Archive: Maret, 2015

Dauroh Majelis Al-Muwasholah Baina Al-Muslimin di Tarim

Posted by admin - 24 Maret 2015 - Berita, Foto
0
Majelis Al-Muwasholah Baina Al-Muslimin (1)

Pada hari Ahad lalu yang bertepatan dengan tanggal 2 Jumadal Akhir 1436 H/22 Maret 2015 telah ditutup acara Dauroh para Asatidz dan Da’i yang diselenggarakan oleh Majelis Al-Muwasholah Baina Ulama Al-Muslimin di Tarim. Acara ini diadakan bagi para Asatidz dan Da’i pilihan yang datang dari Asia Tenggara dan jumlahnya mencapai 32 orang. Acara ini berlangsung selama 10 hari dan yang menjadi narasumber dari Dauroh ini adalah Al-Allamah Al-Habib Umar Bin Hafidz dan diantara Kitab yang dibaca adalah:

- Ad-Da’watut Tammah

- Adabul Hiwar Bainal Jama’at Wal Firoq Al-Islamiyyah

- Wa Tanaza’u Fatafsyalu Wa Tadzhab Rihukum

- Al-Wasathiyyah Fil Islam

Para peserta yang hadir juga mengikuti beberapa seminar antara lain tentang:

- Pengenalan tentang Majelis Al-Muwasholah Baina Ulama Al-Muslimin (Visi, Misi, Tujuan)

- Penjelasan Argumentasi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

- Pesan Agama bagi Lembaga Keagamaan

- Peran Suluk dalam Ilmu dan Dakwah

- Aturan Hidup Rukun antara Muslim dan Non-Muslim

Semoga Allah SWT mengabulkan dan memberikan manfaat bagi para peserta yang mengikuti Dauroh. Dan apabila Dauroh berhasil dan sukses maka rencananya akan diadakan sebanyak dua kali setiap tahunnya melalui Majelis Al-Muwasholah Baina Ulama Al-Muslimin.

Berikut dokumentasi kegiatan belajar dan kunjungan para peserta Dauroh kepada para Ulama dan Lembaga Ilmiah.

     

    Memanah

    Posted by admin - 16 Maret 2015 - Olahraga
    0
    Panahan

    Oleh: Dr. Muhammad bin Alawi Al-Maliki

    Di antara cabang olahraga yang penting adalah memanah. Olahraga ini sangat dikenal dan mendapat perhatian besar bagi bangsa Arab. Karena cabang tersebut merupakan modal dasar dalam peperangan yang menjadi tolak ukur kecakapan seseorang. Di samping itu, cabang itu juga merupakan modal utama meraih kehormatan dan kemuliaan. Orang yang perkasa harus memiliki kemampuan menunggang kuda dan memanah. Islam datang tidak menghilangkan tradisi itu, malah sebaliknya, menjaga dan melestarikannya. Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian berlatih memanah, karena itu merupakan permainan terbaik bagi kalian.” (HR Al-Bazzar)

    Rasulullah SAW menafsirkan firman Allah yang berbunyi, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..” dengan bersabda, “Kekuatan dalam ayat tersebut adalah memanah. Kekuatan dalam ayat tersebut adalah memanah.” (HR Muslim)

    Bukti nyata perhatian Islam terhadap memanah adalah sabda Rasulullah SAW yang melarang umatnya meninggalkan, meremehkan atau melalaikannya. Dalam hadis yang diriwayatkan Uqbah bin Amir disebutkan Rasulullah SAW bersabda, “Allah memasukkan tiga orang ke surga karena panah. Pembuatnya, yang ketika membuat bertujuan agar panah buatannya dipergunakan dengan benar. Pembidiknya, dan juga pelontarnya. Bidikkan panah kalian dan pacu kuda kalian. Sesungguhnya memanah lebih aku sukai dari berkuda.” (HR Abu Dawud).

    Rasulullah SAW sendiri langsung memimpin dan melatih umat Islam dalam keterampilan memanah. Menyeru, mengajak dan menganjurkan latihan bersama agar mereka tidak lupa. Dalam sebuah hadis diceritakan Rasulullah SAW bertemu sekelompok orang yang berbadan kurus lantas Rasulullah SAW berkata kepada mereka, “Memanahlah kalian wahai keturunan Ismail, sesungguhnya orang tua kalian adalah ahli memanah dan aku bersama keturunan fulan.” Salah satu dari kelompok mereka ada memegang panah lantas Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak membidikkannya?’ Mereka menjawab, ‘Rasulullah, bagaimana kami akan membidiknya sementara engkau bersama mereka.’ Lantas Rasulullah SAW berkata, ‘Bidiklah, sesungguhnya aku bersama kalian semua.’ (HR Bukhari)

    Dari hadis ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran, diantaranya:

    1. Etika dan sopan santun sahabat terhadap Rasulullah SAW.
    2. Besarnya perhatian Rasulullah SAW terhadap latihan memanah. Beliau menganggapnya sebagai kegiatan penting, sehingga beliau meluangkan waktu khusus—karena melihat besarnya manfaat serta tingginya faidah yang bisa diraih.
    3. Kesempurnaan sifat Rasulullah SAW sehingga bisa kita katakan bahwa beliau memiliki jiwa atletis tinggi. Meskipun kesempurnaan sifat tersebut hanya terbatas pada cabang-cabang olahraga tertentu. Namun tidak ada salahnya kita katakan demikian selama masih sesuai dengan konteks olahraga.

    Kalau diperhatikan secara mendalam, hadis-hadis diatas ternyata memberikan dua manfaat besar bagi kita.

    1. Latihan dan ujian dalam olahraga merupakan suatu keniscayaan dan tidak boleh diabaikan. Meninggalkan latihan dan ujian adalah suatu kerugian besar bagi seorang olahragawan. Ia mengikis bakat dan menghilangkan kecakapannya. Kewajiban ini sama dengan kewajiban seorang pelajar dalam mengulangi pelajarannya agar tidak lupa atau hilang dari benaknya. Kalau tidak, perumpamaannya sama seperti wanita yang menguraikan benang yang sudah terjalin kuat membentuk sebuah kain. Betapa bodohnya perbuatan tersebut. Begitu juga dengan seorang olahragawan yang enggan mengasah kemampuan dan kecakapannya. Perumpamaan ini juga cocok untuknya.
    2. Seorang pelatih dan penanggung jawab adalah ayah dari semua. Sehingga diharapkan ia dapat memperlakukan mereka dengan adil dan bijaksana, tidak berat sebelah. Dengan begitu, apa yang ia lakukan tetap sesuai dengan ajaran agama dan sebagai pelaksanaan dari firman Allah SWT yang berbunyi, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.”

    Salah satu bentuk perhatian Islam terhadap persoalan panah memanah adalah keputusan Rasulullah SAW untuk melatih, menertibkan, menentukan posisi mereka dalam peperangan, dan memutuskan waktu yang tepat untuk membidiknya. Pada saat perang Badr meletus dan kedua pihak saling berhadapan, beliau berkata, “Jika mereka mendekat, lepaskan anak panah kalian!”

    Perkataan beliau “jika mereka mendekat” adalah bentuk nyata dari penentuan waktu yang paling tepat untuk memanah. Hal itu dilakukan setelah beliau menentukan posisi mereka dalam barisan tentaranya. Beliau memberi komando kepada mereka untuk tidak melepaskan panah sampai lawan mendekat. Tepatnya pada saat lawan maju menyerang dan mendekati mereka. Karena kalau mereka melepaskan anak panah sementara lawan berada di tempat yang jauh, tentu tidak akan sampai dan anak panah itu terbuang sia-sia.

    Sejak dahulu bangsa Arab telah mengetahui bahwa panah merupakan alat yang sangat bernilai dan sangat bermanfaat dalam pertempuran. Seorang tentara berkewajiban memelihara panah, alat bidik, dan senjata lainnya dengan baik. Tidak boleh melemparkan dan tidak membidikkan senjata tersebut kecuali pada saat yang tepat sehingga dapat mengenai sasaran.

    Rasulullah SAW mempunyai bakat dan kecapakan dalam hal memanah. Kecakaan ini merupakan anugerah khusus yang diberikan Allah pada beliau. Rasulullah SAW tampak gembira saat melihat orang yang memanah dapat mengarahkan anak panahnya tepat pada sasaran. Beliau juga yang memeriksa langsung sasaran yang dibidik tersebut. Keterangan ini dapat dirujuk pada hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, “Abu Talhah pernah berada satu perisai dengan Rasulullah SAW ia termasuk sosok yang ahli memanah. Jika ia melepaskan anak panahnya, Rasulullah SAW sendiri yang memeriksa sasaran anak panahnya.” (HR Bukhari)

    Seorang pemanah yang mahir akan mendapat tempat tersendiri di sisi Rasulullah SAW sampai-sampai beliau menempatkannya laksana ayah dan ibundanya. Ali bin Thalib berkata, “Aku tidak melihat ada orang yang diperlakukan lebih istimewa oleh Rasulullah SAW dibanding Sa’ad. Aku mendengar beliau berkata, “Bidikkan anak panahmu. Ayah dan ibuku tebusannya.” (HR Bukhari).

    Sumber foto: di sini

    Syekh Muhammad Alawi Al-Maliki. Guru Para Ulama Abad ke-21

    Posted by admin - 13 Maret 2015 - Da'i dan Dakwah
    1
    Syekh Muhammad Alawi Al-Maliki

    Oleh: Amri Amrullah

    Jumat itu, 29 Oktober 2004, azan subuh baru saja ber kumandang. Sang surya belum jua menampakkan diri. Umat Islam di Makkah dikejutkan dengan kabar wafatnya salah satu ulama karismatik abad ke-21, Syekh Muhammad Alawi al-Maliki. Kabar tersebut langsung tersiar ke seluruh penjuru dunia. Kaum Muslim telah kehilangan salah satu ulama besar.

    Lahir di Makkah 1944 M, tokoh yang memiliki jalur nasab ke Rasulullah SAW tersebut dikenal kepakarannya di bidang hadis. Ia merupakan ulama yang menyebarkan prinsip-prinsp ahlussunnah wal jamaah. Ia dikenal pula sebagai ulama multidisiplin ilmu, pakar tafsir, ahli fikih, dan tasawuf. Syekh Muhammad Alawi juga dikenal sebagai ulama yang menguasai Nabawiyah.

    Syekh Muhammad Alawi al-Maliki juga biasa dipanggil Sayyid Muhammad ‘Alawi Al-Maliki. Ia mengenyam pendidikan pertamanya di Madrasah Al-Falah, Makkah. Di madrasah itu pula sang ayah, Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, juga mengajar sebagai guru agama.

    Sejak kecil, Syekh Muhammad Alawi sangat mencintai ilmu agama. Tak heran jika sejak belia, ia telah menggali ilmu dari para ulama terkemuka di Kota Makkah, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Syaf dan Sa’id Yamani.

    Menginjak usia yang ke-25, Syekh Muhammad Alawi berhasil menyabet gelar PhD dalam studi hadis tentang penghargaan tertinggi dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Meski telah meraih gelar akademik yang sangat tinggi, ia tak pernah lelah untuk terus belajar.

    Syekh Muhammad Alawi pun melanglang buana ke sejumlah Negara demi memperkuat ilmu hadis yang dikuasainya. Sejumlah wilayah yang disambanginya, antara lain, Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman dan juga anak benua Indo-Pakistan. Perjalanan jauh itu ditempuh demi memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashur al-Haddad, Syekh Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Maroko, Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, dan Maulana Zakariyya Kandihlawi.

    Setelah menguasai ilmu agama, ia lalu melanjutkan perjuangan dakwah yang telah dilakukan ayahandanya, yakni membina para santri dari berbagai daerah dan Negara di Makkah al-Mukarromah. Sejak kecil, Syekh Muhammad Alawi selalu dibawa ayah saat menjalankan tugas dakwahnya. Selain mengajar di Tanah Suci, sang ayah juga sering berdakwah ke Thaif dan Jeddah.

    Syekh Muhammad Alawi benar-benar melanjutkan jejak sang ayah. Ada ciri khas dari Syekh Muhammad Alawi, ia selalu menggunakan pakaian adat, jubah, sorban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan adan dikenakan Asyraf Makkah.

    Selain mengajar para santri yang datang dari berbagai penjuru dunia di Masjidil Haram, Syekh Muhammad Alawi juga diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz-Jeddah dan Universitas Ummul Qura Makkah. Ia mengajar ilmu hadis dan usuluddin.

    Ia lalu memutuskan berhenti mengajar di kedua universitas terkemuka itu dan memilih mengajar di rumahnya. Dari rumahnya, Syekh Muhammad Alawi telah mencetak ulama-ulama yang menjadi pendakwah di berbagai benua, yakni Asia, Afrika, hingga Eropa dan Amerika.

    Sayyid Muhammad al-Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih- lebihan, serta selalu menerima dialog dengan hikmah dan nasihat yang baik. Ia pun sering kali menemukan pendapat yang berbeda dalam keilmuan, namun semua ia terima dengan hikmah. Ia memecahkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang benar bukan dengan emosi serta pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan.

    Syekh Muhammad Alawi paham benar bahwa perseturuan di kalangan ulama merupakan satu kelemahan umat Islam. Menurut dia, perpecahan di kalangan ulama adalah agenda yang kerap kali diciptakan musuh-musuh Islam.

    Ia berupaya untuk menghindari perseteruan. Tak heran bila saat Syekh Muhammad dilarang mengajar di Masjidil Haram, ia memutuskan untuk fokus mengurus halaqah ilmu yang pernah diasuh oleh ayahandanya, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki. Halaqah ini menjadi rujukan bagi umat Islam dari penjuru dunia. Tak terkecuali Indonesia.

    Syekh Muhammad Alawi memang ulama yang luar biasa. Selain sebagi da’I, pengajar dan penceramah, ia juga seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semua beredar di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

    Guru para ulama abad ke-21 itu dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la, Makkah, di samping makam istri Rasulullah SAW. Meski telah tiada, namun namanya tetap hidup melalui kitab-kitab yang dituliskannya selama hidup.

     

    Sumber: Koran Harian Republika, Ahad 8 Maret 2015, Hlm. 23.

    Mengenal Mazhab Leluhur Bani Alawi

    Posted by admin - 13 Maret 2015 - Sejarah
    9

    Oleh: Kholili Hasib

    Inpasonline.com-Bani Alawi merupakan keturunan Ahlul Bait yang nasabnya bersambung kepada Ali bin Abi Thalib. Secara khusus digunakan untuk menyebut anak-cucu Rasulullah Saw yang berasal dari Sayid Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Sayid Alwi ini adalah orang pertama dari keturunan Ahlul Bait yang lahir dan besar di Hadramaut Yaman (Novel bin Muhammad Alaydrus, Jalan nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi, hal. 23). Sehingga mereka disebut bani Alawi.

    Leluhur para penyebar agama Islam yang tergabung dalam Walisongo merupakan keturunan Arab dari kalangan bani Alawiyyin (habaib) ini. Jamaluddin al-Husein, kakek dari Maulana Malik Ibrahim misalnya adalah seorang keturunan Arab dari bani Alawiyyin yang lahir di India. Ia memiliki garis keturunan dari Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir, imigran asal Irak yang menetap di Hadramaut Yaman, keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Jamaluddin al-Husein bukan dari etnis India, leluhurnya bernama Abdul Malik, berasal dari Hadramaut tapi hijrah ke India untuk berdakwah. Ia menetap di wilayah Koromandel India dan pernah berdiri sebuah kerajaan yang didirikan oleh keturunan Abdul Malik. Namun, penduduknya banyak yang berpindah ke Champa karena kalah dalam suatu peperangan (Idrus Alwi al-Masyhur,Membongkar Kebohongan Sejarah dan Silsilah Keturunan Nabi Saw di Indonesia, hal. 158).

    Jamaluddin al-Husein ini mempunya tiga anak laki-laki yang keturunannya menjadi pendakwah. Mereka adalah Sayid Barakat Zainal Alam, Ibrahim al-Akbar dan Ali Nurul Alam. Barakat Zainal Alam menetap di Gujarat India dan memiliki anak bernama Maulana Malik Ibrahim, salah satu Walisongo. Sedangkan Ibrahim al-Akbar merupakan kakek dari Sunan Ampel.

    Asal-muasal Walisongo berasal dari bani Alawiyyin Hadramaut bahkan diakui banyak sejarawan, termasuk seorang orientalis Belanda, Van den Berg. Seperti dikutip oleh Habib Alwi bin Thohir al-Haddad: “Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam adalah dari orang-orang sayyid syarif (bani Alawiyin). Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar di antara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain dari Hadramaut (yang bukan golongan sayid), tetapi meeka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka kaum sayid adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad Saw) (Alwi bin Thahir al-Haddad,Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, hal. 52).

    Salah satu ciri keturunan sayid ini adalah kekuatan menjaga tradisi keagamaan secara turun-temurun. Mereka cenderung lebih mengamalkan ajaran dan jejak nenek moyangnya, daripada ajaran baru. Nenek moyang yang dianut ajaranya adalah Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir. Dan juru bicara yang disebut-sebut tokoh sentralnya adalah habib Abdullah al-Haddad. Keduanya secara akidah menganut madzhab Asy’ari, fikih mengikuti imam Syafi’i dan tasawufnya mengikut imam al-Ghazali.

    Habib Ali bin Abu Bakar al-Sakran mengatakan: “Adapun anak cucu Imam Syihabuddin Ahmad bin Isa al-Muhajir yang tiba di Hadramaut dan kemudian tinggal di Tarim Yaman, mereka adalah asyraf yang Sunni” (Novel bin Muhammad Alaydrus, Jalan nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi, hal.47).

    Akidah Ahlussunnah dijelaskan oleh Habib Abdullah al-Haddad dalam kitabnya Risalah al-Mu’awanah. Beliau mengatakan bahwa firqah al-najiyah (kelompok yang selamat) adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam kitab tersebut dinyatakan juga bahwa akidah bani Alawi secara turun temurun adalah Ahlussunnah wal Jama’ah.

    Dia menulis: “Perbaiki dan luruskanlah akidahmu dengan berpegang pada manhaj al-firqah al-najiyah (golongan yang selamat) yang dalam Islam dikenal dengan nama Ahlussunnah wal Jama’ah. Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh pada ajaran Rasulullah Saw dan para Sahabatnya. Jika kamu teliti al-Qur’an dan al-Sunnah – yang berisi ilmu-ilmu keimanan – dengan pemahaman yang benar dan hati yang bersih, serta kamu pelajari perjalanan hidup para salaf yang soleh dari kalangan Sahabat dan tabi’in, maka kamu akan mengetahui secara yakin bahwa kebenaran ada pada golongan al-Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari. Beliau telah menyusun akidah ahlil haq beserta dalil-dalilnya. Itulah akidah yang diakui oleh para Sahabat dan tabi’in. itulah akidah seluruh kaum sufi, sebagaimana disebutkan oleh Abul Qasim al-Qusyairi pada bagian awal bukunya, al-Risalah.

    Alhamdulillah, itulah akidah kami dan saudara-saudara kami para Sadah al-Husaini yang dikenal dengan sebutan bani Alawi. Itulah juga akidah salaf kami, mulai dari zaman Rasulullah Saw hingga saat ini.

    Dalam bidang fikih leluhur bani Alawi menganut madzhab Syafi’i. Sayid Ahmad bin Isa dikenal berjasa menyebarkan madzhab Syafi’i di Hadramaut. Ketika sampai di negeri Hadramaut Ahmad bin Isa dikatan beliau menyebarluaskan madzhab Syafii. Hal ini diakui oleh habib Abu Bakar al-Adni bin Abdullah al-Aidarus yang menyatakan: “Madzhab kami dalam furu’ adalah madzhab Syafi’i, dalam usul adalah madzhab guru kami imam al-Asy’ari dan thariqah kami adalah thariqahnya para sufi (Novel bin Muhammad Alaydrus, Jalan nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi, hal.73).

    Tradisi keagamaan mereka cenderung kepada tasawuf dengan menganut thariqah sufiyah yang bernama thariqah Alawiyah. Salah seorang tokoh Bani Alawi, Idrus bin Umar al-Habsyi menjelaskan tentang tariqah ini. Ia mengatakan: “Ketahuliah, sesungguhnya tariqah anak cucu Nabi Saw dari keluarga Abi Alawi merupakah salah satu tariqah sufi yang dasarnya ittiba’ (mengikuti) al-Qur’an dan al-Sunnah. Sedangkan bagian utamanya (ra’suha) adalah sidqul iftiqar (benar-benar merasa butuh kepada Allah Swt) dan syuhudul minnah(kesaksian bahwa semuanya adalah karunia Allah semata).

    Tariqah ini tidak lebih sebuah metode, sistem atau cara tertentu yang digunakan oleh Bani Alawi menuju kepada kedekatan kepada Allah Swt, yang diwarisi dari leluhurnya secara turun-temurun.

    Secara umum ajaran tariqah ini ialah menekankan adanya hubungan dengan seorang syaikh (guru pembimbing dalam ibadah), perhatian secara seksama dengan ajarannya, dan membina batin (dengan ibadah). Selain itu, tariqah ini juga menekankan pentingnya amal, dan untuk itu, dibutuhkan suatu tariqah yang ajarannya mudah dilakukan dan dipahami oleh masyarakat awam.
    Tariqah ini tidak terlalu ketat seperti halnya tariqah sufi lainnya. Misalnya, tidak ada aturan khusus untuk mengamalkan suatu wirid. Misalnya, tidak ada bai’ah untuk mengamalkannya. Terlihat bahwa tariqah Bani Alawi tidak lebih merupakan suatu tradisi amalan yang diwarisi secara turun-temurun.

    Hal yang perlu kita perhatikan dalam tariqah ini adalah upaya preventif dalam menjaga akidah Ahlussunnah. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, tokoh utama Bani Alawi menjelaskan: “Wajib atasmu memperindah akidahmu, memperbaiki dan menguatkannya sesuai dengan metode firqah al-najiyah (kelompok yang selamat), yaitu kelompok yang dikenal di kalangan seluruh kelompok Islam dengan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka adalah orang-orang yang berpegang sesuai apa yang dipegang oleh Rasulullah Saw dan para Sahabat beliau”.

    Dalam salah satu wasiatnya, Habib Abdullah al-Haddad mengatakan: “Akidah kami adalah akidah Asy’ariyah. Madzhab kami adalah Syafi’iyah. Sesuai dengan Kitabullah dan al-Sunnah”.

    Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus (wafat tahun 856 H) dalam kitabnya al-Kibritul Ahmar menulis satu bab khusus tentang akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam Tasbitul Fuad I/227 cukup tegas lugas menolak akidah Syiah. Ia menyebut Syiah sebagai golongan orang-orang ahli batil. Dalam segala hal pendapat-pendapat mereka (Syiah) tidak dapat diambil.

    Secara khusus dan lebih terperinci informasi tentang ajaran-ajaran akidah tariqah Bani Alawi dijelaskan oleh Ali bin Abu Bakar al-Sakran. Ia mengatakan: “Duhai saudaraku, jauhilah bid’ah dan para pelakunya. Tinggalkan dan singkirkan segala bid’ah. Berpalinglah dari para pelakunya dan jangan bergaul dengan mereka. Ketauhilah, sumber bid’ah di dalam akidah adah tujuh, sebagaimana telah disebutkan oleh para ulama yaitu; Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij, Murji’ah, Najjariyah, Jabariyah dan Musyabihah” (Ali bin Abu Bakar al-Sakran, Ma’arij Hidayah,sebagaimana dinukil oleh Novel Alaydrus dalam Jalan nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi, hal. 52).

    Bid’ah-bid’ah akidah tersebut oleh Habib Abdullah al-Haddad disebut merupakan ajaran kedurhakaan yang sangat kronis. Ia mengatakan: “Sebagaimana diberitahukan kepada kami, telah muncul sikap secara terang-terangan membencu kedua tokoh –Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar al-Faruq. Mereka berakidah Rafidhah yang tercela, baik atau dasar syariat maupun akal sehat. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ini adalah kedurhakaan yang serius dan kelalaian yang kronis” (Alwi bin Thahir al-Haddad, Uqudul Ilmas, Wali, Karomah dan Thariqah, hal. 216).

    Dalam kitabnya itu, Uqudul Ilmas, Alwi bin Thahir membahas dengan agak luas dasar-dasar akidah Bani Alawiyah sejak nenek moyang mereka hingga pada era dia.

    Karena tantangan bid’ah tersebut yang meluas, para tokoh Bani Alawiyah dalam tariqahnya menekankan pembentengan akidah Asy’ari. Dan mengeluarkan fatwa-fatwa penting sebagai bahan tarbiyah tariqah Bani Alawiyah.

    Salah satunya dilakukan oleh Habib Abdullah al-Haddad. Ia menyusun sebuah wirid, bernama Ratib al-Haddad. Uniknya, wirid ini dibaca untuk membentengi penganut tariqah dari fitnah-fitnah aliran sesat. Terutama Rafidhah. Dalam Syarah Ratib al-Haddad dijelaskan:
    “Ratib ini disusun oleh Habib Abdullah al-Haddad ketika beliau mendengar masuknya faham Syiah Zaidiyah ke Hadramaut. Beliau khawatir Syiah ini akan merubah akidah kaum awam. Maka, pada malam 17 Ramadhan tahun 1071 H beliau susun ratib ini. Malam itu merupakan malam lailatul qadar. Sebagaimana disebutkan oleh murid beliau al-Ahsha’i. dalam ratib ini al-Haddad menyebutkan ‘al-khairu wa syarru bi masyi’atillah, (kebaikan dan keburukan itu terjadi atas kehendak Allah). Kalimat ini sengaja beliau cantumkan dalam ratib tersebut untuk menolak paham Qadariyah yang dianut oleh orang yang suka berbuat bid’ah akidah dan semua kaum Syiah Zaidiyah” (Alwi bin Ahmad al-Haddad,Syarh Ratib al-Haddad, hal. 258).

    Tidak ditemukan data-data sejarah yang bisa dipercaya bahwa Bani Alawi yang hijrah ke kepulauan Nusantara adalah Syiah, sebagaimana pernah diklaim Syiah. Adapun teori-teori dari sejarawan Syiah, sifatnya baru spekulatif. Tidak dipungkiri terdapat pedagang beraliran Syiah yang mendarat di Nusantara. Tapi jumlah mereka sangat sedikit. Sehingga masyarakat tidak banyak yang terpengaruh.

    Syiah sendiri sebetulnya tidak memiliki sanad kepada para keturunan Ahlul Bait ini. Para ulama Sunni yang memiliki sanad kepada pembesar Ahlul Bait. Para imam dari ulama Ahlussunnah misalnya pernah berguru kepada Ja’far al-Shadiq yang juga berakidah Ahlussunnah. Sedangkan ulama Sunni Nusantara juga memiliki jalur sanad kepada keturunan Ja’far al-Shadiq di Hadramaut. Jalur sanad Syiah hanya ke Iran, yang notabene bukan negeri yang banyak dihuni keturunan Ahlul Bait. Para tokoh habaib kontemporer menunjuk Hadramaut sebagai negeri Sunni yang sangat ketat menjaga tradisi Ahlul Bait. Mereka tidak pernah menunjuk Iran, karena budaya Iran adalah bangsa Persia yang tradisi keagamaannya tidak memiliki ‘isnad’ kepada Ahlul Bait.

    Sumber: di sini

    AWSOM Powered