Category: Psikologi

Adab dalam Menjalani Fase-fase Usia

Posted by admin - 13 Oktober 2017 - Bina Keluarga, Psikologi
0
Usia Manusia

Oleh: Alwi Alatas

Di antara adab yang perlu diperhatikan oleh seseorang serta para pendidik adalah adab dalam menjalani fase-fase usia. Ketidaksesuaian dalam menjalani fase-fase ini bisa menyebabkan perilaku seseorang menjadi buruk atau bahkan biadab.

Al-Qur’an membagi fase umur manusia kepada tiga bagian, yaitu lemah, kemudian kuat, kemudian lemah dan beruban. Ini disebutkan di dalam Surat al-Rum ayat 54:

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Ibn Katsir di dalam Tafsirnya saat menjelaskan tentang ayat ini menulis, “Kemudian ia keluar dari rahim ibunya, lemah, kurus, dan tak berdaya. Kemudian ia tumbuh sedikit demi sedikit sampai ia menjadi seorang anak, lalu ia mencapai usia baligh, dan setelahnya menjadi seorang pemuda, yang merupakan kekuatan setelah kelemahan. Kemudian ia mulai menjadi tua, mencapai usia paruh baya, lantas menjadi tua dan uzur, kelemahan setelah kekuatan, maka ia kehilangan ketetapan hati, tenaga untuk bergerak, serta kemampuan berperang, rambutnya menjadi kelabu dan sifat-sifatnya, zahir dan batin, mulai berubah.

Kita bisa menyebut fase yang pertama sebagai fase kanak-kanak, yang kedua fase dewasa, dan yang terakhir fase tua. Hal ini karena kanak-kanak dan orang tua memang berada dalam fase kelemahan, sementara kekuatan ada pada usia dewasa. Namun berapakah batasan usia pada masing-masing fase tersebut? Dalam hal ini usia baligh, atau usia lima belas tahun, merupakan batas usia dari kanak-kanak ke dewasa dan usia enam puluh tahun, kurang lebih, merupakan saat-saat peralihan ke usia tua. Usia lima belas tahun adalah waktu yang tidak terlalu lama sejak seorang anak mencapai usia baligh, sehingga membuat seorang anak tidak perlu melewati masa peralihan yang terlalu panjang untuk memasuki usia dewasa. Tentang batas usia ini ada penjelasan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Ibn Umar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memanggil saya agar hadir ke hadapannya menjelang Perang Uhud dan ketika itu saya berusia empat belas tahun, dan beliau tidak mengijinkan saya untuk ikut berperang. Kemudian beliau memanggil saya untuk hadir ke hadapannya menjelang Perang Khandaq ketika saya berusia lima belas tahun dan beliau mengijinkan saya untuk berperang.” Nafi’ berkata, “Saya datang kepada Umar bin Abdul Aziz yang merupakan Khalifah pada waktu itu dan menyampaikan riwayat tersebut kepadanya. Ia berkata, ‘Usia ini (lima belas tahun) adalah batas antara anak-anak dan orang dewasa.’ Dan ia memerintahkan kepada para gubernurnya untuk memberikan tunjangan kepada siapa saja yang telah mencapai usia lima belas tahun.” (HR Bukhari)

Adapun batas antara fase dewasa dan tua kurang lebih ada di sekitar usia enam puluh tahun. Hal ini dengan memperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Abu Bakar, dan Sayyidina Umar wafat pada usia enam puluh tiga tahun, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik (HR Muslim), dan ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum ajma’in wafat di usia yang sama. Rasulullah dan Sayyidina Abu Bakar wafat saat masih berada dalam kekuatan dan keduanya mengalami sakit serta menjadi lemah karenanya hanya beberapa hari menjelang wafat. Sementara Sayyidina Umar wafat karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah. Ada riwayat di dalam Siyar A’lam al-Nubala’ karya al-Dzahabi bahwa kurang dari sebulan sebelum wafatnya beliau mengangkat tangan ke langit dan berdoa, “Ya Allah, usiaku telah tua, kekuatanku melemah, dan rakyatku menyebar luas, maka kembalikanlah aku kepada-Mu tanpa melakukan penganiayaan dan kezaliman.”

Selain itu, mereka yang berada di fase dewasa juga perlu memperhatikan batas usia empat puluh tahun, sebagaimana al-Qur’an menyebut secara khusus tentang usia ini: “… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ….” Karena pada usia inilah, seperti disebutkan Ibn Katsir di dalam Tafsirnya, “kemampuan berpikir seseorang, pemahaman, serta kesabarannya mencapai puncak kematangan. Juga dikatakan bahwa biasanya seseorang tidak akan mengubah jalannya [cara hidup dan karakternya, pen.] saat ia mencapai usia empat puluh tahun.” Ini adalah saat seseorang mencapai usia kematangan dan berada dalam puncak kedewasaan dan kemandirian.

Seorang Muslim perlu memahami fase-fase ini dan mengambil perhatian atas diri sendiri dan orang lain agar ia tidak sampai melanggar adab-adabnya. Di antara adab terkait fase usia ini adalah mereka yang berada di fase kuat atau dewasa harus bertindak sesuai kapasitasnya dan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab. Karena mereka adalah orang-orang yang berada di puncak fase usia dan yang paling memiliki kemampuan, maka dia harus melindungi dan mengayomi orang-orang yang berada di fase usia yang lain, bukan malah meninggalkan, tak peduli, apalagi sampai menindas. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak mengakui hak-hak orang tua kami maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah).

Begitu pula mereka yang berada pada fase-fase usia lainnya harus mengetahui adab-adab yang perlu dilakoninya. Seorang anak atau mereka yang berusia lebih muda, misalnya, perlu menghormati orang-orang yang lebih tua dan mendahului dalam memberi salam. “Yang muda harus memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak,” sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhari).

Hilangnya adab terhadap usia bisa berdampak sangat serius. Ada hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebut bahwa Ada tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak memandang kepada mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, di antaranya adalah orang tua yg berzina (HR. Muslim sebagaimana disebutkan di dalam Riyadh al-Shalihin). Hal ini disebabkan perilaku ini menunjukkan pelanggaran adab yag serius terhadap fase usia yang dilaluinya. Seorang yang sudah tua sebenarnya berada dalam kelemahan, termasuk dalam urusan syahwat atau dorongan seksual. Jika dorongan syahwat sudah jauh berkurang tapi masih saja bermaksiat dan berzina, ini merupakan hal yang sangat keterlaluan. Selain itu, fase usia yg dilaluinya adalah fase terdekat dengan kematian, maka bagaimana mungkin ia masih sempat melakukan dosa besar? Padahal seharusnya ia menjadi orang yang paling banyak mengingat kematian.

Di antara persoalan serius di jaman modern ini berkenaan dengan fase usia adalah dimundurkannya batas waktu antara fase kanak-kanak dan dewasa. Anak-anak pada hari ini belum dianggap dewasa sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun atau bahkan lebih. Masa-masa di antara baligh dan usia sekitar dua puluh tahun disebut sebagai masa transisi atau biasa dikenal sebagai masa remaja, sebuah periode pertumbuhan yang dahulunya tidak ada.

UNICEF dalam laporannya pada tahun 2011 menyebut umur 10-19 tahun sebagai usia remaja (http://www.unicef.org/adolescence/files/SOWC_2011_Main_Report_EN_02092011.pdf), sementara PBB menyebut mereka yang berusia di antara 15 dan 24 tahun sebagai pemuda (youth), tetapi penjelasan terhadap terma ini kurang lebih sama dengan apa yang dipahami masyarakat modern tentang remaja, yaitu “a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence” (http://www.un.org/esa/socdev/documents/youth/fact-sheets/youth-definition.pdf). Yang terakhir ini membuat fase kedewasaan seorang anak menjadi semakin mundur dan lambat.

Anak-anak sebetulnya mengalami perubahan penting secara fisik dan psikologis menjadi seorang dewasa saat mereka baligh dan, setelah melewati periode transisi yang singkat, bisa diterima secara sosial sebagai bagian dari masyarakat dewasa saat mereka berusia 15 tahun, sebagaimana di jelaskan di awal artikel ini. Hal ini sejalan dengan perkembangan natural pada fisik serta kesiapan psikologis dan sosial pada manusia secara umum. Penundaan yang terlalu lama dari batas usia ini akan menimbulkan kekacauan konsep serta kerusakan adab pada diri seorang anak. Ia yang seharusnya sudah memasuki fase kekuatan dipaksa untuk tetap berada dalam fase lemah, atau fase yang samar-samar, tidak lemah tapi juga tidak kuat.

Diubahnya definisi dan batasan waktu antara anak-anak dan dewasa telah merusak konsep adab terkait fase usia. Seseorang yang seharusnya sudah mulai menjalani adab sebagai seorang dewasa malah terus berperilaku seperti anak-anak atau malah ‘dihalalkan’ untuk tidak beradab karena mereka dianggap sedang menjalani masa transisi yang penuh gejolak. Ia menjadi kurang memiliki rasa tanggung jawab, yang merupakan salah satu ciri kedewasaan, dan seringkali tak sungkan melakukan berbagai jenis pelanggaran. Sebagian bahkan sangat membenci tanggung jawab, seperti yang dikutip James E. Gardner (1992: 41) dalam Memahami Gejolak Masa Remaja tentang ucapan seorang remaja di Amerika:

Inilah kata yang paling kubenci – tanggung jawab. Aku selalu harus bertanggung jawab terhadap diriku sendiri, terhadap orang lain, atau terhadap sesuatu …. Persetan dengan tanggung jawab. Aku tidak menginginkannya. Taik dengan tanggung jawab!

Ini baru ucapan dan sikap yang tak pantas, belum termasuk berbagai bentuk kenakalan dan perilaku tak bertanggung jawab dari anak-anak yang biasa disebut sebagai remaja, seperti bullying, perilaku seks yang bebas, penggunaan obat-obat terlarang, serta jiwa yang labil dan kecenderungan bunuh diri. Sebetulnya bukan para remaja ini yang salah pada asalnya, tetapi masyarakat modern-lah yang telah mengacaukan batasan usia serta meninggalkan adab-adab yang menjadi tuntutan di dalamnya. Akibatnya, banyak sikap dan perilaku anak-anak serta pemuda pada hari ini yang menjadi tak beradab.

Karena itu tidak ada jalan untuk memperbaiki keadaan ini selain dengan menetapkan kembali fase usia pada batas-batasnya yang alami dan sesuai dengan tuntunan agama, serta dengan memahami dan menghidupkan adab-adab yang sesuai pada masing-masing fase usia tersebut.

Jakarta,

25 Dzulhijjah 147/ 27 September 2016

Keteladanan Pemimpin

Posted by admin - 8 November 2012 - Pemuda dan Masa Depan, Psikologi
0
Pemimpin

Kita mendambakan keteladanan para pemimpin, terutama dalam hal penegakan hukum dan keadilan. Tanpa keteladanan itu, perubahan dalam masyarakat sulit diwujudkan. Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan perlunya keteladanan tersebut.

Menurut Islam, seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Nabi Muhammad SAW berulang kali menegaskan bahwa beliau tidak akan melarang suatu perbuatan sebelum beliau sendiri yang pertama mematuhinya. Sebaliknya, beliau juga tidak akan menyuruh umatnya melakukan suatu kebajikan sebelum beliau sendiri melakukannya.

Dalam kaitan ini, ada kisah menarik yang patut disimak. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang raja dari sebuah negara kecil di Syam (Syria) yang baru masuk Islam. Namanya Jablah bin Aihmad Ghasani. Suatu saat, ketika ia tengah menunaikan ibadah haji, ujung jubahnya terinjak dengan tidak sengaja oleh seorang Arab miskin. Dalam amarahnya, Jablah menampar orang tersebut, tapi si miskin balik menamparnya.

Jablah lalu menemui Umar dan mendesaknya agar menghukum rakyat kecil itu. Namun, di luar dugaannya, sang Khalifah justru menyatakan bahwa Jablah telah menerima balasan dari perbuatannya.

Tentu saja, dia tidak bisa menerima pernyataan khalifah itu. “Kalaulah dia melakukan penghinaan ini di negeri saya, dia telah saya gantung,” ujarnya. “Itulah praktik di sini sebelum Islam,” jawab Khalifah Umar. “Tetapi, sekarang, orang miskin dan putra mahkota diperlakukan sama di hadapan Islam. Dalam menegakkan hukum, Islam tidak mengenal perbedaan antara yang miskin dan kaya,” tegas Umar.

Prinsip keadilan dan persamaan di hadapan hukum itu pula yang selalu ditekankan empat Khulafaur Rasyidin ketika memilih seorang gubernur. “Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan dan dalam diri Anda sendiri,” kata Khalifah Ali bin Abi Thalib kepada Malik Asytar ketika menunjuknya sebagai gubernur di Mesir. “Lindungilah hak-hak rakyat. Janganlah hanya karena segelintir orang, Anda mengorbankan kepentingan mereka,” tegas Khalifah Ali.

Dengan demikian, jelaslah bahwa keteladanan dan kewajiban menegakkan keadilan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Karena, ia merupakan amanah Allah dan sendi pokok dari kewibawaan pemerintah. Menurut pendapat sejumlah pakar hukum, apabila keadilan diabaikan, pasti itu akan menimbulkan reaksi, bukan saja dari mereka yang menjadi korban ketidakadilan itu, tapi juga dari masyarakat luas yang mendambakan terciptanya tatanan masyarakat ideal.

Oleh: Alwi Shahab

Sumber: di sini

Penanganan Stress Menurut Ilmu Fisika

Posted by admin - 16 Oktober 2012 - Psikologi
0
Stress

Mengapa bebek bisa berjalan di tanah yang lunak sementara ayam tidak?jawabnya karena luas permukaan kaki bebek lebih besar dari ayam. Luasnya permukaan kaki bebek tersebut mengakibatkan tekanan yang diberikan ke tanah lebih kecil ketimbang ayam.

dalam fisika, konsep tekanan (preassure) didefinisikan sebagaigayategak lurus permukaan dibagi luas permukaan yang dikenaigaya. Semakin besargayayang diberikan terhadap suatu permukaan, semakin besar tekanan yang diterima. Sedangkan bila luas permukaan diperluas, maka tekanan akan semakin kecil. Dalam hal ini,gayapada hakikatnya adalah gangguan yang diterima oleh sebuah benda dari luar, sedangkan luas terkait dengan karakteristik benda tersebut dan merupakan perkalian antara panjang dan lebar.

Preassure memiliki kesamaan arti dengan stress, yang dalam pengertian sehari-hari terkait dengan tingkat tekanan yang dialami oleh seseorang akibat pengaruh lingkungan. Dari sini kita dapat ambil analogi bahwa stress seseorang dapat dipandang sebagai perbandingan antara gangguan luar dibagi dengan “luas”. lalu, apa makna “luas” di sini? kebesaran jiwa dapat kita analogikan dengan “luas” yang dimaksud. artinya semakin besar jiwa seseorang, maka semakin kecil stress yang dialami. Jika luas dalam fisika merupakan perkalian antara panjang dan luas, maka kebesaran jiwa dapat dipandang sebagai perkalian antara SABAR dan SYUKUR?

Alam (tempat terdapatnya ayat-ayat kauniyah) telah mengajarkan kepada kita bahwa dengan sabar dan syukur maka kita dapat mengatur level stress masing-masing. Jika bebek dengan kakinya yang luas dapat menapaki tanah lunak yang relatif sulit dilalui, maka manusia dengan kebesaran jiwanya (sabar x syukur) tentu dapat mengarungi kehidupan yang sulit…wallahu’alam.

Dr. Husin Alatas

Lektor Kepala & Kepala Bagian Fisika Teori pada Departemen Fisika, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.

Foto by Alan Cleaver 

Merantau itu Indah

Posted by admin - 15 Oktober 2012 - Psikologi
3
Perjalanan

Ciri orang yang berakal dan berbudaya adalah tidak akan tinggal seterusnya disatu tempat. Meninggalkan tempat tinggalnya untuk mengembara, itulah bagian dari istirahatnya. Pergilah dengan penuh keyakinan! Niscaya akan engkau temukan pengganti semua yang engkau tinggalkan. Bekerja keraslah karena hidup akan terasa nikmat setelah bekerja.

Sungguh, aku melihat air yang tergenang dan berhenti, memercikkan bau tak sedap. Andaikan saja ia mengalir, air itu akan terlihat bening dan sehat. Sebaliknya jika engkau biarkan air itu menggenang, ia akan membusuk. Singa hutan dapat menerkam mangsanya setelah ia tinggalkan sarangnya. Anak panah tak akan mengenai sasarannya, jika tak beranjak dari busurnya. Andaikan mentari berhenti selamanya di tengah langit, niscaya umat dari ujung barat sampai ujung timur akan bosan kepadanya. Emas bagaikan debu, sebelum ditambang sebagai emas. Sedangkan, pohon cendana yang masih tertancap pada tempatnya, tak ubahnya pohon-pohon untuk kayu bakar.

Jika engkau tinggalkan tempat kelahirannya, akan engkau temui derajat mulia di tempat yang baru dan engkau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya. Itulah salah satu cara Imam Syafi’I bersyair. Jadi, mari kita tekadkan diri kita untuk menjadi orang-orang perantau. Jangan sampai seumur hidup mulai lahir sampai mati pada tempat yang sama. Bumi Allah swt sangat luas.

Dengan merantau, kita akan memiliki pengalaman kurang makan, kurang tidur, kurang minum. Diusir karena tidak sanggup membayar kontrakan rumah. Dihina karena sehari baru mampu makan sekali. Berbuka puasa dengan air mentah karena kehabisan segalanya. Menikmati aneka kekurangan, asalkan jangan kurang ajar, Insya Allah akan mendewasakan kehidupan kita.

Menurut Imam Syafi’I dalam perantauan adalimakegunaan:

  1. Menghilangkan kesedihan. Dengan merantau, insya Allah akan mendapatkan kegembiraan beraneka ragam. Misalnya kesulitan sebelum merantau yang kita anggap sangat berat terasa ringan dan tak ada artinya saat berjumpa dengan banyak orang yang jauh lebih sulit namun mereka lebih semangat.
  2. Mendapatkan penghidupan.Adafaktor psikologis yang kita dapatkan, yaitu mister gengsi akan hilang. Kita berani kerja apa saja dan tidak gengsi sebab teman-teman sekampung halaman tidak tahu.
  3. Mendapatkan ilmu. Ilmu berlimpah ruah akan kita dapatkan, sebab di perantauan akan kita jumpai banyak guru. Kita akan berguru kepada hinaa, pujian, makian, orang pandai, orang bodoh, dan orang sok pandai.
  4. Mengagungkan jiwa. Ketika sahabat Abdurrahman bin Auf merantau dari Makkah ke Madinah, beliau dipersaudarakan dengan konglomerat Sa’ad bin Rabi dan ditawari kilau kemilau harta. Abdurrahman bin Auf yang zuhud, wara’, jujur dan baik akhlaknya ini tidak serta merta menerima tawaran itu. Hanya satu permohonannya, tunjukkan jalan menuju pasar. Akhirnya, dia menjadi konglomerat yang sukses.
  5. Dapat bergaul dengan banyak orang. Kita bisa menerapkansuratal Hujurat ayat 13, dapat berkenalan dengan berbagai suku dan bangsa dengan aneka karakter positif dan negatifnya.

Sekali lagi, ayo merantau! Jangan sampai dari lahir sampai mati di satu tempat. Beranilah hadapi tantangan..!!

Sumber:

Amri, Masrukhul. Hidup Untuk Hidup.Jakarta: DAR! Mizan, 2004.

Sumber ilustrasi di sini 

Aib Adalah Cermin Diri

Posted by admin - 20 Juli 2012 - Da'i dan Dakwah, Psikologi
0
reflection

Ada seorang perempuan datang kepada Syaikh Hatim Al Asham untuk bertanya tentang sebuah persoalan. Saat bertanya, tiba-tiba keluarlah suara buang angin dari perempuan itu dan ia merasa sangat malu.

“Keraskan suaramu!,” teriak Hatim dengan keras untuk mengesankan seolah ia tuli.

Si perempuan merasa senang dan mengira kalau Hatim tidak mendengar suara buang anginnya. Karena kejadian itulah, kemudian Syaikh Hatim mendapat julukan Al Asham (si tuli).

***

Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga darga dari Syekh Hatim Al Asham. Hal menarik dari kisah di atas adalah usaha dari seorang besar yang menutup rapat-rapat keburukan orang lain, tidak mengumbarnya sebagaimana terjadi saat ini, dimana kita melihat fenomena tayangan infotainment yang menceritakan kekisruhan rumah tangga orang lain, membeberkan perselingkuhan serta perzinahan yang terjadi dengan begitu terang benderang.

Akibatnya, ajang berkumpul sesama teman atau keluarga rasanya kurang ‘afdhal’ bila tidak dibumbuhi dengan ngerasani (menggunjing) atau menggosip.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam bukunya Al Da’wah Al Tammah, mengutip ucapan Sayyidina Al Hasan Al Bashri, terkait meneliti aib diri sendiri. Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Engkau tidak akan memperoleh hakikat iman selama engkau mencela seseorang dengan sebuah aib yang ada pada dirimu sendiri. Perbaikilah aibmu, baru kemudian engkau memperbaiki aib orang lain. Setiap engkau memperbaiki satu aibmu, maka akan tampak aib lain yang harus kau perbaiki. Akhirnya kau sibuk memperbaiki dirimu sendiri. Dan sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah adalah dia yang sibuk memperbaiki diri sendiri. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak ada hari seperti hari kiamat, hari dimana aib terbuka dan mata menangis.”

Seorang ulama pernah berkata: “Aku tidak menemukan sesuatu yang paling ampuh merontokkan amal, merusak hati, menyeret kepada kebinasaan seorang hamba dan mendekatkan kepada kebencian serta memudahkan masuknya rasa suka kepada sifat pamer (riya’), ujub dan kedudukan selain terwujud pada minimnya pengetahuan seorang hamba akan aib-aib dirinya sendiri sembari melihat keburukan yang ada pada diri orang lain.”

Imam Al Ghazali dalam kitabnya yang terkenal, Ihya Ulumuddin,mengetengahkan kiat jitu menyingkap kekurangan yang melekat pada diri kita. Beliau menyarankan untuk menempuh empat cara:

Pertama, duduk di hadapan seorang guru yang mampu mengetahui keburukan hati dan berbagai masalah yang tersembunyi di dalamnya. Kemudian ia memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam ber-mujahadah membersihkan aib itu. Ini adalah keadaan seorang murid dengan Syaikhnya dan seorang pelajar dengan gurunya. Sang guru akan menunjukkan aib-aibnya serta cara pengobatannya. Namun, di zaman sekarang guru semacam ini langka.

Kedua, mencari seorang teman yang jujur, memiliki bashiroh (mata hati yang tajam) dan berpegang pada agama. Ia kemudian menjadikan temannya itu sebagai pengawas yang mengamati keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan lahirnya, sehingga ia dapat memberi peringatan kepadanya. Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang cerdik, orang-orang terkemuka, dan para pemimpin agama.

Ketiga, berusaha mengetahui aib dari ucapan musuh-musuhnya sebab pandangan yang penuh kebencian akan menyingkapkan keburukan seseorang. Bisa jadi manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang sangat membencinya dan suka mencari kesalahannya lebih banyak dari teman yang suka bermanis muka, memuji dan menyembunyikan aib-aibnya. Akan tetapi, sudah menjadi watak manusia untuk mendustakan ucapan musuh-musuhnya dan menganggapnya sebagai ungkapan kedengkian. Hanya orang yang memiliki mata hati jernih yang mampu memetik pelajaran dari keburukan dirinya yang disebutkan oleh musuhnya.

Keempat, bergaul dengan masyarakat. Setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, maka ia segera menuduh dirinya sendiri juga memilki sifat tercela itu. Kemudian ia menuntut dirinya untuk segera meninggalkannya. Sebab, seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain ia akan melihat aib-aibnya sendiri.  

Bagaimana Cara Kita Menundukkan Diri di Hadapan Allah?

Posted by admin - 19 Juli 2012 - Aqidah, Psikologi
0
sujud

Tadharru’ adalah sebuah istilah yang berarti ketundukan diri yang sangat dan rasa malu yang disebabkan oleh rasa putus asa dan ia diekspresikan ketika seseorang mencapai keadaan kritis. Imam Ahmed ibn Hambal menjelaskan dengan mengatakan, ”Bayangkan seseorang yang tenggelam di tengah lautan dan yang dimilikinya hanyalah  sebatang kayu yang digunakannya  supaya terapung. Ia menjadi semakin lemah dan gelombang air asin mendorongnya semakin dekat pada kematian. Bayangkanlah ia dengan tatapan matanya yang penuh harapan menatap ke arah langit dengan putus asa sambil berteriak Ya Tuhanku, Tuhanku!!!!! Bayangkanlah betapa putus asanya dia dan betapa tulusnya ia meminta  pertolongan Tuhan. Itulah yang disebut dengan tadharru di hadapan Tuhan”.

Dalam al-Qur’an, Allah mengajarkan kita bahwa tadharru adalah sebuah bentuk pengabdian yang dilakukan oleh seorang mukmin ketika ia berada pada keadaan darurat   dan  krisis. Tadharru mengharuskan seseorang untuk menghilangkan tabir kesombongan dan rasa ego yang  menutupi hatinya. Ia melibatkan rasa butuh yang  tulus kepada Tuhan semesta alam. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang itu telah menyadari betapa lemahnya ia dan betapa perkasanya Tuhan kita. Terkadang ketika Allah melihat hamba-Nya begitu tenggelam dalam kehidupan dunia, Ia memberi cobaan pada mereka agar mereka menyadari kelemahan mereka dan kembali meminta perlindungan Allah. Karena  itu, musibah yang menimpa seorang Muslim adalah untuk menyadarkannya dan  membuatnya kembali kepada Tuhan. Kita  harus  memiliki cukup kesadaran dan pengertian untuk memahami pesan ini dan menindaklanjutinya.

Allah SWT mengatakan, “Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami siksa mereka  (sebagai ujian)  dengan kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka tunduk (kepada Allah) (QS  6:42). Ayat ini  menunjukkan bahwa Allah SWT menggunakan musibah  sebagai  metode  rutin untuk menyadarkan orang dan mendorong mereka untuk meminta pertolongan pada-Nya. Musibah  ini ibarat obat yang pahit supaya kita menjadi mukmin yang lebih baik.  Allah melakukan hal ini untuk kebaikan kita sendiri karena kita  harus menjaga hubungan baik dengan-Nya. Allah menyatakan bahwa kita membutuhkan ‘obat ‘ ini dalam ayat berikut, “Dan kalau sekiranya Kami mengasihi mereka dan Kami hilangkan bencana yang ada (menimpa) mereka, niscaya mereka terus-menerus terombang-ambing dalam kesesatan mereka” (QS 23:75).

Dalam ayat yang lain Allah SWT bersabda, “Maka mengapa mereka tidak tunduk ketika datang siksaan Kami, bahkan hati mereka amat keras dan setan menampakkan keindahan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS: 6:43). Kita tidak boleh melakukan kesalahan seperti ini dan menutup mata dan hati kita terhadap panggilan Allah untuk tunduk dan merasa malu kepada-Nya. Kita tidak boleh membiarkan setan menipu kita untuk percaya bahwa permasalahan kita tidak ada kaitannya dengan hubungan kita dengan Allah.

Allah SWT mengatakan, “Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melepaskan kamu dari kegelapan (bencana) di darat dan di laut yang kamu berdoa kepada-Nya dengan merendahkan diri dan dengan pelan; sungguh jika Dia menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur!’, Katakanlah, ‘Allah menyelamatkan kamu daripadanya  dan dari segala kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya’” (QS 6:63-64). Tidak ada seorangpun yang akan menyelamatkan kita dari kegelapan yang kita alami sekarang ini kecuali Allah SWT, namun sebelumnya, kita harus menyerunya dengan penuh ketundukan.

Bagaimana mencapai tadharru’:

Kita perlu menyadari  musibah besar yang menimpa kita saat ini. Anak-anak kita dihujani oleh  berton-ton misil. Orang-orang Muslim ditindas dan disiksa di berbagai penjuru dunia. Belum begitu lama berselang ribuan wanita diperkosa di Balkan dan hingga saat ini orang-orang tidak berdosa tewas oleh peluru-peluru Israel. Rumah-rumah dihancurkan dan kehormatan diinjak-injak setiap harinya. Ini bukan saja tentang Irak, dan percaya atau tidak, ini juga bukan hanya tentang Umat Islam. Ini tentang planet kita, Bumi. Dunia kita mengarah pada jurang dan hal ini terus berlanjut. Kita dapat menipu diri kita sendiri dengan mengatakan bahwa hal ini tidak ada pengaruhnya pada diri kita sendiri, namun kita akan bersalah akibat mengabaikannya. Jika kita tidak menyadari parahnya situasi saat ini, maka kita memiliki masalah tambahan. Bacalah ayat (6:43) di atas. Kita butuh akan pertolongan dan perlindungan Tuhan!

Ketika ikan paus menelan Nabi Yunus AS setelah ia dilempar dari perahu, ia berada dalam situasi yang mengerikan. Bayangkanlah sejenak bagaimana rasanya terperangkap dalam sebuah kamar mandi kecil yang gelap dan tidak ada harapan untuk keluar dari situ. Sekarang bayangkan diri Anda berada dalam perut ikan paus, bayangkan kegelapannya dan kesulitan bernafasnya. Ikan paus tersebut berenang di laut yang berbadai dan pada malam hari. Bayangkanlah apa yang dirasakan oleh Nabi Yunus AS, dan bayangkan bagaimana ia berdoa dengan penuh ketundukan dengan mengatakan, “ Sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang aniaya” (QS 21:87). Bayangkan seorang nabi, seorang contoh panutan manusia, mengatakan bahwa dirinya sebagai seorang yang aniaya, lantas bayangkanlah bagaimana kita seharusnya  memohon kepada Allah..

Pada malam sebelum perang Badar, Nabi Muhammad melihat bagaimana pasukan berhala menang secara jumlah dari mereka dan bersenjata lengkap. Kemudian beliau membandingkan dengan pasukan Muslim dan betapa sedikit dan kurang persenjataan. Perang Badar merupakan konfrontasi militer pertama antara Muslim dan Kafir dalam sejarah Islam. Jika umat Islam kalah maka Islam akan hilang dari muka bumi selamanya. Menyadari hal ini, Nabi Muhammad mulai memanjatkan doa kepada Allah dengan penuh  ketundukan. Beliau mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membentangkan tangannya. Beliau kemudian berdoa dengan tulus kepada Allah dan tubuhnya bergetar sehingga menyebabkan surbannya jatuh ke punggungnya. Beliau memohon pada Allah dan menangis, “wahai yang Maha Hidup!!! Wahai Yang Maha Memberi Rizki, wahai Yang Maha Penolong!! Ya Allah, jika Engkau binasakan pasukan ini (Islam) Engkau tak akan disembah lagi  dimuka bumi ini. Ya Allah penuhilah janjimu kepadaku. Ya Allah, berikanlah pertolonganmu.

Inilah tingkatan rasa malu yang harus kita usahakan untuk kita capai ketika berdoa kepada Allah dalam meminta pertolongan. Mari kita memohon kepada Allah dengan tingkat kerendahan yang paling maksimal seakan-akan kita benar-benar tenggelam di laut dan tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan kita kecuali Dia. Mari kita bangun di malam hari untuk mengerjakan shalat malam, dan mari kita bersimpuh di hadapan Tuhan memohon padanya seakan-akan kita tidak pernah melakukan sebelumnya. Mari kita berkumpul bersama dan melakukannya bersama-sama. Mari kita berdoa dengan penuh rasa hina bersama-sama. Mari kita menangis,  dan mari kita berlari menuju padanya bersama keluarga  dan teman. Mari kita semua memohon atas pertolongan, perlindungan,dan petunjuk-Nya.

Tadharru’…… adalah apa yang harus kita pahami dan kerjakan. Kita harus mencapai tadharru sehingga Allah mau  mengubah keadaan kita, karena……

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah dirinya sendiri”

Diadaptasi dari “We must We must always humble ourselves towards Allah” oleh Amr Khaled, seorang  aktivis dan juru  dakwah Mesir.

Menjaga Semangat Ramadhan Tetap Hidup

Posted by admin - 14 Juli 2012 - Psikologi, Ramadhan
1
Love In A Headscarf

Oleh: Shelina Zahra Janmohamed


Dunia Muslim berubah pada bulan Ramadan. Sarapan dilakukan pada saat sahur. Berdasarkan tradisi Islam, suapan pertama makanan biasanya sesuatu yang manis atau kurma. Tapi benarkah waktu-waktu yang kita lewati pada bulan ini sedemikian religiusnya?

Perubahan pada budaya Ramadan kontemporer berarti bahwa makna spiritual Ramadan perlahan-lahan menjadi hilang. Padahal ketiadaan aktivitas fisik seperti makan, minum, dan seks pada siang hari dengan tujuan mendekatkan diri pada Sang Pencipta sebenarnya memiliki banyak arti dan filosofi.

Puasa menyebabkan seseorang merasakan dan menghargai penderitaan orang miskin dan lapar. Ia merupakan kesempatan untuk memberikan lebih banyak waktu untuk spiritualitas daripada hal-hal yang bersifat fisik. Ia menandakan bahwa kita dapat hidup bahagia dan berhasil meski kekurangan.

Pada malam harinya, tujuan mulia ini dikesampingkan seakan-akan Ramadan hanya untuk siang hari saja. Pesta pun dimulai.

Para ibu memasak makanan mewah untuk keluarga mereka. Makanan tersebut biasanya mengandung kalori sehingga banyak Muslim yang berkata bahwa pada bulan Ramadan mereka justru bertambah berat badannya dari pada turun seperti yang dikira. Makna filosofis pengendalian diri siang harinya terpantul pada berlebih-lebihannya hidangan pada malam hari.

Salah satu tradisi keagamaan pada bulan Ramadan adalah memberi makan orang lain pada waktu iftar agar memperoleh pahala. Undangan makan malam pun disebar, dan acara iftar menjadi acara sosial yang hangat. Namun, di beberapa tempat ia berubah menjadi ajang pamer kemewahan menu makanan. “Pada akhir acara, orang-orang akan mengumumkan berapa biaya makanan tersebut,” kata salah seorang perempuan berkebangsaan Mesir untuk memberi penekanan pada rasa pamer yang mendominasi apa yang harusnya menjadi ajang saling berbagi.

Setelah acara iftar selesai tersedia banyak pilihan hiburan. Sebagian orang akan pergi ke tenda-tenda Ramadan untuk menghisap sisha dan bersantai bersama teman-teman sepanjang malam atau pergi dari satu pesta ke pesta lainnya sampai pagi. Sementara itu, sebagian yang lain akan tetap tinggal di rumah untuk menyaksikan acara opera sabun yang jumlahnya mendominasi siaran televisi. Tahun lalu di Arab Saudi disebutkan bahwa ada 64 acara opera sabun yang disiarkan tiap malamnya secara terus menerus supaya pemirsa dapat menonton sebanyak mungkin.

Ini bukan merupakan penilaian terhadap kualitas acara televisi tersebut atau pernyataan beberapa ulama yang menyatakan bahwa acara-acara tersebut “buruk”. Ini hanya sekadar pengamatan bahwa opera sabun ini mematikan perasaan masyarakat pada bulan Ramadan dan mengambil keuntungan darinya. Pemirsa televisi sadar bahwa mereka digiring ke tingkatan hiburan yang lebih tinggi namun tidak sadar bahwa kenikmatan beribadah dan berinteraksi sosial selama bulan Ramadan mereka rusak.

Bagaimana dengan belanja? Toko-toko buka lebih lama dari sebelumnya, dan seakan-akan Ramadan bukan waktu untuk beribadah malam melainkan hanya sekadar persiapan untuk Ied di mana kita akan saling memamerkan pakaian baru. Festival belanja Ramadan pun menjamur.

Bukannya menghentikan hasrat berbelanja kita justru semakin konsumtif selama 30 hari itu, baik di restoran maupun di mall.

Saya tidak mengatakan bahwa dunia Muslim telah menjadi komsumeris sebulan penuh. Suasana sosial dan spiritual pada komunitas Muslim tetap meriah dan masjid penuh dengan orang-orang yang beribadah dengan khusuk.

Yang mengejutkan kebanyakan muslim yang hidup di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim adalah bahwa rasa keimanan ini lebih terasa di negara-negara di mana Muslim adalah minoritas.

Di negara-negara tersebut jika Anda berpuasa maka Anda harus melawan mainstream yang ada di masyarakat. Anda tetap harus pergi bekerja di mana Anda harus melihat rekan-rekan kerja Anda meminum kopi, atau menghadiri pertemuan yang berlangsung pada saat iftar. Anda harus menyadari dan memahami alasan mengapa Anda berpuasa. Hal ini dapat menggiring pada kesuksesan ruhiyah.

Begitu pentingnya energi ini sampai-sampai saya mengenal beberapa Muslim yang datang ke Inggris pada bulan Ramadan meninggalkan negara Muslimnya supaya lebih mendapatkan keuntungan ruhiyah di bulan ini.

Seiring dengan memudarnya nilai-nilai ruhiyah akibat kondisi budaya dan komersialitas, Ramadan pun sekararang kehilangan makna dan urgensinya. Inilah yang terjadi pada tahun 1960 ketika presiden Tunisia Habib Bourgiba berniat membatalkan Ramadan. Meskipun Ramadan merupakan “budaya yang indah” ia merasa bahwa ia “melumpuhkan” masyarakat kita.

Dan ketika acara keagamaan menjadi budaya maka ia menjadi mudah untuk diabaikan.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa saya terlalu saleh. Sementara yang lain akan berkata bahwa jika para ibu ingin memanjakan keluarganya dengan makanan lezat setelah bersusah payah berpuasa seharian maka hal itu merupakan hak mereka. Selain itu ada pula yang akan mengatakan bahwa menghabiskan malam di bar sisha atau menonton opera sabun dapat meningkatkan kepekaan sosial.

Tentu saja tidak ada aturan bagaimana Anda mengisi bulan Ramadan. Anda tidak harus shalat seharian. Namun saya melihat tren yang cukup mengkhawatirkan. Semua kegiatan bisa jadi benar karena setiap orang memiliki pilihan, namun jika diperhatikan, Anda akan melihat makna dan konteks Ramadan perlahan-lahan menghilang. Jika kita menerima semua pembenaran maka kita harus berhati-hati terjerumus pada kemunafikan.

Bukan hanya Ramadan dan Idul fitri yang kini kehilangan makna dan pengaruhnya. Penganut Kristen yang taat serta Dunia Barat kini mengeluh bahwa makna natal telah mengering dan kehilangan nilai spiritualnya.

Beberapa pihak mungkin akan menolak membandingkan antara bagaimana natal dikomersialisasikan dengan situasi Ramadan kontemporer. Namun terdapat beberapa kesamaan seperti pada contoh-contoh yang telah disebutkan di atas.

Anda tidak perlu menjadi religius untuk dapat menghargai bahwa makna sosial dan etis dari acara-acara keagamaan seperti natal, Ramadan dan Eid begitu  berpengaruh terhadap moralitas masyarakat.

Untuk alasan inilah Umat Muslim menyuarakan protesnya sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki keyakinan dan saling berbagi kepedulian mengenai menjadi keringnya makna dan cakupan moral acara-acara kegamaan ini. Namun, seringkali kita menyalahkan dunia Barat sebagai tidak bertuhan dan rusak akibat komersialisasi yang berlebih-lebihan, sementara menutup mata pada tantangan yang sama yang dihadapi dunia Muslim.

Ramadan tidak harus menjadi, dan tidak boleh menjadi, kesalehan yang benar-benar hambar. Kesenangan, rasa saling berbagi, dan kebahagiaan dalam kebersamaan adalah komponen utama Ramadan. Namun jangan sampai ia hanya menjadi sekadar ajang mengumbar rasa rakus, belanja, dan hiburan kosong.

Kita perlu untuk mengetahui dan mengenal posisi kesenangan materi bulan Ramadan. Dengan menjadi jujur terhadap arti kesenangan fisik, maka kita dapat mengurangi prioritas kita terhadapnya supaya dapat memperoleh nilai ruhiyah dan moral setidaknya selama 30 hari bulan Ramadan.

Dengan mengurangi kesenangan fisik ini kita membuat Ramadan terasa begitu istimewa. Ramadan adalah tentang bagaimana kita mengenal nilai ruhiyah kita masing-masing dan tentang bagaimana kita menemukan diri kita sebagai sebuah jiwa, bukan tubuh, dalam masyarakat di mana kita hidup.

Shelina Zahra Janmohamed adalah seorang pengamat Islam Inggris dan penulis, sebuah memoar berjudul “Love in a Headscarf”. 

 

Islam Tidak Mengenal Apa yang Dinamakan “STRESS”

Posted by admin - 4 Juli 2012 - Aqidah, Ilmu Al Quran dan Tafsir, Psikologi
0
istiqomah

Oleh: Sayyid Syatir bin Abbas Assyathiri

Banyak orang yang sudah mengetahui bahkan mengalami apa yang dinamakan oleh kaum barat yaitu Stress, atau kalau diartikan kedalam bahasa indonesia adalah tekanan perasaan/tekanan kejiwaan dimana hati orang tersebut selalu merasa gelisah dan tidak ada ketenangan.

Mungkin perasaan yang timbul dari kegelisahan hati itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

      • Kekurangan harta/Kemiskinan
      • Masalah pekerjaan
      • Masalah rumah tangga
      • Dsb

Orang Islam yang beriman tidak akan pernah mengalami tekanan perasaan/kegelisahan hati selama dirinya selalu mendekatkan diri kepada Allah swt dengan beribadah secara istiqomah karena ketenangan jiwa itu hanya bisa didapat kalau seseorang selalu mengingat Allah swt dengan beribadah kepada-Nya.

Allah swt akan langsung memberikan balasan kepada hambanya yang selalu mengingatNya serta beribadah kepadaNya dengan balasan hati yang tenang. Karena sumber dari ketenangan seseorang itu terdapat di dalam hati ini.

 Firman Allah swt:

“(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan tentram Hatinya dengan mengingat Allah SWT.Ingantlah (bahwa) dengan mengingat Allah SWT sajalah Hati ini akan menjadi Tenang.” (QS. Ar Rad:28)

Rasulullah saw bersabda:

“Didalam tubuh manusia ada segumpal daging yang jika ia baik,maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia buruk,maka buruklah seluruh tubuhnya,itulah Hati.”

Memang harus diakui manusia untuk hidup membutuhkan mata pencaharian dan sebagainya,sebagai penunjang kelangsungan hidup, tetapi uang/harta bukan suatu jaminan manusia tersebut akan mendapatkan ketenangan hati kalau dirinya lupa kepada Allah swt dan tidak menjalankan perintah-Nya.

Banyak dari kalangan manusia yang mempunyai kelebihan harta, tetapi kehidupan mereka selalu dalam kegelisahan hati sebagai contoh di negara barat, hampir seluruh masyarakat barat hidup dengan berkecukupan harta, tetapi mereka merasakan kehidupan ini dengan perasaan bosan, jenuh, gelisah bukan sedikit orang-orang di barat yang harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena mereka itulah manusia-manusia yang kufur dan tidak mengenal Allah swt.

Kalau kita melihat serta mempelajari kehidupan para salaf, ulama, serta kaum sholihin selama menjalani kehidupan di dunia ini, mereka tidak memiliki banyak harta, dengan penghidupan serba kekurangan, tetapi hati dan wajah mereka menampakan keceriaan dan kegembiraan, karena mereka itulah orang-orang yang hati dan pikirannya selalu bergantungan kepada Allah swt.

Lebih lebih lagi Baginda Rasulallah saw selama menjalani kehidupan di dunia ini, mengalami kekurangan harta,tidak memiliki apa-apa, beliau bisa dikatakan orang yang paling miskin, tetapi dengan kemiskinan itu beliau mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah swt.

Kemiskinan atau apapun masalah kehidupan di dunia ini yang dialami oleh manusia bukanlah hal yang perlu ditakuti, selama manusia itu menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Karena kita sebagai umat Islam yang beriman percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, dan kita percaya akan ada lagi kehidupan setelah kematian,kehidupan yang abadi di akhirat nanti.

Firman Allah swt:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”

Rasulullah saw bersabda:

“Kemiskinan mendekati kekufuran”

Allah Arrahman Arrahim akan membantu, memberikan jalan keluar, serta kemudahan hidup seseorang apabila orang tersebut mengikuti serta menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang di larang-Nya, serta selalu mengingat kepada-Nya.

Tidak lupa untuk mendapatkan kemudahan serta pertolongan dari Allah swt seseorang harus berusaha/ikhtiar semaksimal mungkin dengan cara dan jalan yang benar lagi halal.

Firman Allah swt.

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah SWT niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka” (QS. Ath-Thalaq:2 – 3)

Bukan satu alasan bagi seseorang karena dirinya merasa kekurangan harta lantas dia enggan untuk beribadah kepada Allah swt.

Sekali lagi didalam pandangan agama Islam tidak ada yang dinamakan Stress. Orang-orang yang beriman tidak mengenal apa yang dinamakan Stress.

Mudah-mudahan dengan tulisan yang singkat ini, akan menjadi pelajaran untuk kita semua agar kita bisa mendekatkan diri serta bertawakkal kepada-Nya. Dan mematuhi apa yang di perintahkan-Nya serta meninggalkan apa yang di larang-Nya.

Amien Ya Robbal Aalamin…….

Secangkir Kopi

Posted by admin - 20 Juni 2012 - Aqidah, Psikologi
0
coffee

Oleh: Anonymous

Kalian tidak akan pernah melihat secangkir kopi dengan cara pandang yang sama lagi. Seorang wanita muda pergi ke ibunya dan bercerita mengenai kehidupannya dan juga bagaimana sulitnya dia menjalani kehidupan. Wanita muda tersebut tidak tahu bagaimana cara untuk menjalani kehidupannya dan dia ingin menyerah. Dia merasa sangat lelah untuk bertahan dan berjuang. Tampaknya bila satu masalah terselesaikan maka masalah yang lain akan bermunculan. Lalu ibunya membawanya kedalam dapur. Ibunya mengisi 3 buah teko dengan air. Di teko yang pertama, dia menaruh wortel, di teko yang kedua dia menaruh telur, dan di teko yang terakhir dia menaruh biji kopi.

Mereka kemudian duduk dan membiarkan teko tersebut mendidih tanpa berbicara sedikitpun. Sekitar 20 menit kemudian, ibunya mematikan kompor dan kemudian mengeluarkan wortel, telur dan kopi dalam menempatkan masing-masing pada sebuah mangkuk.

Ibunya kemudian melihat kepada anaknya, dia bertanya, “Katakan padaku, apa yang kamu lihat?”

“Wortel, Telur, dan kopi”, Jawab anaknya.

Ibunya kemudian meminta anaknya untuk melihat wortel tersebut dengan lebih seksama dan menyentuhnya. Ternyata wortel itu terasa lebih lembut. Ibunya kemudian memintanya untuk mengambil telur tersebut dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, anaknya memperhatikan telur matang yang mengeras karena telah direbus. Terakhir, ibunya memintanya untuk mencoba kopi tersebut. Sang anak tersenyum karena menghirup aroma kopi yang enak.

Anaknya kemudian bertanya, “Apa inti dari semua ini ibu?”

Ibunya menjelaskan, bahwa tiap benda ini telah menghadapi kesulitan yang sama – yaitu air yang mendidih – tetapi benda-benda tersebut memberikan reaksi yang berbeda-beda. Wortel yang sebelumnya kuat, keras dan sulit untuk diubah bentuknya; bagaimanapun juga setelah dimasukkan kedalam air mendidih, wortel tersebut berubah menjadi lebih lembut dan melemah. Telur yang sebelumnya sangat rentan dimana kulit luarnya melindungi cairan yang ada didalamanya; setelah berada dalam air yang mendidih, bagian dalam telur tersebut menjadi mengeras. Dan kemudian, yang terakhir adalah biji kopi, yang unik. Setelah direbus dalam air mendidih, biji kopi justru mengubah air tersebut.

“Yang manakah kamu?” Tanya ibu pada anaknya. “Saat kesulitan mengetuk pintu kehidupanmu, bagaimana kamu menanggapinya? Apakah kamu sebuah wortel, telur, atau biji kopi?”

“Berpikirlah seperti ini: Yang manakah saya? Apakah saya sebuah wortel yang terlihat kuat, tetapi dengan adanya rasa sakit dan kesulitan, apakah saya akan menjadi lemah dan kehilangan kekuatan saya? Apakah saya sebuah telur yang awalnya memiliki hati yang lembut tetapi kemudian berubah karena rasa “panas”? Apakah saya mempunyai hati yang cair tetapi setelah kematian, perpecahan, kesulitan ekonomi dan cobaan yang lain, hati saya menjadi keras? Apakah kulit luar saya terlihat sama meskipun di dalam hati saya menjadi keras ? Atau apakah saya seperti biji kopi? Biji kopi tersebut mengubah air panas, yang dapat membawa rasa sakit. Semakin panas air tersebut, maka biji kopi akan semakin melepaskan wangi dan rasanya. Bila kamu adalah biji kopi, saat keadaan berada dalam kondisi yang terburuk, kamu justru menjadi lebih baik dan mengubah situasi disekitarmu. Saat waktu yang ada menjadi yang tergelap, kamu justru menjadi arah menuju tempat yang lain? Bagaimana kamu mengatasi kesulitan? APAKAH KAMU SEBUAH WORTEL, SEBUAH TELUR ATAU SEBUAH BIJI KOPI?”

AWSOM Powered