Click here to send us your inquires or call (852) 36130518
Click here to send us your inquires or call (852) 36130518

Category: Sejarah Islam

Tantangan-tantangan Bulan Ramadan dalam Sejarah

Posted by admin - 16 Juli 2012 - Ramadhan, Sejarah Islam
0
Abdullah Hakim Quick

Oleh: Dr. Abdullah Hakim Quick

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang telah berfirman dalam kitab suci Al-Quran:  “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: 2:183). Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas utusan Allah Nabi Muhammad saw.

Hai orang-orang yang beriman, Ramadan adalah bulan suci di mana Allah swt secara terus-menerus menguji hambaNya dan memberi kesempatan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan tiada akhir. Puasa merupakan sebuah penyucian yang sempurna dan sarana untuk mengembangkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesadaran terhadap keberadaan Allah, yaitu takwa, merupakan perlindungan melawan godaan setan dan penderitaan di dunia.

Banyak umat Islam sekarang yang memiliki pemahaman yang salah mengenai puasa dan aktivitas berpuasa. Pada bulan Ramadan, mereka justru masuk kedalam kondisi semi-hibernasi, menghabiskan waktu siangnya dengan tidur selama berjam-jam. Jika mereka memiliki rasa takut pada Allah, maka mereka akan bangun sebentar untuk shalat lantas segera kembali tidur. Fase tidur yang tidak alami ini menyebabkan mereka menjadi malas dan tidak produktif.

Sebenarnya Ramadan justru merupakan waktu untuk meningkatkan aktivitas, di mana kaum mukmin harus meningkatkan keinginannya bekerja keras dan berjuang untuk Allah. Setelah hijrahnya, Rasulullah SAW kira-kira melewati 9 kali bulan Ramadan. Bulan-bulan tersebut dipenuhi dengan banyak peristiwa yang menentukan dalam sejarah Islam dan memberi kita contoh-contoh pengorbanan dan penyerahan diri kepada Allah yang begitu mengagumkan.

Pada tahun pertama setelah Hijrah, Rasulullah saw mengirim Hamzah ibn Abdul Muttalib bersama 30 orang pasukan Muslim ke Saif al-Bahr untuk menyelidiki 300 orang pasukan Quraisy yang telah berkemah di area tersebut. Pasukan Islam hampir saja terlibat pertempuran dengan mereka jika tidak dicegah oleh Majdy ibn Umar al-Juhany. Orang-orang munafik di Madinah ingin memecah belah persatuan umat Islam. Mereka membangun masjid sendiri yang diberi nama Masjid al-Dirar. Pada bulan Ramadan, Nabi saw kemudian memerintahkan masjid ini untuk dihancurkan.

Pada tanggal 17 Ramadan 2 Hijriyah, Allah swt memisahkan kebenaran dari kebatilan melalui  perang Badar. Rasulullah saw bersama  313 sahabat mencegat karavan barang-barang umat Islam yang sebelumnya ditinggal di Makkah. Iring-iringan karavan itu dipimpin oleh Abu Sufyan dan diperkirakan nilainya mencapai 60.000 dinar. Pasukan Islam bertemu dengan pasukan yang terdiri dari para pembesar Quraisy dan bersenjata lengkap yang berniat untuk memadamkan cahaya Islam. Meski kalah secara jumlah dengan perbandingan 1 lawan 3, tampak lemah serta tidak  berpengalaman, pasukan Islam mempertahankan agama mereka dengan semangat menyala untuk membela Nabi saw dan bertemu dengan tuhan mereka melalui syahid. Akhirnya Allah memberi mereka kemenangan yang sangat menentukan itu pada bulan Ramadan.

Pada tahun 6 Hijriyah, Zaid ibn Haritha dikirim ke daerah Wadi al-Qura untuk bertempur dengan Fatimah bint Rabiah, penguasa daerah tersebut. Sebelumnya Fatimah menyerang karavan yang dipimpin oleh Zaid dan sukses merampas barang-barang bawaannya. Dia terkenal sebagai wanita yang paling terlindungi di Arab karena menggantung 50 buah pedang para kerabat dekatnya di rumahnya. Ia juga terkenal sangat menunjukkan permusuhannya terhadap Islam. Ia terbunuh dalam sebuah pertempuran melawan umat Islam pada bulan Ramadan.

Pada bulan Ramadan 8 Hijriyah, perjanjian Hudaibiyah dilanggar dan pasukan Islam terlibat pertempuran dengan Romawi di daerah utara. Nabi Muhammad saw merasa perlu untuk memberi serangan yang fatal terhadap orang-orang kafir di Semenanjung Arab dan menaklukkan kota suci Makkah. Allah telah menyatakan bahwa Ka’bah merupakan tempat kedamaian, keamanan, dan tempat keagamaan yang suci. Telah tiba saatnya untuk kembali menyucikan Ka’bah dari kekotoran. Kemudian Nabi Muhammad saw mengirim pasukan yang berperalatan lengkap lebih dari yang pernah ada sebelumnya. Sepanjang perjalanan menuju Makkah, orang-orang yang melihat kemudian bergabung dengan pasukan Islam. Pada tanggal 20 Ramadan, kebulatan tekad kaum Mukmin, dengan dipandu oleh kehendak Allah, menjadi begitu perkasa sehingga kota Makkah takluk ke tangan umat Islam tanpa pertempuran. Sejak itu, Fathu Makkah menjadi salah satu peristiwa yang penting dalam sejarah umat Islam karena sejak saat inilah Islam akhirnya menjadi satu kekuatan besar di Semenanjung Arab. Pada waktu yang sama, setelah Rasulullah saw menghancurkan berhala-berhala di Makkah, beberapa utusan dikirim ke beberapa pusat utama politheisme. Beberapa berhala terbesar di negeri Arab seperti Latta, Uzza dan Manat juga dihancurkan.

Itulah beberapa peristiwa di bulan Ramadan pada masa Rasulullah saw. Ia merupakan waktu bagi penyucian diri, perpaduan antara melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, serta perjuangan dengan harta dan jiwa. Setelah wafatnya Rasulullah saw, umat Islam tetap mempertahankan tradisi ini dan Allah menggunakan para Mukmin sejati untuk mempengaruhi jalannya sejarah. Ramadan terus berlanjut sebagai waktu terjadinya cobaan besar dan peristiwa-peristiwa penting.

Sembilan puluh dua tahun setelah hijrah, Islam telah menyebar ke penjuru Afrika Utara, Iran, Afghanistan, Yaman, dan Suriah. Saat itu Spanyol masih berada di bawah kepemimpinan tirani Raja Roderic dari Visigoths. Roderic telah memaksa 6 juta para pekerjanya dan menyiksa kaum Yahudi agar pasukan Islam Afrika Utara dikirim ke sana. Gubernur Afrika Utara pada waktu itu  merespon dengan mengirim seorang jendralnya yang pemberani yaitu Tariq ibn Ziyad untuk memimpin 12.000 pasukan Berber dan Arab. Pada bulan Ramadan itu, mereka bertempur melawan gabungan pasukan Visigoth yang terdiri atas 90.000 orang Kristen dan dipimpin oleh Raja Roderic sendiri, di mana ia duduk di singgasana yang terbuat dari gading perak dan bertahtahkan permata berharga. Setelah membakar kapal-kapalnya, Tariq berpidato di hadapan pasukan Islam, memperingatkan mereka bahwa surga terbentang di hadapan dan bahwa hanya kekalahan serta lautlah yang ada di belakang mereka. Antusiasme mereka meluap-luap dan Allah pun mewujudkan kemenangan pasukan Islam dalam mengalahkan pasukan Kafir. Pada pertempuran itu bukan hanya Roderic dan pasukannya yang dapat dikalahkan, namun Tariq dan Musa berhasil membebaskan seluruh Spanyol, Sisilia dan Perancis. Ini merupakan awal dari masa keemasan Andalusia di mana Muslim berkuasa selama lebih dari 700 tahun.

Pada bulan Ramadan 682 Hijriyah, setelah bertempur selama bertahun-tahun, Salahuddin al-Ayyubi akhirnya berhasil mengusir pasukan Salib dari Suriah dan dari seluruh wilayah jajahannya. Setelah itu, Dunia Islam akhirnya berhadapan dengan tantangan yang paling menakutkan.

Pada abad ke-7 Hijriyah, bangsa Mongol menaklukkan Asia dan menghancurkan apapun yang berada di hadapannya. Pemimpin Mongol saat itu, Jenghis Khan, menyebut dirinya “cemeti yang diutus oleh Tuhan untuk menghukum manusia akibat dosa-dosanya”. Pada tahun 617 Hijriyah, kota Samarkand, Ray, dan Hamdan diserang oleh bangsa Mongol, menyebabkan lebih dari 700.000 orang terbunuh atau dijadikan tawanan. Pada tahun 656 Hijriyah, Hulagu Khan, melanjutkan penghancuran yang sebelumnya dilakukan oleh kakeknya, Jenghis Khan. Bahkan, kota Baghdad yang menjadi kota utama di dunia Islam juga turut dihancurkan. Beberapa perkiraan menyatakan bahwa sebanyak 1.800.000 umat Islam terbunuh dalam pembantaian besar-besaran ini. Orang-orang Kristen diperintahkan untuk memakan babi dan minum anggur secara terbuka sementara orang Islam yang berhasil selamat dipaksa untuk minum anggur. Minuman anggur dicipratkan ke dalam masjid dan Azan dilarang. Pada masa terjadinya bencana yang mengerikan dan ancaman terhadap dunia Islam inilah Allah mengutus seorang mamluk dari Mesir bernama Saifuddin Qutz yang berhasil mempersatukan tentara Muslim dan yang akhirnya pada tanggal 26 Ramadan 468 Hijrah bertempur dengan Mongol di Ain Jalut. Meskipun pasukan Muslim berada di bawah tekanan, berkat pertolongan Allah, strategi yang cerdik, dan keberanian yang tak pupus mereka akhirnya berhasil menghancurkan tentara Mongol.

Semangat Ramadan seperti inilah yang menjadikan para salafus salih dapat menghadapi berbagai tantangan yang tampaknya mustahil dilakukan. Mereka  bersungguh-sungguh, menghabiskan siang hari dengan bekerja dan melalui malam  dengan beribadah serta meminta rahmat dan ampunan Allah.

Sekarang ini, dunia Islam menghadapi serangan militer, kebobrokan yang merajalela, dan godaan materialisme. Kita tentu butuh sosok-sosok mukmin sejati yang sanggup mengikuti jejak nabi kita tercinta, jejak para sahabat, Tariq ibn ziyad, Qutuz, Salahuddin dan para pahlawan Islam yang tak terhitung jumlahnya. Kita tentu membutuhkan orang-orang mukmin yang tidak takut akan ancaman orang-orang kafir, namun tetap lembut dan rendah hati pada sesama mukmin; Muslim yang puasanya sempurna dan tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar belaka.

Semoga Allah membangkitkan generasi Islam yang dapat membawa Islam dalam segala aspeknya yang sesuai dengan era kita saat ini, dan semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keberhasilan untuk meletakkan fondasi bagi generasi tersebut. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang membawa berislam selama dan setelah bulan Ramadan, dan semoga Ia tidak menjadikan kita orang-orang yang mengatakan bahwa  dirinya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Allah dan para malaikat-Nya memberikan berkah dan keselamatan atas diri Nabi Muhammad saw. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.

Sumber: The Message – Canada

Biografi Singkat Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Posted by admin - 30 Juni 2012 - Aqidah, Sejarah Islam
0
Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Hadramaut, sebuah provinsi di Negara Yaman, yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia, hal ini disebabkan telah terjalinnya hubungan yang begitu indah antara keduanya semenjak ratusan tahun yang silam, dimana tercatat dalam sejarah bahwa dari negeri inilah cikal bakal Islam yang berkembang di Indonesia.

Hadramaut sejak belasan abad yang silam telah tercatat sebagi negara yang menumbuhkan beberapa tokoh terkenal baik dari kalangan ulama maupun orang-orang shaleh. Di abad ke 8 hijri seorang ulama terkenal pernah melantunkan dua bait syair mengenai penghuni daerah Hadramaut:

Aku melewati lembah Hadramaut seraya menyampaikan salam, dan aku disambut dengan senyuman dan muka beseri-seri. Kutemukan di situ para pembesar dan tokoh yang tidak akan ditemukan di barat maupun di timur.

Begitulah pandangan umum tentang masyarakat dan penduduk Hadramaut dari masa ke masa. Nuansa religius akan dirasakan oleh setiap orang yang memasuki daerah tersebut, sedangkan pusat ilmiah dan dakwah terletak di kota Tarim yang merupakan kota terpenting di daerah tersebut.

Di tempat dan nuansa seperti inilah al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan, tepatnya pada hari Senin tanggal 4 Muharram 1383 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1963.

Beliau tumbuh diantara keluarga shaleh dan berilmu, ayah beliau adalah seorang ulama terpandang yang mencapai derajat mufti dalam mazhab Syafi’I, kakek beliau juga adalah seorang ulama yang produktif, sedangkan saudara tertua beliau yaitu Al Habib Ali Masyhur adalah seorang ahli fiqih yang sampai saat ini menjadi pemuka para mufti kota Tarim.

Cinta terhadap ilmu dan kaum sholihin telah tertanam dalam jiwa al Habib Umar sejak beliau telah menghafal al Quran dan mempelajari ilmu-ilmu dasar agama. Ketika beliau berumumr 9 tahun ayah beliau yaitu al Habib Muhammad bin Salim diculik oleh orang-orang komunis yang saat itu sedang berkuasa di kawasan Yaman Selatan, ayah beliau diculik lantaran tegas dalam menyampaikan dakwah dan kebenaran, hingga sampai saat ini beliau tidak diketahui keberadaannya.

Ketika beliau masih kecil, keadaan Hadramaut tidak kondusif, tekanan dan intimidasi dilakukan kepada para ulama dan pengajar, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Habib Umar, dengan sembunyi-sembunyi beliau belajar pada ulama di masa itu, selain belajar pada ayahandanya, al Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, beliau juga belajar pada al Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, al Munshib al Habib Ahmad bin Ali bin Syekh Abu Bakar, al Habib Muhammad bin Abdullah al Haddar (di kota Baidho – Yaman), al Habib Ibrahim bin Agil bin Yahya (di Kota Taiz – Yaman), juga kepada al Habib al Imam Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Disamping itu dalam kesempatan inilah beliau ke Haramain untuk berhaji. Beliau juga menyempatkan untuk mengikat hubungan dengan banyak ulama disana.

Dari tangan merekalah al Habib Umar menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu fikih, tauhid, usul fikih, sejarah, tata bahasa hingga ilmu Tazkiah (tasawuf). Dan sejak umur 15 tahun beliau telah terbiasa untuk menyampaikan ilmu yang didapatkan dari guru-gurunya itu dalam rangka dakwah ilallah.

Karya dan Rehlah al Habib Umar bin Hafidz

Ditengah kesibukannya sebagai pendidik dan juru dakwah al Habib Umar masih sempat menulis beberapa buku, diantaranya:

  1. Is’af tholibi ridho alkhallak bimakarimi alkhallak
  2. Taujihat tullab
  3. Syarah mandhumah sanad alawiy
  4. Khuluquna
  5. Dakhirah musyarafah
  6. Khulasoh madad an-nabawiy
  7. Diyaul lami bidhikri maulidi nabi as-syafi
  8. Syarobu althohurfi dhikri siratu badril budur
  9. Taujihat nabawiyah
  10. Nur aliman
  11. Almukhtar syifa alsaqim
  12. Al washatiah
  13. Mamlakatul qa’ab wa al ‘adha’

Dari diwan yang berisi syair-syair beliau yang terdiri dari empat juz, disamping rekaman ceramah yang mencapai ribuan cd, vcd dan kaset. Waktu beliau seakan hanya untuk dakwah, tiada menit dan detik kecuali beliau sibuk dengan urusan dakwah, beliau kerap kali melakukan perjalan ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Haramain, Syam, Mesir, Afrika, Asia Tenggara, hingga ke daratan Eropa. Kita ketahui sendiri al Habib Umar setiap tahunnya pada bulan Muharram mengunjungi Indonesia.

Dakwah beliau juga sangat dirasakan kesejukannya dan disambut dengan hangat oleh umat Islam di Indonesia. Masyakarat menyambut beliau dengan sangat antusias dan hangat, mengingat bahwa kakek beliau yang kedua, al Habib Hafidz bin Abdullah bin Syekh Abubakar bin Salim, berasal dari Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Dakwah beliau yang sangat indah dan sejuk itu yang bersumber dan kakek beliau Nabi Muhammad saw, sangatlah diterima oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun rakyat, kaya ataupun miskin, tua muda.

Di Indonesia al Habib Umar sudah beberapa kali membuat kerjasama dengan pihak bahkan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Ditjen Kelembagaan Keagamaan Departemen Agama RI meminta pembuatan kerjasama dengan al Habib Umar dan Darul Musthafa untuk pengiriman SDM yang berkualitas, khususnya para kyai pimpinan pondok pesantren untuk mengikuti program pesantren kilat selama tiga bulan dibawah bimbingan langsung al Habib Umar. Sampai saat ini, banyak sudah santri-santri di Indonesia yang menuntut ilmu di pondok pesantren yang beliau pimpin, Darul Musthafa di Hadramaut, dan telah melahirkan banyak da’i-da’I yang meneruskan perjuangan dakwahnya di berbagai daerah di Indonesia.

 

Dunia dan Akhirat di Mata Imam Ali bin Thalib ra

Posted by admin - 25 Juni 2012 - Aqidah, Cerita Islami, Sejarah Islam
0
ibadah

 Diriwayatkan bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan berkata kepada Dharrar bin Dhumrah.

“Lukiskanlah pekerti Ali bin Abi Thalib ra untukku.”

“Lepaskan aku dari keharusan memenuhi permintaan ini, hai Amirul Muknimin,” pinta Dharrar.

“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu,” jawab Muawiyah.

“Biklah kalau begitu,” kata Dharrar lagi seraya melanjutkan,

“Ali adalah seorang yang jauh pikirannya, amat kuat tubuhnya, singkat ucapannya, dan adil hukumnya. Selalu memilih yang amat sederhana untuk makannya dan yang amat kasar untuk pakaiannya. Tak pernah sudi akan dunia dan perhiasannya, merasa tenang dengan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi telah melihatnya pada suatu ketika, pada saat malam menjulurkan tirainya dan bintang-bntang mulai redup terbenam, ia berdiri di mihrabnya bagai tersengat ular berbisa, gelisah laksana seorang yang sangat parah sakitnya, menangis tersedu-sedu memegangi janggutnya seraya berbisik, “Wahai dunia, bukan aku orangnya yang bisa kau perdayakan. Adakah untukku kamu berhias? Atau, kepadaku kanu mengharap? Tidak! Telah kuceraikan engkau dengan tiga kali talak hingga tak mungkin lagi kau kembali. Oh, betapa sedikitnya bekal, jauhnya perjalanan,dan sunyinya safar..!”

Mendengar itu, Muawiyah menangis menutupi wajahnya dengan dengan lengan bajunya sambil menahan air mata sedapt-dapatnya. Dia bergumam, “Semoga Allah merahmati Abu Al Hasan. Demi Allah, sungguh ia sedemikian itu.”

Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Abdullah bin Alawi Al Haddad

Turki Terjemahkan Injil Berusia 1.500 Tahun

Posted by admin - 21 Juni 2012 - Berita, Sejarah Islam
2
injil

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA, 5 Juni 2012

 

Sebuah media di Timur Tengah Alarabiya melaporkan bahwa pemerintah Turki akan menerjemahkan alkitab berusia 1.500 tahun.

Injil kuno yang menyebut kerasulan Muhammad SAW itu memang sempat mengundang perhatian dunia. Selain menyebut akan datangnya Nabi Muhammad, Injil itu juga menyebut bahwa Yesus adalah manusia fana dan tak pernah disalib.

Injil Barnabas yang di percaya para analis sebagai tambahan dari kitab-kitab injil asli seperti Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes menarik perhatian awal tahun ini. Dalam kitab Yesus telah meramalkan kedatangan Nabi Muhammad.

Pada Februari lalu, Vatikan secara resmi telah meminta untuk melihat alkitab yang ditemukan Turki selama operasi penyelundupan pada tahun 2000. Pekan ini kutipan dari dokumen asli tersebut telah di terjemahkan. Dokumen yang ditulis dengan bahasa Syriac dialek Aram tersebut menyangkal Ketuhanan Yesus.

Laporan sebuah majalah online Y-Jesus yang berbasis di Amerika Serikat dalam analisisnya mengenai Injil Barnabas mengungkapkan, teks dokumen secara efektif menyangkal keilahian Yesus dan menolak konsep trinitas, kepercayaan kristen yang mendefinisikan Allah dalam tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Laporan itu juga menyatakan dalam Injil Barnabas, Yudas Iskariot disebut sebagai orang yang mati disalib dan bukan Yesus. Sementara dalam Perjanjian Baru, Yudas disebut mengkhianati Yesus.

Pernyataan dari laporan kajian terhadap Injil Barnabas tersebut menantang pesan Kristen selama ini. Pesan selama ini, kematian Yesus dikatakan sebagai pengorbanan Juru Selamat bagi dosa-dosa Kristen dan kebangkitanya sebagai harapan kehidupan kekal.

Pernyataan Injil Barnabas mendukung keyakinan Islam bahwa penyaliban Yesus tidak pernah terjadi.
St Barnabas secara tradisional diidentifikasikan sebagai pendiri Gereja Siprus. Ia adalah orang Kristen pertama yang dianggap sebagai rasul bagi umat Kristen.

Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Turki, Ertugrul Gunay, mengatakan, teks dari Injil Barnabas tersebut dilaporkan bernilai sekitar 22 juta dolar.

“Sejalan dengan keyakinan Islam, Injil memperlakukan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan. Ini menolak ide dari tritunggal kudus dan penyaliban. Serta ramalan Yesus akan kedatangan Nabi Muhammad,” Kata Gunay seperti dilaporkan dalam salah satu surat kabar setempat.

Saat ini injil dijaga ketat oleh pihak berwenang Turki sebelum diserahkan pada Museum Etnografi Ankara. Rencananya teks asli injil tersebut akan dipamerkan di museum.

Habib Alaydrus di Luar Batang

Posted by admin - 12 Juni 2012 - Sejarah Islam
0
Masjid Luar Batang


Masjid Luar Batang termasuk masjid terkenal di Jakarta. Tiap hari ratusan orang mendatangi masjid yang terletak di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Tiap malam Jumat pengunjung mencapai ribuan. Mereka datang dari berbagai tempat di Indonesia, untuk berziarah ke makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (wafat 1756) yang terletak di dalam masjid tersebut. Para peziarah juga datang dari Singapura, Malaysia dan Brunei Daraussalam.

Habib Umar bin Hafiz bin Syechbubakar, pendiri Pesantren Darul Mustafa di Tarim, Hadramaut, tiap tahun bila ke Jakarta tidak melewatkan untuk berziarah ke Luar Batang. Lebih dari seribu pelajar Indonesia berguru kepadanya di Hadramaut. Susuhunan dari Surakarta pada awal abad ke-20 juga pernah berziarah ke Luar Batang disertai sejumlah kerabatnya.

Menurut sejahrawan Syafaruddin Usman MHD dari Pontianak, pada peta-peta Batavia abad ke-19, Masjid Luar Batang terkadang ditulis heiling graf, artinya masjid keramat. Masjid ini terletak di sebelah Utara tembok kota lama Batavia, dan tidak berjauhan dengan gudang rempah-rempah VOC yang kini menjadi Museum Bahari. Luar Batang artinya daerah di Luar Batang (groote boom), yang menutup Pelabuhan Sunda Kalapa pada malam hari.

Turis Tionghoa

Masih menurut Syafarudin, sejarah Masjid Luar Batang belum dapat disusun dengan jelas, antara lain karena sumber-sumber historis yang tersedia bertentangan dengan pandangan umum sekarang, dan kurang lengkap. Berita tertua berasal dari seorang turis Tionghoa, yang menulis bahwa pada 1736 ia meninggalkan Batavia dari shengmu gang, artinya pelabuhan makam keramat, yaitu Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang.

Pada 1916 telah dicatat di atas pintu masjid, bahwa gedung ini selesai dibangun pada 20 Muharam 1152 H atau 29 April 1739. Arah kiblat masjid ini semula kurang tepat dan ditentukan agar lebih pas oleh Syech Muh Arshad al Banjari (wafat 1812) ketika singgah dalam perjalanan pulang dari Hejaz (Arab Saudi). Karena itu, ada penulis seperti H Abubakar Atjeh yang beranggapan semula ruang masjid ini adalah bekas rumah kediaman orang yang kemudian digunakan sebagai mushola atau masjid.

Pada makam Habib Husein Alaydrus tertulis, Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus wafat pada hari Kamis 27 Ramadhan 1169 H bersamaan 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. Sebab, LWC Van Den Berd dalam buku yang termasyhur tentang orang Hadramaut menyebut bahawa Habib Husein baru wafat tahun 1798.

Koran Bataviaasche Courant, pada 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dicatat dalam tulisan ini bahwa Habib Husein meninggal kurang lebih pada tahun 1796, setelah lama berkhotbah dan menyiarkan Islam di Surabaya dan Batavia.

Masih menurut harian berbahasa Belanda itu, pada 1812 makamnya dikelilingi batu dan masih terletak di luar gedung masjid sampai 1827. Rupanya pada waktu itu, derma tidak lagi diterima oleh komandan (semacam lurah) daerah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh pengurus masjid sehingga tempat ibadah ini bisa diperluas.

Menurut koran Belanda itu, Kramat Luar Batang adalah daerah yang termasyhur di Batavia. Habib Husein meninggal di rumah Komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid yang sudah ada. Di lain pihak suatu masjid (bukan surau) telah dicatat pada peta yang dibuat CF Reimer pada tahun 1788. Dengan menyebutkan sebuah makam keramat yang banyak diziarahi di kota tua Batavia.

Reputasi

Dalam bukunya yang terkenal tentang Hadramaut, LWC Van Den Berg, pada tahun 1886, menulis mengenai Habib Husein, “Cendekiawan Hadramaut pertama adalah Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus, yang meninggal pada 1798, setelah mengajar selama bertahun-tahun. Segera setelah ia wafat, ia memperoleh reputasi sebagai keramat. Di atas makamnya di Luar Batang, dekat Muara Kali Batavia, telah didirikan sebuah masjid besar, yang kini menjadi pusat ziarah nusantara. Tidak hanya golongan pribumi, namun juga Cina campuran dan Indo Belanda berziarah untuk memohon keberhasilan dalam usaha mereka.

Menurut cerita, Habib Husein pernah meramalkan nasib baik seorang pemuda Belanda yang kemudian benar-benar menjadi pejabat tinggi, sehingga dia diberi hadiah sebidang tanah, tempat kemudian ia dimakamkan. Beliau meninggal dalam usia 40 tahun. Dahulu, banyak jamaah haji (masih menggunakan kapal laut) setibanya dari Tanah Suci di pelabuhan Tanjung Priok terlebih dulu berziarah ke makamnya. Demikian pula warga betawi saat memberi nama pada bayinya terlebih dulu berziarah ke makam almarhum.

Untuk mendatangi Luar Batang saat ini, kita harus menyediakan uang kecil karena akan diserbu dan dikejar-kejar pengemis yag tidak pernah berhenti mendesak agar diberi uang. Oleh Gubernur Fauzi Bowo, Luar Batang sejak beberapa tahun lalu telah diperbaharui menjadi tempat ibadah yang megah sehingga hampir-hampir tidak terlihat lagi kekunoannya.