Category: Haji

Al-Bait Al-’Ateeq

Posted by admin - 1 Oktober 2013 - Haji
3
Ka'bah

oleh M. Ghazi Alaidrus

Ketahuilah, wahai saudara-saudariku, bahwa Al-Baitu Al-Haram, bahkan Al-Haram secara keseluruhan merupakan bagian bumi yang agung yang memiliki manzilah yang mulia di sisi Allah SWT. Bahkan merupakan tempat yang termulia di bumi ini berdasarkan dalil naqli dan aqli.

Adapun berdasarkan al-manquul:

Allah menjadikan Al-Bait Al-Haram (Ka’bah) sebagai pusat kunjungan dan berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman bagi segenap alam:

125. dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim* tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

* Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. di waktu membuat Ka’bah.

Dan, sebagaimana ayat di atas (Al-Baqarah:125), Allah juga memerintahkan Nabi Ibrahim as. Dan Ismail as. untuk membersihkan dan mensucikannya bagi orang-orang yang berthawaf dan bagi yang melakukan i’tikaf, di samping sirr rabbaani  yang Allah anugrahkan di area tersebut yang diperlihatkan kepada para Anbiya dan Arifin.

Adapun dari aspek al-ma’quul:

Al-Bait Al-‘Ateeq atau Al-Ka’bah Al-Musyarrafah atau Al-Bait Al-Haram merupakan “rumah” pertama yang dibangun di atas bumi ini dan dari area tersebut dibentuk bumi menjadi bentuk eliptikal (dihyah) sebagaimana keadaannya sekarang. Dan area Al-Bait Al-‘Ateeq merupakan “kampung” pertama yang ada di bumi ini, dan dengan demikian dikenal dengan nama “Ummu Al-Qura”, induk dari perkampungan dan perkotaan.

96. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia*. (QS. Aali ‘Imran).

* Ahli kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis, oleh karena itu Allah SWT. membantahnya.

92. dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara shalatnya. (QS. Al-An’aam).

Dimana setiap raja memiliki tempat khusus yang dikunjungi dalam rangka menjalankan khidmat kepadanya, dimana setiap sultan memiliki gerbang yang padanya setiap yang ingin berjumpa kepadanya menempelkan wajahnya padanya, dimana setiap satria memiliki benteng yang di dalamnya berlindung orang-orang yang mengharapkan pembelaannya, dimana setiap dermawan memiliki lapangan yang berkumpul padanya setiap yang membutuhkan pertolongannya, Allah SWT. Al-Malik Al-Karim Al-Jabbaar Al-Hafeezh Al-Mu’min, telah mengkhususkan Al-Bait Al-Musyaraaf dengan makna-makna tersebut, dan menerbitkan di cakrawala ziarahnya matahari-matahari kemenangan dan bintang-bintang realisasi cita-cita yang mulia, serta menjadikan daerah sekelilingnya haram, suci, dikarenakan keagungan Baitullah Al-‘Ateeq. Dan dijadikan ‘Arafah bagai medan sekeliling serambi kesucian Al-Bait. Dan Allah- lah Raja yang sebenarnya, sedangkan setiap yang disebut atau dinamakan “raja” hanyalah penamaan secara majazi, kiasan. ‘Arafah adalah medan tempat berkumpulnya para pengunjung dari berbagai pelosok bumi, mengarah ke Hadrah Ilahiah dengan penuh kerendahan diri, taat kepada Kebesaran-Nya dan Keagungan Kerajaan-Nya diikuti dengan mensucikan-Nya dari segala bentuk penyerupaan dan pemisalan.

11. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS. Asy-Syura).

Apakah ada kebanggaan atas suatu daerah setelah kebanggaan ini? Apakah ada keagungan bagi suatu tempat setelah keagungan ini? Apakah ada keutamaan bagi suatu kota setelah keutamaan ini?

Kota yang ditangisi oleh Rasulullah SAW. Sewaktu Beliau bergegas untuk hijrah, seraya memandang dari suatu ketinggian, berkata:

لو لا أن أهلك أخرجوني، ما خرجت.

“Seandainya pendudukmu, wahai Makkah, tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar darimu.”

Diriwayatkan oleh Imam Suyuthi rh. dari Imam Ali Zainal Abidin ra. dari Imam Al-Husein as.:

“Sewaktu Allah mengatakan kepada para Malaikat:

30. Ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah).

Sewaktu mereka mengatakan demikian, Allah SWT. marah kepada mereka dan merekapun segera berlindung di ‘Arsy meminta maaf kepada Allah dan berthawaf di sekelilingnya tujuh putaran, memohon Ridha-Nya, sampai Allah-pun memaafkan mereka dan memerintahkan mereka: Bangunlah di muka bumi sebuah rumah tempat berlindung yang Aku murka atasnya dari makhluk-Ku dan berthawaf di sekelilingnya sebagaimana kalian berthawaf di sekeliling ‘Arsy-ku, sehingga Aku mengampuninya sebagaimana Aku mengampuni kalian.” Maka mereka-pun membangun “rumah” ini, yaitu Ka’bah.”

Diriwayatkan oleh para ahli sejarah bahwa pembangunan Ka’bah dilaksanakan 2000 tahun sebelum Allah menciptakan Adam as. Dan senantiasa makmur, dikunjungi oleh para Malaikat sebelum dan juga setelah penciptaan Adam as. Kemudian sewaktu Allah SWT. menurunkan Adam di lokasi Ka’bah, Adam merindukan Jannah, maka Allah-pun menurunkan Hajar Aswad yang waktu itu merupakan Yaquut dari Yaquut Al-Jannah. Adam-pun menerimanya dan menjaga dan menyimpannya guna melepaskan rasa rindunya kepada Jannah.

Rasulullah Sayyiduna Muhammad SAW bersabda:

نزل الحجر من الجنة وهو أشد بياضا من اللبن فسودته خطايا ابن آدم.

“Turun Hajar (Aswad) dari Jannah (Surga) dalam keadaan lebih putih dari susu, dan kemudian dosa-dosa keturunan Adam membuatnya hitam.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas: Hasan Shahih.).

Referensi:

  1. Al-Quran Al-Karim
  2. Al-Mu’jam Al-Mufahras, Muhammad Fuad Abdulbaqi
  3. At-Tasyweeq Ilaa Al-Bait Al-‘Ateeq, Imam Muhammad bin Ahmad Ath-Thabari Al-Makki Asy-Syafi’i (w. 695 H.)
  4. Lisan Al-‘Arab, Ibnu Manzur

 

Foto: di sini 

Tarwiyah

Posted by admin - 22 Oktober 2012 - Haji, idul adha
0
Tarwiyah
Tarwiyah berkaitan erat dengan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS yang bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi IsmailAS.Pada hari itu, hari ke-8 bulan Dzulhijjah, ia merenung dan berpikir (rawwa-yurawwi-tarwiyah) tentang takwil mimpi menyembelih putra kesayangannya sendiri. Pada hari ke-9, ia mendapati takwil mimpi yang membuatnya tahu (‘arafa) akan makna mimpi tersebut, sehingga disebut dengan Hari Arafah. Sedangkan pada hari ke-10, ia melaksanakan perintah dalam mimpi itu, yakni menyembelih (nahara) putranya, sehingga disebut hari Nahr.

Adajuga pendapat yang mengatakan, dinamakan hari Tarwiyah karena pada hari itu orang-orang mengenyangkan diri dengan minum air (rawiya, irtawa) untuk persiapan ibadah selanjutnya.

 

Amalan hari Tarwiyah

Yang dimaksud amalan hari Tarwiyah di sini yakni amalan yang dilakukan jamaa’ah calon haji di Kota Suci Makkah. Pada waktu Dhuha, jama’ah haji berihram dari tempat tinggalnya dengan niat akan melaksanakan ibadah haji. Dan sebelum berihram ini, bagi yang melaksanakan ibadah haji tamattu’ (mengerjakan umrah sebelum mengerjakan haji), mengadakan persiapan ulang sebelum ihram haji.

Disunnahkan bagi orang yang menunaikan haji tamattu’ untuk melakukan ihram haji pada hari tersebut, yakni dari tempat ia singgah. Maka, hendaknya ia mandi dan mengusapkan wewangian di tubuhnya, tidak mengenakan kain yang berjahit, dan ia ihram dengan selendang, kain dan sandal.

Adapun bagi wanita, hendaknya ia mandi dan menggunakan pakaian apa saja yang dikehendakinya, dengan syarat tidak menampakkan perhiasannya, tidak memakai penutup muka, juga tidak memakai kaus tangan.

Sedangkan yang melaksanakan haji qiran (mengerjakan haji dan umrah secara bersamaan) dan ifrad (mengerjakan haji lebih dulu baru umrah), mereka tetap dalam keadaan ihram mereka sejak sebelumnya.

Kemudian pada jama’ah ini beihram untuk haji dengan mengucapkan, “Labbaik Allaahumma Hajjan.” Jika khawatir adanya penghalang yang akan merintanginya dalam menyempurnakan pelaksanaan haji, seperti sakit, takut musuh, dan lainnya, dibolehkan mengucapkan persyaratan sebagaimana yang diajarkan Rasullullah SAW dengan mengucapkan,  “Allaahumma Mahilli haitsu habastani (Ya Allah, tempat tahallulku di mana saja Engkau menahanku).”

Setelah berada pada kondisi ihram haji pada hari ini, jama’ah calon haji wajib menghindar dari seluruh larangan ihram dan memperbanyak membaca talbiyah. Bacaan talbiyah ini terus berlanjut hingga saat melempar jumrah ‘Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, termasuk saat bertolak menuju Mina. Begitu pula melakukan shalat Dzuhur , Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di Mina, yang dikerjakan pada waktunya masing-masing dan mengqashar shalat-shalat yang jumlah rakaatnya empat. Semuanya dilakukan dengan qashar, tanpa jama’.

Sementara itu dibolehkan juga untuk tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib atau shalat shalat sunnah lainnya, kecuali shalat witir ketika menjelang tidur atau menjelang subuh dan shalat fajar (qabliyah subuh), karena dua shalat ini senantiasa dikerjakan Rasulullah SAW meskipun dalam keadaan safar. Namun demikian, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan dzikir-dzikir lainnya, selain bacaan talbiyah. Pada hari Tarwiyah ini pula jama’ah haji menginap di Mina.

Semua itu dilakukan pada hari Tarwiyah, atau 8 Dzulhijjah, hingga matahari terbit pada hari ke-9 atau hari Arafah.

Puasa Tarwiyah

Adapun mereka yang tidak melaksanakan haji dianjurkan untuk berpuasa Tarwiyah. Ini didasarkan pada hadits yang artinya bahwa puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun. Hadits mengenai puasa Tarwiyah ini diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami dalam kitabnya Musnad Firdaus (2/248). Namun derajat hadits ini mardud (tertolak), karena ada periwayat hadits dianggap pendusta, yakni Muhammad bin Sa’aib Al-Kalbi. Sementara ada juga periwayat dalam hadits tersebut yang dinilai majhul (tidak dikenal), yakni Ali bin Ali Al-Himyari.

Paraulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dha’if (lemah) sekalipun, sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadhail al-a’mal (demi memperoleh keutamaan), tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Ihwal puasa Tarwiyah ini semakin diperkuat oleh satu riwayat yang menyatakan bahwa puasa sepuluh hari, kecuali hari Idul Adha, dari awal bulan Dzulhijjah, hukumnya sunnah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ummul Mu’minin Sayyidatina Hafshah RA, yang berkata, “Ada empat macam yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW: puasa Asyura, puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari pada setiap bulan dan melakukan shalat dua rakaat sebelum shalat subuh,” (Riwayat Ahmad bin Nasa’i).

Memang tidak ada satu hadits shahih pun yang jelas dan tegas menyatakan sunnahnya berpuasa pada hari Tarwiyah. Namun perlu kita ketahui, banyak fuqaha yang memfatwakan bahwa puasa pada hari Tarwiyah itu hukumnya sunnah atau sebagai fadhilah, berdasarkan dua alasan.

Pertama, atas dasar ihtiyath (berhati-hati) dan cermat dalam mengupayakan mendapat fadhilah puasa Arafah yang begitu besar. Bahkan Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fath al-Mu’in berkata, puasa ini termasuk sunnah mu’akkadah.

Kedua, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits tentang keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah di sisi Allah SWT, yang Tarwiyah dan Arafah juga berada di dalamnya. Ibnu Abbas RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT daripada amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

Parasahabat bertanya, “Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah?”

Rasulullah menjawab, “Walau jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya, yakni menjadi syahid.” (Riwayat Al-Bukhari)

Tentang puasa hari Arafah, yakni puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, para ulama sepakat bahwa hukumnya sunnah, bahkan termasuk sunnah mu’akkadah.

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah, yakni pada saat diberlangsungkannya wukuf di Tanah Arafah tanggal 9 Dzulhijjah oleh para jama’ah haji. Karena itu puasa Arafah ini sangat diajurkan bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Dasar hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Puasa hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa dua tahun, yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (Riwayat Muslim)

Sedangkan orang yang sedang mengerjakan ibadah haji tidak dibolehkan berpuasa, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW telah melarang puasa pada hari Arafah di Padang Arafah.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I, dan Ibnu Majah).

Bagaimanapun, puasa Tarwiyah dan puasa Arafah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan para jama’ah haji yang sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Dan hari-hari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa.

Sumber: Majalah alKisah Edisi No. 21/Tahun X/15-28 Oktober 2012 hlm. 138

Foto:  ANTARA/SAPTONO

Makna Kerendahan Hati dalam Tahallul

Posted by admin - 10 Oktober 2012 - Haji
4
Tahallul

Tahallul atau bercukur adalah salah satu ritual haji yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan, terutama dalam Madzhab Syafi’i. Meski bercukur terkesan remeh, namun jika ditinggalkan akan membuat ibadah haji tidak sah. Jika demikian, itu artinya diwajibkan untuk mengulang kembali ibadah tersebut pada tahun berikutnya.

Mengapa hal yang begitu remeh dapat membatalkan sesuatu yang jauh lebih besar? Hal itu mengisyaratkan bahwa kelebihan yang dimiliki oleh manusia dengan otak dan daya ciptanya, semua itu berada dalam kuasa Allah SWT.

Dengan diwajibkannya bercukur dalam rangkaian ibadah haji, Allah sejatinya ingin mengajarkan bahwa manusia tetaplah manusia. Ia harus sadar bahwa selamanya dirinya adalah hamba Allah. Manusia harus bersikap khusyuk, tawadhu’ (rendah hati), dan khudhu’. Tiga sikap itu akan mengantarkan mereka menjadi makhluk yang dicintai oleh Allah SWT.

Rambut adalah simbol dari mahkota seorang insan. Rambut adalah perhiasan seseorang dan menjadi lambang kegagahan dan ketampanan. Bertahallul yaitu mencukur rambut adalah simbol dari meletakkan mahkota seseorang. Artinya, orang tersebut menanggalkan kesombongan yang menjadi seseorang tinggi hati dari orang lain.

Semoga dengan rontoknya ribuan rambut di kepala para hujjaj ketika ia bertahallul, maka rontok juga segala ribuan keangkuhan dan kesombongannya yang akan menjadikannya haji yang tawadlu’ dan rendah diri.

Editor: Dewi Mardiani
Reporter: Hannan Putra
Sumber : Panduan Super Lengkap Haji & Umrah, Oleh Aguk Irawan MN

Sumber Republika

Foto diambil dari www.tempo.co

AWSOM Powered