Archive: Juni, 2013

Rajab dan Sya’ban Pintu Gerbang Ramadhan

Posted by admin - 19 Juni 2013 - Aqidah
7
Ustadz Ali Hasan Albahar

Oleh: Ustadz Ali Hasan Albahar

 

“wahai anak Adam..Hari adalah Tamu yang datang kepadamu, Jamulah dia dengan sebaik-baiknya,karena Dia akan pergi dengan memujimu atau mencelamu” 

Rajab secara bahasa berasal dari ro jim ba رجب  berarti :terhormat.wibawa.malu.takut (lihat Taj al-’Aruus, Alzabidi)

Rojab (di baca Rajab) salah satu bulan Qomariyyah dinamakan dengan nama tersebut dikarenakan bangsa Arab pada masa pra-Islam menghormatinya, sehingga mereka tidak membolehkan terjadinya perang di bulan itu, bahkan apa bila salah seorang dari mereka yang ayahnya terbunuh lalu dia bertemu dengan pembunuh ayahnya di bulan Rajab, maka dia tidak akan menyentuh pembunuh tersebut untuk membalas dendam, mereka juga melakukan penyembelihan khusus di bulan Rajab yang mereka sebut  Al-’atiirah atau Rajabiyyah .karena begitu istemewanya Rajab di mata mereka  sehingga Rajab juga memiliki banyak julukan atau gelar sampai lebih dari 16 gelar (lihat Lathoif al-Ma’aarif), diantaranya  رجب الأصمّ   Rajab yang Tuli/sunyi   لأنهم لا يسمعون فيه قعقعة الأسنة   karena mereka tidak mendengar di bulan tersebut suara dentingan pedang. Salah satu suku bangsa Arab yang paling menghormati bulan Rajab adalah suku Mudhor; sehingga dalam salah satu haditsnya Nabi mengatakan  رجب مضر بين جمادى و شعبان  (Rajab Mudhor antara bulan Jumada (jumadil) dan Sya’ban) ,karena memang ada salah satu suku bangsa Arab yg menyebut bulan Rajab tetapi yang mereka maksud bukan Rajab antara Sya’ban dan Ramadhan akan tetapi yang mereka maksud adalah Ramadhan;suku tersebut adalah suku Robi’ah,sehingga di sebut Rajab Rabi’ah;akan tetapi hitungan suku rabi’ah ini tidak diadopsi oleh Islam dan diyakini itu termasuk dari praktik (Nasii’, lihat Quran 9: 37) merubah-rubah masuk keluarnya bulan untuk kepentingan tertentu seperti perang dan lain-lain.

Rajab adalah salah satu bulan Haram

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan,dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,diantaranya empat bulan haram.itulah ketetapan agama yang lurus,maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya,dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa(Q 9:36)

 dalam Haditsnya Nabi saw  beliau menjelaskan tentang bulan-bulan Haram”tiga berurutan:Dzulqaidah .Dzulhijjah. Muharram dan satu diantara Jumada dan Sya’ban yaitu Rajab”(shohih Muslim). Empat bulan Haram (yang berarti bulan terhormat, tidak boleh ada peperangan di dalamnya tidak boleh ada pertumpahan darah) sebagaimana tersebut; memang hal ini termasuk warisan budaya bangsa Arab sebelum Islam yang diadopsi oleh Ajaran Islam dikarenakan banyak manfaat yang bisa diambil dari Budaya tersebut dalam informasi yang disebut oleh ibnu Katsir bahwa menjadikan bulan-bulan Haram adalah 4 bulan tersebut adalah budaya mayoritas bangsa Arab; meskipun ada sebagian kecil dari mereka yang menjadikan bulan haram menjadi 8 bulan mereka dikenal dengan ‘Albasl’ ,namun yang dipilih hanya yang 4 bulan, boleh jadi dikarenakan agama Islam adalah agama yang berkarakter Moderasi tidak berlebihan sehingga tidak terlalu membebankan penganutnya dengan yang akan memberatkannya.

Kiranya ada yang layak untuk digaris bawahi dari ayat di atas yaitu :

a-“ diantaranya empat bulan haram ”

yang berarti bulan yang memiliki keistimewaan,karena arti bulan haram adalah bulan terhormat,masjid haram artinya masjid suci (terhormat) Mekkah adalah tanah haram (suci,terhormat) di tempat-tempat haram tersebut ada aturan tersendiri begitu juga di bulan-bulan haram.

b-“ maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu ”

kesan yang dapat diambil dari pesan tersebut adalah  ada penekanan pesan khusus di bulan-bulan tersebut dengan tidak mendzolimi diri; sehingga ada sebagian pendapat yang meyakini bahwa amal baik dan buruk di bulan-bulan tersebut dilipat gandakan (lihat Tafsir al-Qurthubi)

menangkap sinyal  tersebut diatas; banyak Ulama yang menekankan untuk meningkatakan amal –amal baik pada bulan-bulan haram, sesuai dengan yang tersurat dari hadits Nabi yang mana kelompok ini  sering diwakili oleh para Ahli hadits atau yang tersirat sebagaimana sering kelompok ini diwakili oleh Ahli Fiqih plus Tasawwuf (lihat Nuzhatul majalis).

Rajab bulan Isro Mikroj.

Sebagaimana telah populer peristiwa Isro  Mikroj terjadi di bulan Rajab sebelum Hijrah nabi ke Madinah (lihat Siroh Halabiyyah), perjalanan spektakular  menembus cakrawala Ruang (isro:diperjalankan malam hari dari :Masjid Alharam-MasjidAalaqsho. Mi’roj perjalanan ke angkasa: Masjid Alaqsho -langit 1-7 dan Sidrotul muntaha) dan waktu (hanya sebagian malam)  yang akhirnya membuahkan karunia “Hadiah” yang sangat agung “Sholat”  sebagai sarana membuat Dekat para Hamba secara khusus dengan Tuhannya..sholat  tanda Cinta Allah kepada hambanya..sehingga sang hamba tidak akan jauh dariNya ..sholat yang akan menjaga Hamba dari semua perbuatan keji dan mungkar..sholat “Mikraj setiap mu’min” (lihat Kitab Al-Isro wal Mikroj, Ratib Nabulsi) dan sholat adalah “Tiang Agama “ sehingga bulan Rajab mendapatkan tambahan keistimewaan dengan peristiwa Isro Mikroj dan di turunkannya kewajiban Sholat lima waktu.

Bulan Sya’ban

Sya’ban secara bahasa berasal dari   Syin A’in  Ba yang berarti kumpul dan bercerai,menyebar ,memperbaiki ,merusak (lihat Maqoyis Lughoh dan Taj al-’Aruus )sebagian pakar bahasa menganggapnya termasuk kata yang memiliki  arti berlawanan yang dikenal dalam tatabahasa Arab أضداد  seperti dlm Hadits   شعب صغير من شعب كبير أي صلاح قليل من فساد كبير    “ Kebaikan sedikit dari kehancuran yang besar “ kata  شعب    yang pertama berarti Kebaikan sedangkan kata  شعب  yang kedua berarti Kerusakan. Bulan Sya’ban adalah bulan qomariyyah antara Rajab dan Ramadhan. Asal mula  dinamakan dgn Sya’ban yang berarti :menyebar /bercerai karena pada masa sebelum islam biasanya  dibulan tersebut mereka bercerai /menyebar untuk mencari Air ,namun pandangan sebagian pakar sejarah  menyatakan untuk menyerang Musuh,pada sisi lain pakar bahasa menyatakan dinamakan Sya’ban karena dia Tampak diantara dua bulan Rajab dan Ramadhan sebagaimana Cabang jalan Ketika dia berpisah, begitu juga ranting pohon akan bercerai ketika bercabang.(lihat Taj Al-’Aruus Alzabidi)

Karena dekatnya bulan ini dengan bulan Rajab sehingga dalam literature bahasa Arab dikatakan apa bila disebut  رجبين Rajabain (dua rajab) maka yang dimaksud adalah dua bulan: rajab dan Sya’ban penyebutan semacam ini dikenal dalam tatabahasa Arab dgn istilah (Taghlib).

Meskipun bulan Sya’ban bukan termasuk bulan haram; namun dikarenakan sebelumnya ada bulan Rajab dan setelahnya ada bulan Ramadhan ;maka Sya’ban mendapatkan bagian dari dua bulan istimewa tersebut.

Didalam Islam Bulan Sya’ban  pernah menjadi wadah beberapa peristiwa penting (lihat Sya’ban Madza Fiihi sayyid al-Maliki) diantaranya :

  1. Pengalihan Qiblat dari masjidil Aqsha ke masjidil haram.banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari Arti Qiblat dgn menghadap ke Arah Masjid Alharam yang berada di Mekkah(lihat Tafsir almishbah)
  2. Turunnya Ayat perintah shalawat kepada Nabi Muhammad(surat Alahzab Ayat 56)Perintah yang Allah swt lebih dahulu” melaksanakannya” kemudian  oleh Para malaikatNya lalu di panggillah orang-orang yang beriman dgn panggilan mesra untuk bersholawat dan mengucapkan salam kepada nabi saw

Pada bulan Sya’ban Nabi saw banyak sekali mengisi hari-harinya dengan berpuasa,sebagian sahabat bertanya kepada Nabi;aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di satu bulan sebanyak puasaMu di bulan Sya’ban? Nabi menjawab: Sya’ban bulan antara Rajab dan Ramadhan ,bulan yang banyak manusia lalai akan bulan tersebut ,dan dia adalah bulan yang padanya diangkat Amal kepada Tuhan pengatur alam raya dan Aku senang ketika amalku diangkat; sedangkan Aku dalam keadaan berpuasa.(Abu dawud,Nasai,Ibnu khuzaimah)

Nisfu Sya’ban

Nishfu yang berarti  separoh/ pertengahan, pertengahan bulan Sya’ban memiliki keistimewaan sendiri sebagaimana yang disebut dalam beberapa hadits ,meskipun  derajatnya tergolong lemah, namun dapat dikuatkan dengan hadits-hadits lain yang terkait sesuai metode yang dikenal oleh para pakar hadits (lihat Husnulbayan Algumari).

bukanlah suatu hal yang  baru memberikan perhatian khusus terhadap malam Nisfu Sya’ban, pada masa lalu sebagian Tabi’in mengagungkan malam tersebut dengan mengisinya dengan bersungguh-sunguh dalam ibadah, ada juga yang sengaja mengenakan pakaian yang terbagus untuk mengisi malam tersebut dgn ibadah (lihat Husnul Bayan).kalau diperhatikan secara seksama tidak sulit untuk bisa memahami mengapa ada perlakuan sedikit istimewa terhadap malam Nisfu Sya’ban, dikarenakan pertengahan/ Nisfu Sya’ban sudah dekat sekali dengan bulan Ramadhan,sehingga apa yang dilakukan pada malam tersebut salah satu bentuk kesadaran akan dekatnya bulan Ramadhan, sehingga dilakukanlah aneka aktifitas untuk persiapan kedatangannya. Bukankah untuk tamu yang mulia kita sering  dan berusaha tidak lupa mempersiapkan  jauh hari sebelum kedatangannya?

Rajab dan Sya’ban patut kiranya apabila dikatakan  sebagai pintu gerbang Bulan Ramadhan,karena dua bulan tersebut yang mendahuluinya..di pintu gerbang biasanya kita sudah siap untuk memasuki Istana.

Semoga Allah menurunkan keberkahan kepada kita sepanjang bulan Rajab dan  bulan Sya’ban dan menyampaikan kita ke bulan Ramadhan (sebagian ulama menambah doa tersebut dengan tambahan redaksi: dan jadikan kami termasuk orang-orang  yang akan mengisinya  dgn berpuasa dan sholat malam)

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (Q 25:62)

Marhaban Ya Ramadhan

Sumpah Pemuda Arab

Posted by admin - 11 Juni 2013 - Sejarah
5
Sumpah Pemuda Arab

Sumpah Pemuda Keturunan Arab adalah sumpah yang dilakukan oleh pemuda-pemuda peranakan Arab di Nusantara yang dilakukan pada tahun 1934. Pada tanggal 4-5 Oktober 1934, para pemuda keturunan Arab di Nusantara melakukan kongres di Semarang. Dalam kongres ini mereka bersepakat untuk mengakui Indonesia sebagai tanah air mereka, karena sebelumnya kalangan keturunan Arab berangapan bahwa tanah air mereka adalah negeri-negeri Arab dan senantiasa berorientasi ke Arab. Kongres pemuda keturunan Arab ini jarang diketahui masyarakat karena tidak diajarkan dalam mata pelajaran sejarah di Indonesia. Padahal, sumpah pemuda keturunan arab ini memiliki konsekuensi yang besar bagi diri mereka sebagai keturunan arab dan bagi dukungan perjuangan kemerdekaan di Indonesia.

Latar belakang

Pemerintah Kolonial Belanda membagi 3 strata masyarakat di Nusantara. Kelas paling atas adalah warga kulit putih (Eropa, Amerika, Jepang dll), kelas dua warga Timur Asing (Arab, India, Cina dll) dan kelas tiga adalah pribumi Indonesia. Orang-orang Arab yang hijrah ke Indonesia mayoritas berasal dari Hadramauth, Yaman Selatan. Orang-orang arab yang datang ke Nusantara itu seluruhnya laki-laki dan karena kendala jarak serta karena tradisi arab (wanita tidak ikut bepergian) maka mereka datang tanpa membawa istri atau saudara wanita. Orang-orang arab itu menikah dengan wanita pribumi. Jika orang Eropa menyebut pribumi dengan istilah inlander (bangsa kuli) keturunan Arab menyebut pribumi dengan istilah ahwal, yang artinya saudara ibu. Sebab memang seluruh keturunan Arab pasti ibunya pribumi.

Pada 1 Agustus 1934, Harian Matahari Semarang memuat tulisan AR Baswedan tentang orang-orang Arab. AR Baswedan adalah peranakan Arab asal Ampel Surabaya. Dalam artikel itu terpampang foto AR Baswedan mengenakan blangkon. Dia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku. Artikel yang berjudul “Peranakan Arab dan Totoknya” berisi anjuran tentang pengakuan Indonesia sebagai tanah air. Artikel itu juga memuat penjelasan Baswedan tentang bagaimana sikap nasionalisme yang dianjurkan pada kaumnya. Pokok-pokok pikiran itu antara lain Tanah air Arab peranakan adalah Indonesia; Kultur Arab peranakan adalah kultur Indonesia – Islam; Arab peranakan wajib bekerja untuk tanah air dan masyarakat Indonesia; Perlu didirikan organisasi politik khusus untuk Arab peranakan; Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan perselisihan dalam masyarakat Arab; Jauhi kehidupan menyendiri dan sesuaikan dengan keadaan zaman dan masyarakat Indonesia. Artikel AR Baswedan ini dipilih oleh Majalah Tempo edisi khusus Seabad kebangkitan Nasional (Mei 2008) sebagai salah satu dari 100 tulisan paling berpengaruh dalam sejarah bangsa Indonesia.

Artikel yang menggemparkan itu ditulis AR Baswedan saat dia baru berusia 26 tahun. Karena artikel itu, warga keturunan Arab sempat berang padanya karena memunculkan gagasan merendahkan diri di mata orang-orang Arab pada masa itu. Bukan hanya itu, melalui harian Matahari AR Baswedan secara rutin melontarkan pemikiran-pemikiran tentang pentingnya integrasi, persatuan orang Arab di Indonesia, untuk bersama-sama bangsa Indonesia yang lain memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia. Timbulnya ide mendirikan Partai Arab Indonesia berkaitan erat dengan pengajuan prinsip tanah air Indonesia bagi kaum peranakan Arab. Ide mendirikan Partai Arab Indonesia dengan pengakuannya tentang tanah air bagi peranakan Arab dicetuskan dan dikembangkan serta juga diperjuangkan. AR Baswedan juga aktif menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Untuk itu, AR Baswedan berkeliling ke berbagai kota untuk berpidato dan menyebarkan pandangannya pada kalangan keturunan Arab.

Konferensi Pemuda Keturunan Arab

Pada 4-5 Oktober 1934 para pemuda keturunan Arab dari berbagai kota di Nusantara berkumpul di Semarang. Pada waktu itu masyarakat Arab seluruh Indonesia gempar karena adanya Konferensi Peranakan Arab di Semarang ini. Dalam konferensi PAI di Semarang AR Baswedan pertama-tama mengajukan pertanyaan di mana tanah airnya. Para pemuda yang menghadiri kongres itu mempunyai cita-cita bahwa bangsa Arab Indonesia harus disatukan untuk kemudian berintegrasi penuh ke dalam bangsa Indonesia. Dalam konferensi itu para pemuda Indonesia keturunan Arab membuat sumpah: “Tanah Air kami satu, Indonesia. Dan keturunan Arab harus meninggalkan kehidupan yang menyendiri (isolasi)”. Sumpah ini dikenal dengan Sumpah [Pemuda] Indonesia Keturunan Arab.

Menurut AR Baswedan persatuan adalah modal utama bagi Arab peranakan untuk kemudian bersama-sama kaum pergerakan nasional bersatu melawan penjajah. Sebelumnya kongres itu seluruh keturunan Arab -biarpun mereka yang cerdas dan terkemuka- tidak ada yang mengakui Indonesia sebagai tanah airnya. Mereka berpendapat bahwa tanah airnya adalah di negeri Arab bukan Indonesia. AR Baswedan menjadi pelopor bangkitnya nasionalisme kaum Arab yang awalnya enggan mengakui Indonesia sebagai tanah air. Sejak 4 Oktober 1934 itu keturunan Arab bersatu bersama pergerakan nasional dan meninggalkan identitas ke-Araban, lalu berubah identitas dari semangat kearaban menjadi semangat keIndonesiaan.

Sebuah pengakuan yang jelas bagi keturunan Arab bahwa tanah airnya adalah Indonesia. Ketegasan ini pada awalnya banyak yang menentang. Namun perlahan seruan Kongres ini menggema. Banyak peranakan Arab yang mendukung dan mengikuti pergerakan dan gagasan ini. Gagasan sangat berjasa melahirkan kesadaran Indonesia sebagai tanah air bagi orang Arab. Peranakan Arab pada akhirnya diakui sebagai saudara setanah air. Sejarah mencatat pendirian PAI ini selanjutnya memberi efek besar bagi komunitas Arab di Indonesia. Banyak tokoh-tokohnya ikut berjuang saat itu duduk dalam pemerintahan dan aktif dalam masyarakat Indonesia. Anak dan keturunannya pada masa sekarang juga tidak sedikit yang berkiprah sebagai tokoh nasional.

Isi sumpah

Sumpah Pemuda Keturunan Arab memiliki 3 butir pernyataan yaitu:

  1. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia.
  2. Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri)
  3. Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah-air dan bangsa Indonesia.

Tokoh-tokoh

Sumpah Pemuda Keturunan Arab ini dihadiri oleh tokoh-tokoh pemuda keturunan Arab. Hasil konferensi itu adalah dibentuknya Persatuan Arab Indonesia yang kemudian menjadi Partai Arab Indonesia. Dalam konferensi itu disepakati pengurusan PAI sebagai berikut: AR Baswedan (Ketua), Nuh Alkaf (Penulis I), Salim Maskati (Penulis II), Segaf Assegaf (Bendahara), Abdurrahim Argubi (Komisaris). Tokoh PAI lainnya adalah Hamid Algadri, Ahmad Bahaswan, HMA Alatas, HA Jailani, Hasan Argubi, Hasan Bahmid, A. Bayasut, Syechan Shahab, Husin Bafagih, Ali Assegaf, Ali Basyaib, dll.

 Sumber: Wikipedia dan Alwi Shahab WordPress

AWSOM Powered