Category: Sejarah

Melacak Jejak Nasab Rasulullah

Posted by admin - 16 Maret 2017 - Sejarah
0
Monogram Silsilah Keturunan Iman Husein

Oleh : Fuji Eka Permana

Keturunan Nabi Muhammad SAW hadir di Indonesia sejak abad ke – 14 dengan tujuan utama berdakwah.

Di kalangan umat islam, terdapat sebagian orang yang disebut sebagai alawiyin. Siapakah mereka? Alawiyin adalah sebutan bagi kaum atau sekelompok orang yang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad.

Saat ini kaum alawiyin telah memiliki banyak keturunan dan tersebar di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia, penelitian tentang autentisitas keturunan (nasab) alawiyin diatur oleh suatu organisasi yang bernama Rabithah Alawiyah.

Sejarah pencatatan nasab alawiyin dimulai pada abad ke-15 oleh Syekh Ali bin Abubakar As-Sakran. Pencatatan nasab alawiyin juga dilakukan oleh Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dengan bantuan pendanaan dari raja-raja India. Beliau memerintahkan untuk melakukan pencatatan alawiyin di Hadramaut, Yaman, pada abad 17.

Pada akhir abad ke-18, Sayid Ali bin Syekh bin Muhammad bin Ali bin Shihab juga melakukan pencatatan alawiyin. Hasil pencatatan itu terkompilasi dalam buku nasab sebanyak 18 jilid. Pencatatan nasab paling akhir dilakukan oleh mufti Hadramaut, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur pada akhir abad 19 yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Sayid Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur. Hasil pencatatan mereka terkumpul dalam tujuh buku nasab dari Hadramaut.

Ketika Habib Alwi bin Thahir Alhaddad mendirikan organisasi Rabithah Alawiyah, beliau berinisiatif melakukan pencatatan alawiyin yang ada di Indonesia. Berangkat dari inisiatif itu, kemudian Rabithah Alawiyah membentuk Maktab Daimi pada 10 Maret 1932.

Maktab Daimi merupakan lembaga otonom yang mempunyai tugas memelihara sejarah dan silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Harapannya, sejarah dan silsilah alawiyin tetap terjaga dan lesstari. Dalam menjalankan tugasnya, Maktab Daimi mempunyai metode khusus untuk mengetahui nasab seseorang, yakni apakah orang tersebut masih garis keturunan Nabi Muhammad SAW atau bukan.

Ketua Maktab Daimi Rabithah Alawiyah, Ustadz Ahmad bin Muhammad Alatas mengatakan, setiap orang yang ingin mengetahui silsilah nasabnya harus mengajukan permohonan kepada Maktab Daimi. Pemohon harus mengisi formulir yang sudah tersedia. Pemohon juga harus menyebutkan silsilah nasabnya sampai kakek kelimanya.

“Setelah dicatat dengan benar (nama kakeknya), kita akan mengecek pada buku-buku besar (buku silsilah nasab) yang kita miliki,” kata Ustadz Ahmad kepada Republika, Rabu (8/3).

Jika nama-nama kakek si pemohon ada di dalam buku nasab, maka pihak Maktab Daimi akan meminta pemohon mengajukan saksi yang menyatakan bahwa pemohon benar-benar berasal dari suku atau marga alawiyin.

Namun sebaliknya, jika nama kakek yang dituliskan si pemohon tidak ada di buku silsilah nasab yang menjadi rujukan Maktab Daimi, Maktab Daimi akan menggunakan metode lain.

Maktab Daimi akan meminta data-data silsilah kakek si pemohon yang berurutan dan valid sampai kakek si pemohon ada di buku silsilah nasab. Ia mencontohkan, misalkan pemohon menuliskan silsilah kakeknya sampai kakek kelimanya. Tapi, ada empat nama kakeknya yang tidak terdaftar di buku silsilah nasab Maktab Daimi. Maka, empat nama kakeknya tersebut harus dibuktikan dengan data yang valid seperti dengan kartu keluarga, surat pernikahan, paspor, dan surat jual beli. “Yang mana semuanya itu akan menyebutkan nama ayahnya, sehingga akan berkesinambungan kepada silsilah yang ada di buku ini (silsilah nasab),” ujarnya.

Metode seperti itu, menurut Ustadz Ahmad, dibuat guna menghindari orang-orang yang ingin memalsukan nasabnya.

Ia menerangkan, buku silsilah nasab yang digunakan Maktab Daimi awalnya berasal dari dua buku. Pertama, buku dari Hadramaut yang dibuat oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur pada akhir abad 19. Buku itu kemudian diserahkan kepada Habib Alwi bin Thahir Alhaddad di Indonesia. Namun, buku itu hanya memuat nama-nama alawiyin yang lahir di Yaman.

Kemudian, ketua Maktab Daimi yang pertama, Alhabib Ali bin Ja’far Assegaf, mengembangkan buku pertama yang berasal dari Hadramaut tersebut. Maka pada 1930-1940 dimulailah pendataan para sayyid di seluruh Indonesia. Hasilnya, terkumpul data nasab sebanyak tujuh jilid buku yang dihimpun oleh Alhabib Ali bin Ja’far Assegaf.

“Jadi Alhabib Ali bin Ja’far Assegaf meneruskan nasab yang ditulis oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur yang dari Hadramaut,” jelasnya.

Kemudian, buku nasab hasil pendataan Alhabib Ali bin Ja’far Assegaf dipadukan dengan buku nasab dari Hadramaut. Hasilnya jadi 15 jilid buku nasab. Buku itu sekarang menjadi rujukan Maktab Daimi untuk menelusuri nasab seseorang.

Menurut Ustadz Ahmad, di dunia ini hanya ada 15 jilid buku yang memuat nasab Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Buku silsilah nasab sebanyak 15 jilid itu kemudian dibagikan ke Surabaya, Pekalongan, dan Palembang karena di sana banyak alawiyin.

“Dari 15 jilid buku tersebut, ada juga yang dipinjam sampai di Madinah dan digunakan di Jeddah. Boleh dikatakan buku nasab hasil perpaduan buku nasab dari Hadramaut dan Indonesia itu lebih lengkap secara keseluruhan dibanding buku nasab yang lain,” papar Ustadz Ahmad.

Jejak para sayyid

Menurut catatan yang ada saat ini, keturunan Nabi Muhammad SAW atau para sayyid dating ke Indonesia sejak abad 14. Mereka datang secara bergelombang. Ada yang ke Aceh, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah-daerah lainnya. Di antara para sayyid itu, ada yang sekarang dikenal sebagai Wali Songo.

“Tujuan para sayyid datang ke Indonesia untuk berdakwah melalui perdagangan. Dengan cara berdagang bias membaur dengan masyarakat, setelah itu berdakwah,” ujarnya.

Para sayyid memang banyak yang berasal dari Yaman. Dari Yaman, mereka hijrah ke India. Lalu, dari negeri Hindustan itu, mereka hijrah lagi ke kawasan Asia Tenggara seperti Kamboja, Thailand, dan Indonesia.

“Itu yang diseut dari Gujarat. Jadi, Gujarat adalah wilayah besar di India, mereka itu berasal dari Yaman, bukan keturunan orang India,” terang Ustadz Ahmad.

Di India, para sayyid banyak bermukim di wilayah Hyderabad dan Kerala. Di Hyderabad, terdapat sekitar 38 marga yang bertaliandengan garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Di Kerala, terdapat 20 marga, sementara di Indonesia ada 68 marga yang bertalian dengan garis keturunan Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Lantas, apa manfaatnya mengenal nasab? Bagi para sayyid, menurut ustadz Ahmad, hal itu bermanfaat untuk mengetahui asal usul atau silsilah keluarga mereka. Harapannya, mereka dapat mencontoh dan mengikuti kepribadian, akhlak, dan sifat Nabi Muhammad SAW yang sangat mulia.

“Untuk apa kalau nasabnya bagus tapi perilaku dan akhlak nya tidak sesuai (dengan Nabi Muhammad SAW)? Maka akan sangat disayangkan sekali.” ▪ed: wachidah handasah

Sumber: Republika, 13 Maret 2017, Halaman 17.

Kisah Keturunan Arab di Condet, Hadramautnya Jakarta

Posted by admin - 25 Mei 2016 - Sejarah
7
Condet

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Pekojan dan Krukut, keduanya di Jakarta Barat, sudah tidak lagi menyandang sebutan kampung Arab. Kedua daerah itu tergantikan perannya oleh Condet di Jakarta Timur. Kampung yang luasnya 450 hektare atau setengah dari Lapangan Monas ini memiliki tiga kelurahan.

Nama Condet berasal dari nama sebuah anak Sungai Ciliwung, yaitu Ci Ondet. Ondet atau ondeh-ondeh adalah nama pohon yang nama ilmiahnya Antidesma diandrumsemacam pohon buni yang buahnya biasa dimakan.

Data tertulis pertama tentang Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeeck sebelum menjadi gubernur jenderal VOC. Pada 24 September 1709, dia dan rombongan berjalan melalui anak sungai Ci Ondet. Dimulai dari Parung, Ratujaya, Depok, Srengseng, kemudian ke Tji Ondet (De Haan 1911:320).

Condet pernah akan dijadikan Cagar Budaya Betawi oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1977. Karena, kala itu 90 persen penduduknya Betawi asli dan keadaan alamnya yang masih utuh, kaya akan seni budaya serta kegiatan dalam bidang spiritual.

Suasana Condet yang Mirip Hadramaut

Memasuki Condet dari Cililitan, kita akan mendapati tempat pengajian yang sudah berusia puluhan tahun: Al-Hawi yang terletak di Jalan Condet Raya. Di seberangnya terdapat pemakaman yang cukup banyak diziarahi karena yang dimakamkan beberapa tokoh Habib terkenal.

Ada yang mengatakan, Jalan Raya Condet di sekitar Al-Hazi yang merupakan sumber kemacetan tidak diperlebar. Alasannya takut majelis taklim dan pemakaman akan tergusur.

Masih di Jalan Condet Raya, kita akan dapati toko-toko yang menjual obat-obatan khas Timur Tengah seperti habbatus sauda atau jinten hitam. Obat yang kini banyak diminati di Jakarta ini diimpor langsung dari Arab Saudi.

Di dekatnya terdapat belasan toko yang menjual busana Muslim. Tidak lupa di sini juga dijual foto para habib dan ulama, termasuk ulama dari Hadramaut. Di Condet Raya memang suasananya mirip Hadramaut dalam arti toko-toko diberi nama Sewun, Al Mukalla, dan Tarim.

Tokok Minyak Wangi di Condet

Restoran Puas dengan martabaknya dikelola oleh Sadik Assegaff, berdekatan dengan sate Tegal Abi Salim. Keduanya menjajakan nasi kebuli yang pembelinya dari berbagai tempat di Jakarta.

Satu deretan di kiri kanannya terdapat belasan toko minyak wangi yang rata-rata buka hingga pukul 22.00 WIB.

Selama empat tahun tinggal di Condet, saya merasakan makin banyaknya pedagang dan toko minyak wangi. Ada yang mengatakan banyaknya warga keturunan Arab bermukim di Condet sejak Habib Umar bin Hud Alatas tinggal dan membuka pengajian di sini. Saya teringat ketika ia meninggal dunia Jalan Condet Raya menjadi lautan manusia.

Kebiasaannya menyelenggarakan Maulid Nabi di kediamannya tiap Kamis malam. Kebiasaan ini banyak diikuti warga Condet. Tidak heran acara Maulud berlangsung hingga dua sampai tiga bulan di mushala dan masjid.

Pergaulan Bebas Gerus Condet

Bicara soal Condet kurang afdol jika tidak membicarakan makanan khas Condet maupun yang dijual para pendatang, seperti kue kamir dan roti maryam yang banyak dijajakan jamaah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mereka juga banyak bergerak dalam bidang pengiriman TKW. Terdapat belasan tempat penampungan TKW di Condet.

Ran Ramelan dalam buku Condet Cagar Budaya Betawi menulis: Pergaulan bebas antara wanita dan pria asing di Condet tidak dikenal. Bahkan, tamu pria hampir tak pernah ditemui atau ditemani nyonya rumah.

Tentu saja di era globalisasi sekarang ini pergaulan bebas sudah mulai terlihat. Apalagi di sekitarnya terdapat pusat perbelanjaan PGC dan Carrefour.

Semarak Condet di Bulan Ramadhan

Di samping merayakan Maulid Nabi, perayaan lain yang mereka tekuni adalah Idul Fitri, 1 Asyura, 10 Asyura, Nisfu Sya’ban, dan tidak ketinggalan hari “Nuju Bulan” bagi istri yang hamil pertama kali.

Yang patut diacungi jempol di Condet adalah saat bulan puasa. Orang-orang tua selesai tarawih terus tadarusan dan membawa kitab Alquran hingga tamat tiga kali dalam bulan puasa. Prinsip mereka mencari 11 bulan untuk berubah selama sebulan.

sumber: di sini

foto: di sini

Mengenal Mazhab Leluhur Bani Alawi

Posted by admin - 13 Maret 2015 - Sejarah
9

Oleh: Kholili Hasib

Inpasonline.com-Bani Alawi merupakan keturunan Ahlul Bait yang nasabnya bersambung kepada Ali bin Abi Thalib. Secara khusus digunakan untuk menyebut anak-cucu Rasulullah Saw yang berasal dari Sayid Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Sayid Alwi ini adalah orang pertama dari keturunan Ahlul Bait yang lahir dan besar di Hadramaut Yaman (Novel bin Muhammad Alaydrus, Jalan nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi, hal. 23). Sehingga mereka disebut bani Alawi.

Leluhur para penyebar agama Islam yang tergabung dalam Walisongo merupakan keturunan Arab dari kalangan bani Alawiyyin (habaib) ini. Jamaluddin al-Husein, kakek dari Maulana Malik Ibrahim misalnya adalah seorang keturunan Arab dari bani Alawiyyin yang lahir di India. Ia memiliki garis keturunan dari Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir, imigran asal Irak yang menetap di Hadramaut Yaman, keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Jamaluddin al-Husein bukan dari etnis India, leluhurnya bernama Abdul Malik, berasal dari Hadramaut tapi hijrah ke India untuk berdakwah. Ia menetap di wilayah Koromandel India dan pernah berdiri sebuah kerajaan yang didirikan oleh keturunan Abdul Malik. Namun, penduduknya banyak yang berpindah ke Champa karena kalah dalam suatu peperangan (Idrus Alwi al-Masyhur,Membongkar Kebohongan Sejarah dan Silsilah Keturunan Nabi Saw di Indonesia, hal. 158).

Jamaluddin al-Husein ini mempunya tiga anak laki-laki yang keturunannya menjadi pendakwah. Mereka adalah Sayid Barakat Zainal Alam, Ibrahim al-Akbar dan Ali Nurul Alam. Barakat Zainal Alam menetap di Gujarat India dan memiliki anak bernama Maulana Malik Ibrahim, salah satu Walisongo. Sedangkan Ibrahim al-Akbar merupakan kakek dari Sunan Ampel.

Asal-muasal Walisongo berasal dari bani Alawiyyin Hadramaut bahkan diakui banyak sejarawan, termasuk seorang orientalis Belanda, Van den Berg. Seperti dikutip oleh Habib Alwi bin Thohir al-Haddad: “Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam adalah dari orang-orang sayyid syarif (bani Alawiyin). Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar di antara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain dari Hadramaut (yang bukan golongan sayid), tetapi meeka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka kaum sayid adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad Saw) (Alwi bin Thahir al-Haddad,Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, hal. 52).

Salah satu ciri keturunan sayid ini adalah kekuatan menjaga tradisi keagamaan secara turun-temurun. Mereka cenderung lebih mengamalkan ajaran dan jejak nenek moyangnya, daripada ajaran baru. Nenek moyang yang dianut ajaranya adalah Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir. Dan juru bicara yang disebut-sebut tokoh sentralnya adalah habib Abdullah al-Haddad. Keduanya secara akidah menganut madzhab Asy’ari, fikih mengikuti imam Syafi’i dan tasawufnya mengikut imam al-Ghazali.

Habib Ali bin Abu Bakar al-Sakran mengatakan: “Adapun anak cucu Imam Syihabuddin Ahmad bin Isa al-Muhajir yang tiba di Hadramaut dan kemudian tinggal di Tarim Yaman, mereka adalah asyraf yang Sunni” (Novel bin Muhammad Alaydrus, Jalan nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi, hal.47).

Akidah Ahlussunnah dijelaskan oleh Habib Abdullah al-Haddad dalam kitabnya Risalah al-Mu’awanah. Beliau mengatakan bahwa firqah al-najiyah (kelompok yang selamat) adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam kitab tersebut dinyatakan juga bahwa akidah bani Alawi secara turun temurun adalah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dia menulis: “Perbaiki dan luruskanlah akidahmu dengan berpegang pada manhaj al-firqah al-najiyah (golongan yang selamat) yang dalam Islam dikenal dengan nama Ahlussunnah wal Jama’ah. Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh pada ajaran Rasulullah Saw dan para Sahabatnya. Jika kamu teliti al-Qur’an dan al-Sunnah – yang berisi ilmu-ilmu keimanan – dengan pemahaman yang benar dan hati yang bersih, serta kamu pelajari perjalanan hidup para salaf yang soleh dari kalangan Sahabat dan tabi’in, maka kamu akan mengetahui secara yakin bahwa kebenaran ada pada golongan al-Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari. Beliau telah menyusun akidah ahlil haq beserta dalil-dalilnya. Itulah akidah yang diakui oleh para Sahabat dan tabi’in. itulah akidah seluruh kaum sufi, sebagaimana disebutkan oleh Abul Qasim al-Qusyairi pada bagian awal bukunya, al-Risalah.

Alhamdulillah, itulah akidah kami dan saudara-saudara kami para Sadah al-Husaini yang dikenal dengan sebutan bani Alawi. Itulah juga akidah salaf kami, mulai dari zaman Rasulullah Saw hingga saat ini.

Dalam bidang fikih leluhur bani Alawi menganut madzhab Syafi’i. Sayid Ahmad bin Isa dikenal berjasa menyebarkan madzhab Syafi’i di Hadramaut. Ketika sampai di negeri Hadramaut Ahmad bin Isa dikatan beliau menyebarluaskan madzhab Syafii. Hal ini diakui oleh habib Abu Bakar al-Adni bin Abdullah al-Aidarus yang menyatakan: “Madzhab kami dalam furu’ adalah madzhab Syafi’i, dalam usul adalah madzhab guru kami imam al-Asy’ari dan thariqah kami adalah thariqahnya para sufi (Novel bin Muhammad Alaydrus, Jalan nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi, hal.73).

Tradisi keagamaan mereka cenderung kepada tasawuf dengan menganut thariqah sufiyah yang bernama thariqah Alawiyah. Salah seorang tokoh Bani Alawi, Idrus bin Umar al-Habsyi menjelaskan tentang tariqah ini. Ia mengatakan: “Ketahuliah, sesungguhnya tariqah anak cucu Nabi Saw dari keluarga Abi Alawi merupakah salah satu tariqah sufi yang dasarnya ittiba’ (mengikuti) al-Qur’an dan al-Sunnah. Sedangkan bagian utamanya (ra’suha) adalah sidqul iftiqar (benar-benar merasa butuh kepada Allah Swt) dan syuhudul minnah(kesaksian bahwa semuanya adalah karunia Allah semata).

Tariqah ini tidak lebih sebuah metode, sistem atau cara tertentu yang digunakan oleh Bani Alawi menuju kepada kedekatan kepada Allah Swt, yang diwarisi dari leluhurnya secara turun-temurun.

Secara umum ajaran tariqah ini ialah menekankan adanya hubungan dengan seorang syaikh (guru pembimbing dalam ibadah), perhatian secara seksama dengan ajarannya, dan membina batin (dengan ibadah). Selain itu, tariqah ini juga menekankan pentingnya amal, dan untuk itu, dibutuhkan suatu tariqah yang ajarannya mudah dilakukan dan dipahami oleh masyarakat awam.
Tariqah ini tidak terlalu ketat seperti halnya tariqah sufi lainnya. Misalnya, tidak ada aturan khusus untuk mengamalkan suatu wirid. Misalnya, tidak ada bai’ah untuk mengamalkannya. Terlihat bahwa tariqah Bani Alawi tidak lebih merupakan suatu tradisi amalan yang diwarisi secara turun-temurun.

Hal yang perlu kita perhatikan dalam tariqah ini adalah upaya preventif dalam menjaga akidah Ahlussunnah. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, tokoh utama Bani Alawi menjelaskan: “Wajib atasmu memperindah akidahmu, memperbaiki dan menguatkannya sesuai dengan metode firqah al-najiyah (kelompok yang selamat), yaitu kelompok yang dikenal di kalangan seluruh kelompok Islam dengan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka adalah orang-orang yang berpegang sesuai apa yang dipegang oleh Rasulullah Saw dan para Sahabat beliau”.

Dalam salah satu wasiatnya, Habib Abdullah al-Haddad mengatakan: “Akidah kami adalah akidah Asy’ariyah. Madzhab kami adalah Syafi’iyah. Sesuai dengan Kitabullah dan al-Sunnah”.

Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus (wafat tahun 856 H) dalam kitabnya al-Kibritul Ahmar menulis satu bab khusus tentang akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam Tasbitul Fuad I/227 cukup tegas lugas menolak akidah Syiah. Ia menyebut Syiah sebagai golongan orang-orang ahli batil. Dalam segala hal pendapat-pendapat mereka (Syiah) tidak dapat diambil.

Secara khusus dan lebih terperinci informasi tentang ajaran-ajaran akidah tariqah Bani Alawi dijelaskan oleh Ali bin Abu Bakar al-Sakran. Ia mengatakan: “Duhai saudaraku, jauhilah bid’ah dan para pelakunya. Tinggalkan dan singkirkan segala bid’ah. Berpalinglah dari para pelakunya dan jangan bergaul dengan mereka. Ketauhilah, sumber bid’ah di dalam akidah adah tujuh, sebagaimana telah disebutkan oleh para ulama yaitu; Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij, Murji’ah, Najjariyah, Jabariyah dan Musyabihah” (Ali bin Abu Bakar al-Sakran, Ma’arij Hidayah,sebagaimana dinukil oleh Novel Alaydrus dalam Jalan nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi, hal. 52).

Bid’ah-bid’ah akidah tersebut oleh Habib Abdullah al-Haddad disebut merupakan ajaran kedurhakaan yang sangat kronis. Ia mengatakan: “Sebagaimana diberitahukan kepada kami, telah muncul sikap secara terang-terangan membencu kedua tokoh –Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar al-Faruq. Mereka berakidah Rafidhah yang tercela, baik atau dasar syariat maupun akal sehat. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ini adalah kedurhakaan yang serius dan kelalaian yang kronis” (Alwi bin Thahir al-Haddad, Uqudul Ilmas, Wali, Karomah dan Thariqah, hal. 216).

Dalam kitabnya itu, Uqudul Ilmas, Alwi bin Thahir membahas dengan agak luas dasar-dasar akidah Bani Alawiyah sejak nenek moyang mereka hingga pada era dia.

Karena tantangan bid’ah tersebut yang meluas, para tokoh Bani Alawiyah dalam tariqahnya menekankan pembentengan akidah Asy’ari. Dan mengeluarkan fatwa-fatwa penting sebagai bahan tarbiyah tariqah Bani Alawiyah.

Salah satunya dilakukan oleh Habib Abdullah al-Haddad. Ia menyusun sebuah wirid, bernama Ratib al-Haddad. Uniknya, wirid ini dibaca untuk membentengi penganut tariqah dari fitnah-fitnah aliran sesat. Terutama Rafidhah. Dalam Syarah Ratib al-Haddad dijelaskan:
“Ratib ini disusun oleh Habib Abdullah al-Haddad ketika beliau mendengar masuknya faham Syiah Zaidiyah ke Hadramaut. Beliau khawatir Syiah ini akan merubah akidah kaum awam. Maka, pada malam 17 Ramadhan tahun 1071 H beliau susun ratib ini. Malam itu merupakan malam lailatul qadar. Sebagaimana disebutkan oleh murid beliau al-Ahsha’i. dalam ratib ini al-Haddad menyebutkan ‘al-khairu wa syarru bi masyi’atillah, (kebaikan dan keburukan itu terjadi atas kehendak Allah). Kalimat ini sengaja beliau cantumkan dalam ratib tersebut untuk menolak paham Qadariyah yang dianut oleh orang yang suka berbuat bid’ah akidah dan semua kaum Syiah Zaidiyah” (Alwi bin Ahmad al-Haddad,Syarh Ratib al-Haddad, hal. 258).

Tidak ditemukan data-data sejarah yang bisa dipercaya bahwa Bani Alawi yang hijrah ke kepulauan Nusantara adalah Syiah, sebagaimana pernah diklaim Syiah. Adapun teori-teori dari sejarawan Syiah, sifatnya baru spekulatif. Tidak dipungkiri terdapat pedagang beraliran Syiah yang mendarat di Nusantara. Tapi jumlah mereka sangat sedikit. Sehingga masyarakat tidak banyak yang terpengaruh.

Syiah sendiri sebetulnya tidak memiliki sanad kepada para keturunan Ahlul Bait ini. Para ulama Sunni yang memiliki sanad kepada pembesar Ahlul Bait. Para imam dari ulama Ahlussunnah misalnya pernah berguru kepada Ja’far al-Shadiq yang juga berakidah Ahlussunnah. Sedangkan ulama Sunni Nusantara juga memiliki jalur sanad kepada keturunan Ja’far al-Shadiq di Hadramaut. Jalur sanad Syiah hanya ke Iran, yang notabene bukan negeri yang banyak dihuni keturunan Ahlul Bait. Para tokoh habaib kontemporer menunjuk Hadramaut sebagai negeri Sunni yang sangat ketat menjaga tradisi Ahlul Bait. Mereka tidak pernah menunjuk Iran, karena budaya Iran adalah bangsa Persia yang tradisi keagamaannya tidak memiliki ‘isnad’ kepada Ahlul Bait.

Sumber: di sini

Cina Town – Arab Town

Posted by admin - 16 November 2013 - Sejarah
0
Masjid Langgar Tinggi Pekojan

Jakarta masih lebih muda dibandingkan Beijing (kl 300 tahun SM), dan Hanoi (abad ke-7 Masehi). Akan tetapi, jika dibandingkan dengan ibukota lain di Asia Tenggara, sejarah Jakarta lebih panjang. Bangkok, misalnya, didirikan pada 1769.

Jakarta juga lebih tua dibanding Sydney (1788). Bahkan, James Cook sebelum menemukan Australia kapalnya mengalami perbaikan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Lalu bagaimana dengan Singapura. Kota jasa terkemuka ini baru dibangun Raffles pada 1819 ketika masih bernama Temasek, sebuah kampung nelayan. Demikian pula dengan Kuala Lumpur pada awal abad ke-19.

Untuk menyambut ulang tahun kota Jakarta, kita akan mendatangi tempat-tempat awal berdirinya kota itu. Kita mulai dari bekas gedung Stadhuis (balai kota Batavia), yang kini menjadi Museum Sejarah DKI Jakarta. Gedung ini dibangun tahun 1620 oleh VOC pada masa Gubernur Jenderal JP Coen. Bangunan sekarang yang pernah dikagumi Ratu Elizabeth dari Inggris, ketika mengunjunginya, adalah hasil renovasi tahun 1710 pada masa pemerintahan Van Hoorn.

Pangeran Diponegoro, Untung Surapati, dan playboy Oey Tambahsia, pernah ‘menginap’ di balai kota Batavia. Yang terakhir bahkan dihukum pancung di Stadhuis Plein depan museum Jakarta yang ketika itu berupa alun-alun. Konon, Bang Puase yang dituduh membunuh Nyai Dasima juga dipancung di sini.

Di lantai dua museum tersebut kini masih ditemukan ‘pedang keadilan’. Entah berapa banyak terhukum yang kepalanya berpisah dari badannya melalui pedang tersebut. Dahulu, alun-alun itu sangat luas hingga ke dekat Kota Inten dk Pasar Ikan. Saat eksekusi sebuah mimbar disiapkan, dan masyarakat luas diminta untuk menyaksikannya.

Dari Balai Kota menyeberang Jl Pintu Besar Utara kita menuju Jl Kalibesar Timur. Di depan gedung PT Cipta Niaga terletak Gedung Kota Bawah milik seorang ibu yang akrab dipanggil Ella Ubaidi. Gedung ini dibangun kira-kira pada awal abad ke-20. Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan era tumbuhnya liberalisme di berbagai bidang. Pada masa itu Kali Besar merupakan kawasan yang ramai karena letaknya di dalam benteng (Binnenstadt).

Kemudian kita beralih ke luar benteng Batavia. Setelah melawati Glodok pusat perdagangan bergengsi selama lebih dari tiga abad kita lebih mendalam lagi memasuki China Town. Di sini terdapat kawasan Patekoan kini Jl Perniagaan. Nama ini punya kaitan dengan Kapiten Cina Gan Djie, seoroang Cina totok yang datang dari Ciang Ciu di bagian selatan propinsi Hokkian.

Seperti juga moyang dari konglomerat Thio Tiong Ham dan Liem Sioe Liong, Gan Djie saat datang ke Indonesia berdagang kelontong di Gresik keluar masuk kampung sambil menenteng pikulan. Hanya dalam beberapa tahun ia menjadi saudagar besar di Gresik. Kemudian ia ke Batavia (1659). Karena dermawan dan suka menolong orang banyak, di tempatnya yang baru ini dia menjadi seorang terkemuka. Dan, pada 1663 ia diangkat menjadi kapiten Cina.

Di depan kediamannya tiap hari dia dan istrinya menyediakan delapan poci teko (pat te koan) berisi air teh untuk orang yang ingin minum. Dari kata inilah berasal nama Patekoan salah satu pusat perdaqgangan di China Town. Dari sini, hanya dalam waktu 20 menit berjalan kaki, kita akan memasuki Kampung Arab (Arab Town) Pekojan. Kalau di China Town kita lebih banyak mendapati daerah-daerah perdagangan, di Arab Town (Pekojan) kita masih menjumpai tempat-tempat bersejarah yang punya kaitan dengan pengembangan agama Islam di Nusantara.

Pada tahun 1901 di Pekojan berdiri satu organisasi pendidikan Islam, Jamiat Kheir. Organisasi ini dibangun oleh Shahab bersaudara: Ali dan Idrus, serta Syeikh Said Basandi. Organisasi ini mengundang simpati tokoh-tokoh Islam seperti KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Tjokroaminoto (Syarikat Islam) dan Haji Agus Salim.

Tempat berdirinya Jamiat Kheir kira-kira di Jalan Pekojan Kecil II. Di sini terdapat Masjid Raudah. Di tempat inilah diperkirakan lahirnya ide dari para pemuda Islam untuk mendirikan Jamiat Kheir, tujuh tahun sebelum Budi Utomo. Jamiat Kheir juga ikut menyebarkan gerakan Pan Islam dari Sayid Jamaluddin Afghani, Sheikh Muhammad Abduh dan Sayid Rashid Ridha.

Berdekatan dengan Jl Pekojan Kecil II terdapat Masjid Zawiah, didirikan Habib Ahmad bin Hamzah Alatas yang lahir di Tarim, Hadramaut. Ketika masih mengajar di masjid ini ia menggunakan kitab Fathul Mu’in kitab kuning yang hingga kini masih jadi rujukan di kalamgan Muslim tradisional. Di depannya terdapat Masjid An-Nawir masjid terbesar di Jakarta Barat. Masjid ini dibangun tahun 1760 dan di depannya terdapat ‘jembatan kambing’ dengan pedagang yang sudah empat generasi turun menurun.

Meskipun tradisi penduduk di China Town dan Arab Town bertolak belakang, tapi tidak mengurangi kerukunan mereka sebagai tetangga. Boleh dikata selama ratusan tahun hampir tidak pernah terjadi bentrok antar-kedua keturunan yang berbeda agama itu. Saat bulan Ramadhan, misalnya, warga Cina yang tinggal di Arab Town tidak ada yang merokok atau makan pada siang hari untuk menghormati orang yang berpuasa. Demikian pula pedagang bakso dan bakmi sampai tahun 1960-an tidak ada yang berani lewat Pekojan karena kala itu bakso dibuat dari daging babi. Kerukunan semacam itu yang perlu terus dipertahankan.

Sumber:

Shahab, Alwi. Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia. Jakarta, Buku Republika. 2013

Gaung Pan Islam di Jakarta

Posted by admin - 11 September 2013 - Sejarah
5

Oleh Alwi Shahab

 

Abdullah Zaidan (85 tahun) tak dapat menahan harunya saat bercerita masa lalu Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Air mata kakek belasan cucu ini menetes karena Pekojan yang pada masa kolonial ditetapkan sebagai kampung Arab pada 1950-an ditinggal penghuninya. Mereka hengkang ke kawasan selatan Jakarta.

Kini, mayoritas penghuni Pekojan adalah keturunan Cina. Kawasan yang bersebelahan dengan Glodok ini ikut berkembang sebagai pusat perdagangan di Ibukota. ”Padahal sampai 1940-an, di Pekojan hanya ada tiga keluarga Cina. Di antaranya tukang es dan pemilik warung,” kata sesepuh Pekojan ini. Saat ini, warga keturunan Arab di Pekojan berjumlah 50 hingga 60 kepala keluarga.

Sejumlah gedung dan rumah yang dulu milik jamaah (sebutan untuk keturunan Arab), kini jadi milik baokdeh (istilah Arab untuk keturunan Cina). ”Padahal, dulu tukang bakmi tidak berani lewat Pekojan, takut ditimpuki anak-anak,” papar Abdurahman Alatas (72), sepupu mantan menlu Ali Alatas. Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab. Kala itu, para imigran yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan) ini diwajibkan lebih dulu tinggal di sini.

Baru dari Pekojan mereka menyebar ke berbagai kota dan daerah. Di Pekojan, Belanda pernah mengenakan sistem passen stelsel dan wijken stelsel. Bukan saja menempatkan mereka dalam ghetto-ghetto, tapi juga mengharuskan mereka memiliki pas atau surat jalan bila bepergian ke luar wilayah. Sistem macam ini juga terjadi di Kampung Ampel, Surabaya, dan sejumlah perkampungan Arab lainnya di Nusantara.

Kampung Pekojan boleh dibilang cikal bakal dari sejumlah perkampungan Arab yang kemudian berkembang di Batavia. Dari tempat inilah mereka kemudian menyebar ke Krukut dan Sawah Besar (Jakarta Barat); Jatipetamburan, Tanah Abang, dan Kwitang (Jakarta Pusat); Jatinegara dan Cawang (Jakarta Timur). Umumnya keturunan Arab di Jakarta dulu berasal dari Pekojan. Baru setelah kedaulatan (awal 1950-an), banyak keturunan Arab dari berbagai daerah mengadu nasib ke Jakarta.

Sedangkan keturunan Arab dari Jakarta, seperti juga ‘saudaranya’ warga Betawi, tetap setia di kotanya. Sebelum ditetapkan sebagai kampung Arab, Pekojan merupakan tempat tinggal warga Koja (Muslim India). Sampai kini, masih terdapat Gang Koja yang telah berganti nama jadi Jl Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah masjid kuno Al-Anshsor yang dibangun pada 1648 oleh para Muslim India. Tidak sampai satu kilometer dari tempat ini, masih di Kelurahan Pekojan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pertengahan abad ke-18.

Warga Muslim India yang telah menyebar di Jakarta, setiap Lebaran shalat Id di masjid ini. Sambil bernostalgia mengenang para leluhurnya yang tinggal di kawasan ini. Di Pekojan, sekalipun kini tidak tepat lagi disebut kampung Arab, peninggalan orang Arab ratusan tahun lalu banyak. Misalnya Masjid Langgar Tinggi, dibangun abad ke-18. Masjid ini telah diperluas oleh Syeikh Said Naum, seorang kapiten Arab. Ia memiliki beberapa kapal niaga dan tanah luas di Tanah Abang yang sebagian diwakafkan untuk pekuburan.

Pekuburan ini oleh Ali Sadikin dibongkar dan di atasnya dibangun rumah susun. Di dekat Masjid Langgar Tinggi terdapat Jembatan Kambing. Dinamakan demikian karena sebelum binatang dibawa ke pejagalan (kini Jl Pejagalan), kambing melewati jembatan di Kali Angke ini. Para pedagang di sini sudah berdagang turun-menurun sejak 200 tahun lalu. Di depan pejagalan terdapat Masjid An-Nawier, tempat ibadah terbesar di Pekojan. Menurut Abdullah Zaidan, masjid ini diperluas pada 1920-an oleh Habib Abdullah bin Husein Alaydrus. Ia seorang kaya raya, dan tempat kediamannya diabadikan menjadi Jl Alaydrus, di sebelah kiri Jl Hayam Wuruk.

Ia juga banyak memasok senjata untuk para pejuang Aceh pada Perang Aceh (1873-1903). Masih di kawasan Pekojan, terdapat Masjid Zawiah yang dulu merupakan surau kecil. Masjid ini dibangun Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, yang kemudian memimpin pengajian dan majelis taklim di Empang, Bogor. Beberapa rumah arsitektur Moor (sebutan Muslim India dan Timur Tengah), masih terdapat di sini.

Di Pekojan, pada awal abad ke-20 (1901), berdiri organisasi pendidikan Islam, Jamiatul Kheir, yang dibangun dua bersaudara Shahab, Ali* dan Idrus, di samping Muhammad Al-Mashur dan Syekh Basandid. Menurut buku Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, perkumpulan ini menghasilkan tokoh KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pendiri SI). Jamiatul Kheir mendatangkan Syeikh Ahmad Surkati dari Sudan yang kemudian mendirikan Perguruan Islam Al-Irsyad. Jamiatul Kheir banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah.

Ia ikut menyebarkan gerakan Pan Islam yang dicetuskan Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan punya hubungan korespondensi dengan surat kabar dan majalah di Timur Tengah. Dengan demikian negara-negara tersebut mendapatkan informasi mengenai Indonesia, termasuk kekejaman Belanda. Snock Hurgronye dengan berang menuding Jamiatul Kheir membahayakan Belanda. Tempat-tempat kegiatan Islam yang masih tersisa di Pekojan akan ditinjau dalam wisata kota tua hari ini (Ahad 25/8). Acara ini akan diikuti sekitar 100 orang dari kalangan mahasiswa, sejarawan, dan pers.

REPUBLIKA – Minggu, 25 Agustus 2002

* Beliau adalah Habib Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Shahabuddin, lahir tahun 1860, dari seorang ayah ulama besar di waktunya yang juga seorang pedagang kaya raya, Habib Ahmad bin Muhammad bin Shahabuddin yang tinggal di rumahnya yang luas di bilangan Pekojan. Habib Ali bin Ahmad dikenal dengan julukan Habib Ali Menteng, yang membangun mesjid di jalan Tangkuban Perahu, Menteng, dan pencetus berdirinya sekolah Islam modern pertama di Indonesia, Jamiat Kheir. Akan tetapi, berdasarkan narasi cucu beliau, yaitu Prof. Tariq bin Abdulmuttalib bin Ali bin Ahmad bin Shahabuddin yang disampaikan oleh putranya Chefik bin Thariq, dikarenakan ketegasan beliau (Habib Ali Menteng) dalam melawan kolonialisme Belanda di Nusantara, terutama perjuangan di Aceh, Tasikmalaya dan Cilegon, dan relasi beliau dengan Kesultanan Utsmaniyyah (Otoman) (Turki) dan Syarif Husin dari Hijaz, maka pemerintah kolonial Belanda waktu itu, yaitu di awal berdirinya Jamiat Kheir di tahun 1901, tidak mengeluarkan izin untuk sekolah tersebut, sampai pada akhirnya beliau menyerahkan kepengurusan sekolah tersebut kepada Habib Abubakar bin Ali bin Shahabuddin, yang di masanya pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan surat izin resmi atas sekolah tersebut di tahun 1919. Beliau, Habib Ali bin Ahmad bin Shahabuddin meninggalkan banyak putra dan putri, di antaranya: Abdulmuttalib, Kazhim, Jamal, Anis, Dhia, Asad, Sidah, Budur, Faiq, Zaki, Wardah, dan lain-lain. Yang mana insya Allah kami akan muat biografi lebih lengkap tentang beliau di artikel mendatang. (Penyunting: M. Ghazi Alaidrus).

Sumpah Pemuda Arab

Posted by admin - 11 Juni 2013 - Sejarah
5
Sumpah Pemuda Arab

Sumpah Pemuda Keturunan Arab adalah sumpah yang dilakukan oleh pemuda-pemuda peranakan Arab di Nusantara yang dilakukan pada tahun 1934. Pada tanggal 4-5 Oktober 1934, para pemuda keturunan Arab di Nusantara melakukan kongres di Semarang. Dalam kongres ini mereka bersepakat untuk mengakui Indonesia sebagai tanah air mereka, karena sebelumnya kalangan keturunan Arab berangapan bahwa tanah air mereka adalah negeri-negeri Arab dan senantiasa berorientasi ke Arab. Kongres pemuda keturunan Arab ini jarang diketahui masyarakat karena tidak diajarkan dalam mata pelajaran sejarah di Indonesia. Padahal, sumpah pemuda keturunan arab ini memiliki konsekuensi yang besar bagi diri mereka sebagai keturunan arab dan bagi dukungan perjuangan kemerdekaan di Indonesia.

Latar belakang

Pemerintah Kolonial Belanda membagi 3 strata masyarakat di Nusantara. Kelas paling atas adalah warga kulit putih (Eropa, Amerika, Jepang dll), kelas dua warga Timur Asing (Arab, India, Cina dll) dan kelas tiga adalah pribumi Indonesia. Orang-orang Arab yang hijrah ke Indonesia mayoritas berasal dari Hadramauth, Yaman Selatan. Orang-orang arab yang datang ke Nusantara itu seluruhnya laki-laki dan karena kendala jarak serta karena tradisi arab (wanita tidak ikut bepergian) maka mereka datang tanpa membawa istri atau saudara wanita. Orang-orang arab itu menikah dengan wanita pribumi. Jika orang Eropa menyebut pribumi dengan istilah inlander (bangsa kuli) keturunan Arab menyebut pribumi dengan istilah ahwal, yang artinya saudara ibu. Sebab memang seluruh keturunan Arab pasti ibunya pribumi.

Pada 1 Agustus 1934, Harian Matahari Semarang memuat tulisan AR Baswedan tentang orang-orang Arab. AR Baswedan adalah peranakan Arab asal Ampel Surabaya. Dalam artikel itu terpampang foto AR Baswedan mengenakan blangkon. Dia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku. Artikel yang berjudul “Peranakan Arab dan Totoknya” berisi anjuran tentang pengakuan Indonesia sebagai tanah air. Artikel itu juga memuat penjelasan Baswedan tentang bagaimana sikap nasionalisme yang dianjurkan pada kaumnya. Pokok-pokok pikiran itu antara lain Tanah air Arab peranakan adalah Indonesia; Kultur Arab peranakan adalah kultur Indonesia – Islam; Arab peranakan wajib bekerja untuk tanah air dan masyarakat Indonesia; Perlu didirikan organisasi politik khusus untuk Arab peranakan; Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan perselisihan dalam masyarakat Arab; Jauhi kehidupan menyendiri dan sesuaikan dengan keadaan zaman dan masyarakat Indonesia. Artikel AR Baswedan ini dipilih oleh Majalah Tempo edisi khusus Seabad kebangkitan Nasional (Mei 2008) sebagai salah satu dari 100 tulisan paling berpengaruh dalam sejarah bangsa Indonesia.

Artikel yang menggemparkan itu ditulis AR Baswedan saat dia baru berusia 26 tahun. Karena artikel itu, warga keturunan Arab sempat berang padanya karena memunculkan gagasan merendahkan diri di mata orang-orang Arab pada masa itu. Bukan hanya itu, melalui harian Matahari AR Baswedan secara rutin melontarkan pemikiran-pemikiran tentang pentingnya integrasi, persatuan orang Arab di Indonesia, untuk bersama-sama bangsa Indonesia yang lain memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia. Timbulnya ide mendirikan Partai Arab Indonesia berkaitan erat dengan pengajuan prinsip tanah air Indonesia bagi kaum peranakan Arab. Ide mendirikan Partai Arab Indonesia dengan pengakuannya tentang tanah air bagi peranakan Arab dicetuskan dan dikembangkan serta juga diperjuangkan. AR Baswedan juga aktif menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Untuk itu, AR Baswedan berkeliling ke berbagai kota untuk berpidato dan menyebarkan pandangannya pada kalangan keturunan Arab.

Konferensi Pemuda Keturunan Arab

Pada 4-5 Oktober 1934 para pemuda keturunan Arab dari berbagai kota di Nusantara berkumpul di Semarang. Pada waktu itu masyarakat Arab seluruh Indonesia gempar karena adanya Konferensi Peranakan Arab di Semarang ini. Dalam konferensi PAI di Semarang AR Baswedan pertama-tama mengajukan pertanyaan di mana tanah airnya. Para pemuda yang menghadiri kongres itu mempunyai cita-cita bahwa bangsa Arab Indonesia harus disatukan untuk kemudian berintegrasi penuh ke dalam bangsa Indonesia. Dalam konferensi itu para pemuda Indonesia keturunan Arab membuat sumpah: “Tanah Air kami satu, Indonesia. Dan keturunan Arab harus meninggalkan kehidupan yang menyendiri (isolasi)”. Sumpah ini dikenal dengan Sumpah [Pemuda] Indonesia Keturunan Arab.

Menurut AR Baswedan persatuan adalah modal utama bagi Arab peranakan untuk kemudian bersama-sama kaum pergerakan nasional bersatu melawan penjajah. Sebelumnya kongres itu seluruh keturunan Arab -biarpun mereka yang cerdas dan terkemuka- tidak ada yang mengakui Indonesia sebagai tanah airnya. Mereka berpendapat bahwa tanah airnya adalah di negeri Arab bukan Indonesia. AR Baswedan menjadi pelopor bangkitnya nasionalisme kaum Arab yang awalnya enggan mengakui Indonesia sebagai tanah air. Sejak 4 Oktober 1934 itu keturunan Arab bersatu bersama pergerakan nasional dan meninggalkan identitas ke-Araban, lalu berubah identitas dari semangat kearaban menjadi semangat keIndonesiaan.

Sebuah pengakuan yang jelas bagi keturunan Arab bahwa tanah airnya adalah Indonesia. Ketegasan ini pada awalnya banyak yang menentang. Namun perlahan seruan Kongres ini menggema. Banyak peranakan Arab yang mendukung dan mengikuti pergerakan dan gagasan ini. Gagasan sangat berjasa melahirkan kesadaran Indonesia sebagai tanah air bagi orang Arab. Peranakan Arab pada akhirnya diakui sebagai saudara setanah air. Sejarah mencatat pendirian PAI ini selanjutnya memberi efek besar bagi komunitas Arab di Indonesia. Banyak tokoh-tokohnya ikut berjuang saat itu duduk dalam pemerintahan dan aktif dalam masyarakat Indonesia. Anak dan keturunannya pada masa sekarang juga tidak sedikit yang berkiprah sebagai tokoh nasional.

Isi sumpah

Sumpah Pemuda Keturunan Arab memiliki 3 butir pernyataan yaitu:

  1. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia.
  2. Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri)
  3. Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah-air dan bangsa Indonesia.

Tokoh-tokoh

Sumpah Pemuda Keturunan Arab ini dihadiri oleh tokoh-tokoh pemuda keturunan Arab. Hasil konferensi itu adalah dibentuknya Persatuan Arab Indonesia yang kemudian menjadi Partai Arab Indonesia. Dalam konferensi itu disepakati pengurusan PAI sebagai berikut: AR Baswedan (Ketua), Nuh Alkaf (Penulis I), Salim Maskati (Penulis II), Segaf Assegaf (Bendahara), Abdurrahim Argubi (Komisaris). Tokoh PAI lainnya adalah Hamid Algadri, Ahmad Bahaswan, HMA Alatas, HA Jailani, Hasan Argubi, Hasan Bahmid, A. Bayasut, Syechan Shahab, Husin Bafagih, Ali Assegaf, Ali Basyaib, dll.

 Sumber: Wikipedia dan Alwi Shahab WordPress

Alaydrus Laan dan Perang Aceh

Posted by admin - 17 April 2013 - Sejarah
3
Jalan Alaydrus

Menelusuri jalan Gajah Mada menuju Jakarta Kota kita akan mendapati jalan Alaydrus. Terletak bersebelahan dengan jalan KH Hasyim Asy’ari, jalan alaydrus kini menjadi pusat pertokoan dan perkantoran, yang didominasi knator biro-biro perjalanan. Di sini sudah hampir tidak dijumpai lagi rumah-rumah tempat tinggal, seperti masa kolonial Belanda. Ketika itu jalan ini bernama Alaydrus Laan.

Belanda memberikan nama boulevard untuk jalan raya utama, seperti Oranye Boulevard dan Nassau Boulevard untuk Jalan Imam Bonjol dan Jalan Diponegoro. Jalan raya kelas satu di pusat kota disebut laan atau straat. Jalan lebih kecil disebut weg, sedangkan jalan kecil atau lorong yang tidak dapat dimasuki mobil disebut gang.

Jalan Alaydrus, apa pasalnya sampai jalan ini diberi nama demikian? Jawabnya, karena di tempat ini dulu tinggal Habib Abdullah bin Husein Alaydrus. Bukan hanya itu. Seluruh gedung dan rumah yang ada di jalan ini juga miliknya. Termasuk beberapa buah gedung dan pertokoan di Jalan Gajah Mada. Di Jati Petamburan, Jakarta Pusat, Habib memiliki rumah dan tanah seluas 11,5 hektar. Memasuki Jalan Alaydrus, terdapat beberapa jalan yang pada masa Belanda namanya Husein Laan dan Ismail Laan. Nama kedua putra Habib Abdullah.

Seperti dituturkan oleh menantunya Habib Abubakar Alaydrus (90 tahun), mertuanya (Habib Abdullah bin Husein Alaydrus) memiliki 80 buah gedung di Jalan Alaydrus dan 25 buah gedung di Jalan Gajah Mada. Dari gedung-gedung dan tanah yang disewakan ini, Habib Abdullah mendapatkan penghasilan 12 ribu gulden tiap bulan. Waktu itu harga beras paling mahal hanya tujuh setengah gulden per karung (100kg).

Untuk memperlancar tagihan sewa menyewa rumah dan gedung, ia mendirikan Bouwmatchappij Abdullah bin Husein Alaydrus. Orientalis Belanda LWC van der Berg yang mengadakan penelitian orang-orang Hadramaut di Nusantara (1884 – 1886) menyebutkan, di Batavia hanya empat orang Arab yang penghasilannya di atas 12 ribu gulden per tahun.

Habib Abdullah juga dikenal dermawan. Ketika perang Aceh, pada akhir abad ke-19, ia banyak membantu perjuangan para pahlawan dari Tanah Rencong ini dalam melawan Belanda, dengan cara mengirimkan senjata-senjata yang diselundupkannya dari Singapura. Agar tidak dicurigai Belanda, kapal yang membawa senjata ini ditutupi dengan sayur mayur.

Dia juga dikenal sebagai orang pro-Turki ketika masih dipimpin Ottoman. Tidak heran saat pecah perang dunia pertama, ia banyak memberikan bantuan uang pada Turki. Karena keterlibatannya itu, pihak Inggris – yang menjadi lawan utama Turki dan Jerman – ingin menangkap Habib Abdullah. Guna menghindari kejaran Inggris, ia melarikan diri ke Sumatera.

Ia baru bisa kembali keJakartasetelah diselundupkan lewat sebuah perahu. Ia juga banyak memberikan bantuan untuk memajukan Jamiatul Kheir, pendidikan Islam modern pertama diJakartayang didirikan pada 1901. Ketika diminta bantuannya, ia menyuruh orang mengambil sendiri dari lacinya. Bantuan itu, besarnya 2.100 gulden. Jumlah yang sangat besar ketika itu. Mr. Hamid Algadri dalam buku ‘Islam dan Keturunan Arab’ menyebut Abdullah bin Husein Alaydrus selalu duduk di meja direktur dalam rapat-rapat Sarikat Islam di Jakarta sekitar 1915.

Sedangkan sejarawan Jerman, Adolf Hueken yang banyak menulis tentangJakartamenyebutkan bahwa sayid ini banyak membantu perluasan masjid tua ‘An-Nawir’ di Pekojan, Jakarta Barat. Menurut menantunya, Habib Abubakar, Alaydrus meninggal dunia pada 1936 dalam usia lebih dari 80 tahun. Kekayaannya mulai berkurang ketika terjadi resesi ekonomi yang hebat pada tahun 1930an (malaise). Karena banyak rumah yang kosong ditinggalkan penyewa hingga ia tidak bisa membayar pinjaman bank. Akibatnya, Bouwmatchappij Alaydrus diambil oleh Bank Nilmij.

Ketika Belanda takluk pada Jepang, Nilmij beralih lagi kepada Alaydrus. Tapi setelah Jepang takluk, maka Nilmij pun berkuasa kembali. Nilai penjulan pada masa Jepang oleh Nilmij hanya ditetapkan sebesar tiga sen per gulden (100 sen).

Sumber:

Shahab, Alwi. Maria van Engels Menantu Habib Kwitang.Jakarta: Penerbit Republika, 2006, dengan sedikit revisi.

Media Berbahasa Arab

Posted by admin - 8 April 2013 - Sejarah
7
Kitab Kuning

Sejak masa VOC (kompeni), tepatnya pada tahun 1795 di Betawi sudah terbit surat kabar “Al-Juab”. Mungkin ini merupakan surat kabar pertama yang ditujukan untuk umum, yang saat itu disebut pribumi dan oleh Belanda disebut inlander.

Surat kabar ini ditulis dalam huruf Arab, namun isinya bahasa Melayu. Penerbitnya juga seorang keturunan Arab, yang sekaligus merupakan seorang mubaligh. Tidak heran kalau isinya tidak banyak memuat berita, lebih banyak karangan tentang agama Islam.Suratkabar ini terbit selama enak tahun (sampai 1801) .

Sejak abad ke-17 agama Islam telah berkembang pesat diIndonesia. Karenanya rakyat lebih banyak membaca dan menulis dalam huruf Arab gundul atau Arab – Melayu. Ditulis dengan huruf Arab, tapi bacaannya Melayu. Baru pada tahun 1872, dikembangkan ejaan Melayu Latin. Yang sebelumnya, ditulis dalam huruf Arab, apakah itu bahasa Sunda, Jawa, Melayu, dan berbagai etnis lainnya. Sampai sekarang masih kita dapati dalam terjemahan di kitab-kitab kuning.

Begitu luasnya bahasa Arab jadi bacaan sehari-hari, hingga mata uang yang dikeluarkan pemerintah kolonial bagian belakangnya tertulis dalam bahasa Arab – Melayu. Ini terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negeri-negeri jajahan Inggris, seperti Singapura dan Malaya (kini Malaysia). Kala itu, hampir seluruh masyarakat buta huruf membaca huruf Latin, tapi melek dalam membaca huruf Arab.

Kebiasaan membaca dalam huruf Arab – Melayu ini juga terjadi pada warga Cina peranakan (yang lahir di Indonesia). Pada tahun 1858 di Jakarta terbit “Soerat Kabar Betawi” yang terbit tiap Sabtu. Surat kabar ini yang dibaca secara luas – termasuk etnis Tionghoa – mempergunakan huruf Latin dan Arab (Latin dan Jawi). Meskipun penerbitan ini bersifat dagang namun memuat cerita-cerita ‘1001 malam’. Khusus untuk etnis Tionghoa, pada akhir abad ke-19 sudah banyak kaum peranakan yang tidak mampu lagi membaca dalam huruf Arab. Mereka lebih banyak mempelajari huruf Latin dari guru-guru Belanda.

Pada abad ke-19 banyak pendatang dari Hadramaut ke Nusantara. Setelah pada 1870 pelayaran dengan kapal uap antara Timur Jauh dan Arab mengalami perkembangan pesat. Karena hampir seluruh keturunan Arab yang datang ke Indonesia berasal dari Hadramaut mereka disebut Hadarim. Di Jakarta, pada 1901 mereka mendirikan perkumpulan ‘Jamiatul Kheir’, yang kemudian disusul dengan perguruan Islam modern.

Perkumpulan yang mendapat simpati dari tokoh-tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan, mendatangkan dan kemudian menyebarkan surat kabar dari Timur Tengah. Di samping menyebarkan gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Majalah “Al-Manar:” yang dipimpin oleh Sayid Rasyid Ridho, memperoleh informasi gerakan-gerakan Islam di Indonesian dari Jamiatul Kheir.

Di Surabaya pada tahun 1922 – 1926 terbit mingguan tiap hari Kamis bernama ”Hadramaut” setebal 20 halaman. Mingguan ini dipimpin Idrus bin Umar Almashur kelahiran Tarim, Hadramaut. Sedangkan redakturnya KH Abdullah bin Nuh, ulama terkemuka dan pendiri majelis taklim ‘Al-Ihya’ Bogor(1922 – 1926). Kemudian ia digantikan oleh Diya Shahab, yang karangannya tentang masuknya Islam di Indonesia dijadikan rujukan.

Mingguan ini terbit guna mengantisipasi politik kolonial Belanda. Isinya beragam, mulai dari politik, sosial, budaya, sampai mimbar agama. Kita masih mendapati arsip mingguan ini di Arsip Nasional. Media ini dipuji oleh Amir Syakib Arsalam, seorang sastrawan dan sejarawan terkenal Timur Tengah akan keindahan tata bahasa Arabnya. Menurutnya, mingguan “Hadramaut” memiliki bahasa Arab paling baik di dunia, selain di negara-negara Arab. Idrus bin Umar, pemimpin mingguan ini ikut aktif dalam pertemuan saat NU didirikan 1926.

Hampir bersamaan, di Jakarta terbit koran berbahasa Arab: “Bir Hoed” mengabadikan nama telaga Nabi Hud di Hadramaut. Pemimpin redaksinya M.O. Hasyimi. Sementara majalah berbahasa Arab “Borobudur” di Jakarta, dipimpin Abdullah bin Alwi alatas. Dia masih terhitung kakek mantan menlu Ali Alatas. Dia banyak membantu organisasi-organisasi Islam kala itu, seperti Syarikat Islam, Muhammadiyah, dan Al-Irsyad.

Majalah ini beralamat di Passer Baru Oost (jln Pasar Baru Timur) Weltevreden, Batavia. Penyandang dana ‘Borobudur’ Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, dulunya tinggal di gedung megah, yang kini jadi Museum Tekstil, jln Jati Petamburan, Jakarta Pusat. Sayid Abdullah yang menyekolahkan putra-putranya ke Turki, banyak membanntu organisasi Islam seperti SI, Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Arabithah, guna mengimbangi sekolah-sekolah Belanda (Van der Mueller – Museum Nasional).

Seperti juga Rabithah Alawiyah, Al-Irsyad juga banyak menerbitkan majalah berbahasa Arab. Sementara, seperti dituturkan Edrus Mashur, cicit mingguan Hadramaut, media ini bukan saja beredar diIndonesia, tapi juga ke Timur Tengah, Turki, dan Singapura. Maklum, kala itu masyarakat banyak yang dapat menguasai bahasa Arab.

Media cetak berbahasa Arab, yang dulu jumlahnya puluhan, kini tidak satu pun yang tinggal. Kecuali Majalah Alo Indonesia milikProf. Dr. Nabilah Lubis yang sekarang terletak di Ciputat. Sementara di Jakarta dewasa ini terbit tiga surat kabar berbahasa Cina. Dua koran Cina lainnya terbit di Surabaya dan Pontianak. Sementara sebuah televisi swasta secara tetap tiap hari menyiarkan berita-berita dalam bahasa Mandarin.

Sumber: Shahab, Alwi. Maria van Engels Menantu Habib Kwitang. Jakarta: Penerbit Republika, 2006.

Maria van Engels

Posted by admin - 4 April 2013 - Sejarah
3
Maria van Engels

Noordwijk (jln juanda) dan Rijswijk (jln veteran, diapit Ciliwung, merupakan kawasan elit Eropa. Di sini terdapat istana, toko-toko penjual produk dan busana Eropa.Ada sejumlah hotel, teater, klab malam, dan tempat hiburan lainnya. Semua dengan ciri-ciri Eropa modern. Lebih-lebih saat Raffles (1811-1816), letnan jenderal Inggris, menjadikannya kawasan warga Eropa. Berdekatan dengan Noordwijk terletak jln Pecenongan, Jakarta Pusat, yang juga banyak dihuni warga Eropa. Diantaranya, keluarga Engels, warga Belanda.

Van Engels beristri gadis Wonosobo, Jawa Tengah, saat dia bekerja di onderneming (perkebunan) teh di kaki Gunung Dieng. Mungkin untuk mencari peruntungan yang lebih baik, keluarga van Engels penganut Katolik kemudian hijrah ke Batavia. Ia pun dapat tugas turut membangun jalan kereta api dari Batavia ke Jawa Timur. Dia punya dua orang gadis, Maria dan Lies van Engels. Sebagai gadis Indo Belanda, Maria berkulit putih, cantik dan tinggi semampai. Dia bekerja di toko penjahit di Noordwijk.

Di dekat Pecenongan, terletak Gang Abu, yang banyak dihuni keturunan Arab, saat Belanda membolehkan mereka tinggal di luar Kampung Arab, Pekojan, Jakarta Kota. Seorang habib, Abdurahman Alhabsyi, putra sulung Habib Ali pendiri majelis taklim Kwitang, Jakarta Pusat, sering mendatangi kawan-kawannya di Gang Abu, melewati tempat Maria van Engels bekerja. Habib Ali, ayah Habib Abdurahman lahir 1867, meninggal 1968 dalam usia 102 tahun.

Diperkirakan, saat pertemuan antara pemuda keturunan Arab dengan gadis Indo itu terjadi sekitar akhir 1880-an. Hampir tiap hari Habib Abdurahman menyambangi tempat Maria bekerja. Mula-mula memang dicuekin. Tapi berkat kegigihan sang habib, akhirnya kedua remaja berlainan agama itu saling terpikat. Maria pun terlebih dulu menyatakan setuju menjadi Muslimah dan mengganti nama jadi Mariam. Bahkan, ibunya yang biasa disebut ‘Encang’, ikut bersama anak gadisnya. Konon, menjelang pernikahan mereka di kediaman Habib Ali Kwitang (kini jadi majelis taklim), tersiar isu serombongan tentara Belanda siap mendatangi kampung Kwitang untuk menggagalkannya.

Namun, rupanya jamaah Kwitang tak kalah gesit. Sejumlah jagoan dan jawaranya, seperti Haji Sairin, Haji Saleh, dan banyak lagi, bersiap menyambut kedatangan mereka. Mereka nongkrong di Warung Andil, perempatan Jalan Kramat II (dulu gang Adjudant) dan Kembang I. Bersenjatakan golok sambil berkorodong kain sarung, mereka siap menyambut kedatangan soldadoe Belanda yang akhirnya urung datang.

Setelah pernikahan secara Islam, Mariam jadi menantu kesayangan Habib Ali dan tinggal di samping rumah mertuanya. Ia cepat dapat bergaul dan berpartisipasi dengan masyarakat sekitar. Orang-orang kampung Kwitang menyebutnya ‘Wan Enon’ atau ‘Ibu Enon’. Sedang cucu-cucunya memanggil ‘Jidah Non’. Jidah adalah sebutan nenek dalam bahasa Arab.

Setelah berkeluarga, Jidah Non oleh suaminya diminta kesediannya untuk tidak keluar rumah selama dua tahun. Dengan maksud melatih dan mendidik sang mualaf ajaran Islam. Sejak saat itu dia tidak pernah melepaskan busana Muslim. Memakai kain dan kebaya, serta berkerudung, dan hampir tidak pernah melepaskan tasbih. Sampai akhir hayatnya dia pun berusaha untuk tidak menemui orang yang bukan muhrim. Sedang ibunya yang juga tinggal bersama menantunya, menjadi seorang ibu saleha. Bahkan ia diberangkatkan ke tanah suci.

Setelah Habib Abdurahman wafat 1940, Jidah Non tetap menjalankan kehidupannya dengan penuh takwa. Untuk membantu keluarga – yang sebagian sudah menikah – dia berdagang jamu. Mulai jamu beranak sampai jamu nafsu makan. Dia memiliki keahlian dalam pengobatan herbal dan memiliki sebuah buku tentang pengobatan dan obat-obatan tradisional dalam bahasan Belanda. Dia juga berjiwa sosial. Sering memberikan pertolongan bila yang sakit orang tidak berpunya, dan memberikan jamu secara gratis. Sayangnya setelah almarhum wafat awal 1961, buku yang sangat berharga itu raib begitu saja.

Sekalipun berbeda agama, tapi hubungan dengan adiknya Lies van Engels, tetap mesra. Kalau mereka bertemu saling mencium pipi. Kala itu, Tante Lies, demikian kami memanggilnya, sudah tinggal di Eijkmanlaan (kini jln Kimia), bersebelahan dengan RSUP Ciptomangunkusumo. Kala itu RSUP bernama CBZ (Central Bergelijk Ziekenin Rachting), berdiri 1919. Pada 1957, hubungan Indonesia– Belanda putus akibat soal Irian Barat (Papua). Sementara Bung Karno menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, sambil menyerukan pada pekerjanya untuk mengambil alih.

Tante Lies pun pulang ke Nederland bersama puterinya dan tinggal di Wesp, deka tAmsterdam. Salah seorang cucunya kawin dengan pemain sepakbola Belanda, Ajax Amsterdam. Selang beberapa tahun, satu dari keponakannya beserta suami dan keluarganya, berimigran ke Houston,AS.

Ketika salah salah satu misan saya pada 1990 berkunjung ke AS, keluarga mereka menanyakan putera dan puteri Jidah Non. Tapi sudah tidak bisa lagi berbahasa Indonesia. Dia menyatakan seorang puterinya kawin dengan pemuda Mesir dan masuk Islam.

Pada suatu malam tahun 1961, Jidah Non yang sedang sakit menginginkan semua keluarga berada di dekatnya. Dan ketika meninggal dunia, kami kirimkan kawat pada adiknya di Holland. Jenazahnya dibaringkan di dekat kamar mertuanya, Habib Ali. Sejumlah ulama terkemuka Jakarta, seperti KH Abdullah Syafie, KH Tohir Rohili, KH Nur Ali, hadir diantara ribuan pelayat.

Sumber:

Shahab, Alwi. Maria van Engels Menantu Habib Kwitang.Jakarta: Penerbit Republika, 2006

AWSOM Powered