Category: Da’i dan Dakwah

Ringkasan Pemahaman Tentang Nawaqid (Pencabutan), Naqoid (Bertentangan), Fitnah Yang Menyesatkan dan Media Perlindungan Dari Fitnah Tersebut

Posted by admin - 10 Maret 2016 - Aqidah, Da'i dan Dakwah
0
Alhabib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur

Nawaqid secara bahasa: jama’ dari kalimat naaqid yang diambil dari fi’il (نقض- ينقض) artinya menghilangkan sesuatu dari asalnya dan memotong sesuatu dari pangkalnya. Dan menurut definisi fiqih tahawulat yaitu: pemahaman pada sesuatu yang mencabut rantai-rantai Islam serta menimbulkan konflik dengan cara menghilangkan resolusi ilmu, I’tiqod, hukum, ekonomi dan hal-hal yang berkaitan dengan semuanya tersebut melalui faktor-faktor fitnah yang menyesatkan dan melalui para pembawa fitnah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Ikatan-ikatan Islam akan tercabut satu demi satu, setiap kali ikatannya tercabut orang-orang bergantung pada ikatan selanjutnya, yang pertama kali tercabut adalah masalah hukum dan yang terakhirnya adalah masalah shalat.”

Diantara pencabutan ikatan-ikatan hukum dan shalat, akan terjadi pencabutan-pencabutan yang lain, dari periode ke periode berikutnya hingga akhirnya tercabutlah ikatan “shalat” yaitu akan terjadi perdebatan dan perselisihan sekitar rukun, sunnah dan cara melakukan shalat.

Adapun naqoid secara bahasa adalah: jama’ dari kalimatنقيض  yakni: perkara sesuatu yang berlawanan dan bertentangan dengan hukum yang sudah ditetapkan oleh syariat.

Definisi naqoid (bertentangan) adalah: nama pada setiap pekerjaan yang berlawanan dan bertentangan dengan amalan syariat yang sudah popular, serta membawa dalil dan pemahaman yang berlawanan dengan (Alquran dan hadits) yang muncul dari individu atau kelompok, hal ini terjadi sebagaimana sabda Rasulullah SAW

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang jujur tidak dipercaya, orang yang bohong dianggap jujur, orang yang dipercaya dianggap berkhianat, orang yang berkhianat dianggap tapi dipercaya. Seseorang bersaksi padahal tidak diminta persaksiannya. Seseorang bersumpah padahal tidak diminta sumpahnya. Dan orang yang paling berbahagia di dunia pada waktu itu dungu bin dungu, yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya.”

Hadits ini adalah pernyataan syariat yang istibaqiyyah yang akan terjadi pada ummat Alquran dan sunnah dan sungguh hadits ini telah terjadi.

نواقض  dan نقائض saling bersamaan dikebanyakan fitnah karena nawaqid sering menyebabkan dan membuahkan terjadinya naqooid, yang konsekuensinya terjadilah kesesatan, sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam hadits nabawi.

Fitnah adalah suatu cobaan umum yang menimpan individu dan jamaah. Sebab fitnah tersebut terjadilah penyimpangan yang berlawanan dengan syariat. Salah satu arti dari fitnah adalah cobaan bagi kaum muslimin, apabila dia sabar dan ikhlas dengan cobaan tersebut maka dia akan mendapatkan pahala. Sebagaimana fitnah pada keluarga, harta dan anak. Salah satu contoh fitnah yang Allah berikan terhadap para Nabi:

“Dan sesungguhnya kami telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertaubat.” (Q.S. Shaad: 34)

Firman Allah terhadap Nabi Musa AS, “Dan kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.”  (Q.S. Thoha: 40)

Adapun fitnah yang menyesatkan adalah menyimpangnya seseorang atau suatu kelompok dari ajaran-ajaran syariat kepada ajaran-ajaran yang membantu kejelekan, dajjal dan syetan.

Adapun media perlindungan dari fitnah dan kesesatannya yatiu dengan cara memperdalam pasal-pasal ilmu fiqh dan tahawulat dan pembagiannya baik yang positif, untuk mengambil manfaat dan mengamalkannya atau negatif untuk menghindarinya. Tidak berpartisipasi di dalamnya dan meminta perlindungan kepada Allah untuk dijauhkan dari fitnahnya.

Di zaman sekarang kaum muslimin hidup di tengah-tengah fitnah yang menyesatkan dan bahkan mereka menceburkan diri mereka sendiri ke dalam fitnah yang bermacam-maca seperti, fitnah yang terdapat di politik, ekonomi, pendidikan, sekolah, kebudayaan, informasi dan mereka tidak menyadarinya, disebabkan mereka tidak mengkaji (pemahaman yang khusus tentang tanda-tanda kiamat dan fitnah yang menyesatkan).

 

Sumber: Alhabib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur. Intisari Ma’rifat Rukun Agama Keempat Serta Tanda-Tanda Kiamat Besar, Sedang dan Kecil. Diterjemahkan oleh: Muhammad Rijal Maulana

Syekh Muhammad Alawi Al-Maliki. Guru Para Ulama Abad ke-21

Posted by admin - 13 Maret 2015 - Da'i dan Dakwah
1
Syekh Muhammad Alawi Al-Maliki

Oleh: Amri Amrullah

Jumat itu, 29 Oktober 2004, azan subuh baru saja ber kumandang. Sang surya belum jua menampakkan diri. Umat Islam di Makkah dikejutkan dengan kabar wafatnya salah satu ulama karismatik abad ke-21, Syekh Muhammad Alawi al-Maliki. Kabar tersebut langsung tersiar ke seluruh penjuru dunia. Kaum Muslim telah kehilangan salah satu ulama besar.

Lahir di Makkah 1944 M, tokoh yang memiliki jalur nasab ke Rasulullah SAW tersebut dikenal kepakarannya di bidang hadis. Ia merupakan ulama yang menyebarkan prinsip-prinsp ahlussunnah wal jamaah. Ia dikenal pula sebagai ulama multidisiplin ilmu, pakar tafsir, ahli fikih, dan tasawuf. Syekh Muhammad Alawi juga dikenal sebagai ulama yang menguasai Nabawiyah.

Syekh Muhammad Alawi al-Maliki juga biasa dipanggil Sayyid Muhammad ‘Alawi Al-Maliki. Ia mengenyam pendidikan pertamanya di Madrasah Al-Falah, Makkah. Di madrasah itu pula sang ayah, Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, juga mengajar sebagai guru agama.

Sejak kecil, Syekh Muhammad Alawi sangat mencintai ilmu agama. Tak heran jika sejak belia, ia telah menggali ilmu dari para ulama terkemuka di Kota Makkah, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Syaf dan Sa’id Yamani.

Menginjak usia yang ke-25, Syekh Muhammad Alawi berhasil menyabet gelar PhD dalam studi hadis tentang penghargaan tertinggi dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Meski telah meraih gelar akademik yang sangat tinggi, ia tak pernah lelah untuk terus belajar.

Syekh Muhammad Alawi pun melanglang buana ke sejumlah Negara demi memperkuat ilmu hadis yang dikuasainya. Sejumlah wilayah yang disambanginya, antara lain, Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman dan juga anak benua Indo-Pakistan. Perjalanan jauh itu ditempuh demi memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashur al-Haddad, Syekh Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Maroko, Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, dan Maulana Zakariyya Kandihlawi.

Setelah menguasai ilmu agama, ia lalu melanjutkan perjuangan dakwah yang telah dilakukan ayahandanya, yakni membina para santri dari berbagai daerah dan Negara di Makkah al-Mukarromah. Sejak kecil, Syekh Muhammad Alawi selalu dibawa ayah saat menjalankan tugas dakwahnya. Selain mengajar di Tanah Suci, sang ayah juga sering berdakwah ke Thaif dan Jeddah.

Syekh Muhammad Alawi benar-benar melanjutkan jejak sang ayah. Ada ciri khas dari Syekh Muhammad Alawi, ia selalu menggunakan pakaian adat, jubah, sorban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan adan dikenakan Asyraf Makkah.

Selain mengajar para santri yang datang dari berbagai penjuru dunia di Masjidil Haram, Syekh Muhammad Alawi juga diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz-Jeddah dan Universitas Ummul Qura Makkah. Ia mengajar ilmu hadis dan usuluddin.

Ia lalu memutuskan berhenti mengajar di kedua universitas terkemuka itu dan memilih mengajar di rumahnya. Dari rumahnya, Syekh Muhammad Alawi telah mencetak ulama-ulama yang menjadi pendakwah di berbagai benua, yakni Asia, Afrika, hingga Eropa dan Amerika.

Sayyid Muhammad al-Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih- lebihan, serta selalu menerima dialog dengan hikmah dan nasihat yang baik. Ia pun sering kali menemukan pendapat yang berbeda dalam keilmuan, namun semua ia terima dengan hikmah. Ia memecahkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang benar bukan dengan emosi serta pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan.

Syekh Muhammad Alawi paham benar bahwa perseturuan di kalangan ulama merupakan satu kelemahan umat Islam. Menurut dia, perpecahan di kalangan ulama adalah agenda yang kerap kali diciptakan musuh-musuh Islam.

Ia berupaya untuk menghindari perseteruan. Tak heran bila saat Syekh Muhammad dilarang mengajar di Masjidil Haram, ia memutuskan untuk fokus mengurus halaqah ilmu yang pernah diasuh oleh ayahandanya, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki. Halaqah ini menjadi rujukan bagi umat Islam dari penjuru dunia. Tak terkecuali Indonesia.

Syekh Muhammad Alawi memang ulama yang luar biasa. Selain sebagi da’I, pengajar dan penceramah, ia juga seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semua beredar di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Guru para ulama abad ke-21 itu dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la, Makkah, di samping makam istri Rasulullah SAW. Meski telah tiada, namun namanya tetap hidup melalui kitab-kitab yang dituliskannya selama hidup.

 

Sumber: Koran Harian Republika, Ahad 8 Maret 2015, Hlm. 23.

Sumbangan Madzhab Al-Asy’ari dalam Ilmu Hadis

Posted by admin - 30 Agustus 2014 - Da'i dan Dakwah
0

Oleh: Kholili Hasib

Inpasonline.com – Keberadaan Madzhab al-Asy’ari tidak boleh dipandang miring, keliru apalagi sesat. Para ulama pengikutnya berperan membangun peradaban dan ilmu pengetahuan Islam. Termasuk dalam bidang ilmu hadis. Kontribusi para ulama madzhab al-Asy’ari terhadap perkembangan ilmu musthalah hadis tidak dapat diabaikan. Bahkan menurut catatan al-Baghdadi, mayoritas ulama ahli hadis menganut madzhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari.

Dalam kitabnya Ushul al-Din, Abu Mansur al-Baghdadi berpendapat: “Tak seorang pun dari ahli kalam yang memiliki pengikut sebanyak beliau, karena semua ahli hadits dan semua ahl al-ra’yi yang tidak mengikuti Mu’tazilah adalah pengikut madzhabnya” (al-Baghdadi, Ushul al-Din, hal. 309).

Pendapat ini diperkuat oleh Imam Tajuddin al-Subki yang mengatakan: Wa huwa ya’nī madzhaba al-Asyā’irah, madzhabul muhadditsīn qadīman wa hadītsan (Dan ia, yakni madzhab Asya’irah adalah madzhab para ahli hadits dari dulu dan sekarang”. (al-Subki, Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubra, juz 4, hal. 32).

Informasi tersebut juga dapat dibaca dalam kitab Tadzkirah al-Huffazh karya Imam al-Dzahabi dan Tabaqat al-Huffadz karya Imam al-Suyuthi. Dalam kitab ini juga didapati selain ahli hadis banyak yang bermadzhab al-Asy’ari di bidang akidah, mereka juga bermadzhab Syafi’i dalam bidang fikih.

Dukungan dan legitimasi para ahli hadis terhadap madzhab al-Asy’ari menjadi kekuatan tersendiri. Sehingga madzhab al-Asyari kemudian diikuti oleh para sufi dan ahli fikih.

Imam Abu Hasan al-Asy’ari juga turut membantu pengikut Imam Ahmad bin Hanbal dalam menghalau mu’tazilah. Sejak tragedi yang disebut mihnah al-Qur’an di zaman imam Ahmad hingga generasi para pengikutnya, mu’tazilah menghegemoni sebagian pemikir. Hingga tampil imam Abu Hasan al-Asy’ari menghalau mu’tazilah dengan logika-logika Kalam yang belum digunakan imam Ahmad. Keberhasilan Kalam imam Asy’ari ini disambut oleh pengikut madzhab Hanbali generasi awal dan para ahli hadis. Keberhasilan imam Abu Hasan al-Asy’ari menangkis logika-logika sesat mu’tazilah secara rasional itu menambah garansi para ahli hadis untuk diikuti.

Tercatat para ahli hadis yang bermadzhab Asy’ari banyak yang memberi sumbangan dalam penyusunan ilmu musthalah hadis. Pada awal abad ketiga hijriyah pembahasan ilmu musthalah hadis dan kaidah-kaidahnya belum tersusun rapi sistematis dalam satu naskah. Baru pada tahun-tahun berikutnya Imam Ali bin al-Madini, guru imam al-Bukhari, disebut sebagai ulama yang pertama kali menyusun ilmu hadis secara sistematis (Musthafa Assiba’i, al-Hadis Sebagai Sumber Hukum Serta Latar Belakang Historisnya, hal. 172).

Kemudian tampil al-Hafidz Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi seorang ahli fikih, sejarah dan hadis bermadzhab Asy’ari. Beliau dicatat sebagai perintis dalam penulisan ilmu dirayah hadis (ilmu kritik hadis). Al-Baghdadi menyusun kaidah-kaidah rawi dalam kitabnya al-Kifayah fi ‘ilmi Riwayah. Kaidah-kaidah menerima dan menyampaikan hadis ditulis oleh al-Baghdadi dalam kitabnya berjudul al-Jami’ li Adabis Syaikhi wa al-Sami’. Dua kitab ini merupakan kitab induk ilmu dirayah. Sebab, kitab-kitab tentang ilmu dirayah setelah generasi al-Baghdadi kebanyakan menginduk kepada al-Baghdadi ini (Muhammad Idrus Ramli, Madzhab al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah wal Jama’ah, hal. 133).

Ulama madzhab Asy’ari lainnya yang memberi kontribusi dalam ilmu hadis di antaranya al-Qadhi Iyadh al-Andalusi al-Maliki. Seorang ahli fikih, teologi, sastra dan qadhi di Andalusia. Kitabnya al-Syifa bi Ta’rifi Huquqi al-Musthafa, kitab tentang keagungan Rasulullah Saw, banyak mengutib pembesar madzhab al-Asy’ari yaitu al-Baqilani dan imam al-Haramain.

Karya ilmu hadisnya yang terkenal adalah al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul al-Riwayah wa Taqyid al-Sima’. Kitab ini merupakan karya tentang ilmu riwayah dengan menjadikan kitab al-Kifayah fi ‘ilmi Riwayah yang ditulis oleh al-Khatib al-Baghdadi sebagai referensinya. Selain itu, terdapat karya kitab hadis lainnya yaitu; Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, al-Ikmal fi Syarh Shahih Muslim, dan Syarh Hadis Umm Zar.

Setelah generasi Qadhi Iyadh dan Ibnu Shalah, terdapat karya ilmu hadis yang sistematis yaitu, Ikhtisharu Ulumi al-Hadis, ditulis oleh al-Hafidz Ibnu Katsir. Seorang mufassir yang pakar hadis bermadzhab Asy’ari. Dalam kitab Tafsirnya, kita dapati pendapatnya mengikuti metodologi tafwidh dan ta’wil. Kitab Ikhtisharu Ulumi al-Hadis disambut baik para ulama sebagai referensi mempelajari musthalah hadis. Kitab ini disyarh oleh Ahmad Muhammad Syakir dengan judul Alba’itsul Hatsits. Dalam bidang Jarh wa Ta’dil Ibnu Katsir menulis kitab berjudul al-Takmil fi Ma’rifati Tsiqat wa Dhu’afa wa Majahil. Dalam ilmu jarh wa ta’dil Ibnu Katsir berpendapat bahwa untuk menetapkan cacat tidaknya seorang rawi diperlukan pencantuman argumentasinya. Argumentasi ini menurut Ibnu Katsir harus mengandung deskripsi latar belakang kehidupan rawi selengkapnya, sehingga setiap orang yang menganalisisnya menempatkan masalahnya dalam konteks yang tepat.

Karya ilmu musthalah Ibnu Katsir kemudian diteruskan oleh al-Hafidz Zainuddin al-Iraqi dalam kitabnya berjudul al-Fiyat al-Hadis, kitab musthalah hadis dalam bentuk nadzam (syair) sebanyak seribu bait.

Al-Hafidz Zainuddin al-Iraqi diakui sebagai ulama yang menguasai berbagai cabang ilmu hadits. Terutama dalam bidang takhrij hadits. Beliau lah yang berjasa mentakhrij hadits dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin. Karya hadis lainnya adalah; al-Taqyid wa Idhah lima Ubhima wa Ughliqa min Muqaddimat Ibn al-Shalah kitab berisi penjelasan terhadap kitab musthalah hadits karya Ibn Shalah (Muhammad Idrus Ramli, Madzhab al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah wal Jama’ah, hal. 133).

Imam al-Daruqutni al-Asy’ari juga disebut di antara jajaran pelopor ilmu Jarh wa Ta’dil. Al-Hafidz al-Imam al-Daruqutni menulis kitab hadis Sunan al-Daruquthni, al-‘Ilal dan al-Afrad. Kitab al-‘Ilal membahas tentang rawi-rawi yang dha’if. Kitab ini menjadi salah satu rujukan penting dalam ilmu jarh wa ta’dil.

Di jajaran perawi hadis kita juga mengenal Imam al-Baihaqi. Selain ahli hadis beliau ahli kalam. Metodologi kalamnya yang mengikut imam Asy’ari dapat dibaca dalam kitabnya berjudul al-I’tiqad wa al-Hidayah ila Sabil al-Rasyad dan al-Asma’ wa al-Sifat. Di dalam ilmu hadis, beliau menulis Takhrij Ahadits al-Umm, al-Sunan al-Kubra, Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar.

Selain itu terdapat Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam al-Suyuthi dan Imam al-Nawawi, ulama madzhab al-Asy’ari yang karya hadisnya sangat dikenang oleh generasi ulama setelahnya.

Ibnu Hajar al-Asqalani bahkan dikenal dengan gelar Amir al-Mu’minin fi hadits, Imam al-Huffadz (pemimpin para ahli hadits) dan hafidz al-Dunya Muthlaqan (hafidz kaliber sedunia secara mutlak).

Imam Jalaluddin al-Suyuthi menulis karya hadits yang popular di kalangan ulama hingga kini yaitu, al-Jami’ al-Shaghir, Jam’ul Jawami’,dan Tadrib al-Rawi. Beliau mendapat gelar al-musnid, al-hafidz, al-ushuli dan lain-lain.

Sumbangan tak kalah pentingnya diberikan oleh Imam al-Hafidz al-Nawawi al-Asy’ari. Dalam bidang hadis beliau menyandang gelar agung al-hafidz al-auhad (hafidz satu-satunya). Kontribusinya dalam bidang hadis beliau menulis syarh (penjelas) Shahih Muslim, Syarh al-Bukhari, al-Adzkar, al-Arba’in al-Nawawiyah, al-Irsyad fi Ulumi al-Hadits, Taqrib wa al-Taisir. Kitab-kitab teresebut mendunia, digunakan oleh berbagai kalangan kelompok.

Selain yang disebut di atas, masih banyak lagi yang ikut berperan membangun dan mempelopori perkembangan ilmu hadis. Baik dalam bidang ilmu riwayah, dirayah dan jarh wa ta’dil. Atas jasa agung ini madzhab al-Asy’ari berabad-abad lamanya diikuti para ulama membangun ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.

Habib Idrus bin Salim Aljufri

Posted by admin - 3 Mei 2014 - Da'i dan Dakwah
0
Habib Idrus bin Salim Aljufri

Oleh: Dr. Ali Hasan Aljufri

Kehidupannya adalah kehidupan ilmu, pendidikan dan dakwah di jalan Allah.  Beliaulah pendiri madrasah Alkhairaat di kepulauan Timur Indonesia. Keturunan beliau adalah ad-da’I (pendakwah) atau juru dakwah. Nama lengkapnya adalah As-Sayyed Idrus bin Salim bin Alwi bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi Al-Khawasah bin Abubakar Aljufri Al-Husain Al-Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra Puteri Rasulullah saw. Kelahirannya hari senin Sya’ban 1309 H di Taris Hadramaut, sebelah selatan Yaman.

Beliau berasal dari keluarga yang baik, berilmu, beramal, bertaqwa dan lemah lembut. Tiada dari kalangan mereka, selain ulama yang muslih  dan da’i. Ayahnya Habib Salim seorang ilmuwan dan tokoh yang memiliki banyak karangan dan tulisan dari berbagai bidang ilmu,  ia memegang jabatan  Qadhi dan mufti di negerinya. Kakeknya Habib Alwi adalah pemimpin dan ilmuwan yang masyhur, termasuklimaahli fiqh Hadramaut yang  fatwa mereka termuat dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayyed  Abdurrahman AlMasyhur. Kakeknya yang kedua Al-Habib Saqqaf diantara ulama yang terkenal dari dua faqih dan memegang jabatan Qadhi di Hadramaut.

Habib Idrus belajar ilmu agama dan bahasa bermula dari ayahnya Al-Allamah  Salim bin Alwy Aljufri termasuk pula ulama-ulama  lain yang berada di Hadramaut. Beliau hidup dan besar dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan senantiasa melazimi para ulama serta mengambil dan menimbah ilmu dari sumber yang murni, maka jadilah beliau pakar dalam ilmu-ilmu agama dan bahasa, sehingga beliau dilantik menjadi Qadhi dan Mufti di Taris negerinya menggantikan ayahnya

Perjalanannya ke Indonesia yang pertama kali ketika beliau berumur kurang lebih 17 tahun. Dan perjalanannya yang kedua di tahun 1922 terjadi akibat perjuangan politiknya untuk membebaskan negaranya dari penjajahan Inggris. Beliau bersama sahabatnya Habib Abdurrahman bin Ubaidillah As-Saqqaf, keduanya merupakan tokoh agama dan wakil dari para ulama lain yang memelopori perjuangan kemerdekaan, mereka membenci penjajah dan konco-konconya serta suasana kacau yang berkembang di Hadramaut khususnya wilayah Arab sebelah Utara secara keseluruhan. Keduanya bersepakat  untuk menyalakan api perlawanan terhadap penjajah dan konco-konconya dan mereka adalah orang yang pertama kali menghidupkan api tersebut.

Mereka berpendapat bahwa berhubungan dengan Negara-negara Arab yang merdeka dan dunia luar adalah sesuatu yang amat penting untuk merubah keadaan di dalam negeri sekaligus memerdekakan negara secara total. Maka tugas politik yang sangat berbahaya itu di serahkan kepada Habib Idrus. Beliau memutuskan untuk keluar melalui pelabuhan Aden selanjutnya ke Yaman dan Mesir dengan tujuan untuk menjelaskan keadaan negerinya kepada masyarakat Arab dan dunia secara keseluruhan. Beliau mengetahui bahwa perbuatannya itu membahayakan jiwanya karena inteligen Negara dan mata-mata pemerintahan Inggris terus memperhatikan gerak-geriknya, akan tetapi perjalanan itu harus dilakukan. Setelah segala perlengkapan dan rancangan disiapkan dengan tepat dan matang serta penuh kehati-hatian tersebut hampir membuahkan hasil, jika tidak disebabkan oleh penghianat yang mengambil kesempatan untuk keuntungan pribadi membocorkan rahasianya. Setelah beliau sampai di bandara Aden, tiba-tiba beliau di tangkap kemudian dokumen-dokumen yang ada padanya dirampas serta mendapat larangan dari pemerintah Inggris untuk tidak keluar dari bandara Aden dengan tujuan ke Negeri Arab akan tetapi diizinkan untuk kembali ke Hadramaut atau pergi ke Asia Tenggara. Maka beliau memutuskan untuk pergi ke Indonesia.

Beliau masuk ke Indonesia   dan menetap di Pekalongan untuk beberapa waktu lamanya dan menikah dengan pasangan hidupnya Sy. Aminah binti Thalib Aljufri dan bersama menikmati pahit manisnya kehidupan. Ketika itu beliau berdagang kain batik tetapi tidak mendapat kemajuan karena cintanya kepada dunia pendidikan melebihi dari segala-galanya. Kemudian beliau meninggalkan perdagangan dan beliau pindah ke Solo, beliau dilantik sebagai Guru dan Kepala Sekolah di Madrasah Rabithah Al-Alawiyyah. Setelah beberapa tahun beliau pindah ke Jombang  dan tinggal beberapa lama di sana. Kemudian beliau memulai perjalanannya ke Timur Indonesia untuk memberi petunjuk dan berdakwah di jalan Allah hingga sampailah beliau di Palu yang kala itu bernama “Celebes” pada masa penjajahan Belanda. Setelah beliau masuk di negeri tersebut terlihat olehnya gerakan misionaris Kristen yang mendapat tempat dan pengikut yang banyak dari penduduk muslim yang awam. Karena kurang hidupnya dakwah islamiyah di negeri itu bahkan hampir  tidak terdapat  da’i Islam yang mengimbangi gerakan misionaris yang menentang Islam. Beliau memikul tanggung jawab ini dan masuk  melaksanakan dakwah,menentang musuh-musuh, karena semangat Islam dan tanggungjawabnya yang pertama sebagai seorang muslim dan kedua sebagai seorang yang alim.

Al-Ustadz berpendapat bahwa sebaik-baik cara untuk menentang gerakan misionaris adalah sesuai dengan firman Allah : (“serulah ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan peringatan yang baik serta berdialog (berdebatlah) dengan cara yang baik”) dan juga dari sabda Nabi Saw : (“Mudahkanlah dan jangan menyusahkan, berilah kabar gembira dan jangan menakut-nakuti”). Dengan demikian cara penyebaran ilmu dan budaya Islam haruslah dengan jalan yang mudah dan cara yang bijak melalui pembukaan sekolah dan majlis Ta’lim untuk menghimpun anak-anak Islam.

Bangunan sekolah yang pertama adalah di bangun atas biaya beliau sendiri di kota Palu yang sekarang menjadi Ibukota Sulteng salah satu wilayah yang terletak di Timur Indonesia, yang merupakan sekolah Islam yang pertama di Negeri Palu dan kemudian berkembang menjadi cabang-cabang mencapai ratusan madrasah tersebar di kota-kota dan kampong-kampung di bagian Timur   Indonesia yang diberi nama “ALKHAIRAAT”, dengan harapan optimis dan keberkatan dari nama tersebut yang banyak kali di sebut dalam Al-Qur’an dan secara resmi madrasah tersebut di buka pada tanggal 14 Muharram 1349 H bertepatan dengan 11 Juni 1930. dan pada peresmian itu di hadiri oleh para pemuka-pemuka Arab yang tinggal di Palu dan sebagian petinggi-petinggi negeri.

Ustadz telah memertaruhkan seluruh hidupnya dalam mengarungi perjalanan panjang dengan berbagai   sarana ke kepulauan di sekitar Sulawesi dan Muluku untuk menyiarkan pengetahuan Islam. Beliau berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain menggunakan parahu sampan dengan bermacam resiko, tantangan dan bahaya yang selalu mengancam di setiap saat. Akan tetapi Ustadz yang dirahmati Allah selalu merasakan kenikmatan di antara pertaruhan jiwanya dan beliau rela memberikan apa saja meski jiwanya sekalipun. Beliau tabah dalam mengarungi pelayaran itu sampai berbulan-bulan lamanya. Dan kadang-kadang perjalanan itu di tempuh dengan berjalan kaki jika tidak mendapatkan alat-alat transportasi.

Akhir kata, semua perjuangan beliau terus dilakukannya hingga akhir hayat dengan tetap mengajar dan berdakwah di jalan Allah, walaupun harus mengorbankan semua yang berharga yang ada pada dirinya. Beliau berpulang  pada  12 Syawal 1389 H bertepatan dengan tahun 1969 M, setelah beliau berikan bagi umat Islam suatu pelayanan  demi pembelaannya terhadap Islam. Maka berhembuslah rohnya yang suci dan seolah-olah berkata :”79 tahun aku berjuang semasa hidupku dengan memuji Allah aku telah beramal. Lihatlah madrasah-madrasah yang ada di seluruh penjuru negeri menjadi saksi bahwasannya ucapan dan perbuatanku tidaklah sia-sia.

Habib Ali Aljufri: Menghadirkan Hati Saat Memasuki Masjid

Posted by admin - 5 Maret 2014 - Da'i dan Dakwah
0
Habib Ali Aljufri

Sesungguhnya setiap orang yang melakukan shalat itu adakalanya termasuk dari golongan “gembirakan kami dengannya”, yakni golongan yang hatinya dipenuhi rasa kerinduan kepadanya, dipenuhi dengan kerinduan terhadap kedatangan waktunya, sehingga, bila telah datang waktunya, di saat-saat itulah datang kebahagiaan hatinya. Atau adakalanya ia termasuk dari golongan“…gembirakan kami dengan segera berlalunya ia”, yakni mereka yang memandang shalatnya sebatas utang yang harus dibayar, sehingga ia merasa senang dan bahagia apabila telah melunasinya dan tidak lagi ditagih karenanya. Atau adakalanya ia termasuk ke dalam golongan orang yang tidak merasakan apa pun, tidak yang ini dan tidak pula yang itu! Dan mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan “gembirakan kami dengannya”, dengan izin Allah SWT.

Selanjutnya pengasuh menjelaskan perkara yang dapat menolong dan membantu kita untuk dapat hadir bersama Allah SWT di saat takbiratul ihram (Allahu Akbar) yakni merasakan masuk ke dalam masjid dengan penuh penghormatan dan pengagungan.

Dalam hal ini terdapat adab-adab yang diajarkan oleh Nabi SAW yang kebanyakan kita menganggapnya kecil, padahal tidak ada satu pun yang kecil dari adab-adab Nabi SAW.

Ketika Nabi SAW mengajarkan kepada kita, di saat masuk masjid, masuklah dengan kaki kanan dan ketika keluar keluarlah dengan kaki kiri, sesungguhnya perkara yang dituntut bukanlah se-kadar tentang perkara kaki yang didahulukan dan kaki yang diakhirkan. Tidak… tidak demikian adanya! Perkara yang dituntut sesungguhnya adalah menghadirkan makna di saat engkau melatih nafsumu bahwa di saat memasuki masjid janganlah engkau menjadikan masukmu itu sebatas masuk yang bagaimanapun adanya dan seperti apa pun rupanya tanpa makna apa pun. Ketika engkau masuk dengan kaki kanan atau dengan kaki kiri sekehendak nafsumu, itu hanya akan menjadi masuk yang biasa saja, sebatas langkah biasa yang engkau lakukan. Akan tetapi ketika engkau masuk ke dalam masjid dengan mendahulukan kaki kanan, pada saat itu terdapat makna bahwa engkau tengah mengendalikan dan melatih nafsumu untuk senantiasa berittiba kepada Baginda Mushthafa Rasulullah SAW dan engkau merasakan bahwa engkau sedang masuk ke suatu tempat yang berbeda, bukan tempat yang biasa, karenanya engkau lalu memuji Allah SWT, bershalawat kepada Baginda Nabi SAW, dan memohon kepada Allah SWT untuk membukakan pintu-pintu rahmat-Nya, engkau ucapkan, “Allaahummaftah abwaaba rahmatika, a-`uudzu billaahil-`azhiim wa wajhihil-kariim wa sulthaanihil-qadiim minasy-syaithaanir rajiim (Ya Allah, bukalah segala pintu rahmat-Mu. Aku berlindung kepada Allah, Yang Maha Agung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang qadim dari setan yang terkutuk).” Setelah itu masuklah ke dalam masjid.

Salah seorang pedagang akhirat dari guru-guru kami berkata, “Wahai anak-anakku, aku berwasiat kepada kalian, apabila kalian masuk ke dalam masjid, sebelum masuk hadirkan dan rasakanlah, meskipun hanya sesaat, ke manakah kalian akan masuk?”

Itulah sebabnya, jangan sekali-kali masuk ke dalam masjid sekehendak nafsu dan keinginanmu. Mengapa engkau mendahulukan kaki kanan? Para ulama menjelaskan, agar engkau merasa dan hadir di dalam hatimu makna bahwa engkau datang kepada Allah SWT, engkau masuk ke rumah Allah SWT. Bagaimana semestinya dan bagaimana caranya seseorang masuk ke dalam rumah Kekasih Tercinta-nya? Bagaimana semestinya adab dan ketawadhuan seseorang ketika masuk ke dalam rumah Yang Maharaja dari segala raja?

Setelah itu, para ulama mengatakan, niatlah i‘tikaf selama engkau berada di dalam masjid. Karena perbedaan orang yang berniat i‘tikaf dan yang tidak meniatkannya adalah bahwa yang meniat-kannya akan mendapatkan berbagai kebajikan khusus yang hanya didapatkan bagi orang-orang yang beri‘tikaf. Makna lainnya adalah bahwa pada saat itu ia sedang berada di sisi Allah SWT, maka ia akan mendapatkan berbagai penghormatan dan kemuliaan dari Allah SWT.

Sebagian guru kami mengatakan, perbedaan antara nafilah (sunnah) dan faridhah (wajib) adalah tujuh puluh derajat. Satu faridhah pahalanya adalah sama dengan tujuh puluh kali nafilah. Ke-mudian perhatikan, apabila engkau berniat i‘tikaf selama engkau berada di dalam masjid, ini termasuk nafilah atau fardhu? Jawabanya tentu nafilah. Akan tetapi bila sebelum berniat i‘tikaf engkau bernadzar untuk i‘tikaf selama berada di masjid, sesungguhnya nadzar itu membuat yang nafilah menjadi faridhah dan pahalanya pun pahala faridhah. Karenanya bila engkau katakan “Aku bernadzar untuk i‘tikaf selama aku berada di dalam masjid”, jadilah i‘tikaf yang engkau nadzarkan itu sebagai fardhu dan akan mendapatkan pahala ibadah fardhu.

Perhatikanlah makna-makna persiapan yang menjadi konsentrasi kita dalam pembahasan kali ini. Adab masuk ke masjid akan banyak membantumu bersiap diri menuju shalat. Karena dengan adab-adab itu hatimu telah hadir dan merasakan bahwa saat itu engkau telah berada bukan pada keadaan yang biasa, engkau akan menghadap Allah SWT. “Aku sekarang sedang menuju Allah SWT… mendekat kepada Allah SWT.”

Di kala seorang anak teramat rindu untuk bertemu ibunya setelah sekian lama terpisah dan tak berjumpa dan demikian pula sang ibu kepada anaknya, pada awal perjumpaannya dengan sang ibu apa gerangan yang dituju dan diharapkannya dari sang ibu?

Dekapan dan pelukan sang ibu! Ya, pastilah pelukan dan dekapan sang ibu, sekalipun ia telah tua dan telah memutih pula rambutnya. Karena pelukan dan dekapan yang penuh kasih sayang sang ibu tidak akan dapat dibandingkan dengan sesuatu apa pun nilai dan harganya, yang setiap orang pasti membutuhkan dan merindukannya. Dan sungguh tidak seseorang pun merasakan itu semua melebihi mereka yang telah kehilangan ibu terkasih mereka. Dan sungguh seorang ibu pun sangat mengetahui makna untuk mendekap dan memeluk putra-putri tercintanya.

Lalu apa makna itu semua bagi seorang ibu? Tentu makna kasih sayang terdalam dari sisinya. Dan Allah pasti Mahatinggi, lebih tinggi dari itu semua, dalam memberikan kasih sayang-Nya kepada segenap hamba yang datang mendekat kepada-Nya.

Inilah makna masuknya engkau ke dalam masjid. Di kala engkau masuk ke dalam masjid, engkau merasakan, “Saat ini aku sedang masuk ke dalam dekapan rahmat Allah SWT.”

Tidakkah engkau membaca suatu hadits Rasulullah SAW yang ada tiga orang masuk ke dalam masjid Rasulullah SAW? Yang pertama, ia masuk masjid dan melihat ada shaf kosong, maka ia pun melewati orang-orang dengan sehati-hati mungkin agar tidak menyakiti dan mengganggu mereka lalu ia duduk mengisi celah shaf yang kosong itu. Yang kedua, ia merasa malu untuk me-langkahi orang-orang sehingga ia pun duduk di pojokan shaf. Sedangkan yang ketiga, karena melihat shaf yang sesak, ia pun pergi dan meninggalkan masjid. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tidakkah kalian aku khabarkan ihwal halnya tiga orang itu?”

Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”

Nabi SAW pun kemudian bersabda, “Adapun yang pertama, ia telah mendekat kepada Allah, maka Allah pun mendekatinya.” Hidupkan makna kalimat ini di dalam hatimu. Bukankah engkau menghendaki sampai kepada Allah SWT? Engkau adalah murid peniti jalan menuju Allah SWT.

Hidupkan dan rasakan makna “maka Allah pun mendekatinya” dengan membayangkan agungnya keutamaan kasih sayang dan dekapan dari seorang ibu. Makna ini pada lahirnya adalah bahwa ia mendekat kepada majelis, kepada celah shaf yang kosong, di masjid Rasulullah SAW, akan tetapi, karena maksudnya adalah keridhaan Allah SWT, jadilah mendekatnya di sini adalah kepada Allah SWT.

Adapun yang kedua, Nabi SAW bersabda, “Ia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya.” Para ulama mengatakan, barang siapa yang Allah malu kepadanya, niscaya Allah tidak akan pernah mengadzabnya. Yang pertama Allah mendekatinya dan yang ke¬dua Allah tidak mengadzabnya.

Sedangkan yang ketiga, Nabi SAW bersabda, “Dia berpaling dari Allah SWT, maka Allah pun berpaling darinya.” Ihwal orang yang ketiga ini, dia berpaling dari majelis, akan tetapi Rasulullah SAW menjadikannya sebagai bentuk keberpalingan dari Allah SWT.

Itulah sebabnya, apabila engkau masuk ke dalam masjid, rasakanlah bahwa engkau sedang menuju dan mendekat kepada Allah SWT. Bila engkau mendapati shaf yang kosong pada shaf yang pertama, isilah shaf pertama itu dengan langkah yang penuh kesopanan. Itu berarti engkau tengah mendekat kepada Allah SWT. Dan bila tidak mendapatinya pada shaf yang pertama,  malulah engkau kepada Allah SWT, janganlah engkau mengganggu orang-orang yang lebih dahulu datang dan duduk pada shaf-shaf itu. Duduklah pada shaf terakhir yang belum terisi. Dan jangan pernah engkau berpaling dari shaf sehingga Allah akan berpaling darimu.

Inilah perkara kedua yang dapat menolong dan membantumu untuk dapat hadir bersama Allah SWT di saat takbiratul ihram (Allahu Akbar), yakni merasakan dan menghadirkan makna ketika masuk ke dalam masjid dengan penuh penghormatan dan pengagungan. “Selama aku berada di dalam masjid, aku sedang berada di sisi Allah SWT.” Karenanya tak patut adanya amarah atau saling berdesakan meskipun dalam hal kebajikan, bahkan tidak pula dalam mencium Hajar Aswad, bahkan walau dalam masuk ke dalam Ka`bah sekalipun. Yang mesti diutamakan adalah tenang dan penuh kekhusyu’an dan penghormatan.

Alkisah, setelah rombongan haji yang berangkat bersama Rasulullah SAW meninggalkan Arafah dan menuju Muzdalifah, kalian tahu berapa jumlah rombongan kaum muslimin kala itu? Jumlah mereka adalah 120.000 jama’ah. Jumlah 120.000 kaum muslimin, dapatkah kalian bayangkan bagaimana keadaan mereka di saat jalan bersama? Di kala itu Nabi SAW melihat rombongan saling berdesakan dan dorong-mendorong di antara mereka, maka Nabi SAW pun bersabda, “Tenang, tenang…” Hanya dua kata itu yang terucap dari Rasulullah SAW, serentak mereka pun tenang seketika itu juga. Mereka berkata, “Bahkan orang yang telah memacu hewan tunggangannya pun agar mempercepat langkahnya, sontak berhenti dan tidak lagi memacunya, sehingga semuanya berjalan dengan perlahan dan tenang.

Di rumah Allah SWT, hidupkanlah makna ini, tenang, karena engkau sedang berada di hadirat Allah SWT.

Sumber: di sini

Habib Utsman bin Yahya, Sang Mufti Betawi

Posted by admin - 13 Februari 2014 - Da'i dan Dakwah
1
Habib Utsman bin Yahya

Dulu, pada 19 Januari 1914 ada seorang ulama di  Jakarta yang meninggal dunia. Sekitar 10 ribu orang berdesak-desakkan turut mengantarkan jenazahnya untuk dimakamkan di pekuburan Tanah Abang. Banyak diantara mereka yang bersedih dan menangis. Para ulama dan habib sibuk membacakan zikir dan doa mengiringi jenazah sampai ke tempatnya. Bahkan, hampir semua pejabat kolonial Belanda di Batavia turut serta menghadiri proses pemakamannya.

Ulama itu bernama Habib Utsman bin Yahya. Orang mengenalnya dengan sebutan Mufti Betawi. Dalam sejarah Islam di Jakarta, terutama pada abad ke-19, nama ini pasti muncul dan menjadi rujukan. Ia dikenal sebagai penulis Kitab Sifat Dua Puluh; kitab pengajaran tentang siaft-sifat Tuhan dalam teologi Islam. Ia juga dikenal karena kritiknya terhadap budaya dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan syariat dan kepercayaan Islam. Habib Utsman bahkan menjadi guru dari hampir seluruh ulama di Jakarta. Di antara mereka adalah Habib Ali Al-Attas (Kwitang) dan Guru Mughni.

Namun, ulama ini juga dianggap sangat kontroversial. Azyamurdi Azra yang melakukan studi terhadapnya mengatakan bahwa di antara ulama Hadrami, Habib Utsmanlah yang sangat kontroversial. Mengapa? Karena ia dianggap telah bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Data sejarah menyebutkan, Habib Utsman pernah bekerja sama dengan Snouck Hurgronje. Ia juga pernah mengkritik jihad terhadap pihak Belanda oleh petani Banten 1888. Bahkan, ia sendiri pernah membacakan doa untuk Ratu Belanda di masjid.

Sebagai ulama dari Hadramaut, Habib Utsman tidak datang langsung dari sana. Ia dilahirkan di Jakarta pada 1822. Ayahnya, Abdullah, adalah menantu dari ulama terkemuka pada masa itu, Syekh Abdurrahman al-Mishri. Menurut sejarah, al-Mishri, Syekh Abdus Shamad al-Falimbani, dan Syekh al-Banjari adalah tiga sekawan selama dan sesudah perjalanan intelektual mereka di Timur Tengah.

Sebagai cucu dari ulama terkemuka, Habib Ustman mendapat pelajaran penting, baik dalam bidang hukum, sejarah, etika, bahkan astronomi. Kakeknya, al-Mishri, memang dikenal sebagai ahli astronomi (ilmu falak) bersama al-Banjari. Nama terakhir pernah menulis satu buku tentang kesalahan arah kiblat masjid-masjid di Jakarta. Bahkan, al-Mishri pernah memperbaiki arah kiblat Masjid Agung Palembang.

Seperti orang lain, Habib Utsman juga berangkat ke Timur Tengah untuk menimba ilmu. Ia sempat berguru kepada Syekh Ahmad Zaini Dahlan, seorang mufti Mazhab Syafi’I di Kota Makkah. Di Hadramaut, ia juga berguru kepada banyak habib. Salah satunya adalah Habib Abdullah bin Husein bin Thahir yang juga menjadi guru dari Syekh Nawawi Banten. Bukan hanya itu, sebuah buku biografi tentang Habib Utsman, Suluh Zaman, bahkan menjelaskan perjalanan intelektualnya ke Mesir, Tunisia, Maroko dan Turki.

Habib Utsman banyak meninggalkan karya tulis dalam berbagai bidang. Dalam catatan perpustakaan negara kita, karya tulis Habib Utsman berkisar tentang masalah hukum agama, etika, sejarah, bahasa, teologi, sosial keagamaan, dan sebagainya. Ini menjadi bukti betapa tokoh ini menjadi sangat penting dalam kajian sejarah sosial-intelektual Islam di Indonesia. Bukunya al-Qawanin al-Syar’iyyah masih menjadi rujukan dalam sistem peradilan agama di Indonesia, setidaknya sampai 1950-an. Lebih dari itu, mesin cetak litografis miliknya adalah yang pertama di Indonesia dan menjadi pilar penyebaran intelektual di masyarakat nusantara.

Habib Utsman memang ulama yang sangat kontroversial. Ia dipuji sekaligus dikecam. Dipuji karena konsekuensinya dalam mengecam tradisi bid’ah dan karafat, tetapi dikecam karena keterlibatannya dengan pemerintah kolonial. Keulamannya juga diakui semua kalangan, walaupun tidak jarang banyak tudingan miring diarahkan kepadanya.

Kontroversi terhadapnya semakin jelas ketika ia mendapat gelar dan medali penghormatan dari pemerintah kolonial. Ia dituduh sebagai kaki tangan dan mata-mata Belanda. Karya-karyanya dibeli dan disebarluaskan untuk mendukung status quo pemerintah. Ia bahkan hadir di suatu perayaan pejabat Belanda dan pernah membacakan doa keselamatan untuk Ratu Belanda. Tapi, betulkah sikap akomodatif ini menunjukkan pengkhianatan Habib Utsman?

Kita perlu bertanya mengapa sayyid atau Habib Utsman tidak setuju terhadap upaya Kaum Muslim melakukan jihad terhadap pemerintah Belanda. Azyumardi Azra mensinyalirnya dengan mengatakan sikap akomodasionis Habib Utsman tersebut memiliki preseden historis. Menurutnya, selain mendukung penguasa non-Muslim di tanah Muslim, orang-orang Hadramaut di Hindia Belanda juga cenderung mengabaikan penindasan Belanda kepada Kaum Muslim pribumi sepanjang kepentingan mereka tidak dalam bahaya.

Sikap seperti ini juga dimiliki Sayyid Utsman, terutama karena dia adalah seorang ulama yang lebih berorientasi syariat. Sayyid Utsman tidak henti-hentinya menunjukkan bahwa orang mungkin tetap setia kepada Pemerintah Eropa di nusantara sambil menjalankan ibadah agama Islam. Harapan untuk melaksanakan ibadah dengan damai bagi anak-anak negeri tampak dari pernyataan Sayyid Utsman terhadap pemerintah yang telah mengangkat dan memberikan gaji kepada para hakim agama.

Sayyid Utsman juga sangat menaruh harapan kepada pemerintah Belanda untuk tetap tidak mencampuri urusan dalam agama Islam, terutama tidak mencegah orang Islam melakukan ajaran agamanya.

Sumber: Noufal, Muhammad. Habib Utsman bin Yahya. Republika, 2 Februari 2014.

Strategi Dakwah Islam di Era Global (Bagian 2)

Posted by admin - 30 Desember 2013 - Da'i dan Dakwah
0
Prof. Dr. Achmad Satori Ismail

Oleh: Prof. Dr. Achmad Satori Ismail *)

 

Mencari Solusi Menghadapi Tantangan Global

Sesungguhnya Allah SWT Maha Bijaksana, mengaitkan sebab dengan akibat. Apabila orang-orang Islam menempuh jalan yang lurus dalam memperjuangkan agama Islam niscaya mereka akan sampai kepada tujuan yang diinginkan dan memetik buah yang diidamkannya.

Sebaliknya bila mereka berjalan sembarangan tanpa perencanaan yang matang dan mereka berpecah belah menjadi berbagai golongan, setiap golongan berjalan sendiri-sendiri, niscaya akan lemahlah mereka dan hilanglah kekuatan mereka dan akhirnya mereka akan menyesal dan merugi.

Kita sering melihat orang-orang yang mengaku memiliki ghirah terhadap Islam tetapi mereka tidak mencanangkan upaya-upaya yang biasa mengantarkan mereka ke arah tujuan yang diidamkan, akan tetapi mereka melewati jalan yang berliku-liku yang tidak dapat merealisir cita-cita dan tidak mengantarkan mereka kepada pulau idaman. Di kalangan umat Islam terdapat individu-individu dan golongan-golongang yang mengaku sebagi shufi. Mereka duduk dikelilingi orang banyak, lantas mereka merasa cukup dengan nasihat-nasihat dari Majlis saja. Keadaan mereka sebelum masuk ke dalam majlis tidak berubah dan tidak ada perubahan yang dicapainya, tidak ada kekeliruan yang diluruskan dan tidak ada perbuatan salah yang dibetulkan.

Mereka mengira bahwa dengan cara demikian ini, telah melaksanakan kewajiban dakwah dan menyangka bahwa para pengikutnyapun dianggap cukup baik bila bersikap seperti muslim sekarang ini. Dan mereka merasa bangga bahwa dia dari kelompok si Fulan dan golongannya si Fulan…

Ada sebagian dari umat ini. bila disuruh berbuat baik ataupun dicegah dari kemungkaran senantiasa berdalih bahwa zaman telah rusak dan rumah tanggapun telah bejat, sehingga mereka tidak mampu untuk melepaskan diri dari kerusakan tersebut.

Ada kelompok lain yang ingin berkhidmah kepada Islam, kemudian menulis, berkhutbah, merancang program dan menempuh jalan sampai jauh, akan tetapi ia melupakan dirinya, ia tidak memulai dari dirinya sendirinya untuk mengerjakan Islam sebelum jadi da’i. Dengan demikian ia telah keliru dari awal langkah menuju perbaikan, sehingga usahanya dalam berdawah tidak mendatangkan banyak hasil.

Seharusnya, di antara langkah-langkah awal dalam berdakwah adalah memulai dengan menyiapkan pribadi-pribadi yang siap untuk dibebani tugas dan perjuangan,  kemudian menyiapkan keluarga-keluarga yang shaleh, mendidik anak-anak dengan pendidikan Islami yang baik dan menanamkan perasaan bertanggung jawab pada setiap anggota keluarga.

Barulah setelah itu mengajak manusia agar pergi ke masjid untuk memperbaharui iman dalam hati, menyeru mereka menjalankan ajaran agama dan hukum-hukumnya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu mengaitkan mereka dengan muhasabah pada diri mereka dalam suasana ukhuwah  Islamiyah yang benar.

Musuh-musuh Islam di luar dan di dalam, selalu menyusun program dan berusaha secara sistemik dan terorganisir secara baik untuk melemahkan umat Islam. Mereka sekarang ini merupakan kelompok kekuatan jahat, suatu kekuatan yang tidak bisa dilawan kecuali dengan kekuatan lagi bahkan dengan kekuatan yang lebih besar dan lebih mantap. Allah menegaskan hal ini dengan firmanNya:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Artinya: Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka suatu kekuatan semampumu (Al-Anfal. Ayat: 60)

 

Bagaimana Konsep ini Direalisasikan.

Apabila orang-orang melihat bahwa di antara masyarakat Islam tidak ada orang yang menyeru ke jalan Islam dengan suatu cara yang jelas, maka hendaknya mereka bangkit bersama-sama untuk berusaha menolong Islam, dan berdakwah menyeru kepada Islam dengan sungguh-sungguh dan atas dasar metode praktis yang jelas.

Dakwah mereka jangan sampai terbatas pada majlis-majlis taklim atau tabligh biasa saja, atau terbatas pada halakah-halakah ilmiyah dan seminar saja, ataupun terbatas pada zikir lisani saja yang tidak mampu menanamkan perubahan pada jiwa individu dan kelompok. Sekarang ini sudah banyak majlis taklim, sudah sering diadakan seminar-seminar, tidak sedikit halaqah zikir dan ceramah-ceramah, akan tetapi tidak ada dakwah untuk mengaplikasikan Islam, mengamalkannya dan memperbaharuinya.

Umat sekarang ini amat membutuhkan dakwah semacam ini yang jauh dari hawa nafsu, yang ikhkas untuk Allah, tidak dikotori oleh ketamakan duniawi, ambisi pribadi dan penumpukan materi.

Para da’i hendaknya memulai dari dirinya sendiri, memperkuat keimanan kepada Allah SWT, meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya, berusaha keras melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga ia selamat dari penyakit kronis yang diderita oleh masyarakat berupa pelanggaran tehadap agama Allah, durhaka kepada Allah dan bergelimang dosa.

Mereka hendaknya memusatkan dakwah mereka terhadap diri sendiri terlebih dahulu, sebagai titik tolak untuk menuju amal Islami. Apabila jiwa-jiwa mereka telah lurus dan stabil dengan Islam barulah mereka menyuruh orang lain kearah jalan hidayat dan amal, apabila orang-orang memenuhi seruan ini maka hendaknya mereka menyeru keluarganya dan memperbaikinya. Dengan baiknya keluarga dan rumah tangga ini masyarakatpun akan menjadi baik.

Individu-individu yang shaleh merupakan batu bata untuk membangun istana Islam yang megah, sedangkan keluarga-keluarga yang shaleh adalah sendi-sendi kuat untuk membangun masyarakat yang shaleh pula, apabila masyarakat telah baik dan shaleh maka akan terbentuklah opini umum yang shaleh.

 

Pengokohan Pendidikan  Berbasis Sosial ekonomi

Individu sholeh yang kita harapkan adalah individu unggulan, yaitu individu  yang memiliki tiga ciri;

  1. berkekuatan akidah,
  2. berkekuatan akhlak dan
  3. berakhlak kekuatan.

Semua ciri di atas sangat penting. Karena serangan musuh-musuh Islam di arahkan untuk melemahkan semua ciri tersebut. Kehidupan social kita selalu direcoki oleh upaya pendangkalan akidah pengusakan moral bangsa melalui berbagai aktivitas, dari program tv, pementasan hiburan, pelestarian tradisi sesat dsb.

Aspek penguatan akidah dan akhlak sudah banyak diperhatikan oleh berbagai lembaga pendidikan. Namun masih belum banyak lembaga pendidikan yang di samping menguatkan dua aspek tersebut, tapi memperhatikan juga aspek social ekonomi. Inilah tantangan pendidikan modern. Bagaimana kita mampu menyiapkan SDM yang berkekuatan akidah, berkekuatan akhlak dan berakhlak kekuatan.

Yang dimaksud dengan berakhlak kekuatan adalah; insan yang memiliki kekuatan dalam berbagai bidang. Kuat penguasaan ilmu kauni, kuat jasmani, kuat enteurprenershipnya, kuat dalam bidang ekonomi dan lain-lainnya

SDM unggulan yang seperti di atas,  akan dilahirkan  dari sistem pendidikan yang memperhatikan penguatan akidah, memperkokoh ibadah, menguatkan akhlak mulia, menanamkan eterprenership, memelihara tradisi kebaikan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.  Wallahu a’lam bis showab.

 

*) Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI)

*) Makalah disampaikan pada Seminar Pendidikan dan Dakwah Islam di Rabithah Alawiyah bertajuk “Revitalisasi Pendidikan dan Dakwah Islam Berorientasi Pemberdayaan Sosial-Ekonomi pada hari Sabtu, 14 Desember 2013.

Strategi Dakwah Islam di Era Global (Bagian 1)

Posted by admin - 16 Desember 2013 - Da'i dan Dakwah
0
Prof. Dr. Achmad Satori Ismail

Oleh: Prof. Dr. Achmad Satori Ismail *)

Kondisi Obyektif Umat Islam:

Ada tiga hal besar yang menghambat perjuangan umat Islam dalam rangka melepaskan diri dari keterbelakangan dan mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia. Tiga hal ini  bisa kita  bedakan dengan istilah: Penyakit, kelemahan dan tantangan.

  1. Penyakit Umat Islam: Yaitu segala penghambat perjuangan umat Islam yang menyerang seluruh lapisan umat. Setiap individu dari umat Islam sebagai komunitas tidak bisa melepaskan diri dari penyakit itu. Contoh; system pendidikan sekuler, system ekonomi sekuler, ikhtilat (campur-aduk antara laki-laki dan perempuan) di tempat-tempat umum seperti; pasar, kendaraan umum, kantor, sekolahan dsb. Setiap  muslim  tidak bisa lepas dari system pendidikan sekuler secara  total. Ia akan terpengaruh dengan kurikulumnya, system pendidikannya, Ujian Akhir Nasional dst. Demikian juga dengan system ekonomi konvensional yang diterapkan di negeri ini membelenggu semua rakyat yang berada di dalamnya.
  2. Kelemahan Umat Islam: Segala penghambat perjuangan umat Islam yang menyerang sebagian individu muslim. Sebagian umat  memang tidak terserang, namun mayoritas masih terserang kelemahan ini, contohnya kelemahan di bidang ekonomi, di bidang pendidikan, organisasi dsb. Di bidang ekonomi, Sebagian orang Islam ada yang menjadi konglomerat dan ada yang kaya tapi kebanyakan adalah berekonomi lemah.  Sedangkan di bidang  pendidikan sebagian ada yang bisa mencapai gelar doktor namun sebagian besar  masih memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Dsb.
  3. Tantangan  adalah semua penghambat yang datang dari luar umat Islam atau dari musuh-musuhnya yang senantiasa berusaha memadamkan cahaya agama Allah. Ada dua macam tantangan yang dihadapi umat Islam sekarang ini; Pertama, al ghazwu al dakhily (Serangan dari dalam) seperti Al ghozwul fikri ( Serang pemikiran ) dan alghazwu ats tsaqafi (Serangan cultural) , dan Kedua, Al ghazwu al khariji ( serangan dari luar ) seperti  alghazwu al musallah ( Serangan bersenjata),  Pemalsuan citra Islam dsb.

 

Dampak Tantangan Eksternal.

Dampak dari tantangan dari luar yang dihadapi Umat Islam sangat besar a.l.: pendangkalan pemahaman agama, menjauhkan umat Islam dari agamanya dan bisa membawa kepada pemurtadan. Bila dirinci urutan-urutan yang ingin dicapai oleh musuh-musuh Islam dengan serangan ini adalah sbb.

  1. Al ghazwu al daakhily( Serangan dari dalam)  dengan menggunakan lima tahapan sbb.:
    1.  al ghazwu al fikri (Serangan pemikiran) dan al ghazwu al tsaqafi (Serangan cultural). Kedua serangan ini akan mengakibatkan lemahnya loyalitas umat terhadap agamanya, berkurangnya pemahaman umat Islam tentang keIslamannya dan berujung pada pemurtadan.
    2.  al imbihar bil gharb (Tercengang dan terbelalak dengan segala apa yang datang dari Barat). Ketika umat Islam telah dipengaruhi oleh invasi pemikiran dan invasi kultural, maka umat akan mengabaikan semua yang ada pada Islam dan menjadi sangat tertarik dengan semua apa yang dibawa oleh Barat.
    3.  al haziimah alfikriyyah (Kehancuran pemikiran). Umat Islam yang tidak lagi memperhatikan loyalitas terhadap keIslamannya, akan merasa rendah di hadapan budaya Barat.
    4. Pada gilirannya kehancuran system berfikir umat Islam ini akan mengakibatkan  al hazimah al hadloriyyah (Kehancuran budaya)  Maksudnya budaya pada umat Islam bukan lagi budaya asli yang telah dimilikinya beberapa abad yang lalu tapi telah bercorak lain yaitu budaya kebarat-baratan.
    5.  Adznaab al gharb (Pengekor Barat) Ketika umat Islam tidak lagi membanggakan budaya aslinya maka ia akan menjadi pengekor Barat dalam semua aspek kehidupan.

 

Kondisi pahit ini pernah diramalkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ( خ ) مسند الصحابة في الكتب التسعة – (ج 21 / ص 9)

Artinya: Diriwayatkan dari abi Said r.a. bahwa Rasulullah saw berkata: Kamu sekalian kelak akan mengikuti perbuatan-perbuatan orang-orang sebelum kamu; sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga kalau mereka memasuki lubang biawak niscaya kamu akan mengikutinya. Kami bertanya: Wahai rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani ? Beliau menjawab; Siapa lagi kalau bukan mereka.( H.R. Bukhari dan Muslim)

  1. Al ghazwu al khariji( Serangan dari luar )  dengan menggunakan empat tahapan;
    1.  Tasywih shuratil Islam ( Memalsukan gambaran atau citra Islam). Tahapan ini telah dilakukan Barat dengan memberikan gambaran bahwa Islam adalah agama kemiskinan, agama kotor, agama terbelakang, agama kekerasan dan gambaran mutakhir yang dituduhkan  adalah Islam sebagai agama teroris.
    2. Langkah ini diteruskan dengan upaya untuk ightiyal al huwiyyah al Islamiyyah ( Menghapus semua identitas keIslaman) contoh tahapan ini adalah pelarangan pemakaian jilbab bagi muslimah di beberapa negara Barat,  mempersulit pemberian izin tinggal dari negara tertentu untuk para aktifis,  kesulitan para aktifis Islam untuk menjadi menejer di perusahaan-perusahaan asing di Indonesia kecuali mampu mengikuti tradisi dan kebiasan mereka. Dst.
    3.  Kemudian langkah ini dilanjutkan dengan takris al ‘ada ‘alal Islam ( Menanamkan kebencian terhadap Islam) sehingga memunculkan sikap  Islamophobia ( serba anti Islam) dikalangan non muslim dan mungkin di kalangan umat Islam sendiri sudah tertanam rasa kurang sreg terhadap diterpkannya syariat Islam.
    4. Pada langkah berikutnya adalah   Menjadikan Islam sebagai sasaran tembak  yang akhirnya semua manusia di bumi ini  Memusuhi Umat Islam dan  berusaha Menghancurkan semua hal yang Islami. Kondisi seperti ini sudah mendekati kenyataan, di mana ketika Irak dan Afganistan diluluh-lantakkan oleh Amerika dan pendukungnya tidak ada yang berani membela terang-terangan dengan mengirimkan senjata demi membela kemerdekaan suatu negara.

 

*) Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI)

*) Makalah disampaikan pada Seminar Pendidikan dan Dakwah Islam di Rabithah Alawiyah bertajuk “Revitalisasi Pendidikan dan Dakwah Islam Berorientasi Pemberdayaan Sosial-Ekonomi pada hari Sabtu, 14 Desember 2013.

Foto: Kuliah Umum Habib Umar bin Hafidz

Posted by admin - 26 November 2013 - Da'i dan Dakwah, Foto
2
Kuliah Umum Habib Umar bin Hafidz

    Habib Umar bin Hafidz memberikan kuliah umum di Masjid Arif Rahman Hakim, Universitas Indonesia Salemba pada 25 November 2013. Acara ini merupakan salah satu rangkaian kunjungan Habib Umar bin Hafidz selama di Jakarta.

    Buya Hamka dan Sayyid

    Posted by admin - 26 Agustus 2013 - Da'i dan Dakwah, Sejarah Islam
    0
    Buya Hamka

    H.Rifai, seorang Indonesia Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam Bijlmermeer, Belanda pada tanggal 30 desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan, ‘Benarkah habib Ali Kwitang dan habib Tanggul keturunan Rasulallah saw.’ ?, dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.

    Oleh Menteri Agama hal ini diserahkan kepada Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui Panji Masyarakat, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. Sebagian isi yang kami kutip mengenai penjelasan Prof.Dr.H. HAMKA tentang gelar Sayyid yang dimuat dalam majalah tengah bulanan“Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 sebagai berikut:

    “Rasulallah saw. mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau saw. dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan,‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’.Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-HusainSyarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.

    Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluargaJamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsaSayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.

    Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir danFagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

    Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.

    Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia , pihak Al-Irsyadyang menantang dominasi kaum Ba’alwi (Alawiyyun), menganjurkan agar yang bukan keturunan Al-Hasan dan Al-Husain memakai juga titel Sayyiddimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, dengan pimpinan A.R.Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan ‘Al-Akh’ artinya Saudara.

    Selanjutnya kesimpulan dari makalah Prof.Dr.HAMKA: Baik Habib Tangguldi Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini cucu yang ke tujuh  dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”. (Demikianlah nukilan dan susunan secara bebas mengenai penjelasan Prof.Dr.HAMKA tentang gelar Sayyid).

    Oleh: M. Ghazi Alaidrus

    Page 1 of 3123
    AWSOM Powered