Category: Bina Keluarga

Sukses Berkarir Sebagai Ibu Rumah Tangga

Posted by admin - 28 Oktober 2014 - Bina Keluarga
0
Ibu Rumah Tangga

Oleh: Kholili Hasib

Thisisgender.com-Bagi kebanyakan orang, kesuksesan masih diukur dari keberhasilan mencapai punjak jabatan di kantor, perusahaan, lembaga pemerintahan, dan lain-lainnya yang terkait dengan materi. Cara pandang duniawi ini menggeser dan meremehkan profesi ibu rumah tangga. Kita dapati misalnya, seorang muslimah, ibu rumah tangga, berpendidikan tinggi merasa ‘rendah diri’ dan malu menjawab ketika temannya menanyakan profesinya. “Saya hanya seorang ibu rumah tangga”.

Bangga dan Terhormat

Bagi muslimah yang telah menentukan pilihannya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, seharusnya tidak perlu malu apalagi merasa rendah diri. Setinggi apapun gelar akademiknya, tetaplah karir sebagai ibu, tidak meruntuhkan kehormatannya. Kehormatan sejati itu terhormat di sisi Allah swt, bukan di hadapan manusia. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat:13).

Harta banyak, jabatan tinggi, intelektualitas tidak diragukan namun jika tidak menjadikan segala aktifitasnya untuk bertakwa pada-Nya, tidak akan bernilai apa-apa. Harta, jabatan dan keilmuan harusnya menjadi sarana yang sangat baik untuk mencapai derajat bertakwa. Harta, jabatan dan ilmu adalah amanah, sehingga harus digunakan dengan baik menurut apa yang diinginkan Allah.

Akhirat adalah tujuan utama, maka harus benar-benar dikejar. Allah swt berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron:133).

Ibu rumah tangga yang menjadikan akhirat, takwa atau Allah swt sebagai acuan, merupakan ibu rumah tangga idaman dan sangat terhormat. Karena itu, peran ibu tidak bisa diremehkan dalam pembangunan masyarakat. Keadaban masyarakat dibentuk secara mendasar dari keadaban rumah tangga. Sedangkan seorang ibu adalah salah satu penentu membangun adab anggota keluarganya, terutama anak-anaknya.

Ibu adalah manager dalam rumah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya” (HR. Bukhari).

Anak-anak yang cerdas, sholih, shalihah lahir dari didikan rumah yang baik. Sayyidah Fatimah al-Zahra’ juga tidak lahir kecuali seorang ibu yang hebat bernama Khadijah r.a. Imam Syafi’i, lahir dari seorang ibu yang shalihah dan cerdas dalam mendidik.

Karena menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi anak-anak, dan kualitas rumah tangga, maka tidak salah Rasulullah saw bersabda, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu”(HR. Ahmad). Hadis ini memiliki makna penting yaitu, posisi ibu sangat terhormat, kerja profesi ibu rumah tangga harus dikaitkan dang jannah sebagai tujuan. Karena itu, sangat tidak tepat jika seorang ibu merasa rendah diri dengan berkarir sebagai ibu rumah tangga, justru harus bangga karena profesi yang mulya di sisi-Nya.

Agar Menjadi Berkualitas

Masyarakat yang baik bermula dari rumah tangga yang baik. Rumah tangga yang baik sangat ditentukan kepintaran ibu mengelola anggota keluarga menjadi individu beradab. Dan kualitas ibu rumah tangga tergantung dari cara perpikirnya mengenai rumah tangga. Berikut ini tips agar ibu menjadi ibu rumah tangga yang berkualitas dan terhormat;

Pertama, Memiliki manajemen  waktu. Berbeda dengan pekerja  kantoran yang selalu diatur waktu, maka seorang ibu rumah tangga punya hak untuk  mengatur waktu kerjanya. Bos baginya adalah dirinya sendiri. Malas-rajin,  lambat-cekatannya, tergantung bagaimana dia dapat memanajemen waktunya secara  profesional. Memanfaatkan waktu secara optimal-efektif dan efisien. Kapan waktu yang tepat untuk berlibur, bermain, belajar dan mengaji. Waktu shalat berjamaah dan baca al-Qur’an untuk anak-anak harus di jadwal dengan baik. Semua harus direncakan sesuai porsinya.

Kedua, Mendidik diri. Ibu adalah seorang pendidik, maka ia harus memiliki wawasan ilmu yang cukup sebagai bekal menta’dib anak-anak. “Ibu adalah madrasah pertama”. Sebagai madrasah, maka sangat pantas jika ada seorang ibu berpendidikan doktor. Seorang master atau doktor tidaklah perlu malu berkarir menjadi ibu rumah tangga. Anggaplah kerja ini layaknya kerja kantor. Manajemen rumah profesional, tertib dan disiplin. Memiliki buku agenda kerja yang memiliki target-target baik. Mereka juga dapat gaji. Harus ditanamkan dalam hati, gaji itu Allah swt yang membayarnya. Sehingga, ‘gaji’ Allah patutlah dibanggakan, karena tiada tara jika dibandingkan gajinya manusia. Namun berpendidikan tidak harus berpendidikan tinggi. Wawasan bisa diperoleh tanpa kuliah, bahkan bisa jadi tidak kalah dengan bangku kuliah. Ikutlah majelis-majelis pengajian, atau majelis ilmu yang lain. Mungkin saja ilmu diambil dari mengikuti seminar-seminar. Hal itu bisa ditambah dengan wawasan yang diberi sang suami. Jadi ibu, harus pintar. Dan karir ibu rumah tangga itu sebenarnya karirnya muslimah yang pintar dan terhormat. Yang pasti, wawasan agama menjadi paling penting, terutama akidah.

Ketiga,Rajin membaca juga harus menjadi kebiasaan. Bagaimana mungkin anak-anak gemar baca jika ibunya malas membaca. Baik membaca buku maupun membaca al-Qur’an harus terjadwal dengan baik dan memiliki target. Ciptakan perpustakaan yang nyaman di rumah, agar anggota keluarga betah menikmati buku. Dengan membaca, seorang ibu tidak akan kalah wawasannya dengan para wanita-wanita di kantoran. Jik perlu di waktu luang anak-anak diajak ke toko buku, mendidik agar mencintai buku. Berkunjung ke pesantren atau ulama’ untuk menanamkan anak mencintai ilmu.

Oleh karena itu, kehormatan dan kesuksesan berkarir sebagai ibu rumah tangga, sebenarnya tidak hanya dengan berdiri sebagai guru/tutor bagi anaknya. Akan tetapi, secara praktis, ibu merupakan pengusung nilai-nilai keadaban dalam masyarakat kecil yang bernama keluarga. Yang diusung bukan nilai-nilai materialisme, tapi nilai-nilai mulia, nilai keadaban yang mengangkat derajat diri dan keluarganya kepada derajat terhormat di sisi Allah swt.  Jadi ibu, harus berpandangan hidup Islam (worldview of Islam).

Adapun muslimah yang bekerja di luar, boleh saja, namun jangan sampai mengabaikan tugas terhormat dan suci di keluarganya.

Al-Qomah (Kisah Cinta Seorang Ibu)

Posted by admin - 31 Juli 2012 - Bina Keluarga, Cerita Islami
1
kasih seorang ibu

Al-Qomah adalah sahabat Nabi saw yang baik dan pemuda yang sangat rajin beribadah. Pada suatu hari secara tiba tiba ia jatuh sakit. Isterinya menyuruh seseorang memberi kabar kepada Rasulallah saw tentang keadaan suaminya yang sakit keras dan dalam keadaan sakaratul maut.

Lalu Rasulallah saw menyuruh Ali, Bilal ra dan dan beberapa sahabat lainya melihat keadaan Alqomah. Begitu mereka sampai di rumah Alqomah, mereka melihat keadaanya sudah krisis tidak ada harapan hidup. Kemudian mereka segera membantunya membacakan kalimah syahadat (la ilaha illaah) dihadapanya, tetapi lidah Alqomah tidak mampu menyebutnya.

Setelah melihat keadaan Alqomah yang semakin menghampiri akhir ajalnya dan semakin parah ditambah lagi ia tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat, mereka menyuruh Bilal memberitahukan Rasulallah saw. Maka Bilal menceritakan kepada beliau segala hal yang terjadi atas diri Al-Qomah.

 Lalu Rasulallah saw bertanya kepada Bilal, “Apakah ayah Al-Qomah masih hidup?” Bilal pun menjawab, “Tidak ya Rasulallah, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya.”

Kemudian Rasulallah saw berkata lagi, “Pergilah kamu ya Bilal menemui ibunya, sampaikan salamku dan katakan kepadanya kalau ia bisa datang menjumpaiku. Kalau dia tidak bisa berjalan, katakan aku akan datang ke rumahnya menjumpainya.”

Bilal tiba di rumah ibu Alaqomah, ibunya mengatakan bahawa dia ingin menemui Rasulallah saw. Lalu ia mengambil tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah beliau.

Setibanya disana ibu Al-Qamah memberi salam dan duduk di hadapan Rasulallah saw. Kemudian Rasulallah saw membuka pembicaranya, “Ceritakan kepadaku yang sebenarnya tentang anakmu Al-Qomah. Jika kamu berdusta, niscaya akan turun wahyu kepadaku,”

Dengan rasa sedih ibunya bercerita, “Ya Rasulallah, sepanjang masa, aku melihat Al-Qomah adalah laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas, sholeh dan selalu melakukan perintah Allah dengan sempurna, sangat rajin beribadat. Shalat dan puasa tidak pernah ditinggalkannya dan sangat suka bersedekah

“Ya Rasullah, semenjak aku mendapat kabar gembira tentang kehamilanku aku membawa Al-Qamah 9 bulan di perutku. Tidur, berdiri, makan dan bernafas bersamanya. Akan tetapi semua itu tidak mengurangi cinta dan kasihku kepadanya.”

“Ya Rasulallah, aku mengandungnya dalam kondisi lemah di atas lemah, tapi aku begitu gembira dan puas setiap aku rasakan perutku semakin hari semakin bertambah besar dan ia dalam keadaan sehat wal afiat dalam rahimku.”

“Kemudian tiba waktu melahirkanya ya Rasulallah. Pada saat itu aku melihat kematian di mataku.. hingga tibalah waktunya ia keluar ke dunia. Ia pun lahir. Aku mendengar ia menangis maka hilang semua sakit dan penderitaanku bersama tangisannya.”

Ibu Al-qamah mulai menangis, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu aku setia menjadi pelayannya yang tidak pernah lalai menjadi pendampingnya yang tidak pernah berhenti. Aku tidak pernah lelah mendo’akannya agar ia mendapat kebaikan dan taufiq dari Allah.”

“Ya Rasulallah, aku selalu memperhatikannya hari demi hari hingga ia menjadi dewasa. Badannya tegap, ototnya kekar, kumis dan jambang telah menghiasi wajahnya. Pada saat itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari pasangan hidupnya.”

Kemudian ia melanjutkan ceritanya, “Tapi sayang ya Rasulallah, setelah ia beristri aku tidak lagi mengenal dirinya, senyumnya yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah hilang, dan tawanya telah tenggelam. Aku benar-benar tidak mengenalnya lagi karena ia telah melupakanku dan melupakan hakku.”

Aku tidak mengharap sesuatu darinya ya Rasulallah, yang aku harapkan hanya aku ingin melihat rupanya, rindu dengan wajahnya. Ia tidak pernah menghapiriku lagi. Ia tidak pernah menanyakan halku, tidak memperhatikanku lagi. Seolah olah aku dibuang di tempat yang jauh.”

“Ya Rasulallah, aku ini tidak meminta banyak darinya, dan tidak menagih kepadanya yang bukan-bukan. Yang aku pinta darinya, jadikan aku sebagai sahabat dalam kehidupannya. Jadikanlah aku sebagai pembantu di rumahnya, agar bisa juga aku bisa menatap wajahnya setiap saat. Sayangnya dia lebih mengutamakan isterinya daripada diriku dan menuruti kata-kata isterinya sehingga dia menentangku.”

Rasulallah saw sangat terharu mendengar cerita ibu Al-Qamah. Kemudia beliau menyuruh Bilal mencari kayu bakar utuk membakar Al-Qomah hidup hidup. Begitu Ibu Al-Qamah mendengar perintah tersebut, ia pun berkata dengan tangisan dan suara yang terputus putus, “Wahai Rasullullah, kamu hendak membakar anakku di depan mataku? Bagaimana hatiku dapat menerimanya? Ya Rasulallah, walaupun usiaku sudah lanjut, punggungku bungkuk, tangganku bergetar. Walaupun ia tidak pernah menghapiriku lagi tapi cintaku kepadanya masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Janganlah kamu bakar anakku hidup hidup”

Rasulallah saw bersabda “Siksa Allah itu lebih berat dan kekal. Karena itu jika kamu ingin Allah mengampuni dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan berguna sholatnya, puasanya dan sedekahnya, semasih kamu murka kepadanya.”

Kemudian ibu Al-Qomah mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Rasullullah, aku bersaksi kepada Allah yang di langit dan bersaksi kepadamu ya Rasullullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahwa aku aku telah ridho pada anakku Al-Qomah.”

Lalu Rasulallah saw mengarah kepada Bilal ra dan berkata, “Pergilah kamu wahai Bilal, dan lihat kesana keadaan Al-Qomah apakah ia bisa mengucapkan syahadat atau tidak? Aku khawatir, kalau-kalau ibu Al-Qomah mengucapkan itu semata-mata karena aku dan bukan dari hatinya,”

Bilal pun sampai di rumah Alqomah, tiba-tiba terdengar suara Al-Qomah menyebut, “La ilaha illallah”. Lalu Bilal masuk sambil berkata, “Wahai semua orang yang berada di sini. Ketahuilah sesungguhnya kemarahan seorang ibu kepada anaknya bisa membuat kemarahan Allah, dan ridho seorang ibu bisa membuat keridhoan-Nya .” Maka Al-Qomah telah wafat pada waktu dan saat yang sangat baik baginya”

Lalu Rasulallah saw segera pergi ke rumah Al-Qomah. Para sahabat memandikan, kafankan dan menyolatinya diimami oleh Rasulallah saw. Sesudah dikuburkan beliau bersabda sambil berdiri didekat kubur, “Wahai sahabat Muhajirin dan Ansar. Sesiapa yang mengutamakan isterinya dari ibunya, maka dia akan dilaknat oleh Allah dan semua ibadahnya tidak diterima Allah.”

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

AWSOM Powered