Click here to send us your inquires or call (852) 36130518
Click here to send us your inquires or call (852) 36130518

Category: Aqidah

Zakat Fithri

Posted by admin - 13 Agustus 2012 - Aqidah, Ramadhan, ZIS
0
beras
Abu Hisyam Barakwan Menyukai post ini

Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.

Hikmah Disyari’atkan Zakat Fithri

Di antara hikmah zakat fithri adalah untuk menyucikan hati orang yang berpuasa dari perkara yang tidak bermanfaat dan kata-kata yang kotor. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Selain itu juga, zakat fithri akan mencukupi kaum fakir dan miskin dari meminta-minta pada hari raya ‘idul fithri sehingga mereka dapat bersenang-senang dengan orang kaya pada hari tersebut dan syari’at ini juga bertujuan agar kebahagiaan ini dapat dirasakan oleh semua kalangan. (Lihat Minhajul Muslim, 23 dan Majelis Bulan Ramadhan, 382)

Hukum Zakat Fithri

Zakat Fithri adalah shodaqoh yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan. Hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun yang budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.” (HR. An Nasai. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Nasa’i, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih)

Catatan: Perlu diperhatikan bahwa shogir (anak kecil) dalam hadits ini tidak termasuk di dalamnya janin. Karena ada sebagian ulama seperti Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa janin juga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini kurang tepat karena janin tidaklah disebut shogir dalam bahasa Arab juga secara ‘urf (anggapan orang Arab) (Lihat Shifat Shaum Nabi, 102). Namun jika ada yang mau membayarkan zakat fithri untuk janin tidaklah mengapa karena dahulu sahabat Utsman bin ‘Affan pernah mengeluarkan zakat fithri bagi janin dalam kandungan. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381)

Yang Berkewajiban Membayar Zakat Fithri

Zakat fithri ini wajib ditunaikan oleh:

  1. Setiap muslim sedangkan orang kafir tidak wajib untuk menunaikannya, namun mereka akan dihukum di akhirat karena tidak menunaikannya.
  2. Yang mampu mengeluarkan zakat fithri. Menurut mayoritas ulama, batasannya adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘ied. Jadi apabila keadaan seseorang demikian berarti dia mampu dan wajib mengeluarkan zakat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

“Barangsiapa meminta dan padanya terdapat sesuatu yang mencukupinya, maka seseungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari-semalam.” (HR. Abu Daud, Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Abi Daud) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/80)

Bagaimana dengan anak dan istri yang menjadi tanggungan suami, apakah perlu mengeluarkan zakat sendiri-sendiri? Menurut Imam Nawawi, kepala keluarga wajib membayar zakat fithri keluarganya. Bahkan menurut Imam Malik, Syafi’i dan mayoritas ulama wajib bagi suami untuk mengeluarkan zakat istrinya karena istri adalah tanggungan nafkah suami. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, VII/59). Namun menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, jika mereka mampu, sebaiknya mereka mengeluarkannya atas nama diri mereka sendiri, karena pada asalnya masing-masing mereka terkena perintah untuk menunaikannya. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381). Wallahu a’lam.

Kapan Seseorang Mulai Terkena Kewajiban Membayar Zakat Fithri?

Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat fithri pada saat terbenamnya matahari di malam hari raya. Jika dia mendapati waktu tersebut, maka wajib baginya membayar zakat fithri. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Syafi’i dan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim VII/58, juga dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majlis Syahri Ramadhan. Alasannya karena zakat ini merupakan saat berbuka dari puasa Ramadhan. Oleh karena itu, zakat ini dinamakan demikian (disandarkan pada kata fithri) sehingga hukumnya juga disandarkan pada waktu fithri tersebut.

Misalnya adalah apabila seseorang meninggal satu menit sebelum terbenamnya matahari pada malam hari raya, maka dia tidak punya kewajiban dikeluarkan zakat fithri. Namun, jika ia meninggal satu menit setelah terbenamnya matahari maka wajib untuk mengeluarkan zakat fithri darinya. Begitu juga apabila ada bayi yang lahir setelah tenggelamnya matahari maka tidak wajib dikeluarkan zakat fithri darinya, tetapi dianjurkan sebagaimana perbuatan Utsman di atas. Namun, jika bayi itu terlahir sebelum matahari terbenam, maka zakat fithri wajib untuk dikeluarkan darinya (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 385).

Macam Zakat Fithri

Benda yang dijadikan zakat fithri adalah berupa makanan pokok manusia, baik itu kurma, gandum, beras, kismis, keju, dsb dan tidak dibatasi pada kurma atau gandum saja (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 383 & Shohih Fiqh Sunnah, II/82). Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Malikiyah, Syafi’iyah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa dan hal ini diselisihi oleh Hanabilah. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau gandum karena ini adalah makanan pokok penduduk Madinah. Seandainya itu bukan makanan pokok mereka tetapi mereka mengkonsumsi makanan pokok lainnya, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu tidak akan membebani mereka mengeluarkan zakat fithri yang bukan makanan yang biasa mereka makan. Sebagaimana juga dalam membayar kafaroh diperintahkan seperti ini. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ

“Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (QS. Al Maidah [5] : 89). Dan zakat fithri merupakan bagian dari kafaroh. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/82)

Ukuran Zakat Fithri

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar di atas bahwa zakat fithri adalah seukuran satu sho’ kurma atau gandum. Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran ‘empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang’ sebagaimana yang disebutkan dalam Kamus Al Muhith. Dan apabila ditimbang akan mendekati ukuran 3 kg. Jadi kalau di Jawa makanan pokoknya adalah beras, maka ukuran zakat fithrinya sekitar 3 kg dan inilah yang lebih hati-hati. (Lihat pendapat Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa-nya V/92 atau Majalah Al Furqon Th. I, ed 2)

Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fithri dengan Uang ?

Perlu diketahui bahwa pakaian, tempat tidur, bejana, perabot rumah tangga, serta benda-benda lainnya selain makanan tidak dapat digunakan untuk membayar zakat fithri. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan pembayaran zakat fithri dengan makanan (sebagaimana dapat dilihat pada hadits Ibnu Abbas di atas), dan ketentuan beliau ini tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, tidak boleh mengganti makanan dengan uang yang seharga makanan dalam membayar zakat fithri karena ini berarti menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan alasan lainnya adalah:

  1. Selain menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyelisihi amalan shabat radhiyallahu ‘anhum yang menunaikannya dengan satu sho’ kurma atau gandum. Ingatlah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Daud & Tirmidzi, dia mengatakan hadits ini hasan shohih)
  2. Zakat fithri adalah suatu ibadah yang diwajibkan dari suatu jenis tertentu. Oleh sebab itu, posisi jenis barang yang dijadikan sebagai alat pembayaran zakat fithri itu tidak dapat digantikan sebagaimana waktu pelaksanaannya juga tidak dapat digantikan. Jika ada yang mengatakan bahwa menggunakan uang ‘kan lebih bermanfaat. Maka kami katakan bahwa Nabi yang mensyariatkan zakat dengan makanan tentu lebih sayang kepada orang miskin dan tentu lebih tahu mana yang lebih manfaat bagi mereka. Allah yang mensyari’atkannya pula tentu lebih tahu kemaslahatan hamba-Nya yang fakir dan miskin, tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan dengan uang.

Perlu diketahui pula bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah terdapat mata uang. Tetapi kok beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan sahabatnya untuk membayar dengan uang? Seandainya diperbolehkan dengan uang, lalu apa hikmahnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dengan satu sho’ gandum atau kurma? Seandainya boleh menggunakan uang, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengatakan kepada umatnya, ‘Satu sho’ gandum atau harganya.’

Terakhir, menurut mayoritas ulama fiqh tidak boleh menggunakan uang yang senilai makanan untuk membayar zakat fithri, namun yang membolehkannya adalah Abu Hanifah juga Umar bin Abdul Aziz. Imam Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa perkataan Abu Hanifah ini tertolak. Karena “Tidaklah Rabbmu itu lupa”. Seandainya zakat fithri dengan uang itu dibolehkan tentu Allah dan Rasul-Nya akan menjelaskannya. (Lihat Majalah Al Furqon Th. I, ed 2 & Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah, 230-231)

Penerima Zakat Fithri

Penerima zakat fithri hanya dikhususkan untuk orang miskin dan bukanlah dibagikan kepada 8 golongan penerima zakat (sebagaimana terdapat dalam surat At Taubah:60). Inilah pendapat Malikiyah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyelisihi mayoritas ulama. Pendapat ini lebih tepat karena lebih cocok dengan tujuan disyariatkannya zakat fithri yaitu untuk memberi makan orang miskin sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas di atas, “… untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/85)

Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad, II/17 mengatakan bahwa berdasarkan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam zakat fithri itu hanya dikhususkan kepada orang miskin. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membagikannya kepada 8 ashnaf (sebagaiman dalam Surat At Taubah: 60) dan beliau juga tidak pernah memerintahkan demikian dan tidak ada seorang sahabat pun dan tabi’in yang melakukannya.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri

Zakat fithri disandarkan kepada kata ‘fithri (berbuka artinya tidak berpuasa lagi)’. Karena fithri inilah sebabnya, maka zakat ini dikaitkan dengan fithri tersebut dan tidak boleh didahulukan. Perlu diketahui bahwa waktu pembayaran zakat itu ada dua macam. Pertama adalah waktu utama (afdhol) yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘ied. Dan kedua adalah waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan Ibnu Umar. (Lihat Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, 640 & Minhajul Muslim, 231)

Ibnu Abbas berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied, maka itu adalah zakat yang diterima. Namun, barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ‘ied maka itu hanya sekedar shodaqoh.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Hadits ini merupakan dalil bahwa pembayaran zakat fithri setelah shalat ‘ied tidak sah karena hanya berstatus sebagaimana sedekah pada umumnya dan bukan termasuk zakat fithri (At Ta’liqot Ar Rodhiyah, I/553, ed)

Namun kewajiban ini tidak gugur di luar waktunya. Kewajiban ini harus tetap ditunaikan walaupun statusnya hanya sedekah. Abu Malik Kamal (Penulis Shohih Fiqh Sunnah) mengatakan bahwa pendapat ini merupakan kesepakatan para ulama yaitu kewajiban membayar zakat fithri tidaklah gugur apabila keluar waktunya. Hal ini masih tetap menjadi kewajiban orang yang punya kewajiban zakat karena ini adalah utang yang tidak bisa gugur kecuali dengan dilunasi dan ini adalah hak sesama anak Adam. Adapun hak Allah, apabila hak tersebut diakhirkan hingga keluar waktunya maka tidak dibolehkan dan tebusannya adalah istigfar dan bertaubat kepada-Nya. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/84). Wallahu a’lam bish showab. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar

Dari artikel Seputar Zakat Fithri — Muslim.Or.Id

Keutamaan Bismillah

Posted by admin - 8 Agustus 2012 - Aqidah, Ilmu Al Quran dan Tafsir
0
Bismillah


Oleh: Sadullah

Setelah bacaan syahadat, frasa penting dan yang sering diucapkan oleh seorang Muslim adalah bismillahirrahmanirrahim. Bacaan basmalah sejak awal menempati posisi penting dalam keyakinan dan ibadah setiap Muslim.

 

Tujuan Basmalah 

Salah satu dari sekian banyak kebaikan dalam ajaran Islam adalah bahwa seseorang harus mengawali setiap kegiatannya atas nama Allah. Mengingat Allah sebelum memulai suatu pekerjaan merupakan bagian pengakuan awal bahwa segalanya adalah ciptaan Allah dan bahwa aktivitas apapun yang akan dikerjakan telah diridhai oleh-Nya sehingga hal ini akan membangun derajat  kesadaran dan rasa syukur pada Sang Pencipta. Jika basmalah secara sadar diterapkan, ia dapat mencegah perilaku yang salah sehingga hal ini dapat dihindari, dan menyakinkan seseorang bahwa niat dan orientasi mental dirinya adalah baik. Sebagai tambahan, ketika seseorang membaca basmalah, ia menyebut nama Allah,dan karenanya atas kemuliaan, kesempurnaan, keagungan dan rahmat Allah, perbuatan yang ia kerjakan akan memperolah berkah serta terlindung dari gangguan setan.

Kedudukan bacaan basmalah 

Para ulama menyepakati hal-hal di bawah ini:

  • Basmalah adalah sebuah ayat al-Quran
  • Ia merupakan bagian dari sebuah ayat dari Surat an-Naml (QS 27:30)
  • Ia tidak dibaca dalam surat at-Taubah
  • Ia merupakan bagian dari Surat al-Fatihah menurut seluruh tujuh Imam Qiraat (yaitu Imams ‘Asim, Kisa’i, Nafi’, Abu ‘Amru, Ibn ‘Amir, Ibn Kathir and Hamzah) dan berdasarkan mazhab of Shafi’i, Zaydi, Zahiri, ‘Ibadi and Ja’fari. Sementara mazhab Hanafi, Maliki and Hanbali memiliki pendapat yang berbeda.

Pentingnya bacaan basmalah

Ayat pertama dalam al-Quran adalah: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (QS: 96:1). Dalam Perjanjian lama (Ulangan: 18:18) kita mendapati isinya: “Maka pada masa itu berfirmanlah Allah kepadaku, benarlah perkataan  mereka itu. Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi  diantara  segala  saudara-saudaranya yang seperti  engkau  ya  Musa.dan Aku akan memberikan segala firmanKu dalam mulutnya dan  iapun  akan  mengatakan  segala yang Kusuruh akan dia.”

Karena Nabi Muhammad dibesarkan seperti nabi Musa (Quran), maka dalam rangka pemenuhan janji di atas maka Allah menetapkan bahwa setiap kali sebuah surat baru diturunkan, surat tersebut selalu dimulai dengan kalimat: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda: “ Tiap-tiap pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka pekerjaan itu terputus (kurang berkah).” (Riwayat Abu Dawud). Bacaan Basmalah mengawali surat al-Fatihah dan karenanya menjadi pembuka seluruh al-Quran.

Allah SWT menggambarkan diri-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat Allah merupakan sarana bagi kita mengenal diri-Nya. Dalam hal ini, Allah tidak hanya memperkenalkan al-Quran melainkan juga memperkenalkan diri-Nya sendiri. Bacaan basmalah merupakan ujaran dari yang Maha Agung dengan menyebut Nama-Nya (Allah) yang diikuti oleh dua dari Asmaul Husna (al-Rahman dan al-Rahim) yang pada dasarnya merupakan dua sifat Allah yang paling utama. Bacaan basmalah ini menggambarkan hubungan antara sang Pencipta dan makhluk-Nya dalam sebuah kalimat ringkas – hubungan yang penuh cinta, kasih, kepedulian, simpati,  kebaikan, dan ampunan.

Secara harfiah, bismillah berarti “Dengan menyebut nama Allah”, “Atas nama Allah”, “melalui bimbingan dan berkah dari Allah”.
Tiga bagian frasa ini adalah B, Ism dan Allah.

B” dapat berarti “dalam”, “dengan” atau “melalui”.
Ism” berarti nama. Nama diberikan kepada suatu objek dalam rangka memberi tanda yang dengannya objek tersebut dapat dikenal dan dibedakan dari yang lainnya. Ketika kata “Ism” digunakan dalam hubungannya dengan sang Pencipta, hal ini menandai sebuah Sifat Tuhan yang inheren. Berdasarkan al-Quran, Allah memiliki nama-nama yang paling indah (Asmaul Husna), dan berdasarkan sabda Nabi SAW Allah memiliki 99 nama. Semua sifat dan nama-nama ini begitu penting karena kita mengenal Tuhan melaluinya. Penting untuk digaris bawahi bahwa tidak ada satu sifat atau satu nama pun yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Allah begitu Pengasih dan Penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya; karenanya esensi dari semua sifat-Nya tidak lepas satu sama lain. Seluruh nama dan sifat-Nya berperan serta dalam semua keberadan-Nya melalui kesatuan Esensi-Nya. Seluruh nama-Nya yang suci menandakan keberadaan Esensi suci-Nya.

Allah“- Kata ini merupakan kata ganti par excellence. Kata ini menunjuk pada seluruh sifat yang sempurna dan mengacu hanya pada yang Maha Tunggal. Kata  “Allah” merupakan nama Tuhan yang paling menyeluruh.

Kata Rahman dan Rahim keduanya diturunkan dari akar kata RHM, yang menunjukkan kelembutan, kasih, kepedulian, dan cinta. Dalam al-Quran, Allah berfirman: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS: 7:156) untuk menggambarkan intensitas dan keluasan kasih sayang-Nya, dua bentuk kata Rahmah ini digunakan saling bersandingan, dan dalam surat al-Fatihah ia diulang pada ayat ketiga sebagai satu ayat tersendiri. Dan faktanya, tidak ada sifat-sifat Allah yang paling sering ditekankan dalam al-Quran (lebih dari 300 kali) selain sifat Rahmah ini.

Sejak awal sekali seseorang mempelajari teks suci al-Quran, ia langsung dituntun pada kesadaran akan sang pencipta, diyakinkan akan keberadan-Nya serta diingatkan akan kasih dan sayang-Nya yang tiada terbatas.
Bacaan basmalah mengawali “pembuka al-Kitab” (al-fatihah) dan karenanya menandai pembukaan Komunikasi Tuhan yang Terakhir dengan hamba-Nya.


Sumber: ICOI

Berdakwah dengan Cara Menolong Sesama

Posted by admin - 28 Juli 2012 - Aqidah
0
tolong-menolong

Nabi  Muhammad SAW kembali  dari  gua Hira usai dari pertemuannya yang pertama dengan malaikat Jibril. Misinya baru saja diproklamirkan dan beliau  baru saja  menerima wahyu yang pertama dari  Tuhannya.

Beliau begitu ketakutan dan kebingungan. Adalah atas rahmat Allah bahwa tempat kembali beliau ketika itu yaitu Khadijah RA adalah seorang istri yang cerdas dan bijaksana. Segera setelah beliau menyampaikan yang hal baru terjadi dan ketakutannya, Khadijah menjawab dengan keyakinan dan jaminan bahwa tidak ada yang patut dikhawatirkan. Ia dapat berkata demikian dengan yakin berdasarkan kecerdasan, kematangan, pengetahuannya tentang sejarah dan pengetahuannya terhadap karakter pribadi Muhammad yang mulia yang diperoleh selama 15 tahun menikah dengannya.

Ia menjawab tanpa ragu. Katanya: “Jangan khawatir, Demi Dia yang menguasai jiwa Khadijah, Allah takkan pernah mempermalukanmu, karena engkaulah yang senantiasa menyambung tali silaturahim, engkau menanggung beban orang lain, menyantuni orang yang tidak mampu, memuliakan tamu, dan engkau juga menolong orang-orang yang  dizalimi haknya”.

Di sini, Ummul Mukminin Khadijah RA menunjukkan  pada kita sebuah pola hidup: yang karenanya Allah memelihara dan melindungi hambaNya yang melayani dan memberi manfaat kepada sesama manusia. Allah tidak akan mempermalukan mereka atau menjadikan mereka berduka. Allah justru akan merahmati mereka dengan sifat mereka itu supaya mereka dapat membawa kebaikan di dunia.

Khadijah RA juga menunjukkan bukti kemuliaan karakter Rasulullah SAW, yaitu bahwa beliau senantiasa memiliki kemurahan hati serta  kemuliaan tujuan hidup yang dengannya beliau dikenal setelah menjadi utusan Allah. Ia telah memiliki kepribadian yang mulia sebelum ia menerima wahyu ilahi.

Jika kita perhatikan keutamaan-keutamaan Rasulullah yang disebutkan Khadijah RA, maka kita akan menyadari bahwa hal-hal tersebut berkaitan dengan cara-cara kita dalam menolong sesama, yaitu: memelihara  hubungan kekerabatan, membantu mengurangi beban  orang yang lemah, menyantuni orang yang tidak mampu, membuat nyaman tamu, mengembalikan hal-hak orang-orang yang diperlakukan tidak adil.

Seluruh keutamaan ini merupakan bagian dan paket keseluruhan sifat bawaan Nabi Muhammad. Khadijah RA menunjukkan pada kita kemuliaan pribadi Nabi jauh sebelum al-Qur’an turun dengan semua deksripsi mengenai pribadi Nabi. Hal ini disebabkan ia mengenalnya lebih dari siapapun di muka bumi ini

Dalam pribadi Nabi Musa AS kita juga mendapat contoh dalam hal menolong sesama. Ketika beliau tiba di sumur Madyan, beliau melihat para pria sibuk memberi minum ternak mereka. Beliau juga melihat dua orang wanita muda menunggu di kejauhan bersama dengan domba mereka, tidak dapat mendekati sumur tersebut.

Nabi Musa AS merasa terusik melihat kondisi tersebut. Al-Qur’an menyebutkan kisah tersebut dalam Surat al-Qashash ayat 23:

“Dan ketika dia sampai pada telaga air di Madyan, didapatinya di sana sekelompok manusia yang sedang memberi minum (ternaknya). Dan didapatinya di belakang mereka dua orang perempuan yang menahan ternaknya. Musa berkata, “ bagaimana keadaan kamu berdua?” keduanya berkata, “kami tidak dapat memberi minum (ternak kami) sebelum selesai gembala-gembala itu, sedang ayah kami adalah seorang tua yang telah lanjut umurnya.”

Apa yang menjadikan nabi Musa saat itu peduli dengan keadaan tersebut? Karakternya saat itulah yang  menjadikannya peduli akan hak-hak orang yang lemah. Orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan harus dibantu dan diberikan prioritas. Tidak seharusnya mereka dikesampingkan dan diabaikan.

“Maka Musa memberi minum (ternak) keduanya (QS: al-Qashash:24)

Respon pertamanya adalah menolong mereka. Keberaniannya, kemuliaan, serta sifat murah hatinya tidak akan mengizinkan hal lainnya.

Kita patut untuk merasa kagum atas tindakan nabi Musa mengingat kondisinya saat itu. Ia merupakan pelarian jauh dari rumahnya di mana di sana ia memiliki status sebagai penjahat yang sedang dicari. Ia merupakan orang asing, tidak ada satu orang pun yang ia kenal, dan ia tidak memiliki harta bahkan untuk dirinya sendiri. Ia memiliki cukup banyak permasalahan bagi diriya sendiri untuk dikhawatirkan. Namun, mengabaikan orang lain yang tidak berdaya adalah bertentangan dengan pembawaannya.

Dua contoh kenabian ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting pada kita. Allah memilih orang-orang dengan kebesaran hati untuk menyampaikan pesan-Nya; orang-orang yang secara naluriah peduli untuk membantu sesama. Dibutuhkan orang-orang seperti ini untuk menanggung beban memandu manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Hanya mereka yang memiliki kepedulian, rasa kasih, dan karakter yang lembut lah yang mampu mengemban tugas seperti ini.

Bukti-bukti nyata ini berasal dari kehidupan para Nabi. Mereka yang ingin menjadi pewaris para nabi  harus  menanamkan hal ini dalam pikiran.  Semakin kita merefleksikan karakter para Nabi dalam cara kita sendiri, semakin kita berhasil untuk membawa misi mereka. Para ulama dan perkerja Muslim perlu memiliki kesadaran  sosial. Mereka harus dapat menjadi tempat orang-orang meminta pertolongan. Mereka harus mampu untuk berurusan dengan permasalahan masyarakat dengan pengertian dan kelembutan.

Inilah sebabnya mengapa Allah berkata kepada Rasulullah   SAW: “Maka karena rahmat Allah lah, engkau bersikap  lemah lembut terhadap mereka, dan sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu”. (QS: Ali Imran: 159).

Jika kesadaran sosial kita belum sepenuhnya terbangun, maka keberhasilan kita untuk menyerukan pesan-pesan Allah kepada sesama akan terbatas. Bahkan boleh jadi usaha kita justru akan mendapat hasil buruk.

Oleh : Sheikh `Abd al-Wahhâb al-Turayrî, former professor at al-Imâm University in Riyadh.

Original Article by islamtoday.net

 

Amalan-Amalan Ketika Berbuka Puasa

Posted by admin - 26 Juli 2012 - Aqidah, Ramadhan
1
kurma

Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:

Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.

Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)

Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.

Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.

Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ »

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).

Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka.

Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.

Kelima: Berdo’a secara umum ketika berbuka.

Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).

Keenam: Memberi makan orang yang berpuasa.

Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan orang yang berpuasa karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)

Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.

Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)

Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)

Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)

Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)

Kesebelas: Berdoa sesudah makan.

Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)

Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)

Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Panggang-Gunung Kidul, 27 Sya’ban 1432 H (29/07/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Bagaimana Cara Kita Menundukkan Diri di Hadapan Allah?

Posted by admin - 19 Juli 2012 - Aqidah, Psikologi
0
sujud

Tadharru’ adalah sebuah istilah yang berarti ketundukan diri yang sangat dan rasa malu yang disebabkan oleh rasa putus asa dan ia diekspresikan ketika seseorang mencapai keadaan kritis. Imam Ahmed ibn Hambal menjelaskan dengan mengatakan, ”Bayangkan seseorang yang tenggelam di tengah lautan dan yang dimilikinya hanyalah  sebatang kayu yang digunakannya  supaya terapung. Ia menjadi semakin lemah dan gelombang air asin mendorongnya semakin dekat pada kematian. Bayangkanlah ia dengan tatapan matanya yang penuh harapan menatap ke arah langit dengan putus asa sambil berteriak Ya Tuhanku, Tuhanku!!!!! Bayangkanlah betapa putus asanya dia dan betapa tulusnya ia meminta  pertolongan Tuhan. Itulah yang disebut dengan tadharru di hadapan Tuhan”.

Dalam al-Qur’an, Allah mengajarkan kita bahwa tadharru adalah sebuah bentuk pengabdian yang dilakukan oleh seorang mukmin ketika ia berada pada keadaan darurat   dan  krisis. Tadharru mengharuskan seseorang untuk menghilangkan tabir kesombongan dan rasa ego yang  menutupi hatinya. Ia melibatkan rasa butuh yang  tulus kepada Tuhan semesta alam. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang itu telah menyadari betapa lemahnya ia dan betapa perkasanya Tuhan kita. Terkadang ketika Allah melihat hamba-Nya begitu tenggelam dalam kehidupan dunia, Ia memberi cobaan pada mereka agar mereka menyadari kelemahan mereka dan kembali meminta perlindungan Allah. Karena  itu, musibah yang menimpa seorang Muslim adalah untuk menyadarkannya dan  membuatnya kembali kepada Tuhan. Kita  harus  memiliki cukup kesadaran dan pengertian untuk memahami pesan ini dan menindaklanjutinya.

Allah SWT mengatakan, “Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami siksa mereka  (sebagai ujian)  dengan kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka tunduk (kepada Allah) (QS  6:42). Ayat ini  menunjukkan bahwa Allah SWT menggunakan musibah  sebagai  metode  rutin untuk menyadarkan orang dan mendorong mereka untuk meminta pertolongan pada-Nya. Musibah  ini ibarat obat yang pahit supaya kita menjadi mukmin yang lebih baik.  Allah melakukan hal ini untuk kebaikan kita sendiri karena kita  harus menjaga hubungan baik dengan-Nya. Allah menyatakan bahwa kita membutuhkan ‘obat ‘ ini dalam ayat berikut, “Dan kalau sekiranya Kami mengasihi mereka dan Kami hilangkan bencana yang ada (menimpa) mereka, niscaya mereka terus-menerus terombang-ambing dalam kesesatan mereka” (QS 23:75).

Dalam ayat yang lain Allah SWT bersabda, “Maka mengapa mereka tidak tunduk ketika datang siksaan Kami, bahkan hati mereka amat keras dan setan menampakkan keindahan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS: 6:43). Kita tidak boleh melakukan kesalahan seperti ini dan menutup mata dan hati kita terhadap panggilan Allah untuk tunduk dan merasa malu kepada-Nya. Kita tidak boleh membiarkan setan menipu kita untuk percaya bahwa permasalahan kita tidak ada kaitannya dengan hubungan kita dengan Allah.

Allah SWT mengatakan, “Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melepaskan kamu dari kegelapan (bencana) di darat dan di laut yang kamu berdoa kepada-Nya dengan merendahkan diri dan dengan pelan; sungguh jika Dia menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur!’, Katakanlah, ‘Allah menyelamatkan kamu daripadanya  dan dari segala kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya’” (QS 6:63-64). Tidak ada seorangpun yang akan menyelamatkan kita dari kegelapan yang kita alami sekarang ini kecuali Allah SWT, namun sebelumnya, kita harus menyerunya dengan penuh ketundukan.

Bagaimana mencapai tadharru’:

Kita perlu menyadari  musibah besar yang menimpa kita saat ini. Anak-anak kita dihujani oleh  berton-ton misil. Orang-orang Muslim ditindas dan disiksa di berbagai penjuru dunia. Belum begitu lama berselang ribuan wanita diperkosa di Balkan dan hingga saat ini orang-orang tidak berdosa tewas oleh peluru-peluru Israel. Rumah-rumah dihancurkan dan kehormatan diinjak-injak setiap harinya. Ini bukan saja tentang Irak, dan percaya atau tidak, ini juga bukan hanya tentang Umat Islam. Ini tentang planet kita, Bumi. Dunia kita mengarah pada jurang dan hal ini terus berlanjut. Kita dapat menipu diri kita sendiri dengan mengatakan bahwa hal ini tidak ada pengaruhnya pada diri kita sendiri, namun kita akan bersalah akibat mengabaikannya. Jika kita tidak menyadari parahnya situasi saat ini, maka kita memiliki masalah tambahan. Bacalah ayat (6:43) di atas. Kita butuh akan pertolongan dan perlindungan Tuhan!

Ketika ikan paus menelan Nabi Yunus AS setelah ia dilempar dari perahu, ia berada dalam situasi yang mengerikan. Bayangkanlah sejenak bagaimana rasanya terperangkap dalam sebuah kamar mandi kecil yang gelap dan tidak ada harapan untuk keluar dari situ. Sekarang bayangkan diri Anda berada dalam perut ikan paus, bayangkan kegelapannya dan kesulitan bernafasnya. Ikan paus tersebut berenang di laut yang berbadai dan pada malam hari. Bayangkanlah apa yang dirasakan oleh Nabi Yunus AS, dan bayangkan bagaimana ia berdoa dengan penuh ketundukan dengan mengatakan, “ Sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang aniaya” (QS 21:87). Bayangkan seorang nabi, seorang contoh panutan manusia, mengatakan bahwa dirinya sebagai seorang yang aniaya, lantas bayangkanlah bagaimana kita seharusnya  memohon kepada Allah..

Pada malam sebelum perang Badar, Nabi Muhammad melihat bagaimana pasukan berhala menang secara jumlah dari mereka dan bersenjata lengkap. Kemudian beliau membandingkan dengan pasukan Muslim dan betapa sedikit dan kurang persenjataan. Perang Badar merupakan konfrontasi militer pertama antara Muslim dan Kafir dalam sejarah Islam. Jika umat Islam kalah maka Islam akan hilang dari muka bumi selamanya. Menyadari hal ini, Nabi Muhammad mulai memanjatkan doa kepada Allah dengan penuh  ketundukan. Beliau mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membentangkan tangannya. Beliau kemudian berdoa dengan tulus kepada Allah dan tubuhnya bergetar sehingga menyebabkan surbannya jatuh ke punggungnya. Beliau memohon pada Allah dan menangis, “wahai yang Maha Hidup!!! Wahai Yang Maha Memberi Rizki, wahai Yang Maha Penolong!! Ya Allah, jika Engkau binasakan pasukan ini (Islam) Engkau tak akan disembah lagi  dimuka bumi ini. Ya Allah penuhilah janjimu kepadaku. Ya Allah, berikanlah pertolonganmu.

Inilah tingkatan rasa malu yang harus kita usahakan untuk kita capai ketika berdoa kepada Allah dalam meminta pertolongan. Mari kita memohon kepada Allah dengan tingkat kerendahan yang paling maksimal seakan-akan kita benar-benar tenggelam di laut dan tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan kita kecuali Dia. Mari kita bangun di malam hari untuk mengerjakan shalat malam, dan mari kita bersimpuh di hadapan Tuhan memohon padanya seakan-akan kita tidak pernah melakukan sebelumnya. Mari kita berkumpul bersama dan melakukannya bersama-sama. Mari kita berdoa dengan penuh rasa hina bersama-sama. Mari kita menangis,  dan mari kita berlari menuju padanya bersama keluarga  dan teman. Mari kita semua memohon atas pertolongan, perlindungan,dan petunjuk-Nya.

Tadharru’…… adalah apa yang harus kita pahami dan kerjakan. Kita harus mencapai tadharru sehingga Allah mau  mengubah keadaan kita, karena……

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah dirinya sendiri”

Diadaptasi dari “We must We must always humble ourselves towards Allah” oleh Amr Khaled, seorang  aktivis dan juru  dakwah Mesir.

Bahaya Waswas Ketika Beribadah dan Keharusan Menghindarinya

Posted by admin - 18 Juli 2012 - Aqidah
0
al-qur'an

Di antara hal-hal paling mudarat bagi seseorang kala sedang shalat, tilawah al-Quran dan zikir kepada Allah swt, ialah waswas di dalam hati, banyaknya pikiran yang melintas, serta bisikan-bisikan hati tentang segala sesuatu yang telah lalu maupun yang akan datang.

Apabila hati tenggelam di dalamnya, pasti itu akan merusak hakikat ibadah-ibadah ini, maknanya, serta maksud yang ditujukannya. Mungkin pula akan merusak bentuk ibadah itu sendiri sehingga seakan-akan orang tersebut tidak mengerjakannya sama sekali atau bahkan bisa menjadikan keadaannya lebih buruk lagi. Semua itu dapat diketahui oleh setiap orang yang memerhatikan serta mengalaminya, yang termasuk dalam kalangan orang-orang yang selalu mementingkan urusan agama, memenuhi hak Allah, dan bersungguh-sungguh dalam menuju kebahagiaan akhiratnya.

Kemudian, sekiranya pikiran-pikiran yang melintas dan bisikan-bisikan yang memenuhi hatinya itu berkaitan dengan amal ketaatan yang tak ada hubungannya dengan apa yang sedang dikerjakannya, hal itu pasti akibat tipu daya setan yang mengelabui manusia dan memperindah keburukan di tengah-tengah perbuatan kebajikan. Apabila hanya berkaitan dengan sesuatu yang termasuk mubah saja, keadaannya lebih buruk daripada yang sebelumnya. Lebih jauh lagi apabila hal itu berkaitan dengan perkara yang bersifat maksiat, tentunya hal itu lebih buruk dan lebih jahat. Ada kemungkinan hal itu justru akan menjauhkan seseorang dari hadirat Allah swt. Sehingga menjadikannya termasuk dalam lingkungan orang-orang yang dibenci dan terusir.

Oleh sebab itu, hendaknya setiap orang selalu bersikap waspada dan jangan membiarkan dirinya terganggu oleh bisikan-bisikan dan waswas yang tak ada gunanya, sementara ia sedang berdiri di hadapan Allah, menyebut nama-Nya, bermunajat kepada-Nya, dan bershalat demi keridhaan-Nya seraya membaca kitab suci-Nya. Firman Allah swt:

“Barang siapa berjihad, sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam. (QS. Al-Ankabut:6)

 

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesugguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Fushshilat: 35 – 36)

 

Sumber: Al Haddad, Al Allamah Abdullah. Meraih Kebahagiaan Sejati. Bandung: 2005

Mata yang Tidak Menangis di Hari Kiamat

Posted by admin - 17 Juli 2012 - Aqidah, Cerita Islami
2
ibadah

Semua kaum muslimin berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini pasti berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadillan Allah swt. Al-Quran telah menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surat Al-Ghasyiyah, ayat 1–16. Dalam surat itu digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria, mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di hari kiamat memperoleh kebahagiaan.

Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di hari kiamat, Rasulullah pernah bersabda, “Semua mata akan menagis pada hari kiamat, kecuali 3 (tiga) hal:

            Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah swt.

            Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah swt.

            Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah swt.”

Mari kita lihat, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di hari kiamat?

Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul, berkelana ditempat-tempat maksiat, dan pulang larut malam. Dari tempat itu, ia pulang dalam keadaan sempoyongan. Ditengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran, Ayat yang dibaca itu berbunyi :

            “Belum datanglah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang yang fasik” (QS.  57:16)

Setibanya ia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan tersebut didalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya, si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya dihadapan Allah swt karena perbuatan maksiat yang pernah ia lakukan.

Kemudian ia mengubah cara hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah swt, sehingga di abad kesebelas hijriyyah dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.

Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar, dan mengalir air mata penyesalan ata kesalahannya di masa lalu, karena takut kepada Allah swt.

Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya, kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu Insya Allah mata yang tidak menangis di hari kiamat.

Mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Seperti telah kita ketahui, bahwa Rasulullah saw pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di hari kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujuh orang itu, salah satu diantaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi ia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah swt.”

Nabi Yusuf as mewakili kisah ini ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di hari kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah swt.

Kemudian mata yang tidak tidur karena membela agama Allah, seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahankan keutuhan agamanya, serta menegakkan tonggak islam.

Itulah tiga pasang mata yang tidak menangis di hari kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang bahagia di hari kiamat nanti.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Posted by admin - 13 Juli 2012 - Aqidah, Ramadhan
2
ramadan_kareem

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. ” (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).

Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya.”

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),’Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, ‘pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.’ ” (HR. Ahmad)’”

Islam Tidak Mengenal Apa yang Dinamakan “STRESS”

Posted by admin - 4 Juli 2012 - Aqidah, Ilmu Al Quran dan Tafsir, Psikologi
0
istiqomah

Oleh: Sayyid Syatir bin Abbas Assyathiri

Banyak orang yang sudah mengetahui bahkan mengalami apa yang dinamakan oleh kaum barat yaitu Stress, atau kalau diartikan kedalam bahasa indonesia adalah tekanan perasaan/tekanan kejiwaan dimana hati orang tersebut selalu merasa gelisah dan tidak ada ketenangan.

Mungkin perasaan yang timbul dari kegelisahan hati itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

      • Kekurangan harta/Kemiskinan
      • Masalah pekerjaan
      • Masalah rumah tangga
      • Dsb

Orang Islam yang beriman tidak akan pernah mengalami tekanan perasaan/kegelisahan hati selama dirinya selalu mendekatkan diri kepada Allah swt dengan beribadah secara istiqomah karena ketenangan jiwa itu hanya bisa didapat kalau seseorang selalu mengingat Allah swt dengan beribadah kepada-Nya.

Allah swt akan langsung memberikan balasan kepada hambanya yang selalu mengingatNya serta beribadah kepadaNya dengan balasan hati yang tenang. Karena sumber dari ketenangan seseorang itu terdapat di dalam hati ini.

 Firman Allah swt:

“(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan tentram Hatinya dengan mengingat Allah SWT.Ingantlah (bahwa) dengan mengingat Allah SWT sajalah Hati ini akan menjadi Tenang.” (QS. Ar Rad:28)

Rasulullah saw bersabda:

“Didalam tubuh manusia ada segumpal daging yang jika ia baik,maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia buruk,maka buruklah seluruh tubuhnya,itulah Hati.”

Memang harus diakui manusia untuk hidup membutuhkan mata pencaharian dan sebagainya,sebagai penunjang kelangsungan hidup, tetapi uang/harta bukan suatu jaminan manusia tersebut akan mendapatkan ketenangan hati kalau dirinya lupa kepada Allah swt dan tidak menjalankan perintah-Nya.

Banyak dari kalangan manusia yang mempunyai kelebihan harta, tetapi kehidupan mereka selalu dalam kegelisahan hati sebagai contoh di negara barat, hampir seluruh masyarakat barat hidup dengan berkecukupan harta, tetapi mereka merasakan kehidupan ini dengan perasaan bosan, jenuh, gelisah bukan sedikit orang-orang di barat yang harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena mereka itulah manusia-manusia yang kufur dan tidak mengenal Allah swt.

Kalau kita melihat serta mempelajari kehidupan para salaf, ulama, serta kaum sholihin selama menjalani kehidupan di dunia ini, mereka tidak memiliki banyak harta, dengan penghidupan serba kekurangan, tetapi hati dan wajah mereka menampakan keceriaan dan kegembiraan, karena mereka itulah orang-orang yang hati dan pikirannya selalu bergantungan kepada Allah swt.

Lebih lebih lagi Baginda Rasulallah saw selama menjalani kehidupan di dunia ini, mengalami kekurangan harta,tidak memiliki apa-apa, beliau bisa dikatakan orang yang paling miskin, tetapi dengan kemiskinan itu beliau mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah swt.

Kemiskinan atau apapun masalah kehidupan di dunia ini yang dialami oleh manusia bukanlah hal yang perlu ditakuti, selama manusia itu menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Karena kita sebagai umat Islam yang beriman percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, dan kita percaya akan ada lagi kehidupan setelah kematian,kehidupan yang abadi di akhirat nanti.

Firman Allah swt:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”

Rasulullah saw bersabda:

“Kemiskinan mendekati kekufuran”

Allah Arrahman Arrahim akan membantu, memberikan jalan keluar, serta kemudahan hidup seseorang apabila orang tersebut mengikuti serta menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang di larang-Nya, serta selalu mengingat kepada-Nya.

Tidak lupa untuk mendapatkan kemudahan serta pertolongan dari Allah swt seseorang harus berusaha/ikhtiar semaksimal mungkin dengan cara dan jalan yang benar lagi halal.

Firman Allah swt.

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah SWT niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka” (QS. Ath-Thalaq:2 – 3)

Bukan satu alasan bagi seseorang karena dirinya merasa kekurangan harta lantas dia enggan untuk beribadah kepada Allah swt.

Sekali lagi didalam pandangan agama Islam tidak ada yang dinamakan Stress. Orang-orang yang beriman tidak mengenal apa yang dinamakan Stress.

Mudah-mudahan dengan tulisan yang singkat ini, akan menjadi pelajaran untuk kita semua agar kita bisa mendekatkan diri serta bertawakkal kepada-Nya. Dan mematuhi apa yang di perintahkan-Nya serta meninggalkan apa yang di larang-Nya.

Amien Ya Robbal Aalamin…….

Biografi Singkat Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Posted by admin - 30 Juni 2012 - Aqidah, Sejarah Islam
0
Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Hadramaut, sebuah provinsi di Negara Yaman, yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia, hal ini disebabkan telah terjalinnya hubungan yang begitu indah antara keduanya semenjak ratusan tahun yang silam, dimana tercatat dalam sejarah bahwa dari negeri inilah cikal bakal Islam yang berkembang di Indonesia.

Hadramaut sejak belasan abad yang silam telah tercatat sebagi negara yang menumbuhkan beberapa tokoh terkenal baik dari kalangan ulama maupun orang-orang shaleh. Di abad ke 8 hijri seorang ulama terkenal pernah melantunkan dua bait syair mengenai penghuni daerah Hadramaut:

Aku melewati lembah Hadramaut seraya menyampaikan salam, dan aku disambut dengan senyuman dan muka beseri-seri. Kutemukan di situ para pembesar dan tokoh yang tidak akan ditemukan di barat maupun di timur.

Begitulah pandangan umum tentang masyarakat dan penduduk Hadramaut dari masa ke masa. Nuansa religius akan dirasakan oleh setiap orang yang memasuki daerah tersebut, sedangkan pusat ilmiah dan dakwah terletak di kota Tarim yang merupakan kota terpenting di daerah tersebut.

Di tempat dan nuansa seperti inilah al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan, tepatnya pada hari Senin tanggal 4 Muharram 1383 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1963.

Beliau tumbuh diantara keluarga shaleh dan berilmu, ayah beliau adalah seorang ulama terpandang yang mencapai derajat mufti dalam mazhab Syafi’I, kakek beliau juga adalah seorang ulama yang produktif, sedangkan saudara tertua beliau yaitu Al Habib Ali Masyhur adalah seorang ahli fiqih yang sampai saat ini menjadi pemuka para mufti kota Tarim.

Cinta terhadap ilmu dan kaum sholihin telah tertanam dalam jiwa al Habib Umar sejak beliau telah menghafal al Quran dan mempelajari ilmu-ilmu dasar agama. Ketika beliau berumumr 9 tahun ayah beliau yaitu al Habib Muhammad bin Salim diculik oleh orang-orang komunis yang saat itu sedang berkuasa di kawasan Yaman Selatan, ayah beliau diculik lantaran tegas dalam menyampaikan dakwah dan kebenaran, hingga sampai saat ini beliau tidak diketahui keberadaannya.

Ketika beliau masih kecil, keadaan Hadramaut tidak kondusif, tekanan dan intimidasi dilakukan kepada para ulama dan pengajar, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Habib Umar, dengan sembunyi-sembunyi beliau belajar pada ulama di masa itu, selain belajar pada ayahandanya, al Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, beliau juga belajar pada al Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, al Munshib al Habib Ahmad bin Ali bin Syekh Abu Bakar, al Habib Muhammad bin Abdullah al Haddar (di kota Baidho – Yaman), al Habib Ibrahim bin Agil bin Yahya (di Kota Taiz – Yaman), juga kepada al Habib al Imam Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Disamping itu dalam kesempatan inilah beliau ke Haramain untuk berhaji. Beliau juga menyempatkan untuk mengikat hubungan dengan banyak ulama disana.

Dari tangan merekalah al Habib Umar menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu fikih, tauhid, usul fikih, sejarah, tata bahasa hingga ilmu Tazkiah (tasawuf). Dan sejak umur 15 tahun beliau telah terbiasa untuk menyampaikan ilmu yang didapatkan dari guru-gurunya itu dalam rangka dakwah ilallah.

Karya dan Rehlah al Habib Umar bin Hafidz

Ditengah kesibukannya sebagai pendidik dan juru dakwah al Habib Umar masih sempat menulis beberapa buku, diantaranya:

  1. Is’af tholibi ridho alkhallak bimakarimi alkhallak
  2. Taujihat tullab
  3. Syarah mandhumah sanad alawiy
  4. Khuluquna
  5. Dakhirah musyarafah
  6. Khulasoh madad an-nabawiy
  7. Diyaul lami bidhikri maulidi nabi as-syafi
  8. Syarobu althohurfi dhikri siratu badril budur
  9. Taujihat nabawiyah
  10. Nur aliman
  11. Almukhtar syifa alsaqim
  12. Al washatiah
  13. Mamlakatul qa’ab wa al ‘adha’

Dari diwan yang berisi syair-syair beliau yang terdiri dari empat juz, disamping rekaman ceramah yang mencapai ribuan cd, vcd dan kaset. Waktu beliau seakan hanya untuk dakwah, tiada menit dan detik kecuali beliau sibuk dengan urusan dakwah, beliau kerap kali melakukan perjalan ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Haramain, Syam, Mesir, Afrika, Asia Tenggara, hingga ke daratan Eropa. Kita ketahui sendiri al Habib Umar setiap tahunnya pada bulan Muharram mengunjungi Indonesia.

Dakwah beliau juga sangat dirasakan kesejukannya dan disambut dengan hangat oleh umat Islam di Indonesia. Masyakarat menyambut beliau dengan sangat antusias dan hangat, mengingat bahwa kakek beliau yang kedua, al Habib Hafidz bin Abdullah bin Syekh Abubakar bin Salim, berasal dari Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Dakwah beliau yang sangat indah dan sejuk itu yang bersumber dan kakek beliau Nabi Muhammad saw, sangatlah diterima oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun rakyat, kaya ataupun miskin, tua muda.

Di Indonesia al Habib Umar sudah beberapa kali membuat kerjasama dengan pihak bahkan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Ditjen Kelembagaan Keagamaan Departemen Agama RI meminta pembuatan kerjasama dengan al Habib Umar dan Darul Musthafa untuk pengiriman SDM yang berkualitas, khususnya para kyai pimpinan pondok pesantren untuk mengikuti program pesantren kilat selama tiga bulan dibawah bimbingan langsung al Habib Umar. Sampai saat ini, banyak sudah santri-santri di Indonesia yang menuntut ilmu di pondok pesantren yang beliau pimpin, Darul Musthafa di Hadramaut, dan telah melahirkan banyak da’i-da’I yang meneruskan perjuangan dakwahnya di berbagai daerah di Indonesia.

 

Page 1 of 212