Al Sheikh Afeefuddin al Jailani, pada pembukaan kuliah mengenai “Notions That Must Be Corrected” memulai penghargaannya kepada Allahyarham Shaykh Muhammadd b. Alawi al-Maliki al Hasani, penulis terkenal dari buku ini. Kuliah ini dibawakan di Ba’alawi center di Kemensah,Kuala Lumpurpada tanggal 15 Januari, 2012.

Shaykh Muhammad menyatakan bahwa “penghargaan ini berdasarkan apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar”.

Beliau meninggal pada tanggal 15 bulan Ramadhan tahun 2004. Hampir tujuh tahun yang lalu. Tepatnya pada hari Jumat, 29 Oktober 2004. Beliau dibesarkan di Mekah dibawah didikan banyak cendekiawan. Tiga dari cendekiawan inilah yang sangat berpengaruh terhadap diri beliau. Salah satunya adalah ayahnya, Al Marhum Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki, dan kakeknya, Sayyid Abbas al Maliki yang merupakan Mufti dan Qadi dari Makkah juga Imam serta Khatib Masjid al-Haram di zaman Ottomans dan Hasemites. Serta Sayyid Alawi, ayah dari Sayyid Muhammad, pada periode konflik setelah Ottomans yang memainkan peranan penting diArabiadalam menyatukan orang-orang serta menjauhi fitnah. Itulah mengapa beliau memiliki hubungan yang baik dengan keluarga Saudi. Mereka menghargai beliau karena mengetahui beliau adalah Ahlul Bait dan seorang cendekiawan. Beliau juga memiliki sejumlah besar pengikut di seluruh dunia. Sayyid Alawi ditunjuk dalam berbagai posisi penting, meskipun terdapat banyak kesulitan karena perbedaan pendekatan dan pemikiran antara beliau dan orang-orang Saudi, namun Alhamdulillah beliau tetap menjadi cendekiawan di Masjidil Haram di Mekah selama 40 tahun hingga beliau meninggal. Dan Sayyid Muhammad mengambil alih posisi tersebut.

Salah satu hal yang aku dengar dari Almarhum Sayyid Muhammad, mengenai ayahnya, yaitu beliau berkata bahwa ayahnya memiliki kepercayaan yang kuat terhadap mimpi yang baik. Dan baginya mimpi itu sendiri adalah bentuk dari pengetahuan. Tidak semua orang bisa menginterpretasikan atau memahaminya. Seseorang mungkin pernah mengalami suatu mimpi yang serupa dengan mimpi yang dialami orang lain. Namun ini belum tentu berarti sama. Mungkin saja mimpi itu berarti berbeda karena dialami oleh orang yang berbeda, lingkungan yang berbeda serta rumah yang berbeda. Ini akan bergantung pada keadaan dari mimpi tersebut. Dan untuk menginterpretasikannya dibutuhkan keahlian tingkat tinggi. Tidak semua orang bisa menginterpetasikannya dengan akurat.

Sayyid Alawi percaya terhadap mimpi yang baik. Pada salah satu mimpi, Almarhum Sayyid Muhammad mengatakan bahwa pada satu hari beliau dan ayahnya sedang duduk datanglah seseorang menghampiri ayahnya dan mengatakan “Wahai Sayyid, aku bermimpi tetapi aku tidak yakin. Mungkin ini bukan mimpi melainkan mimpi buruk.”

Kemudian Sayyid Alawi berkata “Beritahu aku.”

Laki-laki itu berkata “Aku melihat engkau duduk di Haram sedang mengajar di kursimu. Dan kemudian datanglah seorang polisi menghampiri. Mereka membawamu kemudian membaringkanmu ke bawah sambil menaruh paku di tanganmu seperti penyaliban. Oleh karena itu, aaya merasa sangat tidak nyaman.”

Seseorang berkata, “Seharusnya kamu tidak memberitahu beliau mengenai mimpi ini.”

Tetapi Sayyid Alawi berkata “Tidak tidak tidak. Ini adalah mimpi yang sangat bagus ini berarti bahwa Allah Yang Maha Kuasa dan Mulia menegaskan bahwa kita akan menetap di Haram hingga akhir hayat.”

Jadi, pemahaman mimpi sangat berbeda dan tinggi. Itulah mengapa beliau menuliskan mimpi-mimpi. Almarhum Sayyid Muhammad juga selalu menuliskan mimpi-mimpi. Jika kamu memberitahukan mimpimu kepada beliau, beliau akan memintamu berhenti dan mengambil pulpen serta buku dan menuliskan mimpi yang kamu ceritakan. Al Faqih Allah. Aku mengenalnya sejak tahun 1998. Aku bertemu dengannya pada haji pertama Aku. Aku berpergian dengan kelompok dari Srilanka.  Padahal pada saat itu beliau sedang berada dalam keadaan seperti tahanan rumah. Beliau tidak diizinkan keluar dan bertemu orang-orang. Bukan karena pemerintah tetapi karena keputusan departemen agama disana. Dan Subhanallah, karena beliau dapat mempengaruhi orang lain untuk gelar besar.

Suatu saat, ketika beliau sedang mengajar di Haram, Mekah, mereka membawa satu buku A Conversation with Al Maliki yang ditulis oleh seseorang yang sangat…baiklah aku tidak tahu harus bilang apa, hanya Allah yang Maha Kuasa dan Mulia yang mengetahui. Tetapi penulis buku benar-benar tidak menyukai Al Maliki. Dia menulis buku itu di luar apa yang nampak yang dia abaikan. Dia menulis tanpa pengetahuan langsung mengenai Al Maliki tetapi hanya melalui tulisannya. Dan dia menulis apa yang menurut dia benar.

Itulah mengapa kami menulis buku Notions that Must be Corrected. Karena kami ingin meluruskan seluruh kesalahpahaman orang-orang yang tidak meluangkan waktu untuk mempelajari kebenaran lebih dalam. Itulah mengapa, Sayyid Muhammad menulis buku ini dan Masya Allah buku ini merupakan cetakan yang ke-15, buku yang sangat terkenal, Alhamdulillah.

Dia mencetak buku ini dan ketika dia sedang mengajar mereka membagikan buku-buku tersebut kepada orang-orang tepat di hadapannya. Semua orang yang sedang duduk dan mendengarkan kuliah dosennya, mengambil seluruh buku yang dibagikan dan meletakannya di atas api setelah dia selesai mengajar. Mereka membakar buku itu. Dan pesertanya meningkat sebagai hasil dari tindakannya. Lingkaran terbesar dari majlis talim halaqa adalah hallaqa milik Sayyid Muhammad di Mekah.

Dulu beliau mengajar tafsir Hadits dan Al-Quran. Di Indonesia beliau memiliki pengikut yang jumlahnya empat kali dari populasi di Saudi. Beliau memiliki lebih dari 1200 sekolah agama yang didirikan disana. Beliau menjaga murid-muridnya dengan sangat baik. Seperti ketika mereka belajar di Mekah, setelah lulus, beliau tidak meninggalkan mereka. Mereka kembali keIndonesiadan dia memberikan mereka uang untuk membuka bisnis dan untuk menikah dan kemudian juga tetap memperhatikan mereka setelah itu. Beliau menjaga hubungannya dengan murid-muridnya, Subhanallah. Inilah mengapa mereka bisa bertahan di Mekah meskipun banyak sekali masalah yang menghadang.

Suatu saat, beliau berkata, selama masa Raja Khaled memerintah, dan situasi menjadi sedikit mengganggu para cendekiawan, kemudian menteri pemerintahan memanggil raja solih dan menasehatinya untuk segera meninggalkan Mekah tanpa ditunda karena sesuatu yang terjadi. Kemudian beliau berangkat keIndonesiadengan perjalanan melalui Singapura. Beliau tinggal disanauntuk waktu yang lama. Ketika Raja Khalid meninggal dunia, Raja Fahd mengambil alih. Suatu saat ketika Raja tersebut sudah menjabat, mereka memanggilnya. Asisten pribadi Raja memanggil, dia juga asisten pribadi almarhum Raja Fahd, dia meminta untuk berbicara dengannya. Untuk itu beliau pergi ke kedutaan Saudi. Asisten pribadi itu mengatakan bahwa Raja menanyakan mengapa beliau pergi meninggalkan Saudi untuk waktu yang lama. Dan Raja memintanya untuk kembali ke Mekah karena menyukai ajarannya. Ia menjawab dengan respon yang samar-samar mengenai kerjanya diIndonesiaakan tetapi dia terkejut dengan permintaan itu. Beliau berkata bahwa beliau perlu menjalani beberapa operasi gigi karena ada masalah dengan giginya. Kemudia dia pergi. Setelah setahun asisten pribadi Raja menghubunginya kembali dan memberi tahu bahwa Raja telah menyiapkan 300.000 reyal untuknya untuk menjalani operasi gigi. Kemudian beliau bergurau kepada aku dengan mengatakan ”Jika aku tahu ini akan terjadi, aku akan menggunakan alasan masalah hati daripada gigi.”

Raja memintanya untuk kembali dan menetap di Haram Mukarramah dan menjamin bahwa tidak akan ada orang yang mengganggu atau melakukan apapun kepadanya. Kemudian beliau kembali, alhamdulillah, beliau membuka kembali rumahnya serta mengajar kembali. Beliau memberi tahu aku bahwa, ”Bahkan ancaman kematian tidak akan bisa menyebabkan aku merubah pendekatan Aku. Aku hanya mengikuti jalan yang lurus, Siratul Mustaqeem”.

Aku merasakan beberapa hal yang sangat manis. Aku berada di Srilanka satu waktu sebelumnya. Dan setelah shalat Ashar aku tertidur. Kemudian aku melihat diri aku di dalam mimpi Aku sedang bepergian mengunjungi Makam Rasulullah, Semoga Allah memberkati dan memberinya kedamaian. Tetapi ini terlihat seperti ratusan tahun yang lalu. Terdapat lampu minyak yang menerangi jalan dan ketika aku sampai ke pintu masuk makam Rasulullah SAW, terdapat orangSudanyang sedang duduk di kursi.

Di samping itu, keluarga yang menjaga makam Rasulullah SAW adalah Al Arawat – suatu suku diSudan. Kejadian ini terjadi pada awal masa Uthman, sekitar 600 tahun lalu. Hanya mereka yang diizinkan untuk masuk ke dalam makam. Aku tidak tahu bahwa ada orang lain yang diperbolehkan untuk masuk. Keluarga ini yang memegang kunci. Dan mereka akan melakukan operasi sehingga mereka tidak bisa menikah, para penjaga tersebut adalah para kasim. Sekarang ada empat orang yang menjaga.yang paling muda berusia 77 tahun.

Di mimpi, aku melihat salah satu dari mereka menyapa dan memeluk aku. Dan aku berkata dengan malu-malu, aku ingin memasuki Makam. Dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa membantu karena tidak memiliki kunci. Aku menanyakan kepadanya di mana kuncinya berada dan dia memberitahu bahwa kunci tersebut dipegang oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki. Subhannallah, ini adalah bushra. Kemudian aku memberitahunya bahwa Sayyid Muhammad adalah teman serta saudara. Aku melihatnya menyapa di mimpi- “Selamat Datang Sayyid”. Kemudian Aku memberitahu beliau bahwa aku ingin masuk dan beliau mengatakan ya, tentu. Beliau mengambil kunci tersebut – sebuah kunci yang besar – kemudian membuka pintu dan memasuki Makam Rasulullah, di sana terdapat keray hijau yang menutupi makam. Sayyid Muhammad mengambil keray tersebut dan melipatnya dengan rapih kemudian memberikannya kepadaku dan memberitahu bahwa ini merupakan hadiah dari Rasulullah untukku. Aku langusng mengambilnya dan mencengkramnya di dada dengan erat dan ketika aku membuka mata aku sedang berada di Srilanka. Tetapi Aku bermandi keringat seolah-olah aku baru keluar dari kamar mandi dan aku bernafas terengah-engah. Saat itu juga aku langsung menghubungi Almarhum Sayyid Muhammad melalui telepon. Dan setelah salam dan basa basi aku mengatakan “Aku ingin memberitahumu sesuatu”. Ini berita yang baru saja terjadi, baru saja beberapa menit yang lalu. Dia bertanya apa itu dan aku memberitahunya. Subhanallah, saat aku menjelaskan kepada beliau, telepon tersebut jatuh dari tangan beliau. Dan beliau tidak bisa melanjutkan karena beliau menangis, Subhanallah. Beliau tidak dapat melanjutkan pembicaraan tersebut. Kemudian aku bejanji untuk datang ke Mekah dan menceritakan kepada beliau. Ketika aku pergi ke sana, menit-menit aku memasuki, beliau membuka buku dan menanyakan aku untuk menghubungkan mimpi tersebut. Kemudian beliau mengatakan “ini adalah mubishirat (kabar baik).

Dan hal lain mengenai diri beliau dari mulut beliau sendiri. Aku mendengar cerita tetapi aku ingin mengkonfirmasi secara langsung kepada beliau. Cerita ini juga didengar oleh sejumlah cendekiawan. Beberapa dariIraqdan beberapa dari Mesir yang ingin aku undang untuk makan siang. Beliau menanyakan kepada aku di mana karena aku akan mengundang mereka semua. Aku menyebutkan suatu tempat dan dia menegur dan mengatakan “ini rumahmu di sini, di Mekah. Kamu ingin mengundang kami ke satu tempat yang lain? Undang kami ke rumahmu. Di sini.” Lalu dia mengatur sebuah resepsi besar untuk para cendekiawan tersebut. Kira-kiralimabelas dari mereka ditambah beberapa lainnya. Ketika kami membicarakan mengenaiBaghdad, dia mengatakan “Wallahi, aku ingin memberitahumu sesuatu. Kepada kamu semua.” Aku menanyakan apakah aku dapat menceritakan kembali apa yang akan beliau katakan, beliau menjawab boleh. Kemudian dia melanjutkan:

Pada awal tahun 80an, beliau mengatakan, “Aku merasa tanganku mati rasa bahkan aku tidak bisa membawa sebuah pulpen di tangan. Aku gemetaran. Inilah masalahnya. Ini merupakan sebuah masalah yang membuat aku khawatir apa yang terjadi. Dokter yang berbeda mengatakan hal yang berbeda-beda. Salah satu mengatakan ini merupakan stroke sementara yang lainnya mengatakan masalah jantung dan beberapa lainnya mengatakan prognosis yang berbeda lagi. Aku sangat khawatir, untuk itu mereka menyuruhku untuk melakukan beberapa tes.Adadua tes medis yang harus aku jalankan dengan melakukan tes darah serta tes lainnya. Kemudian aku kembali ke rumah dan malam itu di dalam mimpi aku melihat Ahli Badr yang datang dan mengatakan kepadaku, “Wahai Sayyid Muhammad, kamu sudah melakukan tes medis?

Kemudian aku menjawab di dalam mimpi “Ya, Aku sudah melakukannya.”

Dia melanjutkan “ada satu lagi tes yang harus kau jalankan.”

Aku menanyakan ”Tes apa itu?”

dan dia menjawab “Di Baghdad dengan Syehk Abdul Qadir al Jailani”.

Ini semua terjadi di dalam mimpi, salah seorang sahabat Rasulullah memberitahu bahwa aku harus pergi keBaghdaduntuk bertemu Syekh Abdul Qadir al Jailani. Aku bangun dan berpikir: “Apa ini? Tapi aku meyakininya. Seorang sahabat memberi tahu aku untuk pergi keBaghdad. Ini adalah awal tahun 80-an, perang antaraIrandanIraqbaru saja dimulai. Jadi aku memutuskan untuk pergi keBaghdadtanpa memberitahu siapapun bahkan istriku. Di pagi hari aku pergi ke Jeddah, aku memberitahu istri bahwa aku akan pergi ke Jeddah untuk suatu urusan.

Dia bertanya, ”Apakah kamu mengetahui seseorang yang dipanggil Tariq?”

Aku menjawab ”Siapa Tariq?”

Dia berkata, “Aku tidak tahu tetapi Aku melihat seseorang di mimpi yang mengatakan bahwa dirinya adalah Tariq dan dia bilang bahwa dia sedang mencari suamiku. Siapa itu?”

Aku menajwab, ‘Aku tidak tahu. Aku terpikirkan oleh seseorang dengan nama itu tetapi dia sudah meninggal dunia. Jadi Aku tidak tahu.”

Kemudian, beliau mengambil penerbangan keBaghdaddan ketika beliau sampai di bandara mereka menanyakan visanya. Sebelumnya dari negara Arab kita diperbolehkan melakukan perjalanan antar negara tanpa menggunakan visa tetapi mereka mengatakan “Sekarang kami dalam keadaan perang jadi kami memerlukan visa.”

Beliau berkata:’Aku bersumpah demi Allah aku datang dari Saudi, niat aku hanya untuk mengunjungi Syekh Abdul Qadir al Jailani dan besok aku akan pulang kembali, hanya tinggal satu malam.” Kemudian mereka mengatakan: “Dari Saudi, kamu datang untuk mengunjungi Syekh Abdul Qadir? Dan kamu adalah seorang Wahabi? Bagaimana bisa? Tidak mungkin.”

Saat Aku coba menjelaskan, mereka bahkan menjadi lebih menyerang. Waktu mulai memasuki Ashar. Aku tiba sejak pukul 11 pagi dan masih disanahingga Ashar. Kemudian Aku pergi untuk shalat Ashar di musholla bandara. Salah satu karyawan melihat aku dan menyapa, ”Assalamualaikum Ya Syekh, apa kabar?

Aku menjawab, ”Wallahi, Aku dari…” dan aku pun menceritakan kepadanya. Dia melihat aku dan mengatakan, ”Baik, karyawan itu sudah tidak lagi bertugas sekarang. Sekarang waktunya aku yang bertugas, aku akan memperbolehkanmu masuk dengan menjadi tanggung jawabku tetapi anda harus janji bahwa besok anda harus kembali ke bandara dan pulang seperti yang anda katakan.”

Lalu aku berjanji. Setelah meninggalkan bandara dan naik taksi dan memberi tahu Syekh Abdul Qadir, dan aku tidak perlu membayar apapun. Kemudian aku tiba di makam/masjid dan aku masuk ke dalam dan pergi mengunjungi makam dan berdoa karena melalui Syekh Abdul Qadir dan karena Allah cinta kepadanya, dia bisa meminta atas namaku. (Tawassul).” Karena ibunya, adalah keluarga Jailani dari Bagdhad. Jadi ketika Aku pergi untuk mengunjungi ia merujuk aku sebagai pamannya (di sisi ibunya). Seperti Sayyidinah Rasulullah, semoga Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian, digunakan untuk memanggil Sa’ad – karena ia berasal dari suku yang sama seperti ibunya – Ia akan memanggilnya paman (di sisi ibunya). Jadi, Sayyid Muhammad akan merujuk dengan cara yang sama. Beliau berada disana hingga ba’da Isya dan setelah Isya masijd dan makam ditutup dan dikunci. Semua orang harus pergi. Dia berpikir: kemana harus pergi? Beliau mengetahui banyak cendekiawan diIraq tapi beliau tidak menyiapkan apapun. Tidak membawa nomer telepon atau apapun. Untuk itu beliau meminta seseorang disana untuk memberitahu arah hotel terdekat karena beliau berencana untuk sholat subuh disana dan kemudian pulang. Seseorang itu memberitahunya di mana tempat hotel berada dan akan membawanya kesana. Dia membawaku ke mobil dan kami makan kebab terlebih dahulu lalu ke hotel. Hari berikutnya, sebelum tahajud dia menelpon dan memberi tahu bahwa dia telah menunggu di resepsionis. Kemudian kami pergi untuk sarapan dan ke makam dan setelah kami mengunjungi dan sholat, dia mengatakan akan mengantarku ke bandara. Diperjalanan Aku berpikir, Wallahi orang ini, aku harus memberinya sesuatu dari Saudi, sebuah juba, atau sesuatu lainnya. Jadi Aku menanyakan alamat dan nomer telponnya dan terlebih dahulu menanyakan namanya dan dia berkata ‘nama Aku adalah Tariq.” Nama yang sama dengan yang dilihat istriku di mimpi. Aku bertanya ulang untuk memastikannya. “Aku harus segera mengembalikanmu ke bandara dan pergi cepat-cepat ke makam.”

Aku bertanya kenapa, dia bilang “karena Aku tinggal di Musul dan keponakan aku menunggu di rumah. kemudian aku melihat di dalam mimpi, Syekh Abdul Qadir datang dan berkata: “Kita kedatangan seorang tamu, datang dan perhatikan dia.” Itulah mengapa aku datang dan mencari tamu itu.” Dia tidak mengetahui bahwa tamunya adalah Sayyid Muhammad.

Aku pernah bertemu Tariq di Bahdad. Suatu ketika di majlis setelah haji, kita duduk bersama dengan beberapa orang lainnya. Namanya adalah Tariq ar Rifa’I, dia berbicara kepadaku dan menanyakan “Ya Afeef, tidakkah kamu pergi untuk menemui Syekh Muhammad?

Aku bilang,”ya.”

Kemudian dia bertanya, “Beliau tidak menceritakanmu mengenai aku?”

Aku bertanya ”mengenai apa?”

dia bilang “ketika beliau datang keBaghdad, aku menyambutnya.”

Aku berkata ”Allahu Akbar, kamu adalah orangnya. Jadi ketika Sayyid Muhammad kembali ke Mekah, beliau berkata ”aku tidak melakukan tes medis atau pengobatan lainnya. Tetapi dari Allah, Subhanallahu wa ta’ala, Aku benar-benar sembuh.” Ini menunjukan hubungan dengan para cendekiawan dan orang-orang suci setelah mereka meninggal.

Beliau memiliki reputasi dan cinta yang sangat tinggi dan khususnya untuk Al Makki. Dan cendekiawan dari Mekah dan Madinah, memiliki cinta yang besar untuk menghargainya (Syeh Muhammad).

Jika beliau terlibat dalam suatu hal, dengan masalah apapun, kesalahapahaman apapun, jika beliau terlibat, hal itu akan terselesaikan. Mereka semua akan mendengarkannya. Dan Subhanllah, beliau membantu banyak orang. Sangat murah hati. Dan telah melakukan banyak hal yang baik.

Dan dirinya sendiri belajar di bawah banyak Shuyukh. Salah satunya, Syekh Hasnain Muhammad Makhluf, Pendiri Mufti ofEgypt. dan Syekh Muhammad Yassin al Fadhanni. – Fadhanni berarti Pattani. Dia berasal dariThailand – Pattani. Mereka tinggal di Saudi tetapi keluarganya berasal dariThailand. Dan banyak cendekiawan lainnya. Dan beliau memiliki hubungan yang baik dengan banyak cendekiawan di seluruh dunia. Beliau menyelesaikan salah satu studinya diPakistan dan memperoleh gelar Phd di Al-azhar, Kairo, Mesir. Dan sekarang mereka mengajarkan buku-bukunya di al-Azhar pula.

Setelah beliau meninggal, dalam ta’ziyah tiga harinya, King Abdullah dari Saudi, yang pada saat itu merupakan putra mahkota, datang secara pribadi untuk ta’ziyah mengatas namakan dirinya sendiri dan King Fahd. Karena King Fahd pada saat itu sedang sakit parah dan putra mahkota berperan mewakilinya. Dan setelah majlis, dia mengundang anaknya Sayyid Ahmad dan kakaknya Sayyid Abas ke tempatnya. Ketika dia diundang untuk makan siang kemudian King Abdul Aziz berkata ” Aku ingin mengatakan tiga hal kepada anda.” ucap King Abdul Aziz, Semoga Allah yang maha kuasa dan maha mulia memberkatinya dengan kesehatan karena dia telah melakukan sangat banyak hal yang baik. Tiga hal tersebut adalah:

Pertama: tetaplah menggunakan Imama ini. Agar menyamai Amlarhum Sayyid Muhammad karena cendekiawan lain hanya menggunakan selendang.

Kedua: tetaplah menggunakan cara yang sama dengan almarhum ayahmu dan kakakmu. Jangan mengubahnya. Cara mengajar yang sama.

Ketiga: Setelah Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mulia, aku akan selalu ada untuk mendukungmu.jika kamu membutuhkan apapun, silahkan meminta.

 

Sumber: di sini