkinan besar untuk secara naluriah bisa menempatkan dan menyelaraskan diri secara positif di masyarakat, serta mampu berpikir kreatif. Jika diberi kepercayaan ia akan menjalankannya dengan tanggung jawab. Seseorang yang memperoleh kesempatan tersebut dapat dengan baik memenuhi kebutuhan naluriah dasarnya untuk menunjukkan apa yang terbaik dari yang ia bisa (aktualisasi diri), sehingga dapat dengan mudah mengartikulasikan perannya secara optimal di tengah masyarakat.

Bertolak belakang dengan hal tadi, penggiringan anak didik untuk memiliki karakter yang tidak sesuai dengan potensinya dapat menimbulkan ketidakharmonisan antara apa yang diinginkan dengan apa yang menjadi tanggungjawabnya. Kelak mereka mungkin akan merasakan kerja hanya sebagai sebuah beban yang harus dipikul sekedar untuk menggapai kecukupan materi semata, ketimbang menjadi sebuah kegiatan menyenangkan yang memiliki nilai-nilai mulia seperti ibadah misalnya.

Berdasarkan argumen di atas, maka jelas bahwa pendidikan sejatinya harus dipandang sebagai dan diarahkan untuk menjadi agen perubahan yang mampu menghantarkan orang menemukan potensi dirinya sendiri dan memfasilitasi mereka untuk mencapai kepercayaan diri dalam mengembangkannya. Kemampuan bertahan hidup, yang diantaranya adalah kemampuan untuk memperoleh pekerjaan atau penghasilan yang layak hendaknya dipandang sebagai satu konsekuensi alami dari keberhasilan penemuan dan pengembangan potensi dan kepercayaan diri tersebut. Dari sini jelas, semakin banyaknya orang yang dapat menemukan potensinya masing-masing akan berdampak pada terciptanya sebuah masyarakat dengan karakter high-trust dan lebih mengedepankan ciri kolektivitas dalam berpikir dan bertindak.

Sudah saatnya para orang tua memberanikan diri untuk lebih menekankan pendidikan yang sesuai dengan keunikan anak-per-anak, serta memberikan kepercayaan yang wajar dan terukur kepada mereka untuk berkembang. Penulis memiliki keyakinan, bahwa perwujudan masyarakat yang berkeadilan sosial, hanya dapat dicapai jika kita mampu membangun generasi yang bisa berperan di masyarakat secara konsisten melalui pola pendidikan tersebut.

Komunitas Alawiyyin sebagian bagian integral bangsa Indonesia, yang memiliki peran penting kesejarahan dalam membentuk Islam yang rahmatan lil ‘alamin di negeri ini berdasarkan thoriqoh Bani Ba’alawi, seyogyanya dapat lebih berperan dalam pembentukan masyarakat tersebut melalui penerapan pola pendidikan yang dimaksud kepada generasi mudanya dengan tetap berada di koridor thoriqoh tersebut. Perlu diingat bahwa membangunIndonesia berarti membangun Dunia Islam, karena bagaimana pun juga inilah negeri dengan jumlah populasi Muslimin terbesar di dunia.

 

Husin Alatas

(Anggota Pengurus Bidang Pendidikan Rabithah Alawiyah Pusat;

Lektor Kepala pada Departemen Fisika, Institut Pertanian Bogor)

Mengenal Sayid Usman bin Yahya

Posted by admin - 2 Oktober 2012 - Da'i dan Dakwah, Sejarah Islam
1
Sayid Usman bin Yahya

Sayid Usman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi dikenal sebagai mufti Betawi dan diangkat oleh Belanda sebagai Honorair adviseur (Penasehat Kehormatan) untuk urusan Arab, dan juga sahabat Snouck Hurgronje. Beliau dilahirkan di Batavia, tepatnya di daerah Pekojan, pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 H/1822 M. ayahnya bernama Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya, dilahirkan di Mekkah dari keturunan Hadramaut. Ibunya adalah Aminah, putri dari Syekh Abdurrahman al-Misri.

 

Ketika usianya menginjak tiga tahun, ayah Sayid Usman bertolak kembali ke Mekkah, sehingga ia pun diasuh oleh kakeknya, Syekh Abdurrahman al-Misri. Sayid Usman memperoleh pendidikan tidak dalam lembaga pendidikan formal, melainkan secara pribadi ia belajar dari kakeknya berbagai macam studi agama, bahasa Arab, dasar-dasar ilmu falak-spesialisasi kakeknya- dan adab sopan santun. Ketika berumur 18 tahun, sang kakek meninggal, lantas Sayid Usman memutuskan untuk mengembara ke Mekkah. Dikotaitu, selain menunaikan ibadah haji, ia juga mengagendakan kepergiannya itu untuk melepas rindu dengan ayahnya dan kerabatanya. Selain itu, dikotaitu Sayid Usman mulai menempa diri dengan mendulang berbagai khazanah keilmuan selama tujuh tahun. Kebanyakan dari ayahnya dan Sayid Ahmad Dahlan seorang mufti Syafi’i kondang dan dikenal pula sebagai sejarawan Mekkah.

Setelah itu, Sayid Usman melanjutkan langkah kelananya ke Hadramaut. Di sini, ia kembali me-recaharge pengetahuan agamanya dengan berguru ke sejumlah pendekar ilmu di kota itu, seperti Habib Abdullah bin Husain bin Thahir, Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Hasan bin Shalih al-Bahar, Habib ‘Alawi bin Segaf al-Jufrie. Di kota ilmu itu, ia menghabiskan hari-harinya dengan menelaah berbagai korpus klasik. Atas permintaan salah seorang gurunya, ia menikah dengan seorang syarifah. Ketika beberapa gurunya telah meninggal, ia memutuskan untuk melanjutkan tapak kembaranya kembali ke Mekkah lalu kemudian ke Madinah.

Seperti banyak ulama terkenal lainnya, Sayid Usman mengkhususkan sebagian dari umurnya untuk “tapa jalan” dengan merogoh dan menambang perbendaharaan keilmuan di belahan dunia yang berbeda.  Dari Madinah ia pergi ke Dimyat, Mesir-kampung halaman ibunya-untuk bertemu dengan keluarganya. Dia bermukim di Mesir selama delapan bulan, sekaligus memanen pelbagai disiplin ilmu  dari ulama ternama di kotaitu. Tak lama kemudian, kakinya kembali berayun membuka daerah-daerah lain yang belum ia kunjungi seperti ke Tunis, Maroko, Aljazair yang disinggahinya masing-masing selama limadan tujuh bulan. Ia sempat mengunjungi beberapa kotaseperti Marakesh dan Feztempat ia menyemai ilmu-ilmu eksoterik (zahir) dan esoterik (batin). Selain itu, ia juga rajin menyambung kawat persaudaraan dengan jejaring ulama disana, salah satunya dengan MuftiTunis. Setelah merasa cukup, Sayid Usman berlayar keIstanbul, Turki yang ditinggalinya selama tiga bulan. Di ibukota dunia Islam itu, ia bertemu dengan mufti dan Syaikh al-Islam, dan menerima sebuahsurat dari Pasya Madinah kemudian ia pergi ke Palestina, Suriah, dan Hadramaut. Ia kembali keBatavia melalui Singapura pada 1279 H/1862 M. Selanjutnya ia mulai membentangkan kristal-kristal keilmuannya yang digunakan untuk memoles kembali kehidupan umat Islam.

Selain menyibukkan diri dalam perkara-perkara keislaman, Sayid Usman juga merupakan pendakwah yang ulung. Setidaknya Sayid Usman tidak hanya melakukan dakwah bil lisan tetapi juga bil kitab. Dakwah jenis pertamanya, banyak dilakukan di Masjid Al-Islam di depan Rumah Sakit PELNI, tepatnya di belakang POM bensin Petamburan sekarang. Namun, ketika shalat Jumat, biasanya ia melaksanakannya di Pekojan. Selain itu, setiap hari Rabu, ia juga membuka pengajian di rumahnya tak jauh dari masjid tempatnya mengajar itu. Bak perjalanan arus air dari muara mengalir ke sungai, murid-murid Sayid Usman banyak pula yang meneruskan estafet keilmuannya. Di antara mereka yang terkenal adalah Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Habib Umar Purwakarta dan Habib Falakiyyah Bogor. Banyak pula muridnya yang berasal dari luarSurabaya ada pula yang dariBanjarmasin.

Sayid Usman juga dikenal sebagai penulis yang prolifik-profetik. Prolifik merupakan suatu ungkapan khas bagi mereka yang giat menelurkan berbagai buah karya berbentuk tulisan. Sedangkan profetik, adalah merujuk pada “jalan sunyi” kenabian. Dengan kata lain, Sayid Usman tidak saja mengangungkan nasab, melainkan juga teladan Nabi SAW yang diutus  ke muka bumi sebagai pembawa kabar baik (al-Bashir) dan buruk (an-Nadzir). Sebagai seorang penulis yang sangat lihai menggetarkan jagad keilmuan Nusantara, Sayid Usman mempunyai dua peran yang prestisius. Pertama, kedudukannya sebagai mufti, yang diraihnya degan rekomendasi keluasan ilmu agama yang dimilikinya. Kedua, sebagai guru agama, yang menaburkan ilmunya baik dengan jalur lisan maupun tulisan kepada umat Muslim Nusantara. Sematan mufti, memungkikan gerak pemikirannya untuk mengembara dipadang luas ilmu untuk mendapatkan berlembar-lembar jawaban atas permasalahan yang menggelisahkan ruang publik.

Bagi Sayid Usman, berjuang tak hanya melalui tindakan atawa orasi keagamaan belaka, yang terpenting adalah bagaimana mengabadikan keluasan ilmunya dalam deret demi deret kata bagi generasi masa depan. Selama masa hidupnya beliau telah menulis 144 judul tulisan-terbagi dalam kitab yang  tipis-tipis halamannya- dari pelbagai disiplin ilmu. Kitab tulisan Sayid Usman hingga kini masih menjamur dipelajari di sela-sela alam modernitas, salah satunya yang terkenal berjudul Sifat Dua Puluh.

Biasanya, jika ada suatu polemik keagamaan atau sebuah pertanyaan keagamaan yang sedang mengemuka di zamannya, Sayid Usman kerap menjawabnya melalui penanya. Tak ayal, banyak di antara karyanya yang bersifat tematis atau dengan kata lain menulis sebagai solusi atas masalah itu sendiri. Contohnya, ketika umat Muslim Nusantara membutuhkan panduan berhaji yang praktis dan mudah dipahami, Sayid Usman menulis sebuah kitab tuntunan berhaji dalam bahasa Melayu berjudul Kitab Manasik Haji dan Umrah yang terbit perdana tahun 1875 dan mangalami cetak ulang di Mekkah 1310/1892. Boleh dikatakan, kitab ini merupakan “santan” yang diperas dari kitab-kitab babon yang membahas tentang haji seperti dari Kitab Syarh Fadhailul Muluk karya sayid Yusuf al-Baththah, Kitab Idhah karya Imam Nawawi dan Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali. Dalam masalah haji lainnya, Sayid Usman juga tercatat namanya dalam historisitas haji Nusantara sebagai ulama yang mencetuskan karcis pulang-pergi berhaji. Sayid Usman menyatakan;

“een man dus, die wel hard voor het geloof zijner vanderen heeft, noemde dit denkbeld der retourbiljet uit nemend “Patoet Sekali”.

(jadi ia seorang laki-laki yang memang bersikap penuh dedikasi kepada agamanya, menganggap dan menamakan retourbiljet itu “Patoet Sekali”)

Selain itu, jangkauan dakwah dan keilmuan Sayid Usman tak hanya berkutat di Bataviasaja, tetapi juga dibutuhkan untuk memecahkan kebuntuan problematika di daerah lainnya. Contohnya saat terjadi pertentangan ide ketika polemik salat Jumat di Masjid Lawang Kidul Palembang, yang oleh Sayid Usman dipandang “menyalahi” hukum fiqih Syafi’i oleh karena terlebih dahulu sudah ada masjid yang dijadikan lokasi salat jumat yakni Masjid Agung Palembang. Masalah ini juga dijawabnya melalui sebuah tulisan berjudul Khulasah al-Qaul al-Sadid fil Man ihdats Ta’addud al-Jum’at fi al-Masjid al-Jadid. Saat polemik itu terjadi, Sayid Usman memberikan berbagai pertimbangan kepada kantor Algemeene Secretarie di Bogor sehubungan dengan masalah ini. Dalam suratnya itu antara lain dikelaskan;

… menurut mazhab Syafi’i … bahwa di dalam satu jama’ah hanya boleh diadakan salat Jumat di satu tempat saja. Bilamana peraturan ini dilanggar, maka kedua salat Jumat yang diadakan itu menjadi tidak sah. Maka, pengadaan salat Jumat kedua di samping yang sudah ada, dalam hal seperti itu bukan dianggap sebagai pelanggaran yang berat di pihak mereka yang ikut serta di dalamnya, melainkan juga menghalangi para jamaah lainnya dalam melaksanakan ibadah mereka … hendaknya dipahami sebagai satu jamaah, … dalam kitab-kitab fiqih … diuraikan beberapa lebar seharusnya sebuah lapangan, agar dapat membagi menjadi dua jamaah … tidak dapat disangsikan bahwa jamaah masjid baru di Palembang (masjid Lawang Kidul) merupakan satu jamaah dengan kampung masjid yang lama.

Selanjutnya, kitab yang beraroma problem-oriented lainnya adalah Kitab al-Qawanin asy-syar’iyyah li ahl al-majlis al-hukmiyyah wa al-ifta’iyyah yang berarti “Ini kitab segala aturan hukum syara bagi ahli majlis syara dan majlis fatwa syara yaitu yang disebut rad agama, terbit pada 1881 M. Kitab ini berisi pedoman dan tuntunan praktis bagi para hakim dan penghulu di daerah ketika menjalakan perannya di tengah masyarakat. Mereka tergabung dalam suatu dewan agama yang disebut Dewan Ulama. Konon, menurut penuturan Snouck, kitab ini termasuk dalam kategori best-seller, karena ketika terbit pertama kalinya, kitab ini habis terjual. Untuk memenuhi pangsa pasar yang semakin membludak, kitab ini dikemudian hari diperbaiki dan dicetak ulang dalam jumlah besar.

Latar belakang lahirnya kitab ini, adalah karena banyaknya rekues akan pertolongan dari para penghulu, para anggota dewan ulama  di Jawa yang banyak mengalami kesulitan dalam memutuskan sesuatu perkara sesuai dengan asas keadilan berbasiskan hukum keagamaan. Problem bahasa juga diperhataikan oleh Sayid Usman, supaya mudah untuk dimengeri para pembacanya. Untuk itu, Kitab Qawanin sengaja didesain menggunakan bahasa Melayu dan ditata sedemikian praktisnya untuk memanjakan para dewan ulama dalam optimalisasi pengambilan keputusan hukum.

Konon, beliau menerbitkan butiran-butiran ide progresifnya melalui mesin lithografi kecil-di zaman itu dikenal dengan nama mesin batu- miliknya. Kemudahan menerbitkan kitab-kitabnya juga berkaitan erat dengan kedekatannya dengan Belanda. Selain itu, tak banyak orang mengetahui, Sayid Usman juga merupakan seorang geografer (ahli ilmu bumi). Hal ini diakui oleh Snouck Hurgronje dalam tulisannya yang mengatakan:

Sayid Usman ibn Yahya al-Alawi yang menjadi terkenal di beberapa kalangan Barat karena penerbitan peta buminya, yang memuat sebuah peta besar dari tanah airnya, Hadramaut. Maksud utama penerbitan itu ialah memperluas pengertian yang lebih baik tentang keanehan , adat istiadat dan pekerjaan penduduk Arab Selatan, yang telah mengirimkan kelebihan penduduknya ke negeri-negeri Islam lainnya sejak berabad-abad lampau.

Salah satu kitab yang banyak mengulas tentang beragam pernak-pernik problematika agama, adalah kitab Adabul Insan yang ditulis menggunakan aksara Melayu-Jawi, pada pasal 27, yang merupakan pasal terakhir tentang saudagar kikir nan tamak yang karena kekikirannya menyebabkan ia jatuh miskin tak terperikan keadaannya. Sayid Usman berwasiat:

Maka, Ingatlah, wahai sekalian saudara, janganlah takabur membesarkan diri atas dha’if miskin. Maka tiada diketahui akan hal ihwal manusia di belakang kalinya.

Kini, nyatalah, betapa Sayid Usman mendedikasikan dirinya sebagai Cultural Broker yang menjembatani problematika umat dengan selancar ide-ide keagamaannya yang senantiasa tajam, segar tapi juga bernas. Hal inilah esensi dari dakwa sesungguhnya, yakni sebagai komitmen menghadirkan suatu pembaruan yang beresensikan ajaran Islam dengan mengganti hal-hal yang lawas dengan yang baru lagi baik, dan senantiasa menjaga warisan ulama terdahulu (al-muhafadzah ala qadimi ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadiid al-ashlah).

Boleh dikatakan, abad 19 merupakan masa berbunganya pengajaran Islam di tanah Nusantara. Tidak hanya kalangan Sayid, para pendakwah pribumi  juga mulai bertaburan dan berkecambah menghiasi persada bilik-bilik Islam di Nusantara, tak terkecuali di Betawi. Pada akhir abad 19, hubungan kawat akademik Timur Tengah-Betawi sedang “menyemesta”. Kaum Sayid di tanah rantauBataviabahu membahu dengan pendakwah lokal untuk membangun suatu ruang lingkup keislaman yang lebih tertata dan merata. Di era ini Betawi disesakkan dengan nama-nama besar seperti  Guru Halid di Gondangdia,  Guru Mughni Kuningan, Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Marzuki Jatinegara, Guru Mahmud Menteng dan Guru Madjid Pekojan. Mereka adalah alumni-alumni majlis taklim yang sebelumnya telah laris berdiri di tanah Betawi. Galur keilmuan mereka bersambung langsung degan Haramain, pelabuhan ilmu yang sempat diakrabinya pasca menempa ilmu di Betawi.

Kelihaian strategi dakwah para Sayid, menjadi tengara mudahnya Islam bersua dan berpadu dengan denyut hidup masyarakat praJakarta. Malahan, kehadiran mereka dianalogikan sebagai butiran salju yang menyegarkan dan memberikan sentuhan estetik di ranah dakwah Nusantara. Pendek kata, dakwah mereka berhasil diterima dan dipeluk oleh masyarakat pribumi. Mereka tak segan bertukar pikiran dan bersahabat dengan ulama Betawi. Tak ayal, kekhasan inilah yang menjadikan mutiara-mutiara keilmuan yang mereka siarkan tak lantas kaku dan berjarak, melainkan begitu merasuk dan mengendap di alam bawah sadar murid-muridnya, oleh karena berhasil “menaklukan” dan “menggauli” belantara peradaban Nusantara, khususnya Betawi, yang sama sekali berbeda dengan bentara tradisi Hadramaut.

Meskipun dikenal sebagai seorang alim yang berilmu tinggi, Sayid Usman juga tersohor karena kontroversinya. Kontroversi-kontroversinya inilah yang menyebabkan dirinya begitu dihargai oleh Belanda sebagai suatu sikap akomodatif. Salah satu kontroversi yang menarik, adalah penolakannya dengan paham tarekat di Nusantara yang saat itu sedang menggeliat. Menurutnya, Nusantara agaknya belum siap untuk bertarekat. Merujuk pada buah karyanya an-Nasihah al-Aniqah li al-Mutalabbisin bi al-Thariqah  (Nasihat yang Elok kepada Orang-Orang yang Masuk Tarekat) hal ini dikarenakan seorang yang hendak bertarekat hendaknya menguasai tiga cabang ilmu Islam yakni ilmu tauhid, fiqih dan ilmu sifat hati (tasawuf) secara holistik.

Kenyataan yang terhampar di bumi Nusantara adalah sebaliknya. Persyaratan tersebut, demikian Sayid Usman, sangatlah berat dipenuhi oleh Muslim di Arab, apalagi Muslim Jawa yang masih bergelimang dalam ajaran-ajaran “menyimpang” dari korpus utama hukum Islam yakni al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sayid Usman menyebut golongan ini sebagai ghurur atau kesalahan dalam memahami ajaran Islam. Akibatnya, bergabungnya mereka dalam persaudaraan tarekat dipandangnya tidak absah dan cenderung berdosa.  Tak ayal, Sayid Usman mendapat kecaman dari para ulama pendukung tarekat di Nusantara, yang menuduhnya sebagai upaya silat lidah untuk meraih simpati pemerintah Belanda.

Fatwanya itu didukung sepenuhnya oleh Snouck Hurgronje, yang mengatakan tarekat merupakan biang keladi dari pemberontakan melawan pemerintah.Parasyekh tarekat hanyalah oknum yang kerap meyakinkan para pengikutnya untuk mengikuti semua perintahnya. Tak jarang, para murid tarekat disuguhi oleh propaganda-propaganda untuk melawan pemerintah. Kasus yang sama pernah terjadi ketika pemerintah Perancis disibukkan oleh perlawanan para pengikut tarekat Sanusi. Lebih jelasnya, Snouck mengatakan:

… Para syekh sudah tergila-gila uang dan kekuasaan, lebih suka menerima hadiah-hadiah yang mahal dari para murid mereka, dan juga organisasi yang besar (tarekat) dan patuh pada perintah, yang dapat dipergunakan sebagai alat agar para penguasa dalam pemerintahan. Oleh karena itu, mereka mengangkat sebagai para wakil mereka di berbagai kota atau negeri, orang-orang yang dianggapnya tepat untuk membantu menjaga kepentingan mereka; para wakil (khalifah) pada gilirannya menerima sebagai anggota organisasi, orang-orang yang karena kebodohan atau suka menderma karena sifat lainnya, dapat dijadikan alat untuk mengisi kocek guru-guru gaib mereka serta mempertinggi kedudukan mereka di dunia.

Secara pribadi, Snouck pernah menanyakan mengapa Sayid Usman menyanggah orang-orang yang rajin mengucapkan kalimah thayyibah dan zikir kepada Allah (kaum tarekat). Dengan meyakinkan Sayid Usman menjawab bahwa sebenarnya ia bukannya menolak kegiatan tersebut. Tetapi yang ia hujani kritik tajam adalah janganlah mempelajari tata cara berzikir dari syekh yang tidak benar. Kemelut konflik ini membawa Sayid Usman dalam perang urat syaraf dengan Syekh Ismail Minangkabau yang dipandang mengadakan “paksaan” bagi penduduk untuk memasuki tarekat Naqshabandiyah yang dipimpinnya. Sejalan dengan ulasan ini, Azra menambahkan pandangan perilaku sufi saat itu dari Sayid Usman merujuk pada Buku Kecil halaman 6-8 adalah;

… He alleges that many sufi shaykh are nowdays more concerned with wealth and social status than with genuine piety. They do not realy commit themselves to Islam but to worldly sastus and enjoyment. They are “false” sufi shaykhs who exploits their followers for their own interest, claiming to be or regarded by certain people as able to do “keramat” things. Because of their ignorance many Muslims believe and pay respect to such false teachers.

( … habib Usman menyatakan bahwa banyak dari syekh sufi di masa itu yang lebih mementingkan kekayaan pribadi dan status sosial tinimbang kesalehan yang murni. Mereka adalah sufi palsu yang mengekploitasi muridnya demi kepentingannya sendiri dan mengklaim diri arau dianggap oleh orang tertentu mampu melakukan berbagai hal “keramat”. Karena keacuhan mereka sendiri banyak orang yang percaya dan menghormati para guru menyimpang itu).

Selanjutnya, ada pula berbagai pandangan kontroversi dari Habib Usman lainnya, salah satunya adalah larangan berjihad. Secara eksplisit, Sayid Usman menyebut jihad yang dilakukan di Banten pada tahun 1888 merupakan kesalahpahaman (ghurur) atas ajaran Islam yang sebenarnya; makna sesungguhnya dari jihad telah disalahartikan oleh mereka yang disebutnya orang-orang yang jahil pada bab jihad. Akibatnya, fanatisme berjihad mereka dilegitimasikan sepihak menjadi perang suci. Aksi-aksi “kepahlawanan” mereka, menurut Sayid Usman, bukanlah jihad, melainkan hanya gangguan dan kekisruhan dalam suasana yang damai. Penjelasan ini termaktub dalam buah tangan Sayid Usman berjudul Minhaj al-Istiqamah fi al-Din bi al-Salamah, terbit pada tahun 1307 H/1889-1890 M.

Selain concern dalam bidang keagamaan, Sayid Usman juga merupakan ulama yang atraktif dalam kancah perpolitikan kaum pribumi, kendati dalam skala yang kecil. Hal ini terlihat jelas dalam upayanya mendukung perjuangan Syarikat Islam (SI), yang merupakan suatu wadah gerakan protonasionalis Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1911. Kendati berada dalam barisan pemerintah kolonial, tak lantas membuat tumpul ide pergerakan Sayid Usman. SI, yang kala itu menjadi kekuatan oposisi dari Belanda, dibelanya dengan gigih. Sayid Usman menulis sedikitnya dua karya yang secara khusus ditujukan sebagai pledoi SI: Sinar Isterlam pada Menyatakan Kebenaran Syarekat Islam (16 hh), dan Selampai tersulam pada menyatakan Kebajikan Syarekat Islam (8 hh.). Organisasi ini dipandang Sayid Usman sebagai wahana umat Muslim untuk saling membantu (ta’awun) juga sebagai sarana untuk mempererat silaturahim.

Dua pandangan inilah (anti-tarekat dan anti-jihad) yang kerap dijadikan bumerang untuk menuduh Sayid Usman sebagai antek-antek Belanda. Beberapa penulis sejarah hidup Sayid Usman, yakni seperti Snouck Hurgronje, L.W.C. van den Berg, Karel A. Steenbrink dan Azyumardi Azra, belum dapat mengungkapkan secara gamblang, sebenarnya apa motif fatwa-fatwa yang menurut kaum pejuang tanah air dipandang sebagai “salah-kaprah” ini. Terutama pandangan Azyumardi Azra yang mengungkapkan bahwa harus dilakukan penelitian yang benar-benar “lengkap” terkait sepak terjang Sayid Usman.

Atas “kesadaran partisipatoris” Sayid Usman terhadap kelangsungan upaya menyatukan pemikiran umat Islam dalam memahami nilai-nilai keislaman yang berkembang di tengah-tengah kolonialisme Belanda di Nusantara. Maka Belanda begitu mengagungkan sosok ulama Arab Betawi ini. Snouck sangat memuji sikap dan pendirian Sayid Usman yang begitu tangguh berfatwa disertai gelaran-gelaran rujukan klasik nan otoritatif dalam mempertahankan fatwa-fatwanya. Kendati menduduki posisi yang tinggi di jajaran birokrat Belanda, Snouck kerap menjadikan Sayid Usman sebagai rujukan ketika akan menelurkan suatu kebijakan. Dalam percakapanya, Snouck menggunakan bahasa Arab sebagai bentuk penghormatang kepada Sayid Usman. Dalam suatu kesempatan Snouck mengungkapkan:

… Usman memiliki keberanian berdasarkan keyakinannya, dan tidak akan menghentikan perjuangan. … Justru karena itu ulama kita dari Hadramaut ini juga berhak atas terima kasih dan simpati dari mereka, yang bersikap jujur terhadap Hindia Belanda, dan terutama dari pemerintah sendiri. … bahwa orang Arab seperti Usman bin Yahya adalah lebih berharga daripada sejumlah bupati yang “ berpandangan bebas”

Berikut juga merupakan kekaguman Snouck atas kejembaran hati Sayid Usman “menerima” penjajahan dalam upaya untuk “memberadabkan” masyarakat pribumi, yakni sebagai berikut:

Pengetahuannya tentang dunia telah membuatnya dapat menerima adanya penjajahan bangsa-bangsa bukan Islam atas negeri seperti Jawa sebagai suatu “keharusan”; juga dalam hal ini dia, sebagaimana terlebih dulu sudah kita perhatikan, berpendirian tetap menurut teori.

 

Kesimpulan

Perjalanan hidup Sayid Usman bin Yahya kerap diselubungi oleh berbagai kontroversi. Buah pemikirannya yang menganggap ahli tarekat sebagai sekumpulan orang yang salah dalam beragama dan ketidaksetujuannya dengan konsep jihad melawan pemerintah Hindia-Belanda adalah dua diantara berbagai hal yang mendiskreditkan Sayid Usman yang ditengarai sebagai mata-mata, maupun orang yang berpihak kepada Belanda.

Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah perlu diadakan penelitian yang lebih intens dan kontinyu untuk mebongkar jejak hidup Mufti Betawi ini.Paraahli sejarah pun “dibuat pusing” oleh kisahnya yang serba abu-abu itu. terlepas dari berbagai kontroversi yang meliputinya, Sayid Usman merupakan sosok pendakwah Islam yang sangat berpengaruh di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Buah pikirannya yang dicetak dari mesin litrografi sederhana miliknya, kerap dijadikan rujukan oleh para kaum Sayid belakangan juga para masyarakat umum. Boleh dikatakan, Sayid Usman merupakan salah satu pelopor dakwah yang sukses menanamkan benih-benih keislaman di tanah Betawi dan Nusantara.


Makalah disampaikan oleh Prof. Dr.  M. Dien Madjid M.A. dalam acara seminar tentang “Islam di Betawi Abad 19-20, Jaring Ulama dan peranannya” dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2012, diselenggarakan oleh Rabithah Alawiyah, bertempat di gedung Rabithah Alawiyah Lantai IV, Jakarta Selatan

 

AWSOM Powered