Archive: Oktober, 2013

Peringatan Agar Jangan Terperdaya Dengan Membanggakan Nasab

Posted by admin - 31 Oktober 2013 - Aqidah
1

Kami sebutkan di sini sebagian yang dikatakan oleh Al-Imam Abdullah Al- Haddad di dalam mengingatkan orang agar tidak tertipu dengan membanggakan nasab, dalam bait-baitnya yang masyhur:

Kemudian, janganlah engkau tertipu membanggakan nasab

Jangan begitu, dan jangan pula merasa puas dengan mengatakan: ayahku begini dan begini

Dalam masalah petunjuk, ikutilah sebaik-baik nabi

Ahmad, yang memberikan petunjuk kepada sunah-sunnahnya

Dalam kitab Al-Fushul Al-Ilmiyah halaman 87, beliau menyebutkan, “Barangsiapa yang mengatakan (berpendapat) atau menyangka bahwa meninggalkan  ketaatan-ketaatan  dan  memperbuat  maksiat-maksiat  tidak merugikan seseorang karena nasabnya yang mulia atau karena kebaikan orang tua- orang tuanya (leluhurnya), berarti ia telah membuat kedustaan terhadap Allah dan menyalahi ijmak kaum muslimin. Namun, Ahlulbait Rasulullah memang memiliki kemuliaan dan Rasulullah saw memberikan perhatian yang lebih terhadap mereka. Beliau banyak berpesan kepada umatnya tentang mereka (tentang Ahlulbaitnya) dan mendorong mereka (umatnya) agar mencintai dan menyayangi Ahlulbaitnya. Itu pula yang Allah perintahkan dalam kitab-Nya dengan firman-Nya:

Yang artinya: “Katakanlah, „Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga(ku)‟ (QS. Asy-Syura: 23)

Karena itu, hendaknya sekalian muslimin agar meyakini (berpegang) dengan kecintaan terhadap mereka dan kasih sayang  terhadap  mereka, dan hendaknya menghormati dan mengagungkan mereka dengan tidak berlebihan dan keterlaluan.

Kemudian, barangsiapa di antara para sayyid itu yang mengikuti perjalanan para pendahulu mereka yang shalih dan meneladani thariqah-thariqah mereka yang diridhai, berarti ia seorang imam yang cahaya-cahayanya patut untuk diambil petunjuk dan perilaku-perilakunya patut untuk diikuti sebagaimana para datuk mereka yang mendaaptkan petunjuk. Sesungguhnya di antara mereka terdapat para imam yang harus didahulukan seperti Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan dan Al-Husain, dua cucu Rasulullah, juga seperti Ja`far Ath- Thayyar dan Hamzah Sayyidusy-Syuhada, juga seperti Abdullah bin ABbas dan ayahnya AL-Abbas, paman Rasulullah saw. Juga seperti Al-Imam Zainal Abidin Ali bin bin Al-Husain, Imam Muhammad Al-Baqir dan putranya Imam Ja`far Ash- Shadiq dan orang-orang seperti mereka dari para pendahulu Ahlulbait.

Adapun orang-orang di antara Ahlulbait yang tidak mengikuti thariqah- thariqah para pendahulu mereka yang suci dan telah dimasuki oleh suatu percampuran (dalam pemikiran maupun perbuatan) karena kebodohan yang menguasai mereka, maka mereka tetap harus dihormati karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah, dan hendaknya orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan nasihat, hendaknya menasihati mereka dan mendorong mereka untuk mengambil apa yang telah diambil oleh para pendahulu mereka yang shalih, baik dalam ilmu, amal shalih, maupun akhlak yang baik dan disukai. Juga memberitahukan kepada mereka bahwa mereka lebih layak untuk itu dan lebih berhak (lebih wajib) untuk melakukannya dibandingkan semua orang yang lain, dan  bahwa  nasab  ini  tak  akan  bermanfaat  dan  tak  akan  meninggikan  derajat mereka jika menyia-nyiakan ketakwaan, lebih mempedulikan dunia, meninggalkan ketaatan, dan mengotori diri dengan kotoran penyimpangan-penyimpangan. Sejumlah penyair telah memahami hal itu, apalagi para imam dan ulama, sehingga sebagian penyair itu mengatakan:

Sungguh, tidaklah seseorang itu melainkan tergantung agamanya

Maka  janganlah  engkau  meninggalkan  ketakwaan  karena  mengandalkan nasab

Sungguh Islam telah meninggikan derajat Salman Al-Farisi

Dan merendahkan Abu Lahab, seorang kafir yang memiliki keturunan mulia.

Kemudian Al-Habib Abdullah Al-Haddad mengatakan: Pembicaraan tentang anak- anak orang shalih sama dengan pembicaraan tentang Ahlulbait, dalam arti orang yang keadaannya seperti keadaan pendahulunya, maka ia juga orang shalih seperti mereka yang patut untuk diagungkan dan diambil berkahnya. Sedangkan orang yang keadaannya jahil dan lalai, maka hendaknya ia dinasihati dan diberi petunjuk kepada kebenaran, dan tetap dihormati sekadarnya karena memandang para pendahulunya  yang  shalih.  Bagaimana  tidak,  sedangkan  Allah  Taala  telah berfirman mengenai mengenai dua orang anak dan tentang dinding rumah, dalam

ayat yang artinya,  “Dan di bawah dinding ada harta simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Dan  telah  sampai  keterangan  kepada  kami  bahwa  yang  dimaksud  orang tuanya itu adalah ayah yang ketujuh dari jalur ibu. Maka ia dapat memelihara anaknya itu dalam urusan dunia, apalagi dalam urusan akhirat. Ketahuilah dan pahamilah hal itu, dan letakkanlah sesuatu pada tempatnya dan berikanlah kepada setiap yang memiliki hak akan haknya. Dan mohonlah pertolongan kepada Allah, niscaya engkau bahagia dan mendapatkan petunjuk. Dan segala sesuatu itu milik Allah. Demikian keterangan dari kitab Al-Fushul Al-`Ilmiyyah.

Habib Ahmad bin Umar bin Zain Bin Semith mengatakan dalam syairnya:

Barang siapa yang memiliki tabiat ayahnya

Tidak cukup baginya berkata: Ayahku begini dan begini Bukanlah pemuda sesungguhnya yang merasa cukup Dan tertipu dengan membanggakan nasab

Ia meninggalkan sebab-sebab untuk mendapatkan keselamatan

Dan menggantikannya dengan kerusakan

Karena mengharapkan harta dan kedudukan

Bahkan itulah dia orang yang terperdaya lagi bodoh Sesungguhnya pemuda yang sebenarnya adalah yang meneladani Al-Musthafa, sebaik-baik nabi

Habib Hamid bin Umar Hamid Ba Alawi setelah menyebutkan sebagian kekhusussan dan keutamaan Ahlulbait, beliau mengatakan, “Dalam hal meyakini mereka, berharap kepada mereka, dan husnuzh-zhan terhadap mereka, janganlah mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh selain mereka (artinya, jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang tidak mencintai mereka). Adapun yang dituntut dari mereka (Ahlulbait) adalah meyakini apa yang terkandung dalam dua ayat Al- Qur’an mengenai istri-istri Nabi sebagai rasa takut dan juga sebagai harapan, yang artinya:

Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia. (QS. Al-Ahzab: 30-31)

Demikianlah sebagian ucapan para tokoh terkemuka Ahlulbait dalam mengingatkan  agar  tidak  tertipu  dengan  membanggakan  nasab.  Pembicaraan tentang masalah ini adalah pembicaraan yang panjang sebagaimana disebutkan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Attas dalam kitab Zhuhur Al-Haqaiq fi Bayan Ath-Tharaiq halaman 205. Demikian pula disebutkan oleh Habib Zain bin Ibrahim Bin Semith dalam kitabnya, Al-Manhaj As-Sawi halaman 590. Barangsiapa yang ingin mendapatkan uraian yang luas, silakan membaca rujukan-rujukan yang telah kami sebutkan.

 

Diterjemahkan oleh Ali Yahya dari sumber:

1. Al Fusul Ilmiyah, hlm.87 Karya Hb. Abdullah  bin Alwi Al Haddad.

2. Kalam Hb. Ahmad  bin Omar bin Smith .

3. Kalam Hb. Hamid bin Omar Hamid.

4. Duhur Al Hagaig Fi Bayan Taroig, Hlm. 205, Karya Hb. Abdillah bin Alwi Alatas.

5. Manhaj Sawi, Hlm. 205 Karya Hb. Zein bin Smith.

 

Foto: Halal Bihalal Mahasiswa Alawiyin Universitas Indonesia

Posted by admin - 11 Oktober 2013 - Berita, Foto
0
DSC_0481 - Copy

    Sabtu, 21 September 2013, Mahasiswa Alawiyin Universitas Indonesia (Asyraaf UI) mengadakan halal bihalal di Gedung Rabithah Alawiyah lantai 4 Jl. TB Simatupang No. 7A. Hadir sebagai penceramah Sayid Fikri bin Abdullah Bafaraj.

    Al-Bait Al-’Ateeq

    Posted by admin - 1 Oktober 2013 - Haji
    3
    Ka'bah

    oleh M. Ghazi Alaidrus

    Ketahuilah, wahai saudara-saudariku, bahwa Al-Baitu Al-Haram, bahkan Al-Haram secara keseluruhan merupakan bagian bumi yang agung yang memiliki manzilah yang mulia di sisi Allah SWT. Bahkan merupakan tempat yang termulia di bumi ini berdasarkan dalil naqli dan aqli.

    Adapun berdasarkan al-manquul:

    Allah menjadikan Al-Bait Al-Haram (Ka’bah) sebagai pusat kunjungan dan berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman bagi segenap alam:

    125. dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim* tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

    * Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. di waktu membuat Ka’bah.

    Dan, sebagaimana ayat di atas (Al-Baqarah:125), Allah juga memerintahkan Nabi Ibrahim as. Dan Ismail as. untuk membersihkan dan mensucikannya bagi orang-orang yang berthawaf dan bagi yang melakukan i’tikaf, di samping sirr rabbaani  yang Allah anugrahkan di area tersebut yang diperlihatkan kepada para Anbiya dan Arifin.

    Adapun dari aspek al-ma’quul:

    Al-Bait Al-‘Ateeq atau Al-Ka’bah Al-Musyarrafah atau Al-Bait Al-Haram merupakan “rumah” pertama yang dibangun di atas bumi ini dan dari area tersebut dibentuk bumi menjadi bentuk eliptikal (dihyah) sebagaimana keadaannya sekarang. Dan area Al-Bait Al-‘Ateeq merupakan “kampung” pertama yang ada di bumi ini, dan dengan demikian dikenal dengan nama “Ummu Al-Qura”, induk dari perkampungan dan perkotaan.

    96. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia*. (QS. Aali ‘Imran).

    * Ahli kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis, oleh karena itu Allah SWT. membantahnya.

    92. dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara shalatnya. (QS. Al-An’aam).

    Dimana setiap raja memiliki tempat khusus yang dikunjungi dalam rangka menjalankan khidmat kepadanya, dimana setiap sultan memiliki gerbang yang padanya setiap yang ingin berjumpa kepadanya menempelkan wajahnya padanya, dimana setiap satria memiliki benteng yang di dalamnya berlindung orang-orang yang mengharapkan pembelaannya, dimana setiap dermawan memiliki lapangan yang berkumpul padanya setiap yang membutuhkan pertolongannya, Allah SWT. Al-Malik Al-Karim Al-Jabbaar Al-Hafeezh Al-Mu’min, telah mengkhususkan Al-Bait Al-Musyaraaf dengan makna-makna tersebut, dan menerbitkan di cakrawala ziarahnya matahari-matahari kemenangan dan bintang-bintang realisasi cita-cita yang mulia, serta menjadikan daerah sekelilingnya haram, suci, dikarenakan keagungan Baitullah Al-‘Ateeq. Dan dijadikan ‘Arafah bagai medan sekeliling serambi kesucian Al-Bait. Dan Allah- lah Raja yang sebenarnya, sedangkan setiap yang disebut atau dinamakan “raja” hanyalah penamaan secara majazi, kiasan. ‘Arafah adalah medan tempat berkumpulnya para pengunjung dari berbagai pelosok bumi, mengarah ke Hadrah Ilahiah dengan penuh kerendahan diri, taat kepada Kebesaran-Nya dan Keagungan Kerajaan-Nya diikuti dengan mensucikan-Nya dari segala bentuk penyerupaan dan pemisalan.

    11. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS. Asy-Syura).

    Apakah ada kebanggaan atas suatu daerah setelah kebanggaan ini? Apakah ada keagungan bagi suatu tempat setelah keagungan ini? Apakah ada keutamaan bagi suatu kota setelah keutamaan ini?

    Kota yang ditangisi oleh Rasulullah SAW. Sewaktu Beliau bergegas untuk hijrah, seraya memandang dari suatu ketinggian, berkata:

    لو لا أن أهلك أخرجوني، ما خرجت.

    “Seandainya pendudukmu, wahai Makkah, tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar darimu.”

    Diriwayatkan oleh Imam Suyuthi rh. dari Imam Ali Zainal Abidin ra. dari Imam Al-Husein as.:

    “Sewaktu Allah mengatakan kepada para Malaikat:

    30. Ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah).

    Sewaktu mereka mengatakan demikian, Allah SWT. marah kepada mereka dan merekapun segera berlindung di ‘Arsy meminta maaf kepada Allah dan berthawaf di sekelilingnya tujuh putaran, memohon Ridha-Nya, sampai Allah-pun memaafkan mereka dan memerintahkan mereka: Bangunlah di muka bumi sebuah rumah tempat berlindung yang Aku murka atasnya dari makhluk-Ku dan berthawaf di sekelilingnya sebagaimana kalian berthawaf di sekeliling ‘Arsy-ku, sehingga Aku mengampuninya sebagaimana Aku mengampuni kalian.” Maka mereka-pun membangun “rumah” ini, yaitu Ka’bah.”

    Diriwayatkan oleh para ahli sejarah bahwa pembangunan Ka’bah dilaksanakan 2000 tahun sebelum Allah menciptakan Adam as. Dan senantiasa makmur, dikunjungi oleh para Malaikat sebelum dan juga setelah penciptaan Adam as. Kemudian sewaktu Allah SWT. menurunkan Adam di lokasi Ka’bah, Adam merindukan Jannah, maka Allah-pun menurunkan Hajar Aswad yang waktu itu merupakan Yaquut dari Yaquut Al-Jannah. Adam-pun menerimanya dan menjaga dan menyimpannya guna melepaskan rasa rindunya kepada Jannah.

    Rasulullah Sayyiduna Muhammad SAW bersabda:

    نزل الحجر من الجنة وهو أشد بياضا من اللبن فسودته خطايا ابن آدم.

    “Turun Hajar (Aswad) dari Jannah (Surga) dalam keadaan lebih putih dari susu, dan kemudian dosa-dosa keturunan Adam membuatnya hitam.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas: Hasan Shahih.).

    Referensi:

    1. Al-Quran Al-Karim
    2. Al-Mu’jam Al-Mufahras, Muhammad Fuad Abdulbaqi
    3. At-Tasyweeq Ilaa Al-Bait Al-‘Ateeq, Imam Muhammad bin Ahmad Ath-Thabari Al-Makki Asy-Syafi’i (w. 695 H.)
    4. Lisan Al-‘Arab, Ibnu Manzur

     

    Foto: di sini 

    AWSOM Powered