Sejak masa VOC (kompeni), tepatnya pada tahun 1795 di Betawi sudah terbit surat kabar “Al-Juab”. Mungkin ini merupakan surat kabar pertama yang ditujukan untuk umum, yang saat itu disebut pribumi dan oleh Belanda disebut inlander.

Surat kabar ini ditulis dalam huruf Arab, namun isinya bahasa Melayu. Penerbitnya juga seorang keturunan Arab, yang sekaligus merupakan seorang mubaligh. Tidak heran kalau isinya tidak banyak memuat berita, lebih banyak karangan tentang agama Islam.Suratkabar ini terbit selama enak tahun (sampai 1801) .

Sejak abad ke-17 agama Islam telah berkembang pesat diIndonesia. Karenanya rakyat lebih banyak membaca dan menulis dalam huruf Arab gundul atau Arab – Melayu. Ditulis dengan huruf Arab, tapi bacaannya Melayu. Baru pada tahun 1872, dikembangkan ejaan Melayu Latin. Yang sebelumnya, ditulis dalam huruf Arab, apakah itu bahasa Sunda, Jawa, Melayu, dan berbagai etnis lainnya. Sampai sekarang masih kita dapati dalam terjemahan di kitab-kitab kuning.

Begitu luasnya bahasa Arab jadi bacaan sehari-hari, hingga mata uang yang dikeluarkan pemerintah kolonial bagian belakangnya tertulis dalam bahasa Arab – Melayu. Ini terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negeri-negeri jajahan Inggris, seperti Singapura dan Malaya (kini Malaysia). Kala itu, hampir seluruh masyarakat buta huruf membaca huruf Latin, tapi melek dalam membaca huruf Arab.

Kebiasaan membaca dalam huruf Arab – Melayu ini juga terjadi pada warga Cina peranakan (yang lahir di Indonesia). Pada tahun 1858 di Jakarta terbit “Soerat Kabar Betawi” yang terbit tiap Sabtu. Surat kabar ini yang dibaca secara luas – termasuk etnis Tionghoa – mempergunakan huruf Latin dan Arab (Latin dan Jawi). Meskipun penerbitan ini bersifat dagang namun memuat cerita-cerita ‘1001 malam’. Khusus untuk etnis Tionghoa, pada akhir abad ke-19 sudah banyak kaum peranakan yang tidak mampu lagi membaca dalam huruf Arab. Mereka lebih banyak mempelajari huruf Latin dari guru-guru Belanda.

Pada abad ke-19 banyak pendatang dari Hadramaut ke Nusantara. Setelah pada 1870 pelayaran dengan kapal uap antara Timur Jauh dan Arab mengalami perkembangan pesat. Karena hampir seluruh keturunan Arab yang datang ke Indonesia berasal dari Hadramaut mereka disebut Hadarim. Di Jakarta, pada 1901 mereka mendirikan perkumpulan ‘Jamiatul Kheir’, yang kemudian disusul dengan perguruan Islam modern.

Perkumpulan yang mendapat simpati dari tokoh-tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan, mendatangkan dan kemudian menyebarkan surat kabar dari Timur Tengah. Di samping menyebarkan gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Majalah “Al-Manar:” yang dipimpin oleh Sayid Rasyid Ridho, memperoleh informasi gerakan-gerakan Islam di Indonesian dari Jamiatul Kheir.

Di Surabaya pada tahun 1922 – 1926 terbit mingguan tiap hari Kamis bernama ”Hadramaut” setebal 20 halaman. Mingguan ini dipimpin Idrus bin Umar Almashur kelahiran Tarim, Hadramaut. Sedangkan redakturnya KH Abdullah bin Nuh, ulama terkemuka dan pendiri majelis taklim ‘Al-Ihya’ Bogor(1922 – 1926). Kemudian ia digantikan oleh Diya Shahab, yang karangannya tentang masuknya Islam di Indonesia dijadikan rujukan.

Mingguan ini terbit guna mengantisipasi politik kolonial Belanda. Isinya beragam, mulai dari politik, sosial, budaya, sampai mimbar agama. Kita masih mendapati arsip mingguan ini di Arsip Nasional. Media ini dipuji oleh Amir Syakib Arsalam, seorang sastrawan dan sejarawan terkenal Timur Tengah akan keindahan tata bahasa Arabnya. Menurutnya, mingguan “Hadramaut” memiliki bahasa Arab paling baik di dunia, selain di negara-negara Arab. Idrus bin Umar, pemimpin mingguan ini ikut aktif dalam pertemuan saat NU didirikan 1926.

Hampir bersamaan, di Jakarta terbit koran berbahasa Arab: “Bir Hoed” mengabadikan nama telaga Nabi Hud di Hadramaut. Pemimpin redaksinya M.O. Hasyimi. Sementara majalah berbahasa Arab “Borobudur” di Jakarta, dipimpin Abdullah bin Alwi alatas. Dia masih terhitung kakek mantan menlu Ali Alatas. Dia banyak membantu organisasi-organisasi Islam kala itu, seperti Syarikat Islam, Muhammadiyah, dan Al-Irsyad.

Majalah ini beralamat di Passer Baru Oost (jln Pasar Baru Timur) Weltevreden, Batavia. Penyandang dana ‘Borobudur’ Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, dulunya tinggal di gedung megah, yang kini jadi Museum Tekstil, jln Jati Petamburan, Jakarta Pusat. Sayid Abdullah yang menyekolahkan putra-putranya ke Turki, banyak membanntu organisasi Islam seperti SI, Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Arabithah, guna mengimbangi sekolah-sekolah Belanda (Van der Mueller – Museum Nasional).

Seperti juga Rabithah Alawiyah, Al-Irsyad juga banyak menerbitkan majalah berbahasa Arab. Sementara, seperti dituturkan Edrus Mashur, cicit mingguan Hadramaut, media ini bukan saja beredar diIndonesia, tapi juga ke Timur Tengah, Turki, dan Singapura. Maklum, kala itu masyarakat banyak yang dapat menguasai bahasa Arab.

Media cetak berbahasa Arab, yang dulu jumlahnya puluhan, kini tidak satu pun yang tinggal. Kecuali Majalah Alo Indonesia milikProf. Dr. Nabilah Lubis yang sekarang terletak di Ciputat. Sementara di Jakarta dewasa ini terbit tiga surat kabar berbahasa Cina. Dua koran Cina lainnya terbit di Surabaya dan Pontianak. Sementara sebuah televisi swasta secara tetap tiap hari menyiarkan berita-berita dalam bahasa Mandarin.

Sumber: Shahab, Alwi. Maria van Engels Menantu Habib Kwitang. Jakarta: Penerbit Republika, 2006.