Archive: Oktober, 2017

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi

Posted by admin - 18 Oktober 2017 - Berita
0
Ijtima Ulama 2017  (1)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Rabithah Alawiyah menggelar halaqah bertajuk ‘Kabar Gembira ditengah Kesulitan’ dengan pembicara ulama asal Yaman, Alhabib Umar bin Salim bin Hafidz. Dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini menyampaikan pentingnya pertemuan ulama untuk memecahkan masalah umat.

“Perlunya pertemuan ulama seperti ini, semoga ke depan bisa direncanakan lebih besar dan fokus kepada pemecahan masalah umat. Misal membicarakan apa kekuatan dan kelemahan kita,” ujar Helmy dalam sambutannya di Crowne Hotel, Jakarta, Selasa (17/10).

Menurut Helmy, pembahasan ekonomi umat sangat penting karena data dari Bank Indonesia dari seluruh uang yang beredar di Indonesia 80 persen hanya dimiliki oleh 35 orang saja. Lebih tercengang lagi, berdasarkani data global wealth, 90 persen aset negara hanya dikuasai satu persen saja. “Secara logika sebagai mayoritas seharusnya ikut menentukan arah kebijakan negara, nyatanya masih belum,” ucap Helmy.

Sementara, Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar bin Smith mengatakan, bahwa penguatan ekonomi umat sebagai salah satu benteng iman dari segala godaan. “Kristenisasi bukan hanya salah para petugas, kita juga ikut andil karena tidak aktif membentengi dengan membuat penguatan ekonomi, sebagai salah satu sebabnya,” ucap Habib Zen.

Hal senada juga disampaikan oleh Habib Umar bin Hafidz dalam ceramahnya bahwa pembangunan ekonomi tergantung pada niatnya. Jika diniatkan mencari ekonomi untuk berjuang di jalan Allah SWT, kata dia, maka itu jalan yang dibenarkan.

Menurut dia, hal itu seperti dalam sebuah riwayat bahwa ada anak muda pergi ke pasar, kemudian ada sahabat yang mengatakan, seandainya kekuatan digunakan untuk pergi jihad ke medan perang, maka akan lebih bermanfaat. “Namun Baginda Rasullullah menuturkan jangan mudah menilai, jika niatnya untuk menafkahi bapak dan ibunya maka fisabilillah. Jika niatnya untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak perlu mengemis, maka fisabilillah. Tapi jika niatnya untuk menumpuk harta, pamer maka ia di jalan setan,” tutur Habib Umar.

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto

Sumber: Republika

Peresmian Rumah Peduli Condet oleh Habib Umar bin Hafiz

Posted by admin - 17 Oktober 2017 - Berita, Foto
1
Habib Umar bin Hafiz Meresmikan Rumah Peduli Janda di Condet (11)

    Habib Umar bin Hafiz meresmikan Rumah Peduli Condet pada hari Senin 16 Oktober 2017 di Jalan Gardu, Jakarta Timur. Peresmian tersebut dihadiri oleh Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar Smith dan pengurus DPP Rabithah Alawiyah beserta undangan.

    Adab dalam Menjalani Fase-fase Usia

    Posted by admin - 13 Oktober 2017 - Bina Keluarga, Psikologi
    0
    Usia Manusia

    Oleh: Alwi Alatas

    Di antara adab yang perlu diperhatikan oleh seseorang serta para pendidik adalah adab dalam menjalani fase-fase usia. Ketidaksesuaian dalam menjalani fase-fase ini bisa menyebabkan perilaku seseorang menjadi buruk atau bahkan biadab.

    Al-Qur’an membagi fase umur manusia kepada tiga bagian, yaitu lemah, kemudian kuat, kemudian lemah dan beruban. Ini disebutkan di dalam Surat al-Rum ayat 54:

    Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

    Ibn Katsir di dalam Tafsirnya saat menjelaskan tentang ayat ini menulis, “Kemudian ia keluar dari rahim ibunya, lemah, kurus, dan tak berdaya. Kemudian ia tumbuh sedikit demi sedikit sampai ia menjadi seorang anak, lalu ia mencapai usia baligh, dan setelahnya menjadi seorang pemuda, yang merupakan kekuatan setelah kelemahan. Kemudian ia mulai menjadi tua, mencapai usia paruh baya, lantas menjadi tua dan uzur, kelemahan setelah kekuatan, maka ia kehilangan ketetapan hati, tenaga untuk bergerak, serta kemampuan berperang, rambutnya menjadi kelabu dan sifat-sifatnya, zahir dan batin, mulai berubah.

    Kita bisa menyebut fase yang pertama sebagai fase kanak-kanak, yang kedua fase dewasa, dan yang terakhir fase tua. Hal ini karena kanak-kanak dan orang tua memang berada dalam fase kelemahan, sementara kekuatan ada pada usia dewasa. Namun berapakah batasan usia pada masing-masing fase tersebut? Dalam hal ini usia baligh, atau usia lima belas tahun, merupakan batas usia dari kanak-kanak ke dewasa dan usia enam puluh tahun, kurang lebih, merupakan saat-saat peralihan ke usia tua. Usia lima belas tahun adalah waktu yang tidak terlalu lama sejak seorang anak mencapai usia baligh, sehingga membuat seorang anak tidak perlu melewati masa peralihan yang terlalu panjang untuk memasuki usia dewasa. Tentang batas usia ini ada penjelasan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Ibn Umar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memanggil saya agar hadir ke hadapannya menjelang Perang Uhud dan ketika itu saya berusia empat belas tahun, dan beliau tidak mengijinkan saya untuk ikut berperang. Kemudian beliau memanggil saya untuk hadir ke hadapannya menjelang Perang Khandaq ketika saya berusia lima belas tahun dan beliau mengijinkan saya untuk berperang.” Nafi’ berkata, “Saya datang kepada Umar bin Abdul Aziz yang merupakan Khalifah pada waktu itu dan menyampaikan riwayat tersebut kepadanya. Ia berkata, ‘Usia ini (lima belas tahun) adalah batas antara anak-anak dan orang dewasa.’ Dan ia memerintahkan kepada para gubernurnya untuk memberikan tunjangan kepada siapa saja yang telah mencapai usia lima belas tahun.” (HR Bukhari)

    Adapun batas antara fase dewasa dan tua kurang lebih ada di sekitar usia enam puluh tahun. Hal ini dengan memperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Abu Bakar, dan Sayyidina Umar wafat pada usia enam puluh tiga tahun, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik (HR Muslim), dan ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum ajma’in wafat di usia yang sama. Rasulullah dan Sayyidina Abu Bakar wafat saat masih berada dalam kekuatan dan keduanya mengalami sakit serta menjadi lemah karenanya hanya beberapa hari menjelang wafat. Sementara Sayyidina Umar wafat karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah. Ada riwayat di dalam Siyar A’lam al-Nubala’ karya al-Dzahabi bahwa kurang dari sebulan sebelum wafatnya beliau mengangkat tangan ke langit dan berdoa, “Ya Allah, usiaku telah tua, kekuatanku melemah, dan rakyatku menyebar luas, maka kembalikanlah aku kepada-Mu tanpa melakukan penganiayaan dan kezaliman.”

    Selain itu, mereka yang berada di fase dewasa juga perlu memperhatikan batas usia empat puluh tahun, sebagaimana al-Qur’an menyebut secara khusus tentang usia ini: “… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ….” Karena pada usia inilah, seperti disebutkan Ibn Katsir di dalam Tafsirnya, “kemampuan berpikir seseorang, pemahaman, serta kesabarannya mencapai puncak kematangan. Juga dikatakan bahwa biasanya seseorang tidak akan mengubah jalannya [cara hidup dan karakternya, pen.] saat ia mencapai usia empat puluh tahun.” Ini adalah saat seseorang mencapai usia kematangan dan berada dalam puncak kedewasaan dan kemandirian.

    Seorang Muslim perlu memahami fase-fase ini dan mengambil perhatian atas diri sendiri dan orang lain agar ia tidak sampai melanggar adab-adabnya. Di antara adab terkait fase usia ini adalah mereka yang berada di fase kuat atau dewasa harus bertindak sesuai kapasitasnya dan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab. Karena mereka adalah orang-orang yang berada di puncak fase usia dan yang paling memiliki kemampuan, maka dia harus melindungi dan mengayomi orang-orang yang berada di fase usia yang lain, bukan malah meninggalkan, tak peduli, apalagi sampai menindas. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak mengakui hak-hak orang tua kami maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah).

    Begitu pula mereka yang berada pada fase-fase usia lainnya harus mengetahui adab-adab yang perlu dilakoninya. Seorang anak atau mereka yang berusia lebih muda, misalnya, perlu menghormati orang-orang yang lebih tua dan mendahului dalam memberi salam. “Yang muda harus memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak,” sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhari).

    Hilangnya adab terhadap usia bisa berdampak sangat serius. Ada hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebut bahwa Ada tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak memandang kepada mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, di antaranya adalah orang tua yg berzina (HR. Muslim sebagaimana disebutkan di dalam Riyadh al-Shalihin). Hal ini disebabkan perilaku ini menunjukkan pelanggaran adab yag serius terhadap fase usia yang dilaluinya. Seorang yang sudah tua sebenarnya berada dalam kelemahan, termasuk dalam urusan syahwat atau dorongan seksual. Jika dorongan syahwat sudah jauh berkurang tapi masih saja bermaksiat dan berzina, ini merupakan hal yang sangat keterlaluan. Selain itu, fase usia yg dilaluinya adalah fase terdekat dengan kematian, maka bagaimana mungkin ia masih sempat melakukan dosa besar? Padahal seharusnya ia menjadi orang yang paling banyak mengingat kematian.

    Di antara persoalan serius di jaman modern ini berkenaan dengan fase usia adalah dimundurkannya batas waktu antara fase kanak-kanak dan dewasa. Anak-anak pada hari ini belum dianggap dewasa sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun atau bahkan lebih. Masa-masa di antara baligh dan usia sekitar dua puluh tahun disebut sebagai masa transisi atau biasa dikenal sebagai masa remaja, sebuah periode pertumbuhan yang dahulunya tidak ada.

    UNICEF dalam laporannya pada tahun 2011 menyebut umur 10-19 tahun sebagai usia remaja (http://www.unicef.org/adolescence/files/SOWC_2011_Main_Report_EN_02092011.pdf), sementara PBB menyebut mereka yang berusia di antara 15 dan 24 tahun sebagai pemuda (youth), tetapi penjelasan terhadap terma ini kurang lebih sama dengan apa yang dipahami masyarakat modern tentang remaja, yaitu “a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence” (http://www.un.org/esa/socdev/documents/youth/fact-sheets/youth-definition.pdf). Yang terakhir ini membuat fase kedewasaan seorang anak menjadi semakin mundur dan lambat.

    Anak-anak sebetulnya mengalami perubahan penting secara fisik dan psikologis menjadi seorang dewasa saat mereka baligh dan, setelah melewati periode transisi yang singkat, bisa diterima secara sosial sebagai bagian dari masyarakat dewasa saat mereka berusia 15 tahun, sebagaimana di jelaskan di awal artikel ini. Hal ini sejalan dengan perkembangan natural pada fisik serta kesiapan psikologis dan sosial pada manusia secara umum. Penundaan yang terlalu lama dari batas usia ini akan menimbulkan kekacauan konsep serta kerusakan adab pada diri seorang anak. Ia yang seharusnya sudah memasuki fase kekuatan dipaksa untuk tetap berada dalam fase lemah, atau fase yang samar-samar, tidak lemah tapi juga tidak kuat.

    Diubahnya definisi dan batasan waktu antara anak-anak dan dewasa telah merusak konsep adab terkait fase usia. Seseorang yang seharusnya sudah mulai menjalani adab sebagai seorang dewasa malah terus berperilaku seperti anak-anak atau malah ‘dihalalkan’ untuk tidak beradab karena mereka dianggap sedang menjalani masa transisi yang penuh gejolak. Ia menjadi kurang memiliki rasa tanggung jawab, yang merupakan salah satu ciri kedewasaan, dan seringkali tak sungkan melakukan berbagai jenis pelanggaran. Sebagian bahkan sangat membenci tanggung jawab, seperti yang dikutip James E. Gardner (1992: 41) dalam Memahami Gejolak Masa Remaja tentang ucapan seorang remaja di Amerika:

    Inilah kata yang paling kubenci – tanggung jawab. Aku selalu harus bertanggung jawab terhadap diriku sendiri, terhadap orang lain, atau terhadap sesuatu …. Persetan dengan tanggung jawab. Aku tidak menginginkannya. Taik dengan tanggung jawab!

    Ini baru ucapan dan sikap yang tak pantas, belum termasuk berbagai bentuk kenakalan dan perilaku tak bertanggung jawab dari anak-anak yang biasa disebut sebagai remaja, seperti bullying, perilaku seks yang bebas, penggunaan obat-obat terlarang, serta jiwa yang labil dan kecenderungan bunuh diri. Sebetulnya bukan para remaja ini yang salah pada asalnya, tetapi masyarakat modern-lah yang telah mengacaukan batasan usia serta meninggalkan adab-adab yang menjadi tuntutan di dalamnya. Akibatnya, banyak sikap dan perilaku anak-anak serta pemuda pada hari ini yang menjadi tak beradab.

    Karena itu tidak ada jalan untuk memperbaiki keadaan ini selain dengan menetapkan kembali fase usia pada batas-batasnya yang alami dan sesuai dengan tuntunan agama, serta dengan memahami dan menghidupkan adab-adab yang sesuai pada masing-masing fase usia tersebut.

    Jakarta,

    25 Dzulhijjah 147/ 27 September 2016

    Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Kedewasaan

    Posted by admin - 5 Oktober 2017 - Bina Keluarga
    2
    Kedewasaan

    Oleh: Alwi Alatas

    Perbedaan utama antara anak-anak dan orang dewasa adalah dalam hal kemandirian. Kemandirian adalah sebagian dari kekuatan. Seorang anak masih berada dalam keadaan lemah dan belum mampu untuk berdiri sendiri. Karena itu ia diasuh dan dibimbing oleh orang tuanya. Saat menjadi pemuda dan dewasa, secara gradual ia masuk dalam fase kekuatan yang memungkinkan dirinya untuk mandiri dan akhirnya tidak lagi bergantung pada orang tuanya. Ini merupakan siklus yang alami pada setiap manusia.

    Seperti telah disebutkan pada artikel yang lain sebelum ini, al-Qur’an membagi siklus hidup manusia dalam tiga bagian. Begitu pula yang disebut pada ayat berikut ini:

    “… kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak (thiflan), kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa dewasa (tablughu asyuddakum), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua (syuyukhan) ….” (QS 40: 67)

    Ayat tersebut menggunakan terma “tablughu asyuddakum” untuk fase dewasa. Istilah ini digunakan beberapa kali dalam al-Qur’an, di antaranya terkait penjagaan terhadap anak-anak yatim. Saat menjelaskan tentang istilah ini pada ayat yang lain (QS 6: 152), Imam al-Thabari menjelaskan di dalam Tafsir-nya bahwa kata asyudda merupakan jamak dari kata syaddun dan maknanya adalah kekuatan (quwwah). Ia juga menafsirkan “tablughu asyuddakum” sebagai tercapainya puncak kekuatan pada usia muda. Sebagian mufassir menakwilkan kata-kata ini sebagai terjadinya ihtilam atau mimpi basah (Tafsir al-Thabari, vol. 12, hlm. 222-223). Dengan kata lain, usia muda atau usia dewasa menghadirkan ke dalam dirinya puncak kekuatan, dan bersamaan dengan itu juga kemampuan untuk mandiri.

    Masalahnya, mandiri dalam hal apa, sehingga dapat dikatakan seseorang itu sudah dewasa?

    Setelah direnungi secara mendalam, setidaknya ada empat aspek kemandirian yang menjadi pokok perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa, yaitu adanya identitas diri, tujuan hidup atau visi, kemampuan mengambil keputusan, serta rasa tanggung jawab. Seorang anak belum memiliki kemandirian dalam keempat hal tersebut, sementara seorang yang dewasa (seharusnya) sudah memilikinya.

    Identitas diri seorang anak masih ikut dengan orang tuanya, tujuan hidupnya masih berubah-ubah, ia belum mampu untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan secara dewasa, dan belum mampu untuk memikul tanggung jawab. Namun seiring dengan tumbuhnya si anak mencapai usia baligh dan menjadi seorang pemuda, ia mulai memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mandiri dalam keempat aspek tersebut. Berbeda dengan anak-anak, seorang yang dewasa sudah memiliki identitasnya sendiri, mantap dengan tujuan hidup dan cita-citanya, mampu membuat keputusan secara dewasa, serta mampu dan mau memikul tanggung jawab.

    Karena itu menjadi tugas orang tua dan para pendidik untuk membimbing anak-anak agar memahami hal ini serta membantu mereka agar mampu mandiri dalam keempat aspek ini saat umurnya mencapai usia dewasa, yaitu saat ia baligh atau berusia 15 tahun. Jika tidak demikian, maka ia akan tumbuh menjadi seorang yang kekanak-kanakan, walaupun ia sudah mencapai fase usia dewasa dan sudah memiliki potensi kekuatan dan kemandirian. Bukan hanya menjadi seorang yang kekanak-kanakan, bahkan ia bisa memberontak dari orang tuanya, karena sudah terdorong untuk memiliki identitas sendiri. Ia akan mudah terpengaruh oleh teman-temannya karena masih sangat labil dalam tujuan hidupnya. Ia juga mungkin mengambil keputusan-keputusan yang buruk dan fatal serta menjadi sangat tidak bertanggung jawab dalam hidupnya.

    Orang tua perlu membimbing serta melatih anak-anaknya untuk mencapai aspek-aspek kemandirian ini. Kalau tidak, orang tua akan mengalami banyak kesulitan dan kesusahan saat anak tumbuh menjadi remaja. Bukannya menjadi seorang berkarakter dewasa, anak tersebut akan menjadi seorang remaja yang labil dan sulit diatur. Akhirnya ia menjadi seperti yang disebutkan Raja Ali Haji di dalam Gurindam Dua Belas pasal ke-7:

    Apabila anak tidak dilatih,

    Jika besar bapanya letih.

    Kami akan membahas secara lebih detail masing-masing aspek-aspek kedewasaan dalam tulisan yang lain. Namun pada artikel ini akan diberikan contoh dari sebuah kisah yang indah.

     

    Kedewasaan Ismail

    Nabi Ismail ‘alaihis salam tumbuh besar di kota Makkah. Ketika ia menjadi seorang pemuda, ayahnya Ibrahim ‘alaihis salam menerima perintah untuk menyembelih anaknya itu. Ismail bersedia menjalankannya, tetapi kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba.

    Jika kita merujuk pada Alkitab – dalam bagian yang dibahas ini kita boleh meriwayatkannya tanpa membenarkan atau menolaknya – disebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendapatkan anak Ismail saat ia berusia 86 tahun (Kejadian 16: 16) dan mendapatkan anak Ishak saat ia berumur 100 tahun (Kejadian 21: 5). Jadi ada selisih 14 tahun di antara keduanya. Orang-orang Nasrani meyakini bahwa Ishak yang rencananya akan disembelih dan dikorbankan, tetapi kaum Muslimin meyakini bahwa Ismail-lah yang akan dikorbankan. Menariknya, saat membahas tentang perintah penyembelihan terhadap Ishak, Alkitab (Kejadian 22: 2) menyebutnya sebagai “anakmu yang tunggal itu”, sementara kita mengetahui bahwa penyebutan itu hanya mungkin berlaku atas Ismail selama adiknya Ishak belum lahir, yaitu saat Ismail berumur kurang dari 14 tahun. Tampaknya yang dimaksud oleh Alkitab terkait perintah penyembelihan anak sebenarnya adalah Ismail yang ketika itu masih berusia remaja.

    Al-Qur’an memiliki kisah tersendiri tentang penyembelihan ini, yang walaupun tidak menyebutkan secara jelas nama Ismail tetapi para mufassir menjelaskan bahwa Ismail-lah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut. Ayat ini mengandung kisah kedewasaan yang indah.

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS 37: 102)

    Ibn Katsir menyebutkan pendapat Ibn Abbas, Mujahid, dan beberapa yang lainnya bahwa kata-kata “tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim” (falamma balagha ma’ahu sa’ya) bermakna ketika ia menjadi seorang pemuda dan mampu bekerja sebagaimana ayahnya. Pada masa lalu kemampuan ini dicapai pada usia belasan tahun, tak lama setelah masa baligh – sekarang pun sebenarnya potensi itu bisa dicapai oleh seseorang pada usia yang kurang lebih sama. Di dalam Tafsir al-Khazin (vol. 4, hlm. 22) ada disebutkan pendapat bahwa usia Ismail ketika itu adalah 13 tahun. Ada pula yang mengatakan 7 tahun, tapi tampaknya usia ini terlalu dini untuk dijadikan acuan. Tafsir al-Qurthubi juga menyebutkan adanya pendapat bahwa Ismail ketika itu berusia 13 tahun.*

    Di dalam ayat tersebut, nabi Ibrahim mendapat sebuah mimpi yang merupakan perintah dari Rabb-nya. Mimpi ini juga melibatkan Ismail. Ini adalah salah satu aspek kedewasaan: mimpi, visi, atau tujuan, atau dalam konteks ini sesuatu yang belum terjadi dan akan diwujudkan pada waktu-waktu berikutnya. Mimpi ini datang dari Allah dan harus dijalankan oleh Ibrahim dan Ismail. Mimpi itu memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Ini adalah sebuah mimpi yang gila bagi orang-orang yang tidak percaya pada kehidupan akhirat. Tidak ada orang yang memiliki mimpi atau visi menyembelih anak sendiri dan tidak ada orang yang bermimpi (berkeinginan) untuk disembelih hingga mati. Tetapi bagi seorang mukmin, tujuan sejati dan tertinggi adalah agar bisa sampai kepada Allah dalam keadaan diridhai. Mimpi Ibrahim, walaupun berat untuk dilaksanakan, adalah jalan yang membawa kepada tujuan tertinggi tadi.

    Di samping mimpi, perintah ini juga berkenaan dengan tanggung jawab. Ini merupakan aspek kedewasaan yang kedua. Baik Ibrahim maupun Ismail diminta untuk merealisasikan sebuah tanggung jawab yang sangat berat. Tanggung jawab itu menyiratkan adanya pengorbanan, dan pengorbanan itu sendiri bertingkat-tingkat. Dalam kaitan ini, kedua insan mulia ini diserahi satu beban tanggung jawab terbesar yang mungkin dipikul oleh seseorang, yaitu mengakhiri hidup sendiri dan kehilangan belahan jiwa. Rasanya tidak ada tanggung jawab yang lebih berat daripada itu.

    Perintah itu untuk dilaksanakan, bukan untuk didiskusikan. Namun Nabi Ibrahim tidak langsung menarik anaknya untuk disembelih. Ia menyampaikan mimpinya itu kepada sang anak dan memberi kesempatan kepadanya untuk menyampaikan pendapat serta mengambil keputusan. Ini adalah aspek kedewasaan yang ketiga, yaitu pengambilan keputusan secara dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim menganggap Ismail sebagai pria dewasa, walaupun usianya ketika itu masih sangat belia. Karena hanya orang yang dianggap dewasa yang biasanya diminta dan didengar pendapatnya.

    Sikap Nabi Ismail berikutnya sangat mengagumkan. Ia tidak menolak mimpi ayahnya. Sebaliknya ia menerima mimpi tersebut, yang berarti ia mengambil mimpi itu sebagai bagian dari mimpinya sendiri. Pada saat yang sama Ismail menerima beban tanggung jawab tersebut dan mempersilahkan ayahnya untuk menjalankan tugasnya. Ismail dipersilahkan untuk memilih pendapatnya, dan inilah pilihan yang ia buat. Ia tidak dipaksa oleh ayahnya untuk menerima keputusan secara sepihak, dan inilah keputusan yang diambilnya. Ia memilih dan membuat keputusan secara dewasa, yaitu berdasarkan pilihan baik-buruk, bukan suka-tak suka. Tak ada yang suka dikorbankan dan disembelih, tetapi karena hal itu dilakukan dalam rangka ketaatan pada Allah dan karenanya itu merupakan hal yang baik, maka Ismail memilihnya.

    Ismail kemudian menutup kata-katanya dengan menyatakan siapa dirinya. “Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Ini adalah aspek keempat dan terakhir dari kedewasaan dalam pembahasan kita, yaitu identitas diri. Ismail menjadikan kesabaran sebagai identitas dirinya dan ini menjelaskan mengapa ia sanggup mengambil tanggung jawab yang sangat berat. Karena ia mengerti apa artinya menjadi orang yang sabar dan ia kelihatannya juga sudah melatih dirinya menjadi seorang penyabar. Ia tidak merasa gamang atau ragu dengan status dan jati dirinya dan karena itu ia mampu mengambil keputusan dengan penuh keyakinan. Pada akhirnya, semua itu akan menghantarkannya kepada tujuannya yang paling tinggi, yaitu berjumpa dengan Tuhan-nya dalam keadaan yang diridhai.

    Kita mengetahui bahwa akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba. Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihis salam lulus dalam ujian tersebut. Kisah mereka dikenang di dalam ibadah qurban yang dijalankan oleh kaum Muslimin setiap tahun. Sebagian orang mengatakan bahwa di dalam Iedul Qurban sebenarnya kita sedang ‘menyembelih’ sifat cinta dunia di dalam hati kita. Mungkin saat menyembelih hewan qurban di hari Iedul Adha, kita juga bisa memaknai bahwa pada saat itu kita sedang menyembelih sifat kekanak-kanakan di dalam diri kita sendiri dan selepasnya kita harus tampil sebagai seorang yang benar-benar dewasa, karena sifat kedewasaan tidak selalu berkaitan dengan usia tertentu.

    Adapun bagi anak-anak kita, masa ‘penyembelihan’ terbesar di dalam hidup mereka terjadi di antara masa-masa baligh dan usia 15 tahun. Saat mereka lulus dalam ujian tersebut, mereka akan muncul sebagai manusia yang dewasa dan matang pada waktunya. Mereka akan muncul sebagai pemuda yang mandiri dalam visi, identitas diri, tanggung jawab, serta pengambilan keputusan. Tapi jika tidak, maka boleh jadi umur mereka atau bahkan hidup mereka sendiri yang akan tersembelih dan terkorbankan.

    Jakarta,

    9 Muharram 1438/ 10 Oktober 2016

    * Saya berterima kasih kepada Muhammad Ghazi Alaidrus dan Muhammad Ardiansyah atas bantuannya mencarikan rujukan di beberapa tafsir terkait ayat ini.

    http://inpasonline.com/new/prinsip-dasar-pendidikan-kedewasaan/

    Foto: newsmedia.co/id

    AWSOM Powered