Oleh: Amri Amrullah

Jumat itu, 29 Oktober 2004, azan subuh baru saja ber kumandang. Sang surya belum jua menampakkan diri. Umat Islam di Makkah dikejutkan dengan kabar wafatnya salah satu ulama karismatik abad ke-21, Syekh Muhammad Alawi al-Maliki. Kabar tersebut langsung tersiar ke seluruh penjuru dunia. Kaum Muslim telah kehilangan salah satu ulama besar.

Lahir di Makkah 1944 M, tokoh yang memiliki jalur nasab ke Rasulullah SAW tersebut dikenal kepakarannya di bidang hadis. Ia merupakan ulama yang menyebarkan prinsip-prinsp ahlussunnah wal jamaah. Ia dikenal pula sebagai ulama multidisiplin ilmu, pakar tafsir, ahli fikih, dan tasawuf. Syekh Muhammad Alawi juga dikenal sebagai ulama yang menguasai Nabawiyah.

Syekh Muhammad Alawi al-Maliki juga biasa dipanggil Sayyid Muhammad ‘Alawi Al-Maliki. Ia mengenyam pendidikan pertamanya di Madrasah Al-Falah, Makkah. Di madrasah itu pula sang ayah, Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, juga mengajar sebagai guru agama.

Sejak kecil, Syekh Muhammad Alawi sangat mencintai ilmu agama. Tak heran jika sejak belia, ia telah menggali ilmu dari para ulama terkemuka di Kota Makkah, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Syaf dan Sa’id Yamani.

Menginjak usia yang ke-25, Syekh Muhammad Alawi berhasil menyabet gelar PhD dalam studi hadis tentang penghargaan tertinggi dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Meski telah meraih gelar akademik yang sangat tinggi, ia tak pernah lelah untuk terus belajar.

Syekh Muhammad Alawi pun melanglang buana ke sejumlah Negara demi memperkuat ilmu hadis yang dikuasainya. Sejumlah wilayah yang disambanginya, antara lain, Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman dan juga anak benua Indo-Pakistan. Perjalanan jauh itu ditempuh demi memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashur al-Haddad, Syekh Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Maroko, Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, dan Maulana Zakariyya Kandihlawi.

Setelah menguasai ilmu agama, ia lalu melanjutkan perjuangan dakwah yang telah dilakukan ayahandanya, yakni membina para santri dari berbagai daerah dan Negara di Makkah al-Mukarromah. Sejak kecil, Syekh Muhammad Alawi selalu dibawa ayah saat menjalankan tugas dakwahnya. Selain mengajar di Tanah Suci, sang ayah juga sering berdakwah ke Thaif dan Jeddah.

Syekh Muhammad Alawi benar-benar melanjutkan jejak sang ayah. Ada ciri khas dari Syekh Muhammad Alawi, ia selalu menggunakan pakaian adat, jubah, sorban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan adan dikenakan Asyraf Makkah.

Selain mengajar para santri yang datang dari berbagai penjuru dunia di Masjidil Haram, Syekh Muhammad Alawi juga diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz-Jeddah dan Universitas Ummul Qura Makkah. Ia mengajar ilmu hadis dan usuluddin.

Ia lalu memutuskan berhenti mengajar di kedua universitas terkemuka itu dan memilih mengajar di rumahnya. Dari rumahnya, Syekh Muhammad Alawi telah mencetak ulama-ulama yang menjadi pendakwah di berbagai benua, yakni Asia, Afrika, hingga Eropa dan Amerika.

Sayyid Muhammad al-Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih- lebihan, serta selalu menerima dialog dengan hikmah dan nasihat yang baik. Ia pun sering kali menemukan pendapat yang berbeda dalam keilmuan, namun semua ia terima dengan hikmah. Ia memecahkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang benar bukan dengan emosi serta pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan.

Syekh Muhammad Alawi paham benar bahwa perseturuan di kalangan ulama merupakan satu kelemahan umat Islam. Menurut dia, perpecahan di kalangan ulama adalah agenda yang kerap kali diciptakan musuh-musuh Islam.

Ia berupaya untuk menghindari perseteruan. Tak heran bila saat Syekh Muhammad dilarang mengajar di Masjidil Haram, ia memutuskan untuk fokus mengurus halaqah ilmu yang pernah diasuh oleh ayahandanya, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki. Halaqah ini menjadi rujukan bagi umat Islam dari penjuru dunia. Tak terkecuali Indonesia.

Syekh Muhammad Alawi memang ulama yang luar biasa. Selain sebagi da’I, pengajar dan penceramah, ia juga seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semua beredar di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Guru para ulama abad ke-21 itu dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la, Makkah, di samping makam istri Rasulullah SAW. Meski telah tiada, namun namanya tetap hidup melalui kitab-kitab yang dituliskannya selama hidup.

 

Sumber: Koran Harian Republika, Ahad 8 Maret 2015, Hlm. 23.