Pertama, hendaklah anda selalu berniat baik dan menjaga kemurnian hati nurani mengenai perkara-perkara antara diri Anda dan Allah SWT, agar Dia menjadi saksi bahwa anda benar-benar mencintai kebajikan, bertekad memenangkan kebenaran, dan meratakan keadilan dan persamaan hak sebatas kesanggupan yang ada pada anda. Kedua, hendaknya anda selalu memperlakukan rakyat dengan penuh kasih saying. Amatilah baik-baik keadaan mereka, seperti seorang ayah yang dengan penuh kasih saying mengamati anak-anaknya yang masih kecil.

‘Allah.. Allah, perhatikanlah kewajiban anda dalam membela orang yang teraniaya (mazhlum) dan bertindak keras terhadap penganiaya (zhalim). Jagalah baik-baik prinsip persamaan dalam masalah kebenaran antara antara pihak yang lemah dan yang kuat. Janganlah anda terlalu boros dan jangan pula terlalu kikir dalam menginfakkan harta. Awasilah baik-baik orang-orang yang berniat jahat, dan indahkanlah pikiran dan perasaan akhlul khair (orang-orang baik dan mulia).

“Amatilah dengan baik kaum pendatang yang berada di kota. Perlakukanlah mereka itu dengan ramah dan tasamuh (toleransi). Periksalah baik-baik – khususnya oleh anda sendiri – setiap orang yang bertanggung jawab mengenai urusan kota. Jika diantara mereka itu ada yang anda lihat berpikir picik, jauhkanlah dia dari kedudukannya. Demikian juga yang harus anda lakukan terhadap orang yang tidak takut kepada Allah, kendati dia seorang yang cerdas. Sebab, bahaya yang akan ditimbulkan oleh dua orang seperti itu, terhadap anda dan kaum muslim, akan lebih besar daripada dendamnya. Orang seperti itu tidak layak mengatur urusan kaum Muslim. Hanya orang-orang yang cerdas dan takut kepada Allah sajalah yang layak beroleh kesempatan leluasa untuk bekerja mengurus kepentingan kaum Muslim.

“Tunaikanlah shalat pada awal waktunya. Jagalah baik-baik thaharah dan berzikir (mengingat Allah) dalam segala keadaan, terutama di pagi hari dan di waktu maghrib.

“Janganlah anda meninggalkan jamaah, meski di dalam kota terdapat berbagai kemungkaran yang dilakukan orang secara terang-terangan, seperti perzinaan dan mabuk-mabukkan (khamr). Telusuri saja jejak-jejaknya, kemudian tindaklah mereka.”

Sumber:

Alhaddad, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi. 2002. Pemantap Hati: Mutiara Kata dan Nasihat. Bandung, Pustaka Hidayah.