Archive: Maret, 2017

Pertemuan Rabithah Alawiyah Dengan Syekh Abdullah Ahmed Bugshan

Posted by admin - 29 Maret 2017 - Berita
0
Pertemuan di Malaysia (5)

Telah diadakan pertemuan dalam rangka pembentukan The Hadrami Forum di Kuala Lumpur pada Senin, 27 Maret 2017.

Dari kiri ke kanan: Syekh Abdullah Ahmed Bugshan, Badr M. Basalma, M. Ghazi Alaidrus, Ali Hasan Albahar, Basyrahil, Helmi bin Thalib.

Seruan Untuk Memilih Pemimpin Muslim

Posted by admin - 27 Maret 2017 - Berita
0
DSC_1032

Assalamu ‘Alaikum, wr. wb.

GABUNGAN SELURUH HABAIB DARI BERBAGAI MADRASAH SEPAKAT MEMENANGKAN CAGUB MUSLIM DKI JAKARTA:

Pada hari Kamis tanggal 23 Maret 2017 pukul 14.00 – 18.00 WIB, berkumpul para Thalabul ‘Ilim Habaib dari berbagai madrasah di kantor DPP Rabithah ‘Alawiyyah Pusat di Jl. TB Simatupang No. 7A, Jakarta Selatan.

Pertemuan ini adalah untuk mengeratkan tali silaturrahim diantara habaib dari berbagai madrasah, yaitu:

Madrasah alumni Sayyid Al-Maliki Makkah, madrasah alumni Sayyid Zayn Madinah, madrasah alumni Al-Habib Umar bin Hafizh Tarim, madrasah alumni Rubath Tarim Al-Habib Salim Syathrie, madrasah alumni Univ Al-Azhar Asy Syarief Mesir, madrasah alumni Univ Al-Ahqaf Yaman, dll.

Dan selain temu kangen dan jalin silaturrahim antara madrasah-madrasah besar para ulama tersebut, juga dicapai kesepakatan diantara perwakilan dari semua madrasah, yaitu: KEWAJIBAN MENDUKUNG DAN MEMENANGKAN CAGUB MUSLIM DAN BERTAQWA dalam Pilgub DKI.

Semoga munaqasyah serta kesepakatan yg dicapai menjadi arahan dan acuan untuk ummat dan jama’ah dari semua madrasah dan agar semua pendapat yang bertentangan dengan ini dianggap syadz dan keluar dari ijma’ para ulama Habaib.

Persatuan dan kesatuan para ulama menjadi hukum untuk seluruh Ummat Islam yang taat pada para ulama. Semoga barakah untuk Jakarta yang lebih baik dan lebih Islami ke depan.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu ‘Alaikum, wr. wb. 

Silaturahim Rabithah Alawiyah dan MUI

Posted by admin - 23 Maret 2017 - Berita, Foto
0
Silaturahim RA dan MUI (1)

    Silaturahim Pimpinan Rabithah Alawiyah dan Ketua MUI, K.H. Ma’ruf Amin Pada hari Rabu, 22 Maret 2017 di Gedung MUI. Tampak hadir Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar Smith, Habib Nabil Almusawa, Habib Ismet Alhabsyi dan K.H. Ma’ruf Amin.

    Agenda pertemuan: Silaturahim Rabithah Alawiyah dan MUI sekaligus antara Dewan Mustasyar PBNU dan Rais ‘Am PBNU. Diskusi seputar peran MUI dengan pemerintah terkait isu-isu terkini. Pesan-pesan Dewan Mustasyar PBNU kepada Rais ‘Am PBNU.

    Kiprah Rabithah Alawiyah

    Posted by admin - 21 Maret 2017 - Berita
    0
    Rabithah Alawiyah

    Oleh : Fuji Eka Permana

    Rabithah Alawiyah awalnya bernama Arrabitatoel Alawijah. Dulu dikenal sebagai perkumpulan atau organisasi yang didirikan oleh keturunan Arab di Indonesia. Sejarah mencacat, banyak tokoh Arrabitatoel Alawijah yang ikut memerangi kolonialisme dan menentang penjajahan Belanda.

    Bahkan, perkumpulan Arrabitatoel Alawijah harus menunggu berbulan-bulan lamanya untuk mendapatkan status organisasi yang legal dari Pemerintah Hindia Belanda. Setelah melalui proses panjang, legalisasi atau izin untuk Arrabitatoel Alawijah dari Pemerintahan Hindia Belanda terbit pada 27 Desember 1928.

    Wakil Sekretaris Jenderal Rabithah Alawiyah periode 2016-2021, M. Ghazi Alaidrus, menjelaskan, proses penerbitan izin untuk Arrabitatoel Alawijah sengaja dibuat lama oleh Pemerintah Hindia karena faktor politik. Sebab, banyak tokoh Rabithah Alawiyah yang menentang penjajahan. Padahal, pembuatan surat permohonan untuk mendapatkan legalitas atau izin pendirian organisasi telah dibuat sejak 8 Maret 1928.

    Surat permohonan tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Perkumpulan Arrabitatoel Alawijah yang pertama, Sayyid Muhammad bin Abdurrahman bin Shahab, juga oleh sekretarisnya, Sayyid Ahmad bin Abdullah Assegaf, seorang penulis buku terkenal di Indonesia.

    “Fokus kegiatan dan tujuan dari perkumpulan Arrabitatoel Alawijah ada pada bidang sosial, pendidikan, dan dakwah. Semuanya tertulis di anggaran dasar perkumpulan,” kata M. Ghazi.

    Kegiatan Arrabitatoel Alawijah lainnya yakni membantu fakir miskin, janda, memelihara dan mendidik yatim piatu, serta berdakwah melalui media dakwah yang ada pada masa itu. Menurut dia, meski berdiri pada 1928, perkumpulan Arrabitatoel Alawijah bisa dikatakan sebagai organisasi nasional yang sudah modern.

    Pengurusnya melakukan rapat umum secara rutin, muktamar nasional dan membentuk cabang-cabang. Awalnya, Arrabitatoel Alawijah mempunyai enam cabang yang tersebar di kota-kota besar seperti di Surabaya dan Betawi (Jakarta saat ini). Adapun kantor pusat Arrabitatoel Alawijah ada di Jalan Karet Nomor 44, Tanah Abang, Jakarta.

    Di dekat kantor pusatnya terdapat kantor majalah Arrabitatoel dan percetakannya. Kantor majalah ini dikelola oleh Sayyid Ahmad bin Abdullah Assegaf. “Pada masa itu, majalah Arrabitatoel menjadi wadah untuk sosialisasi program Arrabitatoel Alawijah,” ujarnya.

    Jadi, Arrabitatoel Alawijah sudah mempunyai majalah sebagai media sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Pelanggan majalahnya pun cukup banyak. Ongkos langganannya Rp 5 per tahun untuk wilayah Betawi, Rp 6.5 per tahun untuk luar Betawi.

    Pengurus Arrabitatoel Alawijah berhubungan juga dengan pengurus perkumpulan Jamiat Kheir. Kedua perkumpulan tersebut sama-sama didirikan oleh keturunan Arab di Indonesia. Kendati demikian, pengurusnya juga banyak dari kalangan pribumi. Tokoh-tokoh nasional seperti KH Ahmad Dahlan dan Cokroaminoto pernah menjadi anggota Jamiat Kheir.

    Jamiat Kheir didirikan lebih awal dari Arrabitatoel Alawijah. Sekitar tahun 1890, Jamiat Kheir sudah ada, hanya saja perkumpulan Jamiat Kheir tidak kunjung dilegalkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. “Karena pendirinya (Jamiat Kheir) banyak yang berjuang melawan kolonialisme Belanda, jadi benar-benar beradu (dengan Belanda),” jelasnya.

    Saat ini, masyarakat umumnya mengetahui Jamiat Kheir didirikan pada 1901. Sekitar 10 tahun kemudian, Jamiat Kheir baru mendapatkan legalitas sebagai organisasi yang sah dan diakui Pemerintah Hindia Belanda.

    Ia menerangkan, Arrabitatoel Alawijah dan Jamiat Kheir awalnya dibentuk untuk kegiatan sosial. Selanjutnya, Jamiat Kheir cenderung memfokuskan gerakannya di bidang pendidikan. Kemudian, pada 1931, perkumpulan keturunan Arab yang tinggal di Indonesia juga membentuk rumah yatim piatu. Rumah yatim piatu tersebut diberi nama Darul Aitam.

    Tujuan utama Arrabitatoel Alawijah, Jamiat Kheir, dan Darul Aitam yakni membantu mewujudkan kesejahteraan sosial, pendidikan, dan dakwah Islam. “ Dengan bergesernya waktu, bidang pendidikan ditangani Jamiat Kheir. Arrabitatoel Alawijah ikut membantu mempromosikan Jamiat Kheir,” ujar M. Ghazi.

    Saat ini, visi dan misi Rabithah Alawiyah tetap berkiprah dalam membantu mewujudkan kesejahteraan sosial, membantu pendidikan dalam hal ini mengadakan program pemberian beasiswa, membantu dakwah yang rahmatan lil ‘alamin dan memfasilitasi para dai.

    “Rabithah Alawiyah tidak berkiprah di bidang politik,” tegasnya. Saat ini, Rabithah Alawiyah juga berfokus pada program Rabithah Peduli. Program ini untuk membantu semua kalangan yang membutuhkan bantuan. Selain itu, Rabithah Alawiyah yang kini dipimpin Sayyid Zein Umar Smith juga sedang membangun Rumah Panti untuk orang lanjut usia (lansia).

    ed: wachidah handasah

    Sumber: Harian Republika, 13 Maret 2017, Halaman 17.

    Musyawarah Kerja Wilayah Pengurus Rabithah Alawiyah se-Jawa Timur

    Posted by admin - 20 Maret 2017 - Berita, Foto
    8
    Mukerwil Jawa Timur (1)

    Musyawarah Kerja Wilayah ke-3 Pengurus Rabithah Alawiyah se-Jawa Timur, Sabtu 18 Maret 2017 di Hotel Dalwa, Bangil, Jawa Timur. Tampak Hadir Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar Smith. Ketua DPW Jawa Timur, Ust. Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf. Mudirul Ma’had Daarullugah Wadda’wah, Habib Zain Hasan Baharun dan Habib Husein Assegaf Gresik.

      Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara

      Posted by admin - 17 Maret 2017 - Berita
      2
      Habib Zen Umar Smith dan K.H. Mustofa Bisri

      Dihadirkannya Rabithah Alawiyah sebagai Lembaga Perkumpulan Para Habaib di Indonesia dalam acara Silaturrahim Alim Ulama Nasional yang diselenggarakan bersama para Kiai Khos NU membuktikan bahwa dari dahulu NAHDLATUL ULAMA sangat menghormati dan menghargai Para Habaib di Indonesia.

      Sehingga jika ada warga NU yang mencaci dan menjelek-jelekkan Habaib maka perlu dipertanyakan ke-NU-annya, wong Para Kiai Sepuh saja sangat menghormati Dzurriyatur Rasul.

      Pun jika ada Habaib yang mencaci dan menjelek-jelekkan Kiai NU, patut diduga bahwa beliau terpengaruh, terhasut, dan terprovokasi orang maupun kelompok diluar NU yang tidak akan ada habisnya dalam mencela Para Kiai NU karena bagi mereka NU itu kepanjangan dari Nyesatin Umat yang harus dibumihanguskan dari negeri ini.

      Nampak dalam Foto beliau Al Habib Zein bin Umar bin Smith Ketua Umum Rabithah Alawiyah sedang berbincang dengan KH. Ahmad Musthofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah
      Beliau berdua juga sebagai Mustasyar atau Dewan Penasihat Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam kepengurusan periode 2015-2020.

      Dua Habaib yang masuk dalam kepengurusan Mustasyar PBNU periode 2015-2020 adalah Al Habib Zein bin Umar bin Smith dan Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.

      Sumber: instagram @ala_nu

      Lima Butir Risalah Sarang Hasil Silatnas Alim Ulama Nusantara

      Posted by admin - 17 Maret 2017 - Berita
      0
      Silatnas Ulama Nusantara

      Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar Smith, berbincang dengan K.H. Mustofa Bisri

      REPUBLIKA.CO.ID, REMBANG — Silaturrahim Nasional (Silatnas) Alim Ulama Nusantara yang dihelat di pondok pesantren (ponpes) Al Anwar, Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah menghasilkan ‘Risalah Sarang’.

      Sedikitnya ada lima butir risalah yang dihasilkan dari pemikiran dan pandangan para ulama dan kiai khos Nahdlatul Ulama (NU) sebagai implementasi warga nahdliyin dalam menyikapi dinamika persoalan bangsa saat ini.

      Risalah dibacakan oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus) di hadapan para peserta Silatnas Alim Ulama Nusantara. Secara umum persoalan seperti keutuhan bangsa, toleransi, penegakan hukum hingga dampak perkembangan teknologi informasi menjadi poin dari ‘Risalah Sarang’ ini.

      Berikut lima poin Risalah Sarang.

      1. NU senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI serta keberadaannya tidak  bisa dipisahkan dari keberadaan NKRI itu sendiri.

      NU juga mengajak seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah.

      Toleransi, demokrasi dan terwujudnya akhlakul karimah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus diperjuangkan, bukan hanya demi keselamatan dan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di Indonesia ini saja, tetapi juga sebagai inspirasi bagi dunia menuju solusi masalah-masalah peradaban yang dihadapi dewasa ini.

      2. Lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi merupakan sumber-sumber utama kegelisahan masyarakat selain masalah-masalah sosial seperti budaya korupsi, rendahnya mutu pendidikan dan sumberdaya manusia, meningkatnya kekerasan dan kemerosotan moral secara umum. Pemerintah diimbau agar menjalankan kebijakan- kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, termasuk dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak kepada yang lemah.

      Di antaranya seperti reformasi agraria, pajak progresif, pengembangan strategi pembangunan ekonomi yang lebih menjamin pemerataan serta pembangunan hukum ke arah penegakkan hukum lebih tegas dan adil dengan tetap menjaga prinsip praduga tak bersalah dalam berbagai kasus yang muncul. Penyelenggaraan negara oleh pemerintah dan unsur-unsur lainnya juga harus senantiasa selaras dengan tujuan mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat atau tasharraful imam manutun bi maslahatirroiyyah.

      3. Perkembangan teknologi informasi –termasuk internet dan media- media sosial– serta peningkatan penggunaannya oleh masyarakat membawa berbagai manfaat seperti sebagai sarana silaturrahim nasrul ilmi taawwun alal birri dan sebagainya.

      Tetapi perkembangan teknologi informasi ini juga mendatangkan dampak- dampak negatif seperti cepatnya penyebaran fitnah dan seruan seruan kebencian, propaganda radikalisme, pornografi dan hal- hal lain yang dapat merusak moral dan kerukunan masyarakat.

      Pemerintah diimbau untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif baik dalam mengatasi dampak- dampak negatif tersebut maupun upaya pencegahanannya. Pada saat yang sama para pemimpin masyarakat dihimbau untuk terus membina dan mendidik masyarakat agar mampu menyikapi informasi- informasi yang tersebar secara lebih cerdas dan bijaksana sehingga terhindar dari dampak- dampak negatif tersebut.

      4. Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, temasuk NU agar senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dengan senantiasa arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab adil dan amanah, dengan menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI.

      5. Para ulama dalam majlis ini mengusulkan diselenggarakannya forum silaturrahim di antara seluruh elemen-elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada. Termasuk mencari langkah- langkah antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan perkembangan di masa depan serta rekonsiliasi di antara sesama saudara sebangsa. NU diminta untuk mengambil inisiatif bagi terwujudnya forum tersebut.

      Sementara itu, menanggapi forum silaturrahim ini, Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siraj mengatakan, pertemuan para ulama dan mustasyar NU yang dilaksanakan di pondok pesantren Al Anwar ini bisa berakhir dengan sangat baik.

      Kesimpulannya NU harus selalu bersama Pemerintah dan Pemerintah harus selalu bersama NU. Ini menjadi dua pihak yang tidak bisa dipisahkan. Sebab akhir-akhir ini ada fenomena indikasi  kelompok radikal –baik kanan maupun kiri– yang  keduanya sangat berbahaya.

      Kelompok ini bisa mengurangi, menggerogoti, merongrong keutuhan bangsa melalui kritik-kritik yang tidak berkualitas. Bahkan bukan hanya mengkritik namun juga menghina kehormatan maupun simbol- simbol bangsa. “Semua itu harus kita tolak. Karena kita harus menjaga kehormatan negara, bangsa serta simbol- simbol Negara,” tegasnya.

      Said juga menyampaikan, NU tidak bisa membicarakan politik praktis, karena NU tidak ada kaitannya. Sementara itu, sejumlah tokoh hadir dalam Silatnas Alim Ulama Nusantara ini, antara lain Ketum PBNU, KH Said Agil Siradj, pengasuh ponpes Al Anwar, KH Maemun Zubair, Pengasuh ponpes Raudlatut Thalibin KH Mustofa Bisri, Rais’Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, KH Tholhah Hasan, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf dan lainnya.

      Sumber: Republika

      Foto: Facebook Ala_nu

      Melacak Jejak Nasab Rasulullah

      Posted by admin - 16 Maret 2017 - Sejarah
      0
      Monogram Silsilah Keturunan Iman Husein

      Oleh : Fuji Eka Permana

      Keturunan Nabi Muhammad SAW hadir di Indonesia sejak abad ke – 14 dengan tujuan utama berdakwah.

      Di kalangan umat islam, terdapat sebagian orang yang disebut sebagai alawiyin. Siapakah mereka? Alawiyin adalah sebutan bagi kaum atau sekelompok orang yang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad.

      Saat ini kaum alawiyin telah memiliki banyak keturunan dan tersebar di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia, penelitian tentang autentisitas keturunan (nasab) alawiyin diatur oleh suatu organisasi yang bernama Rabithah Alawiyah.

      Sejarah pencatatan nasab alawiyin dimulai pada abad ke-15 oleh Syekh Ali bin Abubakar As-Sakran. Pencatatan nasab alawiyin juga dilakukan oleh Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dengan bantuan pendanaan dari raja-raja India. Beliau memerintahkan untuk melakukan pencatatan alawiyin di Hadramaut, Yaman, pada abad 17.

      Pada akhir abad ke-18, Sayid Ali bin Syekh bin Muhammad bin Ali bin Shihab juga melakukan pencatatan alawiyin. Hasil pencatatan itu terkompilasi dalam buku nasab sebanyak 18 jilid. Pencatatan nasab paling akhir dilakukan oleh mufti Hadramaut, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur pada akhir abad 19 yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Sayid Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur. Hasil pencatatan mereka terkumpul dalam tujuh buku nasab dari Hadramaut.

      Ketika Habib Alwi bin Thahir Alhaddad mendirikan organisasi Rabithah Alawiyah, beliau berinisiatif melakukan pencatatan alawiyin yang ada di Indonesia. Berangkat dari inisiatif itu, kemudian Rabithah Alawiyah membentuk Maktab Daimi pada 10 Maret 1932.

      Maktab Daimi merupakan lembaga otonom yang mempunyai tugas memelihara sejarah dan silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Harapannya, sejarah dan silsilah alawiyin tetap terjaga dan lesstari. Dalam menjalankan tugasnya, Maktab Daimi mempunyai metode khusus untuk mengetahui nasab seseorang, yakni apakah orang tersebut masih garis keturunan Nabi Muhammad SAW atau bukan.

      Ketua Maktab Daimi Rabithah Alawiyah, Ustadz Ahmad bin Muhammad Alatas mengatakan, setiap orang yang ingin mengetahui silsilah nasabnya harus mengajukan permohonan kepada Maktab Daimi. Pemohon harus mengisi formulir yang sudah tersedia. Pemohon juga harus menyebutkan silsilah nasabnya sampai kakek kelimanya.

      “Setelah dicatat dengan benar (nama kakeknya), kita akan mengecek pada buku-buku besar (buku silsilah nasab) yang kita miliki,” kata Ustadz Ahmad kepada Republika, Rabu (8/3).

      Jika nama-nama kakek si pemohon ada di dalam buku nasab, maka pihak Maktab Daimi akan meminta pemohon mengajukan saksi yang menyatakan bahwa pemohon benar-benar berasal dari suku atau marga alawiyin.

      Namun sebaliknya, jika nama kakek yang dituliskan si pemohon tidak ada di buku silsilah nasab yang menjadi rujukan Maktab Daimi, Maktab Daimi akan menggunakan metode lain.

      Maktab Daimi akan meminta data-data silsilah kakek si pemohon yang berurutan dan valid sampai kakek si pemohon ada di buku silsilah nasab. Ia mencontohkan, misalkan pemohon menuliskan silsilah kakeknya sampai kakek kelimanya. Tapi, ada empat nama kakeknya yang tidak terdaftar di buku silsilah nasab Maktab Daimi. Maka, empat nama kakeknya tersebut harus dibuktikan dengan data yang valid seperti dengan kartu keluarga, surat pernikahan, paspor, dan surat jual beli. “Yang mana semuanya itu akan menyebutkan nama ayahnya, sehingga akan berkesinambungan kepada silsilah yang ada di buku ini (silsilah nasab),” ujarnya.

      Metode seperti itu, menurut Ustadz Ahmad, dibuat guna menghindari orang-orang yang ingin memalsukan nasabnya.

      Ia menerangkan, buku silsilah nasab yang digunakan Maktab Daimi awalnya berasal dari dua buku. Pertama, buku dari Hadramaut yang dibuat oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur pada akhir abad 19. Buku itu kemudian diserahkan kepada Habib Alwi bin Thahir Alhaddad di Indonesia. Namun, buku itu hanya memuat nama-nama alawiyin yang lahir di Yaman.

      Kemudian, ketua Maktab Daimi yang pertama, Alhabib Ali bin Ja’far Assegaf, mengembangkan buku pertama yang berasal dari Hadramaut tersebut. Maka pada 1930-1940 dimulailah pendataan para sayyid di seluruh Indonesia. Hasilnya, terkumpul data nasab sebanyak tujuh jilid buku yang dihimpun oleh Alhabib Ali bin Ja’far Assegaf.

      “Jadi Alhabib Ali bin Ja’far Assegaf meneruskan nasab yang ditulis oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur yang dari Hadramaut,” jelasnya.

      Kemudian, buku nasab hasil pendataan Alhabib Ali bin Ja’far Assegaf dipadukan dengan buku nasab dari Hadramaut. Hasilnya jadi 15 jilid buku nasab. Buku itu sekarang menjadi rujukan Maktab Daimi untuk menelusuri nasab seseorang.

      Menurut Ustadz Ahmad, di dunia ini hanya ada 15 jilid buku yang memuat nasab Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Buku silsilah nasab sebanyak 15 jilid itu kemudian dibagikan ke Surabaya, Pekalongan, dan Palembang karena di sana banyak alawiyin.

      “Dari 15 jilid buku tersebut, ada juga yang dipinjam sampai di Madinah dan digunakan di Jeddah. Boleh dikatakan buku nasab hasil perpaduan buku nasab dari Hadramaut dan Indonesia itu lebih lengkap secara keseluruhan dibanding buku nasab yang lain,” papar Ustadz Ahmad.

      Jejak para sayyid

      Menurut catatan yang ada saat ini, keturunan Nabi Muhammad SAW atau para sayyid dating ke Indonesia sejak abad 14. Mereka datang secara bergelombang. Ada yang ke Aceh, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah-daerah lainnya. Di antara para sayyid itu, ada yang sekarang dikenal sebagai Wali Songo.

      “Tujuan para sayyid datang ke Indonesia untuk berdakwah melalui perdagangan. Dengan cara berdagang bias membaur dengan masyarakat, setelah itu berdakwah,” ujarnya.

      Para sayyid memang banyak yang berasal dari Yaman. Dari Yaman, mereka hijrah ke India. Lalu, dari negeri Hindustan itu, mereka hijrah lagi ke kawasan Asia Tenggara seperti Kamboja, Thailand, dan Indonesia.

      “Itu yang diseut dari Gujarat. Jadi, Gujarat adalah wilayah besar di India, mereka itu berasal dari Yaman, bukan keturunan orang India,” terang Ustadz Ahmad.

      Di India, para sayyid banyak bermukim di wilayah Hyderabad dan Kerala. Di Hyderabad, terdapat sekitar 38 marga yang bertaliandengan garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Di Kerala, terdapat 20 marga, sementara di Indonesia ada 68 marga yang bertalian dengan garis keturunan Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

      Lantas, apa manfaatnya mengenal nasab? Bagi para sayyid, menurut ustadz Ahmad, hal itu bermanfaat untuk mengetahui asal usul atau silsilah keluarga mereka. Harapannya, mereka dapat mencontoh dan mengikuti kepribadian, akhlak, dan sifat Nabi Muhammad SAW yang sangat mulia.

      “Untuk apa kalau nasabnya bagus tapi perilaku dan akhlak nya tidak sesuai (dengan Nabi Muhammad SAW)? Maka akan sangat disayangkan sekali.” ▪ed: wachidah handasah

      Sumber: Republika, 13 Maret 2017, Halaman 17.

      Silaturahim DPP Rabithah Alawiyah Dengan Duta Besar Mesir di Jakarta

      Posted by admin - 16 Maret 2017 - Berita
      5
      Silaturahim ke Dubes Mesir (1)

        Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar Smith bersama jajaran pengurus memenuhi undangan silaturahim dengan Duta Besar Mesir di Jakarta pada 4 Maret 2017. Tampak hadir Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Nabil Almusawa.

        Habib Zen Umar Smith Bersama Tokoh Islam Indonesia Bertemu Raja Salman

        Posted by admin - 7 Maret 2017 - Berita
        4
        Raja Salman Bertemu Tokoh Ormas Islam

          Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud dan Presiden Joko Widodo bertemu dengan sejumlah pemimpin lembaga dan tokoh Islam di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/3). Dari 36 tokoh Islam yang diundang, salah satunya adalah Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah Jakarta, Habib Zen Umar Smith. Pertemuan ini merupakan salah satu rangkaian agenda Raja Salman selama di Jakarta. Para tokoh Islam bersyukur atas kunjungan Raja Salman ke Indonesia dan berharap hubungan antara kedua negara semakin diperkuat.

          AWSOM Powered