Category: Aqidah

Ringkasan Pemahaman Tentang Nawaqid (Pencabutan), Naqoid (Bertentangan), Fitnah Yang Menyesatkan dan Media Perlindungan Dari Fitnah Tersebut

Posted by admin - 10 Maret 2016 - Aqidah, Da'i dan Dakwah
0
Alhabib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur

Nawaqid secara bahasa: jama’ dari kalimat naaqid yang diambil dari fi’il (نقض- ينقض) artinya menghilangkan sesuatu dari asalnya dan memotong sesuatu dari pangkalnya. Dan menurut definisi fiqih tahawulat yaitu: pemahaman pada sesuatu yang mencabut rantai-rantai Islam serta menimbulkan konflik dengan cara menghilangkan resolusi ilmu, I’tiqod, hukum, ekonomi dan hal-hal yang berkaitan dengan semuanya tersebut melalui faktor-faktor fitnah yang menyesatkan dan melalui para pembawa fitnah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Ikatan-ikatan Islam akan tercabut satu demi satu, setiap kali ikatannya tercabut orang-orang bergantung pada ikatan selanjutnya, yang pertama kali tercabut adalah masalah hukum dan yang terakhirnya adalah masalah shalat.”

Diantara pencabutan ikatan-ikatan hukum dan shalat, akan terjadi pencabutan-pencabutan yang lain, dari periode ke periode berikutnya hingga akhirnya tercabutlah ikatan “shalat” yaitu akan terjadi perdebatan dan perselisihan sekitar rukun, sunnah dan cara melakukan shalat.

Adapun naqoid secara bahasa adalah: jama’ dari kalimatنقيض  yakni: perkara sesuatu yang berlawanan dan bertentangan dengan hukum yang sudah ditetapkan oleh syariat.

Definisi naqoid (bertentangan) adalah: nama pada setiap pekerjaan yang berlawanan dan bertentangan dengan amalan syariat yang sudah popular, serta membawa dalil dan pemahaman yang berlawanan dengan (Alquran dan hadits) yang muncul dari individu atau kelompok, hal ini terjadi sebagaimana sabda Rasulullah SAW

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang jujur tidak dipercaya, orang yang bohong dianggap jujur, orang yang dipercaya dianggap berkhianat, orang yang berkhianat dianggap tapi dipercaya. Seseorang bersaksi padahal tidak diminta persaksiannya. Seseorang bersumpah padahal tidak diminta sumpahnya. Dan orang yang paling berbahagia di dunia pada waktu itu dungu bin dungu, yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya.”

Hadits ini adalah pernyataan syariat yang istibaqiyyah yang akan terjadi pada ummat Alquran dan sunnah dan sungguh hadits ini telah terjadi.

نواقض  dan نقائض saling bersamaan dikebanyakan fitnah karena nawaqid sering menyebabkan dan membuahkan terjadinya naqooid, yang konsekuensinya terjadilah kesesatan, sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam hadits nabawi.

Fitnah adalah suatu cobaan umum yang menimpan individu dan jamaah. Sebab fitnah tersebut terjadilah penyimpangan yang berlawanan dengan syariat. Salah satu arti dari fitnah adalah cobaan bagi kaum muslimin, apabila dia sabar dan ikhlas dengan cobaan tersebut maka dia akan mendapatkan pahala. Sebagaimana fitnah pada keluarga, harta dan anak. Salah satu contoh fitnah yang Allah berikan terhadap para Nabi:

“Dan sesungguhnya kami telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertaubat.” (Q.S. Shaad: 34)

Firman Allah terhadap Nabi Musa AS, “Dan kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.”  (Q.S. Thoha: 40)

Adapun fitnah yang menyesatkan adalah menyimpangnya seseorang atau suatu kelompok dari ajaran-ajaran syariat kepada ajaran-ajaran yang membantu kejelekan, dajjal dan syetan.

Adapun media perlindungan dari fitnah dan kesesatannya yatiu dengan cara memperdalam pasal-pasal ilmu fiqh dan tahawulat dan pembagiannya baik yang positif, untuk mengambil manfaat dan mengamalkannya atau negatif untuk menghindarinya. Tidak berpartisipasi di dalamnya dan meminta perlindungan kepada Allah untuk dijauhkan dari fitnahnya.

Di zaman sekarang kaum muslimin hidup di tengah-tengah fitnah yang menyesatkan dan bahkan mereka menceburkan diri mereka sendiri ke dalam fitnah yang bermacam-maca seperti, fitnah yang terdapat di politik, ekonomi, pendidikan, sekolah, kebudayaan, informasi dan mereka tidak menyadarinya, disebabkan mereka tidak mengkaji (pemahaman yang khusus tentang tanda-tanda kiamat dan fitnah yang menyesatkan).

 

Sumber: Alhabib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur. Intisari Ma’rifat Rukun Agama Keempat Serta Tanda-Tanda Kiamat Besar, Sedang dan Kecil. Diterjemahkan oleh: Muhammad Rijal Maulana

Etika shalat

Posted by admin - 11 Mei 2015 - Aqidah
2
Etika Shalat

Oleh: Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad

Jika kamu shalat di belakang imam, hendaknya kamu memperbaiki cara mengikutinya, karena imam dijadikan hanya untuk diikuti. Janganlah kamu membarengi imam dalam amalan-amalan shalat, apalagi mendahuluinya. Memang seharusnya kamu menjadikan amalan-amalan shalat imam sebagai ikutanmu. Rasulullah SAW bersabda, “Adapun orang yang turun dan mengangkat seblum imam, berarti ubun-ubunnya dikuasai oleh setan.”

Segeralah kamu menuju ke barisan pertama dan merapatkan barisan tanpa harus berbuat sesuatu yang mengejutkan. Takutlah kamu berada di baris belakang apabila masih mungkin untuk maju di baris depan. Rasulullah SAW bersabda, “Suatu kaum yang selalu mundur dari baris pertama sehingga Allah SWT memundurkan mereka dari anugerah Allah dan rahmat-Nya.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya mengampuni dosa orang yang berada di baris pertama.”

Ketahuilah, bahwa Rasulullah SAW memohonkan ampunan kepada Allah setiap saat untuk orang yang berada di baris pertama dan untuk orang yang berada di baris kedua hanya satu kali.

Rapatkan dan luruskanlah barisan-barisan dalam shalat. Apabila kamu menjadi imam, perintahkanlah para makmum untuk merapatkan dan meluruskan barisan. Hal demikian perlu karena ia merupakan perkara yang penting di dalan syara, meskipun kebanyakan orang melupakannya. Rasulullah SAW sangat ketat dalam memerintahkan merapatkan dan meluruskan barisan dengan mengucapkan, “Supaya kamu meluruskan barisan-barisanmu atau supaya Allah membedakan antara hati-hati kamu.” Beliau juga menyuruh untuk menutup lubang-lubang barisan melalui sabdanya, “Demi Zat yang diriku dalam kekuasanNya, sesungguhnya aku melihat setan yang sedang masuk pada sela-sela barisan, seakan-akan ia seperti kambing kecil.”

Kerjakanlah shalat lima waktu dengan berjamaah dan secara terus menerus, karena shalat jamaah memiliki kelebihan pahala sebanyak 27 kali dibandingkan dengan shalat sendiri, sebagaimana telah disebutkan dalam hadis sahih. Takutlah kamu meninggalkan shalat berjamaah kecuali dalam keadaan terpaksa. Seandainya kamu datang ke tempat shalat berjamaah tetapi mendapati mendapati shalat jamaah sudah selesai, atau ketika di rumah, demi mencari keselamatan dalam agama, maka sebaiknya kamu kumpulkan orang untuk shalat bersamamu supaya kamu mendapat padahal jamaah dan selamat dari ancaman agama. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya setiap orang mukmin menghentikan dari meninggalkan shalat berjamaah atau aku akan membakar rumah-rumah mereka.” Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendengarkan alunan suara adzan dalam keadaan kosong dari pekerjaan dan sehat tetapi tidak mau menjawabnya, maka baginya tidak sempurna shalatnya.”

Semua yang dibahas diatas adalah tentang pentingnya shalat berjamaah, bagaimana menurutmu tentang meninggalkan shalat Jumat yang merupakan fardhu ‘ain? Rasulullah SAW telah bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan tiga Jumat karena menganggap sepele maka Allah akan mengelak hatinya.”

Apabila kamu merasa punya alasan untuk meninggalkan jama’ah atau Jumat, bayangkanlah pada tempat pelaksanaan saat Jumat terdapat seseorang yang membagi-bagikan dinar kepada orang-orang yang hadir. Seandainya dengan membayangkan demikian kamu akan hadir, maka alasan ketidakhadiranmu tidak sah. Malulah kamu kepada Allah karena berarti hatimu lebih memuliakan harta dunia.

Ketahuilah, bahwa alasan tidak hadir yang benar dapat menggugurkan dosa. Adapun pahala itu tidak bisa diperoleh kecuali dengan mengerjakannya. Benar, bahwa kadang-kadang pahala itu bisa diperoleh bagi orang yang tidak hadir tetapi ini sangat khusus, seperti orang yang dipenjara karena dianiaya dan lain sebagainya, atau tidak hadir karena sedang merawat orang yang tersia-sia dan lain sebagainya.

Orang-orang mukmin yang sempurna imannya tidak akan meninggalkan suatu amalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah sekalipun terdapat ribuan alasan untuk meninggalkannya. Oleh karena itu, orang-orang yang sempurna diantara orang-orang yang dekat kepada Allah selalu mengerjakan amalan yang bisa mendekatkan mereka kepada-Nya. Adapun orang yang lemah imannya, sedikit keyakinannya dan terbatas makrifatnya kepada Allah, maka tidak ada rasa susah dalam meninggalkan perkara yang Allah memfardukannya, kecuali gugurnya dosa. Masing-masing memperoleh derajat di sisi Allah dari perkara-perkara yang mereka amalkan.

Tetaplah dengan menanggung setiap orang yang berada dalam kekuasaanmu, seperti anak, istri dan budak untuk mengerjakan shalat. Apabila salah satu dari mereka mencegah untuk mengerjakan shalat, maka kamu harus memberi nasihat dan menakut-nakutinya. Apabila mereka masih tetap meninggalkan shalat, maka kamu boleh memukul dan membentaknya. Apabila mereka masih mencegah untuk mengerjakan shalat, maka kamu harus memutus dan membelakanginya. Hal demikian karena orang yang meninggalkan shalat adalah setan yang jauh dari rahmat Allah, yang lebih dekat kepada benci dan laknat Allah serta yang terhalang kasih sayangnya. Memusuhi setan adalah wajib atas setiap orang muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak shalat. Orang yang meninggalkan shalat itu ibarat kepala tanpa badan.”

Tetaplah kamu dengan meninggalkan semua kesibukan-kesibukan dunia pada hari Jumat dan jadikanlah hari yang mulia ini murni untuk mencari akhirat. Janganlah kamu sibuk pada hari-hari Jumat kecuali hanya untuk mencari kebaikan dan hanya untuk menghadap kepada Allah. Perbaikilah dirimu dari pengawasan Allah pada hari yang mustajab, yaitu pada hari Jumat yang baik untuk memohon kebaikan dan perlindungan kepada Allah.

Tetaplah kamu dengan berangkat pagi-pagi menuju shalat Jumat. Pergilah menuju shalat Jumat sebelum tergelincirnya matahari dan duduklah di dekat mimbar agar dapat mendengarkan sambil memperhatikan khutbah. Hindarkanlah dirimu dari sibuk sendiri, tidak dari memperhatikan khutbah dengan zikir atau pikir, apalagi bermain-main. Rasakanlah bahwa seolah-olah semua nasihat baik dan wasiat yang kamu dengarkan tertuju kepadamu.

Setelah selesai shalat Jumat, masih dalam posisi duduk tasyahud akhir dan belum berbicara sesuatu pun, bacalah surat Fatihah, surat Ikhlas dan mu’awwidzatain, masing-masing tujuh kali. Kemudian, sebelum meninggalkan tempat shalat, bacalah Subhanallahiladzim wa bihamdih sebanyak seratus kali. Keutamaan atas bacaan-bacaan di atas telah disebutkan khabar. Wa billahi-t-taufik. 

Sumber foto: di sini

Adab

Posted by admin - 12 Januari 2015 - Aqidah
1

Oleh: Dr. Hamid F. Zarkasyi
(Direktur INSISTS)

Belalang menjadi burung elang.
Kutu menjadi kura-kura, dan
Ulat berubah menjadi naga.

Itulah syair pujangga Abdullah Abdul Qadir al-Munsyi, ditulis pertengahan abad 19. Sekilas ia seperti sedang bicara evolusi Darwin, atau cerita bim salabim ala Herry Porter. Tapi sejatinya ia sedang bicara tentang perubahan yang aneh. Perubahan tentang bangsanya yang kehilangan adab.

Metafora ini mudah diterima oleh bangsa Melayu, tapi tidak bagi orang Jawa. Orang Jawa lebih mudah faham dengan dagelan Petruk jadi ratu. Ya dagelan, sebab ada perubahan status secara tidak alami atau tidak syarie. Bukan gambaran diskriminatif, bukan pula rasial, tapi loncatan status yang abnormal.

Munsyi tentu faham belalang mustahil jadi burung elang, kutu jadi kura-kura. Ia juga faham mengapa Tuhan mengizinkan kepompong bisa jadi kupu-kupu yang cantik. Tapi, yang ia gelisahkan mengapa ini bisa terjadi di dunia manusia. Semua orang berhak mencapai sukses, tapi mengapa sukses dicapai dengan mengorbankan moral. Kita menjadi lebih faham setelah membaca bait berikutnya:

Bahkan seorang yang hina dan bodoh dapat pandai dan terhormat,
jika memiliki harta. Sedangkan orang miskin
tidak dipandang walaupun pandai dan terhormat.

Munsyi seperti sedang memberi tugas kita untuk menjawab.  Dimana letak kesalahannya. Yang dengan cerdas menjawab adalah SM Naquib al-Attas, ulama yang juga pakar sejarah Melayu. Letak kesalahannya, katanya,  ada pada lembaga pendidikan kita. Pendidikan kita tidak menanamkan adab. Adab adalah ilmu yang berdimensi iman, ilmu yang mendorong amal dan yang bermuatan moral.

Sumbernya ada dua: faktor eksternal dan internal. Yang pertama, karena besarnya pengaruh pemikiran sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan Barat. Yang kedua, karena lemahnya daya tahan tubuh umat Islam.  Pendidikan kita tidak menanamkan adab. Ritual pendidikan memang terus berjalan, tapi maqasid-nya tidak tercapai. Lembaga pendidikan umat Islam bisa menghasilkan SDM bidang tehnik, ekonomi, kedokteran, manajemen, tapi tidak menghasilkan peradaban Islam.

Tanda-tanda alpanya adab sekurangnya ada 3: kezaliman, kebodohan dan kegilaan. Zalim kebalikan adil artinya tidak dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam adab kesopanan orang Jawa disebut tidak empan papan. Jelasnya tidak bisa memahami dan menerapkan konsep secara proporsional. Artinya mencampur dua atau tiga konsep yang saling bertentangan. Seperti mencapur keimanan dengan kemusyirikan. Mewarnai amal dengan kemaksiatan dan kesombongan.  Tauhid dengan faham dikotomis-dualistis, dsb.

Bodoh atau dalam bahasa al-Ghazzali hamaqah bukan jahil dan buta aksara. Bodoh tentang cara mencapai tujuan. Karena tidak tahu apa tujuan hidupnya, seseorang jadi bodoh tentang cara mencapainya.Anda harus bisa kaya dengan segala cara adalah bisikan Machiaveli yang diterima dengan sukarela. Korupsi, menipu, manipulasi, dan sebagainya pun bisa menjadi cara meniti karir.  Anda bisa jual diri asal bisa jadi selebriti. Anda bisa jadi pejabat asal mahir menjilat dan berkhianat. Itulah mengapa Islam datang menawarkan jalan dan cara mencapai tujuan yang disebut syariah.

Gila artinya salah tujuan, salah menentukan arah dan tujuan hidup, salah arah perjuangan. Akarnya tentunya adalah hamaqah atau kebodohan; yang bodoh akan negeri impian akan bingung kemana akan mendayung sampan; yang bodoh akan arti hidup tidak akan tahu apa tujuan hidup; yang jahil tentang arti ibadah tidak akan pernah tahu apa gunanya ibadah dalam kehidupan ini. Akibatnya,  aktivitas demi kepentingan pribadi (linnafsi), kehormatan diri (lil jah), harta (lil mal) tiba-tiba diklaim menjadi Demi Allah, (Lillah).

Jika pendidikan kita benar-benar menanamkan adab, mengapa peradaban Islam tidak kokoh berdiri. Mengapa kita begitu gengsi pada hutang luar negeri, tapi bangga memungut konsep-konsep pinjaman dari luar Islam. Mengapa kita hanya mampu menjustifikasi konsep-konsep asing dan tidak mampu membangun konsep sendiri?

Orang Barat begitu percaya diri dengan konsep ciptaannya, tapi mengapa kita tidak. Cardinal John Newman, misalnya, begitu yakin tentang gambaran universitas humanisme Kristen dalam The Idea of University, Defined and Illustrated. Karl Jasper dalam The Idea of University tegas menggambarkan konsep universitas humanis-eksistensialis. J Douglas Brown dalam The Liberal University-nya bisa menggambarkan dengan jelas pelbagai peran universitas dalam mencetak manusia sempurna ala Barat. Tapi mengapa identitas Islam pada universitas Muslim tidak nampak jelas. Mengapa Muslim malu-malu memerankan universitas Islam dalam membangun peradaban Islam.

Universitas Islam harus berani membangun konsep ekonomi Islam, politik Islam, sosiologi Islam, sains Islam, budaya Islam dan sebagainya. Universitas Islam harus bisa mencerminkan bangunan pandangan hidup Islam. Universitas Islam tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu, tapi juga merupakan sumber gerakan moral dan sosial serta agen perubahan. Universitas harus menjadi pelopor dalam menciptakan manusia-manusia yang adil dan beradab agar dapat membangun peradaban yang bermartabat.   (***)

Mencari Asal Usul Maulid Nabi

Posted by admin - 2 Januari 2015 - Aqidah
0
Rasulullah

Oleh: Alwi Alatas

(Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM Malaysia)

Secara bahasa maulid Nabi bermakna waktu kelahiran. atau tempat kelahiran, Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Secara istilah, maulid Nabi biasanya dimaknai sebagai perayaan yang berkaitan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Perayaan maulid telah menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat Muslim di dunia sekarang ini. Bahkan tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan hari libur di banyak negeri Muslim. Kapankan sebenarnya perayaan maulid pertama kali muncul dalam sejarah Islam?

Pada masa-masa sebelum ini kita sering mendengar bahwa peringatan maulid muncul pertama kali pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193).Shalahuddin dikatakan mengadakan kompetisi atau anjuran untuk melaksanakan perayaan maulid demi membangkitkan semangat jihad kaum Muslimin pada masa itu dalam menghadapi tentara salib. Namun sejauh yang penulis ketahui, kisah ini sama sekali tidak memiliki rujukan. Tidak ada satu pun penulis sejarah Shalahuddin dan Perang Salib yang hidup sejaman dengannya yang menyebutkan tentang hal ini. Jika Shalahuddin memang menjadikan maulid sebagai bagian dari perjuangannya, tentu buku-buku sejarah pada masa itu akan menyebutkan tentang hal itu walaupun sedikit.

Selain pendapat di atas, ada juga sebagian kaum Muslimin yang menentang maulid, begitu pula beberapa sejarawan Barat, yang mengatakan bahwa perayaan ini bersumber dari Dinasti Fatimiyah (909-1171) yang berpaham Syiah Ismailiyah. Dinasti inilah yang pertama kali mengadakan perayaan maulid Nabi, serta maulid Ali dan beberapa maulid keluarga Nabi lainnya. Bahkan ada artikel yang begitu bersemangat mengkritik maulid menyebutkan bahwa maulid “berasal dari kaum bathiniyyah (maksudnya Dinasti Fatimiyah, pen.) yang memiliki dasar-dasar akidah Majusi dan Yahudi yang menghidupkan syiar-syiar kaum salib.” Terlepas dari perbedaan dan permusuhannya dengan Ahlu Sunnah, Dinasti Fatimiyah pada masa itu juga berperang menghadapi kaum salib. Jadi, menyebut dinasti Fatimiyah atau perayaan maulid sebagai “menghidupkan syiar-syiar kaum salib” merupakan tuduhan yang terlalu jauh dan mengada-ada.

Beberapa buku sejarah memang menyebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah mengadakan perayaan maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya bahwa pemerintahan Fatimiyah berdiri pada tahun 909 M di Tunisia, memindahkan pusat kekuasaannya ke Kairo, Mesir, enam dekade kemudian, dan runtuh pada tahun 1171, dua tahun setelah masuknya Shalahuddin ke Mesir. Adanya perayaan maulid oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua orang sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin dan terjadinya Perang Salib. Kedua sejarawan yang sama-sama memiliki nama Ahmad bin Ali itu adalah al-Qalqashandi (w. 1418) dan al-Makrizi (w. 1442). Menurut Nico Kaptein dalam disertasinya yang dibukukan, Muhammad’s Birthday Festival (1193: 7-19), kedua sejarawan ini merujuk pada tulisan para sejarawan sebelumnya yang mengalami jaman Fatimiyah, terutama Ibn Ma’mun (w. 1192) dan Ibn al-Tuwayr (w. 1220).

Al-Qalqashandi menyebutkan tentang perayaan maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah secara ringkas dalam kitab Subh al-A’sya jilid III (1914: 502-3). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, dipimpin oleh Khalifah Fatimiyah dan dihadiri oleh para pembesar kerajaan seperti Qadhi al-Qudhat, Da’i al-Du’at, dan para pembesar kota Kairo dan Mesir. Hidangan disediakan untuk yang hadir dan jalur ke istana ditutup dari orang-orang yang lewat di dekat tempat itu. Setelah semua berkumpul, orang kepercayaan khalifah memberi tanda dan acara pun dimulai dengan khutbah dari penceramah – dalam sumber lain disebutkan bahwa acara dibuka dengan pembacaan al-Qur’an dan diikuti dengan khutbah oleh tiga penceramah berturut-turut (Kaptein, 1993: 13-5). Setelah khutbah selesai, acara diakhiri dan orang-orang pun kembali ke rumah masing-masing. Hal yang sama juga berlaku pada perayaan maulid Ali bin Abi Thalib ra, maulid Fatimah, maulid Hasan dan Hussain ra, dan maulid khalifah sendiri.

Sebagaimana disebutkan dalam Encyclopaedia of Islam jilid 6 (1991: 895) dan juga buku Kaptein (1993: 9-10), al-Maqrizi (saya tidak merujuk langsung dari kitab beliau) juga menjelaskan hal yang kurang lebih sama. Salah satu perayaan maulid itu diadakan pada tahun 517 H (1123 M). Sebelum itu tentunya sudah ada perayaan maulid juga, tetapi buku-buku sejarah tidak menyebutkan sejak tahun berapa perayaan ini mulai dilakukan.

Kaptein (1993: 28-9) berpendapat perayaan maulid yang berlaku di dunia Sunni merupakan kelanjutan dari perayaan maulid Fatimiyah ini. Ia juga percaya bahwa saat terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimiyah kepada Shalahuddin, perayaan maulid Nabi tetap berlangsung di tengah masyarakat Mesir. Hanya maulid selain maulid Nabi yang dihapuskan oleh pemerintahan Shalahuddin, sementara maulid Nabi tetap diizinkan berjalan. Namun pendapat Kaptein ini lebih bersifat dugaan dan penafsiran atas teks yang tidak sepenuhnya bisa dijadikan pegangan.

Ada beberapa alasan untuk memilih pendapat yang sebaliknya. Pertama, sebagaimana digambarkan dalam sumber-sumber yang ada, maulid Fatimiyah ini merupakan maulid yang bersifat elit. Ia dilaksanakan oleh istana dan dihadiri oleh pembesar kerajaan dan tokoh-tokoh masyarakat. Tidak ada informasi yang menyebutkan bahwa perayaan ini bersifat populer dan dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat Mesir ketika itu, baik Sunni maupun Syiah. Perayaan maulid Fatimiyah ini sempat dihentikan oleh wazir Fatimiyah yang bernama al-Afdal yang memerintah pada tahun 1094-1122. Belakangan khalifah mengupayakannya lagi atas usulan beberapa pembesar di sekitarnya (Kaptein, 1993: 24-5). Kisah tentang konflik ini hanya berkisar di sekitar istana. Tidak ada informasi tentang apa yang terjadi di masyarakat Mesir terkait pelarangan tersebut.

Kedua, sejauh ini kita juga tidak menemukan sumber-sumber sejarah yang ada menceritakan tradisi perayaan maulid di tengah masyarakat Syiah Ismailiyah pada masa itu. Masyarakat Syiah ketika itu bukan hanya tinggal di Mesir, tetapi juga di Suriah, Irak, dan Yaman (lihat misalnya The Chronicle of Ibn al-Athir/ Tarikh Ibn al-Athir). Ketiga, dalam perjalanan hajinya ke Makkah melalui Mesir pada tahun 1183, Ibn Jubair (2001: 31-68) sama sekali tidak menyebutkan adanya kebiasaan maulid di Mesir. Saat itu sudah dua belas tahun sejak runtuhnya Dinasti Fatimiyah dan Mesir telah diperintah oleh Shalahuddin. Pada bulan Rabiul Awwal tahun itu, Ibn Jubair (w. 1217) masih belum menyeberang dari Mesir menuju Jeddah. Jika kebiasaan maulid di Mesir merupakan kebiasaan yang populer di tengah masyarakat sejak masa Fatimiyah, dan kemudian bersambung pada masa Shalahuddin, rasanya kecil kemungkinan hal ini akan terlewat dari pengamatan Ibn Jubair untuk kemudian ia tuangkan di dalam buku perjalanannya (The Travels of Ibn Jubayr/ Rihla). Sementara, Ibn Jubair jelas-jelas menyebutkan adanya peringatan maulid di Makkah sebagaimana akan disebutkan nanti.

Kemungkinan bahwa perayaan maulid Nabi di dunia Sunni menerima pengaruh dari maulid Fatimiyah memang ada. Namun pada saat yang sama juga ada hal-hal yang melemahkan pendapat ini. Argumen paling menonjol yang dimiliki untuk mendukung pendapat ini hanyalah kenyataan bahwa keberadaannya mendahului perayaan maulid di tengah masyarakat Sunni.

Dalam kaitannya dengan pengaruh Syiah terhadap maulid di tengah masyarakat Sunni, Marion Holmes Katz dalam bukunya The Birth of Prophet Muhammad (2007: 3-4) menyarankan kemungkinan adanya pengaruh Syiah Imamiyah (Itsna Asy’ariyah). Pengaruh ini, menurutnya, terutama dalam hal “private and devotional aspects” dari peringatan maulid. Walaupun pengaruh ini mungkin terjadi, hal ini pun lebih bersifat dugaan. Argumen utamanya, seperti sebelumnya, adalah adanya teks dan riwayat Syiah Imamiyah yang mendahului informasi tentang adanya maulid di dunia Sunni.

Maulid di kalangan Imamiyah ini berbeda dengan yang berlaku di Dinasti Fatimiyah. Ia lebih berupa peringatan yang bersifat individu dan anjuran untuk meningkatkan amal, khususnya puasa, sedekah, dan berziarah. Bagaimanapun, kalangan Imamiyah menyepakati tanggal 17 Rabiul Awwal sebagai tanggal kelahiran Nabi, berbeda dengan dunia Sunni yang memiliki beberapa riwayat tentang itu yang mana tanggal 12 Rabiul Awwal kemudian menjadi pendapat yang paling banyak diambil. Selain itu, pengaruh Syiah Imamiyah ketika itu terlalu terbatas jika dibandingkan dengan Syiah Ismailiyah yang ditopang oleh adanya Kerajaan Fatimiyah.

Di antara informasi awal yang menyebutkan tentang adanya peringatan maulid di dunia Sunni adalah catatan perjalanan Ibn Jubair. Ia melintasi Mesir dari Aleksandria ke pelabuhan Aydzab, dalam perjalanan hajinya, antara bulan Dzul Hijjah 578 H (April 1183) dan Rabiul Awwal 579 H (Juli 1183). Setelah menetap di Tanah Haram dan melakukan ibadah haji, ia meneruskan perjalanan ke Irak dan Suriah sebelum kembali ke negerinya, Andalusia. Satu-satunya peringatan maulid yang ia sebutkan hanya berlangsung di kota Makkah yang berlangsung setiap bulan Rabiul Awwal. Itu pun tidak ia amati secara langsung, karena ia baru masuk ke Hijaz pada bulan Rabiul Akhir.

Maulid yang disebutkan oleh Ibn Jubair (2001: 111) berbeda dengan perayaan maulid yang kita kenal sekarang dan mungkin memiliki asal-usul yang lebih tua daripada maulid Fatimiyah. Maulid yang disebutkan oleh Ibn Jubair adalah pertemuan tiga makna maulid, yaitu waktu kelahiran, tempat kelahiran, serta aktivitas yang dilakukan terkait kedua hal itu. Maulid yang dimaksud di sini adalah rumah tempat Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dilahirkan di kota Makkah dibuka untuk umum pada setiap hari Senin di bulan Rabiul Awwal dan orang-orang berdatangan untuk mengharapkan keberkahannya. Jadi aktivitas maulid di sini hanya sebatas peningkatan kunjungan ke tempat Nabi dilahirkan, bukan dalam bentuk perayaan tertentu.

Sebagaimana disebutkan oleh Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wa-l-Nihayah jilid 3 (1997: 377), rumah Nabi ini telah diubah menjadi masjid oleh ibu Harun al-Rasyid, Khayzuran, sewaktu ia melaksanakan haji ke Makkah. Menurut Encyclopaedia of Islam jilid 6 (1991: 650, 895), hal ini terjadi pada tahun 789 M, jauh sebelum adanya Dinasti Fatimiyah. Mungkin sejak saat itu mulai terjadi peningkatan kunjungan oleh para peziarah, terutama pada bulan Rabiul Awwal, sebagai penghormatan dan ekspresi cinta mereka terhadap tempat dan waktu Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dilahirkan.

Informasi lainnya tentang perayaan maulid pada masa itu datang dari Ibn Khallikan (w. 1282). Dalam Wafayat al-A’yan, ia menyebutkan tentang adanya perayaan maulid di kota Irbil, Irak, kota yang juga merupakan tempat kelahiran Ibn Khallikan sendiri. Perayaan maulid itu berlangsung pada tahun 604 H (1207/8), sekitar 14 tahun setelah wafatnya Shalahuddin, dan diadakan oleh gubernur kota Irbil, Muzaffaruddin Kukburi bin Zainuddin (w. 1233).

Muzaffaruddin merupakan adik ipar Shalahuddin melalui pernikahannya dengan Rabia Khatun binti Ayyub. Ia merupakan salah satu emir kepercayaan Shalahuddin dan menyertainya dalam banyak pertempuran, termasuk Pertempuran Hattin. Muzaffaruddin juga merupakan seorang yang banyak bersedekah. Ia membangun panti-panti untuk kepentingan orang-orang cacat serta para janda dan anak yatim, rumah sakit dan klinik bagi mereka yang sakit, madrasah bagi para pelajar, serta ribat kaum sufi, dan ia biasa mengunjungi tempat-tempat itu dan berinteraksi dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Ibn Khallikan menyebutkan secara detail banyak keutamaannya sebagai pemimpin yang jarang dimiliki oleh para penguasa selainnya.

Muzaffaruddin merayakan maulid secara besar-besaran di Irbil dan menyediakan dana yang banyak untuk keperluan itu. Para ulama, qari’, sufi, sastrawan, dan orang-orang lainnya berdatangan dari Baghdad, Mosul, Sinjar, dan kota-kota lainnya ke Irbil sejak bulan Muharram untuk menghadiri perayaan tersebut. Kegiatan maulid di Irbil ini merupakan sebuah festival besar yang terbuka untuk masyarakat umum dan berlangsung selama sebulan lebih dan menampilkan musik-musik rohani serta pertunjukan lainnya. Puncak kegiatan maulid diadakan pada tanggal 8 atau 12 Rabiul Awwal secara bergantian setiap tahun mengikuti pendapat yang ada berkenaan dengan tanggal kelahiran Nabi (shallallahu alaihi wassalam).

Saat ia menyiapkan perayaan maulid di tahun 1207/8 M sebagaimana disebutkan di atas, seorang ulama asal Andalusia, Ibn Dihyah, sedang dalam perjalanan ke Khurasan dan mampir di kota Irbil. Ia kemudian menulis sebuah buku berjudul Kitab al-Tanwir fi Maulid al-Siraj al-Munir sebagai hadiah kepada Muzaffaruddin dan sebagai bentuk dukungan atas perayaan maulid tersebut. Muzaffaruddin pun menghadiahi Ibn Dihyah 1000 dinar untuk kitabnya itu. Menurut Ibn Khallikan, nasab Ibn Dihyah dari pihak ayah bersambung kepada sahabat Nabi yang bernama Dihyah al-Kalbi ra. dan dari pihak ibu bersambung kepada Ali bin Musa al-Kadzim yang merupakan keturunan Hussain bin Ali bin Abi Thalib ra (Ibn Khallikan, 1843: 384-5, 537-41).

Ibn Khallikan tidak menyebutkan kapan perayaan maulid ini mulai dilakukan dan apa yang melatarbelakanginya. Namun, kita menemukan informasi tambahan tentang ini pada sebuah buku yang ditulis oleh Abu Syamah al-Maqdisi (w. 1268). Ia merupakan seorang ulama yang menulis sebuah kitab yang berharga tentang pemerintahan Nuruddin dan Shalahuddin serta peristiwa Perang Salib, yaitu Kitab al-Rawdatayn fi Akhbar al-Dawlatayn. Ia menyebutkan tentang perayaan maulid dalam bukunya yang lain yang berjudul Kitab al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bid’a wa-l-Hawadits (1990: 95-6). Ia menyebutkan bahwa yang pertama kali melakukan perayaan maulid (yawm mawlid al-Nabi shallallahu alaihi wasallam) adalah Syaikh Umar al-Malla’, “seorang soleh yang masyhur”, di kota Mosul. Hal itu kemudian diikuti oleh Muzaffaruddin dan yang lainnya.

Siapakah Syaikh Umar al-Malla’? Ia merupakan seorang yang hidup sederhana di zawiyahnya di kota Mosul dan banyak dikunjungi oleh para emir dan orang-orang lainnya. Nuruddin Mahmud Zanki merupakan sahabatnya. Ia sangat mempercayai Syaikh Umar al-Malla’, sering berkonsultasi dengannya, serta memakan makanan yang disediakan olehnya saat ia berkunjung ke kota Mosul. Informasi tentang perayaan maulid oleh Syaikh Umar al-Malla’ ini membawa kita pada tahun yang lebih awal lagi dibanding yang diberikan oleh tulisan Ibn Khallikan dan Ibn Jubair. Perayaan maulid ini bahkan telah muncul sejak masa pemerintahan Nuruddin Mahmud Zanki (w. 1174), sebelum era Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193).

Jika Abu Syamah hanya menyebutkan sekilas di dalam Kitab al-Ba’its tentang perayaan maulid Syaikh Umar al-Malla’, informasi yang lebih detail bisa didapati dalam kitab al-Barq al-Shami karya Imaduddin al-Katib al-Isfahani. Imaduddin mengawali karir di Baghdad, kemudian bekerja pada pemerintahan Nuruddin, dan setelah itu menjadi sekretaris Shalahuddin. Kitab al-Barq al-Shami berisi sejarah yang berkaitan dengan masa pemerintahan Shalahuddin. Kitab itu sebagian besarnya sudah hilang, tetapi ringkasan yang dibuat oleh al-Bundari, Sana al-Barq al-Shami, masih bisa dijumpai hingga sekarang ini.

Dalam Sana al-Barq al-Shami (1979: 52) disebutkan bahwa setiap tahun, pada hari-hari maulid Nabi (ayyam mawlid al-Nabi shallallahu alaihi wasallam), Syaikh Umar al-Malla’ biasa mengundang para emir, para penyair, dan lainnya untuk hadir ke tempatnya. Dalam kesempatan itu para penyair biasanya menyenandungkan puji-pujian terhadap Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Setelah itu Imaduddin menjelaskan hubungan dekat Nuruddin dan Syaikh Umar serta masuknya Nuruddin ke Mosul ketika saudaranya yang memimpin kota itu wafat pada tahun 1171. Imaduddin menyebut Syaikh Umar sebagai rajulun min syuyukh al-shalihin wa a’imah al-arifin.

Kaptein (1993: 36), mengutip Mir’at al-Zaman karya Sibt ibn al-Jauzi (w. 1257), menyebutkan bahwa Syaikh Umar al-Malla’ juga menulis sebuah kitab sirah Nabi. Marion Holmes Katz (2007: 2) menyebutkan bahwa kitab sirah yang ditulis Syaikh Umar ini berjudul Wasilat al-Muta’abbidin fi Sirat Sayyid al-Mursalin. Hanya sebagian saja dari kitab itu yang masih ada dalam bentuk manuskrip di Oriental Public Library, Bankipore, India. Pada manuskrip itu terdapat catatan bahwa kitab itu dibacakan dalam beberapa kali kunjungan, terakhir pada tanggal 6 Rabiul Awwal 569 (1174). Ini adalah tahun paling awal yang kita dapati sejauh ini terkait dengan perayaan maulid di dunia Sunni yang tampaknya menjadi cikal-bakal perayaan maulid yang ada sekarang.

Bagaimanapun, Kaptein berpendapat bahwa perayaan maulid sudah berkembang di dunia Sunni pada masa pemerintahan Nuruddin, dan Syaikh Umar al-Malla’ bukan orang yang pertama kali memulainya sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Syamah di dalam al-Ba’its. Kaptein (1193: 31-3) menunjuk beberapa teks dalam Kitab al-Rawdatayn karya Abu Syamah yang menyebutkan bahwa Nuruddin dan orang-orang di sekitarnya juga telah melakukan perayaan maulid pada tahun-tahun sebelumnya, antara lain pada tahun 1153. Setidaknya ada tiga teks di dalam kitab itu, yaitu pada jilid 1 (1997: 279, 285) dan jilid 2 (1997: 315), yang menyebutkan tentang malam maulid (laylat al-milad), tanpa ada penyebutan kata Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Walaupun tak ada penyebutan kata Nabi, menurut Kaptein kata itu pasti menunjuk pada maulid Nabi, karena pada sepanjang pemerintahannya Nuruddin berusaha membangun nilai-nilai Islam yang kuat di tengah masyarakatnya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi (shallallahu alaihi wasallam).

Untuk menguatkan argumentasinya, Kaptein juga mengutip dari buku Al-A’laq al-Khatira fi Dhikr Umara’ al-Sham wa-l-Jazira karya Izzuddin Ibn Shaddad (w. 1285). Di sana disebutkan bahwa pada tahun 1150, Nuruddin mendirikan Madrasah al-Hallawiyah di Aleppo. Bersamaan dengan itu, ia menetapkan pemberian uang, makanan, atau pakaian dalam jumlah tertentu kepada para guru pada waktu-waktu yang ditentukan, antara lain pada bulan Ramadhan, malam nisfu sya’ban, dan juga pada masa maulid (tertulis dalam teks dalam bentuk jamak, mawalid). Pendapat Kaptein ini menguatkan pandangannya bahwa maulid di dunia Sunni mendapat pengaruh dari maulid Dinasti Fatimiyah, karena pada tahun 1150-an itu Dinasti Fatimiyah masih eksis dan masih merayakan maulid. Kecil kemungkinan Nuruddin dan para pemimpin Sunni selainnnya tidak mengetahui tentang hal itu.

Namun kita menemukan kelemahan pada argumen ini. Maulid yang disebutkan berkenaan dengan Nuruddin memiliki karakteristik yang berbeda bukan hanya dengan maulid Fatimiyah, tetapi juga dengan maulid yang diadakan oleh Syaikh Umar al-Malla’ dan juga Muzaffaruddin. Momen malam maulid hanya disebutkan sekilas di dalam teks-teks pada Kitab al-Rawdatayn yang bertepatan dengan dibacakannya syair-syair yang dihadiahkan kepada Nuruddin. Syair-syair itu pada satu kesempatan dibuat oleh Ibn Munir dan pada kesempatan yang lain dibuat dan dibacakan oleh Usamah ibn Munqidz. Teks-teks itu tidak memberikan gambaran yang jelas tentang berlangsungnya sebuah perayaan maulid. Syair-syair yang dibacakan juga bukan merupakan pujian kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), tetapi lebih berupa pujian kepada Nuruddin. Jika syair-syair itu dibacakan dalam rangka merayakan maulid Nabi, mengapa Nuruddin yang menjadi obyek utama pujiannya?

Hal ini berbeda dengan maulid yang diadakan oleh Syaikh Umar yang di sana para penyair bersenandung memuji Nabi dan ketika itu juga dibacakan kitab sirah yang ditulis oleh Syaikh Umar. Begitu pula maulid yang diadakan oleh Muzaffaruddin dimana kita menemukan kisah Ibn Dihyah yang menuliskan sebuah kitab berkenaan dengan kelahiran Nabi pada kesempatan tersebut. Tambah lagi momen-momen pemberian syair untuk Nuruddin itu disebut dengan kata ‘malam maulid’, berbeda dengan pelaksanaan maulid Fatimiyah yang tampaknya diadakan pada siang hari, begitu pula dengan maulid yang diadakan oleh Syaikh Umar.

Pembagian hadiah yang diberikan untuk para guru di Madrasah Hallawiyah yang antara lain bertepatan dengan waktu maulid juga tidak serta merta mengisyaratkan adanya sebuah bentuk perayaan maulid. Karena pembagian hadiah bukan hanya diberikan pada waktu-waktu keagamaan yang mengandung aktivitas ritual, tetapi juga waktu-waktu lainnya seperti musim dingin dan musim semi.

Kalau begitu apa makna malam maulid ini dan apa kaitannya dengan perayaan maulid? Kemungkinan malam maulid yang berkaitan dengan Nuruddin ini belum berlangsung dalam bentuk perayaan khusus. Mungkin pada masa itu ‘malam maulid’ sudah dikenal luas dan ditandai oleh masyarakat Muslim Sunni sebagai momen yang perlu dikenang. Pada kesempatan itu amal soleh, seperti membagikan hadiah kepada para guru madrasah, ditingkatkan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Kita mungkin bisa menyebutnya sebagai sebuah ‘peringatan’ (remembrance), sebuah proto-maulid, bukan sebuah perayaan atau festival seperti yang berkembang kemudian. Argumentasi ini lebih sejalan dengan penjelasan Abu Syamah bahwa yang melaksanakan ‘perayaan’ maulid pertama kali adalah Syaikh Umar al-Malla’, yang merupakan sebuah pengembangan baru dari sekedar sebuah ‘peringatan’.

Adanya ‘peringatan’ maulid ini tampaknya lebih berkaitan dengan maulid di Makkah seperti yang diceritakan oleh Ibn Jubair dibandingkan dengan maulid Fatimiyah. Nuruddin berusaha menguatkan ajaran Ahlu Sunnah dalam pemerintahannya dan membatasi praktek-praktek Syiah yang juga terdapat pada masyarakat yang ia pimpin. Jika ia mengambil peringatan maulid dari Fatimiyah, tentu hal itu akan diketahui oleh tokoh-tokoh Muslim pada masa itu, baik Syiah maupun Sunni. Kalangan Syiah mungkin akan mengungkapnya dan kalangan Sunni perlu mempertahankannya. Tapi kita tidak menemukan adanya polemik semacam ini pada masa itu.

Saat membicarakan tentang maulid Fatimiyah, Kaptein (1993: 28-30) sendiri menolak kemungkinan maulid tersebut menerima pengaruh dari perayaan milad Yesus (natal) di kalangan orang-orang Koptik di Mesir. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik pada keduanya: maulid Fatimiyah tidak semenonjol dan sepopuler natal (Coptic Christmas) dan ia tidak diadakan pada malam hari seperti natal. Namun, ketika membahas maulid di dunia Sunni, Kaptein dengan cepat menyatakan adanya kesinambungan, tanpa mempertimbangkan adanya perbedaan karakteristik keduanya. Karena itu lebih aman untuk menerima kesimpulan di dalam Encyclopaedia of Islam (1991: 895) yang menyebutkan bahwa “the memory of these Fatimid mawalid seems to have almost completely disappeared before the festivals in which Muslim authors unanimously find the origin of the mawlid.”

Dengan demikian dapat dikatakan perayaan maulid di dunia Sunni baru muncul pada awal abad ke-12, yaitu pada masa pemerintahan Nuruddin Mahmud Zanki (w. 1174). Perayaan maulid ini pada awalnya terbatas di kota Mosul, tetapi perlahan-lahan menyebar dan tampil secara besar-besaran di Irbil beberapa waktu kemudian. Perayaan maulid yang berlaku di Mosul dan irbil ini kemudian menyebar dari sebagian wilayah Irak ke Mesir dan kemudian ke seluruh dunia Islam seperti yang kita ketahui sekarang ini.

Abu Syamah sendiri menceritakan tentang perayaan maulid di dalam bukunya yang membahas tentang bid’ah, yaitu Kitab al-Ba’its. Ia menyebut perayaan maulid sebagai sebuah bid’ah yang berlaku di jamannya. Namun, dalam bukunya itu ia membagi bid’ah kepada bid’ah yang baik dan yang buruk sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i. Abu Syamah memasukkan maulid ke dalam kumpulan bid’ah yang baik, sebagaimana pembuatan mimbar di masjid serta pembangunan madrasah.

Lebih dari satu setengah abad sejak maulid yang diadakan di Irbil, Ibn Kathir (w. 1373) menulis tentang hal itu di dalam kitabnya Al-Bidayah wa-l-Nihayah jilid 17 (1998: 204-6). Ia menyebutkannya saat menceritakan tentang wafatnya pemimpin Irbil, Muzaffaruddin Kukburi. Sebagian besar penjelasannya sama dengan yang ada pada tulisan Ibn Khallikan, tetapi di dalamnya juga ada beberapa informasi lainnya. Ia menyebutkan keutamaan-keutamaan Muzaffaruddin, jihadnya yang menonjol, serta sedekahnya yang sangat banyak, walaupun baju yang biasa dikenakannya berbahan kasar dan harganya tak sampai 5 dirham. Dalam tulisannya itu Ibn Katsir sama sekali tidak menyebutkan maulid yang diadakan itu bersumber dari Fatimiyah dan ia tidak pula mencelanya atau menyebutnya sebagai perbuatan bid’ah, walaupun salah satu gurunya, Ibn Taimiyah (w. 1328), mengkritik maulid sebagai perbuatan bid’ah. Ibn Katsir bahkan memuji Muzaffaruddin dan mendoakannya dengan sebutan rahimahullah Ta’ala. Ibn Katsir juga menyebutkan tentang perayaan maulid oleh Syaikh Umar al-Malla’ dalam kitab Bidayah jilid 16 (1998: 446-7) dan menyebut tokoh zahid itu dengan sebutan al-Shaikh al-Shalih al-Abid.

Terlepas dari itu semua, perayaan maulid merupakan sesuatu yang tidak ada pada jaman Nabi, sahabat, ataupun para imam madzhab. Ia baru muncul belakangan. Maulid bukanlah sesuatu yang mesti dilaksanakan setiap tahun, apalagi setiap bulan atau setiap minggu, dan ia bukan pula ukuran kecintaan seseorang kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Mengerjakannya tidak membuat pelakunya lebih mulia dan lebih terbukti cintanya pada Nabi dibandingkan mereka yang tidak mengerjakannya. Jika ia merupakan ukuran cinta pada Nabi dan menjadikan seseorang lebih mulia, maka bagaimana kita hendak menilai kecintaan dan kemuliaan generasi terdahulu sementara mereka tidak pernah mengadakan maulid? Sebaliknya, yang tidak menyetujui maulid juga perlu lebih bijak dan tidak terlalu mudah membid’ahkan atau menyesatkan mereka yang menyelenggarakan maulid
sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran sang Nabi. Karena yang memulai perayaan itu adalah orang-orang soleh serta pejuang yang telah diakui, dan mereka tidak dikecam oleh   para ulama di jamannya maupun setelahnya. Wallahu a’lam.

Kuala Lumpur, 19 Rabiul Awwal 1435/ 21 Januari 2014
Sumber: di sini 

Mitos Santa Claus Dan Pelestarian Penjajahan

Posted by admin - 15 Desember 2014 - Aqidah
3

Oleh: Dr. Adian Husaini

Jan Bremmer,  dalam buku Interpretations of Greek Mythology, (London: Routledge, 1988), mencatat, bahwa meskipun masyarakat Barat sudah tersekulerkan dan membuang hal-hal yang supranatural, namun mereka tetap memelihara cerita-cerita tertentu sebagai model perilaku dan ekspresi ideal negara. Meskipun berbeda, Masyarakat Barat memiliki banyak kesamaan dengan masyarakat Yunani. Sebagaimana masyarakat Yunani, mitos-mitos juga banyak menarik bagi masyarakat Barat. (Western secularised societies have nearly abolished the supernatural, but they usually still have their favorite (historical) tales that serve as models of behavior or are the expression of the countrys ideals. It is their relevance to Greek society that makes the mythoi still fascinating today, for however different the Greeks were from us, they were also very much the same).

Apakah yang dimaksud dengan Greek Mythology? David Bellingham, dalam buku An Introduction to Greek Mythology, (London: Quintet Publishing Ltd, 1989), membuat dekripsi sederhana tentang hal ini. Kata mitos (myth) berasal dari kata Yunani kuno muthos yang asalnya berarti ucapan, dan kemudian berarti cerita oral atau tertulis. Sedangkan Legenda (legend) biasanya terkait dengan peristiwa nyata, tetapi mengandung unsur-unsur yang terkait dengan mitos.  Salah satu legenda terkenal dalam tradisi Yunani adalah cerita tentang Perang Troya yang menceritakan kepahlawanan Achiles dan Agamemnon.

Pengaruh mitos-mitos Yunani terhadap masyarakat Barat dapat dilihat dari banyaknya istilah atau nama-nama yang diambil dari nama-nama dewa dalam mitologi Yunani, seperti Titans, Eros, Aether, Uranus, Electra, Hera, Apollo, Mars, Hermes. Apollo, yang dijadikan nama pesawat pertama Amerika Serikat ke bulan, adalah dipuja sebagai dewa rasional, dan diasosiasikan dengan budaya dan musik. Ia digambarkan sebagai pria tampan yang memiliki banyak affair dengan laki-laki maupun wanita. Menurut mitologi Yunani, Dewa Apollo dilahirkan di pulau Delos, yang hingga kini masih disucikan. Dalam perjalanannya ke Delphi, ia membunuh seekor ular besar yang disebut dengan Python. Hingga kini, di Delphi masih terdapat sisa-sisa kuil yang disebut sebagai kuil Dewa Apollo.

Hermes, anak Zeus, juga digambarkan memiliki banyak affair, seperti Apollo. Ia pun dikenal sebagai Dewa para pencuri. Ketika ia tumbuh besar, Zeus menjadikannya sebagai utusan para dewa. Hanya Hermes yang memiliki izin bebas lewat antara Gunung Olympus, dunia, dan underworld. Dari nama Hermes kemudian diambil istilah hermeneutika. Cerita-cerita dalam mitologi Yunani memang dipenuhi dengan unsur seksual dan perselingkuhan, baik diantara para dewa maupun antara dewa dengan manusia.

Mitos-mitos itu hidup di tengah masyarakat Yunani, meskipun sebagian mereka juga mengembangkan pemikiran tentang filsafat dan ilmu pengetahuan alam. Di masa modern, Barat pun mengembangkan mitos-mitos yang mirip dengan mitologi Yunani. Cerita tentang Superman dan Wonderwoman, misalnya, mirip  dengan cerita dalam mitologi Yunani. Wonderwomen yang diperkenalkan oleh Charles Moulton, identik dengan cerita Diana dalam mitologi Yunani. Superman, yang tidak dapat dilemahkan kecuali dengan Kryptonite Hijau, mirip dengan kehebatan Achilles yang tidak dapat dilukai kecuali pada tumitnya.

Bisa dibandingkan, bagaimana  produktifnya masyarakat Yunani dalam memproduksi mitos-mitos dengan masyarakat Barat dalam memproduksi berbagai mitos. Bisa disimak, bagaimana pesat dan berpengaruhnya industri film di Barat, yang pekerjaannya juga banyak memproduksi mitos-mitos dan legenda, yang ternyata begitu disukai masyarakat Barat. Film-film yang menjual mitos dan legenda,   semisal Ghost, Rambo, Robin Hood, Batman, Superman, Spiderman, dan sebagainya. Film Troy yang bercerita tentang legenda kepahlawanan Achiles dan Agammemnon, di masa Yunani kuno, laris manis diserbu penonton di gedung-gedung bioskop Kuala Lumpur. Penonton harus rela antri untuk dapat menikmati film yang dibintangi oleh Brad Pitt, Orlando Bloom, dan Eric Bana ini. Film Spiderman 2, juga bukan main hebatnya dalam menyerap penonton. Sampai-sampai penonton dilarang membawa handphone saat masuk ke dalam gedung bioskop. Sementara, sampai 23 Juli 2004, film Spiderman 2 telah maraup keuntungan 15 juta USD (sekitar Rp 140 milyar), masih dibawah perolehan film legenda Catwoman yang maraup 16,7 juta USD. Film King Arthur, yang baru diedar bebarapa saat, sampai 23 Juli 2004, sudah maraup keuntungan 3,04 juta USD. Film The Passion of The Christ yang begitu kontroversial, berhasil meraup keuntungan 19,2 juta USD, sampai bulan Februari 2004. Film ini, meskipun didasarkan pada cerita Perjanjian Baru, tetapi juga dibumbui dengan berbagai cerita yang sulit diverifikasi kebenarannya. Film trilogi The Lord of the Rings, mampu maraup keuntungan lebih dari 2000 juta USD.

Santa Claus

Dalam tradisi masyarakat Barat, misalnya, juga sangat terkenal legenda dan mitos tentang Santa Claus dan Suartepit, dalam kaitan dengan Perayaan Natal atau kelahiran Jesus (Natus, natalis, dalam bahasa Latin berarti kelahiran).    Cerita ini sama sekali tidak ada kaitan dengan agama Kristen. Tetapi, toh, tetap mendominasi suasana Natal di Barat dan berbagai penjuru dunia lainnya. Setiap menjelang dan selama Natal, hotel-hotel, mal-mal memasang patung dan gambar Santa Claus, yang biasanya digambarkan dengan pakaian merah dan topi merah berjambul. Bahkan, tidak jarang, ramai orang ikut-ikutan berpakaian ala Santa Claus.

Cerita tentang Santa Claus sendiri sebenarnya tidak jelas benar. Konon, ia berasal dari seorang bernama Nicholas, dilahirkan di kota Lycia,  pelabuhan kuno di Patara (Asia Kecil). Nicholas digambarkan sebagai uskup yang ramah, suka menolong anak dan orang miskin. Namun, legenda Santo Nicholas juga bercampur dengan legenda lain tentang ‘pemberi hadiah’ dari kalangan kaum pagan yang memiliki kekuatan sihir yang menghukum anak-anak nakal dan memberi hadiah kepada anak-anak yang baik. Dia biasa menaiki kereta terbang yang ditarik rusa kutub. Namun, ada juga legenda tentang Sinterklaas yang menggambarkan orang tua berjanggut putih panjang berpakaian uskup menaiki kuda yang bisa terbang ke atap rumah, dibantu budaknya Swarte Piet.

Sinterklaas datang tanggal 5 Desember malam, ke rumah-rumah untuk memberi hadiah bagi anak-anak yang baik melalui cerobong asap. Gambaran Sinter Klaas, yang berkulit putih dan pemurah kepada anak-anak, bisa dijadikan sebagai bahan propaganda tentang kebaikan orang kulit putih. Sebaliknya, budak hitam Swarte Piet, pembantunya, budak berkulit hitam, digambarkan bersifat kejam, dan suka mencambuk anak-anak nakal. Karena sejarah kehidupan Nicholas tidak jelas, Paus Paulus VI menanggalkan perayaan Santo Nicholas dari kalender resmi gereja Roma Katolik pada tahun 1969.  Ada juga Santa Claus versi Amerika, yang berasal dari Kutub Utara. Santa Claus di AS adalah ciptaan dari Public Relation Manager untuk mempromosikan produk minuman tertentu. Karena orang Amerika tidak mau disebut rasis, maka Santa Claus di AS tidak ditemani oleh pembantunya yang berkulit hitam.

Banyak kalangan Kristen yang prihatin dengan kondisi Perayaan Natal yang lebih menonjolkan legenda dan mitos tentang Santa Claus, ketimbang sosok Jesus. Dalam situs Kristen (http://www.yabina.org/TanyaJawab/11/des_11.htm) ada pembaca yang bertanya, Kalau kita sudah tahu perayaan Natal itu banyak legenda/mitosnya apakah tidak sebaiknya kita meniadakan perayaan Natal itu?. Dijawab, Benar harus diakui bahwa perayaan natal sudah banyak diisi legenda/mitos yang tidak ada hubungannya dengan Injil, apalagi perayaan natal sudah menjadi bisnis besar dan dikomersialisasikan oleh dunia sekuler sebagai saat belanja diakhir tahun, namun sekalipun banyak legenda/mitos yang dimasukkan dalam rangkaian perayaan natal tentu yang harus kita demitologisasikan adalah bungkus legenda/mitos itu dan bukan perayaan Natal itu sendiri yang sudah ada sebelum masuknya legenda/mitos Santa Claus itu. Soalnya perayaan Natal yang bersumber peristiwa di Bethlehem itu sudah dikenang pada hari Epifani tanggal 6 Januari dalam gereja yang kemudian ditahun 325 dipindah ke tanggal 25 Desember untuk menggantikan Hari Dewa Matahari. Natal bukan Hari Matahari karena sejak awal dalam perayaan Natal tidak ada unsur penyembahan Dewa Matahari itu, apalagi tidak ada perayaan minggu Saturnalia seperti yang dilakukan orang Romawi dulu ke dalam rangkaian perayaan Natal.

Memang, sejatinya, bukan hanya figur Santa Claus dan Suartepit yang bersifat mitos. Perayaan Natal pada 25 Desember pun sarat dengan mitos-mitos dan pengaruh paganisme, sehingga terus memunculkan perdebatan panjang di kalangan kaum Kristen. Remi Silado, seorang budayawan Kristen, menulis sebuah kolom di majalah Gatra, (27 Desember 2003). Judulnya Gatal di Natal. Ia menulis antara lain: (1) Sebab, memang tradisi pesta ceria Natal, yang sekarang gandrung dinyanyikan bahasa kereseh-reseh Inggris, belum lagi terlembaga. Sapaan Natal, “Merry Christmas” –dari bahasa Inggris Lama, Christes Maesse, artinya “misa Kristus”– baru terlembaga pada abad ke-16, dan perayaannya bukan pada 25 Desember, melainkan 6 Januari. (2) Dengan gambaran ini, keramaian Natal sebagai perhitungan tahun Masehi memang berkaitan dengan leluri Barat, istiadat kafir, atau tradisi pagan, yang tidak berhubungan dengan Yesus sendiri sebagai sosok historis-antropologis bangsa Semit, lahir dari garis Ibrahim dan Daud, yang merupakan bangsa tangan pertama yang mengenal monoteisme absolut lewat Yehwah.(3) Saking gempitanya pesta Natal itu, sebagaimana yang tampak saat ini, karuan nilai-nilai rohaninya tergeser dan kemudian yang menonjol adalah kecenderungan-kecenderungan duniawinya semata: antara lain di Manado orang mengatakan “makang riki puru polote en minung riki mabo” (makan sampai pecah perut dan minum sampai mabuk). (4) Demikianlah, soal Natal sekali lagi merupakan gambaran pengaruh Barat, dan persisnya Barat yang kafir, yang dirayakan dengan keliru.

Kritikan tajam terhadap budaya Natal dari kalangan Kristen itu sebenarnya sudah banyak dilakukan. Seorang pendeta bernama Budi Asali M.Div., menulis artikel panjang tentang Natal berjudul Pro-Kontra Perayaan Natal, dan disebarluaskan melalui jaringan internet. Pendeta ini membuka tulisannya dengan ungkapan: Akhir-akhir ini makin banyak orang-orang kristen yang menentang perayaan Natal, dan mereka menentang dengan cara yang sangat fanatik dan keras, dan menyerang orang-orang kristen yang merayakan Natal. Kalau ini dibiarkan, maka Natal bisa berkurang kesemarakannya, dan menurut saya itu akan sangat merugikan kekristenan. Karena itu mari kita membahas persoalan ini, supaya bisa memberi jawaban kepada orang-orang yang anti Natal.

Jelas, banyak kalangan Kristen yang anti-Natal, meskipun mereka tenggelam oleh gegap gempita peringatan Natal, yang begitu gemerlap. Di Malaysia, 27 Desember 2003, ada perayaan Natal Bersama di Lapangan Olahraga Kinabalu, Sabah, yang dihadiri ratusan ribu orang. Selain ada pawai lampion, nyanyi-nyanyi lagu-lagu Natal, ada juga acara peragaan busana batik, yang dilakukan oleh beberapa peserta lomba ratu kecantikan dari berbagai negara. Acara ini disiarkan langsung oleh TV1 Malaysia. Seperti halnya di berbagai belahan dunia lainnya, sosok Santaklaus sudah jauh lebih popular daripada sosok Jesus. Pohon cemara yang sulit dicari di Palestina, sudah menjadi simbol Natal.

Sebenarnya, jika ditelusuri, kisah Natal itu sendiri sangat menarik. Bagaimana satu tradisi kafir (pagan) di wilayah Romawi kemudian diadopsi menjadi tradisi keagamaan Kristen. Banyak literatur menyebutkan, bahwa tanggal 25 Desember memang merupakan hari peringatan Dewa Matahari yang di Romawi dikenal sebagai Sol Invictus. Setelah Constantine mengeluarkan the Edict of Milan, pada 313 M, maka ia kemudian mengeluarkan sejumlah peraturan keagamaan yang mengadopsi tradisi pagan. Pada 321, ia memerintahkan pengadilan libur pada hari Hari Matahari (sun-day), yang dikatakan sebagai hari mulia bagi matahari. Sebelumnya, kaum Kristen  sama dengan Yahudi  menjadikan hari Sabbath sebagai hari suci. Maka, sesuai peraturan Konstantine, hari suci itu diubah, menjadi Sunday. Sampai abad ke-4 M, kelahiran Jesus diperingati pada 6 Januari, yang hingga kini masih dipegang oleh kalangan Kristen Ortodoks tertentu. Namun, kemudian, peringatan Hari Kelahiran Jesus diubah menjadi 25 Desember.

Ada sebagian kalangan Kristen yang berargumen, bahwa tanggal 25 Desember itu diambil supaya perayaan Natal dapat menyaingi perayaan kafir tersebut. Tetapi, apa yang terjadi sekarang, tampaknya seperti yang dikatakan oleh Remi Silado, bahwa perayaan Natal sudah didominasi oleh tradisi perayaan kaum kafir. Maka, muncullah, di kalangan Kristen, gerakan untuk menentang perayaan Natal pada 25 Desember. Apalagi ada yang kemudian melihat, penciptaan tokoh Sinterklass, sebenarnya merupakan bagian dari rekayasa Barat untuk melanggengkan hegemoni imperialistiknya, yakni ingin menciptakan image, bahwa Barat adalah dermawan, baik hati, suka bagi-bagi hadiah, seperti Sinterklas itu. Begitulah bagian dari tradisi Kristen Barat. Mencermati perilaku masyarakat Barat itu tampaknya pernyataan Jan Bremmer perlu digarisbawahi: It is their relevance to Greek society that makes the mythoi still fascinating today, for however different the Greeks were from us, they were also very much the same.

Bagaimana sikap Muslim? Dalam al-Quran surat Maryam disebutkan bahwa: Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah itu mempunyai anak. Sesungguhnya (kalian yang menuduh Allah punya anak itu) telah melakukan perbuatan yang sangat mungkar (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam al-Quran: Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasannya mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah itu mempunyai anak. (QS 19:88-91).
Dalam buku Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, (hlm. 36-37), ditulis apa yang disebut Syahadat Nicea:  Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada.

Sedangkan dalam buku Tanya Jawab Syahadat Iman Katolik disebutan juga teks syahadat Katolik: Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta hal-hal yang kelihatan dan tak kelihatan, Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Sang Sabda dari Allah, Terang dari Terang, Hidup dari Hidup, Putra Allah yang Tunggal Yang pertama lahir dari semua ciptaan, Dilahirkan dari Bapa, Sebelum segala abad …  (Alex I. Suwandi PR, Tanya Jawab Syahadat Iman Katolik, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 9-10). (Medan, 13 Desember 2014, kisah tentang Mitologi Barat dikutip dari Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, (Jakarta: GIP, 2005).

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Nasihat Kepada Penguasa Negeri

Posted by admin - 22 November 2013 - Aqidah
0
Ilustrasi

Pertama, hendaklah anda selalu berniat baik dan menjaga kemurnian hati nurani mengenai perkara-perkara antara diri Anda dan Allah SWT, agar Dia menjadi saksi bahwa anda benar-benar mencintai kebajikan, bertekad memenangkan kebenaran, dan meratakan keadilan dan persamaan hak sebatas kesanggupan yang ada pada anda. Kedua, hendaknya anda selalu memperlakukan rakyat dengan penuh kasih saying. Amatilah baik-baik keadaan mereka, seperti seorang ayah yang dengan penuh kasih saying mengamati anak-anaknya yang masih kecil.

‘Allah.. Allah, perhatikanlah kewajiban anda dalam membela orang yang teraniaya (mazhlum) dan bertindak keras terhadap penganiaya (zhalim). Jagalah baik-baik prinsip persamaan dalam masalah kebenaran antara antara pihak yang lemah dan yang kuat. Janganlah anda terlalu boros dan jangan pula terlalu kikir dalam menginfakkan harta. Awasilah baik-baik orang-orang yang berniat jahat, dan indahkanlah pikiran dan perasaan akhlul khair (orang-orang baik dan mulia).

“Amatilah dengan baik kaum pendatang yang berada di kota. Perlakukanlah mereka itu dengan ramah dan tasamuh (toleransi). Periksalah baik-baik – khususnya oleh anda sendiri – setiap orang yang bertanggung jawab mengenai urusan kota. Jika diantara mereka itu ada yang anda lihat berpikir picik, jauhkanlah dia dari kedudukannya. Demikian juga yang harus anda lakukan terhadap orang yang tidak takut kepada Allah, kendati dia seorang yang cerdas. Sebab, bahaya yang akan ditimbulkan oleh dua orang seperti itu, terhadap anda dan kaum muslim, akan lebih besar daripada dendamnya. Orang seperti itu tidak layak mengatur urusan kaum Muslim. Hanya orang-orang yang cerdas dan takut kepada Allah sajalah yang layak beroleh kesempatan leluasa untuk bekerja mengurus kepentingan kaum Muslim.

“Tunaikanlah shalat pada awal waktunya. Jagalah baik-baik thaharah dan berzikir (mengingat Allah) dalam segala keadaan, terutama di pagi hari dan di waktu maghrib.

“Janganlah anda meninggalkan jamaah, meski di dalam kota terdapat berbagai kemungkaran yang dilakukan orang secara terang-terangan, seperti perzinaan dan mabuk-mabukkan (khamr). Telusuri saja jejak-jejaknya, kemudian tindaklah mereka.”

Sumber:

Alhaddad, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi. 2002. Pemantap Hati: Mutiara Kata dan Nasihat. Bandung, Pustaka Hidayah.

Ilmu dan Amal: Yang Penting Adalah Ilmu dan Amal, Bukan Menimbun Kitab-Kitab

Posted by admin - 14 November 2013 - Aqidah
0
Ilmu

Pada sabtu, 13 Jumadil Awal 1129 H, ketika Imam Abdullah bin Alawi Alhaddad ra. keluar untuk menunaikan shalat dzuhur, beliau ra. mengingatkan saya (Al-Hasawi) tentang kitab-kitabnya yang tersimpan di dalam lemari. Beliau meminta agar saya melaporkan keadaannya. Di antara kitab-kitab beliau itu ialah Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Saya katakan kepada beliau ra., “Saya ingin mempunyai dua kitab tersebut untuk saya tekuni.” beliau ra. memperingatkan saya, “Tak ada gunanya Anda mengumpulkan kitab-kitab. Curahkanlah perhatian Anda kepada ilmu dan amal, tak usah mengumpulkan kitab-kitab. Pahamilah, bahwa kata-kata yang sedikit tidak memerlukan pembicaraan panjang lebar. Apa guna mempunyai banyak kitab kalau hanya seperti keledai yang membawa muatan kitab-kitab tebal? Biarlah anda mempunyai satu tekad saja.

“Dalam menuntut ilmu, janganlah hati anda bercabang-cabang. Orang-orang mengikuti ahli tasawuf hanya untuk tujuan yang satu, tidak untuk mengikuti cabang-cabangnya. Jika tidak demikian, maka orang tidak peduli akan dibinasakan Allah di lembah mana pun, asalkan hatinya tetap mengikuti cabang-cabang (ilmu tersebut). Bahkan shalatnyapun mengikuti bermacam-macam cabang ilmu (fiqh). Malah sampai pula dalam hal memilih perempuan, pakaian dan sebagainya.” Lebih jauh beliau ra. berkata, “Satu kitab saja dari kitab Al-Ihya (Ihya Ulumuddin—Imam Al-Ghazali) cukup, lebih daripada kitab-kitab yang lain. Yang dituntut dari ilmu adalah pengamalannya. Jika tidak demikian, lantas apa gunanya tumpukan kitab? Betapa banyak orang yang mempunyai tumpukan kitab, tetapi itu tidak mendatangkan manfaat apapun baginya. Siapapun tidak perlu lagi memberitahu kami tentang kitab-kitab, sebab kitab yang Anda baca sudah pernah kami baca satu kali, dua kali, atau bahkan lebih. Sejak usia 15 tahun hingga sekarang kami masih terus mengkaji kitab-kitab.” Kemudian beliau ra. mendendangkan sebuah syair:

Betapa aneh orang menghadiahkan kurma ke Khaibar[1]

Dan kepada Zaid mengajarkan ilmu fara’idh[2]

Beliau ra. berkata, “Segala sesuatu mempunyai hukumnya sendiri. Soal-soal lahir dan soal-soal yang bersifat jasmani (fisik) ada hukumnya, serta soal batin dan soal-soal arwah (yang dimaksud adalah soal-soal spiritual pun ada hukumnya sendiri. Apalah arti orang yang mengatakan bahwa makan itu tidak perlu, demikian juga soal-soal lain yang berkaitan dengan badan. Padahal dia sendiri—katanya—tidak dibolehkan meninggalkan makanan. Begitu juga beberapa orang sufi yang berkata, ‘Saya beramal tidak untuk mendapat surga, tidak karena takut neraka, dan tidak pula untuk mendapatkan bidadari dan rumah indah di surga’, tetapi hatinya ingin menikahi perempuan dan menikmati berbagai kelezatan hidup. Dari semuanya itu jelaslah, bahwa yang dituntut alam ruhani bukanlah yang dituntut alam jasmani. ‘Apakah Anda dapat memahami takdir demikian itu?” saya (al-Hasawi) menyahut, “Hampir memahami, Insya Allah.”

Kemudian beliau ra. menuturkan adanya orang yang bertekad meninggalkan makanan sama sekali selama 40 hari. Setelah kelaparan, tanpa sadar dia pergi ke pasar. Di sana dia mendengar suara di depan kedai, “Aku beli kue manis itu sekian…” Selain itu, dia juga menyaksikan berbagai makanan yang serba menarik selera. Dia lalu berkata di dalam hati, “Puasaku yang berat ini mengingini makanan-makanan yang membangkitkan selera. Kalau begitu, aku hentikan saja puasaku yang telah sekian hari kujalani. “Beberapa saat kemudian dia dapat memperoleh yang diingini. Datanglah orang lain kepadanya sambil membawa makanan yang diingininya, lalu bertanya, “Siapakah diantara kita berdua yang timbangan kebajikannya lebih berat? Yang bertekad keras menjalani puasa 40 hari, tetapi tidak tahan dirongrong kelaparan, ataukah orang yang menikmati kelezatan-kelezatan makanan halal? Terimalah ini. Hentikan puasa 40 hari, setapak demi setapak, jangan sekaligus.”

Beliau ra. melanjutkan, “Kisah di atas, merupakan perbandingan antara ruhani dan jasmani. Hendaklah Anda paham dan mengerti.”

Di tengah perjalanan ke Subair beliau ra. berbicara mengenai keadaan kaum fakir miskin dalam hal menolak pemberian dan menerimanya. Beliau ra. berkata, “Diperlukan beberapa syarat bagi seseorang agar penolakannya itu dipandang baik.” Saya (al-Hasawi) bertanya, “Apakah persyaratan untuk menolak pemberian sama dengan persyaratan bagi orang yang menganggap harta itu sama dengan batu?” Beliau menjawab, “Ya.” Saya katakan, “Itu berat sekali dan merupakan masalah yang aneh. “ Beliau ra. menjelaskan, “Semua masalah kaum shalihin (para wali) memang serba aneh. Sebab mereka itu dan semua masalah mereka terkait erat dengan kehidupan akhirat. Dengan demikian, maka apa saja tentang masalah mereka sesungguhnya, tidaklah aneh. Camkanlah baik-baik apa yang telah kami katakan mengenai jalan hidupnya orang shalih (wali). Itu akan membuat anda memahami berbagai masalah yang belum menjadi perhatian anda. Selain itu, juga akan dapat memecahkan berbagai kesulitan, dan menjelaskan kepada Anda berbagai hal yang hendak Anda tanyakan.”

Sumber:

Alhaddad, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi. 2002. Pemantap Hati: Mutiara Kata dan Nasihat. Bandung, Pustaka Hidayah.


[1] Nama sebuah kawasan yang banyak kebun kurmanya.

[2] Bagian ilmu fiqh yang menetapkan pembagian harta waris kepada yang berhak.

Upaya Memudahkan Penghidupan

Posted by admin - 11 November 2013 - Aqidah
0

Kepada seseorang yang oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad RA dipandang sangat memperhatikan penghidupan sehari-hari, beliau menasehatinya sebagai berikut, “Bacalah kitab Al-Faraj Ba’da Asy-Syiddah, dan bacalah terus menerus firman Allah SWT, “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan akan memberikan rejeki kepadanya tanpa disangka-sangka (dari mana datangnya). Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sungguhlah Allah telah menetapkan ketentuan bagi segala sesuatu. (QS Ath-Thalaq: 2 – 3), tiap usai shalat, walaupun hanya tiga kali. Ayat tersebut itulah yang menjadi dasar penulisan kitab tersebut.”

Kemudian beliau RA melanjutkan, “Semua urusan yang Anda lakukan hendaklah didasarkan pada sangkaan baik terhadap Allah agar anda merasa lega di dada. Sebab, tiap urusan akan menjadi mudah bila didasarkan pada sangkaan baik terhadap Allah. Manusia adalah lemah. Memang dia diciptakan Allah dalam keadaan seperti itu. Kisah Nabi Adam AS yang dipaparkan dalam Al-Quran adalah untuk menjelaskan kelemahan anak Adam. Allah SWT menempatkannya di dalam surga, tetapi setelah dia dilarang makan buah dari sebatang pohon, ternyata dia tidak dapat menahan diri.

“Yasin (surat ke-36 di dalam Alqur’an) dan Laa ilaaha ilallah adalah obat bagi segala sesuatu. Jika anda masih sukar dalam menghapal surat itu selengkapnya, baca sajalah hingga ayat ke-9 (… yubshirun). Yasin adalah jantung Alqur’an, dan bagi kaum yang beriman surat tersebut amat besar artinya. Bahkan, jika ada orang yang sakit, tergelincir, dipermalukan, jatuh, tertimpa suatu musibah, atau mengharapkan kasih sayang; kepadanya selalu dikatakan, ‘Engkau harus membaca Yasin untuk mendapat lindungan Ilahi.’ Demikian besar dan pentingnya kedudukan Surat Yasin bagi kaum beriman, dan mereka pun amat memuliakannya. Bahkan, hingga sekarang hal itu terus berlangsung.”

Alhaddad, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi. 2002. Pemantap Hati: Mutiara Kata dan Nasihat. Bandung, Pustaka Hidayah.

Peringatan Agar Jangan Terperdaya Dengan Membanggakan Nasab

Posted by admin - 31 Oktober 2013 - Aqidah
1

Kami sebutkan di sini sebagian yang dikatakan oleh Al-Imam Abdullah Al- Haddad di dalam mengingatkan orang agar tidak tertipu dengan membanggakan nasab, dalam bait-baitnya yang masyhur:

Kemudian, janganlah engkau tertipu membanggakan nasab

Jangan begitu, dan jangan pula merasa puas dengan mengatakan: ayahku begini dan begini

Dalam masalah petunjuk, ikutilah sebaik-baik nabi

Ahmad, yang memberikan petunjuk kepada sunah-sunnahnya

Dalam kitab Al-Fushul Al-Ilmiyah halaman 87, beliau menyebutkan, “Barangsiapa yang mengatakan (berpendapat) atau menyangka bahwa meninggalkan  ketaatan-ketaatan  dan  memperbuat  maksiat-maksiat  tidak merugikan seseorang karena nasabnya yang mulia atau karena kebaikan orang tua- orang tuanya (leluhurnya), berarti ia telah membuat kedustaan terhadap Allah dan menyalahi ijmak kaum muslimin. Namun, Ahlulbait Rasulullah memang memiliki kemuliaan dan Rasulullah saw memberikan perhatian yang lebih terhadap mereka. Beliau banyak berpesan kepada umatnya tentang mereka (tentang Ahlulbaitnya) dan mendorong mereka (umatnya) agar mencintai dan menyayangi Ahlulbaitnya. Itu pula yang Allah perintahkan dalam kitab-Nya dengan firman-Nya:

Yang artinya: “Katakanlah, „Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga(ku)‟ (QS. Asy-Syura: 23)

Karena itu, hendaknya sekalian muslimin agar meyakini (berpegang) dengan kecintaan terhadap mereka dan kasih sayang  terhadap  mereka, dan hendaknya menghormati dan mengagungkan mereka dengan tidak berlebihan dan keterlaluan.

Kemudian, barangsiapa di antara para sayyid itu yang mengikuti perjalanan para pendahulu mereka yang shalih dan meneladani thariqah-thariqah mereka yang diridhai, berarti ia seorang imam yang cahaya-cahayanya patut untuk diambil petunjuk dan perilaku-perilakunya patut untuk diikuti sebagaimana para datuk mereka yang mendaaptkan petunjuk. Sesungguhnya di antara mereka terdapat para imam yang harus didahulukan seperti Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan dan Al-Husain, dua cucu Rasulullah, juga seperti Ja`far Ath- Thayyar dan Hamzah Sayyidusy-Syuhada, juga seperti Abdullah bin ABbas dan ayahnya AL-Abbas, paman Rasulullah saw. Juga seperti Al-Imam Zainal Abidin Ali bin bin Al-Husain, Imam Muhammad Al-Baqir dan putranya Imam Ja`far Ash- Shadiq dan orang-orang seperti mereka dari para pendahulu Ahlulbait.

Adapun orang-orang di antara Ahlulbait yang tidak mengikuti thariqah- thariqah para pendahulu mereka yang suci dan telah dimasuki oleh suatu percampuran (dalam pemikiran maupun perbuatan) karena kebodohan yang menguasai mereka, maka mereka tetap harus dihormati karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah, dan hendaknya orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan nasihat, hendaknya menasihati mereka dan mendorong mereka untuk mengambil apa yang telah diambil oleh para pendahulu mereka yang shalih, baik dalam ilmu, amal shalih, maupun akhlak yang baik dan disukai. Juga memberitahukan kepada mereka bahwa mereka lebih layak untuk itu dan lebih berhak (lebih wajib) untuk melakukannya dibandingkan semua orang yang lain, dan  bahwa  nasab  ini  tak  akan  bermanfaat  dan  tak  akan  meninggikan  derajat mereka jika menyia-nyiakan ketakwaan, lebih mempedulikan dunia, meninggalkan ketaatan, dan mengotori diri dengan kotoran penyimpangan-penyimpangan. Sejumlah penyair telah memahami hal itu, apalagi para imam dan ulama, sehingga sebagian penyair itu mengatakan:

Sungguh, tidaklah seseorang itu melainkan tergantung agamanya

Maka  janganlah  engkau  meninggalkan  ketakwaan  karena  mengandalkan nasab

Sungguh Islam telah meninggikan derajat Salman Al-Farisi

Dan merendahkan Abu Lahab, seorang kafir yang memiliki keturunan mulia.

Kemudian Al-Habib Abdullah Al-Haddad mengatakan: Pembicaraan tentang anak- anak orang shalih sama dengan pembicaraan tentang Ahlulbait, dalam arti orang yang keadaannya seperti keadaan pendahulunya, maka ia juga orang shalih seperti mereka yang patut untuk diagungkan dan diambil berkahnya. Sedangkan orang yang keadaannya jahil dan lalai, maka hendaknya ia dinasihati dan diberi petunjuk kepada kebenaran, dan tetap dihormati sekadarnya karena memandang para pendahulunya  yang  shalih.  Bagaimana  tidak,  sedangkan  Allah  Taala  telah berfirman mengenai mengenai dua orang anak dan tentang dinding rumah, dalam

ayat yang artinya,  “Dan di bawah dinding ada harta simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Dan  telah  sampai  keterangan  kepada  kami  bahwa  yang  dimaksud  orang tuanya itu adalah ayah yang ketujuh dari jalur ibu. Maka ia dapat memelihara anaknya itu dalam urusan dunia, apalagi dalam urusan akhirat. Ketahuilah dan pahamilah hal itu, dan letakkanlah sesuatu pada tempatnya dan berikanlah kepada setiap yang memiliki hak akan haknya. Dan mohonlah pertolongan kepada Allah, niscaya engkau bahagia dan mendapatkan petunjuk. Dan segala sesuatu itu milik Allah. Demikian keterangan dari kitab Al-Fushul Al-`Ilmiyyah.

Habib Ahmad bin Umar bin Zain Bin Semith mengatakan dalam syairnya:

Barang siapa yang memiliki tabiat ayahnya

Tidak cukup baginya berkata: Ayahku begini dan begini Bukanlah pemuda sesungguhnya yang merasa cukup Dan tertipu dengan membanggakan nasab

Ia meninggalkan sebab-sebab untuk mendapatkan keselamatan

Dan menggantikannya dengan kerusakan

Karena mengharapkan harta dan kedudukan

Bahkan itulah dia orang yang terperdaya lagi bodoh Sesungguhnya pemuda yang sebenarnya adalah yang meneladani Al-Musthafa, sebaik-baik nabi

Habib Hamid bin Umar Hamid Ba Alawi setelah menyebutkan sebagian kekhusussan dan keutamaan Ahlulbait, beliau mengatakan, “Dalam hal meyakini mereka, berharap kepada mereka, dan husnuzh-zhan terhadap mereka, janganlah mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh selain mereka (artinya, jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang tidak mencintai mereka). Adapun yang dituntut dari mereka (Ahlulbait) adalah meyakini apa yang terkandung dalam dua ayat Al- Qur’an mengenai istri-istri Nabi sebagai rasa takut dan juga sebagai harapan, yang artinya:

Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia. (QS. Al-Ahzab: 30-31)

Demikianlah sebagian ucapan para tokoh terkemuka Ahlulbait dalam mengingatkan  agar  tidak  tertipu  dengan  membanggakan  nasab.  Pembicaraan tentang masalah ini adalah pembicaraan yang panjang sebagaimana disebutkan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Attas dalam kitab Zhuhur Al-Haqaiq fi Bayan Ath-Tharaiq halaman 205. Demikian pula disebutkan oleh Habib Zain bin Ibrahim Bin Semith dalam kitabnya, Al-Manhaj As-Sawi halaman 590. Barangsiapa yang ingin mendapatkan uraian yang luas, silakan membaca rujukan-rujukan yang telah kami sebutkan.

 

Diterjemahkan oleh Ali Yahya dari sumber:

1. Al Fusul Ilmiyah, hlm.87 Karya Hb. Abdullah  bin Alwi Al Haddad.

2. Kalam Hb. Ahmad  bin Omar bin Smith .

3. Kalam Hb. Hamid bin Omar Hamid.

4. Duhur Al Hagaig Fi Bayan Taroig, Hlm. 205, Karya Hb. Abdillah bin Alwi Alatas.

5. Manhaj Sawi, Hlm. 205 Karya Hb. Zein bin Smith.

 

Kesucian Asal Usul Rasulullah SAW.

Posted by admin - 15 Juli 2013 - Aqidah
4
Rasulullah SAW

Seorang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah SWT. sebagai tuhannya dan kepada Muhammad Rasulullah SAW. sebagai nabinya dan beriman kepada Al-Quran sebagai kitab Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. serta beriman bahwa hari pengadilan akan dilaksanakan kelak, dia akan mengagungkan Rasulullah Muhammad SAW. sebagaimana Allah SWT. mengagungkan di dalam Kitab-Nya:

 

وَإِنَّكَ لعلى خُلُقٍ عَظِيمٍ .

4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam).

 

Dan dia tidak akan mengatakan sesuatu yang sekiranya akan menyakiti Rasulullah SAW., karena hal itu dilarang oleh Allah SWT.:

 

إنَّ الذين يؤذون اللهَ ورسولَه لعنهُمُ اللهُ في الدنيا والآخرة وأعدَّ لهم عذاباً مُهيناً.

57. Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (QS. Al-Ahzab).

 

Makna “menyakiti” di atas mencakup semua jenis hal, perkataan, tindakan yang sekiranya menyakiti Rasulullah SAW., baik di masa hidup beliau maupun setelah wafat beliau, berdasarkan penggunaan bentuk kata kerja mudhari’, dan tanpa adanya suatu pengecualian, dan tak terkecuali siapapun, baik dia seorang muslim maupun non-muslim.

 

Seorang mukmin mengetahui benar jasa Rasulullah SAW. atas dirinya, perjuangan beliau dalam menyampaikan ajaran-ajaran Allah SWT. sehingga sampai kepada kita sekarang ini. Dia akan meghormati, mencintai, bahkan kecintaannya kepada beliau lebih dari kecintaan kepada dirinya, anaknya dan kedua orang tuanya, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah SAW.:

 

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين.

Tidaklah seseorang dari kalian beriman (secara sempurna) sampai dia mencintaiku lebih dari kecintaannya pada anaknya, orangtuanya dan seluruh manusia. (HR. Al-Bukhari).

 

Dan di dalam riwayat lainnya: dari dirinya.

 

Seorang mukmin akan taat mengikuti perintah dan pernyataan Allah serta Rasulullah. Dia akan menghormati dan memuja Rasulullah sesuai dengan haknya. Apakah pengekspresian pujaan atas Rasulullah SAW. suatu yang dilarang di dalam agama? Sama sekali tidak. Ini Ka’ab bin Zuhair bin Abi Sulma memuja Rasulullah di hadapan beliau langsung, yang tengah dikelilingi oleh para Sahabat dari Muhajirin dan Anshar ra., di dalam qashidahnya yang terdiri dari 55 bait yang masyhur yang  memiliki prolog sebagai berikut:

 

بانت سعادُ فقلبي اليوم متبولُ      متــيـَّم إثـرها لم يفدَ مكبـولُ

Dan ini Abbas bin Abdulmuththalib ra., berkata kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah! Saya ingin memberikan pujian kepadamu. Rasulullah menjawab: Katakanlah! Allah mengekalkan gigi-gigimu! (doa). Kemudian Abbas ra. Mengalunkan qashidahnya yang awalnya berbunyi:

 

من قبلها طبتَ في الظلال وفي    مستودع حيث يخصف الورقُ

ثم هبطتَ البلاد لا بشر             أنت ولا مضغة ولا علقُ

Demikian kemudian ulama-ulama umat Islam berlomba menyusun pujian-pujian untuk Rasulullah SAW., Nabi Allah yang terakhir, Penutup para Nabi, Nabi yang Suci yang berasal dari asal-usul yang Allah jaga kesuciannya sejak dari Nabi Adam as.

 

وتَقَلُّبَكَ في السَّـجدين.

219. dan perubahan serta perpindahanmu di antara orang-orang yang sujud. (QS. Asy-Syu’araa).

 

Ibn Abbas ra. Mengatakan, dalam menafsirkan ayat di atas: dari punggung seorang nabi ke punggung seorang nabi lainnya sampai kemudian kau menjadi nabi. (HR. Bazzar dan Thabrani, semua perawinya tsiqat).

 

Dan dari ‘Atha bahwa Nabi Allah (Muhammad) SAW. berpindah-pindah dari satu punggung nabi ke punggung nabi lainnya sampai dilahirkan oleh bunda beliau. (HR. Abu Nu’aim, Dalail An-Nubuwwah).

 

Dari Abu Hurairah ra. Berkata Rasulullah SAW.: Aku diutus berasal dari generasi-generasi terbaik bani Adam, sampai pada generasi di mana aku dilahirkan di dalamnya. (HR. Bukhari).

 

Waatsilah bin Al-Asqa’ berkata, berkata Rasulullah SAW.: Allah SWT memilih dari anak-anaknya Ibrahim Ismail, dan memilih Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih dari Kinanah Quraisy, dan memilih dari Quraisy Bani Hasyim, dan memilihku dari Bani Hasyim. (HR. Muslim dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits shahih).

 

Banyak lagi hadits-hadits yang menyatakan kemuliaan dan kesucian asal-usul Rasulullah SAW dan yang menyatakan bahwa tidak seorang nenek beliau pun yang merupakan wanita yang hina.

 

Dari Abu Hurairah ra. Berkata Rasulullah SAW.: tidak seorang wanitapun  yang melahirkanku merupakan wanita yang hina sejak dari punggung Adam as., dan senantiasa aku berpindah dari generasi ke generasi sampai aku tiba di dua kabilah Arab yang termulia: Hasyim dan Zuhrah. (HR. Ibn ‘Asaakir).

 

Anas ra. Meriwayatkan, berkata Rasulullah SAW.: Aku adalah yang termulia, baik dari nasab ayah, dan juga dari nasab ibu, serta yang termulia dalam jalinan perkawinan, tidak seorangpun dari ayah-ayahku dan ibu-ibuku sejak dari Adam as. yang berasal dari sifah (pernikahan tidak sah), semuanya berasal dari nikah yang sah. (HR. Ibn Mardawaih).

 

Hadits-hadits sejenis diriwayatkan pula oleh Thabrani, Abu Nu’aim, Ibn Sa’ad, Ibn ‘Asaakir, dan lain-lain.

 

Dan jelas sekali dari hadits-hadits di atas dan dari ayat Quran bahwa datuk-datuk dan nenek-nenek Rasulullah SAW. sangat Allah jaga keimanan mereka dan tauhid mereka, karena tidak ada yang lebih hina dan lebih rendah daripada kemusyrikan.

 

Dan karena Allah SWT. tidak pernah membiarkan bumi ini kosong dari orang-orang yang bertauhid kepada-Nya di setiap generasi anak Adam as., maka kita bisa menyimpulkan bahwa di dalam golongan yang selalu bertauhid itulah Rasulullah SAW. dijaga oleh Allah SAW. sampai kepada ayah dan bunda beliau SAW. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdurrazzaq di “Al-Mushannaf” dengan sanad shahih berdasarkan syarat Bukhari rh. dan Muslim rh. Dari Ali bin Abi Thalib ra. Berkata: Senantiasa ada di atas muka bumi tujuh muslim atau lebih, dan seandainya sudah tidak ada, maka niscaya hancur bumi ini dan segala sesuatu di atasnya. Baca juga kitab “Majma’u Az-Zawaid wa Manba’u Al-Fawaid, Al-Haitsami, juz 10 hal. 62.

 

Berkata Ar-Razi rh., sewaktu berbicara tentang makna QS. Asy-Syu’araa ayat 219 di kitabnya “Asraaru-t-Tanziil”: Bahwa beliau (Rasulullah) dipindah-pindahkan cahayanya dari seorang ahli sujud ke ahli sujud lainnya…maka makna ayat bahwa semua orang tua Rasulullah SAW. semua muslimin, sebagaimana hadits SAW.: Sesungguhnya aku dipindahkan dari punggung orang-orang yang suci ke rahim wanita-wanita yang suci, sedangkan ayat menyatakan: Sesungguhnya kaum musyrikin itu najis (kotor), maka kesimpulannya pastilah tidak ada seorangpun dari asal-usul Rasulullah SAW. yang musyrik.

 

Dari ayah beliau, Abdullah, dan ibundanya, Aminah Az-Zuhriyyah, sampai nabi Adam as. terjaga ketauhidannya.

 

Abdullah, ayahanda Rasulullah SAW., putra dari Abdulmuththalib yang Rasulullah banggakan di dalam bait yang diucapkan beliau di salah satu peperangannya:

 

أنا النبيُّ لا كذب          أنا ابن عبد المطلب

Abdullah sewaktu hidupnya sangat menjaga kesuciannya, dan dia terkenal dengan ucapannya:

 

أما الحــــــــــــــرامُ فالممات دُونَهُ     والحِلُّ لا حلَّ فأستبينـَـــــــــــــهُ

فكيف بالأمرِ الذي تبغينَهُ           يحمي الكريمُ عِرضه ودِينَهُ

Artinya:  Adapun hal-hal yang haram maka kematian di hadapannya

Dan yang halal tidaklah halal sampai aku melihat kejelasannya

Bagaimana dengan hal yang kau inginkan?

Seorang yang mulia melindungi kesucian dan agamanya.

 

Dia mengatakan bait syiir tersebut sewaktu seorang wanita menawarkan dirinya kepadanya.

 

Abdullah wafat setelah menikahi Aminah binti Wahb. Dan dalam perjalanannya ke rumah Aminah, sebagaimana di kitab-kitab sejarah, terlihat cahaya yang jelas di wajah Abdullah sehingga beberapa wanita menawarkan dirinya kepadanya untuk menikahinya atau ada yang langsung menghendakinya saat itu juga, sehingga Abdullah melontarkan secara spontan bait-bait di atas. Dan setelah pernikahannya dengan Aminah, lenyap cahaya yang tadi bersinar jelas di wajahnya dan berpindah ke Aminah binti Wahb, berdasarkan penyaksian saudara wanita dari Waraqah  bin Naufal yang mempelajari kitab-kitab suci dan mengikut ajaran nabi Isa as., dan kemudian beriman kepada Rasulullah SAW. sebelum kenabian beliau SAW.

 

Dan Sayyidah Aminah-pun mengandung Rasulullah SAW. dan dia sewaktu mengandungnya seringkali didatangi dan dikabari bahwa dia mengandung manusia termulia dan pemimpin semesta alam, dan memerintahkannya memberi nama Ahmad atau Muhammad dan memerintahkan membaca:

 

أعيذه بالواحد             من شر كل حاسد

وكل خلق زائد             من قائم وقـــــــــــــا عد

عن السبيل حائد          على الفساد جاهد

من نافث أو عاقد         وكل خلق مارد

يأخذ بالمراصد            في طرق الموارد

Artinya:

Aku melindunginya dengan Yang Maha Esa (Allah)                        dari kejahatan setiap pendengki

Dan setiap makhluk lainnya                                                                dari setiap yang berdiri dan yang duduk

Dan dari yang tersesat dari jalan yang lurus                                    yang berusaha melakukan kerusakan

Dari setiap penyihir dan dukun                                                         dari setiap syaithan pembangkang

Yang selalu mengawasi                                                                        di setiap jalan (manusia)

 

Dan juga Sayyidah Aminah senantiasa mengucapkan doa: Aku memohon perlindungan kepada Allah Al-A’laa untuk mencegah mereka darinya (Rasulullah), dan memohon penjauhan dari mereka kepada Pemilik Pertolongan Tertinggi (Allah SWT.) dan di dalam serambi yang tak terlihat, sesungguhnya Tangan (kekuatan) Allah di atas tangan-tangan mereka, dan hijab Allah di hadapan mereka, tidaklah mereka sanggup menimpakan madharat kepadanya tidak dalam keadaan dia terduduk, tidur, berjalan, dan menetap, dari setiap awal malam dan akhir siang.

 

Abdullah, ayahanda Rasulullah SAW. wafat sewaktu beliau di kandungan ibundanya, wafat di Yatsrib (Madinah Munawwarah) sewaktu dalam perjalanan dagang menuju Gaza.

 

Adapun kisah kelahiran beliau SAW. sangatlah makruf. Dimana ibundanya melihat cahaya yang keluar sewaktu melahirkan, dan melihat istana-istana di Bushra Syam, dan bagaimana bintang-bintang mendekat ke bumi seolah akan jatuh menimpanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Umm Utsman bin Abi-l’Aash ra.

 

Baik. Sekarang bagaimana tentang Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rh. di dalam Shahihnya, dari riwayat Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas ra. bahwa seseorang berkata: Wahai Rasulullah, dimana ayahku? (Rasulullah) berkata: Di neraka. Sewaktu orang tersebut membalikkan badanya, Rasul memanggilnya dan berkata: Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.

 

Berkata ulama tentang hadits tersebut, di antaranya Imam Suyuthi, bahwa hadits tersebut bukan merupakan yang muttafaq alaihi, dan berbeda dengan riwayat Ma’mar dari Tsabit yang tidak menyebutkan: Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka. Akan tetapi terusan hadits: Apabila kau melewati kuburan seorang kafir, kabarkan dia sebagai penghuni neraka. Dan lafaz riwayat Ma’mar ini tidak ada dilalah di dalamnya yang berkenaan dengan ayah atau bunda Rasulullah.

 

Kemudian Ma’mar lebih kuat dari Hammad. Sedangkan Hammad, para ahli hadits berbicara soal kualitas hafalannya, dan terdapat darinya hadits-hadits munkar yang kemungkinan diselipkan di bukunya. Karena faktor ini, maka Imam Bukhari rh. tidak meriwayatkan dari Hammad bin Salamah, dan begitu juga Muslim tidak meriwayatkan darinya di Ushul kecuali dari riwayat Tsabit. Demikian juga pendapat Al-Hakim di dalam Al-Madkhal.

 

Dan hadits-hadits yang serupa dengan yang diriwayatkan oleh Ma’mar, diriwayatkan juga oleh Bazzar, Thabrani, Baihaqi dari Ibrahim bin Sa’ad dai Zuhri dari ‘Amir bin Sa’ad dari ayahnya bahwa seorang badui Arab berkata kepada Rasulullah SAW.: Dimana ayahku? Rasul berkata: di neraka. Kemudian badui itu berkata pula: Dimana ayahmu? Rasul berkata: Apabila kau melewati kuburan seorang kafir, kabarkan dia sebagai penghuni neraka. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibn Majah.

 

Bahkan di sana terdapat hadits yang lebih jelas, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim di Mustadraknya, dan menyatakan bahwa hadits itu shahih, dari Luqaith bin ‘Amir, yang ringkasnya bahwa badui tersebut hendak menanyakan: Dimana ayahmu? Tapi kemudian dia mengubah lafaznya ke yang lebih sopan: Dimana keluargamu  wahai Rasulullah? Rasul menjawab: Apabila kau lewat kubur seorang Quraisy atau ‘Amiri yang musyrik, maka katakan: Muhammad mengutusku untuk mengabarimu hal yang menyakitimu. Ini adalah riwayat yang paling jelas di antara riwayat-riwayat yang lain.

 

Kalaupun kita asumsikan, kesepakatan riwayat hadits dengan lafaz yang pertama, tetapi kaedah di ushul menyatakan apabila sebuah hadits, walaupun itu hadits shahih akan tetapi berbenturan dengan adillah yang lain yang lebih kuat, maka dilakukan takwil atas hadits tersebut.

 

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rh., kita menerimanya dan menjunjungnya sebagai hadits shahih, akan tetapi isi haditsnya, sebagaimana hadits tentang ayahanda Mushthafa SAW., memerlukan takwil dan penafsiran. Hal-hal ini merupakan keahlian ahli-ahli hadits, di antaranya Imam Syafii rh. Contoh dari hal tersebut adalah dimana Imam Syafii rh. tidak memakai hadits yang diriwayatkan oleh Anas yang terdapat penafian pembacaan Basmalah. Imam Syafii mentaklilnya dengan menyatakan bahwa: Yang kuat dari sanad yang lain adalah tidak mendengarnya (pembacaan Basmalah). Sedangkan perawinya memahami tidak dibaca,  sehingga dia meriwayatkan dengan makna atas dasar pengertiannya, sehingga salah.

 

Begitu juga hadits Muslim terkait ayahanda Rasul SAW. dan juga yang berhubungan dengan ibunda Rasul SAW.

 

Adapun yang berkenaan dengan bunda Rasulullah SAW. Sayyidah Aminah bint Wahb Az-Zuhriyyah, diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Umm Samma’ahbint Abi Ruhm dari ibunya berkata: Aku menyaksikan Aminah di sakitnya yang dia wafat karenanya, dan Muhammad masih kecil berumur lima tahun berada di bagian kepala bundanya, Aminahpun memandang Muhammad dan berkata:

 

بارك فيك الله من غلامِ             يا ابن الذي من حومة الحمامِ

نجا بعون الملِكِ المنعامِ            فُوديَ غداة الضرب بالسهامِ

بمائة من إبل سوامِ                  إن صحَّ ما أبصرتُ في منامِي

فأنتَ مبعوث إلى الأنامِ             من عند ذي الجلال والإكرامِ

تُبعث في الحل وفي الحرامِ        تبعث بالتحقيق والإسلامِ

دين أبيك البرِّ إبراهامِ               تبعث بالتخفيف والإسلامِ

أن لا تواليها مع الأقوامِ             فالله أنهاك عن الأصنامِ

 

Kemudian berkata: Setiap yang hidup mati, yang baru lapuk, yang tua lenyap, dan aku akan wafat dan namaku akan terus diingat, aku meninggalkan seorang yang mulia dan melahirkan yang suci.

 

Kisah ini menunjukkan bagaimana Sayyidah Aminah, bunda Rasulullah merupakan ahli tauhid, dimana beliau menyatakan agamanya sebagai yang diajarkan oleh nabi Ibrahim as., dan bahwa Muhammad diutus oleh Allah Dzul Jalali wal Ikram, dan mencegahnya dari berhala. Apa ada inti Tauhid selain ini???

 

Adapun ayat dan hadits pelarangan istighfar untuk musyrikin, telah dijelaskan oleh ahli hadits dan sirah bahwa ayat tersebut tidak berhubungan dengan orangtua Rasulullah SAW.

 

Di sana banyak lagi penjelasan berkaitan dengan ahli Fatrah, dan lainnya.

 

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

 

Perangkum: Muhammad Ghazi.

Sumber: Al-Quran, Shahih Muslim, Shahih Bukhari, Majmau Zawaid, Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil Ibad, dll.

 

 

Page 1 of 41234
AWSOM Powered