Nabi  Muhammad SAW kembali  dari  gua Hira usai dari pertemuannya yang pertama dengan malaikat Jibril. Misinya baru saja diproklamirkan dan beliau  baru saja  menerima wahyu yang pertama dari  Tuhannya.

Beliau begitu ketakutan dan kebingungan. Adalah atas rahmat Allah bahwa tempat kembali beliau ketika itu yaitu Khadijah RA adalah seorang istri yang cerdas dan bijaksana. Segera setelah beliau menyampaikan yang hal baru terjadi dan ketakutannya, Khadijah menjawab dengan keyakinan dan jaminan bahwa tidak ada yang patut dikhawatirkan. Ia dapat berkata demikian dengan yakin berdasarkan kecerdasan, kematangan, pengetahuannya tentang sejarah dan pengetahuannya terhadap karakter pribadi Muhammad yang mulia yang diperoleh selama 15 tahun menikah dengannya.

Ia menjawab tanpa ragu. Katanya: “Jangan khawatir, Demi Dia yang menguasai jiwa Khadijah, Allah takkan pernah mempermalukanmu, karena engkaulah yang senantiasa menyambung tali silaturahim, engkau menanggung beban orang lain, menyantuni orang yang tidak mampu, memuliakan tamu, dan engkau juga menolong orang-orang yang  dizalimi haknya”.

Di sini, Ummul Mukminin Khadijah RA menunjukkan  pada kita sebuah pola hidup: yang karenanya Allah memelihara dan melindungi hambaNya yang melayani dan memberi manfaat kepada sesama manusia. Allah tidak akan mempermalukan mereka atau menjadikan mereka berduka. Allah justru akan merahmati mereka dengan sifat mereka itu supaya mereka dapat membawa kebaikan di dunia.

Khadijah RA juga menunjukkan bukti kemuliaan karakter Rasulullah SAW, yaitu bahwa beliau senantiasa memiliki kemurahan hati serta  kemuliaan tujuan hidup yang dengannya beliau dikenal setelah menjadi utusan Allah. Ia telah memiliki kepribadian yang mulia sebelum ia menerima wahyu ilahi.

Jika kita perhatikan keutamaan-keutamaan Rasulullah yang disebutkan Khadijah RA, maka kita akan menyadari bahwa hal-hal tersebut berkaitan dengan cara-cara kita dalam menolong sesama, yaitu: memelihara  hubungan kekerabatan, membantu mengurangi beban  orang yang lemah, menyantuni orang yang tidak mampu, membuat nyaman tamu, mengembalikan hal-hak orang-orang yang diperlakukan tidak adil.

Seluruh keutamaan ini merupakan bagian dan paket keseluruhan sifat bawaan Nabi Muhammad. Khadijah RA menunjukkan pada kita kemuliaan pribadi Nabi jauh sebelum al-Qur’an turun dengan semua deksripsi mengenai pribadi Nabi. Hal ini disebabkan ia mengenalnya lebih dari siapapun di muka bumi ini

Dalam pribadi Nabi Musa AS kita juga mendapat contoh dalam hal menolong sesama. Ketika beliau tiba di sumur Madyan, beliau melihat para pria sibuk memberi minum ternak mereka. Beliau juga melihat dua orang wanita muda menunggu di kejauhan bersama dengan domba mereka, tidak dapat mendekati sumur tersebut.

Nabi Musa AS merasa terusik melihat kondisi tersebut. Al-Qur’an menyebutkan kisah tersebut dalam Surat al-Qashash ayat 23:

“Dan ketika dia sampai pada telaga air di Madyan, didapatinya di sana sekelompok manusia yang sedang memberi minum (ternaknya). Dan didapatinya di belakang mereka dua orang perempuan yang menahan ternaknya. Musa berkata, “ bagaimana keadaan kamu berdua?” keduanya berkata, “kami tidak dapat memberi minum (ternak kami) sebelum selesai gembala-gembala itu, sedang ayah kami adalah seorang tua yang telah lanjut umurnya.”

Apa yang menjadikan nabi Musa saat itu peduli dengan keadaan tersebut? Karakternya saat itulah yang  menjadikannya peduli akan hak-hak orang yang lemah. Orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan harus dibantu dan diberikan prioritas. Tidak seharusnya mereka dikesampingkan dan diabaikan.

“Maka Musa memberi minum (ternak) keduanya (QS: al-Qashash:24)

Respon pertamanya adalah menolong mereka. Keberaniannya, kemuliaan, serta sifat murah hatinya tidak akan mengizinkan hal lainnya.

Kita patut untuk merasa kagum atas tindakan nabi Musa mengingat kondisinya saat itu. Ia merupakan pelarian jauh dari rumahnya di mana di sana ia memiliki status sebagai penjahat yang sedang dicari. Ia merupakan orang asing, tidak ada satu orang pun yang ia kenal, dan ia tidak memiliki harta bahkan untuk dirinya sendiri. Ia memiliki cukup banyak permasalahan bagi diriya sendiri untuk dikhawatirkan. Namun, mengabaikan orang lain yang tidak berdaya adalah bertentangan dengan pembawaannya.

Dua contoh kenabian ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting pada kita. Allah memilih orang-orang dengan kebesaran hati untuk menyampaikan pesan-Nya; orang-orang yang secara naluriah peduli untuk membantu sesama. Dibutuhkan orang-orang seperti ini untuk menanggung beban memandu manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Hanya mereka yang memiliki kepedulian, rasa kasih, dan karakter yang lembut lah yang mampu mengemban tugas seperti ini.

Bukti-bukti nyata ini berasal dari kehidupan para Nabi. Mereka yang ingin menjadi pewaris para nabi  harus  menanamkan hal ini dalam pikiran.  Semakin kita merefleksikan karakter para Nabi dalam cara kita sendiri, semakin kita berhasil untuk membawa misi mereka. Para ulama dan perkerja Muslim perlu memiliki kesadaran  sosial. Mereka harus dapat menjadi tempat orang-orang meminta pertolongan. Mereka harus mampu untuk berurusan dengan permasalahan masyarakat dengan pengertian dan kelembutan.

Inilah sebabnya mengapa Allah berkata kepada Rasulullah   SAW: “Maka karena rahmat Allah lah, engkau bersikap  lemah lembut terhadap mereka, dan sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu”. (QS: Ali Imran: 159).

Jika kesadaran sosial kita belum sepenuhnya terbangun, maka keberhasilan kita untuk menyerukan pesan-pesan Allah kepada sesama akan terbatas. Bahkan boleh jadi usaha kita justru akan mendapat hasil buruk.

Oleh : Sheikh `Abd al-Wahhâb al-Turayrî, former professor at al-Imâm University in Riyadh.

Original Article by islamtoday.net