Archive: November, 2012

Wasiat Hikmah Al Imam Jafar Asshadiq RA

Posted by admin - 29 November 2012 - Aqidah
7

Al Imam Sufyan ats-Tsaury berkata, “Aku mendatangi al Imam Ja’far ash-Shadiq ra., lalu aku bertanya kepadanya, ‘Wahai cucu Rasulullah, berilah aku wasiat.’ Maka beliau berkata, ‘Wahai Sufyan ketahuilah :

1)      Tidak ada harga diri bagi pendusta,

2)      Tidak ada ketenangan bagi pendengki

3)      Tidak ada persahabatan bagi orang yang tak berpendirian

4)      Tidak ada kemuliaan bagi orang yang buruk akhlaknya

Lalu aku berkata, ‘Wahai cucu Rasulullah, tambahkanlah untukku.’ Beliau berkata, ‘Wahai Sufyan,

1)      Jagalah dirimu dari hal-hal yang diharamkan Allah, maka engkau akan menjadi ahli ibadah.

2)      Relalah terhadap pemberian Allah kepadamu maka kau akan menjadi seorang muslim yang sempurna.

3)      Bersahabatlah dengan manusia dengan sesuatu yang dengan itu pula engkau menginginkan orang lain bersahabat denganmu, maka engkau akan menjadi seorang mukmin yang sempurna.

4)      Janganlah engkau bersahabat dengan pendosa, maka dia akan mengajarmu perbuatan dosanya. Dan musyawarahkanlah permasalahanmu kepada orang yang takut kepada Allah.’

Aku berkata, ‘Wahai cucu Rasulullah tambahkanlah untukku.’ Beliau berkata:

‘Wahai Sufyan, barangsiapa menginginkan kemuliaan tanpa pengikut, dan kebesaran tanpa jabatan, maka hendaknya dia keluar dari kehinaan bermaksiat kepada Allah menuju kepada kemuliaan taat kepada Allah.’

Aku berkata, ‘Wahai cucu Rasulullah, tambahkanlah untukku.’ Beliau berkata,

“Ayahku mengajarkan tiga adab kepadaku dan menambahkan tiga lagi

1)      Barangsiapa bersahabat dengan teman yang buruk, dia tidak akan selamat.

2)      Barangsiapa masuk ke tempat buruk, dia akan menjadi tertuduh.

3)      Barangsiapa tidak dapat menjaga lisannya, maka dia akan menyesal.’

Kemudian Sufyan bertanya lagi tentang tiga hal yang lain?, Beliau menjawab, ‘Ayahku berkata bahwa sesungguhnya harus diwaspadai kepada:

1)      Pendengki suatu nikmat

2)      Orang yang bergembira atas maksiat

3)      dan pengadu domba.”

 

*) dinukil dari Kitab Manhajus Sawi

Karang Gigi…. Benarkah Menjadikan Gigi Lebih Kuat?

Posted by admin - 27 November 2012 - Kesehatan
1
Karang Gigi

 

Anggapan Banyak Orang Tentang Karang Gigi

Masih banyak orang yang memahami bahwa karang gigi – benda keras berwarna kuning kecokelatan hingga kehitaman (warna kehitaman biasanya akibat bercampur dengan rokok, teh, dan zat lain yang dapat meninggalkan warna pada gigi) yang menempel di belakang gigi geligi – merupakan benda yang memperkuat gigi karena fungsinya yang dianggap mirip dengan semen (sebagai perekat yang memperkokoh gigi). Sehingga banyak orang yang tidak mau membersihkan karang gigi dikarenakan takut apabila karang giginya dibersihkan, giginya menjadi tidak kuat lagi. ”nggak aahhh, saudara saya sering dibersihkan giginya, eeeh malah giginya jadi pada ompong sampe-sampe harus pake gigi palsu”, ”Kalo dibersihin karangnya, gigi jadi menipis ya dok?” dan masih banyak lagi anggapan-anggapan pasien perihal pembersihan karang gigi.

Apa Sih Sebenarnya Karang Gigi Itu?

Sebenarnya, karang gigi (Calculus) bermula dari kumpulan makanan yang menempel di permukaan gigi yang tidak terangkat/dibersihkan pada waktu menyikat gigi. Kumpulan sisa makanan ini disebut dengan istilah pelikel. Kemudian pelikel ini akan ditempeli kuman yang ada di dalam mulut, benda inilah yang disebut dengan istilah plak. Karena bercampur dengan air liur yang banyak mengandung kapur (mineral), plak ini jika lama kelamaan tidak dibersihkan akan mengalami pengkapuran/mineralisasi (pembentukan mineral seperti “batukarang” ) sehingga terbentuklah karang gigi. Karang gigi menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar dan menjadi tempat menempelnya plak kembali sehingga lama-kelamaan karang gigi akan semakin mengendap, tebal dan menjadi sarang kuman. Kuman tersebut mengeluarkan racun/toksin yang dapat menimbulkan infeksi pada jaringan penyangga gigi (tempat tertanamnya gigi) yang disebut dengan jaringan periodontal. Jaringan ini terdiri dari gusi, sementum, jaringan tulang penyangga gigi (alveolar). Jaringan penyangga gigi inilah yang mengikat gigi, pembuluh darah dan persarafan menjadi satu kesatuan

Berdasarkan lokasinya, karang gigi ada di supragingiva (permukaan gigi diatas gusi) dan di subgingiva (permukaan gigi di bawah gusi).  Karang gigi terutama timbul pada daerah-daerah gigi yang sulit dibersihkan (gigi bagian belakang, celah diantara dua gigi yang tidak rata, dll) dan di belakang gigi-gigi seri bawah karena di daerah tersebut terdapat muara kelenjar air liur dimana air liur kaya akan kandungan mineral sehingga memudahkan terjadinya mineralisasi sisa-sisa makanan di daerah itu yang pada akhirnya menjadi tumpukan karang gigi.

Apa Akibat Yang Dapat Ditimbulkan Karang Gigi?

Kuman yang terdapat pada karang gigi dapat menimbulkan infeksi di jaringan penyangga gigi (gusi dan tulang di bawahnya). Penderita biasanya mengeluh gusinya terasa gatal, mulut berbau tak sedap, sikat gigi sering berdarah, bahkan adakalanya gigi dapat lepas sendiri dari jaringan penyangga gigi. “Infeksi yang mencapai lapisan dalam gigi (tulang alveolar) akan menyebabkan tulang penyangga gigi menipis sehingga pada perbandingan panjang gigi yang tertanam pada tulang dan tidak tertanam 1:3, gigi akan goyang dan mudah tanggal” ujar drg. Irene Sukardi Sp.Perio dari Departemen Periodontologi FKG UI. Selain manifestasi di rongga mulut,  penyakit periodontal yang berlanjut dapat menimbulkan penyakit sistemik seperti penyakit ginjal, penyakit jantung dan pembuluh darah, infeksi sinus, bahkan pada ibu hamil bisa menyebabkan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.

Oleh karena itu, masalah karang gigi tidak dapat disepelekan. Bila plak sudah mengendap menjadi karang gigi maka penyikatan sekeras apapun dengan sikat gigi biasa tidak akan menghilangkannya. Dan satu-satunya cara untuk mengatasi karang gigi adalah dengan pergi ke dokter gigi untuk dibersihkan agar terhindar dari penyakit yang lebih berat dan tentunya butuh biaya yang lebih besar.

Membersihkan Karang Gigi

Karang gigi harus dibersihkan dengan alat yang disebut scaler. Ada yang manual ataupun dengan ultrasonic scaler. Setelah dibersihkan dengan scaler, karang gigi akan hilang dan gigi menjadi bersih kembali. Namun, karang gigi dapat timbul kembali apabila kebersihan gigi tidak dijaga dengan baik.

Tindakan pencegahan penting dilakukan sebelum karang gigi timbul yaitu dengan menyikat gigi secara teratur dan sempurna, penggunaan dental floss/benang gigi untuk membersihkan permukaan antar dua gigi yang sering menjadi tempat terselipnya makanan dan menjadi tempat penimbunan plak serta penggunaan obat kumur yang mengandung clorhexidine untuk mencegah timbulnya plak, obat ini dapat digunakan setelah penyikatan gigi.

Dengan bersihnya permukaan gigi dari sisa makanan, maka gigi akan terhindar dari penumpukan karang gigi dan juga terhindar dari berbagai macam penyakit yang ditimbulkannya.

 

Oleh: drg. Hodijah Alatas (Dokter Gigi Klinik Rabi’iyyah Health Care)

Memuliakan Anak Yatim

Posted by admin - 24 November 2012 - Muharram
0
Yatim

Siang itu, di salah satu sudut Kota Madinah, sejumlah anak sedang asyik bermain. Semuanya mengenakan pakaian baru dan sangat gembira. Hari itu bertepatan dengan Idul Fitri. Di belakangnya, seorang anak tampak bersedih.

Seorang lelaki dengan penuh saksama memerhatikan mereka, tak terkecuali anak yang bersedih itu. Lelaki ini pun mendekatinya, kemudian bertanya, “Wahai ananda, mengapa engkau tak bermain seperti teman-temanmu yang lainnya?”

Dengan berurai air mata, ia menjawab, “Wahai tuan, saya sangat sedih. Teman-teman saya gembira memakai pakaian baru, dan saya tak punya siapa-siapa untuk membeli pakaian baru.”

Lelaki ini kembali bertanya, “Kemanakah orang tuamu?” Anak kecil ini menuturkan ayahnya telah syahid karena ikut berperang bersama Rasulullah. Sedangkan ibunya menikah lagi, sedangkan semua harta ayahnya dibawa serta, dan ayah tirinya telah mengusirnya dari rumah.

Lelaki ini pun kemudian memeluk dan membelainya. “Wahai ananda, mau engkau kalau saya menjadi ayahmu, Aisyah sebagai ibumu, dan Fatimah jadi saudarimu?”

Anak kecil itu pun tampak sangat gembira. Lelaki itu lalu membawa anak itu ke rumahnya, dan memberikan pakaian yang layak untuknya.

Beberapa saat kemudian, anak itu kembali menemui teman-temannya. Ia tampak sangat bahagia dengan pakaian yang lebih baru. Menyaksikan hal itu, teman-teman sebaya heran dan bertanya-tanya. “Kemarin aku lapar, haus, dan yatim. Tetapi sekarang aku bahagia, karena Rasulullah SAW menjadi ayahku. Aisyah ibuku, Ali adalah pamanku dan Fatimah saudariku. Bagaimana aku tak bahagia,” ujarnya.

Setelah mendengarkan perubahan itu, giliran teman-temannya yang bersedih. Mereka iri dengan anak itu, karena kini lelaki yang membawanya telah menjadi orang tua asuhnya yang tak lain adalah Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah SAW wafat, anak itu kembali menangis dan bersimpuh di atas pusara Rasul SAW dengan berlinang air mata. “Ya Allah, hari ini aku menjadi yatim yang sebenarnya. Ayahku yang sangat mencintaiku sudah tiada. Apakah aku harus hidup sebatangkara lagi?”

Mendengar hal itu, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq menghampirinya sambil membujuk dan memeluknya. “Akulah yang akan menjadi pengganti ayahmu yang sudah tiada.” (Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA).

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa menyantuni, memelihara, dan mengasuh anak yatim merupakan tanggung jawab kita semua. Kita berkewajiban untuk memberinya makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak, serta pendidikan yang memadai hingga mereka dewasa.

Rasulullah SAW adalah teladan umat manusia. Beliau sangat mengasihi dan menyayangi anak-anak yatim. Dalam salah satu sabdanya, Rasul menjelaskan, bahwa kedudukan orang yang memuliakan, menyantuni dan mengasihi anak yatim, akan mendapatkan surga yang jaraknya bagaikan jari telunjuk dan jari tengah.

Rasul SAW sangat membenci orang-orang yang menelantarkan anak yatim. Dalam Alquran, Allah SWT mengecam orang-orang yang suka menghardik anak yatim, dan enggan memberi makan fakir miskin. Allah menyebut mereka itu sebagai pendusta agama. (QS al-Ma’un [105]: 1-5). Wallahu a’lam.

Oleh: Syahruddin El-Fikri

Redaktur: Chairul Akhmad

Sumber: di sini 

Amal Dunia Amal Akhirat

Posted by admin - 21 November 2012 - Aqidah
1
Amal Dunia Amal Akhirat

Diriwiyatkan, bahwa ada seseorang penguasa memiliki seorang budak hitam dan berwajah jelek di tengah-tengah sejumlah budak lainnya. Pada suatu hari dia ingin memberikan tambahan nafkah kepada para budak itu. Dia pun menyebarkan beberapa dinar ke tengah–tengah mereka. Tentu saja para budak segera mengambil dinar itu dengan tertawa dan gembira, sedangkan si pemilik budak mengawasi mereka dengan rasa senang karena bisa membuat mereka gembira. Akan tetapi dia melihat seorang budak hitam berdiri memandangi para budak yang lain. Dia tidak maju dan tidak mengambil sesuatu. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang tidak lazim.

Maka pemilik budak bertanya kepadanya, “ Mengapa engkau tidak memungut dinar seperti teman-temanmu itu?”

Budak hitam itu menjawab, “ Mereka mencari dinar, dan ini merupakan amal dunia dan aku mencari amal akhirat.”

Kemudian pemilik budak bertanya, “ Apa itu?”

Dia menjawab “ Puasa, Shalat, Dzikir, dan Ibadah.”

Maka pemilik budak itu dan mendekat dan memujinya. Kemudian tersebar desas-desus, sampai ke tetangga-tetangga, yang menyebutkan bahwa penguasa itu telah jatuh cinta kepada budak hitam itu.

Penguasa itu kemudian mengadakan pesta besar dengan mengundang tamu sebanyak-banyaknya. Dia lalu memerintahkan supaya para budak diundang. Dia memberi masing-masing budak itu segelas batu permata dan memerintahkan agar mereka membantingnya, semua menolak, kecuali si budak hitam yang segera membating gelas itu sampai pecah.

Penguasa  itu berkata, “ Lihatlah budak ini. Wajahnya buruk tetapi perbuatanya baik, apabila kalian bertanya kepadanya, kalian pasti mendapatkan jawabanya yang selaras akal, ilmu, tata krama, maupun pendidikan. Tetapi sebelumnya aku bertanya kepada kalian, untuk apa dia melakukan itu?” Orang-orang itu tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Maka, penguasa bertanya kepada si budak hitam, yang kemudian dijawab oleh sang budak, “ Engkau memerintahkanku agar memecahkannya berarti aku mengurangi hartamu dan jika tidak memecahkannya berati mengurangi kewibaanmu. Pengurangan harta lebih utama demi keabadian wibawa. Ini alasan yang bersifat duniawi.  Sedangkan untuk kepentingan akhirat maka alasanya adalah, bahwa Allah swt memerintahkan kita agar taat kepada-Nya, Rasullah dan ulil amri di antara kita. Padahal engkau adalah Ulil Amri kami. Maka aku taat kepada engkau seperti taat kepada Allah dan tidak mungkin akan membangkang kepada Allah swt. Sebagaimana aku berpendapat bahwa memecahkan gelas akan dinilai sebagai seorang gila, tetapi kalau tidak memecahkannya dinilai sebagai pembangkang. Aku memilih kemungkinn yang pertama, di dunia maupun akhirat.

Ya Allah, jadikanlah aku sebagai orang yang gila kepada-Mu tetapi jangan jadikan aku sebagai pembangkang-Mu.

 

Sumber:

Alhaddad, Abdullah bin Alwi. Bekal Pengembara Spiritual. Solo: Nur Muhammad, 2002

Mempetisi President of The U.S.

Posted by admin - 19 November 2012 - Tak Berkategori
2
Children

The picture above shows a Palestinian orphan sleeping beside his mother drawing. The kid misses his mother who became victim of Israel attack on Palestine.

This phenomenon depicts one of humanitarian impacts from Israel attack to Gaza. For decades, Israel has attacked Palestinians, especially those living in Gaza, causing death for thousand people anywhere in Gaza Strip. The exact amout of victims in Gaza is not clear as it keeps increasing. However, much more important than number, the impact of those tragedy for humanity is uncountable. A death of human being due to the attack could mean an abuse against right to life for him and losing everything for others.

People around the world has condemning this tragedy and put it as humanitarian issue rather than religious affair. Obviously, this is considered as one of the biggest crimes against humanitarian after World War II. However, political leaders who have authority to stop this attack seems not showing any willingness to solve the tragedy. Protests by people around the world have yet to end up to responding polices, in fact the keys for problem solving are laid in their hands.

This petition insist world political leaders, among others, Benjamin Netayahu (Israel Prime Minister), Barrack Obama (President of United States) and Ban Ki Moon (UN Secretary General) on stopping Israel attack to Gaza Street. Those leaders are holding key authority to stop the attack by their policies or actions.

Support this petition for stopping Israel attack to Gaza!

Save Gaza, Save humanity.

Untuk:
President of the U.S (President Barack Obama)
Prime Minister of Israel (Prime Minister Benyamin Netanyahu)
Prime Minister of Israel (Prime Minister Benyamin Netanyahu)
U.S. Ambassador to Indonesia (Ambassador Scot Marciel)
President of Republic of Indonesia (President Susilo Bambang Yudhoyono)
Minister for Foreign Affairs (Minister Marty Natalegawa)
Ambassador and Permanent Representative of the Republic of Indonesia to the United Nations (Mr. Rezlan Ishar Jenie)
Chairman (National Commission on Human Rights of Indonesia (Komnas HAM)) (Mr. Ifdhal Kasim)
Republic Indonesia Ambassador to the United States (H. E Mr. Dino Djalal)
United Nations Secretary General (Secretary General Ban Ki-moon)
United Nations Secretary General (Secretary General Ban Ki-Moon)
Please make policies and action to stop Israel attack to Gaza forever!

Salam,
[Nama Anda]

Maukah antum menandatanganinya juga? sila klik tautan

 

Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam

Posted by admin - 14 November 2012 - Muharram
3

Doa Akhir Tahun

Bacalah doa ini tiga kali saat menjelang akhir tahun baru Islam, bisa dilakukan sesudah ashar atau sebelum maghrib pada tanggal 29 atau 30 Dzulhijah. Dengan doa ini kita memohon ketika kita akan mengakhiri perjalanan tahun yang akan ditinggalkan ini akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT atas perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh-Nya, dan apabila dalam tahun yang akan ditinggalkannya itu ada perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah SWT yang kita kerjakan, maka mohonlah agar amal shaleh tersebut diterima oleh Allah SWT.

Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untukku, dan Engkau telah mengajakku untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu ya Allah, aku mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepadaku dengan kemurahan-Mu.
Segala apa yang telah kukerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, aku mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan atas keluarga dan sahabatnya.

Doa Tahun Baru Islam

Bacalah doa ini tiga kali saat kita memasuki tanggal 1 Muharam. Bisa dilakukan selepas maghrib atau pun sesudahnya. Dengan doa ini kita sebagai Mu’min memohon kepada Allah SWT agar dalam memasuki tahun baru ini kita dapat meningkatkan amal kebajikan dan ketaqwaan.

Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagiAwal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.
Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan para keluarga dan sahabatnya.

Habib Salim Bin Djindan, Guru para Habaib

Posted by admin - 12 November 2012 - Da'i dan Dakwah
2
Habib Salim bin Jindan

Nama Habib Salim bin Djindan tentu tak asing di masyarakat Muslim Jakarta. Pasalnya, tokoh yang satu ini begitu familiar di komunitas Betawi.

Namun demikian, tokoh ini termasuk orang yang enggan dengan popularitas dan publikasi.

Saat masih hidup, pernah seseorang ingin menuliskan autobiografinya guna dipublikasikan. Namun, dengan tegas, Habib Salim menolaknya.

”Apa yang kalian lakukan? Menulis autobiografi saya, nantinya akan membuat anak cucu saya fakhr (berbangga diri-Red),” ujarnya.

Kemudian, Habib Salim meminta baik-baik naskah autobiografi itu dan merobek-robeknya, tanpa peduli si penulis yang menyatakan bahwa orang seperti dia perlu menerbitkan autobiografi agar diketahui masyarakat banyak.

Habib Salim adalah seorang ulama yang dilahirkan di Surabaya pada 18 Rajab 1324 H atau bertepatan dengan 7 September 1906 M. Nama lengkapnya adalah Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Djindan. Ia wafat diJakartapada 16 Rabiul Awal 1389 atau bertepatan dengan 1 Juni 1969.

Pada periode 1940-1960, di wilayah Ibukota Jakarta, terdapat tiga ulama yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka adalah Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi, Ali bin Husein Alatas, dan Habib Salim bin Djindan. Hampir semua habaib dan ulama diJakartaberguru kepada ketiga ulama ini, terutama kepada Habib Salim bin Djindan.

Pada zamannya, nama ulama yang bicaranya suka ‘ceplas-ceplos’ ini sangat dikenal. Seperti lazimnya generasi Alawiyin terdahulu, sejak kecil Habib Salim mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya, yakni Habib Ahmad bin Djindan.

Menginjak usia remaja, ia berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, seorang pakar hadis dan ahli fikih yang saat itu memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya.

Sebagai pemuda yang haus akan ilmu, Salim bin Djindan berguru pada berbagai ulama dan aulia yang tinggal diSurabaya. Di antaranya Habib Abdullah bin Muhsin Alatas yang makamnya terdapat di Empang,Bogor, dan sampai kini diziarahi banyak orang dari Jabodetabek.

Salah satu gurunya yang tersohor adalah Habib Muhammad bin Muhammad Almachdor (Bondowoso), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf—seorang ulama dari Gresik yang dikenal luas di Tanah Air. Tiap tahun, ribuan orang, termasuk dariJakarta, mendatangi Kota Gresik untuk menghadiri haulnya. Dia juga berguru dengan KH Kholil bin Abdul Muthalib dari Bangkalan Madura.

Setelah menimba ilmu dan mendapat sanad serta ijazah dari beberapa ulama, Habib Salim akhirnya memiliki keahlian dan alim dalam berbagai bidang: hadis dan sejarah, termasuk sanad hadis.

Kepakarannya dalam bidang hadis menempatkannya sebagai seorang muhaddis (ahli hadis) dan musnid (menguasai ilmu sanad hadis).

Dalam menguraikan suatu hadis, Habib Salim sangat fasih dan hafal sumber-sumbernya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Inilah yang membuat orang kagum terhadap daya ingatnya yang demikian cemerlang.

Sebagai seorang yang hormat kepada guru-gurunya yang selama bertahun-tahun dia tekuni, dia pun memberikan penghargaan yang tinggi pada mereka.

Habib Salim pernah berkata, ”Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Sungguh dapat aku rasakan bahwa majelis mereka merupakan majelis para sahabat Rasulullah SAW di mana terdapat kekhusyukan, ketenangan, dan kharisma yang terpencar di hati mereka.”

Kendati sudah terkenal sebagai dai muda (17 tahun) sewaktu di Surabaya, namanya makin berkibar saat hijrah keJakarta. Dalam masa remaja itu, dia juga berdakwah di kota-kota lain, seperti Pekalongan, Tegal, hinggaBogor, di samping membuka majelis taklim di kediamannya di Bidaracina (kini Jalan Otista), Jakarta Timur.

Tegas
Salah satu keistimewaan Habib Salim adalah sikapnya yang tegas dalam berdakwah. Ia tak mengenal kata takut dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Keberaniannya ini bagaikan lawan tanpa tanding, termasuk para penguasa di zaman pemerintahan Bung Karno.

Ibnu Umar Junior dalam risalah Fenomena Kramat Jati menulis, ”Gara-gara keberaniannya, Kolonel Sabur (salah satu ajudan Bung Karno) sampai berang setengah mati kepada Habib Salim ketika dia melancarkan kritik-kritik terhadap pemerintah di sebuah acara di Palembang tahun 1957 yang dihadiri Presiden Soekarno.”

“Kolonel Sabur menyuruh Habib Salim turun dari mimbar. Di kesempatan itu, beliau berkata kepada para hadirin, ‘Suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah saya harus terus ceramah atau tidak?’ Serempak para hadirin menjawab, ‘Teruuus!’.”

Karena keberaniannya itu, ia sering ditangkap pemerintah dan harus menghabisi malam-malamnya di penjara. Saat berceramah diManadoyang penduduknya mayoritas beragama Kristen, ia pernah ditangkap. Tuduhannya, apalagi kalau bukan pelecehan agama. Padahal, Habib Salim berbicara mengenai keadaan yang sebenarnya. Namun, umat Kristiani merasa tersinggung dengan ucapan Habib Salim.

Di Jakarta juga begitu. Saat terjadi revolusi fisik, Habin Salim tetap lantang berpidato dalam berbagai forum, seperti majelis taklim, pengajian, dan masjid.

Ucapannya mampu membakar semangat pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Padahal, kala itu NICA (tentara Belanda) tengah masuk kembali keIndonesiamelalui pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris. Ketegasan itulah yang menyebabkannya kerap ditangkap dan dipenjarakan.

Di dalam tahanan Belanda yang berambisi ingin kembali berkuasa diIndonesia, Habib Salim tetap tabah, sabar, dan pantang menyerah. Niatnya bukan hanya sekadar amar ma’ruf nahi munkar, tapi menentang kebatilan dan kemungkaran. Baginya, penjajahan terhadap suatu bangsa adalah pemerkosaan terhadap hak asasi manusia.

Bersama dengan Habib Ali Alhabsyi (Kwitang) dan Habib Ali bin Husin Alatas, mereka dikenal sebagai tiga serangkai (triumvirat) dalam berdakwah. Kalau Habib Ali bin Husin Alatas lebih banyak diam dan Habib Ali Kwitang mengajak masyarakat saling mencintai; Habib Salim Bin Djindan dengan suara yang menggebu-gebu kadang mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggapnya berlawanan dengan ajaran Islam.

Seperti tahun 1960-an, ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan serangan-serangan anti-Islam, Habib Salim bin Djindan senantiasa berada di depan bersama ribuanmassauntuk menyerang kelompok kiri ini. Padahal, ketika itu, PKI merupakan partai yang sangat kuat dan ditakuti. Ia mengingatkan umat Islam akan bahaya besar bila komunis berkuasa di Indonesia.

Habib Salim terkenal sebagai ulama yang tegas dan keras, terutama dalam hal-hal kemaksiatan. Ia juga sering kali mengingatkan umat akan kerusakan moral. Kepada kaum wanita, Habib mengingatkan mereka agar memerhatikan cara berpakaian dan menutup aurat.

”Jagalah wanita-wanita kalian. Peringatkan anak-anak dan istrimu agar menjaga aurat mereka. Karena penyakit tabarruj (memamerkan aurat) bisa menyebar ke rumah-rumah kalian,” kata Habib Salim.

Dalam buku 12 Habaib Berpengaruh, Habib Salim berkata kepada keluarganya, ”Aku mengharapkan datangnya kematian. Karena aku menginginkan perjumpaan dengan orang-orang yang aku cintai. Mereka adalah para ulama dan salihin dan aku mengharapkan berkumpul bersama ajdad (para leluhurku) dan bersama datukku, Muhammad Rasulullah.”

Pada 16 Rabiul Awal 1389 H bertepatan 1 Juni 1969 M, singa podium itu wafat. Ribuan umat Islam dari berbagai pelosok Jabodetabek bertakziah ke kediamannya di Otista (Jalan Otto Iskandardinata). Umat Islam pun merasa kehilangan dengan kepergian sang ulama.

Dari kediamannya di Otista ke Qubah Pekaburan Al-Hawi, Condet, Cililitan, Jakarta Timur, jenazah digotong secara geranting. Di sepanjang jalan sekitar 4 kilometer, mereka membaca takbir dan tahlil. Peziarah yang memadati Jalan Condet Raya itu tidak dapat memasuki tempat pemakaman akibat penuhnyamassa.

Selepas kepergiannya, Habib Salim mewariskan majelis taklim dan ilmu pengetahuan melalui buku-buku yang tersimpan di dalam perpustakaannya. Di perpustakaan ini, tak kurang darilimaribu kitab, termasuk kitab-kitab dari mancanegara. Ini menunjukkan bahwa Habib Salim bin Djindan adalah seseorang yang haus akan ilmu.

Sepeninggal Habib Salim, dakwah dan perjuangan beliau dilanjutkan oleh kedua putranya, Habib Shahahuddin dan Habib Novel. Keduanya kini telah wafat. Habib Novel membuka majelis taklim di Larangan, Tangerang, dan kini diteruskan oleh kedua putranya Habib Djindan bin Novel dan adiknya Habib Muhammad.

Kedua kakak beradik alumnus Darul Mustafa, Tarim, Hadramaut, ini merupakan lulusan pertama dari pesantren yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar.

Siapa yang lebih mulia?

Habib Salim Djindan dikenal sebagai seorang ulama yang alim dan menguasai banyak ilmu. Hal ini tampak dari salah satu perbincangannya dengan seorang pendeta.

Pendeta: “Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?”

Habib: “Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab, yang mati sudah jadi bangkai.”

Pendeta: “Kalau begitu, Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa—menurut keyakinan Habib—belum mati dan masih hidup.”

Habib: “Kalau begitu, ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedangkan ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang.”

Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang.

Cerita mengenai perbincangan antara Habib Salim dan sang pendeta ini tersebar luas di tengah masyarakat. Sehingga, ketika itu, banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.

Redaktur: Chairul Akhmad

Reporter: Alwi Shahab/Nidia Zuraya

Sumberdi sini, di sinidi sinidi sini.

Keteladanan Pemimpin

Posted by admin - 8 November 2012 - Pemuda dan Masa Depan, Psikologi
0
Pemimpin

Kita mendambakan keteladanan para pemimpin, terutama dalam hal penegakan hukum dan keadilan. Tanpa keteladanan itu, perubahan dalam masyarakat sulit diwujudkan. Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan perlunya keteladanan tersebut.

Menurut Islam, seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Nabi Muhammad SAW berulang kali menegaskan bahwa beliau tidak akan melarang suatu perbuatan sebelum beliau sendiri yang pertama mematuhinya. Sebaliknya, beliau juga tidak akan menyuruh umatnya melakukan suatu kebajikan sebelum beliau sendiri melakukannya.

Dalam kaitan ini, ada kisah menarik yang patut disimak. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang raja dari sebuah negara kecil di Syam (Syria) yang baru masuk Islam. Namanya Jablah bin Aihmad Ghasani. Suatu saat, ketika ia tengah menunaikan ibadah haji, ujung jubahnya terinjak dengan tidak sengaja oleh seorang Arab miskin. Dalam amarahnya, Jablah menampar orang tersebut, tapi si miskin balik menamparnya.

Jablah lalu menemui Umar dan mendesaknya agar menghukum rakyat kecil itu. Namun, di luar dugaannya, sang Khalifah justru menyatakan bahwa Jablah telah menerima balasan dari perbuatannya.

Tentu saja, dia tidak bisa menerima pernyataan khalifah itu. “Kalaulah dia melakukan penghinaan ini di negeri saya, dia telah saya gantung,” ujarnya. “Itulah praktik di sini sebelum Islam,” jawab Khalifah Umar. “Tetapi, sekarang, orang miskin dan putra mahkota diperlakukan sama di hadapan Islam. Dalam menegakkan hukum, Islam tidak mengenal perbedaan antara yang miskin dan kaya,” tegas Umar.

Prinsip keadilan dan persamaan di hadapan hukum itu pula yang selalu ditekankan empat Khulafaur Rasyidin ketika memilih seorang gubernur. “Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan dan dalam diri Anda sendiri,” kata Khalifah Ali bin Abi Thalib kepada Malik Asytar ketika menunjuknya sebagai gubernur di Mesir. “Lindungilah hak-hak rakyat. Janganlah hanya karena segelintir orang, Anda mengorbankan kepentingan mereka,” tegas Khalifah Ali.

Dengan demikian, jelaslah bahwa keteladanan dan kewajiban menegakkan keadilan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Karena, ia merupakan amanah Allah dan sendi pokok dari kewibawaan pemerintah. Menurut pendapat sejumlah pakar hukum, apabila keadilan diabaikan, pasti itu akan menimbulkan reaksi, bukan saja dari mereka yang menjadi korban ketidakadilan itu, tapi juga dari masyarakat luas yang mendambakan terciptanya tatanan masyarakat ideal.

Oleh: Alwi Shahab

Sumber: di sini

Praseleksi Universitas Al-Ahgaff Yaman

Posted by admin - 1 November 2012 - Berita
0

PENGUMUMAN PENERIMAAN PELAJAR PUTRA/PUTRI

PROGRAM I’DAD T.A. 2012 – 2013 

Bersama ini dengan hormat disampaikan pengumuman penerimaan pelajar putra/putri baru untuk mengikuti program pendidikan persiapan di Indonesia bagi pelajar yang ingin memperkuat dasar-dasar Bahasa Arab dan Fiqih selanjutnya mengikuti Seleksi Universitas Al-Ahgaff Yaman.

Disyaratkan Calon pelajar putra/putri memiliki nilai rata-rata ijazah setingkat SLTA minimal 8,0 dan umur ijazah tidak lebih dari 2 (dua) tahun.

Pendaftaran dibuka sejak pengumuman ini diedarkan sampai pada tanggal : 15 November 2012, bagi yang diterima akan kami hubungi langsung.

 

Bagi yang berminat agar mengirim via email/POS/Jasa Titipan Kilat :

1. Riwayat hidup dan pendidikan berikut alamat dan no telpon/ HP yang bisa dihubungi.

2. Copy ijazah setingkat SLTA dengan rata-rata ijazah minimal 8,0 dan umur ijazah tidak lebih dari 2 (dua) tahun

KANTOR PUSAT UNIVERSITAS AL-AHGAFF DIINDONESIA

Jl. Jagasatru No. 56/193 Cirebon Jawa Barat 45115

CP : Ust. Fakhruddin Jamal,Lc : 087878955507, 081282175322, 085724072348

Email : ahgaff_indonesia@yahoo.com

 

Pengasuh,

TTD

Hb. Hasan Husen Aljufri

Posisi Ilmuwan

Posted by admin - 1 November 2012 - Sains dan Teknologi
2
Ilmuwan

Sebagian besar dari kita tentunya mengetahui bahwa seekor bebek dapat dengan mudah melewati tanah yang lunak ketimbang seekor ayam. Mengapa demikian? Secara fisika fenomena ini bisa dijelaskan melalui konsep tekanan yang didefinisikan sebagai berat dibagi dengan luas permukaan. Bebek memiliki luas permukaan kaki yang lebih besar dari kaki ayam sehingga tekanan yang diberikannya terhadap tanah lebih kecil.

Jika dianalogikan berat bebek atau ayam sebagai beban hidup yang kita alami sehari hari maka tekanan (baca: stres) yang menghinggapi kita dapat dikendalikan dengan memperluas sesuatu yang secara intrinsik ada dalam diri masing-masing, yaitu hati. Karena luas permukaan secara sederhana merupakan perkalian antara parameter panjang dan lebar maka keluasan hati di sini dapat kita pandang sebagai perkalian antara parameter sabar dan syukur.

Menarik untuk dicatat bahwa nasihat yang biasanya dijumpai dalam ajaran agama ternyata bisa pula kita ambil dari penganalogian fenomena alam di atas. Alam seolah ingin mengajarkan bahwa untuk mengurangi stres akibat beban hidup maka kita harus memperbanyak sabar dan syukur sebagai satu kesatuan yang mewakili keluasan hati.

Jelas hal ini sejalan dengan ajar an agama yang disampaikan, baik secara eks plisit maupun implisit oleh para nabi, bah wa sabar dan syukur adalah dua sifat yang mesti berdampingan untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Analogi di atas merupakan satu contoh dari sekian banyak indikasi keselarasan antara ajaran luhur agama yang tertulis dalam teks-teks suci dengan hikmah yang dapat diambil dari fenomena yang “tertulis” di alam sebagai tanda kauniyah kebesaran-Nya. Contoh sederhana lainnya adalah elektron di dalam atom yang hanya berpindah orbit lebih luar dengan menyerap foton cahaya sesuai yang telah ditentukan oleh hukum alam yang mengendalikannya, mengajarkan kepada kita untuk tidak berperilaku koruptif dengan mengambil sesuatu di luar yang telah ditetapkan.

Peran dan karakteristik

Menjelaskan fenomena alam seperti tekanan dan perpindahan elektron adalah ranah pekerjaan ilmuwan. Mereka sejatinya memiliki peran mencari gambaran yang komprehensif, sistematis, dan konsisten mengenai fenomena-fenomena alam. Penting untuk ditekankan bahwa peningkatan kualitas hidup manusia di semua aspek sebagian besar berasal dari kemampuan para ilmuwan dalam membaca fenomena alam dan menjadikannya bagian dari ilmu pengetahuan atau sains untuk kemudian diterapkan ke dalam teknologi.

Proses pencarian pengetahuan baru berbentuk riset ilmiah merupakan jalan yang sulit dan sering kali harus berlangsung dalam kesunyian tanpa gempita penghargaan.

Untuk melakukan riset dengan baik, seorang ilmuwan dituntut memiliki kecerdikan dalam “melihat” fenomena alam secara benar dan itu hanya dapat dicapai melalui kerja keras guna mendapat bekal pengalaman yang mencukupi.

Setelah memperoleh pengetahuan baru, seorang ilmuwan kemudian dituntut secara moral untuk menyebarkan apa yang diperolehnya kepada khalayak, khususnya ilmuwan serumpun. Tuntutan ini dimaksudkan agar pengetahuan baru tersebut dapat diestafetkan pengembangan dan pemanfaatannya oleh ilmuwan lain.

Penyebarluasan hasil riset lazim dilakukan dengan memublikasikannya. Dalam proses publikasi hasil riset tersebut mutlak diperlukan kejujuran pada penyampaiannya. Bahkan, apabila setelah paper dipublikasikan ternyata diketahui ada kesalahan yang tidak disengaja dan luput dari pemeriksaan rekan sejawat, maka secara etika sang ilmuwan diharuskan menerbitkan koreksi atau bahkan menarik paper-nya jika kesalahan yang ditemukan cukup fatal.

Uraian di atas jelas memperlihatkan adanya suatu kesebangunan karakter antara ilmuwan dan para nabi yang memiliki sifat-sifat cerdik, jujur, dapat dipercaya, dan menyebarkan kebenaran. Jika nabi dengan keempat karakteristik tersebut ditugaskan untuk menerima dan menyampaikan wahyu yang bersifat kauliyah maka ilmuwan pun memiliki kewajiban serupa, yakni mencari dan menyampaikan tanda kauniyah yang tersembunyi di alam raya. Lebih dari itu, seorang ilmuwan harus pula memiliki kemampuan tambahan dalam hal mendeteksi kesalahan yang dapat saja dilakukannya, baik ketika melaksanakan maupun menyampaikan hasil riset.

Ilmuwan dengan semua karakter tersebut dapat dipandang juga sebagai pewaris para nabi. Dalam pengertian, merekalah yang memang sejatinya dibebani tugas untuk melakukan pencarian ayat-ayat kauniyah serta melakukan pembuktian bahwa alam ini tidak diciptakan secara sia-sia, tetapi penuh kemanfaatan.

Konteks Indonesia

Melihat kondisi bangsa yang saat ini belum bisa dikatakan berada pada keadaan menggembirakan, tetapi di sisi lain telah terbukti memiliki sumber daya manusia yang tidak kalah kualitas dengan bangsa lain maka sudah sepatutnya ilmuwan yang dimaksud berada pada posisi yang unik dan strategis sebagai komponen utama bangsa. Mereka mempunyai tugas khusus melakukan riset yang berdampak pada terangkatnya harkat dan martabat bangsa.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, harus benar-benar dipahami bahwa tugas ilmuwan dalam pencarian ayat kauniyah kerap menghadapi berbagai macam tantangan keras yang harus dilewati. Oleh karena itu, dukungan yang memadai dalam segala bentuk dari seluruh pihak menjadi sangat diperlukan, termasuk sikap politik terhadap eksistensi mereka harus lebih dipertegas keberpihakannya. Ini dimaksudkan agar tercipta kondisi yang kondusif bagi ilmuwan dalam melaksanakan perjuangan mencari dan memberi yang terbaik.

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang jatuh pada tanggal 10 Agustus 2012 dan kali ini bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan 1433 H sudah selayaknya dijadikan sebagai momentum untuk semakin menguatkan semangat dalam mencetak ilmuwan ilmuwan andal pewaris para nabi. Semangat ini harus mampu memberikan.

Dr. Husin Alatas

Lektor Kepala & Kepala Bagian Fisika Teori pada Departemen Fisika, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.

*) Artikel ini pernah dimuat di koran harian REPUBLIKA, 30 Juli 2012

AWSOM Powered