Archive: April, 2013

Beasiswa Universitas Al-Ahgaff Yaman 2013

Posted by admin - 22 April 2013 - Informasi Beasiswa
10
Universitas Al-Ahgaff Yaman

Universitas Al-Ahgaff berpusat di Mukalla, ibukota provinsi Hadramaut Republik Yaman. Provinsi yang kaya akan peradaban dan semarak dengan ilmu pengetahuan. Kantor rektor dan semua Fakultas Universitas berada di kota yang berada di ujung semenanjung Arab ini. Fakultas Syariah saja yang berada di Kota Tarim. Hal ini dilakukan guna terwujudnya pendidikan syariah yang tidak diperoleh dari bangku kuliah saja, namun juga didapat melalui lingkungan agamis dan ilmiah.

Tarim terkenal sebagai kota ilmu dan ulama sehingga pada tahun 2010, Tarim yang terletak sekitar 300 km dari kota Mukalla dinobatkan sebagai Kota Budaya Islam/Capital of Islamic Culture oleh organisasi ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization)

Faktor sosial budaya kota Tarim ini sangat mendukung untuk dijadikan sebagai tempat mendalami ilmu agama. Apalagi hal tersebut didukung faktor sejarah yang mencatat bahwa dari sinilah Islam di beberapa belahan dunia (seperti Asia dan Afrika) disebarkan dan berkembang pesat tanpa kekerasan dan teror berkat kegigihan, keikhlasan, keilmuan dan budi pekerti mulia para tokohnya dalam berdakwah.

Universitas Al-Ahgaff berdiri sebagai langkah nyata dari gagasan para ulama terkemuka yang dipelopori Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Mahfudz Al-Haddad (Alm), Mufti Provinsi Hadramaut kala itu demi terwujudnya tujuan utama yaitu membangun sarana pendidikan Islam yang bermutu bagi masyarakat Muslim dunia dengan pola pendidikan yang mampu mencetak sarjana Muslim yang prospektif dan mumpuni dalam segala aspek kehidupan berasaskan ruh Islami berhaluan pemahaman Ahlusunnah wal Jama’ah.

Universitas ini resmi didirikan pada tahun 1994 melalui SK Menteri Pendidikan No. 5 tanggal 8 Februari tahun 1994. Pada tahun 1995 Universitas Al-Ahfaff resmi menjadi anggota Persatuan Universitas Liga Arab dan resmi menjadi anggota Asosiasi Universitas-Universitas Islam .

Beasiswa bagi mahasiswa/I Indonesia hanya diberikan khusus untuk studi di:

  1. Fakultas Syariah bagi putra
  2. Fakultas Tarbiyah khusus wanita jurusan Kajian Islam bagi putri

Kantor Pusat Universitas Al-Ahgaff di Indonesia

Jl. Jagasatru No. 56/193CirebonJawa Barat 45115

Telp. (0231) 203157

CP: 08122212000, 081546522000 (tidak melayani SMS)

Ust. Ahmad Yusuf: 085728210439, 081294708062

Ust. Nur Wahid: 085325711383, 087781234898

Ust. Fakhruddin Jamal Bandera: 081282175322, 087878955507

Email             : ahgaff_indonesia@yahoo.com, indonesia@ahgaff.edu

FB                   : Yayasan Al-AhgaffIndonesia

Website         : www.ahgaff.edu

Syarat Pendaftaran

  1. Mengisi formulir pendaftaran
  2. Menyerahkan fotokopi ijazah SMU/MA/Sederajat, sebanyak 2 lembar dengan nilai rata-rata komulasi min. 7,5
  3. Ijazah tidak lebih dari 3 tahun
  4. Menyerahkan pas foto berwarna ukuran 4×6 (4 lembar) background putih.
  5. Membawa surat pengantar dari pondok pesantren/sekolah
  6. Bagi yang ijazahnya belum keluar, maka dapat menyerahkan fotokopi rapot kelas 10, 11 dan 12 yang telah dilegalisir dari sekolah SMU/MA/Sederajat.

Materi ujian

  1. Ujian Tahriri: Bahasa Arab (Nahwu/Shorof/Ta’bir) dan Fiqih
  2. Ujian Syafahi: Muhadatsah dan membaca kitab setingakt Fatul Qorib Syarh Taqrib.

Beasiswa yang diberikan

Bagi mereka yang telah dinyatakan lulus tes dan memenuhi syarat, akan mendapatkan beasiswa penuh (pendidikan, asrama dan makan) tidak termasuk ijin tinggal dan uang saku. Untuk biaya keberangkatan jaminan tiket kepulangan, visa, terjemah ijazah dan lain-lain, calon mahasiswa dikenakan biaya administrasi sebesar Rp25.000.000.

Jadwal Ujian dan Mekanisme Pendaftaran

Pendaftaran dibuka mulai pada awal bulan April 2013 dan berkas harus sudah diterima Kantor Pusat Universitas Al-Ahgaff di Indonesia melalui POS, Jasa Titipan Kilat atau email sebagaimana tersebut di atas paling lambat 7 hari sebelum masa ujian dimulai. Pengumuman hasil tes dapat dilihat di website kami: www.ahgaff.edu atau di group FB: YAYASAN AL-AHGAFF INDONESIA selambat-lambatnya tanggal 20 Juni 2013.

Informasi Jadwal dan Lokasi Tes Seleksi silahkan download di sini dan di sini 

Alaydrus Laan dan Perang Aceh

Posted by admin - 17 April 2013 - Sejarah
3
Jalan Alaydrus

Menelusuri jalan Gajah Mada menuju Jakarta Kota kita akan mendapati jalan Alaydrus. Terletak bersebelahan dengan jalan KH Hasyim Asy’ari, jalan alaydrus kini menjadi pusat pertokoan dan perkantoran, yang didominasi knator biro-biro perjalanan. Di sini sudah hampir tidak dijumpai lagi rumah-rumah tempat tinggal, seperti masa kolonial Belanda. Ketika itu jalan ini bernama Alaydrus Laan.

Belanda memberikan nama boulevard untuk jalan raya utama, seperti Oranye Boulevard dan Nassau Boulevard untuk Jalan Imam Bonjol dan Jalan Diponegoro. Jalan raya kelas satu di pusat kota disebut laan atau straat. Jalan lebih kecil disebut weg, sedangkan jalan kecil atau lorong yang tidak dapat dimasuki mobil disebut gang.

Jalan Alaydrus, apa pasalnya sampai jalan ini diberi nama demikian? Jawabnya, karena di tempat ini dulu tinggal Habib Abdullah bin Husein Alaydrus. Bukan hanya itu. Seluruh gedung dan rumah yang ada di jalan ini juga miliknya. Termasuk beberapa buah gedung dan pertokoan di Jalan Gajah Mada. Di Jati Petamburan, Jakarta Pusat, Habib memiliki rumah dan tanah seluas 11,5 hektar. Memasuki Jalan Alaydrus, terdapat beberapa jalan yang pada masa Belanda namanya Husein Laan dan Ismail Laan. Nama kedua putra Habib Abdullah.

Seperti dituturkan oleh menantunya Habib Abubakar Alaydrus (90 tahun), mertuanya (Habib Abdullah bin Husein Alaydrus) memiliki 80 buah gedung di Jalan Alaydrus dan 25 buah gedung di Jalan Gajah Mada. Dari gedung-gedung dan tanah yang disewakan ini, Habib Abdullah mendapatkan penghasilan 12 ribu gulden tiap bulan. Waktu itu harga beras paling mahal hanya tujuh setengah gulden per karung (100kg).

Untuk memperlancar tagihan sewa menyewa rumah dan gedung, ia mendirikan Bouwmatchappij Abdullah bin Husein Alaydrus. Orientalis Belanda LWC van der Berg yang mengadakan penelitian orang-orang Hadramaut di Nusantara (1884 – 1886) menyebutkan, di Batavia hanya empat orang Arab yang penghasilannya di atas 12 ribu gulden per tahun.

Habib Abdullah juga dikenal dermawan. Ketika perang Aceh, pada akhir abad ke-19, ia banyak membantu perjuangan para pahlawan dari Tanah Rencong ini dalam melawan Belanda, dengan cara mengirimkan senjata-senjata yang diselundupkannya dari Singapura. Agar tidak dicurigai Belanda, kapal yang membawa senjata ini ditutupi dengan sayur mayur.

Dia juga dikenal sebagai orang pro-Turki ketika masih dipimpin Ottoman. Tidak heran saat pecah perang dunia pertama, ia banyak memberikan bantuan uang pada Turki. Karena keterlibatannya itu, pihak Inggris – yang menjadi lawan utama Turki dan Jerman – ingin menangkap Habib Abdullah. Guna menghindari kejaran Inggris, ia melarikan diri ke Sumatera.

Ia baru bisa kembali keJakartasetelah diselundupkan lewat sebuah perahu. Ia juga banyak memberikan bantuan untuk memajukan Jamiatul Kheir, pendidikan Islam modern pertama diJakartayang didirikan pada 1901. Ketika diminta bantuannya, ia menyuruh orang mengambil sendiri dari lacinya. Bantuan itu, besarnya 2.100 gulden. Jumlah yang sangat besar ketika itu. Mr. Hamid Algadri dalam buku ‘Islam dan Keturunan Arab’ menyebut Abdullah bin Husein Alaydrus selalu duduk di meja direktur dalam rapat-rapat Sarikat Islam di Jakarta sekitar 1915.

Sedangkan sejarawan Jerman, Adolf Hueken yang banyak menulis tentangJakartamenyebutkan bahwa sayid ini banyak membantu perluasan masjid tua ‘An-Nawir’ di Pekojan, Jakarta Barat. Menurut menantunya, Habib Abubakar, Alaydrus meninggal dunia pada 1936 dalam usia lebih dari 80 tahun. Kekayaannya mulai berkurang ketika terjadi resesi ekonomi yang hebat pada tahun 1930an (malaise). Karena banyak rumah yang kosong ditinggalkan penyewa hingga ia tidak bisa membayar pinjaman bank. Akibatnya, Bouwmatchappij Alaydrus diambil oleh Bank Nilmij.

Ketika Belanda takluk pada Jepang, Nilmij beralih lagi kepada Alaydrus. Tapi setelah Jepang takluk, maka Nilmij pun berkuasa kembali. Nilai penjulan pada masa Jepang oleh Nilmij hanya ditetapkan sebesar tiga sen per gulden (100 sen).

Sumber:

Shahab, Alwi. Maria van Engels Menantu Habib Kwitang.Jakarta: Penerbit Republika, 2006, dengan sedikit revisi.

Media Berbahasa Arab

Posted by admin - 8 April 2013 - Sejarah
7
Kitab Kuning

Sejak masa VOC (kompeni), tepatnya pada tahun 1795 di Betawi sudah terbit surat kabar “Al-Juab”. Mungkin ini merupakan surat kabar pertama yang ditujukan untuk umum, yang saat itu disebut pribumi dan oleh Belanda disebut inlander.

Surat kabar ini ditulis dalam huruf Arab, namun isinya bahasa Melayu. Penerbitnya juga seorang keturunan Arab, yang sekaligus merupakan seorang mubaligh. Tidak heran kalau isinya tidak banyak memuat berita, lebih banyak karangan tentang agama Islam.Suratkabar ini terbit selama enak tahun (sampai 1801) .

Sejak abad ke-17 agama Islam telah berkembang pesat diIndonesia. Karenanya rakyat lebih banyak membaca dan menulis dalam huruf Arab gundul atau Arab – Melayu. Ditulis dengan huruf Arab, tapi bacaannya Melayu. Baru pada tahun 1872, dikembangkan ejaan Melayu Latin. Yang sebelumnya, ditulis dalam huruf Arab, apakah itu bahasa Sunda, Jawa, Melayu, dan berbagai etnis lainnya. Sampai sekarang masih kita dapati dalam terjemahan di kitab-kitab kuning.

Begitu luasnya bahasa Arab jadi bacaan sehari-hari, hingga mata uang yang dikeluarkan pemerintah kolonial bagian belakangnya tertulis dalam bahasa Arab – Melayu. Ini terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negeri-negeri jajahan Inggris, seperti Singapura dan Malaya (kini Malaysia). Kala itu, hampir seluruh masyarakat buta huruf membaca huruf Latin, tapi melek dalam membaca huruf Arab.

Kebiasaan membaca dalam huruf Arab – Melayu ini juga terjadi pada warga Cina peranakan (yang lahir di Indonesia). Pada tahun 1858 di Jakarta terbit “Soerat Kabar Betawi” yang terbit tiap Sabtu. Surat kabar ini yang dibaca secara luas – termasuk etnis Tionghoa – mempergunakan huruf Latin dan Arab (Latin dan Jawi). Meskipun penerbitan ini bersifat dagang namun memuat cerita-cerita ‘1001 malam’. Khusus untuk etnis Tionghoa, pada akhir abad ke-19 sudah banyak kaum peranakan yang tidak mampu lagi membaca dalam huruf Arab. Mereka lebih banyak mempelajari huruf Latin dari guru-guru Belanda.

Pada abad ke-19 banyak pendatang dari Hadramaut ke Nusantara. Setelah pada 1870 pelayaran dengan kapal uap antara Timur Jauh dan Arab mengalami perkembangan pesat. Karena hampir seluruh keturunan Arab yang datang ke Indonesia berasal dari Hadramaut mereka disebut Hadarim. Di Jakarta, pada 1901 mereka mendirikan perkumpulan ‘Jamiatul Kheir’, yang kemudian disusul dengan perguruan Islam modern.

Perkumpulan yang mendapat simpati dari tokoh-tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan, mendatangkan dan kemudian menyebarkan surat kabar dari Timur Tengah. Di samping menyebarkan gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Majalah “Al-Manar:” yang dipimpin oleh Sayid Rasyid Ridho, memperoleh informasi gerakan-gerakan Islam di Indonesian dari Jamiatul Kheir.

Di Surabaya pada tahun 1922 – 1926 terbit mingguan tiap hari Kamis bernama ”Hadramaut” setebal 20 halaman. Mingguan ini dipimpin Idrus bin Umar Almashur kelahiran Tarim, Hadramaut. Sedangkan redakturnya KH Abdullah bin Nuh, ulama terkemuka dan pendiri majelis taklim ‘Al-Ihya’ Bogor(1922 – 1926). Kemudian ia digantikan oleh Diya Shahab, yang karangannya tentang masuknya Islam di Indonesia dijadikan rujukan.

Mingguan ini terbit guna mengantisipasi politik kolonial Belanda. Isinya beragam, mulai dari politik, sosial, budaya, sampai mimbar agama. Kita masih mendapati arsip mingguan ini di Arsip Nasional. Media ini dipuji oleh Amir Syakib Arsalam, seorang sastrawan dan sejarawan terkenal Timur Tengah akan keindahan tata bahasa Arabnya. Menurutnya, mingguan “Hadramaut” memiliki bahasa Arab paling baik di dunia, selain di negara-negara Arab. Idrus bin Umar, pemimpin mingguan ini ikut aktif dalam pertemuan saat NU didirikan 1926.

Hampir bersamaan, di Jakarta terbit koran berbahasa Arab: “Bir Hoed” mengabadikan nama telaga Nabi Hud di Hadramaut. Pemimpin redaksinya M.O. Hasyimi. Sementara majalah berbahasa Arab “Borobudur” di Jakarta, dipimpin Abdullah bin Alwi alatas. Dia masih terhitung kakek mantan menlu Ali Alatas. Dia banyak membantu organisasi-organisasi Islam kala itu, seperti Syarikat Islam, Muhammadiyah, dan Al-Irsyad.

Majalah ini beralamat di Passer Baru Oost (jln Pasar Baru Timur) Weltevreden, Batavia. Penyandang dana ‘Borobudur’ Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, dulunya tinggal di gedung megah, yang kini jadi Museum Tekstil, jln Jati Petamburan, Jakarta Pusat. Sayid Abdullah yang menyekolahkan putra-putranya ke Turki, banyak membanntu organisasi Islam seperti SI, Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Arabithah, guna mengimbangi sekolah-sekolah Belanda (Van der Mueller – Museum Nasional).

Seperti juga Rabithah Alawiyah, Al-Irsyad juga banyak menerbitkan majalah berbahasa Arab. Sementara, seperti dituturkan Edrus Mashur, cicit mingguan Hadramaut, media ini bukan saja beredar diIndonesia, tapi juga ke Timur Tengah, Turki, dan Singapura. Maklum, kala itu masyarakat banyak yang dapat menguasai bahasa Arab.

Media cetak berbahasa Arab, yang dulu jumlahnya puluhan, kini tidak satu pun yang tinggal. Kecuali Majalah Alo Indonesia milikProf. Dr. Nabilah Lubis yang sekarang terletak di Ciputat. Sementara di Jakarta dewasa ini terbit tiga surat kabar berbahasa Cina. Dua koran Cina lainnya terbit di Surabaya dan Pontianak. Sementara sebuah televisi swasta secara tetap tiap hari menyiarkan berita-berita dalam bahasa Mandarin.

Sumber: Shahab, Alwi. Maria van Engels Menantu Habib Kwitang. Jakarta: Penerbit Republika, 2006.

Maria van Engels

Posted by admin - 4 April 2013 - Sejarah
3
Maria van Engels

Noordwijk (jln juanda) dan Rijswijk (jln veteran, diapit Ciliwung, merupakan kawasan elit Eropa. Di sini terdapat istana, toko-toko penjual produk dan busana Eropa.Ada sejumlah hotel, teater, klab malam, dan tempat hiburan lainnya. Semua dengan ciri-ciri Eropa modern. Lebih-lebih saat Raffles (1811-1816), letnan jenderal Inggris, menjadikannya kawasan warga Eropa. Berdekatan dengan Noordwijk terletak jln Pecenongan, Jakarta Pusat, yang juga banyak dihuni warga Eropa. Diantaranya, keluarga Engels, warga Belanda.

Van Engels beristri gadis Wonosobo, Jawa Tengah, saat dia bekerja di onderneming (perkebunan) teh di kaki Gunung Dieng. Mungkin untuk mencari peruntungan yang lebih baik, keluarga van Engels penganut Katolik kemudian hijrah ke Batavia. Ia pun dapat tugas turut membangun jalan kereta api dari Batavia ke Jawa Timur. Dia punya dua orang gadis, Maria dan Lies van Engels. Sebagai gadis Indo Belanda, Maria berkulit putih, cantik dan tinggi semampai. Dia bekerja di toko penjahit di Noordwijk.

Di dekat Pecenongan, terletak Gang Abu, yang banyak dihuni keturunan Arab, saat Belanda membolehkan mereka tinggal di luar Kampung Arab, Pekojan, Jakarta Kota. Seorang habib, Abdurahman Alhabsyi, putra sulung Habib Ali pendiri majelis taklim Kwitang, Jakarta Pusat, sering mendatangi kawan-kawannya di Gang Abu, melewati tempat Maria van Engels bekerja. Habib Ali, ayah Habib Abdurahman lahir 1867, meninggal 1968 dalam usia 102 tahun.

Diperkirakan, saat pertemuan antara pemuda keturunan Arab dengan gadis Indo itu terjadi sekitar akhir 1880-an. Hampir tiap hari Habib Abdurahman menyambangi tempat Maria bekerja. Mula-mula memang dicuekin. Tapi berkat kegigihan sang habib, akhirnya kedua remaja berlainan agama itu saling terpikat. Maria pun terlebih dulu menyatakan setuju menjadi Muslimah dan mengganti nama jadi Mariam. Bahkan, ibunya yang biasa disebut ‘Encang’, ikut bersama anak gadisnya. Konon, menjelang pernikahan mereka di kediaman Habib Ali Kwitang (kini jadi majelis taklim), tersiar isu serombongan tentara Belanda siap mendatangi kampung Kwitang untuk menggagalkannya.

Namun, rupanya jamaah Kwitang tak kalah gesit. Sejumlah jagoan dan jawaranya, seperti Haji Sairin, Haji Saleh, dan banyak lagi, bersiap menyambut kedatangan mereka. Mereka nongkrong di Warung Andil, perempatan Jalan Kramat II (dulu gang Adjudant) dan Kembang I. Bersenjatakan golok sambil berkorodong kain sarung, mereka siap menyambut kedatangan soldadoe Belanda yang akhirnya urung datang.

Setelah pernikahan secara Islam, Mariam jadi menantu kesayangan Habib Ali dan tinggal di samping rumah mertuanya. Ia cepat dapat bergaul dan berpartisipasi dengan masyarakat sekitar. Orang-orang kampung Kwitang menyebutnya ‘Wan Enon’ atau ‘Ibu Enon’. Sedang cucu-cucunya memanggil ‘Jidah Non’. Jidah adalah sebutan nenek dalam bahasa Arab.

Setelah berkeluarga, Jidah Non oleh suaminya diminta kesediannya untuk tidak keluar rumah selama dua tahun. Dengan maksud melatih dan mendidik sang mualaf ajaran Islam. Sejak saat itu dia tidak pernah melepaskan busana Muslim. Memakai kain dan kebaya, serta berkerudung, dan hampir tidak pernah melepaskan tasbih. Sampai akhir hayatnya dia pun berusaha untuk tidak menemui orang yang bukan muhrim. Sedang ibunya yang juga tinggal bersama menantunya, menjadi seorang ibu saleha. Bahkan ia diberangkatkan ke tanah suci.

Setelah Habib Abdurahman wafat 1940, Jidah Non tetap menjalankan kehidupannya dengan penuh takwa. Untuk membantu keluarga – yang sebagian sudah menikah – dia berdagang jamu. Mulai jamu beranak sampai jamu nafsu makan. Dia memiliki keahlian dalam pengobatan herbal dan memiliki sebuah buku tentang pengobatan dan obat-obatan tradisional dalam bahasan Belanda. Dia juga berjiwa sosial. Sering memberikan pertolongan bila yang sakit orang tidak berpunya, dan memberikan jamu secara gratis. Sayangnya setelah almarhum wafat awal 1961, buku yang sangat berharga itu raib begitu saja.

Sekalipun berbeda agama, tapi hubungan dengan adiknya Lies van Engels, tetap mesra. Kalau mereka bertemu saling mencium pipi. Kala itu, Tante Lies, demikian kami memanggilnya, sudah tinggal di Eijkmanlaan (kini jln Kimia), bersebelahan dengan RSUP Ciptomangunkusumo. Kala itu RSUP bernama CBZ (Central Bergelijk Ziekenin Rachting), berdiri 1919. Pada 1957, hubungan Indonesia– Belanda putus akibat soal Irian Barat (Papua). Sementara Bung Karno menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, sambil menyerukan pada pekerjanya untuk mengambil alih.

Tante Lies pun pulang ke Nederland bersama puterinya dan tinggal di Wesp, deka tAmsterdam. Salah seorang cucunya kawin dengan pemain sepakbola Belanda, Ajax Amsterdam. Selang beberapa tahun, satu dari keponakannya beserta suami dan keluarganya, berimigran ke Houston,AS.

Ketika salah salah satu misan saya pada 1990 berkunjung ke AS, keluarga mereka menanyakan putera dan puteri Jidah Non. Tapi sudah tidak bisa lagi berbahasa Indonesia. Dia menyatakan seorang puterinya kawin dengan pemuda Mesir dan masuk Islam.

Pada suatu malam tahun 1961, Jidah Non yang sedang sakit menginginkan semua keluarga berada di dekatnya. Dan ketika meninggal dunia, kami kirimkan kawat pada adiknya di Holland. Jenazahnya dibaringkan di dekat kamar mertuanya, Habib Ali. Sejumlah ulama terkemuka Jakarta, seperti KH Abdullah Syafie, KH Tohir Rohili, KH Nur Ali, hadir diantara ribuan pelayat.

Sumber:

Shahab, Alwi. Maria van Engels Menantu Habib Kwitang.Jakarta: Penerbit Republika, 2006

AWSOM Powered