Archive: September, 2013

Gaung Pan Islam di Jakarta

Posted by admin - 11 September 2013 - Sejarah
5

Oleh Alwi Shahab

 

Abdullah Zaidan (85 tahun) tak dapat menahan harunya saat bercerita masa lalu Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Air mata kakek belasan cucu ini menetes karena Pekojan yang pada masa kolonial ditetapkan sebagai kampung Arab pada 1950-an ditinggal penghuninya. Mereka hengkang ke kawasan selatan Jakarta.

Kini, mayoritas penghuni Pekojan adalah keturunan Cina. Kawasan yang bersebelahan dengan Glodok ini ikut berkembang sebagai pusat perdagangan di Ibukota. ”Padahal sampai 1940-an, di Pekojan hanya ada tiga keluarga Cina. Di antaranya tukang es dan pemilik warung,” kata sesepuh Pekojan ini. Saat ini, warga keturunan Arab di Pekojan berjumlah 50 hingga 60 kepala keluarga.

Sejumlah gedung dan rumah yang dulu milik jamaah (sebutan untuk keturunan Arab), kini jadi milik baokdeh (istilah Arab untuk keturunan Cina). ”Padahal, dulu tukang bakmi tidak berani lewat Pekojan, takut ditimpuki anak-anak,” papar Abdurahman Alatas (72), sepupu mantan menlu Ali Alatas. Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab. Kala itu, para imigran yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan) ini diwajibkan lebih dulu tinggal di sini.

Baru dari Pekojan mereka menyebar ke berbagai kota dan daerah. Di Pekojan, Belanda pernah mengenakan sistem passen stelsel dan wijken stelsel. Bukan saja menempatkan mereka dalam ghetto-ghetto, tapi juga mengharuskan mereka memiliki pas atau surat jalan bila bepergian ke luar wilayah. Sistem macam ini juga terjadi di Kampung Ampel, Surabaya, dan sejumlah perkampungan Arab lainnya di Nusantara.

Kampung Pekojan boleh dibilang cikal bakal dari sejumlah perkampungan Arab yang kemudian berkembang di Batavia. Dari tempat inilah mereka kemudian menyebar ke Krukut dan Sawah Besar (Jakarta Barat); Jatipetamburan, Tanah Abang, dan Kwitang (Jakarta Pusat); Jatinegara dan Cawang (Jakarta Timur). Umumnya keturunan Arab di Jakarta dulu berasal dari Pekojan. Baru setelah kedaulatan (awal 1950-an), banyak keturunan Arab dari berbagai daerah mengadu nasib ke Jakarta.

Sedangkan keturunan Arab dari Jakarta, seperti juga ‘saudaranya’ warga Betawi, tetap setia di kotanya. Sebelum ditetapkan sebagai kampung Arab, Pekojan merupakan tempat tinggal warga Koja (Muslim India). Sampai kini, masih terdapat Gang Koja yang telah berganti nama jadi Jl Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah masjid kuno Al-Anshsor yang dibangun pada 1648 oleh para Muslim India. Tidak sampai satu kilometer dari tempat ini, masih di Kelurahan Pekojan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pertengahan abad ke-18.

Warga Muslim India yang telah menyebar di Jakarta, setiap Lebaran shalat Id di masjid ini. Sambil bernostalgia mengenang para leluhurnya yang tinggal di kawasan ini. Di Pekojan, sekalipun kini tidak tepat lagi disebut kampung Arab, peninggalan orang Arab ratusan tahun lalu banyak. Misalnya Masjid Langgar Tinggi, dibangun abad ke-18. Masjid ini telah diperluas oleh Syeikh Said Naum, seorang kapiten Arab. Ia memiliki beberapa kapal niaga dan tanah luas di Tanah Abang yang sebagian diwakafkan untuk pekuburan.

Pekuburan ini oleh Ali Sadikin dibongkar dan di atasnya dibangun rumah susun. Di dekat Masjid Langgar Tinggi terdapat Jembatan Kambing. Dinamakan demikian karena sebelum binatang dibawa ke pejagalan (kini Jl Pejagalan), kambing melewati jembatan di Kali Angke ini. Para pedagang di sini sudah berdagang turun-menurun sejak 200 tahun lalu. Di depan pejagalan terdapat Masjid An-Nawier, tempat ibadah terbesar di Pekojan. Menurut Abdullah Zaidan, masjid ini diperluas pada 1920-an oleh Habib Abdullah bin Husein Alaydrus. Ia seorang kaya raya, dan tempat kediamannya diabadikan menjadi Jl Alaydrus, di sebelah kiri Jl Hayam Wuruk.

Ia juga banyak memasok senjata untuk para pejuang Aceh pada Perang Aceh (1873-1903). Masih di kawasan Pekojan, terdapat Masjid Zawiah yang dulu merupakan surau kecil. Masjid ini dibangun Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, yang kemudian memimpin pengajian dan majelis taklim di Empang, Bogor. Beberapa rumah arsitektur Moor (sebutan Muslim India dan Timur Tengah), masih terdapat di sini.

Di Pekojan, pada awal abad ke-20 (1901), berdiri organisasi pendidikan Islam, Jamiatul Kheir, yang dibangun dua bersaudara Shahab, Ali* dan Idrus, di samping Muhammad Al-Mashur dan Syekh Basandid. Menurut buku Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, perkumpulan ini menghasilkan tokoh KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pendiri SI). Jamiatul Kheir mendatangkan Syeikh Ahmad Surkati dari Sudan yang kemudian mendirikan Perguruan Islam Al-Irsyad. Jamiatul Kheir banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah.

Ia ikut menyebarkan gerakan Pan Islam yang dicetuskan Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan punya hubungan korespondensi dengan surat kabar dan majalah di Timur Tengah. Dengan demikian negara-negara tersebut mendapatkan informasi mengenai Indonesia, termasuk kekejaman Belanda. Snock Hurgronye dengan berang menuding Jamiatul Kheir membahayakan Belanda. Tempat-tempat kegiatan Islam yang masih tersisa di Pekojan akan ditinjau dalam wisata kota tua hari ini (Ahad 25/8). Acara ini akan diikuti sekitar 100 orang dari kalangan mahasiswa, sejarawan, dan pers.

REPUBLIKA – Minggu, 25 Agustus 2002

* Beliau adalah Habib Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Shahabuddin, lahir tahun 1860, dari seorang ayah ulama besar di waktunya yang juga seorang pedagang kaya raya, Habib Ahmad bin Muhammad bin Shahabuddin yang tinggal di rumahnya yang luas di bilangan Pekojan. Habib Ali bin Ahmad dikenal dengan julukan Habib Ali Menteng, yang membangun mesjid di jalan Tangkuban Perahu, Menteng, dan pencetus berdirinya sekolah Islam modern pertama di Indonesia, Jamiat Kheir. Akan tetapi, berdasarkan narasi cucu beliau, yaitu Prof. Tariq bin Abdulmuttalib bin Ali bin Ahmad bin Shahabuddin yang disampaikan oleh putranya Chefik bin Thariq, dikarenakan ketegasan beliau (Habib Ali Menteng) dalam melawan kolonialisme Belanda di Nusantara, terutama perjuangan di Aceh, Tasikmalaya dan Cilegon, dan relasi beliau dengan Kesultanan Utsmaniyyah (Otoman) (Turki) dan Syarif Husin dari Hijaz, maka pemerintah kolonial Belanda waktu itu, yaitu di awal berdirinya Jamiat Kheir di tahun 1901, tidak mengeluarkan izin untuk sekolah tersebut, sampai pada akhirnya beliau menyerahkan kepengurusan sekolah tersebut kepada Habib Abubakar bin Ali bin Shahabuddin, yang di masanya pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan surat izin resmi atas sekolah tersebut di tahun 1919. Beliau, Habib Ali bin Ahmad bin Shahabuddin meninggalkan banyak putra dan putri, di antaranya: Abdulmuttalib, Kazhim, Jamal, Anis, Dhia, Asad, Sidah, Budur, Faiq, Zaki, Wardah, dan lain-lain. Yang mana insya Allah kami akan muat biografi lebih lengkap tentang beliau di artikel mendatang. (Penyunting: M. Ghazi Alaidrus).

Evolusi Alam Semesta Dalam Perspektif Kosmologi Modern

Posted by admin - 10 September 2013 - Sains dan Teknologi
1
Ilustrasi Evolusi Struktur Alam Semesta

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy

[As-Sajdah (4)]

Pembaca yang budiman, pada seri pertama di edisi Busyra No. 04 tahun 2012 yang lalu telah dibahas mengenai perspektif kosmologi modern terhadap asal usul alam semesta yang diduga kuat berawal dari satu peristiwa yang dinamakan “ledakan besar” serta perkembangannya pada era Planck. Seri kali ini membahas secara populer evolusi atau perkembangan alam semesta setelah era Planck hingga saat ini.

Perlu disadari dari awal bahwa apa yang diperoleh kosmologi modern mengenai evolusi atau perubahan alam semesta belumlah final dan tampaknya memang masih jauh dari pemahaman yang memadai mengenai bagaimana sesungguhnya evolusi alam semesta berlangsung. Tetapi, tidak juga dapat dipungkiri bahwa ada beberapa capaian eksperimen dan observasi terbaru yang mendukung teori-teori dalam kosmologi modern mengenai evolusi tersebut. Nukilan ayat di atas yang mengindikasikan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi, Allah SWT membaginya dalam enam masa (“ayyaam”) patut menjadi motivasi bagi kita untuk berusaha memahami apa yang dimaksud oleh ayat tersebut melalui upaya yang sistematis berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang universal.

Selain era Planck, setidaknya terdapat lima era lagi yang telah diklasifikasikan dalam evolusi alam semesta yaitu era paduan, era elektrolemah, era partikel, foton dan inti, kemudian era atom dan terakhir era bintang dan galaksi. Penting untuk ditekankan bahwa era yang diklasifikasikan dalam kosmologi modern ini bukan berarti sama dengan enam masa yang dimaksud dalam ayat di atas. Mengapa? Karena apa yang diperoleh oleh kosmologi modern tersebut masih berupa perkiraan walau sebagian telah berhasil dibuktikan secara eksperimen dan observasi.

1. Era Paduan
Era ini berlangsung dari detik ke 10-43 (angka desimal kurang dari 1 dengan jumlah nol sebanyak 43 buah di belakang koma) hingga detik ke 10-35 dan saat itu ruang-waktu telah terbentuk, sehingga dengan demikian gaya gravitasi telah hadir. Di era ini suhu alam semesta turun menjadi antara 1028 (1 dengan 28 nol dibelakangnya) derajat celcius hingga 1032 derajat celcius dan terjadi inflasi atau pertambahan volume alam semesta yang sangat besar secara tiba-tiba. Sementara itu tiga gaya fundamental lainnya yakni elektromagnetik, nuklir lemah dan nuklir kuat masih berbentuk paduan dan belum terbedakan. Massa dan muatan pun masih belum terdefinisikan pada era ini, dan yang ada masih berupa “energi” sebagaimana di era Planck. Di akhir era ini, gaya nuklir kuat mulai memisahkan diri dari kedua gaya yang lain dengan ditandai munculnya “plasma” (semacam sop) partikel elementer yang dinamakan quark-gluon. Kemunculan plasma tersebut diduga terjadi akibat adanya perusakan simetri alam semesta secara spontan. Kelak quark akan menjadi partikel pembentuk materi yang kita kenal saat ini dan gluon adalah partikel tak bermassa yang mengikatnya.

2. Era Elektrolemah
Setelah era paduan berakhir, kemudian dilanjutkan dengan era elektrolemah. Era ini berlangsung dari detik ke 10-35 hingga ke detik 10-10. Suhu alam semesta telah turun menjadi kurang dari 1028 derajat celcius, sedangkan inflasi alam semesta telah memasuki tahapan terakhirnya. Pada era ini, dua gaya fundamental lainnya yaitu elektromagnetik dan nuklir lemah masih belum terbedakan satu sama lain dan disebut gaya elektrolemah. Sedangkan dipihak lain, “plasma” quark-gluon telah memenuhi alam semesta.

3. Era Partikel, Foton dan Inti
Selanjutnya adalah era partikel, foton dan inti yang berlangsung dari detik ke 10-10 hingga tahun ke 380.000. Suhu alam semesta telah turun secara drastis dan kesemua gaya fundamental kini telah terbedakan, dimana gaya elektrolemah terpisah menjadi gaya elektromagnetik dan nuklir lemah. Pada tahapan ini kembali terjadi perusakan simetri secara spontan melalui sebuah mekanisme yang dinamakan mekanisme Higgs. Melalui perantaraan partikel Higgs, partikel-partikel seperti quark, elektron, neutrino dan lain sebagainya terbentuk dan menerima massa serta atribut muatan listrik pun telah terdefinisikan. Selain itu, melalui mekanisme Higgs tersebut terbentuk pula antipartikel yang secara umum dicirikan oleh muatan yang berlawanan tanda dengan partikelnya. Misalnya antipartikel dari quark bermuatan positif adalah antiquark bermuatan negatif. Di pihak lain, tiga gaya yang disebutkan di atas kini berubah menjadi partikel-partikel pembawa gaya yakni gluon untuk nuklir kuat, partikel W dan Z untuk nuklir lemah, serta foton untuk gaya elektromagnetik. Berbeda dengan kelompok quark, elektron dan neutrino, partikel pembawa gaya tidak memiliki antipartikel.

Pada awal era tersebut, jumlah partikel dengan antipartikel sama banyak. Akibat energi yang relatif teramat tinggi, tumbukan antara partikel dengan antipartikel dapat saling meniadakan (anihilasi) dan memunculkan foton yang tidak bermassa, sehingga alam semesta dipenuhi olehnya. Menariknya, setelah peristiwa anihilasi berkurang akibat terus turunnya suhu, foton kembali berubah menjadi partikel dan antipartikel. Tetapi kali ini jumlah partikel jauh lebih dominan ketimbang antipartikel. Terus turunnya suhu memungkinkan gluon mengikat dua atau lebih partikel quark untuk membentuk partikel-partikel hadron yang merupakan bangunan dasar materi yang kita kenal seperti proton dan neutron. Demikian pula antiquark membentuk antimateri seperti antiproton dan antineutron, walau dalam jumlah yang jauh sangat sedikit. Pada akhir era ini, inti hidrogen, yang hanya terdiri dari satu proton, dan inti helium yang terdiri atas dua proton dan dua neutron, telah terbentuk seiring dengan terus turunnya suhu dan kerapatan alam semesta. Menarik untuk dicatat bahwa ketidakseimbangan jumlah materi dengan antimateri di alam semesta merupakan suatu hal yang masih sulit untuk dijelaskan oleh kosmologi modern.

4. Era Atom
Terbentuknya inti hidrogen dan helium menandai kemunculan era baru yang dinamakan era atom. Pada era ini, yang berlangsung dari tahun ke 380.000 hingga tahun ke 1.000.000.000, suhu alam semesta telah memungkinkan bagi terbentuknya inti atom dengan jumlah proton-neutron yang lebih banyak. Semakin turunnya suhu dan kerapatan alam semesta, pada gilirannya memungkinkan inti-inti yang terbentuk menangkap elektron dan membentuk atom yang stabil. Pada era ini, unsur-unsur ringan di alam semesta yang kita kenal saat ini sebagian besar telah terbentuk.

5. Era Bintang dan Galaksi
Akhirnya, setelah era atom berakhir, maka dimulailah era bintang dan galaksi.Era ini dimulai pada tahun ke 1.000.000.000 setelah “ledakan besar”. Gaya gravitasi, yang merupakan perwujudan dari kelengkungan ruang-waktu akibat kehadiran massa, mulai berperan secara signifikan seiring dengan kondisi alam semesta yang telah mencapai suhu rata-rata sama dengan suhu yang terdeteksi saat ini, tetapi dengan volume yang terus berkembang. Peranan gravitasi yang dominan mengakibatkan atom-atom berkumpul membentuk bintang dan galaksi. Pembentukan dimulai dari objek yang paling kecil seperti bintang dan kemudian menjadi yang paling besar seperti gugus galaksi. Berdasarkan observasi melalui teleskop Hubble, hingga saat ini objek langit yang paling jauh dan paling tua yang bisa diamati adalah quasar dengan usia sekitar 13 milyar tahun. Angka ini ditenggarai juga sebagai usia alam semesta. Berdasarkan angka tersebut pula, diperkirakan jari-jari alam semesta adalah sekitar 1026 meter. Quasar adalah objek langit yang memiliki ukuran sebesar bintang tetapi memiliki kecerlangan sebuah galaksi.

Berdasarkan uraian evolusi alam semesta di atas, sebuah pertanyaan wajar yang muncul adalah kemana arah perkembangan alam semesta ke depannya? Harus diakui bahwa hingga saat ini tidak ada satu pun petunjuk eksperimen atau observasi yang secara meyakinkan mampu memberi petunjuk kemana arah evolusi ini akan berlangsung. Belakangan ini, setidaknya ada satu perkembangan menarik yang telah menyita perhatian para ilmuwan bidang kosmologi, yakni diamatinya fakta bahwa alam semesta kini berkembang dengan kecepatan yang terus bertambah atau dengan kata lain alam semesta mengalami percepatan dalam perkembangannya. Sebuah fakta yang sangat pelik untuk bisa difahami saat ini.

Bagi kita, Muslim, petunjuk mengenai kemana nasib alam semesta setidaknya telah diberikan oleh Allah SWT dalam ayat berikut:

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya [Al-Anbiya (104)].

Tersirat dalam ayat di atas dikatakan bahwa alam semesta akan kembali mengalami pengerutan dan kembali ke keadaan seperti pertama kali diciptakan. Jika saat ini alam semesta yang teramati sedang mengalami percepatan, maka kapan ia akan berhenti berkembang dan kembali mengerut? Wallahu’alam.

Pembaca yang budiman, kajian tentang kebesaran dan keagungan ciptaan Allah SWT memang tidak akan pernah ada habisnya. Perlu diingat bahwa perintah pertama untuk “membaca” dalam surat Al-Alaq tampaknya cukup bagi kita sebagai muslim untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap alam, guna mengetahui secara pasti bahwa Allah SWT tidak menciptakannya hanya untuk kesia-siaan belaka.

Diskusi tentang quasar dan percepatan perkembangan alam semesta in syaa Allah akan dibahas pada edisi Busyra mendatang, beserta dengan fakta-fakta luar biasa lainnya tentang alam semesta ini.

Sumber Rujukan
1. Andrei Linde, “Particle Physics and Inflationary Cosmology”, Harwood Academic Publisher (1990)
2. Stephen Hawking, “The Universe in a Nutshell”, Transworld Publisher (2001)
3. P. Teerikorpi, M. Valtonen, K. Lehto, H. Lehto, G. Byrd, A. Chernin, “The Evolving Universe and the Origin of Life”, Springer (2009)

Oleh:
Dr. Husin Alatas, Lektor Kepala & Kepala Bagian Fisika Teori pada Departemen Fisika, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.

AWSOM Powered