Archive: November, 2013

Foto: Kuliah Umum Habib Umar bin Hafidz

Posted by admin - 26 November 2013 - Da'i dan Dakwah, Foto
2
Kuliah Umum Habib Umar bin Hafidz

    Habib Umar bin Hafidz memberikan kuliah umum di Masjid Arif Rahman Hakim, Universitas Indonesia Salemba pada 25 November 2013. Acara ini merupakan salah satu rangkaian kunjungan Habib Umar bin Hafidz selama di Jakarta.

    Nasihat Kepada Penguasa Negeri

    Posted by admin - 22 November 2013 - Aqidah
    0
    Ilustrasi

    Pertama, hendaklah anda selalu berniat baik dan menjaga kemurnian hati nurani mengenai perkara-perkara antara diri Anda dan Allah SWT, agar Dia menjadi saksi bahwa anda benar-benar mencintai kebajikan, bertekad memenangkan kebenaran, dan meratakan keadilan dan persamaan hak sebatas kesanggupan yang ada pada anda. Kedua, hendaknya anda selalu memperlakukan rakyat dengan penuh kasih saying. Amatilah baik-baik keadaan mereka, seperti seorang ayah yang dengan penuh kasih saying mengamati anak-anaknya yang masih kecil.

    ‘Allah.. Allah, perhatikanlah kewajiban anda dalam membela orang yang teraniaya (mazhlum) dan bertindak keras terhadap penganiaya (zhalim). Jagalah baik-baik prinsip persamaan dalam masalah kebenaran antara antara pihak yang lemah dan yang kuat. Janganlah anda terlalu boros dan jangan pula terlalu kikir dalam menginfakkan harta. Awasilah baik-baik orang-orang yang berniat jahat, dan indahkanlah pikiran dan perasaan akhlul khair (orang-orang baik dan mulia).

    “Amatilah dengan baik kaum pendatang yang berada di kota. Perlakukanlah mereka itu dengan ramah dan tasamuh (toleransi). Periksalah baik-baik – khususnya oleh anda sendiri – setiap orang yang bertanggung jawab mengenai urusan kota. Jika diantara mereka itu ada yang anda lihat berpikir picik, jauhkanlah dia dari kedudukannya. Demikian juga yang harus anda lakukan terhadap orang yang tidak takut kepada Allah, kendati dia seorang yang cerdas. Sebab, bahaya yang akan ditimbulkan oleh dua orang seperti itu, terhadap anda dan kaum muslim, akan lebih besar daripada dendamnya. Orang seperti itu tidak layak mengatur urusan kaum Muslim. Hanya orang-orang yang cerdas dan takut kepada Allah sajalah yang layak beroleh kesempatan leluasa untuk bekerja mengurus kepentingan kaum Muslim.

    “Tunaikanlah shalat pada awal waktunya. Jagalah baik-baik thaharah dan berzikir (mengingat Allah) dalam segala keadaan, terutama di pagi hari dan di waktu maghrib.

    “Janganlah anda meninggalkan jamaah, meski di dalam kota terdapat berbagai kemungkaran yang dilakukan orang secara terang-terangan, seperti perzinaan dan mabuk-mabukkan (khamr). Telusuri saja jejak-jejaknya, kemudian tindaklah mereka.”

    Sumber:

    Alhaddad, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi. 2002. Pemantap Hati: Mutiara Kata dan Nasihat. Bandung, Pustaka Hidayah.

    Cina Town – Arab Town

    Posted by admin - 16 November 2013 - Sejarah
    0
    Masjid Langgar Tinggi Pekojan

    Jakarta masih lebih muda dibandingkan Beijing (kl 300 tahun SM), dan Hanoi (abad ke-7 Masehi). Akan tetapi, jika dibandingkan dengan ibukota lain di Asia Tenggara, sejarah Jakarta lebih panjang. Bangkok, misalnya, didirikan pada 1769.

    Jakarta juga lebih tua dibanding Sydney (1788). Bahkan, James Cook sebelum menemukan Australia kapalnya mengalami perbaikan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Lalu bagaimana dengan Singapura. Kota jasa terkemuka ini baru dibangun Raffles pada 1819 ketika masih bernama Temasek, sebuah kampung nelayan. Demikian pula dengan Kuala Lumpur pada awal abad ke-19.

    Untuk menyambut ulang tahun kota Jakarta, kita akan mendatangi tempat-tempat awal berdirinya kota itu. Kita mulai dari bekas gedung Stadhuis (balai kota Batavia), yang kini menjadi Museum Sejarah DKI Jakarta. Gedung ini dibangun tahun 1620 oleh VOC pada masa Gubernur Jenderal JP Coen. Bangunan sekarang yang pernah dikagumi Ratu Elizabeth dari Inggris, ketika mengunjunginya, adalah hasil renovasi tahun 1710 pada masa pemerintahan Van Hoorn.

    Pangeran Diponegoro, Untung Surapati, dan playboy Oey Tambahsia, pernah ‘menginap’ di balai kota Batavia. Yang terakhir bahkan dihukum pancung di Stadhuis Plein depan museum Jakarta yang ketika itu berupa alun-alun. Konon, Bang Puase yang dituduh membunuh Nyai Dasima juga dipancung di sini.

    Di lantai dua museum tersebut kini masih ditemukan ‘pedang keadilan’. Entah berapa banyak terhukum yang kepalanya berpisah dari badannya melalui pedang tersebut. Dahulu, alun-alun itu sangat luas hingga ke dekat Kota Inten dk Pasar Ikan. Saat eksekusi sebuah mimbar disiapkan, dan masyarakat luas diminta untuk menyaksikannya.

    Dari Balai Kota menyeberang Jl Pintu Besar Utara kita menuju Jl Kalibesar Timur. Di depan gedung PT Cipta Niaga terletak Gedung Kota Bawah milik seorang ibu yang akrab dipanggil Ella Ubaidi. Gedung ini dibangun kira-kira pada awal abad ke-20. Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan era tumbuhnya liberalisme di berbagai bidang. Pada masa itu Kali Besar merupakan kawasan yang ramai karena letaknya di dalam benteng (Binnenstadt).

    Kemudian kita beralih ke luar benteng Batavia. Setelah melawati Glodok pusat perdagangan bergengsi selama lebih dari tiga abad kita lebih mendalam lagi memasuki China Town. Di sini terdapat kawasan Patekoan kini Jl Perniagaan. Nama ini punya kaitan dengan Kapiten Cina Gan Djie, seoroang Cina totok yang datang dari Ciang Ciu di bagian selatan propinsi Hokkian.

    Seperti juga moyang dari konglomerat Thio Tiong Ham dan Liem Sioe Liong, Gan Djie saat datang ke Indonesia berdagang kelontong di Gresik keluar masuk kampung sambil menenteng pikulan. Hanya dalam beberapa tahun ia menjadi saudagar besar di Gresik. Kemudian ia ke Batavia (1659). Karena dermawan dan suka menolong orang banyak, di tempatnya yang baru ini dia menjadi seorang terkemuka. Dan, pada 1663 ia diangkat menjadi kapiten Cina.

    Di depan kediamannya tiap hari dia dan istrinya menyediakan delapan poci teko (pat te koan) berisi air teh untuk orang yang ingin minum. Dari kata inilah berasal nama Patekoan salah satu pusat perdaqgangan di China Town. Dari sini, hanya dalam waktu 20 menit berjalan kaki, kita akan memasuki Kampung Arab (Arab Town) Pekojan. Kalau di China Town kita lebih banyak mendapati daerah-daerah perdagangan, di Arab Town (Pekojan) kita masih menjumpai tempat-tempat bersejarah yang punya kaitan dengan pengembangan agama Islam di Nusantara.

    Pada tahun 1901 di Pekojan berdiri satu organisasi pendidikan Islam, Jamiat Kheir. Organisasi ini dibangun oleh Shahab bersaudara: Ali dan Idrus, serta Syeikh Said Basandi. Organisasi ini mengundang simpati tokoh-tokoh Islam seperti KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Tjokroaminoto (Syarikat Islam) dan Haji Agus Salim.

    Tempat berdirinya Jamiat Kheir kira-kira di Jalan Pekojan Kecil II. Di sini terdapat Masjid Raudah. Di tempat inilah diperkirakan lahirnya ide dari para pemuda Islam untuk mendirikan Jamiat Kheir, tujuh tahun sebelum Budi Utomo. Jamiat Kheir juga ikut menyebarkan gerakan Pan Islam dari Sayid Jamaluddin Afghani, Sheikh Muhammad Abduh dan Sayid Rashid Ridha.

    Berdekatan dengan Jl Pekojan Kecil II terdapat Masjid Zawiah, didirikan Habib Ahmad bin Hamzah Alatas yang lahir di Tarim, Hadramaut. Ketika masih mengajar di masjid ini ia menggunakan kitab Fathul Mu’in kitab kuning yang hingga kini masih jadi rujukan di kalamgan Muslim tradisional. Di depannya terdapat Masjid An-Nawir masjid terbesar di Jakarta Barat. Masjid ini dibangun tahun 1760 dan di depannya terdapat ‘jembatan kambing’ dengan pedagang yang sudah empat generasi turun menurun.

    Meskipun tradisi penduduk di China Town dan Arab Town bertolak belakang, tapi tidak mengurangi kerukunan mereka sebagai tetangga. Boleh dikata selama ratusan tahun hampir tidak pernah terjadi bentrok antar-kedua keturunan yang berbeda agama itu. Saat bulan Ramadhan, misalnya, warga Cina yang tinggal di Arab Town tidak ada yang merokok atau makan pada siang hari untuk menghormati orang yang berpuasa. Demikian pula pedagang bakso dan bakmi sampai tahun 1960-an tidak ada yang berani lewat Pekojan karena kala itu bakso dibuat dari daging babi. Kerukunan semacam itu yang perlu terus dipertahankan.

    Sumber:

    Shahab, Alwi. Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia. Jakarta, Buku Republika. 2013

    Ilmu dan Amal: Yang Penting Adalah Ilmu dan Amal, Bukan Menimbun Kitab-Kitab

    Posted by admin - 14 November 2013 - Aqidah
    0
    Ilmu

    Pada sabtu, 13 Jumadil Awal 1129 H, ketika Imam Abdullah bin Alawi Alhaddad ra. keluar untuk menunaikan shalat dzuhur, beliau ra. mengingatkan saya (Al-Hasawi) tentang kitab-kitabnya yang tersimpan di dalam lemari. Beliau meminta agar saya melaporkan keadaannya. Di antara kitab-kitab beliau itu ialah Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Saya katakan kepada beliau ra., “Saya ingin mempunyai dua kitab tersebut untuk saya tekuni.” beliau ra. memperingatkan saya, “Tak ada gunanya Anda mengumpulkan kitab-kitab. Curahkanlah perhatian Anda kepada ilmu dan amal, tak usah mengumpulkan kitab-kitab. Pahamilah, bahwa kata-kata yang sedikit tidak memerlukan pembicaraan panjang lebar. Apa guna mempunyai banyak kitab kalau hanya seperti keledai yang membawa muatan kitab-kitab tebal? Biarlah anda mempunyai satu tekad saja.

    “Dalam menuntut ilmu, janganlah hati anda bercabang-cabang. Orang-orang mengikuti ahli tasawuf hanya untuk tujuan yang satu, tidak untuk mengikuti cabang-cabangnya. Jika tidak demikian, maka orang tidak peduli akan dibinasakan Allah di lembah mana pun, asalkan hatinya tetap mengikuti cabang-cabang (ilmu tersebut). Bahkan shalatnyapun mengikuti bermacam-macam cabang ilmu (fiqh). Malah sampai pula dalam hal memilih perempuan, pakaian dan sebagainya.” Lebih jauh beliau ra. berkata, “Satu kitab saja dari kitab Al-Ihya (Ihya Ulumuddin—Imam Al-Ghazali) cukup, lebih daripada kitab-kitab yang lain. Yang dituntut dari ilmu adalah pengamalannya. Jika tidak demikian, lantas apa gunanya tumpukan kitab? Betapa banyak orang yang mempunyai tumpukan kitab, tetapi itu tidak mendatangkan manfaat apapun baginya. Siapapun tidak perlu lagi memberitahu kami tentang kitab-kitab, sebab kitab yang Anda baca sudah pernah kami baca satu kali, dua kali, atau bahkan lebih. Sejak usia 15 tahun hingga sekarang kami masih terus mengkaji kitab-kitab.” Kemudian beliau ra. mendendangkan sebuah syair:

    Betapa aneh orang menghadiahkan kurma ke Khaibar[1]

    Dan kepada Zaid mengajarkan ilmu fara’idh[2]

    Beliau ra. berkata, “Segala sesuatu mempunyai hukumnya sendiri. Soal-soal lahir dan soal-soal yang bersifat jasmani (fisik) ada hukumnya, serta soal batin dan soal-soal arwah (yang dimaksud adalah soal-soal spiritual pun ada hukumnya sendiri. Apalah arti orang yang mengatakan bahwa makan itu tidak perlu, demikian juga soal-soal lain yang berkaitan dengan badan. Padahal dia sendiri—katanya—tidak dibolehkan meninggalkan makanan. Begitu juga beberapa orang sufi yang berkata, ‘Saya beramal tidak untuk mendapat surga, tidak karena takut neraka, dan tidak pula untuk mendapatkan bidadari dan rumah indah di surga’, tetapi hatinya ingin menikahi perempuan dan menikmati berbagai kelezatan hidup. Dari semuanya itu jelaslah, bahwa yang dituntut alam ruhani bukanlah yang dituntut alam jasmani. ‘Apakah Anda dapat memahami takdir demikian itu?” saya (al-Hasawi) menyahut, “Hampir memahami, Insya Allah.”

    Kemudian beliau ra. menuturkan adanya orang yang bertekad meninggalkan makanan sama sekali selama 40 hari. Setelah kelaparan, tanpa sadar dia pergi ke pasar. Di sana dia mendengar suara di depan kedai, “Aku beli kue manis itu sekian…” Selain itu, dia juga menyaksikan berbagai makanan yang serba menarik selera. Dia lalu berkata di dalam hati, “Puasaku yang berat ini mengingini makanan-makanan yang membangkitkan selera. Kalau begitu, aku hentikan saja puasaku yang telah sekian hari kujalani. “Beberapa saat kemudian dia dapat memperoleh yang diingini. Datanglah orang lain kepadanya sambil membawa makanan yang diingininya, lalu bertanya, “Siapakah diantara kita berdua yang timbangan kebajikannya lebih berat? Yang bertekad keras menjalani puasa 40 hari, tetapi tidak tahan dirongrong kelaparan, ataukah orang yang menikmati kelezatan-kelezatan makanan halal? Terimalah ini. Hentikan puasa 40 hari, setapak demi setapak, jangan sekaligus.”

    Beliau ra. melanjutkan, “Kisah di atas, merupakan perbandingan antara ruhani dan jasmani. Hendaklah Anda paham dan mengerti.”

    Di tengah perjalanan ke Subair beliau ra. berbicara mengenai keadaan kaum fakir miskin dalam hal menolak pemberian dan menerimanya. Beliau ra. berkata, “Diperlukan beberapa syarat bagi seseorang agar penolakannya itu dipandang baik.” Saya (al-Hasawi) bertanya, “Apakah persyaratan untuk menolak pemberian sama dengan persyaratan bagi orang yang menganggap harta itu sama dengan batu?” Beliau menjawab, “Ya.” Saya katakan, “Itu berat sekali dan merupakan masalah yang aneh. “ Beliau ra. menjelaskan, “Semua masalah kaum shalihin (para wali) memang serba aneh. Sebab mereka itu dan semua masalah mereka terkait erat dengan kehidupan akhirat. Dengan demikian, maka apa saja tentang masalah mereka sesungguhnya, tidaklah aneh. Camkanlah baik-baik apa yang telah kami katakan mengenai jalan hidupnya orang shalih (wali). Itu akan membuat anda memahami berbagai masalah yang belum menjadi perhatian anda. Selain itu, juga akan dapat memecahkan berbagai kesulitan, dan menjelaskan kepada Anda berbagai hal yang hendak Anda tanyakan.”

    Sumber:

    Alhaddad, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi. 2002. Pemantap Hati: Mutiara Kata dan Nasihat. Bandung, Pustaka Hidayah.


    [1] Nama sebuah kawasan yang banyak kebun kurmanya.

    [2] Bagian ilmu fiqh yang menetapkan pembagian harta waris kepada yang berhak.

    Upaya Memudahkan Penghidupan

    Posted by admin - 11 November 2013 - Aqidah
    0

    Kepada seseorang yang oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad RA dipandang sangat memperhatikan penghidupan sehari-hari, beliau menasehatinya sebagai berikut, “Bacalah kitab Al-Faraj Ba’da Asy-Syiddah, dan bacalah terus menerus firman Allah SWT, “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan akan memberikan rejeki kepadanya tanpa disangka-sangka (dari mana datangnya). Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sungguhlah Allah telah menetapkan ketentuan bagi segala sesuatu. (QS Ath-Thalaq: 2 – 3), tiap usai shalat, walaupun hanya tiga kali. Ayat tersebut itulah yang menjadi dasar penulisan kitab tersebut.”

    Kemudian beliau RA melanjutkan, “Semua urusan yang Anda lakukan hendaklah didasarkan pada sangkaan baik terhadap Allah agar anda merasa lega di dada. Sebab, tiap urusan akan menjadi mudah bila didasarkan pada sangkaan baik terhadap Allah. Manusia adalah lemah. Memang dia diciptakan Allah dalam keadaan seperti itu. Kisah Nabi Adam AS yang dipaparkan dalam Al-Quran adalah untuk menjelaskan kelemahan anak Adam. Allah SWT menempatkannya di dalam surga, tetapi setelah dia dilarang makan buah dari sebatang pohon, ternyata dia tidak dapat menahan diri.

    “Yasin (surat ke-36 di dalam Alqur’an) dan Laa ilaaha ilallah adalah obat bagi segala sesuatu. Jika anda masih sukar dalam menghapal surat itu selengkapnya, baca sajalah hingga ayat ke-9 (… yubshirun). Yasin adalah jantung Alqur’an, dan bagi kaum yang beriman surat tersebut amat besar artinya. Bahkan, jika ada orang yang sakit, tergelincir, dipermalukan, jatuh, tertimpa suatu musibah, atau mengharapkan kasih sayang; kepadanya selalu dikatakan, ‘Engkau harus membaca Yasin untuk mendapat lindungan Ilahi.’ Demikian besar dan pentingnya kedudukan Surat Yasin bagi kaum beriman, dan mereka pun amat memuliakannya. Bahkan, hingga sekarang hal itu terus berlangsung.”

    Alhaddad, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi. 2002. Pemantap Hati: Mutiara Kata dan Nasihat. Bandung, Pustaka Hidayah.

    AWSOM Powered