Category: Bina Keluarga

Adab dalam Menjalani Fase-fase Usia

Posted by admin - 13 Oktober 2017 - Bina Keluarga, Psikologi
0
Usia Manusia

Oleh: Alwi Alatas

Di antara adab yang perlu diperhatikan oleh seseorang serta para pendidik adalah adab dalam menjalani fase-fase usia. Ketidaksesuaian dalam menjalani fase-fase ini bisa menyebabkan perilaku seseorang menjadi buruk atau bahkan biadab.

Al-Qur’an membagi fase umur manusia kepada tiga bagian, yaitu lemah, kemudian kuat, kemudian lemah dan beruban. Ini disebutkan di dalam Surat al-Rum ayat 54:

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Ibn Katsir di dalam Tafsirnya saat menjelaskan tentang ayat ini menulis, “Kemudian ia keluar dari rahim ibunya, lemah, kurus, dan tak berdaya. Kemudian ia tumbuh sedikit demi sedikit sampai ia menjadi seorang anak, lalu ia mencapai usia baligh, dan setelahnya menjadi seorang pemuda, yang merupakan kekuatan setelah kelemahan. Kemudian ia mulai menjadi tua, mencapai usia paruh baya, lantas menjadi tua dan uzur, kelemahan setelah kekuatan, maka ia kehilangan ketetapan hati, tenaga untuk bergerak, serta kemampuan berperang, rambutnya menjadi kelabu dan sifat-sifatnya, zahir dan batin, mulai berubah.

Kita bisa menyebut fase yang pertama sebagai fase kanak-kanak, yang kedua fase dewasa, dan yang terakhir fase tua. Hal ini karena kanak-kanak dan orang tua memang berada dalam fase kelemahan, sementara kekuatan ada pada usia dewasa. Namun berapakah batasan usia pada masing-masing fase tersebut? Dalam hal ini usia baligh, atau usia lima belas tahun, merupakan batas usia dari kanak-kanak ke dewasa dan usia enam puluh tahun, kurang lebih, merupakan saat-saat peralihan ke usia tua. Usia lima belas tahun adalah waktu yang tidak terlalu lama sejak seorang anak mencapai usia baligh, sehingga membuat seorang anak tidak perlu melewati masa peralihan yang terlalu panjang untuk memasuki usia dewasa. Tentang batas usia ini ada penjelasan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Ibn Umar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memanggil saya agar hadir ke hadapannya menjelang Perang Uhud dan ketika itu saya berusia empat belas tahun, dan beliau tidak mengijinkan saya untuk ikut berperang. Kemudian beliau memanggil saya untuk hadir ke hadapannya menjelang Perang Khandaq ketika saya berusia lima belas tahun dan beliau mengijinkan saya untuk berperang.” Nafi’ berkata, “Saya datang kepada Umar bin Abdul Aziz yang merupakan Khalifah pada waktu itu dan menyampaikan riwayat tersebut kepadanya. Ia berkata, ‘Usia ini (lima belas tahun) adalah batas antara anak-anak dan orang dewasa.’ Dan ia memerintahkan kepada para gubernurnya untuk memberikan tunjangan kepada siapa saja yang telah mencapai usia lima belas tahun.” (HR Bukhari)

Adapun batas antara fase dewasa dan tua kurang lebih ada di sekitar usia enam puluh tahun. Hal ini dengan memperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Abu Bakar, dan Sayyidina Umar wafat pada usia enam puluh tiga tahun, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik (HR Muslim), dan ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum ajma’in wafat di usia yang sama. Rasulullah dan Sayyidina Abu Bakar wafat saat masih berada dalam kekuatan dan keduanya mengalami sakit serta menjadi lemah karenanya hanya beberapa hari menjelang wafat. Sementara Sayyidina Umar wafat karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah. Ada riwayat di dalam Siyar A’lam al-Nubala’ karya al-Dzahabi bahwa kurang dari sebulan sebelum wafatnya beliau mengangkat tangan ke langit dan berdoa, “Ya Allah, usiaku telah tua, kekuatanku melemah, dan rakyatku menyebar luas, maka kembalikanlah aku kepada-Mu tanpa melakukan penganiayaan dan kezaliman.”

Selain itu, mereka yang berada di fase dewasa juga perlu memperhatikan batas usia empat puluh tahun, sebagaimana al-Qur’an menyebut secara khusus tentang usia ini: “… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ….” Karena pada usia inilah, seperti disebutkan Ibn Katsir di dalam Tafsirnya, “kemampuan berpikir seseorang, pemahaman, serta kesabarannya mencapai puncak kematangan. Juga dikatakan bahwa biasanya seseorang tidak akan mengubah jalannya [cara hidup dan karakternya, pen.] saat ia mencapai usia empat puluh tahun.” Ini adalah saat seseorang mencapai usia kematangan dan berada dalam puncak kedewasaan dan kemandirian.

Seorang Muslim perlu memahami fase-fase ini dan mengambil perhatian atas diri sendiri dan orang lain agar ia tidak sampai melanggar adab-adabnya. Di antara adab terkait fase usia ini adalah mereka yang berada di fase kuat atau dewasa harus bertindak sesuai kapasitasnya dan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab. Karena mereka adalah orang-orang yang berada di puncak fase usia dan yang paling memiliki kemampuan, maka dia harus melindungi dan mengayomi orang-orang yang berada di fase usia yang lain, bukan malah meninggalkan, tak peduli, apalagi sampai menindas. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak mengakui hak-hak orang tua kami maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah).

Begitu pula mereka yang berada pada fase-fase usia lainnya harus mengetahui adab-adab yang perlu dilakoninya. Seorang anak atau mereka yang berusia lebih muda, misalnya, perlu menghormati orang-orang yang lebih tua dan mendahului dalam memberi salam. “Yang muda harus memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak,” sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhari).

Hilangnya adab terhadap usia bisa berdampak sangat serius. Ada hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebut bahwa Ada tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak memandang kepada mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, di antaranya adalah orang tua yg berzina (HR. Muslim sebagaimana disebutkan di dalam Riyadh al-Shalihin). Hal ini disebabkan perilaku ini menunjukkan pelanggaran adab yag serius terhadap fase usia yang dilaluinya. Seorang yang sudah tua sebenarnya berada dalam kelemahan, termasuk dalam urusan syahwat atau dorongan seksual. Jika dorongan syahwat sudah jauh berkurang tapi masih saja bermaksiat dan berzina, ini merupakan hal yang sangat keterlaluan. Selain itu, fase usia yg dilaluinya adalah fase terdekat dengan kematian, maka bagaimana mungkin ia masih sempat melakukan dosa besar? Padahal seharusnya ia menjadi orang yang paling banyak mengingat kematian.

Di antara persoalan serius di jaman modern ini berkenaan dengan fase usia adalah dimundurkannya batas waktu antara fase kanak-kanak dan dewasa. Anak-anak pada hari ini belum dianggap dewasa sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun atau bahkan lebih. Masa-masa di antara baligh dan usia sekitar dua puluh tahun disebut sebagai masa transisi atau biasa dikenal sebagai masa remaja, sebuah periode pertumbuhan yang dahulunya tidak ada.

UNICEF dalam laporannya pada tahun 2011 menyebut umur 10-19 tahun sebagai usia remaja (http://www.unicef.org/adolescence/files/SOWC_2011_Main_Report_EN_02092011.pdf), sementara PBB menyebut mereka yang berusia di antara 15 dan 24 tahun sebagai pemuda (youth), tetapi penjelasan terhadap terma ini kurang lebih sama dengan apa yang dipahami masyarakat modern tentang remaja, yaitu “a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence” (http://www.un.org/esa/socdev/documents/youth/fact-sheets/youth-definition.pdf). Yang terakhir ini membuat fase kedewasaan seorang anak menjadi semakin mundur dan lambat.

Anak-anak sebetulnya mengalami perubahan penting secara fisik dan psikologis menjadi seorang dewasa saat mereka baligh dan, setelah melewati periode transisi yang singkat, bisa diterima secara sosial sebagai bagian dari masyarakat dewasa saat mereka berusia 15 tahun, sebagaimana di jelaskan di awal artikel ini. Hal ini sejalan dengan perkembangan natural pada fisik serta kesiapan psikologis dan sosial pada manusia secara umum. Penundaan yang terlalu lama dari batas usia ini akan menimbulkan kekacauan konsep serta kerusakan adab pada diri seorang anak. Ia yang seharusnya sudah memasuki fase kekuatan dipaksa untuk tetap berada dalam fase lemah, atau fase yang samar-samar, tidak lemah tapi juga tidak kuat.

Diubahnya definisi dan batasan waktu antara anak-anak dan dewasa telah merusak konsep adab terkait fase usia. Seseorang yang seharusnya sudah mulai menjalani adab sebagai seorang dewasa malah terus berperilaku seperti anak-anak atau malah ‘dihalalkan’ untuk tidak beradab karena mereka dianggap sedang menjalani masa transisi yang penuh gejolak. Ia menjadi kurang memiliki rasa tanggung jawab, yang merupakan salah satu ciri kedewasaan, dan seringkali tak sungkan melakukan berbagai jenis pelanggaran. Sebagian bahkan sangat membenci tanggung jawab, seperti yang dikutip James E. Gardner (1992: 41) dalam Memahami Gejolak Masa Remaja tentang ucapan seorang remaja di Amerika:

Inilah kata yang paling kubenci – tanggung jawab. Aku selalu harus bertanggung jawab terhadap diriku sendiri, terhadap orang lain, atau terhadap sesuatu …. Persetan dengan tanggung jawab. Aku tidak menginginkannya. Taik dengan tanggung jawab!

Ini baru ucapan dan sikap yang tak pantas, belum termasuk berbagai bentuk kenakalan dan perilaku tak bertanggung jawab dari anak-anak yang biasa disebut sebagai remaja, seperti bullying, perilaku seks yang bebas, penggunaan obat-obat terlarang, serta jiwa yang labil dan kecenderungan bunuh diri. Sebetulnya bukan para remaja ini yang salah pada asalnya, tetapi masyarakat modern-lah yang telah mengacaukan batasan usia serta meninggalkan adab-adab yang menjadi tuntutan di dalamnya. Akibatnya, banyak sikap dan perilaku anak-anak serta pemuda pada hari ini yang menjadi tak beradab.

Karena itu tidak ada jalan untuk memperbaiki keadaan ini selain dengan menetapkan kembali fase usia pada batas-batasnya yang alami dan sesuai dengan tuntunan agama, serta dengan memahami dan menghidupkan adab-adab yang sesuai pada masing-masing fase usia tersebut.

Jakarta,

25 Dzulhijjah 147/ 27 September 2016

Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Kedewasaan

Posted by admin - 5 Oktober 2017 - Bina Keluarga
2
Kedewasaan

Oleh: Alwi Alatas

Perbedaan utama antara anak-anak dan orang dewasa adalah dalam hal kemandirian. Kemandirian adalah sebagian dari kekuatan. Seorang anak masih berada dalam keadaan lemah dan belum mampu untuk berdiri sendiri. Karena itu ia diasuh dan dibimbing oleh orang tuanya. Saat menjadi pemuda dan dewasa, secara gradual ia masuk dalam fase kekuatan yang memungkinkan dirinya untuk mandiri dan akhirnya tidak lagi bergantung pada orang tuanya. Ini merupakan siklus yang alami pada setiap manusia.

Seperti telah disebutkan pada artikel yang lain sebelum ini, al-Qur’an membagi siklus hidup manusia dalam tiga bagian. Begitu pula yang disebut pada ayat berikut ini:

“… kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak (thiflan), kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa dewasa (tablughu asyuddakum), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua (syuyukhan) ….” (QS 40: 67)

Ayat tersebut menggunakan terma “tablughu asyuddakum” untuk fase dewasa. Istilah ini digunakan beberapa kali dalam al-Qur’an, di antaranya terkait penjagaan terhadap anak-anak yatim. Saat menjelaskan tentang istilah ini pada ayat yang lain (QS 6: 152), Imam al-Thabari menjelaskan di dalam Tafsir-nya bahwa kata asyudda merupakan jamak dari kata syaddun dan maknanya adalah kekuatan (quwwah). Ia juga menafsirkan “tablughu asyuddakum” sebagai tercapainya puncak kekuatan pada usia muda. Sebagian mufassir menakwilkan kata-kata ini sebagai terjadinya ihtilam atau mimpi basah (Tafsir al-Thabari, vol. 12, hlm. 222-223). Dengan kata lain, usia muda atau usia dewasa menghadirkan ke dalam dirinya puncak kekuatan, dan bersamaan dengan itu juga kemampuan untuk mandiri.

Masalahnya, mandiri dalam hal apa, sehingga dapat dikatakan seseorang itu sudah dewasa?

Setelah direnungi secara mendalam, setidaknya ada empat aspek kemandirian yang menjadi pokok perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa, yaitu adanya identitas diri, tujuan hidup atau visi, kemampuan mengambil keputusan, serta rasa tanggung jawab. Seorang anak belum memiliki kemandirian dalam keempat hal tersebut, sementara seorang yang dewasa (seharusnya) sudah memilikinya.

Identitas diri seorang anak masih ikut dengan orang tuanya, tujuan hidupnya masih berubah-ubah, ia belum mampu untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan secara dewasa, dan belum mampu untuk memikul tanggung jawab. Namun seiring dengan tumbuhnya si anak mencapai usia baligh dan menjadi seorang pemuda, ia mulai memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mandiri dalam keempat aspek tersebut. Berbeda dengan anak-anak, seorang yang dewasa sudah memiliki identitasnya sendiri, mantap dengan tujuan hidup dan cita-citanya, mampu membuat keputusan secara dewasa, serta mampu dan mau memikul tanggung jawab.

Karena itu menjadi tugas orang tua dan para pendidik untuk membimbing anak-anak agar memahami hal ini serta membantu mereka agar mampu mandiri dalam keempat aspek ini saat umurnya mencapai usia dewasa, yaitu saat ia baligh atau berusia 15 tahun. Jika tidak demikian, maka ia akan tumbuh menjadi seorang yang kekanak-kanakan, walaupun ia sudah mencapai fase usia dewasa dan sudah memiliki potensi kekuatan dan kemandirian. Bukan hanya menjadi seorang yang kekanak-kanakan, bahkan ia bisa memberontak dari orang tuanya, karena sudah terdorong untuk memiliki identitas sendiri. Ia akan mudah terpengaruh oleh teman-temannya karena masih sangat labil dalam tujuan hidupnya. Ia juga mungkin mengambil keputusan-keputusan yang buruk dan fatal serta menjadi sangat tidak bertanggung jawab dalam hidupnya.

Orang tua perlu membimbing serta melatih anak-anaknya untuk mencapai aspek-aspek kemandirian ini. Kalau tidak, orang tua akan mengalami banyak kesulitan dan kesusahan saat anak tumbuh menjadi remaja. Bukannya menjadi seorang berkarakter dewasa, anak tersebut akan menjadi seorang remaja yang labil dan sulit diatur. Akhirnya ia menjadi seperti yang disebutkan Raja Ali Haji di dalam Gurindam Dua Belas pasal ke-7:

Apabila anak tidak dilatih,

Jika besar bapanya letih.

Kami akan membahas secara lebih detail masing-masing aspek-aspek kedewasaan dalam tulisan yang lain. Namun pada artikel ini akan diberikan contoh dari sebuah kisah yang indah.

 

Kedewasaan Ismail

Nabi Ismail ‘alaihis salam tumbuh besar di kota Makkah. Ketika ia menjadi seorang pemuda, ayahnya Ibrahim ‘alaihis salam menerima perintah untuk menyembelih anaknya itu. Ismail bersedia menjalankannya, tetapi kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba.

Jika kita merujuk pada Alkitab – dalam bagian yang dibahas ini kita boleh meriwayatkannya tanpa membenarkan atau menolaknya – disebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendapatkan anak Ismail saat ia berusia 86 tahun (Kejadian 16: 16) dan mendapatkan anak Ishak saat ia berumur 100 tahun (Kejadian 21: 5). Jadi ada selisih 14 tahun di antara keduanya. Orang-orang Nasrani meyakini bahwa Ishak yang rencananya akan disembelih dan dikorbankan, tetapi kaum Muslimin meyakini bahwa Ismail-lah yang akan dikorbankan. Menariknya, saat membahas tentang perintah penyembelihan terhadap Ishak, Alkitab (Kejadian 22: 2) menyebutnya sebagai “anakmu yang tunggal itu”, sementara kita mengetahui bahwa penyebutan itu hanya mungkin berlaku atas Ismail selama adiknya Ishak belum lahir, yaitu saat Ismail berumur kurang dari 14 tahun. Tampaknya yang dimaksud oleh Alkitab terkait perintah penyembelihan anak sebenarnya adalah Ismail yang ketika itu masih berusia remaja.

Al-Qur’an memiliki kisah tersendiri tentang penyembelihan ini, yang walaupun tidak menyebutkan secara jelas nama Ismail tetapi para mufassir menjelaskan bahwa Ismail-lah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut. Ayat ini mengandung kisah kedewasaan yang indah.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS 37: 102)

Ibn Katsir menyebutkan pendapat Ibn Abbas, Mujahid, dan beberapa yang lainnya bahwa kata-kata “tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim” (falamma balagha ma’ahu sa’ya) bermakna ketika ia menjadi seorang pemuda dan mampu bekerja sebagaimana ayahnya. Pada masa lalu kemampuan ini dicapai pada usia belasan tahun, tak lama setelah masa baligh – sekarang pun sebenarnya potensi itu bisa dicapai oleh seseorang pada usia yang kurang lebih sama. Di dalam Tafsir al-Khazin (vol. 4, hlm. 22) ada disebutkan pendapat bahwa usia Ismail ketika itu adalah 13 tahun. Ada pula yang mengatakan 7 tahun, tapi tampaknya usia ini terlalu dini untuk dijadikan acuan. Tafsir al-Qurthubi juga menyebutkan adanya pendapat bahwa Ismail ketika itu berusia 13 tahun.*

Di dalam ayat tersebut, nabi Ibrahim mendapat sebuah mimpi yang merupakan perintah dari Rabb-nya. Mimpi ini juga melibatkan Ismail. Ini adalah salah satu aspek kedewasaan: mimpi, visi, atau tujuan, atau dalam konteks ini sesuatu yang belum terjadi dan akan diwujudkan pada waktu-waktu berikutnya. Mimpi ini datang dari Allah dan harus dijalankan oleh Ibrahim dan Ismail. Mimpi itu memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Ini adalah sebuah mimpi yang gila bagi orang-orang yang tidak percaya pada kehidupan akhirat. Tidak ada orang yang memiliki mimpi atau visi menyembelih anak sendiri dan tidak ada orang yang bermimpi (berkeinginan) untuk disembelih hingga mati. Tetapi bagi seorang mukmin, tujuan sejati dan tertinggi adalah agar bisa sampai kepada Allah dalam keadaan diridhai. Mimpi Ibrahim, walaupun berat untuk dilaksanakan, adalah jalan yang membawa kepada tujuan tertinggi tadi.

Di samping mimpi, perintah ini juga berkenaan dengan tanggung jawab. Ini merupakan aspek kedewasaan yang kedua. Baik Ibrahim maupun Ismail diminta untuk merealisasikan sebuah tanggung jawab yang sangat berat. Tanggung jawab itu menyiratkan adanya pengorbanan, dan pengorbanan itu sendiri bertingkat-tingkat. Dalam kaitan ini, kedua insan mulia ini diserahi satu beban tanggung jawab terbesar yang mungkin dipikul oleh seseorang, yaitu mengakhiri hidup sendiri dan kehilangan belahan jiwa. Rasanya tidak ada tanggung jawab yang lebih berat daripada itu.

Perintah itu untuk dilaksanakan, bukan untuk didiskusikan. Namun Nabi Ibrahim tidak langsung menarik anaknya untuk disembelih. Ia menyampaikan mimpinya itu kepada sang anak dan memberi kesempatan kepadanya untuk menyampaikan pendapat serta mengambil keputusan. Ini adalah aspek kedewasaan yang ketiga, yaitu pengambilan keputusan secara dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim menganggap Ismail sebagai pria dewasa, walaupun usianya ketika itu masih sangat belia. Karena hanya orang yang dianggap dewasa yang biasanya diminta dan didengar pendapatnya.

Sikap Nabi Ismail berikutnya sangat mengagumkan. Ia tidak menolak mimpi ayahnya. Sebaliknya ia menerima mimpi tersebut, yang berarti ia mengambil mimpi itu sebagai bagian dari mimpinya sendiri. Pada saat yang sama Ismail menerima beban tanggung jawab tersebut dan mempersilahkan ayahnya untuk menjalankan tugasnya. Ismail dipersilahkan untuk memilih pendapatnya, dan inilah pilihan yang ia buat. Ia tidak dipaksa oleh ayahnya untuk menerima keputusan secara sepihak, dan inilah keputusan yang diambilnya. Ia memilih dan membuat keputusan secara dewasa, yaitu berdasarkan pilihan baik-buruk, bukan suka-tak suka. Tak ada yang suka dikorbankan dan disembelih, tetapi karena hal itu dilakukan dalam rangka ketaatan pada Allah dan karenanya itu merupakan hal yang baik, maka Ismail memilihnya.

Ismail kemudian menutup kata-katanya dengan menyatakan siapa dirinya. “Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Ini adalah aspek keempat dan terakhir dari kedewasaan dalam pembahasan kita, yaitu identitas diri. Ismail menjadikan kesabaran sebagai identitas dirinya dan ini menjelaskan mengapa ia sanggup mengambil tanggung jawab yang sangat berat. Karena ia mengerti apa artinya menjadi orang yang sabar dan ia kelihatannya juga sudah melatih dirinya menjadi seorang penyabar. Ia tidak merasa gamang atau ragu dengan status dan jati dirinya dan karena itu ia mampu mengambil keputusan dengan penuh keyakinan. Pada akhirnya, semua itu akan menghantarkannya kepada tujuannya yang paling tinggi, yaitu berjumpa dengan Tuhan-nya dalam keadaan yang diridhai.

Kita mengetahui bahwa akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba. Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihis salam lulus dalam ujian tersebut. Kisah mereka dikenang di dalam ibadah qurban yang dijalankan oleh kaum Muslimin setiap tahun. Sebagian orang mengatakan bahwa di dalam Iedul Qurban sebenarnya kita sedang ‘menyembelih’ sifat cinta dunia di dalam hati kita. Mungkin saat menyembelih hewan qurban di hari Iedul Adha, kita juga bisa memaknai bahwa pada saat itu kita sedang menyembelih sifat kekanak-kanakan di dalam diri kita sendiri dan selepasnya kita harus tampil sebagai seorang yang benar-benar dewasa, karena sifat kedewasaan tidak selalu berkaitan dengan usia tertentu.

Adapun bagi anak-anak kita, masa ‘penyembelihan’ terbesar di dalam hidup mereka terjadi di antara masa-masa baligh dan usia 15 tahun. Saat mereka lulus dalam ujian tersebut, mereka akan muncul sebagai manusia yang dewasa dan matang pada waktunya. Mereka akan muncul sebagai pemuda yang mandiri dalam visi, identitas diri, tanggung jawab, serta pengambilan keputusan. Tapi jika tidak, maka boleh jadi umur mereka atau bahkan hidup mereka sendiri yang akan tersembelih dan terkorbankan.

Jakarta,

9 Muharram 1438/ 10 Oktober 2016

* Saya berterima kasih kepada Muhammad Ghazi Alaidrus dan Muhammad Ardiansyah atas bantuannya mencarikan rujukan di beberapa tafsir terkait ayat ini.

http://inpasonline.com/new/prinsip-dasar-pendidikan-kedewasaan/

Foto: newsmedia.co/id

Sukses Berkarir Sebagai Ibu Rumah Tangga

Posted by admin - 28 Oktober 2014 - Bina Keluarga
0
Ibu Rumah Tangga

Oleh: Kholili Hasib

Thisisgender.com-Bagi kebanyakan orang, kesuksesan masih diukur dari keberhasilan mencapai punjak jabatan di kantor, perusahaan, lembaga pemerintahan, dan lain-lainnya yang terkait dengan materi. Cara pandang duniawi ini menggeser dan meremehkan profesi ibu rumah tangga. Kita dapati misalnya, seorang muslimah, ibu rumah tangga, berpendidikan tinggi merasa ‘rendah diri’ dan malu menjawab ketika temannya menanyakan profesinya. “Saya hanya seorang ibu rumah tangga”.

Bangga dan Terhormat

Bagi muslimah yang telah menentukan pilihannya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, seharusnya tidak perlu malu apalagi merasa rendah diri. Setinggi apapun gelar akademiknya, tetaplah karir sebagai ibu, tidak meruntuhkan kehormatannya. Kehormatan sejati itu terhormat di sisi Allah swt, bukan di hadapan manusia. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat:13).

Harta banyak, jabatan tinggi, intelektualitas tidak diragukan namun jika tidak menjadikan segala aktifitasnya untuk bertakwa pada-Nya, tidak akan bernilai apa-apa. Harta, jabatan dan keilmuan harusnya menjadi sarana yang sangat baik untuk mencapai derajat bertakwa. Harta, jabatan dan ilmu adalah amanah, sehingga harus digunakan dengan baik menurut apa yang diinginkan Allah.

Akhirat adalah tujuan utama, maka harus benar-benar dikejar. Allah swt berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron:133).

Ibu rumah tangga yang menjadikan akhirat, takwa atau Allah swt sebagai acuan, merupakan ibu rumah tangga idaman dan sangat terhormat. Karena itu, peran ibu tidak bisa diremehkan dalam pembangunan masyarakat. Keadaban masyarakat dibentuk secara mendasar dari keadaban rumah tangga. Sedangkan seorang ibu adalah salah satu penentu membangun adab anggota keluarganya, terutama anak-anaknya.

Ibu adalah manager dalam rumah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya” (HR. Bukhari).

Anak-anak yang cerdas, sholih, shalihah lahir dari didikan rumah yang baik. Sayyidah Fatimah al-Zahra’ juga tidak lahir kecuali seorang ibu yang hebat bernama Khadijah r.a. Imam Syafi’i, lahir dari seorang ibu yang shalihah dan cerdas dalam mendidik.

Karena menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi anak-anak, dan kualitas rumah tangga, maka tidak salah Rasulullah saw bersabda, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu”(HR. Ahmad). Hadis ini memiliki makna penting yaitu, posisi ibu sangat terhormat, kerja profesi ibu rumah tangga harus dikaitkan dang jannah sebagai tujuan. Karena itu, sangat tidak tepat jika seorang ibu merasa rendah diri dengan berkarir sebagai ibu rumah tangga, justru harus bangga karena profesi yang mulya di sisi-Nya.

Agar Menjadi Berkualitas

Masyarakat yang baik bermula dari rumah tangga yang baik. Rumah tangga yang baik sangat ditentukan kepintaran ibu mengelola anggota keluarga menjadi individu beradab. Dan kualitas ibu rumah tangga tergantung dari cara perpikirnya mengenai rumah tangga. Berikut ini tips agar ibu menjadi ibu rumah tangga yang berkualitas dan terhormat;

Pertama, Memiliki manajemen  waktu. Berbeda dengan pekerja  kantoran yang selalu diatur waktu, maka seorang ibu rumah tangga punya hak untuk  mengatur waktu kerjanya. Bos baginya adalah dirinya sendiri. Malas-rajin,  lambat-cekatannya, tergantung bagaimana dia dapat memanajemen waktunya secara  profesional. Memanfaatkan waktu secara optimal-efektif dan efisien. Kapan waktu yang tepat untuk berlibur, bermain, belajar dan mengaji. Waktu shalat berjamaah dan baca al-Qur’an untuk anak-anak harus di jadwal dengan baik. Semua harus direncakan sesuai porsinya.

Kedua, Mendidik diri. Ibu adalah seorang pendidik, maka ia harus memiliki wawasan ilmu yang cukup sebagai bekal menta’dib anak-anak. “Ibu adalah madrasah pertama”. Sebagai madrasah, maka sangat pantas jika ada seorang ibu berpendidikan doktor. Seorang master atau doktor tidaklah perlu malu berkarir menjadi ibu rumah tangga. Anggaplah kerja ini layaknya kerja kantor. Manajemen rumah profesional, tertib dan disiplin. Memiliki buku agenda kerja yang memiliki target-target baik. Mereka juga dapat gaji. Harus ditanamkan dalam hati, gaji itu Allah swt yang membayarnya. Sehingga, ‘gaji’ Allah patutlah dibanggakan, karena tiada tara jika dibandingkan gajinya manusia. Namun berpendidikan tidak harus berpendidikan tinggi. Wawasan bisa diperoleh tanpa kuliah, bahkan bisa jadi tidak kalah dengan bangku kuliah. Ikutlah majelis-majelis pengajian, atau majelis ilmu yang lain. Mungkin saja ilmu diambil dari mengikuti seminar-seminar. Hal itu bisa ditambah dengan wawasan yang diberi sang suami. Jadi ibu, harus pintar. Dan karir ibu rumah tangga itu sebenarnya karirnya muslimah yang pintar dan terhormat. Yang pasti, wawasan agama menjadi paling penting, terutama akidah.

Ketiga,Rajin membaca juga harus menjadi kebiasaan. Bagaimana mungkin anak-anak gemar baca jika ibunya malas membaca. Baik membaca buku maupun membaca al-Qur’an harus terjadwal dengan baik dan memiliki target. Ciptakan perpustakaan yang nyaman di rumah, agar anggota keluarga betah menikmati buku. Dengan membaca, seorang ibu tidak akan kalah wawasannya dengan para wanita-wanita di kantoran. Jik perlu di waktu luang anak-anak diajak ke toko buku, mendidik agar mencintai buku. Berkunjung ke pesantren atau ulama’ untuk menanamkan anak mencintai ilmu.

Oleh karena itu, kehormatan dan kesuksesan berkarir sebagai ibu rumah tangga, sebenarnya tidak hanya dengan berdiri sebagai guru/tutor bagi anaknya. Akan tetapi, secara praktis, ibu merupakan pengusung nilai-nilai keadaban dalam masyarakat kecil yang bernama keluarga. Yang diusung bukan nilai-nilai materialisme, tapi nilai-nilai mulia, nilai keadaban yang mengangkat derajat diri dan keluarganya kepada derajat terhormat di sisi Allah swt.  Jadi ibu, harus berpandangan hidup Islam (worldview of Islam).

Adapun muslimah yang bekerja di luar, boleh saja, namun jangan sampai mengabaikan tugas terhormat dan suci di keluarganya.

Al-Qomah (Kisah Cinta Seorang Ibu)

Posted by admin - 31 Juli 2012 - Bina Keluarga, Cerita Islami
1
kasih seorang ibu

Al-Qomah adalah sahabat Nabi saw yang baik dan pemuda yang sangat rajin beribadah. Pada suatu hari secara tiba tiba ia jatuh sakit. Isterinya menyuruh seseorang memberi kabar kepada Rasulallah saw tentang keadaan suaminya yang sakit keras dan dalam keadaan sakaratul maut.

Lalu Rasulallah saw menyuruh Ali, Bilal ra dan dan beberapa sahabat lainya melihat keadaan Alqomah. Begitu mereka sampai di rumah Alqomah, mereka melihat keadaanya sudah krisis tidak ada harapan hidup. Kemudian mereka segera membantunya membacakan kalimah syahadat (la ilaha illaah) dihadapanya, tetapi lidah Alqomah tidak mampu menyebutnya.

Setelah melihat keadaan Alqomah yang semakin menghampiri akhir ajalnya dan semakin parah ditambah lagi ia tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat, mereka menyuruh Bilal memberitahukan Rasulallah saw. Maka Bilal menceritakan kepada beliau segala hal yang terjadi atas diri Al-Qomah.

 Lalu Rasulallah saw bertanya kepada Bilal, “Apakah ayah Al-Qomah masih hidup?” Bilal pun menjawab, “Tidak ya Rasulallah, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya.”

Kemudian Rasulallah saw berkata lagi, “Pergilah kamu ya Bilal menemui ibunya, sampaikan salamku dan katakan kepadanya kalau ia bisa datang menjumpaiku. Kalau dia tidak bisa berjalan, katakan aku akan datang ke rumahnya menjumpainya.”

Bilal tiba di rumah ibu Alaqomah, ibunya mengatakan bahawa dia ingin menemui Rasulallah saw. Lalu ia mengambil tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah beliau.

Setibanya disana ibu Al-Qamah memberi salam dan duduk di hadapan Rasulallah saw. Kemudian Rasulallah saw membuka pembicaranya, “Ceritakan kepadaku yang sebenarnya tentang anakmu Al-Qomah. Jika kamu berdusta, niscaya akan turun wahyu kepadaku,”

Dengan rasa sedih ibunya bercerita, “Ya Rasulallah, sepanjang masa, aku melihat Al-Qomah adalah laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas, sholeh dan selalu melakukan perintah Allah dengan sempurna, sangat rajin beribadat. Shalat dan puasa tidak pernah ditinggalkannya dan sangat suka bersedekah

“Ya Rasullah, semenjak aku mendapat kabar gembira tentang kehamilanku aku membawa Al-Qamah 9 bulan di perutku. Tidur, berdiri, makan dan bernafas bersamanya. Akan tetapi semua itu tidak mengurangi cinta dan kasihku kepadanya.”

“Ya Rasulallah, aku mengandungnya dalam kondisi lemah di atas lemah, tapi aku begitu gembira dan puas setiap aku rasakan perutku semakin hari semakin bertambah besar dan ia dalam keadaan sehat wal afiat dalam rahimku.”

“Kemudian tiba waktu melahirkanya ya Rasulallah. Pada saat itu aku melihat kematian di mataku.. hingga tibalah waktunya ia keluar ke dunia. Ia pun lahir. Aku mendengar ia menangis maka hilang semua sakit dan penderitaanku bersama tangisannya.”

Ibu Al-qamah mulai menangis, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu aku setia menjadi pelayannya yang tidak pernah lalai menjadi pendampingnya yang tidak pernah berhenti. Aku tidak pernah lelah mendo’akannya agar ia mendapat kebaikan dan taufiq dari Allah.”

“Ya Rasulallah, aku selalu memperhatikannya hari demi hari hingga ia menjadi dewasa. Badannya tegap, ototnya kekar, kumis dan jambang telah menghiasi wajahnya. Pada saat itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari pasangan hidupnya.”

Kemudian ia melanjutkan ceritanya, “Tapi sayang ya Rasulallah, setelah ia beristri aku tidak lagi mengenal dirinya, senyumnya yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah hilang, dan tawanya telah tenggelam. Aku benar-benar tidak mengenalnya lagi karena ia telah melupakanku dan melupakan hakku.”

Aku tidak mengharap sesuatu darinya ya Rasulallah, yang aku harapkan hanya aku ingin melihat rupanya, rindu dengan wajahnya. Ia tidak pernah menghapiriku lagi. Ia tidak pernah menanyakan halku, tidak memperhatikanku lagi. Seolah olah aku dibuang di tempat yang jauh.”

“Ya Rasulallah, aku ini tidak meminta banyak darinya, dan tidak menagih kepadanya yang bukan-bukan. Yang aku pinta darinya, jadikan aku sebagai sahabat dalam kehidupannya. Jadikanlah aku sebagai pembantu di rumahnya, agar bisa juga aku bisa menatap wajahnya setiap saat. Sayangnya dia lebih mengutamakan isterinya daripada diriku dan menuruti kata-kata isterinya sehingga dia menentangku.”

Rasulallah saw sangat terharu mendengar cerita ibu Al-Qamah. Kemudia beliau menyuruh Bilal mencari kayu bakar utuk membakar Al-Qomah hidup hidup. Begitu Ibu Al-Qamah mendengar perintah tersebut, ia pun berkata dengan tangisan dan suara yang terputus putus, “Wahai Rasullullah, kamu hendak membakar anakku di depan mataku? Bagaimana hatiku dapat menerimanya? Ya Rasulallah, walaupun usiaku sudah lanjut, punggungku bungkuk, tangganku bergetar. Walaupun ia tidak pernah menghapiriku lagi tapi cintaku kepadanya masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Janganlah kamu bakar anakku hidup hidup”

Rasulallah saw bersabda “Siksa Allah itu lebih berat dan kekal. Karena itu jika kamu ingin Allah mengampuni dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan berguna sholatnya, puasanya dan sedekahnya, semasih kamu murka kepadanya.”

Kemudian ibu Al-Qomah mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Rasullullah, aku bersaksi kepada Allah yang di langit dan bersaksi kepadamu ya Rasullullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahwa aku aku telah ridho pada anakku Al-Qomah.”

Lalu Rasulallah saw mengarah kepada Bilal ra dan berkata, “Pergilah kamu wahai Bilal, dan lihat kesana keadaan Al-Qomah apakah ia bisa mengucapkan syahadat atau tidak? Aku khawatir, kalau-kalau ibu Al-Qomah mengucapkan itu semata-mata karena aku dan bukan dari hatinya,”

Bilal pun sampai di rumah Alqomah, tiba-tiba terdengar suara Al-Qomah menyebut, “La ilaha illallah”. Lalu Bilal masuk sambil berkata, “Wahai semua orang yang berada di sini. Ketahuilah sesungguhnya kemarahan seorang ibu kepada anaknya bisa membuat kemarahan Allah, dan ridho seorang ibu bisa membuat keridhoan-Nya .” Maka Al-Qomah telah wafat pada waktu dan saat yang sangat baik baginya”

Lalu Rasulallah saw segera pergi ke rumah Al-Qomah. Para sahabat memandikan, kafankan dan menyolatinya diimami oleh Rasulallah saw. Sesudah dikuburkan beliau bersabda sambil berdiri didekat kubur, “Wahai sahabat Muhajirin dan Ansar. Sesiapa yang mengutamakan isterinya dari ibunya, maka dia akan dilaknat oleh Allah dan semua ibadahnya tidak diterima Allah.”

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

AWSOM Powered