Nawaqid secara bahasa: jama’ dari kalimat naaqid yang diambil dari fi’il (نقض- ينقض) artinya menghilangkan sesuatu dari asalnya dan memotong sesuatu dari pangkalnya. Dan menurut definisi fiqih tahawulat yaitu: pemahaman pada sesuatu yang mencabut rantai-rantai Islam serta menimbulkan konflik dengan cara menghilangkan resolusi ilmu, I’tiqod, hukum, ekonomi dan hal-hal yang berkaitan dengan semuanya tersebut melalui faktor-faktor fitnah yang menyesatkan dan melalui para pembawa fitnah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Ikatan-ikatan Islam akan tercabut satu demi satu, setiap kali ikatannya tercabut orang-orang bergantung pada ikatan selanjutnya, yang pertama kali tercabut adalah masalah hukum dan yang terakhirnya adalah masalah shalat.”

Diantara pencabutan ikatan-ikatan hukum dan shalat, akan terjadi pencabutan-pencabutan yang lain, dari periode ke periode berikutnya hingga akhirnya tercabutlah ikatan “shalat” yaitu akan terjadi perdebatan dan perselisihan sekitar rukun, sunnah dan cara melakukan shalat.

Adapun naqoid secara bahasa adalah: jama’ dari kalimatنقيض  yakni: perkara sesuatu yang berlawanan dan bertentangan dengan hukum yang sudah ditetapkan oleh syariat.

Definisi naqoid (bertentangan) adalah: nama pada setiap pekerjaan yang berlawanan dan bertentangan dengan amalan syariat yang sudah popular, serta membawa dalil dan pemahaman yang berlawanan dengan (Alquran dan hadits) yang muncul dari individu atau kelompok, hal ini terjadi sebagaimana sabda Rasulullah SAW

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang jujur tidak dipercaya, orang yang bohong dianggap jujur, orang yang dipercaya dianggap berkhianat, orang yang berkhianat dianggap tapi dipercaya. Seseorang bersaksi padahal tidak diminta persaksiannya. Seseorang bersumpah padahal tidak diminta sumpahnya. Dan orang yang paling berbahagia di dunia pada waktu itu dungu bin dungu, yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya.”

Hadits ini adalah pernyataan syariat yang istibaqiyyah yang akan terjadi pada ummat Alquran dan sunnah dan sungguh hadits ini telah terjadi.

نواقض  dan نقائض saling bersamaan dikebanyakan fitnah karena nawaqid sering menyebabkan dan membuahkan terjadinya naqooid, yang konsekuensinya terjadilah kesesatan, sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam hadits nabawi.

Fitnah adalah suatu cobaan umum yang menimpan individu dan jamaah. Sebab fitnah tersebut terjadilah penyimpangan yang berlawanan dengan syariat. Salah satu arti dari fitnah adalah cobaan bagi kaum muslimin, apabila dia sabar dan ikhlas dengan cobaan tersebut maka dia akan mendapatkan pahala. Sebagaimana fitnah pada keluarga, harta dan anak. Salah satu contoh fitnah yang Allah berikan terhadap para Nabi:

“Dan sesungguhnya kami telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertaubat.” (Q.S. Shaad: 34)

Firman Allah terhadap Nabi Musa AS, “Dan kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.”  (Q.S. Thoha: 40)

Adapun fitnah yang menyesatkan adalah menyimpangnya seseorang atau suatu kelompok dari ajaran-ajaran syariat kepada ajaran-ajaran yang membantu kejelekan, dajjal dan syetan.

Adapun media perlindungan dari fitnah dan kesesatannya yatiu dengan cara memperdalam pasal-pasal ilmu fiqh dan tahawulat dan pembagiannya baik yang positif, untuk mengambil manfaat dan mengamalkannya atau negatif untuk menghindarinya. Tidak berpartisipasi di dalamnya dan meminta perlindungan kepada Allah untuk dijauhkan dari fitnahnya.

Di zaman sekarang kaum muslimin hidup di tengah-tengah fitnah yang menyesatkan dan bahkan mereka menceburkan diri mereka sendiri ke dalam fitnah yang bermacam-maca seperti, fitnah yang terdapat di politik, ekonomi, pendidikan, sekolah, kebudayaan, informasi dan mereka tidak menyadarinya, disebabkan mereka tidak mengkaji (pemahaman yang khusus tentang tanda-tanda kiamat dan fitnah yang menyesatkan).

 

Sumber: Alhabib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur. Intisari Ma’rifat Rukun Agama Keempat Serta Tanda-Tanda Kiamat Besar, Sedang dan Kecil. Diterjemahkan oleh: Muhammad Rijal Maulana