Click here to send us your inquires or call (852) 36130518
Click here to send us your inquires or call (852) 36130518

Category: Cerita Islami

Al-Qomah (Kisah Cinta Seorang Ibu)

Posted by admin - 31 Juli 2012 - Bina Keluarga, Cerita Islami
2
kasih seorang ibu

Al-Qomah adalah sahabat Nabi saw yang baik dan pemuda yang sangat rajin beribadah. Pada suatu hari secara tiba tiba ia jatuh sakit. Isterinya menyuruh seseorang memberi kabar kepada Rasulallah saw tentang keadaan suaminya yang sakit keras dan dalam keadaan sakaratul maut.

Lalu Rasulallah saw menyuruh Ali, Bilal ra dan dan beberapa sahabat lainya melihat keadaan Alqomah. Begitu mereka sampai di rumah Alqomah, mereka melihat keadaanya sudah krisis tidak ada harapan hidup. Kemudian mereka segera membantunya membacakan kalimah syahadat (la ilaha illaah) dihadapanya, tetapi lidah Alqomah tidak mampu menyebutnya.

Setelah melihat keadaan Alqomah yang semakin menghampiri akhir ajalnya dan semakin parah ditambah lagi ia tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat, mereka menyuruh Bilal memberitahukan Rasulallah saw. Maka Bilal menceritakan kepada beliau segala hal yang terjadi atas diri Al-Qomah.

 Lalu Rasulallah saw bertanya kepada Bilal, “Apakah ayah Al-Qomah masih hidup?” Bilal pun menjawab, “Tidak ya Rasulallah, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya.”

Kemudian Rasulallah saw berkata lagi, “Pergilah kamu ya Bilal menemui ibunya, sampaikan salamku dan katakan kepadanya kalau ia bisa datang menjumpaiku. Kalau dia tidak bisa berjalan, katakan aku akan datang ke rumahnya menjumpainya.”

Bilal tiba di rumah ibu Alaqomah, ibunya mengatakan bahawa dia ingin menemui Rasulallah saw. Lalu ia mengambil tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah beliau.

Setibanya disana ibu Al-Qamah memberi salam dan duduk di hadapan Rasulallah saw. Kemudian Rasulallah saw membuka pembicaranya, “Ceritakan kepadaku yang sebenarnya tentang anakmu Al-Qomah. Jika kamu berdusta, niscaya akan turun wahyu kepadaku,”

Dengan rasa sedih ibunya bercerita, “Ya Rasulallah, sepanjang masa, aku melihat Al-Qomah adalah laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas, sholeh dan selalu melakukan perintah Allah dengan sempurna, sangat rajin beribadat. Shalat dan puasa tidak pernah ditinggalkannya dan sangat suka bersedekah

“Ya Rasullah, semenjak aku mendapat kabar gembira tentang kehamilanku aku membawa Al-Qamah 9 bulan di perutku. Tidur, berdiri, makan dan bernafas bersamanya. Akan tetapi semua itu tidak mengurangi cinta dan kasihku kepadanya.”

“Ya Rasulallah, aku mengandungnya dalam kondisi lemah di atas lemah, tapi aku begitu gembira dan puas setiap aku rasakan perutku semakin hari semakin bertambah besar dan ia dalam keadaan sehat wal afiat dalam rahimku.”

“Kemudian tiba waktu melahirkanya ya Rasulallah. Pada saat itu aku melihat kematian di mataku.. hingga tibalah waktunya ia keluar ke dunia. Ia pun lahir. Aku mendengar ia menangis maka hilang semua sakit dan penderitaanku bersama tangisannya.”

Ibu Al-qamah mulai menangis, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu aku setia menjadi pelayannya yang tidak pernah lalai menjadi pendampingnya yang tidak pernah berhenti. Aku tidak pernah lelah mendo’akannya agar ia mendapat kebaikan dan taufiq dari Allah.”

“Ya Rasulallah, aku selalu memperhatikannya hari demi hari hingga ia menjadi dewasa. Badannya tegap, ototnya kekar, kumis dan jambang telah menghiasi wajahnya. Pada saat itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari pasangan hidupnya.”

Kemudian ia melanjutkan ceritanya, “Tapi sayang ya Rasulallah, setelah ia beristri aku tidak lagi mengenal dirinya, senyumnya yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah hilang, dan tawanya telah tenggelam. Aku benar-benar tidak mengenalnya lagi karena ia telah melupakanku dan melupakan hakku.”

Aku tidak mengharap sesuatu darinya ya Rasulallah, yang aku harapkan hanya aku ingin melihat rupanya, rindu dengan wajahnya. Ia tidak pernah menghapiriku lagi. Ia tidak pernah menanyakan halku, tidak memperhatikanku lagi. Seolah olah aku dibuang di tempat yang jauh.”

“Ya Rasulallah, aku ini tidak meminta banyak darinya, dan tidak menagih kepadanya yang bukan-bukan. Yang aku pinta darinya, jadikan aku sebagai sahabat dalam kehidupannya. Jadikanlah aku sebagai pembantu di rumahnya, agar bisa juga aku bisa menatap wajahnya setiap saat. Sayangnya dia lebih mengutamakan isterinya daripada diriku dan menuruti kata-kata isterinya sehingga dia menentangku.”

Rasulallah saw sangat terharu mendengar cerita ibu Al-Qamah. Kemudia beliau menyuruh Bilal mencari kayu bakar utuk membakar Al-Qomah hidup hidup. Begitu Ibu Al-Qamah mendengar perintah tersebut, ia pun berkata dengan tangisan dan suara yang terputus putus, “Wahai Rasullullah, kamu hendak membakar anakku di depan mataku? Bagaimana hatiku dapat menerimanya? Ya Rasulallah, walaupun usiaku sudah lanjut, punggungku bungkuk, tangganku bergetar. Walaupun ia tidak pernah menghapiriku lagi tapi cintaku kepadanya masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Janganlah kamu bakar anakku hidup hidup”

Rasulallah saw bersabda “Siksa Allah itu lebih berat dan kekal. Karena itu jika kamu ingin Allah mengampuni dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan berguna sholatnya, puasanya dan sedekahnya, semasih kamu murka kepadanya.”

Kemudian ibu Al-Qomah mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Rasullullah, aku bersaksi kepada Allah yang di langit dan bersaksi kepadamu ya Rasullullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahwa aku aku telah ridho pada anakku Al-Qomah.”

Lalu Rasulallah saw mengarah kepada Bilal ra dan berkata, “Pergilah kamu wahai Bilal, dan lihat kesana keadaan Al-Qomah apakah ia bisa mengucapkan syahadat atau tidak? Aku khawatir, kalau-kalau ibu Al-Qomah mengucapkan itu semata-mata karena aku dan bukan dari hatinya,”

Bilal pun sampai di rumah Alqomah, tiba-tiba terdengar suara Al-Qomah menyebut, “La ilaha illallah”. Lalu Bilal masuk sambil berkata, “Wahai semua orang yang berada di sini. Ketahuilah sesungguhnya kemarahan seorang ibu kepada anaknya bisa membuat kemarahan Allah, dan ridho seorang ibu bisa membuat keridhoan-Nya .” Maka Al-Qomah telah wafat pada waktu dan saat yang sangat baik baginya”

Lalu Rasulallah saw segera pergi ke rumah Al-Qomah. Para sahabat memandikan, kafankan dan menyolatinya diimami oleh Rasulallah saw. Sesudah dikuburkan beliau bersabda sambil berdiri didekat kubur, “Wahai sahabat Muhajirin dan Ansar. Sesiapa yang mengutamakan isterinya dari ibunya, maka dia akan dilaknat oleh Allah dan semua ibadahnya tidak diterima Allah.”

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

Mata yang Tidak Menangis di Hari Kiamat

Posted by admin - 17 Juli 2012 - Aqidah, Cerita Islami
2
ibadah

Semua kaum muslimin berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini pasti berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadillan Allah swt. Al-Quran telah menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surat Al-Ghasyiyah, ayat 1–16. Dalam surat itu digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria, mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di hari kiamat memperoleh kebahagiaan.

Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di hari kiamat, Rasulullah pernah bersabda, “Semua mata akan menagis pada hari kiamat, kecuali 3 (tiga) hal:

            Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah swt.

            Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah swt.

            Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah swt.”

Mari kita lihat, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di hari kiamat?

Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul, berkelana ditempat-tempat maksiat, dan pulang larut malam. Dari tempat itu, ia pulang dalam keadaan sempoyongan. Ditengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran, Ayat yang dibaca itu berbunyi :

            “Belum datanglah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang yang fasik” (QS.  57:16)

Setibanya ia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan tersebut didalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya, si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya dihadapan Allah swt karena perbuatan maksiat yang pernah ia lakukan.

Kemudian ia mengubah cara hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah swt, sehingga di abad kesebelas hijriyyah dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.

Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar, dan mengalir air mata penyesalan ata kesalahannya di masa lalu, karena takut kepada Allah swt.

Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya, kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu Insya Allah mata yang tidak menangis di hari kiamat.

Mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Seperti telah kita ketahui, bahwa Rasulullah saw pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di hari kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujuh orang itu, salah satu diantaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi ia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah swt.”

Nabi Yusuf as mewakili kisah ini ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di hari kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah swt.

Kemudian mata yang tidak tidur karena membela agama Allah, seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahankan keutuhan agamanya, serta menegakkan tonggak islam.

Itulah tiga pasang mata yang tidak menangis di hari kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang bahagia di hari kiamat nanti.

Dunia dan Akhirat di Mata Imam Ali bin Thalib ra

Posted by admin - 25 Juni 2012 - Aqidah, Cerita Islami, Sejarah Islam
0
ibadah

 Diriwayatkan bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan berkata kepada Dharrar bin Dhumrah.

“Lukiskanlah pekerti Ali bin Abi Thalib ra untukku.”

“Lepaskan aku dari keharusan memenuhi permintaan ini, hai Amirul Muknimin,” pinta Dharrar.

“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu,” jawab Muawiyah.

“Biklah kalau begitu,” kata Dharrar lagi seraya melanjutkan,

“Ali adalah seorang yang jauh pikirannya, amat kuat tubuhnya, singkat ucapannya, dan adil hukumnya. Selalu memilih yang amat sederhana untuk makannya dan yang amat kasar untuk pakaiannya. Tak pernah sudi akan dunia dan perhiasannya, merasa tenang dengan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi telah melihatnya pada suatu ketika, pada saat malam menjulurkan tirainya dan bintang-bntang mulai redup terbenam, ia berdiri di mihrabnya bagai tersengat ular berbisa, gelisah laksana seorang yang sangat parah sakitnya, menangis tersedu-sedu memegangi janggutnya seraya berbisik, “Wahai dunia, bukan aku orangnya yang bisa kau perdayakan. Adakah untukku kamu berhias? Atau, kepadaku kanu mengharap? Tidak! Telah kuceraikan engkau dengan tiga kali talak hingga tak mungkin lagi kau kembali. Oh, betapa sedikitnya bekal, jauhnya perjalanan,dan sunyinya safar..!”

Mendengar itu, Muawiyah menangis menutupi wajahnya dengan dengan lengan bajunya sambil menahan air mata sedapt-dapatnya. Dia bergumam, “Semoga Allah merahmati Abu Al Hasan. Demi Allah, sungguh ia sedemikian itu.”

Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Abdullah bin Alawi Al Haddad