Pada sabtu, 13 Jumadil Awal 1129 H, ketika Imam Abdullah bin Alawi Alhaddad ra. keluar untuk menunaikan shalat dzuhur, beliau ra. mengingatkan saya (Al-Hasawi) tentang kitab-kitabnya yang tersimpan di dalam lemari. Beliau meminta agar saya melaporkan keadaannya. Di antara kitab-kitab beliau itu ialah Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Saya katakan kepada beliau ra., “Saya ingin mempunyai dua kitab tersebut untuk saya tekuni.” beliau ra. memperingatkan saya, “Tak ada gunanya Anda mengumpulkan kitab-kitab. Curahkanlah perhatian Anda kepada ilmu dan amal, tak usah mengumpulkan kitab-kitab. Pahamilah, bahwa kata-kata yang sedikit tidak memerlukan pembicaraan panjang lebar. Apa guna mempunyai banyak kitab kalau hanya seperti keledai yang membawa muatan kitab-kitab tebal? Biarlah anda mempunyai satu tekad saja.

“Dalam menuntut ilmu, janganlah hati anda bercabang-cabang. Orang-orang mengikuti ahli tasawuf hanya untuk tujuan yang satu, tidak untuk mengikuti cabang-cabangnya. Jika tidak demikian, maka orang tidak peduli akan dibinasakan Allah di lembah mana pun, asalkan hatinya tetap mengikuti cabang-cabang (ilmu tersebut). Bahkan shalatnyapun mengikuti bermacam-macam cabang ilmu (fiqh). Malah sampai pula dalam hal memilih perempuan, pakaian dan sebagainya.” Lebih jauh beliau ra. berkata, “Satu kitab saja dari kitab Al-Ihya (Ihya Ulumuddin—Imam Al-Ghazali) cukup, lebih daripada kitab-kitab yang lain. Yang dituntut dari ilmu adalah pengamalannya. Jika tidak demikian, lantas apa gunanya tumpukan kitab? Betapa banyak orang yang mempunyai tumpukan kitab, tetapi itu tidak mendatangkan manfaat apapun baginya. Siapapun tidak perlu lagi memberitahu kami tentang kitab-kitab, sebab kitab yang Anda baca sudah pernah kami baca satu kali, dua kali, atau bahkan lebih. Sejak usia 15 tahun hingga sekarang kami masih terus mengkaji kitab-kitab.” Kemudian beliau ra. mendendangkan sebuah syair:

Betapa aneh orang menghadiahkan kurma ke Khaibar[1]

Dan kepada Zaid mengajarkan ilmu fara’idh[2]

Beliau ra. berkata, “Segala sesuatu mempunyai hukumnya sendiri. Soal-soal lahir dan soal-soal yang bersifat jasmani (fisik) ada hukumnya, serta soal batin dan soal-soal arwah (yang dimaksud adalah soal-soal spiritual pun ada hukumnya sendiri. Apalah arti orang yang mengatakan bahwa makan itu tidak perlu, demikian juga soal-soal lain yang berkaitan dengan badan. Padahal dia sendiri—katanya—tidak dibolehkan meninggalkan makanan. Begitu juga beberapa orang sufi yang berkata, ‘Saya beramal tidak untuk mendapat surga, tidak karena takut neraka, dan tidak pula untuk mendapatkan bidadari dan rumah indah di surga’, tetapi hatinya ingin menikahi perempuan dan menikmati berbagai kelezatan hidup. Dari semuanya itu jelaslah, bahwa yang dituntut alam ruhani bukanlah yang dituntut alam jasmani. ‘Apakah Anda dapat memahami takdir demikian itu?” saya (al-Hasawi) menyahut, “Hampir memahami, Insya Allah.”

Kemudian beliau ra. menuturkan adanya orang yang bertekad meninggalkan makanan sama sekali selama 40 hari. Setelah kelaparan, tanpa sadar dia pergi ke pasar. Di sana dia mendengar suara di depan kedai, “Aku beli kue manis itu sekian…” Selain itu, dia juga menyaksikan berbagai makanan yang serba menarik selera. Dia lalu berkata di dalam hati, “Puasaku yang berat ini mengingini makanan-makanan yang membangkitkan selera. Kalau begitu, aku hentikan saja puasaku yang telah sekian hari kujalani. “Beberapa saat kemudian dia dapat memperoleh yang diingini. Datanglah orang lain kepadanya sambil membawa makanan yang diingininya, lalu bertanya, “Siapakah diantara kita berdua yang timbangan kebajikannya lebih berat? Yang bertekad keras menjalani puasa 40 hari, tetapi tidak tahan dirongrong kelaparan, ataukah orang yang menikmati kelezatan-kelezatan makanan halal? Terimalah ini. Hentikan puasa 40 hari, setapak demi setapak, jangan sekaligus.”

Beliau ra. melanjutkan, “Kisah di atas, merupakan perbandingan antara ruhani dan jasmani. Hendaklah Anda paham dan mengerti.”

Di tengah perjalanan ke Subair beliau ra. berbicara mengenai keadaan kaum fakir miskin dalam hal menolak pemberian dan menerimanya. Beliau ra. berkata, “Diperlukan beberapa syarat bagi seseorang agar penolakannya itu dipandang baik.” Saya (al-Hasawi) bertanya, “Apakah persyaratan untuk menolak pemberian sama dengan persyaratan bagi orang yang menganggap harta itu sama dengan batu?” Beliau menjawab, “Ya.” Saya katakan, “Itu berat sekali dan merupakan masalah yang aneh. “ Beliau ra. menjelaskan, “Semua masalah kaum shalihin (para wali) memang serba aneh. Sebab mereka itu dan semua masalah mereka terkait erat dengan kehidupan akhirat. Dengan demikian, maka apa saja tentang masalah mereka sesungguhnya, tidaklah aneh. Camkanlah baik-baik apa yang telah kami katakan mengenai jalan hidupnya orang shalih (wali). Itu akan membuat anda memahami berbagai masalah yang belum menjadi perhatian anda. Selain itu, juga akan dapat memecahkan berbagai kesulitan, dan menjelaskan kepada Anda berbagai hal yang hendak Anda tanyakan.”

Sumber:

Alhaddad, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi. 2002. Pemantap Hati: Mutiara Kata dan Nasihat. Bandung, Pustaka Hidayah.


[1] Nama sebuah kawasan yang banyak kebun kurmanya.

[2] Bagian ilmu fiqh yang menetapkan pembagian harta waris kepada yang berhak.