Oleh : Habib Segaf Baharun

Nabi kita Muhammad SAW adalah seorang Nabi yang tidak ada yang luput dari perhatiannya semua hal yang terkait dengan keseharian kita.

Baik di masa kecil, masa dewasa ataupun masa tua.

Begitu pula dalam pendidikan anak-anak. Nabi s telah memberikan arahan dan dorongan serta cara untuk menerapkannya bagi anak-anak kita. Seperti hadits di bawah ini:

أَدِّبُوْا أَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ وَقِرَاءَةِ القُرْآنِ

Didiklah anak-anak kalian kepada 3 hal: Yang pertama untuk cinta kepada Nabi kalian. Yang kedua untuk cinta kepada keluarga Nabi kalian. Dan yang ketiga untuk mahir membaca Al-Qur’an.

Maka jika kita cermati hadits tersebut di atas, akan kita simpulkan bahwasanya jika kita mendidik anak-anak kita sesuai ajarannya Nabi s dalam hadits tersebut, akan kita dapatkan anak kita menjadi manusia-manusia yang sukses, berhasil di dunia maupun di akhirat.

Karena tiga hal yang menjadi standar pendidikan, merupakan tiga hal sumber dari segala macam kebaikan dan keteladanan.

Yang pertama, kita diperintahkan oleh Nabi s untuk mendidik anak-anak kita supaya cinta kepada Nabi Muhammad s dengan cara kita mengajari kepada anak-anak kita semua hal tentang Nabi.

Dari mulai nasabnya Nabi s, siapakah nama ayahnya, siapakah nama kakek dan ayahnya, siapakah nama ibunya, serta nasabnya baik dari segi ayah maupun dari segi ibu.

Begitu pula kita ajarkan kepada mereka tentang akhlaq-akhlaq Nabi, bahwasanya Nabi s adalah seorang pemberani,

Nabi s adalah seorang yang dermawan, Nabi s adalah seorang yang peduli kepada para faqir dan miskin dan Nabi s mencintai para anak-anak kaum muslimin.

Ajarkan pula bahwasanya Nabi s mengajarkan kepada kita untuk saling menyayangi. Baik kepada sesama manusia, ataupun kepada hewan dengan segala jenisnya.

Misalnya ketika kita melihat seekor kucing yang kelaparan, maka kita ajarkan anak kita untuk membawakan makanan supaya memberikan makan kucing tesebut.

Karena Nabi s mencintai kucing. Begitu pula ketika melihat semut yang akan terinjak atau semut yang mengapung di atas air, kita selamatkan.

Karena Nabi s juga senang kepada binatang-binatang itu. Maka yang semacam ini jika benar-benar kita terapkan kepada anak-anak kita, akan menjadikan Nabi Muhammad s sebagai idola mereka.

Ironisnya, sangat bertolak belakangan yang terjadi pada zaman ini, dimana idola daripada anak-anak kita adalah dari kalangan orang-orang fasik baik para artis, atlit, pemain sepak bola atau bahkan para pejabat koruptor dan lain sebagainya, dimana mereka di mata Allah bukan menjadi sebuah tauladan dan bukan sebuah contoh yang terbaik bagi anak-anak kita.

Sehingga alangkah bahayanya jika orang-orang seperti itu kemudian dijadikan sebagai idola dan tauladan bagi mereka.

Yang kedua, Nabi s memerintahkan kita untuk mendidik anak-anak untuk mencintai keluarga Nabi s.

Karena memang keluarga Nabi Muhammad s yang berarti sekarang ini adalah para keturunannya dari kalangan habaib dan asyrof (yang dimaksud dengan Habaib keturunan Nabi dari kalangan cucu sayyidina Husain, sedangkan asyrof keturunan Nabi cucu dari sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib) merupakan sebuah contoh dan tauladan sepanjang masa. Karena Nabi s telah bersabda dalam haditsnya sebagai berikut:

عن أبي سعيد الخدري قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله يقول : اِنَّمَا مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِيْ فِيْكُمْ كَمَثَلِ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri dia berkata: Kami mendengar Nabi s bersabda: Sesungguhnya perumpamaan ahlul baytku di antara kalian sama seperti perumpamaan perahunya Nabi Nuh.

Barang siapa yang menaikinya, maka dia akan selamat. Dan barang siapa yang menolak untuk menaikinya, maka dia akan tenggelam.

Akan tetapi harus dicermati disini bahwasanya yang dimaksudkan ahlul bayt Nabi pada zaman ini adalah para habaib dan asyrof yang masih mengikuti jejak serta akhlak kakek moyang mereka dan tidak melenceng dari jalan kakek moyangnya, bukan setiap individu dari mereka yang langsung kita anggap sebagai safinatinnuh seperti tertera dalam hadits tersebut.

Akan tetapi Yang dimaksudkan oleh Nabi s disini adalah para keturunan Nabi yang masih berada di dalam rel qodaman ala qodamin, yaitu mengikuti ajaran kakek moyangnya.

Mereka yang belajar ilmu kemudian mengamalkannya, lalu mereka mengajarkan ilmu yang mereka dapatkan setelah mengamalkannya.

Merekalahyang dianggap sebagai safinatinnuh dalam hadits itu dan bukan termasuk di dalamnya mereka yang sudah berpaling dari ajaran kakek moyangnya walaupun dalam kategori para ulama.

Misalnya para ulama’ dari kalangan habaib tapi aqidahnya adalah Wahabi dan lain-lainnya.

Maka bukan mereka yang dimaksudkan oleh Nabi s disini, akan tetapi para ulama’ dari kalangan ahlul bayt yang keilmuannya diambil daripada silsilah mata rantai kakek moyangnya sampai kepada Nabi Muhammad s yang berasal daripada Hadromaut dan bukan dari negara lainnya.

Atau dari tempat selain Hadramaut akan tetapi bersumber daripada para ulama’ habaib Hadromaut begitu pula yang sama dengan mereka dalam satu aqidah dan madzhab yaitu aqidah ahli sunnah wal jamaah dan tauhidnya tauhid asy’ari sedangkan contoh nyata dari mereka pada zaman ini yang dianggap sebagai safinatinnuh.

Seperti pada zaman kita sakarang ini yang bisa kita jadikan tauladan adalah profesor As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Al-Habib Zain bin Ibrohim bin Smith, Al-Habib Umar bin Hafidz, Al-Habib Salim Asy-Syatiri, Al-Habib Abdullah bin Syihab, dan lain sebagainya.

Yang Ketiga, Nabi memerintahkan kita mendidik anak-anak untuk mahir membaca Al-Qur’an. Dan yang demikian itu dikarenakan tidak ada sebuah ilmu yang pasti di dunia ini kecuali jika bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Apapun yang ada di dalamnya, terkait dengan apa saja, Maka sesuai dengan petunjuknya, pasti akan terjadi seperti yang disebutkan dalam keduanya (al-quran dan al-hadits) akan terbukti, nyata dan terlaksana seperti yang telah diuraikannya.

Berbeda halnya dengan ilmu-ilmu yang ada sekarang ini. Apapun macam dan bentuknya, bisa jadi benar dan bisa jadi salah.

Berbeda dengan Al-Qur’an dan Al-Hadis apapun yang disebutkan di dalamnya pasti akan menjadi nyata fakta dan terlaksana maka semua isinya pasti benar dan tidak mungkin melenceng dan salah.

Oleh karena itu, Nabi s memerintahkan kita mendidik anak-anak untuk cinta kepada Al-Qur’an dengan tujuan mendapatkan barokahnya Al-Qur’an.

Karena Al-Qur’an mempunyai sirr (rahasia) yang walaupun hanya membacanya saja akan mencerdaskan otak, akan menjadikan anaknya tersebut spiritualnya meningkat, akan menjadikan anak tersebut hatinya lembut, sehingga mudah untuk diarahkan kepada pendidikan yang benar.

Oleh karena itu, jika kita benar-benar menerapkan 3 pondasi pendidikan ini, seperti yang disebutkan oleh hadits Nabi tersebut diatas, maka kita akan dapatkan anak-anak kita anak-anak yang beriman, bertaqwa, berjaya dalam segala bidangnya.

Apapun kondisi dan situasinya, maupun pekerjaan yang dilaksanakannya. Semuanya akan sesuai dengan harapan orang tua masing-masing.

 

Sumber: http://alhabibsegafbaharun.com/