Category: Pemuda dan Masa Depan

Man Jadda Wajadda. Perjalanan Mahasiswa Penerima Bantuan Rabithah Alawiyah ke Amerika Serikat.

Posted by admin - 9 Agustus 2014 - Berita, Pemuda dan Masa Depan
0
Yusuf Alhaddar (3) copy

 

Oleh: Mohammad Yusuf Alhaddar

Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Mohammad Yusuf Alhaddar, saat ini tercatat sebagai mahasiswa aktif jurusan Teknik Geologi di Universitas Padjadjaran, Bandung. Segala puji bagi Allah serta sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW selalu saya panjatkan setiap saat. Di momen ini, saya akan berbagi cerita dan pengalaman kepada pembaca setia Busyra, terkait keikutsertaan saya dalam program beasiswa pertukaran pelajar ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Kala itu, 02 April 2014 pukul 13.00 WIB, handphone saya tiba-tiba berdering dengan nomor baru yang melakukan panggilan. Sempat terkejut karena ternyata nomor tersebut adalah milik staf kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta. Terkejut dan tak percaya, kabar bahagia yang dinantikan selama tiga bulan lamanya pun datang juga. Saya terpilih mewakili Indonesia dalam program beasiswa pertukaran pelajar setelah bersaing menyisihkan ratusan aplikan lainnya. Program ini bertajuk Study of the United States Institutes for Student Leaders on Global Environmental Issues yang dilaksanakan pada 9 Mei – 15 Juni 2014 di tiga tempat yaitu Honolulu, Hawaii; Boulder, Colorado dan Washington DC, Columbia.

Saya selalu percaya bahwa setiap hal besar pasti membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit. Karena di dunia ini tak ada satupun yang benar-benar gratis. Ingin bermimpi indah saja butuh tidur yang nyenyak terlebih dahulu, apa lagi ingin sukses dan bahagia dunia akhirat. Menilik ke belakang, sibuk menyiapkan aplikasi terkait program ini memang membuat saya semakin yakin bahwa tak ada sesuatu yang tidak mungkin. Jalan Allah selalu bersama mereka yang yakin dan percaya. Selama kita mencoba dan sungguh-sungguh, takkan ada sesuatu yang sia-sia.

Perjuangan saya yang gampang-gampang susah diantaranya memberanikan diri meminta surat rekomendasi, sebagai salah satu syarat aplikasi kepada Kepala Urusan internasional Unpad dan Wakil Dekan Fakultas yang untuk minta tangan saja butuh kesabaran ekstra karena harus rela menunggu dan bolak-balik menemui. Belum lagi membagi konsentrasi antara membuat essay yang menarik sambil menyelesaikan tugas pemetaan pendahuluan (memetakan kavling seluas 5×5 km sebagai syarat kelulusan satu mata kuliah mahasiswa geologi di semester itu) yang deadline pengumpulannya semakin dekat dan hampir bersamaan.

Saat tulisan ini dibuat, saya tengah menikmati dinginnya Boulder, Colorado di malam hari. Bertemu dengan banyak orang-orang hebat yang menginspirasi, sembari memetik banyak hal dari negeri raksasa nan adikuasa. Tampak bahagia Karena bisa menginjakkan kaki kembali di luar teritori Indonesia untuk sesuatu yang ‘bernilai’ dan sangat berharga. Meskipun tak jarang mengalami kesulitan karena terbatasnya makanan halal yang bisa dimakan, namun semua itu terbayar dengan hasil yang amat bermakna.

Sekilas tentang program ini, merupakan bagian dari Young South East Asian Leaders Initiatives (YSEALI) yang dicetuskan Presiden AS, Barack Hussein Obama. Lima Negara yang ikut serta diantaranya Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Adapun tujuan utama dari program ini ialah mencetak pemimpin masa depan yang berwawasan lingkungan dan memiliki kepribadian yang dibutukan dunia masa depan. Ancaman kerusakan lingkungan kian hari kian mengkhawatirkan. Efek pemanasan global dan gas rumah kaca akibat penggunaan energi tak ramah lingkungan, kerusakan ekosistem laut, serta penggunaan plastik dan buruknya tata kelola sampah merupakan sekian dari fokus utama yang kami pelajari di institut ini. Kegiatan meliputi kuliah (lecture) tentang ilmu lingkungan dan kepemimpinan di University of Hawaii at Manoa, kunjungan lapangan ke institusi dan NGO seperti Hawaii Electric Company, dll, pelatihan dan presentasi projek untuk lingkungan asal, serta tinggal bersama orang tua asuh yang berasal dari keluarga AS (homestay) untuk memperdalam pengetahuan kebudayaan masyarakat Amerika.

Sejauh ini saya sangat menikmati program yang dilaksanan rutin tiap tahun. Mengunjungi berbagai tempat eksotis dan historis di Hawaii diantaranya Kualoa Ranch yang menyediakan movie tour seperti Jurrasic Park, mengunjungi Pearl Harbor yang membawa Amerika pada perang dunia kedua, dan pantai-pantai yang indah serta sistem tata kota wisata yang apik dan menawan. Saya berharap semoga ilmu dan pengalaman yang didapat selama berguru singkat disini bisa membawa manfaat dan memberikan pengaruh kepada orang-orang di sekitar saya.
Karena saya percaya bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada manusia sangatlah berlimpah hingga kita terkadang tak menyadarinya.

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Keteladanan Pemimpin

Posted by admin - 8 November 2012 - Pemuda dan Masa Depan, Psikologi
0
Pemimpin

Kita mendambakan keteladanan para pemimpin, terutama dalam hal penegakan hukum dan keadilan. Tanpa keteladanan itu, perubahan dalam masyarakat sulit diwujudkan. Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan perlunya keteladanan tersebut.

Menurut Islam, seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Nabi Muhammad SAW berulang kali menegaskan bahwa beliau tidak akan melarang suatu perbuatan sebelum beliau sendiri yang pertama mematuhinya. Sebaliknya, beliau juga tidak akan menyuruh umatnya melakukan suatu kebajikan sebelum beliau sendiri melakukannya.

Dalam kaitan ini, ada kisah menarik yang patut disimak. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang raja dari sebuah negara kecil di Syam (Syria) yang baru masuk Islam. Namanya Jablah bin Aihmad Ghasani. Suatu saat, ketika ia tengah menunaikan ibadah haji, ujung jubahnya terinjak dengan tidak sengaja oleh seorang Arab miskin. Dalam amarahnya, Jablah menampar orang tersebut, tapi si miskin balik menamparnya.

Jablah lalu menemui Umar dan mendesaknya agar menghukum rakyat kecil itu. Namun, di luar dugaannya, sang Khalifah justru menyatakan bahwa Jablah telah menerima balasan dari perbuatannya.

Tentu saja, dia tidak bisa menerima pernyataan khalifah itu. “Kalaulah dia melakukan penghinaan ini di negeri saya, dia telah saya gantung,” ujarnya. “Itulah praktik di sini sebelum Islam,” jawab Khalifah Umar. “Tetapi, sekarang, orang miskin dan putra mahkota diperlakukan sama di hadapan Islam. Dalam menegakkan hukum, Islam tidak mengenal perbedaan antara yang miskin dan kaya,” tegas Umar.

Prinsip keadilan dan persamaan di hadapan hukum itu pula yang selalu ditekankan empat Khulafaur Rasyidin ketika memilih seorang gubernur. “Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan dan dalam diri Anda sendiri,” kata Khalifah Ali bin Abi Thalib kepada Malik Asytar ketika menunjuknya sebagai gubernur di Mesir. “Lindungilah hak-hak rakyat. Janganlah hanya karena segelintir orang, Anda mengorbankan kepentingan mereka,” tegas Khalifah Ali.

Dengan demikian, jelaslah bahwa keteladanan dan kewajiban menegakkan keadilan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Karena, ia merupakan amanah Allah dan sendi pokok dari kewibawaan pemerintah. Menurut pendapat sejumlah pakar hukum, apabila keadilan diabaikan, pasti itu akan menimbulkan reaksi, bukan saja dari mereka yang menjadi korban ketidakadilan itu, tapi juga dari masyarakat luas yang mendambakan terciptanya tatanan masyarakat ideal.

Oleh: Alwi Shahab

Sumber: di sini

AWSOM Powered