Category: Cerita Islami

Untuk Mereka Yang Tidak Jadi Berangkat Haji

Posted by admin - 11 September 2012 - Cerita Islami
4
makkah

Pernahkah anda mendengar cerita tentang Hajinya seorang tukang sepatu?

Ziarah ke Mekah adalah salah satu elemen penting dalam Rukun Islam. Setiap Umat Islam yang secara fisik dan keuangan mampu menjalaninya maka wajib baginya untuk melaksanakannya. Dalam tradisi Islam Ka’bah adalah sebuah bangunan sederhana yang berbentuk kubus yang terdapat di kota Mekah, merupakan rumah pemujaan pertama yang dibangun untuk mengingatkan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bangunan ini dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim AS dan puteranya, Nabi Ismail AS: ”Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ”Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS.2:125)

Berkumpulnya jutaan orang beriman sepanjang ziarah tahunan ini adalah saat diqabulkannya doa Nabi Ibrahim AS; ”Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo’a: ”Ya, Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: ”Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali” (QS.2:126)

Pergi haji ke Mekkah adalah sebuah tanda signifikansi tertinggi. Hal itu merupakan komitmen tanpa syarat Nabi Ibrahim kepada Allah dengan meninggalkan istrinya siti Hajar dan bayi laki-lakinya Ismail di sebuah padang pasir yang gersang. Atas penyerahan dirinya yang tak tergoyahkan kepada Tuhan itulah Nabi Ibrahim AS dijanjikan Allah untuk merubah tanah yang tidak diinginkan itu menjadi tempat yang sangat menjanjikan, dan banyaknya Umat Islam yang mengunjungi Mekkah untuk berhaji adalah bagian dari janji Allah kepada Nabi Ibrahim AS tersebut.

Sebagaimana rukun Islam yang lain, ibadah haji ini tidak akan berarti apa-apa jika hanya dianggap sebagai suatu tujuan akhir dari ibadah itu sendiri, bukan untuk mencapai kehidupan yang berarti. Cerita berikut ini akan mengingatkan kita akan semangat haji.

HAJINYA SEORANG TUKANG SEPATU

Suatu waktu seorang ulama ternama, Abdullah bin Mubarak bermimpi saat dia tertidur di dekat Ka’bah. Dalam mimpinya Abdullah bin Mubarak melihat dua malaikat turun dari langit lalu berbicara satu sama lain. Malaikat yang satu bertanya, “Tahukah kamu berapa banyak orang yang datang untuk beribadah haji tahun ini?” Malaikat lainnya menjawab, “Enam ratus ribu orang.” Abdullah bin Mubarak sendiri juga termasuk yang pergi haji di tahun itu. Malaikat pertama tadi bertanya lagi, “Berapa banyak di antara orang yang pergi haji ini diterima hajinya?”

Malaikat kedua kembali menjawab, “Aku kira tidak ada satupun yang diterima hajinya.” Mendengar itu Abdullah Mubarak sangat gundah. Dia merenung, “Begitu banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru dunia dengan menempuh bermacam rintangan seperti sungai, gunung, lautan, dan hutan, juga harus menghadapi beragam kesulitan, serta menghabiskan banyak uang, tapi akankah semua usaha mereka ini sia-sia? Tidak, Allah selalu akan menghargai setiap usaha manusia. Ketika dia masih memikirkan itu, dia mendengar malaikat yang satu berkata, ”Di Damaskus ada seorang tukang sepatu yang bernama Ali bin Al-Mufiq. Laki-laki tidak jadi menjalankan ibadah haji, tetapi Allah menerima niat hajinya.

Bahkan bukan pahala haji saja yang dia terima melainkan karena dia jugalah semua yang melaksanakan ibadah haji itu mendapatkan pahalanya”. Begitu terbangun Abdullah Mubarak memutuskan untuk pergi ke Damaskus dan menemui si tukang sepatu yang niat hajinya telah mendapat ganjaran begitu besar tersebut. Setibanya di Damaskus Abdullah bin Mubarak bertanya tentang seorang tukang sepatu yang bernama Ali bin al-Mufiq. Orang-orang di kota itu mengarahkannya ke sebuah rumah. Ketika tiba di rumah itu muncullah seorang laki-laki. Abdullah bin Mubarak menyalaminya dan menanyakan namanya. Laki-laki itu menjawab, ”Ali al-Mufiq”. Abdullah bin Mubarak bertanya lagi, ”Apa usahamu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu?” Laki-laki itu kembali menjawab, ”Aku ini seorang tukang sepatu”. Lalu Ali al-Mufiq pun menanyakan nama orang asing yang baru menemuinya itu.

Abdullah bin Mubarak ini adalah seorang ulama yang sangat terkenal di zamannya sehingga ketika dia memperkenalkan dirinya, si tukang sepatu ini sangat kebingungan; mengapa ulama ternama ini mencarinya. Ketika Abdullah bin Mubarak meminta Ali al-Mufiq mengatakan kepadanya apakah dia pernah berencana untuk berangkat haji, Ali al-Mufiq pun berkata, ”Sudah tiga puluh tahun aku mendambakan untuk berangkat haji, dan baru tahun ini tabunganku cukup untuk melaksanakannya, tapi rupanya belum diperkenankan Allah, sehingga akupun belum dapat memenuhi niatku. Abdullah bin Mubarak penasaran, bagaimana hajinya orang ini bisa diterima bahkan dapat memberkahi semua orang yang beribadah haji di tahun itu sementara dia sendiri tidak melaksanakannya? Selama perbincangan dengan tukang sepatu itu Abdullah bin Mubarak dapat merasakan ketulusan hatinya.

Islam memang memandang kemuliaan bukan dari harta atau kekuasaan, melainkan dari rasa rendah hati, sikap yang baik, dan hati yang bersih. Abdullah bin Mubarak bertanya lebih jauh lagi, ”Mengapa kamu tidak jadi berangkat haji?” Ali tetap menghindar untuk menyebutkan alasannya dan hanya menjawab, ”Itu sudah kehendak Allah.”  Namun ketika Abdullah bin Mubarak tetap bersikukuh, Ali pun menjelaskannya, ”Satu waktu aku mengunjungi tetanggaku, di dalam rumahnya nampak anggota keluarga sedang duduk berkeliling layaknya bersiap untuk makan malam.

Walaupun aku tidak lapar, aku tetap mengira tetanggaku akan berbasa-basi mengajakku makan. Tapi kuperhatikan tetanggaku seperti sedang merisaukan sesuatu dan berusaha menghindar untuk mengajakku makan. Setelah berkurang keraguannya, dia berkata kepadaku, ‘Mohon maaf, aku tidak bisa mengajakmu makan. Sudah tiga hari ini kami tidak mendapatkan apapun untuk dimakan, aku sudah tidak kuat lagi melihat anak-anakku menjerit menahan lapar.

Lalu aku keluar mencari apa saja yang dapat menghentikan jerit tangis mereka. Kutemukan seekor keledai mati. Aku sudah kalap, dengan nekat kupotong sebagian daging dari hewan yang sudah mati itu, kubawa pulang dan langsung dimasak oleh istriku. Bagi kami daging ini halal, karena kami sangat-sangat lapar. Tapi aku tidak boleh menawarkannya kepadamu.” Ali tercekat, lalu melanjutkan, ”Hatiku menjerit perih mendengarnya. Langsung aku bangkit dan terus pulang ke rumah, kuambil uang tabungan tiga ribu dinar yang sudah kusiapkan untuk berangkat haji itu dan kuberikan semuanya kepada tetanggaku yang sedang kelaparan tersebut.

Aku sendiri juga sering menahan lapar agar dapat menabung uang untuk berangkat haji tahun ini, tapi aku yakin, menolong tetangga yang sedang mengalami masa sulit sedemikian itu jauh lebih penting. Walaupun demikian aku tetap berkeinginan untuk berangkat haji nanti jika diperkenankan Allah.” Abdullah bin Mubarak merasa sangat tergugah dengan cerita si tukang sepatu. Diapun menceritakan mimpinya kepada si tukang sepatu tersebut.

Allah itu Maha Pengasih dan akan menunjukkan kepengasihannya kepada siapa saja yang mengasihi makhluk-makhlukNya. Apa yang dilakukan oleh si tukang sepatu tadi telah membuat Allah sangat senang, sehingga bukan dia saja yang Allah anugerahi pahala Haji, melainkan semua yang berhaji pada tahun itu Allah terima hajinya  karena kebaikan yang dilakukan oleh si tukang sepatu tadi. Ibadah haji adalah suatu perjalanan yang dapat memacu jiwa untuk selalu ingat dengan waktu ketika ruh itu diciptakan, yang kemudian membawanya melampaui dimensi kehidupan ini hingga tiba pada waktu ruh ini berjumpa dengan Penciptanya. Pelaksanaan haji yang tulus akan menggiring seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-harinya dengan kebangkitan spiritual yang sangat tinggi. Pengalaman haji yang sukses akan selalu menghubungkannya kepada Sang Pencipta dan akan meningkatkan rasa kasih sayangnya kepada sesama.

Al-Qomah (Kisah Cinta Seorang Ibu)

Posted by admin - 31 Juli 2012 - Bina Keluarga, Cerita Islami
1
kasih seorang ibu

Al-Qomah adalah sahabat Nabi saw yang baik dan pemuda yang sangat rajin beribadah. Pada suatu hari secara tiba tiba ia jatuh sakit. Isterinya menyuruh seseorang memberi kabar kepada Rasulallah saw tentang keadaan suaminya yang sakit keras dan dalam keadaan sakaratul maut.

Lalu Rasulallah saw menyuruh Ali, Bilal ra dan dan beberapa sahabat lainya melihat keadaan Alqomah. Begitu mereka sampai di rumah Alqomah, mereka melihat keadaanya sudah krisis tidak ada harapan hidup. Kemudian mereka segera membantunya membacakan kalimah syahadat (la ilaha illaah) dihadapanya, tetapi lidah Alqomah tidak mampu menyebutnya.

Setelah melihat keadaan Alqomah yang semakin menghampiri akhir ajalnya dan semakin parah ditambah lagi ia tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat, mereka menyuruh Bilal memberitahukan Rasulallah saw. Maka Bilal menceritakan kepada beliau segala hal yang terjadi atas diri Al-Qomah.

 Lalu Rasulallah saw bertanya kepada Bilal, “Apakah ayah Al-Qomah masih hidup?” Bilal pun menjawab, “Tidak ya Rasulallah, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya.”

Kemudian Rasulallah saw berkata lagi, “Pergilah kamu ya Bilal menemui ibunya, sampaikan salamku dan katakan kepadanya kalau ia bisa datang menjumpaiku. Kalau dia tidak bisa berjalan, katakan aku akan datang ke rumahnya menjumpainya.”

Bilal tiba di rumah ibu Alaqomah, ibunya mengatakan bahawa dia ingin menemui Rasulallah saw. Lalu ia mengambil tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah beliau.

Setibanya disana ibu Al-Qamah memberi salam dan duduk di hadapan Rasulallah saw. Kemudian Rasulallah saw membuka pembicaranya, “Ceritakan kepadaku yang sebenarnya tentang anakmu Al-Qomah. Jika kamu berdusta, niscaya akan turun wahyu kepadaku,”

Dengan rasa sedih ibunya bercerita, “Ya Rasulallah, sepanjang masa, aku melihat Al-Qomah adalah laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas, sholeh dan selalu melakukan perintah Allah dengan sempurna, sangat rajin beribadat. Shalat dan puasa tidak pernah ditinggalkannya dan sangat suka bersedekah

“Ya Rasullah, semenjak aku mendapat kabar gembira tentang kehamilanku aku membawa Al-Qamah 9 bulan di perutku. Tidur, berdiri, makan dan bernafas bersamanya. Akan tetapi semua itu tidak mengurangi cinta dan kasihku kepadanya.”

“Ya Rasulallah, aku mengandungnya dalam kondisi lemah di atas lemah, tapi aku begitu gembira dan puas setiap aku rasakan perutku semakin hari semakin bertambah besar dan ia dalam keadaan sehat wal afiat dalam rahimku.”

“Kemudian tiba waktu melahirkanya ya Rasulallah. Pada saat itu aku melihat kematian di mataku.. hingga tibalah waktunya ia keluar ke dunia. Ia pun lahir. Aku mendengar ia menangis maka hilang semua sakit dan penderitaanku bersama tangisannya.”

Ibu Al-qamah mulai menangis, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu aku setia menjadi pelayannya yang tidak pernah lalai menjadi pendampingnya yang tidak pernah berhenti. Aku tidak pernah lelah mendo’akannya agar ia mendapat kebaikan dan taufiq dari Allah.”

“Ya Rasulallah, aku selalu memperhatikannya hari demi hari hingga ia menjadi dewasa. Badannya tegap, ototnya kekar, kumis dan jambang telah menghiasi wajahnya. Pada saat itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari pasangan hidupnya.”

Kemudian ia melanjutkan ceritanya, “Tapi sayang ya Rasulallah, setelah ia beristri aku tidak lagi mengenal dirinya, senyumnya yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah hilang, dan tawanya telah tenggelam. Aku benar-benar tidak mengenalnya lagi karena ia telah melupakanku dan melupakan hakku.”

Aku tidak mengharap sesuatu darinya ya Rasulallah, yang aku harapkan hanya aku ingin melihat rupanya, rindu dengan wajahnya. Ia tidak pernah menghapiriku lagi. Ia tidak pernah menanyakan halku, tidak memperhatikanku lagi. Seolah olah aku dibuang di tempat yang jauh.”

“Ya Rasulallah, aku ini tidak meminta banyak darinya, dan tidak menagih kepadanya yang bukan-bukan. Yang aku pinta darinya, jadikan aku sebagai sahabat dalam kehidupannya. Jadikanlah aku sebagai pembantu di rumahnya, agar bisa juga aku bisa menatap wajahnya setiap saat. Sayangnya dia lebih mengutamakan isterinya daripada diriku dan menuruti kata-kata isterinya sehingga dia menentangku.”

Rasulallah saw sangat terharu mendengar cerita ibu Al-Qamah. Kemudia beliau menyuruh Bilal mencari kayu bakar utuk membakar Al-Qomah hidup hidup. Begitu Ibu Al-Qamah mendengar perintah tersebut, ia pun berkata dengan tangisan dan suara yang terputus putus, “Wahai Rasullullah, kamu hendak membakar anakku di depan mataku? Bagaimana hatiku dapat menerimanya? Ya Rasulallah, walaupun usiaku sudah lanjut, punggungku bungkuk, tangganku bergetar. Walaupun ia tidak pernah menghapiriku lagi tapi cintaku kepadanya masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Janganlah kamu bakar anakku hidup hidup”

Rasulallah saw bersabda “Siksa Allah itu lebih berat dan kekal. Karena itu jika kamu ingin Allah mengampuni dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan berguna sholatnya, puasanya dan sedekahnya, semasih kamu murka kepadanya.”

Kemudian ibu Al-Qomah mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Rasullullah, aku bersaksi kepada Allah yang di langit dan bersaksi kepadamu ya Rasullullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahwa aku aku telah ridho pada anakku Al-Qomah.”

Lalu Rasulallah saw mengarah kepada Bilal ra dan berkata, “Pergilah kamu wahai Bilal, dan lihat kesana keadaan Al-Qomah apakah ia bisa mengucapkan syahadat atau tidak? Aku khawatir, kalau-kalau ibu Al-Qomah mengucapkan itu semata-mata karena aku dan bukan dari hatinya,”

Bilal pun sampai di rumah Alqomah, tiba-tiba terdengar suara Al-Qomah menyebut, “La ilaha illallah”. Lalu Bilal masuk sambil berkata, “Wahai semua orang yang berada di sini. Ketahuilah sesungguhnya kemarahan seorang ibu kepada anaknya bisa membuat kemarahan Allah, dan ridho seorang ibu bisa membuat keridhoan-Nya .” Maka Al-Qomah telah wafat pada waktu dan saat yang sangat baik baginya”

Lalu Rasulallah saw segera pergi ke rumah Al-Qomah. Para sahabat memandikan, kafankan dan menyolatinya diimami oleh Rasulallah saw. Sesudah dikuburkan beliau bersabda sambil berdiri didekat kubur, “Wahai sahabat Muhajirin dan Ansar. Sesiapa yang mengutamakan isterinya dari ibunya, maka dia akan dilaknat oleh Allah dan semua ibadahnya tidak diterima Allah.”

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

Mata yang Tidak Menangis di Hari Kiamat

Posted by admin - 17 Juli 2012 - Aqidah, Cerita Islami
2
ibadah

Semua kaum muslimin berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini pasti berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadillan Allah swt. Al-Quran telah menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surat Al-Ghasyiyah, ayat 1–16. Dalam surat itu digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria, mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di hari kiamat memperoleh kebahagiaan.

Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di hari kiamat, Rasulullah pernah bersabda, “Semua mata akan menagis pada hari kiamat, kecuali 3 (tiga) hal:

            Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah swt.

            Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah swt.

            Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah swt.”

Mari kita lihat, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di hari kiamat?

Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul, berkelana ditempat-tempat maksiat, dan pulang larut malam. Dari tempat itu, ia pulang dalam keadaan sempoyongan. Ditengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran, Ayat yang dibaca itu berbunyi :

            “Belum datanglah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang yang fasik” (QS.  57:16)

Setibanya ia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan tersebut didalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya, si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya dihadapan Allah swt karena perbuatan maksiat yang pernah ia lakukan.

Kemudian ia mengubah cara hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah swt, sehingga di abad kesebelas hijriyyah dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.

Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar, dan mengalir air mata penyesalan ata kesalahannya di masa lalu, karena takut kepada Allah swt.

Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya, kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu Insya Allah mata yang tidak menangis di hari kiamat.

Mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Seperti telah kita ketahui, bahwa Rasulullah saw pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di hari kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujuh orang itu, salah satu diantaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi ia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah swt.”

Nabi Yusuf as mewakili kisah ini ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di hari kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah swt.

Kemudian mata yang tidak tidur karena membela agama Allah, seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahankan keutuhan agamanya, serta menegakkan tonggak islam.

Itulah tiga pasang mata yang tidak menangis di hari kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang bahagia di hari kiamat nanti.

AWSOM Powered