Archive: Juli, 2017

Duta Besar Irak Bertemu Dengan Pengurus Rabithah Alawiyah

Posted by admin - 31 Juli 2017 - Berita, Foto
0
Kunjungan Duta Besar Irak (1)

    Duta Besar Irak untuk Indonesia, Abdullah Hasan Salih, berkunjung ke DPP Rabithah Alawiyah pada Sabtu, 29 Juli 2017. Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar Smith bersama jajaran pengurus turut menyambut kedatangan Duta Besar. Silaturahim ini dalam rangka mempererat hubungan antara Rabithah Alawiyah dan duta-duta besar Timur Tengah di Indonesia.

    Kunjungan Redaksi Republika ke DPP Rabithah Alawiyah

    Posted by admin - 31 Juli 2017 - Berita, Foto
    1
    Kunjungan Redaksi Republika (1)

      Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar Smith, menerima kunjungan redaksi Republika pada Jumat 28 Juli 2017 di Sekretariat DPP Rabithah Alawiyah Simatupang. Pertemuan tersebut juga dihadiri Sekretaris Umum Rabithah Alawiyah, Dr. Husin Ali Alatas, Ketua Maktab Daimi, Habib Ahmad Alatas dan Ketua Bidang Teknologi Informasi, Habib Husin Abdullah Alatas.

      Halal bihalal Uwad 1438 H/2017 M

      Posted by admin - 20 Juli 2017 - Foto
      1
      Uwad 2017 (4)

        Halal bihalal/Uwad di Gedung Yasmin Daarul Aitam Tanah Abang pada 2 Syawal 1438 H

        Kunjungan Duta Besar Republik Yaman

        Posted by admin - 17 Juli 2017 - Berita, Foto
        1
        Kunjungan Duta Besar Yaman Mohamed Ali S. AL-NAJAR (1)

          Duta Besar Republik Yaman untuk Indonesia, Mohamed Ali S. AL-NAJAR,  berkunjung ke kantor DPP Rabithah Alawiyah Simatupang pada Sabtu 15 Juli 2017. Disambut oleh Ketua Umum, Habib Zen Smith, dan pengurus Rabithah Alawiyah lainnya seperti, Dr. Husin Alatas, Habib Musthofa Salim Mauladdawilah, Habib Abdurrahman Basurroh, Habib Anas Yahya Mulachela dan Habib Abdulkadir Assegaf. Pertemuan hangat ini guna mempererat silaturahim antara Rabithah Alawiyah dan Kedutaan Republik Yaman di Jakarta.

           

          Teknologi Nuklir Untuk Ketahanan Energi Nasional (bagian kedua)

          Posted by admin - 11 Juli 2017 - Sains dan Teknologi
          0
          Evolusi Sistem Teknologi PLTN

          Pada Juni 2016 yang lalu, DEN mengadakan sidang untuk membahas dan menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), dan telah menetapkan beberapa poin, diantaranya adalah supaya pengembangan opsi nuklir dibuatkan roadmap. Opsi nuklir sebagai pilihan terakhir dalam KEN diterjemahkan dalam RUEN mencakup langkah-langkah sebagai berikut [2]:

          1. Membangun reaktor daya riset dan laboratorium reaktor sebagai tempat ahli nuklir berekspresi, berinteraksi dan berkarya, serta memberikan dukungan untuk dilaksanakannya riset-riset terkait nuklir supaya apa yang sudah dikuasai tidak hilang dan dapat dipertahankan.
          2. Mendorong kerja sama internasional agar selalu termutakhirkan dengan kemajuan teknologi.

          Membangun reaktor daya eksperimen (RDE) sudah dimulai pada tahun 2015 pada tahap penyusunan konsep desain oleh BATAN. Tahun 2016 dilanjutkan tahapan review dokumen oleh BAPETEN, dan apabila telah disetujui terhadap konsep desain akan dilanjutkan dengan penyusunan detail desain sebagai persyaratan untuk mendapatkan izin pembangunan. Kementerian ESDM sebagai lembaga teknis yang membidangi energi juga diharapkan akan segera membuat roadmap yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam merealisasikan program pemanfaatan energi nuklir sebagai pembangkit listrik. Apabila seluruh tahapan tersebut dapat dijalankan dengan baik oleh masing-masing pemangku kepentingan diharapkan kebijakan penggunaan nuklir sebagai pembangkit listrik di Indonesia bisa segera direalisasikan untuk mendukung kemandirian energi nasional. [2]

          Kegiatan litbang yang berkaitan dengan ketenaganukliran di Indonesia telah lama dirintis BATAN sejak tahun 1958. Pembangunan reaktor riset TRIGA-2000 di Bandung yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang, dan reaktor riset Kartini di Yogyakarta yang dilengkapi dengan unit pemurnian uranium merupakan langkah awal yang dirintis Indonesia dalam penguasaan teknologi  untuk menciptakan SDM yang berkualifikasi tinggi di bidang nuklir. Pengalaman membangun, mengoperasikan, dan merawat fasilitas tersebut sangat menunjang pengembangan lebih lanjut.

          Langkah yang lebih maju ditandai dengan pembangunan Reaktor G.A.Siwabessy dan laboratorium penunjang di kawasan Puspiptek Serpong, Tanggerang Selatan. Reaktor ini memiliki daya 30 MW yang dapat digunakan untuk penelitian, produksi radioisotop, dan sekaligus dapat digunakan untuk pengujian material yang diperlukan dalam pembangunan dan pengoperasian PLTN. Fasilitas lainnya adalah instalasi produksi elemen bakar nuklir, instalasi pengolahan limbah radioaktif, instalasi radiometalurgi, dan instalasi keselamatan reaktor.

          BATAN terus melakukan kajian, penelitian, dan pengembangan teknologi, dan keselamatan PLTN, untuk meningkatkan kesiapan introduksi PLTN di Indonesia. Salah satu yang tengah gencar dikaji BATAN adalah studi teknologi PLTN skala kecil dan menengah.

          Sebagian besar orang berpendapat bahwa sebuah reaktor nuklir membutuhkan peralatan yang canggih dan sangat mahal serta fisiknya yang sangat besar sekaligus berbahaya dalam pengoperasiannya. Kenyataannya, reaktor nuklir dalam praktik tidak selalu memiliki bentuk yang luar biasa besar. Reaktor nuklir dapat pula dalam bentuk yang lebih kecil. Reaktor yang memiliki bentuk yang lebih kecil memang hanya memproduksi energi yang lebih kecil pula, tetapi desain dan rancang bangunnya menjadi lebih sederhana. Reaktor nuklir dalam ukuran kecil ini disebut dengan SMR (Small Modular Reactor). Beberapa penelitian tentang SMR telah dilakukan di berbagai belahan dunia karena meninjau potensi yang mampu diberikannya.

          International Atomic Energy Agency (IAEA) mendefinisikan, SMR sebagai sistem PLTN yang dapat memproduksi listrik hingga 300 MW yang dapat dengan mudah dikirim dan dipasang sesuai pesanan permintaan[3]. SMR merupakan teknologi yang dikembangkan untuk menjawab tantangan kebutuhan energi bagi negara-negara yang kapasitas jaringan listriknya belum memadai untuk PLTN skala besar, seperti yang terdapat pada beberapa negara berkembang termasuk Indonesia [4].

          Penggunaan reaktor berukuran lebih kecil menyebabkan beberapa faktor kompleks dapat direduksi secara maksimal tanpa mempengaruhi keamanan reaktor. Selain itu, SMR tidak membutuhkan infrastruktur yang kompleks dalam pengoperasiannya. Sisi lain yang menjadi perhatian khusus ialah ditinjau dari aspek ekonomi, SMR dapat mengurangi biaya pengeluaran untuk membangun dan perawatan reaktor nuklir skala besar. Dalam bidang keamanannya, bisa dikatakan lebih aman disebabkan untuk masalah kebocoran atau yang lainnya akan lebih mudah untuk dideteksi. Pada aspek keselamatannya, desain SMR dapat menggabungkan suatu sistem fitur keselamatan pasif, di mana PLTN besar tidak dapat melakukannya. Juga lebih dapat menghemat lahan untuk membangun SMR, sebab volumenya yang tidak memakan banyak ruang.

          Pembangunan PLTN dengan SMR dinilai sangat cocok diaplikasikan di Indonesia terutama untuk wilayah di luar Pulau Jawa, yang belum memiliki kapasitas jaringan pembangkit listrik besar sehingga dapat melayani pasokan listrik di daerah terpencil dan pelosok untuk menyeimbangkan pertumbuhan permintaan listrik guna pembangunan dan kesejahteraan masyarakat pada area tersebut, asalkan memenuhi kriteria keberterimaan tapak. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk menerapkan SMR di Pulau Jawa.

          Studi SMR di Indonesia, sudah dimulai sejak 2001 dengan mempelajari reaktor daya terapung KLT-40 dan reaktor baterai. Di ITB dikembangkan desain reaktor SPINNOR (Small Pb-Bi Cooled Non-Refueling Nuclear Power Reactor). Sementara itu, di UGM dikembangkan desain reaktor PCMSR (Passive Compact Molten Salt Reactor). BATAN telah melakukan penelitian untuk pengembangan SMR, salah satunya adalah reaktor gas yang dikenal dengan RGTT-200, yaitu reaktor gas temperatur tinggi dengan daya 200 MW.

          Reaktor SPINNOR merupakan salah satu dari jenis reaktor SMR, generasi ke-IV bertipe LMFBR (Liquid Metal Fast Breeder Reactor), yang merupakan reaktor cepat berumur panjang berpendingin Pb-Bi (lead/lead-bismuth cooled long life fast reactor). Konsep SPINNOR telah dikembangkan sejak tahun 1990 di ITB dengan bantuan RLNR (Research Laboratory for Nuclear Reactors) dari Tokyo Institute of Technology [4].

          SMR memiliki prospek yang sangat baik untuk penyebaran energi listrik pada beberapa daerah terpencil, seperti pada banyak bagian di Indonesia, untuk memecahkan permasalahan defisit suplai daya listrik pada area tersebut sehingga dapat menjamin ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, penelitian mendalam terkait reaktor berukuran kecil perlu dilakukan terutama untuk negara berkembang seperti Indonesia.

          Referensi:

          [1] Dewan Energi Nasional (DEN). 2016. Outlook Energi Indonesia 2016. Jakarta: Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional.

          [2] Humas BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional). 2016. Tarik Ulur Energi Nuklir dalam Program Energi Nasional. From: http://www.batan.go.id/index.php/id/publikasi-2/pressreleases/2617-tarik-ulur-energi-nuklir-dalam-program-energi-nasional (diakses pada 3 April 2017, pukul 01.43).

          [3] IAEA Advanced Reactors Information System (ARIS). 2016. Advances in Small Modular Reactor Technology Developments. Austria: International Atomic Energy Agency (IAEA).

           [4] Su’ud, Zaki. 2007. Advanced SPINNORs Concept and The Prospect of Their Deployment in Remote Area. International Conference on Advances in Nuclear Science and Engineering in Conjunction with LKSTN 2007 (199-207).

          *) Penulis merupakan mahasiswa Fisika Nuklir – Institut Teknologi Bandung (ITB); Sekretaris Jenderal Komunitas Muda Nuklir Nasional wilayah Bandung (KOMMUN Bandung).

          Kontak : irfanalaydrus@students.itb.ac.id (e-mail)

          Teknologi Nuklir Untuk Ketahanan Energi Nasional (bagian pertama)

          Posted by admin - 11 Juli 2017 - Sains dan Teknologi
          2
          Bauran Energi Primer dalam KEN    (Sumber Outlook Energi Indonesia 2016, DEN)

          Oleh: Muhammad Irfan Alaydrus *)

          Dalam melakukan aktivitas sehari-hari manusia membutuhkan energi. Energi juga diperlukan untuk menggerakkan mesin industri, penerangan, transportasi, penelitian, dan keperluan lainnnya. Sumber energi dapat diperoleh dari alam, seperti matahari, air, angin, atau dari bahan makanan yang ada di sekitar kita. Energi mempunyai peran sangat penting dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan, di mana energi berfungsi sebagai alat dorong utama dari setiap langkah signifikan pencapaian kemajuan peradaban manusia dan sistem perekonomian dunia. Oleh karena itu pengelolaan sumber energi dan pemanfaatannya harus dilakukan secara optimal, arif, dan bijaksana, yang dilandasi oleh pertimbangan dari aspek lingkungan, kebutuhan energi, kepentingan antar generasi, sosial politik, geopolitik, dan ekonomi.

          Untuk mendukung pembangunan nasional terutama yang berbasis industri di masa mendatang, diperlukan sumber energi yang cukup besar. Sampai saat ini, Indonesia masih menghadapi persoalan dalam mencapai target pembangunan bidang energi. Berdasarkan data tahun 2014, Kementerian ESDM mencatat bahwa energi fosil (minyak bumi, gas bumi, dan batu bara) masih mendominasi dalam konsumsi energi primer, di mana konsumsi minyak bumi 41,0% dari total konsumsi energi nasional, diikuti batu bara 32,3%, gas 19,7%, biomasa modern 2,9%, tenaga air 2,5%, panas bumi 1,1%, dan listrik impor 0,4%. Selama periode 2004 sampai dengan 2014, konsumsi energi primer Indonesia meningkat dari 127 juta TOE (Tonnes Oil Equivalent) menjadi 215 juta TOE, atau tumbuh 5,4% per tahun. Namun demikian, total pangsa energi baru dan terbarukan (EBT) pada tahun 2014 hanya mencapai sekitar 7%, upaya untuk memaksimalkan pemanfaatan EBT belum dapat berjalan sebagaimana yang direncanakan[1].

          Mengingat permintaan terhadap energi yang terus meningkat dan terbatasnya ketersediaan sumber energi primer, terutama minyak bumi dan batu bara, serta dengan mempertimbangkan dampak kerusakan lingkungan, maka pemilihan sumber energi di masa depan harus dilakukan dengan cermat. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk menjadikan EBT sebagai prioritas utama untuk menjaga ketahanan dan kemandirian energi, mengingat potensi EBT sangat besar untuk dapat menjadi andalan dalam penyediaan energi nasional di masa mendatang[1].

          EBT terdiri dari tenaga surya, tenaga angin, tenaga air, tenaga laut, panas bumi, biodiesel, bioethanol, biomasa komersial termasuk limbah pertanian dan rumah tangga. EBT terus dikembangkan dan dioptimalkan, dengan mengubah pola pikir bahwa EBT bukan sekedar sebagai energi alternatif dari bahan bakar fosil, tetapi harus menjadi pasokan energi nasional dengan porsi EBT sebesar 23% pada tahun 2025 dan di tahun 2050 paling sedikit sebesar 31%. [1]

          Studi perencanaan energi nasional yang komprehensif untuk berbagai macam sumber energi telah dilakukan oleh Dewan Energi Nasional (DEN). Berdasarkan data tahun 2015, diperkirakan kebutuhan energi final nasional akan mencapai 238,8 MTOE (Million Tonnes Oil Equivalent) pada tahun 2025, peningkatan sekitar 1,8 kali lipat dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 6,4% dibandingkan dengan konsumsi energi final pada tahun 2015 (128,8 MTOE). Kebutuhan energi final akan semakin meningkat dan mencapai 682,3 MTOE pada tahun 2050. Rata-rata pertumbuhan kebutuhan energi selama periode 2015-2050 adalah sekitar 4,9% per tahun[1]. Maka apabila penyediaan energi hanya bertumpu pada sumber energi fosil, panas bumi, dan air akan terjadi kekurangan pasokan. Untuk lebih menjamin dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan, maka sudah selayaknya kita harus memikirkan energi alternatif lain untuk memenuhi kekurangan tersebut.

          Salah satu energi alternatif yang cukup prospektif untuk dapat memenuhi kebutuhan energi di masa depan tersebut, yaitu energi nuklir sebagai pelengkap dari sumber energi lainnya. Dalam era teknologi saat ini reaktor nuklir telah menjadi penghasil listrik yang cukup menjanjikan karena mampu menghasilkan energi yang jauh lebih besar dalam jangka waktu yang lebih panjang dibandingkan pembangkit energi lainnya, serta aman bagi lingkungan dan kehidupan manusia dengan limbah dan biaya operasi yang lebih rendah. Reaktor nuklir dapat menggantikan pembangkit listrik lainnya yang cenderung mengabaikan polusi udara yang cukup berbahaya untuk makhluk hidup. Bagaimanapun juga pemilihan PLTN sebagai pembangkit energi listrik alternatif perlu persiapan yang matang dari berbagai pihak yang terlibat karena teknologi tersebut memang dapat menyebabkan kecelakaan besar.

          Peraturan yang mengatur tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), yaitu PP No. 79/2014 sebagai pengganti Perpres No. 5/2006.  Ada perbedaan yang mencolok terhadap arah kebijakan pada kedua peraturan tersebut, yaitu dalam Perpres No. 5/2006 nuklir menjadi bagian dalam KEN, sedangkan dalam PP No. 79/2014 nuklir sebagai pilihan terakhir. Hal tersebut yang kemudian membuat rencana pembangunan PLTN menjadi tidak berujung hingga saat ini.

          Referensi:

          [1] Dewan Energi Nasional (DEN). 2016. Outlook Energi Indonesia 2016. Jakarta: Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional.

          *) Penulis merupakan mahasiswa Fisika Nuklir – Institut Teknologi Bandung (ITB); Sekretaris Jenderal Komunitas Muda Nuklir Nasional wilayah Bandung (KOMMUN Bandung).

          AWSOM Powered