Archive: Desember, 2013

Rauhah Rabithah Alawiyah

Posted by admin - 30 Desember 2013 - Foto
0
Rauhah Rabithah Alawiyah

    Rauhah Rabithah Alawiyah pada hari Ahad, 29 Desember 2013. Membahas Kitab Manhajus Sawi tentang hikmah-hikmah yang terkandung dalam hadits Nabi Muhammad Saw oleh Ustadz Ahmad Muhammad Alatas.

    Rauhah Rabithah Alawiyah ini rutin diadakan tiap hari Ahad minggu keempat akhir bulan di Gedung Rabithah Alawiyah Lt. 4 Jl. TB Simatupang No. 7A, ashar berjamaah.

    Strategi Dakwah Islam di Era Global (Bagian 2)

    Posted by admin - 30 Desember 2013 - Da'i dan Dakwah
    0
    Prof. Dr. Achmad Satori Ismail

    Oleh: Prof. Dr. Achmad Satori Ismail *)

     

    Mencari Solusi Menghadapi Tantangan Global

    Sesungguhnya Allah SWT Maha Bijaksana, mengaitkan sebab dengan akibat. Apabila orang-orang Islam menempuh jalan yang lurus dalam memperjuangkan agama Islam niscaya mereka akan sampai kepada tujuan yang diinginkan dan memetik buah yang diidamkannya.

    Sebaliknya bila mereka berjalan sembarangan tanpa perencanaan yang matang dan mereka berpecah belah menjadi berbagai golongan, setiap golongan berjalan sendiri-sendiri, niscaya akan lemahlah mereka dan hilanglah kekuatan mereka dan akhirnya mereka akan menyesal dan merugi.

    Kita sering melihat orang-orang yang mengaku memiliki ghirah terhadap Islam tetapi mereka tidak mencanangkan upaya-upaya yang biasa mengantarkan mereka ke arah tujuan yang diidamkan, akan tetapi mereka melewati jalan yang berliku-liku yang tidak dapat merealisir cita-cita dan tidak mengantarkan mereka kepada pulau idaman. Di kalangan umat Islam terdapat individu-individu dan golongan-golongang yang mengaku sebagi shufi. Mereka duduk dikelilingi orang banyak, lantas mereka merasa cukup dengan nasihat-nasihat dari Majlis saja. Keadaan mereka sebelum masuk ke dalam majlis tidak berubah dan tidak ada perubahan yang dicapainya, tidak ada kekeliruan yang diluruskan dan tidak ada perbuatan salah yang dibetulkan.

    Mereka mengira bahwa dengan cara demikian ini, telah melaksanakan kewajiban dakwah dan menyangka bahwa para pengikutnyapun dianggap cukup baik bila bersikap seperti muslim sekarang ini. Dan mereka merasa bangga bahwa dia dari kelompok si Fulan dan golongannya si Fulan…

    Ada sebagian dari umat ini. bila disuruh berbuat baik ataupun dicegah dari kemungkaran senantiasa berdalih bahwa zaman telah rusak dan rumah tanggapun telah bejat, sehingga mereka tidak mampu untuk melepaskan diri dari kerusakan tersebut.

    Ada kelompok lain yang ingin berkhidmah kepada Islam, kemudian menulis, berkhutbah, merancang program dan menempuh jalan sampai jauh, akan tetapi ia melupakan dirinya, ia tidak memulai dari dirinya sendirinya untuk mengerjakan Islam sebelum jadi da’i. Dengan demikian ia telah keliru dari awal langkah menuju perbaikan, sehingga usahanya dalam berdawah tidak mendatangkan banyak hasil.

    Seharusnya, di antara langkah-langkah awal dalam berdakwah adalah memulai dengan menyiapkan pribadi-pribadi yang siap untuk dibebani tugas dan perjuangan,  kemudian menyiapkan keluarga-keluarga yang shaleh, mendidik anak-anak dengan pendidikan Islami yang baik dan menanamkan perasaan bertanggung jawab pada setiap anggota keluarga.

    Barulah setelah itu mengajak manusia agar pergi ke masjid untuk memperbaharui iman dalam hati, menyeru mereka menjalankan ajaran agama dan hukum-hukumnya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu mengaitkan mereka dengan muhasabah pada diri mereka dalam suasana ukhuwah  Islamiyah yang benar.

    Musuh-musuh Islam di luar dan di dalam, selalu menyusun program dan berusaha secara sistemik dan terorganisir secara baik untuk melemahkan umat Islam. Mereka sekarang ini merupakan kelompok kekuatan jahat, suatu kekuatan yang tidak bisa dilawan kecuali dengan kekuatan lagi bahkan dengan kekuatan yang lebih besar dan lebih mantap. Allah menegaskan hal ini dengan firmanNya:

    وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

    Artinya: Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka suatu kekuatan semampumu (Al-Anfal. Ayat: 60)

     

    Bagaimana Konsep ini Direalisasikan.

    Apabila orang-orang melihat bahwa di antara masyarakat Islam tidak ada orang yang menyeru ke jalan Islam dengan suatu cara yang jelas, maka hendaknya mereka bangkit bersama-sama untuk berusaha menolong Islam, dan berdakwah menyeru kepada Islam dengan sungguh-sungguh dan atas dasar metode praktis yang jelas.

    Dakwah mereka jangan sampai terbatas pada majlis-majlis taklim atau tabligh biasa saja, atau terbatas pada halakah-halakah ilmiyah dan seminar saja, ataupun terbatas pada zikir lisani saja yang tidak mampu menanamkan perubahan pada jiwa individu dan kelompok. Sekarang ini sudah banyak majlis taklim, sudah sering diadakan seminar-seminar, tidak sedikit halaqah zikir dan ceramah-ceramah, akan tetapi tidak ada dakwah untuk mengaplikasikan Islam, mengamalkannya dan memperbaharuinya.

    Umat sekarang ini amat membutuhkan dakwah semacam ini yang jauh dari hawa nafsu, yang ikhkas untuk Allah, tidak dikotori oleh ketamakan duniawi, ambisi pribadi dan penumpukan materi.

    Para da’i hendaknya memulai dari dirinya sendiri, memperkuat keimanan kepada Allah SWT, meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya, berusaha keras melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga ia selamat dari penyakit kronis yang diderita oleh masyarakat berupa pelanggaran tehadap agama Allah, durhaka kepada Allah dan bergelimang dosa.

    Mereka hendaknya memusatkan dakwah mereka terhadap diri sendiri terlebih dahulu, sebagai titik tolak untuk menuju amal Islami. Apabila jiwa-jiwa mereka telah lurus dan stabil dengan Islam barulah mereka menyuruh orang lain kearah jalan hidayat dan amal, apabila orang-orang memenuhi seruan ini maka hendaknya mereka menyeru keluarganya dan memperbaikinya. Dengan baiknya keluarga dan rumah tangga ini masyarakatpun akan menjadi baik.

    Individu-individu yang shaleh merupakan batu bata untuk membangun istana Islam yang megah, sedangkan keluarga-keluarga yang shaleh adalah sendi-sendi kuat untuk membangun masyarakat yang shaleh pula, apabila masyarakat telah baik dan shaleh maka akan terbentuklah opini umum yang shaleh.

     

    Pengokohan Pendidikan  Berbasis Sosial ekonomi

    Individu sholeh yang kita harapkan adalah individu unggulan, yaitu individu  yang memiliki tiga ciri;

    1. berkekuatan akidah,
    2. berkekuatan akhlak dan
    3. berakhlak kekuatan.

    Semua ciri di atas sangat penting. Karena serangan musuh-musuh Islam di arahkan untuk melemahkan semua ciri tersebut. Kehidupan social kita selalu direcoki oleh upaya pendangkalan akidah pengusakan moral bangsa melalui berbagai aktivitas, dari program tv, pementasan hiburan, pelestarian tradisi sesat dsb.

    Aspek penguatan akidah dan akhlak sudah banyak diperhatikan oleh berbagai lembaga pendidikan. Namun masih belum banyak lembaga pendidikan yang di samping menguatkan dua aspek tersebut, tapi memperhatikan juga aspek social ekonomi. Inilah tantangan pendidikan modern. Bagaimana kita mampu menyiapkan SDM yang berkekuatan akidah, berkekuatan akhlak dan berakhlak kekuatan.

    Yang dimaksud dengan berakhlak kekuatan adalah; insan yang memiliki kekuatan dalam berbagai bidang. Kuat penguasaan ilmu kauni, kuat jasmani, kuat enteurprenershipnya, kuat dalam bidang ekonomi dan lain-lainnya

    SDM unggulan yang seperti di atas,  akan dilahirkan  dari sistem pendidikan yang memperhatikan penguatan akidah, memperkokoh ibadah, menguatkan akhlak mulia, menanamkan eterprenership, memelihara tradisi kebaikan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.  Wallahu a’lam bis showab.

     

    *) Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI)

    *) Makalah disampaikan pada Seminar Pendidikan dan Dakwah Islam di Rabithah Alawiyah bertajuk “Revitalisasi Pendidikan dan Dakwah Islam Berorientasi Pemberdayaan Sosial-Ekonomi pada hari Sabtu, 14 Desember 2013.

    Ketua Umum Rabithah Alawiyah Bertemu Duta Besar Kesultanan Oman

    Posted by admin - 24 Desember 2013 - Foto
    3
    Ketua Umum Rabithah Alawiyah dan Duta Besar Kesultanan Oman

      Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Sayyid Zen Umar Smith, ketika menghadiri undangan Kesultanan Oman di Jakarta pada 18 November 2013.

      Strategi Dakwah Islam di Era Global (Bagian 1)

      Posted by admin - 16 Desember 2013 - Da'i dan Dakwah
      0
      Prof. Dr. Achmad Satori Ismail

      Oleh: Prof. Dr. Achmad Satori Ismail *)

      Kondisi Obyektif Umat Islam:

      Ada tiga hal besar yang menghambat perjuangan umat Islam dalam rangka melepaskan diri dari keterbelakangan dan mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia. Tiga hal ini  bisa kita  bedakan dengan istilah: Penyakit, kelemahan dan tantangan.

      1. Penyakit Umat Islam: Yaitu segala penghambat perjuangan umat Islam yang menyerang seluruh lapisan umat. Setiap individu dari umat Islam sebagai komunitas tidak bisa melepaskan diri dari penyakit itu. Contoh; system pendidikan sekuler, system ekonomi sekuler, ikhtilat (campur-aduk antara laki-laki dan perempuan) di tempat-tempat umum seperti; pasar, kendaraan umum, kantor, sekolahan dsb. Setiap  muslim  tidak bisa lepas dari system pendidikan sekuler secara  total. Ia akan terpengaruh dengan kurikulumnya, system pendidikannya, Ujian Akhir Nasional dst. Demikian juga dengan system ekonomi konvensional yang diterapkan di negeri ini membelenggu semua rakyat yang berada di dalamnya.
      2. Kelemahan Umat Islam: Segala penghambat perjuangan umat Islam yang menyerang sebagian individu muslim. Sebagian umat  memang tidak terserang, namun mayoritas masih terserang kelemahan ini, contohnya kelemahan di bidang ekonomi, di bidang pendidikan, organisasi dsb. Di bidang ekonomi, Sebagian orang Islam ada yang menjadi konglomerat dan ada yang kaya tapi kebanyakan adalah berekonomi lemah.  Sedangkan di bidang  pendidikan sebagian ada yang bisa mencapai gelar doktor namun sebagian besar  masih memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Dsb.
      3. Tantangan  adalah semua penghambat yang datang dari luar umat Islam atau dari musuh-musuhnya yang senantiasa berusaha memadamkan cahaya agama Allah. Ada dua macam tantangan yang dihadapi umat Islam sekarang ini; Pertama, al ghazwu al dakhily (Serangan dari dalam) seperti Al ghozwul fikri ( Serang pemikiran ) dan alghazwu ats tsaqafi (Serangan cultural) , dan Kedua, Al ghazwu al khariji ( serangan dari luar ) seperti  alghazwu al musallah ( Serangan bersenjata),  Pemalsuan citra Islam dsb.

       

      Dampak Tantangan Eksternal.

      Dampak dari tantangan dari luar yang dihadapi Umat Islam sangat besar a.l.: pendangkalan pemahaman agama, menjauhkan umat Islam dari agamanya dan bisa membawa kepada pemurtadan. Bila dirinci urutan-urutan yang ingin dicapai oleh musuh-musuh Islam dengan serangan ini adalah sbb.

      1. Al ghazwu al daakhily( Serangan dari dalam)  dengan menggunakan lima tahapan sbb.:
        1.  al ghazwu al fikri (Serangan pemikiran) dan al ghazwu al tsaqafi (Serangan cultural). Kedua serangan ini akan mengakibatkan lemahnya loyalitas umat terhadap agamanya, berkurangnya pemahaman umat Islam tentang keIslamannya dan berujung pada pemurtadan.
        2.  al imbihar bil gharb (Tercengang dan terbelalak dengan segala apa yang datang dari Barat). Ketika umat Islam telah dipengaruhi oleh invasi pemikiran dan invasi kultural, maka umat akan mengabaikan semua yang ada pada Islam dan menjadi sangat tertarik dengan semua apa yang dibawa oleh Barat.
        3.  al haziimah alfikriyyah (Kehancuran pemikiran). Umat Islam yang tidak lagi memperhatikan loyalitas terhadap keIslamannya, akan merasa rendah di hadapan budaya Barat.
        4. Pada gilirannya kehancuran system berfikir umat Islam ini akan mengakibatkan  al hazimah al hadloriyyah (Kehancuran budaya)  Maksudnya budaya pada umat Islam bukan lagi budaya asli yang telah dimilikinya beberapa abad yang lalu tapi telah bercorak lain yaitu budaya kebarat-baratan.
        5.  Adznaab al gharb (Pengekor Barat) Ketika umat Islam tidak lagi membanggakan budaya aslinya maka ia akan menjadi pengekor Barat dalam semua aspek kehidupan.

       

      Kondisi pahit ini pernah diramalkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya

      عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ( خ ) مسند الصحابة في الكتب التسعة – (ج 21 / ص 9)

      Artinya: Diriwayatkan dari abi Said r.a. bahwa Rasulullah saw berkata: Kamu sekalian kelak akan mengikuti perbuatan-perbuatan orang-orang sebelum kamu; sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga kalau mereka memasuki lubang biawak niscaya kamu akan mengikutinya. Kami bertanya: Wahai rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani ? Beliau menjawab; Siapa lagi kalau bukan mereka.( H.R. Bukhari dan Muslim)

      1. Al ghazwu al khariji( Serangan dari luar )  dengan menggunakan empat tahapan;
        1.  Tasywih shuratil Islam ( Memalsukan gambaran atau citra Islam). Tahapan ini telah dilakukan Barat dengan memberikan gambaran bahwa Islam adalah agama kemiskinan, agama kotor, agama terbelakang, agama kekerasan dan gambaran mutakhir yang dituduhkan  adalah Islam sebagai agama teroris.
        2. Langkah ini diteruskan dengan upaya untuk ightiyal al huwiyyah al Islamiyyah ( Menghapus semua identitas keIslaman) contoh tahapan ini adalah pelarangan pemakaian jilbab bagi muslimah di beberapa negara Barat,  mempersulit pemberian izin tinggal dari negara tertentu untuk para aktifis,  kesulitan para aktifis Islam untuk menjadi menejer di perusahaan-perusahaan asing di Indonesia kecuali mampu mengikuti tradisi dan kebiasan mereka. Dst.
        3.  Kemudian langkah ini dilanjutkan dengan takris al ‘ada ‘alal Islam ( Menanamkan kebencian terhadap Islam) sehingga memunculkan sikap  Islamophobia ( serba anti Islam) dikalangan non muslim dan mungkin di kalangan umat Islam sendiri sudah tertanam rasa kurang sreg terhadap diterpkannya syariat Islam.
        4. Pada langkah berikutnya adalah   Menjadikan Islam sebagai sasaran tembak  yang akhirnya semua manusia di bumi ini  Memusuhi Umat Islam dan  berusaha Menghancurkan semua hal yang Islami. Kondisi seperti ini sudah mendekati kenyataan, di mana ketika Irak dan Afganistan diluluh-lantakkan oleh Amerika dan pendukungnya tidak ada yang berani membela terang-terangan dengan mengirimkan senjata demi membela kemerdekaan suatu negara.

       

      *) Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI)

      *) Makalah disampaikan pada Seminar Pendidikan dan Dakwah Islam di Rabithah Alawiyah bertajuk “Revitalisasi Pendidikan dan Dakwah Islam Berorientasi Pemberdayaan Sosial-Ekonomi pada hari Sabtu, 14 Desember 2013.

      Foto: Seminar Pendidikan dan Dakwah Islam

      Posted by admin - 16 Desember 2013 - Foto
      0
      Pengurus Rabithah Alawiyah foto bersama dengan Dr. Irfan Syauqi Beik

        Pada hari Sabtu, 14 Desember 2013, Bidang Pendidikan dan Dakwah Rabithah Alawiyah mengadakan seminar bertajuk “Revitalisasi pendidikan dan dakwah Islam berorientasi pemberdayaan sosial-ekonomi”. Seminar yang diadakan di Gedung Rabithah Alawiyah lantai 4 ini dihadiri oleh Dr. Vivi Alatas, Prof. Dr. Ahmad Satori dan Dr. Irfan Syauqi Beik serta Sayyid Achmad Umar Mulachela sebagai keynote speaker.

         

         

         

         

        Foto: Pelatihan Teknologi Informasi Program Oracle

        Posted by admin - 3 Desember 2013 - Berita, Foto
        3
        Pelatihan Teknologi Informasi Program Oracle

          Rabithah Alawiyah bekerjasama dengan HIPPA – Indonesia mengadakan pelatihan Teknologi Informasi untuk program oracle. Pelatihan dimulai sejak hari Minggu, 1 Desember 2013 jam 09.00 – 15.00 dengan pengajar dari PT. Cybertrend dan akan berlangsung selama 8 kali pertemuan. Selanjutnya pelatihan Teknologi Informasi juga akan diadakan untuk program Java. Bagi yang berminat bisa klik informasi di sini 

           

           

           

          AWSOM Powered