Archive: Maret, 2014

Habib Sis Aljuffri Nama Bandara di Palu

Posted by admin - 25 Maret 2014 - Berita
1
Bandara Mutiara Palu

REPUBLIKAPENERBIT, — Keluarga Habib Saggaf Aljufri bisa saja menjadi orang yang paling berbahagia pada hari itu. Keturunan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri itu bersyukur dan bangga karena nama kakeknya ditetapkan sebagai bagian dari nama Bandar Udara Mutiara Palu.

Mulai 28 Februari 2014, bandara kebanggaan masyarakat Kota Palu dan Provinsi Sulawesi Tengah itu bernama Mutiara SIS Aljufri, setelah Menteri Perhubungan EE Mangindaan membubuhkan tandatangan di surat keputusan perubahan nama itu.

Habib Saggaf Aljufri yang juga Ketua Utama Pengurus Besar Alkhairaat itu mengumpulkan keluarga dekatnya untuk bersyukur ketika perubahan nama bandara itu diumumkan pada pertengahan Maret 2014.

“Keluarga Habib Saggaf juga akan membuat acara syukuran sebagai ungkapan rasa terima kasih,” kata Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat Lukman Thaher baru-baru ini. Dia mengatakan perubahan nama bandara di Palu itu sangat berarti bagi Alkhairaat dan warga Sulawesi Tengah.

“Ini berarti pemerintah setempat telah mempercayakan kepada pendiri Alkhairaat,” kata mantan Rektor Universitas Islam Alkhairaat ini.

Di dalam Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 178 Tahun 2014 tercatat Habib Sayyid Idrus bin Salim AlJufri merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah di bidang pendidikan agama Islam. Ulama asal Hadramaut, Timur Tengah, itu dianggap sebagai inspirator terbentuknya sekolah di berbagai jenis dan tingkatan di Sulawesi Tengah yang dinaungi organisasi Alkhairaat.

Perubahan nama bandara itu juga untuk menghargai jasa serta perjuangan Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dalam menyebarkan ajaran Islam di kawasan timur Indonesia.

Wali Kota Palu Rusdy Mastura mengatakan bahwa kata Mutiara pada nama bandara tetap dipertahankan karena mengandung nilai sejarah tinggi. Nama Mutiara sendiri diberikan oleh Presiden Soekarno saat berkunjung ke Palu pada 5 Oktober 1957. Bung Karno saat itu merasa prihatin dengan nama pertama bandara di Palu yang didaratinya, yakni “Masovu”. Masovu adalah bahasa Kaili yang berarti berdebu. Mengetahui artinya yang dirasa kurang sedap, Bung Karno segera menggantinya menjadi Bandara Mutiara. Alasannya adalah sewaktu Bung Karno hendak mendarat di Palu yang saat itu masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Donggala, dia melihat perairan di sekeliling daerah itu berkilauan laksana mutiara bertaburan.

Sejarah memang tak bisa dikesampingkan. Karena itu nama Bandara Mutiara SIS Aljufri diusulkan oleh Pemkot Palu setelah melalui persetujuan DPRD setempat sejak tiga tahun silam. SIS Aljufri dianggap sosok yang mewariskan ilmu tak lekang oleh waktu dan terus memancarkan sinar ibarat mutiara. Nama Bandara Mutiara SIS Aljufri yang baru diumumkan itu kini gencar disosialisaikan oleh pihak bandara, Pemerintah Kota Palu, dan maskapai penerbangan.

Kepala Bandara Mutiara SIS Aljufri Benyamin Apituley mengatakan sosialisasi itu dilakukan melalui pilot pesawat kepada penumpang ketika akan mendarat di bandara di Palu. Selain itu, katanya, pihaknya juga akan mencatatkan nama Bandara Mutiara SIS Aljufri ke dalam buku penerbangan nasional dan internasional agar diketahui secara luas. Benyamin mengatakan pihaknya juga sedang menyesuailkan nomenklatur perubahan nama bandara selama enam bulan ke depan.

“Kita juga akan menarik cap atau kop surat yang telah keluar dan menggantinya dengan yang baru,” ujarnya.

Saat ini Bandara Mutiara SIS AlJufri sedang dalam penyelesaian pembangunan terminal, dan akan dipergunakan secara resmi pada 13 April 2014 bersamaan dengan HUT ke-50 Provinsi Sulawesi Tengah.

Guru Tua
SIS AlJufri yang juga disapa Guru Tua adalah tokoh muslim penyebar agama Islam yang mendirikan perguruan tinggi Alkhairaat di Kota Palu dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia. Hingga saat ini Alkhairaat terus berkembang dengan mendirikan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan sejumlah unit usaha lainnya.

Guru Tua lahir di Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892. Guru Tua bersama rombongan menginjakkan kaki pertama di Pelabuhan Wani, Kabupaten Donggala, pada 1929. Kedatangannya di Wani atas ajakan masyarakat Arab melalui saudara SIS Aljufri untuk mendirikan madrasah. Pemerintah Belanda yang saat itu menduduki Donggala tidak memberikan izin pendirian madrasah karena dianggap bisa memengaruhi pemikiran rakyat saat itu. Guru Tua akhirnya mendirikan sekolah di Palu, sekitar 30 kilometer dari Wani. Madrasah tersebut bernama Alkhairaat. Guru Tua wafat pada 22 Desember 1969 dan dimakamkan di dekat masjid Alkhairaat di Jalan SIS Aljufri.

SIS Aljufri telah mengabdi untuk kepentingan umat Islam di Nusantara, khususnya di bagian timur Indonesia sekitar 40 tahun. Hingga saat ini telah terdapat sekitar 1.600 sekolah Alkhairaat berbagai tingkatan di kawasan timur Indonesia.

SIS Aljufri juga dikenal dengan panggilan Guru Tua karena hingga akhir hayatnya dia selalu memberikan ilmu kepada masyarakat melalui madrasah ataupun ceramah agama di berbagai tempat. Guru Tua juga dianggap sebagai sosok yang memberi pencerahan kepada masyarakat karena pada awal kedatangannya banyak masyarakat yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.

“Guru Tua adalah simbol di Sulawesi Tengah dan masyarakat timur Indonesia sudah selayaknya perjuangannya diakui pemerintah,” kata Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat Lukman Thaher.

Sebelum diabadikan menjadi bagian nama bandara, SIS Aljufri juga telah ditetapkan sebagai nama jalan di Kota Palu. Guru Tua juga telah diusulkan menjadi pahlawan nasional beberapa tahun silam.

“Pintu masuk untuk dinobatkan sebagai pahlawan nasional sudah terbuka,” kata Lukman Thaher.

Sumber: di sini

Beasiswa Universitas Al-Ahgaff Yaman 2014

Posted by admin - 19 Maret 2014 - Informasi Beasiswa
12
Universitas Al-Ahgaff Yaman

Universitas Al-Ahgaff berpusat di Mukalla, ibukota provinsi Hadramaut Republik Yaman. Provinsi yang kaya akan peradaban dan semarak dengan ilmu pengetahuan. Kantor rektor dan semua Fakultas Universitas berada di kota yang berada di ujung semenanjung Arab ini. Fakultas Syariah saja yang berada di Kota Tarim. Hal ini dilakukan guna terwujudnya pendidikan syariah yang tidak diperoleh dari bangku kuliah saja, namun juga didapat melalui lingkungan agamis dan ilmiah.

Tarim terkenal sebagai kota ilmu dan ulama sehingga pada tahun 2010, Tarim yang terletak sekitar 300 km dari kota Mukalla dinobatkan sebagai Kota Budaya Islam/Capital of Islamic Culture oleh organisasi ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization)

Faktor sosial budaya kota Tarim ini sangat mendukung untuk dijadikan sebagai tempat mendalami ilmu agama. Apalagi hal tersebut didukung faktor sejarah yang mencatat bahwa dari sinilah Islam di beberapa belahan dunia (seperti Asia dan Afrika) disebarkan dan berkembang pesat tanpa kekerasan dan teror berkat kegigihan, keikhlasan, keilmuan dan budi pekerti mulia para tokohnya dalam berdakwah.

Universitas Al-Ahgaff berdiri sebagai langkah nyata dari gagasan para ulama terkemuka yang dipelopori Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Mahfudz Al-Haddad (Alm), Mufti Provinsi Hadramaut kala itu demi terwujudnya tujuan utama yaitu membangun sarana pendidikan Islam yang bermutu bagi masyarakat Muslim dunia dengan pola pendidikan yang mampu mencetak sarjana Muslim yang prospektif dan mumpuni dalam segala aspek kehidupan berasaskan ruh Islami berhaluan pemahaman Ahlusunnah wal Jama’ah.

Universitas ini resmi didirikan pada tahun 1994 melalui SK Menteri Pendidikan No. 5 tanggal 8 Februari tahun 1994. Pada tahun 1995 Universitas Al-Ahfaff resmi menjadi anggota Persatuan Universitas Liga Arab dan resmi menjadi anggota Asosiasi Universitas-Universitas Islam .

Beasiswa bagi mahasiswa/I Indonesia hanya diberikan khusus untuk studi di:

  1. Fakultas Syariah untuk pria
  2. Fakultas Tarbiyah, jurusan Kajian Islam untuk wanita

Syarat Pendaftaran

  1. Mengisi formulir pendaftaran
  2. Menyerahkan fotokopi ijazah SMU/MA/Sederajat, sebanyak 2 lembar dengan nilai rata-rata komulasi min. 7,5
  3. Ijazah tidak lebih dari tiga tahun
  4. Menyerahkan pas foto berwarna ukuran 4×6 background putih (4 lembar)
  5. Membawa surat pengantar dari pondok pesantren/sekolah
  6. Bagi yang ijazahnya belum keluar, maka dapat menyerahkan fotokopi rapot kelas 10, 11 dan 12 yang telah dilegalisir dari sekolah SMU/MA/Sederajat.

Materi ujian

  1. Ujian Tahriri: Bahasa Arab (Nahwu/Shorof/Ta’bir) dan Fiqih
  2. Ujian Syafahi: Muhadatsah dan membaca kitab setingakt Fatul Qorib Syarh Taqrib.

Beasiswa yang diberikan

Bagi mereka yang telah dinyatakan lulus tes dan memenuhi syarat, akan mendapatkan beasiswa penuh (pendidikan, asrama dan makan) tidak termasuk ijin tinggal dan uang saku. Untuk biaya keberangkatan jaminan tiket kepulangan, visa, terjemah ijazah dan lain-lain, calon mahasiswa dikenakan biaya administrasi sebesar USD 2.500

Jadwal Ujian dan Mekanisme Pendaftaran

Pendaftaran dibuka mulai pada awal bulan April 2014 dan berkas harus sudah diterima Kantor Pusat Universitas Al-Ahgaff di Indonesia melalui POS, Jasa Titipan Kilat atau email sebagaimana tersebut di atas paling lambat 7 hari sebelum masa ujian dimulai. Pengumuman hasil tes dapat dilihat di website kami: www.ahgaff.edu atau di group FB: YAYASAN AL-AHGAFF INDONESIA selambat-lambatnya tanggal 10 Juni 2014.

Kantor Pusat Universitas Al-Ahgaff di Indonesia

Jl. Jagasatru No. 56/193CirebonJawa Barat 45115

Telp. (0231) 203157

CP: 08122212000, 081546522000 (tidak melayani SMS)

Ali Aljufri: 089661515845

Ust. Anas Junaedi: 085697714047, 087874116529

Ust. Fakhruddin Jamal Bandera: 081282175322, 087878955507

Ust. Nur Wahid: 085325711383, 087781234898

Ust. Sirajuddin Mukhtar: 085781830107

Ust. Muhammadun: 085747071929

Email             : ahgaff_indonesia@yahoo.comindonesia@ahgaff.edu

FB                   : Yayasan Al-Ahgaff Indonesia

Website         : www.ahgaff.edu

Informasi Jadwal dan Lokasi Tes Seleksi silahkan download di sini

Habib Ali Aljufri: Menghadirkan Hati Saat Memasuki Masjid

Posted by admin - 5 Maret 2014 - Da'i dan Dakwah
0
Habib Ali Aljufri

Sesungguhnya setiap orang yang melakukan shalat itu adakalanya termasuk dari golongan “gembirakan kami dengannya”, yakni golongan yang hatinya dipenuhi rasa kerinduan kepadanya, dipenuhi dengan kerinduan terhadap kedatangan waktunya, sehingga, bila telah datang waktunya, di saat-saat itulah datang kebahagiaan hatinya. Atau adakalanya ia termasuk dari golongan“…gembirakan kami dengan segera berlalunya ia”, yakni mereka yang memandang shalatnya sebatas utang yang harus dibayar, sehingga ia merasa senang dan bahagia apabila telah melunasinya dan tidak lagi ditagih karenanya. Atau adakalanya ia termasuk ke dalam golongan orang yang tidak merasakan apa pun, tidak yang ini dan tidak pula yang itu! Dan mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan “gembirakan kami dengannya”, dengan izin Allah SWT.

Selanjutnya pengasuh menjelaskan perkara yang dapat menolong dan membantu kita untuk dapat hadir bersama Allah SWT di saat takbiratul ihram (Allahu Akbar) yakni merasakan masuk ke dalam masjid dengan penuh penghormatan dan pengagungan.

Dalam hal ini terdapat adab-adab yang diajarkan oleh Nabi SAW yang kebanyakan kita menganggapnya kecil, padahal tidak ada satu pun yang kecil dari adab-adab Nabi SAW.

Ketika Nabi SAW mengajarkan kepada kita, di saat masuk masjid, masuklah dengan kaki kanan dan ketika keluar keluarlah dengan kaki kiri, sesungguhnya perkara yang dituntut bukanlah se-kadar tentang perkara kaki yang didahulukan dan kaki yang diakhirkan. Tidak… tidak demikian adanya! Perkara yang dituntut sesungguhnya adalah menghadirkan makna di saat engkau melatih nafsumu bahwa di saat memasuki masjid janganlah engkau menjadikan masukmu itu sebatas masuk yang bagaimanapun adanya dan seperti apa pun rupanya tanpa makna apa pun. Ketika engkau masuk dengan kaki kanan atau dengan kaki kiri sekehendak nafsumu, itu hanya akan menjadi masuk yang biasa saja, sebatas langkah biasa yang engkau lakukan. Akan tetapi ketika engkau masuk ke dalam masjid dengan mendahulukan kaki kanan, pada saat itu terdapat makna bahwa engkau tengah mengendalikan dan melatih nafsumu untuk senantiasa berittiba kepada Baginda Mushthafa Rasulullah SAW dan engkau merasakan bahwa engkau sedang masuk ke suatu tempat yang berbeda, bukan tempat yang biasa, karenanya engkau lalu memuji Allah SWT, bershalawat kepada Baginda Nabi SAW, dan memohon kepada Allah SWT untuk membukakan pintu-pintu rahmat-Nya, engkau ucapkan, “Allaahummaftah abwaaba rahmatika, a-`uudzu billaahil-`azhiim wa wajhihil-kariim wa sulthaanihil-qadiim minasy-syaithaanir rajiim (Ya Allah, bukalah segala pintu rahmat-Mu. Aku berlindung kepada Allah, Yang Maha Agung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang qadim dari setan yang terkutuk).” Setelah itu masuklah ke dalam masjid.

Salah seorang pedagang akhirat dari guru-guru kami berkata, “Wahai anak-anakku, aku berwasiat kepada kalian, apabila kalian masuk ke dalam masjid, sebelum masuk hadirkan dan rasakanlah, meskipun hanya sesaat, ke manakah kalian akan masuk?”

Itulah sebabnya, jangan sekali-kali masuk ke dalam masjid sekehendak nafsu dan keinginanmu. Mengapa engkau mendahulukan kaki kanan? Para ulama menjelaskan, agar engkau merasa dan hadir di dalam hatimu makna bahwa engkau datang kepada Allah SWT, engkau masuk ke rumah Allah SWT. Bagaimana semestinya dan bagaimana caranya seseorang masuk ke dalam rumah Kekasih Tercinta-nya? Bagaimana semestinya adab dan ketawadhuan seseorang ketika masuk ke dalam rumah Yang Maharaja dari segala raja?

Setelah itu, para ulama mengatakan, niatlah i‘tikaf selama engkau berada di dalam masjid. Karena perbedaan orang yang berniat i‘tikaf dan yang tidak meniatkannya adalah bahwa yang meniat-kannya akan mendapatkan berbagai kebajikan khusus yang hanya didapatkan bagi orang-orang yang beri‘tikaf. Makna lainnya adalah bahwa pada saat itu ia sedang berada di sisi Allah SWT, maka ia akan mendapatkan berbagai penghormatan dan kemuliaan dari Allah SWT.

Sebagian guru kami mengatakan, perbedaan antara nafilah (sunnah) dan faridhah (wajib) adalah tujuh puluh derajat. Satu faridhah pahalanya adalah sama dengan tujuh puluh kali nafilah. Ke-mudian perhatikan, apabila engkau berniat i‘tikaf selama engkau berada di dalam masjid, ini termasuk nafilah atau fardhu? Jawabanya tentu nafilah. Akan tetapi bila sebelum berniat i‘tikaf engkau bernadzar untuk i‘tikaf selama berada di masjid, sesungguhnya nadzar itu membuat yang nafilah menjadi faridhah dan pahalanya pun pahala faridhah. Karenanya bila engkau katakan “Aku bernadzar untuk i‘tikaf selama aku berada di dalam masjid”, jadilah i‘tikaf yang engkau nadzarkan itu sebagai fardhu dan akan mendapatkan pahala ibadah fardhu.

Perhatikanlah makna-makna persiapan yang menjadi konsentrasi kita dalam pembahasan kali ini. Adab masuk ke masjid akan banyak membantumu bersiap diri menuju shalat. Karena dengan adab-adab itu hatimu telah hadir dan merasakan bahwa saat itu engkau telah berada bukan pada keadaan yang biasa, engkau akan menghadap Allah SWT. “Aku sekarang sedang menuju Allah SWT… mendekat kepada Allah SWT.”

Di kala seorang anak teramat rindu untuk bertemu ibunya setelah sekian lama terpisah dan tak berjumpa dan demikian pula sang ibu kepada anaknya, pada awal perjumpaannya dengan sang ibu apa gerangan yang dituju dan diharapkannya dari sang ibu?

Dekapan dan pelukan sang ibu! Ya, pastilah pelukan dan dekapan sang ibu, sekalipun ia telah tua dan telah memutih pula rambutnya. Karena pelukan dan dekapan yang penuh kasih sayang sang ibu tidak akan dapat dibandingkan dengan sesuatu apa pun nilai dan harganya, yang setiap orang pasti membutuhkan dan merindukannya. Dan sungguh tidak seseorang pun merasakan itu semua melebihi mereka yang telah kehilangan ibu terkasih mereka. Dan sungguh seorang ibu pun sangat mengetahui makna untuk mendekap dan memeluk putra-putri tercintanya.

Lalu apa makna itu semua bagi seorang ibu? Tentu makna kasih sayang terdalam dari sisinya. Dan Allah pasti Mahatinggi, lebih tinggi dari itu semua, dalam memberikan kasih sayang-Nya kepada segenap hamba yang datang mendekat kepada-Nya.

Inilah makna masuknya engkau ke dalam masjid. Di kala engkau masuk ke dalam masjid, engkau merasakan, “Saat ini aku sedang masuk ke dalam dekapan rahmat Allah SWT.”

Tidakkah engkau membaca suatu hadits Rasulullah SAW yang ada tiga orang masuk ke dalam masjid Rasulullah SAW? Yang pertama, ia masuk masjid dan melihat ada shaf kosong, maka ia pun melewati orang-orang dengan sehati-hati mungkin agar tidak menyakiti dan mengganggu mereka lalu ia duduk mengisi celah shaf yang kosong itu. Yang kedua, ia merasa malu untuk me-langkahi orang-orang sehingga ia pun duduk di pojokan shaf. Sedangkan yang ketiga, karena melihat shaf yang sesak, ia pun pergi dan meninggalkan masjid. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tidakkah kalian aku khabarkan ihwal halnya tiga orang itu?”

Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”

Nabi SAW pun kemudian bersabda, “Adapun yang pertama, ia telah mendekat kepada Allah, maka Allah pun mendekatinya.” Hidupkan makna kalimat ini di dalam hatimu. Bukankah engkau menghendaki sampai kepada Allah SWT? Engkau adalah murid peniti jalan menuju Allah SWT.

Hidupkan dan rasakan makna “maka Allah pun mendekatinya” dengan membayangkan agungnya keutamaan kasih sayang dan dekapan dari seorang ibu. Makna ini pada lahirnya adalah bahwa ia mendekat kepada majelis, kepada celah shaf yang kosong, di masjid Rasulullah SAW, akan tetapi, karena maksudnya adalah keridhaan Allah SWT, jadilah mendekatnya di sini adalah kepada Allah SWT.

Adapun yang kedua, Nabi SAW bersabda, “Ia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya.” Para ulama mengatakan, barang siapa yang Allah malu kepadanya, niscaya Allah tidak akan pernah mengadzabnya. Yang pertama Allah mendekatinya dan yang ke¬dua Allah tidak mengadzabnya.

Sedangkan yang ketiga, Nabi SAW bersabda, “Dia berpaling dari Allah SWT, maka Allah pun berpaling darinya.” Ihwal orang yang ketiga ini, dia berpaling dari majelis, akan tetapi Rasulullah SAW menjadikannya sebagai bentuk keberpalingan dari Allah SWT.

Itulah sebabnya, apabila engkau masuk ke dalam masjid, rasakanlah bahwa engkau sedang menuju dan mendekat kepada Allah SWT. Bila engkau mendapati shaf yang kosong pada shaf yang pertama, isilah shaf pertama itu dengan langkah yang penuh kesopanan. Itu berarti engkau tengah mendekat kepada Allah SWT. Dan bila tidak mendapatinya pada shaf yang pertama,  malulah engkau kepada Allah SWT, janganlah engkau mengganggu orang-orang yang lebih dahulu datang dan duduk pada shaf-shaf itu. Duduklah pada shaf terakhir yang belum terisi. Dan jangan pernah engkau berpaling dari shaf sehingga Allah akan berpaling darimu.

Inilah perkara kedua yang dapat menolong dan membantumu untuk dapat hadir bersama Allah SWT di saat takbiratul ihram (Allahu Akbar), yakni merasakan dan menghadirkan makna ketika masuk ke dalam masjid dengan penuh penghormatan dan pengagungan. “Selama aku berada di dalam masjid, aku sedang berada di sisi Allah SWT.” Karenanya tak patut adanya amarah atau saling berdesakan meskipun dalam hal kebajikan, bahkan tidak pula dalam mencium Hajar Aswad, bahkan walau dalam masuk ke dalam Ka`bah sekalipun. Yang mesti diutamakan adalah tenang dan penuh kekhusyu’an dan penghormatan.

Alkisah, setelah rombongan haji yang berangkat bersama Rasulullah SAW meninggalkan Arafah dan menuju Muzdalifah, kalian tahu berapa jumlah rombongan kaum muslimin kala itu? Jumlah mereka adalah 120.000 jama’ah. Jumlah 120.000 kaum muslimin, dapatkah kalian bayangkan bagaimana keadaan mereka di saat jalan bersama? Di kala itu Nabi SAW melihat rombongan saling berdesakan dan dorong-mendorong di antara mereka, maka Nabi SAW pun bersabda, “Tenang, tenang…” Hanya dua kata itu yang terucap dari Rasulullah SAW, serentak mereka pun tenang seketika itu juga. Mereka berkata, “Bahkan orang yang telah memacu hewan tunggangannya pun agar mempercepat langkahnya, sontak berhenti dan tidak lagi memacunya, sehingga semuanya berjalan dengan perlahan dan tenang.

Di rumah Allah SWT, hidupkanlah makna ini, tenang, karena engkau sedang berada di hadirat Allah SWT.

Sumber: di sini

AWSOM Powered