Archive: Desember, 2012

Kontribusi Sayyid Utsman bin Yahya Dalam Bidang Dakwah dan Pengajaran Agama

Posted by admin - 27 Desember 2012 - Da'i dan Dakwah
0
Dr. Muhammad Noupal Shahab

Telaah Sejarah dan Pemikiran Sayyid Utsman 

Oleh : Dr. Muhammad Noupal, MA*)

Kontribusi Sayyid Utsman dalam bidang dakwah dan pengajaran agama dapat kita lihat dari dua sudut; biografi dan pemikiran. Arah sudut biografi adalah pemahaman akan sejarah hidup Sayyid Utsman, baik menyangkut kondisi masyarakatnya, perjalanan intelektual, karya tulis dan posisinya dalam sejarah Islam di Indonesia. Sedangkan arah yang ingin dicapai dari sudut pemikiran Sayyid Utsman adalah pemahaman akan tipologi pemikiran, baik dari aspek akidah, syariah dan tasawuf (akhlak). Sekalipun ada aspek lain dalam pemikirannya, tiga aspek ini disinyalir sangat dominan serta menjadi pola dakwah dan pengajaran agama yang dilakukan Sayyid Utsman.

Ada beberapa point penting yang perlu kita ketahui dari aspek biografi Sayyid Utsman. Pertama, Sayyid Utsman adalah mufti; bukan saja bagi penduduk Betawi tapi juga bagi hamper seluruh daerah Nusantara. Jabatan ini mengindikasikan bahwa kedudukan Sayyid Utsman secara struktur keagamaan memberikan tanggung jawab yang sangat besar dalam dakwah dan pengajaran agamanya. Kedua, Sayyid Utsman adalah penulis; yang karena itu dakwah dan pengajaran agamanya dilakukan dalam sebuah metodologi yang sangat baik. Sebagai penulis, apalagi dengan kualifikasi keilmuan yang bisa diakui, posisi Sayyid Utsman dalam mengembangkan dakwah dan pengajaran agama dapat dirasakan secara luas. Buku-bukunya tersebar bukan saja di Betawi, tapi juga di Madura, Kalimantan dan beberapa daerah Islam pada masanya. Kita bisa mengatakan bahwa buku-buku Sayyid Utsman, termasuk di dalamnya fatwa dan keputusan hokum, menjadi alat pengajaran yang sangat menyentuh lapisan masyarakat. Ketiga, posisi Sayyid Utsman sebagai penasehat pemerintah juga menjadi faktor yang cukup menentukan tercapainya dakwah dan pengajaran agama. Untuk kasus ini, kita hanya perlu memahami bahwa dakwah dan pengajaran agama yang dilakukan Sayyid Utsman bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, khususnya dari pemahaman-pemahaman yang keliru karena ketidaktahuan masyarakat terhadap inti suatu masalah.

Karya-karya Sayyid Utsman yang tersebar dalam beberapa bagian juga mengindikasikan betapa kontribusi tokoh ini dalam dakwah diIndonesiasangatlah besar. Ia menghasilkan tidak kurang dari 140 karangan; yang dari sini kita bisa melihat bahwa hampir sepanjang hidupnya ia sumbangkan untuk menulis dan melakukan dakwah agama. Tidak berlebihan ketika banyak para ahli melihat bahwa Sayyid Utsman adalah tokoh penting dalam sejarah IslamIndonesiapada abad 19 dan awal abad 20.

Dari sudut pemikiran, usaha Sayyid Utsman dalam dakwah dan pengajaran agama dapat kita buktikan dari tiga aspek; akidah, syariah dan tasawuf.

Pada aspek akidah, dakwah dan pengajaran agama dilakukan Sayyid Utsman dengan cara menjelaskan kepada masyarakat bahwa kewajiban mengenal Allah merupakan hal penting dalam pelaksanaan ibadah. Ia mengulang kembali pengajaran akidah yang dilakukan oleh para ulama sebelumnya dan menganggap penting persoalan ini. Bagi Sayyid Utsman, pengajaran akidah yang benar bertujuan mengenalkan kesucian Allah. Ia tidak mentolerir sedikitpun pengajaran akidah (ilmu kalam) yang keluar dari kerangka formal ulama-ulama salaf. Ia juga menganggap haram pengajaran akidah yang terlalu detail, apalagi jika dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki dasar pengetahuan agama yang memadai. Bukunya, Risalah Sifat Dua Puluh, dapat kita jadikan contoh bagaimana pengajaran akidah yang dilakukan Sayyid Utsman memiliki sifat yang praktis; tidak keluar dari kerangka ulama salaf. Ia mendukung pengajaran akidah sejauh masalah yang diajarkan itu menjadi kewajiban untuk diketahui orang Islam. Pengajaran akidah yang berlebihan kepada masyarakat hanya dapat menimbulkan perselisihan (al-jadl) yang tidak bermanfaat.

Pada aspek syariah, pengajaran Sayyid Usman lebih banyak diaplikasikan ke dalam persoalan-persoalan masyarakat (fiqh mu’amalah). Hal ini dapat kita lihat dari keseriusannya memberikan fatwa dan penjelasan atas setiap persoalan hukum yang datang kepadanya. Beberapa masalah yang disampaikan masyarakat antara lain berkisar kepada pernikahan, perceraian, persoalan harta waris, penetapan arah kiblat, awal bulan hijriyah dan sebagainya. Persoalan-persoalan tersebut merupakan bagian penting dari perkembangan hukum Islam di Indonesia, khususnya pada abad 19 dan awal abad 20. Persoalan itu juga merupakan cermin pergulatan hukum yang terjadi dalam masyarakat. Penggunaan buku-buku fiqh ibadah berbahasa Melayu, murah, tipis dan dijual bebas membuat pengajaran agama yang dilakukan Sayyid Utsman di masyarakat menemukan bentuknya yang praktis.

Sedangkan dalam aspek tasawuf, pertimbangan Sayyid Usman selalu didasari karena posisinya sebagai seorang ulama atau mufti, bukan sebagai penasehat pemerintah Belanda. Tidak ada kaitan apapun antara kecaman Sayyid Usman terhadap tarekat dengan ketakutan pemerintah Belanda terhadap perkembangan tarekat pada saat itu. Sebagai ulama yang berorientasi syariah, Sayyid Usman menolak keberadaan para pemeluk tarekat atau yang mengaku sebagai syekh sufi karena dianggap belum memiliki persyaratan yang ditetapkan oleh ulama. Ia juga mengecam praktek tarekat pada saat itu karena banyak mengandung unsur bid’ah  dan menyalahi aturan syariat.

Dari semua karya Sayyid Usman yang membahas tentang tarekat, tidak ada satupun yang membicarakan masalah maqam, ahwal, fana atau ma’rifat. Karya Sayyid Usman hanyalah berbicara tentang syarat-syarat saja, tanpa menyentuh isi dan substansi tarekat itu sendiri. Jadi di sini kita bisa mengatakan bahwa pengajaran Sayyid Usman dalam masalah ini lebih bersifat normatif, atau lebih tepat dikatakan cenderung syariah oriented. Bagi Sayyid Usman, tarekat yang baik adalah tarekat yang melandasi amal ibadah lahiriyahnya dengan berdasarkan kepada syariat dan melandasi amal batiniyahnya dengan membentuk sikap hati yang baik serta menghilangkan sifat hati yang kotor.

Kontribusi yang diberikan Sayyid Utsman, khususnya dalam dakwah dan pengajaran agama di Nusantara, yang bisa kita buktikan dari serangkaian karya tulis dan pemikirannya, seharusnya tidak tertutup hanya karena keterlibatannya sebagai penasehat Snouck Hurgronje. Silang pendapat dan kritik yang dialamatkan banyak penulis kepada tokoh habaib yang besar ini, seharusnya tidak menutup usaha kita untuk terus menggali dan mengemukakan kontribusinya dalam sejarah Islam di Indonesia pada abad 19 dan awal abad 20. Insya Allah…

*) Disampaikan pada Seminar Sejarah Dakwah dan Pendidikan Islam pada 22 Desember 2012 di Gedung Rabithah Alawiyah Lt. 4

Semua Hidup Dalam Satu Bahtera

Posted by admin - 18 Desember 2012 - Da'i dan Dakwah
1
Habib Umar bin Hafiz

WAWANCARA HABIB UMAR BIN HAFIZH DENGAN MAJALAH GATRA

Konflik antar-aliran dalam Islam timbul karena pemahaman yang dangkal terhadap agama. Ulama sering membungkus kepentingan duniawi dengan dalih agama. Muslim Indonesia mempunyai budaya hidup rukun.

Sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia menjadi aset Islam yang tak ternilai. Akan tetapi sejarah keberagaman di Indonesia sering dicoreng tindak kekerasan berdalih agama. Hal ini menjadi perhatian Habib Umar bin Hafizh, ulama pluralis dari Tarim, Yaman. Ulama kelahiran Tarim, Yaman, 27 Mei 1963, ini adalah pendiri sekolah Daar al-Mustafa yang oleh koran The New York Times digambarkan sebagai tempat multikultrural yang disesaki pelajar dari Indonesia hingga California.

Dengan visi kemajemukannya, ulama penghapal Al-Quran ini memberikan banyak ceramah di berbagai pusat kebudayaan dan pendidikan Islam, termasuk beberapa universitas di Inggris, Amerika Serikat dan Kanada.

Oleh Center for Muslims-Christian Understanding, Georgetown University, Amerika Serikat, putra mufti kota Tarim, Habib Muhammad bin Salim, itu dimasukkan di antara 50 nama dalam “The World’s 500 Most Influential Muslims 2009.

Salah satu aksi penting yang dilakukan sebelumnya adalah penandatanganan Risalah Amman (2005) dan A Common Word atau Kalimatun Sawa (2007). Pakta pertama adalah pengakuan adanya beberapa mazhab dalam Islam dan yang kedua adalah surat terbuka para ulama kepada pemimpin Kristen yang kemudian direspons positif sebagai inisiatif dialog antar-iman yang cukup berpengaruh.

Pekan ini, ia melakukan lawatan ke Indonesia. Di antara agendanya adalah memberikan ceramah di Universitas Paramadia, Monumen Nasional, dan di kawasan Puncak, Bogor. Senin lalu, Umar bin Hafizh berkesempatan menerima Edmiraldo Siregar dan Dharma Wijayanto (pewarta foto) dari GATRA. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda melihat umat Islam di Indonesia?

Orang Indonesia punya dasar yang baik untuk bisa hidup bersama dengan keberagaman. Kalau ada sedikit konflik atau perseteruan, tentunya pengaruh dari apa yang datang setelahnya. Namun pada intinya, potensi untuk toleransi yang baik itu ada di Indonesia. Cukup dengan berusaha sedikit saja, insya Allah akan terwujud toleransi seperti yang kita harapkan.

Sampai sekarang masih terjadi sikap intoleransi, mengapa?

Perbedaaan mazhab-mazhab dalam Islam bukanlah hal yang sifatnya prinsipil. Itu hanya “ranting dan cabangnya” agama. Sebaiknya itu bisa dipahami dengan baik agar tidak akan ada masalah. Yang jadi masalah, ketika seseorang dikuasai fanatisme berlebih pada mazhabnya, maka perilakunya saling menyakiti.

Terkait dengan konflik bertema agama, apa saran anda?

Semestinya kita semua saling menghormati. Intinya, mazhab yang sudah dianut lebih dahulu oleh masyarakat Indonesia harus menunjukkan penghormatan pada mazhab baru. Tetapi mazhab yang masuk setelahnya harus mampu menunjukkan penghormatan yang lebih besar.

Apa faktor yang menjadi pendukungnya?

Ini menjadi fenomena pribadi mereka (ulama) masing-masing yang pemahaman agama Islamnya mungkin kurang benar. Mengkafirkan seseorang itu tidak diperbolehkan, kecuali pada kenyataannya orang itu memang kafir. Atau bisa jadi mereka melakukan hal tersebut karena faktor-faktor duniawi dengan mencari pembenaran atas nama agama.

Di negara Islam lain apakah konflik mazhab masih menjadi masalah?

Pada masa lalu sebenarnya tidak ada. Di setiap negara terdapat dua mazhab berbeda, bahkan bisa lebih, namun hidupnya stabil tanpa ada masalah. Tetapi perkembangannya, apa yang saya istilahkan sebagai misionaris mazhab mulai mengorek-ngorek dan tentunya bisa merangsang terjadinya konflik.

Saran untuk muslim di Indonesia?

Semua mazhab yang ada jangan sampai saling mengganggu dan mencela. Kita mengarahkan kalau di satu daerah telah bermukim sebuah mazhab mayoritas, maka agar mazhab lain tidak masuk ke sana karena bisa menimbulkan gesekan-gesakan. Di dalam Islam itu dianjurkan untuk berbuat dan berhubungan baik dengan setiap orang termasuk mereka yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Tapi kalau di satu tempat ada agama tertentu yang jadi mayoritas maka harus diperhatikan perasaan umatnya. Kalau tidak bisa saja menyinggung perasaan yang mayoritas.

Adakah negara Islam yang bisa menjadi model toleransi umat?

Saya tidak bisa sebut contoh negaranya. Namun pada intinya jika pendidikan agama tersebar dengan baik maka tentunya akan terjadi apa yang disebut toleransi.

Bagaimana menyikapi potensi konflik antar-iman yang ada?

Hal fundamental dalam Islam menyebutkan tidak ada paksaan bagi siapapun untuk masuk Islam. Makanya, yang terpenting adalag bagaimana menyampaikan hakikat Islam untuk semua manusia. Seorang Paulus di Mesir menyebut, tidak ada kemerdekaan yang hakiki bagi agamanya sampai datangnya ajaran Islam.

Menurut Anda bagaimana Islam di Indonesia?

Saya rasa Islam di Indonesia punya rasa cinta tinggi pada nabi. Hubungan emosional yang erat dengan Rasulullah pun bisa ditingkatkan dengan pembelajaran ilmu akhlak yang lebih dalam. Selain itu, peningkatan pemahaman pada norma-norma juga perlu ditingkatkan agar hubungan muslim dengan yang bukan muslim di Indonesia bisa semakin lebih baik.

Umat Islam seharusnya menumbuhkan gambaran bahwa kita tinggal di satu bahtera bersama umat beragama lain. Seperti dalam satu perahu, ketika satu orang melubanginya dengan alasan apapun, tentunya akan membahayakan bagi semua orang di dalam perahu. Jadi silakan berbuat apapun, asalkan jangan lubangi perahunya.

Sumber: Majalah Gatra Edisi 05/XIX/06-12 Desember 2012 hlm. 80

Kekerasan Hanya Membawa Mudarat

Posted by admin - 13 Desember 2012 - Da'i dan Dakwah
2
Habib Umar bin Hafiz

WAWANCARA HABIB UMAR BIN HAFIZ

DENGAN MAJALAH TEMPO

Dalam pemberitaan media Barat, Hadramaut lebih sering disebut sebagai tanah leluhur Usamah bin Ladin, sosok yang dicap sebagai teroris nomor satu dunia. Hadramaut memang tempat kelahiran ayah Usamah, sebelum ia merantau ke Arab Saudi. Kawasan tandus yang meliputi sepertiga Yaman itu kerap disebut tempat lahirnya ideologi Al-Qaidah, organisasi bentukan Usamah.

Jauh dari paham-paham radikal, apalagi terorisme, Hadramaut justru kental dengan tradisi sufi, yang lebih mengutamakan kedekatan kepada Sang Khalik. Tarim, salah satukotadi Hadramaut, merupakankotapendidikan, dengan sejumlah pesantren sufi – yang terkenal adalah Darul Mustafa. Di sinilah sejumlah santri dariIndonesiamenimba ilmu.

Tentang negerinya yang diasosiasikan dengan Al-Qaidah, Habib Umar bin Hafiz menegaskan bahwa Usamah, yang lahir di Arab Saudi, tak pernah berdiam di Yaman. “Pemikirannya tak ada hubungannya dengan tempat kami,” ujarnya, seperti dikutip The New York Times. Walaupun beberapa tahun lalu Al-Qaidah membangun basis di Yaman dan melancarkan sejumlah teror.

Umar adalah pendiri sekaligus mahaguru di Darul Mustafa. Ia terkenal dengan seruan Islam sebagai agama yang membawa damai. Ia rajin melakukan safari, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, untuk membawa pesan damai itu. Aktivitas dan pengaruh umar – termasuk diIndonesia– membuat namanya masuk 500 tokoh Islam berpengaruh yang dirilis Universitas Georgetown, Amerika Serikat.

Ia termasuk penanda tangan suratterbuka “A Common Word Between Us and You”, yang ditujukan kepada Paus di Roma. Ini adalah inisiatif dialog damai yang kemudia ditindaklanjuti dengan berbagai pertemuan antarpemimpin kedua agama. Ia juga ikut meneken Risalah Amman di Yordania, yang isinya imbauan bagi umat Islam untuk tidak mengkafirkan aliran tertentu.

Rabu pekan lalu, Umar bin Hafiz bertolak ke Yaman setelah kunjungan sepekan diIndonesia. Jadwalnya yang padat serta kemacetan Ibu Kota membuat Tempo menunggu dua jam di Bandara Soekarno – Hatta, untuk sebuah wawancara.

Ketika mobil Alphard yang membawanya merapat di depan bandara, pengawalnya membuka pintu dan mempersilakan Tempo masuk dan duduk di samping Umar. Di depan kami duduk Jindan bin Novel, salah satu muridnya, yang menjadi penerjemah. Jendela mobil yang terbuka membuat para pengantarnya berebut menengok, beberapa menyorongkan telepon selular untuk merekam tanya-jawab.

Apa tujuan kedatangan Anda ke Indonesia?

Ini adalah kunjungan untuk memenuhi undangan dari murid-murid saya di sini. Selain itu untuk bertemu dengan para ulama di Majelis Al-Muwasalah Baynal Ulama Almuslimin (forum komunikasi ulama yang ia bentuk).

Selain mengunjungi Indonesia dan negara Asia lainnya, Anda melakukan perjalanan ke Eropa dan Amerika serta menyampaikan kuliah umum di kampus-kampus. Apa yang Anda sampaikan?

Saya membawa pesan damai Islam dalam setiap perjalanan ke luar negeri. Bahwa Islam adalah agama yang jauh dari kekerasan.

Apa yang mendorong Anda melakukan hal tersebut?

Sebenarnya ini adalah kewajiban setiap orang, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran bahwa “telah datan kepada kalian kitab dan rasul dengan cahaya yang terang benderang dan dengan itulah Allah menunjukkan jalan-jalan yang membawa kedamaian.”

Apakah itu yang juga menjadi dasar Anda menandatangi “A Common Word between Us and You?

Ya. Apabila seorang muslim mempraktekkan petunjuk Allah, itu akan memberi manfaat yang lebih besar, tidak hanya untuk muslim, tapi juga kepada orang non-muslim. Umat Islam semestinya  bisa hidup berdampingan dan bermasyarakat dengan penganut agama lain. 

Tapi kenyataannya justru konflik antaragama terus terjadi. Dalam sejumlah kasus, sekelompok orang Islam berperan memicu konflik.

Itu karena ada banyak hakikat dari ajaran Allah yang absen dari pemikiran kaum muslim. Mereka tidak mendapat arahan yang tepat sehingga mereka lalai dari petunjuk – keutamaan damai – tersebut. Sebagian kurang mempraktekannya. Padahal jalan damai ini adalah jalan menuju kebaikan bagi seluruh uamt manusia, yang juga akan membawa kebaikan pada apa yang ada di sekeliling manusia, seperti lingkungan, benda, dan hewan.

Apa komentar Anda tentang anggapan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan terorisme?

Anggapan itu hanyalah prasangka.

Bisa anda jelaskan lebih jauh?

Tuduhan tersebut mengemuka karena segelintir umat Islam yang tindakannya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Apa ajaran itu?

Adacontoh bagaimana Umar bin Khattab memegang teguh prinsip yang diajarkan Rasulullah. Ketika ia menjadi khalifah dan mengangkat Amr bin Ash sebagai Gubernur Mesir, Umar berpesan supaya Amr memerintah dengan adil dan menghargai hak-hak warga walau berbeda agama.

Sebutan habib yang melekat di depan namanya merupakan pertanda ulama ini memiliki “darah biru” Islam. Bila dirunut, silsilahnya mengerucut ke Fathimah, putri Nabi Muhammad. Tradisi penghormatan terhadap keturunan Nabi, plus reputasi keilmuan yang dimiliki Umar, membuat namanya masyhur di sejumlah negara, termasukIndonesia.

Saat in sekitar 400 santriIndonesiaberguru di Darul Mustafa. Beberapa habib yang memiliki banyak pengikut di Tanah Air, seperrti Munzir al-Musawa dan Jindan bin Novel, pernah berguru ke Umar. Mereka kerap menggelar zikir yang dihadiri puluhan ribu orang. Tak pelak, kedatangan Umar keIndonesiadisambut gegap gempita oleh para pengikut habib tersebut.

Senin pekan lalu, Umar memberikan kuliah umum di Universitas Paramadina, Jakarta. Kampus yang dipimpin Anies Baswedan itu langsung dipenuhi orang berjubah dan berkopiah putih. Mereka pengikut habib yang ingin mengikuti kuliah. Mobil yang membawa Umar datang dengan pengawalan voor rijder dan diiringi mobil para pengikutnya.

Di hadapan mahasiswa dan pengikutnya, selain  menekankan pentingnya ibadah dan zikir, Umar kembali menegaskan bahwa umat Islam harus menjadi pionir perdamaian. Di akhir kuliah, ia menyampaikan kesannya tentang umat IslamIndonesiayang cinta damai, lembut dan memiliki etika.

Entah sebuah pujian atau sentilan. Faktanya, konflik antarumat beraama atau aliran kerap terjadi. Pembakaran rumah warga Syiah di Madura dan penyerangan terhadap pengikut Ahmadiyah hanya segelintir dari aneka kekerasan yang mencoreng kerukunan beragama di negeri ini. Bagi Umar, tindak kekerasan terhadap aliran atau agama lain justru mendatangkan mudarat bagi pelakunya.

Bagaimana Anda memandang konflik antaraliran dalam Islam.

Ini terjadi karena hawa nafsu seseorang sudah terlalu dominan, sehingga mengalahkan aturan yang diajarkan oleh Allah. Bagi orang-orang tersebut, pendapat pribadi dan pemahaman mereka atas sesuatu dianggap seperti wahyu dari Allah, sehingga mereka merasa benar. Padahal itu hanyalah pendapat dan pemahaman pribadi yang belum tentu tetap seperti yang diinginkan Allah.

Di Indonesia, sebagai contoh, ada kelompok yang dikafirkan, lalu mendapat perlakuan kekerasan.

Tidak boleh sekalipun menyakiti muslimin lain dengan cara apa pun, terutama dengan mengeluarkan muslim tersebut dari Islam atau memvonis kafir. Ini merupakan dosa yang sangat besar, sebagai ilustrasi, Rasul bahkan emlarabng orang yang mulutnya bau karena makan bawang putih untuk datang ke masjid karena bau mulut mengganggu orang lain, dan itu tidak baik. Apatah lagi jika mulut itu menyakiti dengan mencap kafir.

Tapi sepertinya mudah sekali sekelompok aliran menyatakan aliran lain kafir.

Dalam perkataan Nabi yang diriyatakan oleh Bukhaei disebutkan, apabila seseorang menuduh muslim lain kafir padahal dia adalah seorang muslim, kekefuran itu akan kembali kepada si penuduh. Si penuduhlah yang sebenarnya kafir.

Kenyataan ini membuat orang antipati dan menjauhi Islam, padahal Anda selalu mengkampanyekan Islam sebagai agama yang damai, teduh, dan jauh dari kekerasan.

Ya, padahal Nabi Muhammad melarang tindakan yang membuat orang mundur dan menjauh dari Islam dan umatnya. Banyak contoh sederhana yang beliau berikan terkait dengan hal tersebut. 

Bisa Anda sebutkan salah satunya?

Misalnya ketika kita menjadi imam salat lalu kita memperpanjang bacaan atau salat sehingga orang enggan ikut shalat berjamaah bersama kita. Rasul melarang hal-hal seperti ini, maka bagaimana dengan cacian, tindak kekerasan, dan tuduhan kafir? Dalam hadis shahih disebutkan bahwa mencaci seorang muslim adalah kefasikan (tidak perduli terhadap perintah Allah) dan memerangi seorang muslim adalah kekufuran (ingkar kepada Allah dan Rasul). 

Apa solusi untuk mencegah terjadinya konflik antaraliran tersebut?

Hendaknya mereka semua menyadari bahwa penilaian buruk dan perlakuan buruk terhadap kelompok yang mereka anggap berbeda paham itu sama sekali tidak membantu. Tindakan tersebut justru membawa kerugian besar. 

Pesan Anda buat mereka yang kerap melakukan kekerasan terhadap kelompok aliran yang berbeda.

Pada hari kiamat nanti Allah tidak akan menanyakan seseorang tentang dosa orang lain, tapi tentang dosa dan kesalahan dia sendiri. Apa yang kita lakukan di dunia, itulah yang akan kita pertanggungjawabkan kelak.

(Adek Media Roza)

Sumber: Majalah Tempo Edisi 10 – 16 Desember 2012 hlm. 178

Ikhlas, Riya, Ujub

Posted by admin - 11 Desember 2012 - Aqidah
3

Ikhlas

Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-ku,” (QS. al-Dzariyat: 56). Firman-Nya yang lain berbunyi, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja,” (QS al- Ankabut: 56).

Wahai orang-orang mukmin, semoga Allah memberi pertolongan kepadamu. Hendaknya kamu menyempatkan ibadah kepada Tuhanmu dengan memutus perkara yang dapat memutuskannya dari hal-hal yang dapat memutuskan orang mukmin, dan palingkanlah perkara yang dapat memalingkannya dari hal-hal yang dapat memalingkan orang mukmin.

Ketahuilah, bahwa ibadah itu tidak sah kecuali dengan ilmu. Ilmu dan ibadah itu tidak bisa saling memberi manfaat, kecuali bersama dengan ikhlas. Oleh karena itu hendaknya kamu ikhlas, karena ikhlas itu menjadi sumber dan asal yang dapat dibuat pegangan. Pengertian ikhlas sebagaimana dikatakan Abu al-Qasim al-Qusyairi rahimahullah adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dari ketaatanmu. Artinya kamu bermaksud mendekat kepada Allah tanpa sesuatu yang lain. Misalnya beramal untuk makhluk, melakukan pujian di hadapan orang lain, atau suka dipuji oleh makhluk atau yang sejenisnya, atau perbuatan lainnya yang dilakukan bukan karena Allah.

Abu al-Qasim berkata, ikhlas bisa diartikan, membersihkan perbuatan dari keinginan untuk diperhatikan makhuk.

Riya’

Takutlah kepada riya, karena riya itu bisa menghapus amal dan bisa membatalkan pahala dan bisa mendatangkan benci serta siksa dari Allah. Riya disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai syirik kecil. Disebutkan dalama hadits shahih dari Rasulullah SAW “Makhluk Allah yang masuk neraka itu ada tiga kelompok: Pertama, orang yang membaca al-Quran yang bermaksud supaya dikatakan bahwa dia orang yang membaca Alquran. Kedua, orang yang dibunuh syahid sedang dia tidak berperang kecuali supaya dikatakan bahwa dia orang yang berani. Ketiga, orang yang mempunyai harta lalu menyedekahkannya dengan maksud supaya dikatakan bahwa ia orang yang dermawan. Hadits ini diringkas maknanya.

Riya itu ibarat mencari kedudukan dihadapan manusia dengan amal dan sejenisnya yang dapat mendekatkan kepada Allah, seperti shalat dan puasa. Oleh karena itu apabila dalam dirimu terasa ada sifat riya, maka janganlah mencari keselamatan dengan meninggalkan amal.

Kadang-kadang kamu menjadi rela oleh ajakan setan. Bahkan kamu berangan-angan, setiap amal kamu tidak akan mampu mengamalkannya kecuali manusia melihat kamu, seperti haji, jihad, menuntut ilmu dan shalat berjamaah. Dalam hal amal-amal tersebut, maka hendaknya kamu mengerjakan dalam lahirnya saja. Allah memerintahkan kita untuk memerangi hawa nafsu kita dan meminta pertolongan kepada Allah. Sedang amal-amal yang tidak termasuk kumpulan ini, seperti puasa, shalat malam, sedekah dan membaca al-Quran, maka hendaknya kamu harus menyembunyikannya (tidak dipamerkan pada orang lain), karena mengerjakannya dalam keadaan samar itu mutlak lebih utama. Kecuali bagi orang-orang yang tidak riya dan orang yang patut diikuti sedang orang tersebut termasuk keluarganya.

Ujub

Takutlah kepada ujub, karena ujub itu termasuk amal yang dapat menghapus pahala. Rasulullah SAW bersabda, “Ujub itu bisa makan amal-amal baik sebagaimana api makan kayu bakar.” Di dalam hadits yang lain disebutkan, “Adatiga perkara yang dapat merusak; kikir yang diikuti, keinginan yang diikuti dan mengagumkannya seseorang dengan dirinya.”

Ujub itu ibarat melihatnya manusia kepada dirinya sendiri dengan perasaan besar, dan kepada sesuatu yang keluar dari padanya dengan perasaan baik, darinya pula dapat menumbuhkan alasan-alasan untuk beramal dan sombong kepada manusia serta tunduk terhadap nafsu.

Ujub sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Atha’ rahimahullah merupakan sumber dari setiap kemaksiatan, kelalaian, keinginan dan ketundukan terhadap nafsu. Barang siapa yang rela terhadap nafsunya, maka ia tidak akan pernah tahu cacat atau kekurangan yang ada pada dirinya. Kalau sudah demikian, kapan akan berbahagia orang yang tidak tahu akan cacat yang ada pada dirinya?

Setiap ketundukan (baca: pada nafsu) akan melahirkan ketumpulan. Sementara pandangan benci akan dapat menampakkan perkara yang buruk.

Sumber: Alhaddad, Sayid Abdullah. Jalan Para Nabi Menuju Surga. Jakarta: Penerbit Hikmah, 2003.

Menguasai Ucapan dan Perkataan

Posted by admin - 10 Desember 2012 - Aqidah, Da'i dan Dakwah
1
Habib Ali Aljufri

Adakalanya engkau menjadi bagian dari orang yang hatinya berjalan di belakang lisannya. Dalam kondisi ini, engkau akan mengatakan segala sesuatu dan dengan bagaimanapun cara engkau mengatakannya, atau ucap asal bunyi… Dan orang semacam ini akan berangkat menuju keterjauhan dari sisi jalan menuju Allah dan mengarah kepada kerugian.

Apakah engkau tergolong bagian dari orang-orang yang apabila disebutkan sesuatu ia harus nimbrung dalam pembicaraan itu, baik itu memiliki faidah ataupun tidak. Atau bila muncul satu perbincangan, ia senang untuk ikut di dalamnya, baik perbincangan itu setelahnya ada faidahnya ataupun perbincangan yang mati.

Tahukah engkau, apakah perbincangan mati itu? Yakni perbincangan yang tidak mendatangkan faidak dan manfaat apapun.

“Tahun ’90-an siapa yang meraih piala ini?”

“Fulan yang meraihnya. Dan Fulan terus yang menang.”

“Kira-kira siapa nanti yang bisa mengalahkannya?”

Tanpa terasa setengah jam hilang begitu saja.

“Mobil terbaru ini itu buatan Inggris atau Amerika?”

“Mobil ini sangat anggun dan mewah. Tidak ada mobil lain lebih mewah darinya!”

Padahal, di akhir waktu, tidaklah yang mengajak berbincang-bincang dan tidak pula lawan bicaranya membeli mobil yang sedari tadi diperbincangkan sepanjang waktu yang dihabiskan.

Andai saja perbincangan itu didasari adanya niatan untuk membeli mobil yang diinginkan, misalnya, dan engkau hendak mencari yang paling baik atau yang lebih kuat, tentu di dalamnya terdapat faidah dan manfaat.

Akan tetapi, perbincangan itu tidak lain hanyalah perbincangan yang panjang lebar dan perdebatan yang tanpa arah. Di saat itu engkau telah kehilangan banyak waktu. Inilah yang para ulama katakan dengan pembicaraan mati (al-kalam al-mayyit). Maknanya, pembicaraan yang tidak memiliki manfaat dan tidak pula dilandasi satu kehendak  tertentu terhadap sesuatu yang diinginkan.

Seseorang datang kepada seorang guru dan ia berkata kepada guru itu, “Wahai Syaikh. Apa warna bulu domba yang Allah jadikan sebagai tebusan bagi Nabi Ismail?”

Warna bulu domba tebusan Nabi Ismail?! Manfaat apa gerangan yang dapat diambil dari pengetahuan semacam ini? Apakah engkau akan memberi cat kepada dombamu dengan warna domba itu, misalkan engkau mengetahui? Lalu buat apa semua itu?

Wahai murid, jangan pernah engkau rela untuk masuk ke dalam suatu perbincangan atau ke dalam suatu pembicaraan yang engkau tidak memiliki kehendak terhadap sesuatu dalam perkaraan yang engkau perbincangkan itu, dan jangan pernah engkau rela untuk masuk ke dalam suatu perbincangan atau ke dalam satu pembicaraan yang di dalamnya tidak terdapat manfaat atau faidah atau pelajaran yang engkau ingin dapatkan dari seseorang.

Itulah sebabnya, bila engkau hendak berbicara, baik tujuanmu itu mengajar atau belajar, sampaikanlah faidak itu atau gapailah ia. Adapun pembicaraan yang di dalamnya engkau tidak mengajarkan dan tidak pula mengambil pelajaran, atau engkau tidak memberikan manafaat dan tidak pula mengambil manafaat, sungguh yang demikian itu tidaklah layak sama sekali bagi seorang salik peniti jalan menuju Allah SWT. Seorang salik tidak memiliki pembicaraan yang tidak berguna dan tidak pula mengandung manfaat (fudhulul kalam). Subhanallah..

Setiap kali seseorang bertambah derajatnya, semakin sedikit pula perkataannya. Dan setiap kali perkataan seseorang semakin sedikit tapi menghimpun makna, semakin sedikit pula orang-orang yang mengajak bicara dengannya, yang bila hendak menyampaikan satu makna dalam satu bagian tema tertentu  membutuhkan setengah jam atau lebih.

Perhatikanlah! Rasullah SAW, apabila teman bicaranya meminta beliau untuk mengulangi ucapannya, niscaya beliau mengulanginya lagi.

Coba engkau renungkan! Hal penting apa yang terdapat dalam perilaku Rasullah SAW seperti itu.

Rasullah SAW adalah seorang pendidik. Dan seorang yang diutus sebagai pendidik, dai, dan penunjuk jalan hidayah, memiliki sifat, sebagaimana para ulama uraikan dalam berbagai kitab tentang kepribadian beliau SAW, apabila teman bicaranya meminta beliau untuk mengulangi lagi ungkapan yang telah beliau tuturkan dalam majelisnya, niscaya beliau mampu untuk mengulanginya lagi. Setelah itu keluarlah dari kalimat-kalimat yang beliau ulang tadi pengulangan-pengulangan yang darinya lahir ilmu-ilmu agung di tengah-tengah umat menjadi berbagai cabang ilmu-ilmu syari’at. Dan darisanalahir para dai dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generai-generasi setelah mereka.

Cobalah muthalaah kita Bukhari-Muslim atau ambillah kitab Riyadh ash-shalihin, dan bacalah. Niscaya engkau akan mendapati, kebanyakan hadits di dalamnya tidak lebih dari dua, tiga atau empat baris.

Apa makna dari ungkapan ini?

Parasahabat mereka adalah para ahli penghapal dan pencatat. Akan tetapi jarang sekali engkau temukan hadits dalam dua lembar atau satu lembar setengah. Bahkan sampai sebagian para huffazh merasa bingung disaat menyebutkan hadits-hadits yang panjang, apakah mesti didhaifkan (dinilai sebagai hadits lemah) atau dishahihkan (dinilai sebagai hadits shahih). Dan sebagian lagi menjadikan sebagian hadits yang panjang dinilai memiliki illat (perkara yang dapat mempengaruhi keshahihan suatu hadits) di saat mereka memberikan penilaian (naqd) terhadap matan hadits tersebut.

Makna penjelasan ini adalah bahwa Rasulullah SAW memberikan pengajaran kepada para sahabat untuk senantiasa memposisikan lidah mereka di belakang hati mereka dan engkau tidak akan mungkin menjadi kecuali satu di antara dua, dan tidak ada ketiganya.

Adakalanya engkau menjadi bagian dari orang yang hatinya berjalan di belakang lisannya. Dalam kondisi ini, engkau akan mengatakan segala sesuatu dan dengan bagaimanapun cara engkau mengatakannya, atau ucapan asal bunyi. Orang yang berbicara semacam ini akan berkata-kata semaunya tanpa ada rem sedikitpun terhadap lisannya. Umumnya, hatinya akan mengekor di belakang lisannya. Dan orang semacam ini akan berangkat menuju keterjauhan dari sisi jalan menuju Allah dan mengarah kepada kerugian.

Atau, adakalanya engkau menjadi bagian dari orang yang memposisikan lisannya di belakang hatinya, orang semacam ini akan senantiasa dituntun oleh hatinya untuk menuju ketinggian derajat di hadapan Allah SWT dan demikian pula dengan lisannya. Keadaan orang seperti ini adalah orang yang senantiasa menimbang-nimbang kalimat sebelum mengucapkannya dan dia pun mengetahui mengapa harus mengucapkannya.

Paraulama menjelaskan bahwa, di antara kejadian-kejadian yang dialami oleh Nabi SAW pada malam Isra dan Mi’raj adalah beliau SAW melihat ada segumpal asap tebal yang keluar dari lubang yang kecil kemudia asap itu mencoba untuk kembali ke dalam lubang itu namun tak lagi dapat kenbali. Nabi SAW pun menanyakan hal itu dan dijawab oleh pemiliknya lalu ia menyesali telah mengucapkannya dan berharap kalau saja ucapan itu dapat ditarik kembali dan ia tidak mengucapkannya. Namun ia sudah tidak dapat lagi menariknya.

Oleh: Habib Ali AlJufri

Sumber: Majalah alKisah No. 25/Tahun X/10 – 23 Desember 2012 hlm. 92 – 95

Memuliakan Perempuan

Posted by admin - 6 Desember 2012 - Aqidah, Tak Berkategori
5
Muslimah

Potret kehormatan tertinggi terhadap perempuan tumbuh setelah diutusnya Rasulullah SAW.

Jauh sebelum itu, zaman yang kita kenal sebagai zaman Arab Jahiliyah, menganggap bahwa perempuan tidak lebih dari makhluk yang dapat diperjualbelikan, dicerai kapan saja suaminya menginginkan, tidak mendapat warisan dan bahkan hanya sebagai makhluk yang berkewajiban melayani nafsu lelaki hidung belang hingga terpuaskan.

Kondisi mengenaskan juga terjadi pada wanita sejak zaman Yunani kuno di mana perempuan hanya dipandang sebagai fasilitas kenikmatan seksual.

Juga pada peradaban Romawi, perempuan dapat diperjualbelikan. Sedangkan peradaban India menganggap bahwa perempuan adalah makhluk najis karena mereka tidak berhak hidup jika suaminya meninggal dunia.

Dari keempat peradaban tentang wanita tersebut di atas, perspektif teologi pun turut memberikan sumbangsihnya dalam memandang perempuan. Sekiranya terdapat empat faktor yang berpotensi menjadi sebab penting dalam memengaruhi pembentukan anggapan stereotip terhadap perempuan.

Pertama, anggapan bahwa perempuan tercipta sebagai pelengkap Adam. Kedua, tempat di mana manusia diciptakan (surga) telah melahirkan pelbagai mitos yang merendahkan perempuan.

Ketiga, anggapan perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki menjadikan posisi wanita lebih rendah dari laki-laki. Keempat, anggapan bahwa godaan perempuanlah yang menyebabkan Adam dan Hawa terusir dari surga.

Beragam kondisi dan anggapan yang dinilai kurang relevan karena seolah merendahkan martabat perempuan terhapuskan kala Rasulullah SAW diutus dan menganjurkan kaum lelaki untuk memuliakan para wanita—bahkan, salah satu surah Alquran dinamai An-Nisaa (para wanita) karena memuat beberapa syariat Allah dan keterkaitan hukum.

An-Nisa sendiri dibuka tentang penciptaan laki-laki dan perempuan (An-Nisa: 1), pemeliharaan harta anak yatim dan isyarat monogami demi kemaslahatan perempuan (An-Nisa: 2-3), pemberian mahar untuk perempuan (An-Nisa: 4), dan keseimbangan hak waris untuk lelaki juga perempuan (An-Nisa: 7).

Juga tentang hak istri untuk mendapatkan teguran dari suami jika ia nusyuz (An-Nisa: 34), kekhawatiran nusyuz dan hak wanita untuk mengadakan perdamaian dengan suaminya dan larangan agar suami tidak mencari kesalahan istri (An-Nisa: 128), serta kewaspadaan bagi kaum lelaki dalam mengambil keputusan berpoligami, sebab penegasan Allah ada kecenderungan bersikap tidak adil terhadap istri-istrinya (An-Nisa: 129).

Betapa luhurnya penghargaan Allah untuk perempuan hingga seluruh syariat-Nya termaktub rapi. Jika Allah dan Rasul-Nya memberikan penghormatan yang apresiatif terhadap partner lelaki ini, maka memuliakan perempuan yang sering dianggap second sex (makhluk kedua setelah lelaki), adalah suatu keharusan yang bukan sekedar penghormatan secara lahiriah saja.

Dalam konteks kekinian, penghormatan itu termasuk dalam menjaga hak seorang istri demi kelangsungan ranah keharmonisan rumah tangga. Jika kita kaitkan akhir-akhir ini dengan kasus seorang bupati yang menikahi gadis lalu dengan sekehendak hatinya menceraikan via pesan singkat. Tentu bukan hal demikian yang dianjurkan Islam.

Memuliakan perempuan berarti menaruh empati terhadap kebaikan dan penghidupan mereka sepenuhnya baik lingkup rumah tangga, sosial masyarakat, bahkan lingkup Negara—menjadikan mereka partner ibadah kepada Allah dengan tanpa keluar dari lingkup kodrati.

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim).

Oleh: Ina Salma Febriani

Redaktur: Chairul Akhmad

Sumber: di sini

AWSOM Powered