Archive: Maret, 2016

Ulama Hadramaut, Kisah Koloni Arab di Batavia dan Jawa

Posted by admin - 29 Maret 2016 - Sejarah Islam
6
Ulama Hadramaut

Sebelum tahun 1859, tidak tersedia data yang jelas mengenai jumlah orang Arab yang bermukim di Hindia Belanda yang menjadi jajahan Belanda. Di dalam catatan statistik resmi pemerintah kolonial, keberadaan mereka dirancukan dengan orang Bengali dan pendatang lain yang beragama Islam.

Situasi ini berubah (mulai tahun 1870), seiring dengan perkembangan pesat teknologi perkapalan sehingga perpindahan orang dari Hadramut menjadi lebih mudah. Maka pada tahun-tahun itulah awal dari masa yang sepenuhnya baru bagi koloni-koloni Arab yang ada di Indonesia.

Jadi sebelum diterbitkannya data statistik resmi tersebut, saat itu mengenai jumlah orang Arab di Nusantara, khususnya di Jawa, hanya diperoleh dari keterangan kira-kira yang berasal dari cerita orang tua dan tradisi setempat.

‘’Hasil penelitian saya mengenai hal itu menunjukan bahwa orang Arab Handramaut mulai datang secara massal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad ke XVIII. Perhatian mereka yang pertama adalah Aceh. Dari sana mereka memilih pergi ke Palembang dan Pontianak,’’ tulis LWC van den Berg, penulis buku klasik yang berjudul ‘Orang Arab di Nusantara’.

Orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 dan koloni-koloni mereka di bagian timur Nusantara pada 1870. Data statistik pada tahun itu, tercatat jumlah populasi orang Arab dan keturunannya sudah mencapai 10.888 orang. Di Batavia misalnya ada 952 orang, Cirebon 816 orang, Tegal 204 orang, Cirebon 816 orang, Pekalongan 608 orang, Semarang 358 orang, Surabaya (mencakup Keresidenan Surabayam Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, Sidayu) mencapai 1626 orang. Yogyakarta 77 orang, Surakarta 42 orang. Madura 979 orang. Kedu (Magelang) 47 orang. Cilacap 7 orang, Purwokerto 3 orang, Purbalingga 4 orang.

 

Teks: sumber 

Foto: sumber

Ta’lim Bahasa Arab Kepemudaan Rabithah Alawiyah

Posted by admin - 16 Maret 2016 - Berita
2
Kursus Bahasa Arab Kepemudaan Rabithah Alawiyah (1)

Ta’lim Bahasa Arab ini diadakan oleh Kepemudaan Rabithah Alawiyah untuk para pemula yang sudah diadakan sejak 14 Februari 2016 setiap hari Ahad pukul 09.00 – 11.00 WIB di Gedung Rabithah Alawiyah Lt. 4.

    Pelatihan Memandikan Jenazah

    Posted by admin - 16 Maret 2016 - Berita
    0
    Pelatihan Memandikan Jenazah (2)

    Alhamdulillah telah di laksanakan pelatihan memandikan atau pengurusan jenazah yang pelaksanaannya di kota Cirebon pada Ahad, 13 Maret 2016 lalu pukul 09.00 – 15.00 di Gedung Darul Hikam.

    Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Rabithah Alawiyah Pekalongan dan Rabithah Alawiyah Cirebon. Dipimpin oleh narasumber Habib Zaky bin Abdillah Alhabsyi dan tim yang dihadiri 50 pemuda Alawiyin Cirebon.

      Ringkasan Pemahaman Tentang Nawaqid (Pencabutan), Naqoid (Bertentangan), Fitnah Yang Menyesatkan dan Media Perlindungan Dari Fitnah Tersebut

      Posted by admin - 10 Maret 2016 - Aqidah, Da'i dan Dakwah
      0
      Alhabib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur

      Nawaqid secara bahasa: jama’ dari kalimat naaqid yang diambil dari fi’il (نقض- ينقض) artinya menghilangkan sesuatu dari asalnya dan memotong sesuatu dari pangkalnya. Dan menurut definisi fiqih tahawulat yaitu: pemahaman pada sesuatu yang mencabut rantai-rantai Islam serta menimbulkan konflik dengan cara menghilangkan resolusi ilmu, I’tiqod, hukum, ekonomi dan hal-hal yang berkaitan dengan semuanya tersebut melalui faktor-faktor fitnah yang menyesatkan dan melalui para pembawa fitnah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Ikatan-ikatan Islam akan tercabut satu demi satu, setiap kali ikatannya tercabut orang-orang bergantung pada ikatan selanjutnya, yang pertama kali tercabut adalah masalah hukum dan yang terakhirnya adalah masalah shalat.”

      Diantara pencabutan ikatan-ikatan hukum dan shalat, akan terjadi pencabutan-pencabutan yang lain, dari periode ke periode berikutnya hingga akhirnya tercabutlah ikatan “shalat” yaitu akan terjadi perdebatan dan perselisihan sekitar rukun, sunnah dan cara melakukan shalat.

      Adapun naqoid secara bahasa adalah: jama’ dari kalimatنقيض  yakni: perkara sesuatu yang berlawanan dan bertentangan dengan hukum yang sudah ditetapkan oleh syariat.

      Definisi naqoid (bertentangan) adalah: nama pada setiap pekerjaan yang berlawanan dan bertentangan dengan amalan syariat yang sudah popular, serta membawa dalil dan pemahaman yang berlawanan dengan (Alquran dan hadits) yang muncul dari individu atau kelompok, hal ini terjadi sebagaimana sabda Rasulullah SAW

      “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang jujur tidak dipercaya, orang yang bohong dianggap jujur, orang yang dipercaya dianggap berkhianat, orang yang berkhianat dianggap tapi dipercaya. Seseorang bersaksi padahal tidak diminta persaksiannya. Seseorang bersumpah padahal tidak diminta sumpahnya. Dan orang yang paling berbahagia di dunia pada waktu itu dungu bin dungu, yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya.”

      Hadits ini adalah pernyataan syariat yang istibaqiyyah yang akan terjadi pada ummat Alquran dan sunnah dan sungguh hadits ini telah terjadi.

      نواقض  dan نقائض saling bersamaan dikebanyakan fitnah karena nawaqid sering menyebabkan dan membuahkan terjadinya naqooid, yang konsekuensinya terjadilah kesesatan, sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam hadits nabawi.

      Fitnah adalah suatu cobaan umum yang menimpan individu dan jamaah. Sebab fitnah tersebut terjadilah penyimpangan yang berlawanan dengan syariat. Salah satu arti dari fitnah adalah cobaan bagi kaum muslimin, apabila dia sabar dan ikhlas dengan cobaan tersebut maka dia akan mendapatkan pahala. Sebagaimana fitnah pada keluarga, harta dan anak. Salah satu contoh fitnah yang Allah berikan terhadap para Nabi:

      “Dan sesungguhnya kami telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertaubat.” (Q.S. Shaad: 34)

      Firman Allah terhadap Nabi Musa AS, “Dan kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.”  (Q.S. Thoha: 40)

      Adapun fitnah yang menyesatkan adalah menyimpangnya seseorang atau suatu kelompok dari ajaran-ajaran syariat kepada ajaran-ajaran yang membantu kejelekan, dajjal dan syetan.

      Adapun media perlindungan dari fitnah dan kesesatannya yatiu dengan cara memperdalam pasal-pasal ilmu fiqh dan tahawulat dan pembagiannya baik yang positif, untuk mengambil manfaat dan mengamalkannya atau negatif untuk menghindarinya. Tidak berpartisipasi di dalamnya dan meminta perlindungan kepada Allah untuk dijauhkan dari fitnahnya.

      Di zaman sekarang kaum muslimin hidup di tengah-tengah fitnah yang menyesatkan dan bahkan mereka menceburkan diri mereka sendiri ke dalam fitnah yang bermacam-maca seperti, fitnah yang terdapat di politik, ekonomi, pendidikan, sekolah, kebudayaan, informasi dan mereka tidak menyadarinya, disebabkan mereka tidak mengkaji (pemahaman yang khusus tentang tanda-tanda kiamat dan fitnah yang menyesatkan).

       

      Sumber: Alhabib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur. Intisari Ma’rifat Rukun Agama Keempat Serta Tanda-Tanda Kiamat Besar, Sedang dan Kecil. Diterjemahkan oleh: Muhammad Rijal Maulana

      AWSOM Powered