Kiprah Rabithah Alawiyah

Posted by admin - 21 Maret 2017 - Berita - No Comments

Oleh : Fuji Eka Permana

Rabithah Alawiyah awalnya bernama Arrabitatoel Alawijah. Dulu dikenal sebagai perkumpulan atau organisasi yang didirikan oleh keturunan Arab di Indonesia. Sejarah mencacat, banyak tokoh Arrabitatoel Alawijah yang ikut memerangi kolonialisme dan menentang penjajahan Belanda.

Bahkan, perkumpulan Arrabitatoel Alawijah harus menunggu berbulan-bulan lamanya untuk mendapatkan status organisasi yang legal dari Pemerintah Hindia Belanda. Setelah melalui proses panjang, legalisasi atau izin untuk Arrabitatoel Alawijah dari Pemerintahan Hindia Belanda terbit pada 27 Desember 1928.

Wakil Sekretaris Jenderal Rabithah Alawiyah periode 2016-2021, M. Ghazi Alaidrus, menjelaskan, proses penerbitan izin untuk Arrabitatoel Alawijah sengaja dibuat lama oleh Pemerintah Hindia karena faktor politik. Sebab, banyak tokoh Rabithah Alawiyah yang menentang penjajahan. Padahal, pembuatan surat permohonan untuk mendapatkan legalitas atau izin pendirian organisasi telah dibuat sejak 8 Maret 1928.

Surat permohonan tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Perkumpulan Arrabitatoel Alawijah yang pertama, Sayyid Muhammad bin Abdurrahman bin Shahab, juga oleh sekretarisnya, Sayyid Ahmad bin Abdullah Assegaf, seorang penulis buku terkenal di Indonesia.

“Fokus kegiatan dan tujuan dari perkumpulan Arrabitatoel Alawijah ada pada bidang sosial, pendidikan, dan dakwah. Semuanya tertulis di anggaran dasar perkumpulan,” kata M. Ghazi.

Kegiatan Arrabitatoel Alawijah lainnya yakni membantu fakir miskin, janda, memelihara dan mendidik yatim piatu, serta berdakwah melalui media dakwah yang ada pada masa itu. Menurut dia, meski berdiri pada 1928, perkumpulan Arrabitatoel Alawijah bisa dikatakan sebagai organisasi nasional yang sudah modern.

Pengurusnya melakukan rapat umum secara rutin, muktamar nasional dan membentuk cabang-cabang. Awalnya, Arrabitatoel Alawijah mempunyai enam cabang yang tersebar di kota-kota besar seperti di Surabaya dan Betawi (Jakarta saat ini). Adapun kantor pusat Arrabitatoel Alawijah ada di Jalan Karet Nomor 44, Tanah Abang, Jakarta.

Di dekat kantor pusatnya terdapat kantor majalah Arrabitatoel dan percetakannya. Kantor majalah ini dikelola oleh Sayyid Ahmad bin Abdullah Assegaf. “Pada masa itu, majalah Arrabitatoel menjadi wadah untuk sosialisasi program Arrabitatoel Alawijah,” ujarnya.

Jadi, Arrabitatoel Alawijah sudah mempunyai majalah sebagai media sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Pelanggan majalahnya pun cukup banyak. Ongkos langganannya Rp 5 per tahun untuk wilayah Betawi, Rp 6.5 per tahun untuk luar Betawi.

Pengurus Arrabitatoel Alawijah berhubungan juga dengan pengurus perkumpulan Jamiat Kheir. Kedua perkumpulan tersebut sama-sama didirikan oleh keturunan Arab di Indonesia. Kendati demikian, pengurusnya juga banyak dari kalangan pribumi. Tokoh-tokoh nasional seperti KH Ahmad Dahlan dan Cokroaminoto pernah menjadi anggota Jamiat Kheir.

Jamiat Kheir didirikan lebih awal dari Arrabitatoel Alawijah. Sekitar tahun 1890, Jamiat Kheir sudah ada, hanya saja perkumpulan Jamiat Kheir tidak kunjung dilegalkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. “Karena pendirinya (Jamiat Kheir) banyak yang berjuang melawan kolonialisme Belanda, jadi benar-benar beradu (dengan Belanda),” jelasnya.

Saat ini, masyarakat umumnya mengetahui Jamiat Kheir didirikan pada 1901. Sekitar 10 tahun kemudian, Jamiat Kheir baru mendapatkan legalitas sebagai organisasi yang sah dan diakui Pemerintah Hindia Belanda.

Ia menerangkan, Arrabitatoel Alawijah dan Jamiat Kheir awalnya dibentuk untuk kegiatan sosial. Selanjutnya, Jamiat Kheir cenderung memfokuskan gerakannya di bidang pendidikan. Kemudian, pada 1931, perkumpulan keturunan Arab yang tinggal di Indonesia juga membentuk rumah yatim piatu. Rumah yatim piatu tersebut diberi nama Darul Aitam.

Tujuan utama Arrabitatoel Alawijah, Jamiat Kheir, dan Darul Aitam yakni membantu mewujudkan kesejahteraan sosial, pendidikan, dan dakwah Islam. “ Dengan bergesernya waktu, bidang pendidikan ditangani Jamiat Kheir. Arrabitatoel Alawijah ikut membantu mempromosikan Jamiat Kheir,” ujar M. Ghazi.

Saat ini, visi dan misi Rabithah Alawiyah tetap berkiprah dalam membantu mewujudkan kesejahteraan sosial, membantu pendidikan dalam hal ini mengadakan program pemberian beasiswa, membantu dakwah yang rahmatan lil ‘alamin dan memfasilitasi para dai.

“Rabithah Alawiyah tidak berkiprah di bidang politik,” tegasnya. Saat ini, Rabithah Alawiyah juga berfokus pada program Rabithah Peduli. Program ini untuk membantu semua kalangan yang membutuhkan bantuan. Selain itu, Rabithah Alawiyah yang kini dipimpin Sayyid Zein Umar Smith juga sedang membangun Rumah Panti untuk orang lanjut usia (lansia).

ed: wachidah handasah

Sumber: Harian Republika, 13 Maret 2017, Halaman 17.

No comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

AWSOM Powered