Category: Olahraga

Memanah

Posted by admin - 16 Maret 2015 - Olahraga
0
Panahan

Oleh: Dr. Muhammad bin Alawi Al-Maliki

Di antara cabang olahraga yang penting adalah memanah. Olahraga ini sangat dikenal dan mendapat perhatian besar bagi bangsa Arab. Karena cabang tersebut merupakan modal dasar dalam peperangan yang menjadi tolak ukur kecakapan seseorang. Di samping itu, cabang itu juga merupakan modal utama meraih kehormatan dan kemuliaan. Orang yang perkasa harus memiliki kemampuan menunggang kuda dan memanah. Islam datang tidak menghilangkan tradisi itu, malah sebaliknya, menjaga dan melestarikannya. Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian berlatih memanah, karena itu merupakan permainan terbaik bagi kalian.” (HR Al-Bazzar)

Rasulullah SAW menafsirkan firman Allah yang berbunyi, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..” dengan bersabda, “Kekuatan dalam ayat tersebut adalah memanah. Kekuatan dalam ayat tersebut adalah memanah.” (HR Muslim)

Bukti nyata perhatian Islam terhadap memanah adalah sabda Rasulullah SAW yang melarang umatnya meninggalkan, meremehkan atau melalaikannya. Dalam hadis yang diriwayatkan Uqbah bin Amir disebutkan Rasulullah SAW bersabda, “Allah memasukkan tiga orang ke surga karena panah. Pembuatnya, yang ketika membuat bertujuan agar panah buatannya dipergunakan dengan benar. Pembidiknya, dan juga pelontarnya. Bidikkan panah kalian dan pacu kuda kalian. Sesungguhnya memanah lebih aku sukai dari berkuda.” (HR Abu Dawud).

Rasulullah SAW sendiri langsung memimpin dan melatih umat Islam dalam keterampilan memanah. Menyeru, mengajak dan menganjurkan latihan bersama agar mereka tidak lupa. Dalam sebuah hadis diceritakan Rasulullah SAW bertemu sekelompok orang yang berbadan kurus lantas Rasulullah SAW berkata kepada mereka, “Memanahlah kalian wahai keturunan Ismail, sesungguhnya orang tua kalian adalah ahli memanah dan aku bersama keturunan fulan.” Salah satu dari kelompok mereka ada memegang panah lantas Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak membidikkannya?’ Mereka menjawab, ‘Rasulullah, bagaimana kami akan membidiknya sementara engkau bersama mereka.’ Lantas Rasulullah SAW berkata, ‘Bidiklah, sesungguhnya aku bersama kalian semua.’ (HR Bukhari)

Dari hadis ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran, diantaranya:

  1. Etika dan sopan santun sahabat terhadap Rasulullah SAW.
  2. Besarnya perhatian Rasulullah SAW terhadap latihan memanah. Beliau menganggapnya sebagai kegiatan penting, sehingga beliau meluangkan waktu khusus—karena melihat besarnya manfaat serta tingginya faidah yang bisa diraih.
  3. Kesempurnaan sifat Rasulullah SAW sehingga bisa kita katakan bahwa beliau memiliki jiwa atletis tinggi. Meskipun kesempurnaan sifat tersebut hanya terbatas pada cabang-cabang olahraga tertentu. Namun tidak ada salahnya kita katakan demikian selama masih sesuai dengan konteks olahraga.

Kalau diperhatikan secara mendalam, hadis-hadis diatas ternyata memberikan dua manfaat besar bagi kita.

  1. Latihan dan ujian dalam olahraga merupakan suatu keniscayaan dan tidak boleh diabaikan. Meninggalkan latihan dan ujian adalah suatu kerugian besar bagi seorang olahragawan. Ia mengikis bakat dan menghilangkan kecakapannya. Kewajiban ini sama dengan kewajiban seorang pelajar dalam mengulangi pelajarannya agar tidak lupa atau hilang dari benaknya. Kalau tidak, perumpamaannya sama seperti wanita yang menguraikan benang yang sudah terjalin kuat membentuk sebuah kain. Betapa bodohnya perbuatan tersebut. Begitu juga dengan seorang olahragawan yang enggan mengasah kemampuan dan kecakapannya. Perumpamaan ini juga cocok untuknya.
  2. Seorang pelatih dan penanggung jawab adalah ayah dari semua. Sehingga diharapkan ia dapat memperlakukan mereka dengan adil dan bijaksana, tidak berat sebelah. Dengan begitu, apa yang ia lakukan tetap sesuai dengan ajaran agama dan sebagai pelaksanaan dari firman Allah SWT yang berbunyi, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.”

Salah satu bentuk perhatian Islam terhadap persoalan panah memanah adalah keputusan Rasulullah SAW untuk melatih, menertibkan, menentukan posisi mereka dalam peperangan, dan memutuskan waktu yang tepat untuk membidiknya. Pada saat perang Badr meletus dan kedua pihak saling berhadapan, beliau berkata, “Jika mereka mendekat, lepaskan anak panah kalian!”

Perkataan beliau “jika mereka mendekat” adalah bentuk nyata dari penentuan waktu yang paling tepat untuk memanah. Hal itu dilakukan setelah beliau menentukan posisi mereka dalam barisan tentaranya. Beliau memberi komando kepada mereka untuk tidak melepaskan panah sampai lawan mendekat. Tepatnya pada saat lawan maju menyerang dan mendekati mereka. Karena kalau mereka melepaskan anak panah sementara lawan berada di tempat yang jauh, tentu tidak akan sampai dan anak panah itu terbuang sia-sia.

Sejak dahulu bangsa Arab telah mengetahui bahwa panah merupakan alat yang sangat bernilai dan sangat bermanfaat dalam pertempuran. Seorang tentara berkewajiban memelihara panah, alat bidik, dan senjata lainnya dengan baik. Tidak boleh melemparkan dan tidak membidikkan senjata tersebut kecuali pada saat yang tepat sehingga dapat mengenai sasaran.

Rasulullah SAW mempunyai bakat dan kecapakan dalam hal memanah. Kecakaan ini merupakan anugerah khusus yang diberikan Allah pada beliau. Rasulullah SAW tampak gembira saat melihat orang yang memanah dapat mengarahkan anak panahnya tepat pada sasaran. Beliau juga yang memeriksa langsung sasaran yang dibidik tersebut. Keterangan ini dapat dirujuk pada hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, “Abu Talhah pernah berada satu perisai dengan Rasulullah SAW ia termasuk sosok yang ahli memanah. Jika ia melepaskan anak panahnya, Rasulullah SAW sendiri yang memeriksa sasaran anak panahnya.” (HR Bukhari)

Seorang pemanah yang mahir akan mendapat tempat tersendiri di sisi Rasulullah SAW sampai-sampai beliau menempatkannya laksana ayah dan ibundanya. Ali bin Thalib berkata, “Aku tidak melihat ada orang yang diperlakukan lebih istimewa oleh Rasulullah SAW dibanding Sa’ad. Aku mendengar beliau berkata, “Bidikkan anak panahmu. Ayah dan ibuku tebusannya.” (HR Bukhari).

Sumber foto: di sini

Rasulullah SAW dan Olahraga

Posted by admin - 18 Maret 2013 - Olahraga
1
Olahraga

RASULULLAH SAW adalah sosok yang senang berolahraga. Beliau menganjurkan para sahabat berlatih memanah, dan beliau sendiri adalah pemanah ulung. Beliau menganjurkan mereka berlatih menunggang kuda, dan beliau sendiri penunggang kuda yang lihai. Beliau menganjurkan mereka berenang, dan beliau perenang yang mahir.

Semua kecakapan dan kepiawaian fisik Rasulullah SAW memang tidak dikenal luas. Beliau lebih terkenal dengan sifat yang lebih mulia, lebih utama, lebih pantas, dan lebih dibutuhkan umatnya – yaitu kasih sayang – sebagaimana firman Allah, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Firman-Nya lagi, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaannmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amal belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”

Sifat kasih adalah sifat yang paling nampak dalam diri Rasulullah SAW, padahal di balik sifat ini masih tersimpan sejumlah sifat lain. Di balik akhlak beliau juga terdapat akhlak lain. Beliau memiliki kecakapan dan kepiawaian yang beragam. Beliau pemberani dan penunggang kuda ulung. Ali bin Abi Thalib RA Pernah berkata, “Jika kami kepanasan dalam peperangan, kami segera mendekati Rasulullah SAW”

Pembaca mungkin tidak lupa peristiwa yang terjadi saat Perang Hunain berkobar. Saat orang lari
pontang panting, beliau tetap kukuh di atas keledainya seraya berteriak lantang, “Aku adalah Nabi. Dan aku adalah Ibnu Abdul-Muthalib.”

“Apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah SAW dalam perang Hunain?” tanya seseorang pada Al-Bara’ bin Azib. “Benar, tapi Rasulullah SAW tidak melarikan diri. Sesungguhnya orang-orang Hawazin adalah pemanah ulung. Saat kami berhadapan dengan mereka, mereka berhasil memukul mundur hingga kami lari ponting-panting. Namun Rasulullah SAW tidak lari. Sungguh, aku melihat beliau di atas punggung keledainya yang berwarna putih, dan Abu Sufyan mengambil tali kekang kuda beliau pada saat beliau berkata dengan lantang, “Aku adalah Nabi. Aku adalah putra Abdul Muthalib.” (HR Bukhari)

Kisah di atas merupakan fakta yang menunjukkan keberanian dan keperkasaan Rasulullah SAW.
Beliau menunggang keledai, padahal keledai adalah hewan yang tidak bisa lari kencang. Orang tidak akan mampu menyelamatkan diri dengan menunggangi keledai. Beliau juga berseru dengan lantang, “Aku adalah seorang nabi dan tidak ada kedustaan. Aku adalah putra Abdul-Muthalib” Dalam ungkapan ini yang dimaksud adalah diri beliau sendiri. Dapat dibayangkan betapa
beraninya Rasulullah SAW, di saat orang-orang yang berjuang membela Tuhan dan membela dirinya gugur berjatuhan, saat pejuang yang berperang di bawah naungan dan panji-panjinya syahid satu persatu. Sementara yang lain berusaha menyelamatkan diri, beliau malah berteriak lantang ”Aku adalah Muhammad! Aku adalah putra Abdullah! Aku adalah putra Abdul-
Muthalib!”

Dari peristiwa ini tak dapat diragukan lagi bahwa beliau adalah sosok pemberani dengan kemampuan luar biasa. Dari sini juga dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau tidak butuh bantuan dan pertolongan siapa pun setelah mendapat pertolongan dan penjagaan Allah. Orang-orang yang berada di sekeliling beliau saat itu sebenamya hanya mengambil manfaat darinya. Karena dengan memberi perlindungan dan penjagaan diri Rasulullah SAW dari musuh yang mencoba mencelakai, mereka akan memperoleh keutamaan dan pahala yang amat besar. Dalam sejumlah kondisi, jelas bahwa Rasulullah SAW tidak membutuhkan mereka. Allah memperkuat kenyataan ini dengan firman-Nya yang berbunyi, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya” lewat ayat ini, Allah seakan ingin berkata, “Dia bukan tertolong karena pedang kalian. Kalian jangan mengira bahwa kalau bukan karena kalian kemenangan tidak akan diraih. Kalau bukan karena kalian Islam tidak akan tersebar luas. Risalah tidak akan diketahui orang banyak.” Yang terjadi sebenarnya adalah “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammmad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya.”

Meskipun demikian, mereka tetap bersama Rasulullah SAW, berada di sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang. Mereka mengeluarkan segala daya dan kemampuan untuk menjaga Rasulullah SAW. Sebaliknya, Rasulullah SAW juga tidak berat hati untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan mendoakan mereka. Rasulullah SAW tidak pemah melupakan jasa-jasa mereka, karena memang Rasulullah SAW adalah sosok yang senang memberi penghargaan atas kebajikan, dan orang yang gigih memperjuangkannya. Beliau adalah sosok yang paling sempuma.

Para sahabat sendiri tahu bahwa Rasulullah SAW sejatinya tidak membutuhkan bantuan dan perlindungan mereka. Rasulullah SAW lakukan semua itu sebagai upaya melaksanakan perintah Allah yaitu akhdzul asbab. Beliau adalah suri tauladan yang mengajari manusia memberikan perlindungan. Di samping itu, akhdzul asbab (menggunakan sebab) merupakan asas masyarakat lslam dan kebudayaan islami. Kejayaan Islam tidak dibangun di atas pondasi mukjizat dan kejadian-kejaidan aneh. Mukjizat dan kejadian aneh hanyalah bukti atas kebenaran risalah dan hanya terjadi saat dibutuhkan. Namun islam jaya bukan karena dibangun di atas mukjizat dan kejadian-kejadian. Islam dibangun berdasarkan kaidah, asas, dan dasar yang jelas. Semua ini merupakan bentuk akhdzul asbâb (menggunakan sebab). Demikianlah sikap dan tingah laku Rasulullah SAW. Namun demikian, sesekali Allah SWT memberikan dan memperlihatkan mukjizat yang sesuai pada kesempatan yang cocok.

Walhasil, tampillah Rasulullah SAW. sebagai sosok pemberani, pemanah ulung, dan penunggang kuda yang mahir. Semua sifat ini terekam dalam sejarah dan diabadikan sejumlah hadis sahih seperti yang akan kita lihat. Suatu ketika penduduk Madinah dicekam rasa takut. Mereka mendengar suara gemuruh dari luar kota. Mereka menyangka suara itu berasal dari musuh yang siap meyerang. Pada saat seperti ini, Rasulullah SAW seharusnya berada di tengah-tengah mereka sembari dilindung. Temyata kenyataannya tidaklah demikian, Rasulullah SAW bergegas menunggang kuda liar tanpa pelana dan tali kekang. Hanya orang yang memiliki kepandaian istimewa dalam menunggang kuda yang mampu mengendalikan kuda dalam keadaan seperti itu. Beliau bergegas menunggangi kuda itu dan memeriksa mengitari kota Madinah, setelah yakin tidak ada musuh, beliau kembali lagi dengan cepat. “Beliau kembali ke
tempat semula secepat kilat,” kata Anas bin Malik RA.

Anas bin Malik RA bercerita, Rasulullah SAW. adalah orang yang paling baik, dermawan, dan berani. Pernah suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang kuat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah suara tersebut lalu berjumpa Rasulullah SAW, ketika itu beliau baru saja pulang dari tempat suara tersebut. Beliau telah mendahului mereka pergi ke arah suara tersebut. Pada waktu itu beliau menaiki kuda Abu Talhah. Di leher kuda itu, terdapat sebilah pedang. Kemudian beliau bersabda, “Kamu tidak perlu takut, kamu tidak perlu takut.”

Dalam hal berolahraga yang sarat nuansa kepahlawanan dan keperkasaan Rasulullah SAW. juga menaruh perhatian besar terhadap urusan-urusan gang sepele. Memberikan berita gembira saat
berangkat berjihad mengontrol sendiri persiapan pasukan. memuji prajurit yang satu dan menegur yang lain, menilai bahwa ini sudah baik dan ini belum. mengatur taktik perang –kapan waktu untuk memanah, kapan waktu untuk menyerbu dengan pedang, dan kapan waktu untuk bertahan. Siapa yang mengatur pasukan dalam Perang Badr? Siapa yang mengatur pasukan dalam Perang Uhud? Siapa yang mengatur pasukan dalam peperangan yang lain? Siapa yang menyuruh melepaskan anak panah pada waktu yang tepat? Siapa yang berkata, “Dalam jarak seperti ini bidikkan panah kalian. Kalau mereka jauh, maka jangan gunakan panah, karena hal itu akan sia-sia.” Pada saat itu, satu anak panah sanget berarti dan berharga bagi mereka. Atas dasar itulah, beliau menyuruh untuk menyimpan busur panah selagi musuh tidak dekat dan berada di luar jangkauan bidik.

Siapa yang membangkitkan semangat juang? Beliau berseru, “Bangkitlah wahai Ali!” “Bangkitlah wahai Fulan!” “Bangkitlah wahai Fulan!” Dialah Nabi Muhammad SAW. Karena menguasai seni perang secara mendalam, maka jangan heran kalau Rasulullah SAW sukses mengatur dan meramu strategi perang. Beliau tahu persis orang yang pantas untuk posisi tertentu, orang yang layak berada di barisan belakang melindungi beliau. Semua ini beliau tunjukkan dalam perang Badr yang pecah pada 27 Ramadhan.

Ketika Uthbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah (saudaranya), dan Walid bin Uthbab (putranya) menghambur ke depan menantang duel satu lawan satu, Rasulullah SAW segera memerintahkan tiga orang pemuda Anshar meladeni tantangan itu. Mereka adalah Abdurrahman bin Auf, Mu’adz bin Alharits, dan Abdullah bin Rawahah. “Siapa kalian?” tanya tiga pendekar quraisy itu. “Kari adalah ksatria Anshar,” jawab mereka. “Kari tidak ada urusan dengan kalian!” serga merka. “Suruh tokoh-tokoh dari golongan kami tampil!” lanjutnya. Mendengat pernyataan itu, Rasulullah SAW segera berseru, “Ubaidiah bin Harits, Hamzah bin Abdul Muthalib dan kamu Ali bin Abi Thalib, bangkit dan layani tantangan mereka!”

Ubaidah –yang paling tua—melawan Uthbah, Hamzah melawan Syaibah, sedangkan Ali melawan Al-Walid bin Uthbab. Duel satu lawan satu ini dimenangkan oleh semua perwira muslim. Walaupun pada akhir perang tersebut, ubaidah bin Al-Harits syahid dalam keadaan kaki tertebas. Saat itu ia menyitir sajak berikut:
Jika mereka memotong kedua kakiku, sunggu aku adalah seorang muslim
Aku berharap Allah menganugerahkan kehidupan mulia karenanya
Allah telah memakain baju terindah padaku
Baju Islam yang menutupi segla keburukan

Para sahabat kemudian membawa dan membaringkannya di dekat Rasulullah SAW, sejurus kemudian, beliau memegang kaki Ubaidah dan menyentuhkan pipinya pada potongan kaki tersebut. Melihat penghormatan itu , Uthbab berkata, “Rasulullah, sekiranya Abu Thalib melihatku, dia pasti sadar bahwa aku lebih berhak untuk berucap:
Aku menyerahkannya hingga aku terjungkal di sampingnya
Melupakan anak-anak dan juga sanak kerabat
Selesai menyitir sajak di atas, Uthbab RA menghembuskan napasnya yang terakhir. Rasulullah SAW berkata, “Aku bersaksi kau gugu8r secara syahid.”

Rasulullah SAW senantiasa memberi semangat para sahabat untuk berjuang, berjihda, bertempur dengan kstaria. Demi mewujudkan semua itu , beliau mengadakan pertandingan untuk mengetahui siapa yang berhak maju ke medan tempur dan siapa yang tidak. Dari pertandingan itu juga akan diketahui siapa yang layak turut berperang dan siapa yang belum.

Terjemahan dari buku Shilah Ar-Riyadhah bin Ad-Din wa Dauruha fi Tansyiati Asy-Syabab Al-Muslim karangan Habib Muhammad bin Alwi Al-Malaki Al-Hasani

AWSOM Powered