Click here to send us your inquires or call (852) 36130518
Click here to send us your inquires or call (852) 36130518

Category: Da’i dan Dakwah

Malam Lailatul Qadar

Posted by admin - 23 Juli 2012 - Da'i dan Dakwah, Ilmu Al Quran dan Tafsir, Ramadhan
0
lailatul qadar

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ صحيح البخاري

Rasulullah SAW bersabda :
“ Temuilah malam Lailatul qadr di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan “ (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِاْلَحَمْدلُلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ ياَمَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وعَلىَ أَلِهِ الحَمْدُلِله الَّذِيْ جَمَعَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ أَكْرَمَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ وَعَدَنَا بِاْلمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ..

Limpahan puji ke hadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Penguasa tunggal Maha Sempurna dan Abadi Rabbul ‘Alamin Yang Maha Luhur dan Maha Suci dan Maha mensucikan jiwa dan sanubarihamba-hambaNya, Maha menyingkirkan segenap kesulitan dan musibah bagi hamba-hambaNya, dan Maha mampu melimpahkan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang dikehendakiNya, beruntunglah mereka yang selalu memperbanyak doa dan munajat memanggil namaNya Yang Maha Luhur. Karena setiap seruan panggilan ke hadirat Allah, memanggil nama Allah, akan abadi dan akan sampai ke hadirat Allah Jalla Wa ‘Alaa. Di Yamul Mahsyar (hari perkumpulan seluruh manusia), Allah SWT akan mengenal bibir-bibir yang selalu memanggil namaNya , Firman Allah dalam hadits qudsy :

أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ
“Aku bersama hambaKu ketika hambaKu mengingatKu, dan bergetar bibirnya menyebut namaKu “. Dan Allah SWT berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّكُمْ يَرْشُدُوْنَ  — البقرة :186

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” ( QS. Al-Baqarah: 186).

“ Wahai Muhammad, katakanlah kepada hamba-hambaKu jika mereka bertanya tentang dzatKu ini, katakanlah bahwa Tuhan mu dekat إِنِّيْ قَرِيْبٌ “ Sungguh Aku (Allah) Maha dekat “, lebih dekat kepadanya dari semua yang dekat padanya, sebelum ia mengenal satu pun dari teman dan kerabatnya, sebelum ia mengenal ayah dan ibunya, Allah telah Maha dekat dan mengenalnya sebelum ia lahir ke muka bumi, selama namanya telah dicipta dan ditaruh di sulbi nabiyullah Adam AS, إِنِّيْ قَرِيْبٌ Akulah (Allah) Yang Maha dekat kepadanya, dan Maha menawarkan kedekatanNya yang abadi setelah kehidupan di muka bumi. Semoga aku dan kalian selalu menerima lamaran kedekatan Allah Jalla Wa ‘Alaa dunia wal akhirah, dan semoga Allah memberi kemudahan bagiku dan kalian untuk selalu dalam keluhuran cahaya kedekatan ke hadirat Allah. Jangan selalu berputus asa berdoa dan bermunajat jika kita merasa lemah dan rentan maka berdoalah karena Allah membimbing mu dan mempermudah mu membuka jalan kemudahan untuk sampai kepada pintu-pintu keluhuran dan kesucian hidup, yang dengan itu kita sampai kepada rahasia kebahagiaan yang kekal, keridhaan Allah, cinta Allah, kasih sayang Allah. Betapa beruntung mereka yang menerima lamaran Allah untuk dapat menjadi pencintaNya, dan betapa ruginya mereka dengan segala apa yang mereka lewati dalam kehidupan di muka bumi, jika mereka lepas dan menolak lamaran Allah untuk menjadi kekasihNya. Firman Allah dalam hadits qudsy :

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَائَهُ

“ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Ku (Allah), Aku pun rindu berjumpa dengannya”.

Hadirin hadirat…demikian kasih sayang dan kerinduan yang ditawarkan pada jiwa yang mau rindu kepada Yang Maha menawarkan kebahagiaan yang kekal …ALLAH. Renungi kalimat agung dan luhur dari Rabbul ‘Alamin : “ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Allah, Allah pun rindu berjumpa dengannya”. Alangkah indah hari-hari seorang hamba, ia lewati hari-hari nya dan ia dirindukan Allah. Semoga aku dan kalian diterangi jiwa kita dengan cahaya kerinduan berjumpa dengan Yang Maha Indah, dengan pencipta kita dari tiada, dengan Yang Maha Dermawan dan menyingkirkan kita dari segala kesulitan dan musibah, demi cahaya kerinduan ke hadirat Allah Ya Zal Jalaali Wal Ikram. Sampailah kita di hari yang mulia ini 17 Ramadhan yang mengingatkan kita kepada peristiwa Badr Al Kubra, dimana diterangkannya bendera pembela Sang Nabi SAW, pertama kali ketika beliau SAW berhadapan dengan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah Al Munawwarah sebelum menuju Badr Al Kubra, maka di saat itulah wajah yang paling ramah, wajah yang paling indah, wajah yang dikatakan oleh Sayyidina Anas bin Malik :

مَارَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبُ مِنْ وَجْهِ النَّبِي

“ Tidak ada pemandangan kutemukan lebih indah dari wajah Sang Nabi (saw), lebih menakjubkan dari wajah Sang Nabi”. Ketika berdiri kaum muhajirin dan anshar menghadap wajah yang paling mulia, wajah yang paling sopan, wajah yang paling berkasih sayang dari seluruh makhluk Allah, wajah yang dikatakan oleh Allah :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ — القلم : 4

“ Sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung”.( QS.Al Qalam : 4) Wajah yang selalu menjawab cinta dari semua umat bahkan dari benda mati, demikian Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Maka Rasulullah SAW berkata :“ bagaimana pendapat kalian “ ?, maka berkata salah seorang Anshar :

لَكَأَنَّكَ تُرِيْدُ مِنَّا يَارَسُولَ اللهِ ؟
“ Ya Rasulullah tampaknya engkau menunggu pendapat kami”?, maka Rasul SAW berkata : betul, bagaimana pendapat kalian wahai kaum Anshar? , maka salah satu kaum Anshar berkata :

يَارَسُولَ اللهِ اِمْضِ بِنَا لِمَا أَرَدْتَ فَنَحْنُ مَعَكَ, لَوْ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا اْلبَحْرَ فَخَضْتَهُ لَخَضْنَاهُ مَعَكَ مَا تَخَلَّفَ مِنَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ لَعَلَّ اللهُ يُرِيْكَ مِنَّا مَا تَقَرَّ بِهِ عَيْنُكَ

“ Wahai Rasul, kami akan ikut bersamamu kemanapun engkau pergi , jika engkau mengajak kami kemanapun kami akan ikut, jika engkau berdiri di depan lautan lalu masuk ke dasar lautan, kami akan ikut dan tidak akan tersisa satu pun dari kami kecuali ikut denganmu, barangkali dengan itu kami bisa menggembirakan hatimu wahai Rasulullah”.
Inilah tujuan Muhajirin dan Anshar yang selalu ingin menggembirakan hati Nabi Muhammad SAW, mereka rela mati kesemuanya demi menggembirakan hati Muhammad Rasulullah SAW,

فَسُرَّ وَجْهُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,

maka terlihat terang benderang dan gembira wajah Rasul SAW, maka mereka pun berangkat.

Hadirin hadirat… malam 17 Ramadhan malam munajat , Sang Nabi berdoa kehadirat Allah terangkat kedua tangannya hingga jatuh ridanya (rida : sorban dipundak)dari panjangnya doa beliau, diantara doa beliau SAW riwayat Shahih Al Bukhari :

اَللَّهُمَّ إِنْ تَشَأْ لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ …

“ Wahai Allah aku risau kalau seandainya kelompok kecil kami ini kalah orang-orang yang banyak tidak siap berperang, senjata terbatas tidak mampu berbuat apa-apa, kalau sampai kalah kelompok ini dan habis di bantai,

لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ

aku risau tidak ada yang menyembah Mu di muka bumi, karena seluruh orang-orang para da’i, para pembela Sang Nabi kumpul di Badr, kalau semuanya di bantai maka habislah, tinggallah Dhu’afaa’ (orang-orang lemah) di Makkah dan kaum wanita di Madinah, maka setelah ini jangan-jangan tidak ada lagi yang menyembahMu kalau sampai kelompok ini kalah. Demikian risaunya Sang Nabi, beliau mempunyai jiwa yang risau, paling risau sesuatu menimpa umat nya inilah jiwa Sayyidina Muhammad, inilah jiwa yang Allah katakan :

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ  — التوبة : 128

“ Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian sendiri, yang sangat menjaga kalian dan sangat berat memikirkan apa yang menimpa kalian, dan sangat santun dan berkasih sayang terhadap orang-orang yang beriman”. ( QS. At Taubah : 128)
Inilah Sayyidina Muhammad SAW yang berdoa :

اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ

Sampai di saat musibah yang paling dahsyat di dunia ini, yaitu sakaratul maut seraya berdoa kepada Allah di saat beliau akan wafat “ Ya Allah keraskan dan pedihkan sakaratul mautku dan ringankan untuk seluruh umatku ‘’. Inilah doa Sayyidina Muhammad SAW, rela menerima kepedihan sakaratul maut demi teringankan untuk umatnya. Maka, hadirin hadirat…satu-satunya jiwa yang paling tidak tega melihat umatnya merintih di dalam api neraka karena berdosa beliau bersujud untuk memohonkan syafaat untuk para pendosa, inilah Muhammad Rasulullah SAW pimpinan Ahlul Badr. Maka mereka keluar dengan dua bendera hitam, satu bendera di tangan Muhajirin satu bendera di tangan Anshar. Bendera Muhajirin di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah RA, dan satu bendera di tangan kaum Anshar. Dan Rasulullah SAW berkata janganlah kalian menyerang mereka sebelum mereka menyerang kalian, jangan ada yang bergerak dan berbuat sesuatu sebelum mereka terlebih dahulu berbuat dan menyerang kita. Jumlah 313 orang, senjata tidak lengkap menghadapi 3000 pasukan musyrikin quraisy dengan senjata lengkap dan kuda, pakai baju besi, topi besi, senjata, pedang, siap tempurnya dengan pasukan kuda yang berlapis baja pula, berhadapan dengan pasukan 313 orang, berapa puluh yang punya pedang, lainnya bawa tombak, lainnya cuma punya panah, lainnya hanya bawa tongkat, dan yang lainnya membawa batu dan alat tani, inilah keadaan mereka. Allah berfirman :

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ — الأنفال : 9

“ Jika kalian berdoa dan bermunajat meminta pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu, sesungguhnya Aku (Allah) akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS.Al Anfal : 9)
Berkata Abu Sa’id dari kaum Anshar, aku buta sejak perang Badr kalau seandainya aku tidak buta, aku bisa perlihatkan kalian dimana turunnya pasukan malaikat dari belahan langit di wilayah Badr, karena kejadian itu terjadi di wilayah yang dinamakan Badr tahun ke-2 Hijriah pada hari Jum’at 17 Ramadhan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian indahnya peperangan Badr Al Kubra ini, ketika Sayyidina Abu Thalhah Al Anshari RA yang sangat mencintai Sang Nabi SAW, yang berlutut di tengah-tengah peperangan seraya berkata kepada Rasulullah :

وَجْهِيْ لِوَجْهِكَ اْلوِقَاءُ وَنَفْسِيَ لِنَفْسِكَ اْلفِدَاءُ

“ Wajahku ini siap menjadi tameng bagi segala serangan di wajahmu ya rasul, jiwa dan ragaku siap untuk membentengimu wahai Nabi dari segala panah dan senjata “. Maka orang seperti Abu Thalhah ini kata Rasul : Abu Thalhah ka alf min ummati ( Abu Thalhah seperti 1000 orang kekuatannya dalam umatku ). Demikian keadaan para pencinta Rasul SAW yang mempunyai kekuatan yang demikian dahsyat . Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah ini di dalam peperangan Badr pedangnya jatuh karena kantuknya, karena sepanjang malam qiyamul lail di saat perang terjatuh pedangnya, bagaimana manusia perang dengan hawa nafsu, kalau ia perang dengan hawa nafsu tentunya ia tidak akan bisa memejamkan mata sekejap pun dari melihat serangan pedang 3000 orang pasukan kuffar quraisy dengan senjata lengkap masih bisa terkantuk-kantuk, menunjukkan mereka memang mempunyai jiwa-jiwa yang suci dan damai, bahkan Sang Nabi mengatakan “ jangan menyerang sebelum mereka menyerang”. Demikian hadirin hadirat, manusia yang paling tidak menghendaki permusuhan walau terhadap orang-orang yang paling jahat memusuhi beliau, bahkan pada saat perang Uhud ketika panah besi menembus rahang beliau, dan beliau SAW roboh maka saat itu berdiri Sayyidina Abu Thalhah di depan beliau, dan Rasul berdiri lagi untuk melihat keadaan pasukannya yang kacau balau karena diserang kaum kuffar, maka Abu Thalhah berkata ; tetap duduk wahai Rasul jangan berdiri sungguh …

وَجْهِيْ لَيْسَ بِوَجْهِكَ وَصَدْرِيْ لَيْسَ بِصَدْرِكَ

( wajahku bukan wajahmu dadaku bukan dadamu ), biar aku yang kena serangan panah jangan engkau kena serangan lagi, tetap di tempatmu wahai Rasul. Dan Rasul sudah mengalir darah, karena panah besi menghantam dari pada perisai baja yang ada di tangan Sang Nabi dan sedemikian kerasnya sampai menembus baja tersebut dan menembus tulang rahang beliau. Maka Sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ RA dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari datang kepada Nabi dan membersihkan darah yang mengalir dari wajah beliau. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa Rasul memegang ridanya (rida : sorban dipundak yg sering juga dililitkan dileher oleh beliau saw), menahan jangan sampai darah jatuh ke tanah, maka para Shahabat berkata biar dulu darahnya jatuh ke tanah wahai Rasul, kita urus panah besi di rahangmu masih menempel, maka Rasul berkata kalau ada darah dari wajahku jatuh ke tanah, Allah akan tumpahkan bala’ untuk mereka, maka Rasul tidak ingin bala’ ini tumpah pada mereka yang memerangi beliau, inilah Sayyidina Muhammad SAW . Panah besi menembus rahang beliau, beliau masih sibuk menjaga jangan sampai setetes darah jatuh ke tanah, karena nanti Allah akan murka kalau sampai ada setetes darah dari wajahku jatuh ke bumi, Allah akan menumpahkan bala’ untuk mereka, Rasul masih ingin mereka masuk Islam lalu keterunannya mendapat hidayah, demikian manusia yang paling indah Sayyidina Muhammad SAW. Perang Badr berakhir dengan kemenangan.

Hadirin…Sayyidina Utsman bin Affan RA, yang saat akan berangkat ke Badr terkena musibah karena istrinya sakit. Sayyidina Utsman mau meninggalkan istrinya namun ia tidak berani karena istrinya adalah putri Rasulullah SAW, baginya peperangan Badr belakangan, ini putri Sayyidina Muhammad SAW. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya Rasulullah, putrimu sakit aku mohon ijin. Maka Rasulullah berkata : Kau tetap jaga putriku. Selesai perang Badr, maka Rasulullah saw bersabda, Allah telah berfirman kepada Ahlul Badr dalam hadits qudsy riwayat Shahih Bukhari :

اِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ يَاأَهْلَ اْلبَدْرِ قَدْ غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَكُمْ مَاتَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ

“ Beramallah semau kalian wahai ahlul Badr, karena Allah telah mengampuni dosa kalian yang telah lalu dan yang akan datang “. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya (Wahai) Rasulullah, aku tidak hadir perang Badr, aku menjaga putrimu. Maka Rasulullah berkata : Kau dapat pahala Badr, dan kau dalam kelompok Ahlul Badr. Demikian hadirin hadirat, karena beliau ( Sayyidina Utsman ) menjaga putri Rasul, mengorbankan hadir dari perang Badr maka Allah memberikan baginya pahala kemuliaan Badr Al Kubra, Sayyidina Utsman RA.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah…
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka Khalifah Abu Bakar As Shiddiq RA memegang khilafah, lantas terjadi pemberontakan di beberapa wilayah yang tidak menerima kepemimpinan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA, diantaranya Ahlul Yaman. Yaman masuk Islam di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, demikian riwayat Sirah Ibn Hisyam. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA dikirim oleh Rasul saw ke Yaman. Sayyidina Muadz menuju ke Yaman bagian utara, dan Sayyidina Ali menuju ke Yaman bagian Selatan ( Hadramaut ). Setelah mereka ( penduduk Yaman ) masuk Islam, maka kembalilah Sayyidina Ali dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA. Namun setelah kepemimpinan Khalifah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, terjadi pemberontakan disana-sini diantaranya di Yaman dan juga di Hadramaut. Dari kota Tarim, penguasa kota Tarim saat itu Sultannya mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA untuk meminta bantuan pasukan dari Madinah, karena banyaknya orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA. Maka Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq mengirim beberapa banyak Sahabat, diantaranya mereka Ahlul Badr. Ahlul Badr tentunya tidak semuanya wafat, maka dikirim diantaranya Ahlul Badr menuju Tarim Hadramaut. Di kota Tarim tempat guru mulia kita dan para Salafus Shalih, disana terdapat yang di sebut Jabal Khailah , yaitu gunung kuda artinya, kenapa disebut gunung kuda? Karena dari gunung itulah turunnya pasukan para Sahabat dari Madinah Al Munawwarah ketika datang dari perintah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA menuju kota Tarim. Maka dikatakan jarak terdekat kalau dengan menaiki kuda menuju Madinah dari kota Tarim adalah lewat Jabal Khailah, dari situlah turunnya pasukan Sahabat datang menuju kota Tarim. Mereka bersatu dengan penduduk Tarim untuk membela kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA, lantas diantara Ahlul Badr ada yang mati syahid di kota Tarim, dimakamkan dan sampai sekarang ada makam Ahlul Badr di kota Tarim di pekuburan Zanbal .

Hadirin…selesailah permasalahan Khalifah Abu Bakr As Shiddiq, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman , Sayyidina Ali, berlanjut muslimin terjadi permasalahan diantara Khalifah, dan setelah wafatnya Khulafaa Ar Rasyidin, hingga Al Imam Ahmad Al Muhajir pindah ke Baghdad, keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, keturunan Sayyidatna Fathimah Az Zahra’ RA, keturunan Rasulullah SAW. Al Imam Ahmad Al Muhajir di Baghdad dan kemudian mendapat banyak permasalahan dan fitnah serta perpecahan di antara kaum Muslimin, maka Al Imam Ahmad Al Muhajir mengajak beberapa rombongan keluarganya hijrah ke kota Tarim Hadramaut, ke tempat makam Ahlul Badr dan para pembela Abu Bakr As Shiddiq RA . Wafat Al Imam Ahmad Al Muhajir di wilayah Hadramaut dan dimakamkan disana, lalu keturunannya di antaranya Al Imam Ali bin ‘Alwy Khali’ Qasam AR (alaihi rahmatulllah : semoga atasnya Rahmat Allah swt), seorang Hujjatul Islam yang kemudian berwasiat untuk dimakamkan di sebelah perkuburan Ahlul Badr, dan ia mewakafkan tanah yang di sebut perkuburan Zanbal untuk para keturunannya, hingga saat ini para imam-imam besar banyak sekali dimakamkan di perkuburan itu mengambil tabarruk untuk berdekatan dengan sahabat Ahlul Badr RA .

Ketika Al Imam Ahmad Al Muhajir ingin pindah ke Yaman Hadramaut, sebagian Ulama’ di Baghdad berkata : Wahai Imam, kau mau kemana?, kau ini Imam Ahlul Bait mau pindah ke Hadramaut tempat yang tandus tidak ada sesuatu!? Al Imam berkata: Aku ingin menjaga keturunanku dari fitnah dan dari bencana permusuhan, maka ia pun berangkat ke Hadramaut tanah yang tandus yang tidak ada padanya kecuali baduwi-baduwi (orang orang dusun), dan diantara bagian besar adalah padang pasir.

Namun, cahaya semangat Al Imam Ahmad Al Muhajir tidak padam dan tidak berhenti di Hadramaut, cahaya kecintaannya yang berpadu dengan para pencinta Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA di kota Tarim Hadramaut dari dakwahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berkelanjutan, sampailah datang sembilan orang mulia ke pulau Jawa yang keluar dari keturunan Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa menuju Gujarat lantas sampai ke pulau Jawa, maka dari ujung Banyuwangi hingga ujung kulon ini rata dengan Kalimat Tauhid. Dari kemuliaan persatuan antara Ahlul Bait dan Sahabat Rasul SAW, mereka sembilan orang ini datang tidak membawa senjata, tidak membawa pasukan, tidak membawa sesuatu bahkan bahasa pun mereka tidak tahu. Tapi mereka membawa semangat keberkahan Ahlul Badr, dan mereka membawa semangat cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW.

Ternyata dari sembilan orang mulia ini (wali songo), Allah memberikan keberkahan yang sangat luhur sampai jadilah Indonesia negeri Muslimin terbesar di muka bumi. Demikian hadirin hadirat kemuliaan silsilah yang sangat mulia ini, sampailah kabar agung ini kepada kita Muslimin Muslimat di malam hari ini. Semoga aku dan kalian selalu bersama kemuliaan Ahlul Badr dunia dan akhirat.

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

( seseorang bersama dengan orang yang dicintainya ).

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Sampailah kita di malam-malam agung di hadapan sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malam yang penuh dengan cahaya keluhuran, malam-malam yang penuh dengan cahaya kebahagiaan dan kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, meneruskan dari keagungan firman Allah :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ اْلقَدْرِ¤ وَمَاأَدْرَىكَ مَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ ¤ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ¤ تَنَزَّلُ اْلمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ¤ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ اْلفَجْرِ ¤  — القدر : 1-5

Allah memberikan kemuliaan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, Allah befirman “ Bahwa Lailatul Qadr itu lebih mulia daripada seribu bulan, dan di saat itu diturunkan para Malaikat maksudnya untuk membawa rahmah, dan juga malikat Jibril AS, karena yang disebut “ اَلرُّوْحُ “ dalam ayat itu sebagian besar Mufassir mengatakan adalah Jibril AS, turun ke bumi bersama jutaan milyar malaikat yang tidak terhitung untuk membawa rahmat Allah di malam itu”.

Hadirin hadirat..dan ketahuilah bahwa Lailatul Qadr bukanlah satu dua detik, sebagian orang memahami Lailatul Qadr itu satu dua detik saja, Lailatul Qadr itu sepanjang malam di malam itu. Malamnya yang mana ? sekarang kita bahas, jadi yang ibadah di malam itu dikalikan seribu bulan, kira-kira 83 tahun. 1000 bulan itu kalau dibagikan kira-kira 83 tahun, itu hadiah untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya, asalkan mereka ibadah apapun di malam itu sampai terbitnya matahari di Lailatul Qadr, maka saat itu mereka mendapat pahala dikalikan 1000 bulan. Kalau cuma shalat isya’ saja seakan ia shalat Isya selama seribu bulan, kalau ia Tarawih 20 rakaat, berarti ia bersujud 40 kali di dalam setiap malam dalam 1000 bulan, kalau ia memakai siwak kalikan 70 kali lipat, kalau ia berjamaah kalikan 27 kali lipat, karena di bulan Ramadhan lebih dari 700 kali lipat kalikan 1000 bulan, MasyaAllah!!!

Lantas Rasul SAW diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari Rasul SAW beri’tikaf di 10 hari malam pertama bulan Ramadhan, maka datanglah malaikat Jibril AS dan berkata : “Wahai Rasul SAW yang kau kehendaki itu masih di depan”. Rasul menantikan malam Lailatul Qadr, masih di depan maksudnya masih nanti. Rasul SAW beri’tikaf lagi sampai 10 hari yang kedua, jadi 20 hari Rasul I’tikaf. Maka Jibril AS berkata : “Ya Rasululallah yang engkau mau itu di depanmu”, maksudnya 10 hari malam terakhir. Maka keesokan harinya Rasul berkhutbah ,pagi tanggal 20 Ramadhan Rasul SAW memanggil para Sahabat dan menyampaikan taushiah bahwa sungguh Allah SWT menentukan malam Lailatul Qadr aku melihatnya di dalam mimpiku, aku bersujud dalam keadaan tanah ini membasah yaitu gerimis.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“ Carilah malam Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir” kata Rasul SAW, itu tanggal 20 Ramadhan, malamnya terjadi gerimis shubuh itu Rasulullah sujud para Sahabat melihat di dahinya ada bekas lumpur dari sujud, khutbah beliau kemarin menunjukkan malam Lailatul Qadr malam 21 di saat itu.

Namun Rasulullah SAW bersabda di dalam hadits yang kita baca tadi “ Carilah kemuliaan Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir di malam ganjilnya”, jadi malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, malam 29 ada lima malam untuk kita, di situ Rasulullah SAW mengatakan inilah malam-malam kemungkinan datangnya Lailatul Qadr. Jadi memperbanyak ibadah bagusnya di setiap malam Ramadhan, malam kesatu, malam kedua, malam ketiga, malam keempat karena sebagian ulama’ mengatakan Malam dengan Tahajjud, doa, cinta , dan rindu kepada Allah adalah Lailatul Qadr baginya. Maka semoga setiap malam kita adalah Lailatul Qadr, lebih lagi kalau di setiap malam Ramadhan kita dalam cinta, rindu dan tangis kepada Allah, lebih lagi jika setiap malam maka salah satu malamnya adalah Lailatul Qadr kalikan dengan 1000 bulan, 83 tahun.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Rahasia kedermawanan Allah sangat luas. Diriwayatkan pula di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW bersabda riwayat Sayyidina Bilal Al Muadzzin RA :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي السَّبْعِ اْلأَوَاخِرِ

Ada lagi hadits lain yang mengatakan “temui Lailatul Qadr di tujuh malam terakhir”. Hadits ini berbeda dengan hadits yang tadi, kalau tadi dibilang sepuluh malam terakhir, ini hadits bilang tujuh malam terakhir, maka bisa kita ambil yang mana saja, yang amannya ambil sepuluh malam terakhir,
kenapa dijadikan Lailatul Qadr itu di malam-malam terakhir Ramadhan? Karena sifat manusia di awal-awalnya semangat di akhir-akhirnya turun, maka Allah jadikan Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir supaya umat semangat lagi, supaya mereka termuliakan. Allah tidak dapat untung apa-apa daripada kita, Allah ingin kita beruntung dan makin dekat kepadaNya maka dijadikanlah di sepuluh malam terakhir. Nah, sepuluh malam terakhir ini hati-hatilah dan jagalah jangan sampai malah di sepuluh malam terakhir ini kita sibuk memikirkan pakaian baru belum ada dan lain sebagainya. Hadirin hadirat…hal seperti itu syi’ar boleh-boleh saja, tapi ada anugerah yang lebih abadi ditawarkan oleh Allah di hari-hari mulia sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga Allah memuliakan aku dan kalian dengan kemuliaan Lailatul Qadr.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Perlu juga saya jelaskan dari banyak yang bertanya tentang shalat tarawih yang cepat , sebagian para Salafuna As Shalihin melakukannya, sebagian tidak. Shalat Tarawih dengan cepat teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan ada dalilnya, Rasul SAW melakukan shalat qabliyyah Al Fajr

كَأَنَّهُ مَا يَقْرَأُ فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ

(seakan-akan beliau SAW tidak membaca surat Alfatihah) , kata Sayyidatuna Aisyah RA riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim. Rasul SAW melakukan shalat sunnah qabliyatul Fajr (qabliyah subuh) dua rakaat seakan-akan tidak membaca fatihah dari cepatnya. Dalam riwayat lain di Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, Ummu Hani RA melihat Rasul SAW melakukan shalat Dhuha di hari Fath Makkah dengan cepat , seakan-akan beliau tidak shalat tapi beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Di dalam madzhab Syafi’i yang dimaksud dengan tuma’ninah menyempurnakan ruku’ dan sujud itu kadar maksimalnya tidak ada batasnya, sepanjang apapun boleh tapi kadar minimalnya sekadar seorang mengucapkan سُبْحَانَ الله satu kali. Kalau di saat itu ia rukuk dan seluruh tubuhnya diam sekadar sekali mengucapkan سُبْحَانَ الله , itu sudah tuma’ninah maka sah shalatnya. Kalau sampai ruku’nya bergerak, tidak berhenti di saat ruku’ (dan) di saat sujud maka batal shalatnya, jadi hati-hati kalau mau ikut dengan orang-orang yang Imam shalatnya cepat, harus faham caranya ketika ruku’ harus diam kalau sekadar kalimat سُبْحَانَ الله itu kira-kira sedetik tapi harus diam, jangan terus bergerak. Kalau seandainya diam sekadar itu maka shalatnya sah, sah rukuknya, sah sujudnya dan membaca fatihah dengan cepat diperbuat oleh Sang Nabi di dalam qabliyah Al Fajr dan lainnya, terlebih lagi shalat tarawih yang juga termasuk shalat sunnah.

Namun tentunya hal ini makruh jika dilakukan saat shalat fardhu. Jadi yang mau melakukan shalat tarawih secara cepat ada dalilnya. Yang mau melakukan secara lambat shalat sunnah boleh juga, keduanya dilakukan oleh guru mulia kita Al Allamah Al Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz, shalat sunnah dengan cepat shalat sunnah dengan lambat. Sekarang beliau melakukan shalat sunnah Tarawih di Darul Musthafa dengan lambat, dalam satu bulan bisa dua atau tiga kali khatam Al qur’an dengan bacaan Al quran, namun beliau juga melakukan shalat sunnah tasbih dengan cepat.

Shalat tasbih, belajar kalau seandainya belum tahu, disunnahkan shalat tasbih meskipun sekali dalam seumur hidup, kalau bisa tiap bulan, kalau bisa tiap minggu, kalau bisa tiap hari tapi guru mulia kita melakukannya disana setiap malam di bulan Ramadhan setelah shalat Maghrib. Beliau melakukan dengan cepatnya shalat tasbih itu paling sulit kenapa? karena membaca

وَاْلحَمْدُلِلهِ وَلَاإِلهَ إِلَّا الله وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ الله

saat ruku’ 10 kali, saat I’tidal 10 kali, saat sujud..terus sampai sempurna 300 kali bacaan tasbih. Guru mulia kita melakukan shalat tasbih sangat cepat, kenapa shalat secepat itu..karena teriwayat shalat sunnah cepat. Tapi kalau sendiri disunnahkan jangan cepat-cepat , kalau untuk kita sendiri nikmati ruku’ dan sujud bersama kemuliaan Allah SWT.
Para Salafuna As Shalih banyak yang melakukan shalat sunnah cepat, banyak yang melakukan shalat yang lambat. Di dalam tafsir Al Imam Ibn Katsir dijelaskan, sebagian dari salaf melakukan shalat sunnah seribu rakaat setiap harinya, shalat sunnah seribu rakaat bagaimana cepatnya!?.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Hal itu diperbuat pula oleh Al Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad ibn Husain bin Ali bin Abi Thalib RA, di setiap malam shalat 1000 rakaat , demikian pula Al Imam Syafi’i, dan demikian pula sebagian banyak para Imam, dan adapula yang memanjangkan malam-malamnya dengan shalat sunnah dua rakaat.

Hadirin hadirat, dari semua riwayat ini semoga aku dan kalian dalam keberkahan dunia dan akhirat. Satu hal lagi yang perlu saya bahas, adalah masalah mandi di siang hari bulan Ramadhan, sikat gigi, dan berusaha meringankan puasanya, bagaimana hukumnya? Hukumnya makruh, tapi kalau seandainya perbuatan itu kalau tidak dilakukan bisa membuat puasanya batal maka menjadi Wajib, misalnya lemah kalau saya tidak mandi saya bisa pingsan maka batal puasanya, jadi harus qadha’ maka saya harus mandi, (maka) mandi sewajarnya mau sepuluh kali setiap hari (pun tidak apa apa demi menjaga puasanya), atau kalau saya tidak mandi akhirnya lemah nanti, saya bekerja, saya sekolah, saya mempunyai kesibukan rumah tangga misalnya, maka tentunya yang seperti itu boleh-boleh saja tidak menjadi makruh. Yang menjadi makruh adalah mampu melewati puasa tapi diringan-ringankan, supaya lebih ringan lagi mandi padahal dia tidak mempunyai kesibukan apa-apa, karena apa? Yang dimakruhkan itu adalah meringankan puasa padahal mampu.
Karena Rasul SAW berkata: Paksakan dirimu sampai batas kemampuan jangan lebih dari batas kemampuan, kalau lebih dari batas kemampuan malah menjadi makruh. Jadi kalau mau mandi, mandi saja kalau mau berkeramas, keramas saja.. mau banyak-banyak mandi di siang hari silahkan saja, asalkan hal-hal tersebut tidak dimaksudkan meringankan puasanya, kalau dimaksudkan meringankan puasanya maka itu makruh, yang lebih buruk adalah orang yang memaksakan diri, tidak usah deh keramas di siang hari Ramadhan biar saja keadaan seperti apapun , tidak usah sikat gigi, tidak usah mandi karena makruh, akhirnya sehari dua hari, tiga hari kesal dengan Ramadhan. Ia mau mencari hal yang sunnah, akhirnya dalam hatinya berkata kapan sih Ramadhan selesai capek saya!!, tiap hari tidak sikat gigi, (baiknya sikat gigi sebelum imsak), tidak mandi, perasaan ini bisa membatalkan pahala puasa mu. Ini jauh lebih buruk daripada kita melakukan hal-hal yang makruh, lakukan itu kalau seandainya sudah terganggu puasamu dan khusu’mu , maka jangan sampai hati kita benci dengan Ramadhan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Inilah indahnya sunnah Nabi kita Muhammad SAW “berbuatlah semampunya”. Semoga Allah SWT memuliakan kita dalam rahasia keagungan Badr Al Kubra ini dan kemuliaan Nuzul Al Qur’an. Rabbi..Rabbi..halalkan seluruh wajah kami mendapatkan cahaya kemuliaan Nuzulul Qur’an, pastikan kami semua kelak dalam kelompok Ahlul Badr, ketika dipanggil di yaumul kiamah wahai Ahlul Badr berdirilah, pastikan kami berdiri diantara para pencinta Ahlul Badr. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram…jika kelak di yaumul qiamah masing-masing kelompok dipanggil dengan pencintanya, kelompok pezina, kelompok pemabuk, masing-masing berdiri dengan kelompoknya, maka di saat itu akan dipanggil pula dimana kelompok Ahlul Badr, semoga aku dan kalian berdiri dalam kelompok Ahlul Badr. Semoga aku dan kalian tidak berdiri saat dipanggil mana kelompok penggunjing, mana kelompok pendusta, mana kelompok pencaci, mana kelompok pendosa, Rabbi..jangan Engkau berdirikan (kami) diantara mereka. Pastikan ketika Ahlul Badr dipanggil kami ikut berdiri diantara mereka para pecinta Ahlul Badr, yang telah disabdakan oleh Nabi kami :

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

(seseorang bersama dengan orang yang dicintainya). Rabbi..kami rindu wajah-wajah Ahlul Badr Al Kubra, kami rindu melihat wajah-wajah damai, kami rindu melihat wajah Khulafaa’ Ar Rasyidin, kami rindu melihat wajah Muhajirin dan Anshar, kami rindu memandang wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, melihat wajah-wajah mulia. Ya Zal Jalali Wal Ikram Ya dzaa At Thawli Wal In’aam Ya Rahman Ya Rahim..pastikan kami di dalam keberkahan dunia dan akhirat dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Demi kemuliaan Badr Al Kubra jawablah seluruh doa kami, hapuskan seluruh dosa kami, singkirkan segala kesulitan kami, jauhkan musibah dari kami sejauh-jauhnya, jauhkan dari kami kemurkaan sejauh-jauhnya. Ya Rahman Ya Rahim..damaikan kami, damaikan masyarakat kami, damaikan bumi Jakarta, damaikan bangsa kami, tenangkan jiwa muslimin muslimat (agar terhindar) dari perbuatan-perbuatan yang hina dan mungkar. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram..jadikan jiwa kami dan jiwa saudara-saudara kami muslimin muslimat selalu risau jika ingin berbuat dosa, dan selalu tenang dan senang jika ingin berbuat pahala..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا : يَا الله…يا الله…يا الله …يَارَحْمنُ يَارَحِيم…
لَاإِلهَ إلَّا الله….لاإله إلاالله مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله .. وَصَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ
كَلِمَةُ حَق عَلَيْهَا نَحيَا وعَلَيْهَا نَمُوتُ وعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِينَ ..

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Semoga malam-malam berikutnya kita semakin indah dan mulia, semoga di malam-malam berikutnya kita semakin mencintai dan dicintai Allah SWT, Ya Rahman Ya Rahim..
Dan saya ingatkan malam senin yang akan datang Tabligh Akbar Majelis Rasulullah SAW, ada undangan daripada Pimpinan PBNU KH. Hasyim Muzadi di kediaman beliau, untuk peresmian pesantren beliau . Beliau tidak bisa hadir malam hari ini untuk langsung mengundang , undangan disampaikan kepada saya dan Majelis kita, jika yang mempunyai waktu hadir jika yang sudah mudik maka semoga diberi kemuliaan oleh Allah dan keselamatan, dan yang di Jakarta mudah-mudahan tidak ada halangan untuk termuliakan dalam syi’ar malam-malam terakhir di bulan Ramadhan yang mulia ini. Kita teruskan dengan doa kepada Allah dan munajat bertawassul kepada Ahlul Badr…

صَلاَةُ اللهِ سَلاَمُ اللهِ عَلَى طَه رَسُوْلِ الله
صَلاَةُ الله سَلَامُ الله عَلَى يَس حَبِيْبِ الله

Sebelum kita tutup, saya akan menyampaikan salam dan rindu dari guru mulia kita Al ‘allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz, semalam telah kita sampaikan bahwa acara di Jakarta sukses, kebetulan acara beliau sama di malam yang sama dengan acara kita dan mengadakan Haul Ahlul Badr juga di Tarim Hadramaut. Telah disampaikan bahwa acara di Jakarta sukses dengan zikir lafdzul Jalalah 1000 kali, dan setelah disampaikan berita ini Beliau bergembira, dan juga disampaikan kepada beliau vcd di malam Nisf Sya’ban yang lalu, beliau sangat gembira dengan kesuksesan acara tersebut dan selalu mendoakan kita. Dan InsyaAllah kerinduan beliau untuk hadir ke tempat kita tidak lama lagi, insyaAllah bulan Muharram tepatnya bulan Desember, insyaAllah kita akan mengadakan malam selasa bersama beliau , dan insyaallah acara ini sukses kira-kira tinggal tiga bulan lagi, kita akan buat acara insyaallah yang hadir lebih banyak lagi muslimin muslimat…

أَمِين اللَّهُمَّ أمين يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَام يَاذَا الطَّوْلِ وَاْلإِنْعَام…
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَصَلَّى اللهُ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَأَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ…

Ditulis Oleh: Hbb.Munzir Bin Fuad Almusawa

Aib Adalah Cermin Diri

Posted by admin - 20 Juli 2012 - Da'i dan Dakwah, Psikologi
0
reflection

Ada seorang perempuan datang kepada Syaikh Hatim Al Asham untuk bertanya tentang sebuah persoalan. Saat bertanya, tiba-tiba keluarlah suara buang angin dari perempuan itu dan ia merasa sangat malu.

“Keraskan suaramu!,” teriak Hatim dengan keras untuk mengesankan seolah ia tuli.

Si perempuan merasa senang dan mengira kalau Hatim tidak mendengar suara buang anginnya. Karena kejadian itulah, kemudian Syaikh Hatim mendapat julukan Al Asham (si tuli).

***

Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga darga dari Syekh Hatim Al Asham. Hal menarik dari kisah di atas adalah usaha dari seorang besar yang menutup rapat-rapat keburukan orang lain, tidak mengumbarnya sebagaimana terjadi saat ini, dimana kita melihat fenomena tayangan infotainment yang menceritakan kekisruhan rumah tangga orang lain, membeberkan perselingkuhan serta perzinahan yang terjadi dengan begitu terang benderang.

Akibatnya, ajang berkumpul sesama teman atau keluarga rasanya kurang ‘afdhal’ bila tidak dibumbuhi dengan ngerasani (menggunjing) atau menggosip.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam bukunya Al Da’wah Al Tammah, mengutip ucapan Sayyidina Al Hasan Al Bashri, terkait meneliti aib diri sendiri. Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Engkau tidak akan memperoleh hakikat iman selama engkau mencela seseorang dengan sebuah aib yang ada pada dirimu sendiri. Perbaikilah aibmu, baru kemudian engkau memperbaiki aib orang lain. Setiap engkau memperbaiki satu aibmu, maka akan tampak aib lain yang harus kau perbaiki. Akhirnya kau sibuk memperbaiki dirimu sendiri. Dan sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah adalah dia yang sibuk memperbaiki diri sendiri. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak ada hari seperti hari kiamat, hari dimana aib terbuka dan mata menangis.”

Seorang ulama pernah berkata: “Aku tidak menemukan sesuatu yang paling ampuh merontokkan amal, merusak hati, menyeret kepada kebinasaan seorang hamba dan mendekatkan kepada kebencian serta memudahkan masuknya rasa suka kepada sifat pamer (riya’), ujub dan kedudukan selain terwujud pada minimnya pengetahuan seorang hamba akan aib-aib dirinya sendiri sembari melihat keburukan yang ada pada diri orang lain.”

Imam Al Ghazali dalam kitabnya yang terkenal, Ihya Ulumuddin,mengetengahkan kiat jitu menyingkap kekurangan yang melekat pada diri kita. Beliau menyarankan untuk menempuh empat cara:

Pertama, duduk di hadapan seorang guru yang mampu mengetahui keburukan hati dan berbagai masalah yang tersembunyi di dalamnya. Kemudian ia memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam ber-mujahadah membersihkan aib itu. Ini adalah keadaan seorang murid dengan Syaikhnya dan seorang pelajar dengan gurunya. Sang guru akan menunjukkan aib-aibnya serta cara pengobatannya. Namun, di zaman sekarang guru semacam ini langka.

Kedua, mencari seorang teman yang jujur, memiliki bashiroh (mata hati yang tajam) dan berpegang pada agama. Ia kemudian menjadikan temannya itu sebagai pengawas yang mengamati keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan lahirnya, sehingga ia dapat memberi peringatan kepadanya. Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang cerdik, orang-orang terkemuka, dan para pemimpin agama.

Ketiga, berusaha mengetahui aib dari ucapan musuh-musuhnya sebab pandangan yang penuh kebencian akan menyingkapkan keburukan seseorang. Bisa jadi manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang sangat membencinya dan suka mencari kesalahannya lebih banyak dari teman yang suka bermanis muka, memuji dan menyembunyikan aib-aibnya. Akan tetapi, sudah menjadi watak manusia untuk mendustakan ucapan musuh-musuhnya dan menganggapnya sebagai ungkapan kedengkian. Hanya orang yang memiliki mata hati jernih yang mampu memetik pelajaran dari keburukan dirinya yang disebutkan oleh musuhnya.

Keempat, bergaul dengan masyarakat. Setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, maka ia segera menuduh dirinya sendiri juga memilki sifat tercela itu. Kemudian ia menuntut dirinya untuk segera meninggalkannya. Sebab, seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain ia akan melihat aib-aibnya sendiri.  

Jejak Rekam Kaum Sayid di Nusantara Masa Kolonial Abad XIX

Posted by admin - 9 Juli 2012 - Berita, Da'i dan Dakwah, seminar
0
Prof. DR. M. Dien Madjid. MA memberikan paparan tentang Jejak Rekam kaum Sayid di Nusantara Masa Kolonial Abad XIX Kiprah Sayid Usman bin Yahya dalam Meredesain Islam sebagai Ruang Publik

MAKALAH SEMINAR ALAWIYYIN

Jejak Rekam Kaum Sayid di Nusantara Masa Kolonial Abad XIX: Kiprah Sayid Usman bin Yahya dalam Meredesain Islam sebagai Ruang Publik[1]

(Disampaikan dalam Seminar Rabithah Alawiyah, di Jakarta 09 Juni 2012)

Oleh: Prof. Dr.  M. Dien Madjid M.A.[2]

 

Pendahuluan

Islam merupakan salah satu agama besar di dunia. Lahirnya Islam di Mekkah pada abad ke tujuh Masehi, dibidani oleh keadaan sosial yang keras di tengah masyarakat yang masih percaya dengan paganisme. Di katakan keras, adalah karena saat itu, politik golongan begitu mendominasi, sehingga semakin memperkeruh ruang ide masyarakat Arab yang secara geografis jauh pula dari pusat-pusat peradaban (Romawi dan Persia).

Pelan namun pasti, kondisi umat Islam mulai merambat ke paggung peradaban dunia. Bait demi bait mulai disulam menjadi suatu jalan bebas hambatan untuk mengangkat martabat Islam di mata dunia. Yahudi dan Kristen kakak kandung Islam, berkembang di pusat-pusat peradaban yakni di Jerussalem dan di Roma. Dilain pihak, Islam lahir di tengah padang sahara tandus Arab, di mana tanaman-tanaman menghijau amat langka dan boleh dikatakan jauh dari modernitas. Lapat-lapat, ketika tampuk kepemimpinan umat Islam berada di genggaman Umar bin Khattab, Islam mulai dikenal sebagai kekuatan baru (New Power) yang manantang kemaharajaan Romawi dan Persia. Bak jamur di musim hujan, Islam mulai memasuki marak lekuk-lekuk senarai peradaban dunia.

Berpulangnya Nabi SAW pada tanggal 13 Rabiul Awal tahun 1 H  bertepatan dengan  tahun 632 M, tak lantas membuat umat yang ditinggalkannya manja dan takut. Momen itu justru dijadikan titik balik untuk mengkampanyekan Islam di pergaulan manusia global. Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) tampil sebagai pembawa panji Islam. Sejarah mencatat, pada masa kekuasaan Umar (634-644), Persia mampu ditundukkan. Ini menjadi bukti historis, Islam adalah calon pemimpin dunia yang tidak saja mempunyai sifat-sifat profetik (kesalehan) namun juga semangat untuk menaklukan keangkuhan zaman.  Lamat-lamat, Islam tak hanya jaya di kampung halamannya dan kampung sebelahnya saja, yakni Romawi dan Persia, tetapi juga mulai meruyak  berdiaspora ke seluruh penjuru dunia, menembus batas-batas geografi, sukuisme, ras bahkan komunitas sosial yang berbeda. Dibuai dan dibelai oleh desah-desah angin laut, pada abad ke-7 M, agama Muhammad ini mulai berkenalan dengan negeri di bawah angin, salah satunya adalah gugusan pulau yang disebut Nusantara.

Salah satu tempat yang menjadi sentrum dakwah orang Arab adalah di Batavia (dahulu bernama Jayakarta- kini Jakarta). Berdasarkan catatan dalam Regeering Almenak  bahwa jumlah orang Arab di Nusantara sampai tahun 1879 berjumlah 14791 jiwa. Khusus di Jakarta berjumlah 866, lebih kecil jumlahnya jika dibanding  tahun 1871 berjumlah 1039 jiwa[3]. Belum dikaji secara mendalam, mengapa terjadi penurunan cacah penduduk (orang Arab) tersebut.  Di tempat ini, awalnya mereka berdagang[4], lantas mulai mengembangkan sayap aktivitasnya ke bidang keagamaan. Tak ayal, kesempatan politik terbuka yang diterapkan oleh pemerintah Hindia-Belanda, mereka manfaatkan untuk menganyam bentangan-bentangan kain ajaran Islam di wilayah rural Batavia. Lambat laun, penduduk lokal tertarik untuk mendalami ajaran dari para pendatang Arab itu. Banyak di antara mereka yang merupakan orang Arab hadrami, atau orang Arab yang bermukim di Hadramaut, Yaman. Sebagian lagi di antara mereka mempunyai nasab keturunan sampai ke Rasulullah SAW (Sayid), hanya saja lajur-lajur klan yang membedakannya. Di antara sekian banyak ulama hadrami kenamaan di Nusantara, Sayid Usman bin Yahya mempunyai peran sentral, yakni selain aktivitas dakwahnya, kesempatan diangkat menjadi mufti Betawi (Batavia) oleh pemerintah Hindia Belanda, dimanfaatkan betul untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan umat Islam. Tak pelak, kedudukannya sebagai Mufti, kerap diplintir sedemikian rupa sehingga timbul anggapan bahwa Sayid Usman pro-Belanda. Nah, makalah ini ditulis untuk mengadakan tinjauan lebih lanjut mengenai aktivitas orang Arab, khususnya keturunan Sayid yang pada kesempatan ini mengambil prototype dari bentangan hidup Sayid Usman bin Yahya.

A. Sinergi Dagang-Dakwah: wajah Islamisasi Indonesia

Nusantara sejak beberapa abad sebelum Masehi telah dikenal oleh bangsa-bangsa besar di dunia. Hal pertama yang terngiang di pikiran umat-umat dari berbagai puak bangsa zaman dahulu, adalah karena kekayaan alamnya yang begitu melimpah ruah. Perbendaharaan ragam hayati yang terdiri dari heterogenitas botani, berbagai macam spesies margasatwa serta bermacam-macam bahan galian dari perut bumi menjadi faktor penarik kedatangan berbagai manusia dari berbagai negeri untuk menyaksikan bahkan mengadakan kontak dagang dan menyambung kawat diplomatik dengan negeri kepulauan ini.

Vlekke mengatakan, kendati pada awal abad Masehi orang Indonesia belum mengetahui pola ragam kehidupan manusia lain di mancanegara, telah banyak para saudagar asing yang berlayar dari pantai timur India hingga menyentuh wilayah teritorial Indonesia, serta antara kepulauan Indonesia ke wilayah yang sekarang ini dikenal sebagai Vietnam. Lebih lanjut, demikian Vlekke, dalam sebuah kitab suci Budha berjudul Jataka yang ditulis sebelum abad 300 SM berisi laporan dalam tawarikh Kaisar Wang Mang di Cina yang mengisahkan sang kaisar Dinasti Han itu mengutus duta ke suatu negeri yang disebut “Huang-Tche”, yang diidentifikasi sebagai Aceh atau setidaknya sebuah daerah di Sumatera. Duta Cina itu mengemban misi untuk mendapatkan seekor badak untuk melengkapi Taman Margasatwa Kekaisaran. Benar saja, Badak merupakan hewan endemik Sumatera. Selain itu, kawat diplomatik Dinasti Han-Sumatera dapat ditelisik lebih lanjut melalui berbagai kronik tinggalan arkeologis yang berasal dari Sumatera bagian selatan, Jawa bagian barat dan Kalimantan bagian timur.

Selain itu, terdapat historiograf barat pertama yang menyebut wilayah kepulauan Indonesia (Nusantara) yakni bernama Ptolomeus (dari Alexandria, 160 M). Ia memperoleh informasi mengenai Indonesia itu melalui seorang pelaut bernama Alexander, yang telah mengembara di negeri-negeri sebelah timur Malaya. Ptolomeus membedakan antara sebutan “Negeri Emas” dan “Negeri Perak” yang keduanya disebut-sebut terletak di Asia bagian tenggara. Di dekat negeri ini ada “Semenanjung Emas” dan di dekatnya lagi, lima pulau Barousai, tiga pulau Sabadeibai, tempat para kanibal berdiam, dan pulau Iabadiu, yang bermakna “pulau Padi”. Di pulau itu terdapat kota bernama “Kota Perak” (Aceh?). Vlekke beranggapan Semenanjung Emas sebagai Semenanjung Malaya dan pulau-pulau yang menjadi bagian dari kepulauan Indonesia.[5]

Asumsi Vlekke didukung oleh pendapat Anthony Reid yang meyakini sematan “emas” berasal dari latar belakang kedudukan emas itu sendiri yang menjadi identitas kekayaan dan sebagai tanda status raja dan bagi Budha. Perak umumnya digunakan oleh bangsa Asia Tenggara Daratan yang mendiami wilayah Burma, Kamboja, Siam dan wilayah sekitarnya, sedangkan emas digunakan oleh bangsa Semenanjung Melayu dan kepulauan-kepulauan di sekitarnya, termasuk Nusantara.[6]

Sejak lama, Nusantara dikenal dengan rempah-rempah yang seakan menjadi land mark yang menjadi  primadona sekaligus buruan utama bagi para saudagar dan pemborong besar dari luar negeri. Tak ayal, terhitung sejak abad ke 15, perairan Asia Tenggara mulai disesaki oleh kapal-kapal dagang asing yang berasal dari Gujarat, Arab, Persia, Eropa dan bangsa-bangsa lain yang saling berlomba untuk mendapatkan rempah-rempah langsung dari sumbernya. Di antara bangsa-bangsa tersebut yang menorehkan tinta emas dalam proses islamisi di Nusantara adalah bangsa Arab.

Saya berpendapat bahwa posisi Indonesia dalam bentangan peta dunia, disokong pula oleh sejarawan lainnya, menempati posisi yang “molek” baik ditinjau dari aspek ekonomis maupun aspek sosiologis yang juga dihubungkan dengan iklim tropis yang teduh dan sejuk. Kepulauan Indonesia terletak pada garis khatulistiwa yang berada dalam ruang gerak angin pasat; di sebelah  selatan berhembus pasat tenggara dan di sebelah utara garis equator pasat timur laut yang bertiup sepanjang tahun. Kedua angin itu saling bersua di lokus yang disebut international front yang merupakan titik daerah angin mati.

Tak pelak, keadaan ini menerbitkan dua faktor yang menyebutkan bahwa angin Indonesia mempunyai laggam yang khas cenderung unik ketimbang hembusan angin laut di belahan dunia lainnya.

 Pertama, peredaran bumi mengitari matahari yang menyebabkan “daerah angin mati” itu kerap berhijrah dari Lintang Mangkara (Trofic of Cancer) ke Lintang Jadayat (Trofic of Capricorn). Maka, pasat tenggara ketika melintasi garis khatulistiwa akan berubah menjadi angin barat laut.

 Kedua,  Indonesia terletak di antara dua kontinen (benua), Asia dan Australia yang memiliki ornamen iklim yang khas sehingga dapat mempengaruhi arus angin. Akibatnya, terjadilah angin musim yang kerap berubah arah dan tujuannya. Kejadian ini telah akrab dalam kehidupan para pelaut Nusantara.[7]

Uka Tjandrasasmita menyebutkan, kedatangan orang Islam pertama dapat ditelisik dari sumber sejarah yang hingga kini masih marak dijadikan rujukan utama para sejarawan, yakni berita Cina yang berasal dari Dinasti T’ang. Kronik tersebut mengisahkan tentang orang-orang Ta-shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerbu kerajaan Ho-ling yang diperintah oleh Ratu Sima sekitar tahun 674 M. Berdasarkan penafsiran beberapa ahli, dinyatakan bahwa orang-orang Ta-shih atau Tazi itu merupakan orang-orang Arab yang lokasinya diperkirakan berada di pesisir barat Sumatera. Bersandarkan pada bukti tersebut Uka meyakini kontak pertama Islam dengan penduduk Nusantara terjadi pada abad ke-7.[8]

Terbitnya syiar Islam awal berbarengan dengan meredupnya pengaruh Sriwijaya di Sumatera pada sekitar abad tersebut.[9] Bak mendulang emas di air keruh, situasi ini dimanfaatkan betul oleh para pedagang Muslim untuk membangun perkampungan pedagang yang kala itu didirikan  untuk kemudahan akses jual-beli dengan penduduk lokal. Pelan namun pasti, mereka mulai membentuk struktur pemerintahan yakni dengan mentahbiskan Merah Silu, kepala suku Gampong Samudera menjadi Sultan Malik as-Saleh,[10] Sultan pertama Kerajaan Samudera.[11] Kerajaan ini dikemudian hari menjadi Samudera Pasai.[12] Boleh dikatakan, Aceh merupakan pintu gerbang awal berseminya Islam di Nusantara yang kemudian mulai menyebar ke pulau-pulau Nusantara lainnya.

Kendati demikian, Berkenaan dengan masuknya Islam ke Nusantara, belum ada kesepakatan yang bulat di kalangan para ahli. Lebih lanjut, kenyataan ini menimbulkan “pasar persepsi” yang diramaikan dengan berbagai teori yang menjadi perdebatan panjang bahkan cenderung tak berujung. Perdebatan kusir tersebut- dan masih memungkinkan munculnya penemuan baru- terutama terfokus pada tiga masalah pokok, yaitu; a. tempat asal kedatangan Islam di Nusantara, b. para pembawanya dan c. waktu kedatangannya.

Menyangkut ketiga masalah pokok tersebut, setidaknya ada tiga teori besar yang dapat dikemukakan.[13]

1)      Islam datang langsung dari Arab, tepatnya dari Hadramaut. Teori ini pertama kali dikedepankan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Nieman (1861), de Hollander (1861), dan Veth (1878). Sebagai identifikasi sekaligus untuk mempermudah pengelompokannya teori ini selajutnya disebut “teori Arab”.

2)      Disebutkan pula dalam buku-buku sejarah, Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh orang India, atau  disebut “teori India”. Teori ini menyatakan bahwa Islam di Nusantara datang dari India. Untuk pertama kalinya, teori ini dikemukakan oleh Pijnappel, seorang ahli Melayu dari Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1872. Azyumardi Azra menulis:

“Berdasarkan terjemahan Perancis tentang catatan perjalanan Suleiman, Marco Polo, dan Ibn Battuta, ia menyimpulkan bahwa orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’i dari Gujarat dan Malabar di India yang membawa Islam ke Asia Tenggara.”

 

Tetapi sesungguhnya ulasan panjang-lebar juga dikemukakan oleh C. Snouck Hurgronje dalam Bukunya Islam Oost Nederland Indie.

 

1)      Yang terkahir adalah “teori Benggal”. Teori terakhir ini menjelaskan bahwa Islam di Nusantara datang dari Benggal atau Bangladesh sekarang. Teori ini dikembangkan oleh Fatimi. Fatimi sependapat dengan Tome Pires yang menyatakan bahwa banyak dari orang-orang yang menempati posisi penting (sebagai golongan elite) di Pasai merupakan orang Benggali atau keturunan mereka. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Islam muncul pertama kali di Semenanjung Malaya adalah dibawa oleh orang-orang dari pantai timur, bukan dari barat Malaka pada abad ke-11 M, melalui Kanton, Pharang (Vietnam), Leran dan Trengganu.

Meskipun terdapat tiga teori yang diharapkan dapat menjelaskan proses Islamisasi di Nusantara seperti yang tertulis di atas, tetapi tak menutup kemungkinan munculnya “ruang debat” baru atas  keragaman teori tersebut. Berbagai kritik dan perdebatan dan silang sengkarut-jika tidak dapat disebut saling sengketa- terjadi di kalangan para ahli. “Teori Arab” umpamanya mendapat pembelaan yang gigih dari Syed Muhammad Naquib al-Attas. Ia menentang keras “teori India”. Ia beralibi bahwa, aspek-aspek internal-lah (atau karakteristik internal Islam) yang harus menjadi perhatian penting dan sentral dalam melihat proses kedatangan Islam di Nusantara, jangan hanya menitikberatkan pada unsur-unsur luar atau aspek eksternalnya an sich. Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan bahwa penulis-penulis yang diidentifikasi sebagai orang India serta kitab-kitab yang dinyatakan berasal dari India oleh sarjana Barat khususnya, sebenarnya adalah orang Arab yang berasal dari Arab atau Timur Tengah atau Persia.[14]

Dalam seminar bertema “Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia” yang diadakan di Medan pada tanggal 17-20 Maret 1969 dan Seminar di Aceh pada tanggal 10-16 Juli 1978 dan 25-30 September 1980, disimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara langsung dari Arabia, bukan dari India. Waktu kedatangan Islam pada abad ke-7 M, bukan pada abad ke 12-13 M.[15] Hasil seminar ini memperkuat “Teori Arab” yang dikemukakan al-Attas sekaligus sebagai bentuk persetujuan para sejarawan Indonesia terhadap pandangan al-Attas.

“Teori India” sebagaimana dikemukakan oleh Pijnappel yang mengutarakan bahwa Islam di Nusantara berasal dari orang-orang Arab yang bermadzhab Syafi’i yang bermigrasi ke Gujarat dan Malabar, yang masuk dalam kawasan India. Pijnappel memandang bahwa Islam di Nusantara disebarkan oleh orang-orang Arab. Pendapatnya ini didasarkan pada seringnya penyebutan nama dua wilayah India dalam sejarah Nusantara klasik sehingga dalam komentarnya lebih lanjut, ia mengemukakan bahwa meskipun Islam di Nusantara dianggap sebagai “buah tangan” yang dibawa oleh orang-orang Arab, tetapi hal ini tidak langsung dibawa serta dari Arab, melainkan dari India, terutama dari pesisir barat, yakni Gujarat dan Malabar. Teori ini sekaligus membantah teori Fatimi yang menyatakan bahwa Islam di Nusantara “diimpor” dari pesisir timur India yaitu dari Bengal dan tidak pula dari Coromandel atau tidak juga dari India bagian utara.[16]

Selanjutnya, Stutterheim berpendapat bahwa waktu penyebaran Islam di Nusantara terjadi pada abad ke-13. Ia mengemukakan kesimpulan ini setelah mengamati bentuk nisan dan relief batu nisan Sultan pertama kerajaan Samudera (Pasai), al-Malik al-Saleh (w. 1297).[17] Sayangnya Stutterheim tidak memperhatikan proses pengislaman di Gujarat sendiri. Gujarat baru diislamkan satu tahun kemudian, yaitu pada tahun 1298 M, sebagaimana yang dikemukakan Marison. Seandainya Stutterheim menyebutnya sebagai proses lebih lanjut dari Islamisasi Nusantara, boleh jadi Gujarat ikut andil memberikan pengaruhnya di Nusantara mengingat daerah itu (Gujarat) lebih dekat secara geografis ke wilayah Timur Tengah. Pada saat yang bersamaan, penyebaran masyarakat Islam kala itu terbentur pada ketakutan akan  tentara Mongol yang giat melebarkan ekspansinya dan tak menutup kemungkinan dapat merampas daerah mereka. Oleh karena itulah, pilihan mencari daerah baru, menjadi gagasan yang tepat guna menghindari bangsa Mongol tersebut.

Terlepas dari kerapuhan dan kekurangan yang terdapat pada teorinya, pendapat Stutterheim mendapat dukungan dari Moquette, sarjana asal Belanda. Moquette juga berpendapat bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat. Moquette, laiknya Stutterheim, mengacu pada hasil penelitian pada bentuk batu nisan. Ia (Moquette) beralasan bahwa bentuk batu nisan, khusunya di Pasai, mirip dengan batu nisan pada makam Maulana Malik Ibrahim (w. 822 H/1419 M) di Gresik, Jawa Timur. Bentuk kedua batu nisan itu, Aceh dan Gresik, mirip pula dengan batu nisan yang ada di Cambay (Gujarat). Ia berkeyakinan bahwa batu nisan itu diimpor dari India, sebagaimana masuknya agama Islam. Pun demikian, Islam pastilah berasal dari tempat yang sama, yaitu India, tepatnya Gujarat. Hal ini didasarkan pada kesamaan bentuk nisan-nisan makam itu sebagai hasil penelitiannya.[18] Teori yang dikemukakan Stutterheim dan Moquette ini di kemudian hari dikenal sebagai “teori batu nisan”.

Teori “batu nisan” dari Stutterheim dan Moquette yang menyatakan Islam di Nusantara berasal dari India ditentang keras oleh Fatimi. Menurutnya, penggunaan metode menghubungkan batu nisan Pasai dengan batu nisan dari Gujarat yang diasosiasikan dengan tempat asal kedatangan Islam, merupakakan sebuah kekeliruan dan perlu ditinjau ulang. Setelah melakukan penelitian, Fatimi menyatakan, bentuk dan gaya batu nisan Malik al-Saleh berbeda dengan batu nisan yang ada di Gujarat. Ia mengungkapkan, bentuk dan gaya batu nisan itu mesti didatangkan dari Benggal, bukan dari Gujarat. Keterangan ini menjadi alasan baginya untuk mengukuhkan “teori Benggal” yang digagasnya, yang menyatakan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Benggal. Tetapi terdapat kelemahan elementer pada teori Fatimi, yaitu bahwa ia tidak memperhatikan perbedaan mazhab fikih yang dianut Muslim Nusantara (Syafi’i) dengan kebanyakan kaum muslimin yang ada di Benggal yang cenderung menggunakan mazhab Hanafi.[19] Perbedaan mazhab fikih ini cukup kuat dijadikan senjata untuk meruntuhkan teori yang dibangun Fatimi.

Jauh sebelum dikenalnya kompas sebagai penunjuk arah, orang-orang Nusantara telah mengenal “silk route” di daratan Asia, juga berani mengarungi lautan lepas hanya dengan mengandalkan petunjuk bintang di langit  berlayar sampai ke Madagaskar. Dan sejak itu pula para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, karena tertarik dengan hasil rempah-rempah yang terdapat di Nusantara. Para pedagang yang datang ke Nusantara ini selain orang India dan Cina, juga orang Arab. Umumnya orang Arab ini datang dari Hadramaut melalui dua jalur. Jalur pertama melalui Persi dan Gujarat dan kedua langsung dari Arab ke Nusantara ini. Kedatangan mereka selain bertujuan berdagang tetapi juga sekaligus menyebarkan ajaran agama Islam.

Sejauh menyangkut kehadiran orang-orang Islam Timur Tengah, yang kebanyakan adalah dari Arab dan Persia, di Nusantara, Azyumardi Azra mengemukakan demikian:

Kehadiran Muslim Timur Tengah –kebanyakan Arab dan Persia—di Nusantara pada masa-masa awal ini pertama kali dilaporkan oleh agamawan dan pengembara terkenal Cina, I-Tsing ketika pada tahun 671, ia dengan menumpag kapal Arab dan Persia dari Kanton berlabuh ke pelabuhan muara sungai Bhoga (atau Sribhoga, atau Sribuza, sekarang Musi). Sribuza, sebagaimana diketahui, telah diidentifikasi banya sarjana modern sebagai Palembang, ibukota kerajaan Budha  Sriwijaya.[20]

Setelah melihat daerah asal kedatangan Islam di Nusantara, persoalan selanjutya adalah fenomena dialektika penerimaan Islam di Nusantara atau apa yang disebut sebagai conversion to Islam. Sebagaimana teori kedatangan Islam, tentang konversi masyarakat Nusantara terhadap Islam, pun dapat dijelaskan melalui tiga teori. Teori-teori tersebut diharapkan dapat membantu memahami persoalan ini, umumnya pada kasus relasi Islam-penduduk lokal di Asia Tenggara, di mana Nusantara termasuk dalam kawasan regional itu. Menurut Ira M. Lapidus, ketiga teori itu ialah[21]:

Pertama, teori yang menekankan peran para pedagang yang telah melembagakan diri mereka di beberapa wilayah Indonesia, menikah dengan beberapa keluarga penguasa lokal dan yang telah menyumbangkan peran diplomatik serta pergaulan internasional terhadap perusahaan perdagangan para penguasa pesisir.

Kedua, teori yang lebih menekankan pada makna Islam bagi masyarakat umum daripada kegiatan elite pemerintah. Islam telah menyumbangkan sebuah landasan ideologi bagi kebijakan individual, bagi solidaritas kaum tani dan komunitas pedagang, dan lagi integritas kelompok parokhial yang lebih kecil menjadi masyarakat yang lebih besar.

Di dalam kerangka teori ini, dapat dijelaskan pula bahwa kehadiran kaum kolonialis justru yang merangsang terjadinya proses Islamisasi yang intens dan efektif lebih lanjut di Nusantara. Masyarakat Nusantara, bukan hanya secara geografis dipisahkan oleh pulau-pulau, tetapi juga mempunyai perbedaan kultur dan pranata sosial yang distingstif. Modalitas tersebut mampu berkomunikasi dengan Islam sebagai satu-satunya wadah yang dapat diandalkan menjadi pemersatu dan memberikan warna tersendiri guna menciptakan sebuah identitas yang unik. Dalam rangka menghadapi gerakan kolonialisme yang dalam hal ini diwakili oleh para penjajah kafir, Islam memberikan suatu injeksi yang memodernisir dan merevolusi tata bangun identitas dan integritas masyarakat lintas-segmen, baik yang berasal dari kalangan petani, pedagang serta berbagai kelompok profesi lainnya semata-mata untuk membulatkan “semangat juang”, terlebih dengan ajaran “jihad” dalam konteks “hubbul wathan” dan “hizbul wathan” yang semakin memperteguh  umat muslim untuk bersatu padu menjungkalkan kolonialisme yang pelan namun pasti telah menyandra kebebasan dan kedaulatan masyarakat lokal. Dalam konteks demikian, Islam  kaitannya dengan masyarakat pribumi, menjadi semacam “mekanisme pertahanan diri” (defence mechanism) dalam menghadapi penjajahan dan penindasan kaum kolonialis yakni dapat dipersepsikan sebagai kristalisasi ide dan gerakan sebagai simbolisme perlawanan.[22]

Ketiga, teori yang menjelaskan peran para juru dakwah (da’i) atau kaum sufi, atau juga yang disebut oleh sebagian orientalis sebagai kaum misionari, baik dari Gujarat, Benggal dan Arabia. Kedatangan para sufi (darwis) bukan hanya sebagai para guru tetapi sekaligus juga sebagai pedagang dan politisi yang memasuki lingkungan istana para penguasa, perkampungan golongan pedagang dan memasuki daerah-daerah rural seperti perkampungan-perkampungan di daerah pedalaman.

Di luar soal kepastian sejarah mengenai “kapan, di mana dan oleh siapa” proses Islamisasi terjadi di Nusantara, termasuk “bagaimana proses peralihan keyakinan (konversi) masyarakat Nusantara ke Islam”, masalah selanjutnya yang perlu disinggung di sini adalah tentang fase perkembangan Islam di Nusantara. Berdasarkan beberapa temuan sebagaimana dikemukakan di atas, perkembangan Islam di Nusantara telah mengalami tiga fase; Fase Pertama, periode abad 1 sampai ke-4 H (7-10 M) adalah saat mereka yang beragama Islam singgah di kepulauan Nusantara. Meskipun tidak ada bukti yang sahih, tetapi bukan tidak mungkin jika dalam periode ini telah mulai terbentuk komunitas-komunitas Muslim, khususnya di daerah pesisir. Kemungkinan ini diperkuat oleh bukti yang dikedepankan di akhir periode ini, yang segera memasuki fase kedua.

Pada fase kedua ini, walaupun pada periode abad ke-7  sampai 10 M, Jawa tidak disebut-sebut sebagai tempat persinggahan pedagang Muslim, namun di Leran (Gresik) terdapat sebuah batu nisan dari seorang yang bernama Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 475 H atau 1082 M. Selain itu terdapat pula makam Troloyo yang berasal dari abad ke-13 M. Sejak ditemukannya makam Fatimah binti Maimun di Leran, perkembangan Islam di kepulauan Nusantara memasuki fase kedua, yaitu periode abad ke-11 M sampai akhir abad ke-13 M. Pada periode ini kita telah mempunyai cukup bukti tentang telah berkembangnya komunitas Muslim di Nusantara. Fase ketiga adalah perkembangan Islam di Nusantara ditandai dengan berdirinya kerajaan Pasai pada abad ke-13 M.

Berkenaan dengan hubungan Nusantara dengan Timur Tengah sejak kehadiran Islam setidaknya dimulai pada abad ke-8 M sampai dengan abad ke-15 M, telah mengalami dua fase. Fase pertama, yaitu hubungan Nusantara dengan Timur Tengah pada abad ke-8 sampai 15 M., pada umumnya, hubungan keduanya hanya berkenaan dengan perdagangan. Hadirnya banyak kaum Muslim di Nusantara, terutama dari Arab dan Persia, memperlihatkan bahwa inisiatif pada hubungan yang terajut pada periode fase pertama ini lebih diprakarsai oleh mereka (orang Arab dan Persia) tinimbang masyarakat Muslim Nusantara. Pada abad ke-13 M sampai abad ke-15 M, hubungan kedua wilayah ini memasuki fase kedua, yaitu bahwa hubungan keduanya mulai menyinggung pada aspek-aspek yang lebih luas. Jika pada fase pertama, aspek ekonomi (perdagangan) merupakan ciri umum yang mewarnai keduanya, maka pada fase kedua ini, Muslim Arab dan Persia, baik para pedagang ataupun pengembara sufi yang berperan sebagai juru dakwah (da’i) Islam mulai meningkatkan penyebaran Islam di berbagai wilayah Nusantara. Hubungan keagamaan dan kultural di antara kedua wilayah ini terjalin lebih erat dan intensif pada fase kedua ini.[23]

Islam mulai memasuki relung batin kehidupan masyarakat Jawa sejak abad ke-11. Sumber yang  kerap dikutip oleh para historiograf adalah ditemukannya sebuah nisan Islam tertua yang ditemukan di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur yang berangka tahun 475 H (1082 M). batu nisan ini terpahat nama Fatimah binti Maimun. Menurut penelitian Agus Sunyoto, Fatimah merupakan anggota kabilah suku Lor yang berasal dari Persia yang datang ke Jawa pada abad ke-10. Konon, nama Leran sendiri berkait erat dengan nama “Lor”. Fatimah sendiri, sejatinya bukan datang langsung dari Persia, melainkan sosok yang lahir di Leran. [24] Hanya saja, ketika membincang pengaruh penyebaran Islam jika disandarkan pada golongan ini belumlah dapat dikatakan massif.

Dari ketiga bukti arkeologis dan historis diatas dapat diambil benang merah bahwa kedatangan Islam ke pulau Jawa dibawa oleh orang-orang dalam kategori teori Arab. Kendati Persia merupakan puak yang berbeda dengan bangsa Arab, namun dalam konteks ini terlebih ketika ditinjau secara fisik tentu terdapat kemiripan dengan orang Arab. Van den Berg dengan tegas menyatakan pula yang memperkenalkan Islam di Nusantara termasuk di Jawa adalah orang Arab, bersandar hubungan dagang yang cukup erat antara Arab Selatan khususnya Maskat dan Teluk Persia dengan Nusantara.[25]

Membincang perkembangan Islam dalam rentang waktu beberapa sumber sejarah di atas, ditinjau dari segi efektifitas di ruang publikan masyarakat Jawa, belumlah dapat dikatakan sukses. Hal ini karena pengaruh dari ajaran Hindu-Budha sendiri yang masih kuat berakar mulai dari tataran elit sampai akar rumput. Sunyoto mengungkapkan, selama bentang abad ke 5 sampai ke 15 Masehi pengaruh Hinduisme dan Budhisme yang berasal dari India menguat di berbagai ruang lingkup masyarakat di Nusantara: mulai dari tatanan sosial, nilai-nilai budaya, teknik arsitektur, tata negara, aturan hukum, sistem ekonomi dan politik bahkan hingga ajaran agama.[26] Keadaan ini lambat laun mulai mencair ketika Wali Songo memulai gerakan dakwahnya. Dengan bersenjatakan kesantunan yang penuh kompromi dengan budaya lokal, Wali Songo berhasil menancapkan pengaruh agama Muhammad di tanah yang sebelumnya disesaki oleh penyembahan sang Budha dan Dewa Siwa.

Banjirnya orang Arab di Tanah Air, membawa goresan warna nan rancak dalam perkembangan dakwah Nusantara. Jika ditilik lebih lanjut, Wali Songo yang dapat dikategorikan sebagai penabur benih Islam generasi awal, merupakan keturunan Sayid. Tujuh dari sembilan Wali Songo, meruapakan keturunan orang-orang Arab yang di dalam tubuhnya mengalir deras darah penghulu kaum Muslim sepanjang zaman, Nabi Muhammad Saw. Namun, gelaran habib dan sayid yang sejak medio kolonial ramai disematkan pada keturunan Nabi SAW tersebut, belumlah ada di masa itu. Para pendakwah Arab lebih senang menggunakan nama-nama lokal yang akrab di telinga masyarakat awam yang saat itu masih menganut ajaran Hindu-Budha. Sebagai contoh Raden Paku yang merupakan putra Syekh Maulana Ishak yang dikemudian hari dikenal sebagai Sunan Giri,[27] menggunakan nama Prabu Satmata, sebutan yang terasa lebih ramah ditelinga para penduduk pribumi.

            Seiring perjalanan waktu, kaum Sayid ini kian hari kian membengkak memenuhi konstelasi dakwah Islam melanjutkan estafet tugas dari para pendahulunya. Di masa kolonial, terlebih sejak munculnya Belanda sebagai elite yang menguasai peta kekuatan birokrasi dan administrasi Nusantara, setelah sebelumnya membenamkan pengaruh para raja-raja lokal, peran para Sayid begitu mengemuka. Terjadi semacam titik balik alih peran, dari yang sebelumnya mereka sangat dibenci oleh bangsa Barat,[28] karena dianggap membakar gelora makar melalui ajaran Islamnya, kini mulai diperhatikan keberadannya. Dari sekian banyak kota-pelabuhan (emporium) yang terkenal di Nusantara, Jayakarta yang kemudian berganti nama menjadi Batavia, merupakan primadona Timur yang harum dibicarakan orang. Bak seorang gadis rupawan, wajahnya begitu anggun didasari atas pertimbangan ekonomi yang potensial. Tidak salah kiranya, VOC rela merogoh kocek lebih dalam untuk menyulap Jayakarta menjadi Batavia[29], ibukota Belanda di Hindia Timur.

            Sunda Kalapa, merujuk pada ulasan Uka Tjandrasasmita yang menyitir laporan perjalanan Tome Pires, mengungkapkan bahwa Kalapa (Sunda Kalapa) adalah emporium penting kerajaan Sunda yang merupakan muara terkonsolidasinya barang-barang dari berbagai daerah pedalaman yang dikirim alat transportasi air  melalui sungai yang bermuara pada teluk Jakarta sekarang. Tak ayal, peranan  Ciliwung dan Cisadane dalam kelancaran arus distribusi barang dagangan amatlah vital. Ciliwung menjadi jalur air yang menghubungkan Bogor dengan pusat kerajaan Sunda yang lancar dialirkan kembali ke Kalapa. Sedangkan Cisadane, menghubungkan daerah pedalaman Bogor lalu transit ke pelabuhan Tangerang dan dilanjutkan pula ke Kalapa. Pun juga peran Citarum yang mengangkut komoditas dagang dari daerah yang dilaluinnya lalu diteruskan hingga ke Kalapa. Kondisi geografis Jakarta yang dilewati oleh sungai-sungai besar, seperti Cisadane, Ciliwung dan Kali Bekasi, serta adanya cekungan teluk di bibir pantai menjadi faktor potensial bagi perkembangan dan pemukiman masyarakatnya. Dan hal ini terjadi berkesinambungan hingga masa kini.[30]

            Jejak rekam perjalanan Batavia tersebut, kiranya cukup untuk bahan pertimbangan para Sayid di negeri asalnya-termasuk dari Hadramaut- untuk ikut serta dalam arus besar dakwah Arab-Nusantara.[31] Mereka yang berasal dari Hadramaut, lazim disebut Arab hadrami. Jika mengkhususkan waktu untuk berlama-lama membuka korpus-korpus sejarah, maka akan ditemukan nama besar Nuruddin Ar-Raniri, penghulu ulama sekaligus mufti kerajaan Aceh abad-17, yang menurut Azyumardi Azra mempunyai darah Arab hadrami.[32] Kendati telah banyak di antara mereka yang melukis hidup di Nusantara, umumnya masih dalam hitungan per-individu. Komunitas orang Arab hadrami[33] sendiri, merujuk pada catatan van den Berg, mulai datang secara massal ke Nusantara pada awal abad ke-18. Pelabuhan pertama yang mereka singgahi adalah Aceh. Dari sini mereka mulai pindah ke wilayah lainnya. Palembang dan Pontianak menjadi dua kota yang disukai oleh orang Arab hadram masa itu. Seiring perjalanan waktu, mereka pun mulai berdiaspora tak hanya terpaku pada dua kota ini. mereka mulai menetap di Jawa pada tahun 1870.

B. Kaum Sayid di Batavia

            Sebelum menelaah lebih mendalam sepak terjang kaum Sayid, alangkah lebih baik jika terlebih dahulu, membaca rentangan profil komunitas Arab hadrami di Batavia. Rute keberangkatan mereka ke Nusantara dimulai dari pelabuhan al-Mokalla atau asy-Syihir menuju Bombay. Dari sini mereka melanjutkan ke Ceylon (Srilanka) lalu ke Aceh diteruskan ke Singapura. Seluruh perjalanan ditempuh menggunakan kapal layar dalam waktu berbilang bulan. Agaknya, rute serupa tak berlaku bagi mereka yang beruang. Kelompok ini lebih memilih berangkat dari Aden langsung ke Singapura menggunakan kapal uap dari perusahaan pelayaran Eropa.

            Van den Berg meyakini, tahun 1844, menjadi tonggak awal diakuinya eksistensi komunitas Arab oleh pemerintah Belanda, sehingga perlu mendapat perhatian khusus yang mengharuskan adanya kepala koloni. Sebelumnya, mereka tergabung dalam koloni-kolonikecil yang bertempat tinggal di lingkungan penduduk pribumi, terutama di wilayah yang dikenal dengan sebutan Pekojan[34].

            Pekojan merupakan tempat tinggal atau pemukiman Muslim dari negeri-negeri Arab. Sebelumnya, Pekojan identik dengan orang Koja atau Kojah, yakni orang Muslim India-Benggal yang bermukim di kota-kota pelabuhan. Sama seperti orang Arab, kedatangan mereka ke negeri-negeri di bawah angin, termasuk Nusantara, adalah untuk berdagang.[35] Lambat laun, kemurnian Pekojan luntur seiring dengan bergabungnya komunitas Arab yang tinggal seatap dengan mereka. Selain orang Arab, di Pekojan juga kerap ditemukan beberapa rumah orang Cina walaupun dalam skala yang lebih kecil.

            Rumah-rumah di Pekojan terbuat laiknya rumah bergaya Eropa yang terdapat di kawasan Batavia Tua (Kota Tua sekarang). Dari sekian jumlah rumah, demikian van den Berg, hanya beberapa yang menambahkan sedikit ruang untuk balkon tertutup sebagai ciri khas kebangsaan pemiliknya. Kendati bangunannya berlanggam Eropa, hal yang berseberangan justru terlihat dari lingkungannya. Kala itu, wilayah Pekojan dikenal sebagai daerah kumuh. Agaknya, hal ini tidak begitu menjadi hal yang dianggap tidak penting bagi orang Arab.

            Selain rumah, bangunan lain yang ditemukan di pemukiman Pekojan, adalah masjid  luas yang menjadi titik pusat ibadah Muslim, di mana seorang imam Arab merangkap jabatan sebagai kepala sekolah. Dalam bahasa Melayu, masjid dikenal dengan sebutan langgar. Selain langgar, terdapat pula tempat ibadah yang lebih kecil, disebut dengan nama zawiyah.

            Sebagian orang Arab itu memilih tinggal di kawasan pinggiran Batavia, tepatnya di Krukut dan Tanah Abang. Namun tak sedikit dari mereka yang memilih tinggal membaur dengan penduduk pribumi. Di semua daerah itu, mereka mendiami rumah yang bergaya sama dengan rumah pribumi pada umumnya. Yang membedakan, hanya status kemakmurannya saja, bagi mereka yang kaya tinggal di rumah bergaya villa Eropa. Bagi pemuda Arab hadrami yang belum mampu membeli rumah, dan tidak mendapat tempat singgah di rumah keluarganya,  biasanya mereka memberi rumah dengan cara patungan dengan teman sejawatnya yang lain. Namun, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menggunakan biaya masing-masing.[36]

            Di Batavia abad-19, kebanyakan orang Arab berasal dari seluruh wilayah di Hadramaut, namun hanya sebagian kecil yang merupakan keturunan Sayid. Awalnya, Batavia hanya digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi para Arab hadrami dari Singapura yang berkeinginan untuk melanjutkan perjalanan ke kota-kota lain. Namun lapat-lapat, komunitas Arab hadrami Batavia menjelma menjadi komunitas terbesar, tinimbang komunitas hadrami di kota lainnya.[37] Untuk mengatasi praledakan imigran asal Hadramaut ini, jauh-jauh hari Pemerintah Belanda mulai memberlakukan pembatasan. Hal ini seperti yang diberitakan Snouck Hurgonje sebagai berikut:

… Seandainya undang-undang kita tidak membatasi kebebasan gerak orang Hadramaut itu, imigran mereka ke Hindia pastilah lebih banyak daripada sekarang.[38]

 

            Van Den Berg sebagai salah satu orientalis Belanda yang gemar meneliti hal ihwal tentang kaum Sayid di Nusantara, begitu mendetail memaparkan pernak-pernik hidup mereka. Ia tidak hanya mengisahkan tentang sejarah dalam artian formal terkait kapan, siapa, apa, dimana, mengapa dan bagaimana an sich, tetapi lebih dalam, ia juga menyelami denyut nadi kehidupan sehari-hari kaum Arab di Batavia. Baginya hal ini merupakan suatu kesempatan emas yang menjadi “kerja sampingan” semenjak ia menduduki kursi sebagai  penasehat Pemerintah Hindia-Belanda dalam bidang agama di Batavia. Salah satu prestasinya, ia begitu dalam melakukan observasi tentang sifat orang Arab di masa itu.

            Menurutnya, jarang dijumpai orang Arab, entah dia kaya ataupun miskin, yang gemar membelanjakan seluruh pendapatannya. Menabung merupakan tradisi yang dipupuk oleh generasi ke generasi dan cenderung tenggelam dalam kehidupan yang serba bersahaja. Yang mengharukan, ketika salah satu di antara mereka ditunjuk sebagai kepala koloni, tak lantas dipandang sebagai suatu prestise yang membanggakan. Mereka sangat amat menyayangi keluarganya. Jikalau ada kelebihan harta, mereka akan menyumbangkannya ke balai-balai sosial, seperti masjid, sekolah maupun yayasan. Bahkan, ada pula tradisi memberi uang kepada seorang cendikiawan yang mereka hormati dan juga bagi golongan lanjut usia. Orang Arab tak malu mengasuh orang tuanya kendati sudah renta. Sesuatu mutiara kehidupan yang tidak ditemukan dalam kehidupan OKB (Orang Kaya Baru) Eropa yang kerap menelantarkan orang tuanya di tanah airnya dalam keadaan papa. Bahkan, ada pula yang tidak mau mengakui orang tuanya yang berkehidupan miskin.[39]

            Kedatangan para pembawa panji-panji Islam dari perbukitan keras Hadramaut turun ke lembah-lembah teduh Nusantara membawa sejuta kisah yang terhampar dalam tumpukan kisah-kisah klasik. Mereka tak hanya “mengislamkan” tetapi juga membentuk suatu ide kemasyarakatan dari masa ke masa. Lewat zawiyah mereka merangkai nada-nada Ilahi, lantas dialirkannya ke sungai peradaban, meliuk-liuk melewati gang-gang kecil pemukiman masyarakat Betawi lalu mengendap dan membentuk kembali jalin-jemalin Islam di lokasi yang disinggahinya. Dari sekian banyak bintang-bintang Sayid yang menebarkan benih-benih pencerahan di Indonesia, terdapat seorang bintang segala bintang, suatu muara besar dari aliran-aliran besar syair-syair dakwah para habaib sampai di masa sekarang, beliau adalah al-Mukarram Sayid Usman bin Yahya, mufti Betawi yang juga harimaunya para Sayid.

D.  Mengenal Sayid Usman bin Yahya

Sayid Usman bin Aqil Yahya al-Alawi dikenal sebagai mufti Betawi dan diangkat oleh Belanda sebagai Honorair adviseur (Penasehat Kehormatan) untuk urusan Arab[40], dan juga sahabat Snouck Hurgronje.[41] Beliau dilahirkan di Batavia, tepatnya di daerah Pekojan, pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 H/1822 M. ayahnya bernama Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya, dilahirkan di Mekkah dari keturunan Hadramaut. Ibunya adalah Aminah, putri dari Syekh Abdurrahman al-Misri.[42]

            Ketika usianya menginjak tiga tahun, ayah Sayid Usman bertolak kembali ke Mekkah, sehingga ia pun diasuh oleh kakeknya, Syekh Abdurrahman al-Misri. Sayid Usman memperoleh pendidikan tidak dalam lembaga pendidikan formal, melainkan secara pribadi ia belajar dari kakeknya berbagai macam studi agama, bahasa Arab, dasar-dasar ilmu falak-spesialisasi kakeknya- dan adab sopan santun. Ketika berumur 18 tahun, sang kakek meninggal, lantas Sayid Usman memutuskan untuk mengembara ke Mekkah. Di kota itu, selain menunaikan ibadah haji, ia juga mengagendakan kepergiannya itu untuk melepas rindu dengan ayahnya dan kerabatanya.[43] Selain itu, di kota itu Sayid Usman mulai menempa diri dengan mendulang berbagai khazanah keilmuan selama tujuh tahun. Kebanyakan dari ayahnya dan Sayid Ahmad Dahlan seorang mufti Syafi’i kondang dan dikenal pula sebagai sejarawan Mekkah.

            Setelah itu, Sayid Usman melanjutkan langkah kelananya ke Hadramaut. Di sini, ia kembali me-recaharge pengetahuan agamanya dengan berguru ke sejumlah pendekar ilmu di kota itu, seperti Habib Abdullah bin Husain bin Thahir, Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Hasan bin Shalih al-Bahar, Habib ‘Alawi bin Segaf al-Jufrie. Di kota ilmu itu, ia menghabiskan hari-harinya dengan menelaah berbagai korpus klasik. Atas permintaan salah seorang gurunya, ia menikah dengan seorang syarifah. Ketika beberapa gurunya telah meninggal, ia memutuskan untuk melanjutkan tapak kembaranya kembali ke Mekkah lalu kemudian ke Madinah.

            Seperti banyak ulama terkenal lainnya, Sayid Usman mengkhususkan sebagian dari umurnya untuk “tapa jalan” dengan merogoh dan menambang perbendaharaan keilmuan di belahan dunia yang berbeda.  Dari Madinah ia pergi ke Dimyat, Mesir-kampung halaman ibunya-untuk bertemu dengan keluarganya. Dia bermukim di Mesir selama delapan bulan, sekaligus memanen pelbagai disiplin ilmu  dari ulama ternama di kota itu. Tak lama kemudian, kakinya kembali berayun membuka daerah-daerah lain yang belum ia kunjungi seperti ke Tunis, Maroko, Aljazair yang disinggahinya masing-masing selama lima dan tujuh bulan. Ia sempat mengunjungi beberapa kota seperti Marakesh dan Fez tempat ia menyemai ilmu-ilmu eksoterik (zahir) dan esoterik (batin). Selain itu, ia juga rajin menyambung kawat persaudaraan dengan jejaring ulama di sana, salah satunya dengan Mufti Tunis. Setelah merasa cukup, Sayid Usman berlayar ke Istanbul, Turki yang ditinggalinya selama tiga bulan. Di ibukota dunia Islam itu, ia bertemu dengan mufti dan Syaikh al-Islam, dan menerima sebuah surat dari Pasya Madinah kemudian ia pergi ke Palestina, Suriah, dan Hadramaut. Ia kembali ke Batavia melalui Singapura pada 1279 H/1862 M.[44] Selanjutnya ia mulai membentangkan kristal-kristal keilmuannya yang digunakan untuk memoles kembali kehidupan umat Islam.

            Selain menyibukkan diri dalam perkara-perkara keislaman, Sayid Usman juga merupakan pendakwah yang ulung. Setidaknya Sayid Usman tidak hanya melakukan dakwah bil lisan tetapi juga bil kitab. Dakwah jenis pertamanya, banyak dilakukan di Masjid Al-Islam di depan Rumah Sakit PELNI, tepatnya di belakang POM bensin Petamburan sekarang. Namun, ketika shalat Jumat, biasanya ia melaksanakannya di Pekojan. Selain itu, setiap hari Rabu, ia juga membuka pengajian di rumahnya tak jauh dari masjid tempatnya mengajar itu.[45] Bak perjalanan arus air dari muara mengalir ke sungai, murid-murid Sayid Usman banyak pula yang meneruskan estafet keilmuannya. Di antara mereka yang terkenal adalah Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Habib Umar Purwakarta dan Habib Falakiyyah Bogor. Banyak pula muridnya yang berasal dari luar Surabaya ada pula yang dari Banjarmasin.

            Sayid Usman juga dikenal sebagai penulis yang prolifik-profetik. Prolifik merupakan suatu ungkapan khas bagi mereka yang giat menelurkan berbagai buah karya berbentuk tulisan. Sedangkan profetik, adalah merujuk pada “jalan sunyi” kenabian. Dengan kata lain, Sayid Usman tidak saja mengangungkan nasab, melainkan juga teladan Nabi SAW yang diutus  ke muka bumi sebagai pembawa kabar baik (al-Bashir) dan buruk (an-Nadzir). Sebagai seorang penulis yang sangat lihai menggetarkan jagad keilmuan Nusantara, Sayid Usman mempunyai dua peran yang prestisius. Pertama, kedudukannya sebagai mufti, yang diraihnya degan rekomendasi keluasan ilmu agama yang dimilikinya. Kedua, sebagai guru agama, yang menaburkan ilmunya baik dengan jalur lisan maupun tulisan kepada umat Muslim Nusantara. Sematan mufti, memungkikan gerak pemikirannya untuk mengembara di padang luas ilmu untuk mendapatkan berlembar-lembar jawaban atas permasalahan yang menggelisahkan ruang publik.[46]

 Bagi Sayid Usman, berjuang tak hanya melalui tindakan atawa orasi keagamaan belaka, yang terpenting adalah bagaimana mengabadikan keluasan ilmunya dalam deret demi deret kata bagi generasi masa depan. Selama masa hidupnya beliau telah menulis 144 judul tulisan-terbagi dalam kitab yang  tipis-tipis halamannya- dari pelbagai disiplin ilmu. Kitab tulisan Sayid Usman hingga kini masih menjamur dipelajari di sela-sela alam modernitas, salah satunya yang terkenal berjudul Sifat Dua Puluh.

            Biasanya, jika ada suatu polemik keagamaan atau sebuah pertanyaan keagamaan yang sedang mengemuka di zamannya, Sayid Usman kerap menjawabnya melalui penanya.[47] Tak ayal, banyak di antara karyanya yang bersifat tematis atau dengan kata lain menulis sebagai solusi atas masalah itu sendiri. Contohnya, ketika umat Muslim Nusantara membutuhkan panduan berhaji yang praktis dan mudah dipahami, Sayid Usman menulis sebuah kitab tuntunan berhaji dalam bahasa Melayu berjudul Kitab Manasik Haji dan Umrah yang terbit perdana tahun 1875 dan mangalami cetak ulang di Mekkah 1310/1892. Boleh dikatakan, kitab ini merupakan “santan” yang diperas dari kitab-kitab babon yang membahas tentang haji seperti dari Kitab Syarh Fadhailul Muluk karya sayid Yusuf al-Baththah, Kitab Idhah karya Imam Nawawi dan Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali.[48] Dalam masalah haji lainnya, Sayid Usman juga tercatat namanya dalam historisitas haji Nusantara sebagai ulama yang mencetuskan karcis pulang-pergi berhaji. Sayid Usman menyatakan;

 

“een man dus, die wel hard voor het geloof zijner vanderen heeft, noemde dit denkbeld der retourbiljet uit nemend “Patoet Sekali”.[49]

(jadi ia seorang laki-laki yang memang bersikap penuh dedikasi kepada agamanya, menganggap dan menamakan retourbiljet itu “Patoet Sekali”)

 

            Selain itu, jangkauan dakwah dan keilmuan Sayid Usman tak hanya berkutat di Batavia saja, tetapi juga dibutuhkan untuk memecahkan kebuntuan problematika di daerah lainnya. Contohnya saat terjadi pertentangan ide ketika polemik salat Jumat di Masjid Lawang Kidul Palembang, yang oleh Sayid Usman dipandang “menyalahi” hukum fiqih Syafi’i oleh karena terlebih dahulu sudah ada masjid yang dijadikan lokasi salat jumat yakni Masjid Agung Palembang. Masalah ini juga dijawabnya melalui sebuah tulisan berjudul Khulasah al-Qaul al-Sadid fil Man ihdats Ta’addud al-Jum’at fi al-Masjid al-Jadid. Saat polemik itu terjadi, Sayid Usman memberikan berbagai pertimbangan kepada kantor Algemeene Secretarie di Bogor sehubungan dengan masalah ini. Dalam suratnya itu antara lain dikelaskan;

… menurut mazhab Syafi’i … bahwa di dalam satu jama’ah hanya boleh diadakan salat Jumat di satu tempat saja. Bilamana peraturan ini dilanggar, maka kedua salat Jumat yang diadakan itu menjadi tidak sah. Maka, pengadaan salat Jumat kedua di samping yang sudah ada, dalam hal seperti itu bukan dianggap sebagai pelanggaran yang berat di pihak mereka yang ikut serta di dalamnya, melainkan juga menghalangi para jamaah lainnya dalam melaksanakan ibadah mereka … hendaknya dipahami sebagai satu jamaah, … dalam kitab-kitab fiqih … diuraikan beberapa lebar seharusnya sebuah lapangan, agar dapat membagi menjadi dua jamaah … tidak dapat disangsikan bahwa jamaah masjid baru di Palembang (masjid Lawang Kidul) merupakan satu jamaah dengan kampung masjid yang lama.[50]

 

            Selanjutnya, kitab yang beraroma problem-oriented lainnya adalah Kitab al-Qawanin asy-syar’iyyah li ahl al-majlis al-hukmiyyah wa al-ifta’iyyah yang berarti “Ini kitab segala aturan hukum syara bagi ahli majlis syara dan majlis fatwa syara yaitu yang disebut rad agama, terbit pada 1881 M. Kitab ini berisi pedoman dan tuntunan praktis bagi para hakim dan penghulu di daerah ketika menjalakan perannya di tengah masyarakat. Mereka tergabung dalam suatu dewan agama yang disebut Dewan Ulama. Konon, menurut penuturan Snouck, kitab ini termasuk dalam kategori best-seller, karena ketika terbit pertama kalinya, kitab ini habis terjual. Untuk memenuhi pangsa pasar yang semakin membludak, kitab ini dikemudian hari diperbaiki dan dicetak ulang dalam jumlah besar.

            Latar belakang lahirnya kitab ini, adalah karena banyaknya rekues akan pertolongan dari para penghulu, para anggota dewan ulama  di Jawa yang banyak mengalami kesulitan dalam memutuskan sesuatu perkara sesuai dengan asas keadilan berbasiskan hukum keagamaan. Problem bahasa juga diperhataikan oleh Sayid Usman, supaya mudah untuk dimengeri para pembacanya. Untuk itu, Kitab Qawanin sengaja didesain menggunakan bahasa Melayu dan ditata sedemikian praktisnya untuk memanjakan para dewan ulama dalam optimalisasi pengambilan keputusan hukum.[51]

            Konon, beliau menerbitkan butiran-butiran ide progresifnya melalui mesin lithografi kecil-di zaman itu dikenal dengan nama mesin batu- miliknya.[52] Kemudahan menerbitkan kitab-kitabnya juga berkaitan erat dengan kedekatannya dengan Belanda. Selain itu, tak banyak orang mengetahui, Sayid Usman juga merupakan seorang geografer (ahli ilmu bumi). Hal ini diakui oleh Snouck Hurgronje dalam tulisannya yang mengatakan:

Sayid Usman ibn Yahya al-Alawi yang menjadi terkenal di beberapa kalangan Barat karena penerbitan peta buminya, yang memuat sebuah peta besar dari tanah airnya, Hadramaut. Maksud utama penerbitan itu ialah memperluas pengertian yang lebih baik tentang keanehan , adat istiadat dan pekerjaan penduduk Arab Selatan, yang telah mengirimkan kelebihan penduduknya ke negeri-negeri Islam lainnya sejak berabad-abad lampau.[53]

            Salah satu kitab yang banyak mengulas tentang beragam pernak-pernik problematika agama, adalah kitab Adabul Insan yang ditulis menggunakan aksara Melayu-Jawi, pada pasal 27, yang merupakan pasal terakhir tentang saudagar kikir nan tamak yang karena kekikirannya menyebabkan ia jatuh miskin tak terperikan keadaannya. Sayid Usman berwasiat:

Maka, Ingatlah, wahai sekalian saudara, janganlah takabur membesarkan diri atas dha’if miskin. Maka tiada diketahui akan hal ihwal manusia di belakang kalinya.[54]

            Kini, nyatalah, betapa Sayid Usman mendedikasikan dirinya sebagai Cultural Broker yang menjembatani problematika umat dengan selancar ide-ide keagamaannya yang senantiasa tajam, segar tapi juga bernas. Hal inilah esensi dari dakwa sesungguhnya, yakni sebagai komitmen menghadirkan suatu pembaruan yang beresensikan ajaran Islam dengan mengganti hal-hal yang lawas dengan yang baru lagi baik, dan senantiasa menjaga warisan ulama terdahulu (al-muhafadzah ala qadimi ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadiid al-ashlah).

            Boleh dikatakan, abad 19 merupakan masa berbunganya pengajaran Islam di tanah Nusantara. Tidak hanya kalangan Sayid, para pendakwah pribumi  juga mulai bertaburan dan berkecambah menghiasi persada bilik-bilik Islam di Nusantara, tak terkecuali di Betawi. Pada akhir abad 19, hubungan kawat akademik Timur Tengah-Betawi sedang “menyemesta”. Kaum Sayid di tanah rantau Batavia bahu membahu dengan pendakwah lokal untuk membangun suatu ruang lingkup keislaman yang lebih tertata dan merata. Di era ini Betawi disesakkan dengan nama-nama besar seperti  Guru Halid di Gondangdia,  Guru Mughni Kuningan, Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Marzuki Jatinegara, Guru Mahmud Menteng dan Guru Madjid Pekojan. Mereka adalah alumni-alumni majlis taklim yang sebelumnya telah laris berdiri di tanah Betawi. Galur keilmuan mereka bersambung langsung degan Haramain, pelabuhan ilmu yang sempat diakrabinya pasca menempa ilmu di Betawi.[55]

            Kelihaian strategi dakwah para Sayid, menjadi tengara mudahnya Islam bersua dan berpadu dengan denyut hidup masyarakat praJakarta. Malahan, kehadiran mereka dianalogikan sebagai butiran salju yang menyegarkan dan memberikan sentuhan estetik di ranah dakwah Nusantara. Pendek kata, dakwah mereka berhasil diterima dan dipeluk oleh masyarakat pribumi. Mereka tak segan bertukar pikiran dan bersahabat dengan ulama Betawi. Tak ayal, kekhasan inilah yang menjadikan mutiara-mutiara keilmuan yang mereka siarkan tak lantas kaku dan berjarak, melainkan begitu merasuk dan mengendap di alam bawah sadar murid-muridnya, oleh karena berhasil “menaklukan” dan “menggauli” belantara peradaban Nusantara, khususnya Betawi, yang sama sekali berbeda dengan bentara tradisi Hadramaut.[56]

            Meskipun dikenal sebagai seorang alim yang berilmu tinggi, Sayid Usman juga tersohor karena kontroversinya. Kontroversi-kontroversinya inilah yang menyebabkan dirinya begitu dihargai oleh Belanda sebagai suatu sikap akomodatif. Salah satu kontroversi yang menarik, adalah penolakannya dengan paham tarekat di Nusantara yang saat itu sedang menggeliat. Menurutnya, Nusantara agaknya belum siap untuk bertarekat. Merujuk pada buah karyanya an-Nasihah al-Aniqah li al-Mutalabbisin bi al-Thariqah  (Nasihat yang Elok kepada Orang-Orang yang Masuk Tarekat) hal ini dikarenakan seorang yang hendak bertarekat hendaknya menguasai tiga cabang ilmu Islam yakni ilmu tauhid, fiqih dan ilmu sifat hati (tasawuf) secara holistik.

            Kenyataan yang terhampar di bumi Nusantara adalah sebaliknya. Persyaratan tersebut, demikian Sayid Usman, sangatlah berat dipenuhi oleh Muslim di Arab, apalagi Muslim Jawa yang masih bergelimang dalam ajaran-ajaran “menyimpang” dari korpus utama hukum Islam yakni al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sayid Usman menyebut golongan ini sebagai ghurur atau kesalahan dalam memahami ajaran Islam. Akibatnya, bergabungnya mereka dalam persaudaraan tarekat dipandangnya tidak absah dan cenderung berdosa.  Tak ayal, Sayid Usman mendapat kecaman dari para ulama pendukung tarekat di Nusantara, yang menuduhnya sebagai upaya silat lidah untuk meraih simpati pemerintah Belanda.

            Fatwanya itu didukung sepenuhnya oleh Snouck Hurgronje, yang mengatakan tarekat merupakan biang keladi dari pemberontakan melawan pemerintah. Para syekh tarekat hanyalah oknum yang kerap meyakinkan para pengikutnya untuk mengikuti semua perintahnya. Tak jarang, para murid tarekat disuguhi oleh propaganda-propaganda untuk melawan pemerintah. Kasus yang sama pernah terjadi ketika pemerintah Perancis disibukkan oleh perlawanan para pengikut tarekat Sanusi. Lebih jelasnya, Snouck mengatakan:

… Para syekh sudah tergila-gila uang dan kekuasaan, lebih suka menerima hadiah-hadiah yang mahal dari para murid mereka, dan juga organisasi yang besar (tarekat) dan patuh pada perintah, yang dapat dipergunakan sebagai alat agar para penguasa dalam pemerintahan. Oleh karena itu, mereka mengangkat sebagai para wakil mereka di berbagai kota atau negeri, orang-orang yang dianggapnya tepat untuk membantu menjaga kepentingan mereka; para wakil (khalifah) pada gilirannya menerima sebagai anggota organisasi, orang-orang yang karena kebodohan atau suka menderma karena sifat lainnya, dapat dijadikan alat untuk mengisi kocek guru-guru gaib mereka serta mempertinggi kedudukan mereka di dunia.[57]  

            Secara pribadi, Snouck pernah menanyakan mengapa Sayid Usman menyanggah orang-orang yang rajin mengucapkan kalimah thayyibah dan zikir kepada Allah (kaum tarekat). Dengan meyakinkan Sayid Usman menjawab bahwa sebenarnya ia bukannya menolak kegiatan tersebut. Tetapi yang ia hujani kritik tajam adalah janganlah mempelajari tata cara berzikir dari syekh yang tidak benar.[58] Kemelut konflik ini membawa Sayid Usman dalam perang urat syaraf dengan Syekh Ismail Minangkabau yang dipandang mengadakan “paksaan” bagi penduduk untuk memasuki tarekat Naqshabandiyah yang dipimpinnya.[59] Sejalan dengan ulasan ini, Azra menambahkan pandangan perilaku sufi saat itu dari Sayid Usman merujuk pada Buku Kecil halaman 6-8 adalah;

… He alleges that many sufi shaykh are nowdays more concerned with wealth and social status than with genuine piety. They do not realy commit themselves to Islam but to worldly sastus and enjoyment. They are “false” sufi shaykhs who exploits their followers for their own interest, claiming to be or regarded by certain people as able to do “keramat” things. Because of their ignorance many Muslims believe and pay respect to such false teachers.[60]

( … habib Usman menyatakan bahwa banyak dari syekh sufi di masa itu yang lebih mementingkan kekayaan pribadi dan status sosial tinimbang kesalehan yang murni. Mereka adalah sufi palsu yang mengekploitasi muridnya demi kepentingannya sendiri dan mengklaim diri arau dianggap oleh orang tertentu mampu melakukan berbagai hal “keramat”. Karena keacuhan mereka sendiri banyak orang yang percaya dan menghormati para guru menyimpang itu).

            Selanjutnya, ada pula berbagai pandangan kontroversi dari Habib Usman lainnya, salah satunya adalah larangan berjihad. Secara eksplisit, Sayid Usman menyebut jihad yang dilakukan di Banten pada tahun 1888 merupakan kesalahpahaman (ghurur) atas ajaran Islam yang sebenarnya; makna sesungguhnya dari jihad telah disalahartikan oleh mereka yang disebutnya orang-orang yang jahil pada bab jihad. Akibatnya, fanatisme berjihad mereka dilegitimasikan sepihak menjadi perang suci. Aksi-aksi “kepahlawanan” mereka, menurut Sayid Usman, bukanlah jihad, melainkan hanya gangguan dan kekisruhan dalam suasana yang damai. Penjelasan ini termaktub dalam buah tangan Sayid Usman berjudul Minhaj al-Istiqamah fi al-Din bi al-Salamah, terbit pada tahun 1307 H/1889-1890 M.[61]

            Selain concern dalam bidang keagamaan, Sayid Usman juga merupakan ulama yang atraktif dalam kancah perpolitikan kaum pribumi, kendati dalam skala yang kecil. Hal ini terlihat jelas dalam upayanya mendukung perjuangan Syarikat Islam (SI), yang merupakan suatu wadah gerakan protonasionalis Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1911. Kendati berada dalam barisan pemerintah kolonial, tak lantas membuat tumpul ide pergerakan Sayid Usman. SI, yang kala itu menjadi kekuatan oposisi dari Belanda, dibelanya dengan gigih. Sayid Usman menulis sedikitnya dua karya yang secara khusus ditujukan sebagai pledoi SI: Sinar Isterlam pada Menyatakan Kebenaran Syarekat Islam (16 hh), dan Selampai tersulam pada menyatakan Kebajikan Syarekat Islam (8 hh.). Organisasi ini dipandang Sayid Usman sebagai wahana umat Muslim untuk saling membantu (ta’awun) juga sebagai sarana untuk mempererat silaturahim.[62]

            Dua pandangan inilah (anti-tarekat dan anti-jihad) yang kerap dijadikan bumerang untuk menuduh Sayid Usman sebagai antek-antek Belanda. Beberapa penulis sejarah hidup Sayid Usman, yakni seperti Snouck Hurgronje, L.W.C. van den Berg, Karel A. Steenbrink dan Azyumardi Azra, belum dapat mengungkapkan secara gamblang, sebenarnya apa motif fatwa-fatwa yang menurut kaum pejuang tanah air dipandang sebagai “salah-kaprah” ini. Terutama pandangan Azyumardi Azra yang mengungkapkan bahwa harus dilakukan penelitian yang benar-benar “lengkap” terkait sepak terjang Sayid Usman.[63]

            Atas “kesadaran partisipatoris” Sayid Usman terhadap kelangsungan upaya menyatukan pemikiran umat Islam dalam memahami nilai-nilai keislaman yang berkembang di tengah-tengah kolonialisme Belanda di Nusantara. Maka Belanda begitu mengagungkan sosok ulama Arab Betawi ini. Snouck sangat memuji sikap dan pendirian Sayid Usman yang begitu tangguh berfatwa disertai gelaran-gelaran rujukan klasik nan otoritatif dalam mempertahankan fatwa-fatwanya. Kendati menduduki posisi yang tinggi di jajaran birokrat Belanda, Snouck kerap menjadikan Sayid Usman sebagai rujukan ketika akan menelurkan suatu kebijakan. Dalam percakapanya, Snouck menggunakan bahasa Arab sebagai bentuk penghormatang kepada Sayid Usman. Dalam suatu kesempatan Snouck mengungkapkan:

… Usman memiliki keberanian berdasarkan keyakinannya, dan tidak akan menghentikan perjuangan. … Justru karena itu ulama kita dari Hadramaut ini juga berhak atas terima kasih dan simpati dari mereka, yang bersikap jujur terhadap Hindia Belanda, dan terutama dari pemerintah sendiri. … bahwa orang Arab seperti Usman bin Yahya adalah lebih berharga daripada sejumlah bupati yang “ berpandangan bebas”[64]

 

            Berikut juga merupakan kekaguman Snouck atas kejembaran hati Sayid Usman “menerima” penjajahan dalam upaya untuk “memberadabkan” masyarakat pribumi, yakni sebagai berikut:

Pengetahuannya tentang dunia telah membuatnya dapat menerima adanya penjajahan bangsa-bangsa bukan Islam atas negeri seperti Jawa sebagai suatu “keharusan”; juga dalam hal ini dia, sebagaimana terlebih dulu sudah kita perhatikan, berpendirian tetap menurut teori.[65]

Kesimpulan

Perjalanan hidup Sayid Usman bin Yahya kerap diselubungi oleh berbagai kontroversi. Buah pemikirannya yang menganggap ahli tarekat sebagai sekumpulan orang yang salah dalam beragama dan ketidaksetujuannya dengan konsep jihad melawan pemerintah Hindia-Belanda adalah dua diantara berbagai hal yang mendiskreditkan Sayid Usman yang ditengarai sebagai mata-mata, maupun orang yang berpihak kepada Belanda.

Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah perlu diadakan penelitian yang lebih intens dan kontinyu untuk mebongkar jejak hidup Mufti Betawi ini. Para ahli sejarah pun “dibuat pusing” oleh kisahnya yang serba abu-abu itu. terlepas dari berbagai kontroversi yang meliputinya, Sayid Usman merupakan sosok pendakwah Islam yang sangat berpengaruh di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Buah pikirannya yang dicetak dari mesin litrografi sederhana miliknya, kerap dijadikan rujukan oleh para kaum Sayid belakangan juga para masyarakat umum. Boleh dikatakan, Sayid Usman merupakan salah satu pelopor dakwah yang sukses menanamkan benih-benih keislaman di tanah Betawi dan Nusantara.

Daftar Pustaka

Sumber Primer

al-Alawy, Usman bin Abdullah bin Yahya bin Aqil, Khulasah al-Qaul al-Sadid fil Man’I Ahadits Ta’addud al-Jum’at fi al-Masjid al-Jadid (Betawi, 1316 H).

Arsip Nasional RI, Agenda 18139/1895, saran Snouck Hurgronje ditujukan kepada Gubernur Jendral di Bogor, tertanggal Betawi 20 Oktober 1893;

______________, Besluit Gubernur Jenderal I Juni 1891 no.6.

______________, Surat dari Direktur Onderwijs Eeredients Nijverheid (Pendidikan Agama dan Kerajinan )Kepada Gubernur Jenderal 19 Juli 1890 no. 6955.

Hurgronje, C. Snouck, Verspreide Geschriften van C. Snouck Hurgronje, (Bonn dan Leipzig: Kurt Schroeder, 1924), diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje (Jakarta: INIS, 1993), jilid VII.

_________________,  Verspreide Geschriften van C. Snouck Hurgronje, (Bonn dan Leipzig: Kurt Schroeder, 1924), diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje (Jakarta: INIS, 1993), jilid IX.

Regeering Almenak tahun 1851 – 1879

Staadblad Nomor 48

Sulendraningrat, P. S., Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon ( Cirebon, 1984).

Sumber Sekunder

al-Attas, Naquib, Preliminory Statement of General Teory of the Islamization of the Malay-Indinesia Archipelago (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969).

______________, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1990).

Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama (Jakarta: Kencana, 2007).

______________,  Islam Nusantara (Bandung, Mizan, 2002).

______________ (Ed), Perspektif Islam di Asia Tenggara (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia).

Hakim, Sudarnoto Abdul (Ed), Islam dam Konstruksi Ilmu Peradaban dan Humaniora (Tangerang: UIN Jakarta Press, 2003).

Hasymi, A., Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Bandung: Ma’arif, 1993).

Huda, Noor, Islam Nusantara, Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007).

Lapidus, Ira M, History of Islamic Societies (Cambridge: Cambridge University Press, 1988).

____________, Sejarah Sosial Umat Islam, Jilid I (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000).

Legge, J.D, Indonesia (Englewood Cliffs, NY:Prentice Hall, 1965).

Madjid, M. Dien, Berhaji di Masa Kolonial (Jakarta: CV Sejahtera, 2008).

_____________, “Menelusuri Sejarah Melalui Arsip: Kontroversi Shalat Jumat di Masjid Lawang Kidul Palembang”,  dalam  Sudarnoto Abdul Hakim (ed),  Islam dam Konstruksi Ilmu Peradaban dan Humaniora (Tangerang: UIN Jakarta Press, 2003)

_____________, Peran Ulama Betawi: Studi Transmisi Keilmuan Islam Abad XX di Jakarta (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2011).

______________, Mesjid di mata Kolonial, ( Laporan Penelitian  Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta,  2001 )

_________________, “Jaringan Perdagangan Masa Kerajaan Islam Indonesia (Suatu Kajian Sosial Ekonomi)”, dalam  Sudarnoto Abdul Hakim (ed), Islam dam Konstruksi Ilmu Peradaban dan Humaniora (Tangerang: UIN Jakarta Press, 2003)

Mauladdawilah, Tiga serangkai Ulama Tanah Betawi ( Malang: Pustaka Basma, 2009).

Reid , Anthony, Asia Tenggara Kurun Niaga Jilid I (Jakarya:  Yayasan  Obor Indonesia, 2011).

Steenbrink, Karel A., Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

Sunyoto, Agus, Walisongo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan (Tangerang: Transpustaka, 2011).

Tjandrasasmirta, Uka, Arkeologi Islam Nusantara, (Jakarta: KPG, 2009).

_________________, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-Kota Muslim Di Indonesia (Kudus: Penerbit Menara Kudus, 2000).

Van den Berg, L.W.C., Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara (Jakarta: INIS, 1989).

_________________, Orang  Arab di Nusantara (Depok, Komunitas Bambu, 2010).

Vlekke, Bernard H. M., Nusantara (Jakarta:  KPG, 2008).

Wolters,O.W, Kemaharajaan Maritim Sriwijaya di Perniagaan Dunia Abad III-Abad VII (Depok: Komunitas Bambu, 2011).

Zainuddin, H. M, Tarich Atjeh Jilid I ( Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961).

Terbitan Berkala

Alkisah No.5/15-28 September 2003.

Alkisah No. 24/20 November- 3 Desember 2006.

Drewes, “New Light of Coming of Islam to Indonesia”, BKI (Bijdragen tot de Taal, Land-en Volkenkunde), 124, (1968)

Azyumardi Azra, “Hadrami Scholars in The Malay-Indonesian Diaspora: A Preliminary Study of  Sayyid Uthman, Studia Islamika Vol. 2, No. 2, 1992


[1] Makalah disampaikan dalam acara seminar tentang “Islam di Betawi Abad 19-20, Jaring Ulama dan peranannya” dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2012, diselenggarakan oleh Rabithah Alawiyah, bertempat di gedung Rabithah Alawiyah Lantai IV, Jakarta Selatan

[2] Guru Besar Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

[3] Lihat Regeering Almenak tahun 1871 dan 1879

[4] Dalam Staadblad nomor 48, bahwa orang Arab diperkenankan untuk berdagang dan berlayar ke pelabuhan-pelabuhan di Nusantara, seperti ke Semarang, Surabaya, Riau, Bintan, Palembang, Bengkulu, Banjarmasin, Pontianak, Makasar, Kupang dan lain-lain.

[5] Bernard H. M. Vlekke, Nusantara (Jakarta:  KPG, 2008) h. 18-19.

[6] Anthony Reid, Asia Tenggara Kurun Niaga Jilid I (Jakarya:  Yayasan  Obor Indonesia, 2011) h. 110-112.

[7] M. Dien Madjid, “Jaringan Perdagangan Masa Kerajaan Islam Indonesia (Suatu Kajian Sosial Ekonomi)”, Islam dam Konstruksi Ilmu Peradaban dan Humaniora (Tangerang: UIN Jakarta Press, 2003) h. 210.

[8] Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-Kota Muslim Di Indonesia (Kudus: Penerbit Menara Kudus, 2000) h. 15.

[9] Menurut O.W. Wolters, Sriwijaya berkontribusi penting eksistensi perdagangan Asia pada abad pertengahan, selama lebih dari 500 tahun. Pendapat  ini dapat dijadikan pijakan betapa Sriwijaya menjadi penjaga gawang kelancaran alur perdagangan di Asia Tenggara. O.W. Wolters, Kemaharajaan Maritim Sriwijaya di Perniagaan Dunia Abad III-Abad VII (Depok: Komunitas Bambu, 2011) h. 1.

[10] Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan …, h. 19.

[11] Ada riwayat menarik mengenai revolusi nama Samudera. Orang Portugis menyebut “Samudera” dengan “Sumatera”, maka dikemudian hari, menjadi nama seluruh pulau tersebut, Pulau Sumatera, HM Zainuddin, Tarich Atjeh Jilid I ( Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961) h. 116.

[12] Lambat laun, setelah menemukan pijakannya, kerajaan ini tumbuh menjadi kerajaan yang kuat setelah mengukuhkan posisinya di tengah masyarakat. Thus, kerajaan ini juga menjadi katalisator penyebaran Islam ke daerah-daerah sekirtarnya seperti Aceh, Malaka dan Pidie. Boleh dikatakan pondasi penguatan Islam di Aceh mulai diinisiasi oleh kerajaan ini. Di kemudian hari, tepatnya di abad ke-13 kerajaan ini menjelma menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai komoditas unggulannya. Noor Huda, Islam Nusantara, Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) h. 64.

[13] Azyumardi Azra, (Ed), Perspektif Islam di Asia Tenggara (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia) h. xii-xiii.

[14] Naquib al-Attas, Preliminory Statement of General Teory of the Islamization of the Malay-Indinesia Archipelago (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969), h. 25, dan Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1990) h. 29-54.

[15] A. Hasymi, Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Bandung: Ma’arif, 1993) h. 5-19.

[16] Drewes, “New Light of Coming of Islam to Indonesia”, BKI , deel 124, (1968), h. 444-445.

[17] A. Hasymi, Op Cit, h. 25.

[18] Ibid. h. 25.

[19] Azyumardi Azra menyebutkan, para pendukung teori batu nisan seperti Kern, Windstedt, Bougnet, Vlekke, Gonde, Shrike dan Hall. (Ed), Azyumardi Azra,  Perspektif Islam …,  h. xii-xiii.

[20] Ibid, h. 38.

[21] Ira M. Lapidus, History of Islamic Societies (Cambridge: Cambridge University Press, 1988) h. 469, dan lihat pula Ira M. lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jilid I (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000) h. 720-721.

[22] J.D. Legge, Indonesia (Englewood Cliffs, NY:Prentice Hall, 1965) h. 52.

[23] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama (Jakarta: Kencana, 2007),  h. 57.

[24] Agus Sunyoto, Walisongo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan (Tangerang: Transpustaka, 2011) h. 37-40.

[25] L.W. C. van den Berg, Orang  Arab di Nusantara (Depok, Komunitas Bambu, 2010) h. 95.

[26] Agus Sunyoto, Walisongo…,  h. 23.

[27] Berikut silsilah Sunan Giri yang merujuk pada ulasan Sulendraningrat dari Babad Cirebon dan Babad Tanah Sunda, yaitu;

Sunan Giri bin Maulana Ishak bin Ali Musada bin Ibrahim Jaenal Akbar bin Jamaluddin al Husein bin Al Amir Ahmad Syekh Jalaludin bin Abdullah Khan Nudin (Amir) bin Abdul Malik bin Alwi Amir Faqih bin Muhammad bin Ali al Gazan bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad al Muhajir bin Isa al Basri (al Bakir) bin Muhammad bin Kasim al Kamil (al Uraid) bin Jafar Sadiq bin Muhammad al Bakir bin Jaenal Abidin bin Husain Assabti bin Ali bin Abi Thalib menikah dengan Siti Fatimah binti Nabi Muhammad SAW, lebih lanjut lihat P. S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon ( Cirebon, 1984) .h. 99.

 

[28] Karel A. Steenbrink menyebut golongan sebagai agen yang mendorong pemberontakan. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 (Jakarta: Bulan Bintang, 1984) h. 128.

[29] Sunda Kalapa merupakan nama yang dikenal pada saat Kerajaan Sunda-Pajajaran berkuasa yakni pada awal abad ke-16. Selajutnya, berganti nama menjadi Jayakarta terhitung sejak kota itu dikuasai oleh Fadhilah Khan atau Faletehan setelah mengusir bandar tersebut dari cengkeraman bangsa Portugis pimpinan Francisco de Sa pada tanggal 21 Agustus 1522. Kedatangan Jan Pieterszoon Coen yang menyerang dan manaklukan kota ini pada tanggal 30 Mei 1619, ikut pula membawa pengaruh dengan mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Lebih lanjut baca Uka Tjandrasasmita, “Sejarah Jakarta ditinjau dari Perspektif Arkeologi”, Arkeologi Islam Nusantara (Jakarta: KPG, 2011) h. 150-153.  

[30] Uka Tjandrasasmirta, “Masyarakat Jakarta sebelum Batavia”, Arkeologi Islam Nusantara, (Jakarta: KPG, 2009) .h. 134 dan 139.

[31] Golongan Sayid di Hadramaut adalalah wakil dari golongan agamawan dan para ahli hukum. Sebagian dari mereka dianggap sufi  keramat atau juga dianggap wali (saint). Beberapa dari para mereka dianggap mempunyai kekuatan batin yang tinggi sehingga membuatnya memiliki keutamaan mata hati yang awas (al-Kasyf). Satu di antara mereka yang dikenal al-Kasyf, adalah Sayid Muhsin bin Salim bin Syaikh Abu Bakar dari Inat (Shahibul Inat) yang doanya langsung diijabah oleh Tuhan. Golongan tidak berindustri dan tidak pula berdagang, namun mereka mempunyai reputasi yang diagungkan di tengah masyarakat Hadramaut sampai sekarang. Lebih lanjut baca L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara (Jakarta: INIS, 1989) h. 61-62.

[32]Ayah ar-Raniri seorang imigran asal Hadramaut di Ranir, India, sedangkan ibunya adalah seorang Melayu. Azyumardi Azra,  Islam Nusantara (Bandung, Mizan, 2002) h. 135.

[33] Istilah Arab hadrami merujuk pada komunitas Arab yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Van Den Berg mengungkapkan, yang dikatakan Hadramaut, adalah daerah yang terbentang dari Aden sampai tanjung Ras al-Hadd. Sedangkan orang Arab Modern biasanya menyebut Hadramaut terletak di wilayah kecil Arab bagian selatan. Ibid, h. 7.

[34] Orang arab saat itu digolongkan oleh belanda dalam kelompok Vreemde Oosterlingen

[35] Pedagang Benggala menjajakan barang dagangan berupa beras, gandum, minyak , mentega, gula, lak, lambaya (semacam kain), pakaian sutra, sapu tangan (orromal), kain kasar dan halus dan budak. Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan…, h.147.

[36] L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan koloni Arab …, h. 80.

[37] Ibid, h. 71-73.

[38] C. Snouck Hurgronje, Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje vol. IX( Jakarta: INIS, 1993) h. 100.

[39] Ibid, h. 81-81.

[40] Sesekali juga mengurusi masalah pribumi dan Islam. Azyumardi Azra,  Islam Nusantara … h. 142.

[41] C.Snouck Hurgronje, yang berada di Indonesia mulai tahun 1889 hingga 1906, bekerja sebagai staf ahli pemerintah Belanda bidang agama dan politik Islam. Dalam menjalankan tugasnya. Hurgronje dibantu oleh instansi terkait yang menyokong ide-idenya yang dikenal dengan Het Kantoor voor Islamistische en Arabische Zaken, yang merupakan sayap dari advisieur (Badan Penasehat). Salah satu tugas yang dijalankan oleh adviseur, sesuai dengan instruksi pemerintah tahun 1931, adalah memprioritaskan perhatian naik haji ke Mekkah, lihat Noor Huda, Islam Nusantara (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) h. 101-102.

[42] Azra menyebutnya bukan dengan Syekh, melainkan dengan sebutan Sayid. Merujuk pada gelar (laqab)-nya, ia bukanlah berasal dari Hadramaut, melainkan dari Mesir. Syekh Abdurrahman pertama kali datang ke Palembang dan Padang untuk berdagang. Selanjtnya, ia hijrah ke Batavia tepatnya di daerah Petamburan. Di tempat ini, ia membeli sebidang tanah, yang lantas dibangun masjid diatasnya. Di Petamburan, Syekh Abdurrahman mengundurkan diri dari dunia niaga, dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk memintal pengajaran Islam kepada penduduk setempat. Ia merupakan sosok yang ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak) dan astrologi. Kelebihanya itu pernah dipresentasikan ketika mengoreksi arah kiblat beberapa masjid di Palembang. Keberadaannya begitu dihormati oleh pemerintah Batavia. Ia menghembuskan nafas dan di makamkan di halaman masjid yang ia bangun. Ibid. h.142-143

[43] Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek…, h. 135.

[44] Azyumardi Azra,  Islam Nusantara … h. 143-144

[45] Di masa kolonial, pada umumnya ulama Betawi mengadakan pengajaran agama Islam dan membina mayarakat di masjid-masjid. Tradisi ini terus menjalar ketika orang-orang Arab hadrami membentangkan geliat dakwahnya. Kendati belakangan tempat pengajarannya beralih nama menjadi majelis taklim, namun pada hakikatnya tempatnya tetap saja di masjid atau rumah sang guru. Majelis taklim merupakan wajah baru dari bentuk institusi pendidikan di masjid dan rumah guru. M. Dien Madjid, Masjid di Mata Kolonial Belanda, Laporan Penelitian (Jakarta: Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2001)

[46] Snouck Hurgronje, Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje vol. VIII( Jakarta: INIS, 1993) h. 36

[47] Azyumardi Azra mendukung pendapat ini, ia mengatakan Sayid Usman mencatat beberapa polemik di dalam tulisannya yang dialirkan untuk menjawab atau membantah masalah-masalah tertentu yang tidak ia setujui. Ibid h. 149

[48] M. Dien Madjid, Berhaji di Masa Kolonial (Jakarta: CV Sejahtera, 2008) h. 16-17.

[49] Surat dari Direktur Onderwijs Eeredients Nijverheid (Pendidikan Agama dan Kerajinan)Kepada Gubernur Jenderal 19 Juli 1890 no. 6955. Arsip Nasional RI, Besluit Gubernur Jenderal I Juni 1891 no.6. lihat juga Ibid h. 78.

[50] ANRI: Agenda 18139/1895, saran C. Snouck Hurgronje ditujukan kepada Gubernur Jendral di Bogor, tertanggal Betawi 20 Oktober 1893; lihat pula dalam Usman bin Abdullah bin Yahya bin Aqil al-Alawy, Khulasah al-Qaul al-Sadid fil Man  Ahadits Ta’addud al-Jum’at fi al-Masjid al-Jadid, Betawi, 1316 H, h. 1-22.Untuk kisah kontroversi salat jumaat di Masjid Lawang Kidul itu selengkapnya lihat juga M. Dien Madjid, “Menelusuri Sejarah Melalui Arsip: Kontroversi Shalat Jumat di Masjid Lawang Kidul Palembang”,  Islam dam Konstruksi Ilmu Peradaban dan Humaniora (Tangerang: UIN Jakarta Press, 2003) h. 105-128.

[51] . Snouck Hurgronje, Kumpulan Karangan …  vol. IX( Jakarta: INIS, 1993) h. 36.

[52] “Sayid Usman: Ulama Penentu Arah Kiblat” Alkisah No.5/15-28 September 2003. h. 24.

[53] C. Snouck Hurgronje, Kumpulan Karangan… Vol VII h. 70.

[54] “ Mufti Batavia Abad ke-19”, Alkisah No. 24/20 November- 3 Desember 2006, h. 115-117.

[55] M. Dien Madjid dkk, Peran Ulama Betawi: Studi Transmisi Keilmuan Islam Abad XX di Jakarta, Laporan Penelitian (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2011) h. 51.

[56] Ibid, h. 94. Lihat juga Mauladdawilah, Tiga serangkai Ulama Tanah Betawi ( Malang: Pustaka Basma, 2009) h. 60

[57] Lebih lanjut baca C. Snouck Hurgronje, Kumpulan Karanga …Vol. VII h. 63-69.

[58] Ibid, h. 70-76

[59] Ibid, h. 73

[60] Azyumardi Azra, “Hadrami Scholars in The Malay-Indonesian Diaspora: A Preliminary Study of  Sayyid Uthman, Studia Islamika Vol. 2, No. 2, 1992. H. 28.

[61] Azyumardi Azra, Islam Nusantara …, h. 149.

[62] Ibid, h. 152.

[63] Ibid, h. 164.

[64] C. Snouck Hurgronje, Kumpulan Karangan… Vol. VII … h. 69

[65] Ibid. h. 70.

Kontribusi Komunitas Arab di Jakarta Abad 19 dan Awal Abad 20 Masehi

Posted by admin - 9 Juli 2012 - Berita, Da'i dan Dakwah, seminar
0
Prof. DR. Budi Sulistiono, M.Hum memberikan paparan tentang Jaringan Ulama Betawi

MAKALAH SEMINAR ALAWIYYIN

KONTRIBUSI KOMUNITAS ARAB DI JAKARTA ABAD 19 DAN AWAL ABAD 20 MASEHI

(Disampaikan dalam Seminar Rabithah Alawiyah, di Jakarta 09 Juni 2012)

Oleh Prof. DR. Budi Sulistiono, M.Hum

 

Di Indonesia orang Arab dikaitkan dengan penyebaran Islam, seperti yang dikatakan Hamka (1961) bahwa orang Arab adalah pelopor Islam, mereka telah datang ke negeri-negeri Melayu pada abad ke VII M, atau tahun pertama Islam. Dengan demikian, sejarah masuknya Islam ke Indonesia terutama sejarah perkembangannya tidak terlepas dari sejarah masuknya perantau Arab di Indonesia. Data ini sekaligus memperkuat dugaan bahwa Islam masuk ke Indonesia ini bukanlah diorganisir oleh suatu Negara atau badan yang resmi dari suatu Negara. Masuknya Islam secara sukarela dibawa oleh padagang-pedagang yang mula-mula datang membeli rempah-rempah yang diperlukan dan akan dijual.[1] Penghidupan mereka sebagai pedagang yang membawa barang-barang dari Arab dan pulangnya membawa rempah-rempah.

Orang-orang Arab yang bermukim di Nusantara sebagian besar berasal dari Hadramaut, dan sebagian lagi ada yang berasal dari Maskat, tepian Teluk Persia, Yaman, Hijaz, Mesir atau dari pantai Timur Afrika.[2] Mereka menjadi pedagang perantara, pedagang kecil, pemilik toko, menembus pasar dan menyediaka barang dan jasa yang tidak dilakukan pendatang dari Eropah, juga melakukan kegiatan meminjamkan uang.[3]

Para perantau Arab mulai datang secara massal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad ke-18, tetapi mereka mulai banyak menetap di pulau Jawa setelah tahun 1820.[4] Menurut statistik tahun 1858 tercatat jumlah penduduk keturunan Arab yang menetap di Indonesia sebanyak 1.662 atau sekitar 30% dari jumlah masyarakat Arab yang merantau pada tahun itu.

Para perantau Arab sudah bermukim di kota-kota Maritim Indonesia sejak tahun-tahun permulaan abad 19. Umumnya mereka adalah para pedagang. Biasanya para pedagang Muslim menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menjual barang dagangannya sampai habis agar bisa membeli barang dagangan setempat dan membawanya kembali ke negerinya masing-masing. Selain itu juga pelayaran yang mereka lakukan untuk kembali ke negeri asal tergantung pada musim. Jarak antara Indonesia dan Jazirah Arab memakan waktu yang lama dan amat ditentukan oleh cuaca. Mereka merantau ke Indonesia tanpa membawa istri-istrinya dan seluruhnya terdiri dari laki-laki, tua-muda dan anak-anak. Biasanya mereka menetap berkelompok di perkampungan di dekat pelabuhan kota. Kemudian hubungan antar kelompok pedagang muslim dengan masyarakat pribumi terwujudlah secara bertahap. Kondisi yang sedemikian menyebabkan pedagang Arab tersebut mengadakan jalinan kekeluargaan melalui pernikahan dengan penduduk pribumi, beranak-pinak dan tidak kembali lagi ke negeri asal mereka.[5] Bilamana ada yang  kembali ke negerinya, mereka hanya sekedar menjenguk keluarga mereka. Data ini menunjukkan hubungan sosial antara orang-orang Arab dengan penduduk setempat nampak sekali dalam hubungan perkawinan penduduk pribumi terutama golongan bangsawan dan pedagang besar akan sangat bangga bila dapat mengambil menantu atau ipar dari kalangan Arab terutama dari kalangan Sayid.[6] Dari hubungan perkawinan ini banyak di antara orang-orang Arab yang kemudian diangkat menjadi penguasa daerah seperti Pontianak, Demak, Cirebon dan Mataram. Realitas ini membuktikan bahwa mereka tidak hanya berperan sebagai pedagang, tapi mayoritasnya justru melakukan aktifitas sebagai ulama dan juru dakwah.

Aktifitas sebagai ulama dan juru dakwah dapat diambil contoh dari strategi yang pernah dilakukan oleh Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus  terlebih dahulu membangun masjid, dan kini lebih dikenal dengan  nama masjid Luar Batang. Masjid Luar Batang yang awalnya berupa bangunan mushalla, didirikan sekitar abad ke XVIII di Kota Tua Jakarta, tepatnya daerah Pasar Ikan hingga sekarang di Kelurahan Pejaringan, Jakarta-Utara. Persisnya di Jl. Luar Batang V No. 1, Rt. 004/Rw. 003, Jakarta 14440. Langkah mendirikan bangunan Masjid memang memiliki peran yang strategis, antara lain  tempat kaum Muslimin:  beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,  beri’tikaf, membersihkan diri, menggembleng batin untuk membina kesadaran dan mendapatkan pengalaman keagamaan sehingga selalu terpelihara keseimbangan jiwa dan raga serta keutuhan kepribadian,  tempat bermusyawarah kaum Muslimin guna memecahkan persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat,  tempat berkonsultasi, mengajukan kesulitan-kesulitan, meminta bantuan dan pertolongan,  tempat membina keutuhan ikatan jama’ah dan kegotong royongan di dalam mewujudkan kesejahteraan bersama, tempat pembinaan dan pengembangan kader-kader pimpinan umat,  tempat pengaturan dan kegiatan social. Jalur akulturasi lainnya ialah melaui ritual-ritual keagamaan yang diadakan di lingkungan masyarakat Betawi dengan mempertemukan masyarakat pribumi sekitar dengan keturunan Arab. Seperti dalam pelaksanaan shalat Jum’at dimana pada momen ini terjadi pembauran yang cukup intensif oleh kedua masyarakat tersebut.

Jasa ulama Arab Hadramaut telah memainkan peranan penting dalam proses dan perkembangan Islam di kalangan masyarakat Betawi, ditandai tersebarnya majlis-majlis taklim mereka yang telah diikuti oleh masyarakat pribumi (Betawi). Jasa yang lain dengan adanya orang Arab Hadramaut yang menetap di Batavia telah berasimilasi dan berakulturasi dengan budaya masyarakat setempat sehingga melahirkan kebudayaan Betawi  yang bernafaskan Islami seperti  kesenian musik gambus, dimana dalam setiap acara perkawinan ditampilkan untuk meriahkan acara tersebut. Di saat sekarang, gambus melahirkan sebuah seni musik yang disebut Marawis karena komponen alat musiknya terdiri dari gendang-gendang kecil (Marwas) yang dipakai dalam seni musik gambus. Seni rebana, dan tari Zapin tidak ketinggalan hadir di tengah masyarakat Betawi.

Budaya Hadramaut lainnya yang biasa digunakan khususnya pada acara ritual keagamaan yaitu pemakaian gamis (qamis) berupa jubah panjang berwarna putih dengan (iqal) igal yang juga berwarna putih diikatkan di kepala. Penggunaan bahasa pasaran (suqiyah) Arab dan terlepas dari gramatika bahasa Arab. Terkadang bahasa Indonesia dalam percakapannya disisipi bahasa Arab, seperti “Ente (kamu) mau dibikinin gahwah (qohwah) kopi”, kemudian kata “harim” untuk ditujukan kepada wanita baik yang sudah menjadi istri atau belum, kata “syahi” yang berarti teh menjadi bahasa percakapan keseharian mereka dan dipadu dengan bahasa Indonesia.

Realitas tersebut sebagai wujud interaksi yang terjadi antara komunitas Arab dan masyarakat Betawi sangat cair dan harmonis. Suasana harmonis juga dapat ditunjukkan, antara lain dalam tradisi haul. Haul dalam pembahasan ini diartikan dengan makna setahun. Jadi peringatan haul maksudnya ialah suatu peringatan yang diadakan setahun sekali bertepatan dengan wafatnya seseorang yang ditokohkan oleh masyarakat, baik tokoh perjuangan atau tokoh agama/ulama kenamaan. Peringatan haul ini diadakan karena adanya tujuan yang penting yaitu mengenang jasa dan hasil perjuangan para tokoh terhadap tanah air, bangsa serta umat dan kemajuan agama Allah, seperti peringatan haul wali songo, para habaib dan ulama besar lainnya, untuk dijadikan suri tauladan oleh generasi penerus. Hingga sekarang, ulama-ulama Arab Hadramaut ini sangat dihormati. Ada kemungkinan para ulama tersebut diterima dengan baik, mempunyai beberapa penyebab mengapa mereka dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Nusantara, khususnya Jakarta. Penyebabnya sebagai berikut: Pertama, karena keilmuan dan pengetahuan mereka tentang Islam yang haqiqi, dan peranan ulama di sini sangat penting dalam penyebaran dan perkembangan Islam di Jakarta. Kedua, karena masyarakat Betawi menganggap Islam yang murni lantaran mereka berasal dari negeri kelahiran Islam yaitu Timur Tengah (Arab) dan masyarakat banyak mengatakan mereka lebih menguasai ilmu-ilmu agama dan lebih mengenal Islam. Walaupun lama-kelamaan masyarakat sendiri mulai menyadari bahwa tidak semua orang Arab Hadramaut menguasai ilmu agama dan memahami Islam. Bahkan mereka menyadari tidak hanya orang Arab Hadramaut yang hanya mampu menguasai ilmu-ilmu agama dan memahami Islam. Walaupun demikian, orang Arab Hadramaut  (yang biasa dikenal dengan sebutan Sayyid atau Habaib) tetap menempati status sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Jakarta yang telah menguasai ilmu-ilmu agama. Ketiga, ada anggapan bahwa  para habaib mempunyai nasab langsung kepada Nabi Muhammad SAW dari cucunya Husein. Penghormatan masyarakat Betawi terhadap tokoh tidak sebatas acara haul, melainkan di rumah-rumah mereka, banyak foto  yang terpasang foto para habaib dan para ulamanya. Pola interaksi inilah yang menjadi warisan berharga untuk para penerusnya

Komunitas Arab di Batavia yang cukup lama terdapat di tiga tempat, dari arah Utara ke Selatan, yaitu Pekojan, Krukut, dan Tanah Abang. Dalam bentangan sejarahnya,  dinamika komunitas Arab bermukim di sejumlah tempat, misalnya Kwitang, Condet dan sebagainya. Ulama Hadramaut yang mempunyai pengaruh di Batavia, antara lain Habib Husein bin Abi Bakr bin Abdullah al-Aydrus (w. 1756),  di Luar Batang Jakarta Utara. Habib Abdurrahman bin Abu Bakar al-Habsyi berasal dari Hadramaut dan menetap di Batavia selama dua puluh empat tahun (1828-1853). Habib Muhammad Jabarti (w. 1855), Salim bin Abdullah bin Somair (w. 1854) yang telah menghasilkan sebuah karya popular di kalangan Muslim Betawi dan daerah lainnya dengan tema Safinah an-Najah, dan seorang ulama yang cukup disegani di kalangan ulama Nusantara serta Pemerintah Hindia Belanda ialah Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawy. Melalui keteladanan mereka, kian memberikan dorongan dan inspirasi bagi para generasi selanjutnya hingga menjadi Ulama. Di lingkungan masyarakat Betawi, lahir ulama handal seperti KH Abdullah Syafi`i, KH Tohir Rohili, KH Fathullah Harun, KH Hasbialloh, KH Ahmad Zayadi Muhajir, KH Achmad Mursyidi, Syekh KH Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary, mu`allim KH M Syafi`i Hadzami, dan mu`allim Rasyid berguru kepada habaib terkemuka di Jakarta, yaitu kepada Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi (dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang) dan kepada Habib Ali Bin Husien Al-Attas (dikenal dengan nama Habib Ali Bungur).

Dakwah Islam Berkelanjutan

Sejak kedatangan orang Arab ke Indonesia, mereka dapat diterima dengan baik oleh penduduk setempat dan menjadi mitra kerja dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial dan politik. Hubungan tersebut pada akhirnya menciptakan proses dakwah islamiyah berkelanjutan menuju integrasi. Persamaan agama yaitu agama Islam dapat mempercepat proses integrasi. Suasana integrasi teruji sangat solid dalam menghadapi sejumlah tantangan dari masa ke masa.

Bentangan abad ke-19 Masehi  ditandai banyak peristiwa, antara lain : 1808-1811  Marsekal Herman Willem Daendels sebagai  Gubernur Jenderal di Batavia, pada masanya sejarah mencatat bahwa Daendels memerintah dengan menjalankan prinsip-prinsip pembaharuan dengan metode-metode kediktatoran ke Jawa. 26 Agustus Perang Jawa Britania-Belanda dimulai. Britania di bawah Lord Minto merebut Batavia. Belanda, yang menderita kekalahan yang hebat, mengundurkan diri ke Semarang. Jansen mundur ke daerah Semarang.  18 September Pemerintahan Belanda dibawah Jansen menyerah kepada Britania di Salatiga.  Thomas Stamford Raffles, sebagai wakil kerajaan Britania, diangkat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Jawa (1811), berusaha menunjukkan perhatiannya terhadap kesejahteraan penduduk asli sebagai tanggung jawab pemerintah. Selain itu tindakan kebijaksanaan Raffles yang terkenal di Indonesia adalah memasukkan sistem landrente (pajak tanah) yang selanjutnya meletakkan dasar bagi perkembangan perekonomian, Raffles juga mengenalkan sistem uang dan penekanan desa sebagai pusat administrasi. Memasuki tahun 1821-1840  ditandai Perang Padri (1821-1838), Perang Diponegoro (1825-1830), Tanam paksa (1828-1825). Memasuki tahun  1841-1860, bergolak Perang Bali, hingga munculnya tokoh Max Havelaar (1860).   Perang Aceh (1873-1910), Perang Batak, UU Agraria muncul dalam bentangan tahun 1861-1880. Kerancuan suasana sebagai akibat dari parilaku dan tindakan Belanda penjajah di Indonesia tersebut semakin runyam hingga tahun-tahun berikutnya.

Memang, pada tahun 1901 Belanda penjajah menerapkan apa yang mereka sebut Kebijakan Etis, dimana pemerintah kolonial memiliki tugas untuk memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia di bidang kesehatan dan pendidikan. Kebijakan baru lainnya termasuk program irigasi, transmigrasi, komunikasi, mitigasi banjir, industrialisasi, dan perlindungan industri asli. Meskipun lebih progresif dari kebijakan sebelumnya, kebijakan kemanusiaan akhirnya tidak memadai. Sementara elit kecil dari Indonesia sekunder dan tersier berpendidikan dikembangkan, mayoritas rakyat Indonesia masih buta huruf. Sekolah Dasar didirikan dan resmi terbuka untuk semua, tetapi pada 1930, hanya 8% anak usia sekolah mendapat pendidikan.

Namun, apa mau dikata tentang Kebijakan Etis tersebut, menurut Mr Hamid Algadri dalam bukunya Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda, banyak kalangan Arab dan Muslim enggan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Belanda. Dalam situasi tekanan kolonial[7] itulah, seorang tokoh alim ulama, Habib Abubakar bin Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, berinisiatif mendirikan sebuah perguruan Islam, Jamiat Kheir, tahun 1901.

Bukan hanya mengajarkan agama, lembaga ini juga memberikan pendidikan umum. Bersama Abubakar bin Ali Shahab, bergabung sejumlah pemuda Alawiyyin yang mempunyai kesamaan tekad memajukan Islam di Indonesia dan sekaligus melawan propaganda jahat Belanda yang anti-Islam. Mereka antara lain, Idrus bin Ahmad Shahab, Ali bin Ahmad Shahab, Abubakar bin Abdullah Alatas, Muhammad bin Abdurrahman Shahab, Abubakar bin Muhammad alHabsyi, dan Syechan bin Ahmad Shahab. Di tangan ulama-ulama ini, Jamiat Kheir tumbuh pesat. Mereka lantas memindahkan pusat organisasi ini dari Pekojan ke Jalan Karet (kini jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang).

Organisasi Jami’at Khair, dalam buku Hussein Badjerei yang berjudul Al-Irsyad Mengisi Sejarah dan Bangsa tercatat bahwa pengurus pertama dari Jami’at Khair ini terdiri dari Said bin Ahmad Basandid sebagai Ketua; Muhammad bin Abdullah bin Shihab sebagai Wakil Ketua; Muhammad Al-Fakhir bin Abdurrahman al-Mansyur sebagai Sekretaris; dan Idrus bin Ahmad bin Shihab sebagai Bendahara. Setahun kemudian pengurus Jami’at Khair dirubah dan tersusun menjadi: Idrus bin Abdullah al-Mansyur sebagai Ketua; Salim bin  Awad Balwell sebagai Wakil Ketua; Muhammad alFakhir bin Abdurrahman al-Mansyur sebagai Sekretaris; dan Idrus bin Ahmad bin Shihab sebagai Bendahara.

Pentingnya keberadaan Jami’at Khair terletak pada kenyataan bahwa ialah yang memulai organisasi dengan bentuk modern dalam masyarakat Islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat berkala) dan mendirikan suatu sekolah dengan cara yang modern. Organisasi ini mendapat pengakuan secara hukum dari pemerintah Belanda pada 17 Juli 1905.

Kegiatan organisasi ini meluas dengan mendirikaan Panti Asuhan Piatu Daarul Aitam. Di Tanah Abang, bersama sejumlah Alawiyyin, Habib Abubakar juga mendirikan sekolah untuk putra (aulad) di Jalan Karet dan putri (banat) di Jalan Kebon Melati (kini Jl Kebon Kacang Raya), serta cabang Jamiat Kheir di Tanah Tinggi, Senen. Organisasi ini juga dikenal banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam. Sebut misalnya KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam), H Samanhudi (pendiri dan tokoh Syarekat Dagang Islam/SDI), dan H Agus Salim. Beberapa tokoh perintis kemerdekaan juga merupakan anggota, atau setidaknya mempunyai hubungan dekat dengan Jamiat Kheir. Data tersebut membuktikan bahwa organisasi ini terbuka untuk setiap Muslim tanpa perbedaan asal usul, tetapi mayoritas anggotanya adalah orang-orang Arab. Organisasi ini bergerak dalam bidang keagamaan, sosial dan pendidikan.

Jam’iyah Al-Islah wa Al-Irsyad Al-Arabiyah

 Di tahun 1913, bersama beberapa tokoh Arab non-sayyid, Ahmad Surkati mendirikan organisasi baru, Jam’iyah Al-Islah wa Al-Irsyad Al-Arabiyah (Asosiasi Arab untuk perbaikan dan pembimbingan) yang lebih dikenal dengan nama Al-Irsyad. Organisasi ini dengan cepat berkembang dan mendapat pengakuan pemerintah Belanda pada 6 September 1914.

Pada awalnya Al-Irsyad memusatkan perhatian pada bidang pendidikan terutama pada masyarakat Arab. Disamping itu juga memberikan perhatian pada permasalahan yang timbul dikalangan masyarakat keturunan Arab walaupun orang-orang Indonesia Islam bukan Arab ada yang menjadi anggotanya. Lambat laun dengan bekerja sama dengan organisasi Islam lainnya seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam.  Organisasi Al-Irsyad meluaskan pusat perhatiannya kepada persoalan-persoalan yang lebih luas yang mencakup persoalan Islam umumnya di Indonesia.[8]

Sejak didirikan oleh Ahmad Surkati, Al-Irsyad telah mengalami banyak perkembangan dengan berbagai masalah yang dihadapinya baik secara intern maupun ekstern. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan Al-Irsyad yang hingga saat ini telah memiliki 49 cabang di 20 provinsi yang tersebar di seluruh pelosok kota di Indonesia seperti Jakarta, Cirebon, Semarang, Solo, Banyuwangi, Tegal, Pekalongan, Papua, dan lain-lain.

Persatuan Arab Indonesia (PAI)

Golongan Alawi mendirikan ar-Rabitah al Alawiyah pada tahun 1928. Organisasi ini tujuan utamanya mempererat persaudaraan sesama Alawi. Berbagai usaha mendamaikan golongan ini selalu gagal. Perseteruan kedua belah pihak berakhir setelah terbentuknya Persatuan Arab Indonesia (PAI) tahun 1934 yang diketuai oleh Abdurrahman Baswedan, beliau lebih akrab dipanggail  AR Baswedan.

Agenda utama PAI untuk memperbaiki keadaan  dan kedudukan keturunan Arab dan masyarakat Arab pada umumnya. Selain itu mempererat perhubungan antara sesama keturunan Arab dan etnis lain sesama penduduk Indonesia.

Pada tahun 1940, dalam konggresnya  akhirnya PAI mendjadi sebuah organisasi yang bersifat politik, kata “Persatuan” menjadi “partai”. Tujuannya jelas menyatakan bahwa PAI mendidik keturunan Arab supaya menjadi putera/I Indonesia yang berbakti kepada Tanah Airnya dan masyarakatnya. Bekerja membantu segala daya dan upaya “politik”ekonomi dan social menuju keselamatan rakyat dan tanah air Indonesia.

Kehadiran sejumlah ormas Islam (Jamiat Khier, alIrsyad, PAI) yang dibintangi oleh komunitas Arab tersebut di atas membuktikan bahwa  di samping aktifitas perdagangan dan dakwah Islam, tidak sedikit kaum imigran Hadhrami ini berhasil memasuki kancah politik dan menduduki posisi penting. Kenyataan ini mempercepat terjadinya assimilasi dan percepatan proses dakwah islamiyah di Indonesia.

Percepatan dakwah islamiyah ditandai dengan terwujudnya jaringan intelektual Ulama yang berpusat di Makkah dan Madinah (alHaramain). Jaringan tersebut terbentuk berkat sejumlah ulama yang datang dari berbagai belahan dunia Islam, termasuk di dalamnya para ulama dari dunia Melayu-Nusantara, tidak terkecuali Jakarta yang membawa semacam “tradisi kecil Islam” dari wilayah asalnya, dan kemudian berinteraksi dengan sejumlah tradisi kecil Islam lain, sehingga pada akhirnya membentuk sebuah “tradisi besar Islam” yang sangat kosmopolit, dan kemudian tersebar kembali ke berbagai wilayah melalui jaringan keulamaan yang terbangun.

Daftar Pustaka

 Affandi Bisri, 1999, Syaikh Ahmad Syurkati (1874-1943) Pembaharuan & Pemurnian Islam di Indonesia, Jakarta :alKautsar.

 Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: PT. Pustaka LP3ES, 1995), hlm.

 Hamka, 1961, Sejarah Umat Islam, Bukit Tinggi-Jakarta: NV Nusantara.

 Noerman, Moehammad, 1971, Sejarah Kebudayaan, Bukittinggi : Pustaka Saadiyah

 Pijper, G.F., 1984, Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia : 1900-1950, Penterjemah : Tudjimah & Jessy Agustin, Jakarta : UI Press.

 Santoso Budi, 2000, Peranan  Keturunan Arab Pergerakan Nasional Indonesia, Jakarta : Progres

Wallah alMuwafiq

Tebet, 03 Juni 2012


[1] Noerman, Moehammad, 1971, Sejarah Kebudayaan, Bukittinggi : Pustaka Saadiyah

[2] Hussen Abdullah Badjerei. Al-Irsyad,( Jakarta : PP Al-Irsyad Al-Islamiyah, 1987)

[3] Affandi Bisri, 1999, Syaikh Ahmad Syurkati (1874-1943) Pembaharuan & Pemurnian Islam di Indonesia, Jakarta :alKautsar

[4] L.W.C. van den Berg. Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara. (Jakarta : INIS, 1986)

[5] Hussein Abdullah Badjerei. Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, (Jakarta : Presto Prima Utama, 1996)

[6] L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan Koloni Arab Di Nusantara,  (Jakarta : INIS, 1987)

[7] Pada masa itu di Indonesia, paham Pan-Islamisme pun masuk, dan kaum Alawiyyin dituduh sebagai pembawanya. Tidak mengherankan bila Belanda begitu benci kepada Islam dan orang-orang keturunan Arab. Di bidang pendidikan, melalui sekolah-sekolah, citra buruk Arab digambarkan secara kasar melalui buku-buku pelajaran sejarah.

[8] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: PT. Pustaka LP3ES, 1995)

Meraih Ridha Allah Dengan Tiga Perkara

Posted by admin - 27 Juni 2012 - Da'i dan Dakwah
0
ALLAH heart

“Bukti paling nyata atas kesempurnaan akal seseorang adalah pujiannya kepada teman sejawat; bukti paling nyata atas kerendahan hati seseorang, kerelaannya untuk diakhirkan di tempat yang semestinya ia berhak didahulukan; dan bukti paling nyata keikhlasan seorang hamba ialah tidak menghiraukan dalam membuat marah makhluk dalam membela kebenaran.” (Imam Abdullah Al-Haddad)

KESEMPURNAAN AKAL Saat seseorang mendapati teman yang selalu memberi kritik membangun, dan ia senang dengan hal itu, petanda kesempurnaan akal. Sebaliknya, pada saat ia dikritik ia tidak mau menerima, itu artinya ia menganggap pendapatnya yang terbaik, ingin menang sendiri, egois, selalu mencari kesalahan orang lain dan selalu hendak menjadi nomor satu, meskipun ia tak layak. Seharusnya, pendapat dari siapapun tidak boleh dipandang sebelah mata, harusnya dipikir masak-masak, ambil yang baik dan tinggalkan selainnya. Orang lainlah yang lebih bisa meneliti diri kita ketimbang diri kita sendiri. Ibarat seorang yang baru terjaga dari tidurnya, lantas diingatkan, “Matamu ada kotorannya.” Atau orang yang berkata, “Pakainmu kurang rapi.” Hal demikian ini jangan dipandang sebagai upaya menjatuhkan harga diri. Mestinya ia berkata, “Terima kasih, kamu temanku yang paling perhatian kepadaku.” Kesempurnaan seseorang akan terbukti jika ia mau mengakui keunggulan teman sebayanya. Ingat, kalau ia merasa unggul dari orang lain, dia adalah orang yang bodoh. Selain itu, ini juga suatu isyarat hendaknya kita dalam segala hal mendasarkannya dengan prasangka baik. Sikap semacam penting digaris bawahi agar tidak melihat semua orang sebagai lawan, semua orang jelek. Husnuddzan kepada hamba termasuk perangai terbaik.

Nabi SAW bersabda: خَصْلَتاَنِ لَيْسَ بَيْنَهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا: حُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ وَحُسْنُ الظَّنِّ بِعِباَدِ اللهِ “Ada dua perangai dimana tidak ada yang lebih baik dari selainnya: baik sangka kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya.” Bagaimana bentuk berprsangka baik kepada Allah? Ambil misal, hari ini pasaran kita lagi seret, toko mengalami kemerosotan omzet. Kita berucap, “Allah menghendaki aku untuk lebih banyak memohon kepada-Nya sekarang. Hari ini tak ada pembeli, mungkin besok ada. Yang jelas Allah ingin menguji kesabaranku dan ridhaku kepada-Nya.” Akan tetapi, ada sebagian orang yang mendapati rezeqinya seret berkata, “Kenapa si Allah tidak membuat tokoku laris padahal aku tadi sudah salat, apakah Allah sudah tidak suka kepadaku, benci kepadaku?” Bandingkan dengan misal berikutnya, ketika kita sedang sakit, pergi ke dokter dengan berprasangka baik sekalipun si dokter mengeluarkan jarum suntik. Tapi berhubung kita sudah yakin dengannya, kita mantap saja bahwa dokter tidak mungkin mencelakakan, ia ingin mengobati. Kenapa hal demikian tak terwujud kepada Allah. Inilah yang dinamakan Husnuddzan kepada Allah. Yang kedua husnuddzan kepada para hamba Allah.

Allah SWT. berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12) Berangkat dari ayat ini, kita dilarang bersikap apriori kepada orang lain, baik saat ia mengkritik atau menasihati. Tentunya, tidak untuk semua orang bisa kita sangka baik. Ada saatnya kita harus waspada khususnya dalam hal ini kepada orang-orang Nashrani, Yahudi, kaum Kafir, betapapun baiknya. Prasangka itu ada yang bagus tapi kebanyakan jelek.

KERENDAHAN HATI Bukti nyata kerendahan hati misalnya, ada seorang pejabat. Seharusnya ia ditempatkan di tempat yang terhormat namun ternyata ditempatkan di tempat yang bukan selayaknya untuk orang sekelas pejabat, tapi ia tidak marah, berarti ia orang yang rendah hati. Ia rela menerima perlakuan demikian, maka itu bukti jelas dari ke-tawadhuan-nya. Tidak semua orang bisa seperti ini. Orang semacam ini disinggung oleh Nabi, “Tidaklah seorang hamba ber-tawadhu` karena Allah kecuali diangkat derajatnya oleh-Nya.” Contoh sikap rendah hati Nabi SAW bahwa diriwayatkan beliau makan bersama para sahabatnya. Sudah pasti tempat Nabi SAW paling istimewa. Di sela-sela pejamuan itu, ada seorang peminta, orang yang sudah tua sekali saking tuanya tidak bisa mengurus badan hingga mengeluarkan aroma tak sedap. Ia datang minta makan. Pengemis tersebut diizinkan masuk dengan disambut oleh Rasululah dengan sambutan luar biasa seakan-akan beliau hendak memangkunya. Saat itu, ada seorang keturunan Quraish merasa jijik melihat pnegemis tua yang kelaparan tadi. Ia dihukum dengan dipanjangkan usianya seperti umur orang tua itu yang orang-orang merasa jijik darinya. Diriwayatkan, bahwa Rasulullah berjalan di sebuah kampung. Di situ beliau mendapati perempuan menangis di kuburan anaknya. Kata Rasul menasihati, “Hai perempuan, jangan begitu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.” “Kamu memang tidak kena musibah, sedang aku ditinggal mati anakku yang kusayang,” timpal perempuan yang tak mengenali sosok Nabi. Ditegurlah oleh sahabat yang melihat kejadian itu, “Apa kamu tahu siapa dia? Dia Muhammad Rasulullah.” Datanglah ia ke rumah Rasululah, “Ya Rasululah, saya tidak tahu kalau Anda yang nasihati, saya minta maaf.” “Tidak masalah, tapi yang terpenting itu, kamu bersabar pada saat terjadinya musibah yang pertama.” Habib Saleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), juga patut dicatat dalam soal rendah hati. Bukan hal baru jika rumahnya sering dijujuki para tamu dari berbagai daerah. Pada jam dua, salah satu tamunya mau buang air kecil, di muka rumah Habib Saleh ada dua kamar mandi, waktu itu belum ada listrik. Ternyata di kamar mandi ada orang mengenakan kaos dan sarung sedang menimba air untuk kolam kamar mandi. Dilihat ternyata Habib Saleh dan beliau wanti-wanti kepada tamunya yang memergoki beliau untuk tidak bilang ke siapapun. “Tidur kembali ke kamarmu dan g usah ngomong-ngomong,” kata Habib Saleh. Paginya, Habib Saleh dengan pakaian rapi, menerima tamu dengan penuh keramahan hingga membuat tamu yang semalam terbengong-bengong heran melihat sikap beliau yang begitu sederhana.

KEIKHLASAN Bukti nyata keikhlasan ialah tidak mencari ‘muka’ pada makhluk, tidak mencari ridhanya makhluk ketika dia membawa kebenaran. Ikhlas, berarti tidak mengharapkan pujian, menjalankan kebenaran tanpa memperhatikan manusia itu senang atau tidak padanya. Seorang yang ikhlas tidak pernah berubah prinsip. Dalam Al-Quran diterangkan “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Ayat ini turun berkenaan seseorang yang berbuat amal saleh. Dalam hatinya ada dua harapan: amal karena Allah dan ingin dipuji oleh orang. Dengan kata lain, amalan orang ini belum berstatus ikhlas sebab masih ada embel-embelnya. Maka dari itu, bila seorang yang telah menunaikan haji merasa sewot bila tidak dipanggil, “Pak Haji, Bu Haji,” jelas belum sampai ke maqam ikhlas atau ustaz yang tidak dipanggil denga gelar ke-ustaz-annya. Karenanya, jangan kita mencari ridha makhluk, yang penting kita terus beramal sesuai ajaran agama Allah. Jalani saja aktivitas ibadah. Lihat keluarga Nabi, Sayyidina Ali dan Fatimah yang dipuji oleh Allah karena keikhlasannya membantu orang lain, tidak mengharap ucapan terima kasih atau balasan selain dari Allah: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 09) Ikhlas, tawadhu`, dan husnuddzan (mengakui keunggulan teman sebaya), merupakan tiga pionir dalam mengisi hari-hari dengan kesalehan ritual maupun sosial. Dengan ketiganya, kita cucup ridha Allah, menyingkirkan rasa sombong, riya`, bangga diri yang hinggap di hati. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 05).

Imam Ghazali Dalam Etika Kepemimpinan

Posted by admin - 14 Juni 2012 - Da'i dan Dakwah
0
leader

 

Al-Ghazali, seorang ulama Islam yang terkenal pada abad ke-11, telah berhasil mengidentifikasi sikap yang dibutuhkan oleh penguasa, menteri dan para wakilnya yang dimana mempunyai hubungan erat dengan manajemen bisnis modern yang cukup dapat diperhitungkan.

Etika dalam kepemimpinan dan manajemen adalah topik yang harus dipikirkan oleh setiap pengusaha masa kini. Bukanlah suatu masalah apakah kalian bekerja di sebuah perusahaan besar ataupun menjadi seorang kepala kantor konsultan. Etika dalam kepemimpinan tetap berlaku.

Kami menekankan pada beberapa nasehat yang dia berikan kepada para penguasa dan pemimpin pada masanya dalam beberapa hal seperti kerjasama yang baik, kepercayaan dan sikap baik yang dibutuhkan dalam sebuah tim kerja.

Sama halnya seperti Ibn Khaldun, pemikiran Al-Ghazali membawa sebuah kebijaksanaan yang sangat relevan dengan situasi dan kondisi masa kini.

Nasihat Al-Ghazali kepada Para Penguasa

Sikap Yang Baik

Menurut Al-Ghazali, hambatan dalam menciptakan suatu model sikap terletak pada pemimpin. Atau dengan kata lain, contoh sikap yang dibawa oleh seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi kinerja suatu organisasi, apakah akan menjadi baik atau buruk. Dalam tulisannya, Al-Ghazali berkata, “Bila seorang pemimpin bermoral, maka para stafnya pun akan bermoral, tetapi bila pemimpin tersebut tidak jujur, lalai, dan hanya mencari kenyamanan, maka para stafnya yang menerapkan kebijakannya lambat laun akan menjadi malas dan tidak jujur”.

Keterbukaan

Dalam hal ini, Al-Ghazali mengutip peribahasa yang terkenal: Tidak ada yang lebih merusak… lebih melukai dan lebih mengancam seorang pemimpin daripada isolasi royal dan ketidakterbukaan terhadap masyarakat. Dengan kata lain, para pemimpin yang tidak terbuka dan tidak menerima pendapat orang lain akan mengalami hambatan komunikasi dalam organisasinya. Meskipun sebuah perusahaan mengadopsi sistem hierarki struktural, jalur komunikasi kepemimpinan harus dapat diketahui dan diuji secara berkala untuk memastikan bahwa sistem kepemimpinan yang digunakan tersebut memberikan pengaruh yang baik pada perusahaan secara keseluruhan dan tidak ada hambatan dalam menjalaninya.

Sebagai tambahan, untuk memahami pentingnya kekuatan dan kelemahan dari suatu organisasi, pemimpin yang baik juga harus dapat menyadari pentingnya untuk selalu mengikuti perkembangan informasi yang dapat mempengaruhi kepemimpinan dan pengelolaan di dalam pemerintahannya.

Kepercayaan dan  Penyangkalan Diri

Keserakahan dalam pemerintahan, penyalahgunaan dana, dan hal lainnya, sayangnya, telah menjadi sangat dikenal oleh masyarakat. Para pejabat tinggi atau karyawan eksekutif telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh bawahan mereka dengan memperkaya diri mereka dan memberikan kontribusi untuk kebangkrutan organisasi mereka dengan menyalahgunakan penghitungan dana perusahaan dan memasukkannya kedalam nomor rekening pribadi mereka.

Imam Al-Ghazali mengaitkan hal ini pada masa kekalifahan Umar bin Abdul Aziz. Dia bercerita: Sang Khalifah sedang duduk pada suatu malam untuk mempelajari laporan harian pemerintah dengan menggunakan sebuah cahaya lampu. Pada saat itu, seorang pegawai rumah tangganya memasuki kamar Khalifah Umar untuk berdiskusi beberapa masalah pribadi. Lalu Umar memerintahkan:

“Matikan lampu tersebut! Dan nyalakan lampu sendiri barulah kamu bicara! Karena minyak yang digunakan lampu ini berasal dari dana masyarakat dan apa yang berasal dari masyarakat tidak boleh digunakan kecuali untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.”

Pemilihan Wakil

Kita semua mengetahui bahwa tim manajemen kerja yang baik adalah elemen yang paling mendasar dalam kesuksesan sebuah perusahaan. Pemimpin yang baik akan dikelilingi oleh para tenaga ahli yang dapat diberikan tanggungjawab dan kembali dengan membawa hasil. Sama halnya ketika Al-Ghazali menulis mengenai para wakil dalam konteks posisi kementrian di lingkungan Sultan. Dia membandingkan para menteri tersebut dengan para sahabat (para) Nabi. Untuk mendukung hal ini dan melindungi para menteri yang memiliki kinerja yang baik, Imam Al-Ghazali menulis bahwa bahkan (para) Nabi sekalipun diperintahkan untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan para sahabatnya yang terpelajar dan bijak.

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah” (Q.S Al-Imran: 159)

Para Nabi pun memohon pada Allah untuk menunjuk seorang wakil bagi mereka seperti pada kasus Nabi Musa (lihat Al-Qur’an 20:29-32)

Mengambil Pelajaran dari Nasihat Al-Ghazali

Kebijaksanaan yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali sangat berguna dalam mengimplementasikan berbagai macam bentuk kepemimpinan dan pengelolaan perusahaan. Tapi dalam mengambil pelajaran dari tulisan Imam Al-Ghazali, sangat penting untuk diingat bahwa ia menulis “Nasihat” untuk para Raja dan Sultan yang hidup pada jamannya. Banyak para pemimpin pada masa itu yang diberikan tulisan tersebut karena mereka sedang mensosialisasikan suara kepemimpinan.

Imam al-Ghazali menulis “Nasihat” berdasarkan bimbingan Nabi Muhammad yang mengajarkan pada umat Muslim bahwa “Agama adalah nasihat”. Jadi, Al-Ghazali menghubungkan nasihat-nasihatnya sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Sebagai tambahan, hubungan antara teori Imam Al-Ghazali dalam kepemimpinan politik dan teologi harus sangat kita pertimbangkan. Dengan kata lain, keteraturan dan kepemimpinan yang baik adalah tugas suci yang harus dilakukan oleh Al-Ghazali – melakukannya dengan baik akan mendatangkan keni’matan Allah dan meninggalkannya akan membawa kemurkaan Allah.

Menerapkan hal ini dalam paradigma bisnis membutuhkan manajer dan para pengusaha professional yang dapat diandalkan dalam perusahaannya. Terlebih lagi, manajer atau pemimpin harus dapat diandalkan bagi karyawannya atau tim kerjanya. Baik itu dalam mengatur diri sendiri, keterbukaan terhadap yang lain, atau bagaimana membangun tim kerja.

Nasihat dari Imam Al-Ghazali sangat berguna bagi mereka yang berada pada posisi sebagai pemimpin.

Persamaan Gender

Posted by admin - 13 Juni 2012 - Aqidah, Bina Keluarga, Da'i dan Dakwah, Fiqh dan Ushulnya, Psikologi
0
persamaan gender

Persamaan (Equality)

Nancy, sebut saja begitu, tiba-tiba minta cerai dari James, suaminya seorang profesional. Padahal ia sudah 10 tahun menikah. Sebagai ibu rumah tangga dengan 2 orang anak Nancy begitu menikmati kehidupannya. Penghasilan suami, sekolah anak-anak, dan kehidupan rumah tangganya tergolong sejahtera.

Tapi, Nancy ternyata telah “kerasukan” paham kesetaraan gender. Ia menjadi tidak nyaman berkeluarga. Mengurus rumah tangga tiba-tiba serasa seperti pembantu atau budak.

Di kepalanya serasa ada yang terus membisikkan tulisan Berger The family now appears as an age-old evil. Heterosexual is rape; motherhood is slavery, all relation between the sexes are struggle of power. (Keluarga sekarang nampak seperti setan tua. Hubungan seks pria wanita adalah perkosaan; peran keibuan adalah perbudakan; semua hubungan antarjenis kelamin adalah perjuangan untuk kekuasaan).

Maka, sukses suaminya dirasa menambah rasa superioritas dan penguasaan terhadap dirinya. Meski itu tidak secuil pun terbesit dalam pikiran suaminya.

Setelah cerai ia berharap akan bebas dari suami, bisa berkarir sendiri, dan tidak terikat di dalam rumah tangga. Tapi itu hanya harapan. Setelah cerai ternyata karirnya tidak sejaya mantan suaminya. Rumah tangga dan anak-anak masih di urusnya sendiri dan nyaris kehilangan perhatian. Di dunia kerjanya banyak masalah yang tidak mudah dihadapi.

Di dalam benaknya terdetik penyesalan “ternyata sendiri itu tidak nyaman”. Tanpa suami hidupnya terasa pincang. Benarlah wisdom dari Nabi: ”Sungguh miskin! wanita tanpa laki-laki. Sungguh miskin! laki-laki tanpa wanita”. Kalau saja Nancy pernah membaca hadis ini dia tentu akan mengumpat para feminis atau berpikir panjang untuk cerai. Asalkan dia tidak membaca hadis itu dengan hermeneutika.   

Mimpi Nancy adalah equality. Itu adalah tuntutan zaman postmo yang sarat kepentingan sesaat dan selalu berubah-rubah. Mimpi Nancy adalah misi postmo, yakni membangun persamaan total.

Jargonnya sayup-sayup seperti berbunyi “persamaan adalah keadilan”. Artinya kerja menyetarakan adalah kebaikan, dan membeda-bedakan adalah kejahatan. Sebab teori menyama-nyamakan adalah bawaan pluralisme dan relativisme. Dua doktrin penting yang berada pada melting pot postmodern.

Tapi penyamaan adalah utopia fatamorganis. Menjanjikan tapi tidak menjamin. Membela tapi untuk menguasai. Sebab para pakar di Barat yang sadar mengkritik misi ini.

Di tahun 1715-1747 Marquis De Vauvenargues sudah wanti-wanti “Alam tidak mengenal kesamaan; hukum, yang berlaku adalah subordinasi dan ketergantungan”. Hampir seabad kemudian James Anthony Fuller, (m. 1894) mengulangi pesan Marquis “Man are made by nature unequal, it is vain, therefore to treat them as if they were equal”.

Fakta sosial juga menunjukkan  bahwa in-equality antara sesama laki-laki sekalipun bisa diterima. Apalagi antara laki-laki dan wanita. Fakta biologis menjelaskan strukur tubuh laki-laki dan perempuan berbeda dan membawa perbedaan psikologis. Karena itu Dr. Ratna Megawangi dengan tepat dan cerdas memberi judul bukunya “Membiarkan Berbeda”.

Jika demikian apa berarti tuntutan equality tidak universal? Memang! Sebab kebebasan dan persamaan adalah bagian dari America’s core culture (Fukuyama).

Malahan, kata Ronald Inglehart dan Pippa Norris kesetaraan gender, kebebasan seks, perceraian, aborsi, dan hak-hak gay adalah ciri khas Barat. Maka benturan Islam–Barat adalah Sexual clash of Civilization”, tulisnya. Itulah, equality memang tidak universal.

Tapi mengapa kini tiba-tiba menjadi seperti universal? Sebab equality satu paket dengan Westernisasi, modernisasi dan globalisasi. Mulanya (abad 19 hingga awal abad 20) hanya sekedar menuntut kesamaan hak pilih, tapi kemudian (1960an-1980an) persamaan bidang hukum dan budaya. Periode selanjutnya (1990an) adalah evaluasi kegagalan gerakan pertama dan intensifikasi gerakan kedua.

Penyebarannya berbasis teori Foucault “untuk menjajah pemikiran kuasai wacana!”. Caranya, semua bangsa dan bahkan agama didorong untuk bicara gender. Yang menolak berarti ndeso alias kampungan. Strategi dan aplikasinya menjadikan kesetaraan gender sebagai neraca pembanguan di PBB. Pembangunan diukur dari peran wanita didalamnya dalam bentuk GDI (Gender Development Index).

Tapi benarkah peran wanita dapat menjadi neraca pembangunan?, Ternyata tidak.  di Negara-negara seperti Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan sebagainya telah ada equality dan equal opportunity dalam pendidikan dan pekerjaan. Tapi itu tidak juga mengangkat share income dalam keluarga.

Korelasi antara equality dan kemajuan pembangunan tidak terbukti. Prosentase anggota parlemen di AS misalnya hanya 10.3%, di Jepang 6.7%, di Singapura hanya 3.7%, sedangkan Indonesia 12.2%. Meski begitu Indonesia juga tidak lebih maju dari AS, Singapura dan Jepang, dalam semua bidang, khususnya pembangunan ekonomi.

Di Timur seperti Jepang, Taiwan, Indonesia, Pakistan, India, Saudi, Mesir dan sebagainya total equality tidak benar-benar dikehendaki wanita. Di negeri-negeri itu profesi ibu rumah tangga masih banyak diminati. Di Jepang antara wanita praktis tidak bekerja ketika menjadi istri dan mengurus keluarga. Tapi tidak ada pengaruh ekonomi yang signifikan terhadap Negara.

Lucunya, di negeri ini ulama, kyai dan cendekiawan Muslimnya tergiur untuk “mengimpor” paham kesetaraan ini. Mereka menjadi pongah lalu melabrak syariat. Fikih empat mazhab itu “dicaci” sebagai terlalu maskulin dan harus dirombak. Ayat-ayat gender ditafsirkan ulang demi equality. Yang muhkamat (pasti) diangggap mutasyabihat (ambigu).

Akhirnya, lahirlah konsep fikih berwawasan gender, lesbianisme dianggap fitrah dan perilaku homoseks dianggap amal saleh. Lucu! bak shalawat dilantunkan secara rap atau R&B, atau bagaikan masjid dihias pohon natal.

Jika para pegiat feminisme, mendapat berbagai awards dari Barat tidak aneh. Semakin galak menista syariat semakin bertaburan awards-nya. Tapi ide penerima awards tidak berarti benar dan sebaliknya. Sebab dari penelitian Yayasan Ibu Harapan di 6 kota besar di Indonesia, gagasan fikih itu ditolak oleh 90% responden dari 500 muslimah.

Ide persamaan hak waris pun ditolak 91% responden. Bahkan mayoritas (97.4%) tidak sepakat dengan ulah Aminah Wadud menjadi Imam. Apalagi perilaku Irsyad Manji yang lesbi dan pendukungnya di negeri ini.

Masalahnya apakah tuntutan kesetaraan itu setingkat 50-50? Jika benar, apakah tuntutan hak juga perlu disamakan dengan pelaksanaan kewajiban, khususnya dalam agama?, Padahal dalam Islam ada hak-hak (huquq) dan kewajiban (waajibat). Jika kesetaraan penuh tidak mungkin, apa saja yang harus disamakan?.

Mungkin benar pepatah Latin kuno yang berbunyi Omne Simile claudicate itaque de singulis verbis age (Semua persamaan itu pincang, oleh karena itu jelaskanlah secara rinci). Dan sungguh benar firman Allah bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita meski tidak harus beda surga.

 

Sourch : Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat.

Sumber: http://thisisgender.com/persamaan-equality/

Kalimat “DZIKIR” Di Tinjau Dari Kandungan Alquran

Posted by admin - 6 Juni 2012 - Aqidah, Da'i dan Dakwah, Ilmu Al Quran dan Tafsir
0
dzikir

Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, salah satunya adalah dengan berdzikir. Karena dengan berdzikir orang tersebut akan mendapatkan balasan dari Allah berupa ketenangaan batin dan pahala.

Dzikir atau mengingat begitu luas maknanya,kurang lebih ada 280 kata dzikir yang di sebutkan didalam Al quran. Kita sebagai umat Islam diperintahkan untuk selalu mengingat akan kebesaraan dan kekuasaan-Nya agar hati kita menjadi tenang dan damai.

Dalam tulisan yang singkat ini, saya mencoba menguraikan kata Mengingat yang berhubungan dengan kehidupan manusia agar kita mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Dalam keadaan dan kondisi apapun kita dianjurkan untuk selalu Mengingat uraian dibawah ini:

 1. Mengingat akan yang menciptakan kita yaitu Allah swt

2. Mengingat akan jasa serta pengorbanan Baginda Rasulullah saw

3. Mengingat akan perintah Allah swt dan kewajiban yang harus kita kerjakan

4. Mengingat akan dosa dan kesalahan yang kita lakukan

5. Mengingat akan nikmat dan kebaikan yang Allah berikan kepada kita

6. Mengingat akan kematian yang pasti akan menjemput kita semua

7. Mengingat akan azab kubur yang pasti akan terjadi

8. Mengingat akan hisab (perhitungan amal) di akhirat nanti

9. Mengingat akan siksa neraka yang sangat pedih

Allah swt adalah Maha Pencipta, segala sesuatu diciptakannya, ciptaannya yang paling sempurna adalah manusia karena manusia Allah berikan akal dan pikiran tetapi kesempurnaan manusia itu tergantung bagaimana dia menggunakan akal dan pikirannya untuk merenungkan Ciptaan-Nya, Kebesaraan-Nya dan selalu Mengingat-Nya.

Banyak pelajaran serta manfaat yang bisa kita ambil dari uraian diatas,,sebagai contoh:

  1. Kalau kita di dalam keadaan dan kondisi bagaimanapun tapi hati kita selalu Mengingat Allah swt, maka dengan mudah  hati ini akan berdzikir kepada-Nya dengan bertasbih, tahlil, tahmid, walaupun yang berdzikir itu hati kita.
  2. Kalau kita selalu mengingat dan mempelajari sejarah kehidupan Baginda Rasulullah saw, maka sudah sangat pantas untuk  kita memberi salam dan bersholawat kepada beliau karena sangat besar pengorbanan serta jasa-jasa yang beliau tinggalkan untuk kebaikan umat islam.
  3. Kalau kita selalu mengingat akan perintah dan kewajiban yang harus kita kerjakan,niscaya kita tidak akan pernah meninggalkan kewajiban kita sebagai orang mukmin dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan-Nya seperti Shalat 5 waktu
  4. Kalau kita selalu mengingat akan nikmat dan kemurahan yang Allah berikan kepada kita, niscaya kita akan selalu banyak bersyukur dan kita akan menjadi hamba yang pandai bersyukur. Sebagai contoh kecil yaitu kesehatan, bagaimana rasanya kalau kondisi manusia dalam keadaan sakit? Jadi kesehatan merupakan suatu nikmat dari Allah swt
  5. Kalau kita selalu mengingat akan dosa serta kesalahan yang kita lakukan,niscaya diri ini akan dengan mudah untuk minta ampun kepada-Nya atau beristighfar, dan diri ini akan berhati hati untuk membuat suatu kesalahan,karena yang dianjurkan untuk kita yaitu untuk selalu menghitung kesalahan dan kekurangan diri kita, bukan menghitung amal ibadah kita
  6. Kalau kita selalu mengingat kematian,alam kubur,hisab atau alam akhirat, niscaya diri ini akan takut menghadapi semua itu,dan dengan mudah diri kita dapat berbuat kebajikan dan beribadah kepada-Nya,karena kita percaya bahwa semua perbuatan kita selama hidup di dunia ini akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah swt.

Dengan uraian yang singkat ini,marilah kita tingkatkan amal ibadah kita kepada Allah swt agar kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat nanti akan mendapat keridhoan Allah swt.

Demikian ringkasan yang singkat ini yang di nukil dari kata Mengingat (Dzikrullah)

Mudah mudahan kita semua akan mendapat petunjuk-Nya serta akan membawa kebaikan kepada kita semua untuk dapat beribadah kepada-Nya…

 Amien Ya Robbal Aalamin,,,,

Oleh : Sayyid Syatir bin Abbas Assyathiri

Islam Agama Persatuan dan Sempurna

Posted by admin - 22 Oktober 2011 - Da'i dan Dakwah
0
islam is a unity

Islam merupakan suatu sistem yang sangat sempurna, yang mana Allah SWT memuliakan manusia dengannya. Untuk dapat hidup dibumi ini dalam keadaan bahagia, puncak kebahagiaan itu setelah dia mengambil tauladan pada identitasnya, sehingga dapat mengetahui benar bahwa dia adalah hamba Allah swt yang tunggal pun  mempunyai segala sifat-sifat kesempurnaan, kemudian dia meneliti disekitarnya sebab kehidupan yang layak sehingga memungkinkan manusia untuk beribadah pada Allah SWT, dan tidak akan terlaksana kehidupan yang layak itu tanpa adanya persatuan yang berlandaskan saling hormat-menghormati antara satu dengan yang lain, tanpa adanya penekanan dari suatu pihak dan unsur kezaliman.

Sebenarnya Islam tanpa adanya undang-undang yang lain sudah merupakan sistem yang dapat mencukupi taraf hidup maupun pemikiran yang mana akan terlaksana kesemuanya itu dimulai dari landasan aqidah untuk memandang kehidupan, akhlak dan juga unsur-unsur  yang berkaitan dengan perilaku, yang kesemuanya masuk dalam lingkup agama dengan kesadaran yang mutlak.

 Sebenarnya zakat tiada lain terkecuali salah satu hukum dari banyak hukum yang diturunkan Allah SWT untuk kemaslahatan manusia.

 Sesungguhnya tugas zakat kalau ditinjau dari globalnya adalah penelitian income seseorang untuk tidak sewenang-wenang dalam tumbuhnya, ditinjau dari segi keadilan antara satu dengan yang lain, dengan harapan tumbuhnya sejajar dan patut dengan kebutuhan masyarakat, berkaitan dengan hal tersebut kita diingatkan Sabda Rasulullah SAW sewaktu beliau mengirim banyak utusan ke daerah-daerah.

 Sabda Rasullah saw:

(Ajak mereka untuk menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan aku adalah pesuruh Allah dan kalau mereka sudah mentaati, beritahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan sodakoh yang diambil dari yang kaya dan di berikan pada yang fakir).            – Buchori (1331) Muslim (19).

 Begitulah syariat Islam tidak menyandarkan seseorang pada kemampuannya sendiri untuk menstabilisikan kehidupan, maupun menyandarkan pada bantuan orang lain, tapi di sana ada persatuan dan hukum yang menjamin lancarnya kehidupan di dunia ini.

1.  Pendapat ulama tentang Ahlul Bait dan Zakat.

Berdasarkan seluruh sumber hukum, semua keturunan ahlul bait Rasulullah saw termasuk Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutholib diharamkan menerima sedekah atau zakat dalam bentuk apapun juga. Mereka diberi hak untuk memperoleh bagian dari ghanimah atau dari kas negara yang sifat pemerintahannya Islam yang biasa disebut  (baitul mal). Akan tetapi dalam zaman kita dewasa ini tidak ada lagi ghanimah dan tidak ada pula dana baitul mal sebagaimana yang dahulu pernah terjadi pada zaman pertumbuhan Islam.

Dengan terjadinya perkembangan yang demikian jauh dibanding dengan zaman Rasulullah saw, maka sebagai akibatnya para keturunan ahlul bait Rasulullah saw yang hidup kekurangan tidak dapat menerima tunjangan yang oleh syariat telah ditetapkan sebagai hak mereka. Lagi pula banyak sekali di antara mereka yang hidup bertebaran di negeri atau daerah-daerah terpencil. Dalam keadaan seperti ini apakah oleh syariat mereka diperkenankan menerima sedekah atau zakat dari orang-orang kaya setempat untuk meringankan beban hidup mereka sehari-hari ?

Untuk menjawab masalah ini, dipandang perlu kita mengetahui dalil-dalil tentang hal tersebut, baik yang diambil dari alquran, hadits maupun ijtihad para ulama. Mudah-mudahan uraian ini dapat membantu menghantarkan pembaca dalam membahas masalah halal atau tidaknya keluarga Rasulullah saw menerima sedekat/zakat, dan dengan membaca uraian ini diharapkan pula dapat menghasilkan jawaban yang menghapus keragu-raguan selama ini di antara sebagian keturunan Rasulullah saw tentang boleh atau tidaknya mereka menerima sedekah/zakat.

وَاعْلَمُوْا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلّهِ خُمُسَهُ وَ لُلْرُسُولِ وَ لِذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ

 Artinya :      Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang (ghanimah), maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil.

 Dalam kitab tafsir Fath al-Qadir dan Ibnu Katsir disebutkan pendapat yang mengatakan bahwa khumus adalah untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil. Selain itu disebutkan pula pendapat yang mengatakan bahwa khumus tersebut dibagi enam, dan bagian yang keenam untuk Ka’bah.

 Perbedaan pendapat terjadi pula atas bagian rasul dan kerabat setelah rasul wafat, ada yang mengatakan bagian rasul untuk khalifahnya, pendapat lain mengatakan bagian tersebut tetap untuk kerabat nabi saw, pendapat lain mengatakan bagian untuk kerabat nabi diperuntukkan kerabat khalifah.

Dalam kitab Majma’ al-Bayan disebutkan bahwa khumus merupakan hak dari keluarga Rasulullah, yaitu anak-anak yatim keluarga Muhammad, orang-orang miskin dari mereka, dan  ibnu sabil dari kalangan mereka. Hal tersebut sesuai dengan yang diriwayatkan oleh al-Thabari dari Zainal Abidin Ali bin Husin, sesungguhnya khumus adalah hak kami. Allah berfirman :

وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ

 Yang dimaksud dengan ayat di atas adalah anak-anak yatim kami, orang-orang miskin dan  ibnu sabil dari kalangan kami. Hal itu disebabkan mereka telah diharamkan menerima sedekah yang merupakan daki/kotoran manusia, sebagai gantinya yaitu khumus.

 Menurut Syafii dan Hambali : “Harta rampasan perang itu, yaitu seperlima (khumus) dibagi ke dalam lima bagian. Satu bagian adalah untuk rasul, dan dipergunakan untuk kemaslahatan dan perbaikan umat Islam. Dan satu bagian diberikan untuk kerabat (keluarga), yaitu keluarga dari keturunan Bani Hasyim, baik yang kaya maupun fakir, tak ada bedanya. Dan tiga bagian lainnya dikeluarkan untuk anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, baik mereka dari keturunan Bani Hasyim maupun bukan.”

 Menurut Hanafi : “Bagian untuk Rasulullah telah gugur dengan wafatnya. Kalau para kerabat (famili), mereka seperti yang lain dari kalangan orang-orang fakir. Mereka diberi karena kefakiran mereka, bukan karena mereka menjadi kerabat (famili) Rasulullah saw.

 Menurut Maliki : “Masalah khumus (seperlima) ini kembali atau diserahkan kepada imam (pemimpin) agar dipergunakan untuk kemaslahatan umat.”

2.  Siapa keluarga (آل ) Rasulullah  saw ?

 Berkata Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fath al-Bari, dan al-Syaukani dalam kitabnya Nail-al-Authar mengenai makna keluarga (آل ) Muhammad saw. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna keluarga (آل ) Muhammad saw, sebagai berikut :

Pendapat Imam Syafii, Ahmad, Abu Tsaur, Mujahid, Qatadah, Ibnu Juraij dan Muslim bin Kholid : ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan (آل ) Muhammad saw adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Hal itu dikarenakan Bani Mutholib dan Bani Hasyim berserikat dalam bagian dzawil qurba, dan Nabi saw tidak memberi bagian tersebut kepada siapapun dari suku Quraisy, selain kepada mereka. Pemberian itu adalah sebagai ganti, karena mereka diharamkan untuk menerima sedekah.

 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jubair bin Math’am :

 قال : مشيت انا و عثمان بن عفان الى النبي صلى الله عليه وسلم فقلنا : يا رسول الله أعطيت بني المطلب من حمس خيبر وتركتنا ونحن وهم بمنزلة واحدة ! فقال رسول الله عليه وسلم  : انما بنو المطلب و بنو هاشم شيئ واحد.

Artinya            :           “Saya berjalan bersama Usman bin Affan ke tempat Nabi saw, lalu kami berkata ‘Wahai Rasulullah saw, engkau telah memberi Bani Mutholib seperlima bagian dari harta rampasan Khaibar dan engkau tinggalkan kami, padahal kami dan mereka sama. Lalu Rasulullah bersabda : Bani Mutholib dan Bani Hasyim adalah satu.”

 Pendapat Abu Hanifah, Malik dan Hadawiyah : Mereka adalah Bani Hasyim saja.

 Dan yang dimaksud dengan Bani Hasyim adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, keluarga Abbas dan keluarga Harits. Keluarga Abu Lahab tidak termasuk didalamnya, hal tersebut disebabkan tidak ada satupun keluarga Abu Lahab yang beragama Islam pada masa Rasulullah saw hidup. Akan tetapi dalam kitab Jami’ al-Ushul disebutkan bahwasanya anak Abu Lahab yang bernama Utbah dan Mu’tab masuk Islam ketika penaklukan kota Makkah, mereka meninggal dalam perang Hunain dan Thaif.

3.  Bolehkah Keluarga Rasulullah saw menerima zakat/ sedekah ?

 عن عبد المطلب بن ربيعة بن الحارث , قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  ان الصدقة لا تنبغي لأل محمد, إنما هي أوساح الناس (رواه مسلم)

 Artinya            :           Dari Abdul Mutholib bin Rabi’ah bin Harits berkata, bersabda Rasulullah saw : Sesungguhnya Zakat/sedekah tidak pantas (tidak halal) bagi keluarga   Muhammad, karena sedekah itu adalah daki (kotoran) manusia.

 Dalam suatu riwayat Muslim dari Abdul Mutholib, Rasulullah saw bersabda :

 وانها لا تحل لمحمد ولا لأل محمد (رواه مسلم)

 Artinya            :           Sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi Nabi Muhammad dan bagi Keluarga Muhammad saw.

 Hadits tersebut memberikan pengertian bahwa  lafadz  لا تنبغي    itu beliau maksudkan “tidak halal” yang berarti memberikan pengertian haram. Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haram sedekah bagi Nabi Muhammad dan keluarganya. Mengenai haramnya zakat bagi pribadi Nabi saw para ulama telah sepakat.

 Abu Hurairah menceritakan, bahwa pernah Hasan bin Ali mengambil sebiji kurma dari hasil zakat, maka berkata Rasulullah kepadanya :

 كخ كخ , ليطرحها , اما شعرت انّا لا نأ كل الصدقة

 Artinya :      Hai Hai ! (maksudnya agar dibuang). Apakah kamu belum tahu, bahwa kita tidak boleh memakan hasil dari zakat.

 Imam Ja’far al-Shaddiq pernah ditanya, apakah sedekah halal bagi Bani Hasyim. Beliau menjawab : “Sedekah wajib tidak halal bagi kami, adapun selainnya maka tidak apa-apa”.

Berkata Ibnu Qudamah : Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa sesungguhnya Bani Hasyim tidak dihalalkan untuk menerima sedekah wajib/zakat. Hal itu disebutkan dalam kitab al-Ijma karangan Ibnu Ruslan.

 Abdullah bin Nuh menulis, menurut madzhab Syafii, dalam keadaan bagaimanapun juga mereka mutlak diharamkan menerima sedekah atau zakat. Akan tetapi sebagian ulama Syafiiyah membolehkan keluarga Nabi saw menerima sedekah atau zakat.

Ibnu Jarir al-Thabari menukil akan kebolehan Bani Hasyim menerima sedekah dari     Imam Hanafi, begitu pula dari Imam Malik dan sebagian ulama Syafiiyah.

 Menurut Abu Yusuf, sesungguhnya mereka dihalalkan menerima sedekah dari mereka untuk mereka bukan dari yang lainnya . Artinya keluarga Bani Hasyim dihalalkan menerima sedekah dari yang diberikan dari Bani Hasyim juga. Jika keluarga Bani Hasyim menerima sedekah dari bukan Bani Hasyim maka hal itu tidak dibolehkan. Begitu pula pendapat dari Zaid bin Ali, Abi Abbas dan Imamiyah.

 Pendapat ini juga merupakan pendapat dari para salaf Al Alawiyyin.

 Ibnu Hajar al-Asqolani mengatakan  menurut ulama Malikiyah terdapat empat pendapat : membolehkan, melarang, membolehkan menerima sedekah sunnah dan melarang menerima sedekah wajib (zakat), membolehkan menerima sedekah wajib dan melarang menerima sedekah sunnah.

Adapun dalil yang menghalalkan pemberian sedekah dari Bani Hasyim ke Bani Hasyim, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hakim  :

 ان العباس بن عبد المطلب قال : قلت يا رسول الله إنك حرمت علينا صدقات الناس ، هل تحل صدقات بعضنا لبعض ؟ قال : نعم .

 Artinya            :           Abbas bin Abdul Mutholib berkata : “Saya berkata kepada Rasulullah saw : Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengharamkan sedekah manusia untuk kami, apakah engkau menghalalkan sedekah yang diberikan dari kami untuk kami ? Rasulullah berkata : Ya.”

 Dalam kitab fiqih Hanafiah yang berjudul Majma’ al-Anhar, berkata Imam Hanafi : Tidak mengapa mencampuradukan semuanya (sedekah wajib dan sedekah sunnah) dan memberikannya kepada mereka. Di lain riwayat Imam Hanafi berkata : Boleh memberikan zakat kepada mereka.

 Sedangkan Imam Muhammad mengatakan mereka boleh menerima sedekah, dikarenakan pengharaman untuk menerima sedekah kepada mereka hanya berlaku pada zaman Rasulullah masih hidup. Dan dalam kitab Dar al-Muntaqo, beliau berpendapat bahwa Bani Hasyim boleh menerima zakat pada zaman setelah Rasulullah saw.

Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan : Bani Hasyim boleh menerima zakat yang dikeluarkan oleh Bani Hasyim.

Muhammad Abduh Yamani berkata : Jika keluarga Rasul saw yang menerima sedekah atau zakat berdosa, sebenarnya yang berdosa itu adalah orang-orang kaya yang tidak peduli akan hak-hak keluarga Rasul saw yang telah disebutkan dalam alquran dan ditetapkan dalam hadits-haditsnya.

 Rasulullah saw bersabda :

 انّ الله فرض على أغنياء المسلمين فى اموالهم بقدرالّذي يسع فقراءهم, ولن يّجهد الفقراء اذا جاعوا او غروا الاّبما يصنع اغنياؤهم, الا وانّ الله يحاسبهم حساباشديدا, ويعذّبهم عذابا اليما

Artinya                        :           Sesungguhnya Allah swt mewajibkan atas semua orang kaya muslimin mengenai harta mereka agar mengeluarkan zakat sekedar untuk melapangi orang-orang fakir mereka (dari keluarga Rasul saw-pent), sehingga orang fakir tidak kelaparan atau kesulitan, kecuali karena sikap orang-orang kaya mereka (tidak mau mengeluarkan zakat). Ketahuilah, bahwa Allah akan memperhitungkan harta mereka itu dengan ketat (di akhirat) dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.

 Imam Ja’far al-Shadiq berkata :

 “Sesungguhnya Allah swt telah mencukupi bagi fukara’ (dari keluarga rasul saw-pent) harta yang dapat mencukupi hidup mereka di dalam harta orang-orang kaya. Jika Allah swt tahu hal itu tidak akan mencukupi, tentu Allah swt akan menambahnya. Mereka menjadi fukara’ bukan karena tidak ada bagian dari Allah swt untuk mereka, tetapi karena orang-orang (kaya) itu tidak mau memberikan hak para fukara’ tersebut. Seandainya setiap orang (kaya) menunaikan kewajiban mereka, maka mereka (para fukara’) akan hidup dengan baik”.

 Berdasarkan riwayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa kefakiran datangnya dari bumi, bukan dari langit, dari kezaliman manusia yang satu terhadap yang lain, bukan dari Allah yang maha agung dan bijaksana.

 Imam Muhammad al-Bagir berkata : ‘Allah swt tidak meminta mengerjakan sholat kecuali yang fardhu, tidak meminta menunaikan sedekah selain zakat, dan tidak meminta melaksanakan puasa selain puasa Ramadhan”.

4.  Bolehkah keluarga Rasulullah menerima Zakat/ sedekah, setelah khumus tidak ada lagi ?

 Menurut  ulama Malikiah :   Dimungkinkan   untuk   memberi  hak  Bani Hasyim dari uang zakat selama baitul mal tidak ada, dimana jika tidak diberikan akan menjadikan mereka orang-orang yang faqir. dan memberikan hak Bani Hasyim dari uang zakat  lebih utama daripada memberikannya kepada orang lain.

 Ada pula yang berpendapat bahwa kebolehan pemberian tersebut dikarenakan darurat, yaitu sekedar diperbolehkannya manusia memakan bangkai dalam keadaan darurat. Artinya, mereka tetap diharamkan untuk menerima sedekah, kecuali dalam keadaan darurat maka mereka boleh menerimanya.

 Berkata Abu Said al-Asthakhri al-Syafii : Sesungguhnya ketiadaan hak mereka dari khumus, membolehkan pemberian sedekah kepada mereka, Jika tidak ada yang diberikan kepada mereka dari khumus, maka wajib memberikan zakat kepada mereka.

Berkata al-Nawawi dari al-Rafii : Sesungguhnya Imam al-Ghazali memberikan fatwa yang sama.

 Ibnu Taimiyah dan al-Qadhi Ya’kub al-Hanabilah menjelaskan di perbolehkannya keluarga Rasulullah s.a.w.menerima zakat dari orang lain jika tidak ada khumus – ghanimah dan fa’i. Sesungguhnya hal tersebut untuk memenuhi hajat yang darurat.

 Akan tetapi jumhur ulama masih belum bersepakat mengenai kebolehan pemberian zakat kepada Bani Hasyim walaupun tidak ada khumus. Mereka berdalil bahwa zakat diharamkan untuk mereka karena kemuliaan mereka yang merupakan kemuliaan Rasulullah saw. Pengharaman tersebut berlaku walaupun tidak ada khumus, sedangkan bila terjadi kemiskinan atau kefaqiran yang menyebabkan bencana bagi mereka, maka ummat Islam yang bertanggung jawab akan hal tsb.

  Habib Alwi bin Tohir Al-Haddad dalam kitab Al-Qaul al-Fashlu berpendapat bahwa keharaman menerima zakat bagi keluarga Rasulullah saw disebabkan untuk membersihkan kedudukan mereka dan mensucikan dzat mereka sebagai ahlul bait, karena zakat merupakan kotoran manusia yang dikeluarkan untuk membersihkan harta mereka.

5.   Makna Zakat

 Arti kata zakat menurut bahasa adalah tumbuh. Di dalam syariat, zakat ialah sedekah wajib dari sebagian harta. Sebab dengan mengeluarkan zakat maka pelakunya akan tumbuh (mendapat kedudukan tinggi) di sisi Allah swt dan menjadi orang yang suci dan disucikan. Makna yang demikian ini diisyaratkan oleh firman Allah swt dalam surah at-Taubah ayat 104 :

 خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَ تُزَكِّهِمْ بِهَا

 Artinya            :           Ambillah sedekah dari harta mereka agar menyucikan dan membersihkan mereka.

 Firman Allah swt dalam surah al-Hajj ayat 41 :

 الَّذِينَ اِنْمَّكَّنَّهُمْ فىِالأَرْضِ اَقَامُوا الصَّلوةَ وَاتَوُا الزَّكوةَ …

 Artinya            :           (Yang dinamakan orang mu’min ialah) orang-orang yang bila Kami tempatkan di bumi, maka mereka mengerjakan sholat dan mengelaurkan zakat.

 Rasulullah saw bersabda : “Tiga macam, yang karenanya saya bersumpah menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi, yaitu : harta tidak berkurang karena disedekahkan, tidaklah teraniaya hamba Allah yang bersabar, kecuali tambah kemuliaannya di akhirat, dan Allah tidak membukakan suatu pintu tempat meminta, kecuali dibukakan-Nya pula pintu kefakiran.

 Bila orang yang mengeluarkan zakat memperhatikan bagaimana gembiranya orang yang menerima zakat, maka ia akan mempunyai hati yang halus, bagaikan seorang gadis yang baru menyiram bunganya yang sedang layu, maka bunga tersebut segar kembali. Sebenarnya bila Allah swt membukakan pintu pahala bagi orang kaya, maka dijadikan-Nya orang-orang yang meminta kepadanya, bila semua manusia kaya, maka si kaya tidak akan dapat menambah pahalanya. Kepada siapa mereka akan memberikan hartanya. Semua itu merupakan kejadian yang harus diambil hikmahnya.

 Anas menceritakan, bahwa seorang laki-laki dari suku Tamim datang dan mengatakan kepada Rasulullah saw : Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini mempunyai kekayaan yang banyak, mempunyai keluarga dan banyak teman yang menjadi tamu. Bagaimana seharusnya saya mengeluarkan zakat saya ? Rasulullah saw menjawab : “Keluarkan zakat itu dari harta milikmu sendiri, karena zakatnya itu bagaikan pencuci yang mensucikan kamu, menghubungkan tali silaturahmi kepada kerabatmu, di samping itu kamu juga mengakui adanya hak fakir miskin, tetangga dan orang yang meminta-minta”. Selanjutnya Rasulullah bersabda :

 من ادّى زكاة ماله ذهب عنه شرّه

 Artinya                        :           Siapa saja yang telah membayarkan zakat hartanya, maka telah dilenyapkan daripadanya hal-hal yang jahat.

6.  Batas yang diperbolehkan seorang menerima zakat atau sedekah !

 Para ulama berbeda pendapat mengenai batas kecukupan yang memperbolehkan seseorang menerima zakat atau sedekah, diantaranya adalah cukup untuk makan sehari semalam. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin al-Hanzhaliyyah, bahwa : “Rasulullah saw melarang meminta-minta bagi siapa yang berkecukupan”. Ketika ditanya tentang batas kecukupan itu, beliau menjawab : “Yang cukup untuk makan siang serta makan malamnya”.

 Dalam pengertian ilmu fiqh , kategori miskin ialah orang yang mempunyai kecukupan makan minum untuk sehari semalam , sedangkan faqir tidak mempunyai kecukupan makan minum untuk hari itu .

 Imam Ja’far al-Shaddiq berkata : “Zakat haram hukumnya bagi orang yang mempunyai biaya hidup satu tahun, dan orang yang memiliki biaya hidup setahun ini wajib mengeluarkan zakat fithrah”. Beliau ditanya tentang seorang yang mempunyai biaya makan untuk sehari, apakah dia boleh menerima zakat ? Beliau menjawab : “Orang tersebut boleh mengambil dari zakat, sekedar yang dapat mencukupi hidupnya untuk satu tahun, walaupun saat itu dia mempunyai biaya hidup untuk satu bulan, sebab zakat ialah dari tahun ke tahun”.

 Adapun mengenai batas sampai ‘kecukupan untuk makanan sehari semalam’ adalah berkaitan dengan tidak disukainya perbuatan meminta-minta atau kebiasaan mengemis dari pintu ke pintu. Yakni, orang yang masih memiliki makanan untuk sehari semalam, hendaknya tidak meminta-minta dengan mendatangi pintu-pintu rumah orang lain. Sebab yang demikian itu adalah perbuatan yang sangat tidak disukai dalam agama. Ibnu Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda :

 من سأل وله مال جاء يوم القيامة وفى وجه خموش

 Artinya            :           Barangsiapa meminta-minta sedangkan ia memiliki harta yang mencukupi, kelak pada hari kiamat ia akan datang dengan wajah yang penuh noda.

 Dari Abu Daud dan Ibnu Hibban dalam sahihnya, Rasulullah saw bersabda :

 من سأل وله ما يغنيه فانّما يستكثر من النار

 Barangsiapa meminta sedangkan ia memiliki apa yang mencukupi, maka sesungguhnya ia telah memperbanyak bara api jahanam bagi dirinya sendiri.

 Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda :

 لا يزال الرجل يسأل الناس حتّى يأتي يوم القيامة وليس في وجهه مزعة لحم

 Artinya            :           Orang yang senantiasa minta-minta pada orang-orang hingga hari kiyamat, maka pada mukanya tidak ada daging sekerat pun.

 Diriwayatkan dari Samurah bin Jundab, Rasulullah saw bersabda :

 المسألة كدّ يكدّ بها الرّجل وجهه

 Artinya            :           Minta-minta itu suatu garutan seseorang terhadap mukanya sendiri.

 Diperbolehkan meminta-minta, jika seseorang dalam keadaan sangat miskin, sakit keras, dan hutangnya mencekik, sebagaimana hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Qubaishoh :

 لا يحلّ السؤال الاّ لثلاثة ذي فقر مدقع او دم موجّع او غرم مغظع

 Artiya :           Tidak halal (haram) meminta-minta kecuali karena 3 (tiga) sebab, yaitu : orang yang sangat miskin, orang yang sakit keras dan orang yang mempunyai hutang mencekik.

 Kebanyakan para ahli fiqih mengatakan bahwa seorang yang mampu bekerja mencari uang tidak boleh diberi zakat, sebab dia dianggap kaya. Imam Muhammad al-Bagir berkata : “Sedekah tidak halal untuk orang yang mampu bekerja, dan tidak juga untuk orang yang sehat jasmani yang mampu menanggung jerih payah kerja”.

 Di kalangan ulama Syafiiyah terdapat dua macam peminta-minta, yaitu :

  •  Peminta-minta yang masih mampu bekerja mencari nafkah. Orang semacam ini haram meminta-minta.
  • Peminta-minta yang makruh (dibenci), yaitu yang memenuhi tiga syarat : bahwa dia tidak menghina dirinya dengan meminta-minta, dia tidak merengek-rengek/memaksa dalam meminta, dia tidak menyakitkan hati orang yang dimintai. Jika dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka ulama Syafiiyah sepakat akan keharamannya.

Sebagai penutup pembahasan tentang boleh atau tidaknya menerima zakat, semua tergantung kepada penerima zakat itu sendiri, karena yang dapat menentukan dia boleh atau tidak menerima zakat hanyalah dirinya sendiri, sebagaimana hadits Rasulullah saw :

 استفت قلبك وإن أفتوك وأفتوك

 Artinya                        :           Mintalah fatwa dari hati nuranimu sendiri, apapun yang difatwakan kepadamu oleh orang lain.

 Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, Rasulullah saw bersabda :

 اليد العليا خير من اليد السّفلى … ومن يستعفف يعفّه الله ومن يستغن يغنه الله.

 Artinya                        :           Tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan di bawah (penerima). Barangsiapa yang mampu menjaga diri (dari meminta-minta), maka Allah akan menjaga dirinya, dan barangsiapa yang merasa cukup (puas dengan apa yang ada tanpa meminta-minta), niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya.