Ciri orang yang berakal dan berbudaya adalah tidak akan tinggal seterusnya disatu tempat. Meninggalkan tempat tinggalnya untuk mengembara, itulah bagian dari istirahatnya. Pergilah dengan penuh keyakinan! Niscaya akan engkau temukan pengganti semua yang engkau tinggalkan. Bekerja keraslah karena hidup akan terasa nikmat setelah bekerja.

Sungguh, aku melihat air yang tergenang dan berhenti, memercikkan bau tak sedap. Andaikan saja ia mengalir, air itu akan terlihat bening dan sehat. Sebaliknya jika engkau biarkan air itu menggenang, ia akan membusuk. Singa hutan dapat menerkam mangsanya setelah ia tinggalkan sarangnya. Anak panah tak akan mengenai sasarannya, jika tak beranjak dari busurnya. Andaikan mentari berhenti selamanya di tengah langit, niscaya umat dari ujung barat sampai ujung timur akan bosan kepadanya. Emas bagaikan debu, sebelum ditambang sebagai emas. Sedangkan, pohon cendana yang masih tertancap pada tempatnya, tak ubahnya pohon-pohon untuk kayu bakar.

Jika engkau tinggalkan tempat kelahirannya, akan engkau temui derajat mulia di tempat yang baru dan engkau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya. Itulah salah satu cara Imam Syafi’I bersyair. Jadi, mari kita tekadkan diri kita untuk menjadi orang-orang perantau. Jangan sampai seumur hidup mulai lahir sampai mati pada tempat yang sama. Bumi Allah swt sangat luas.

Dengan merantau, kita akan memiliki pengalaman kurang makan, kurang tidur, kurang minum. Diusir karena tidak sanggup membayar kontrakan rumah. Dihina karena sehari baru mampu makan sekali. Berbuka puasa dengan air mentah karena kehabisan segalanya. Menikmati aneka kekurangan, asalkan jangan kurang ajar, Insya Allah akan mendewasakan kehidupan kita.

Menurut Imam Syafi’I dalam perantauan adalimakegunaan:

  1. Menghilangkan kesedihan. Dengan merantau, insya Allah akan mendapatkan kegembiraan beraneka ragam. Misalnya kesulitan sebelum merantau yang kita anggap sangat berat terasa ringan dan tak ada artinya saat berjumpa dengan banyak orang yang jauh lebih sulit namun mereka lebih semangat.
  2. Mendapatkan penghidupan.Adafaktor psikologis yang kita dapatkan, yaitu mister gengsi akan hilang. Kita berani kerja apa saja dan tidak gengsi sebab teman-teman sekampung halaman tidak tahu.
  3. Mendapatkan ilmu. Ilmu berlimpah ruah akan kita dapatkan, sebab di perantauan akan kita jumpai banyak guru. Kita akan berguru kepada hinaa, pujian, makian, orang pandai, orang bodoh, dan orang sok pandai.
  4. Mengagungkan jiwa. Ketika sahabat Abdurrahman bin Auf merantau dari Makkah ke Madinah, beliau dipersaudarakan dengan konglomerat Sa’ad bin Rabi dan ditawari kilau kemilau harta. Abdurrahman bin Auf yang zuhud, wara’, jujur dan baik akhlaknya ini tidak serta merta menerima tawaran itu. Hanya satu permohonannya, tunjukkan jalan menuju pasar. Akhirnya, dia menjadi konglomerat yang sukses.
  5. Dapat bergaul dengan banyak orang. Kita bisa menerapkansuratal Hujurat ayat 13, dapat berkenalan dengan berbagai suku dan bangsa dengan aneka karakter positif dan negatifnya.

Sekali lagi, ayo merantau! Jangan sampai dari lahir sampai mati di satu tempat. Beranilah hadapi tantangan..!!

Sumber:

Amri, Masrukhul. Hidup Untuk Hidup.Jakarta: DAR! Mizan, 2004.

Sumber ilustrasi di sini