Category: Ramadhan

Marhaban Yaa Ramadhan

Posted by admin - 1 Juli 2014 - Ramadhan
5
Ramadhan Mubarak

Alhamdulillah bulan rajab dan syaban telah berlalu, dan sekarang Ramadhan telah datang, mudah mudahan amalan kita dapat diterima disisi Allah swt.

Rasulullah saw bersabda: keutamaan bulan rajab dibanding bulan lainnya, sebagaimana keutamaan Al Qur,an dengan seluruh ucapan, dan keutamaan bulan Syaban dengan lainnya, sebagaimana keutamaanku terhadap seluruh para nabi, dan keutamaan bulan ramadhan dengan lainnya sebagai keutamaan Allah dengan mahluknya.

Alhamdulillah kita sekarang di dalam bulan Ramadhan bulan yang penuh barokah yang Allah swt berfirman di dalam kitab sucinya :

شهر رمضان الذي انزل فيه القرآن هدى للناس و بينات من الهدى والفرقان فمن شهد منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا او على سفر فعدة من ايام اخر يريد الله بكم اليسر ولا يريد بك العسر ولتكملوا العدة ولتكبّروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون

Artinya

Al Quran diturunkan di bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan 2 mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil, karena itu barang siapa menyaksikan kehadiran bulan itu hendaknya berpuasa dan siapa yang sakit atau bepergian bolehlah dia berbuka dan di bayar di lain hari, Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuknya yang diberikan pada kamu supaya kamu bersyukur.

Maka bersyukurlah atas anugerah Allah swt  yang dilimpahkan pada kalian atas iman dan islam dan juga menjadikan kalian sebagai manusia yang diberi kesanggupan untuk menunakan ibadah solat dan puasa, seumpamanya manusia sujud di atas api yang membara dari mulai diciptakannya dunia ini sampai ahir kiamat, itupun tidak cukup untuk membalas kenikmatan iman dan islam yang diberikan pada kita, dan seumpamanya Allah swt memberikan pada kita dunia dan isinya lalu tidak diberikan kenikmatan islam, maka itu merupakan bala bencana yang besar bagi kita dan pasti akan tergolong dari orang orang yang rugi, dan seumpamanya Allah swt memberikan kenikmatan islam dan tidak memberikan keduniaan, itu tidak membahayakan bagi kita, bahkan kita masih tergolong dari orang orang yang beruntung. Maka perhatikanlah maasyiral muslimin ,kita harus bangga dan mensyukuri kenikmatan yang diberikan oleh Allah swt pada kita sebagimana firmannya:

قل بفضل الله و برحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون

Katakanlah dengan anugerah Allah dan rahmatnya, maka dengan itu bergembiralah, sebenarnya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Pembaca yang budiman, Allah swt menurunkan AlQur’an di bulan ramadhan 30 juz dari lauhul mahfudz ke langit dunia ini pada malam lailatul qadar, yang kemudian turun berangsur-angsur menurut kejadian yang diwahyukan melalui malaikat jibril dengan perintah Allah swt kepada Rasulullah saw  selama 23 tahun lamanya, dan ini merupakan batas wahyu yang turun kepada Rasulullah saw yang dimulai pada saat turunnya beliau berusia 40 tahun dan wafat pada usia 63 tahun sedangkan masa tinggalnya Rasulullah di kota Mekkah setelah diutus menjadi nabi 13 tahun lamanya lalu  hijrah ke kota madinah dan tinggal disana 10 tahun, dan ditahun pertama tinggal di kota madinah terbangunlah masjid beliau, dan di tahun itu pula perintah adzan diturunkan, di tahun kedua terjadilah peperangan badar yang terkenal, serta diwajibkannya  puasa ramadhan dan zakat dengan turunnya ayat:

يا ايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Hai orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum kalian, untuk kalian dapat bertaqwa.

Rasulullah saw telah berpuasa 9 kali selama  hidupnya, 8 kali berpuasa 29 hari dan yang 1 kali genap 30 hari, dan di dalam hadits Rasulullah bersabda:

صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته ، فإن غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما

Berpuasalah kapan bulan terlihat , begitu pula berbukalah (artinya disini untuk menentukan hari raya) dan kapan ada kekaburan sehingga tidak terlihat, maka genapilah bulan shaban 30 hari.

Para ulama menerangkan untuk menyaksikan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan cukup dengan saksi satu orang yang dianggap adil dan jujur, dan dengan penyaksian orang tersebut maka diwajibkannya berpuasa bagi masyarakat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Omar R.A. bahwa masyarakat pada waktu itu ingin melihat bulan, maka saya beritahu Rasulullah saw bahwa saya telah melihatnya, maka Rasulullah langsung memerintahkan masyarakat untuk berpuasa.

Disisi lain kebesaran pahala bulan puasa ini, di dalam suatu hadits Rasulullah saw bersabda:

من اشبع فيه صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظماء بعدها ابدا

Barang siapa yang memberikan rasa kenyang kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberikan minuman dari telagaku di hari kiamat yang mana tidak akan merasa haus untuk selamanya.

Ketahuilah, bulan Ramadhan ini mempunyai keistimewaan tersendiri  kalau dibanding dengan bulan yang lain, yang mana 10 hari pertama merupakan rahmat, 10 hari yang kedua merupakan maghfiroh artinya pengampunan, 10 hari yang terahir merupakan kebebasan dari api neraka, maka perbanyaklah di bulan ini dengan empat hal:

2 hal yang merupakan keridhoan Allah swt

2 hal yang kalian tidak akan merasa puas dengannya

Yang pertama merupakan keridhoan Allah swt dengan penyaksian kita akan kalimat Laiha Illillah yang diikuti dengan banyaknya istigfar.

Yang kedua kita meminta kepada Allah swt surga dan dijauhkan dari api neraka.

 

Pembaca yang budiman, berapa banyak anugerah Allah swt di bulan ini, berapa banyak kebaikan-kebaikan dan barokatnya, maka orang yang berbahagia yang selalu mengambil kesempatan untuk mendapatkan anugerah tersebut, dan orang yang tidak bernasib baik niscaya tidak akan mendapatkan anugerah tersebut, sebagaimana diterangkan dalam hadits:

من ادرك  رمضان ولم يغفر له فأبعده الله و اسحقه

Barang siapa yang mengetahui dan berpuasa di bulan Ramadhan dan tidak mendapatkan pengampunan niscaya Allah akan menjauhkan dan memusnahkannya.

 

Para ulama mengartikan hadits ini untuk memudahkan sebab maghfiroh (pengampunan) di bulan suci ini lebih banyak bulan yang lain, ini semua karena kebesaran bulan Ramadhan.

 

Oleh sebab itu  ambillah kesempatan di bulan Ramadhan ini untuk kita bertaubat, dan perbanyaklah dengan segala macam peribadatan dan pendekatan kepada Allah swt, di dalam suatu hadits Rasulullah bersabda:

إن مناديا ينادي كل ليلة من ليالي رمضان ، يا باغي الخير اقبل ويا باغي الشر اقصر

Sebuah panggilan yang memanggil di setiap malam di bulan Ramadhan: Hai yang menginginkan kebaikan majulah, dan hai yang menginginkan kejelekan mundurlah

 

Dengan kesemuanya ini  barang siapa merasa berdosa dengan kedua orang tuanya, maka cepat-cepatlah bertaubat dan berjanji kepada Allah untuk bisa berbakti kepada kedua orang tuanya, sehingga bisa mendapatkan ridho kedua orang tua tersebut, karena ridho Allah berada di ridho kedua orang tua, dan kemurkaan Allah berada di kemurkaan kedua orang tua.

Di dalam hadits qudsi, Allah berfirman:

من اصبح مرضيا لوالديه مسخطا لي فأنا عنه راض ، ومن أصبح مسخطا لوالديه مرضيا لي فأنا عليه ساخط

Barang siapa direla oleh  kedua orang tuanya dan durhaka untukku, maka aku rela padanya. Dan barang siapa durhaka terhadap orang tuanya, dan rela padaku, maka aku murka akannya.

 

Dan dalam hadits Rasulullah saw bersabda:

من اصبح مطيعا لله في والديه فتح له بابان من الجنة ، ومن اصبح عاصيا لله في والديه فتح له بابان من النار ، وان كان واحدا فواحدا، فقال رجل : وإن ظلماه يارسول الله ؟ قال : وإن ظلماه -  الحديث

Barang siapa taat kepada Allah untuk kedua orang tuanya, maka dibukakanlah untuknya dua pintu di surga nanti, dan barang siapa durhaka terhadap kedua orang tuanya, maka dibukakanlah untuknya dua pintu dari neraka. Dana kalau satu diantara keduanya, maka dibukakannya satu juga. Sehingga bertanya salah seorang, seumpamanya kedua orang tua tersebut mendhaliminya? Dijawab oleh Rasulullah walaupun kedua orang tua tersebut mendhaliminya.

Dalam suatu riwayat datang seorang pemuda kepada Rasulullah saw mengadu bahwa ayahnya mengambil hartanya, maka Rasulullah saw memanggil ayah  tersebut, sewaktu dia datang ternyata sudah tua dan lanjut umurnya, akhirnya Rasulullah saw bertanya: Hai fulan ini anakmu mengadu bahwa kamu mengambil hartanya? Akhirnya orang tua itu berkata: tolong dengarkan aku ya Rasulullah, dia dulu anak yang lemah, dan aku kuat, dan dulu anak yang miskin, dan aku kaya, serta aku dulu tidak pernah melarangnya untuk dia mengambil hartaku, tetapi sekarang aku sudah tua dan lemah, sedangkan dia kuat, dan aku sekarang sudah miskin, dan dia seorang yang kaya, dimana dia ingin melarangku untuk memberikan hartanya, maka Rasulullah disini menangis seraya berkata:

والذي نفسي بيده لا يسمع هذا شجر ولا حجر إلا بكى ، ثم قال للولد : انت ومالك لأبيك ، انت ومالك لأبيك

Rasulullah bersumpah demi allah tidak mendengar ucapan ini batu maupun pohonon terkecuali dia akan menangis, akhirnya Rasulullah berkata kepada anak tersebut: engkau dan hartamu untuk ayahmu, engkau dan hartamu untuk ayahmu.

 

Oleh karena itu, untuk menjaga keislaman kita, sudah sewajibnya kita mengerjakan apa apa yang diperintahkan oleh Allah swt dari semua ketaatan serta meninggalkan semua kemaksiatan, dan ketahuilah diantara penyebab suul hotimah orang melengahkan dan menyepelehkan shalat fardhu dan zakat yang diwajibkan, bagaimana tidak Allah swt telah berfirman serta menjajarkan antara shalat dan zakat:

واقيموا الصلاة وآتوا الزكاة

Dan dirikanlah solat dan berikanlah zakat

Dan banyak lagi ayat-ayat yang berkenaan dengan itu, maka berhati-hatilah dengan masalah zakat ini, karena pelanggaran zakat termasuk dosa yang besar, dalam sabda rasulullah mengatakan :

الزكاة قنطرة الإسلام ، ومانع الزكاة في النار

Zakat itu tiang agama, dan orang yang melanggar dan tidak mengeluarkan zakat maka tempatnya di api neraka.

Dengan kesemuanya ini dianjurkan untuk orang yang beriman untuk mengeluarkan zakatnya dari uang yang bersih dan penuh perhatian kepada orang orang yang mustahiq dengan perasaan ikhlas lillahi taala, yang mana zakat tersebut pembersih dari harta yang kotor begitu juga dari kekikiran. Dan dalil  kecintaan hamba  terhadap Allah swt, dan dalil kesyukurannya terhadap kenikmatan yang diberikan Allah padanya, dan kekikiran dalam mengeluarkan zakat merupakan kebodohan serta kebutaan matanya.

 

Gambar: devianart.net

Istiqamah Ibadah Pasca-Ramadhan

Posted by admin - 20 Agustus 2013 - idul fitri, Ramadhan
0
Ibadah

Suasana hari raya Idul Fitri masih menyelimuti kita. Kebahagiaan dan kegembiraan masih lekat terasa karena setiap muslim merasakan limpahan karunia dan rahmat Allah SWT. Seandainya bukan karena kewajiban untuk masuk kerja, maka suasana tersebut masih berlangsung sebab manusia memiliki kecenderungan untuk memperpanjang masa bahagia.

Namun telah menjadi fenomena umum jika Ramadhan berlalu, maka ketaatan di dalam menjalankan ibadah dan aneka kebajikan menjadi menurun dan melemah. Jumlah jemaah shalat lima waktu dipastikan drastis menurun. Kesemarakan orang-orang dalam berinfak berkurang. Kelembutan hati dan perilaku yang memancar di bulan Ramadhan menjadi sirna.

Padahal kesemua kebiasaan baik tersebut tidak seharusnya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Idealnya kebiasaan baik Ramadhan mampu menghiasi 11 bulan lain di luar Ramadhan, karena perintah shalat berjamaah, berinfak dan berbuat kebajikan serta bersikap lemah lembut dengan sesama manusia adalah akhlak Islam sepanjang zaman. Bahkan semua perilaku kebaikan tersebut merupakan pemberian (minhah) dari Allah SWT guna merepresentasikan diri seorang muslim sebagai hamba terpilih dan contoh yang mudah bagi manusia di sekelilingnya.

Jika kita perdetail, paling tidak terdapat empat kebiasaan (habit) kebajikan yang ditinggalkan oleh madrasah ramadhan, yaitu: puasa di siang hari, shalat sunah di malam hari, membaca Al-Qur’an di sela-sela puasa dan shalat malam, serta mensegerakan diri dalam perbuatan kebajikan. Keempat kebiasaan tersebut jika mampu diistiqamahkan di luar Ramadhan, niscaya akan menjadi akhlak kaum muslim sepanjang zaman.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kalian merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30).

Mengapa istiqamah dalam beribadah pasca-Ramadhan itu penting?

Pertama, karena kelanggengan memerlukan kesungguhan, ketekunan dan kesabaran. Dan ketiga unsur tersebut merupakan profil terpuji seorang muslim. Aisyah RA berkata : “Di dalam melakukan shalat, Nabi SAW menggemari untuk menunaikannya dengan langgeng, sehingga bila kantuk menguasainya atau karena sakit hingga tidak dapat bangun malam, maka beliau melaksanakan shalat di siang hari sebanyak dua belas rakaat.” (HR. Muslim).

Kedua, keistiqamahan yang panjang akan memberikan hasil yang besar dan luar biasa, tanpa tersadari secara langsung oleh pelakunya dan keistiqamahan tersebut tetap berpahala pada saat yang bersangkutan udzur sakit atau bepergian.

Rasulullah Saw bersabda: “Jika seseorang sakit atau melakukan perjalanan, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika bermuqim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari).

Ketiga, keistiqamahan menunjukkan kuatnya iman seseorang dan menjauhkan diri dari virus jenuh beramal. Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi SAW, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Tabrani).

Inilah pentingnya Istiqamah ibadah di luar Ramadhan yang dengannya sesungguhnya setiap pribadi sedang menapaki jalan orang-orang saleh yang akan membimbingnya pada penghapusan dosa dan lebih mendekatkannya kepada Allah SWT.

Wallahu A’lam.

Oleh: Dr. Muhammad Hariyadi, M.A.

Sumber: di sini

Foto: Muhammad Zaki Prawira

Istiqamah Setelah Ramadhan

Posted by admin - 3 September 2012 - Ramadhan
0
istiqomah

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam dan diamini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Ta’ala ) 1.

Salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya” 2.

Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya agar Allah Ta’ala  mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shalih) yang mereka (kerjakan)” 3.

Lalu muncul satu pertanyaan besar dengan sendirinya: Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan puasa?

Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir?

Jawabannya ada pada kisah berikut ini:

Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang (hanya) rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, maka beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan, (hamba Allah) yang shaleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh” 4.

Demi Allah, inilah hamba Allah Ta’ala  yang sejati, yang selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, bukan hanya di waktu dan tempat tertentu.

Imam Asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah Ta’ala  yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)” 5.

Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan rahmat Allah Ta’ala di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua termasuk dalam firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد}

Hai manusia, kalian semua butuh kepada (rahmat) Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Inilah makna istiqamah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Ta’ala  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut” 6.

Oleh karena itulah, Allah Ta’ala  mensyariatkan puasa enam hari di bulan Syawwal, yangkeutamannya sangat besar yaitu menjadikan puasa Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawwal pahalanya seperti puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasululah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh 7.

Di samping itu juga untuk tujuan memenuhi keinginan hamba-hamba-Nya yang shaleh dan selalu rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang merasa gembira dengan mengerjakan ibadah puasa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah 8.

Inilah bentuk amal kebaikan yang paling dicintai oleh AllahTa’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala  adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit 9.

Ummul mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika mengerjakan suatu amal (kebaikan) maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam akan menetapinya” 10.

Inilah makna istiqamah setelah bulan Ramadhan, inilah tanda diterimanya amal-amal kebaikan kita di bulan yang berkah itu, maka silahkan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung dan diterima amal kebaikannya atau malah sebaliknya.

{فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ}

Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS al-Hasyr: 2).

1 HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 644), Ibnu Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.

2 Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 297).

3 Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

4 Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 313).

5 Ibid.

6 Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 311).

7 HSR Muslim (no. 1164).

8 HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).

9 HSR al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783).

10 HSR Muslim (no. 746).

Penulis: Abdullah bin Taslim al-Buthani, MA.

Dari artikel Istiqamah Setelah Ramadhan — Muslim.Or.Id

Zakat Fithri

Posted by admin - 13 Agustus 2012 - Aqidah, Ramadhan, ZIS
0
beras

Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.

Hikmah Disyari’atkan Zakat Fithri

Di antara hikmah zakat fithri adalah untuk menyucikan hati orang yang berpuasa dari perkara yang tidak bermanfaat dan kata-kata yang kotor. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Selain itu juga, zakat fithri akan mencukupi kaum fakir dan miskin dari meminta-minta pada hari raya ‘idul fithri sehingga mereka dapat bersenang-senang dengan orang kaya pada hari tersebut dan syari’at ini juga bertujuan agar kebahagiaan ini dapat dirasakan oleh semua kalangan. (Lihat Minhajul Muslim, 23 dan Majelis Bulan Ramadhan, 382)

Hukum Zakat Fithri

Zakat Fithri adalah shodaqoh yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan. Hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun yang budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.” (HR. An Nasai. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Nasa’i, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih)

Catatan: Perlu diperhatikan bahwa shogir (anak kecil) dalam hadits ini tidak termasuk di dalamnya janin. Karena ada sebagian ulama seperti Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa janin juga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini kurang tepat karena janin tidaklah disebut shogir dalam bahasa Arab juga secara ‘urf (anggapan orang Arab) (Lihat Shifat Shaum Nabi, 102). Namun jika ada yang mau membayarkan zakat fithri untuk janin tidaklah mengapa karena dahulu sahabat Utsman bin ‘Affan pernah mengeluarkan zakat fithri bagi janin dalam kandungan. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381)

Yang Berkewajiban Membayar Zakat Fithri

Zakat fithri ini wajib ditunaikan oleh:

  1. Setiap muslim sedangkan orang kafir tidak wajib untuk menunaikannya, namun mereka akan dihukum di akhirat karena tidak menunaikannya.
  2. Yang mampu mengeluarkan zakat fithri. Menurut mayoritas ulama, batasannya adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘ied. Jadi apabila keadaan seseorang demikian berarti dia mampu dan wajib mengeluarkan zakat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

“Barangsiapa meminta dan padanya terdapat sesuatu yang mencukupinya, maka seseungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari-semalam.” (HR. Abu Daud, Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Abi Daud) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/80)

Bagaimana dengan anak dan istri yang menjadi tanggungan suami, apakah perlu mengeluarkan zakat sendiri-sendiri? Menurut Imam Nawawi, kepala keluarga wajib membayar zakat fithri keluarganya. Bahkan menurut Imam Malik, Syafi’i dan mayoritas ulama wajib bagi suami untuk mengeluarkan zakat istrinya karena istri adalah tanggungan nafkah suami. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, VII/59). Namun menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, jika mereka mampu, sebaiknya mereka mengeluarkannya atas nama diri mereka sendiri, karena pada asalnya masing-masing mereka terkena perintah untuk menunaikannya. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381). Wallahu a’lam.

Kapan Seseorang Mulai Terkena Kewajiban Membayar Zakat Fithri?

Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat fithri pada saat terbenamnya matahari di malam hari raya. Jika dia mendapati waktu tersebut, maka wajib baginya membayar zakat fithri. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Syafi’i dan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim VII/58, juga dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majlis Syahri Ramadhan. Alasannya karena zakat ini merupakan saat berbuka dari puasa Ramadhan. Oleh karena itu, zakat ini dinamakan demikian (disandarkan pada kata fithri) sehingga hukumnya juga disandarkan pada waktu fithri tersebut.

Misalnya adalah apabila seseorang meninggal satu menit sebelum terbenamnya matahari pada malam hari raya, maka dia tidak punya kewajiban dikeluarkan zakat fithri. Namun, jika ia meninggal satu menit setelah terbenamnya matahari maka wajib untuk mengeluarkan zakat fithri darinya. Begitu juga apabila ada bayi yang lahir setelah tenggelamnya matahari maka tidak wajib dikeluarkan zakat fithri darinya, tetapi dianjurkan sebagaimana perbuatan Utsman di atas. Namun, jika bayi itu terlahir sebelum matahari terbenam, maka zakat fithri wajib untuk dikeluarkan darinya (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 385).

Macam Zakat Fithri

Benda yang dijadikan zakat fithri adalah berupa makanan pokok manusia, baik itu kurma, gandum, beras, kismis, keju, dsb dan tidak dibatasi pada kurma atau gandum saja (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 383 & Shohih Fiqh Sunnah, II/82). Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Malikiyah, Syafi’iyah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa dan hal ini diselisihi oleh Hanabilah. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau gandum karena ini adalah makanan pokok penduduk Madinah. Seandainya itu bukan makanan pokok mereka tetapi mereka mengkonsumsi makanan pokok lainnya, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu tidak akan membebani mereka mengeluarkan zakat fithri yang bukan makanan yang biasa mereka makan. Sebagaimana juga dalam membayar kafaroh diperintahkan seperti ini. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ

“Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (QS. Al Maidah [5] : 89). Dan zakat fithri merupakan bagian dari kafaroh. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/82)

Ukuran Zakat Fithri

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar di atas bahwa zakat fithri adalah seukuran satu sho’ kurma atau gandum. Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran ‘empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang’ sebagaimana yang disebutkan dalam Kamus Al Muhith. Dan apabila ditimbang akan mendekati ukuran 3 kg. Jadi kalau di Jawa makanan pokoknya adalah beras, maka ukuran zakat fithrinya sekitar 3 kg dan inilah yang lebih hati-hati. (Lihat pendapat Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa-nya V/92 atau Majalah Al Furqon Th. I, ed 2)

Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fithri dengan Uang ?

Perlu diketahui bahwa pakaian, tempat tidur, bejana, perabot rumah tangga, serta benda-benda lainnya selain makanan tidak dapat digunakan untuk membayar zakat fithri. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan pembayaran zakat fithri dengan makanan (sebagaimana dapat dilihat pada hadits Ibnu Abbas di atas), dan ketentuan beliau ini tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, tidak boleh mengganti makanan dengan uang yang seharga makanan dalam membayar zakat fithri karena ini berarti menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan alasan lainnya adalah:

  1. Selain menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyelisihi amalan shabat radhiyallahu ‘anhum yang menunaikannya dengan satu sho’ kurma atau gandum. Ingatlah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Daud & Tirmidzi, dia mengatakan hadits ini hasan shohih)
  2. Zakat fithri adalah suatu ibadah yang diwajibkan dari suatu jenis tertentu. Oleh sebab itu, posisi jenis barang yang dijadikan sebagai alat pembayaran zakat fithri itu tidak dapat digantikan sebagaimana waktu pelaksanaannya juga tidak dapat digantikan. Jika ada yang mengatakan bahwa menggunakan uang ‘kan lebih bermanfaat. Maka kami katakan bahwa Nabi yang mensyariatkan zakat dengan makanan tentu lebih sayang kepada orang miskin dan tentu lebih tahu mana yang lebih manfaat bagi mereka. Allah yang mensyari’atkannya pula tentu lebih tahu kemaslahatan hamba-Nya yang fakir dan miskin, tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan dengan uang.

Perlu diketahui pula bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah terdapat mata uang. Tetapi kok beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan sahabatnya untuk membayar dengan uang? Seandainya diperbolehkan dengan uang, lalu apa hikmahnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dengan satu sho’ gandum atau kurma? Seandainya boleh menggunakan uang, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengatakan kepada umatnya, ‘Satu sho’ gandum atau harganya.’

Terakhir, menurut mayoritas ulama fiqh tidak boleh menggunakan uang yang senilai makanan untuk membayar zakat fithri, namun yang membolehkannya adalah Abu Hanifah juga Umar bin Abdul Aziz. Imam Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa perkataan Abu Hanifah ini tertolak. Karena “Tidaklah Rabbmu itu lupa”. Seandainya zakat fithri dengan uang itu dibolehkan tentu Allah dan Rasul-Nya akan menjelaskannya. (Lihat Majalah Al Furqon Th. I, ed 2 & Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah, 230-231)

Penerima Zakat Fithri

Penerima zakat fithri hanya dikhususkan untuk orang miskin dan bukanlah dibagikan kepada 8 golongan penerima zakat (sebagaimana terdapat dalam surat At Taubah:60). Inilah pendapat Malikiyah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyelisihi mayoritas ulama. Pendapat ini lebih tepat karena lebih cocok dengan tujuan disyariatkannya zakat fithri yaitu untuk memberi makan orang miskin sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas di atas, “… untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/85)

Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad, II/17 mengatakan bahwa berdasarkan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam zakat fithri itu hanya dikhususkan kepada orang miskin. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membagikannya kepada 8 ashnaf (sebagaiman dalam Surat At Taubah: 60) dan beliau juga tidak pernah memerintahkan demikian dan tidak ada seorang sahabat pun dan tabi’in yang melakukannya.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri

Zakat fithri disandarkan kepada kata ‘fithri (berbuka artinya tidak berpuasa lagi)’. Karena fithri inilah sebabnya, maka zakat ini dikaitkan dengan fithri tersebut dan tidak boleh didahulukan. Perlu diketahui bahwa waktu pembayaran zakat itu ada dua macam. Pertama adalah waktu utama (afdhol) yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘ied. Dan kedua adalah waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan Ibnu Umar. (Lihat Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, 640 & Minhajul Muslim, 231)

Ibnu Abbas berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied, maka itu adalah zakat yang diterima. Namun, barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ‘ied maka itu hanya sekedar shodaqoh.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Hadits ini merupakan dalil bahwa pembayaran zakat fithri setelah shalat ‘ied tidak sah karena hanya berstatus sebagaimana sedekah pada umumnya dan bukan termasuk zakat fithri (At Ta’liqot Ar Rodhiyah, I/553, ed)

Namun kewajiban ini tidak gugur di luar waktunya. Kewajiban ini harus tetap ditunaikan walaupun statusnya hanya sedekah. Abu Malik Kamal (Penulis Shohih Fiqh Sunnah) mengatakan bahwa pendapat ini merupakan kesepakatan para ulama yaitu kewajiban membayar zakat fithri tidaklah gugur apabila keluar waktunya. Hal ini masih tetap menjadi kewajiban orang yang punya kewajiban zakat karena ini adalah utang yang tidak bisa gugur kecuali dengan dilunasi dan ini adalah hak sesama anak Adam. Adapun hak Allah, apabila hak tersebut diakhirkan hingga keluar waktunya maka tidak dibolehkan dan tebusannya adalah istigfar dan bertaubat kepada-Nya. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/84). Wallahu a’lam bish showab. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar

Dari artikel Seputar Zakat Fithri — Muslim.Or.Id

Malam Lailatul Qadar

Posted by admin - 23 Juli 2012 - Da'i dan Dakwah, Ilmu Al Quran dan Tafsir, Ramadhan
0
lailatul qadar

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ صحيح البخاري

Rasulullah SAW bersabda :
“ Temuilah malam Lailatul qadr di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan “ (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِاْلَحَمْدلُلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ ياَمَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وعَلىَ أَلِهِ الحَمْدُلِله الَّذِيْ جَمَعَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ أَكْرَمَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ وَعَدَنَا بِاْلمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ..

Limpahan puji ke hadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Penguasa tunggal Maha Sempurna dan Abadi Rabbul ‘Alamin Yang Maha Luhur dan Maha Suci dan Maha mensucikan jiwa dan sanubarihamba-hambaNya, Maha menyingkirkan segenap kesulitan dan musibah bagi hamba-hambaNya, dan Maha mampu melimpahkan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang dikehendakiNya, beruntunglah mereka yang selalu memperbanyak doa dan munajat memanggil namaNya Yang Maha Luhur. Karena setiap seruan panggilan ke hadirat Allah, memanggil nama Allah, akan abadi dan akan sampai ke hadirat Allah Jalla Wa ‘Alaa. Di Yamul Mahsyar (hari perkumpulan seluruh manusia), Allah SWT akan mengenal bibir-bibir yang selalu memanggil namaNya , Firman Allah dalam hadits qudsy :

أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ
“Aku bersama hambaKu ketika hambaKu mengingatKu, dan bergetar bibirnya menyebut namaKu “. Dan Allah SWT berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّكُمْ يَرْشُدُوْنَ  — البقرة :186

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” ( QS. Al-Baqarah: 186).

“ Wahai Muhammad, katakanlah kepada hamba-hambaKu jika mereka bertanya tentang dzatKu ini, katakanlah bahwa Tuhan mu dekat إِنِّيْ قَرِيْبٌ “ Sungguh Aku (Allah) Maha dekat “, lebih dekat kepadanya dari semua yang dekat padanya, sebelum ia mengenal satu pun dari teman dan kerabatnya, sebelum ia mengenal ayah dan ibunya, Allah telah Maha dekat dan mengenalnya sebelum ia lahir ke muka bumi, selama namanya telah dicipta dan ditaruh di sulbi nabiyullah Adam AS, إِنِّيْ قَرِيْبٌ Akulah (Allah) Yang Maha dekat kepadanya, dan Maha menawarkan kedekatanNya yang abadi setelah kehidupan di muka bumi. Semoga aku dan kalian selalu menerima lamaran kedekatan Allah Jalla Wa ‘Alaa dunia wal akhirah, dan semoga Allah memberi kemudahan bagiku dan kalian untuk selalu dalam keluhuran cahaya kedekatan ke hadirat Allah. Jangan selalu berputus asa berdoa dan bermunajat jika kita merasa lemah dan rentan maka berdoalah karena Allah membimbing mu dan mempermudah mu membuka jalan kemudahan untuk sampai kepada pintu-pintu keluhuran dan kesucian hidup, yang dengan itu kita sampai kepada rahasia kebahagiaan yang kekal, keridhaan Allah, cinta Allah, kasih sayang Allah. Betapa beruntung mereka yang menerima lamaran Allah untuk dapat menjadi pencintaNya, dan betapa ruginya mereka dengan segala apa yang mereka lewati dalam kehidupan di muka bumi, jika mereka lepas dan menolak lamaran Allah untuk menjadi kekasihNya. Firman Allah dalam hadits qudsy :

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَائَهُ

“ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Ku (Allah), Aku pun rindu berjumpa dengannya”.

Hadirin hadirat…demikian kasih sayang dan kerinduan yang ditawarkan pada jiwa yang mau rindu kepada Yang Maha menawarkan kebahagiaan yang kekal …ALLAH. Renungi kalimat agung dan luhur dari Rabbul ‘Alamin : “ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Allah, Allah pun rindu berjumpa dengannya”. Alangkah indah hari-hari seorang hamba, ia lewati hari-hari nya dan ia dirindukan Allah. Semoga aku dan kalian diterangi jiwa kita dengan cahaya kerinduan berjumpa dengan Yang Maha Indah, dengan pencipta kita dari tiada, dengan Yang Maha Dermawan dan menyingkirkan kita dari segala kesulitan dan musibah, demi cahaya kerinduan ke hadirat Allah Ya Zal Jalaali Wal Ikram. Sampailah kita di hari yang mulia ini 17 Ramadhan yang mengingatkan kita kepada peristiwa Badr Al Kubra, dimana diterangkannya bendera pembela Sang Nabi SAW, pertama kali ketika beliau SAW berhadapan dengan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah Al Munawwarah sebelum menuju Badr Al Kubra, maka di saat itulah wajah yang paling ramah, wajah yang paling indah, wajah yang dikatakan oleh Sayyidina Anas bin Malik :

مَارَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبُ مِنْ وَجْهِ النَّبِي

“ Tidak ada pemandangan kutemukan lebih indah dari wajah Sang Nabi (saw), lebih menakjubkan dari wajah Sang Nabi”. Ketika berdiri kaum muhajirin dan anshar menghadap wajah yang paling mulia, wajah yang paling sopan, wajah yang paling berkasih sayang dari seluruh makhluk Allah, wajah yang dikatakan oleh Allah :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ — القلم : 4

“ Sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung”.( QS.Al Qalam : 4) Wajah yang selalu menjawab cinta dari semua umat bahkan dari benda mati, demikian Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Maka Rasulullah SAW berkata :“ bagaimana pendapat kalian “ ?, maka berkata salah seorang Anshar :

لَكَأَنَّكَ تُرِيْدُ مِنَّا يَارَسُولَ اللهِ ؟
“ Ya Rasulullah tampaknya engkau menunggu pendapat kami”?, maka Rasul SAW berkata : betul, bagaimana pendapat kalian wahai kaum Anshar? , maka salah satu kaum Anshar berkata :

يَارَسُولَ اللهِ اِمْضِ بِنَا لِمَا أَرَدْتَ فَنَحْنُ مَعَكَ, لَوْ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا اْلبَحْرَ فَخَضْتَهُ لَخَضْنَاهُ مَعَكَ مَا تَخَلَّفَ مِنَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ لَعَلَّ اللهُ يُرِيْكَ مِنَّا مَا تَقَرَّ بِهِ عَيْنُكَ

“ Wahai Rasul, kami akan ikut bersamamu kemanapun engkau pergi , jika engkau mengajak kami kemanapun kami akan ikut, jika engkau berdiri di depan lautan lalu masuk ke dasar lautan, kami akan ikut dan tidak akan tersisa satu pun dari kami kecuali ikut denganmu, barangkali dengan itu kami bisa menggembirakan hatimu wahai Rasulullah”.
Inilah tujuan Muhajirin dan Anshar yang selalu ingin menggembirakan hati Nabi Muhammad SAW, mereka rela mati kesemuanya demi menggembirakan hati Muhammad Rasulullah SAW,

فَسُرَّ وَجْهُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,

maka terlihat terang benderang dan gembira wajah Rasul SAW, maka mereka pun berangkat.

Hadirin hadirat… malam 17 Ramadhan malam munajat , Sang Nabi berdoa kehadirat Allah terangkat kedua tangannya hingga jatuh ridanya (rida : sorban dipundak)dari panjangnya doa beliau, diantara doa beliau SAW riwayat Shahih Al Bukhari :

اَللَّهُمَّ إِنْ تَشَأْ لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ …

“ Wahai Allah aku risau kalau seandainya kelompok kecil kami ini kalah orang-orang yang banyak tidak siap berperang, senjata terbatas tidak mampu berbuat apa-apa, kalau sampai kalah kelompok ini dan habis di bantai,

لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ

aku risau tidak ada yang menyembah Mu di muka bumi, karena seluruh orang-orang para da’i, para pembela Sang Nabi kumpul di Badr, kalau semuanya di bantai maka habislah, tinggallah Dhu’afaa’ (orang-orang lemah) di Makkah dan kaum wanita di Madinah, maka setelah ini jangan-jangan tidak ada lagi yang menyembahMu kalau sampai kelompok ini kalah. Demikian risaunya Sang Nabi, beliau mempunyai jiwa yang risau, paling risau sesuatu menimpa umat nya inilah jiwa Sayyidina Muhammad, inilah jiwa yang Allah katakan :

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ  — التوبة : 128

“ Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian sendiri, yang sangat menjaga kalian dan sangat berat memikirkan apa yang menimpa kalian, dan sangat santun dan berkasih sayang terhadap orang-orang yang beriman”. ( QS. At Taubah : 128)
Inilah Sayyidina Muhammad SAW yang berdoa :

اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ

Sampai di saat musibah yang paling dahsyat di dunia ini, yaitu sakaratul maut seraya berdoa kepada Allah di saat beliau akan wafat “ Ya Allah keraskan dan pedihkan sakaratul mautku dan ringankan untuk seluruh umatku ‘’. Inilah doa Sayyidina Muhammad SAW, rela menerima kepedihan sakaratul maut demi teringankan untuk umatnya. Maka, hadirin hadirat…satu-satunya jiwa yang paling tidak tega melihat umatnya merintih di dalam api neraka karena berdosa beliau bersujud untuk memohonkan syafaat untuk para pendosa, inilah Muhammad Rasulullah SAW pimpinan Ahlul Badr. Maka mereka keluar dengan dua bendera hitam, satu bendera di tangan Muhajirin satu bendera di tangan Anshar. Bendera Muhajirin di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah RA, dan satu bendera di tangan kaum Anshar. Dan Rasulullah SAW berkata janganlah kalian menyerang mereka sebelum mereka menyerang kalian, jangan ada yang bergerak dan berbuat sesuatu sebelum mereka terlebih dahulu berbuat dan menyerang kita. Jumlah 313 orang, senjata tidak lengkap menghadapi 3000 pasukan musyrikin quraisy dengan senjata lengkap dan kuda, pakai baju besi, topi besi, senjata, pedang, siap tempurnya dengan pasukan kuda yang berlapis baja pula, berhadapan dengan pasukan 313 orang, berapa puluh yang punya pedang, lainnya bawa tombak, lainnya cuma punya panah, lainnya hanya bawa tongkat, dan yang lainnya membawa batu dan alat tani, inilah keadaan mereka. Allah berfirman :

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ — الأنفال : 9

“ Jika kalian berdoa dan bermunajat meminta pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu, sesungguhnya Aku (Allah) akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS.Al Anfal : 9)
Berkata Abu Sa’id dari kaum Anshar, aku buta sejak perang Badr kalau seandainya aku tidak buta, aku bisa perlihatkan kalian dimana turunnya pasukan malaikat dari belahan langit di wilayah Badr, karena kejadian itu terjadi di wilayah yang dinamakan Badr tahun ke-2 Hijriah pada hari Jum’at 17 Ramadhan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian indahnya peperangan Badr Al Kubra ini, ketika Sayyidina Abu Thalhah Al Anshari RA yang sangat mencintai Sang Nabi SAW, yang berlutut di tengah-tengah peperangan seraya berkata kepada Rasulullah :

وَجْهِيْ لِوَجْهِكَ اْلوِقَاءُ وَنَفْسِيَ لِنَفْسِكَ اْلفِدَاءُ

“ Wajahku ini siap menjadi tameng bagi segala serangan di wajahmu ya rasul, jiwa dan ragaku siap untuk membentengimu wahai Nabi dari segala panah dan senjata “. Maka orang seperti Abu Thalhah ini kata Rasul : Abu Thalhah ka alf min ummati ( Abu Thalhah seperti 1000 orang kekuatannya dalam umatku ). Demikian keadaan para pencinta Rasul SAW yang mempunyai kekuatan yang demikian dahsyat . Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah ini di dalam peperangan Badr pedangnya jatuh karena kantuknya, karena sepanjang malam qiyamul lail di saat perang terjatuh pedangnya, bagaimana manusia perang dengan hawa nafsu, kalau ia perang dengan hawa nafsu tentunya ia tidak akan bisa memejamkan mata sekejap pun dari melihat serangan pedang 3000 orang pasukan kuffar quraisy dengan senjata lengkap masih bisa terkantuk-kantuk, menunjukkan mereka memang mempunyai jiwa-jiwa yang suci dan damai, bahkan Sang Nabi mengatakan “ jangan menyerang sebelum mereka menyerang”. Demikian hadirin hadirat, manusia yang paling tidak menghendaki permusuhan walau terhadap orang-orang yang paling jahat memusuhi beliau, bahkan pada saat perang Uhud ketika panah besi menembus rahang beliau, dan beliau SAW roboh maka saat itu berdiri Sayyidina Abu Thalhah di depan beliau, dan Rasul berdiri lagi untuk melihat keadaan pasukannya yang kacau balau karena diserang kaum kuffar, maka Abu Thalhah berkata ; tetap duduk wahai Rasul jangan berdiri sungguh …

وَجْهِيْ لَيْسَ بِوَجْهِكَ وَصَدْرِيْ لَيْسَ بِصَدْرِكَ

( wajahku bukan wajahmu dadaku bukan dadamu ), biar aku yang kena serangan panah jangan engkau kena serangan lagi, tetap di tempatmu wahai Rasul. Dan Rasul sudah mengalir darah, karena panah besi menghantam dari pada perisai baja yang ada di tangan Sang Nabi dan sedemikian kerasnya sampai menembus baja tersebut dan menembus tulang rahang beliau. Maka Sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ RA dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari datang kepada Nabi dan membersihkan darah yang mengalir dari wajah beliau. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa Rasul memegang ridanya (rida : sorban dipundak yg sering juga dililitkan dileher oleh beliau saw), menahan jangan sampai darah jatuh ke tanah, maka para Shahabat berkata biar dulu darahnya jatuh ke tanah wahai Rasul, kita urus panah besi di rahangmu masih menempel, maka Rasul berkata kalau ada darah dari wajahku jatuh ke tanah, Allah akan tumpahkan bala’ untuk mereka, maka Rasul tidak ingin bala’ ini tumpah pada mereka yang memerangi beliau, inilah Sayyidina Muhammad SAW . Panah besi menembus rahang beliau, beliau masih sibuk menjaga jangan sampai setetes darah jatuh ke tanah, karena nanti Allah akan murka kalau sampai ada setetes darah dari wajahku jatuh ke bumi, Allah akan menumpahkan bala’ untuk mereka, Rasul masih ingin mereka masuk Islam lalu keterunannya mendapat hidayah, demikian manusia yang paling indah Sayyidina Muhammad SAW. Perang Badr berakhir dengan kemenangan.

Hadirin…Sayyidina Utsman bin Affan RA, yang saat akan berangkat ke Badr terkena musibah karena istrinya sakit. Sayyidina Utsman mau meninggalkan istrinya namun ia tidak berani karena istrinya adalah putri Rasulullah SAW, baginya peperangan Badr belakangan, ini putri Sayyidina Muhammad SAW. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya Rasulullah, putrimu sakit aku mohon ijin. Maka Rasulullah berkata : Kau tetap jaga putriku. Selesai perang Badr, maka Rasulullah saw bersabda, Allah telah berfirman kepada Ahlul Badr dalam hadits qudsy riwayat Shahih Bukhari :

اِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ يَاأَهْلَ اْلبَدْرِ قَدْ غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَكُمْ مَاتَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ

“ Beramallah semau kalian wahai ahlul Badr, karena Allah telah mengampuni dosa kalian yang telah lalu dan yang akan datang “. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya (Wahai) Rasulullah, aku tidak hadir perang Badr, aku menjaga putrimu. Maka Rasulullah berkata : Kau dapat pahala Badr, dan kau dalam kelompok Ahlul Badr. Demikian hadirin hadirat, karena beliau ( Sayyidina Utsman ) menjaga putri Rasul, mengorbankan hadir dari perang Badr maka Allah memberikan baginya pahala kemuliaan Badr Al Kubra, Sayyidina Utsman RA.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah…
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka Khalifah Abu Bakar As Shiddiq RA memegang khilafah, lantas terjadi pemberontakan di beberapa wilayah yang tidak menerima kepemimpinan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA, diantaranya Ahlul Yaman. Yaman masuk Islam di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, demikian riwayat Sirah Ibn Hisyam. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA dikirim oleh Rasul saw ke Yaman. Sayyidina Muadz menuju ke Yaman bagian utara, dan Sayyidina Ali menuju ke Yaman bagian Selatan ( Hadramaut ). Setelah mereka ( penduduk Yaman ) masuk Islam, maka kembalilah Sayyidina Ali dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA. Namun setelah kepemimpinan Khalifah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, terjadi pemberontakan disana-sini diantaranya di Yaman dan juga di Hadramaut. Dari kota Tarim, penguasa kota Tarim saat itu Sultannya mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA untuk meminta bantuan pasukan dari Madinah, karena banyaknya orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA. Maka Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq mengirim beberapa banyak Sahabat, diantaranya mereka Ahlul Badr. Ahlul Badr tentunya tidak semuanya wafat, maka dikirim diantaranya Ahlul Badr menuju Tarim Hadramaut. Di kota Tarim tempat guru mulia kita dan para Salafus Shalih, disana terdapat yang di sebut Jabal Khailah , yaitu gunung kuda artinya, kenapa disebut gunung kuda? Karena dari gunung itulah turunnya pasukan para Sahabat dari Madinah Al Munawwarah ketika datang dari perintah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA menuju kota Tarim. Maka dikatakan jarak terdekat kalau dengan menaiki kuda menuju Madinah dari kota Tarim adalah lewat Jabal Khailah, dari situlah turunnya pasukan Sahabat datang menuju kota Tarim. Mereka bersatu dengan penduduk Tarim untuk membela kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA, lantas diantara Ahlul Badr ada yang mati syahid di kota Tarim, dimakamkan dan sampai sekarang ada makam Ahlul Badr di kota Tarim di pekuburan Zanbal .

Hadirin…selesailah permasalahan Khalifah Abu Bakr As Shiddiq, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman , Sayyidina Ali, berlanjut muslimin terjadi permasalahan diantara Khalifah, dan setelah wafatnya Khulafaa Ar Rasyidin, hingga Al Imam Ahmad Al Muhajir pindah ke Baghdad, keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, keturunan Sayyidatna Fathimah Az Zahra’ RA, keturunan Rasulullah SAW. Al Imam Ahmad Al Muhajir di Baghdad dan kemudian mendapat banyak permasalahan dan fitnah serta perpecahan di antara kaum Muslimin, maka Al Imam Ahmad Al Muhajir mengajak beberapa rombongan keluarganya hijrah ke kota Tarim Hadramaut, ke tempat makam Ahlul Badr dan para pembela Abu Bakr As Shiddiq RA . Wafat Al Imam Ahmad Al Muhajir di wilayah Hadramaut dan dimakamkan disana, lalu keturunannya di antaranya Al Imam Ali bin ‘Alwy Khali’ Qasam AR (alaihi rahmatulllah : semoga atasnya Rahmat Allah swt), seorang Hujjatul Islam yang kemudian berwasiat untuk dimakamkan di sebelah perkuburan Ahlul Badr, dan ia mewakafkan tanah yang di sebut perkuburan Zanbal untuk para keturunannya, hingga saat ini para imam-imam besar banyak sekali dimakamkan di perkuburan itu mengambil tabarruk untuk berdekatan dengan sahabat Ahlul Badr RA .

Ketika Al Imam Ahmad Al Muhajir ingin pindah ke Yaman Hadramaut, sebagian Ulama’ di Baghdad berkata : Wahai Imam, kau mau kemana?, kau ini Imam Ahlul Bait mau pindah ke Hadramaut tempat yang tandus tidak ada sesuatu!? Al Imam berkata: Aku ingin menjaga keturunanku dari fitnah dan dari bencana permusuhan, maka ia pun berangkat ke Hadramaut tanah yang tandus yang tidak ada padanya kecuali baduwi-baduwi (orang orang dusun), dan diantara bagian besar adalah padang pasir.

Namun, cahaya semangat Al Imam Ahmad Al Muhajir tidak padam dan tidak berhenti di Hadramaut, cahaya kecintaannya yang berpadu dengan para pencinta Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA di kota Tarim Hadramaut dari dakwahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berkelanjutan, sampailah datang sembilan orang mulia ke pulau Jawa yang keluar dari keturunan Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa menuju Gujarat lantas sampai ke pulau Jawa, maka dari ujung Banyuwangi hingga ujung kulon ini rata dengan Kalimat Tauhid. Dari kemuliaan persatuan antara Ahlul Bait dan Sahabat Rasul SAW, mereka sembilan orang ini datang tidak membawa senjata, tidak membawa pasukan, tidak membawa sesuatu bahkan bahasa pun mereka tidak tahu. Tapi mereka membawa semangat keberkahan Ahlul Badr, dan mereka membawa semangat cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW.

Ternyata dari sembilan orang mulia ini (wali songo), Allah memberikan keberkahan yang sangat luhur sampai jadilah Indonesia negeri Muslimin terbesar di muka bumi. Demikian hadirin hadirat kemuliaan silsilah yang sangat mulia ini, sampailah kabar agung ini kepada kita Muslimin Muslimat di malam hari ini. Semoga aku dan kalian selalu bersama kemuliaan Ahlul Badr dunia dan akhirat.

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

( seseorang bersama dengan orang yang dicintainya ).

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Sampailah kita di malam-malam agung di hadapan sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malam yang penuh dengan cahaya keluhuran, malam-malam yang penuh dengan cahaya kebahagiaan dan kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, meneruskan dari keagungan firman Allah :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ اْلقَدْرِ¤ وَمَاأَدْرَىكَ مَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ ¤ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ¤ تَنَزَّلُ اْلمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ¤ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ اْلفَجْرِ ¤  — القدر : 1-5

Allah memberikan kemuliaan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, Allah befirman “ Bahwa Lailatul Qadr itu lebih mulia daripada seribu bulan, dan di saat itu diturunkan para Malaikat maksudnya untuk membawa rahmah, dan juga malikat Jibril AS, karena yang disebut “ اَلرُّوْحُ “ dalam ayat itu sebagian besar Mufassir mengatakan adalah Jibril AS, turun ke bumi bersama jutaan milyar malaikat yang tidak terhitung untuk membawa rahmat Allah di malam itu”.

Hadirin hadirat..dan ketahuilah bahwa Lailatul Qadr bukanlah satu dua detik, sebagian orang memahami Lailatul Qadr itu satu dua detik saja, Lailatul Qadr itu sepanjang malam di malam itu. Malamnya yang mana ? sekarang kita bahas, jadi yang ibadah di malam itu dikalikan seribu bulan, kira-kira 83 tahun. 1000 bulan itu kalau dibagikan kira-kira 83 tahun, itu hadiah untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya, asalkan mereka ibadah apapun di malam itu sampai terbitnya matahari di Lailatul Qadr, maka saat itu mereka mendapat pahala dikalikan 1000 bulan. Kalau cuma shalat isya’ saja seakan ia shalat Isya selama seribu bulan, kalau ia Tarawih 20 rakaat, berarti ia bersujud 40 kali di dalam setiap malam dalam 1000 bulan, kalau ia memakai siwak kalikan 70 kali lipat, kalau ia berjamaah kalikan 27 kali lipat, karena di bulan Ramadhan lebih dari 700 kali lipat kalikan 1000 bulan, MasyaAllah!!!

Lantas Rasul SAW diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari Rasul SAW beri’tikaf di 10 hari malam pertama bulan Ramadhan, maka datanglah malaikat Jibril AS dan berkata : “Wahai Rasul SAW yang kau kehendaki itu masih di depan”. Rasul menantikan malam Lailatul Qadr, masih di depan maksudnya masih nanti. Rasul SAW beri’tikaf lagi sampai 10 hari yang kedua, jadi 20 hari Rasul I’tikaf. Maka Jibril AS berkata : “Ya Rasululallah yang engkau mau itu di depanmu”, maksudnya 10 hari malam terakhir. Maka keesokan harinya Rasul berkhutbah ,pagi tanggal 20 Ramadhan Rasul SAW memanggil para Sahabat dan menyampaikan taushiah bahwa sungguh Allah SWT menentukan malam Lailatul Qadr aku melihatnya di dalam mimpiku, aku bersujud dalam keadaan tanah ini membasah yaitu gerimis.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“ Carilah malam Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir” kata Rasul SAW, itu tanggal 20 Ramadhan, malamnya terjadi gerimis shubuh itu Rasulullah sujud para Sahabat melihat di dahinya ada bekas lumpur dari sujud, khutbah beliau kemarin menunjukkan malam Lailatul Qadr malam 21 di saat itu.

Namun Rasulullah SAW bersabda di dalam hadits yang kita baca tadi “ Carilah kemuliaan Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir di malam ganjilnya”, jadi malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, malam 29 ada lima malam untuk kita, di situ Rasulullah SAW mengatakan inilah malam-malam kemungkinan datangnya Lailatul Qadr. Jadi memperbanyak ibadah bagusnya di setiap malam Ramadhan, malam kesatu, malam kedua, malam ketiga, malam keempat karena sebagian ulama’ mengatakan Malam dengan Tahajjud, doa, cinta , dan rindu kepada Allah adalah Lailatul Qadr baginya. Maka semoga setiap malam kita adalah Lailatul Qadr, lebih lagi kalau di setiap malam Ramadhan kita dalam cinta, rindu dan tangis kepada Allah, lebih lagi jika setiap malam maka salah satu malamnya adalah Lailatul Qadr kalikan dengan 1000 bulan, 83 tahun.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Rahasia kedermawanan Allah sangat luas. Diriwayatkan pula di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW bersabda riwayat Sayyidina Bilal Al Muadzzin RA :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي السَّبْعِ اْلأَوَاخِرِ

Ada lagi hadits lain yang mengatakan “temui Lailatul Qadr di tujuh malam terakhir”. Hadits ini berbeda dengan hadits yang tadi, kalau tadi dibilang sepuluh malam terakhir, ini hadits bilang tujuh malam terakhir, maka bisa kita ambil yang mana saja, yang amannya ambil sepuluh malam terakhir,
kenapa dijadikan Lailatul Qadr itu di malam-malam terakhir Ramadhan? Karena sifat manusia di awal-awalnya semangat di akhir-akhirnya turun, maka Allah jadikan Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir supaya umat semangat lagi, supaya mereka termuliakan. Allah tidak dapat untung apa-apa daripada kita, Allah ingin kita beruntung dan makin dekat kepadaNya maka dijadikanlah di sepuluh malam terakhir. Nah, sepuluh malam terakhir ini hati-hatilah dan jagalah jangan sampai malah di sepuluh malam terakhir ini kita sibuk memikirkan pakaian baru belum ada dan lain sebagainya. Hadirin hadirat…hal seperti itu syi’ar boleh-boleh saja, tapi ada anugerah yang lebih abadi ditawarkan oleh Allah di hari-hari mulia sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga Allah memuliakan aku dan kalian dengan kemuliaan Lailatul Qadr.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Perlu juga saya jelaskan dari banyak yang bertanya tentang shalat tarawih yang cepat , sebagian para Salafuna As Shalihin melakukannya, sebagian tidak. Shalat Tarawih dengan cepat teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan ada dalilnya, Rasul SAW melakukan shalat qabliyyah Al Fajr

كَأَنَّهُ مَا يَقْرَأُ فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ

(seakan-akan beliau SAW tidak membaca surat Alfatihah) , kata Sayyidatuna Aisyah RA riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim. Rasul SAW melakukan shalat sunnah qabliyatul Fajr (qabliyah subuh) dua rakaat seakan-akan tidak membaca fatihah dari cepatnya. Dalam riwayat lain di Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, Ummu Hani RA melihat Rasul SAW melakukan shalat Dhuha di hari Fath Makkah dengan cepat , seakan-akan beliau tidak shalat tapi beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Di dalam madzhab Syafi’i yang dimaksud dengan tuma’ninah menyempurnakan ruku’ dan sujud itu kadar maksimalnya tidak ada batasnya, sepanjang apapun boleh tapi kadar minimalnya sekadar seorang mengucapkan سُبْحَانَ الله satu kali. Kalau di saat itu ia rukuk dan seluruh tubuhnya diam sekadar sekali mengucapkan سُبْحَانَ الله , itu sudah tuma’ninah maka sah shalatnya. Kalau sampai ruku’nya bergerak, tidak berhenti di saat ruku’ (dan) di saat sujud maka batal shalatnya, jadi hati-hati kalau mau ikut dengan orang-orang yang Imam shalatnya cepat, harus faham caranya ketika ruku’ harus diam kalau sekadar kalimat سُبْحَانَ الله itu kira-kira sedetik tapi harus diam, jangan terus bergerak. Kalau seandainya diam sekadar itu maka shalatnya sah, sah rukuknya, sah sujudnya dan membaca fatihah dengan cepat diperbuat oleh Sang Nabi di dalam qabliyah Al Fajr dan lainnya, terlebih lagi shalat tarawih yang juga termasuk shalat sunnah.

Namun tentunya hal ini makruh jika dilakukan saat shalat fardhu. Jadi yang mau melakukan shalat tarawih secara cepat ada dalilnya. Yang mau melakukan secara lambat shalat sunnah boleh juga, keduanya dilakukan oleh guru mulia kita Al Allamah Al Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz, shalat sunnah dengan cepat shalat sunnah dengan lambat. Sekarang beliau melakukan shalat sunnah Tarawih di Darul Musthafa dengan lambat, dalam satu bulan bisa dua atau tiga kali khatam Al qur’an dengan bacaan Al quran, namun beliau juga melakukan shalat sunnah tasbih dengan cepat.

Shalat tasbih, belajar kalau seandainya belum tahu, disunnahkan shalat tasbih meskipun sekali dalam seumur hidup, kalau bisa tiap bulan, kalau bisa tiap minggu, kalau bisa tiap hari tapi guru mulia kita melakukannya disana setiap malam di bulan Ramadhan setelah shalat Maghrib. Beliau melakukan dengan cepatnya shalat tasbih itu paling sulit kenapa? karena membaca

وَاْلحَمْدُلِلهِ وَلَاإِلهَ إِلَّا الله وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ الله

saat ruku’ 10 kali, saat I’tidal 10 kali, saat sujud..terus sampai sempurna 300 kali bacaan tasbih. Guru mulia kita melakukan shalat tasbih sangat cepat, kenapa shalat secepat itu..karena teriwayat shalat sunnah cepat. Tapi kalau sendiri disunnahkan jangan cepat-cepat , kalau untuk kita sendiri nikmati ruku’ dan sujud bersama kemuliaan Allah SWT.
Para Salafuna As Shalih banyak yang melakukan shalat sunnah cepat, banyak yang melakukan shalat yang lambat. Di dalam tafsir Al Imam Ibn Katsir dijelaskan, sebagian dari salaf melakukan shalat sunnah seribu rakaat setiap harinya, shalat sunnah seribu rakaat bagaimana cepatnya!?.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Hal itu diperbuat pula oleh Al Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad ibn Husain bin Ali bin Abi Thalib RA, di setiap malam shalat 1000 rakaat , demikian pula Al Imam Syafi’i, dan demikian pula sebagian banyak para Imam, dan adapula yang memanjangkan malam-malamnya dengan shalat sunnah dua rakaat.

Hadirin hadirat, dari semua riwayat ini semoga aku dan kalian dalam keberkahan dunia dan akhirat. Satu hal lagi yang perlu saya bahas, adalah masalah mandi di siang hari bulan Ramadhan, sikat gigi, dan berusaha meringankan puasanya, bagaimana hukumnya? Hukumnya makruh, tapi kalau seandainya perbuatan itu kalau tidak dilakukan bisa membuat puasanya batal maka menjadi Wajib, misalnya lemah kalau saya tidak mandi saya bisa pingsan maka batal puasanya, jadi harus qadha’ maka saya harus mandi, (maka) mandi sewajarnya mau sepuluh kali setiap hari (pun tidak apa apa demi menjaga puasanya), atau kalau saya tidak mandi akhirnya lemah nanti, saya bekerja, saya sekolah, saya mempunyai kesibukan rumah tangga misalnya, maka tentunya yang seperti itu boleh-boleh saja tidak menjadi makruh. Yang menjadi makruh adalah mampu melewati puasa tapi diringan-ringankan, supaya lebih ringan lagi mandi padahal dia tidak mempunyai kesibukan apa-apa, karena apa? Yang dimakruhkan itu adalah meringankan puasa padahal mampu.
Karena Rasul SAW berkata: Paksakan dirimu sampai batas kemampuan jangan lebih dari batas kemampuan, kalau lebih dari batas kemampuan malah menjadi makruh. Jadi kalau mau mandi, mandi saja kalau mau berkeramas, keramas saja.. mau banyak-banyak mandi di siang hari silahkan saja, asalkan hal-hal tersebut tidak dimaksudkan meringankan puasanya, kalau dimaksudkan meringankan puasanya maka itu makruh, yang lebih buruk adalah orang yang memaksakan diri, tidak usah deh keramas di siang hari Ramadhan biar saja keadaan seperti apapun , tidak usah sikat gigi, tidak usah mandi karena makruh, akhirnya sehari dua hari, tiga hari kesal dengan Ramadhan. Ia mau mencari hal yang sunnah, akhirnya dalam hatinya berkata kapan sih Ramadhan selesai capek saya!!, tiap hari tidak sikat gigi, (baiknya sikat gigi sebelum imsak), tidak mandi, perasaan ini bisa membatalkan pahala puasa mu. Ini jauh lebih buruk daripada kita melakukan hal-hal yang makruh, lakukan itu kalau seandainya sudah terganggu puasamu dan khusu’mu , maka jangan sampai hati kita benci dengan Ramadhan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Inilah indahnya sunnah Nabi kita Muhammad SAW “berbuatlah semampunya”. Semoga Allah SWT memuliakan kita dalam rahasia keagungan Badr Al Kubra ini dan kemuliaan Nuzul Al Qur’an. Rabbi..Rabbi..halalkan seluruh wajah kami mendapatkan cahaya kemuliaan Nuzulul Qur’an, pastikan kami semua kelak dalam kelompok Ahlul Badr, ketika dipanggil di yaumul kiamah wahai Ahlul Badr berdirilah, pastikan kami berdiri diantara para pencinta Ahlul Badr. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram…jika kelak di yaumul qiamah masing-masing kelompok dipanggil dengan pencintanya, kelompok pezina, kelompok pemabuk, masing-masing berdiri dengan kelompoknya, maka di saat itu akan dipanggil pula dimana kelompok Ahlul Badr, semoga aku dan kalian berdiri dalam kelompok Ahlul Badr. Semoga aku dan kalian tidak berdiri saat dipanggil mana kelompok penggunjing, mana kelompok pendusta, mana kelompok pencaci, mana kelompok pendosa, Rabbi..jangan Engkau berdirikan (kami) diantara mereka. Pastikan ketika Ahlul Badr dipanggil kami ikut berdiri diantara mereka para pecinta Ahlul Badr, yang telah disabdakan oleh Nabi kami :

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

(seseorang bersama dengan orang yang dicintainya). Rabbi..kami rindu wajah-wajah Ahlul Badr Al Kubra, kami rindu melihat wajah-wajah damai, kami rindu melihat wajah Khulafaa’ Ar Rasyidin, kami rindu melihat wajah Muhajirin dan Anshar, kami rindu memandang wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, melihat wajah-wajah mulia. Ya Zal Jalali Wal Ikram Ya dzaa At Thawli Wal In’aam Ya Rahman Ya Rahim..pastikan kami di dalam keberkahan dunia dan akhirat dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Demi kemuliaan Badr Al Kubra jawablah seluruh doa kami, hapuskan seluruh dosa kami, singkirkan segala kesulitan kami, jauhkan musibah dari kami sejauh-jauhnya, jauhkan dari kami kemurkaan sejauh-jauhnya. Ya Rahman Ya Rahim..damaikan kami, damaikan masyarakat kami, damaikan bumi Jakarta, damaikan bangsa kami, tenangkan jiwa muslimin muslimat (agar terhindar) dari perbuatan-perbuatan yang hina dan mungkar. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram..jadikan jiwa kami dan jiwa saudara-saudara kami muslimin muslimat selalu risau jika ingin berbuat dosa, dan selalu tenang dan senang jika ingin berbuat pahala..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا : يَا الله…يا الله…يا الله …يَارَحْمنُ يَارَحِيم…
لَاإِلهَ إلَّا الله….لاإله إلاالله مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله .. وَصَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ
كَلِمَةُ حَق عَلَيْهَا نَحيَا وعَلَيْهَا نَمُوتُ وعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِينَ ..

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Semoga malam-malam berikutnya kita semakin indah dan mulia, semoga di malam-malam berikutnya kita semakin mencintai dan dicintai Allah SWT, Ya Rahman Ya Rahim..
Dan saya ingatkan malam senin yang akan datang Tabligh Akbar Majelis Rasulullah SAW, ada undangan daripada Pimpinan PBNU KH. Hasyim Muzadi di kediaman beliau, untuk peresmian pesantren beliau . Beliau tidak bisa hadir malam hari ini untuk langsung mengundang , undangan disampaikan kepada saya dan Majelis kita, jika yang mempunyai waktu hadir jika yang sudah mudik maka semoga diberi kemuliaan oleh Allah dan keselamatan, dan yang di Jakarta mudah-mudahan tidak ada halangan untuk termuliakan dalam syi’ar malam-malam terakhir di bulan Ramadhan yang mulia ini. Kita teruskan dengan doa kepada Allah dan munajat bertawassul kepada Ahlul Badr…

صَلاَةُ اللهِ سَلاَمُ اللهِ عَلَى طَه رَسُوْلِ الله
صَلاَةُ الله سَلَامُ الله عَلَى يَس حَبِيْبِ الله

Sebelum kita tutup, saya akan menyampaikan salam dan rindu dari guru mulia kita Al ‘allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz, semalam telah kita sampaikan bahwa acara di Jakarta sukses, kebetulan acara beliau sama di malam yang sama dengan acara kita dan mengadakan Haul Ahlul Badr juga di Tarim Hadramaut. Telah disampaikan bahwa acara di Jakarta sukses dengan zikir lafdzul Jalalah 1000 kali, dan setelah disampaikan berita ini Beliau bergembira, dan juga disampaikan kepada beliau vcd di malam Nisf Sya’ban yang lalu, beliau sangat gembira dengan kesuksesan acara tersebut dan selalu mendoakan kita. Dan InsyaAllah kerinduan beliau untuk hadir ke tempat kita tidak lama lagi, insyaAllah bulan Muharram tepatnya bulan Desember, insyaAllah kita akan mengadakan malam selasa bersama beliau , dan insyaallah acara ini sukses kira-kira tinggal tiga bulan lagi, kita akan buat acara insyaallah yang hadir lebih banyak lagi muslimin muslimat…

أَمِين اللَّهُمَّ أمين يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَام يَاذَا الطَّوْلِ وَاْلإِنْعَام…
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَصَلَّى اللهُ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَأَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ…

Ditulis Oleh: Hbb.Munzir Bin Fuad Almusawa

Tantangan-tantangan Bulan Ramadan dalam Sejarah

Posted by admin - 16 Juli 2012 - Ramadhan, Sejarah Islam
0
Abdullah Hakim Quick

Oleh: Dr. Abdullah Hakim Quick

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang telah berfirman dalam kitab suci Al-Quran:  “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: 2:183). Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas utusan Allah Nabi Muhammad saw.

Hai orang-orang yang beriman, Ramadan adalah bulan suci di mana Allah swt secara terus-menerus menguji hambaNya dan memberi kesempatan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan tiada akhir. Puasa merupakan sebuah penyucian yang sempurna dan sarana untuk mengembangkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesadaran terhadap keberadaan Allah, yaitu takwa, merupakan perlindungan melawan godaan setan dan penderitaan di dunia.

Banyak umat Islam sekarang yang memiliki pemahaman yang salah mengenai puasa dan aktivitas berpuasa. Pada bulan Ramadan, mereka justru masuk kedalam kondisi semi-hibernasi, menghabiskan waktu siangnya dengan tidur selama berjam-jam. Jika mereka memiliki rasa takut pada Allah, maka mereka akan bangun sebentar untuk shalat lantas segera kembali tidur. Fase tidur yang tidak alami ini menyebabkan mereka menjadi malas dan tidak produktif.

Sebenarnya Ramadan justru merupakan waktu untuk meningkatkan aktivitas, di mana kaum mukmin harus meningkatkan keinginannya bekerja keras dan berjuang untuk Allah. Setelah hijrahnya, Rasulullah SAW kira-kira melewati 9 kali bulan Ramadan. Bulan-bulan tersebut dipenuhi dengan banyak peristiwa yang menentukan dalam sejarah Islam dan memberi kita contoh-contoh pengorbanan dan penyerahan diri kepada Allah yang begitu mengagumkan.

Pada tahun pertama setelah Hijrah, Rasulullah saw mengirim Hamzah ibn Abdul Muttalib bersama 30 orang pasukan Muslim ke Saif al-Bahr untuk menyelidiki 300 orang pasukan Quraisy yang telah berkemah di area tersebut. Pasukan Islam hampir saja terlibat pertempuran dengan mereka jika tidak dicegah oleh Majdy ibn Umar al-Juhany. Orang-orang munafik di Madinah ingin memecah belah persatuan umat Islam. Mereka membangun masjid sendiri yang diberi nama Masjid al-Dirar. Pada bulan Ramadan, Nabi saw kemudian memerintahkan masjid ini untuk dihancurkan.

Pada tanggal 17 Ramadan 2 Hijriyah, Allah swt memisahkan kebenaran dari kebatilan melalui  perang Badar. Rasulullah saw bersama  313 sahabat mencegat karavan barang-barang umat Islam yang sebelumnya ditinggal di Makkah. Iring-iringan karavan itu dipimpin oleh Abu Sufyan dan diperkirakan nilainya mencapai 60.000 dinar. Pasukan Islam bertemu dengan pasukan yang terdiri dari para pembesar Quraisy dan bersenjata lengkap yang berniat untuk memadamkan cahaya Islam. Meski kalah secara jumlah dengan perbandingan 1 lawan 3, tampak lemah serta tidak  berpengalaman, pasukan Islam mempertahankan agama mereka dengan semangat menyala untuk membela Nabi saw dan bertemu dengan tuhan mereka melalui syahid. Akhirnya Allah memberi mereka kemenangan yang sangat menentukan itu pada bulan Ramadan.

Pada tahun 6 Hijriyah, Zaid ibn Haritha dikirim ke daerah Wadi al-Qura untuk bertempur dengan Fatimah bint Rabiah, penguasa daerah tersebut. Sebelumnya Fatimah menyerang karavan yang dipimpin oleh Zaid dan sukses merampas barang-barang bawaannya. Dia terkenal sebagai wanita yang paling terlindungi di Arab karena menggantung 50 buah pedang para kerabat dekatnya di rumahnya. Ia juga terkenal sangat menunjukkan permusuhannya terhadap Islam. Ia terbunuh dalam sebuah pertempuran melawan umat Islam pada bulan Ramadan.

Pada bulan Ramadan 8 Hijriyah, perjanjian Hudaibiyah dilanggar dan pasukan Islam terlibat pertempuran dengan Romawi di daerah utara. Nabi Muhammad saw merasa perlu untuk memberi serangan yang fatal terhadap orang-orang kafir di Semenanjung Arab dan menaklukkan kota suci Makkah. Allah telah menyatakan bahwa Ka’bah merupakan tempat kedamaian, keamanan, dan tempat keagamaan yang suci. Telah tiba saatnya untuk kembali menyucikan Ka’bah dari kekotoran. Kemudian Nabi Muhammad saw mengirim pasukan yang berperalatan lengkap lebih dari yang pernah ada sebelumnya. Sepanjang perjalanan menuju Makkah, orang-orang yang melihat kemudian bergabung dengan pasukan Islam. Pada tanggal 20 Ramadan, kebulatan tekad kaum Mukmin, dengan dipandu oleh kehendak Allah, menjadi begitu perkasa sehingga kota Makkah takluk ke tangan umat Islam tanpa pertempuran. Sejak itu, Fathu Makkah menjadi salah satu peristiwa yang penting dalam sejarah umat Islam karena sejak saat inilah Islam akhirnya menjadi satu kekuatan besar di Semenanjung Arab. Pada waktu yang sama, setelah Rasulullah saw menghancurkan berhala-berhala di Makkah, beberapa utusan dikirim ke beberapa pusat utama politheisme. Beberapa berhala terbesar di negeri Arab seperti Latta, Uzza dan Manat juga dihancurkan.

Itulah beberapa peristiwa di bulan Ramadan pada masa Rasulullah saw. Ia merupakan waktu bagi penyucian diri, perpaduan antara melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, serta perjuangan dengan harta dan jiwa. Setelah wafatnya Rasulullah saw, umat Islam tetap mempertahankan tradisi ini dan Allah menggunakan para Mukmin sejati untuk mempengaruhi jalannya sejarah. Ramadan terus berlanjut sebagai waktu terjadinya cobaan besar dan peristiwa-peristiwa penting.

Sembilan puluh dua tahun setelah hijrah, Islam telah menyebar ke penjuru Afrika Utara, Iran, Afghanistan, Yaman, dan Suriah. Saat itu Spanyol masih berada di bawah kepemimpinan tirani Raja Roderic dari Visigoths. Roderic telah memaksa 6 juta para pekerjanya dan menyiksa kaum Yahudi agar pasukan Islam Afrika Utara dikirim ke sana. Gubernur Afrika Utara pada waktu itu  merespon dengan mengirim seorang jendralnya yang pemberani yaitu Tariq ibn Ziyad untuk memimpin 12.000 pasukan Berber dan Arab. Pada bulan Ramadan itu, mereka bertempur melawan gabungan pasukan Visigoth yang terdiri atas 90.000 orang Kristen dan dipimpin oleh Raja Roderic sendiri, di mana ia duduk di singgasana yang terbuat dari gading perak dan bertahtahkan permata berharga. Setelah membakar kapal-kapalnya, Tariq berpidato di hadapan pasukan Islam, memperingatkan mereka bahwa surga terbentang di hadapan dan bahwa hanya kekalahan serta lautlah yang ada di belakang mereka. Antusiasme mereka meluap-luap dan Allah pun mewujudkan kemenangan pasukan Islam dalam mengalahkan pasukan Kafir. Pada pertempuran itu bukan hanya Roderic dan pasukannya yang dapat dikalahkan, namun Tariq dan Musa berhasil membebaskan seluruh Spanyol, Sisilia dan Perancis. Ini merupakan awal dari masa keemasan Andalusia di mana Muslim berkuasa selama lebih dari 700 tahun.

Pada bulan Ramadan 682 Hijriyah, setelah bertempur selama bertahun-tahun, Salahuddin al-Ayyubi akhirnya berhasil mengusir pasukan Salib dari Suriah dan dari seluruh wilayah jajahannya. Setelah itu, Dunia Islam akhirnya berhadapan dengan tantangan yang paling menakutkan.

Pada abad ke-7 Hijriyah, bangsa Mongol menaklukkan Asia dan menghancurkan apapun yang berada di hadapannya. Pemimpin Mongol saat itu, Jenghis Khan, menyebut dirinya “cemeti yang diutus oleh Tuhan untuk menghukum manusia akibat dosa-dosanya”. Pada tahun 617 Hijriyah, kota Samarkand, Ray, dan Hamdan diserang oleh bangsa Mongol, menyebabkan lebih dari 700.000 orang terbunuh atau dijadikan tawanan. Pada tahun 656 Hijriyah, Hulagu Khan, melanjutkan penghancuran yang sebelumnya dilakukan oleh kakeknya, Jenghis Khan. Bahkan, kota Baghdad yang menjadi kota utama di dunia Islam juga turut dihancurkan. Beberapa perkiraan menyatakan bahwa sebanyak 1.800.000 umat Islam terbunuh dalam pembantaian besar-besaran ini. Orang-orang Kristen diperintahkan untuk memakan babi dan minum anggur secara terbuka sementara orang Islam yang berhasil selamat dipaksa untuk minum anggur. Minuman anggur dicipratkan ke dalam masjid dan Azan dilarang. Pada masa terjadinya bencana yang mengerikan dan ancaman terhadap dunia Islam inilah Allah mengutus seorang mamluk dari Mesir bernama Saifuddin Qutz yang berhasil mempersatukan tentara Muslim dan yang akhirnya pada tanggal 26 Ramadan 468 Hijrah bertempur dengan Mongol di Ain Jalut. Meskipun pasukan Muslim berada di bawah tekanan, berkat pertolongan Allah, strategi yang cerdik, dan keberanian yang tak pupus mereka akhirnya berhasil menghancurkan tentara Mongol.

Semangat Ramadan seperti inilah yang menjadikan para salafus salih dapat menghadapi berbagai tantangan yang tampaknya mustahil dilakukan. Mereka  bersungguh-sungguh, menghabiskan siang hari dengan bekerja dan melalui malam  dengan beribadah serta meminta rahmat dan ampunan Allah.

Sekarang ini, dunia Islam menghadapi serangan militer, kebobrokan yang merajalela, dan godaan materialisme. Kita tentu butuh sosok-sosok mukmin sejati yang sanggup mengikuti jejak nabi kita tercinta, jejak para sahabat, Tariq ibn ziyad, Qutuz, Salahuddin dan para pahlawan Islam yang tak terhitung jumlahnya. Kita tentu membutuhkan orang-orang mukmin yang tidak takut akan ancaman orang-orang kafir, namun tetap lembut dan rendah hati pada sesama mukmin; Muslim yang puasanya sempurna dan tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar belaka.

Semoga Allah membangkitkan generasi Islam yang dapat membawa Islam dalam segala aspeknya yang sesuai dengan era kita saat ini, dan semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keberhasilan untuk meletakkan fondasi bagi generasi tersebut. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang membawa berislam selama dan setelah bulan Ramadan, dan semoga Ia tidak menjadikan kita orang-orang yang mengatakan bahwa  dirinya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Allah dan para malaikat-Nya memberikan berkah dan keselamatan atas diri Nabi Muhammad saw. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.

Sumber: The Message – Canada

Menjaga Semangat Ramadhan Tetap Hidup

Posted by admin - 14 Juli 2012 - Psikologi, Ramadhan
1
Love In A Headscarf

Oleh: Shelina Zahra Janmohamed


Dunia Muslim berubah pada bulan Ramadan. Sarapan dilakukan pada saat sahur. Berdasarkan tradisi Islam, suapan pertama makanan biasanya sesuatu yang manis atau kurma. Tapi benarkah waktu-waktu yang kita lewati pada bulan ini sedemikian religiusnya?

Perubahan pada budaya Ramadan kontemporer berarti bahwa makna spiritual Ramadan perlahan-lahan menjadi hilang. Padahal ketiadaan aktivitas fisik seperti makan, minum, dan seks pada siang hari dengan tujuan mendekatkan diri pada Sang Pencipta sebenarnya memiliki banyak arti dan filosofi.

Puasa menyebabkan seseorang merasakan dan menghargai penderitaan orang miskin dan lapar. Ia merupakan kesempatan untuk memberikan lebih banyak waktu untuk spiritualitas daripada hal-hal yang bersifat fisik. Ia menandakan bahwa kita dapat hidup bahagia dan berhasil meski kekurangan.

Pada malam harinya, tujuan mulia ini dikesampingkan seakan-akan Ramadan hanya untuk siang hari saja. Pesta pun dimulai.

Para ibu memasak makanan mewah untuk keluarga mereka. Makanan tersebut biasanya mengandung kalori sehingga banyak Muslim yang berkata bahwa pada bulan Ramadan mereka justru bertambah berat badannya dari pada turun seperti yang dikira. Makna filosofis pengendalian diri siang harinya terpantul pada berlebih-lebihannya hidangan pada malam hari.

Salah satu tradisi keagamaan pada bulan Ramadan adalah memberi makan orang lain pada waktu iftar agar memperoleh pahala. Undangan makan malam pun disebar, dan acara iftar menjadi acara sosial yang hangat. Namun, di beberapa tempat ia berubah menjadi ajang pamer kemewahan menu makanan. “Pada akhir acara, orang-orang akan mengumumkan berapa biaya makanan tersebut,” kata salah seorang perempuan berkebangsaan Mesir untuk memberi penekanan pada rasa pamer yang mendominasi apa yang harusnya menjadi ajang saling berbagi.

Setelah acara iftar selesai tersedia banyak pilihan hiburan. Sebagian orang akan pergi ke tenda-tenda Ramadan untuk menghisap sisha dan bersantai bersama teman-teman sepanjang malam atau pergi dari satu pesta ke pesta lainnya sampai pagi. Sementara itu, sebagian yang lain akan tetap tinggal di rumah untuk menyaksikan acara opera sabun yang jumlahnya mendominasi siaran televisi. Tahun lalu di Arab Saudi disebutkan bahwa ada 64 acara opera sabun yang disiarkan tiap malamnya secara terus menerus supaya pemirsa dapat menonton sebanyak mungkin.

Ini bukan merupakan penilaian terhadap kualitas acara televisi tersebut atau pernyataan beberapa ulama yang menyatakan bahwa acara-acara tersebut “buruk”. Ini hanya sekadar pengamatan bahwa opera sabun ini mematikan perasaan masyarakat pada bulan Ramadan dan mengambil keuntungan darinya. Pemirsa televisi sadar bahwa mereka digiring ke tingkatan hiburan yang lebih tinggi namun tidak sadar bahwa kenikmatan beribadah dan berinteraksi sosial selama bulan Ramadan mereka rusak.

Bagaimana dengan belanja? Toko-toko buka lebih lama dari sebelumnya, dan seakan-akan Ramadan bukan waktu untuk beribadah malam melainkan hanya sekadar persiapan untuk Ied di mana kita akan saling memamerkan pakaian baru. Festival belanja Ramadan pun menjamur.

Bukannya menghentikan hasrat berbelanja kita justru semakin konsumtif selama 30 hari itu, baik di restoran maupun di mall.

Saya tidak mengatakan bahwa dunia Muslim telah menjadi komsumeris sebulan penuh. Suasana sosial dan spiritual pada komunitas Muslim tetap meriah dan masjid penuh dengan orang-orang yang beribadah dengan khusuk.

Yang mengejutkan kebanyakan muslim yang hidup di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim adalah bahwa rasa keimanan ini lebih terasa di negara-negara di mana Muslim adalah minoritas.

Di negara-negara tersebut jika Anda berpuasa maka Anda harus melawan mainstream yang ada di masyarakat. Anda tetap harus pergi bekerja di mana Anda harus melihat rekan-rekan kerja Anda meminum kopi, atau menghadiri pertemuan yang berlangsung pada saat iftar. Anda harus menyadari dan memahami alasan mengapa Anda berpuasa. Hal ini dapat menggiring pada kesuksesan ruhiyah.

Begitu pentingnya energi ini sampai-sampai saya mengenal beberapa Muslim yang datang ke Inggris pada bulan Ramadan meninggalkan negara Muslimnya supaya lebih mendapatkan keuntungan ruhiyah di bulan ini.

Seiring dengan memudarnya nilai-nilai ruhiyah akibat kondisi budaya dan komersialitas, Ramadan pun sekararang kehilangan makna dan urgensinya. Inilah yang terjadi pada tahun 1960 ketika presiden Tunisia Habib Bourgiba berniat membatalkan Ramadan. Meskipun Ramadan merupakan “budaya yang indah” ia merasa bahwa ia “melumpuhkan” masyarakat kita.

Dan ketika acara keagamaan menjadi budaya maka ia menjadi mudah untuk diabaikan.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa saya terlalu saleh. Sementara yang lain akan berkata bahwa jika para ibu ingin memanjakan keluarganya dengan makanan lezat setelah bersusah payah berpuasa seharian maka hal itu merupakan hak mereka. Selain itu ada pula yang akan mengatakan bahwa menghabiskan malam di bar sisha atau menonton opera sabun dapat meningkatkan kepekaan sosial.

Tentu saja tidak ada aturan bagaimana Anda mengisi bulan Ramadan. Anda tidak harus shalat seharian. Namun saya melihat tren yang cukup mengkhawatirkan. Semua kegiatan bisa jadi benar karena setiap orang memiliki pilihan, namun jika diperhatikan, Anda akan melihat makna dan konteks Ramadan perlahan-lahan menghilang. Jika kita menerima semua pembenaran maka kita harus berhati-hati terjerumus pada kemunafikan.

Bukan hanya Ramadan dan Idul fitri yang kini kehilangan makna dan pengaruhnya. Penganut Kristen yang taat serta Dunia Barat kini mengeluh bahwa makna natal telah mengering dan kehilangan nilai spiritualnya.

Beberapa pihak mungkin akan menolak membandingkan antara bagaimana natal dikomersialisasikan dengan situasi Ramadan kontemporer. Namun terdapat beberapa kesamaan seperti pada contoh-contoh yang telah disebutkan di atas.

Anda tidak perlu menjadi religius untuk dapat menghargai bahwa makna sosial dan etis dari acara-acara keagamaan seperti natal, Ramadan dan Eid begitu  berpengaruh terhadap moralitas masyarakat.

Untuk alasan inilah Umat Muslim menyuarakan protesnya sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki keyakinan dan saling berbagi kepedulian mengenai menjadi keringnya makna dan cakupan moral acara-acara kegamaan ini. Namun, seringkali kita menyalahkan dunia Barat sebagai tidak bertuhan dan rusak akibat komersialisasi yang berlebih-lebihan, sementara menutup mata pada tantangan yang sama yang dihadapi dunia Muslim.

Ramadan tidak harus menjadi, dan tidak boleh menjadi, kesalehan yang benar-benar hambar. Kesenangan, rasa saling berbagi, dan kebahagiaan dalam kebersamaan adalah komponen utama Ramadan. Namun jangan sampai ia hanya menjadi sekadar ajang mengumbar rasa rakus, belanja, dan hiburan kosong.

Kita perlu untuk mengetahui dan mengenal posisi kesenangan materi bulan Ramadan. Dengan menjadi jujur terhadap arti kesenangan fisik, maka kita dapat mengurangi prioritas kita terhadapnya supaya dapat memperoleh nilai ruhiyah dan moral setidaknya selama 30 hari bulan Ramadan.

Dengan mengurangi kesenangan fisik ini kita membuat Ramadan terasa begitu istimewa. Ramadan adalah tentang bagaimana kita mengenal nilai ruhiyah kita masing-masing dan tentang bagaimana kita menemukan diri kita sebagai sebuah jiwa, bukan tubuh, dalam masyarakat di mana kita hidup.

Shelina Zahra Janmohamed adalah seorang pengamat Islam Inggris dan penulis, sebuah memoar berjudul “Love in a Headscarf”. 

 

Keutamaan Bulan Ramadhan

Posted by admin - 13 Juli 2012 - Aqidah, Ramadhan
2
ramadan_kareem

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. ” (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).

Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya.”

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),’Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, ‘pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.’ ” (HR. Ahmad)’”

Puasa, Hikmah, Rukun & Syaratnya

Posted by admin - 12 Juli 2012 - Fiqh dan Ushulnya, Ramadhan
0
Ramadhan

Puasa secara bahasa (etimologi) berarti : menahan.
Menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.

Dasar wajib puasa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (Al-Baqoroh 183)

Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyyah.

Hikmah puasa : menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, memberikan pelajaran bagi si kaya untuk merasakan lapar sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin, dan menjaga dari maksiat.

Syarat sah puasa:

  1. Islam
  2. Berakal
  3. Bersih dari haid dan nifas
  4. waktu diperbolehkan untuk berpuasa.

Berarti tidak sah puasa orang kafir, orang gila walaupun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa di waktu yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq.
Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar maka puasanya tetap sah dengan syarat telah niat, sekalipun belum mandi sampai pagi.

 

 

Syarat wajib puasa:
1.  Islam
Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun di akhirat mereka tetap dituntut dan diadzab karena meninggalkan puasa selain diadzab karena kekafirannya.
Sedangkan orang murtad tetap wajib puasa dan mengqodho’ kewajiban-kewajiban yang ditinggalkannya selama murtad.

2.  Mukallaf (baligh dan berakal).
Anak yang belum baligh atau orang gila tidak wajib puasa, namun orang tua wajib menyuruh anaknya berpuasa pada usia 7 tahun jika telah mampu dan wajib memukulnya jika meninggalkan puasa pada usia 10 tahun.

3.  Mampu mengerjakan puasa (bukan orang lansia atau orang sakit).
Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah yaitu satu mud (7,5 ons) makanan pokok untuk setiap harinya.

4 . Mukim (bukan musafir sejauh ± 82 km dan keluar dari batas daerahnya sebelum fajar).

 

 

Rukun-rukun puasa:
1. Niat,
Niat untuk puasa wajib, mulai terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar di setiap harinya.
Sedangkan niat untuk puasa sunnah, sampai tergelincirnya matahari (waktu duhur) dengan syarat:

  • diniatkan sebelum masuk waktu dhuhur
  • tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan lain-lain sebelum niat.

Niat puasa Ramadhan yang sempurna:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هذِهِ السَّنَة ِللهِ تَعَالَى
Saya niat mengerjakan kewajiban puasa bulan Ramadhan esok hari pada tahun ini karena Allah SWT.
2.  Menghindari perkara yang membatalkan puasa. Kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolerir oleh syari’at (jahil ma’dzur).
Jahil ma’dzur/kebodohan yang ditolerir syariat ada dua:

  • hidup jauh dari ulama’.
  • baru masuk Islam.

 

Hal-hal yang membatalkan puasa :

  1. Masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka yang tembus ke bagian dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan lain-lain jika ada unsur kesengajaan, mengetahui keharamannya dan atas kehendak sendiri. Namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolerir atau dipaksa, maka puasanya tetap sah.
  2. Murtad, sekalipun masuk islam seketika.
  3.  Haid, nifas dan melahirkan sekalipun sebentar.
  4. Gila meskipun sebentar.
  5. Pingsan dan mabuk sehari penuh. Jika masih ada kesadaran sekalipun sebentar, tetap sah.
  6. Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.
  7. Mengeluarkan mani dengan sengaja, seperti dengan tangan atau dengan menyentuh istrinya tanpa penghalang.
  8. Muntah dengan sengaja.

 

Masalah masalah yang berkaitan dengan puasa:
1.   Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodhoi puasa serta wajib membayar kaffaroh [denda] yaitu:

  • membebaskan budak perempuan yang islam
  • jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut turut,
  • jika tidak mampu maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (7,5 ons) dari makanan pokok. Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki laki.

2.   Hukum menelan dahak :

  • Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasa.
  • Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasa.

Yang dimaksud batas luar menurut pendapat Imam Nawawi (mu’tamad) adalah makhroj huruf kha’ (ح), dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama’ batas luar adalah makhroj huruf kho’(خ), dan di bawahnya adalah batas dalam.

3.  Menelan ludah tidak membatalkan puasa dengan syarat:

  • Murni (tidak tercampur benda lain)
  • Suci
  • Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan mulut, sedangkan menelan ludah yang berada pada bibir luar membatalkan puasa karena sudah di luar mulut.

4.   Hukum masuknya air mandi ke dalam rongga dengan tanpa sengaja:

  • Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum’at atau mandi wajib seperti mandi janabat maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau menyelam.
  • Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.

5.   Hukum air kumur yang tertelan tanpa sengaja:

  • Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu’ tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh)
  • Jika berkumur biasa, bukan untuk kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.

6.   Orang yang muntah atau mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci.
Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya terlebih dahulu maka puasanya batal sekalipun ludahnya nampak bersih.

7.   Orang yang sengaja membatalkan puasanya atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (seperti orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodhoi puasanya.

8.   Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:

  • Wajib qodho’ dan membayar denda :
    • Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.
    • Mengakhirkan qodho’ hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada udzur.
  • Wajib qodho’ tanpa denda.
    • Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari, orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima’ (bersetubuh) dan perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.
  • Wajib denda tanpa qodho’.
    • Berlaku bagi orang lanjut usia dan orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, jika keduanya tidak mampu berpuasa.
  • Tidak wajib qodho’ dan tidak wajib denda.
    • Berlaku bagi orang yang gila tanpa disengaja.

Yang dimaksud denda di sini adalah 1 mud (7,5 ons) makanan pokok daerah setempat untuk setiap harinya.

 

Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa Ramadhan:

  1. Menyegerakan berbuka puasa.
  2. Sahur, sekalipun dengan seteguk air.
  3. Mengakhirkan sahur, dimulai dari tengah malam.
  4. Berbuka dengan kurma. Disunnahkan dengan bilangan ganjil. Bila tak ada kurma, maka air zam-zam. Bila tak ada, cukup dengan air putih. Bila tak ada, dengan apa saja yang berasa manis alami. Bila tak ada juga, berbuka dengan makanan atau minuman yang diberi pemanis.
  5.  Membaca doa berbuka yaitu:
    • للّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ .اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ اَللّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَ لِي .
  6. Memberi makanan berbuka kepada orang berpuasa.
  7. Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.
  8. Mandi setiap malam di bulan Ramadhan.
  9.  Menekuni sholat tarawih dan witir.
  10. Memperbanyak bacaan Al Quran dengan berusaha memahami artinya.
  11. Memperbanyak amalan sunnah dan amal sholeh.
  12. Meninggalkan caci maki.
  13. Berusaha makan dari yang halal
  14. Bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, dan lain-lain.

 

Hal-hal yang dimakruhkan dalam puasa Ramadhan:

  1. Mencicipi makanan.
  2. Bekam [mengeluarkan darah.
  3. Banyak tidur dan terlalu kenyang.
  4. Mandi dengan menyelam.
  5. Memakai siwak setelah masuk waktu duhur.

 

Hal hal yang membatalkan pahala puasa:

  1. Ghibah (gosip)
  2. Adu domba
  3. Berbohong
  4. Memandang dengan syahwat
  5. Sumpah palsu.
  6. Berkata jorok atau jelek

Rasulullah SAW bersabda :
خمس يفطّرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة
“ Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa : berbohong, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “ (H.R. Anas)

AWSOM Powered