Oleh: Shelina Zahra Janmohamed


Dunia Muslim berubah pada bulan Ramadan. Sarapan dilakukan pada saat sahur. Berdasarkan tradisi Islam, suapan pertama makanan biasanya sesuatu yang manis atau kurma. Tapi benarkah waktu-waktu yang kita lewati pada bulan ini sedemikian religiusnya?

Perubahan pada budaya Ramadan kontemporer berarti bahwa makna spiritual Ramadan perlahan-lahan menjadi hilang. Padahal ketiadaan aktivitas fisik seperti makan, minum, dan seks pada siang hari dengan tujuan mendekatkan diri pada Sang Pencipta sebenarnya memiliki banyak arti dan filosofi.

Puasa menyebabkan seseorang merasakan dan menghargai penderitaan orang miskin dan lapar. Ia merupakan kesempatan untuk memberikan lebih banyak waktu untuk spiritualitas daripada hal-hal yang bersifat fisik. Ia menandakan bahwa kita dapat hidup bahagia dan berhasil meski kekurangan.

Pada malam harinya, tujuan mulia ini dikesampingkan seakan-akan Ramadan hanya untuk siang hari saja. Pesta pun dimulai.

Para ibu memasak makanan mewah untuk keluarga mereka. Makanan tersebut biasanya mengandung kalori sehingga banyak Muslim yang berkata bahwa pada bulan Ramadan mereka justru bertambah berat badannya dari pada turun seperti yang dikira. Makna filosofis pengendalian diri siang harinya terpantul pada berlebih-lebihannya hidangan pada malam hari.

Salah satu tradisi keagamaan pada bulan Ramadan adalah memberi makan orang lain pada waktu iftar agar memperoleh pahala. Undangan makan malam pun disebar, dan acara iftar menjadi acara sosial yang hangat. Namun, di beberapa tempat ia berubah menjadi ajang pamer kemewahan menu makanan. “Pada akhir acara, orang-orang akan mengumumkan berapa biaya makanan tersebut,” kata salah seorang perempuan berkebangsaan Mesir untuk memberi penekanan pada rasa pamer yang mendominasi apa yang harusnya menjadi ajang saling berbagi.

Setelah acara iftar selesai tersedia banyak pilihan hiburan. Sebagian orang akan pergi ke tenda-tenda Ramadan untuk menghisap sisha dan bersantai bersama teman-teman sepanjang malam atau pergi dari satu pesta ke pesta lainnya sampai pagi. Sementara itu, sebagian yang lain akan tetap tinggal di rumah untuk menyaksikan acara opera sabun yang jumlahnya mendominasi siaran televisi. Tahun lalu di Arab Saudi disebutkan bahwa ada 64 acara opera sabun yang disiarkan tiap malamnya secara terus menerus supaya pemirsa dapat menonton sebanyak mungkin.

Ini bukan merupakan penilaian terhadap kualitas acara televisi tersebut atau pernyataan beberapa ulama yang menyatakan bahwa acara-acara tersebut “buruk”. Ini hanya sekadar pengamatan bahwa opera sabun ini mematikan perasaan masyarakat pada bulan Ramadan dan mengambil keuntungan darinya. Pemirsa televisi sadar bahwa mereka digiring ke tingkatan hiburan yang lebih tinggi namun tidak sadar bahwa kenikmatan beribadah dan berinteraksi sosial selama bulan Ramadan mereka rusak.

Bagaimana dengan belanja? Toko-toko buka lebih lama dari sebelumnya, dan seakan-akan Ramadan bukan waktu untuk beribadah malam melainkan hanya sekadar persiapan untuk Ied di mana kita akan saling memamerkan pakaian baru. Festival belanja Ramadan pun menjamur.

Bukannya menghentikan hasrat berbelanja kita justru semakin konsumtif selama 30 hari itu, baik di restoran maupun di mall.

Saya tidak mengatakan bahwa dunia Muslim telah menjadi komsumeris sebulan penuh. Suasana sosial dan spiritual pada komunitas Muslim tetap meriah dan masjid penuh dengan orang-orang yang beribadah dengan khusuk.

Yang mengejutkan kebanyakan muslim yang hidup di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim adalah bahwa rasa keimanan ini lebih terasa di negara-negara di mana Muslim adalah minoritas.

Di negara-negara tersebut jika Anda berpuasa maka Anda harus melawan mainstream yang ada di masyarakat. Anda tetap harus pergi bekerja di mana Anda harus melihat rekan-rekan kerja Anda meminum kopi, atau menghadiri pertemuan yang berlangsung pada saat iftar. Anda harus menyadari dan memahami alasan mengapa Anda berpuasa. Hal ini dapat menggiring pada kesuksesan ruhiyah.

Begitu pentingnya energi ini sampai-sampai saya mengenal beberapa Muslim yang datang ke Inggris pada bulan Ramadan meninggalkan negara Muslimnya supaya lebih mendapatkan keuntungan ruhiyah di bulan ini.

Seiring dengan memudarnya nilai-nilai ruhiyah akibat kondisi budaya dan komersialitas, Ramadan pun sekararang kehilangan makna dan urgensinya. Inilah yang terjadi pada tahun 1960 ketika presiden Tunisia Habib Bourgiba berniat membatalkan Ramadan. Meskipun Ramadan merupakan “budaya yang indah” ia merasa bahwa ia “melumpuhkan” masyarakat kita.

Dan ketika acara keagamaan menjadi budaya maka ia menjadi mudah untuk diabaikan.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa saya terlalu saleh. Sementara yang lain akan berkata bahwa jika para ibu ingin memanjakan keluarganya dengan makanan lezat setelah bersusah payah berpuasa seharian maka hal itu merupakan hak mereka. Selain itu ada pula yang akan mengatakan bahwa menghabiskan malam di bar sisha atau menonton opera sabun dapat meningkatkan kepekaan sosial.

Tentu saja tidak ada aturan bagaimana Anda mengisi bulan Ramadan. Anda tidak harus shalat seharian. Namun saya melihat tren yang cukup mengkhawatirkan. Semua kegiatan bisa jadi benar karena setiap orang memiliki pilihan, namun jika diperhatikan, Anda akan melihat makna dan konteks Ramadan perlahan-lahan menghilang. Jika kita menerima semua pembenaran maka kita harus berhati-hati terjerumus pada kemunafikan.

Bukan hanya Ramadan dan Idul fitri yang kini kehilangan makna dan pengaruhnya. Penganut Kristen yang taat serta Dunia Barat kini mengeluh bahwa makna natal telah mengering dan kehilangan nilai spiritualnya.

Beberapa pihak mungkin akan menolak membandingkan antara bagaimana natal dikomersialisasikan dengan situasi Ramadan kontemporer. Namun terdapat beberapa kesamaan seperti pada contoh-contoh yang telah disebutkan di atas.

Anda tidak perlu menjadi religius untuk dapat menghargai bahwa makna sosial dan etis dari acara-acara keagamaan seperti natal, Ramadan dan Eid begitu  berpengaruh terhadap moralitas masyarakat.

Untuk alasan inilah Umat Muslim menyuarakan protesnya sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki keyakinan dan saling berbagi kepedulian mengenai menjadi keringnya makna dan cakupan moral acara-acara kegamaan ini. Namun, seringkali kita menyalahkan dunia Barat sebagai tidak bertuhan dan rusak akibat komersialisasi yang berlebih-lebihan, sementara menutup mata pada tantangan yang sama yang dihadapi dunia Muslim.

Ramadan tidak harus menjadi, dan tidak boleh menjadi, kesalehan yang benar-benar hambar. Kesenangan, rasa saling berbagi, dan kebahagiaan dalam kebersamaan adalah komponen utama Ramadan. Namun jangan sampai ia hanya menjadi sekadar ajang mengumbar rasa rakus, belanja, dan hiburan kosong.

Kita perlu untuk mengetahui dan mengenal posisi kesenangan materi bulan Ramadan. Dengan menjadi jujur terhadap arti kesenangan fisik, maka kita dapat mengurangi prioritas kita terhadapnya supaya dapat memperoleh nilai ruhiyah dan moral setidaknya selama 30 hari bulan Ramadan.

Dengan mengurangi kesenangan fisik ini kita membuat Ramadan terasa begitu istimewa. Ramadan adalah tentang bagaimana kita mengenal nilai ruhiyah kita masing-masing dan tentang bagaimana kita menemukan diri kita sebagai sebuah jiwa, bukan tubuh, dalam masyarakat di mana kita hidup.

Shelina Zahra Janmohamed adalah seorang pengamat Islam Inggris dan penulis, sebuah memoar berjudul “Love in a Headscarf”.