Click here to send us your inquires or call (852) 36130518
Click here to send us your inquires or call (852) 36130518

Category: Ramadhan

Istiqamah Setelah Ramadhan

Posted by admin - 3 September 2012 - Ramadhan
0
istiqomah

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam dan diamini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Ta’ala ) 1.

Salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya” 2.

Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya agar Allah Ta’ala  mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shalih) yang mereka (kerjakan)” 3.

Lalu muncul satu pertanyaan besar dengan sendirinya: Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan puasa?

Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir?

Jawabannya ada pada kisah berikut ini:

Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang (hanya) rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, maka beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan, (hamba Allah) yang shaleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh” 4.

Demi Allah, inilah hamba Allah Ta’ala  yang sejati, yang selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, bukan hanya di waktu dan tempat tertentu.

Imam Asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah Ta’ala  yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)” 5.

Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan rahmat Allah Ta’ala di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua termasuk dalam firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد}

Hai manusia, kalian semua butuh kepada (rahmat) Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Inilah makna istiqamah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Ta’ala  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut” 6.

Oleh karena itulah, Allah Ta’ala  mensyariatkan puasa enam hari di bulan Syawwal, yangkeutamannya sangat besar yaitu menjadikan puasa Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawwal pahalanya seperti puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasululah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh 7.

Di samping itu juga untuk tujuan memenuhi keinginan hamba-hamba-Nya yang shaleh dan selalu rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang merasa gembira dengan mengerjakan ibadah puasa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah 8.

Inilah bentuk amal kebaikan yang paling dicintai oleh AllahTa’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala  adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit 9.

Ummul mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika mengerjakan suatu amal (kebaikan) maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam akan menetapinya” 10.

Inilah makna istiqamah setelah bulan Ramadhan, inilah tanda diterimanya amal-amal kebaikan kita di bulan yang berkah itu, maka silahkan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung dan diterima amal kebaikannya atau malah sebaliknya.

{فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ}

Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS al-Hasyr: 2).

1 HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 644), Ibnu Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.

2 Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 297).

3 Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

4 Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 313).

5 Ibid.

6 Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 311).

7 HSR Muslim (no. 1164).

8 HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).

9 HSR al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783).

10 HSR Muslim (no. 746).

Penulis: Abdullah bin Taslim al-Buthani, MA.

Dari artikel Istiqamah Setelah Ramadhan — Muslim.Or.Id

Ada Apa Setelah Ramadhan?

Posted by admin - 30 Agustus 2012 - idul fitri, puasa, Ramadhan
0
EidulFitr

Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Bulan yang penuh dengan berbagai macam kebaikan. Semoga Allah menerima amal kebaikan kita dan menjadikan kita istiqamah sampai berjumpa denganNya, amien. Entah, kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan atau tidak? Wallahu ‘A’lam.

Namun, walaupun Ramadhan telah pergi akan tetapi amal seorang mukmin tidak terputus begitu saja sehingga datang padanya kematian. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99).
Apabila puasa Ramadhan telah meninggalkan kita maka ibadah puasa yang lain tetap disyari’atkan sepanjang tahun.

Puasa Enam Hari Bulan Syawal dan Puasa-Puasa Sunnah Lainnya:

Abu Sa’id Al-Khudri –Radhiallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwsanya Rasulullah –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari pada bulan Syawal, maka hal itu laksana puasa setahun.” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Kekasihku –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara: Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua raka’at dan supaya aku shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Qatadah –Radhiallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam pernah ditanya tentang puasa Arafah, lalu beliau –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjawab: “Menghapus dosa tahun lalu dan tahun mendatang.” (HR. Muslim).

Dari Abu Qatadah –Radhiallahu ‘Anhu , bahwasanya Rasulullah –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam ditanya tentang puasa pada hari Asyura’, lalu beliau –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjawab: “Menghapus dosa tahun lalu.” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu , dari Rasulullah –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Amalan-amalan dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka apabila dihadapkan amalanku ketika aku sedang puasa.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih). Dll.

Qiyamul Lail Sepanjang Tahun dan Shalat-Shalat Sunnah Lainnya:

Apabila Qiyam Ramadhan (Tarawih) telah meninggalkan kita maka ibadah Qiyamullail (shalat malam) tetap disyari’atkan setiap malam.

Dari ‘Aisyah –radhiallahu anha berkata: Bahwasanya Rasulullah –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam shalat malam sampai bengkak kakinya. Lalu akupun bertanya kepada beliau: Mengapa engkau lakukan ini -wahai Rasulullah- padahal telah diampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang ? Beliau menjawab: “Apakah tidak sepatutnya aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur!” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu , bahwasanya Rasulullah –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Rabb kita –tabaraka wa ta’ala- turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia (Allah) berfirman: “Siapa yang berdoa kepadaKu, Aku kabulkan doanya. Siapa yang meminta kepadaKu, Aku beri permintaannya. Siapa yang memohon ampunan kepadaKu, pasti Aku ampuni dia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masih banyak amal-amal kebaikan lainnya yang bisa kita kerjakan sepanjang tahun.. Allah yang kita sembah pada bulan Ramadhan adalah juga Allah yang kita sembah pada bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya..Hendaklah kita kembali bersemangat untuk mengerjakan ketaatan-ketaatan dan menjauhi dosa-dosa dan keburukan-keburukan agar kita mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat..Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita dan menjadikan kita semua istiqamah sampai berjumpa denganNya, amien…

Zakat Fithri

Posted by admin - 13 Agustus 2012 - Aqidah, Ramadhan, ZIS
0
beras

Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.

Hikmah Disyari’atkan Zakat Fithri

Di antara hikmah zakat fithri adalah untuk menyucikan hati orang yang berpuasa dari perkara yang tidak bermanfaat dan kata-kata yang kotor. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Selain itu juga, zakat fithri akan mencukupi kaum fakir dan miskin dari meminta-minta pada hari raya ‘idul fithri sehingga mereka dapat bersenang-senang dengan orang kaya pada hari tersebut dan syari’at ini juga bertujuan agar kebahagiaan ini dapat dirasakan oleh semua kalangan. (Lihat Minhajul Muslim, 23 dan Majelis Bulan Ramadhan, 382)

Hukum Zakat Fithri

Zakat Fithri adalah shodaqoh yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan. Hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun yang budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.” (HR. An Nasai. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Nasa’i, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih)

Catatan: Perlu diperhatikan bahwa shogir (anak kecil) dalam hadits ini tidak termasuk di dalamnya janin. Karena ada sebagian ulama seperti Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa janin juga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini kurang tepat karena janin tidaklah disebut shogir dalam bahasa Arab juga secara ‘urf (anggapan orang Arab) (Lihat Shifat Shaum Nabi, 102). Namun jika ada yang mau membayarkan zakat fithri untuk janin tidaklah mengapa karena dahulu sahabat Utsman bin ‘Affan pernah mengeluarkan zakat fithri bagi janin dalam kandungan. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381)

Yang Berkewajiban Membayar Zakat Fithri

Zakat fithri ini wajib ditunaikan oleh:

  1. Setiap muslim sedangkan orang kafir tidak wajib untuk menunaikannya, namun mereka akan dihukum di akhirat karena tidak menunaikannya.
  2. Yang mampu mengeluarkan zakat fithri. Menurut mayoritas ulama, batasannya adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘ied. Jadi apabila keadaan seseorang demikian berarti dia mampu dan wajib mengeluarkan zakat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

“Barangsiapa meminta dan padanya terdapat sesuatu yang mencukupinya, maka seseungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari-semalam.” (HR. Abu Daud, Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Abi Daud) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/80)

Bagaimana dengan anak dan istri yang menjadi tanggungan suami, apakah perlu mengeluarkan zakat sendiri-sendiri? Menurut Imam Nawawi, kepala keluarga wajib membayar zakat fithri keluarganya. Bahkan menurut Imam Malik, Syafi’i dan mayoritas ulama wajib bagi suami untuk mengeluarkan zakat istrinya karena istri adalah tanggungan nafkah suami. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, VII/59). Namun menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, jika mereka mampu, sebaiknya mereka mengeluarkannya atas nama diri mereka sendiri, karena pada asalnya masing-masing mereka terkena perintah untuk menunaikannya. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381). Wallahu a’lam.

Kapan Seseorang Mulai Terkena Kewajiban Membayar Zakat Fithri?

Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat fithri pada saat terbenamnya matahari di malam hari raya. Jika dia mendapati waktu tersebut, maka wajib baginya membayar zakat fithri. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Syafi’i dan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim VII/58, juga dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majlis Syahri Ramadhan. Alasannya karena zakat ini merupakan saat berbuka dari puasa Ramadhan. Oleh karena itu, zakat ini dinamakan demikian (disandarkan pada kata fithri) sehingga hukumnya juga disandarkan pada waktu fithri tersebut.

Misalnya adalah apabila seseorang meninggal satu menit sebelum terbenamnya matahari pada malam hari raya, maka dia tidak punya kewajiban dikeluarkan zakat fithri. Namun, jika ia meninggal satu menit setelah terbenamnya matahari maka wajib untuk mengeluarkan zakat fithri darinya. Begitu juga apabila ada bayi yang lahir setelah tenggelamnya matahari maka tidak wajib dikeluarkan zakat fithri darinya, tetapi dianjurkan sebagaimana perbuatan Utsman di atas. Namun, jika bayi itu terlahir sebelum matahari terbenam, maka zakat fithri wajib untuk dikeluarkan darinya (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 385).

Macam Zakat Fithri

Benda yang dijadikan zakat fithri adalah berupa makanan pokok manusia, baik itu kurma, gandum, beras, kismis, keju, dsb dan tidak dibatasi pada kurma atau gandum saja (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 383 & Shohih Fiqh Sunnah, II/82). Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Malikiyah, Syafi’iyah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa dan hal ini diselisihi oleh Hanabilah. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau gandum karena ini adalah makanan pokok penduduk Madinah. Seandainya itu bukan makanan pokok mereka tetapi mereka mengkonsumsi makanan pokok lainnya, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu tidak akan membebani mereka mengeluarkan zakat fithri yang bukan makanan yang biasa mereka makan. Sebagaimana juga dalam membayar kafaroh diperintahkan seperti ini. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ

“Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (QS. Al Maidah [5] : 89). Dan zakat fithri merupakan bagian dari kafaroh. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/82)

Ukuran Zakat Fithri

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar di atas bahwa zakat fithri adalah seukuran satu sho’ kurma atau gandum. Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran ‘empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang’ sebagaimana yang disebutkan dalam Kamus Al Muhith. Dan apabila ditimbang akan mendekati ukuran 3 kg. Jadi kalau di Jawa makanan pokoknya adalah beras, maka ukuran zakat fithrinya sekitar 3 kg dan inilah yang lebih hati-hati. (Lihat pendapat Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa-nya V/92 atau Majalah Al Furqon Th. I, ed 2)

Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fithri dengan Uang ?

Perlu diketahui bahwa pakaian, tempat tidur, bejana, perabot rumah tangga, serta benda-benda lainnya selain makanan tidak dapat digunakan untuk membayar zakat fithri. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan pembayaran zakat fithri dengan makanan (sebagaimana dapat dilihat pada hadits Ibnu Abbas di atas), dan ketentuan beliau ini tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, tidak boleh mengganti makanan dengan uang yang seharga makanan dalam membayar zakat fithri karena ini berarti menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan alasan lainnya adalah:

  1. Selain menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyelisihi amalan shabat radhiyallahu ‘anhum yang menunaikannya dengan satu sho’ kurma atau gandum. Ingatlah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Daud & Tirmidzi, dia mengatakan hadits ini hasan shohih)
  2. Zakat fithri adalah suatu ibadah yang diwajibkan dari suatu jenis tertentu. Oleh sebab itu, posisi jenis barang yang dijadikan sebagai alat pembayaran zakat fithri itu tidak dapat digantikan sebagaimana waktu pelaksanaannya juga tidak dapat digantikan. Jika ada yang mengatakan bahwa menggunakan uang ‘kan lebih bermanfaat. Maka kami katakan bahwa Nabi yang mensyariatkan zakat dengan makanan tentu lebih sayang kepada orang miskin dan tentu lebih tahu mana yang lebih manfaat bagi mereka. Allah yang mensyari’atkannya pula tentu lebih tahu kemaslahatan hamba-Nya yang fakir dan miskin, tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan dengan uang.

Perlu diketahui pula bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah terdapat mata uang. Tetapi kok beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan sahabatnya untuk membayar dengan uang? Seandainya diperbolehkan dengan uang, lalu apa hikmahnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dengan satu sho’ gandum atau kurma? Seandainya boleh menggunakan uang, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengatakan kepada umatnya, ‘Satu sho’ gandum atau harganya.’

Terakhir, menurut mayoritas ulama fiqh tidak boleh menggunakan uang yang senilai makanan untuk membayar zakat fithri, namun yang membolehkannya adalah Abu Hanifah juga Umar bin Abdul Aziz. Imam Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa perkataan Abu Hanifah ini tertolak. Karena “Tidaklah Rabbmu itu lupa”. Seandainya zakat fithri dengan uang itu dibolehkan tentu Allah dan Rasul-Nya akan menjelaskannya. (Lihat Majalah Al Furqon Th. I, ed 2 & Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah, 230-231)

Penerima Zakat Fithri

Penerima zakat fithri hanya dikhususkan untuk orang miskin dan bukanlah dibagikan kepada 8 golongan penerima zakat (sebagaimana terdapat dalam surat At Taubah:60). Inilah pendapat Malikiyah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyelisihi mayoritas ulama. Pendapat ini lebih tepat karena lebih cocok dengan tujuan disyariatkannya zakat fithri yaitu untuk memberi makan orang miskin sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas di atas, “… untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/85)

Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad, II/17 mengatakan bahwa berdasarkan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam zakat fithri itu hanya dikhususkan kepada orang miskin. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membagikannya kepada 8 ashnaf (sebagaiman dalam Surat At Taubah: 60) dan beliau juga tidak pernah memerintahkan demikian dan tidak ada seorang sahabat pun dan tabi’in yang melakukannya.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri

Zakat fithri disandarkan kepada kata ‘fithri (berbuka artinya tidak berpuasa lagi)’. Karena fithri inilah sebabnya, maka zakat ini dikaitkan dengan fithri tersebut dan tidak boleh didahulukan. Perlu diketahui bahwa waktu pembayaran zakat itu ada dua macam. Pertama adalah waktu utama (afdhol) yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘ied. Dan kedua adalah waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan Ibnu Umar. (Lihat Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, 640 & Minhajul Muslim, 231)

Ibnu Abbas berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied, maka itu adalah zakat yang diterima. Namun, barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ‘ied maka itu hanya sekedar shodaqoh.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Hadits ini merupakan dalil bahwa pembayaran zakat fithri setelah shalat ‘ied tidak sah karena hanya berstatus sebagaimana sedekah pada umumnya dan bukan termasuk zakat fithri (At Ta’liqot Ar Rodhiyah, I/553, ed)

Namun kewajiban ini tidak gugur di luar waktunya. Kewajiban ini harus tetap ditunaikan walaupun statusnya hanya sedekah. Abu Malik Kamal (Penulis Shohih Fiqh Sunnah) mengatakan bahwa pendapat ini merupakan kesepakatan para ulama yaitu kewajiban membayar zakat fithri tidaklah gugur apabila keluar waktunya. Hal ini masih tetap menjadi kewajiban orang yang punya kewajiban zakat karena ini adalah utang yang tidak bisa gugur kecuali dengan dilunasi dan ini adalah hak sesama anak Adam. Adapun hak Allah, apabila hak tersebut diakhirkan hingga keluar waktunya maka tidak dibolehkan dan tebusannya adalah istigfar dan bertaubat kepada-Nya. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/84). Wallahu a’lam bish showab. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar

Dari artikel Seputar Zakat Fithri — Muslim.Or.Id

Semakin Semangat Ibadah di Akhir Ramadhan

Posted by admin - 10 Agustus 2012 - Ramadhan
2
al quran

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebagian kaum muslimin di akhir Ramadhan malah tersibukkan dengan hal-hal dunia. Dirinya lebih memikirkan pulang mudik, baju baru dan silaturahmi kepada kerabat. Contoh dari suri tauladan kita tidaklah demikian. Di akhir Ramadhan, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih tersibukkan dengan ibadah, apalagi shalat malam.

Raih Lailatul Qadar

Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar (Zaadul Masiir, 9/191).

Kapan Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Tidak Perlu Mencari Tanda

Sebagian orang sibuk mencari tanda kapan lailatul qadar terjadi. Namun sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir Ramadhan, pokoknya terus perbanyak ibadah. Karena kalau sibuk mencari tanda malam tersebut, kita malah tidak akan memperbanyak ibadah. Walaupun memang ada tanda-tanda tertentu kala itu.  Tanda tersebut di antaranya:

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762)

Jika Engkau Dapati Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171, shahih)

Lebih Giat Ibadah di Akhir Ramadhan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan.

‘Aisyah mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Menghidupkan Malam Penuh Kemuliaan

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (‘Aunul Ma’bud, 4/176). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Jika seorang meraih lailatul qadar dengan i’tikaf, itu lebih bagus. Namun i’tikaf bukanlah syarat untuk dapati malam kemuliaan tersebut. Begitu pula bukanlah syarat mesti di masjid untuk dapati lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 341).

Semoga Allah beri taufik kepada kita sekalian untuk terus perbanyak ibadah di akhir-akhir Ramadhan dan moga kita juga termasuk hamba yang mendapatkan malam penuh kemuliaan, lailatul qadar. Wallahu waliyyut taufiq.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel  www.muslim.or.id

Rahasia Puasa

Posted by admin - 27 Juli 2012 - Ramadhan
0
Yusuf-Al-Qaradawi

Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.

Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

 

Menguatkan Jiwa

Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya. (QS 45:23).

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi. (HR. Tirmidzi).

Mendidik Kemauan

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran.

Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

Menyehatkan Badan

Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

Mengenal Nilai Kenikmatan

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.

Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasaakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS 14:7)

Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya.

Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS 9:103)

Sambut dengan Gembira

Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi kita, maka sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut kedatangan Ramadhan tahun ini dengan penuh rasa gembira sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan nanti dengan ringan meskipun sebenarnya ibadah Ramadhan itu berat.

Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar. Kita tentu harus prihatin akan kondisi bangsa kita yang sedang mengalami krisis, krisis yang seharusnya diatasi dengan memantapkan iman dan taqwa, tapi malah dengan menggunakan cara sendiri-sendiri yang akhirnya malah memicu pertentangan dan perpecahan yang justeru menjauhkan kita dari rahmat dan keberkahan dari Allah Swt.

sumber :  kabarislam.com

Amalan-Amalan Ketika Berbuka Puasa

Posted by admin - 26 Juli 2012 - Aqidah, Ramadhan
1
kurma

Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:

Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.

Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)

Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.

Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.

Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ »

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).

Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka.

Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.

Kelima: Berdo’a secara umum ketika berbuka.

Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).

Keenam: Memberi makan orang yang berpuasa.

Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan orang yang berpuasa karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)

Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.

Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)

Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)

Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)

Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)

Kesebelas: Berdoa sesudah makan.

Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)

Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)

Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Panggang-Gunung Kidul, 27 Sya’ban 1432 H (29/07/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Malam Lailatul Qadar

Posted by admin - 23 Juli 2012 - Da'i dan Dakwah, Ilmu Al Quran dan Tafsir, Ramadhan
0
lailatul qadar

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ صحيح البخاري

Rasulullah SAW bersabda :
“ Temuilah malam Lailatul qadr di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan “ (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِاْلَحَمْدلُلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ ياَمَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وعَلىَ أَلِهِ الحَمْدُلِله الَّذِيْ جَمَعَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ أَكْرَمَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ وَعَدَنَا بِاْلمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ..

Limpahan puji ke hadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Penguasa tunggal Maha Sempurna dan Abadi Rabbul ‘Alamin Yang Maha Luhur dan Maha Suci dan Maha mensucikan jiwa dan sanubarihamba-hambaNya, Maha menyingkirkan segenap kesulitan dan musibah bagi hamba-hambaNya, dan Maha mampu melimpahkan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang dikehendakiNya, beruntunglah mereka yang selalu memperbanyak doa dan munajat memanggil namaNya Yang Maha Luhur. Karena setiap seruan panggilan ke hadirat Allah, memanggil nama Allah, akan abadi dan akan sampai ke hadirat Allah Jalla Wa ‘Alaa. Di Yamul Mahsyar (hari perkumpulan seluruh manusia), Allah SWT akan mengenal bibir-bibir yang selalu memanggil namaNya , Firman Allah dalam hadits qudsy :

أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ
“Aku bersama hambaKu ketika hambaKu mengingatKu, dan bergetar bibirnya menyebut namaKu “. Dan Allah SWT berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّكُمْ يَرْشُدُوْنَ  — البقرة :186

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” ( QS. Al-Baqarah: 186).

“ Wahai Muhammad, katakanlah kepada hamba-hambaKu jika mereka bertanya tentang dzatKu ini, katakanlah bahwa Tuhan mu dekat إِنِّيْ قَرِيْبٌ “ Sungguh Aku (Allah) Maha dekat “, lebih dekat kepadanya dari semua yang dekat padanya, sebelum ia mengenal satu pun dari teman dan kerabatnya, sebelum ia mengenal ayah dan ibunya, Allah telah Maha dekat dan mengenalnya sebelum ia lahir ke muka bumi, selama namanya telah dicipta dan ditaruh di sulbi nabiyullah Adam AS, إِنِّيْ قَرِيْبٌ Akulah (Allah) Yang Maha dekat kepadanya, dan Maha menawarkan kedekatanNya yang abadi setelah kehidupan di muka bumi. Semoga aku dan kalian selalu menerima lamaran kedekatan Allah Jalla Wa ‘Alaa dunia wal akhirah, dan semoga Allah memberi kemudahan bagiku dan kalian untuk selalu dalam keluhuran cahaya kedekatan ke hadirat Allah. Jangan selalu berputus asa berdoa dan bermunajat jika kita merasa lemah dan rentan maka berdoalah karena Allah membimbing mu dan mempermudah mu membuka jalan kemudahan untuk sampai kepada pintu-pintu keluhuran dan kesucian hidup, yang dengan itu kita sampai kepada rahasia kebahagiaan yang kekal, keridhaan Allah, cinta Allah, kasih sayang Allah. Betapa beruntung mereka yang menerima lamaran Allah untuk dapat menjadi pencintaNya, dan betapa ruginya mereka dengan segala apa yang mereka lewati dalam kehidupan di muka bumi, jika mereka lepas dan menolak lamaran Allah untuk menjadi kekasihNya. Firman Allah dalam hadits qudsy :

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَائَهُ

“ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Ku (Allah), Aku pun rindu berjumpa dengannya”.

Hadirin hadirat…demikian kasih sayang dan kerinduan yang ditawarkan pada jiwa yang mau rindu kepada Yang Maha menawarkan kebahagiaan yang kekal …ALLAH. Renungi kalimat agung dan luhur dari Rabbul ‘Alamin : “ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Allah, Allah pun rindu berjumpa dengannya”. Alangkah indah hari-hari seorang hamba, ia lewati hari-hari nya dan ia dirindukan Allah. Semoga aku dan kalian diterangi jiwa kita dengan cahaya kerinduan berjumpa dengan Yang Maha Indah, dengan pencipta kita dari tiada, dengan Yang Maha Dermawan dan menyingkirkan kita dari segala kesulitan dan musibah, demi cahaya kerinduan ke hadirat Allah Ya Zal Jalaali Wal Ikram. Sampailah kita di hari yang mulia ini 17 Ramadhan yang mengingatkan kita kepada peristiwa Badr Al Kubra, dimana diterangkannya bendera pembela Sang Nabi SAW, pertama kali ketika beliau SAW berhadapan dengan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah Al Munawwarah sebelum menuju Badr Al Kubra, maka di saat itulah wajah yang paling ramah, wajah yang paling indah, wajah yang dikatakan oleh Sayyidina Anas bin Malik :

مَارَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبُ مِنْ وَجْهِ النَّبِي

“ Tidak ada pemandangan kutemukan lebih indah dari wajah Sang Nabi (saw), lebih menakjubkan dari wajah Sang Nabi”. Ketika berdiri kaum muhajirin dan anshar menghadap wajah yang paling mulia, wajah yang paling sopan, wajah yang paling berkasih sayang dari seluruh makhluk Allah, wajah yang dikatakan oleh Allah :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ — القلم : 4

“ Sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung”.( QS.Al Qalam : 4) Wajah yang selalu menjawab cinta dari semua umat bahkan dari benda mati, demikian Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Maka Rasulullah SAW berkata :“ bagaimana pendapat kalian “ ?, maka berkata salah seorang Anshar :

لَكَأَنَّكَ تُرِيْدُ مِنَّا يَارَسُولَ اللهِ ؟
“ Ya Rasulullah tampaknya engkau menunggu pendapat kami”?, maka Rasul SAW berkata : betul, bagaimana pendapat kalian wahai kaum Anshar? , maka salah satu kaum Anshar berkata :

يَارَسُولَ اللهِ اِمْضِ بِنَا لِمَا أَرَدْتَ فَنَحْنُ مَعَكَ, لَوْ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا اْلبَحْرَ فَخَضْتَهُ لَخَضْنَاهُ مَعَكَ مَا تَخَلَّفَ مِنَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ لَعَلَّ اللهُ يُرِيْكَ مِنَّا مَا تَقَرَّ بِهِ عَيْنُكَ

“ Wahai Rasul, kami akan ikut bersamamu kemanapun engkau pergi , jika engkau mengajak kami kemanapun kami akan ikut, jika engkau berdiri di depan lautan lalu masuk ke dasar lautan, kami akan ikut dan tidak akan tersisa satu pun dari kami kecuali ikut denganmu, barangkali dengan itu kami bisa menggembirakan hatimu wahai Rasulullah”.
Inilah tujuan Muhajirin dan Anshar yang selalu ingin menggembirakan hati Nabi Muhammad SAW, mereka rela mati kesemuanya demi menggembirakan hati Muhammad Rasulullah SAW,

فَسُرَّ وَجْهُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,

maka terlihat terang benderang dan gembira wajah Rasul SAW, maka mereka pun berangkat.

Hadirin hadirat… malam 17 Ramadhan malam munajat , Sang Nabi berdoa kehadirat Allah terangkat kedua tangannya hingga jatuh ridanya (rida : sorban dipundak)dari panjangnya doa beliau, diantara doa beliau SAW riwayat Shahih Al Bukhari :

اَللَّهُمَّ إِنْ تَشَأْ لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ …

“ Wahai Allah aku risau kalau seandainya kelompok kecil kami ini kalah orang-orang yang banyak tidak siap berperang, senjata terbatas tidak mampu berbuat apa-apa, kalau sampai kalah kelompok ini dan habis di bantai,

لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ

aku risau tidak ada yang menyembah Mu di muka bumi, karena seluruh orang-orang para da’i, para pembela Sang Nabi kumpul di Badr, kalau semuanya di bantai maka habislah, tinggallah Dhu’afaa’ (orang-orang lemah) di Makkah dan kaum wanita di Madinah, maka setelah ini jangan-jangan tidak ada lagi yang menyembahMu kalau sampai kelompok ini kalah. Demikian risaunya Sang Nabi, beliau mempunyai jiwa yang risau, paling risau sesuatu menimpa umat nya inilah jiwa Sayyidina Muhammad, inilah jiwa yang Allah katakan :

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ  — التوبة : 128

“ Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian sendiri, yang sangat menjaga kalian dan sangat berat memikirkan apa yang menimpa kalian, dan sangat santun dan berkasih sayang terhadap orang-orang yang beriman”. ( QS. At Taubah : 128)
Inilah Sayyidina Muhammad SAW yang berdoa :

اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ

Sampai di saat musibah yang paling dahsyat di dunia ini, yaitu sakaratul maut seraya berdoa kepada Allah di saat beliau akan wafat “ Ya Allah keraskan dan pedihkan sakaratul mautku dan ringankan untuk seluruh umatku ‘’. Inilah doa Sayyidina Muhammad SAW, rela menerima kepedihan sakaratul maut demi teringankan untuk umatnya. Maka, hadirin hadirat…satu-satunya jiwa yang paling tidak tega melihat umatnya merintih di dalam api neraka karena berdosa beliau bersujud untuk memohonkan syafaat untuk para pendosa, inilah Muhammad Rasulullah SAW pimpinan Ahlul Badr. Maka mereka keluar dengan dua bendera hitam, satu bendera di tangan Muhajirin satu bendera di tangan Anshar. Bendera Muhajirin di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah RA, dan satu bendera di tangan kaum Anshar. Dan Rasulullah SAW berkata janganlah kalian menyerang mereka sebelum mereka menyerang kalian, jangan ada yang bergerak dan berbuat sesuatu sebelum mereka terlebih dahulu berbuat dan menyerang kita. Jumlah 313 orang, senjata tidak lengkap menghadapi 3000 pasukan musyrikin quraisy dengan senjata lengkap dan kuda, pakai baju besi, topi besi, senjata, pedang, siap tempurnya dengan pasukan kuda yang berlapis baja pula, berhadapan dengan pasukan 313 orang, berapa puluh yang punya pedang, lainnya bawa tombak, lainnya cuma punya panah, lainnya hanya bawa tongkat, dan yang lainnya membawa batu dan alat tani, inilah keadaan mereka. Allah berfirman :

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ — الأنفال : 9

“ Jika kalian berdoa dan bermunajat meminta pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu, sesungguhnya Aku (Allah) akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS.Al Anfal : 9)
Berkata Abu Sa’id dari kaum Anshar, aku buta sejak perang Badr kalau seandainya aku tidak buta, aku bisa perlihatkan kalian dimana turunnya pasukan malaikat dari belahan langit di wilayah Badr, karena kejadian itu terjadi di wilayah yang dinamakan Badr tahun ke-2 Hijriah pada hari Jum’at 17 Ramadhan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian indahnya peperangan Badr Al Kubra ini, ketika Sayyidina Abu Thalhah Al Anshari RA yang sangat mencintai Sang Nabi SAW, yang berlutut di tengah-tengah peperangan seraya berkata kepada Rasulullah :

وَجْهِيْ لِوَجْهِكَ اْلوِقَاءُ وَنَفْسِيَ لِنَفْسِكَ اْلفِدَاءُ

“ Wajahku ini siap menjadi tameng bagi segala serangan di wajahmu ya rasul, jiwa dan ragaku siap untuk membentengimu wahai Nabi dari segala panah dan senjata “. Maka orang seperti Abu Thalhah ini kata Rasul : Abu Thalhah ka alf min ummati ( Abu Thalhah seperti 1000 orang kekuatannya dalam umatku ). Demikian keadaan para pencinta Rasul SAW yang mempunyai kekuatan yang demikian dahsyat . Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah ini di dalam peperangan Badr pedangnya jatuh karena kantuknya, karena sepanjang malam qiyamul lail di saat perang terjatuh pedangnya, bagaimana manusia perang dengan hawa nafsu, kalau ia perang dengan hawa nafsu tentunya ia tidak akan bisa memejamkan mata sekejap pun dari melihat serangan pedang 3000 orang pasukan kuffar quraisy dengan senjata lengkap masih bisa terkantuk-kantuk, menunjukkan mereka memang mempunyai jiwa-jiwa yang suci dan damai, bahkan Sang Nabi mengatakan “ jangan menyerang sebelum mereka menyerang”. Demikian hadirin hadirat, manusia yang paling tidak menghendaki permusuhan walau terhadap orang-orang yang paling jahat memusuhi beliau, bahkan pada saat perang Uhud ketika panah besi menembus rahang beliau, dan beliau SAW roboh maka saat itu berdiri Sayyidina Abu Thalhah di depan beliau, dan Rasul berdiri lagi untuk melihat keadaan pasukannya yang kacau balau karena diserang kaum kuffar, maka Abu Thalhah berkata ; tetap duduk wahai Rasul jangan berdiri sungguh …

وَجْهِيْ لَيْسَ بِوَجْهِكَ وَصَدْرِيْ لَيْسَ بِصَدْرِكَ

( wajahku bukan wajahmu dadaku bukan dadamu ), biar aku yang kena serangan panah jangan engkau kena serangan lagi, tetap di tempatmu wahai Rasul. Dan Rasul sudah mengalir darah, karena panah besi menghantam dari pada perisai baja yang ada di tangan Sang Nabi dan sedemikian kerasnya sampai menembus baja tersebut dan menembus tulang rahang beliau. Maka Sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ RA dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari datang kepada Nabi dan membersihkan darah yang mengalir dari wajah beliau. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa Rasul memegang ridanya (rida : sorban dipundak yg sering juga dililitkan dileher oleh beliau saw), menahan jangan sampai darah jatuh ke tanah, maka para Shahabat berkata biar dulu darahnya jatuh ke tanah wahai Rasul, kita urus panah besi di rahangmu masih menempel, maka Rasul berkata kalau ada darah dari wajahku jatuh ke tanah, Allah akan tumpahkan bala’ untuk mereka, maka Rasul tidak ingin bala’ ini tumpah pada mereka yang memerangi beliau, inilah Sayyidina Muhammad SAW . Panah besi menembus rahang beliau, beliau masih sibuk menjaga jangan sampai setetes darah jatuh ke tanah, karena nanti Allah akan murka kalau sampai ada setetes darah dari wajahku jatuh ke bumi, Allah akan menumpahkan bala’ untuk mereka, Rasul masih ingin mereka masuk Islam lalu keterunannya mendapat hidayah, demikian manusia yang paling indah Sayyidina Muhammad SAW. Perang Badr berakhir dengan kemenangan.

Hadirin…Sayyidina Utsman bin Affan RA, yang saat akan berangkat ke Badr terkena musibah karena istrinya sakit. Sayyidina Utsman mau meninggalkan istrinya namun ia tidak berani karena istrinya adalah putri Rasulullah SAW, baginya peperangan Badr belakangan, ini putri Sayyidina Muhammad SAW. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya Rasulullah, putrimu sakit aku mohon ijin. Maka Rasulullah berkata : Kau tetap jaga putriku. Selesai perang Badr, maka Rasulullah saw bersabda, Allah telah berfirman kepada Ahlul Badr dalam hadits qudsy riwayat Shahih Bukhari :

اِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ يَاأَهْلَ اْلبَدْرِ قَدْ غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَكُمْ مَاتَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ

“ Beramallah semau kalian wahai ahlul Badr, karena Allah telah mengampuni dosa kalian yang telah lalu dan yang akan datang “. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya (Wahai) Rasulullah, aku tidak hadir perang Badr, aku menjaga putrimu. Maka Rasulullah berkata : Kau dapat pahala Badr, dan kau dalam kelompok Ahlul Badr. Demikian hadirin hadirat, karena beliau ( Sayyidina Utsman ) menjaga putri Rasul, mengorbankan hadir dari perang Badr maka Allah memberikan baginya pahala kemuliaan Badr Al Kubra, Sayyidina Utsman RA.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah…
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka Khalifah Abu Bakar As Shiddiq RA memegang khilafah, lantas terjadi pemberontakan di beberapa wilayah yang tidak menerima kepemimpinan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA, diantaranya Ahlul Yaman. Yaman masuk Islam di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, demikian riwayat Sirah Ibn Hisyam. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA dikirim oleh Rasul saw ke Yaman. Sayyidina Muadz menuju ke Yaman bagian utara, dan Sayyidina Ali menuju ke Yaman bagian Selatan ( Hadramaut ). Setelah mereka ( penduduk Yaman ) masuk Islam, maka kembalilah Sayyidina Ali dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA. Namun setelah kepemimpinan Khalifah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, terjadi pemberontakan disana-sini diantaranya di Yaman dan juga di Hadramaut. Dari kota Tarim, penguasa kota Tarim saat itu Sultannya mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA untuk meminta bantuan pasukan dari Madinah, karena banyaknya orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA. Maka Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq mengirim beberapa banyak Sahabat, diantaranya mereka Ahlul Badr. Ahlul Badr tentunya tidak semuanya wafat, maka dikirim diantaranya Ahlul Badr menuju Tarim Hadramaut. Di kota Tarim tempat guru mulia kita dan para Salafus Shalih, disana terdapat yang di sebut Jabal Khailah , yaitu gunung kuda artinya, kenapa disebut gunung kuda? Karena dari gunung itulah turunnya pasukan para Sahabat dari Madinah Al Munawwarah ketika datang dari perintah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA menuju kota Tarim. Maka dikatakan jarak terdekat kalau dengan menaiki kuda menuju Madinah dari kota Tarim adalah lewat Jabal Khailah, dari situlah turunnya pasukan Sahabat datang menuju kota Tarim. Mereka bersatu dengan penduduk Tarim untuk membela kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA, lantas diantara Ahlul Badr ada yang mati syahid di kota Tarim, dimakamkan dan sampai sekarang ada makam Ahlul Badr di kota Tarim di pekuburan Zanbal .

Hadirin…selesailah permasalahan Khalifah Abu Bakr As Shiddiq, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman , Sayyidina Ali, berlanjut muslimin terjadi permasalahan diantara Khalifah, dan setelah wafatnya Khulafaa Ar Rasyidin, hingga Al Imam Ahmad Al Muhajir pindah ke Baghdad, keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, keturunan Sayyidatna Fathimah Az Zahra’ RA, keturunan Rasulullah SAW. Al Imam Ahmad Al Muhajir di Baghdad dan kemudian mendapat banyak permasalahan dan fitnah serta perpecahan di antara kaum Muslimin, maka Al Imam Ahmad Al Muhajir mengajak beberapa rombongan keluarganya hijrah ke kota Tarim Hadramaut, ke tempat makam Ahlul Badr dan para pembela Abu Bakr As Shiddiq RA . Wafat Al Imam Ahmad Al Muhajir di wilayah Hadramaut dan dimakamkan disana, lalu keturunannya di antaranya Al Imam Ali bin ‘Alwy Khali’ Qasam AR (alaihi rahmatulllah : semoga atasnya Rahmat Allah swt), seorang Hujjatul Islam yang kemudian berwasiat untuk dimakamkan di sebelah perkuburan Ahlul Badr, dan ia mewakafkan tanah yang di sebut perkuburan Zanbal untuk para keturunannya, hingga saat ini para imam-imam besar banyak sekali dimakamkan di perkuburan itu mengambil tabarruk untuk berdekatan dengan sahabat Ahlul Badr RA .

Ketika Al Imam Ahmad Al Muhajir ingin pindah ke Yaman Hadramaut, sebagian Ulama’ di Baghdad berkata : Wahai Imam, kau mau kemana?, kau ini Imam Ahlul Bait mau pindah ke Hadramaut tempat yang tandus tidak ada sesuatu!? Al Imam berkata: Aku ingin menjaga keturunanku dari fitnah dan dari bencana permusuhan, maka ia pun berangkat ke Hadramaut tanah yang tandus yang tidak ada padanya kecuali baduwi-baduwi (orang orang dusun), dan diantara bagian besar adalah padang pasir.

Namun, cahaya semangat Al Imam Ahmad Al Muhajir tidak padam dan tidak berhenti di Hadramaut, cahaya kecintaannya yang berpadu dengan para pencinta Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA di kota Tarim Hadramaut dari dakwahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berkelanjutan, sampailah datang sembilan orang mulia ke pulau Jawa yang keluar dari keturunan Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa menuju Gujarat lantas sampai ke pulau Jawa, maka dari ujung Banyuwangi hingga ujung kulon ini rata dengan Kalimat Tauhid. Dari kemuliaan persatuan antara Ahlul Bait dan Sahabat Rasul SAW, mereka sembilan orang ini datang tidak membawa senjata, tidak membawa pasukan, tidak membawa sesuatu bahkan bahasa pun mereka tidak tahu. Tapi mereka membawa semangat keberkahan Ahlul Badr, dan mereka membawa semangat cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW.

Ternyata dari sembilan orang mulia ini (wali songo), Allah memberikan keberkahan yang sangat luhur sampai jadilah Indonesia negeri Muslimin terbesar di muka bumi. Demikian hadirin hadirat kemuliaan silsilah yang sangat mulia ini, sampailah kabar agung ini kepada kita Muslimin Muslimat di malam hari ini. Semoga aku dan kalian selalu bersama kemuliaan Ahlul Badr dunia dan akhirat.

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

( seseorang bersama dengan orang yang dicintainya ).

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Sampailah kita di malam-malam agung di hadapan sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malam yang penuh dengan cahaya keluhuran, malam-malam yang penuh dengan cahaya kebahagiaan dan kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, meneruskan dari keagungan firman Allah :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ اْلقَدْرِ¤ وَمَاأَدْرَىكَ مَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ ¤ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ¤ تَنَزَّلُ اْلمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ¤ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ اْلفَجْرِ ¤  — القدر : 1-5

Allah memberikan kemuliaan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, Allah befirman “ Bahwa Lailatul Qadr itu lebih mulia daripada seribu bulan, dan di saat itu diturunkan para Malaikat maksudnya untuk membawa rahmah, dan juga malikat Jibril AS, karena yang disebut “ اَلرُّوْحُ “ dalam ayat itu sebagian besar Mufassir mengatakan adalah Jibril AS, turun ke bumi bersama jutaan milyar malaikat yang tidak terhitung untuk membawa rahmat Allah di malam itu”.

Hadirin hadirat..dan ketahuilah bahwa Lailatul Qadr bukanlah satu dua detik, sebagian orang memahami Lailatul Qadr itu satu dua detik saja, Lailatul Qadr itu sepanjang malam di malam itu. Malamnya yang mana ? sekarang kita bahas, jadi yang ibadah di malam itu dikalikan seribu bulan, kira-kira 83 tahun. 1000 bulan itu kalau dibagikan kira-kira 83 tahun, itu hadiah untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya, asalkan mereka ibadah apapun di malam itu sampai terbitnya matahari di Lailatul Qadr, maka saat itu mereka mendapat pahala dikalikan 1000 bulan. Kalau cuma shalat isya’ saja seakan ia shalat Isya selama seribu bulan, kalau ia Tarawih 20 rakaat, berarti ia bersujud 40 kali di dalam setiap malam dalam 1000 bulan, kalau ia memakai siwak kalikan 70 kali lipat, kalau ia berjamaah kalikan 27 kali lipat, karena di bulan Ramadhan lebih dari 700 kali lipat kalikan 1000 bulan, MasyaAllah!!!

Lantas Rasul SAW diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari Rasul SAW beri’tikaf di 10 hari malam pertama bulan Ramadhan, maka datanglah malaikat Jibril AS dan berkata : “Wahai Rasul SAW yang kau kehendaki itu masih di depan”. Rasul menantikan malam Lailatul Qadr, masih di depan maksudnya masih nanti. Rasul SAW beri’tikaf lagi sampai 10 hari yang kedua, jadi 20 hari Rasul I’tikaf. Maka Jibril AS berkata : “Ya Rasululallah yang engkau mau itu di depanmu”, maksudnya 10 hari malam terakhir. Maka keesokan harinya Rasul berkhutbah ,pagi tanggal 20 Ramadhan Rasul SAW memanggil para Sahabat dan menyampaikan taushiah bahwa sungguh Allah SWT menentukan malam Lailatul Qadr aku melihatnya di dalam mimpiku, aku bersujud dalam keadaan tanah ini membasah yaitu gerimis.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“ Carilah malam Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir” kata Rasul SAW, itu tanggal 20 Ramadhan, malamnya terjadi gerimis shubuh itu Rasulullah sujud para Sahabat melihat di dahinya ada bekas lumpur dari sujud, khutbah beliau kemarin menunjukkan malam Lailatul Qadr malam 21 di saat itu.

Namun Rasulullah SAW bersabda di dalam hadits yang kita baca tadi “ Carilah kemuliaan Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir di malam ganjilnya”, jadi malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, malam 29 ada lima malam untuk kita, di situ Rasulullah SAW mengatakan inilah malam-malam kemungkinan datangnya Lailatul Qadr. Jadi memperbanyak ibadah bagusnya di setiap malam Ramadhan, malam kesatu, malam kedua, malam ketiga, malam keempat karena sebagian ulama’ mengatakan Malam dengan Tahajjud, doa, cinta , dan rindu kepada Allah adalah Lailatul Qadr baginya. Maka semoga setiap malam kita adalah Lailatul Qadr, lebih lagi kalau di setiap malam Ramadhan kita dalam cinta, rindu dan tangis kepada Allah, lebih lagi jika setiap malam maka salah satu malamnya adalah Lailatul Qadr kalikan dengan 1000 bulan, 83 tahun.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Rahasia kedermawanan Allah sangat luas. Diriwayatkan pula di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW bersabda riwayat Sayyidina Bilal Al Muadzzin RA :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي السَّبْعِ اْلأَوَاخِرِ

Ada lagi hadits lain yang mengatakan “temui Lailatul Qadr di tujuh malam terakhir”. Hadits ini berbeda dengan hadits yang tadi, kalau tadi dibilang sepuluh malam terakhir, ini hadits bilang tujuh malam terakhir, maka bisa kita ambil yang mana saja, yang amannya ambil sepuluh malam terakhir,
kenapa dijadikan Lailatul Qadr itu di malam-malam terakhir Ramadhan? Karena sifat manusia di awal-awalnya semangat di akhir-akhirnya turun, maka Allah jadikan Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir supaya umat semangat lagi, supaya mereka termuliakan. Allah tidak dapat untung apa-apa daripada kita, Allah ingin kita beruntung dan makin dekat kepadaNya maka dijadikanlah di sepuluh malam terakhir. Nah, sepuluh malam terakhir ini hati-hatilah dan jagalah jangan sampai malah di sepuluh malam terakhir ini kita sibuk memikirkan pakaian baru belum ada dan lain sebagainya. Hadirin hadirat…hal seperti itu syi’ar boleh-boleh saja, tapi ada anugerah yang lebih abadi ditawarkan oleh Allah di hari-hari mulia sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga Allah memuliakan aku dan kalian dengan kemuliaan Lailatul Qadr.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Perlu juga saya jelaskan dari banyak yang bertanya tentang shalat tarawih yang cepat , sebagian para Salafuna As Shalihin melakukannya, sebagian tidak. Shalat Tarawih dengan cepat teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan ada dalilnya, Rasul SAW melakukan shalat qabliyyah Al Fajr

كَأَنَّهُ مَا يَقْرَأُ فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ

(seakan-akan beliau SAW tidak membaca surat Alfatihah) , kata Sayyidatuna Aisyah RA riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim. Rasul SAW melakukan shalat sunnah qabliyatul Fajr (qabliyah subuh) dua rakaat seakan-akan tidak membaca fatihah dari cepatnya. Dalam riwayat lain di Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, Ummu Hani RA melihat Rasul SAW melakukan shalat Dhuha di hari Fath Makkah dengan cepat , seakan-akan beliau tidak shalat tapi beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Di dalam madzhab Syafi’i yang dimaksud dengan tuma’ninah menyempurnakan ruku’ dan sujud itu kadar maksimalnya tidak ada batasnya, sepanjang apapun boleh tapi kadar minimalnya sekadar seorang mengucapkan سُبْحَانَ الله satu kali. Kalau di saat itu ia rukuk dan seluruh tubuhnya diam sekadar sekali mengucapkan سُبْحَانَ الله , itu sudah tuma’ninah maka sah shalatnya. Kalau sampai ruku’nya bergerak, tidak berhenti di saat ruku’ (dan) di saat sujud maka batal shalatnya, jadi hati-hati kalau mau ikut dengan orang-orang yang Imam shalatnya cepat, harus faham caranya ketika ruku’ harus diam kalau sekadar kalimat سُبْحَانَ الله itu kira-kira sedetik tapi harus diam, jangan terus bergerak. Kalau seandainya diam sekadar itu maka shalatnya sah, sah rukuknya, sah sujudnya dan membaca fatihah dengan cepat diperbuat oleh Sang Nabi di dalam qabliyah Al Fajr dan lainnya, terlebih lagi shalat tarawih yang juga termasuk shalat sunnah.

Namun tentunya hal ini makruh jika dilakukan saat shalat fardhu. Jadi yang mau melakukan shalat tarawih secara cepat ada dalilnya. Yang mau melakukan secara lambat shalat sunnah boleh juga, keduanya dilakukan oleh guru mulia kita Al Allamah Al Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz, shalat sunnah dengan cepat shalat sunnah dengan lambat. Sekarang beliau melakukan shalat sunnah Tarawih di Darul Musthafa dengan lambat, dalam satu bulan bisa dua atau tiga kali khatam Al qur’an dengan bacaan Al quran, namun beliau juga melakukan shalat sunnah tasbih dengan cepat.

Shalat tasbih, belajar kalau seandainya belum tahu, disunnahkan shalat tasbih meskipun sekali dalam seumur hidup, kalau bisa tiap bulan, kalau bisa tiap minggu, kalau bisa tiap hari tapi guru mulia kita melakukannya disana setiap malam di bulan Ramadhan setelah shalat Maghrib. Beliau melakukan dengan cepatnya shalat tasbih itu paling sulit kenapa? karena membaca

وَاْلحَمْدُلِلهِ وَلَاإِلهَ إِلَّا الله وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ الله

saat ruku’ 10 kali, saat I’tidal 10 kali, saat sujud..terus sampai sempurna 300 kali bacaan tasbih. Guru mulia kita melakukan shalat tasbih sangat cepat, kenapa shalat secepat itu..karena teriwayat shalat sunnah cepat. Tapi kalau sendiri disunnahkan jangan cepat-cepat , kalau untuk kita sendiri nikmati ruku’ dan sujud bersama kemuliaan Allah SWT.
Para Salafuna As Shalih banyak yang melakukan shalat sunnah cepat, banyak yang melakukan shalat yang lambat. Di dalam tafsir Al Imam Ibn Katsir dijelaskan, sebagian dari salaf melakukan shalat sunnah seribu rakaat setiap harinya, shalat sunnah seribu rakaat bagaimana cepatnya!?.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Hal itu diperbuat pula oleh Al Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad ibn Husain bin Ali bin Abi Thalib RA, di setiap malam shalat 1000 rakaat , demikian pula Al Imam Syafi’i, dan demikian pula sebagian banyak para Imam, dan adapula yang memanjangkan malam-malamnya dengan shalat sunnah dua rakaat.

Hadirin hadirat, dari semua riwayat ini semoga aku dan kalian dalam keberkahan dunia dan akhirat. Satu hal lagi yang perlu saya bahas, adalah masalah mandi di siang hari bulan Ramadhan, sikat gigi, dan berusaha meringankan puasanya, bagaimana hukumnya? Hukumnya makruh, tapi kalau seandainya perbuatan itu kalau tidak dilakukan bisa membuat puasanya batal maka menjadi Wajib, misalnya lemah kalau saya tidak mandi saya bisa pingsan maka batal puasanya, jadi harus qadha’ maka saya harus mandi, (maka) mandi sewajarnya mau sepuluh kali setiap hari (pun tidak apa apa demi menjaga puasanya), atau kalau saya tidak mandi akhirnya lemah nanti, saya bekerja, saya sekolah, saya mempunyai kesibukan rumah tangga misalnya, maka tentunya yang seperti itu boleh-boleh saja tidak menjadi makruh. Yang menjadi makruh adalah mampu melewati puasa tapi diringan-ringankan, supaya lebih ringan lagi mandi padahal dia tidak mempunyai kesibukan apa-apa, karena apa? Yang dimakruhkan itu adalah meringankan puasa padahal mampu.
Karena Rasul SAW berkata: Paksakan dirimu sampai batas kemampuan jangan lebih dari batas kemampuan, kalau lebih dari batas kemampuan malah menjadi makruh. Jadi kalau mau mandi, mandi saja kalau mau berkeramas, keramas saja.. mau banyak-banyak mandi di siang hari silahkan saja, asalkan hal-hal tersebut tidak dimaksudkan meringankan puasanya, kalau dimaksudkan meringankan puasanya maka itu makruh, yang lebih buruk adalah orang yang memaksakan diri, tidak usah deh keramas di siang hari Ramadhan biar saja keadaan seperti apapun , tidak usah sikat gigi, tidak usah mandi karena makruh, akhirnya sehari dua hari, tiga hari kesal dengan Ramadhan. Ia mau mencari hal yang sunnah, akhirnya dalam hatinya berkata kapan sih Ramadhan selesai capek saya!!, tiap hari tidak sikat gigi, (baiknya sikat gigi sebelum imsak), tidak mandi, perasaan ini bisa membatalkan pahala puasa mu. Ini jauh lebih buruk daripada kita melakukan hal-hal yang makruh, lakukan itu kalau seandainya sudah terganggu puasamu dan khusu’mu , maka jangan sampai hati kita benci dengan Ramadhan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Inilah indahnya sunnah Nabi kita Muhammad SAW “berbuatlah semampunya”. Semoga Allah SWT memuliakan kita dalam rahasia keagungan Badr Al Kubra ini dan kemuliaan Nuzul Al Qur’an. Rabbi..Rabbi..halalkan seluruh wajah kami mendapatkan cahaya kemuliaan Nuzulul Qur’an, pastikan kami semua kelak dalam kelompok Ahlul Badr, ketika dipanggil di yaumul kiamah wahai Ahlul Badr berdirilah, pastikan kami berdiri diantara para pencinta Ahlul Badr. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram…jika kelak di yaumul qiamah masing-masing kelompok dipanggil dengan pencintanya, kelompok pezina, kelompok pemabuk, masing-masing berdiri dengan kelompoknya, maka di saat itu akan dipanggil pula dimana kelompok Ahlul Badr, semoga aku dan kalian berdiri dalam kelompok Ahlul Badr. Semoga aku dan kalian tidak berdiri saat dipanggil mana kelompok penggunjing, mana kelompok pendusta, mana kelompok pencaci, mana kelompok pendosa, Rabbi..jangan Engkau berdirikan (kami) diantara mereka. Pastikan ketika Ahlul Badr dipanggil kami ikut berdiri diantara mereka para pecinta Ahlul Badr, yang telah disabdakan oleh Nabi kami :

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

(seseorang bersama dengan orang yang dicintainya). Rabbi..kami rindu wajah-wajah Ahlul Badr Al Kubra, kami rindu melihat wajah-wajah damai, kami rindu melihat wajah Khulafaa’ Ar Rasyidin, kami rindu melihat wajah Muhajirin dan Anshar, kami rindu memandang wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, melihat wajah-wajah mulia. Ya Zal Jalali Wal Ikram Ya dzaa At Thawli Wal In’aam Ya Rahman Ya Rahim..pastikan kami di dalam keberkahan dunia dan akhirat dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Demi kemuliaan Badr Al Kubra jawablah seluruh doa kami, hapuskan seluruh dosa kami, singkirkan segala kesulitan kami, jauhkan musibah dari kami sejauh-jauhnya, jauhkan dari kami kemurkaan sejauh-jauhnya. Ya Rahman Ya Rahim..damaikan kami, damaikan masyarakat kami, damaikan bumi Jakarta, damaikan bangsa kami, tenangkan jiwa muslimin muslimat (agar terhindar) dari perbuatan-perbuatan yang hina dan mungkar. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram..jadikan jiwa kami dan jiwa saudara-saudara kami muslimin muslimat selalu risau jika ingin berbuat dosa, dan selalu tenang dan senang jika ingin berbuat pahala..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا : يَا الله…يا الله…يا الله …يَارَحْمنُ يَارَحِيم…
لَاإِلهَ إلَّا الله….لاإله إلاالله مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله .. وَصَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ
كَلِمَةُ حَق عَلَيْهَا نَحيَا وعَلَيْهَا نَمُوتُ وعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِينَ ..

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Semoga malam-malam berikutnya kita semakin indah dan mulia, semoga di malam-malam berikutnya kita semakin mencintai dan dicintai Allah SWT, Ya Rahman Ya Rahim..
Dan saya ingatkan malam senin yang akan datang Tabligh Akbar Majelis Rasulullah SAW, ada undangan daripada Pimpinan PBNU KH. Hasyim Muzadi di kediaman beliau, untuk peresmian pesantren beliau . Beliau tidak bisa hadir malam hari ini untuk langsung mengundang , undangan disampaikan kepada saya dan Majelis kita, jika yang mempunyai waktu hadir jika yang sudah mudik maka semoga diberi kemuliaan oleh Allah dan keselamatan, dan yang di Jakarta mudah-mudahan tidak ada halangan untuk termuliakan dalam syi’ar malam-malam terakhir di bulan Ramadhan yang mulia ini. Kita teruskan dengan doa kepada Allah dan munajat bertawassul kepada Ahlul Badr…

صَلاَةُ اللهِ سَلاَمُ اللهِ عَلَى طَه رَسُوْلِ الله
صَلاَةُ الله سَلَامُ الله عَلَى يَس حَبِيْبِ الله

Sebelum kita tutup, saya akan menyampaikan salam dan rindu dari guru mulia kita Al ‘allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz, semalam telah kita sampaikan bahwa acara di Jakarta sukses, kebetulan acara beliau sama di malam yang sama dengan acara kita dan mengadakan Haul Ahlul Badr juga di Tarim Hadramaut. Telah disampaikan bahwa acara di Jakarta sukses dengan zikir lafdzul Jalalah 1000 kali, dan setelah disampaikan berita ini Beliau bergembira, dan juga disampaikan kepada beliau vcd di malam Nisf Sya’ban yang lalu, beliau sangat gembira dengan kesuksesan acara tersebut dan selalu mendoakan kita. Dan InsyaAllah kerinduan beliau untuk hadir ke tempat kita tidak lama lagi, insyaAllah bulan Muharram tepatnya bulan Desember, insyaAllah kita akan mengadakan malam selasa bersama beliau , dan insyaallah acara ini sukses kira-kira tinggal tiga bulan lagi, kita akan buat acara insyaallah yang hadir lebih banyak lagi muslimin muslimat…

أَمِين اللَّهُمَّ أمين يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَام يَاذَا الطَّوْلِ وَاْلإِنْعَام…
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَصَلَّى اللهُ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَأَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ…

Ditulis Oleh: Hbb.Munzir Bin Fuad Almusawa

Indahnya Ramadhan Bersama Al Qur’an

Posted by admin - 21 Juli 2012 - Ramadhan
0
al quran

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan warna ketaatan. Selain ibadah puasa di siang hari, kaum muslimin dapat menikmati keindahan tadabbur dan tilawah al-Qur’an di malam hari. Dengan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an itulah ketenangan jiwa akan didapatkan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah, bahwa dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan berdzikir kepada Allah dalam ayat ini adalah Kitab-Nya. Yaitu, tatkala seorang mukmin mengetahui kandungan hukum dari ayat-ayat Allah yang menunjukkan kepada kebenaran maka hatinya pun merasakan ketentraman. Sebab hatinya tidak bisa merasakan ketentraman tanpa ilmu dan keyakinan, sementara ilmu dan keyakinan itu bisa diperoleh dengan memperhatikan Kitabullah tersebut (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 418 cet. Ar-Risalah)

Membaca dan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an adalah bagian dari dzikir. Sementara kedudukan dzikir bagi seorang insan laksana air bagi seekor ikan. Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Apakah yang akan terjadi jika ikan dipisahkan dengan air?” Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku mencintai Allah, sementara hati dan lisannya kering dari mengingat dan memuji-Nya?!

Demikianlah yang telah dipraktekkan oleh salafus shalih. Mereka adalah suatu kaum yang mengagungkkan Kitabullah dengan semestinya. Mereka tidak hanya mengimani al-Qur’an sebagai bacaan ataupun wahyu dari sisi-Nya, tetapi mereka juga menerapkan ajarannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika mereka mendapatkan predikat generasi terbaik umat ini. Gelar yang layak mereka sandang, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu)

Para sahabat radhiyallahu’anhum telah menjadi teladan bagi generasi berikutnya dalam menjadikan al-Qur’an sebagai jalan hidup mereka. Oleh sebab itu mereka pun mulia di sisi Allah karena ketakwaan mereka, kedalaman ilmu mereka, amal salih mereka, dan kecintaan mereka yang teramat besar terhadap Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu)

Mereka adalah sebuah generasi yang telah ridha terhadap Allah, Islam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak rela untuk menjual keimanan dan tauhid yang mereka miliki dengan kenikmatan dunia apapun. Mereka lebih memilih disiksa daripada harus menuruti kemauan thaghut dan dedengkot kekafiran. Seperti Bilal bin Rabah radhiyallahu’anhu yang rela tubuhnya tersengat teriknya panas padang pasir dan kesakitan di bawah tindihan batu dengan kalimat ‘Ahad, Ahad’ yang terus mengalir dari bibirnya yang mulia. Itulah manisnya iman yang mereka gapai dengan segenap pengorbanan dan perjuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-’Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu)

Para sahabat hidup di bawah naungan al-Qur’an. Sehingga ayat-ayat suci itu mewarnai hidup dan kehidupan mereka, mewarnai hati dan tingkah laku mereka. Tidak sebagaimana kaum Khawarij yang hanya menjadikan al-Qur’an sebagai hiasan di bibir dan lisan mereka. Akan tetapi, pemikiran dan keyakinan mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah menembus sasarannya. Kaum Khawarij itulah -meskipun mereka memiliki banyak hafalan al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam beribadah- kelompok orang yang mendapatkan celaan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lah yang disebut sebagai anjing-anjing neraka. Sejelek-jelek manusia dan seburuk-buruk kaum yang terbunuh di bawah kolong langit ini. Bahkan, bagi orang yang berhasil membunuh mereka Nabi janjikan pahala yang besar di sisi Allah pada hari kiamat kelak.

Para sahabat radhiyallahu’anhum tidak memandang al-Qur’an sebagai kumpulan dongeng atau cerita pelipur lara belaka. Bahkan, mereka menjadikan al-Qur’an sebagai undang-undang kehidupan mereka dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, dalam hidup individu dan rumah tangga. Mereka pun tidak menganggap bahwa masa berlakunya hukum-hukum Kitabullah hanya untuk dua atau tiga generasi saja. Bahkan, al-Qur’an itu cocok dan sesuai dengan segala masa dan suasana. Oleh sebab itu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berpesan, “Ikutilah tuntunan dan janganlah kalian mengada-adakan ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.”

Para sahabat radhiyallahu’anhum menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang harus diyakini dan diamalkan, bukan sesuatu yang harus diragukan apalagi untuk diperdebatkan! Mereka sangat yakin bahwa al-Qur’an adalah sebaik-baik pembicaraan, sejujur-jujur perkataan, dan sebaik-baik petunjuk bagi kemanusiaan. Ia diturunkan dari sisi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Tidaklah datang kepadanya kebatilan, dari arah depan, maupun dari arah belakang. Seandainya seluruh manusia bersatu padu untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, niscaya mereka akan gagal dan tidak sanggup melakukannya, meskipun mereka bahu-membahu dan saling membantu satu dengan yang lain. Tidak mungkin mereka bisa menandingi mukjizat yang agung ini. Inilah kemuliaan al-Qur’an yang akan membuat tentram dan sejuk hati insan beriman. Dan sebaliknya, ia tidak akan mendatangkan pengaruh kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian dan kebencian.

Salafus shalih telah memberikan teladan kepada kita dalam mewarnai bulan yang mulia ini dengan interaksi yang intensif bersama al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri setiap tahunnya menyetorkan hafalan al-Qur’an kepada Jibril ‘alaihis salam di setiap malam di bulan Ramadhan. Demikian pula salafus shalih, mereka memperbanyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan, di dalam maupun di luar sholat. Az-Zuhri rahimahullah berkata apabila telah masuk bulan Ramadhan, “Sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk membaca al-Qur’an dan memberikan makanan.” Imam Malik rahimahullah, apabila telah datang bulan Ramadhan maka beliau menutup majelis hadits dan mengkhususkan diri untuk membaca al-Qur’an dari mushaf. Qatadah rahimahullah pada bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur’an setiap tiga malam, sedangkan pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkannya setiap malam. Begitu pula Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah, pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkan al-Qur’an setiap dua malam (lihat Majalis Syahri Ramadhan karya Syaikh Utsaimin, hal. 26-27 cet. Dar al-’Aqidah)

sumber : muslim.or.id

Tantangan-tantangan Bulan Ramadan dalam Sejarah

Posted by admin - 16 Juli 2012 - Ramadhan, Sejarah Islam
0
Abdullah Hakim Quick

Oleh: Dr. Abdullah Hakim Quick

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang telah berfirman dalam kitab suci Al-Quran:  “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: 2:183). Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas utusan Allah Nabi Muhammad saw.

Hai orang-orang yang beriman, Ramadan adalah bulan suci di mana Allah swt secara terus-menerus menguji hambaNya dan memberi kesempatan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan tiada akhir. Puasa merupakan sebuah penyucian yang sempurna dan sarana untuk mengembangkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesadaran terhadap keberadaan Allah, yaitu takwa, merupakan perlindungan melawan godaan setan dan penderitaan di dunia.

Banyak umat Islam sekarang yang memiliki pemahaman yang salah mengenai puasa dan aktivitas berpuasa. Pada bulan Ramadan, mereka justru masuk kedalam kondisi semi-hibernasi, menghabiskan waktu siangnya dengan tidur selama berjam-jam. Jika mereka memiliki rasa takut pada Allah, maka mereka akan bangun sebentar untuk shalat lantas segera kembali tidur. Fase tidur yang tidak alami ini menyebabkan mereka menjadi malas dan tidak produktif.

Sebenarnya Ramadan justru merupakan waktu untuk meningkatkan aktivitas, di mana kaum mukmin harus meningkatkan keinginannya bekerja keras dan berjuang untuk Allah. Setelah hijrahnya, Rasulullah SAW kira-kira melewati 9 kali bulan Ramadan. Bulan-bulan tersebut dipenuhi dengan banyak peristiwa yang menentukan dalam sejarah Islam dan memberi kita contoh-contoh pengorbanan dan penyerahan diri kepada Allah yang begitu mengagumkan.

Pada tahun pertama setelah Hijrah, Rasulullah saw mengirim Hamzah ibn Abdul Muttalib bersama 30 orang pasukan Muslim ke Saif al-Bahr untuk menyelidiki 300 orang pasukan Quraisy yang telah berkemah di area tersebut. Pasukan Islam hampir saja terlibat pertempuran dengan mereka jika tidak dicegah oleh Majdy ibn Umar al-Juhany. Orang-orang munafik di Madinah ingin memecah belah persatuan umat Islam. Mereka membangun masjid sendiri yang diberi nama Masjid al-Dirar. Pada bulan Ramadan, Nabi saw kemudian memerintahkan masjid ini untuk dihancurkan.

Pada tanggal 17 Ramadan 2 Hijriyah, Allah swt memisahkan kebenaran dari kebatilan melalui  perang Badar. Rasulullah saw bersama  313 sahabat mencegat karavan barang-barang umat Islam yang sebelumnya ditinggal di Makkah. Iring-iringan karavan itu dipimpin oleh Abu Sufyan dan diperkirakan nilainya mencapai 60.000 dinar. Pasukan Islam bertemu dengan pasukan yang terdiri dari para pembesar Quraisy dan bersenjata lengkap yang berniat untuk memadamkan cahaya Islam. Meski kalah secara jumlah dengan perbandingan 1 lawan 3, tampak lemah serta tidak  berpengalaman, pasukan Islam mempertahankan agama mereka dengan semangat menyala untuk membela Nabi saw dan bertemu dengan tuhan mereka melalui syahid. Akhirnya Allah memberi mereka kemenangan yang sangat menentukan itu pada bulan Ramadan.

Pada tahun 6 Hijriyah, Zaid ibn Haritha dikirim ke daerah Wadi al-Qura untuk bertempur dengan Fatimah bint Rabiah, penguasa daerah tersebut. Sebelumnya Fatimah menyerang karavan yang dipimpin oleh Zaid dan sukses merampas barang-barang bawaannya. Dia terkenal sebagai wanita yang paling terlindungi di Arab karena menggantung 50 buah pedang para kerabat dekatnya di rumahnya. Ia juga terkenal sangat menunjukkan permusuhannya terhadap Islam. Ia terbunuh dalam sebuah pertempuran melawan umat Islam pada bulan Ramadan.

Pada bulan Ramadan 8 Hijriyah, perjanjian Hudaibiyah dilanggar dan pasukan Islam terlibat pertempuran dengan Romawi di daerah utara. Nabi Muhammad saw merasa perlu untuk memberi serangan yang fatal terhadap orang-orang kafir di Semenanjung Arab dan menaklukkan kota suci Makkah. Allah telah menyatakan bahwa Ka’bah merupakan tempat kedamaian, keamanan, dan tempat keagamaan yang suci. Telah tiba saatnya untuk kembali menyucikan Ka’bah dari kekotoran. Kemudian Nabi Muhammad saw mengirim pasukan yang berperalatan lengkap lebih dari yang pernah ada sebelumnya. Sepanjang perjalanan menuju Makkah, orang-orang yang melihat kemudian bergabung dengan pasukan Islam. Pada tanggal 20 Ramadan, kebulatan tekad kaum Mukmin, dengan dipandu oleh kehendak Allah, menjadi begitu perkasa sehingga kota Makkah takluk ke tangan umat Islam tanpa pertempuran. Sejak itu, Fathu Makkah menjadi salah satu peristiwa yang penting dalam sejarah umat Islam karena sejak saat inilah Islam akhirnya menjadi satu kekuatan besar di Semenanjung Arab. Pada waktu yang sama, setelah Rasulullah saw menghancurkan berhala-berhala di Makkah, beberapa utusan dikirim ke beberapa pusat utama politheisme. Beberapa berhala terbesar di negeri Arab seperti Latta, Uzza dan Manat juga dihancurkan.

Itulah beberapa peristiwa di bulan Ramadan pada masa Rasulullah saw. Ia merupakan waktu bagi penyucian diri, perpaduan antara melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, serta perjuangan dengan harta dan jiwa. Setelah wafatnya Rasulullah saw, umat Islam tetap mempertahankan tradisi ini dan Allah menggunakan para Mukmin sejati untuk mempengaruhi jalannya sejarah. Ramadan terus berlanjut sebagai waktu terjadinya cobaan besar dan peristiwa-peristiwa penting.

Sembilan puluh dua tahun setelah hijrah, Islam telah menyebar ke penjuru Afrika Utara, Iran, Afghanistan, Yaman, dan Suriah. Saat itu Spanyol masih berada di bawah kepemimpinan tirani Raja Roderic dari Visigoths. Roderic telah memaksa 6 juta para pekerjanya dan menyiksa kaum Yahudi agar pasukan Islam Afrika Utara dikirim ke sana. Gubernur Afrika Utara pada waktu itu  merespon dengan mengirim seorang jendralnya yang pemberani yaitu Tariq ibn Ziyad untuk memimpin 12.000 pasukan Berber dan Arab. Pada bulan Ramadan itu, mereka bertempur melawan gabungan pasukan Visigoth yang terdiri atas 90.000 orang Kristen dan dipimpin oleh Raja Roderic sendiri, di mana ia duduk di singgasana yang terbuat dari gading perak dan bertahtahkan permata berharga. Setelah membakar kapal-kapalnya, Tariq berpidato di hadapan pasukan Islam, memperingatkan mereka bahwa surga terbentang di hadapan dan bahwa hanya kekalahan serta lautlah yang ada di belakang mereka. Antusiasme mereka meluap-luap dan Allah pun mewujudkan kemenangan pasukan Islam dalam mengalahkan pasukan Kafir. Pada pertempuran itu bukan hanya Roderic dan pasukannya yang dapat dikalahkan, namun Tariq dan Musa berhasil membebaskan seluruh Spanyol, Sisilia dan Perancis. Ini merupakan awal dari masa keemasan Andalusia di mana Muslim berkuasa selama lebih dari 700 tahun.

Pada bulan Ramadan 682 Hijriyah, setelah bertempur selama bertahun-tahun, Salahuddin al-Ayyubi akhirnya berhasil mengusir pasukan Salib dari Suriah dan dari seluruh wilayah jajahannya. Setelah itu, Dunia Islam akhirnya berhadapan dengan tantangan yang paling menakutkan.

Pada abad ke-7 Hijriyah, bangsa Mongol menaklukkan Asia dan menghancurkan apapun yang berada di hadapannya. Pemimpin Mongol saat itu, Jenghis Khan, menyebut dirinya “cemeti yang diutus oleh Tuhan untuk menghukum manusia akibat dosa-dosanya”. Pada tahun 617 Hijriyah, kota Samarkand, Ray, dan Hamdan diserang oleh bangsa Mongol, menyebabkan lebih dari 700.000 orang terbunuh atau dijadikan tawanan. Pada tahun 656 Hijriyah, Hulagu Khan, melanjutkan penghancuran yang sebelumnya dilakukan oleh kakeknya, Jenghis Khan. Bahkan, kota Baghdad yang menjadi kota utama di dunia Islam juga turut dihancurkan. Beberapa perkiraan menyatakan bahwa sebanyak 1.800.000 umat Islam terbunuh dalam pembantaian besar-besaran ini. Orang-orang Kristen diperintahkan untuk memakan babi dan minum anggur secara terbuka sementara orang Islam yang berhasil selamat dipaksa untuk minum anggur. Minuman anggur dicipratkan ke dalam masjid dan Azan dilarang. Pada masa terjadinya bencana yang mengerikan dan ancaman terhadap dunia Islam inilah Allah mengutus seorang mamluk dari Mesir bernama Saifuddin Qutz yang berhasil mempersatukan tentara Muslim dan yang akhirnya pada tanggal 26 Ramadan 468 Hijrah bertempur dengan Mongol di Ain Jalut. Meskipun pasukan Muslim berada di bawah tekanan, berkat pertolongan Allah, strategi yang cerdik, dan keberanian yang tak pupus mereka akhirnya berhasil menghancurkan tentara Mongol.

Semangat Ramadan seperti inilah yang menjadikan para salafus salih dapat menghadapi berbagai tantangan yang tampaknya mustahil dilakukan. Mereka  bersungguh-sungguh, menghabiskan siang hari dengan bekerja dan melalui malam  dengan beribadah serta meminta rahmat dan ampunan Allah.

Sekarang ini, dunia Islam menghadapi serangan militer, kebobrokan yang merajalela, dan godaan materialisme. Kita tentu butuh sosok-sosok mukmin sejati yang sanggup mengikuti jejak nabi kita tercinta, jejak para sahabat, Tariq ibn ziyad, Qutuz, Salahuddin dan para pahlawan Islam yang tak terhitung jumlahnya. Kita tentu membutuhkan orang-orang mukmin yang tidak takut akan ancaman orang-orang kafir, namun tetap lembut dan rendah hati pada sesama mukmin; Muslim yang puasanya sempurna dan tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar belaka.

Semoga Allah membangkitkan generasi Islam yang dapat membawa Islam dalam segala aspeknya yang sesuai dengan era kita saat ini, dan semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keberhasilan untuk meletakkan fondasi bagi generasi tersebut. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang membawa berislam selama dan setelah bulan Ramadan, dan semoga Ia tidak menjadikan kita orang-orang yang mengatakan bahwa  dirinya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Allah dan para malaikat-Nya memberikan berkah dan keselamatan atas diri Nabi Muhammad saw. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.

Sumber: The Message – Canada

Menjaga Semangat Ramadhan Tetap Hidup

Posted by admin - 14 Juli 2012 - Psikologi, Ramadhan
1
Love In A Headscarf

Oleh: Shelina Zahra Janmohamed


Dunia Muslim berubah pada bulan Ramadan. Sarapan dilakukan pada saat sahur. Berdasarkan tradisi Islam, suapan pertama makanan biasanya sesuatu yang manis atau kurma. Tapi benarkah waktu-waktu yang kita lewati pada bulan ini sedemikian religiusnya?

Perubahan pada budaya Ramadan kontemporer berarti bahwa makna spiritual Ramadan perlahan-lahan menjadi hilang. Padahal ketiadaan aktivitas fisik seperti makan, minum, dan seks pada siang hari dengan tujuan mendekatkan diri pada Sang Pencipta sebenarnya memiliki banyak arti dan filosofi.

Puasa menyebabkan seseorang merasakan dan menghargai penderitaan orang miskin dan lapar. Ia merupakan kesempatan untuk memberikan lebih banyak waktu untuk spiritualitas daripada hal-hal yang bersifat fisik. Ia menandakan bahwa kita dapat hidup bahagia dan berhasil meski kekurangan.

Pada malam harinya, tujuan mulia ini dikesampingkan seakan-akan Ramadan hanya untuk siang hari saja. Pesta pun dimulai.

Para ibu memasak makanan mewah untuk keluarga mereka. Makanan tersebut biasanya mengandung kalori sehingga banyak Muslim yang berkata bahwa pada bulan Ramadan mereka justru bertambah berat badannya dari pada turun seperti yang dikira. Makna filosofis pengendalian diri siang harinya terpantul pada berlebih-lebihannya hidangan pada malam hari.

Salah satu tradisi keagamaan pada bulan Ramadan adalah memberi makan orang lain pada waktu iftar agar memperoleh pahala. Undangan makan malam pun disebar, dan acara iftar menjadi acara sosial yang hangat. Namun, di beberapa tempat ia berubah menjadi ajang pamer kemewahan menu makanan. “Pada akhir acara, orang-orang akan mengumumkan berapa biaya makanan tersebut,” kata salah seorang perempuan berkebangsaan Mesir untuk memberi penekanan pada rasa pamer yang mendominasi apa yang harusnya menjadi ajang saling berbagi.

Setelah acara iftar selesai tersedia banyak pilihan hiburan. Sebagian orang akan pergi ke tenda-tenda Ramadan untuk menghisap sisha dan bersantai bersama teman-teman sepanjang malam atau pergi dari satu pesta ke pesta lainnya sampai pagi. Sementara itu, sebagian yang lain akan tetap tinggal di rumah untuk menyaksikan acara opera sabun yang jumlahnya mendominasi siaran televisi. Tahun lalu di Arab Saudi disebutkan bahwa ada 64 acara opera sabun yang disiarkan tiap malamnya secara terus menerus supaya pemirsa dapat menonton sebanyak mungkin.

Ini bukan merupakan penilaian terhadap kualitas acara televisi tersebut atau pernyataan beberapa ulama yang menyatakan bahwa acara-acara tersebut “buruk”. Ini hanya sekadar pengamatan bahwa opera sabun ini mematikan perasaan masyarakat pada bulan Ramadan dan mengambil keuntungan darinya. Pemirsa televisi sadar bahwa mereka digiring ke tingkatan hiburan yang lebih tinggi namun tidak sadar bahwa kenikmatan beribadah dan berinteraksi sosial selama bulan Ramadan mereka rusak.

Bagaimana dengan belanja? Toko-toko buka lebih lama dari sebelumnya, dan seakan-akan Ramadan bukan waktu untuk beribadah malam melainkan hanya sekadar persiapan untuk Ied di mana kita akan saling memamerkan pakaian baru. Festival belanja Ramadan pun menjamur.

Bukannya menghentikan hasrat berbelanja kita justru semakin konsumtif selama 30 hari itu, baik di restoran maupun di mall.

Saya tidak mengatakan bahwa dunia Muslim telah menjadi komsumeris sebulan penuh. Suasana sosial dan spiritual pada komunitas Muslim tetap meriah dan masjid penuh dengan orang-orang yang beribadah dengan khusuk.

Yang mengejutkan kebanyakan muslim yang hidup di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim adalah bahwa rasa keimanan ini lebih terasa di negara-negara di mana Muslim adalah minoritas.

Di negara-negara tersebut jika Anda berpuasa maka Anda harus melawan mainstream yang ada di masyarakat. Anda tetap harus pergi bekerja di mana Anda harus melihat rekan-rekan kerja Anda meminum kopi, atau menghadiri pertemuan yang berlangsung pada saat iftar. Anda harus menyadari dan memahami alasan mengapa Anda berpuasa. Hal ini dapat menggiring pada kesuksesan ruhiyah.

Begitu pentingnya energi ini sampai-sampai saya mengenal beberapa Muslim yang datang ke Inggris pada bulan Ramadan meninggalkan negara Muslimnya supaya lebih mendapatkan keuntungan ruhiyah di bulan ini.

Seiring dengan memudarnya nilai-nilai ruhiyah akibat kondisi budaya dan komersialitas, Ramadan pun sekararang kehilangan makna dan urgensinya. Inilah yang terjadi pada tahun 1960 ketika presiden Tunisia Habib Bourgiba berniat membatalkan Ramadan. Meskipun Ramadan merupakan “budaya yang indah” ia merasa bahwa ia “melumpuhkan” masyarakat kita.

Dan ketika acara keagamaan menjadi budaya maka ia menjadi mudah untuk diabaikan.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa saya terlalu saleh. Sementara yang lain akan berkata bahwa jika para ibu ingin memanjakan keluarganya dengan makanan lezat setelah bersusah payah berpuasa seharian maka hal itu merupakan hak mereka. Selain itu ada pula yang akan mengatakan bahwa menghabiskan malam di bar sisha atau menonton opera sabun dapat meningkatkan kepekaan sosial.

Tentu saja tidak ada aturan bagaimana Anda mengisi bulan Ramadan. Anda tidak harus shalat seharian. Namun saya melihat tren yang cukup mengkhawatirkan. Semua kegiatan bisa jadi benar karena setiap orang memiliki pilihan, namun jika diperhatikan, Anda akan melihat makna dan konteks Ramadan perlahan-lahan menghilang. Jika kita menerima semua pembenaran maka kita harus berhati-hati terjerumus pada kemunafikan.

Bukan hanya Ramadan dan Idul fitri yang kini kehilangan makna dan pengaruhnya. Penganut Kristen yang taat serta Dunia Barat kini mengeluh bahwa makna natal telah mengering dan kehilangan nilai spiritualnya.

Beberapa pihak mungkin akan menolak membandingkan antara bagaimana natal dikomersialisasikan dengan situasi Ramadan kontemporer. Namun terdapat beberapa kesamaan seperti pada contoh-contoh yang telah disebutkan di atas.

Anda tidak perlu menjadi religius untuk dapat menghargai bahwa makna sosial dan etis dari acara-acara keagamaan seperti natal, Ramadan dan Eid begitu  berpengaruh terhadap moralitas masyarakat.

Untuk alasan inilah Umat Muslim menyuarakan protesnya sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki keyakinan dan saling berbagi kepedulian mengenai menjadi keringnya makna dan cakupan moral acara-acara kegamaan ini. Namun, seringkali kita menyalahkan dunia Barat sebagai tidak bertuhan dan rusak akibat komersialisasi yang berlebih-lebihan, sementara menutup mata pada tantangan yang sama yang dihadapi dunia Muslim.

Ramadan tidak harus menjadi, dan tidak boleh menjadi, kesalehan yang benar-benar hambar. Kesenangan, rasa saling berbagi, dan kebahagiaan dalam kebersamaan adalah komponen utama Ramadan. Namun jangan sampai ia hanya menjadi sekadar ajang mengumbar rasa rakus, belanja, dan hiburan kosong.

Kita perlu untuk mengetahui dan mengenal posisi kesenangan materi bulan Ramadan. Dengan menjadi jujur terhadap arti kesenangan fisik, maka kita dapat mengurangi prioritas kita terhadapnya supaya dapat memperoleh nilai ruhiyah dan moral setidaknya selama 30 hari bulan Ramadan.

Dengan mengurangi kesenangan fisik ini kita membuat Ramadan terasa begitu istimewa. Ramadan adalah tentang bagaimana kita mengenal nilai ruhiyah kita masing-masing dan tentang bagaimana kita menemukan diri kita sebagai sebuah jiwa, bukan tubuh, dalam masyarakat di mana kita hidup.

Shelina Zahra Janmohamed adalah seorang pengamat Islam Inggris dan penulis, sebuah memoar berjudul “Love in a Headscarf”. 

 

Page 1 of 212
AWSOM Powered