Category: Cerita Ringan

Sekelumit Tentang Kopi

Posted by admin - 19 September 2014 - Cerita Ringan
1
Kopi

 

Imam Najmuddin al-Ghazziy Seorang pakar sejarah mencatatkan dalam kitab al-Kawakib as-Sairah Fi A’yan al-Miah al-A’syirah bahwa :

” Orang yang pertama kali menjadikan kebiasaan minum kopi sebagai minuman berkhasiat adalah syekh Abi Bakr Bin Abdullah Al-Aydrus , Beliau membuat racikan kopi dari buah pohon Bun.”

Sayyid Abdurrohman bin Muhammad bin Abdurrohman bin Muhammad al-Husainy al-Hadramy dari marga Al-Aydrus (1070 H-1113 H) mengatakan dalam kitabnya Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qahwah.

” Biji kopi baru ditemukan pada akhir abad VIII H di Yaman oleh penemu kopi Mukha, Imam Abul Hasan Ali asy-Syadziliy bin Umar bin Ibrahim bin Abi Hudaimah Muhammad bin Abdulloh bin al-Faqih Muhammad Disa’in (nasabnya bersambung hingga kepada seorang sahabat bernama Khalid bin Asad bin Abil Ish bin Umayyah al-Akbar bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay).

Beliau adalah pengikut tarekat Syadziliyah, bukan pendirinya (karena pendiri tarekat Syadziliyah, Imam Abu Hasan asy-Syadziliy telah wafat pada tahun 828 H).”

Dalam penemuan biji kopi, Imam Abul Hasan Assadzili mendahului Imam Abu Bakr al-Aydrus. Sehingga Imam Abul Hasan adalah penemu biji kopi, sedangkan Imam Abu Bakr Al-Aydrus adalah penyebar kopi di berbagai tempat.

Beliau menggubah syair mengenai kopi sebagai berikut:

“Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, kopi membantuku mengusir kantuk

Dengan pertolongan Alloh, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap.”

Qahwah (kopi) :

- ‘qaf’ adalah quut (makanan),

- ‘ha’ adalah hudaa (petunjuk),

- ‘wawu’ adalah wud (cinta),

- dan ‘ha’ adalah hiyam (pengusir kantuk).

” Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia.”

Syeikh Abu Bakr bin Abdulloh al-Aydrus berkata tentang kopi yang digemarinya:

“Wahai qahwatul bunn (kopi)!

Huruf ‘qaf’ di awalmu adalah quds (kesucian),

huruf kedua ‘ha’ adalah hudaa (petunjuk), dan

huruf ketigamu adalah ‘wawu’.

Huruf keempatmu adalah ‘ha’,

berikutnya ‘alif’ adalah ulfah (keakraban),

‘lam’ sesudahnya adalah lutfh (belas kasih dari Alloh).

‘Ba’ adalah basth (kelapangan), dan

‘nun’ adalah nur (cahaya).

Oh, kopi, kau laksana purnama yang menerangi cakrawala.”

Imam Hamzah bin Abdullah bin Muhammad an-Nasyiriy al-Yamaniy asy-Syafi’I, penduduk Zabid (832 H-936 H) adalah seorang sastrawan ulung yang ahli tumbuh_tumbuhan.

Dia menggubah seribu bait nadzam mengenai kemukjizatan al-Qur”an, menulis kumpulan fatwa, dan menggubah nadzam lebih dari 80 bait mengenai manfaat kopi, yang antara lain isinya adalah kopi bisa membangkitkan semangat seseorang dan mengantarkannya mencapai kesuksesan.

Disebutkan dalam kitab Al-Linas bahwa huruf ‘ba’ dan ‘nun’ pada kata bunn (kopi), masing-masing berarti bidayah (permulaan) dan nihayah (akhir/puncak), yakni mengantarkan seseorang dari awal langkah hingga akhir/sampai sukses.

Nah,demikian uraian tentang kegemaran dan sanjungan ulama Sufi akan kopi, manfaat, serta falsafah tentangnya.

Nuansa Arab di Condet

Posted by admin - 17 Oktober 2012 - Cerita Ringan
0
condet

Kedai bibit parfum berderet-deret di ujung jalan yang relatif sempit. Padat dan meriah. Di antara botol-botol parfum yang cantik terpajang pula berwarna-warni jambangan ”shisha”, alat isap ”rokok” Arab. Itulah penanda perjalanan sudah sampai di Condet.

Kedai-kedai bibit parfum—yang masih harus diracik untuk jadi parfum—bisa disebut sebagai ciri khas hampir setiap kampung Arab di Pulau Jawa. Mulai dari kampung Arab di Ampel,Surabaya; Pasar Kliwon, Solo; hingga kampung Arab Condet, Jakarta Timur.

”Memang tradisi orang Arab meracik sendiri parfum mereka,” kata Thoha, pemilik kedai bibit parfum di Condet

Pria berdarah campuran Betawi-Arab ini bercerita, di Timur Tengah parfum dari Eropa dan Amerika tak cocok begitu saja dipakai karena perbedaan iklim yang ekstrem. Di Arab, bibit parfum diramu untuk memperkuat aroma parfum agar lebih tahan dengan iklim panas.

Minyak gaharu dan cendana dariIndonesiatermasuk bahan terpenting untuk racikan parfum di kawasan Timur Tengah. Kebiasaan meramu parfum ini pun terbawa di kalangan warga keturunan Arab di Indonesia.

Di Condet, Thoha menjelaskan, meskipun toko-toko parfum berjajar, masing-masing punya pelanggan karena parfum hasil ramuan satu toko dengan toko lainnya tak akan sama. Di toko-toko ini, racikan yang cocok dan disukai seorang pelanggan akan dicatat si pengelola toko dan disimpan seperti ”resep” khusus untuk si pelanggan.

”Komposisi bahan dan takarannya saya catat, khusus untuk dia. Enggak akan saya kasih ke pembeli lain. Orangkanenggak suka baunya sama dengan orang lain,” ujar Thoha. Rupanya, meracik parfum mirip seperti menjahitkan baju, sesuai ”ukuran” aroma badan masing-masing.

Ganti aroma

Setelah aroma wewangian menggoda di ujung jalan masuk ke Condet, aroma bumbu masakan ganti menggoda selera ketika kaki melangkah lebih dalam ke Condet. Mengunjungi kawasan ini tak akan ”sah” tanpa menyempatkan menikmati kuliner bercitarasa Timur Tengah yang mendominasi Condet saat ini.

Begitu banyak pilihan, mulai dari nasi kebuli di rumah makan Puas dan Layla, hingga nasi kabsah di Resto Al Mukalla. Menu nasi ala Timur Tengah ini menyuguhkan nasi yang dimasak bersama daging kambing dan kaya bumbu.

Bila ingin menikmati kelezatan asli daging kambing–tanpa banyak bumbu—sajian di rumah makan Sate Tegal Abu Salim bisa jadi pilihan. ”Daging kambing yang empuk, tanpa bau amis itu tergantung kambing yang dipilih dan cara potong sejak penyembelihan,” ujar Lili Ahmad Al Kaff, pemilik rumah makan tersebut.

Mula-mula dipilihlah kambing yang masih muda, sekitar usia 4-5 bulan. Kemudian kambing dipotong dengan memperhatikan irisan uratnya. Daging kambing juga tidak boleh dicuci setelah disembelih, melainkan hanya dilap bersih. Justru karena tak terpercik air sebelum proses memasak itulah aroma daging tak menyengat atau prengus.

Selain menyajikan aneka menu, Sate Tegal Abu Salim juga seperti toko makanan swalayan, berbagai jenis kue dan penganan khas Timur Tengah ada di sana dari roti maryam yang gurih hingga kue kaad yang legit dan berwangi rempah. Tak ketinggalan, tersedia pula susu kambing, versi orisinal ataupun dengan tambahan madu.

Jangan khawatir, bukan hanya dagingnya yang tak beraroma amis, susu yang diperah dengan benar juga sama sekali tak menyisakan aroma kambing. ”Proses memerahnya harus bersih. Kalau ada bulu jatuh ke susu, bisa langsung jadi prengus,” kata Lili yang pindah dari Tegal, Jawa Tengah, ke Condet dan membuka rumah makan di kawasan ini sejak 25 tahun lalu.

Ketika waktu makan siang berlalu dan sore menjelang, Condet bisa dinikmati dengan secangkir teh poci dengan gula batu atau kopi Arab—yang antara lain dibumbui cengkeh, kapulaga, dan gula merah—serta kue kamir.

Kue yang bentuknya mirip apem ini sederhana saja, hanya berbahan tepung terigu, ragi, santan, mentega, sedikit gula dan garam. Kamir jauh lebih nikmat disantap panas-panas ditemani secangkir kopi yang juga panas. Di Condet, kamir biasa disajikan sebagai pengganti sarapan pagi atau saat ngopi sore.

Karenanya, gelaran kakilimayang menjajakan kamir—lengkap dengan panggangan—laris manis saat pagi tiba atau menjelang sore di Condet.

Percampuran budaya

Condet pernah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya Betawi pada 1974. Hanya sekitar sepuluh tahun status itu bertahan. Kini, warga Betawi di Condet tak lagi memberi ciri kuat pada kawasan itu. Sebaliknya, nuansa Arab menguat, seiring arus pendatang warga keturunan Arab yang mengalir ke Condet, baik dari sekitar Jakarta maupun dari berbagai daerah lain.

Bisnis penempatan tenaga kerjaIndonesiauntuk kawasan Timur Tengah yang banyak berkembang di Condet menjadi salah satu pendorong arus migrasi ini. ”Selain ekonomi, juga secara kultural ada kedekatan warga keturunan Arab dan Betawi karena pengaruh Islam,” kata Husein Faris yang pindah dariSurabayake Condet pada awal 1990-an.

Akulturasi budaya berjalan alami antara lain lewat pernikahan campur. ”Banyak juga yang nikah campur, bukan hanya antara keturunan Arab dan Betawi, ada juga yang Arab-Sunda dan lain-lain,” ujar Husein.

Parapendatang pun tak ragu menampakkan identitas dengan tetap menjunjung toleransi. Keanekaragaman ini bisa juga dilihat dari plang nama tempat usaha di Condet: Dodol Betawi Hj Mamas, Kamir asli Pemalang, Sate Tegal Abu Salim, Salon Lulur Madura. Ini Jakarta bung…Indonesia.

Oleh Nur Hidayati

Sumber: Kompas Cetak

Editor: I Made Asdhiana

Foto: KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

AWSOM Powered