Oleh: Prof. Dr. Achmad Satori Ismail *)

 

Mencari Solusi Menghadapi Tantangan Global

Sesungguhnya Allah SWT Maha Bijaksana, mengaitkan sebab dengan akibat. Apabila orang-orang Islam menempuh jalan yang lurus dalam memperjuangkan agama Islam niscaya mereka akan sampai kepada tujuan yang diinginkan dan memetik buah yang diidamkannya.

Sebaliknya bila mereka berjalan sembarangan tanpa perencanaan yang matang dan mereka berpecah belah menjadi berbagai golongan, setiap golongan berjalan sendiri-sendiri, niscaya akan lemahlah mereka dan hilanglah kekuatan mereka dan akhirnya mereka akan menyesal dan merugi.

Kita sering melihat orang-orang yang mengaku memiliki ghirah terhadap Islam tetapi mereka tidak mencanangkan upaya-upaya yang biasa mengantarkan mereka ke arah tujuan yang diidamkan, akan tetapi mereka melewati jalan yang berliku-liku yang tidak dapat merealisir cita-cita dan tidak mengantarkan mereka kepada pulau idaman. Di kalangan umat Islam terdapat individu-individu dan golongan-golongang yang mengaku sebagi shufi. Mereka duduk dikelilingi orang banyak, lantas mereka merasa cukup dengan nasihat-nasihat dari Majlis saja. Keadaan mereka sebelum masuk ke dalam majlis tidak berubah dan tidak ada perubahan yang dicapainya, tidak ada kekeliruan yang diluruskan dan tidak ada perbuatan salah yang dibetulkan.

Mereka mengira bahwa dengan cara demikian ini, telah melaksanakan kewajiban dakwah dan menyangka bahwa para pengikutnyapun dianggap cukup baik bila bersikap seperti muslim sekarang ini. Dan mereka merasa bangga bahwa dia dari kelompok si Fulan dan golongannya si Fulan…

Ada sebagian dari umat ini. bila disuruh berbuat baik ataupun dicegah dari kemungkaran senantiasa berdalih bahwa zaman telah rusak dan rumah tanggapun telah bejat, sehingga mereka tidak mampu untuk melepaskan diri dari kerusakan tersebut.

Ada kelompok lain yang ingin berkhidmah kepada Islam, kemudian menulis, berkhutbah, merancang program dan menempuh jalan sampai jauh, akan tetapi ia melupakan dirinya, ia tidak memulai dari dirinya sendirinya untuk mengerjakan Islam sebelum jadi da’i. Dengan demikian ia telah keliru dari awal langkah menuju perbaikan, sehingga usahanya dalam berdawah tidak mendatangkan banyak hasil.

Seharusnya, di antara langkah-langkah awal dalam berdakwah adalah memulai dengan menyiapkan pribadi-pribadi yang siap untuk dibebani tugas dan perjuangan,  kemudian menyiapkan keluarga-keluarga yang shaleh, mendidik anak-anak dengan pendidikan Islami yang baik dan menanamkan perasaan bertanggung jawab pada setiap anggota keluarga.

Barulah setelah itu mengajak manusia agar pergi ke masjid untuk memperbaharui iman dalam hati, menyeru mereka menjalankan ajaran agama dan hukum-hukumnya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu mengaitkan mereka dengan muhasabah pada diri mereka dalam suasana ukhuwah  Islamiyah yang benar.

Musuh-musuh Islam di luar dan di dalam, selalu menyusun program dan berusaha secara sistemik dan terorganisir secara baik untuk melemahkan umat Islam. Mereka sekarang ini merupakan kelompok kekuatan jahat, suatu kekuatan yang tidak bisa dilawan kecuali dengan kekuatan lagi bahkan dengan kekuatan yang lebih besar dan lebih mantap. Allah menegaskan hal ini dengan firmanNya:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Artinya: Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka suatu kekuatan semampumu (Al-Anfal. Ayat: 60)

 

Bagaimana Konsep ini Direalisasikan.

Apabila orang-orang melihat bahwa di antara masyarakat Islam tidak ada orang yang menyeru ke jalan Islam dengan suatu cara yang jelas, maka hendaknya mereka bangkit bersama-sama untuk berusaha menolong Islam, dan berdakwah menyeru kepada Islam dengan sungguh-sungguh dan atas dasar metode praktis yang jelas.

Dakwah mereka jangan sampai terbatas pada majlis-majlis taklim atau tabligh biasa saja, atau terbatas pada halakah-halakah ilmiyah dan seminar saja, ataupun terbatas pada zikir lisani saja yang tidak mampu menanamkan perubahan pada jiwa individu dan kelompok. Sekarang ini sudah banyak majlis taklim, sudah sering diadakan seminar-seminar, tidak sedikit halaqah zikir dan ceramah-ceramah, akan tetapi tidak ada dakwah untuk mengaplikasikan Islam, mengamalkannya dan memperbaharuinya.

Umat sekarang ini amat membutuhkan dakwah semacam ini yang jauh dari hawa nafsu, yang ikhkas untuk Allah, tidak dikotori oleh ketamakan duniawi, ambisi pribadi dan penumpukan materi.

Para da’i hendaknya memulai dari dirinya sendiri, memperkuat keimanan kepada Allah SWT, meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya, berusaha keras melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga ia selamat dari penyakit kronis yang diderita oleh masyarakat berupa pelanggaran tehadap agama Allah, durhaka kepada Allah dan bergelimang dosa.

Mereka hendaknya memusatkan dakwah mereka terhadap diri sendiri terlebih dahulu, sebagai titik tolak untuk menuju amal Islami. Apabila jiwa-jiwa mereka telah lurus dan stabil dengan Islam barulah mereka menyuruh orang lain kearah jalan hidayat dan amal, apabila orang-orang memenuhi seruan ini maka hendaknya mereka menyeru keluarganya dan memperbaikinya. Dengan baiknya keluarga dan rumah tangga ini masyarakatpun akan menjadi baik.

Individu-individu yang shaleh merupakan batu bata untuk membangun istana Islam yang megah, sedangkan keluarga-keluarga yang shaleh adalah sendi-sendi kuat untuk membangun masyarakat yang shaleh pula, apabila masyarakat telah baik dan shaleh maka akan terbentuklah opini umum yang shaleh.

 

Pengokohan Pendidikan  Berbasis Sosial ekonomi

Individu sholeh yang kita harapkan adalah individu unggulan, yaitu individu  yang memiliki tiga ciri;

  1. berkekuatan akidah,
  2. berkekuatan akhlak dan
  3. berakhlak kekuatan.

Semua ciri di atas sangat penting. Karena serangan musuh-musuh Islam di arahkan untuk melemahkan semua ciri tersebut. Kehidupan social kita selalu direcoki oleh upaya pendangkalan akidah pengusakan moral bangsa melalui berbagai aktivitas, dari program tv, pementasan hiburan, pelestarian tradisi sesat dsb.

Aspek penguatan akidah dan akhlak sudah banyak diperhatikan oleh berbagai lembaga pendidikan. Namun masih belum banyak lembaga pendidikan yang di samping menguatkan dua aspek tersebut, tapi memperhatikan juga aspek social ekonomi. Inilah tantangan pendidikan modern. Bagaimana kita mampu menyiapkan SDM yang berkekuatan akidah, berkekuatan akhlak dan berakhlak kekuatan.

Yang dimaksud dengan berakhlak kekuatan adalah; insan yang memiliki kekuatan dalam berbagai bidang. Kuat penguasaan ilmu kauni, kuat jasmani, kuat enteurprenershipnya, kuat dalam bidang ekonomi dan lain-lainnya

SDM unggulan yang seperti di atas,  akan dilahirkan  dari sistem pendidikan yang memperhatikan penguatan akidah, memperkokoh ibadah, menguatkan akhlak mulia, menanamkan eterprenership, memelihara tradisi kebaikan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.  Wallahu a’lam bis showab.

 

*) Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI)

*) Makalah disampaikan pada Seminar Pendidikan dan Dakwah Islam di Rabithah Alawiyah bertajuk “Revitalisasi Pendidikan dan Dakwah Islam Berorientasi Pemberdayaan Sosial-Ekonomi pada hari Sabtu, 14 Desember 2013.