Archive: Mei, 2013

Makanan Sebagai Cerminan Hati

Posted by admin - 30 Mei 2013 - Aqidah
2
Makanan

Sesungguhnya barang siapa makanannya halal, anggota tubuhnya taat, meskipun dirinya enggan untuk berbuat taat. Dan barang siapa makanannya haram, anggota tubuhnya maksiat, meskipun ia enggan untuk melakukan maksiat.

Kita telah membicarakan ihwal menjaga hati. Hati merupakan tempat pandangan Tuhan dan lan­das­an dalam perjalanan menuju Allah SWT. Pada pelajaran sebelumnya kita juga telah berbicara tentang menjaga hati dari segala sesuatu yang dapat ma­suk ke dalam hati dan dapat mengotori serta men­cemarinya. Setelah berupaya men­jaganya, selanjutnya kita berusaha mem­bersihkannya, agar hati kita siap untuk menerima limpahan nur Allah SWT.

Pada kesempatan yang lalu kita su­dah bertekad untuk memelihara pan­dang­an mata kita. Karena semua indra kita, yakni pendengaran, penglihatan, dan ucapan, merupakan jendela-jendela hati yang terbuka. Hati kita tidak akan mung­kin dapat dibersihkan kecuali bila jendela-jendela itu dijaga dan dipelihara dengan baik sebagaimana mestinya.

Selain itu, kita pun akan membicara­kan perihal jendela-jendela lain bagi hati. Yakni sisi maknawi yang dapat mempe­ngaruhi hati. Namun sebelum itu, pada pelajaran kali ini kita akan melanjutkan ter­lebih dahulu pembahasan tentang jen­dela lahir hati yang lainnya, yaitu pende­ngaran dan ucapan, yakni telinga dan mulut.

Telinga dan mulut saling bersekutu. Keduanya saling berkaitan dengan apa yang engkau katakan dan apa yang eng­kau dengar. Apa yang haram engkau kata­kan, haram pula engkau dengarkan. Haram engkau bertutur dusta dan haram pula engkau mendengarkan kedustaan. Jangan engkau terima kedustaan.

Ghibah, Dusta, dan Namimah

Tahukah apa itu ghibah? Ghibah ada­lah menyebut sesuatu yang tidak disukai tentang orang yang dibicarakan itu mes­kipun itu benar.

Adapun dusta, itu lebih berat daripada ghibah.

Bila engkau melakukan ghibah, se­olah-olah engkau memakan daging sau­daramu yang sudah mati, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an. Tentu tidak seorang pun orang-orang yang beriman mau melakukan ini.

Jadi, katakanlah, “Aku tidak akan men­dengarkan ghibah.”

Setiap orang yang mendengarkan ghi­bah, ia menjadi sekutu bagi orang yang berghibah. Ia menjadi bagian dari ghi­bah tersebut, dan sebab itu dapat menyebabkan hati menjadi gelap.

Pengaruh kegelapan ghibah terhadap hati di antaranya ia akan melahirkan ke­bencian, memandang rendah orang lain, dan berburuk sangka terhadap orang lain.

Apa itu namimah? Namimah adalah menyampaikan berita dengan tujuan un­tuk menebar fitnah, menimbulkan permu­suhan antara orang yang mendengarkan itu dan orang yang disebutkan.

Namimah tidak patut kita terima. Kita tidak patut menerima namimah dari orang yang menyampaikannya dan kita pun tidak patut untuk menyebarkannya.

Karenanya, kita jaga hati kita dari ke­gelapan namimah. Mengapa? Sebab ke­gelapan namimah melahirkan dengki dan kebencian, yang akan mengotori hati.

Hatimu sungguh agung dan bernilai tinggi di sisi Allah SWT. Allah tidak ridha bila hatimu menjadi tempat sampah, tempat manusia melemparkan kotoran-kotoran percakapan mereka, atau dunia memenuhinya dengan kotoran-kotoran manusia. Jagalah telingamu dari mende­ngar perkataan dusta, ghibah, dan nami­mah.

Hanya yang Halal

Wahai murid yang merindukan perja­lanan menuju Allah, janganlah engkau relakan dirimu untuk mengambil sesuap makanan haram ke dalam lambungmu. Sungguh padanya itu ada pengaruh lang­sung antara apa yang engkau makan dan keadaan hatimu.

Sesungguhnya barang siapa makan­annya halal, anggota tubuhnya taat, mes­kipun dirinya enggan untuk berbuat taat. Dan barang siapa makanannya haram, anggota tubuhnya maksiat, meskipun ia enggan untuk melakukan maksiat.

Pada saat seorang murid yang salik me­nuju Allah SWT mau menyantap se­suatu yang haram, memakan riba, pasti­lah ia pun mau memakan risywah (sogok­an), padahal Allah melaknat orang yang berbuat suap dan melaknat pula orang me­nerima disuap, memakan harta hasil tipuan atau curian, dan  memakan harta yang diambil dengan jalan yang zhalim.

Engkau tahu, misalnya, engkau tidak berhak mendapatkan promosi kenaikan pangkat, yang berhak untuk menerima­nya adalah rekanmu. Namun engkau me­nyalahi prosedur yang sewajarnya agar promosi itu jatuh kepadamu dan selanjut­nya engkau mendapatkannya. Ketahui­lah, harta yang engkau dapatkan dari ke­naikan jabatan semacam ini adalah ha­ram dan harta yang haram akan menye­babkan gelapnya hati. Janganlah engkau makan kecuali dari harta yang halal. Ka­rena, seperti apa yang engkau makan, akan seperti itu pulalah yang akan eng­kau perbuat.

Seorang yang salik menuju Allah akan senantiasa menjaga sifat wara‘, yakni sifat hati-hati dalam segala hal yang di­landasi rasa takut kepada Allah SWT, dalam setiap suapan yang dimakannya. Ia hanya mencari makanan yang halal untuk dimasukkan ke dalam lambungnya.

Apa yang membuat seseorang berse­dia  makan sesuatu yang haram, menge­nakan pakaian yang haram, berteduh di dalam rumah yang dibangun dari harta yang haram, atau menaiki kendaraan yang dibeli dari hasil yang haram? Se­bab­nya adalah karena hatinya dikuasai sifat tamak.

Jangan pernah membiarkan sesuatu yang haram masuk ke dalam lambung­mu, lambung istrimu, dan lambung anak-anakmu.

Mintalah Fatwa kepada Hatimu

Adaungkapan yang mengatakan, “Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun manusia memberimu fatwa untukmu.”

Terkadang seseorang memahami makna sebaliknya dari ungkapan ini.

Dia bertanya kepada seorang mufti lalu dijawab, “Ini haram, engkau tidak boleh mengambilnya.”

Lalu dia bertanya dalam dirinya, “Ba­gaimana perasaan hatiku dengan fatwa ini?

Oh, fulan yang lain, yang lebih kaya, yang tentunya lebih banyak memberi manfaat dari fulan pertama, yang mem­beri fatwa haram, dengan meyakinkan berfatwa, ‘Boleh.’

Ternyata hati ini merasa tenang ter­hadap fatwa fulan yang kedua ini.”

Bukan. Bukan seperti itu makna ung­kapan, “Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun manusia memberi fatwa untuk­mu.”

Tahukah engkau bagaimana menem­patkan ungkapan ini? Menempatkannya adalah dengan sifat wara‘. Yakni, meski­pun ada seseorang yang telah menfat­wakan halal, mintalah fatwa kepada hati­mu setelah itu. Jika engkau mendapatkan rasa berat dan takut dalam hatimu untuk melakukannya karena khawatir perkara itu bercampur dengan yang haram atau yang syubhat, di sinilah engkau mengikuti kata hati. Mengikuti hati untuk menolak melakukannya, dan bukan justru untuk tampil memenuhi keinginan hawa nafsu.

Maka, untuk dapat menjaga hatimu, engkau sangat perlu memelihara jendela yang satu ini. Yakni jendela tempat ma­suknya suapan makanan untuk tubuh kita.

Bersungguh-sungguh Mencari Rizqi

Terdapat banyak hadits dan khabar yang menganjurkan kita untuk bersung­guh-sungguh mencari rizqi, yang halal ten­tunya.

Rasulullah SAW mengkhabarkan, ba­rang siapa tidur di malam hari dalam ke­adaan letih karena berusaha (di siang hari), ia tidur dalam keadaan dihapuskan dosanya. Dikhabarkan juga, hamba yang keluar untuk mencari rizqi yang halal, ia akan diberi pahala pada setiap keringat yang menetes dari tubuhnya.

Nabi SAW juga mengkhabarkan, “Ba­rang siapa keluar untuk mencari rizqi yang halal, ia termasuk ke dalam golong­an orang-orang yang berjihad di jalan Allah.” Juga dikhabarkan, “Seorang ham­ba yang keluar mencari rizqi yang halal dan meninggalkan yang haram, derajat­nya akan meningkat kepada derajat para siddiqin.” Dalam satu atsar disebutkan, “Meninggalkan satu dirham yang syubhat lebih dicintai di sisi Allah SWT dibanding menginfakkan seratus ribu dirham di jalan Allah.”

Menginfakkan Harta

Jika kita menginfakkan harta, harta yang kita infakkan itu pun harus harta yang diperoleh dengan jalan yang halal. Memberikan ratusan ribu dirham kepada orang-orang fakir, namun uang itu diper­oleh dengan jalan yang tidak diridhai Allah, jangan engkau lakukan itu. Jangan engkau berikan uang itu kepada orang-orang miskin dan orang-orang fakir. Ja­ngan mengambil harta yang haram untuk engkau berikan kepada para fakir miskin. Sesungguhnya mereka memiliki Tuhan, Yang Maha Pemberi Rizqi.

Allah memberimu rizqi untuk berbagi ke­pada para fakir miskin agar engkau men­­jadi hamba yang memiliki derajat yang tinggi bukan karena Allah lemah dari memberi mereka rizqi. Mahasuci Allah dari semua itu. Allah memerintahkanmu untuk berbagi dengan orang-orang yang fakir agar naik derajatmu di sisi-Nya. Dan tidaklah mungkin hal itu dapat dicapai de­ngan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Karena itulah, peliharalah cer­min hatimu. Peliharalah jendela-jendela itu untuk hatimu.

Teks: Majalah alKisah 

Gambar: di sini

Foto: Kunjungan Duta Besar Yaman

Posted by admin - 28 Mei 2013 - Berita, Foto
3
Duta Besar Yaman (keempat dari kiri) berfoto bersama Pengurus DPP Rabithah Alawiyah

    Duta Besar Yaman, Ali Ali Alsoswa, silaturahim bersama pengurus Rabithah Alawiyah di DPP Rabithah Alawiyah di Jl. TB. Simatupang pada 25 Mei 2013.

    Prof. Muhammad Anis Dilantik sebagai Pejabat Rektor UI

    Posted by admin - 18 Mei 2013 - Berita
    0
    Upacara Serah Terima Jabatan Rektor

    Universitas Indonesia (UI) melaksanakan Upacara Serah Terima Jabatan dari Pejabat Sementara (Pjs.) Rektor UI Prof. Dr. Djoko Santoso kepada Prof. Dr.Ir. Muhammad Anis, M.Met sebagai Pejabat (Pj.) Rektor UI di Balai Kirti – Gedung Pusat Administrasi Universitas kampus UI Depok pada Jumat (17/5). Upacara dihadiri Ketua MWA UI Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj beserta Anggota MWA UI dan para Dekan Fakultas.

    Berdasarkan Surat Keputusan MWA No.003/SK/MWA-UI/2013, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met (sebelumnya menjabat sebagai Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan dan Plh.Rektor) ditetapkan sebagai Pejabat Rektor UI yang bertugas sampai terpilihnya Rektor UI definitif. Pj.Rektor UI melaksanakan tugas dengan kewenangan penuh, fungsi serta tanggung jawab sebagaimana Rektor UI sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bertanggung jawab kepada Majelis Wali Amanat (MWA) UI.

    Pengangkatan Pj.Rektor UI dilakukan untuk mengisi kekosongan jabatan Rektor UI definitif setelah berakhirnya masa kepimpinan Rektor. Keputusan pengangkatan Pj.Rektor didukung dengan beberapa kondisi diantaranya pengangkatan telah sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) UI pasal 40 yang menyebutkan jika Rektor UI berhalangan tetap, maka SAU (Senat Akademik Universitas) dapat mengusulkan kepada MWA untuk
    mengangkat Wakil Rektor menjadi Pj.Rektor UI.

    Dalam dinamika kepimpinan, UI telah memiliki tiga Pj.Rektor dikarenakan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu seperti mangkatnya Rektor yang sedang menjabat serta peralihan PTN menjadi BHMN. Para Pj. Rektor UI tersebut adalah (alm) Prof. dr. R. Slamet Iman Santoso (1973-1974), (alm) Prof. dr. W.A.F.J. Tumbelaka (1985-1986) dan Prof. dr. Usman Chatib Warsa (2001-2002).

    Masa jabatan Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc sebagai Pjs.Rektor UI telah berjalan lebih dari enam bulan sejak pelantikan yang dilakukan pada 14 Agustus 2012 menggantikan Prof. Gumilar Rusliwa Somantri yang telah berakhir masa jabatannya sebagai Rektor UI. Prof. Djoko telah berperan aktif dengan sangat baik dalam menjalankan tugasnya sehingga tercapai suasana akademis yang kondusif di lingkungan UI.

    Pergantian pimpinan merupakan cerminan proses dinamis dari seluruh komponen atau organ yang ada di lingkungan UI. Diharapkan dengan pengangkatan Pj.Rektor UI mampu meningkatkan semangat sivitas akademika UI serta serta mampu menyelesaikan berbagai tantangan menuju terwujudnya UI sebagai World Class University.

    Berjamaah Dalam Muamalah

    Posted by admin - 10 Mei 2013 - Aqidah
    0
    Sholat Berjamaah

    Salah satu perintah utama ajaran Islam pada umatnya adalah agar membiasakan berjamaah dalam segala aktivitas kebaikan.

    Baik aktivitas yang berkaitan dengan ibadah mahdhah kepada Allah SWT maupun ibadah yang terkait dengan pembangunan kesejahteraan masyarakat dan bangsa, serta umat manusia secara luas (muamalah).

    “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS al-Baqarah [2]: 43). “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS al-Maidah [5]: 2).

    Shalat berjamaah di masjid sebagai contoh, selain pahalanya lebih besar 27 kali lipat dibanding shalat sendirian, juga akan membangun silaturahim dan ukhuwah Islamiyah antara sesama orang yang shalat.

    Akhirnya, diharapkan akan menguatkan kesatuan dan persatuan. Bahkan, pada zaman Rasulullah, shalat berjamaah dijadikan sebagai medium kontrol terhadap perilaku dan keadaan sahabat-sahabat beliau.

    Apabila beliau selesai mengimami shalat Subuh, beliau memalingkan tubuh dan wajahnya ke arah jamaah sambil menanyakan apakah sahabatnya lengkap hadir atau tidak.

    Jika ada yang tidak hadir, ditelusurinya mengapa sampai tidak hadir. Yang sangat mengesankan, berjamaah ibadah di zaman Rasulullah dan para sahabat melahirkan semangat berjamaah dalam bidang muamalah.

    Misalnya, bidang ekonomi, politik, kepemimpinan, dan pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan. Jamaah masjid pada saat itu menjadi jamaah dalam bidang ekonomi.

    Para jamaah akan membeli keperluan hidupnya hanya pada kios dagangan yang dimiliki oleh sesama jamaah. Akibatnya, perdagangan dan ekonomi umat berjalan secara baik dengan berbasiskan jamaah masjid.

    Artinya, berbasiskan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, amanah, dan kejujuran, serta tidak ada khianat dan terjadi penipuan.

    Terkenallah ucapan beliau, seperti dikemukakan dalam hadis sahih, “Nahnu qoumun, laa na’kulu illaa tho’aama taqiyyin, walaa ya’kulu tho’aamanaa illaa taqiyyun” (Kami adalah kaum yang tidak pernah mengonsumsi, kecuali dari makanan orang takwa, dan tidak mengonsumsi makanan kita, kecuali orang yang bertakwa). Oleh sebab itu, jelas terdapat garis ketakwaan yang menghubungkan antara produsen dan konsumen.

    Seyogyanya, jamaah masjid sekarang pun menjadi jamaah ekonomi umat. Tidak akan pernah jamaah bertransaksi pada perbankan, kecuali perbankan syariah atau lembaga keuangan syariah lainnya, seperti asuransi syariah atau pegadaian syariah.

    Tidak akan pernah jamaah mengonsumsi makanan, kecuali makanan yang bersih dan halal yang diproduksi oleh sesama kaum muslimin.

    Hubungan antarjamaah kaum Muslimin selain dibangun atas dasar kesamaan akidah dan ibadah, juga kesamaan dalam bidang muamalah.

    Dan, jika ini yang terjadi, akan lahir kekuatan umat yang mampu berkontribusi di dalam pembangunan bangsa secara lebih luas. Karena itu, mari kita kuatkan berjamaah dalam ibadah dan dalam bidang muamalah.

    REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: KH Didin Hafidhuddin

    Sumber: di sini 

    Foto: Temu Akrab Bersama Pilot Alawiyin

    Posted by admin - 2 Mei 2013 - Berita, Foto
    2
    Temu Akrab bersama Pilot

    Ahad, 28 April 2013 HIPPA –Indonesia bersama Rabithah Alawiyah mengadakan acara Temu Akrab Bersama Pilot Alawiyin di Gedung Rabithah Alawiyah Lt. 4. Acara ini diadakan sebagai motivasi untuk para kaum muda yang ingin menjadi pilot terutama pilot maskapai komersil. Dalam pertemuan ini para pilot senior menjelaskan tahapan-tahapan bila ingin berprofesi sebagai pilot, sekolah-sekolah pilot di Indonesia dan syarat pilot yang diterapkan untuk menjadi pilot serta berbagai keuntungan yang bisa didapat sebagai pilot.

    Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Sayid Zen Umar Smith, Ketua Umum HIPPA –Indonesia, Sayid Achmad Umar Mulachela, Kapten Ali Ridho Shahab (Pilot Maskapai Citilink) dan beberapa pilot senior serta siswa yang saat ini sedang menjalani studi di sekolah penerbangan.

      AWSOM Powered