Sesungguhnya setiap orang yang melakukan shalat itu adakalanya termasuk dari golongan “gembirakan kami dengannya”, yakni golongan yang hatinya dipenuhi rasa kerinduan kepadanya, dipenuhi dengan kerinduan terhadap kedatangan waktunya, sehingga, bila telah datang waktunya, di saat-saat itulah datang kebahagiaan hatinya. Atau adakalanya ia termasuk dari golongan“…gembirakan kami dengan segera berlalunya ia”, yakni mereka yang memandang shalatnya sebatas utang yang harus dibayar, sehingga ia merasa senang dan bahagia apabila telah melunasinya dan tidak lagi ditagih karenanya. Atau adakalanya ia termasuk ke dalam golongan orang yang tidak merasakan apa pun, tidak yang ini dan tidak pula yang itu! Dan mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan “gembirakan kami dengannya”, dengan izin Allah SWT.

Selanjutnya pengasuh menjelaskan perkara yang dapat menolong dan membantu kita untuk dapat hadir bersama Allah SWT di saat takbiratul ihram (Allahu Akbar) yakni merasakan masuk ke dalam masjid dengan penuh penghormatan dan pengagungan.

Dalam hal ini terdapat adab-adab yang diajarkan oleh Nabi SAW yang kebanyakan kita menganggapnya kecil, padahal tidak ada satu pun yang kecil dari adab-adab Nabi SAW.

Ketika Nabi SAW mengajarkan kepada kita, di saat masuk masjid, masuklah dengan kaki kanan dan ketika keluar keluarlah dengan kaki kiri, sesungguhnya perkara yang dituntut bukanlah se-kadar tentang perkara kaki yang didahulukan dan kaki yang diakhirkan. Tidak… tidak demikian adanya! Perkara yang dituntut sesungguhnya adalah menghadirkan makna di saat engkau melatih nafsumu bahwa di saat memasuki masjid janganlah engkau menjadikan masukmu itu sebatas masuk yang bagaimanapun adanya dan seperti apa pun rupanya tanpa makna apa pun. Ketika engkau masuk dengan kaki kanan atau dengan kaki kiri sekehendak nafsumu, itu hanya akan menjadi masuk yang biasa saja, sebatas langkah biasa yang engkau lakukan. Akan tetapi ketika engkau masuk ke dalam masjid dengan mendahulukan kaki kanan, pada saat itu terdapat makna bahwa engkau tengah mengendalikan dan melatih nafsumu untuk senantiasa berittiba kepada Baginda Mushthafa Rasulullah SAW dan engkau merasakan bahwa engkau sedang masuk ke suatu tempat yang berbeda, bukan tempat yang biasa, karenanya engkau lalu memuji Allah SWT, bershalawat kepada Baginda Nabi SAW, dan memohon kepada Allah SWT untuk membukakan pintu-pintu rahmat-Nya, engkau ucapkan, “Allaahummaftah abwaaba rahmatika, a-`uudzu billaahil-`azhiim wa wajhihil-kariim wa sulthaanihil-qadiim minasy-syaithaanir rajiim (Ya Allah, bukalah segala pintu rahmat-Mu. Aku berlindung kepada Allah, Yang Maha Agung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang qadim dari setan yang terkutuk).” Setelah itu masuklah ke dalam masjid.

Salah seorang pedagang akhirat dari guru-guru kami berkata, “Wahai anak-anakku, aku berwasiat kepada kalian, apabila kalian masuk ke dalam masjid, sebelum masuk hadirkan dan rasakanlah, meskipun hanya sesaat, ke manakah kalian akan masuk?”

Itulah sebabnya, jangan sekali-kali masuk ke dalam masjid sekehendak nafsu dan keinginanmu. Mengapa engkau mendahulukan kaki kanan? Para ulama menjelaskan, agar engkau merasa dan hadir di dalam hatimu makna bahwa engkau datang kepada Allah SWT, engkau masuk ke rumah Allah SWT. Bagaimana semestinya dan bagaimana caranya seseorang masuk ke dalam rumah Kekasih Tercinta-nya? Bagaimana semestinya adab dan ketawadhuan seseorang ketika masuk ke dalam rumah Yang Maharaja dari segala raja?

Setelah itu, para ulama mengatakan, niatlah i‘tikaf selama engkau berada di dalam masjid. Karena perbedaan orang yang berniat i‘tikaf dan yang tidak meniatkannya adalah bahwa yang meniat-kannya akan mendapatkan berbagai kebajikan khusus yang hanya didapatkan bagi orang-orang yang beri‘tikaf. Makna lainnya adalah bahwa pada saat itu ia sedang berada di sisi Allah SWT, maka ia akan mendapatkan berbagai penghormatan dan kemuliaan dari Allah SWT.

Sebagian guru kami mengatakan, perbedaan antara nafilah (sunnah) dan faridhah (wajib) adalah tujuh puluh derajat. Satu faridhah pahalanya adalah sama dengan tujuh puluh kali nafilah. Ke-mudian perhatikan, apabila engkau berniat i‘tikaf selama engkau berada di dalam masjid, ini termasuk nafilah atau fardhu? Jawabanya tentu nafilah. Akan tetapi bila sebelum berniat i‘tikaf engkau bernadzar untuk i‘tikaf selama berada di masjid, sesungguhnya nadzar itu membuat yang nafilah menjadi faridhah dan pahalanya pun pahala faridhah. Karenanya bila engkau katakan “Aku bernadzar untuk i‘tikaf selama aku berada di dalam masjid”, jadilah i‘tikaf yang engkau nadzarkan itu sebagai fardhu dan akan mendapatkan pahala ibadah fardhu.

Perhatikanlah makna-makna persiapan yang menjadi konsentrasi kita dalam pembahasan kali ini. Adab masuk ke masjid akan banyak membantumu bersiap diri menuju shalat. Karena dengan adab-adab itu hatimu telah hadir dan merasakan bahwa saat itu engkau telah berada bukan pada keadaan yang biasa, engkau akan menghadap Allah SWT. “Aku sekarang sedang menuju Allah SWT… mendekat kepada Allah SWT.”

Di kala seorang anak teramat rindu untuk bertemu ibunya setelah sekian lama terpisah dan tak berjumpa dan demikian pula sang ibu kepada anaknya, pada awal perjumpaannya dengan sang ibu apa gerangan yang dituju dan diharapkannya dari sang ibu?

Dekapan dan pelukan sang ibu! Ya, pastilah pelukan dan dekapan sang ibu, sekalipun ia telah tua dan telah memutih pula rambutnya. Karena pelukan dan dekapan yang penuh kasih sayang sang ibu tidak akan dapat dibandingkan dengan sesuatu apa pun nilai dan harganya, yang setiap orang pasti membutuhkan dan merindukannya. Dan sungguh tidak seseorang pun merasakan itu semua melebihi mereka yang telah kehilangan ibu terkasih mereka. Dan sungguh seorang ibu pun sangat mengetahui makna untuk mendekap dan memeluk putra-putri tercintanya.

Lalu apa makna itu semua bagi seorang ibu? Tentu makna kasih sayang terdalam dari sisinya. Dan Allah pasti Mahatinggi, lebih tinggi dari itu semua, dalam memberikan kasih sayang-Nya kepada segenap hamba yang datang mendekat kepada-Nya.

Inilah makna masuknya engkau ke dalam masjid. Di kala engkau masuk ke dalam masjid, engkau merasakan, “Saat ini aku sedang masuk ke dalam dekapan rahmat Allah SWT.”

Tidakkah engkau membaca suatu hadits Rasulullah SAW yang ada tiga orang masuk ke dalam masjid Rasulullah SAW? Yang pertama, ia masuk masjid dan melihat ada shaf kosong, maka ia pun melewati orang-orang dengan sehati-hati mungkin agar tidak menyakiti dan mengganggu mereka lalu ia duduk mengisi celah shaf yang kosong itu. Yang kedua, ia merasa malu untuk me-langkahi orang-orang sehingga ia pun duduk di pojokan shaf. Sedangkan yang ketiga, karena melihat shaf yang sesak, ia pun pergi dan meninggalkan masjid. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tidakkah kalian aku khabarkan ihwal halnya tiga orang itu?”

Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”

Nabi SAW pun kemudian bersabda, “Adapun yang pertama, ia telah mendekat kepada Allah, maka Allah pun mendekatinya.” Hidupkan makna kalimat ini di dalam hatimu. Bukankah engkau menghendaki sampai kepada Allah SWT? Engkau adalah murid peniti jalan menuju Allah SWT.

Hidupkan dan rasakan makna “maka Allah pun mendekatinya” dengan membayangkan agungnya keutamaan kasih sayang dan dekapan dari seorang ibu. Makna ini pada lahirnya adalah bahwa ia mendekat kepada majelis, kepada celah shaf yang kosong, di masjid Rasulullah SAW, akan tetapi, karena maksudnya adalah keridhaan Allah SWT, jadilah mendekatnya di sini adalah kepada Allah SWT.

Adapun yang kedua, Nabi SAW bersabda, “Ia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya.” Para ulama mengatakan, barang siapa yang Allah malu kepadanya, niscaya Allah tidak akan pernah mengadzabnya. Yang pertama Allah mendekatinya dan yang ke¬dua Allah tidak mengadzabnya.

Sedangkan yang ketiga, Nabi SAW bersabda, “Dia berpaling dari Allah SWT, maka Allah pun berpaling darinya.” Ihwal orang yang ketiga ini, dia berpaling dari majelis, akan tetapi Rasulullah SAW menjadikannya sebagai bentuk keberpalingan dari Allah SWT.

Itulah sebabnya, apabila engkau masuk ke dalam masjid, rasakanlah bahwa engkau sedang menuju dan mendekat kepada Allah SWT. Bila engkau mendapati shaf yang kosong pada shaf yang pertama, isilah shaf pertama itu dengan langkah yang penuh kesopanan. Itu berarti engkau tengah mendekat kepada Allah SWT. Dan bila tidak mendapatinya pada shaf yang pertama,  malulah engkau kepada Allah SWT, janganlah engkau mengganggu orang-orang yang lebih dahulu datang dan duduk pada shaf-shaf itu. Duduklah pada shaf terakhir yang belum terisi. Dan jangan pernah engkau berpaling dari shaf sehingga Allah akan berpaling darimu.

Inilah perkara kedua yang dapat menolong dan membantumu untuk dapat hadir bersama Allah SWT di saat takbiratul ihram (Allahu Akbar), yakni merasakan dan menghadirkan makna ketika masuk ke dalam masjid dengan penuh penghormatan dan pengagungan. “Selama aku berada di dalam masjid, aku sedang berada di sisi Allah SWT.” Karenanya tak patut adanya amarah atau saling berdesakan meskipun dalam hal kebajikan, bahkan tidak pula dalam mencium Hajar Aswad, bahkan walau dalam masuk ke dalam Ka`bah sekalipun. Yang mesti diutamakan adalah tenang dan penuh kekhusyu’an dan penghormatan.

Alkisah, setelah rombongan haji yang berangkat bersama Rasulullah SAW meninggalkan Arafah dan menuju Muzdalifah, kalian tahu berapa jumlah rombongan kaum muslimin kala itu? Jumlah mereka adalah 120.000 jama’ah. Jumlah 120.000 kaum muslimin, dapatkah kalian bayangkan bagaimana keadaan mereka di saat jalan bersama? Di kala itu Nabi SAW melihat rombongan saling berdesakan dan dorong-mendorong di antara mereka, maka Nabi SAW pun bersabda, “Tenang, tenang…” Hanya dua kata itu yang terucap dari Rasulullah SAW, serentak mereka pun tenang seketika itu juga. Mereka berkata, “Bahkan orang yang telah memacu hewan tunggangannya pun agar mempercepat langkahnya, sontak berhenti dan tidak lagi memacunya, sehingga semuanya berjalan dengan perlahan dan tenang.

Di rumah Allah SWT, hidupkanlah makna ini, tenang, karena engkau sedang berada di hadirat Allah SWT.

Sumber: di sini