Archive: Januari, 2014

Ikatan Batin Antara Keturunan Arab dengan Pribumi

Posted by admin - 6 Januari 2014 - Opini
0

Oleh: Chefik Chehab

Bila uraian ini ada manfaat untuk khazanah kebangsaan kita maka segala puji dan hanya Allah SWT semata. Tapi bila ada mudharatnya, betapa kecilpun, saya mohon dibukakan pintu maaf. Saya telah dididik untuk: (1) Jangan cemas mengakui salah bila  memang salah dan (2) jangan malu minta maaf bila memang salah.

Dalam surat Al-Hujarat (ke-49) ayat 13, Allah berfirman : ” Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (1) supaya kamu saling kenal mengenal (2). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu (3). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Mengenal. “

Tafsir dari ayat tersebut di atas :
(1) = ilmu yang mempelajari asal-usul lahirnya pelbagai ras, bangsa, suku bangsa, suku, anak-suku, di muka bumi ini antara lain melalui ikatan perkawinan (asimilasi) dan pembauran budaya (adaptasi kultural) dan itu adalah sunnahtullah. Orang yang tidak mendasarkan ilmunya dari ajaran agama mengistilahkan dengan ” Hukum Alam “.
(2) = landasan ilmu untuk hidup berdampingan secara damai dan penuh toleransi dalam masyarakat  yang heterogen (peaceful co-existense) dan bukan untuk saling mematai dan atau saling memerangi.
(3) = titik-tolak filosofi akan faham bahwa manusia ketika dilahirkan itu setara dengan yang lain. Adalah jalan hidupnya yang menentukan kelak : mau bertaqwa atau ber-durhaka. Itu yang membedakan manusia kemudian.

Ikatan darah-daging yang erat.
Dalam bahasa Arab, perkataan ‘khal’ berarti kakak atau adik laki-laki dari pihak ibu. Bentuk betinanya dari perkataan itu adalah ‘khala’ manakala dimaksudkan dengan kakak atau adik perempuan dari pihak ibu. Jikalau dijamakkan (bentuk plural), maka perkataan itu menjadi ‘akhwal’ yang berarti seluruh kerabat anggota keluarga dari pihak ibu. Maksudnya bahwa ada hubungan kekeluargaan  karena ikatan perkawinan (relatives) dan ada kalanya bisa juga menunjukkan sebagai penghargaan. Orang-orang Indonesia keturunan Arab biasa menyebut ” akhwal ” bila mereka dimaksudkan orang-orang pribumi disini. Hal ini bukan tanpa alasan, karena memang dengan demikianlah sudah jalannya sejarah. Hal ini tidak lain karena penduduk bumiputera adalah anggota keluarga dari pihak ibunya dan kenyataannya merupakan ikatan darang-daging/keturunannya.

Patut dicatat disini bahwa orang-orang Arab yang menginjak bumi di Kepulauan Nusantara ini, dari Aceh sampai ke Halmahera untuk berniaga seraya mengajak penduduk yang masih menganut aneka kepercayaan non-samawi memeluk aqidah Islam, mereka mengawini wanita-wanita pribumi disini dari berbagai suku. Hal ini telah berlangsung semenjak lebih dari seribu tahun yang silam secara damai ( = penetration pacific).

Dari asimilasi ini, yang telah berlangsung selama berpuluh generasi, lahirlah apa yang kita kenal dewasa ini dengan istilah bangsa Indonesia keturunan Arab. Dengan perkataan lain, yakni bahwa bangsa Indonesia keturunan Arabini sudah merupakan satu bagian yang tidak dapat dipisahkan lagi dengan keluarga besar bangsa Indonesia secara keseluruhan; baik dari keturunan maupun dari dari hubungan darah dan yang bernaung  dibawah panji : ” Bhineka Tunggal Ika.” Demikian pula pendapat dari pendamping proklamator Republik Indonesia, Drs. H.Mohammad Hatta, dalam suratnya kepada AR Baswedan (= pencetus Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab – 1934 dan pendiri Partai Arab Indonesia) yang telah disiarkan secara luas di surat-surat kabar Harian a.l. di Pikiran Rakyat, 26/12-1975, Pelita, 26/12-1975, Merdeka, 31/12-1975 dan majalah dwi-mingguan Panji Masyrakat No.192/tahun 1976.

Sebelumnya, dala prasaran pada seminar sejarah Riau di Pekanbaru, bulan Mei 1975, Prof. DR. Hamka menyatakan bahwa justru mengenai hal ini sulit kita berbicara soal asli atau tidak asli (Panji Masyarakat, No.177/Mei 1975). Sebagai contoh  adalah mengenai marga Jamal-ul-Lail yang berasal dari tanah Arab itu telah sedemikian berintegrasi di daerah Pariaman, Sumatera Barat, dalam usaha menyebarkan Islam di daerah itu. Penduduk setempat menggelari anak-anak keturunan Jamal-ul-Lail ini dengan sebutan Sidi. Kini banyak Sidi tidak menggunakan marga Jamal-ul-Lail  karena gelar Sidid sudah cukup mewakili identitas mereka (lihat penjelasan Prof.FR.Hamka dalam Panji Masyarakat No.169, 15 Februari 1975).

Selanjutnya Prof.DR.Hamka juga mengungkapkan bahwa adalah fakta sejarah yang karena kecintaan rakyat me-raja-kan Sayyid Ali bin Uthman bin Syahab menjadi Sultan dari Kesultanan Siak Sri Indrapura dan saudaranya, Sayyid Abdulrahman bin Uthman bin Syahab adalah pendiri Kesultanan Palawan. Cicit dari Sultan Siak Sri Indrapura itu, yang Dipertuan Besar Sri Sultan As-Syarif As-Sayyid Qasim Saifuddin bin Syahab Al-Ba’alawi telah berjasa terhadap Republik Indonesia. Adalah beliau yang pertama menyatakan Kerajaannya menggabungkan diri ke dalam wilayah negara Republik Indonesia di Yogyakarta. Pernyataannya itu dibarengi pula dengan sumbangannya sebanyak 13 juta Gulden kepada Republik Indonesia pada tahun 1945.

Sayyid Asy-Syarif Abdulrahman bin Husein Al-Kadri menaiki tahta Kesultanan Pontianak juga karena di-raja-kan oleh Rakyat setempat yang mencintainya. Demikian uraian dari Prof.DR.Hamka dalam majalah Panji Masyarakat No. 177/1975.

Apa nasihat rahasia orientalis Belanda ?
Dr. Hazeu Adviseur Voor Islamitische Zaken ( = Penasihat Urusan Islam) pada Pemerintahan Kolonial mengatakan dalam nasihat rahasianya (Getheime Brieven) kepada Gubernur Jenderal pada waktu itu (1908) pada halaman 3 sbb. : ” Bahaya orang-orang Arab untuk rakyat pribumi pada umumnya tidak bersangkutan dengan kepentingan-kepentingan ekonomi, akan tetapi dengan sikap religius dan politik mereka dan intoleransi terhadap orang-orang yang tidak memeluk agama Islam.” pada halaman 5 selanjutnya ia katakan : “………..selain daripada itu dan ini adalah sangat penting dipandang dari kepentingan politik adanya kemungkinan agitasi  dari Pan Islam di bawah pimpinan unsur-unsur Arab masih merupakan bahaya bagi perkembangan negeri dan rakyatnya.” Karena itulah ia bersama Prof Snouck van Hugronye (advis 3 Juni 1908) mengusulkan mengadakan peraturan atau kalau perlu larangan imigrasi orang-orang Arab ke Hindia Belanda.

Dalam satu artikel dalam majalah ” Vragen vanden DAG ” (= masalah-masalah Dewasa ini) No.XIII/Thn 1903 ada suatu artikel mengenai orang-orang Arab di Indonesia yang berjudul : ” De Arabieren in onze Oost. Een Waarschuwing !” (= Orang-orang Arab di Timur Kita : Suatu Peringatan ! ) dapat dibaca a.l. ” Kalau ada hampir semua pelanggaran terhadap Undang-undang dan adat sopan santun, Cina yang terlibat, maka perlawanan terhadap penguasa hampir semua dikobarkan oleh komplotan pengacau-pengacau berkebangsaan Arab. Di Aceh, orang-orang Arab memegang peranan penting. Di Lombok pada waktu kerusuhan membawa bencana besar, orang-orang Arab diduga keras memegang peranan penting pula.” Pro DR Pijper, juga penasihat urusan Islam, menyatakan bahwa majalah tersebut di atas adalah majalah penting pada masa itu.

LWC Van den Berg, orientalis dan juga penasihat urusan islam pada Pemerintah Kolonial, pernah ditugaskan untuk meneliti masalah keturunan Arab di Batavia (1884) lalu memperluas studinya ke kota-kota Palembang, Bandung, Cirebon, Tegal, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya bahkan sampai ke Sumenep di Madura (hingga tahun 1886). Pada tahun 1886 dia menyelesaikan  tugas penelitiannya yang diminta oleh Pemerintah Kolonial yang dia bukukan di bawah judul : ” Le Hadhramaut et les colonies Arabies dans L’archipel Indien. ” Buku itu dengan sengaja  ia terbitkan dalam bahasa Perancis dan bukan dalam bahasa Belanda agar itu hanya beredar dalam lingkaran terbatas saja yaitu golongan intelektuil. Buku tersebut kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (dalam 2 jilid) dengan judul : ” Hadhramout dan koloni Arab di Nusantara ” (1989) yang merupakan produk kerja-sama  ‘studi Islam Indonesia-Belanda’ ( = Indonesian-Netherlands cooperation in Islamic Studies) antara Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam-Departemen Agama (Jakarta) dengan jurusan bahasa dan kebudayaan Asia Selatan dan Pasifik, Universitas negeri, Leiden, Netherland.

Van den Berg mencatat adanya aktivitas niaga dan transaksi uang yang umumnya dilakukan dalam bentuk tunai yang dititipkan melalui orang-orang yang akan pulang ke tanah kelahirannya. ” Saya belum pernah dengar kasus penyalah-gunaan kepercayaan itu,” ujarnya. Orang-orang Arab di Nusantara waktu itu boleh berbangga atas data statistik kriminalitas di kalangan mereka. Van den Berg mencatat bahwa dalam masa antara 1883-1885 ada delapan orang Arab yang dijatuhi hukuman kurung; tujuh diantaranya adalah Arab campuran yang dhukum karena pencurian (baca : ” Warga Arab di Nusantara yang asal Hadhramout,” ( Harian Kompas, Rabu 13 Juli 1994).

Orang Arab di Indonesia
Dalam suatu resepsi diplomatik (September 1982) seorang diplomat Barat (bule) bertanya kepada penulis ” How many Arabs are in Indonesia ?” Penulis menjawab ada lebih kurang dari 300 orang warga Negara Yaman Selatan (The People’s Democratic Republic of Yemen). Mereka memegang Kartu Izin Menetap Sementara (KIMS) yang harus diperpanjang setiap tahun dan lebih kurang 100 orang diplomat Arab yang berasal dari lk 10 kantor Perwakilan/Embassy di Jakarta.

Keterikatan antara keturunan Arab dengan pribumi bukan semata-semata karena mereka memeluk agama Islam sebagai Agama mayoritas di Indonesia, akan tetapi terlebih-lebih karena mereka mempunyai cita-cita luhur yang sama, yakni :” sama-sama berjoang untuk mengenyahkan penjajah.”

“Secara pribadi mereka menjadi Indonesia tulen. Keturunan Arab di Indonesia tidak menciptakan masalah. Mereka telah berasimilasi dan berintegrasi di dalam masyarakat pribumi Indonesia,” demikian kata DR Toyiman Sidik Prawiro, MPA, Direktur Jenderal Bidang Umum Sosial Politik di Departemen Dalam negeri RI (sk Harian Indonesia Times, 7 Desember 1982.

Ikatan batin yang kuat
Adalah fakta bahwa hingga kini, belum ada yang terlibat dengan perusakan lingkungan hidup, perusakan ekosistem, misalnya dengan penggundulan hutan/illegal logging, pengerukan pasir secara membabi buta, baik dari dasar sungai maupun pasir laut, penjualan perempuan untuk dijadikan penjaja seks serta aneka perbuatan criminal lain.

Alhamdulillah juga bahwa banyak sudah yang dipercayakan untuk memangku jabatan kenegaraan. Ada yang masih mencantumkan nama marga asal dan ada pula yang tidak mencantumkannya lagi seperti misalnya Prof. DR. Fuad Hasan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Ali Said (Jaksa Agung). Yang patut disyukuri juga bahwa sudah ada kepala daerah yang telah dipilih langsung oleh rakyat setempat dalam pilkada untuk menjabat sebagai gubernur. Seperti mantan Gubernur Gorontalo DR. Fadel Muhammad dari marga Alhaddar dan Gubernur Kepulauan Riau, Ismet Abdullah dari marga Bamasymus.

Tulisan ini mencoba mengingatkan khususnya kepada generasi muda Indonesia keturunan Arab, agar tetap menjaga nama baik dan jangan mencemarinya dengan tindakan-tindakan tercela seperti menjarah, tawuran yang biasanya dilanjutkan dengan tindakan anarki, vandalism, barbarism, merusak inventariat milik negara dan lain sebagainya. Coba renungkan dan ingat-ingat sudah beberapa kali kita lihat tayangan di TV pintu-pintu gerbang milik instansi Negara yang sudah dirusak, kaca-kaca jendela yang dipecahkan. Meja kursi yang dibanting, arsip kantor yang diobrak-abrik, bahkan sampai jatuh korban.

Semoga kita bersama mau merenungkan kembali semangat persatuan kita yang pernah ada untuk mengusir penjajah merebut kemerdekaan yang mahal. Seharusnya dan sewajarnya kita bersama-sama membina negeri ini dengan kompak karena generasi muda kita kelak sudah akan lebih sering campur membentuk masyarakat yang majemuk yang tidak lagi dipilah-pilah oleh bawaan etnis masing-masing.

Masing-masing keturunan etnis yang kini tumbuh dan berkembang di Indonesia pastinya mempunyai latar belakang yang berbeda. Tapi bila kita merujuk kepada kesatuan bangsa, memang benar masa depan anak keturunan kitalah yang sebaiknya dari kini ditata bersama agar menjadi suatu bangsa yang solid dan berbakti kepada ibu pertiwi tanpa harus menimbulkan anarki diantara sesama saudara yang disebut bangsa Indonesia.

Kita satu sama lain hendaknya saling menguatkan dan saling percaya, siapapun asal usul kakek moyang kita. Sebenarn-benarnya Allah telah memberikan tanggung jawab kehidupan kita di bumi ibu pertiwi kita saat ini sehingga kelak diharapkan semua sila pada Pancasila benar-benar wujud. Semoga niat baik dan suci kita semua mendapat barakah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Amin.

Sumber:

Chefik Chehab. 2009. “Ikatan Batin Antara Keturunan Arab dengan Pribumi”. Harian Pelita. 1 – 2 Desember.

Doa Awal Tahun dan Akhir Tahun Masehi

Posted by admin - 3 Januari 2014 - Doa
13

دعاء الإخوان في الله لإخوتي وأحبتي جميعاً في هذا اليوم المبارك أجدد معهم عهد الإخوة في نهاية العام الميلادي 2013 وكل عام وأنتم إخواني من الخير في مزيد ومن صفاء القلب لكم تجديد وهو لشيخنا الحبيب عمر حفظه الله امين

اللهم لك الحمد على نعمة الأخوة فيك وصل اللهم وسلم على واسطتها سيدنا محمد وآله، اللهم اجعل صلتي بإخواني هؤلاء لك ومن أجلك ولا تشوبها شائبة من إرادة سواك، اجعلها مقبولة لديك، ترفعنا بها عندك إلى أعلى درجات المتحابين فيك، اللهم قو بيننا هذا التحابب ووثق بيننا الترابط، وأدم بيننا الود الكامل الهني، والمحبة الخالصة الصافية، وأبعد عنا كل ما يوهن عرى ذلك التحابب والتواد والاجتماع على طاعتك، وعرفني اللهم حقوق إخواني فيك، ووفقني للقيام بها، اللهم إني أسألك أن تلهمهم رشدهم في جميع شئونهم، وتحفظهم من كل سوء ظاهر وباطن في أديانهم وأبدانهم وقلوبهم وأفكارهم وعقولهم وإرادتهم وخواتيمهم وقبورهم وبرازخهم وآخرتهم يارب العالمين. اللهم ثبتنا وإياهم على المنهج الذي يرضيك وأدم استمساكنا بحبل طاعتك وحسن الإقبال عليك، وارزقنا كمال التقوى وحسن مخافتك ومراقبتك في السر والنجوى، وادفع اللهم عنا كيد الكائدين، وأذى المؤذين وشر كل ذي شر من الخلق أجمعين، وسخر اللهم لنا الأسباب وسخر لنا القلوب والعقول والأفكار والخواطر واجعلنا مرعيين في جميع أحوالنا بجميل رعايتك، محفوظين بعظيم عنايتك، اللهم ارزقني وإياهم الصدق في وجهتنا وحقق لنا أمالنا وهبنا فوق آمالنا وانصرنا بنصر الشريعة، وأيدنا بتأييدك الذي لا يغلب، وأدم لنا عوافيك ولا تشغلنا بسواك، ووفقنا أكمل التوفيق لإنجاز الوعد والوفاء بالعهد وإنفاذ العقد، وصرف أعمارنا وأوقاتنا في خير ما يرضيك عنا، واجعلنا من أنفع المسلمين للمسلمين، وأبرك المسلمين على المسلمين، واجعلنا ممن تجمع بهم شمل هذه الأمة وتجدد بهم دينها، واحيي بنا آثار شريعتك وما أمات الناس من سنة نبيك، واجمعني اللهم وإخواني هؤلاء في ظل عرشك في زمرة نبيك، وأوردنا حوضه، واسقنا بكأسه بيده، وأسعدنا بمرافقته، ياكريم يامنان في أعلى فراديس جنتك، يا أرحم الراحمين يا أرحم الراحمين.  اللهم اجعلنا فتية آمنوا بربهم وزدنا هدى، واربط على قلوبنا حتى تجمعنا في ساحة النظر إلى وجهك الكريم، وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم.

وقد أوصى سيدي الحبيب حفظه الله وحفظنا به بالمحافظة والمداومة على هذا الدعاء.

AWSOM Powered