Click here to send us your inquires or call (852) 36130518
Click here to send us your inquires or call (852) 36130518

Category: Psikologi

Aib Adalah Cermin Diri

Posted by admin - 20 Juli 2012 - Da'i dan Dakwah, Psikologi
0
reflection

Ada seorang perempuan datang kepada Syaikh Hatim Al Asham untuk bertanya tentang sebuah persoalan. Saat bertanya, tiba-tiba keluarlah suara buang angin dari perempuan itu dan ia merasa sangat malu.

“Keraskan suaramu!,” teriak Hatim dengan keras untuk mengesankan seolah ia tuli.

Si perempuan merasa senang dan mengira kalau Hatim tidak mendengar suara buang anginnya. Karena kejadian itulah, kemudian Syaikh Hatim mendapat julukan Al Asham (si tuli).

***

Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga darga dari Syekh Hatim Al Asham. Hal menarik dari kisah di atas adalah usaha dari seorang besar yang menutup rapat-rapat keburukan orang lain, tidak mengumbarnya sebagaimana terjadi saat ini, dimana kita melihat fenomena tayangan infotainment yang menceritakan kekisruhan rumah tangga orang lain, membeberkan perselingkuhan serta perzinahan yang terjadi dengan begitu terang benderang.

Akibatnya, ajang berkumpul sesama teman atau keluarga rasanya kurang ‘afdhal’ bila tidak dibumbuhi dengan ngerasani (menggunjing) atau menggosip.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam bukunya Al Da’wah Al Tammah, mengutip ucapan Sayyidina Al Hasan Al Bashri, terkait meneliti aib diri sendiri. Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Engkau tidak akan memperoleh hakikat iman selama engkau mencela seseorang dengan sebuah aib yang ada pada dirimu sendiri. Perbaikilah aibmu, baru kemudian engkau memperbaiki aib orang lain. Setiap engkau memperbaiki satu aibmu, maka akan tampak aib lain yang harus kau perbaiki. Akhirnya kau sibuk memperbaiki dirimu sendiri. Dan sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah adalah dia yang sibuk memperbaiki diri sendiri. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak ada hari seperti hari kiamat, hari dimana aib terbuka dan mata menangis.”

Seorang ulama pernah berkata: “Aku tidak menemukan sesuatu yang paling ampuh merontokkan amal, merusak hati, menyeret kepada kebinasaan seorang hamba dan mendekatkan kepada kebencian serta memudahkan masuknya rasa suka kepada sifat pamer (riya’), ujub dan kedudukan selain terwujud pada minimnya pengetahuan seorang hamba akan aib-aib dirinya sendiri sembari melihat keburukan yang ada pada diri orang lain.”

Imam Al Ghazali dalam kitabnya yang terkenal, Ihya Ulumuddin,mengetengahkan kiat jitu menyingkap kekurangan yang melekat pada diri kita. Beliau menyarankan untuk menempuh empat cara:

Pertama, duduk di hadapan seorang guru yang mampu mengetahui keburukan hati dan berbagai masalah yang tersembunyi di dalamnya. Kemudian ia memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam ber-mujahadah membersihkan aib itu. Ini adalah keadaan seorang murid dengan Syaikhnya dan seorang pelajar dengan gurunya. Sang guru akan menunjukkan aib-aibnya serta cara pengobatannya. Namun, di zaman sekarang guru semacam ini langka.

Kedua, mencari seorang teman yang jujur, memiliki bashiroh (mata hati yang tajam) dan berpegang pada agama. Ia kemudian menjadikan temannya itu sebagai pengawas yang mengamati keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan lahirnya, sehingga ia dapat memberi peringatan kepadanya. Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang cerdik, orang-orang terkemuka, dan para pemimpin agama.

Ketiga, berusaha mengetahui aib dari ucapan musuh-musuhnya sebab pandangan yang penuh kebencian akan menyingkapkan keburukan seseorang. Bisa jadi manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang sangat membencinya dan suka mencari kesalahannya lebih banyak dari teman yang suka bermanis muka, memuji dan menyembunyikan aib-aibnya. Akan tetapi, sudah menjadi watak manusia untuk mendustakan ucapan musuh-musuhnya dan menganggapnya sebagai ungkapan kedengkian. Hanya orang yang memiliki mata hati jernih yang mampu memetik pelajaran dari keburukan dirinya yang disebutkan oleh musuhnya.

Keempat, bergaul dengan masyarakat. Setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, maka ia segera menuduh dirinya sendiri juga memilki sifat tercela itu. Kemudian ia menuntut dirinya untuk segera meninggalkannya. Sebab, seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain ia akan melihat aib-aibnya sendiri.  

Bagaimana Cara Kita Menundukkan Diri di Hadapan Allah?

Posted by admin - 19 Juli 2012 - Aqidah, Psikologi
0
sujud

Tadharru’ adalah sebuah istilah yang berarti ketundukan diri yang sangat dan rasa malu yang disebabkan oleh rasa putus asa dan ia diekspresikan ketika seseorang mencapai keadaan kritis. Imam Ahmed ibn Hambal menjelaskan dengan mengatakan, ”Bayangkan seseorang yang tenggelam di tengah lautan dan yang dimilikinya hanyalah  sebatang kayu yang digunakannya  supaya terapung. Ia menjadi semakin lemah dan gelombang air asin mendorongnya semakin dekat pada kematian. Bayangkanlah ia dengan tatapan matanya yang penuh harapan menatap ke arah langit dengan putus asa sambil berteriak Ya Tuhanku, Tuhanku!!!!! Bayangkanlah betapa putus asanya dia dan betapa tulusnya ia meminta  pertolongan Tuhan. Itulah yang disebut dengan tadharru di hadapan Tuhan”.

Dalam al-Qur’an, Allah mengajarkan kita bahwa tadharru adalah sebuah bentuk pengabdian yang dilakukan oleh seorang mukmin ketika ia berada pada keadaan darurat   dan  krisis. Tadharru mengharuskan seseorang untuk menghilangkan tabir kesombongan dan rasa ego yang  menutupi hatinya. Ia melibatkan rasa butuh yang  tulus kepada Tuhan semesta alam. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang itu telah menyadari betapa lemahnya ia dan betapa perkasanya Tuhan kita. Terkadang ketika Allah melihat hamba-Nya begitu tenggelam dalam kehidupan dunia, Ia memberi cobaan pada mereka agar mereka menyadari kelemahan mereka dan kembali meminta perlindungan Allah. Karena  itu, musibah yang menimpa seorang Muslim adalah untuk menyadarkannya dan  membuatnya kembali kepada Tuhan. Kita  harus  memiliki cukup kesadaran dan pengertian untuk memahami pesan ini dan menindaklanjutinya.

Allah SWT mengatakan, “Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami siksa mereka  (sebagai ujian)  dengan kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka tunduk (kepada Allah) (QS  6:42). Ayat ini  menunjukkan bahwa Allah SWT menggunakan musibah  sebagai  metode  rutin untuk menyadarkan orang dan mendorong mereka untuk meminta pertolongan pada-Nya. Musibah  ini ibarat obat yang pahit supaya kita menjadi mukmin yang lebih baik.  Allah melakukan hal ini untuk kebaikan kita sendiri karena kita  harus menjaga hubungan baik dengan-Nya. Allah menyatakan bahwa kita membutuhkan ‘obat ‘ ini dalam ayat berikut, “Dan kalau sekiranya Kami mengasihi mereka dan Kami hilangkan bencana yang ada (menimpa) mereka, niscaya mereka terus-menerus terombang-ambing dalam kesesatan mereka” (QS 23:75).

Dalam ayat yang lain Allah SWT bersabda, “Maka mengapa mereka tidak tunduk ketika datang siksaan Kami, bahkan hati mereka amat keras dan setan menampakkan keindahan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS: 6:43). Kita tidak boleh melakukan kesalahan seperti ini dan menutup mata dan hati kita terhadap panggilan Allah untuk tunduk dan merasa malu kepada-Nya. Kita tidak boleh membiarkan setan menipu kita untuk percaya bahwa permasalahan kita tidak ada kaitannya dengan hubungan kita dengan Allah.

Allah SWT mengatakan, “Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melepaskan kamu dari kegelapan (bencana) di darat dan di laut yang kamu berdoa kepada-Nya dengan merendahkan diri dan dengan pelan; sungguh jika Dia menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur!’, Katakanlah, ‘Allah menyelamatkan kamu daripadanya  dan dari segala kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya’” (QS 6:63-64). Tidak ada seorangpun yang akan menyelamatkan kita dari kegelapan yang kita alami sekarang ini kecuali Allah SWT, namun sebelumnya, kita harus menyerunya dengan penuh ketundukan.

Bagaimana mencapai tadharru’:

Kita perlu menyadari  musibah besar yang menimpa kita saat ini. Anak-anak kita dihujani oleh  berton-ton misil. Orang-orang Muslim ditindas dan disiksa di berbagai penjuru dunia. Belum begitu lama berselang ribuan wanita diperkosa di Balkan dan hingga saat ini orang-orang tidak berdosa tewas oleh peluru-peluru Israel. Rumah-rumah dihancurkan dan kehormatan diinjak-injak setiap harinya. Ini bukan saja tentang Irak, dan percaya atau tidak, ini juga bukan hanya tentang Umat Islam. Ini tentang planet kita, Bumi. Dunia kita mengarah pada jurang dan hal ini terus berlanjut. Kita dapat menipu diri kita sendiri dengan mengatakan bahwa hal ini tidak ada pengaruhnya pada diri kita sendiri, namun kita akan bersalah akibat mengabaikannya. Jika kita tidak menyadari parahnya situasi saat ini, maka kita memiliki masalah tambahan. Bacalah ayat (6:43) di atas. Kita butuh akan pertolongan dan perlindungan Tuhan!

Ketika ikan paus menelan Nabi Yunus AS setelah ia dilempar dari perahu, ia berada dalam situasi yang mengerikan. Bayangkanlah sejenak bagaimana rasanya terperangkap dalam sebuah kamar mandi kecil yang gelap dan tidak ada harapan untuk keluar dari situ. Sekarang bayangkan diri Anda berada dalam perut ikan paus, bayangkan kegelapannya dan kesulitan bernafasnya. Ikan paus tersebut berenang di laut yang berbadai dan pada malam hari. Bayangkanlah apa yang dirasakan oleh Nabi Yunus AS, dan bayangkan bagaimana ia berdoa dengan penuh ketundukan dengan mengatakan, “ Sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang aniaya” (QS 21:87). Bayangkan seorang nabi, seorang contoh panutan manusia, mengatakan bahwa dirinya sebagai seorang yang aniaya, lantas bayangkanlah bagaimana kita seharusnya  memohon kepada Allah..

Pada malam sebelum perang Badar, Nabi Muhammad melihat bagaimana pasukan berhala menang secara jumlah dari mereka dan bersenjata lengkap. Kemudian beliau membandingkan dengan pasukan Muslim dan betapa sedikit dan kurang persenjataan. Perang Badar merupakan konfrontasi militer pertama antara Muslim dan Kafir dalam sejarah Islam. Jika umat Islam kalah maka Islam akan hilang dari muka bumi selamanya. Menyadari hal ini, Nabi Muhammad mulai memanjatkan doa kepada Allah dengan penuh  ketundukan. Beliau mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membentangkan tangannya. Beliau kemudian berdoa dengan tulus kepada Allah dan tubuhnya bergetar sehingga menyebabkan surbannya jatuh ke punggungnya. Beliau memohon pada Allah dan menangis, “wahai yang Maha Hidup!!! Wahai Yang Maha Memberi Rizki, wahai Yang Maha Penolong!! Ya Allah, jika Engkau binasakan pasukan ini (Islam) Engkau tak akan disembah lagi  dimuka bumi ini. Ya Allah penuhilah janjimu kepadaku. Ya Allah, berikanlah pertolonganmu.

Inilah tingkatan rasa malu yang harus kita usahakan untuk kita capai ketika berdoa kepada Allah dalam meminta pertolongan. Mari kita memohon kepada Allah dengan tingkat kerendahan yang paling maksimal seakan-akan kita benar-benar tenggelam di laut dan tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan kita kecuali Dia. Mari kita bangun di malam hari untuk mengerjakan shalat malam, dan mari kita bersimpuh di hadapan Tuhan memohon padanya seakan-akan kita tidak pernah melakukan sebelumnya. Mari kita berkumpul bersama dan melakukannya bersama-sama. Mari kita berdoa dengan penuh rasa hina bersama-sama. Mari kita menangis,  dan mari kita berlari menuju padanya bersama keluarga  dan teman. Mari kita semua memohon atas pertolongan, perlindungan,dan petunjuk-Nya.

Tadharru’…… adalah apa yang harus kita pahami dan kerjakan. Kita harus mencapai tadharru sehingga Allah mau  mengubah keadaan kita, karena……

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah dirinya sendiri”

Diadaptasi dari “We must We must always humble ourselves towards Allah” oleh Amr Khaled, seorang  aktivis dan juru  dakwah Mesir.

Menjaga Semangat Ramadhan Tetap Hidup

Posted by admin - 14 Juli 2012 - Psikologi, Ramadhan
1
Love In A Headscarf

Oleh: Shelina Zahra Janmohamed


Dunia Muslim berubah pada bulan Ramadan. Sarapan dilakukan pada saat sahur. Berdasarkan tradisi Islam, suapan pertama makanan biasanya sesuatu yang manis atau kurma. Tapi benarkah waktu-waktu yang kita lewati pada bulan ini sedemikian religiusnya?

Perubahan pada budaya Ramadan kontemporer berarti bahwa makna spiritual Ramadan perlahan-lahan menjadi hilang. Padahal ketiadaan aktivitas fisik seperti makan, minum, dan seks pada siang hari dengan tujuan mendekatkan diri pada Sang Pencipta sebenarnya memiliki banyak arti dan filosofi.

Puasa menyebabkan seseorang merasakan dan menghargai penderitaan orang miskin dan lapar. Ia merupakan kesempatan untuk memberikan lebih banyak waktu untuk spiritualitas daripada hal-hal yang bersifat fisik. Ia menandakan bahwa kita dapat hidup bahagia dan berhasil meski kekurangan.

Pada malam harinya, tujuan mulia ini dikesampingkan seakan-akan Ramadan hanya untuk siang hari saja. Pesta pun dimulai.

Para ibu memasak makanan mewah untuk keluarga mereka. Makanan tersebut biasanya mengandung kalori sehingga banyak Muslim yang berkata bahwa pada bulan Ramadan mereka justru bertambah berat badannya dari pada turun seperti yang dikira. Makna filosofis pengendalian diri siang harinya terpantul pada berlebih-lebihannya hidangan pada malam hari.

Salah satu tradisi keagamaan pada bulan Ramadan adalah memberi makan orang lain pada waktu iftar agar memperoleh pahala. Undangan makan malam pun disebar, dan acara iftar menjadi acara sosial yang hangat. Namun, di beberapa tempat ia berubah menjadi ajang pamer kemewahan menu makanan. “Pada akhir acara, orang-orang akan mengumumkan berapa biaya makanan tersebut,” kata salah seorang perempuan berkebangsaan Mesir untuk memberi penekanan pada rasa pamer yang mendominasi apa yang harusnya menjadi ajang saling berbagi.

Setelah acara iftar selesai tersedia banyak pilihan hiburan. Sebagian orang akan pergi ke tenda-tenda Ramadan untuk menghisap sisha dan bersantai bersama teman-teman sepanjang malam atau pergi dari satu pesta ke pesta lainnya sampai pagi. Sementara itu, sebagian yang lain akan tetap tinggal di rumah untuk menyaksikan acara opera sabun yang jumlahnya mendominasi siaran televisi. Tahun lalu di Arab Saudi disebutkan bahwa ada 64 acara opera sabun yang disiarkan tiap malamnya secara terus menerus supaya pemirsa dapat menonton sebanyak mungkin.

Ini bukan merupakan penilaian terhadap kualitas acara televisi tersebut atau pernyataan beberapa ulama yang menyatakan bahwa acara-acara tersebut “buruk”. Ini hanya sekadar pengamatan bahwa opera sabun ini mematikan perasaan masyarakat pada bulan Ramadan dan mengambil keuntungan darinya. Pemirsa televisi sadar bahwa mereka digiring ke tingkatan hiburan yang lebih tinggi namun tidak sadar bahwa kenikmatan beribadah dan berinteraksi sosial selama bulan Ramadan mereka rusak.

Bagaimana dengan belanja? Toko-toko buka lebih lama dari sebelumnya, dan seakan-akan Ramadan bukan waktu untuk beribadah malam melainkan hanya sekadar persiapan untuk Ied di mana kita akan saling memamerkan pakaian baru. Festival belanja Ramadan pun menjamur.

Bukannya menghentikan hasrat berbelanja kita justru semakin konsumtif selama 30 hari itu, baik di restoran maupun di mall.

Saya tidak mengatakan bahwa dunia Muslim telah menjadi komsumeris sebulan penuh. Suasana sosial dan spiritual pada komunitas Muslim tetap meriah dan masjid penuh dengan orang-orang yang beribadah dengan khusuk.

Yang mengejutkan kebanyakan muslim yang hidup di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim adalah bahwa rasa keimanan ini lebih terasa di negara-negara di mana Muslim adalah minoritas.

Di negara-negara tersebut jika Anda berpuasa maka Anda harus melawan mainstream yang ada di masyarakat. Anda tetap harus pergi bekerja di mana Anda harus melihat rekan-rekan kerja Anda meminum kopi, atau menghadiri pertemuan yang berlangsung pada saat iftar. Anda harus menyadari dan memahami alasan mengapa Anda berpuasa. Hal ini dapat menggiring pada kesuksesan ruhiyah.

Begitu pentingnya energi ini sampai-sampai saya mengenal beberapa Muslim yang datang ke Inggris pada bulan Ramadan meninggalkan negara Muslimnya supaya lebih mendapatkan keuntungan ruhiyah di bulan ini.

Seiring dengan memudarnya nilai-nilai ruhiyah akibat kondisi budaya dan komersialitas, Ramadan pun sekararang kehilangan makna dan urgensinya. Inilah yang terjadi pada tahun 1960 ketika presiden Tunisia Habib Bourgiba berniat membatalkan Ramadan. Meskipun Ramadan merupakan “budaya yang indah” ia merasa bahwa ia “melumpuhkan” masyarakat kita.

Dan ketika acara keagamaan menjadi budaya maka ia menjadi mudah untuk diabaikan.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa saya terlalu saleh. Sementara yang lain akan berkata bahwa jika para ibu ingin memanjakan keluarganya dengan makanan lezat setelah bersusah payah berpuasa seharian maka hal itu merupakan hak mereka. Selain itu ada pula yang akan mengatakan bahwa menghabiskan malam di bar sisha atau menonton opera sabun dapat meningkatkan kepekaan sosial.

Tentu saja tidak ada aturan bagaimana Anda mengisi bulan Ramadan. Anda tidak harus shalat seharian. Namun saya melihat tren yang cukup mengkhawatirkan. Semua kegiatan bisa jadi benar karena setiap orang memiliki pilihan, namun jika diperhatikan, Anda akan melihat makna dan konteks Ramadan perlahan-lahan menghilang. Jika kita menerima semua pembenaran maka kita harus berhati-hati terjerumus pada kemunafikan.

Bukan hanya Ramadan dan Idul fitri yang kini kehilangan makna dan pengaruhnya. Penganut Kristen yang taat serta Dunia Barat kini mengeluh bahwa makna natal telah mengering dan kehilangan nilai spiritualnya.

Beberapa pihak mungkin akan menolak membandingkan antara bagaimana natal dikomersialisasikan dengan situasi Ramadan kontemporer. Namun terdapat beberapa kesamaan seperti pada contoh-contoh yang telah disebutkan di atas.

Anda tidak perlu menjadi religius untuk dapat menghargai bahwa makna sosial dan etis dari acara-acara keagamaan seperti natal, Ramadan dan Eid begitu  berpengaruh terhadap moralitas masyarakat.

Untuk alasan inilah Umat Muslim menyuarakan protesnya sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki keyakinan dan saling berbagi kepedulian mengenai menjadi keringnya makna dan cakupan moral acara-acara kegamaan ini. Namun, seringkali kita menyalahkan dunia Barat sebagai tidak bertuhan dan rusak akibat komersialisasi yang berlebih-lebihan, sementara menutup mata pada tantangan yang sama yang dihadapi dunia Muslim.

Ramadan tidak harus menjadi, dan tidak boleh menjadi, kesalehan yang benar-benar hambar. Kesenangan, rasa saling berbagi, dan kebahagiaan dalam kebersamaan adalah komponen utama Ramadan. Namun jangan sampai ia hanya menjadi sekadar ajang mengumbar rasa rakus, belanja, dan hiburan kosong.

Kita perlu untuk mengetahui dan mengenal posisi kesenangan materi bulan Ramadan. Dengan menjadi jujur terhadap arti kesenangan fisik, maka kita dapat mengurangi prioritas kita terhadapnya supaya dapat memperoleh nilai ruhiyah dan moral setidaknya selama 30 hari bulan Ramadan.

Dengan mengurangi kesenangan fisik ini kita membuat Ramadan terasa begitu istimewa. Ramadan adalah tentang bagaimana kita mengenal nilai ruhiyah kita masing-masing dan tentang bagaimana kita menemukan diri kita sebagai sebuah jiwa, bukan tubuh, dalam masyarakat di mana kita hidup.

Shelina Zahra Janmohamed adalah seorang pengamat Islam Inggris dan penulis, sebuah memoar berjudul “Love in a Headscarf”. 

 

Islam Tidak Mengenal Apa yang Dinamakan “STRESS”

Posted by admin - 4 Juli 2012 - Aqidah, Ilmu Al Quran dan Tafsir, Psikologi
0
istiqomah

Oleh: Sayyid Syatir bin Abbas Assyathiri

Banyak orang yang sudah mengetahui bahkan mengalami apa yang dinamakan oleh kaum barat yaitu Stress, atau kalau diartikan kedalam bahasa indonesia adalah tekanan perasaan/tekanan kejiwaan dimana hati orang tersebut selalu merasa gelisah dan tidak ada ketenangan.

Mungkin perasaan yang timbul dari kegelisahan hati itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

      • Kekurangan harta/Kemiskinan
      • Masalah pekerjaan
      • Masalah rumah tangga
      • Dsb

Orang Islam yang beriman tidak akan pernah mengalami tekanan perasaan/kegelisahan hati selama dirinya selalu mendekatkan diri kepada Allah swt dengan beribadah secara istiqomah karena ketenangan jiwa itu hanya bisa didapat kalau seseorang selalu mengingat Allah swt dengan beribadah kepada-Nya.

Allah swt akan langsung memberikan balasan kepada hambanya yang selalu mengingatNya serta beribadah kepadaNya dengan balasan hati yang tenang. Karena sumber dari ketenangan seseorang itu terdapat di dalam hati ini.

 Firman Allah swt:

“(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan tentram Hatinya dengan mengingat Allah SWT.Ingantlah (bahwa) dengan mengingat Allah SWT sajalah Hati ini akan menjadi Tenang.” (QS. Ar Rad:28)

Rasulullah saw bersabda:

“Didalam tubuh manusia ada segumpal daging yang jika ia baik,maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia buruk,maka buruklah seluruh tubuhnya,itulah Hati.”

Memang harus diakui manusia untuk hidup membutuhkan mata pencaharian dan sebagainya,sebagai penunjang kelangsungan hidup, tetapi uang/harta bukan suatu jaminan manusia tersebut akan mendapatkan ketenangan hati kalau dirinya lupa kepada Allah swt dan tidak menjalankan perintah-Nya.

Banyak dari kalangan manusia yang mempunyai kelebihan harta, tetapi kehidupan mereka selalu dalam kegelisahan hati sebagai contoh di negara barat, hampir seluruh masyarakat barat hidup dengan berkecukupan harta, tetapi mereka merasakan kehidupan ini dengan perasaan bosan, jenuh, gelisah bukan sedikit orang-orang di barat yang harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena mereka itulah manusia-manusia yang kufur dan tidak mengenal Allah swt.

Kalau kita melihat serta mempelajari kehidupan para salaf, ulama, serta kaum sholihin selama menjalani kehidupan di dunia ini, mereka tidak memiliki banyak harta, dengan penghidupan serba kekurangan, tetapi hati dan wajah mereka menampakan keceriaan dan kegembiraan, karena mereka itulah orang-orang yang hati dan pikirannya selalu bergantungan kepada Allah swt.

Lebih lebih lagi Baginda Rasulallah saw selama menjalani kehidupan di dunia ini, mengalami kekurangan harta,tidak memiliki apa-apa, beliau bisa dikatakan orang yang paling miskin, tetapi dengan kemiskinan itu beliau mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah swt.

Kemiskinan atau apapun masalah kehidupan di dunia ini yang dialami oleh manusia bukanlah hal yang perlu ditakuti, selama manusia itu menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Karena kita sebagai umat Islam yang beriman percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, dan kita percaya akan ada lagi kehidupan setelah kematian,kehidupan yang abadi di akhirat nanti.

Firman Allah swt:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”

Rasulullah saw bersabda:

“Kemiskinan mendekati kekufuran”

Allah Arrahman Arrahim akan membantu, memberikan jalan keluar, serta kemudahan hidup seseorang apabila orang tersebut mengikuti serta menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang di larang-Nya, serta selalu mengingat kepada-Nya.

Tidak lupa untuk mendapatkan kemudahan serta pertolongan dari Allah swt seseorang harus berusaha/ikhtiar semaksimal mungkin dengan cara dan jalan yang benar lagi halal.

Firman Allah swt.

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah SWT niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka” (QS. Ath-Thalaq:2 – 3)

Bukan satu alasan bagi seseorang karena dirinya merasa kekurangan harta lantas dia enggan untuk beribadah kepada Allah swt.

Sekali lagi didalam pandangan agama Islam tidak ada yang dinamakan Stress. Orang-orang yang beriman tidak mengenal apa yang dinamakan Stress.

Mudah-mudahan dengan tulisan yang singkat ini, akan menjadi pelajaran untuk kita semua agar kita bisa mendekatkan diri serta bertawakkal kepada-Nya. Dan mematuhi apa yang di perintahkan-Nya serta meninggalkan apa yang di larang-Nya.

Amien Ya Robbal Aalamin…….

Secangkir Kopi

Posted by admin - 20 Juni 2012 - Aqidah, Psikologi
0
coffee

Oleh: Anonymous

Kalian tidak akan pernah melihat secangkir kopi dengan cara pandang yang sama lagi. Seorang wanita muda pergi ke ibunya dan bercerita mengenai kehidupannya dan juga bagaimana sulitnya dia menjalani kehidupan. Wanita muda tersebut tidak tahu bagaimana cara untuk menjalani kehidupannya dan dia ingin menyerah. Dia merasa sangat lelah untuk bertahan dan berjuang. Tampaknya bila satu masalah terselesaikan maka masalah yang lain akan bermunculan. Lalu ibunya membawanya kedalam dapur. Ibunya mengisi 3 buah teko dengan air. Di teko yang pertama, dia menaruh wortel, di teko yang kedua dia menaruh telur, dan di teko yang terakhir dia menaruh biji kopi.

Mereka kemudian duduk dan membiarkan teko tersebut mendidih tanpa berbicara sedikitpun. Sekitar 20 menit kemudian, ibunya mematikan kompor dan kemudian mengeluarkan wortel, telur dan kopi dalam menempatkan masing-masing pada sebuah mangkuk.

Ibunya kemudian melihat kepada anaknya, dia bertanya, “Katakan padaku, apa yang kamu lihat?”

“Wortel, Telur, dan kopi”, Jawab anaknya.

Ibunya kemudian meminta anaknya untuk melihat wortel tersebut dengan lebih seksama dan menyentuhnya. Ternyata wortel itu terasa lebih lembut. Ibunya kemudian memintanya untuk mengambil telur tersebut dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, anaknya memperhatikan telur matang yang mengeras karena telah direbus. Terakhir, ibunya memintanya untuk mencoba kopi tersebut. Sang anak tersenyum karena menghirup aroma kopi yang enak.

Anaknya kemudian bertanya, “Apa inti dari semua ini ibu?”

Ibunya menjelaskan, bahwa tiap benda ini telah menghadapi kesulitan yang sama – yaitu air yang mendidih – tetapi benda-benda tersebut memberikan reaksi yang berbeda-beda. Wortel yang sebelumnya kuat, keras dan sulit untuk diubah bentuknya; bagaimanapun juga setelah dimasukkan kedalam air mendidih, wortel tersebut berubah menjadi lebih lembut dan melemah. Telur yang sebelumnya sangat rentan dimana kulit luarnya melindungi cairan yang ada didalamanya; setelah berada dalam air yang mendidih, bagian dalam telur tersebut menjadi mengeras. Dan kemudian, yang terakhir adalah biji kopi, yang unik. Setelah direbus dalam air mendidih, biji kopi justru mengubah air tersebut.

“Yang manakah kamu?” Tanya ibu pada anaknya. “Saat kesulitan mengetuk pintu kehidupanmu, bagaimana kamu menanggapinya? Apakah kamu sebuah wortel, telur, atau biji kopi?”

“Berpikirlah seperti ini: Yang manakah saya? Apakah saya sebuah wortel yang terlihat kuat, tetapi dengan adanya rasa sakit dan kesulitan, apakah saya akan menjadi lemah dan kehilangan kekuatan saya? Apakah saya sebuah telur yang awalnya memiliki hati yang lembut tetapi kemudian berubah karena rasa “panas”? Apakah saya mempunyai hati yang cair tetapi setelah kematian, perpecahan, kesulitan ekonomi dan cobaan yang lain, hati saya menjadi keras? Apakah kulit luar saya terlihat sama meskipun di dalam hati saya menjadi keras ? Atau apakah saya seperti biji kopi? Biji kopi tersebut mengubah air panas, yang dapat membawa rasa sakit. Semakin panas air tersebut, maka biji kopi akan semakin melepaskan wangi dan rasanya. Bila kamu adalah biji kopi, saat keadaan berada dalam kondisi yang terburuk, kamu justru menjadi lebih baik dan mengubah situasi disekitarmu. Saat waktu yang ada menjadi yang tergelap, kamu justru menjadi arah menuju tempat yang lain? Bagaimana kamu mengatasi kesulitan? APAKAH KAMU SEBUAH WORTEL, SEBUAH TELUR ATAU SEBUAH BIJI KOPI?”

Persamaan Gender

Posted by admin - 13 Juni 2012 - Aqidah, Bina Keluarga, Da'i dan Dakwah, Fiqh dan Ushulnya, Psikologi
0
persamaan gender

Persamaan (Equality)

Nancy, sebut saja begitu, tiba-tiba minta cerai dari James, suaminya seorang profesional. Padahal ia sudah 10 tahun menikah. Sebagai ibu rumah tangga dengan 2 orang anak Nancy begitu menikmati kehidupannya. Penghasilan suami, sekolah anak-anak, dan kehidupan rumah tangganya tergolong sejahtera.

Tapi, Nancy ternyata telah “kerasukan” paham kesetaraan gender. Ia menjadi tidak nyaman berkeluarga. Mengurus rumah tangga tiba-tiba serasa seperti pembantu atau budak.

Di kepalanya serasa ada yang terus membisikkan tulisan Berger The family now appears as an age-old evil. Heterosexual is rape; motherhood is slavery, all relation between the sexes are struggle of power. (Keluarga sekarang nampak seperti setan tua. Hubungan seks pria wanita adalah perkosaan; peran keibuan adalah perbudakan; semua hubungan antarjenis kelamin adalah perjuangan untuk kekuasaan).

Maka, sukses suaminya dirasa menambah rasa superioritas dan penguasaan terhadap dirinya. Meski itu tidak secuil pun terbesit dalam pikiran suaminya.

Setelah cerai ia berharap akan bebas dari suami, bisa berkarir sendiri, dan tidak terikat di dalam rumah tangga. Tapi itu hanya harapan. Setelah cerai ternyata karirnya tidak sejaya mantan suaminya. Rumah tangga dan anak-anak masih di urusnya sendiri dan nyaris kehilangan perhatian. Di dunia kerjanya banyak masalah yang tidak mudah dihadapi.

Di dalam benaknya terdetik penyesalan “ternyata sendiri itu tidak nyaman”. Tanpa suami hidupnya terasa pincang. Benarlah wisdom dari Nabi: ”Sungguh miskin! wanita tanpa laki-laki. Sungguh miskin! laki-laki tanpa wanita”. Kalau saja Nancy pernah membaca hadis ini dia tentu akan mengumpat para feminis atau berpikir panjang untuk cerai. Asalkan dia tidak membaca hadis itu dengan hermeneutika.   

Mimpi Nancy adalah equality. Itu adalah tuntutan zaman postmo yang sarat kepentingan sesaat dan selalu berubah-rubah. Mimpi Nancy adalah misi postmo, yakni membangun persamaan total.

Jargonnya sayup-sayup seperti berbunyi “persamaan adalah keadilan”. Artinya kerja menyetarakan adalah kebaikan, dan membeda-bedakan adalah kejahatan. Sebab teori menyama-nyamakan adalah bawaan pluralisme dan relativisme. Dua doktrin penting yang berada pada melting pot postmodern.

Tapi penyamaan adalah utopia fatamorganis. Menjanjikan tapi tidak menjamin. Membela tapi untuk menguasai. Sebab para pakar di Barat yang sadar mengkritik misi ini.

Di tahun 1715-1747 Marquis De Vauvenargues sudah wanti-wanti “Alam tidak mengenal kesamaan; hukum, yang berlaku adalah subordinasi dan ketergantungan”. Hampir seabad kemudian James Anthony Fuller, (m. 1894) mengulangi pesan Marquis “Man are made by nature unequal, it is vain, therefore to treat them as if they were equal”.

Fakta sosial juga menunjukkan  bahwa in-equality antara sesama laki-laki sekalipun bisa diterima. Apalagi antara laki-laki dan wanita. Fakta biologis menjelaskan strukur tubuh laki-laki dan perempuan berbeda dan membawa perbedaan psikologis. Karena itu Dr. Ratna Megawangi dengan tepat dan cerdas memberi judul bukunya “Membiarkan Berbeda”.

Jika demikian apa berarti tuntutan equality tidak universal? Memang! Sebab kebebasan dan persamaan adalah bagian dari America’s core culture (Fukuyama).

Malahan, kata Ronald Inglehart dan Pippa Norris kesetaraan gender, kebebasan seks, perceraian, aborsi, dan hak-hak gay adalah ciri khas Barat. Maka benturan Islam–Barat adalah Sexual clash of Civilization”, tulisnya. Itulah, equality memang tidak universal.

Tapi mengapa kini tiba-tiba menjadi seperti universal? Sebab equality satu paket dengan Westernisasi, modernisasi dan globalisasi. Mulanya (abad 19 hingga awal abad 20) hanya sekedar menuntut kesamaan hak pilih, tapi kemudian (1960an-1980an) persamaan bidang hukum dan budaya. Periode selanjutnya (1990an) adalah evaluasi kegagalan gerakan pertama dan intensifikasi gerakan kedua.

Penyebarannya berbasis teori Foucault “untuk menjajah pemikiran kuasai wacana!”. Caranya, semua bangsa dan bahkan agama didorong untuk bicara gender. Yang menolak berarti ndeso alias kampungan. Strategi dan aplikasinya menjadikan kesetaraan gender sebagai neraca pembanguan di PBB. Pembangunan diukur dari peran wanita didalamnya dalam bentuk GDI (Gender Development Index).

Tapi benarkah peran wanita dapat menjadi neraca pembangunan?, Ternyata tidak.  di Negara-negara seperti Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan sebagainya telah ada equality dan equal opportunity dalam pendidikan dan pekerjaan. Tapi itu tidak juga mengangkat share income dalam keluarga.

Korelasi antara equality dan kemajuan pembangunan tidak terbukti. Prosentase anggota parlemen di AS misalnya hanya 10.3%, di Jepang 6.7%, di Singapura hanya 3.7%, sedangkan Indonesia 12.2%. Meski begitu Indonesia juga tidak lebih maju dari AS, Singapura dan Jepang, dalam semua bidang, khususnya pembangunan ekonomi.

Di Timur seperti Jepang, Taiwan, Indonesia, Pakistan, India, Saudi, Mesir dan sebagainya total equality tidak benar-benar dikehendaki wanita. Di negeri-negeri itu profesi ibu rumah tangga masih banyak diminati. Di Jepang antara wanita praktis tidak bekerja ketika menjadi istri dan mengurus keluarga. Tapi tidak ada pengaruh ekonomi yang signifikan terhadap Negara.

Lucunya, di negeri ini ulama, kyai dan cendekiawan Muslimnya tergiur untuk “mengimpor” paham kesetaraan ini. Mereka menjadi pongah lalu melabrak syariat. Fikih empat mazhab itu “dicaci” sebagai terlalu maskulin dan harus dirombak. Ayat-ayat gender ditafsirkan ulang demi equality. Yang muhkamat (pasti) diangggap mutasyabihat (ambigu).

Akhirnya, lahirlah konsep fikih berwawasan gender, lesbianisme dianggap fitrah dan perilaku homoseks dianggap amal saleh. Lucu! bak shalawat dilantunkan secara rap atau R&B, atau bagaikan masjid dihias pohon natal.

Jika para pegiat feminisme, mendapat berbagai awards dari Barat tidak aneh. Semakin galak menista syariat semakin bertaburan awards-nya. Tapi ide penerima awards tidak berarti benar dan sebaliknya. Sebab dari penelitian Yayasan Ibu Harapan di 6 kota besar di Indonesia, gagasan fikih itu ditolak oleh 90% responden dari 500 muslimah.

Ide persamaan hak waris pun ditolak 91% responden. Bahkan mayoritas (97.4%) tidak sepakat dengan ulah Aminah Wadud menjadi Imam. Apalagi perilaku Irsyad Manji yang lesbi dan pendukungnya di negeri ini.

Masalahnya apakah tuntutan kesetaraan itu setingkat 50-50? Jika benar, apakah tuntutan hak juga perlu disamakan dengan pelaksanaan kewajiban, khususnya dalam agama?, Padahal dalam Islam ada hak-hak (huquq) dan kewajiban (waajibat). Jika kesetaraan penuh tidak mungkin, apa saja yang harus disamakan?.

Mungkin benar pepatah Latin kuno yang berbunyi Omne Simile claudicate itaque de singulis verbis age (Semua persamaan itu pincang, oleh karena itu jelaskanlah secara rinci). Dan sungguh benar firman Allah bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita meski tidak harus beda surga.

 

Sourch : Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat.

Sumber: http://thisisgender.com/persamaan-equality/

Hati, Antara Hati yang Hidup dan Mati

Posted by admin - 8 Juni 2012 - Psikologi
0
ALLAH heart

Hati yang Sehat/Bersih

Pada hari kebangkitan nanti, hanya mereka yang datang dengan hati yang bersihlah yang dapat selamat. Allah berfirman:

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS 26: 88-89)

Hati yang sehat adalah: “Hati yang dibersihkan dari hawa nafsu yang menentang perintah Tuhan, atau hati yang bersih dari keinginan untuk mengerjakan larangan-Nya. Hati bersih bebas dari dorongan-dorongan yang bertentangan dengan kebaikan-Nya. Akibatnya, hati tersebut menjaga kita dari menyembah sesuatu selain-Nya, serta menaati keputusan Rasul-Nya. Hati tersebut hanya diperuntukkan bagi Allah semata, secara sukarela dan senang hati dengan penyerahan diri seutuhnya, dan menyandarkan segala urusan kepada Allah dengan penuh harap, cemas, dan dedikasi tulus. Ketika hati itu mencintai sesuatu, cintanya karena Allah. Ketika ia membenci, kebenciannya adalah pada sesuatu yang dibenci-Nya. Ketika ia memberi, pemberiannya karena Allah. Ketika ia menahan sesuatu, hal tersebut dilakukannya semata untuk Allah. Namun hal ini tidak akan cukup menggiring pada keselamatan hingga hati tersebut hanya mengikuti panduan Rasul-Nya semata. Seorang hamba yang memiliki hati yang sehat harus mendedikasikan hatinya untuk tujuan akhir. Tindakan serta ucapannya tidak boleh didasari pada hukum selain yang telah ditentukan oleh Rasul-Nya. Ia tidak boleh memberikan prioritas pada kepercayaan, perkataan atau perbuatan selain dari Tuhan dan Rasul-Nya. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 49:1)

Hati yang Mati

Ini adalah kebalikan dari  hati yang bersih. Ia tidak mengenal Tuhannya serta tidak menyembahnya sesuai perintah-Nya dengan cara yang disukai-Nya. Hati ini hanya menuruti hawa nafsu dan keinginannya pribadi, meskipun hal ini dapat membawa pada murka Tuhan. Ia menyembah selain Allah. Cinta dan kebenciannya, dan ketika ia memberi atau menahan pemberian hal tersebut dilakukannya berdasarkan dorongan hati semata dan bukannya karena Allah. Dorongan hatinya menjadi imam baginya. Nafsu menjadi panduannya. Kebodohan adalah pemimpinnya. Yang dipikirkannya hanyalah tujuan duniawi semata. Hati yang mati mabuk dengan khayalan-khayalannya sendiri dan cintanya hanya untuk kesenangan sementara. Ketika ia diseru kepada Allah dan hari akhir hati ini tidak mau menerima nasehat dan malah menuruti tipu daya setan. Kehidupanlah yang membuatnya gembira atau marah, hawa nafsu menjadikannya buta dan tuli pada kebaikan. Menemani pemilik hati seperti ini sama saja seperti hendak mencari masalah, hidup bersama dengannya seperti meminum racun, dan berteman dengannya berarti kehancuran.

Hati yang Sakit

Inilah hati yang hidup namun juga mengidap penyakit. Pada kondisi sehat hati ini akan menunjang kehidupannya dan demikian pula sebaliknya. Ia mengikuti siapa yang lebih mendominasi. Hati ini memiliki cinta, iman, ketulusan, dan ketergantungan pada Tuhan. Hal-hal inilah yang menghidupkan hati tersebut. Namun, ia juga menuruti hawa nafsu, menyenangi dan mencoba untuk merasakannya. Ia mengagumi dirinya sendiri di mana hal ini dapat menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. Ia menuruti dua seruan: seruan kepada Allah, Rasul-Nya serta akhirat; dan seruan pada kesenangan dunia yang fana. Hati ini mengikuti apa yang lebih berpengaruh pada saat itu. Hati yang pertama merupakan hati yang hidup, diperuntukkan bagi Allah, rendah hati, dan sensitif; sementara hati kedua lemah dan mati; hati yang ketiga terombang ambing pada keselamatan atau kehancurannya.

Diambil dari: “Purification of the Soul” oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali