Oleh: Dr. Abdullah Hakim Quick

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang telah berfirman dalam kitab suci Al-Quran:  “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: 2:183). Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas utusan Allah Nabi Muhammad saw.

Hai orang-orang yang beriman, Ramadan adalah bulan suci di mana Allah swt secara terus-menerus menguji hambaNya dan memberi kesempatan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan tiada akhir. Puasa merupakan sebuah penyucian yang sempurna dan sarana untuk mengembangkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesadaran terhadap keberadaan Allah, yaitu takwa, merupakan perlindungan melawan godaan setan dan penderitaan di dunia.

Banyak umat Islam sekarang yang memiliki pemahaman yang salah mengenai puasa dan aktivitas berpuasa. Pada bulan Ramadan, mereka justru masuk kedalam kondisi semi-hibernasi, menghabiskan waktu siangnya dengan tidur selama berjam-jam. Jika mereka memiliki rasa takut pada Allah, maka mereka akan bangun sebentar untuk shalat lantas segera kembali tidur. Fase tidur yang tidak alami ini menyebabkan mereka menjadi malas dan tidak produktif.

Sebenarnya Ramadan justru merupakan waktu untuk meningkatkan aktivitas, di mana kaum mukmin harus meningkatkan keinginannya bekerja keras dan berjuang untuk Allah. Setelah hijrahnya, Rasulullah SAW kira-kira melewati 9 kali bulan Ramadan. Bulan-bulan tersebut dipenuhi dengan banyak peristiwa yang menentukan dalam sejarah Islam dan memberi kita contoh-contoh pengorbanan dan penyerahan diri kepada Allah yang begitu mengagumkan.

Pada tahun pertama setelah Hijrah, Rasulullah saw mengirim Hamzah ibn Abdul Muttalib bersama 30 orang pasukan Muslim ke Saif al-Bahr untuk menyelidiki 300 orang pasukan Quraisy yang telah berkemah di area tersebut. Pasukan Islam hampir saja terlibat pertempuran dengan mereka jika tidak dicegah oleh Majdy ibn Umar al-Juhany. Orang-orang munafik di Madinah ingin memecah belah persatuan umat Islam. Mereka membangun masjid sendiri yang diberi nama Masjid al-Dirar. Pada bulan Ramadan, Nabi saw kemudian memerintahkan masjid ini untuk dihancurkan.

Pada tanggal 17 Ramadan 2 Hijriyah, Allah swt memisahkan kebenaran dari kebatilan melalui  perang Badar. Rasulullah saw bersama  313 sahabat mencegat karavan barang-barang umat Islam yang sebelumnya ditinggal di Makkah. Iring-iringan karavan itu dipimpin oleh Abu Sufyan dan diperkirakan nilainya mencapai 60.000 dinar. Pasukan Islam bertemu dengan pasukan yang terdiri dari para pembesar Quraisy dan bersenjata lengkap yang berniat untuk memadamkan cahaya Islam. Meski kalah secara jumlah dengan perbandingan 1 lawan 3, tampak lemah serta tidak  berpengalaman, pasukan Islam mempertahankan agama mereka dengan semangat menyala untuk membela Nabi saw dan bertemu dengan tuhan mereka melalui syahid. Akhirnya Allah memberi mereka kemenangan yang sangat menentukan itu pada bulan Ramadan.

Pada tahun 6 Hijriyah, Zaid ibn Haritha dikirim ke daerah Wadi al-Qura untuk bertempur dengan Fatimah bint Rabiah, penguasa daerah tersebut. Sebelumnya Fatimah menyerang karavan yang dipimpin oleh Zaid dan sukses merampas barang-barang bawaannya. Dia terkenal sebagai wanita yang paling terlindungi di Arab karena menggantung 50 buah pedang para kerabat dekatnya di rumahnya. Ia juga terkenal sangat menunjukkan permusuhannya terhadap Islam. Ia terbunuh dalam sebuah pertempuran melawan umat Islam pada bulan Ramadan.

Pada bulan Ramadan 8 Hijriyah, perjanjian Hudaibiyah dilanggar dan pasukan Islam terlibat pertempuran dengan Romawi di daerah utara. Nabi Muhammad saw merasa perlu untuk memberi serangan yang fatal terhadap orang-orang kafir di Semenanjung Arab dan menaklukkan kota suci Makkah. Allah telah menyatakan bahwa Ka’bah merupakan tempat kedamaian, keamanan, dan tempat keagamaan yang suci. Telah tiba saatnya untuk kembali menyucikan Ka’bah dari kekotoran. Kemudian Nabi Muhammad saw mengirim pasukan yang berperalatan lengkap lebih dari yang pernah ada sebelumnya. Sepanjang perjalanan menuju Makkah, orang-orang yang melihat kemudian bergabung dengan pasukan Islam. Pada tanggal 20 Ramadan, kebulatan tekad kaum Mukmin, dengan dipandu oleh kehendak Allah, menjadi begitu perkasa sehingga kota Makkah takluk ke tangan umat Islam tanpa pertempuran. Sejak itu, Fathu Makkah menjadi salah satu peristiwa yang penting dalam sejarah umat Islam karena sejak saat inilah Islam akhirnya menjadi satu kekuatan besar di Semenanjung Arab. Pada waktu yang sama, setelah Rasulullah saw menghancurkan berhala-berhala di Makkah, beberapa utusan dikirim ke beberapa pusat utama politheisme. Beberapa berhala terbesar di negeri Arab seperti Latta, Uzza dan Manat juga dihancurkan.

Itulah beberapa peristiwa di bulan Ramadan pada masa Rasulullah saw. Ia merupakan waktu bagi penyucian diri, perpaduan antara melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, serta perjuangan dengan harta dan jiwa. Setelah wafatnya Rasulullah saw, umat Islam tetap mempertahankan tradisi ini dan Allah menggunakan para Mukmin sejati untuk mempengaruhi jalannya sejarah. Ramadan terus berlanjut sebagai waktu terjadinya cobaan besar dan peristiwa-peristiwa penting.

Sembilan puluh dua tahun setelah hijrah, Islam telah menyebar ke penjuru Afrika Utara, Iran, Afghanistan, Yaman, dan Suriah. Saat itu Spanyol masih berada di bawah kepemimpinan tirani Raja Roderic dari Visigoths. Roderic telah memaksa 6 juta para pekerjanya dan menyiksa kaum Yahudi agar pasukan Islam Afrika Utara dikirim ke sana. Gubernur Afrika Utara pada waktu itu  merespon dengan mengirim seorang jendralnya yang pemberani yaitu Tariq ibn Ziyad untuk memimpin 12.000 pasukan Berber dan Arab. Pada bulan Ramadan itu, mereka bertempur melawan gabungan pasukan Visigoth yang terdiri atas 90.000 orang Kristen dan dipimpin oleh Raja Roderic sendiri, di mana ia duduk di singgasana yang terbuat dari gading perak dan bertahtahkan permata berharga. Setelah membakar kapal-kapalnya, Tariq berpidato di hadapan pasukan Islam, memperingatkan mereka bahwa surga terbentang di hadapan dan bahwa hanya kekalahan serta lautlah yang ada di belakang mereka. Antusiasme mereka meluap-luap dan Allah pun mewujudkan kemenangan pasukan Islam dalam mengalahkan pasukan Kafir. Pada pertempuran itu bukan hanya Roderic dan pasukannya yang dapat dikalahkan, namun Tariq dan Musa berhasil membebaskan seluruh Spanyol, Sisilia dan Perancis. Ini merupakan awal dari masa keemasan Andalusia di mana Muslim berkuasa selama lebih dari 700 tahun.

Pada bulan Ramadan 682 Hijriyah, setelah bertempur selama bertahun-tahun, Salahuddin al-Ayyubi akhirnya berhasil mengusir pasukan Salib dari Suriah dan dari seluruh wilayah jajahannya. Setelah itu, Dunia Islam akhirnya berhadapan dengan tantangan yang paling menakutkan.

Pada abad ke-7 Hijriyah, bangsa Mongol menaklukkan Asia dan menghancurkan apapun yang berada di hadapannya. Pemimpin Mongol saat itu, Jenghis Khan, menyebut dirinya “cemeti yang diutus oleh Tuhan untuk menghukum manusia akibat dosa-dosanya”. Pada tahun 617 Hijriyah, kota Samarkand, Ray, dan Hamdan diserang oleh bangsa Mongol, menyebabkan lebih dari 700.000 orang terbunuh atau dijadikan tawanan. Pada tahun 656 Hijriyah, Hulagu Khan, melanjutkan penghancuran yang sebelumnya dilakukan oleh kakeknya, Jenghis Khan. Bahkan, kota Baghdad yang menjadi kota utama di dunia Islam juga turut dihancurkan. Beberapa perkiraan menyatakan bahwa sebanyak 1.800.000 umat Islam terbunuh dalam pembantaian besar-besaran ini. Orang-orang Kristen diperintahkan untuk memakan babi dan minum anggur secara terbuka sementara orang Islam yang berhasil selamat dipaksa untuk minum anggur. Minuman anggur dicipratkan ke dalam masjid dan Azan dilarang. Pada masa terjadinya bencana yang mengerikan dan ancaman terhadap dunia Islam inilah Allah mengutus seorang mamluk dari Mesir bernama Saifuddin Qutz yang berhasil mempersatukan tentara Muslim dan yang akhirnya pada tanggal 26 Ramadan 468 Hijrah bertempur dengan Mongol di Ain Jalut. Meskipun pasukan Muslim berada di bawah tekanan, berkat pertolongan Allah, strategi yang cerdik, dan keberanian yang tak pupus mereka akhirnya berhasil menghancurkan tentara Mongol.

Semangat Ramadan seperti inilah yang menjadikan para salafus salih dapat menghadapi berbagai tantangan yang tampaknya mustahil dilakukan. Mereka  bersungguh-sungguh, menghabiskan siang hari dengan bekerja dan melalui malam  dengan beribadah serta meminta rahmat dan ampunan Allah.

Sekarang ini, dunia Islam menghadapi serangan militer, kebobrokan yang merajalela, dan godaan materialisme. Kita tentu butuh sosok-sosok mukmin sejati yang sanggup mengikuti jejak nabi kita tercinta, jejak para sahabat, Tariq ibn ziyad, Qutuz, Salahuddin dan para pahlawan Islam yang tak terhitung jumlahnya. Kita tentu membutuhkan orang-orang mukmin yang tidak takut akan ancaman orang-orang kafir, namun tetap lembut dan rendah hati pada sesama mukmin; Muslim yang puasanya sempurna dan tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar belaka.

Semoga Allah membangkitkan generasi Islam yang dapat membawa Islam dalam segala aspeknya yang sesuai dengan era kita saat ini, dan semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keberhasilan untuk meletakkan fondasi bagi generasi tersebut. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang membawa berislam selama dan setelah bulan Ramadan, dan semoga Ia tidak menjadikan kita orang-orang yang mengatakan bahwa  dirinya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Allah dan para malaikat-Nya memberikan berkah dan keselamatan atas diri Nabi Muhammad saw. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.

Sumber: The Message – Canada