REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Pekojan dan Krukut, keduanya di Jakarta Barat, sudah tidak lagi menyandang sebutan kampung Arab. Kedua daerah itu tergantikan perannya oleh Condet di Jakarta Timur. Kampung yang luasnya 450 hektare atau setengah dari Lapangan Monas ini memiliki tiga kelurahan.

Nama Condet berasal dari nama sebuah anak Sungai Ciliwung, yaitu Ci Ondet. Ondet atau ondeh-ondeh adalah nama pohon yang nama ilmiahnya Antidesma diandrumsemacam pohon buni yang buahnya biasa dimakan.

Data tertulis pertama tentang Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeeck sebelum menjadi gubernur jenderal VOC. Pada 24 September 1709, dia dan rombongan berjalan melalui anak sungai Ci Ondet. Dimulai dari Parung, Ratujaya, Depok, Srengseng, kemudian ke Tji Ondet (De Haan 1911:320).

Condet pernah akan dijadikan Cagar Budaya Betawi oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1977. Karena, kala itu 90 persen penduduknya Betawi asli dan keadaan alamnya yang masih utuh, kaya akan seni budaya serta kegiatan dalam bidang spiritual.

Suasana Condet yang Mirip Hadramaut

Memasuki Condet dari Cililitan, kita akan mendapati tempat pengajian yang sudah berusia puluhan tahun: Al-Hawi yang terletak di Jalan Condet Raya. Di seberangnya terdapat pemakaman yang cukup banyak diziarahi karena yang dimakamkan beberapa tokoh Habib terkenal.

Ada yang mengatakan, Jalan Raya Condet di sekitar Al-Hazi yang merupakan sumber kemacetan tidak diperlebar. Alasannya takut majelis taklim dan pemakaman akan tergusur.

Masih di Jalan Condet Raya, kita akan dapati toko-toko yang menjual obat-obatan khas Timur Tengah seperti habbatus sauda atau jinten hitam. Obat yang kini banyak diminati di Jakarta ini diimpor langsung dari Arab Saudi.

Di dekatnya terdapat belasan toko yang menjual busana Muslim. Tidak lupa di sini juga dijual foto para habib dan ulama, termasuk ulama dari Hadramaut. Di Condet Raya memang suasananya mirip Hadramaut dalam arti toko-toko diberi nama Sewun, Al Mukalla, dan Tarim.

Tokok Minyak Wangi di Condet

Restoran Puas dengan martabaknya dikelola oleh Sadik Assegaff, berdekatan dengan sate Tegal Abi Salim. Keduanya menjajakan nasi kebuli yang pembelinya dari berbagai tempat di Jakarta.

Satu deretan di kiri kanannya terdapat belasan toko minyak wangi yang rata-rata buka hingga pukul 22.00 WIB.

Selama empat tahun tinggal di Condet, saya merasakan makin banyaknya pedagang dan toko minyak wangi. Ada yang mengatakan banyaknya warga keturunan Arab bermukim di Condet sejak Habib Umar bin Hud Alatas tinggal dan membuka pengajian di sini. Saya teringat ketika ia meninggal dunia Jalan Condet Raya menjadi lautan manusia.

Kebiasaannya menyelenggarakan Maulid Nabi di kediamannya tiap Kamis malam. Kebiasaan ini banyak diikuti warga Condet. Tidak heran acara Maulud berlangsung hingga dua sampai tiga bulan di mushala dan masjid.

Pergaulan Bebas Gerus Condet

Bicara soal Condet kurang afdol jika tidak membicarakan makanan khas Condet maupun yang dijual para pendatang, seperti kue kamir dan roti maryam yang banyak dijajakan jamaah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mereka juga banyak bergerak dalam bidang pengiriman TKW. Terdapat belasan tempat penampungan TKW di Condet.

Ran Ramelan dalam buku Condet Cagar Budaya Betawi menulis: Pergaulan bebas antara wanita dan pria asing di Condet tidak dikenal. Bahkan, tamu pria hampir tak pernah ditemui atau ditemani nyonya rumah.

Tentu saja di era globalisasi sekarang ini pergaulan bebas sudah mulai terlihat. Apalagi di sekitarnya terdapat pusat perbelanjaan PGC dan Carrefour.

Semarak Condet di Bulan Ramadhan

Di samping merayakan Maulid Nabi, perayaan lain yang mereka tekuni adalah Idul Fitri, 1 Asyura, 10 Asyura, Nisfu Sya’ban, dan tidak ketinggalan hari “Nuju Bulan” bagi istri yang hamil pertama kali.

Yang patut diacungi jempol di Condet adalah saat bulan puasa. Orang-orang tua selesai tarawih terus tadarusan dan membawa kitab Alquran hingga tamat tiga kali dalam bulan puasa. Prinsip mereka mencari 11 bulan untuk berubah selama sebulan.

sumber: di sini

foto: di sini