Archive: Agustus, 2013

Halal Bihalal Rabithah Alawiyah Pekalongan dan NU

Posted by admin - 30 Agustus 2013 - Berita
1
Rabithah Alawiyah Pekalongan

Sabtu malam minggu (24/8) acara Halal Bihalal dan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) k- 68 Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diselenggarakan bersama Rabithah Alawiyah Pekalongan dan N.U. telah  terlaksana. Berlangsung di Jalan Kenanga Kota Pekalongan acara tersebut dihadiri ribuan umat islam dari Pekalongan dan sekitarnya.

Hb. M. Lutfi bin Yahya selaku penggagas ide turut hadir dalam pemberian tausiah sesi akhir dari acara, turut hadir dalam acara tersebut. Hb. Abdullah Bagir b. Akhmad Alatas dan Hb. Muhammad Alatas, para sesepuh N.U. dan  pengurus N.U. serta tokoh habaib dan para kyai.

Acara di buka dengan  gending  Jawa oleh kelompok karawitan pimpinan Hb. Muhammad D. Shahab disusul dengan tarian sufi yang di bawakan oleh 3 Darwis,  serta kasidah maulid Simtud Duror yang di bawakan oleh Group Maulid Simthuddurror (GMD).

Setelah pembukaan acara, di lanjutkan dengan iring-iringan para tamu undangan yang di barengi dengan gamelan acara di susul dengan menyanyikan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” kemudian pembacaan teks Pancasila yang dipimpin oleh Hb.Shafiq Shahab,  diteruskan dengan sambutan oleh Ketua PCNU Kota Pekalongan, H. Ahmad Rofiq, BA.dan Ketua Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan.

sementara dalam pidatonya  Hb. Ahmad b. Abdulmuthalib Alatas, SE. selaku ketua umum Rabithah Alawiyah Pekalongan menyampaikan tiga hal yang harus dilaksanakan untuk menjadi hamba yang bertaqwa :

1. Menjaga hubungan silaturahmi antar sesama, saling memaafkan dan  menghormati satu dengan yang lain
2. Bersyukur kepada Allah S.W.T. serta berterima kasih kepada para pahlawan dan Syuhada yang telah   berkorban dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
3. Menjaga, memelihara dan memajukan negara Indonesia  beserta isinya  yang telah diperoleh dengan sebuah pengorbanan dan karunia Allah SWT.

Sebagai ormas keagamaan yang cukup besar, Menurut H. Ahmad Rofiq, BA. potensi NU dan Rabithah Alawiyah dapat disinergikan dalam kegiatan kegiatan yang positif baik dalam hal keagamaan maupun sosial, hal yang sama juga bisa dalam bidang ekonomi, budaya dan jika perlu dalam bidang dakwah.
Sambutan Ketua Umum Pimpinan Pusat Al Irsyad, KH Abdullah Djaidi , tentang keprihatinan akan semakin dalamnya perpecahan di tubuh umat islam karena masing-masing  berkecenderungan lebih melihat perbedaan di bandingkan persamaan.

Pada sesi berikutnya tausiah oleh Hb. Ismail Al Fajri, berlanjut , KH Akrom Sofwan, Habib Umar Muthohar .  dan ditutup  tausiyah Hb. M. Luthfy bin Yahya yang sempat berpesan akan pentingnya kepercayaan diri bangsa Indonesia akan potensi sendiri baik, hasil bumi, karya, maupun yang lain sehingga semakin membangkitkan kecintaan tanah air.

Ketua panitia pelaksana, H. Muhtarom mengatakan, kegiatan acara gabungan antara warga NU dan warga Rabithah Alawiyah secara formal memang baru kali ini dilaksanakan. Akan tetapi secara informal sesungguhnya telah berlangsung sejak lama melalui kepanitiaan bersama pada peringatan Maulidurrasul di Kanzus Sholawat
Dikatakan, kesuksesan pelaksanaan kegiatan perdana ini tidak lepas dari dukungan semua pihak, baik Pengurus Cabang NU maupun Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan, utamanya dari Habib Muhammad Luthfy yang secara terus menerus memberikan dorongan dan support agar kegiatan bersama dapat terus dilaksanakan rutin setiap tahun, ujar H Muhtarom yang juga sekretaris PCNU Kota Pekalongan (NU Online).

Kegiatan yang bernilai  ini InsyaAllah dapat menjadi tonggak untuk  persatuan dan kesatuan dan menjadi wadah  silaturrahmi umat islam, serta tekad bulat pertahanan NKRI.

Buya Hamka dan Sayyid

Posted by admin - 26 Agustus 2013 - Da'i dan Dakwah, Sejarah Islam
0
Buya Hamka

H.Rifai, seorang Indonesia Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam Bijlmermeer, Belanda pada tanggal 30 desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan, ‘Benarkah habib Ali Kwitang dan habib Tanggul keturunan Rasulallah saw.’ ?, dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.

Oleh Menteri Agama hal ini diserahkan kepada Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui Panji Masyarakat, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. Sebagian isi yang kami kutip mengenai penjelasan Prof.Dr.H. HAMKA tentang gelar Sayyid yang dimuat dalam majalah tengah bulanan“Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 sebagai berikut:

“Rasulallah saw. mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau saw. dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan,‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’.Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-HusainSyarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.

Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluargaJamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsaSayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.

Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir danFagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.

Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia , pihak Al-Irsyadyang menantang dominasi kaum Ba’alwi (Alawiyyun), menganjurkan agar yang bukan keturunan Al-Hasan dan Al-Husain memakai juga titel Sayyiddimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, dengan pimpinan A.R.Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan ‘Al-Akh’ artinya Saudara.

Selanjutnya kesimpulan dari makalah Prof.Dr.HAMKA: Baik Habib Tangguldi Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini cucu yang ke tujuh  dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”. (Demikianlah nukilan dan susunan secara bebas mengenai penjelasan Prof.Dr.HAMKA tentang gelar Sayyid).

Oleh: M. Ghazi Alaidrus

Istiqamah Ibadah Pasca-Ramadhan

Posted by admin - 20 Agustus 2013 - idul fitri, Ramadhan
0
Ibadah

Suasana hari raya Idul Fitri masih menyelimuti kita. Kebahagiaan dan kegembiraan masih lekat terasa karena setiap muslim merasakan limpahan karunia dan rahmat Allah SWT. Seandainya bukan karena kewajiban untuk masuk kerja, maka suasana tersebut masih berlangsung sebab manusia memiliki kecenderungan untuk memperpanjang masa bahagia.

Namun telah menjadi fenomena umum jika Ramadhan berlalu, maka ketaatan di dalam menjalankan ibadah dan aneka kebajikan menjadi menurun dan melemah. Jumlah jemaah shalat lima waktu dipastikan drastis menurun. Kesemarakan orang-orang dalam berinfak berkurang. Kelembutan hati dan perilaku yang memancar di bulan Ramadhan menjadi sirna.

Padahal kesemua kebiasaan baik tersebut tidak seharusnya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Idealnya kebiasaan baik Ramadhan mampu menghiasi 11 bulan lain di luar Ramadhan, karena perintah shalat berjamaah, berinfak dan berbuat kebajikan serta bersikap lemah lembut dengan sesama manusia adalah akhlak Islam sepanjang zaman. Bahkan semua perilaku kebaikan tersebut merupakan pemberian (minhah) dari Allah SWT guna merepresentasikan diri seorang muslim sebagai hamba terpilih dan contoh yang mudah bagi manusia di sekelilingnya.

Jika kita perdetail, paling tidak terdapat empat kebiasaan (habit) kebajikan yang ditinggalkan oleh madrasah ramadhan, yaitu: puasa di siang hari, shalat sunah di malam hari, membaca Al-Qur’an di sela-sela puasa dan shalat malam, serta mensegerakan diri dalam perbuatan kebajikan. Keempat kebiasaan tersebut jika mampu diistiqamahkan di luar Ramadhan, niscaya akan menjadi akhlak kaum muslim sepanjang zaman.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kalian merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30).

Mengapa istiqamah dalam beribadah pasca-Ramadhan itu penting?

Pertama, karena kelanggengan memerlukan kesungguhan, ketekunan dan kesabaran. Dan ketiga unsur tersebut merupakan profil terpuji seorang muslim. Aisyah RA berkata : “Di dalam melakukan shalat, Nabi SAW menggemari untuk menunaikannya dengan langgeng, sehingga bila kantuk menguasainya atau karena sakit hingga tidak dapat bangun malam, maka beliau melaksanakan shalat di siang hari sebanyak dua belas rakaat.” (HR. Muslim).

Kedua, keistiqamahan yang panjang akan memberikan hasil yang besar dan luar biasa, tanpa tersadari secara langsung oleh pelakunya dan keistiqamahan tersebut tetap berpahala pada saat yang bersangkutan udzur sakit atau bepergian.

Rasulullah Saw bersabda: “Jika seseorang sakit atau melakukan perjalanan, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika bermuqim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari).

Ketiga, keistiqamahan menunjukkan kuatnya iman seseorang dan menjauhkan diri dari virus jenuh beramal. Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi SAW, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Tabrani).

Inilah pentingnya Istiqamah ibadah di luar Ramadhan yang dengannya sesungguhnya setiap pribadi sedang menapaki jalan orang-orang saleh yang akan membimbingnya pada penghapusan dosa dan lebih mendekatkannya kepada Allah SWT.

Wallahu A’lam.

Oleh: Dr. Muhammad Hariyadi, M.A.

Sumber: di sini

Foto: Muhammad Zaki Prawira

AWSOM Powered