Category: idul adha

Tarwiyah

Posted by admin - 22 Oktober 2012 - Haji, idul adha
0
Tarwiyah
Tarwiyah berkaitan erat dengan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS yang bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi IsmailAS.Pada hari itu, hari ke-8 bulan Dzulhijjah, ia merenung dan berpikir (rawwa-yurawwi-tarwiyah) tentang takwil mimpi menyembelih putra kesayangannya sendiri. Pada hari ke-9, ia mendapati takwil mimpi yang membuatnya tahu (‘arafa) akan makna mimpi tersebut, sehingga disebut dengan Hari Arafah. Sedangkan pada hari ke-10, ia melaksanakan perintah dalam mimpi itu, yakni menyembelih (nahara) putranya, sehingga disebut hari Nahr.

Adajuga pendapat yang mengatakan, dinamakan hari Tarwiyah karena pada hari itu orang-orang mengenyangkan diri dengan minum air (rawiya, irtawa) untuk persiapan ibadah selanjutnya.

 

Amalan hari Tarwiyah

Yang dimaksud amalan hari Tarwiyah di sini yakni amalan yang dilakukan jamaa’ah calon haji di Kota Suci Makkah. Pada waktu Dhuha, jama’ah haji berihram dari tempat tinggalnya dengan niat akan melaksanakan ibadah haji. Dan sebelum berihram ini, bagi yang melaksanakan ibadah haji tamattu’ (mengerjakan umrah sebelum mengerjakan haji), mengadakan persiapan ulang sebelum ihram haji.

Disunnahkan bagi orang yang menunaikan haji tamattu’ untuk melakukan ihram haji pada hari tersebut, yakni dari tempat ia singgah. Maka, hendaknya ia mandi dan mengusapkan wewangian di tubuhnya, tidak mengenakan kain yang berjahit, dan ia ihram dengan selendang, kain dan sandal.

Adapun bagi wanita, hendaknya ia mandi dan menggunakan pakaian apa saja yang dikehendakinya, dengan syarat tidak menampakkan perhiasannya, tidak memakai penutup muka, juga tidak memakai kaus tangan.

Sedangkan yang melaksanakan haji qiran (mengerjakan haji dan umrah secara bersamaan) dan ifrad (mengerjakan haji lebih dulu baru umrah), mereka tetap dalam keadaan ihram mereka sejak sebelumnya.

Kemudian pada jama’ah ini beihram untuk haji dengan mengucapkan, “Labbaik Allaahumma Hajjan.” Jika khawatir adanya penghalang yang akan merintanginya dalam menyempurnakan pelaksanaan haji, seperti sakit, takut musuh, dan lainnya, dibolehkan mengucapkan persyaratan sebagaimana yang diajarkan Rasullullah SAW dengan mengucapkan,  “Allaahumma Mahilli haitsu habastani (Ya Allah, tempat tahallulku di mana saja Engkau menahanku).”

Setelah berada pada kondisi ihram haji pada hari ini, jama’ah calon haji wajib menghindar dari seluruh larangan ihram dan memperbanyak membaca talbiyah. Bacaan talbiyah ini terus berlanjut hingga saat melempar jumrah ‘Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, termasuk saat bertolak menuju Mina. Begitu pula melakukan shalat Dzuhur , Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di Mina, yang dikerjakan pada waktunya masing-masing dan mengqashar shalat-shalat yang jumlah rakaatnya empat. Semuanya dilakukan dengan qashar, tanpa jama’.

Sementara itu dibolehkan juga untuk tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib atau shalat shalat sunnah lainnya, kecuali shalat witir ketika menjelang tidur atau menjelang subuh dan shalat fajar (qabliyah subuh), karena dua shalat ini senantiasa dikerjakan Rasulullah SAW meskipun dalam keadaan safar. Namun demikian, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan dzikir-dzikir lainnya, selain bacaan talbiyah. Pada hari Tarwiyah ini pula jama’ah haji menginap di Mina.

Semua itu dilakukan pada hari Tarwiyah, atau 8 Dzulhijjah, hingga matahari terbit pada hari ke-9 atau hari Arafah.

Puasa Tarwiyah

Adapun mereka yang tidak melaksanakan haji dianjurkan untuk berpuasa Tarwiyah. Ini didasarkan pada hadits yang artinya bahwa puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun. Hadits mengenai puasa Tarwiyah ini diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami dalam kitabnya Musnad Firdaus (2/248). Namun derajat hadits ini mardud (tertolak), karena ada periwayat hadits dianggap pendusta, yakni Muhammad bin Sa’aib Al-Kalbi. Sementara ada juga periwayat dalam hadits tersebut yang dinilai majhul (tidak dikenal), yakni Ali bin Ali Al-Himyari.

Paraulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dha’if (lemah) sekalipun, sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadhail al-a’mal (demi memperoleh keutamaan), tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Ihwal puasa Tarwiyah ini semakin diperkuat oleh satu riwayat yang menyatakan bahwa puasa sepuluh hari, kecuali hari Idul Adha, dari awal bulan Dzulhijjah, hukumnya sunnah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ummul Mu’minin Sayyidatina Hafshah RA, yang berkata, “Ada empat macam yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW: puasa Asyura, puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari pada setiap bulan dan melakukan shalat dua rakaat sebelum shalat subuh,” (Riwayat Ahmad bin Nasa’i).

Memang tidak ada satu hadits shahih pun yang jelas dan tegas menyatakan sunnahnya berpuasa pada hari Tarwiyah. Namun perlu kita ketahui, banyak fuqaha yang memfatwakan bahwa puasa pada hari Tarwiyah itu hukumnya sunnah atau sebagai fadhilah, berdasarkan dua alasan.

Pertama, atas dasar ihtiyath (berhati-hati) dan cermat dalam mengupayakan mendapat fadhilah puasa Arafah yang begitu besar. Bahkan Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fath al-Mu’in berkata, puasa ini termasuk sunnah mu’akkadah.

Kedua, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits tentang keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah di sisi Allah SWT, yang Tarwiyah dan Arafah juga berada di dalamnya. Ibnu Abbas RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT daripada amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

Parasahabat bertanya, “Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah?”

Rasulullah menjawab, “Walau jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya, yakni menjadi syahid.” (Riwayat Al-Bukhari)

Tentang puasa hari Arafah, yakni puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, para ulama sepakat bahwa hukumnya sunnah, bahkan termasuk sunnah mu’akkadah.

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah, yakni pada saat diberlangsungkannya wukuf di Tanah Arafah tanggal 9 Dzulhijjah oleh para jama’ah haji. Karena itu puasa Arafah ini sangat diajurkan bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Dasar hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Puasa hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa dua tahun, yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (Riwayat Muslim)

Sedangkan orang yang sedang mengerjakan ibadah haji tidak dibolehkan berpuasa, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW telah melarang puasa pada hari Arafah di Padang Arafah.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I, dan Ibnu Majah).

Bagaimanapun, puasa Tarwiyah dan puasa Arafah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan para jama’ah haji yang sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Dan hari-hari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa.

Sumber: Majalah alKisah Edisi No. 21/Tahun X/15-28 Oktober 2012 hlm. 138

Foto:  ANTARA/SAPTONO

Udlhiyyah (Qurban) Dan Problematikanya

Posted by admin - 12 September 2012 - idul adha
0
qurban

Udlhiyah atau Qurban adalah menyembelih hewan kurban di hari raya kurban (Idul Adha) dan hari-hari tasyriq dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dasar disyari’atkan udlhiyyah :

1.  Surat Al-Kautsar : 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ – الكوثر 2

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah”

Pendapat yang paling kuat dalam mentafsiri lafadz وَانْحَرْ , adalah menyembelih hewan kurban.

2.  Hadits riwayat Anas bin Malik.

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا   — متفق عليه

“Sesungguhnya Rasulullah S.A.W menyembelih dua domba putih yang bertanduk dengan tangannya sendiri, seraya mengucapkan basmalah dan bertakbir. Beliau meletakkan kakinya disamping leher domba (H.R. Bukhori-Muslim).

HIKMAH BERKURBAN : mencukupi kebutuhan fakir miskin di waktu Idul Adha sebagaimana zakat fitrah di waktu idul fitri.

 

HUKUM BERKURBAN

Hukum berkurban ada 3:

  1. Sunnah kifayah, artinya jika salah satu anggota keluarga telah berkurban, maka gugur tuntutan bagi anggota keluarga yang lain, namun pahala hanya untuk yang berkurban saja.
    * Yang dimaksud keluarga disini adalah orang yang di nafkahi, meskipun bukan nafkah wajib.
  2. Sunnah ‘ain muakkad, yaitu untuk per-individu sekalipun bagi yang sedang haji, dengan syarat :
  • Islam
  • Mukallaf (baligh dan berakal).
  • Mampu, yaitu memiliki kelebihan harta untuk menafkahi dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya (makanan, pakaian dan tempat tinggal) selama hari raya kurban hingga hari tasyriq (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah).

3.  Wajib, yaitu dengan dua sebab :

  • Nadzar , misal: perkataan :”saya nadzar menyembelih kurban”.
  • Menentukan/mengisyaratkan kepada hewan kurbannya, seperti ucapan : “ini adalah kurbanku” atau  “saya jadikan kambing ini sebagai kurbanku”.  Namun pendapat Sayid Umar Al-Bashri, perkataan “ini adalah kurbanku”  dengan tujuan memberitahukan bahwa hewan ini untuk kurban, tidak menjadi wajib (bukan ta’yin).

 

HEWAN YANG DAPAT DIJADIKAN KURBAN

Allah SWT berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ — الحج 34

“Dan bagi setiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rizki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”

Kalimat “ أنعام “ dalam ayat ini adalah onta, sapi dan kambing, karena tidak ada riwayat dari Nabi atau sahabat berkurban dengan yang selainnya.

Hewan kurban, yang paling utama adalah onta , kemudian sapi lalu kambing. Onta dan sapi dapat dijadikan kurban untuk 7 orang , sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim:

عن جابر رضي الله عنه قال : نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام الحديبية البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة — رواه مسلم

“Dari Jabir r.a :” Kita menyembelih kurban bersama Rasulullah S.A.W di tahun Hudaibiyyah, satu onta untuk 7 orang , begitu juga sapi.”.

Catatan :

  • Tujuh orang berkurban dengan tujuh kambing lebih utama daripada tujuh orang dengan satu ekor onta atau sapi.
  • Tujuh kambing untuk satu orang lebih utama daripada seekor onta/sapi untuk satu  orang.

 

KRITERIA HEWAN KURBAN

1.   Umur :

  • Onta berumur 5 tahun lebih (masuk ke tahun ke-6).
  • Sapi berumur 2 tahun lebih.
  • Kambing kacang berumur 2 tahun lebih dan kambing gibas/domba berumur 1 tahun lebih atau     berumur 6 bulan lebih tapi telah poel (gigi depanya sudah patah/jatuh).

2.  Terbebas dari aib yang bisa mengurangi kuantitas daging , seperti sakit, terpotong sebagian telinganya, pincang, gila, sangat kurus, buta dan lain-lain. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadist :

أَرْبَعٌ لَا تُجْزِئُ في الْأَضَاحِيِّ الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا وَالْعَجْفَاءُ التي لَا تُنْقِي

Artinya : 4 hal tidak diperkenankan dalam hewan kurban : buta, sakit, pincang sertasangat kurus hingga tak bersumsum.” (H.R. Ibn Majah dan Nasa’i)

 

NIAT BERKURBAN

  1. Wajib, jika berupa kurban sunnah. Waktu niat, ketika menyembelih atau sebelumnya. Boleh mewakilkan niat dan penyembelihan kepada orang muslim yang mumayyiz.
  2. Tidak wajib, jika menentukan hewan kurban ketika bernadzar. Namun jika nadzar tanpa menentukan, maka tetap wajib niat ketika penyembelihan atau ta’yin (penentuan hewan kurban). Begitu juga jika dengan menentukan/mengisyaratkan kepada hewan kurban (ta’yin bil ja’li).

Lafadz niat kurban sunnah :

نَوَيْتُ التَّضْحِيَةَ بِهَذِهِ لِلَّهِ تَعَالَى

“ Aku niat berkurban dengan hewan ini karena Allah ta’ala “

WAKTU PENYEMBELIHAN

Waktu penyembelihan dimulai dari terbitnya matahari tanggal 10 Dzulhijjah ditambah seukuran waktu untuk sholat dua raka’at beserta khutbahnya dan berakhir dengan terbenamnya matahari akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah). Sebagaimana hadits riwayat Ibn Hibban :

كُلُّ أَيَّامِ تَشْرِيْقٍ ذَبْحٌ  — رواه بن حبان

Artinya : semua hari-hari tasyriq adalah waktu yang diperbolehkan untuk menyembelih kurban.

Namun waktu yang paling afdhal adalah setelah shalat hari raya. Sebagaimana dalam shahih Imam Bukhari:

أَوَّلُ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ هَذَا فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ نَحَرَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ .

Artinya : Pertama kali yang kita lakukan di hari raya Idul Adha adalah sholat Ied kemudian pulang dan  menyembelih kurban , Maka barang siapa yang mengerjakan ini (setelah masuk waktunya) benar-benar sesuai dengan syari’atku. Dan barang siapa menyembelih sebelum masuk waktunya, maka (sembelihannya) hanyalah daging yang disajikan untuk keluarga dan sama sekali bukan termasuk kurban “ (H.R. Bukhari).

PEMBAGIAN DAGING KURBAN

1.  Udlhiyah wajib (nadzar atau ditentukan)

Seluruh daging harus disedekahkan dan tidak boleh bagi orang yang berkurban atau keluarga yang wajib dinafkahi untuk memakan sedikitpun. Jika tetap dilanggar , maka wajib mengganti seukuran yang dimakan baik berupa daging atau harganya. Keharaman ini berlaku juga bagi wakil dan keluarga yang wajib dinafkahi.

2.  Udlhiyah sunnah

Ada beberapa cara pembagian daging kurban sunnah yaitu :

  1. Paling utama dengan mengambil sedikit untuk dikonsumsi sendiri dengan tujuan tabarruk (keberkahan) lalu mensedekahkan sisanya kepada fakir miskin.
  2. Mensedekahkan sedikit saja untuk fakir miskin dan sisanya dikonsumsi sendiri.
  3. Membaginya menjadi 3 bagian, satu bagian untuk dirinya, satu bagian untuk fakir miskin dan satu bagian lagi dihadiahkan kepada tetangga atau kerabatnya walaupun kaya raya.

** Daging yang diberikan kepada fakir miskin bersifat tamlik (memindah kepemilikan) sehingga boleh digunakan apa saja seperti dijual, dan lain-lain. Sedangkan yang diberikan kepada orang kaya bersifat hadiah,sehingga hanya boleh dikonsumsi sendiri atau disedekahkan kepada orang lain dan tidak boleh dijual.

** Kulit hewan kurban boleh disedekahkan (bukan pada masjid) atau dimanfaatkan untuk diri sendiri. Tidak boleh dijual atau dijadikan upah bagi penyembelih (tukang jagal) karena  bisa menghilangkan pahala kurban. Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلاَ أُضْحِيَةَ لَهُ  – رواه البيهقي

Artinya : Barang siapa menjual kulit hewan kurbannya , maka tidak mendapatkan pahala kurban. (H.R. Baihaqi).

 

KESUNAHAN DALAM UDHIYAH

  1. Membaca basmalah .
  2. Mengucapkan takbir tiga kali setelah basmalah.
  3. Membaca shalawat.
  4. Menghadap kiblat . Adapun menghadapkan hewan kurban ke arah kiblat, maka ada perbedaan pendapat ulama’.
  5. Membaringkan hewan kurban pada sisi kiri badannya dan mengikat semua kakinya kecuali yang kanan. Namun pada onta disembelih dengan berdiri.
  6. Membaca do’a ketika menyembelih : اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّي
  7. Tidak memotong rambut, kuku dan semua anggota  badan lainnya sebelum prosesi penyembelihan hewan kurbannya (karena hukumnya makruh).
  8. Menyembelih sendiri jika mampu, kecuali perempuan, maka sunah mewakilkannya. Bagi yang mewakilkan, disunnahkan untuk menyaksikan penyembelihannya.
  9. Bagi imam (pemimpin daerah) sunah untuk menyembelih hewan kurban dari baitul mal (jika ada) untuk kaum muslimin.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

  1. Hendaknya tidak berkurban dengan hewan hamil untuk keluar dari khilaf ulama’, kecuali jika kehamilan menyebabkan berkurangnya kuantitas daging.
  2. Daging harus disedekahkan dalam keadaan mentah. Jika dibagikan dalam keadaan matang (berupa masakan), maka tidak sah.
  3. Lebih baik tidak menyembelih di akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah) agar keluar dari pendapat ulama’ yang menyatakan tidak sah yaitu imam-imam di luar madzhab Syafi’i.
  4. Menurut imam Romli, boleh menyembelih satu kambing dengan niat kurban sekaligus aqiqah (mendapat pahala keduanya) dengan syarat bukan kurban atau aqiqah wajib. Sedangkan menurut Ibn Hajar jika diniati keduanya, maka tidak menjadi kurban atau aqiqah (syatu lahm)
  5. Kurban diganti dengan uang tidak sah. Boleh mewakilkan dalam pembelian hewan kurban sekaligus penyembelihan dan pembagiannya. Jika seseorang berkata kepada yang lain :”sembelihlah hewan kurban untukku “,  menjadikannya sebagai wakil dalam penyembelihan sekaligus pembagian daging kurban, sehingga wajib baginya untuk mengganti harga hewan tersebut.
  6. Boleh menyimpan daging kurban (untuk dikonsumsi selepas waktu kurban) seperti dijadikan dendeng atau dikalengkan.
  7. Menyerahkan hewan kurban kepada kiyai atau tokoh masyarakat berupa hewan hidup (bukan daging) tidak menjadi miliknya tapi hanya menjadikannya sebagai wakil dalam penyembelihan dan pembagian saja karena pembagian kurban harus sudah disembelih. Sehingga tidak diperbolehkan untuk mengambil daging kurban sedikitpun kecuali seukuran yang ditentukan oleh orang yang berkurban.
  8. Menyembelih hewan kurban setelah habisnya waktu kurban (setelah terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijjah), jika berupa kurban sunnah, maka tidak sah. Namun jika berupa kurban nadzar, maka tetap wajib dilaksanakan sebagai qodlo’.
  9. Berkurban untuk orang yang sudah meninggal menurut pendapat yang kuat tidak sah kecuali jika telah mendapatkan wasiat dari si mayit sebelum meninggalnya.
  10. Boleh memberikan daging kurban kepada satu orang fakir miskin, berbeda dengan zakat.
  11. Membagikan daging kurban (nadzar atau kadar wajib dari kurban sunah) kepada fakir miskin di luar daerah penyembelihan hewannya ada dua pendapat. Sebaiknya tidak membagikan di luar daerah penyembelihan untuk keluar dari khilaf ulama’
  12. Dalam mengetahui umur hewan kurban bisa mendasarkan pada kabar penjual hewan kurban, dengan catatan hewan tersebut lahir dalam kepemilikannya atau dengan bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang perhewanan .
  13. Menyerahkan kurban kepada masjid dapat dibenarkan jika dimaksudkan diserahkan kepada salah satu pengurus masjid sebagai wakil dalam penyembelihan dan pembagian daging kurban.
  14. Penyembelihan hewan kurban tidak boleh dilaksanakan di halaman milik masjid atau wakaf untuk masjid. Demikian juga tidak boleh menggunakan alat-alat milik masjid dalam penyembelihan dan pembagian daging kurban.
AWSOM Powered