Oleh Alwi Shahab

 

Abdullah Zaidan (85 tahun) tak dapat menahan harunya saat bercerita masa lalu Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Air mata kakek belasan cucu ini menetes karena Pekojan yang pada masa kolonial ditetapkan sebagai kampung Arab pada 1950-an ditinggal penghuninya. Mereka hengkang ke kawasan selatan Jakarta.

Kini, mayoritas penghuni Pekojan adalah keturunan Cina. Kawasan yang bersebelahan dengan Glodok ini ikut berkembang sebagai pusat perdagangan di Ibukota. ”Padahal sampai 1940-an, di Pekojan hanya ada tiga keluarga Cina. Di antaranya tukang es dan pemilik warung,” kata sesepuh Pekojan ini. Saat ini, warga keturunan Arab di Pekojan berjumlah 50 hingga 60 kepala keluarga.

Sejumlah gedung dan rumah yang dulu milik jamaah (sebutan untuk keturunan Arab), kini jadi milik baokdeh (istilah Arab untuk keturunan Cina). ”Padahal, dulu tukang bakmi tidak berani lewat Pekojan, takut ditimpuki anak-anak,” papar Abdurahman Alatas (72), sepupu mantan menlu Ali Alatas. Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab. Kala itu, para imigran yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan) ini diwajibkan lebih dulu tinggal di sini.

Baru dari Pekojan mereka menyebar ke berbagai kota dan daerah. Di Pekojan, Belanda pernah mengenakan sistem passen stelsel dan wijken stelsel. Bukan saja menempatkan mereka dalam ghetto-ghetto, tapi juga mengharuskan mereka memiliki pas atau surat jalan bila bepergian ke luar wilayah. Sistem macam ini juga terjadi di Kampung Ampel, Surabaya, dan sejumlah perkampungan Arab lainnya di Nusantara.

Kampung Pekojan boleh dibilang cikal bakal dari sejumlah perkampungan Arab yang kemudian berkembang di Batavia. Dari tempat inilah mereka kemudian menyebar ke Krukut dan Sawah Besar (Jakarta Barat); Jatipetamburan, Tanah Abang, dan Kwitang (Jakarta Pusat); Jatinegara dan Cawang (Jakarta Timur). Umumnya keturunan Arab di Jakarta dulu berasal dari Pekojan. Baru setelah kedaulatan (awal 1950-an), banyak keturunan Arab dari berbagai daerah mengadu nasib ke Jakarta.

Sedangkan keturunan Arab dari Jakarta, seperti juga ‘saudaranya’ warga Betawi, tetap setia di kotanya. Sebelum ditetapkan sebagai kampung Arab, Pekojan merupakan tempat tinggal warga Koja (Muslim India). Sampai kini, masih terdapat Gang Koja yang telah berganti nama jadi Jl Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah masjid kuno Al-Anshsor yang dibangun pada 1648 oleh para Muslim India. Tidak sampai satu kilometer dari tempat ini, masih di Kelurahan Pekojan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pertengahan abad ke-18.

Warga Muslim India yang telah menyebar di Jakarta, setiap Lebaran shalat Id di masjid ini. Sambil bernostalgia mengenang para leluhurnya yang tinggal di kawasan ini. Di Pekojan, sekalipun kini tidak tepat lagi disebut kampung Arab, peninggalan orang Arab ratusan tahun lalu banyak. Misalnya Masjid Langgar Tinggi, dibangun abad ke-18. Masjid ini telah diperluas oleh Syeikh Said Naum, seorang kapiten Arab. Ia memiliki beberapa kapal niaga dan tanah luas di Tanah Abang yang sebagian diwakafkan untuk pekuburan.

Pekuburan ini oleh Ali Sadikin dibongkar dan di atasnya dibangun rumah susun. Di dekat Masjid Langgar Tinggi terdapat Jembatan Kambing. Dinamakan demikian karena sebelum binatang dibawa ke pejagalan (kini Jl Pejagalan), kambing melewati jembatan di Kali Angke ini. Para pedagang di sini sudah berdagang turun-menurun sejak 200 tahun lalu. Di depan pejagalan terdapat Masjid An-Nawier, tempat ibadah terbesar di Pekojan. Menurut Abdullah Zaidan, masjid ini diperluas pada 1920-an oleh Habib Abdullah bin Husein Alaydrus. Ia seorang kaya raya, dan tempat kediamannya diabadikan menjadi Jl Alaydrus, di sebelah kiri Jl Hayam Wuruk.

Ia juga banyak memasok senjata untuk para pejuang Aceh pada Perang Aceh (1873-1903). Masih di kawasan Pekojan, terdapat Masjid Zawiah yang dulu merupakan surau kecil. Masjid ini dibangun Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, yang kemudian memimpin pengajian dan majelis taklim di Empang, Bogor. Beberapa rumah arsitektur Moor (sebutan Muslim India dan Timur Tengah), masih terdapat di sini.

Di Pekojan, pada awal abad ke-20 (1901), berdiri organisasi pendidikan Islam, Jamiatul Kheir, yang dibangun dua bersaudara Shahab, Ali* dan Idrus, di samping Muhammad Al-Mashur dan Syekh Basandid. Menurut buku Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, perkumpulan ini menghasilkan tokoh KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pendiri SI). Jamiatul Kheir mendatangkan Syeikh Ahmad Surkati dari Sudan yang kemudian mendirikan Perguruan Islam Al-Irsyad. Jamiatul Kheir banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah.

Ia ikut menyebarkan gerakan Pan Islam yang dicetuskan Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan punya hubungan korespondensi dengan surat kabar dan majalah di Timur Tengah. Dengan demikian negara-negara tersebut mendapatkan informasi mengenai Indonesia, termasuk kekejaman Belanda. Snock Hurgronye dengan berang menuding Jamiatul Kheir membahayakan Belanda. Tempat-tempat kegiatan Islam yang masih tersisa di Pekojan akan ditinjau dalam wisata kota tua hari ini (Ahad 25/8). Acara ini akan diikuti sekitar 100 orang dari kalangan mahasiswa, sejarawan, dan pers.

REPUBLIKA – Minggu, 25 Agustus 2002

* Beliau adalah Habib Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Shahabuddin, lahir tahun 1860, dari seorang ayah ulama besar di waktunya yang juga seorang pedagang kaya raya, Habib Ahmad bin Muhammad bin Shahabuddin yang tinggal di rumahnya yang luas di bilangan Pekojan. Habib Ali bin Ahmad dikenal dengan julukan Habib Ali Menteng, yang membangun mesjid di jalan Tangkuban Perahu, Menteng, dan pencetus berdirinya sekolah Islam modern pertama di Indonesia, Jamiat Kheir. Akan tetapi, berdasarkan narasi cucu beliau, yaitu Prof. Tariq bin Abdulmuttalib bin Ali bin Ahmad bin Shahabuddin yang disampaikan oleh putranya Chefik bin Thariq, dikarenakan ketegasan beliau (Habib Ali Menteng) dalam melawan kolonialisme Belanda di Nusantara, terutama perjuangan di Aceh, Tasikmalaya dan Cilegon, dan relasi beliau dengan Kesultanan Utsmaniyyah (Otoman) (Turki) dan Syarif Husin dari Hijaz, maka pemerintah kolonial Belanda waktu itu, yaitu di awal berdirinya Jamiat Kheir di tahun 1901, tidak mengeluarkan izin untuk sekolah tersebut, sampai pada akhirnya beliau menyerahkan kepengurusan sekolah tersebut kepada Habib Abubakar bin Ali bin Shahabuddin, yang di masanya pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan surat izin resmi atas sekolah tersebut di tahun 1919. Beliau, Habib Ali bin Ahmad bin Shahabuddin meninggalkan banyak putra dan putri, di antaranya: Abdulmuttalib, Kazhim, Jamal, Anis, Dhia, Asad, Sidah, Budur, Faiq, Zaki, Wardah, dan lain-lain. Yang mana insya Allah kami akan muat biografi lebih lengkap tentang beliau di artikel mendatang. (Penyunting: M. Ghazi Alaidrus).