Category: Sejarah Islam

Ulama Hadramaut, Kisah Koloni Arab di Batavia dan Jawa

Posted by admin - 29 Maret 2016 - Sejarah Islam
6
Ulama Hadramaut

Sebelum tahun 1859, tidak tersedia data yang jelas mengenai jumlah orang Arab yang bermukim di Hindia Belanda yang menjadi jajahan Belanda. Di dalam catatan statistik resmi pemerintah kolonial, keberadaan mereka dirancukan dengan orang Bengali dan pendatang lain yang beragama Islam.

Situasi ini berubah (mulai tahun 1870), seiring dengan perkembangan pesat teknologi perkapalan sehingga perpindahan orang dari Hadramut menjadi lebih mudah. Maka pada tahun-tahun itulah awal dari masa yang sepenuhnya baru bagi koloni-koloni Arab yang ada di Indonesia.

Jadi sebelum diterbitkannya data statistik resmi tersebut, saat itu mengenai jumlah orang Arab di Nusantara, khususnya di Jawa, hanya diperoleh dari keterangan kira-kira yang berasal dari cerita orang tua dan tradisi setempat.

‘’Hasil penelitian saya mengenai hal itu menunjukan bahwa orang Arab Handramaut mulai datang secara massal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad ke XVIII. Perhatian mereka yang pertama adalah Aceh. Dari sana mereka memilih pergi ke Palembang dan Pontianak,’’ tulis LWC van den Berg, penulis buku klasik yang berjudul ‘Orang Arab di Nusantara’.

Orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 dan koloni-koloni mereka di bagian timur Nusantara pada 1870. Data statistik pada tahun itu, tercatat jumlah populasi orang Arab dan keturunannya sudah mencapai 10.888 orang. Di Batavia misalnya ada 952 orang, Cirebon 816 orang, Tegal 204 orang, Cirebon 816 orang, Pekalongan 608 orang, Semarang 358 orang, Surabaya (mencakup Keresidenan Surabayam Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, Sidayu) mencapai 1626 orang. Yogyakarta 77 orang, Surakarta 42 orang. Madura 979 orang. Kedu (Magelang) 47 orang. Cilacap 7 orang, Purwokerto 3 orang, Purbalingga 4 orang.

 

Teks: sumber 

Foto: sumber

Buya Hamka dan Sayyid

Posted by admin - 26 Agustus 2013 - Da'i dan Dakwah, Sejarah Islam
0
Buya Hamka

H.Rifai, seorang Indonesia Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam Bijlmermeer, Belanda pada tanggal 30 desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan, ‘Benarkah habib Ali Kwitang dan habib Tanggul keturunan Rasulallah saw.’ ?, dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.

Oleh Menteri Agama hal ini diserahkan kepada Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui Panji Masyarakat, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. Sebagian isi yang kami kutip mengenai penjelasan Prof.Dr.H. HAMKA tentang gelar Sayyid yang dimuat dalam majalah tengah bulanan“Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 sebagai berikut:

“Rasulallah saw. mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau saw. dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan,‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’.Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-HusainSyarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.

Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluargaJamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsaSayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.

Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir danFagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.

Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia , pihak Al-Irsyadyang menantang dominasi kaum Ba’alwi (Alawiyyun), menganjurkan agar yang bukan keturunan Al-Hasan dan Al-Husain memakai juga titel Sayyiddimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, dengan pimpinan A.R.Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan ‘Al-Akh’ artinya Saudara.

Selanjutnya kesimpulan dari makalah Prof.Dr.HAMKA: Baik Habib Tangguldi Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini cucu yang ke tujuh  dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”. (Demikianlah nukilan dan susunan secara bebas mengenai penjelasan Prof.Dr.HAMKA tentang gelar Sayyid).

Oleh: M. Ghazi Alaidrus

Mengenal Sayid Usman bin Yahya

Posted by admin - 2 Oktober 2012 - Da'i dan Dakwah, Sejarah Islam
1
Sayid Usman bin Yahya

Sayid Usman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi dikenal sebagai mufti Betawi dan diangkat oleh Belanda sebagai Honorair adviseur (Penasehat Kehormatan) untuk urusan Arab, dan juga sahabat Snouck Hurgronje. Beliau dilahirkan di Batavia, tepatnya di daerah Pekojan, pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 H/1822 M. ayahnya bernama Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya, dilahirkan di Mekkah dari keturunan Hadramaut. Ibunya adalah Aminah, putri dari Syekh Abdurrahman al-Misri.

 

Ketika usianya menginjak tiga tahun, ayah Sayid Usman bertolak kembali ke Mekkah, sehingga ia pun diasuh oleh kakeknya, Syekh Abdurrahman al-Misri. Sayid Usman memperoleh pendidikan tidak dalam lembaga pendidikan formal, melainkan secara pribadi ia belajar dari kakeknya berbagai macam studi agama, bahasa Arab, dasar-dasar ilmu falak-spesialisasi kakeknya- dan adab sopan santun. Ketika berumur 18 tahun, sang kakek meninggal, lantas Sayid Usman memutuskan untuk mengembara ke Mekkah. Dikotaitu, selain menunaikan ibadah haji, ia juga mengagendakan kepergiannya itu untuk melepas rindu dengan ayahnya dan kerabatanya. Selain itu, dikotaitu Sayid Usman mulai menempa diri dengan mendulang berbagai khazanah keilmuan selama tujuh tahun. Kebanyakan dari ayahnya dan Sayid Ahmad Dahlan seorang mufti Syafi’i kondang dan dikenal pula sebagai sejarawan Mekkah.

Setelah itu, Sayid Usman melanjutkan langkah kelananya ke Hadramaut. Di sini, ia kembali me-recaharge pengetahuan agamanya dengan berguru ke sejumlah pendekar ilmu di kota itu, seperti Habib Abdullah bin Husain bin Thahir, Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Hasan bin Shalih al-Bahar, Habib ‘Alawi bin Segaf al-Jufrie. Di kota ilmu itu, ia menghabiskan hari-harinya dengan menelaah berbagai korpus klasik. Atas permintaan salah seorang gurunya, ia menikah dengan seorang syarifah. Ketika beberapa gurunya telah meninggal, ia memutuskan untuk melanjutkan tapak kembaranya kembali ke Mekkah lalu kemudian ke Madinah.

Seperti banyak ulama terkenal lainnya, Sayid Usman mengkhususkan sebagian dari umurnya untuk “tapa jalan” dengan merogoh dan menambang perbendaharaan keilmuan di belahan dunia yang berbeda.  Dari Madinah ia pergi ke Dimyat, Mesir-kampung halaman ibunya-untuk bertemu dengan keluarganya. Dia bermukim di Mesir selama delapan bulan, sekaligus memanen pelbagai disiplin ilmu  dari ulama ternama di kotaitu. Tak lama kemudian, kakinya kembali berayun membuka daerah-daerah lain yang belum ia kunjungi seperti ke Tunis, Maroko, Aljazair yang disinggahinya masing-masing selama limadan tujuh bulan. Ia sempat mengunjungi beberapa kotaseperti Marakesh dan Feztempat ia menyemai ilmu-ilmu eksoterik (zahir) dan esoterik (batin). Selain itu, ia juga rajin menyambung kawat persaudaraan dengan jejaring ulama disana, salah satunya dengan MuftiTunis. Setelah merasa cukup, Sayid Usman berlayar keIstanbul, Turki yang ditinggalinya selama tiga bulan. Di ibukota dunia Islam itu, ia bertemu dengan mufti dan Syaikh al-Islam, dan menerima sebuahsurat dari Pasya Madinah kemudian ia pergi ke Palestina, Suriah, dan Hadramaut. Ia kembali keBatavia melalui Singapura pada 1279 H/1862 M. Selanjutnya ia mulai membentangkan kristal-kristal keilmuannya yang digunakan untuk memoles kembali kehidupan umat Islam.

Selain menyibukkan diri dalam perkara-perkara keislaman, Sayid Usman juga merupakan pendakwah yang ulung. Setidaknya Sayid Usman tidak hanya melakukan dakwah bil lisan tetapi juga bil kitab. Dakwah jenis pertamanya, banyak dilakukan di Masjid Al-Islam di depan Rumah Sakit PELNI, tepatnya di belakang POM bensin Petamburan sekarang. Namun, ketika shalat Jumat, biasanya ia melaksanakannya di Pekojan. Selain itu, setiap hari Rabu, ia juga membuka pengajian di rumahnya tak jauh dari masjid tempatnya mengajar itu. Bak perjalanan arus air dari muara mengalir ke sungai, murid-murid Sayid Usman banyak pula yang meneruskan estafet keilmuannya. Di antara mereka yang terkenal adalah Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Habib Umar Purwakarta dan Habib Falakiyyah Bogor. Banyak pula muridnya yang berasal dari luarSurabaya ada pula yang dariBanjarmasin.

Sayid Usman juga dikenal sebagai penulis yang prolifik-profetik. Prolifik merupakan suatu ungkapan khas bagi mereka yang giat menelurkan berbagai buah karya berbentuk tulisan. Sedangkan profetik, adalah merujuk pada “jalan sunyi” kenabian. Dengan kata lain, Sayid Usman tidak saja mengangungkan nasab, melainkan juga teladan Nabi SAW yang diutus  ke muka bumi sebagai pembawa kabar baik (al-Bashir) dan buruk (an-Nadzir). Sebagai seorang penulis yang sangat lihai menggetarkan jagad keilmuan Nusantara, Sayid Usman mempunyai dua peran yang prestisius. Pertama, kedudukannya sebagai mufti, yang diraihnya degan rekomendasi keluasan ilmu agama yang dimilikinya. Kedua, sebagai guru agama, yang menaburkan ilmunya baik dengan jalur lisan maupun tulisan kepada umat Muslim Nusantara. Sematan mufti, memungkikan gerak pemikirannya untuk mengembara dipadang luas ilmu untuk mendapatkan berlembar-lembar jawaban atas permasalahan yang menggelisahkan ruang publik.

Bagi Sayid Usman, berjuang tak hanya melalui tindakan atawa orasi keagamaan belaka, yang terpenting adalah bagaimana mengabadikan keluasan ilmunya dalam deret demi deret kata bagi generasi masa depan. Selama masa hidupnya beliau telah menulis 144 judul tulisan-terbagi dalam kitab yang  tipis-tipis halamannya- dari pelbagai disiplin ilmu. Kitab tulisan Sayid Usman hingga kini masih menjamur dipelajari di sela-sela alam modernitas, salah satunya yang terkenal berjudul Sifat Dua Puluh.

Biasanya, jika ada suatu polemik keagamaan atau sebuah pertanyaan keagamaan yang sedang mengemuka di zamannya, Sayid Usman kerap menjawabnya melalui penanya. Tak ayal, banyak di antara karyanya yang bersifat tematis atau dengan kata lain menulis sebagai solusi atas masalah itu sendiri. Contohnya, ketika umat Muslim Nusantara membutuhkan panduan berhaji yang praktis dan mudah dipahami, Sayid Usman menulis sebuah kitab tuntunan berhaji dalam bahasa Melayu berjudul Kitab Manasik Haji dan Umrah yang terbit perdana tahun 1875 dan mangalami cetak ulang di Mekkah 1310/1892. Boleh dikatakan, kitab ini merupakan “santan” yang diperas dari kitab-kitab babon yang membahas tentang haji seperti dari Kitab Syarh Fadhailul Muluk karya sayid Yusuf al-Baththah, Kitab Idhah karya Imam Nawawi dan Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali. Dalam masalah haji lainnya, Sayid Usman juga tercatat namanya dalam historisitas haji Nusantara sebagai ulama yang mencetuskan karcis pulang-pergi berhaji. Sayid Usman menyatakan;

“een man dus, die wel hard voor het geloof zijner vanderen heeft, noemde dit denkbeld der retourbiljet uit nemend “Patoet Sekali”.

(jadi ia seorang laki-laki yang memang bersikap penuh dedikasi kepada agamanya, menganggap dan menamakan retourbiljet itu “Patoet Sekali”)

Selain itu, jangkauan dakwah dan keilmuan Sayid Usman tak hanya berkutat di Bataviasaja, tetapi juga dibutuhkan untuk memecahkan kebuntuan problematika di daerah lainnya. Contohnya saat terjadi pertentangan ide ketika polemik salat Jumat di Masjid Lawang Kidul Palembang, yang oleh Sayid Usman dipandang “menyalahi” hukum fiqih Syafi’i oleh karena terlebih dahulu sudah ada masjid yang dijadikan lokasi salat jumat yakni Masjid Agung Palembang. Masalah ini juga dijawabnya melalui sebuah tulisan berjudul Khulasah al-Qaul al-Sadid fil Man ihdats Ta’addud al-Jum’at fi al-Masjid al-Jadid. Saat polemik itu terjadi, Sayid Usman memberikan berbagai pertimbangan kepada kantor Algemeene Secretarie di Bogor sehubungan dengan masalah ini. Dalam suratnya itu antara lain dikelaskan;

… menurut mazhab Syafi’i … bahwa di dalam satu jama’ah hanya boleh diadakan salat Jumat di satu tempat saja. Bilamana peraturan ini dilanggar, maka kedua salat Jumat yang diadakan itu menjadi tidak sah. Maka, pengadaan salat Jumat kedua di samping yang sudah ada, dalam hal seperti itu bukan dianggap sebagai pelanggaran yang berat di pihak mereka yang ikut serta di dalamnya, melainkan juga menghalangi para jamaah lainnya dalam melaksanakan ibadah mereka … hendaknya dipahami sebagai satu jamaah, … dalam kitab-kitab fiqih … diuraikan beberapa lebar seharusnya sebuah lapangan, agar dapat membagi menjadi dua jamaah … tidak dapat disangsikan bahwa jamaah masjid baru di Palembang (masjid Lawang Kidul) merupakan satu jamaah dengan kampung masjid yang lama.

Selanjutnya, kitab yang beraroma problem-oriented lainnya adalah Kitab al-Qawanin asy-syar’iyyah li ahl al-majlis al-hukmiyyah wa al-ifta’iyyah yang berarti “Ini kitab segala aturan hukum syara bagi ahli majlis syara dan majlis fatwa syara yaitu yang disebut rad agama, terbit pada 1881 M. Kitab ini berisi pedoman dan tuntunan praktis bagi para hakim dan penghulu di daerah ketika menjalakan perannya di tengah masyarakat. Mereka tergabung dalam suatu dewan agama yang disebut Dewan Ulama. Konon, menurut penuturan Snouck, kitab ini termasuk dalam kategori best-seller, karena ketika terbit pertama kalinya, kitab ini habis terjual. Untuk memenuhi pangsa pasar yang semakin membludak, kitab ini dikemudian hari diperbaiki dan dicetak ulang dalam jumlah besar.

Latar belakang lahirnya kitab ini, adalah karena banyaknya rekues akan pertolongan dari para penghulu, para anggota dewan ulama  di Jawa yang banyak mengalami kesulitan dalam memutuskan sesuatu perkara sesuai dengan asas keadilan berbasiskan hukum keagamaan. Problem bahasa juga diperhataikan oleh Sayid Usman, supaya mudah untuk dimengeri para pembacanya. Untuk itu, Kitab Qawanin sengaja didesain menggunakan bahasa Melayu dan ditata sedemikian praktisnya untuk memanjakan para dewan ulama dalam optimalisasi pengambilan keputusan hukum.

Konon, beliau menerbitkan butiran-butiran ide progresifnya melalui mesin lithografi kecil-di zaman itu dikenal dengan nama mesin batu- miliknya. Kemudahan menerbitkan kitab-kitabnya juga berkaitan erat dengan kedekatannya dengan Belanda. Selain itu, tak banyak orang mengetahui, Sayid Usman juga merupakan seorang geografer (ahli ilmu bumi). Hal ini diakui oleh Snouck Hurgronje dalam tulisannya yang mengatakan:

Sayid Usman ibn Yahya al-Alawi yang menjadi terkenal di beberapa kalangan Barat karena penerbitan peta buminya, yang memuat sebuah peta besar dari tanah airnya, Hadramaut. Maksud utama penerbitan itu ialah memperluas pengertian yang lebih baik tentang keanehan , adat istiadat dan pekerjaan penduduk Arab Selatan, yang telah mengirimkan kelebihan penduduknya ke negeri-negeri Islam lainnya sejak berabad-abad lampau.

Salah satu kitab yang banyak mengulas tentang beragam pernak-pernik problematika agama, adalah kitab Adabul Insan yang ditulis menggunakan aksara Melayu-Jawi, pada pasal 27, yang merupakan pasal terakhir tentang saudagar kikir nan tamak yang karena kekikirannya menyebabkan ia jatuh miskin tak terperikan keadaannya. Sayid Usman berwasiat:

Maka, Ingatlah, wahai sekalian saudara, janganlah takabur membesarkan diri atas dha’if miskin. Maka tiada diketahui akan hal ihwal manusia di belakang kalinya.

Kini, nyatalah, betapa Sayid Usman mendedikasikan dirinya sebagai Cultural Broker yang menjembatani problematika umat dengan selancar ide-ide keagamaannya yang senantiasa tajam, segar tapi juga bernas. Hal inilah esensi dari dakwa sesungguhnya, yakni sebagai komitmen menghadirkan suatu pembaruan yang beresensikan ajaran Islam dengan mengganti hal-hal yang lawas dengan yang baru lagi baik, dan senantiasa menjaga warisan ulama terdahulu (al-muhafadzah ala qadimi ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadiid al-ashlah).

Boleh dikatakan, abad 19 merupakan masa berbunganya pengajaran Islam di tanah Nusantara. Tidak hanya kalangan Sayid, para pendakwah pribumi  juga mulai bertaburan dan berkecambah menghiasi persada bilik-bilik Islam di Nusantara, tak terkecuali di Betawi. Pada akhir abad 19, hubungan kawat akademik Timur Tengah-Betawi sedang “menyemesta”. Kaum Sayid di tanah rantauBataviabahu membahu dengan pendakwah lokal untuk membangun suatu ruang lingkup keislaman yang lebih tertata dan merata. Di era ini Betawi disesakkan dengan nama-nama besar seperti  Guru Halid di Gondangdia,  Guru Mughni Kuningan, Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Marzuki Jatinegara, Guru Mahmud Menteng dan Guru Madjid Pekojan. Mereka adalah alumni-alumni majlis taklim yang sebelumnya telah laris berdiri di tanah Betawi. Galur keilmuan mereka bersambung langsung degan Haramain, pelabuhan ilmu yang sempat diakrabinya pasca menempa ilmu di Betawi.

Kelihaian strategi dakwah para Sayid, menjadi tengara mudahnya Islam bersua dan berpadu dengan denyut hidup masyarakat praJakarta. Malahan, kehadiran mereka dianalogikan sebagai butiran salju yang menyegarkan dan memberikan sentuhan estetik di ranah dakwah Nusantara. Pendek kata, dakwah mereka berhasil diterima dan dipeluk oleh masyarakat pribumi. Mereka tak segan bertukar pikiran dan bersahabat dengan ulama Betawi. Tak ayal, kekhasan inilah yang menjadikan mutiara-mutiara keilmuan yang mereka siarkan tak lantas kaku dan berjarak, melainkan begitu merasuk dan mengendap di alam bawah sadar murid-muridnya, oleh karena berhasil “menaklukan” dan “menggauli” belantara peradaban Nusantara, khususnya Betawi, yang sama sekali berbeda dengan bentara tradisi Hadramaut.

Meskipun dikenal sebagai seorang alim yang berilmu tinggi, Sayid Usman juga tersohor karena kontroversinya. Kontroversi-kontroversinya inilah yang menyebabkan dirinya begitu dihargai oleh Belanda sebagai suatu sikap akomodatif. Salah satu kontroversi yang menarik, adalah penolakannya dengan paham tarekat di Nusantara yang saat itu sedang menggeliat. Menurutnya, Nusantara agaknya belum siap untuk bertarekat. Merujuk pada buah karyanya an-Nasihah al-Aniqah li al-Mutalabbisin bi al-Thariqah  (Nasihat yang Elok kepada Orang-Orang yang Masuk Tarekat) hal ini dikarenakan seorang yang hendak bertarekat hendaknya menguasai tiga cabang ilmu Islam yakni ilmu tauhid, fiqih dan ilmu sifat hati (tasawuf) secara holistik.

Kenyataan yang terhampar di bumi Nusantara adalah sebaliknya. Persyaratan tersebut, demikian Sayid Usman, sangatlah berat dipenuhi oleh Muslim di Arab, apalagi Muslim Jawa yang masih bergelimang dalam ajaran-ajaran “menyimpang” dari korpus utama hukum Islam yakni al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sayid Usman menyebut golongan ini sebagai ghurur atau kesalahan dalam memahami ajaran Islam. Akibatnya, bergabungnya mereka dalam persaudaraan tarekat dipandangnya tidak absah dan cenderung berdosa.  Tak ayal, Sayid Usman mendapat kecaman dari para ulama pendukung tarekat di Nusantara, yang menuduhnya sebagai upaya silat lidah untuk meraih simpati pemerintah Belanda.

Fatwanya itu didukung sepenuhnya oleh Snouck Hurgronje, yang mengatakan tarekat merupakan biang keladi dari pemberontakan melawan pemerintah.Parasyekh tarekat hanyalah oknum yang kerap meyakinkan para pengikutnya untuk mengikuti semua perintahnya. Tak jarang, para murid tarekat disuguhi oleh propaganda-propaganda untuk melawan pemerintah. Kasus yang sama pernah terjadi ketika pemerintah Perancis disibukkan oleh perlawanan para pengikut tarekat Sanusi. Lebih jelasnya, Snouck mengatakan:

… Para syekh sudah tergila-gila uang dan kekuasaan, lebih suka menerima hadiah-hadiah yang mahal dari para murid mereka, dan juga organisasi yang besar (tarekat) dan patuh pada perintah, yang dapat dipergunakan sebagai alat agar para penguasa dalam pemerintahan. Oleh karena itu, mereka mengangkat sebagai para wakil mereka di berbagai kota atau negeri, orang-orang yang dianggapnya tepat untuk membantu menjaga kepentingan mereka; para wakil (khalifah) pada gilirannya menerima sebagai anggota organisasi, orang-orang yang karena kebodohan atau suka menderma karena sifat lainnya, dapat dijadikan alat untuk mengisi kocek guru-guru gaib mereka serta mempertinggi kedudukan mereka di dunia.

Secara pribadi, Snouck pernah menanyakan mengapa Sayid Usman menyanggah orang-orang yang rajin mengucapkan kalimah thayyibah dan zikir kepada Allah (kaum tarekat). Dengan meyakinkan Sayid Usman menjawab bahwa sebenarnya ia bukannya menolak kegiatan tersebut. Tetapi yang ia hujani kritik tajam adalah janganlah mempelajari tata cara berzikir dari syekh yang tidak benar. Kemelut konflik ini membawa Sayid Usman dalam perang urat syaraf dengan Syekh Ismail Minangkabau yang dipandang mengadakan “paksaan” bagi penduduk untuk memasuki tarekat Naqshabandiyah yang dipimpinnya. Sejalan dengan ulasan ini, Azra menambahkan pandangan perilaku sufi saat itu dari Sayid Usman merujuk pada Buku Kecil halaman 6-8 adalah;

… He alleges that many sufi shaykh are nowdays more concerned with wealth and social status than with genuine piety. They do not realy commit themselves to Islam but to worldly sastus and enjoyment. They are “false” sufi shaykhs who exploits their followers for their own interest, claiming to be or regarded by certain people as able to do “keramat” things. Because of their ignorance many Muslims believe and pay respect to such false teachers.

( … habib Usman menyatakan bahwa banyak dari syekh sufi di masa itu yang lebih mementingkan kekayaan pribadi dan status sosial tinimbang kesalehan yang murni. Mereka adalah sufi palsu yang mengekploitasi muridnya demi kepentingannya sendiri dan mengklaim diri arau dianggap oleh orang tertentu mampu melakukan berbagai hal “keramat”. Karena keacuhan mereka sendiri banyak orang yang percaya dan menghormati para guru menyimpang itu).

Selanjutnya, ada pula berbagai pandangan kontroversi dari Habib Usman lainnya, salah satunya adalah larangan berjihad. Secara eksplisit, Sayid Usman menyebut jihad yang dilakukan di Banten pada tahun 1888 merupakan kesalahpahaman (ghurur) atas ajaran Islam yang sebenarnya; makna sesungguhnya dari jihad telah disalahartikan oleh mereka yang disebutnya orang-orang yang jahil pada bab jihad. Akibatnya, fanatisme berjihad mereka dilegitimasikan sepihak menjadi perang suci. Aksi-aksi “kepahlawanan” mereka, menurut Sayid Usman, bukanlah jihad, melainkan hanya gangguan dan kekisruhan dalam suasana yang damai. Penjelasan ini termaktub dalam buah tangan Sayid Usman berjudul Minhaj al-Istiqamah fi al-Din bi al-Salamah, terbit pada tahun 1307 H/1889-1890 M.

Selain concern dalam bidang keagamaan, Sayid Usman juga merupakan ulama yang atraktif dalam kancah perpolitikan kaum pribumi, kendati dalam skala yang kecil. Hal ini terlihat jelas dalam upayanya mendukung perjuangan Syarikat Islam (SI), yang merupakan suatu wadah gerakan protonasionalis Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1911. Kendati berada dalam barisan pemerintah kolonial, tak lantas membuat tumpul ide pergerakan Sayid Usman. SI, yang kala itu menjadi kekuatan oposisi dari Belanda, dibelanya dengan gigih. Sayid Usman menulis sedikitnya dua karya yang secara khusus ditujukan sebagai pledoi SI: Sinar Isterlam pada Menyatakan Kebenaran Syarekat Islam (16 hh), dan Selampai tersulam pada menyatakan Kebajikan Syarekat Islam (8 hh.). Organisasi ini dipandang Sayid Usman sebagai wahana umat Muslim untuk saling membantu (ta’awun) juga sebagai sarana untuk mempererat silaturahim.

Dua pandangan inilah (anti-tarekat dan anti-jihad) yang kerap dijadikan bumerang untuk menuduh Sayid Usman sebagai antek-antek Belanda. Beberapa penulis sejarah hidup Sayid Usman, yakni seperti Snouck Hurgronje, L.W.C. van den Berg, Karel A. Steenbrink dan Azyumardi Azra, belum dapat mengungkapkan secara gamblang, sebenarnya apa motif fatwa-fatwa yang menurut kaum pejuang tanah air dipandang sebagai “salah-kaprah” ini. Terutama pandangan Azyumardi Azra yang mengungkapkan bahwa harus dilakukan penelitian yang benar-benar “lengkap” terkait sepak terjang Sayid Usman.

Atas “kesadaran partisipatoris” Sayid Usman terhadap kelangsungan upaya menyatukan pemikiran umat Islam dalam memahami nilai-nilai keislaman yang berkembang di tengah-tengah kolonialisme Belanda di Nusantara. Maka Belanda begitu mengagungkan sosok ulama Arab Betawi ini. Snouck sangat memuji sikap dan pendirian Sayid Usman yang begitu tangguh berfatwa disertai gelaran-gelaran rujukan klasik nan otoritatif dalam mempertahankan fatwa-fatwanya. Kendati menduduki posisi yang tinggi di jajaran birokrat Belanda, Snouck kerap menjadikan Sayid Usman sebagai rujukan ketika akan menelurkan suatu kebijakan. Dalam percakapanya, Snouck menggunakan bahasa Arab sebagai bentuk penghormatang kepada Sayid Usman. Dalam suatu kesempatan Snouck mengungkapkan:

… Usman memiliki keberanian berdasarkan keyakinannya, dan tidak akan menghentikan perjuangan. … Justru karena itu ulama kita dari Hadramaut ini juga berhak atas terima kasih dan simpati dari mereka, yang bersikap jujur terhadap Hindia Belanda, dan terutama dari pemerintah sendiri. … bahwa orang Arab seperti Usman bin Yahya adalah lebih berharga daripada sejumlah bupati yang “ berpandangan bebas”

Berikut juga merupakan kekaguman Snouck atas kejembaran hati Sayid Usman “menerima” penjajahan dalam upaya untuk “memberadabkan” masyarakat pribumi, yakni sebagai berikut:

Pengetahuannya tentang dunia telah membuatnya dapat menerima adanya penjajahan bangsa-bangsa bukan Islam atas negeri seperti Jawa sebagai suatu “keharusan”; juga dalam hal ini dia, sebagaimana terlebih dulu sudah kita perhatikan, berpendirian tetap menurut teori.

 

Kesimpulan

Perjalanan hidup Sayid Usman bin Yahya kerap diselubungi oleh berbagai kontroversi. Buah pemikirannya yang menganggap ahli tarekat sebagai sekumpulan orang yang salah dalam beragama dan ketidaksetujuannya dengan konsep jihad melawan pemerintah Hindia-Belanda adalah dua diantara berbagai hal yang mendiskreditkan Sayid Usman yang ditengarai sebagai mata-mata, maupun orang yang berpihak kepada Belanda.

Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah perlu diadakan penelitian yang lebih intens dan kontinyu untuk mebongkar jejak hidup Mufti Betawi ini.Paraahli sejarah pun “dibuat pusing” oleh kisahnya yang serba abu-abu itu. terlepas dari berbagai kontroversi yang meliputinya, Sayid Usman merupakan sosok pendakwah Islam yang sangat berpengaruh di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Buah pikirannya yang dicetak dari mesin litrografi sederhana miliknya, kerap dijadikan rujukan oleh para kaum Sayid belakangan juga para masyarakat umum. Boleh dikatakan, Sayid Usman merupakan salah satu pelopor dakwah yang sukses menanamkan benih-benih keislaman di tanah Betawi dan Nusantara.


Makalah disampaikan oleh Prof. Dr.  M. Dien Madjid M.A. dalam acara seminar tentang “Islam di Betawi Abad 19-20, Jaring Ulama dan peranannya” dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2012, diselenggarakan oleh Rabithah Alawiyah, bertempat di gedung Rabithah Alawiyah Lantai IV, Jakarta Selatan

 

Sejarah Thariqah Sâdah Ba ‘Alawi dan Para Tokohnya

Posted by admin - 6 Agustus 2012 - Sejarah Islam
0
yaman

MENGENAL THARIQAH SADAH BA ‘ALAWI

 

Nasab para Sâdah Ba ‘Alawi kembali kepada datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam al-Muhâjir, Ahmad bin Isa an-Naqîb, yakni naqîb (pemimpin) para syarif di Iraq, bin Muhammad  an-Naqîb bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shâdiq bin Muhammad al-Bâqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Kehidupan Imam Ahmad al-Muhâjir dijalani di Bashrah. Di daerah inilah dia tumbuh berkembang. Pada saat itu Ahlulbait berada di dalam kehormatan dan pemeliharaan. Tetapi para khalifah Bani ’Abbas yang menjadikan Iraq sebagai pusat  mulai melemah kekuasaan. Lalu muncullah gerakan-gerakan dan pemberontakan-pemberontakan. Sedikit demi sedikit fitnah melanda Iraq, yang paling besar di antaranya adalah hadirnya kaum Qaramithah yang menyerang Bashrah di awal abad ke-4 H, dan munculnya kelompok orang–orang Sudan.

Pada situasi yang kacau itu, orang-orang saleh, yang menjauhkan diri dari dunia, tak dapat menghadapinya. Tepatnya pada tahun 317 H, Imam Ahmad bin Isa pun hijrah―yang karena itu beliau digelari al-Muhâjir―untuk menghindari fitnah-fitnah yang bergelombang. Beliau meninggalkan Bashrah bersama tujuh puluh orang dari keluarga dan para pengikutnya. Beliau menempuh jalan menuju Hijaz agar rombongannya dapat singgah setahun di Madinah. Setelah itu menuju Tanah Haram   Makkah pada tahun ketika kaum Qaramithah memasuki kota ini dan merampas Hajar Aswad.

Kemudian Imam Ahmad al-Muhâjir keluar dari Makkah melalui padang sahara menuju ’Asîr kemudian ke Yaman. Lalu takdir membawa mereka ke Lembah Hadramaut, lembah terpencil dengan sedikit kekayaan, yang sebagian besar daerahnya saat itu dikuasai oleh kaum Khawarij Ibadhiyah.

Imam al-Muhâjir pertama kali singgah di negeri Hajrain. Setelah itu pindah ke Kindah, dan akhirnya menetap di Husayyisah. Karena suatu hikmah yang mendalam dan faktor-faktor penyebab yang Allah siapkan, masa kekuasaan madzhab Ibadhiyah tidak berlangsung lama. Setelah terjadi adu argumentasi antara mereka dengan al-Muhâjir dan pengikutnya serta orang-orang yang menolong dan bergabung dengan mereka dari pengikut Ahlussunnah di sana, maka sebagian besar lembah ini dapat dibersihkan dari kejahatan kaum Khawarij dan para pengikut mereka. Setelah itu Ahlussunnah mengakar di sini dan orang-orang pun menganut madzhab mereka.

Imam Muhâjir mempunyai anak bernama ‘Ubaidillah yang kemudian mendapatkan tiga orang anak, Bashri, Jadid, dan ‘Alwi. Kepada ‘Alwi inilah keturunan para Sadah Ba ‘‘Alawi bernasab sebagaimana telah disebutkan di atas. Sedangkan keturunan kedua saudaranya habis bersamaan berakhirnya abad keenam Hijriah.

Beberapa lama setelah al-Muhâjir wafat, keturunannya pindah ke kota Tarim yang dinamai dengan nama raja yang membangunnya, yaitu Tarim bin Hadramaut. Mereka menetap di sana pada tahun 521 H. Keturunan al-Muhâjir yang pertama mendiami kota ini adalah al-Imam Ali bin Alwi yang dikenal sebagai Khali` Qasam dan saudaranya, Sâlim, serta mereka yang segenerasi dengan keduanya dari keturunan Bashri dan Jadid yang ada pada saat itu.

Maka Tarim pun yang dijuluki al-Ghanna menjadi tempat tinggal keturunan yang mulia ini. Lalu muncullah di sana ma`had-ma`had kebajikan dan banyak pula terdapat masjid. Di samping itu kota ini menjadi mulia karena terdapat jasad sejumlah sahabat mulia yang meninggal di sana saat memerangi orang-orang murtad.

***

Sumber-sumber sejarah tidak memberikan data yang rinci tentang periode pertama kaum ‘Alawiyyin. Informasi sejarah lebih banyak dimulai sejak periode dua anak Imam Muhammad bin Ali, yang dikenal sebagai Shahib Mirbath, yaitu Ali (ayah dari al-Faqîh al-Muqaddam) dan Alwi (yang dikenal sebagai paman dari al-Faqîh al-Muqaddam), dan periode sesudahnya. Kepada kedua orang inilah kembalinya nasab semua keluarga Ba ‘Alawi di masa sekarang ini.

Peletak pondasi sebenarnya pada bangunan thariqah ini adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ’Alawi yang digelari dengan al-Faqîh al-Muqaddam yang lahir di Tarim pada tahun 574 H dan wafat di sana pada tahun 653 H. Yang diterima oleh beliau —meskipun dari jauh― dari seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi, yang dikenal dengan gelar al-Ghauts melalui perantara beberapa pengikut Abu Madyan yang sampai ke Mekkah. Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqîh    yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-Dunya (wafat tahun 1162 H) mengatakan, “Asal Thariqah Sadah Ba ’Alawi adalah Thariqah Madyaniyyah, yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu‘aib al-Maghribi. Sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqîh al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawi al-Husaini al-Hadhrami. Thariqah ini diterima oleh para pemimpin dari para pemimpin yang mendahuluinya dan diwariskan kepada orang-orang besar yang memiliki maqâmât dan ahwâl.”

Tantangan-tantangan Bulan Ramadan dalam Sejarah

Posted by admin - 16 Juli 2012 - Ramadhan, Sejarah Islam
0
Abdullah Hakim Quick

Oleh: Dr. Abdullah Hakim Quick

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang telah berfirman dalam kitab suci Al-Quran:  “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: 2:183). Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas utusan Allah Nabi Muhammad saw.

Hai orang-orang yang beriman, Ramadan adalah bulan suci di mana Allah swt secara terus-menerus menguji hambaNya dan memberi kesempatan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan tiada akhir. Puasa merupakan sebuah penyucian yang sempurna dan sarana untuk mengembangkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesadaran terhadap keberadaan Allah, yaitu takwa, merupakan perlindungan melawan godaan setan dan penderitaan di dunia.

Banyak umat Islam sekarang yang memiliki pemahaman yang salah mengenai puasa dan aktivitas berpuasa. Pada bulan Ramadan, mereka justru masuk kedalam kondisi semi-hibernasi, menghabiskan waktu siangnya dengan tidur selama berjam-jam. Jika mereka memiliki rasa takut pada Allah, maka mereka akan bangun sebentar untuk shalat lantas segera kembali tidur. Fase tidur yang tidak alami ini menyebabkan mereka menjadi malas dan tidak produktif.

Sebenarnya Ramadan justru merupakan waktu untuk meningkatkan aktivitas, di mana kaum mukmin harus meningkatkan keinginannya bekerja keras dan berjuang untuk Allah. Setelah hijrahnya, Rasulullah SAW kira-kira melewati 9 kali bulan Ramadan. Bulan-bulan tersebut dipenuhi dengan banyak peristiwa yang menentukan dalam sejarah Islam dan memberi kita contoh-contoh pengorbanan dan penyerahan diri kepada Allah yang begitu mengagumkan.

Pada tahun pertama setelah Hijrah, Rasulullah saw mengirim Hamzah ibn Abdul Muttalib bersama 30 orang pasukan Muslim ke Saif al-Bahr untuk menyelidiki 300 orang pasukan Quraisy yang telah berkemah di area tersebut. Pasukan Islam hampir saja terlibat pertempuran dengan mereka jika tidak dicegah oleh Majdy ibn Umar al-Juhany. Orang-orang munafik di Madinah ingin memecah belah persatuan umat Islam. Mereka membangun masjid sendiri yang diberi nama Masjid al-Dirar. Pada bulan Ramadan, Nabi saw kemudian memerintahkan masjid ini untuk dihancurkan.

Pada tanggal 17 Ramadan 2 Hijriyah, Allah swt memisahkan kebenaran dari kebatilan melalui  perang Badar. Rasulullah saw bersama  313 sahabat mencegat karavan barang-barang umat Islam yang sebelumnya ditinggal di Makkah. Iring-iringan karavan itu dipimpin oleh Abu Sufyan dan diperkirakan nilainya mencapai 60.000 dinar. Pasukan Islam bertemu dengan pasukan yang terdiri dari para pembesar Quraisy dan bersenjata lengkap yang berniat untuk memadamkan cahaya Islam. Meski kalah secara jumlah dengan perbandingan 1 lawan 3, tampak lemah serta tidak  berpengalaman, pasukan Islam mempertahankan agama mereka dengan semangat menyala untuk membela Nabi saw dan bertemu dengan tuhan mereka melalui syahid. Akhirnya Allah memberi mereka kemenangan yang sangat menentukan itu pada bulan Ramadan.

Pada tahun 6 Hijriyah, Zaid ibn Haritha dikirim ke daerah Wadi al-Qura untuk bertempur dengan Fatimah bint Rabiah, penguasa daerah tersebut. Sebelumnya Fatimah menyerang karavan yang dipimpin oleh Zaid dan sukses merampas barang-barang bawaannya. Dia terkenal sebagai wanita yang paling terlindungi di Arab karena menggantung 50 buah pedang para kerabat dekatnya di rumahnya. Ia juga terkenal sangat menunjukkan permusuhannya terhadap Islam. Ia terbunuh dalam sebuah pertempuran melawan umat Islam pada bulan Ramadan.

Pada bulan Ramadan 8 Hijriyah, perjanjian Hudaibiyah dilanggar dan pasukan Islam terlibat pertempuran dengan Romawi di daerah utara. Nabi Muhammad saw merasa perlu untuk memberi serangan yang fatal terhadap orang-orang kafir di Semenanjung Arab dan menaklukkan kota suci Makkah. Allah telah menyatakan bahwa Ka’bah merupakan tempat kedamaian, keamanan, dan tempat keagamaan yang suci. Telah tiba saatnya untuk kembali menyucikan Ka’bah dari kekotoran. Kemudian Nabi Muhammad saw mengirim pasukan yang berperalatan lengkap lebih dari yang pernah ada sebelumnya. Sepanjang perjalanan menuju Makkah, orang-orang yang melihat kemudian bergabung dengan pasukan Islam. Pada tanggal 20 Ramadan, kebulatan tekad kaum Mukmin, dengan dipandu oleh kehendak Allah, menjadi begitu perkasa sehingga kota Makkah takluk ke tangan umat Islam tanpa pertempuran. Sejak itu, Fathu Makkah menjadi salah satu peristiwa yang penting dalam sejarah umat Islam karena sejak saat inilah Islam akhirnya menjadi satu kekuatan besar di Semenanjung Arab. Pada waktu yang sama, setelah Rasulullah saw menghancurkan berhala-berhala di Makkah, beberapa utusan dikirim ke beberapa pusat utama politheisme. Beberapa berhala terbesar di negeri Arab seperti Latta, Uzza dan Manat juga dihancurkan.

Itulah beberapa peristiwa di bulan Ramadan pada masa Rasulullah saw. Ia merupakan waktu bagi penyucian diri, perpaduan antara melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, serta perjuangan dengan harta dan jiwa. Setelah wafatnya Rasulullah saw, umat Islam tetap mempertahankan tradisi ini dan Allah menggunakan para Mukmin sejati untuk mempengaruhi jalannya sejarah. Ramadan terus berlanjut sebagai waktu terjadinya cobaan besar dan peristiwa-peristiwa penting.

Sembilan puluh dua tahun setelah hijrah, Islam telah menyebar ke penjuru Afrika Utara, Iran, Afghanistan, Yaman, dan Suriah. Saat itu Spanyol masih berada di bawah kepemimpinan tirani Raja Roderic dari Visigoths. Roderic telah memaksa 6 juta para pekerjanya dan menyiksa kaum Yahudi agar pasukan Islam Afrika Utara dikirim ke sana. Gubernur Afrika Utara pada waktu itu  merespon dengan mengirim seorang jendralnya yang pemberani yaitu Tariq ibn Ziyad untuk memimpin 12.000 pasukan Berber dan Arab. Pada bulan Ramadan itu, mereka bertempur melawan gabungan pasukan Visigoth yang terdiri atas 90.000 orang Kristen dan dipimpin oleh Raja Roderic sendiri, di mana ia duduk di singgasana yang terbuat dari gading perak dan bertahtahkan permata berharga. Setelah membakar kapal-kapalnya, Tariq berpidato di hadapan pasukan Islam, memperingatkan mereka bahwa surga terbentang di hadapan dan bahwa hanya kekalahan serta lautlah yang ada di belakang mereka. Antusiasme mereka meluap-luap dan Allah pun mewujudkan kemenangan pasukan Islam dalam mengalahkan pasukan Kafir. Pada pertempuran itu bukan hanya Roderic dan pasukannya yang dapat dikalahkan, namun Tariq dan Musa berhasil membebaskan seluruh Spanyol, Sisilia dan Perancis. Ini merupakan awal dari masa keemasan Andalusia di mana Muslim berkuasa selama lebih dari 700 tahun.

Pada bulan Ramadan 682 Hijriyah, setelah bertempur selama bertahun-tahun, Salahuddin al-Ayyubi akhirnya berhasil mengusir pasukan Salib dari Suriah dan dari seluruh wilayah jajahannya. Setelah itu, Dunia Islam akhirnya berhadapan dengan tantangan yang paling menakutkan.

Pada abad ke-7 Hijriyah, bangsa Mongol menaklukkan Asia dan menghancurkan apapun yang berada di hadapannya. Pemimpin Mongol saat itu, Jenghis Khan, menyebut dirinya “cemeti yang diutus oleh Tuhan untuk menghukum manusia akibat dosa-dosanya”. Pada tahun 617 Hijriyah, kota Samarkand, Ray, dan Hamdan diserang oleh bangsa Mongol, menyebabkan lebih dari 700.000 orang terbunuh atau dijadikan tawanan. Pada tahun 656 Hijriyah, Hulagu Khan, melanjutkan penghancuran yang sebelumnya dilakukan oleh kakeknya, Jenghis Khan. Bahkan, kota Baghdad yang menjadi kota utama di dunia Islam juga turut dihancurkan. Beberapa perkiraan menyatakan bahwa sebanyak 1.800.000 umat Islam terbunuh dalam pembantaian besar-besaran ini. Orang-orang Kristen diperintahkan untuk memakan babi dan minum anggur secara terbuka sementara orang Islam yang berhasil selamat dipaksa untuk minum anggur. Minuman anggur dicipratkan ke dalam masjid dan Azan dilarang. Pada masa terjadinya bencana yang mengerikan dan ancaman terhadap dunia Islam inilah Allah mengutus seorang mamluk dari Mesir bernama Saifuddin Qutz yang berhasil mempersatukan tentara Muslim dan yang akhirnya pada tanggal 26 Ramadan 468 Hijrah bertempur dengan Mongol di Ain Jalut. Meskipun pasukan Muslim berada di bawah tekanan, berkat pertolongan Allah, strategi yang cerdik, dan keberanian yang tak pupus mereka akhirnya berhasil menghancurkan tentara Mongol.

Semangat Ramadan seperti inilah yang menjadikan para salafus salih dapat menghadapi berbagai tantangan yang tampaknya mustahil dilakukan. Mereka  bersungguh-sungguh, menghabiskan siang hari dengan bekerja dan melalui malam  dengan beribadah serta meminta rahmat dan ampunan Allah.

Sekarang ini, dunia Islam menghadapi serangan militer, kebobrokan yang merajalela, dan godaan materialisme. Kita tentu butuh sosok-sosok mukmin sejati yang sanggup mengikuti jejak nabi kita tercinta, jejak para sahabat, Tariq ibn ziyad, Qutuz, Salahuddin dan para pahlawan Islam yang tak terhitung jumlahnya. Kita tentu membutuhkan orang-orang mukmin yang tidak takut akan ancaman orang-orang kafir, namun tetap lembut dan rendah hati pada sesama mukmin; Muslim yang puasanya sempurna dan tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar belaka.

Semoga Allah membangkitkan generasi Islam yang dapat membawa Islam dalam segala aspeknya yang sesuai dengan era kita saat ini, dan semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keberhasilan untuk meletakkan fondasi bagi generasi tersebut. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang membawa berislam selama dan setelah bulan Ramadan, dan semoga Ia tidak menjadikan kita orang-orang yang mengatakan bahwa  dirinya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Allah dan para malaikat-Nya memberikan berkah dan keselamatan atas diri Nabi Muhammad saw. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.

Sumber: The Message – Canada

Biografi Singkat Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Posted by admin - 30 Juni 2012 - Aqidah, Sejarah Islam
1
Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Hadramaut, sebuah provinsi di Negara Yaman, yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia, hal ini disebabkan telah terjalinnya hubungan yang begitu indah antara keduanya semenjak ratusan tahun yang silam, dimana tercatat dalam sejarah bahwa dari negeri inilah cikal bakal Islam yang berkembang di Indonesia.

Hadramaut sejak belasan abad yang silam telah tercatat sebagi negara yang menumbuhkan beberapa tokoh terkenal baik dari kalangan ulama maupun orang-orang shaleh. Di abad ke 8 hijri seorang ulama terkenal pernah melantunkan dua bait syair mengenai penghuni daerah Hadramaut:

Aku melewati lembah Hadramaut seraya menyampaikan salam, dan aku disambut dengan senyuman dan muka beseri-seri. Kutemukan di situ para pembesar dan tokoh yang tidak akan ditemukan di barat maupun di timur.

Begitulah pandangan umum tentang masyarakat dan penduduk Hadramaut dari masa ke masa. Nuansa religius akan dirasakan oleh setiap orang yang memasuki daerah tersebut, sedangkan pusat ilmiah dan dakwah terletak di kota Tarim yang merupakan kota terpenting di daerah tersebut.

Di tempat dan nuansa seperti inilah al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan, tepatnya pada hari Senin tanggal 4 Muharram 1383 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1963.

Beliau tumbuh diantara keluarga shaleh dan berilmu, ayah beliau adalah seorang ulama terpandang yang mencapai derajat mufti dalam mazhab Syafi’I, kakek beliau juga adalah seorang ulama yang produktif, sedangkan saudara tertua beliau yaitu Al Habib Ali Masyhur adalah seorang ahli fiqih yang sampai saat ini menjadi pemuka para mufti kota Tarim.

Cinta terhadap ilmu dan kaum sholihin telah tertanam dalam jiwa al Habib Umar sejak beliau telah menghafal al Quran dan mempelajari ilmu-ilmu dasar agama. Ketika beliau berumumr 9 tahun ayah beliau yaitu al Habib Muhammad bin Salim diculik oleh orang-orang komunis yang saat itu sedang berkuasa di kawasan Yaman Selatan, ayah beliau diculik lantaran tegas dalam menyampaikan dakwah dan kebenaran, hingga sampai saat ini beliau tidak diketahui keberadaannya.

Ketika beliau masih kecil, keadaan Hadramaut tidak kondusif, tekanan dan intimidasi dilakukan kepada para ulama dan pengajar, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Habib Umar, dengan sembunyi-sembunyi beliau belajar pada ulama di masa itu, selain belajar pada ayahandanya, al Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, beliau juga belajar pada al Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, al Munshib al Habib Ahmad bin Ali bin Syekh Abu Bakar, al Habib Muhammad bin Abdullah al Haddar (di kota Baidho – Yaman), al Habib Ibrahim bin Agil bin Yahya (di Kota Taiz – Yaman), juga kepada al Habib al Imam Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Disamping itu dalam kesempatan inilah beliau ke Haramain untuk berhaji. Beliau juga menyempatkan untuk mengikat hubungan dengan banyak ulama disana.

Dari tangan merekalah al Habib Umar menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu fikih, tauhid, usul fikih, sejarah, tata bahasa hingga ilmu Tazkiah (tasawuf). Dan sejak umur 15 tahun beliau telah terbiasa untuk menyampaikan ilmu yang didapatkan dari guru-gurunya itu dalam rangka dakwah ilallah.

Karya dan Rehlah al Habib Umar bin Hafidz

Ditengah kesibukannya sebagai pendidik dan juru dakwah al Habib Umar masih sempat menulis beberapa buku, diantaranya:

  1. Is’af tholibi ridho alkhallak bimakarimi alkhallak
  2. Taujihat tullab
  3. Syarah mandhumah sanad alawiy
  4. Khuluquna
  5. Dakhirah musyarafah
  6. Khulasoh madad an-nabawiy
  7. Diyaul lami bidhikri maulidi nabi as-syafi
  8. Syarobu althohurfi dhikri siratu badril budur
  9. Taujihat nabawiyah
  10. Nur aliman
  11. Almukhtar syifa alsaqim
  12. Al washatiah
  13. Mamlakatul qa’ab wa al ‘adha’

Dari diwan yang berisi syair-syair beliau yang terdiri dari empat juz, disamping rekaman ceramah yang mencapai ribuan cd, vcd dan kaset. Waktu beliau seakan hanya untuk dakwah, tiada menit dan detik kecuali beliau sibuk dengan urusan dakwah, beliau kerap kali melakukan perjalan ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Haramain, Syam, Mesir, Afrika, Asia Tenggara, hingga ke daratan Eropa. Kita ketahui sendiri al Habib Umar setiap tahunnya pada bulan Muharram mengunjungi Indonesia.

Dakwah beliau juga sangat dirasakan kesejukannya dan disambut dengan hangat oleh umat Islam di Indonesia. Masyakarat menyambut beliau dengan sangat antusias dan hangat, mengingat bahwa kakek beliau yang kedua, al Habib Hafidz bin Abdullah bin Syekh Abubakar bin Salim, berasal dari Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Dakwah beliau yang sangat indah dan sejuk itu yang bersumber dan kakek beliau Nabi Muhammad saw, sangatlah diterima oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun rakyat, kaya ataupun miskin, tua muda.

Di Indonesia al Habib Umar sudah beberapa kali membuat kerjasama dengan pihak bahkan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Ditjen Kelembagaan Keagamaan Departemen Agama RI meminta pembuatan kerjasama dengan al Habib Umar dan Darul Musthafa untuk pengiriman SDM yang berkualitas, khususnya para kyai pimpinan pondok pesantren untuk mengikuti program pesantren kilat selama tiga bulan dibawah bimbingan langsung al Habib Umar. Sampai saat ini, banyak sudah santri-santri di Indonesia yang menuntut ilmu di pondok pesantren yang beliau pimpin, Darul Musthafa di Hadramaut, dan telah melahirkan banyak da’i-da’I yang meneruskan perjuangan dakwahnya di berbagai daerah di Indonesia.

 

Habib Alaydrus di Luar Batang

Posted by admin - 12 Juni 2012 - Sejarah Islam
0
Masjid Luar Batang


Masjid Luar Batang termasuk masjid terkenal di Jakarta. Tiap hari ratusan orang mendatangi masjid yang terletak di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Tiap malam Jumat pengunjung mencapai ribuan. Mereka datang dari berbagai tempat di Indonesia, untuk berziarah ke makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (wafat 1756) yang terletak di dalam masjid tersebut. Para peziarah juga datang dari Singapura, Malaysia dan Brunei Daraussalam.

Habib Umar bin Hafiz bin Syechbubakar, pendiri Pesantren Darul Mustafa di Tarim, Hadramaut, tiap tahun bila ke Jakarta tidak melewatkan untuk berziarah ke Luar Batang. Lebih dari seribu pelajar Indonesia berguru kepadanya di Hadramaut. Susuhunan dari Surakarta pada awal abad ke-20 juga pernah berziarah ke Luar Batang disertai sejumlah kerabatnya.

Menurut sejahrawan Syafaruddin Usman MHD dari Pontianak, pada peta-peta Batavia abad ke-19, Masjid Luar Batang terkadang ditulis heiling graf, artinya masjid keramat. Masjid ini terletak di sebelah Utara tembok kota lama Batavia, dan tidak berjauhan dengan gudang rempah-rempah VOC yang kini menjadi Museum Bahari. Luar Batang artinya daerah di Luar Batang (groote boom), yang menutup Pelabuhan Sunda Kalapa pada malam hari.

Turis Tionghoa

Masih menurut Syafarudin, sejarah Masjid Luar Batang belum dapat disusun dengan jelas, antara lain karena sumber-sumber historis yang tersedia bertentangan dengan pandangan umum sekarang, dan kurang lengkap. Berita tertua berasal dari seorang turis Tionghoa, yang menulis bahwa pada 1736 ia meninggalkan Batavia dari shengmu gang, artinya pelabuhan makam keramat, yaitu Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang.

Pada 1916 telah dicatat di atas pintu masjid, bahwa gedung ini selesai dibangun pada 20 Muharam 1152 H atau 29 April 1739. Arah kiblat masjid ini semula kurang tepat dan ditentukan agar lebih pas oleh Syech Muh Arshad al Banjari (wafat 1812) ketika singgah dalam perjalanan pulang dari Hejaz (Arab Saudi). Karena itu, ada penulis seperti H Abubakar Atjeh yang beranggapan semula ruang masjid ini adalah bekas rumah kediaman orang yang kemudian digunakan sebagai mushola atau masjid.

Pada makam Habib Husein Alaydrus tertulis, Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus wafat pada hari Kamis 27 Ramadhan 1169 H bersamaan 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. Sebab, LWC Van Den Berd dalam buku yang termasyhur tentang orang Hadramaut menyebut bahawa Habib Husein baru wafat tahun 1798.

Koran Bataviaasche Courant, pada 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dicatat dalam tulisan ini bahwa Habib Husein meninggal kurang lebih pada tahun 1796, setelah lama berkhotbah dan menyiarkan Islam di Surabaya dan Batavia.

Masih menurut harian berbahasa Belanda itu, pada 1812 makamnya dikelilingi batu dan masih terletak di luar gedung masjid sampai 1827. Rupanya pada waktu itu, derma tidak lagi diterima oleh komandan (semacam lurah) daerah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh pengurus masjid sehingga tempat ibadah ini bisa diperluas.

Menurut koran Belanda itu, Kramat Luar Batang adalah daerah yang termasyhur di Batavia. Habib Husein meninggal di rumah Komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid yang sudah ada. Di lain pihak suatu masjid (bukan surau) telah dicatat pada peta yang dibuat CF Reimer pada tahun 1788. Dengan menyebutkan sebuah makam keramat yang banyak diziarahi di kota tua Batavia.

Reputasi

Dalam bukunya yang terkenal tentang Hadramaut, LWC Van Den Berg, pada tahun 1886, menulis mengenai Habib Husein, “Cendekiawan Hadramaut pertama adalah Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus, yang meninggal pada 1798, setelah mengajar selama bertahun-tahun. Segera setelah ia wafat, ia memperoleh reputasi sebagai keramat. Di atas makamnya di Luar Batang, dekat Muara Kali Batavia, telah didirikan sebuah masjid besar, yang kini menjadi pusat ziarah nusantara. Tidak hanya golongan pribumi, namun juga Cina campuran dan Indo Belanda berziarah untuk memohon keberhasilan dalam usaha mereka.

Menurut cerita, Habib Husein pernah meramalkan nasib baik seorang pemuda Belanda yang kemudian benar-benar menjadi pejabat tinggi, sehingga dia diberi hadiah sebidang tanah, tempat kemudian ia dimakamkan. Beliau meninggal dalam usia 40 tahun. Dahulu, banyak jamaah haji (masih menggunakan kapal laut) setibanya dari Tanah Suci di pelabuhan Tanjung Priok terlebih dulu berziarah ke makamnya. Demikian pula warga betawi saat memberi nama pada bayinya terlebih dulu berziarah ke makam almarhum.

Untuk mendatangi Luar Batang saat ini, kita harus menyediakan uang kecil karena akan diserbu dan dikejar-kejar pengemis yag tidak pernah berhenti mendesak agar diberi uang. Oleh Gubernur Fauzi Bowo, Luar Batang sejak beberapa tahun lalu telah diperbaharui menjadi tempat ibadah yang megah sehingga hampir-hampir tidak terlihat lagi kekunoannya.

AWSOM Powered