Archive: Maret, 2013

Rabithah Alawiyah Bantah Dukung RUU Ormas

Posted by admin - 30 Maret 2013 - Berita
0

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rabithah Alawiyah menegaskan tak pernah mendukung dan meminta agar Rancangan Undang-Undang tentang Ormas (RUU Ormas) segera disahkan.

”Berita yang menyebutkan Rabitah Alawiyah sebagai bagian dari Ormas Islam yang mendukung dan meminta agar RUU Ormas segera disahkan adalah tak benar,” ujar Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Zen Umar Smith dalam hak jawabnya yang diterima ROL, Jumat (29/3).

Rabithah Alawiyah membantah berita di ROL yang menyebutkan ormas sosial keagamaan itu turut mendukung disahkannya RUU Ormas yang sedang menunggu pengesahan DPR RI.

”Kami tak pernah ikut duduk dan ikut pembahasan RUU tersebut, baik dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LOPI) maupun di luar itu,” tutur Zen Umar Smith.

Sehingga, kata dia, keikutsertaan Rabithah Alawiyah dalam LPOI tak bisa langsung dianggap mendukung RUU Ormas. Apalagi, tutur Zen Umar, adanya kesepakatan pencantuman Pancasila sebagai persyaratan asas ormas.

”Rabithah Alawiyah sebagai ormas sosial keagamaan berlandaskan Alquran dan Sunah Rasul saw,” tegasnya. Meski begitu, kata dia, Rabithah Alawiyah menghormati Pancasila sebagai asas NKRI.

Sumber: di sini

Berita terkait:

Mendagri: Asas Pancasila Harga Mati

13 Ormas Islam Dukung Pengesahan RUU Ormas

Sheikh Sa’id Ramadhan Al-Bouti Gugur Dalam Sebuah Serangan di Damaskus

Posted by admin - 22 Maret 2013 - Berita
1
Sheikh Muhammad Ramadhan Al-Bouti

dakwatuna.com – Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun, ulama rabbani terkemuka Sheikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Bouti gugur dalam sebuah serangan bom bunuh diri yang menghantam masjid di Damaskus, di lingkungan ibukota Mazra’a, Kamis (22/3/2013). Lokasi kejadian berada di utara pusatkota. Peristiwa ini turut menewaskan ulama tersebut.

Televisi pemerintah Suriah melaporkan bahwa terdapat 20 orang tewas termasuk Sheikh Sa’id Ramadhan Al-Bouti dalam sebuah serangan bunuh diri di Masjid Iman di Mazraa, Damaskus, demikian seperti dikutip dari situs Aljazeera Arab. Laporan televisi juga mengatakan, selain Al-Bouti, sejumlah orang lainnya juga terbunuh dan terluka.

Sedangkan sebuah postingan di Facebook oleh Saief Alemdar, Consular and Protocol Staff Kedubes RI di Damaskus, mengabarkan bahwa Ramadhan Al-Bouti syahid selepas Magrib saat Al-Bouti mengisi pengajian tafsir Al-Quran mingguan di Masjid Iman oleh pelaku bom bunuh diri, bersama 20 jamaah lain.

Nama Sheikh Sa’id Ramadhan Al-Bouti dimasukkan di antara 50 nama dalam “The World’s 500 Most Influential Muslims 2012”. Buku karangannya yang terkenal dan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Sirah Nabawiyah. Beliau juga kawan dekat dari para habaib, seperti Alm. Sayid Muhammad Al-Maliki, Habib Abubakar Masyhur dan Habib Umar bin Hafidz.

Marilah bersama-sama kita doakan beliau yang telah syahid di jalan Allah, semoga Allah masukkan beliau ke dalam golongan penghuni surga. Alfatihah..

Sumber: di sini

Rasulullah SAW dan Olahraga

Posted by admin - 18 Maret 2013 - Olahraga
1
Olahraga

RASULULLAH SAW adalah sosok yang senang berolahraga. Beliau menganjurkan para sahabat berlatih memanah, dan beliau sendiri adalah pemanah ulung. Beliau menganjurkan mereka berlatih menunggang kuda, dan beliau sendiri penunggang kuda yang lihai. Beliau menganjurkan mereka berenang, dan beliau perenang yang mahir.

Semua kecakapan dan kepiawaian fisik Rasulullah SAW memang tidak dikenal luas. Beliau lebih terkenal dengan sifat yang lebih mulia, lebih utama, lebih pantas, dan lebih dibutuhkan umatnya – yaitu kasih sayang – sebagaimana firman Allah, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Firman-Nya lagi, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaannmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amal belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”

Sifat kasih adalah sifat yang paling nampak dalam diri Rasulullah SAW, padahal di balik sifat ini masih tersimpan sejumlah sifat lain. Di balik akhlak beliau juga terdapat akhlak lain. Beliau memiliki kecakapan dan kepiawaian yang beragam. Beliau pemberani dan penunggang kuda ulung. Ali bin Abi Thalib RA Pernah berkata, “Jika kami kepanasan dalam peperangan, kami segera mendekati Rasulullah SAW”

Pembaca mungkin tidak lupa peristiwa yang terjadi saat Perang Hunain berkobar. Saat orang lari
pontang panting, beliau tetap kukuh di atas keledainya seraya berteriak lantang, “Aku adalah Nabi. Dan aku adalah Ibnu Abdul-Muthalib.”

“Apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah SAW dalam perang Hunain?” tanya seseorang pada Al-Bara’ bin Azib. “Benar, tapi Rasulullah SAW tidak melarikan diri. Sesungguhnya orang-orang Hawazin adalah pemanah ulung. Saat kami berhadapan dengan mereka, mereka berhasil memukul mundur hingga kami lari ponting-panting. Namun Rasulullah SAW tidak lari. Sungguh, aku melihat beliau di atas punggung keledainya yang berwarna putih, dan Abu Sufyan mengambil tali kekang kuda beliau pada saat beliau berkata dengan lantang, “Aku adalah Nabi. Aku adalah putra Abdul Muthalib.” (HR Bukhari)

Kisah di atas merupakan fakta yang menunjukkan keberanian dan keperkasaan Rasulullah SAW.
Beliau menunggang keledai, padahal keledai adalah hewan yang tidak bisa lari kencang. Orang tidak akan mampu menyelamatkan diri dengan menunggangi keledai. Beliau juga berseru dengan lantang, “Aku adalah seorang nabi dan tidak ada kedustaan. Aku adalah putra Abdul-Muthalib” Dalam ungkapan ini yang dimaksud adalah diri beliau sendiri. Dapat dibayangkan betapa
beraninya Rasulullah SAW, di saat orang-orang yang berjuang membela Tuhan dan membela dirinya gugur berjatuhan, saat pejuang yang berperang di bawah naungan dan panji-panjinya syahid satu persatu. Sementara yang lain berusaha menyelamatkan diri, beliau malah berteriak lantang ”Aku adalah Muhammad! Aku adalah putra Abdullah! Aku adalah putra Abdul-
Muthalib!”

Dari peristiwa ini tak dapat diragukan lagi bahwa beliau adalah sosok pemberani dengan kemampuan luar biasa. Dari sini juga dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau tidak butuh bantuan dan pertolongan siapa pun setelah mendapat pertolongan dan penjagaan Allah. Orang-orang yang berada di sekeliling beliau saat itu sebenamya hanya mengambil manfaat darinya. Karena dengan memberi perlindungan dan penjagaan diri Rasulullah SAW dari musuh yang mencoba mencelakai, mereka akan memperoleh keutamaan dan pahala yang amat besar. Dalam sejumlah kondisi, jelas bahwa Rasulullah SAW tidak membutuhkan mereka. Allah memperkuat kenyataan ini dengan firman-Nya yang berbunyi, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya” lewat ayat ini, Allah seakan ingin berkata, “Dia bukan tertolong karena pedang kalian. Kalian jangan mengira bahwa kalau bukan karena kalian kemenangan tidak akan diraih. Kalau bukan karena kalian Islam tidak akan tersebar luas. Risalah tidak akan diketahui orang banyak.” Yang terjadi sebenarnya adalah “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammmad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya.”

Meskipun demikian, mereka tetap bersama Rasulullah SAW, berada di sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang. Mereka mengeluarkan segala daya dan kemampuan untuk menjaga Rasulullah SAW. Sebaliknya, Rasulullah SAW juga tidak berat hati untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan mendoakan mereka. Rasulullah SAW tidak pemah melupakan jasa-jasa mereka, karena memang Rasulullah SAW adalah sosok yang senang memberi penghargaan atas kebajikan, dan orang yang gigih memperjuangkannya. Beliau adalah sosok yang paling sempuma.

Para sahabat sendiri tahu bahwa Rasulullah SAW sejatinya tidak membutuhkan bantuan dan perlindungan mereka. Rasulullah SAW lakukan semua itu sebagai upaya melaksanakan perintah Allah yaitu akhdzul asbab. Beliau adalah suri tauladan yang mengajari manusia memberikan perlindungan. Di samping itu, akhdzul asbab (menggunakan sebab) merupakan asas masyarakat lslam dan kebudayaan islami. Kejayaan Islam tidak dibangun di atas pondasi mukjizat dan kejadian-kejaidan aneh. Mukjizat dan kejadian aneh hanyalah bukti atas kebenaran risalah dan hanya terjadi saat dibutuhkan. Namun islam jaya bukan karena dibangun di atas mukjizat dan kejadian-kejadian. Islam dibangun berdasarkan kaidah, asas, dan dasar yang jelas. Semua ini merupakan bentuk akhdzul asbâb (menggunakan sebab). Demikianlah sikap dan tingah laku Rasulullah SAW. Namun demikian, sesekali Allah SWT memberikan dan memperlihatkan mukjizat yang sesuai pada kesempatan yang cocok.

Walhasil, tampillah Rasulullah SAW. sebagai sosok pemberani, pemanah ulung, dan penunggang kuda yang mahir. Semua sifat ini terekam dalam sejarah dan diabadikan sejumlah hadis sahih seperti yang akan kita lihat. Suatu ketika penduduk Madinah dicekam rasa takut. Mereka mendengar suara gemuruh dari luar kota. Mereka menyangka suara itu berasal dari musuh yang siap meyerang. Pada saat seperti ini, Rasulullah SAW seharusnya berada di tengah-tengah mereka sembari dilindung. Temyata kenyataannya tidaklah demikian, Rasulullah SAW bergegas menunggang kuda liar tanpa pelana dan tali kekang. Hanya orang yang memiliki kepandaian istimewa dalam menunggang kuda yang mampu mengendalikan kuda dalam keadaan seperti itu. Beliau bergegas menunggangi kuda itu dan memeriksa mengitari kota Madinah, setelah yakin tidak ada musuh, beliau kembali lagi dengan cepat. “Beliau kembali ke
tempat semula secepat kilat,” kata Anas bin Malik RA.

Anas bin Malik RA bercerita, Rasulullah SAW. adalah orang yang paling baik, dermawan, dan berani. Pernah suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang kuat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah suara tersebut lalu berjumpa Rasulullah SAW, ketika itu beliau baru saja pulang dari tempat suara tersebut. Beliau telah mendahului mereka pergi ke arah suara tersebut. Pada waktu itu beliau menaiki kuda Abu Talhah. Di leher kuda itu, terdapat sebilah pedang. Kemudian beliau bersabda, “Kamu tidak perlu takut, kamu tidak perlu takut.”

Dalam hal berolahraga yang sarat nuansa kepahlawanan dan keperkasaan Rasulullah SAW. juga menaruh perhatian besar terhadap urusan-urusan gang sepele. Memberikan berita gembira saat
berangkat berjihad mengontrol sendiri persiapan pasukan. memuji prajurit yang satu dan menegur yang lain, menilai bahwa ini sudah baik dan ini belum. mengatur taktik perang –kapan waktu untuk memanah, kapan waktu untuk menyerbu dengan pedang, dan kapan waktu untuk bertahan. Siapa yang mengatur pasukan dalam Perang Badr? Siapa yang mengatur pasukan dalam Perang Uhud? Siapa yang mengatur pasukan dalam peperangan yang lain? Siapa yang menyuruh melepaskan anak panah pada waktu yang tepat? Siapa yang berkata, “Dalam jarak seperti ini bidikkan panah kalian. Kalau mereka jauh, maka jangan gunakan panah, karena hal itu akan sia-sia.” Pada saat itu, satu anak panah sanget berarti dan berharga bagi mereka. Atas dasar itulah, beliau menyuruh untuk menyimpan busur panah selagi musuh tidak dekat dan berada di luar jangkauan bidik.

Siapa yang membangkitkan semangat juang? Beliau berseru, “Bangkitlah wahai Ali!” “Bangkitlah wahai Fulan!” “Bangkitlah wahai Fulan!” Dialah Nabi Muhammad SAW. Karena menguasai seni perang secara mendalam, maka jangan heran kalau Rasulullah SAW sukses mengatur dan meramu strategi perang. Beliau tahu persis orang yang pantas untuk posisi tertentu, orang yang layak berada di barisan belakang melindungi beliau. Semua ini beliau tunjukkan dalam perang Badr yang pecah pada 27 Ramadhan.

Ketika Uthbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah (saudaranya), dan Walid bin Uthbab (putranya) menghambur ke depan menantang duel satu lawan satu, Rasulullah SAW segera memerintahkan tiga orang pemuda Anshar meladeni tantangan itu. Mereka adalah Abdurrahman bin Auf, Mu’adz bin Alharits, dan Abdullah bin Rawahah. “Siapa kalian?” tanya tiga pendekar quraisy itu. “Kari adalah ksatria Anshar,” jawab mereka. “Kari tidak ada urusan dengan kalian!” serga merka. “Suruh tokoh-tokoh dari golongan kami tampil!” lanjutnya. Mendengat pernyataan itu, Rasulullah SAW segera berseru, “Ubaidiah bin Harits, Hamzah bin Abdul Muthalib dan kamu Ali bin Abi Thalib, bangkit dan layani tantangan mereka!”

Ubaidah –yang paling tua—melawan Uthbah, Hamzah melawan Syaibah, sedangkan Ali melawan Al-Walid bin Uthbab. Duel satu lawan satu ini dimenangkan oleh semua perwira muslim. Walaupun pada akhir perang tersebut, ubaidah bin Al-Harits syahid dalam keadaan kaki tertebas. Saat itu ia menyitir sajak berikut:
Jika mereka memotong kedua kakiku, sunggu aku adalah seorang muslim
Aku berharap Allah menganugerahkan kehidupan mulia karenanya
Allah telah memakain baju terindah padaku
Baju Islam yang menutupi segla keburukan

Para sahabat kemudian membawa dan membaringkannya di dekat Rasulullah SAW, sejurus kemudian, beliau memegang kaki Ubaidah dan menyentuhkan pipinya pada potongan kaki tersebut. Melihat penghormatan itu , Uthbab berkata, “Rasulullah, sekiranya Abu Thalib melihatku, dia pasti sadar bahwa aku lebih berhak untuk berucap:
Aku menyerahkannya hingga aku terjungkal di sampingnya
Melupakan anak-anak dan juga sanak kerabat
Selesai menyitir sajak di atas, Uthbab RA menghembuskan napasnya yang terakhir. Rasulullah SAW berkata, “Aku bersaksi kau gugu8r secara syahid.”

Rasulullah SAW senantiasa memberi semangat para sahabat untuk berjuang, berjihda, bertempur dengan kstaria. Demi mewujudkan semua itu , beliau mengadakan pertandingan untuk mengetahui siapa yang berhak maju ke medan tempur dan siapa yang tidak. Dari pertandingan itu juga akan diketahui siapa yang layak turut berperang dan siapa yang belum.

Terjemahan dari buku Shilah Ar-Riyadhah bin Ad-Din wa Dauruha fi Tansyiati Asy-Syabab Al-Muslim karangan Habib Muhammad bin Alwi Al-Malaki Al-Hasani

Ikhlas Dalam Niat

Posted by admin - 5 Maret 2013 - Aqidah
0
ikhlas

 

Wahai saudaraku, tetaplah dengan niat yang baik dan ikhlas, teliti dan berangan-anganlah dengan niat sebelum memulai suatu pekerjaan. Hal ini karena niat merupakan dasar dari suatu pekerjaan; bahwa kualitas pekerjaan sangat tergantung kepada baik, buruk, sah atau rusaknya niat. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap perbuatan harus dimulai dengan niat, dan bagi setiap individu tergantung kepada apa yang diniatkan.” Oleh karena itu, janganlah kamu berkata suatu perkataan, berbuat suatu perbuatan dan jangan bermaksud atas suatu perkara kecuali yang engkau niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap pahala yang telah diatur sesuai perkara yang diniatkan.

Ketahuilah, bahwasanya tidak patut mendekat kepada Allah kecuali dengan ketentuan yang telah Allah syariatkan melalui lisan RasulNya berupa fardhu-fardhu dan sunnah-sunnah. Kadang-kadang niat yang sungguh-sungguh bisa memberi bekas pada perkara yang mudah, lalu perkara itu menjadi ibadah. Dengan demikian niat dapat menjadi perantara untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti orang yang makan dengan niat untuk menguatkan badan, untuk melaksanakan taat kepada Allah. Begitu juga dengan niat untuk menggauli istri yang dapat menjadi sebab memperoleh anak yang menyembah kepada Allah.

Kesungguhan niat disyaratkan terhadap:

  1. Orang yang menuntut ilmu. Seseorang dapat saja menduga bahwa niat utamanya setelah memperoleh ilmu adalah untuk dapat mengamalkan dan mengajarkannya. Tetapi kadang, ketika sudah sampai pada kemungkinan untuk mengamalkan dan mengajarkan, seseorang mungkin saja lupa dan tidak melaksanakannya. Yang demikian ini menjadi niat yang tidak benar.
  2. Orang yang mencari materi duniawi. Seseorang dapat saja menduga bahwa niatnya mencari materi duniawi adalah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, bersedekah kepada orang yang membutuhkan dan menyambung kekerabatan. Apabila keinginannya memperoleh materi tercapai tetapi tidak mengerjakan sesuai dengan niat awalnya, maka niatnya tidak sah.

Niat pada perbuatan maksiat tidak memberi bekas sama sekali kepada sesuatupun sebagaimana suci yang tidak dapat memberi bekas pada najis. Barang siapa yang menyetujui seorang muslim menggunjing muslim lain dan mengakui bahwa dengan menyetujuinya bermaksud untuk memasukkan kesenangan dalam hati orang yang sedang menggunjing, maka ia adalah salah satu dari orang yang menggunjing. Barang siapa yang diam dari perintah baik dan melarang dari yang munkar serta mengaku bahwa dengan diamnya berniat untuk menjaga hancurnya hati orang yang melakukan kemunkaran, maka dia adalah temannya dalam dosa. Jika niat yang jahat berhubungan dengan amal baik, maka niat jahat dapat merusak amal baik dan amal baik tersebut menjadi jahat, seperti orang yang beramal saleh tetapi niatnya untuk memperoleh harta dan pangkat.

Wahai saudaraku, hendaknya niatmu dalam taat hanyalah untuk mencari keridhaan Allah SWT. Berniatlah kepada perkara yang kamu dapat melaksanakannya dengan hal-hal yang dibolehkan meminta pertolongan dalam taat kepada Allah SWT.

Ketahuilah, sebagaimana digambarkan, bahwa dalam satu amal dapat saja memiliki banyak macam niat mendapat pahala yang sempurna. Apabila dalam membaca Al-Quran seseorang berniat untuk munajat kepada Allah maka ia adalah orang yang memperoleh munajatnya. Bagi seseorang yang berniat mengeluarkan ilmu-ilmu dari Al-Quran maka ia akan memperolehnya. Bagi seseorang yang berniat memberi manfaat kepada orang yang meminta untuk mendengarkan (bacan Al-Quran—red), ia dan orang-orang yang mendengarkan mendapat munajat kepada Allah.

Dalam hal amal dari perkara-perkara yang diperbolehkan (mubah), seperti makan, maka niat yang baik adalah untuk melaksanakan perintah Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu,” (QS. Al-Baqarah: 172). Selain itu, dapat juga diniatkan untuk menambah kekuatan fisik, tetapi kekuatan tersebut dipergunakan untuk taat kepada Allah SWT. Atau dapat juga diniatkan sebagai sebab untuk bersyukur kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya,” (QS.Saba: 15)

Saudaraku, ambillah kias dari dua contoh tentang niat pada taat dan mubah, dan perbanyaklah niat-niat yang bagus sekuat kamu.

Niat dapat diucapkan dan dikehendaki dengan salah satu dari dua makna:

Pertama, niat adalah ibarat tujuan yang dikehendaki dari maksud dalam beramal atau berkata. Kebanyakan niat dengan ikhtiar ini lebih baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Niatnya orang mukmin itu lebih baik daripada amalnya, maka perhatikanlah bagaimana cara orang mukmin dengan diperingatkan.”

Kedua, niat adalah ibarat dari tujuan untuk mengerjakan sesuatu dan tujuan atas suatu pekerjaan, tidak ada niat kecuali lebih baik daripada amal. Akan tetapi manusia ketika bermaksud untuk mengerjakan sesuatu tidak sunyi dari salah satu tiga perilaku:

  1. Bermaksud dan beramal
  2. Bermaksud dan tidak beramal tetapi mampu untuk mengamalkannya

Hukum bagi kedua perilaku di atas telah dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kejahatan-kejahatan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan dengan sabdanya, “Barang siapa yang bermaksud mengerjakan kebaikan dan belum sampai mengamalkannya, maka Allah menulis baginya kebaikan yang sempurna. Apabila seseorang bermaksud mengerjakan kebaikan lalu mengamalkannya maka Allah menulis baginya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat, bahkan sampai berlipat-lipat ganda. Apabila seseorang bermaksud mengerjakan perbuatan jahat dan belum sampai mengerjakannya, maka Allah menulis baginya kebaikan yang sempurna. Apapbila seseorang bermaksud mengerjakan kejahatan lalu mengerjakannya maka Alah hanya menulis satu kejahatan saja.

  1. Bermaksud mengerjakan perkara yang tidak mampu dikerjakan dan mengatakan seandainya saya mampu mengerjakan maka saya mengerjakannya. Bagi seseorang yang dalam posisi demikian akan mendapat pahala dari niatnya untuk mengerjakan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Manusia itu ada empat amcam: Seseorang yang diberi ilmu dan harta oleh Allah, dan dengan ilmunya ia mengamalkan hartanya. Orang lain berkata, seandainya Allah memberi kepadaku apa yang telah diberikan kepada orang tersebut, maka aku akan mengamalkan sebagaimana orang tersebut, maka keduanya dalam pahala itu sama. Seseorang yang diberi harta oleh Allah tetapi tidak diberi ilmu, maka hanya akan rusak dengan kebodohannya. Orang lain berkata, seandainya Allah memberi kepadaku apa yang telah diberikan kepada orang tersebut, maka aku akan mengamalkannya sebagaimana orang tersebut, maka keduanya di dalam dosa yang sama.”

Sumber:

Alhaddad, Sayid Abdullah. Jalan Para Nabi Menuju Surga. Jakarta: Penerbit Hikmah. 2003

Ilustasi gambar ambil di sini

AWSOM Powered